Anda di halaman 1dari 2

Kopi Sajang dari Lereng Rinjani

Sebentar, jangan langsung di minum. Hirup dulu asapnya, tahan sejenak, lalu hembuskan pelan-
pelan. Barulah anda akan benar-benar merasakan nikmatnya, katanya dengan tenang, ketika kami
di petang itu baru saja akan menyeruput kopi hangat yang disuguhkannya. Memang benar, kepulan
asap yang membubung dari dalam gelas menebarkan aroma khas yang sangat menggoda.
Warnanya cokelat pekat, mendekati hitam. Tampak endapan berwarna cokelat sedikit lebih muda,
memenuhi sepertiga gelas kami. Tidak seperti kopi tubruk pada umumnya yang berwarna hitam dan
mengotori gelas, kopi yang kami minum terasa berbeda. Lihatlah, gelasnya tetap bersih, tidak ada
bekas kopi yang menempel. Ini pertanda kopi murni tanpa campuran beras, terangnya lagi. Kopi itu,
katanya, hanya bisa disangrai oleh orang-orang tertentu, sebab memerlukan cara khusus dan
tingkat kematangan tersendiri. Inilah kopi Arabika Special Tea Rinjani, katanya lagi dengan ucapan
yang mantap.

Ia adalah Amaq Mulyadi (51), ketua kelompok pekebun kopi Khayangan yang berada di Desa
Sajang, Kecamatan Sembalun, Kabupaten Lombok Timur. Desa itu terletak di lereng Gunung
Rinjani, sekitar sepuluh kilometer sebelah utara Desa Sembalun Lawang yang terkenal sebagai
sentra pertanian hortikultura di Pulau Lombok. Siang itu, awal November 2013, kami bertandang ke
rumahnya yang berada di pinggir jalan kabupaten. Seusai menikmati kopi tubruk di berugaq, ia
mengajak kami berkeliling ke kebun kopi yang terletak di seberang jalan. Di desa itu terdapat kebun
kopi yang cukup luas, sekitar 3,5 x 4 kilometer persegi atau 1.400 hektar. Perkebunan itu, kata
Amaq Mul, telah ada sejak sejak zaman penjajahan.

Penduduk desa Sajang berjumlah sekitar dua ribu jiwa. Sebagian besar memiliki kebun kopi dengan
rata-rata luas satu hektar perkepala keluarga. Awalnya masyarakat hanya membudidayakan kopi
jenis robusta. Mereka menyebut kopi robusta dengan sebutan kopi jamaq yang dalam bahasa
Sasak berarti kopi biasa. Belakangan, ketika pasar dunia meminati kopi jenis Arabika, banyak
pekebun di sana mengembangkan kopi dataran tinggi itu. Padahal, Sajang termasuk dataran
medium dengan tinggi tempat 850 meter dari permukaan laut. Kini, meski tidak ada data pasti,
namun Amaq Mul memperkirakan populasi kopi Arabika dan Robusta nyaris sama. Sebagai petani
kopi, Amaq Mul mengakui ia bertani hanya bermodal pengetahuan warisan dari orangtuanya dulu.
Begitu juga umumnya semua petani kopi di Sajang. Mereka minim pengetahuan teknis soal kopi.
Mereka juga tak terlalu tahu apa yang sebaiknya mereka lakukan pasca panen. Babak baru
perkebunan kopi di Sajang belum lama dimulai. Ditandai dengan diundangnya

kelompok pekebun kopi Khayangan mengikuti acara seminar Kopi di Jawa Timur pada 2007 silam.
Di sanalah Amaq Mulyadi dan kawan-kawannya berkesempatan memperkenalkan kopi dari Sajang.
Pemaparannya berhasil menarik perhatian Pusat Penelitian Kopi dan Kakao di Jember Jawa Timur.
Melalui Dinas Perkebunan Provinsi NTB dan Dinas

Perkebunan Kabupaten Lombok Timur, Puslit Jember melakukan pendampingan terhadap mereka.
Pembinaan itu antara lain meliputi teknis budidaya, panen, dan pasca panen. Hasilnya memang
tidak berbuah sekejap, tetapi setidaknya petani kopi di Sajang mendapatkan hal baru dalam
meningkatkan hasil kebun kopi mereka. Seperti pengetahuan tentang tindakan peremajaan tanaman
atau disebut rejuvinasi. Hal yang tak pernah mereka ketahui sebelumnya. Tanaman kopi yang sudah
terlalu tinggi dipangkas kira-kira satu meter di atas permukaan tanah. Tunasnya yang tumbuh
kemudian disambung dengan pucuk atau entris dari kopi yang sudah produktif. Dengan cara begitu,
selain produksi kopi meningkat tinggi, pemanenan sudah pasti lebih mudah karena letak buahnya
yang lebih rendah. Kami terus berharap mendapatkan pendampingan dalam jangka waktu panjang.
Semoga bisa membuat usaha kopi kami maju dan berkembang, harapan Amaq Mul. Harapan itulah
modal besar petani Kopi Sajang untuk mereka segera berbenah meningkatkan pendapatan mereka.
Pemerintah wajib terus memberikan dukungan dan perhatian yang berkelanjutan.

