Anda di halaman 1dari 59

HUBUNGAN DURASI DAN KUALITAS TIDUR DENGAN KEJADIAN

HIPERTENSI PADA LANSIA DI DUSUN POLAMAN

SEDAYU BANTUL

Disusun Guna Memenuhi Syarat dalam Mencapai Gelar Sarjana Keperawatan


di Program Studi S1 Keperawatan, Fakultas Kesehatan,
Universitas Alma Ata Yogyakarta

Oleh :
MIADIP SANTOSO
130100422

PROGRAM STUDI S1 ILMU KEPERAWATAN


FAKULTAS ILMU-ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS ALMA ATA YOGYAKARTA
2017

1
2

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar belakang

World Health Organization 2014, proporsi penduduk di atas 60 tahun di

dunia tahun 2000 sampai 2050 akan berlipat ganda dari sekitar 11% menjadi

22%, atau secara absolut meningkat dari 605 juta menjadi 2 milyar lansia (1).

Survei Ekonomi Nasional 2012, Peningkatan jumlah lansia juga terjadi di

negara Indonesia. Persentase penduduk lansia tahun 2008, 2009 dan 2012 telah

mencapai di atas 7% dari keseluruhan penduduk, dengan spesifikasi 13,04%

berada di Yogyakarta, 10,4% berada di Jawa Timur, 10,34% berada di Jawa

Tengah, dan 9,78% berada di Bali (2). Penduduk lansia terbesar di Yogyakarta

berasal dari Kabupaten Sleman, yaitu berkisar 135.644 orang atau 12,95% dari

jumlah penduduk Sleman (3).

Rencana Kerja Pembangunan Daerah (RKPD) Kabupaten Sleman tahun

2014 usia harapan hidup lansia di Yogyakarta mencapai 74 tahun dan untuk

Kabupaten Sleman mencapai 76,08 tahun (laki-laki 73,46 tahun dan perempuan

77,12 tahun), yang menjadi angka harapan hidup tertinggi nasional (4).

Meningkatnya jumlah lansia dan umur harapan hidup berdampak besar terhadap

kesehatan masyarakat, terlebih dengan perubahan-perubahan yang dialami

lansia dari berbagai sistem tubuh, baik dari segi fisik, psikologis, sosial dan

spiritual (5).
3

Masa lansia adalah masa perkembangan terakhir dalam hidup manusia.

Perubahan fisik lansia pada kardiovaskuler akan berpengaruh terhadap tekanan

darahnya. Tekanan darah merupakan kekuatan yang digunakan oleh darah

untuk bersirkulasi pada dinding-dinding oleh pembuluh darah dan merupakan

salah satu dari tanda-tanda vital yang utama dari kehidupan, yang juga termasuk

detak jantung, kecepatan pernafasan dan temperatur (6).

Berdasarkan Data Riset Kesehatan Dasar 2013 meneyebutkan bahwa

pravelensi hipertensi di Indonesia sekitar 30% dengan insiden komplikasi

penyakit kardiovaskuler lebih banyak pada perempuan (52%) berbanding

(48%) pada laki-laki. Data Riskesdes juga menyebutkan bahwa hipertensi

sebagai penyebab kematian nomor 3 setelah stroke dan tuberkulosis pada

kelompok umur 45 sampai 65 tahun dengan angka kejadian terbanyak pada

perempuan (11,2%%) dibandingkan laki-laki (8,6%). Hipertensi di Yogyakarta

menduduki peringkat ke-2 terbanyak dari 10 penyakit pada kunjungan rawat

jalan umum di Puskesmas sebesar 28.442 pasien (7). Berdasarkan data 10 besar

penyakit dari kunjungan di Puskesmas Kasihan 1 Bantul tahun 2012

menunjukkan Hipertensi pada urutan kedua dengan 181 penderita (8).

World Health Organization 2015 hipertensi atau tekanan darah tinggi

merupakan suatu kondisi ketika pembuluh darah terus-menerus mengalami

peningkatan tekanan (9). Penelitian Wahyu Ningsih, faktor yang mepengaruhi

hipertensi pada usia lanjut adalah usia, obesitas, kebiasaan olahraga, stress, serta

tipe kepribadian merupakan faktor yang paling dominan mempengaruhi

hipertensi pada usia lanjut (10).


4

Seiring bertambahnya usia terjadi perubahan pada lansia, berbagai

gangguan kesehatan yang dapat dialami lansia salah satunya gangguan tidur.

Insomnia pada lansia merupakan keadaan dimana individu mengalami suatu

perubahan dalam kuantitas dan kualitas pola istirahatnya yang menyebabkan

rasa tidak nyaman atau mengganggu gaya hidup yang di inginkan (11).

Insomnia disebabkan oleh beberapa faktor, yaitu dari faktor status kesehatan,

penggunaan obat-obatan, kondisi lingkungan, stres psikologis, diet atau nutrisi,

dan gaya hidup Insomnia pada usia lanjut dihubungkan dengan penurunan

memori, konsentrasi terganggu dan perubahan kinerja fungsional (11).

Apabila tidur mengalami gangguan dan tidak terjadi penurunan tekanan

darah saat tidur, maka akan meningkatkan resiko terjadinya hipertensi yang

berujung kepada penyakit kardiovaskuler (12). Setiap 5% penurunan normal

yang seharusnya terjadi dan tidak dialami oleh seseorang, maka kemungkinan

20% akan terejadi peningkatan tekanan darah. Selain itu salah satu faktor dari

kualitas tidur yang buruk yaitu kebiasaan durasi tidur yang pendek juga

dihubungkan dengan penigkatan tekanan darah terutama pada kalangan remaja

(12). Dalam penelitian McGrath., et al juga menyebutkan durasi tidur pendek

(actigraphy) dan persentase waktu antara onset tidur awal dan bangun akhir

yang dihabiskan di tempat tidur, yang tercatat dalam analisis cross-sectional,

secara signifikan tekanan sistolik lebih tinggi dari tekanan diastolik (13).

Berdasarkan studi pendahuluan pada 10 lansia di Dusun Polaman Sedayu

Bantul, lansia mengeluh susah tidur di malam hari, pergi tidur antara jam 8

sampai jam 9, akan tetatapi beberapa lansia baru bisa tidur jam 11. Lansia juga
5

mengatakan sering terbangun pada malam hari rata-rata 3-5 kali untuk ke kamar

mandi dan setelah itu sulit untuk jatuh tertidur lagi. Penyebab lain yang menjadi

alasan lansia, mudah terbangun pada malam hari karena nyeri, mimpi buruk dan

keadaan lingkungan yang berisik. Keluhan lain yang dialami lansia setelah

bangun tidur yaitu merasa kurang segar, mengantuk di siang hari. Namun ada 2

lansia yang mengeluh tidak bisa tidur disiang hari waluapun sudah mengantuk

dan ada keinginan untuk tidur. Hasil observasi, terdapat tingkat tekanan darah

yang bervariasi, termasuk hipertensi tingkat ringan maupun tingkat berat.

Diketahui pula bahwa rata-rata lansia mengalami gangguan tidur dengan durasi

tidur pendek yang menyebabkan kualitas tidur menjadi buruk. Berdasarkan

uraian di atas, peneliti tertarik untuk meneliti hubungan durasi dan kualitas tidur

dengan kejadian hipertensi pada lansia, khususnya di Dusun Polaman Sedayu

Bantul.

A. Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian latar belakang tersebut, maka permasalahan yang dapat

dirumuskan adalah : Apakah ada hubungan durasi dan kualitas tidur dengan

kejadian hipertensi pada lansia ?

B. Tujuan Penilitian

1. Tujuan Umum

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara durasi dan

kualitas tidur dengan kejadian hipertensi pada lansia.

2. Tujuan Khusus

a. Mendeskripsikan karakteristik responden


6

b. Mengetahui pravelensi hipertensi lansia

c. Mengetahui rata-rata durasi tidur lansia berdasarkan status hipertensi

d. Mengetahui rata-rata kualitas tidur lansia berdasarkan status hipertensi

e. Menganalisis hubungan durasi tidur pada lansia dengan kejadian

hipertensi.

f. Menganalisis hubungan kualitas tidur pada lansia dengan kejadian

hipertensi.

C. Manfaat Penilitian

Adapun manfaat penilitian ini anatara lain :

1. Secara Teoritis

Penelitian ini diharapkan dapat dijadikan sebagai ilmu atau informasi

kepada pembaca terutama mengenai keperawatan gerontik khusunya

mengenai durasi dan kualitas tidur pada lansia hipertensi.

2. Manfaat Praktis

a. Bagi Institusi Kesehatan

Penelitian ini diharapkan dapat meningkatkan profesionalisme

perawat dalam mutu pelayanan kesehatan terutama dalam melakukan

asuhan keperawatan gerontik yaitu untuk meningkatkan durasi dan

kualitas tidur pada lansia hipertensi.

b. Bagi masyarakat

Diharapakan hasil penelitian ini membuat masyarakat dapat

menegetahui lebih banyak faktor yang mempengaruhi hipertensi dan

dapat membantu mereka apakah mereka berisiko terkena hipertensi,


7

sehingga dapat mengantisipasi secara dini dan dapat meningkatkan

kualitas tidurnya.

c. Bagi petugas kesehatan

Diharapakan hasil penelitian ini dapat menjadi tambahan informasi

bagi petugas kesehatan khususnya mengenali durasi dan kualitas tidur

pada lansia hipertensi.

3. Bagi pasien

Dapat menjadikan kualitas tidur sebagai upaya untuk melakukan

kontrol agar tidak memperparah hipertensi.

4. Bagi peneliti selanjutnya

Hasil penelitian ini diharapkan menjadi acuan bagi peneliti selanjutnya

dibidang yang sama dimasa mendatang.

D. Keaslian Penilitian

1. Yekti setiyorini (14) Hubungan Kualitas Tidur Dengan Tekanan Darah

Pada Lansia Hipertensi di Gamping Sleman Yogyakarta. Penelitian ini

menggunakan non ekpereime ntal dengan pendekatan cross sectional. Cara

pengambilan sampel yaitu total sampling yaitu 30 responden.

Pengumpulan data menggunakan kuesioner Pittsburgh sleep Quality index

(PSQI) dan analisa data dengan menggunakan uji statistik pearson. Hasil

korelasi pearson didapatkan p = 0,000 (p<0,05). Hasil penelitian ini

menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara kualitas tidur dengan

tekanan darah pada lansia hipertensi di Gamping Sleman Yogyakarta.

