Anda di halaman 1dari 4

ANALISIS KASUS “SALAH TRANSFUSI DARAH” BERDASARKAN UNDANG-

UNDANG KEPERAWATAN
Oleh : Filia Sofiani Ikasari, S.Kep., Ns

Kasus Salah Transfusi Darah


Pada tanggal 28 Februari 2016 yang lalu seorang pasien Ny. B (57 tahun) dibawa
keluarganya ke Rumah Sakit Arun Lhokseumawe Aceh karena pada kaki kiri pasien terdapat luka
yang sudah terlihat parah, keluarga mengatakan pasien memiliki riwayat diabetes mellitus. Setelah
beberapa hari dirawat, pihak rumah sakit mengatakan bahwa pasien harus menjalani operasi kecil
untuk membersihkan luka yang dialami, namun pasien saat itu sedang mengalami kekurangan
trombosit, sehingga dokter menyatakan pasien harus diberikan transfusi darah.
Pada tanggal 3 Maret 2016 pihak keluarga membawa surat permintaan darah yang ditulis
oleh pihak rumah sakit, yang ditujukan kepada unit UPTD PMI Kota Lhokseumawe. Kemudian,
petugas PMI memberikan sekantong darah dan menyerahkan pada keluarga pasien. Dengan tidak
menaruh keraguan sedikitpun, darah diserahkan keluarga pasien kepada pihak rumah sakit, dengan
harapan agar pasien segera mendapat transfusi dan tindakan medis selanjutnya dapat berjalan
semestinya. Selanjutnya pihak rumah sakit memberikan transfusi kepada pasien. Setelah dilakukan
transfusi, pasien terlihat menggigil. Kemudian diketahui setelah dilakukan pengecekan, ternyata
darah yang dimasukkan ke dalam tubuh pasien tidak sesuai dengan golongan darah yang ia miliki.
Pasien memiliki golongan darah O, dan darah yang ditransfusi golongannya B.
Keluarga pasien kemudian melaporkan kasus ini kepada Polres Lhokseumawe. Kemudian,
kepolisian melakukan pemeriksaan kasus dan pada tanggal 11 April 2016 menetapkan perawat M
serta dua petugas UPTD PMI Kota Lhokseumawe sebagai tersangka. Pada tanggal 14 Juni 2016,
penyidik Polres Lhokseumawe sempat melimpahkan berkas ke Kejaksaan Negeri (Kejari)
Lhokseumawe. Namun berkas dikembalikan karena belum lengkap.
Sebelumnya pada tanggal 10 April 2016, PPNI Aceh dan PPNI Kota Lhokseumawe
langsung melakukan investigasi pada perawat M. Adapun hasil yang diperoleh dalam pertemuan
itu, diantaranya tentang kronologi kejadian transfusi darah tersebut : (1) Pada saat kejadian, yang
bertugas adalah perawat M dan dua orang bidan di ruang penyakit dalam; (2) Adapun yang
memberikan transfuse bukan perawat M tetapi bidan, perawat M bertugas sebagai leader; (3)
Tranfusi darah dilaksanakan atas order dr. MF, Sp.PD tanggal 2 Maret 2016, dalam bentuk tulisan
di status pasien; (4) Permintaan darah ke UPTD PMI dilaksanakan tanggal 3 Maret 2016, pukul
18.00 WIB, disertai sampel darah; (5) Tanggal 3 Maret 2016, pukul 22.00 WIB, kantong darah
tiba di ruang perawatan. Perawat M melihat label golongan darah B, kemudian perawat M
menghubungi pihak UPTD dan petugas laboratorium untuk konfirmasi bahwa golongan darah
pasien O (hasil pemeriksaan RS). Jawaban UPTD bahwa hasil cross check UPTD golongan darah
B bukan O, kemudian petugas laboratorium juga menguatkan bahwa golongan darah B bukan O.
Lalu pihak laboratorium RS Arun/PMI meminta perawat M mencoret surat permintaan darah dari
tulisan O menjadi B; (6) Tanggal 3 Maret 2016, pukul 23.00 WIB, darah ditranfusi pada pasien,
reaksi pasien menggigil dan dokter meminta diberikan suntikan obat dan pasien tidak menggigil
lagi setelah disuntikkan obat tersebut; (7) Tanggal 7 Maret 2016, pasien pulang dengan kondisi
baik; (8) Tanggal 8 Maret 2016, pasien dibawa kembali ke RS Arun dengan kondisi hipoglikemia
(KGD 45).

