Anda di halaman 1dari 16

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Pembangunan kesehatan sebagai salah satu upaya pembangunan nasional
diarahkan guna tercapainya kesadaran, kemauan, dan kemampuan untuk hidup
sehat bagi setiap penduduk agar dapat mewujudkan derajat kesehatan yang optimal.
Dan kesehatan yang demikian yang menjadi dambaan setiap orang sepanjang
hidupnya. Tetapi datangnya penyakit merupakan hal yang tidak bias ditolak meskipun
kadang –kadang bias dicegah atau dihindari.
Konsep sehat dan sakit sesungguhnya tidak terlalu mutlak dan universal
karena ada faktor–faktor lain diluar kenyataan klinis yang mempengaruhinya
terutama faktor social budaya. Kedua pengertian saling mempengaruhi dan
pengertian yang satu hanya dapat dipahami dalam konteks pengertian yang lain.
Banyak ahli filsafat, biologi, antropologi, sosiologi, kedokteran, dan lain-lain
bidang ilmu pengetahuan telah mencoba memberikan pengertian tentang konsep
sehat dan sakit ditinjau dari masing-masing disiplin ilmu. Masalah sehat dan sakit
merupakan proses yang berkaitan dengan kemampuan atau ketidakmampuan
manusia beradap -tasi dengan lingkungan baik secara biologis, psikologis maupun
sosio budaya.
UU No.23,1992 tentang Kesehatan menyatakan bahwa: Kesehatan adalah
keadaan sejahtera dari badan, jiwa dan sosial yang memungkinkan hidup produktif
secara sosial dan ekonomi. Dalam pengertian ini maka kesehatan harus dilihat
sebagai satu kesatuan yang utuh terdiri dari unsur-unsur fisik, mental dan sosial dan
di dalamnya kesehatan jiwa merupakanbagian integral kesehatan. Definisi sakit:
seseorang dikatakan sakit apabila ia menderita penyakit menahun (kronis), atau
gangguan kesehatan lain yang menyebabkan aktivitas kerja/kegiatannya terganggu.
Walaupun seseorang sakit (istilah sehari -hari) seperti masuk angin, pilek, tetapi bila
ia tidak terganggu untuk melaksanakan kegiatannya, maka ia di anggap tidak sakit.
Masalah kesehatan merupakan masalah kompleks yang merupakan
resultante dari berbagai masalah lingkungan yang bersifat alamiah maupun masalah
buatan manusia, social budaya, perilaku, populasi penduduk, genetika, dan

1
sebagainya. Derajat kesehatan masyarakat yang disebut sebagai psycho
socio somatic health well being , merupakan hasil dari 4 faktor yaitu:
1. Environment atau lingkungan.
2. Behaviour atau perilaku, Antara yang pertama dan kedua dihubungkan
dengan ecological balance.
3. Heredity atau keturunan yang dipengaruhi oleh populasi, distribusi
penduduk, dan sebagainya.
4. Health care service berupa program kesehatan yang bersifat preventif,
promotif, kuratif, dan rehabilitatif.
Dari empat faktor tersebut di atas, lingkungan dan perilaku merupakan faktor yang
paling besar pengaruhnya (dominan) terhadap tinggi rendahnya derajat kesehatan
masyarakat.
Tingkah laku sakit, peranan sakit dan peranan pasien sangat dipengaruhi oleh
faktor -faktor seperti kelas social, perbedaan suku bangsa dan budaya. Maka
ancaman kesehatan yang sama (yang ditentukan secara klinis), bergantung dari
variable-variabel tersebut dapat menimbulkan reaksi yang berbeda di kalangan
pasien. Pengertian sakit menurut etiologi naturalistik dapat dijelaskan dari segi
impersonal dan sistematik, yaitu bahwa sakit merupakan satu keadaan atau satu hal
yang disebabkan oleh gangguan terhadap sistem tubuh manusia.
Telah dikembangkan pengertian tentang penyakit yang mempunyai konotasi
biomedik dan sosio kultural. Dalam bahasa Inggris dikenal
kata disease dan illness sedangkan dalam bahasa Indonesia, kedua pengertian itu
dinamakan penyakit. Dilihat dari segi sosio kultural terdapat perbedaan besar antara
kedua pengertian tersebut. Dengan disease dimaksudkan gangguan fungsi atau
adaptasi dari proses-proses biologik dan psikofisiologik pada seorang individu,
dengan illness dimaksud reaksi personal, interpersonal, dan kultural terhadap
penyakit atau perasaan kurang nyaman. Para dokter mendiagnosis dan
mengobati disease, sedangkan pasien mengalami illness yang dapat disebabkan
oleh disease illness tidak selalu disertai kelainan organic maupun fungsional tubuh.
Di Indonesia sendiri pandangan sehat sakit sangatlah kuat dipengaruhi oleh
budaya suatu daerah. Keragaman budaya yang dimiliki Indonesia sangatlah
beragam, berbeda dari satu pulau ke pulau yang lain atau dari suku ke suku yang

2
lain hingga tak mungkin untuk dijelaskan satu persatu. Sebagai contoh kami
mengangkat fenomena sehat sakit menurut suku Batak.