Persamaan penelitian ini dengan penelitian yang hendak dilakukan adalah


8

sama-sama meneliti lansia yang megalami hipertensi. Perbedaan variabel

terikat tekanan darah pada lansia hipertensi.

2. Riska Havisa (15) Hubungan kualitas Tidur Dengan Tekanan Darah Pada

Usia Lanjut Di Posyandu Lansia Dusun Jelapan Sindumartani Ngemplak

Sleman Yogyakarta. Penelitian ini merupakan penelitian non eksperimen

dengan rancangan deskriptif korelasi dengan pendekatan cross sectional.

Tehnik pengambilan sampel dengan total sampling. Uji korelasi

menggunakan Chi-Square. Hasil penelitian ini hasil penelitian ini

menunjukkan ada hubungan kualitas tidur dengan tekanan darah pada usia

lanjut. Persamaan penelitian ini adalah sama-sama meneliti lansia,

Perbedaan peneltian ini adalah variabel terikat tekanan darah.

3. Yuni Widyastuti (16) Hubungan Antara Kualitas Tidur Lansia Dengan

Tingkat Kekambuhan Pada Pasien Hipertensi Di Klinik Dhanang Husada

Sukoharjo. Penelitian ini menggunakan metode deskriftif korelasi dengan

desain cross sectional. Tehnik sampling menggunakan insidental sampling

dengan pasien sebanyak 85 pasien hipertensi, cara pengumpulan data

menggunakan kuesioner analisis data menggunakan uji statstik korelasi

Spearmen Rank. Hasil penelitian ini menujukkan bahwa ada hubungan

antara kualitas tidur lansia dengan tigkat kekambuhan pada pasien

hipertensi (p valeu = 0,000<0,05). Persamaan penelitian ini adalah sama-

sama meneliti lansia Perbedaan variabel terikat kekambuahn hipertensi.


9

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Telaah Pustaka

1. Lanjut Usia

a. Pengertian Lansia

Lansia adalah bagian dari proses tumbuh kembang. Undang-

Undang Nomor 13 Tahun 1998 tentang kesejahteraan lansia, yang

dimaksud lansia adalah seseorang yang mencapai usia 60 tahun ke atas

(17). Lanjut usia merupakan sesuatu kejadian yang akan dialami oleh

setiap orang atau individu yang tidak bisa dihindari oleh siapapun (18).

b. Batasan-Batasan Lanjut Usia

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) (19)

1) Usia pertengahan (middle age) merupakan kelompok usia 45-59

tahun.

2) Lanjut usia (elderly) antara 60-74 tahun.

3) Lanjut usia tua (old) antara 76-90 tahun.

4) Usia sangat tua (every old) diatas 90 tahun

c. Perubahan-Perubahan pada Lanjut Usia

Maryam, dkk (20) perubahan-perubahan lanjut usia adalah sebagai

berikut :

1) Perubahan Fisik

a) Sel seperti jumlah berkurang, cairan tubuh menurun dan

cairan intraseluler menurun.


10

b) Kardiovaskuler seperti katup jantung menebal, kemampuan

memompa darah menurun, dan elastisitas pembuluh darah

menurun.

c) Respirasi seperti otot-otot pernafasan kekuatannya menurun,

elastisitas paru menurun, alveoli melebar dan jumlahnya

menurun.

d) Persarafan seperti sraf pancaindra mengecil sehingga

fungsinya menurun menurun serta lambat dalam merespon.

e) Muskuleskeletal seperti cairan tulang menurun sehingga

mudah rapuh (osteoporosis), kram dan tremor.

f) Gastrointrestinal seperti esofagus melebar, asam lambung

menurun, dan enzim pencernaan.

g) Genetourinaria seperti aliran darah ke ginjal menurun,

penyaringan di glomerulus menurun, dan fungsi tubulus

menurun

h) Vesika urinaria seperti otot-otot melemah, kepasitasnya

menurun dan retensi urine.

i) Vagina seperti selaput lendir mengering dan sekresi menurun.

j) Pendengaran seperti membran timpani atrofi sehingga terjadi

gangguan pendengaran.

k) Pengelihatan seperti respon terhadap sinar menurun, adaptasi

terhadap gelap menurun, dan lapang pandang menrun.

l) Endokrin seperti produksi hormon menurun.


11

m) Kulit seperti rambut menipis elastisitas menurun, dan kelenjar

keringat menurun.

n) Belajar dan memori, seperti kemampuan belajar masih ada

tetapi relatif menurun.

o) Intelegensi seperti secara umum tidak banyak berubah.

p) Pengaturan seperti tidak banyak perubahan.

q) Pencapaian seperti pengetahuan, fisiologi, seni dan musik

sangat mempengaruhi.

2) Perubahan Sosial

a) Peran seperti post power syndrome, single woman dan single

parent.

b) Keluarga seperti kesendirian dan kehampaan.

c) Teman seperti ketika ada lanjut usia lainnya meninggal maka

muncul persaan kapan akan meninggal.

d) Abuse seperti kekerasan berbentuk seperti verbal (dibentak),

dan nonverbal (dicubit, tidak diberi makan).

e) Masalah hukum seperti berkaitan dengan perlindungan aset

dan kekayan pribadi yang dikumpulkan sejak masih muda.

f) Pensiun seperti kalau menjadi PNS akan ada tabungan (dana

pensiun).

g) Ekonomi seperti kesempatan untuk mendapatkan pekerjaan

yang cocok bagi lanjut usia.

h) Rekreasi untuk ketenangan batin.


12

i) Keamanan seperti kebutuhan akan sistem trasnportasi yang

cocok bagi lansia.

j) Pendidikan seperti kesempatan untuk tetap belajar sesuai hak

asasi manusia.

k) Agama seperti melakukan ibadah

l) Panti jompo seperti merasa dibuang atau diasingkan.

3) Perubahan Psikologis

Perubahan psikologis pada lanjut usia meliputi short term

memory, frustasi, kesepian, takut kehilangan kebebasn, takut

menghadapi kematian, perubahan keinginan, kecemasan dan

depresi.

d. Proses Menua

1) Pengertian

Murwani proses menua adalah suatu proses menghilangnya

secara perlahan-lahan kemampuan jaringan untuk memperbaiki

diri atau mengganti dan mempertahankan fungsi normalnya,

sehingga tidak dapat bertahan terhadap infeksi dan memperbaiki

kerusakan yang diderita.

2) Tahap-Tahap Proeses Menua

Murwani dan priyantari (18) proses menua yang terjadi pada

lanjut usia terdapat tiga tahapan :

a) Kelemhan (imparment).

b) Keterbatasan fungsional (fungsional limititation).


13

c) Keterhambatan (handicap).

3) Faktor-Faktor proses Menua

Murwani dan priyantari (18) terdapat lima faktor dalam proses

menua :

a) Faktor intelektual

Faktor ini menyangkut kecerdasan pikir seseorang, termasuk

kesadarannya tentang hidup sehat.

b) Faktor biologis

Faktor ini bersangkutan dengan berbagai segi hayati yang

tentu terdapat atau berlangsung dalam diri setiap orang.

Misalnya makan, tidur, istirahat untuk menegembangkan

tenaga.

c) Faktor Fisik

Faktor khusus pertalian dengan jasmani seseorang. Misalnya

memelihara pernafasan yang baik dan jantung yang sehat.

d) Faktor psikologis

Faktor khusus pertalian dengan rohani seseorang. Misalnya

pengendalian stres dan penegembangan emosi yang halus.

e) Faktor Sosial

Faktor ini berhubungan dengan pergaulan dan hidup dalam

masyarakat. Misalnya hbungan dengan teman, kontak sosial,

dan kegiatan dalam masyarakat.


14

4) Macam-Macam Proses Menua

Murwani dan Priyantri (18) macam-macam proses menua ada

dua :

a) Penuaan Primer adalah perubahan pada tingkat sel (dimana

sel yang mempunyai inti DNA atau RNA) pada proses

penuaan DNA tidak mampu membuat protein dan RNA tidak

mampu membuat protein, tidak mampu mengambil oksigen

sehingga membran sel menjadi kisut akibat kurang

mampunya membuat protein maka akan terjadi penurunan

imunologi dan mudah terjadi infeksi.

b) Penuaan Sekunder adalah proses penuaan akibat dari faktor

lingkungan, psikis, fisik, dan sosial. Stres fisik, psikis, gaya

hidup dan diit dapat mempercepat menjadi tua.

e. Teori Proses Menua

Bandiyah (21) teori proses menua dibagi menjadi dua, yaitu:

1) Teori biologis

a) Pengumpulan dari lemak dalam tubuh yang disebut teori

akumulasi. Adanya pigmen lipofuchen di sel otot jantung dan

sistem susunan saraf pusat pada lanjut usia yang dapat

mengakibatkan gangguan fungsi itu sendiri.

b) Tidak ada perlindungan terhadap penyakit dan kekurangan

gizi.
15

2) Teori stres

Menua terjadi akibat hilangnya sel-sel yang biasa digunakan

tubuh.

3) Teori radikal bebas mengakibatkan oksidasi oksigen bahan-bahan

organik seperti karbohidrat dan protein.

4) Teori program

Menjelaskan tentang kemampuan organisme untuk menetapkan

jumlah sel yang membelah setelah sel-sel tersebut mati.

5) Teori rantai silang

Teori ini menjelaskan bahwa sel-sel yang tua reaksi kimianya

dapat menyebabkan ikatan yang kuat, khusunya jaringan kolagen,

ikatan ini menyebabkan elastisitasnya berkurang dan menurunya

fungsi.

6) Teori immunologi slow virus

Teori ini menjelaskan bahwa sistem imunmenjadi kurang efektif

dengan bertambahnya usia dan masuknya virus kedalam tubuh

yang dapat menyebakan keruskan organ tubuh.

7) Reaksi kekbalan sendiri (Auto Immune theory)

Menjelaskan bahwa didalam proses metabolisme tubuh, suatu saat

diproduksi suatu zat khusus, ada jaringan tubuh tertentu yang tidak
16

tahan terhadap zat tersebut sehingga jaringan tubuh menjadi lebih

sdeikit.

8) Penigkatan jumlah kolagen dalam jaringan.

9) Pemakaian dan rusak (the Error theory)

Kelebihan usaha dan stres menyebakan sel-sel tubuh lelah

(terpakai).