Sumber:
http://www.tribunnews.com/regional/2016/12/08/kasus-dugaan-salah-transfusi-darah-perawat-rs-
arun-jadi-tahanan-kota
http://aceh.tribunnews.com/2016/12/01/kasus-salah-transfusi-darah-belum-tuntas
http://www.lintasatjeh.com/2016/04/ppni-aceh-mutia-dijadikan-tersangka-polisi-bekerja-
serampangan.html
http://www.acehtrend.co/kenapa-kasus-salah-tranfusi-darah-di-rs-arun-mandek/
http://www.lintasnasional.com/2017/10/04/akibat-salah-transfusi-darah-kondisi-badriah-sangat-
memprihatinkan/
Analisis Kasus Berdasarkan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 38 Tahun 2014
tentang Keperawatan
Ditinjau dari UU RI Nomor 38 tahun 2014 tentang Keperawatan, pada kasus salah transfuse
darah ini, terdapat beberapa hal yang tidak sesuai dengan beberapa pasal berikut, yaitu: (1) Pasal
2 huruf d tentang praktik keperawatan harus berasaskan manfaat. Arti dari asas manfaat ini adalah
bahwa keperawatan harus memberikan manfaat yang sebesar-besarnya bagi kemanusiaan dalam
rangka mempertahankan dan meningkatkan derajat kesehatan masyarakat. Adapun tindakan yang
dilakukan perawat M tidak memberikan manfaat kepada pasien, sebaliknya hal ini memberikan
kerugian pada pasien. (2) Pasal 28 ayat 3 yang isinya bahwa praktik keperawatan harus didasarkan
pada kode etik, standar pelayanan, standar profesi dan standar prosedur operasional. Adapun
tindakan yang dilakukan perawat M telah melanggar pasal 28 ayat 3 ini, karena perawat M tidak
melakukan tindakan sesuai standar prosedur operasional (SPO), yaitu kewajiban untuk melakukan
pengecekan terhadap segala hal tentang darah yang akan diberikan untuk transfusi baik itu tanggal
kadaluarsa darah, serta golongan darah, walaupun tindakan dilakukan oleh bidan, namun perawat
M sebagai leader berdasarkan pemaparan di kasus telah mengetahui adanya perbedaan golongan
darah dari UPTD PMI dan tetap memberikan darah kepada pasien tanpa melakukan kroscek ulang.
Adapun sebagai perawat, perawat M telah melakukan tindakan sesuai dengan pasal 29 ayat 1 huruf
e yaitu dalam menyelenggarakan praktik keperawatan, perawat bertugas sebagai pelaksana tugas
berdasarkan pelimpahan wewenang, pasal 32 ayat 1, pelimpahan wewenang sebagaimana
dimaksud dalam pasal 29 ayat 1 huruf e hanya dapat diberikan secara tertulis oleh tenaga medis
kepada perawat untuk melakukan suatu tindakan medis dan melakukan evaluasi pelaksanaannya.
Sesuai dengan bunyi ayat ini, perawat telah mendapat mandat secara tertulis dari dokter untuk
melakukan transfuse darah. Namun, saying sekali yang melakukan adalah bidan, padahal perawat
adalah yang berwenang menerima pelimpahan wewenang ini. Selain itu, pada kasus ini tidak ada
yang melakukan pengawasan terhadap tindakan yang dilakukan perawat, sebagaimana yang
tertulis pada pasal 32 ayat 5 bahwa pelimpahan wewenang secara mandat diberikan oleh tenaga
medis kepada perawat untuk melakukan sesuatu tindakan medis di bawah pengawasan. Jadi,
seharusnya ada yang melakukan pengawasan terhadap tindakan berdasarkan pelimpahan
wewenang ini.
Pada kasus ini, kepolisian menetapkan tersangka hanya pada perawat M, dan dua petugas
UPTD PMI, padahal menurut pasal 32 ayat 6 yang isinya adalah tanggung jawab atas tindakan
medis pada pelimpahan wewenang mandat sebagaimana dimaksud pada ayat (5) berada pada
pemberi pelimpahan wewenang. Dalam hal ini dokter adalah yang melimpahkan wewenang,
sehingga seharusnya dokter juga bertanggung jawab atas terjadinya malpraktek ini.
Pada kasus ini, sebenarnya perawat M memiliki hak seperti yang tertuang dalam pasal 36
huruf a yaitu perawat dalam melaksanakan praktik keperawatan berhak memperoleh pelindungan
hukum sepanjang melaksanakan tugas sesuai dengan standar pelayanan, standar profesi, standar
prosedur operasional, dan ketentuan peraturan perundang-undangan, namun karena pada kasus ini
perawat M tidak melakukan tindakan sesuai SPO maka perawat M tidak dapat memperoleh ha
katas perlindungan hukum ini.