Luas Lahan dan Produksi

Kami menanam kopi mengikuti sepenuhnya cara orangtua kami menanam. Pengetahuan kami
terbatas sehingga hasil panen pun rasanya tak maksimal. Syukurlah belakangan ini pemerintah
datang membimbing kami. Bagaimana menanam kopi yang baik, mengolahnya setelah panen dan
membuka akses pasar, sudah bisa kami ketahui. Semoga pemerintah terus mendampingi kami,
sampai pendapatan kami meningkat dari usaha kopi ini.... (Amaq Mulyadi, petani kopi di Desa
Sajang, di kaki Gunung Rinjani)
Tidak jelas benar, sejak kapan tanaman kopi masuk ke Indonesia. Yang pasti, Kopi yang konon
berasal dari Ethopia di benua Afrika sana, tercatat sebagai salah satu komoditas perkebunan
terpenting di negeri kita. Setidaknya 1,4 juta petani terlibat dalam usaha budidayanya. Jawa menjadi
sentra kopi utama, lalu sebagian lainnya tersebar di tanah Sumatra dan Nusa Tenggara. NTB sendiri
dengan luas lahan garapan sekitar 12,5 ribu hektar, menyumbang sekitar 5-6 persen dari total luas
lahan kopi di Indonesia yang mencapai 1,2 juta hektar. Mayoritas merupakan perkebunan rakyat
dengan penyerapan tenaga kerja mencapai dua juta orang.

Merujuk data Direktorat Jendral Perkebunan Kementerian Pertanian, Produksi kopi Indonesia pada
2011 mencapai 709 ribu ton. Meliputi produksi kopi jenis Robusta sebanyak 554 ribu ton dan Arabika
sebesar 155 ribu ton. Sementara volume ekspor biji kopi Indonesia pada tahun yang sama
mencapai 446 ribu ton. Data Ringkas di atas menunjukkan peran penting kopi sebagai salah satu
komoditi perkebunan andalan Indonesia. Utamanya sebagai komoditi yang menopang lebih dari 1,4
juta petani dan pendorong agroindustri dan agrobisnis yang memberi pasokan besar pada devisa
negara.

Secara nasional produksi kopi Indonesia rata-rata perhektar berkisar 600-700 kilogram setiap
tahunnya. Tercatat sebagai salah satu negara penghasil kopi terbesar di dunia. Sekalipun demikian,
produktivitas petani kopi di Indonesia masih kalah bersaing. Petani kopi Vietnam misalnya, setiap
hektarnya mampu menghasilkan 2-3 ton. Bahkan Brasil, negara penghasil kopi utama di dunia,
mampu mencapai 4-5 ton. Mengapa produktivitas kopi kita rendah? Sejumlah faktor disebut sebagai
penyebabnya. Antara lain hampir separuh tanaman kopi di Indonesia telah mencapai usia 20-30
tahun. Usia yang sulit lagi untuk bisa memacu peningkatan produktivitas tanaman. Setidaknya
hingga 50 persen produktivitas menurun pada tanaman kopi yang berusia tua. Lima tahun ke depan,
pada 2018 ditetapkan target nasional produksi kopi mencapai 1,3 juta ton. Sejumlah langkah
strategis tentu saja harus dilakukan untuk mencapai target tersebut, selain melakukan peremajaan
tanaman kopi secara massif, juga memperluas areal tanam serta memperbaiki kualitas pengolahan
tanam dan pasca panen. Pertumbuhan areal tanam kopi di Indonesia memang sangat rendah.
Setiap tahunnya tumbuh hanya sekitar 0,02 persen. padahal potensi untuk pengembangan lahan
terbuka lebar. Saat ini luas lahan kopi sebesar 1,2 juta hektar di seluruh Indonesia, baru mencakup
sekitar 30 persen dari potensi luas lahan yang bisa dikembangkan. Disini terbuka peluang bagi NTB
untuk memberikan kontribusi yang lebih signifikan bagi produksi kopi nasional. Pengembangan kopi
spesialti di NTB misalnya, menjadi pintu masuk bagi NTB menjadi daerah penghasil kopi yang
diperhitungkan di tanah air. Luas potensi areal kopi di NTB ditaksir mencapai 36 ribu hektar. Pada
2012 tercatat baru 12,8 ribu hektar yang terpakai dengan total produksi 5,3 ribu ton. Lebih dari
separuh areal kopi di NTB tersebar di Pulau Sumbawa. Begitu juga dengan total produksi, di Pulau
Sumbawa hampir tiga kali lipat dari Pulau Lombok. Sentra budidaya dan produksi kopi di Pulau
Sumbawa terutama berpusat di lingkar Gunung Tambora di Dompu dan Bima serta di dataran tinggi
Tepal Sumbawa.