10) Teori mutasi (Somatik Mutatie Theory)

Menjelaskan bahwa setiap sel pada saatnya akan mengalami

nutrisi.

11) Teori Kejiwaan Sosial

a) Aktivitas atau kegiatan (Activity theory)

Mempertahankan hubungan antara sistem sosial dan individu

agar tetap stabil dari usia pertengahan ke lanjut usia.

b) Kepribadian berlajut (Continuity Theory)

Dasar kepribadian atau tingkah laku tidak berubah pada lanjut

usia. Teori ini merupakan gabungan dari teori diatas pada

teori ini menyatakan bahwa perubahn yang terjadi pada

seseorang yang lanjut usia dipengaruhi oleh tipe personality

yang dimilki.

12) Teori pembebasan ( Didengagement Teory)

Putusnya pergaulan atau hubungan masyarakat dan kemunduran

individu. Teori ini menyatakan bahwa dengan bertambahnya usia,


17

sesorang secara berangsur-angsur mulai melepaskan diri dari

kehidupan sosialnya atau menarik diri dari pergaulan sekitarnya.

f. Permaslahan Umum yang Terjadi Pada Lanjut Usia

Muwarni dan priyantari (18) permasalahan yang umum terjadi

pada lanjut usia: Proses menua (aging) merupakan proses alami yang

disetai adanya penurunan kondisi fisik, psikologis maupun sosial yang

saling berkaitan berinteraksi satu sama lain. Keadan ini cendrung

berpotensi menimbulkan maslah kesehatan sacara umum pada lanjut

usia maupun khusus kesehatan jiwa pada lansia.

Lanjut usia secara psikososial yang dinyatakan krisis apabila :

1) Ketergantungan pada orang lain (sangat memerlukan pelayanan

orang lain)

2) Menarik diri dari kegiatan kemasyrakatan karena berbagai sebab,

diantaranya setelah menjalani masa pensiun dan lain-lain.

2. Hipertensi

a. Pengertian Hipertensi

Hipertensi atau darah tinggi menurut American Society of

Hypertension (ASH) adalah suatu sindrom atau kumpulan gejala

kardiovaskuler yang progresif, sebagai akibat dari kondisi lain yang

kompleks dan saling berhubungan (22). hipertensi adalah suatu

keadaan dimana terjadi peningkatan tekanan darah secara abnormal

dan terus menerus disebabkan oleh bebrapa faktor resiko yang tidak
18

berjalan sebagaimana mestinya dalam mempertahankan tekanan darah

(23).

b. Proses terjadinya hipertensi

Hipertensi terjadi karena terbentuknya angiotensi II dari

angiotensin I oleh angiotensin-convereting enzyme (ACE). Darah yang

mengandug angiotensinogen yang diproduksi di hati akan berubah

menjadi angiotensin I oleh hormon renin. Kemudian ACE yang

terdapat di paru-paru akan mengubah angiotensin I menjadi

angiotensin II melalui dua aksi utama. Pertama dengan meningkatkan

sekresi hormon antideuretik (ADH) dan rasa haus. Meningkatnya rasa

haus menyebabkan urin yang di ekstrsikan tubuh menjadi sedikit,

sehingga menjadi pekat dan tinggi osmalitasnya, untuk mengencerkan

volume ekstraseluler ditingkatkan dengan cara menarik cairan dari

bagian intraseluler (23).

Hal ini akan menyebabkan terjadinya peningkatan volueme darah

degan demikian tekanan darah akan meningkat. Kedua, dengan

menstimulasi sekresi hormon aldesteron dari korteks adrenal.

Pengaturan volume cairan oleh adesteron dilakukan dengan

mengurangi eksresi NACL dengan cara mereabsorsinya dari tubulus

ginjal. Hal ini menyebabkan naiknya konsentrasi NaCl, yang

kemudian diencerkan dengan meningkatkan volume cairan

ekstraseluler, dengan demikian terjadilah peningkatan volume darah

dan tekanan darah (23).


19

Patogenesis hipertensi lansia sedikit berbeda dengan usia dewasa

muda. Beberapa faktor utama yang berperan adalah: penurunan kadar

renin karena menurunnya jumlah nefron yang pada proses menua,

penigkatan sensitivitas terhadap asupan natrium. Semakin lanjut usia

semakin sensitif terhadap penigkatan atau penurunan kadar natrium,

penurunan elastisitas pembuluh darah pada lansia akan menyebabkan

hipertensi sistolik saja dan perubahan aretomatous akibat proses

menua menyebakan disfungsi endotel yang berlanjut pada

pembentukan berbagai sitokin dan subtansi kimia lain yang

menyebabkan reasorbsi natrium di tubulus ginjal, sehingga

meningkatkan proses penebalan pembuluh darah yang meneybabkan

kenaikan darah (23).

Peningkatan tekanan darah di dalam arteri dikarenkan oleh bebrapa

hal, diantaranya:

1) Arteri besar menjadi kaku akibat dari hilangnya kelenturan

sehingga tidak dapat mengembang pada saat jantung memompa

darah melalui arteri tersebut. Oleh karena itu darah dipaksa untuk

tetap melewati pembuluh yang sempit dan menyebakan tekanan

darah. Hal ini sering terjadi pada lansia, dimana dinding arterinya

menebal dan kaku akibat arteriosklerosis.

2) Bertambahnya cairan dalam sirkulasi karena adanya kelainan pada

ginjal sehingga tidak mampu membuang garam dan air dari dalam
20

tubuh, dan menyebakan volume darah dalam tubuh meningkat

sehingga tekanan darah meningkat (24)

c. Jenis-Jenis Hipertensi

Herlinah, dkk (25) tekanan darah tinggi dibagi menjadi dua jenis yaitu

hipertensi primer (esensial) dan hipertensi skunder.

1) Hipertensi primer atau (esensial) yaitu adanya peningkatan

tekanan arteri yang disebakan karena ketidakraturan mekanisme

kontrol homeostatik normal (26). Jenis hipertensi ini tidak

diketahui penyebabnya, tetapi hal ini terjadi 90% dari kasus

hipertensi. Hipertensi esensial merupakan penyakit multifaktorial

yang timbul akibat interaksi beberapa faktor resiko, antara lain

meliputi:

a) Pola hidup seperti merokok, asupan garam berebih, obesitas,

aktivitas fisik dan stres.

b) Faktor genitik, dan usia,

c) Sistem saraf simpatis; tonus simpatis dan variasi durnal.

2) Hipertensi skunder

Penyebab hipertensi skunder yaitu gangguan hormonal,

penyakit jantung, diabetes, gagal jantung, penyakit pembuluh

darah atau berhubungan dengan kehamilan. Garam dapur akan

memperburuk penyakit hipertensi akan tetapi bukan penyebab dari

hipertensi (27).
21

d. Klasifikasi Tekanan Darah Menurut JNC VIII

Tabel 1.1 Klasifikasi Hipertensi Menurut JNC VIII Sumber: National

Heart, Lung and Blood Institute (NHLBI), 2013 (19).

Klasifikasi Tekanan diastolik Tekanan diastolik


(mmHg) (mmHg)
Normal <120 <80
Prehipertensi 120-139 80-89
Hipertensi stage I 140-150 90-99
Hipertensi Stage II >150 >100

e. Faktor resiko terjadinya hipertensi

Faktor resiko terjadinya hipertensi

1) Usia salah satu dari faktor resiko hipertensi sesuai dengan teori

dimana pertambahan umur diikuti dengan perubahan anatomi dan

fisiologi seperti penebalan katup-katup jantung, penurunan

elastisitas dinding aorta, hal inilah yang menjadi penyebab

penigkatan faktor resiko hipertensi pada lansia.

2) Jenis kelamin

Laki-laki dan perempuan kemungkinan yang sama untuk

mengalami hipertensi selama kehidupannya. Namun laki-laki

lebih beresiko terkena hipertensi dibandigkan perempuan saat

berusia sebelum 45 tahun. Sebaliknya saat usia >65 tahun

perempuan lebih beresiko terkena hipertensi dibandingkan dengan

laki-laki. Kondisi ini dipengaruhi oleh hormon. Wanita memasuki

masa menopause lebih beresiko mengalami obesitas yang akan

menigkatkan resiko terjadinya hipertensi.


22

3) Obesitas

Semua orang yang mengalami obesitas atau kegemukan

beresiko lebih besar terkena hipertensi. Indikator untuk

menentukan ada atau tidaknya pada seseorang adalah melalui

pengukuran Index Masa Tubuh (IMT) atau ligkar perut, meskipun

demikian kedua indikator tersebut bukanlah menjadi indikator

terbaik untuk menentukan terjadinya hipertensi tetapi menjadi

salah satu faktor resiko yang dapat mempercepat kejadian

hipertensi.

4) Kurang aktivitas fisik

Aktivitas fisik merupakan pergerakan otot anggota gerak

tubuh yang membutuhkan energi atau pergerakan yang

bermanfaat untuk menigkatkan kesehatan contohnya seperti

bersepeda, yoga, menari. Aktivitas fisik sangat berguna bagi tubuh

terutama untuk organ jantung dan paru-paru, aktivitas fisik

menyehatkan pembuluh darah sehingga mencegah terjadinya

hipertensi.

5) Kebiasaan merokok dan konsumsi alkohol

Kebiasaan merokok merupakan penyebab kematian dan

kesakitan yang bisa dicegah. Zat kimia yang dihasilkan dari

pembakaran tembakau berbahaya dari sel darah dan organ tubuh

lainnya seperti jantung, paru-paru, pembuluh darah, mata, organ

reproduksi, bahkan organ pencernaan. Mengkonsumsi minuman


23

beralkohol juga dapat menigkatkan tekanan darah, beberapa

penelitian menyebutkan mengkonsumsi tiga gelas alkohol perhari

beresiko dua kali lipat terkena hipertensi.

6) Faktor lain

Riwayat keluarga yang menderita hipertensi dapat menjadi

penyebab resiko terjadinya hipertensi dan stress yang

berkepanjangan dapat menigkatkan resiko sesorang untuk

mengalami hipertensi karena stress emosi dapat mengakibatkan

stimulasi simpatik yang menigkatkan frekuesnsi darah, curah

jantung, dan tahan vaskuler perifer efek stimulasi simpatik

tersebut menigkatkan tekanan darah (26).

f. Komplikasi hipertensi

Beberapa komplikasi hipertensi, Ardiansyah (28).

