Anda di halaman 1dari 19

KEPEMIMPINAN DALAM

PERUSAHAAN
T E K N I K K E S E L AM AT AN D AN K E S E H AT AN K E R J A
DEFINISI

Bennis dan Nanus (1985), melihat perbedaan yang


mendasar antara manajemen dan kepemimpinan
• To manage berarti to bring about, to accomplish, to
have charge of or responsibility for, to conduct.
• Leading adalah influencing, guiding in direction,
course, action, opinion.
• Manager sebagai suatu komponen dari system
organisasi dalam usahanya untuk mencapai
sasaran-sasaran kelompok kerja manajer
menggunakan sumber-sumber daya manusia dan
sumber daya lainnya.
• Dalam menggunakan sumber daya manusia inilah,
ia harus mampu mempengaruhi dan mengarahkan
perilaku bawahan kearah tercapainya sasaran-
sasaran kelompok kerja
Kepemimpinan merupakan pengertian yang
meliputi segala macam situasi yang dinamis, yang
berisi :
• Seorang manajer sebagai pemimpin yang
mempunyai wewenang untuk memimpin.
• Bawahan yang dipimpin, yang membantu manajer
sesuai dengan tugas mereka masing-masing.
• Tujuan atau sasaran yang harus dicapai oleh
manajer bersama-sama dengan bawahannya.
Apa yang menentukan keberhasilan seorang
pemimpin, seorang manajer atau seorang atasan?
Pola Hubungan antar Tenaga Kerja dalam
Perusahaan
• dua macam manajer sebagai pemimpin, pertama
yang mengepalai keseluruhan organisasi; kedua
yang mengepalai satu bagian atau satu unit dari
organisasi.
Dapat dibedakan 4 macam pola hubungan antar
tenaga kerja pada tingkat:
• Manajemen puncak
• Manajemen madya
• Manajemen pertama
• Tenaga kerja produktif
Pola Hubungan antar Tenaga Kerja pada Tingkat
Manajemen Puncak
• Manajer puncak secara langsung memimpin
bawahannya, para manajer madya, lebih banyak
secara perorangan, secara tidak langsung memimpin
seluruh kelompok kerja yang bekerja pada
perusahaannya.
• Kepribadian manajer puncak, system nilai, sikap-sikap
dan perilakunya mempunyai dampak pada keseluruhan
organisasi perusahaan.
• Manajer puncak ini lebih banyak berhubungan dengan
orang-orang yang bekerja di luar perusahaan, seperti
pejabat pemerintah, manajer puncak organisasi lain,
para nasabah/langganan).
Pola Hubungan antar Tenaga Kerja pada Tingkat Manajemen Madya
• Manajer madya mempunyai hubungan dengan atasan, rekan setingkat
dan bawahan yang semuanya memnduduki jabatan kepemimpinan.
• Manajer madya juga perlu berhubungan dengan orang-orang di luar
perusahaan. Ia mempunyai peran ganda, berperan sebagai bawahan,
rekan, atasan dan wakil dari perusahaan.
• Manajer madya merupakan penghubung antara tingkat manajemen
rendah dengan manajemen tinggi.
• Kepemimpinan lebih bercorak perorangan, manajer madya lebih
banyak menghadapi manajer bawahan secara sendiri-sendiri daripada
berkelompok.
• Cara memimpin bawahannya dipengaruhi oleh bagaimana ia sebagai
bawahan dipimpin oleh atasan.
• Cara kepemimpinan akan dirasakan oleh seluruh kesatuan kerja yang
dipimpinnya.
Pola Hubungan antar Tenaga Kerja pada Tingkat
Manajemen Pertama
• Manajer pertama memiliki pola hubungan antar tenaga
kerja yang serupa dengan pola hubungan antar tenaga
kerja tingkat manajemen madya.
• Ia juga berperan ganda sebagai atasan, bawahan,
rekan dan wakil perusahaan.
• Bedanya ialah bawahan bukan pemegang jabatan
pimpinan.
• Manajer pertama disebut juga dengan tenaga kerja
yang berada di tengah (The man in the middle, Petit,
1975).
Pola Hubungan antar Tenaga Kerja pada Tingkat Tenaga
Kerja Produktif
• Pekerja, tenaga kerja produktif, yang menduduki
jabatan terendah dalam organisasi perusahaan.
• Berhubungan dengan rekan dan atasannya saja.
• Peran utamanya adalah sebagai bawahan, yang
hanya bisa melihat ke “samping” dan ke “atas” saja.
• Untuk jabatan tertentu, mereka berhubungan dengan
orang atau tenaga kerja di luar perusahaan. Namun
demikian dapat memberikan pengaruh yang nyata
pada keberhasilan kepemimpinan atasannya.
PERILAKU PEMIMPIN YANG EFEKTIF-GAYA
MANAJEMEN