1) Gagal ginjal

Penyakit darah tinggi dapat menyebakan pembuluh darah pada

ginjal mengkerut sehingga aliran zat-zat makanan ke ginjal

terganggu dan mengakibatkan kerusakan pada sel-sel ginjal. Jika

hal ini dibiarakan terus menurus maka akan terjadi kerusakan pada

sel-sel ginjal dan apabila tidak segera ditangani menyebakan

ginjal terminal.

2) Gagal jantung

Hal ini terjadi karena penderita hipertensi kerja jantung akan

meningkat otot jantung akan menyesuaikan sehingga terjadi


24

pembengkakan jantung dan semakin lama otot jantung akan

mengendurkan elastisitasnya akhirnya jantung tidak mampu lagi

memompa dan menampung darah darah dari paru-paru sehingga

banyak cairan tertahan di paru-paru maupun jaringan tubuh lain

yang dapat menyebabkan sesak nafas. Gagal jantung hampir 90%

bisa menyebabkan kematian bagi penderita gagal jantung (28).

3) Stroke

Stroke dapat menimbulkan perdarahan karana tekanan darah

di otak atau akibat embolus yang terlepas dari pembuluh non otak.

Stroke dapat terjadi pada hipertensi kronis apabila arteri-arteri

yang mengalir darah ke otak mengalami hipertropi dan menebal,

sehingga aliran darah berkurang. Ateri-arteri otak mengalami

arterosklerosis dapat melemah, sehingga meningkatkan

kemungkinan terbentuknya anurisma.

4) Infark miokardium

Infark miokardium terjadi jika arteri yang mengalami

arterosklerosis tidak dapat menyuplai oksigen ke miokardium atau

apabila terbentuknya thrombus yang dapat menghambat aliran

darah melalui pembuluh tersebut.

g. Penatalaksanaan Hipertensi

Salah satu tujuan dari penyembuhan pasien mengalami hipertensi

antara lain yaitu target tekanan darah menjadi <140/90 mmHg dan

untuk pasien yang berisiko tinggi seperti diabetes melitus, gagal ginjal
25

target tekanan darah <130/80 mmHg, penurunan morbiditas dan

mortalitas kardiovaskuler dan menghambat laju penyakit ginjal (26)

Pencapaian tekanan darah target secara umum dapat dilakukan

dengan dua cara sebagai berikut:

a) Non Farmakologis

Terapi non farmakologis terdiri dari menghentikan kebiasaan

merokok, menurunkan berat badan berlebih, konsumsi alkohol

berlebih, asupan garam dan asupan lemak, latihan fisik serta

meningkatkan konsumsi buah dan sayur.

1) Menurunkan berat badan bila status gizi berlebih (obesitas)

Peningkatan berat badan di usia dewasa sangat berpengaruh

terhadap tekanan darahnya. Oleh karena itu, manajemen berat

badan sangat penting dalam prevensi dan kontrol hipertensi.

2) Meningkatkan aktifitas fisik

Orang yang aktivitasnya rendah berisiko terkena hipertensi 30-

50% daripada yang aktif. Oleh karena itu, aktivitas fisik antara

30-45 menit sebanyak >3x/hari penting sebagai pencegahan

primer dari hipertensi.

3) Mengurangi asupan natrium

Upaya yang lain adalah mengurangi asupan natrium dan

apabila diet tidak membantu dalam jangka 6 bulan, maka perlu

diberikan obat anti hipertensi oleh dokter.


26

4) Menurunkan konsumsi kafein dan alkohol: kafein dapat

memacu jantung bekerja lebih cepat, sehingga mengalirkan

lebih banyak cairan pada setiap detiknya. Sementara konsumsi

alkohol lebih dari 2-3 gelas/hari dapat meningkatkan risiko

hipertensi.

b) Terapi Farmakologi

Terapi farmakologis yaitu obat antihipertensi yang dianjurkan

oleh JNC VII yaitu diuretika, terutama jenis thiazide (Thiaz) atau

aldosteron antagonis, beta blocker, calcium chanel blocker atau

calcium antagonist, Angiotensin Converting Enzyme Inhibitor

(ACEI), Angiotensin II Receptor Blocker atau AT1 receptor

antagonist atau blocker (ARB) diuretik tiazid (misalnya

bendroflumetiazid ) (26).

3. Teori Dasar Tidur

Potter dan Perry (29) tidur merupakan suatu keadaan yang berulang-

ulang, perubahan status kesadaran yang terjadi selama periode tertentu. Jika

orang memperoleh tidur yang cukup, mereka merasa tenaganya pulih.

Beberapa penelitian menyatakan bahwa pulihnya tenaga setelah tidur

menunjukkan bahwa tidur memberikan waktu untuk perbaikan dan

penyembuhan sistem tubuh untuk periode keterjagaan yang berikutnya.


27

a. Fisiologi Tidur

Tidur adalah proses fisiologis yang bersiklus yang bergantian dengan

periode yang lebih lama dari keterjagaan. Siklus tidur-terjaga

mempengaruhi dan mengatur fungsi fisiologis dan respon perilaku.

1) Siklus tidur

Potter dan Perry 2012 tidur yang normal memiliki dua fase: yaitu

pergerakan mata yang tidak cepat tidur nonrapid eye movement

(NREM) dan pergerakan mata yang cepat tidur rapid eye

movement (REM).

Tidur NREM dibagi menjadi empat stadium:

a) Stadium 1 merupakan transisi dari bangun dan ditandai oleh

hilangnya pola alfa reguler dan munculnya amplitudo rendah,

pola frekuensi campuran, terutama pada rentang teta (2

sampai 7 Hz). Dan gerakan mata berputar lambat. Seseorang

dengan mudah terbangun oleh sensori seperti stimulus suara.

Dan ketika terbangun, seseorang akan merasa seperti telah

melamun.

b) Stadium 2 ditetapkan melalui kejadian kompleks K dan

kumparan tidur yang betumpang tindih pada aktivitas latar

belakang yang serupa dengan stadium 1. Untuk terbangun

masih relatif mudah, namun sudah memiliki peningkatan

dalam relaksasi dan fungsi tubuh seseorang menjadi sangat

lamban.
28

c) Stadium 3 adalah delta tidur dengan sekitar 20% tetapi kurang

dari 50% aktivitas delta amplitudo tinggi (375 V) delta (0,5

sampai 2 Hz). Kumparan tidur tetap ada, aktivitas gerakan

mata tidak ada, dan aktivitas Elektromyografi (EMG)

menetap pada kadar yang rendah, sehingga otot-otot mulai

kendur. Tahap ini berakhir 15-30 menit (29).

d) Stadium 4, yaitu pola Elektro-Encephalogram (EEG) stadium

3 lambat, voltase tinggi terganggu pada sekitar 50% rekaman.

NREM stadium 3 dan 4 disebut sebagai (secara kolektif) tidur

dalam, delta, atau gelombang lambat. sangat sulit untuk

membangunkan sesorang dalam tahap tidur ini. Tanda-tanda

vital mulai menurun secara bermakna. Waktu ini berlangsung

selama 15-30 menit.

Tidur REM merupakan tidur aktif atau tidur paradoksial.

Tidur REM ditandai dengan mimpi, otot-otot kendor,

meningkatnya tekanan darah, gerakan mata cepat (mata

cenderung bergerak bolak-balik), gerakan otot tidak teratur,

pernafasan tidak teratur cenderung lebih cepat, dan suhu serta

metabolisme meningkat (30).

2) Irama Sirkadian

Orang mengalami irama siklus sebagai bagian dari kehidupan

mereka setiap hari. Irama yang paling dikenal adalah siklus 24-

jam, siang-malam yang dikenal dengan irama diurnal atau


29

sirkadian. Irama sirkadian mempengaruhi pola fungsi biologis

utama dan fungsi perilaku. Irama sirkadian termasuk siklus tidur-

bangun harian, dipengaruhi oleh cahaya dan suhu serta juga

faktor-faktor eksternal seperti aktivitas sosial dan rutinitas

pekerjaan. Semua orang mempunyai aktivitas yang sinkron

dengan siklus tidur mereka (29).

b. Fungsi dan tujuan tidur

Fungsi dan tujuan tidur secara jelas tidak diketahui tetapi diyakini

bahwa tidur dapat digunakan untuk menjaga keseimbangan mental,

emosional, kesehatan, mengurani stress pada paru, kardiovaskuler,

endokrin, dan lain-lain. Energi disimpan selama tidur sehingga dapat

diarahkan kembali pada fungsi seluler yang penting. Secara umum

terdapat dua efek fisiologis tidur; pertama, efek pada sistem saraf yang

diperkirakan dapat memulihkan kepekaan normal dan keseimbangan

diantara berbagai susunan saraf, dan kedua; sefek pada struktur tubuh

dengan memulihkan kesegaran dan fungsi tubuh karena selama tidur

terjadi penurunan (31). Salah satu fungsi ubuh yang paling utama

adalah untuk memungkinkan sistem syaraf pulih setelah digunakan

selama satu hari (32).

c. Durasi tidur

Kuantitas dan kualitas pola tidur dipengaruhi oleh berbagai macam

budaya, sosial, psikologis, perilaku, patofisiologi, pengaruh

lingkungan dan perubahan tradisi dalam masyarakat modern yang


30

bekerja berjam-jam, dan lebih banyak bekerja daripada tidur.

Kebutuhan tidur berbeda-beda berdasarkan usia. Kebutuhan tidur

manusia berbeda-beda sesuia dengan tingkat perkembangannya (31).

Tabel 2.1. Kebutuhan dasar tidur manusia

Usia Tingkat Perkembangan Jumlah


kebutuhan tidur
0-1 bulan Masa neonatus 14-18 jam/hari
1 bulan 18 bulan Masa bayi 12-14 jam/hari
18 bulan 3 tahun Masa anak 11-12 jam/hari
3 tahun 6 tahun masa prasekolah 11 jam/hari
6 tahun 12 tahun Masa sekolah 10 jam/hari
12 tahun 18 tahun Masa remaja 8,5 jam/hari
18 tahun 40 tahun Masa dewasa muda 7-8 jam/hari
40 tahun 60 tahun Masa paruh baya 7 jam/hari
60 tahun ke atas Masa dewasa tua 6 jam/hari

Pada lansia akan membutuhkan waktu lebih lama untuk masuk waktu

tidur dan mempunyai sedikit atau lebih pendek waktur tidur nyeyaknya.