Kajian Ohio State University


• Stogdill, Fleishman, dll dari Ohio SU mengembangkan
Kuesioner Uraian Perilaku Pemimpin (Leader Behavior
Description Questionaire-LBDQ) yang merupakan alat
untuk menguraikan bagaimana seorang pemimpin
melakukan kegiatan-kegiatannya (Stogdill dan Coons,
1957).
• Dalam berbagai penelitian mereka selalu menemukan
dua dimensi utama dari perilaku pemimpin yang
kemudian dikenal sebagai Penenggangan
(Consideration) dan Memprakarsai Struktur (Initiating
Structure).
• Penenggangan (toleransi) menggambarkan
derajad dan corak hubungan seorang pemimpin
dengan bawahannya, yang ditandai dengan
saling percaya, penghargaan terhadap gagasan
bawahan dan penenggangan terhadap perasaan
bawahan
• Memprakarsai struktur menggambarkan sejauh
mana seorang pemimpin memberi batasan dan
struktur kepada perannya dan peran bawahannya
untuk mencapai tujuan kelompok
• Dua dimensi tsb dihubungkan dengan aktivitas
manajerial dan diperoleh 4 macam gaya
kepemimpinan
Dari kombinasi dari berbagai situasi yang berbeda
ditemukan :
• Produktifitas kelompok sedikit lebih tinggi jika
dihubungkan dengan struktur daripada
penenggangan.
• Kepuasan anggota sedikit lebih tinggi jika
dihubungkan dengan penenggangan daripada
dengan struktur.
• Kelekatan kelompok (group cohesiveness) memiliki
hubungan yang kira-kira sama seringnya antara
penenggangan dan struktur.
Garida Manajerial
• Blake and Mouton (1964) dalam mengembangkan
garida manajerial (managerial grid), mereka
menggunakan dua dimensi.
• Garis tegak yang membagi kedalam 9 bagian
yang sama besar adalah dimensi Perhatian
terhadap manusia.
• Garis mendatar yang juga dibagi dalam 9 bagian
yang sama besar adalah dimensi Perhatian
terhadap produksi (PP).
• Garida ini berisi 9 x 9 = 81 sel dimana setiap sel
mencerminkan perilaku pemimpin berdasarkan
kedua dimensi tersebut.
• Mereka hanya membedakan 5 gaya
kepemimpinan yang masing-masing merupakan
kombinasi dari kedua dimensi tersebut
GAYA YANG IDEAL BAGI BLAKE DAN MOUTON
ADALAH GAYA 9.9
• 1.1= penggunaan upaya yg minimum utk dpt
menyelesaikan pekerjaan yg dituntut telah cukup utk
mempertahankan keanggotaan organisasi.(PP dan PM
Rendah)
• 9.1= efisiensi dlm organsasi dihasilkan dari pengaturan
kondisi kerja sedemikian rupa shg unsur manusia hanya
sedikit sekali berpengaruh.(PP tinggi, PM rendah)
• 9.9= pencapaian kerja yg berhasil diperoleh dari orang
yg terikat; saling ketergantungan melalui suatu
kepentingan bersama dalam tujuan organisasi
mengarah pd hubungan kepercayaan dan hormat.(PP
dan PM tinggi)
• 1.9= perhatian yg sungguh-sungguh terhadap
kebutuhan orang utk hubungan yg memuaskan
mengarah kepada suatu suasana organisasi dan
tempo kerja yg ramah dan menyenangkan (PM
tinggi, PP rendah)
• 5.5= prestasi kerja organisasi yg serasi mungkin
melalui penyeimbangan dari keperluan utk kerja
dgn semangat kerja dari orang pd tingkat yg
memuaskan (PM dan PP sedang)