Mereka juga lebih sering terbangun ditengah malam akibat perubahan

fisik karena usia dan penyakit yang dideritanya, kualitas tidur secara

nyata menurun (33).

Secara teoritis, durasi tidur pendek dan durasi tidur panjang dapat

berdampak negatif pada kesehatan dan kebugaran tubuh. Hal ini

didukung oleh beberapa penelitian yang menghubungkan durasi tidur

dengan kejadian beberapa efek samping kesehatan, termasuk jumlah

kematian, penyakit kardiovaskular, diabetes tipe 2, hipertensi, gangguan

pernafasan, obesitas pada anak-anak dan dewasa, dan penurunan rata-rata

kesehatan. Hubungan antara durasi tidur dan kematian sering


31

digambarkan dengan hubungan berbentuk U, walaupun penelitian yang

lain tidak ditemukan efek tidak berhubungan (34).

1) Durasi tidur pendek

Dalam penelitian secara pasti menunjukkan bahwa tidur terlalu

sedikit tidak hanya menghambat produktivitas dan kemampuan untuk

mengingat dan mengolah informasi , tetapi kekurangan tidur juga

dapat menyebabkan konsekuensi kesehatan serius dan keamanan

serta keselamatan orang di sekitarnya. Durasi tidur pendek

dihubungkan dengan :

a) Peningkatan risiko kecelakaan kendaraan bermotor

b) Peningkatan indeks berat badan (BMI) besarnya kecenderungan

obesitas karena peningkatan nafsu makan disebabkan karena

kekurangan tidur

c) Peningkatan risiko diabetes dan masalah jantung

d) Peningkatan risiko gangguan kondisi psikis termasuk depresi,

keadaan paranoid, halusinasi dan subtansi obat-obatan

e) Penurunan kadar leptin, suatu hormone yang menandakan

keseimbangan energi menuju otak. Leptin juga berhubungan

dengan keseimbangan symphathovagal, kortisol, TSH, glukosa

dan insulin dalam kondisi tidur yang berbeda. Tingkat rata-rata,

tingkat maksimal, dan amplitudo ritme leptin menurun selama

tidur kurang daripada dengan tidur berlebih.


32

f) Peningkatan kadar kortisol pada siang hari dan sore hari, dan

dalam jangka pendek dibanding dengan jangka panjang.

Perubahan tersebut dapat memfasilitasi gangguan pusat atau

sentral dan peripheral yang berhubungan dengan kelebihan

glukokortikoid, seperti defisit memori dan penuaan. Kekurangan

tidur kronik dapat berkonstribusi pada peningkatan proses

penuaan.

g) Kurang tidur juga dihubungkan dengan gangguan toleransi

karbohidrat. Maka, kurang tidur dapat meningkatkan risiko

diabetes. Tidur memainkan peran penting dalam keseimbangan

energi

h) Kurang tidur ditemukan berhubungan dengan penurunan tingkat

leptin plasma dan peningkatan kadar ghrelin plasma, tingkat

lapar dan nafsu makan juga meningkat (35).

2) Durasi tidur panjang

Disisi lain, beberapa penelitian menemukan durasi tidur panjang

9 jam juga berhubungan dengan peningkatan morbiditas (penyakit,

kecelakaan) dan mortalitas (kematian). Para peneliti menggambarkan

hubungan ini sebagai kurva U-shaped dimana tidur terlalu singkat

maupun terlalu lama dapat berisiko. Penelitian ini menemukan bahwa

beberapa variable seperti rendahnya status social-ekonomi dan

depresi yang secara signifikan berhubungan dengan tidur panjang.

Beberapa peneliti berpendapat bahwa variabel lain tersebut mungkin


33

menyebabkan tidur lebih lama. Pada kenyataannya, seseorang

dengan status sosioekonomi rendah lebih memungkinkan memiliki

penyakit tak terdiagnosis karena rendahnya layanan kesehatan (36).

Para peneliti memperhatikan bahwa tidak ada kesimpulan

definitif bahwa tidur lebih dari 9 jam per malam secara konsisten

berhubungan dengan masalah jantung dan atau mortalitas orang

dewasa, sedangkan tidur singkat berhubungan dengan kedua

konsekuensi pada sejumlah penelitian. Selain itu, mekanisme

kausatif durasi tidur panjang belum banyak dibahas dalam berbagai

penelitian dibandingkan dengan durasi tidur pendek. Meskipun

terdapat hubungan U-shape di antara keduanya, dengan peningkatan

komorbiditas yang sama namun memiliki mekanisme yang berbeda

(36).

d. Kualitas Tidur

Kualitas tidur adalah suatu keadaan tidur yang dijalani seorang

individu menghasilkan kesegaran dan kebugaran saat terbangun.

Kualitas tidur mencakup aspek kuantitatif dari tidur, seperti durasi

tidur, latensi tidur serta aspek subjektif dari tidur. Kualitas tidur adalah

kemampuan setiap orang untuk mempertahankan keadaan tidur dan

untuk mendapatkan tahap tidur REM dan NREM yang pantas (37).

Menurunnya kualitas tidur pada lansia disebabkan oleh

meningkatnya latensi tidur, berkurangnya efisiensi tidur, terbangun

lebih awal dan kesulitan untuk kembali tidur. Hal ini berhubungan
34

dengan proses degeneratif sistem dan fungsi dari organ tubuh pada

lansia. Penurunan fungsi neurontransmiter menyebabkan menurunnya

produksi hormon melatonin yang berpengaruh terhadap perubahan

irama sirkadian, sehingga lansia akan mengalami penurunan tahap 3

dan 4 dari waktu tidur NREM, bahkan hampir tidak memiliki fase 4

atau tidur (38).

e. Faktor faktor yang Mempengaruhi Tidur

Sejumlah faktor yang mempengaruhi kuantitas dan kualitas tidur.

Seringkali faktor tunggal tidak hanya menjadi penyebab masalah tidur,

faktor fisiologis, psikologis, dan lingkungan dapat mengubah kualitas

dan kuantitas tidur. Adapun menurut Potter dan Perry 2012 (29),

berikut penjabaran nya:

1) Penyakit Fisik

Setiap penyakit yang menyebabkan nyeri, ketidaknyamanan

fisik, atau masalah suasana hati, seperti kecemasan atau depresi,

dapat menyebabkan masalah tidur. Seseorang dengan perubahan

seperti itu mempunyai masalah kesulitan tertidur atau tetap tidur.

Nokturia atau berkemih dimalam hari juga menjadi salah satu

penyebab gangguan tidur dan siklus tidur. Dan ini sering terjadi

pada lansia dengan penurunan tonus kandung kemih atau orang

yang berpenyakit jantung, diabetes, uretritis, atau penyakit prostat

(29).

2) Obat-obatan dan Substansi


35

Lansia seringkali menggunakan variasi obat untuk

mengontrol atau mengatasi penyakit kroniknya, dan efek

kombinasi dari obat-obatan dapat menimbulkan gangguan tidur

yang serius. L-triptofan, suatu protein alami ditemukan dalam

makanan seperti susu, keju dan daging, dapat membantu

seseorang mudah tidur (29).

3) Gaya hidup

Rutinitas harian seseorang mempengaruhi perubahan pola

tidur. Individu yang bekerja bergantian berputar (misalnya 2

minggu siang, kemudian diikuti oleh 1 minggu malam) seringkali

mempunyai kesulitan menyesuaikan perubahan jadwal tidur.

Setelah beberapa minggu bekerja pada waktu malam hari, maka

jam biologis seseorang dapat mmenyesuaikan. Perubahan lain

dalam rutinitas yang menggangu pola tidur meliputi bekerja berat

yang tidak biasa, mengikuti aktivitas sosial pada waktu malam,

dan perubahan waktu makan malam (29).

4) Stres emosional

Stres emosional menyebabkan seseorang menjadi tegang dan

tidak bisa tidur. Seringkali lansia mengalami kehilangan yang

mengarah pada stres emosional. Pensiun, gangguan fisik,

kematian orang yang dicintai, dan kehilangan keamanan ekonomi

merupakan contoh situasi yang situasi yang meprediposisi lania

untuk cemas dan depresi. Sehingga seringkali ini mengalami


36

perlambatan untuk jatuh tidur, munculnya tidur REM secara dini,

seringkali terjaga, peningkatan total waktu tidur, perasaan tidur

yang kurang, dan terbangun cepat (29).

5) Lingkungan

Lingkungan fisik tempat seseorang tidur berpengaruh penting

pada kemampuan untuk tertidur dan tetap tidur. Ukuran,

kekerasan, dan posisi tempat tidur mempengauhi kualitas tidur.

Seseorang lebih nyaman tidur sendiri atau bersama orang lain,

teman tidur dapat mengganggu tidur jika ia mendengkur. Suara

juga mempengaruhi tidur (29).

6) Latihan fisik dan kelelahan

Seseorang yang kelelahan biasanya memperoleh tidur yang

mengistirahatkan, khususnya kelelahan ini dikarenakan dari kerja

atau latihan yang menyenangkan. Latihan dua jam atau lebih

sebelum waktu tidur membuat tubuh mendingin dan

mempertahankan suatu keadaan kelelahan yang meningkatakan

relaksasi. Akan tetapi, kelalahan yang berlebihan yang dihasilkan

dari kerja yang meletihkan atau penuh stres membuat sulit tidur.

Hal ini juga dapat menjadikan masalah dalam kualitas dan pola

tidur, dan biasanya terjadi pada anak sekolah dan remaja (29).

7) Asupan makanan dan kalori

Orang tidur lebih baik ketika sehat sehingga mengikuti

kebiasaan makan yang baik adalah penting untuk kesehatan yang


37

tepat dan tidur. Kafein dan alkohol yang dikonsumsi pada malam

hari mempunyai efek produksi insomnia, sehingga mengurangi

atau menghindari zat tersebut secara drastis adalah strategi penting

yang digunakan untuk meningkatkan tidur. Kehilangan atau

kelebihan berat badan juga dapat mempengaruhi pola tidur (29).

f. Perubahan Tidur pada Lanjut Usia

Lansia tidur 6 jam setiap malamnya dan 20-25% adalah tidur REM.

Terdapat penurunan yang progresif pada tahap tidur NREM 3 dan 4,

dan beberapa lansia hampir tidak memiliki tahap 4, atau tidur yang

dalam. Total waktu tidur rata-rata pada lanjut usia meningkat, namun

membutuhkan waktu yang banyak untuk bisa jatuh tidur (39). Seorang

lanjut usia memiliki waktu pendek pada tidur yang dalam (delta sleep),

dan lebih panjang waktunya didalam tidur stadium 1 dan 2. Hasil tes

Polysomnographic ditemukan bahwa adanya penurunan dalam slow

wave sleep dan REM (17).

Pada lanjut usia, irama sirkadian menjadi lebih lemah, tidak dapat

menyesuaikan dan kehilangan tinggi rendahnya irama sirkadian. Salah

satu hipotesis menyatakan suprachiasmatic nuclei mengalami

kemunduran dan mengalami kelemahan fungsi sehingga membuat

irama sirkadian lanjut usia menjadi terganggu. Penurunan tinggi

rendahnya irama sirkadian dapat meningkatkan frekuensi terbangun

dimalam hari dan mengantuk yang amat di siang hari (17). Crowley

2011 (40), juga melaporkan tentang kemunduran irama sirkadian


38

seperti suhu tubuh, kortisol, dan melatonin. Penurunan kadar

melatonin dimalam hari dapat menyebabkan gangguan irama

sirkadian, khususnya menjadi lebih maju. Hal ini menyebabkan

banyak lanjut usia merasa mengantuk dan tertidur lebih awal di malam

hari dan lebih awal di pagi hari.

g. Gangguan Tidur

1) Insomnia

Insomnia adalah gangguan tidur yang kesulitan untuk tidur atau

mempertahankan tidur pada malam hari. Ini akan menjadi

gangguan jangka pendek jika berakhir hanya dalam waktu

beberapa malam, namun akan menjadi kronik jika sampai

berbulan-bulan atau semakin lama. Insomnia sementara dapat

disebabkan oleh stress, perasaan yang terlalu gembira, atau

perubahan pola tidur selama melakukan perjalanan. Pola tidur

akan kembali normal ketika rutinitas kegiatan kembali seperti

biasanya. Insomnia kronik mungkin disebabkan karena medikasi,

perilaku atau masalah psikologi (37).

2) Hiperinsomnia

Hipersomnia kebalikan dari insomnia, yaitu terjadi kelebihan

waktu tidur, terutama pada siang hari (22). Hipersomnia dapat

disebabkan karena kondisi media, seperti adanya kerusakan pada

sistem saraf pusat, gangguan metabolik (asidosis diabetik dan

hipotiroidisme). Seseorang tertidur selama 8-12 jam dan


39

mengalami kesulitan untuk bangun di pagi hari (kadang-kadang

dikenal sebagai tidur dengan keadaan mabuk (22).

3) Gangguan Irama Sirkadian

Gangguan tidur irama sirkadian terjadi karena tidak tepatnya

jadwal tidur seseorang dengan pola normal tidur sirkadiannya.

Seperti seseorang tidak dapat tidur ketika orang tersebut berharap

untuk tidur, ingin tidur, atau pun pada saat membutuhkan tidur.

Sebaliknya, seseorang mengantuk di saat waktu yang tidak

diinginkan (22).

4) Sleep Apnea

Sleep apnea adalah kondisi dimana seseorang akan berhenti

napasnya dalam periode singkat selama tidur. Tiga tipe sleep

apnea: obstruktif, sentral dan mixedcomplex. Apnea obstruktif

disebabkan oleh jaringan halus yang berelaksasi, dimana membuat

sebagian sampai seluruhnya tersumbat di saluran napas. Sindrom

sleep apnea obstruktif merupakan faktor resiko terjadinya

hipertensi dan penyakit kardiovaskuler lainnya (22).

5) Narkolepsi

Narkolepsi adalah disfungsi mekanisme yang mengatur

keadaan bangun dan tidur (22). Narkolepsi terjadi secara tiba-tiba

ketika seseorang sedang dalam keadaan terjaga, dapat terjadi

secara berulang dan tidak terkontrol. Periode tidur singkat ini bisa

terjadi setiap waktu dan durasinya dari beberapa detik sampai


40

lebih dari 30 menit. Sebagai contoh, seseorang dapat jatuh tertidur

saat sedang membaca buku, menonton televisi, maupun menyetir.

6) Deprivasi Tidur

Deprivasi tidur meliputi kurangnya tidur pada waktu tertentu

atau waktu tidur yang kurang optimal. Deprivasi tidur dapat

disebabkan oleh penyakit, stress emosional, obat-obatan,

gangguan lingkungan dan keanekaragaman waktu tidur yang

terkait dengan waktu kerja.

Deprivasi tidur melibatkan penurunan kuantitas dan kualitas

tidur serta ketidakkonsistenan waktu tidur. Apabila pola tidur

mengalami gangguan maka terjadi perubahan siklus tidur normal.

Deprivasi tidur mengakibatkan daya ingat yang melemah, sulit

membuat keputusan dan gangguan emosional seperti respon

interpersonal yang memburuk dan meningkatnya sikap agresif

(41).

7) Parasomnia

Parasomnia sebagai suatu aktivitas yang normal di saat

seseorang terjaga tetapi akan menjadi abnormal jika aktivitas

tersebut muncul di saat seseorang sedang tertidur. Masalah tidur

ini lebih banyak terjadi pada anak-anak daripada orang dewasa,

aktivitas tersebut meliputi somnambulisme (berjalan dalam tidur),

terjaga malam, mimpi buruk, enuresis nocturnal (mengompol),

dan menggeratakkan gigi (22).


41

B. Kerangka Teori Kerangka Teori

Lansia

Penurunan fungsi lanjut usia


1. Penurunan fungsi fisik
Meliputi perubahan-
perubahan pada sel dan
sistem tubuh
2. Perubahan psikologis
3. Perubahan sosial Faktor yang mempengaruhi
tidur
1. Penyakit fisik
2. Obat-obatan dan substansi
Faktor yang Gangguan tidur 3. Gaya hidup
mempengaruhi durasi
4. Stres emosional
tidur:
5. Lingkungan
1. Budaya 6. Latihan fisik dan kelelahan
Durasi tidur
2. Sosial 7. Asupan makanan dan kalori
3. Prilaku
4. Lingkungan
5. Lama waktu bekerja Kualitas tidur
6. usia
Faktor resiko terjadinya
hipertensi
1. Usia
Hipertensi 2. Jenis
3. Obesitas
4. Kurang aktivitas fisik
5. Kebiasaan merokok
Komplikasi hipertensi dan konsumsi alkohol
6. Faktor lain: riwayat
1. Gagal ginjal keluarga
2. Gagal jantung
3. Stroke
4. Infark miokardium
42

C. Kerangka Konsep

Variabel Bebas Variabel terikat

Durasi tidur

Kejadian hipertensi

Kualitas tidur
43

BAB III

METODE PENILITIAN

A. Jenis dan Rancangan Penelitian

Desain dalam penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan jenis

rancangan descriptif correlation yaitu penelitian yang dilakukan untuk

mengetahui tingkat hubungan antara dua variabel atau lebih, tanpa melakukan

perubahan tambahan, atau manipulasi terhadap data yang memang sudah ada.

Penelitian ini menggunakan design penelitian cross sectional yaitu jenis

penelitian yang menekankan waktu pengukuran atau observasi data variabel

independen dan dependen hanya satu kali pada satu saat. Pada jenis ini, variabel

independen dan dependen dinilai secara simultan pada suatu saat, jadi tidak ada

tindak lanjut. Dengan studi ini akan diperoleh prevalensi atau efek suatu

fenomena (variabel dependen) dihubungkan dengan penyebab (variabel

independen) (42).

B. Tempat dan Waktu Penelitian

1. Tempat Penelitian

Penelitian ini akan dilakukan di Dusun Polaman Desa Argerejo Sedayu

Bantul Yogyakarta.

2. Waktu penelitian

Akan dilakukan pada tanggal 19 Maret 2017


44

C. Populasi dan Sampel Penelitian

1. Populasi

Populasi penelitian adalah keseluruhan objek peneliti atau objek yang

diteliti (43). Populasi dari penilitian ini adalah lansia hipertensi yang

bejumlah 136 lansia dan lansia yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi

di Dusun Polaman Sedayu Bantul Yogyakarta. Peneliti ini memilih lansia

yang tekanan darah sistolik >140 mmHg, lansia yang berumur >60 tahun,

lansia yang bisa berkomunikasi dengan baik.

2. Sampel Penelitian

Sampel adalah sebagian dari keseluruhan objek yang diteliti dan

dianggap mewakili seluruhnya. Tehnik pengambilan sampel dalam

penelitian ini Purposive sampling. Purposive sampling adalah tehnik

penelitian penentuan sampel dengan pertimbangan atau kriteria tertentu.

a. Besar sampel

Besar sampel dalam penelitian ini diperoleh berdasarkan rumus Slovin.


=
1 + (d)2

Keterangan :

n : besar sampel

N : besar populasi

d : tingkat signifikan (d2) 10 %


=
1 + (d)2
45

65
=
1 + 65 (0,1)2

65
=
1 + 65 (0,01)

65
=
1 + 0,61

65
=
1,61

= 40. 37 ( 41 orang)

b. Kriteria Inklusi

1) Lansia yang bersedia menjadi responden

2) Lansia yang tekanan darah sistolik 140 mmHg

3) Lansia yang bisa berkomunikasi dengan baik

4) Lansia yang berumur 60 tahun

D. Variabel Penelitian

1. Variabel Independen

adalah variabel bebas atau variabel yang mempengaruhi atau menjadi

perubahan (44). Dalam penilitian ini variabel independen adalah durasi dan

kualitas tidur.

2. Variabel dependen

adalah variabel yang dipengaruhi atau yang menjadi akibat. Dalam

penilitian ini variabel dependen adalah kejadian hipertensi pada lansia.

E. Definisi Operasional

Definisi operasional merupakan definisi yang membatasi ruang lingkup atau

pengertian variabel-variabel yang diamati atau diteliti (43).


46

Variabel Definisi Alat Ukur Skala Score


Durasi Lamanya waktu tidur Kuesioner Ordinal 0: > 7 sangat
tidur secara rata-rata per 24 PSQI baik
jam komponen 1: 6-7 cukup
dari kualitas baik
tidur 2: 5-6 kurang
baik
3: <5 sangat
buruk
Kualitas Penilaian terhadap Kuesioner ordinal Kualitas tidur
tidur tidur nyenyak pada Pittsburgh baik atau
lansia yang Sleep Quality buruk, dinilai
diperlihatkan dengan Index dengan global
berapa lama tidur score PSQI
dalam 24 jam, jumlah dengan total
tidur siang, keadaan 21, apabila
saat tidur, dan didapatkan
gangguan tidur pada 0: Sangat baik
lansia 1-2 : Baik
3-4 : Cukup
5-12 : Kurang
Hipertensi peningkatan tekanan sphygmoman Nominal Hipertensi
darah sistolik dan ometer dan Tidak
diastolik secara stethoscope hipertensi
konsisten melebihi
140/90
mmHg

F. Instrumen Penelitian

1. Jenis Instrumen

Alat yang di gunakan untuk mengumpulkan data dalam penelitian ini adalah

menggunakan sphygmomanometer, stethoscope dan kuesioner.

a. Sphygmomanometer dan stethoscope

Alat yang digunakan untuk mengukur tekanan darah dengan posisi

responden duduk. Hasil yang diperoleh dari pengukuran ini yaitu,

normal jika tekanan sistolik < 120 dan diastolik < 80, tidak normal jika

(pre hipertensi) jika tekanan sistolik 120-139 mmHg atau diastolik 80-
47

89 mmHg, hipertensi derajat 1 jika tekanan sistolik 140-159 mmHg atau

diastolik 90-99 mmhg, hipertensi derajat 2 jika tekanan sistolik atau

diastolik 100 mmhg .

b. Kuesioner kualitas tidur Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI)

Alat ukur yang dapat digunakan dalam kualitas tidur adalah PSQI,

berbentuk kuesioner yang digunakan untuk mengukur kualitas tidur

gangguan tidur orang dewasa dalam interval satu bulan. Dari penlaian

kualitas tidur dengan menggunakan metode PSQI ini akan didapatkan

output berupa sleepeng Index yang merupakan suatu skor atau nilai yang

didapatkan dari pengukuran kualitas tidur seseorang yang

pengukurannya menggunakan kuesioner PSQI dengan pembobotan

tertentu. Index atau nilai tersebut yang nantinya akan menggambarkan

seberapa baik kualitas tidur seseorang.

Dalam PSQI ini terdapat tujuh skor yang digunakan sebagai

parameter penilaiannya. Tujuh skor tersebut :

Komponen 1, subjek kualitas tidur, pertanyaan no. 9

Komponen 2, keterlambatan tidur, pertanyaan no. 2 dan 5a

Komponen 3, lamanya tidur, petanyaan no. 4

Komponen 4, kebiasaan tidur, pertanyaan no.1, 3, dan 4

Komponen 5, gangguan tidur, pertanyaan no. 5b-5j

Komponen 6, penyalahgunaan obat, pertanyaan no. 6

Komponen 7, penyalahgunaan waktu tidur, pertanyaan no. 7 dan 8


48

Skor pada kuesioner ini dibedakan berdasarkan

0 : Sangat baik

1-2 : Baik

3-4 : Cukup

5-12 : Kurang

Setiap komponen dibobotkan seimbang dalam rentang skala 0-3.

Ketujuh komponen tersebut pada akhirnya akan dijumlahkan sehingga

didapatkan skor global PSQI yang memiliki rentang skor 0-21, semakin

tinggi skor yang didapatkan seseorang menandakan bahwa orang

tersebut mengalami kualitas tidur terburuk ( Rahman).

G. Tehnik Pengumpulan Data

1. Data Primer

Data yang langsung diambil dari responden. Pengumpulan data dalam

penilitian ini menggunakan koesioner, untuk mengetahui durasi dan

kualitas tidur dengan kejadian hiprtensi pada lansia. Pengambilan data

dilakukan dengan membagikan kuesioner pada responden oleh peniliti.

2. Data Skunder

Data diperoleh dari Puskesmas Sedayu II , untuk mengetahui jumlah

lansia di Dusun Polaman Kidul Bantul Yogyakarta.

H. Analisa Data

1. Tahapan Pengolahan Data

Pengolahan Data
49

Langkah-langkah dalam pengolahan data adalah sebagai berikut :

Setelah kuesioner yang dibagikan kepada responden terkumpul, maka perlu

dilakukan seleksi data. Tujuan dilakukannya seleksi data adalah untuk

menyeleksi mana yang layak untuk diolah dan mana yang tidak layak untuk

diolah (43).

a. Editing

Kegiatan ini memriksa kembali data yang telah didapatkan. Hal ini

dilakukan untuk menghindari adanya kesalahan dalam memasukkan

data antara responden dengan yang lainya.

b. Coding

Peneliti mengubah data yang berbentuk huruf menjadi data yang

berbentuk angka baik secara manual menggunakan kalkulator maupun

komputerisasi

c. Processing

Merupakan kegiatan memproses data agar dapat dianalisa dengan cara

mengentry atau memasukkan data yang telah dikumpulkan dengan

memakai program software komputer.

d. Tabulasi Data

Setelah ditentukan bahwa kuesioner layak untuk diolah, maka data

yang diperoleh disusun dalam bentuk tabel yaitu tabel silang atau cross

table yang digunkan untuk mencari hubungan antar variabel dalam

penelitian.
50

2. Analisa Data

a. Analisa Univariat

Analisa univariat bertujuan untuk menjelaskan atau mendeskripsikan

karakteristik setiap variabel penilitian. Pada umumnya dalam analisis

ini hanya menghasilkan distribusi dan presentase dari tiap variabel.

Adpun rumus yang dilakukan untuk mencari persentasi :


= 100

Keterangan:

P = Persentasi

n = Hasil skor variabel

N = Jumlah sampel

b. Analisa Bivariat

Analisis bivariat merupakan analisis yang dilakukan terhadap dua

variabel yang diduga berhubungan atau berkorelasi antara dua variabel

atau lebih. Pada analisa ini peneliti menggunakan rumus chy-square

adanya hubungan dengan menguji hipotesis antara dua variabel yang

datanya berbentuk ordinal dan nominal. Adapun rumus perhitungan

chi square (X2) adalah sebagai berikut.

(0 )
2 =

keterangan

X2 : Nilai chisquare

Fo : frekuensi yang di observasi


51

Fe : frekuensi yang diperoleh

Untuk dapat menentukan hipotesis yang diajukan diterima atau ditolak

dilakukan uji chi square dengan derajat kepercayaan 95 % yang dibantu

dengan program SPSS diterima taraf signifikan sebesar 0,05. Jika p < 0,05

maka, Ho ditolak menujukkan ada hubungan yang signifikan antara durasi

dan kualitas tidur denagan kejadian hipertensi pada lansia.

I. Etika Penelitian

Peneliti menentukan masalah etika penelitian kepada calon responden

diantaranya yaitu:

1. Informed Consent (Lembar Persetujuan)

Setiap subyek penelitian yang ikut dalam penelitian ini diberi lembar

persetujuan agar subyekn penelitian dapat mengetahui maksud dan tujuan

peneliti serta dampak yang diteliti selama proses penelitian ini berlangsung.

Jika subyek penelitian menolak maka peneliti tidak akan memaksakan dan

akan menghormati hak subyek penelitian.

2. Anonymity (Tanpa Nama)

Untuk menjamin kerahasian subjek penelitian, maka dalam lembar

persetujuan maupun lembar ceklis observasi nama responden dicantumkan

dengan nama inisial serta peneliti juga mencantumkan alamat responden.

3. Confidentiality (Kerahasiaan)

Pada penelitian ini, peneliti bersedia untuk menjaga kerahasiaan subyek

penelitian mengenai topik penelitian tersebut.


52

J. Jalannya Penelitian

Persiapan Penilitian

1. Tahap Prapersiapan

Studi pendahuluan untuk memperoleh data yang mendukung

penelitian.

1) Persiapan materi dan konsep yang mendukung jalannya penelitian.

2) Konsultasi dengan pembimbing.

3) Penyusunan proposal penelitian yang diikuti dengan pengujian.

2. Tahap persiapan penelitian

1) Pengurusan surat izin studi pendahuluan dari pihak Universitas ke

Puskesmas Sedayu II Bantul yang ditujukan ke Dusun Polaman

Sedayu.

2) Melakukan studi pendahuluan di Dusun Polaman Sedayu.

3) Pengurusan surat izin penelitian dan pengambilan data dari pihak

Universitas ke Puskesmas Sedayu II Bantul untuk melaksanakan

penelitian di Dusun Polaman.

4) Melakukan penelitian dan pengambilan data di Dusun Polaman.

3. Pelaksanaan Penelitian

a. Menerapkan kriteria inklusi dan eksklusi kemudian memberikan

penjelasan kepada sejumlah subyek penelitian lansia di Dusun

Polaman.

b. Memberikan penjelasan mengenai tujuan dari pengisian kuesioner

tersebut.
53

c. Subyek penelitian diminta untuk mengisi informed consent dan

dilanjutkan dengan pengisian kuesioner.

d. Pengisian kuisioner diawasi dan didampingi oleh peneliti atau asisten.

4. Tahap penyelesaian

Data yang telah diperoleh dianalisis kemudian dibahas suntuk

penyusunan karya tulis ilmiah dan dilanjutkan dengan sidang penelitian.

Karya tulis ilmiah yang sudah dipresentasikan dalam sidang dan sudah

direvisi hasilnya akan dilaporkan kepada


54

KUESIONER KUALITAS TIDUR

PITTSBURGH SLEEP QUALITY INDEX (PSQI) (45)

Pertnyaan-pertanyaan ini berhubungan dengan kebiasaan tidur anda dalam satu

bulan terakhir :

1. Jam berapa anda akan pergi ke tempat tidur?

2. Berapa lama (menit) waktu yang anda butuhkan untuk jatuh tertidur?

3. Jam berapa biasa bangun pagi?

4. Berapa jam anda tidur dalam satu malamnya?

Beri tanda () pada kolom yang tersedia

5. Dalam satu bulan Tidak Kurang 1 atau 2 3 kali atau


terakhir berapa sering pernah dari sekali kali lebih
anda mengalami (0) perminggu perminggu perminggu
kesulitan tidur karena (1) (2) (3)
hal-hal berikut
a. Tidak dapat tidur
dalam waktu 30
menit
b. Bangun ditengah
malam atau pagi-
pagi sekali
c. Bangun tidur ke
kamar mandi
d. Tidak dapat
bernafas lega
e. Batuk atau
mendengkur
sangat kuat
f. Merasa kedinginan

g. Merasa kepanasan

h. Bermimmpi buruk

i. Merasa nyeri

j. Alasan lain anda


tidur
55

6. Dalam satu bulan


terakhir, seberapa
sering anda minum
obat untuk membantu
tidur?
7. Dalam satu bulan
terakhir, seberapa
sering anda sulit
terjaga saat kendara,
makan, atau menjalani
aktivitas sosial?
8. Selama satu bulan
terakhir, adakah
masalah yang
mengganggu aktivitas
anda?
Sangat Baik (1) Cukup (2) Kurang (3)
baik (0)
9. Dalam satu bulan
terakhir, bagaimana
menurut anda kualitas
tidur anda?
Keterangan

Komponen 1# 9 skor
Komponen 2# 2 skor [<15 menit (0), 16-30 menit (1), 31-60 (2), >60 menit (3)] +
5a skor
Komponen 3# 4 skor
(>7jam= 0,6-7 jam= 1, 5-6 jam=2, <5 jam= 3)
Komponen 4# (total waktu tidur) / (total waktu di tempat tidur) x 100
( >85% =0, 75%-84%= 1, 65%-74%= 2, <5 jam= 3)
Komponen 5# 5b-5j
(0=0, 1-9= 1, 10-18 = 2, 19-27= 3)
Komponen 6# 6 skor
Komponen 7# 7 skor + 8 skor
(0=0, 1-2=1, 3-4=2, 5-6=3)
56

Komponen 1, subjek kualitas tidur, pertanyaan no. 9

Komponen 2, keterlambatan tidur, pertanyaan no. 2 dan 5a

Komponen 3, lamanya tidur, pertanyaan no. 4

Komponen 4, kebiasaan tidur, pertanyaan no. 1,3, dan 4

Komponen 5, gangguan tidur, pertanyaan no. 5b-5j

Komponen 6, penyalahgunaan obat, pertanyaan no. 6

Komponen 7, penyalahgunaan waktu tidur, pertanyaan no. 7 dan 8

Total skor PSQI = (K1)+(K2)+(K3)+(K4)+(K5)+(K6)+(K7)

=.................
57

DAFTAR PUSTAKA

1. (WHO), Wordl Healt Organization.


hhtp://www.who.int/ageing/about/facts/en/. [Online] 2014. [Dikutip: 14
januari 2015.]
2. Survei Ekonomi Nasional (Susenas). Gambaran Umum Kesehatan Lanjut
Usia. s.l. : Buletin, 2012.
3. Pemerintah Kabupaten Sleman. Lansia Moyudan Tetap Produktif di Usia
Senja. 2015.
4. Rencana Kerja Kabupaten Sleman. Evaluasi Pelaksanaan RKPD tahun
Lalu dan Capain Kinerja Penyelenggraan Pemerintah.
http://bappeda.slemankab.go.id. [Online] 2014. [Dikutip: 14 Januari 2015.]
available.
5. Wirahardja & Satya, R. Sindroma Geriatri pada Lansia di Komunitas-
Sebuah Monograf. Jakarta : Grafindo, 2014.
6. Muhammadun. Asuhan Keperawatan pada Klien Lanjut Usia. Jakarta :
Salemba Medika, 2010.
7. Rantiningsih, S. Edi, S. Veriani, A. Konsumsi Junk Food Berhubungan
dengan Hipertensi pada Lansia di Kecematan Kasihan, Bantul, Yogyakarta
JNKI 2015.
8. Nugraheny, S. B. Pengaruh penyuluhan Tentang Diet Hipertensi
Terhadap Perubahan Tekanan Darah di Wilayah Kerja Puskesmas
Kasihan 1 Bantul Yogyakarta. Universitas Muhammadiyah Yogyakarta:
Yogyakarta 2012.
9. WHO, 2015. Hypertension. Artikel diakses tanggal 9 Maret 2015 dari
http://www.who.int/topics/hypertension/en/
10. Wahyuningsih & Astuti. Faktor Yang Mempengaruhi Hipertensi pada Usia
Lanjut. JNKI, Vol. 1, No. 3, Tahun 2013, 71-75.
11. Puspitosari. Gangguan Pola Tidur Pada Kelompok Usia Lanjut, Journal
Kedokteran Trisakti, Januari-April, Vol.21, No 1. 2011,
12. Calhoun, D. A. dan Harding. S.M. ASleep and Hypertension. Journal
Circulation, Vol. 138, hal. 434-443.
13. Sleep to Lower Elevated Blood Pressure: Study Protocol for a Randomized
Controlled Trial. McGrath., et al. 2012, Trial Journal, Vol. 15, hal. 393.
14. Yekti setiyorini. Hubungan Kualitas Tidur Dengan Tekanan Darah Pada
Lansia Hipertensi di Gamping Sleman Yogyakarta, 2014.
58

15. Riska Havisa. Hubungan kualitas Tidur Dengan Tekanan Darah Pada Usia
Lanjut Di Posyandu Lansia Dusun Jelapan Sindumartani Ngemplak Sleman
Yogyakarta, 2014.
16. Yuni Widyastuti. Hubungan Antara Kualitas Tidur Lansia Dengan Tingkat
Kekambuhan Pada Pasien Hipertensi Di Klinik Dhanang Husada
Sukoharjo, 2015.
17. Azizah. Keperawatan Lanjut Usia. Yogyakarta: Graha Ilmu. 2011.
18. Murwani, A, dan Priyantari, W. Gerontik Konsep Dasar dan Asuhan
Keperawatan Home Care dan Komunitas. Yogyakarta : Fitramaya, 2011.
19. Efendi, F & Makhfudi. Keperawatan Kesehatan Komunitas: Teori dan
Praktik dalam Keperawatan. Jakarta : Salemba Medika, 2013.
20. Maryam, S, dkk. Asuhan Keperawatan Pada Lansia. Jakarta : Tran Info
Media, 2010.
21. Bandiyah, S. Lanjut Usia dan Keperawatan Gerontik. Yogyakarta : Nuha
Medika, 2009.
22. Sigalingging dalam Indarwati, Nova. Hubungan antara kualitas Tidur
Mahasiswa yang Mengikuti UKM dan Tidak mengikuti Ukm pada
Mahasiwa Reguler Fakultas Ilmu Keperawatan. Depok : Fakultas Ilmu
Keperawatan, Universitas Indonesia, 2012.
23. Wijaya AS, Putri YM. Keperawatan Medikal Bedah 1. Yogyakarta : Nuha
Medika, 2013. hal. 52.
24. Martuti, A. Merawat dan Menyembuhkan Hipertensi Penyakit Tekanan
Darah Tinggi. Yogyakarta : Kreasi Wacana, 2009.
25. Lestari, Diana Putri. Hidup Sehat Mengatasi Penyakit. Yogyakarta : Mocer
Publisher, 2009.
26. Herlinah, L, dkk. Hubungan Dukungan Kelurga Dengan Prilaku Lansia
Dalam Pengendalian Hipertensi. Jurnal Keperawatan Komunitas,
November 2013, Volume 3, No. 2, hal. 108-115.
27. Prasetyaningrum Y, I. Hipertensi Bukan Untuk di Takuti. Jakarta: :
Fmedia, 2014.
28. Ardiansyah, M. Medikal Bedah Untuk Mahasiswa. Banguntapan
Yogyakarta, : Diva Press, 2012.
29. Potter, Patricia A, Perry, Anne G. Buku Ajar Fundamental Keperawatan:
Konsep, Proses dan Praktik. Jakarta : EGC, 2012.
30. Aspiani, Reni Yuli. Buku Ajar Asuhan Keperawatan Gerontik: Aplikasi
NANDA, NIC, dan NOC, jilid 2. Jakarta : Trans Info Media, 2014.
31. Hidayat. A.A. 2006. Pengantar Kebutuhan Dasar manusia Aplikasi Konsep
dan Proses keperawatan. Salemba Medika. Surabaya.
32. Noviani dkk. 2011. Hubungan Lama Tidur Dengan Perubahan Tekanan
Darah Pada Lansia Dengan Hipertensi di Posyandu Lansia Desa Karang
Aren. Jurnal Ilmiah Kesehatan Keperawatan, Volume 7, NO. 2.
33. Martono H.Hadi, Pranaka K. 2011. Buku Ajar Boedhi-Darmojo Geriatri,
Ilmu Kesehatan Usia Lanjut. Salemba Medika. Jakarta
59

34. Cappuccio, F.P,et al. 2010. Sleep Duration and All-Cause Mortality:A
Sstemati Review and Meta-Analysis of Prospective Studies. Sleep.
33(5):585-592.Retrieved 2010.
35. National Sleep Foundation. 2011. How Much Sleep Do We Really Need.
Retrieved.
36. Fang J,et al. 2012. Association of sleep duration and hypertension among
US adults varies by age and sex. Am J Hypertens. 25(3):335-4. Retrieved 3
November 2011.
37. Agustin, D. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kualitas Tidur Pada
Pekerja Shift di PT. Krakatau Tirta Industri Celegon. 2012.
38. Stanley, Mickey dan Patricia Gaunlett B. Buku Ajar Keperawatan Gerontik,
Edisi 2. Jakarta : EGC, 2017.
39. Orhan, Fatma Ozalem, Tunchel, Deniz, dkk. Relationship Between Sleep
Quality Anddepression Among Elderly Nursing Home Residents In Turky.:
Proquest, 2012, Psychologi Journals, Vol. 16, hal. 1059-1067.
40. Crowley, Kate. Sleep and Sleep Disorders in Older Adukts. s.l. : Springer
Science + Businees Media LCC., 2010. hal. 010-9154-6.
41. Gryglewska, J.O. Consequences of Sleep Deprivation. [penyunt.] Guyton
A.C and J.E.Hall. s.l. : Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Edisi 9. Jakarta:
EGC, 2010, International Journal of Occupational Medicine and
Environmetal Healt, hal. 23: 95-114.
42. Nursalam. Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan: Pendekatan Praktis.
Ediisi 3. Jakarta. Salemba Medika. 2013
43. Notoatmodjo, S. Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta.
2010.
44. Sugiyono. Metodologi Penelitian Kuantitatif Kualitatif R&D. Bandung:
Alfabeta 2010
45. Fariyatun. Hubungan Senam lansia dengan Kualitas Tidur pada Lansia di
Dusun Karang Kulon Wukirsari Imogiri Bantul. 2011. Skripsi Mahasiswa
UNIVERSITAS Alma Ata Program Studi Ilmu Keperawatan. Yogyakarta