B. Tujuan
Tujuan dari penulisan ini adalah:
1. Mengetahui budaya yang ada pada Suku Batak
2. Mengetahui fenomena budaya Suku Batak yang mempengaruhi konsep
sehat sakit.

BAB II

3
PEMBAHASAN

FENOMENA SEHAT DAN SAKIT LINTAS BUDAYA


KHUSUSNYA PADA SUKU BATAK

A. Suku Batak
1. Aspek Demografi
Orang-orang Batak atau orang-orang Sumatera Utara merupakan
kelompok etnis yang terdiri dari orang asal Sumatera Utara, orang pendatang
ke daerah Sumatera Utara dan warga Negara keturunan asing. Menurut
catatan kantor sensus dan statistika Provinsi Sumatera Utara dalam tahun
2000 tercatat jumlah penduduk Sumatera Utara 7.632.955 jiwa dengan
perincian 7.252.820 warga Negara Indonesia dan 380.135 orang Negara
asing. Ibu kota Sumatera Utara adalah Medan.
Dilihat dari struktur usia penduduk, kota Medan dihuni lebih kurang
1.266.696 jiwa yang berusia produktif (15-59 tahun). Selanjutnya,berdasarkan
tingkat pendidikan,91,88% penduduk telah mengenyam pendidikan dasar dan
menengah mulai dari tingkat SLTA, SMP dan SD serta 8,12% jenjang
perguruan tinggi.
Umumnya di Sumatera Utara gerakan perpindahan penduduk terjadi di
daerah pedalaman ke daerah pantai,terutama ke daerah pantai timur provinsi
ini. Pada masa sebelumnya perang kemerdekaan,perpindahan tersebut tidak
terlalu cepat,hanya sedikit urbanisasi ke kota-kota di tepi pantai,terutama
karena dorongan ingin mencari mata pencaharian.Tanah Deli merupakan
tumpuan utama sehingga pernah mendapat julukan sebagai “Tanah Dolar”.
Pada beberapa tahun terakhir ini,penduduk Sumatera Utara cenderung
mengelami pertambahan tetap.Artinya,pertambahan jumlah penduduk dari
tahun ke tahun naik antara 100.000 dan 200.000 orang pertahun. Selanjutnya,
kepadatan penduduk di kota-kota besar cenderung lebih padat dari
kabupaten-kabupaten. Umumnya, kepadatan di kabupaten-kabupaten kurang
dari 1000/km2 dengan luas wilayah maksimum 16.102 km2 (Tapanuli Selatan)
dan minimum 2.349 km2 (Kabupaten Karo). Di kota-kota kepadatan
maksimum 20.628 jiwa/km2 dengan minimum 1,7 km2 (Kodya Tanjung Balai)

4
atau kepadatan minimum 3.689 jiwa/km2 dengan luas 17,1 km2 (Kodya
Binjai).

2. Aspek Psikososial
a. Perbedaan kelas sosial
Stratifikasi social orang Batak di dalam kehidupan sehari-hari mungkin
tidak terlihat jelas. Strafikasi sosial orang Batak dibedakan berdasarkan
tiga prinsip berikut.
1) Perbedaan usia
2) Perbedaan pangkat dan jabatan
3) Perbedaan sifat keaslian
Pelapisan social berdasarkan perbedaan usia terlihat dalam hubungan
adat yang ada dalam masyarakat. Dalam hubungan masalah-masalah
adat, hanya orang-orang tua yang ikut serta, sedangkan orang-orang
muda tidak ikut campur. Bahkan, dalam masalah warisan, anak-anak akan
diwakilkan oleh orangtuanya. Setelah anak tersebut dewasa, hak tersebut
baru dikembalikan kepadanya. Dalam persoalan pekerjaan adat, tetapi
anak-anak tidak mempunyai pekerjaan apa pun.
System pelapisan social berdasarkan pangkat dan jabatan terlihat
dalam kehidupan sehari-hari. Dahulu keturunan bangsawan selalu
diutamakan kedudukan dan peranannya dalam masyarakat. Mereka
diutamkan dalam adat, pembagian daging atau “jambar”, dan tempat
duduknya di tengah-tengah pertemuan apa pun. Pada dasarnya, orang-
orang bangsawanlah yang menentukan segala persoalan
kemasyarakatan dalam adat. Tingkatan kedudukan yang teratas ini pada
masyarakat Simalungun disebut “partongah” atau “puang”. Pada
masyarakat Mandailing, juga terdapat lapisan masyarakat, seperi
“namora” dan bangsawan. Namora-namora dan orang-orang
bangsawanlah yang memegang peranan dalam soal-soal adat dan
hukum.
Pada masyarakat Nias juga terdapat lapisan masyarakat yang terdiri
atas beberapa lapisan yang disebut kasta. Kaum bangsawan merupakan
lapisan masyarakat yang paling atas dan budak adalah lapisan paling
bawah. Pergaulan dibatasi hanya dalam satu golongan. Pergaulan
5
dengan golongan lain seperti golongan atas ke golongan bawah dianggap
hina. Sebaliknya, bila seseorang dari tingkatan yang lebih rendah
menaikkan tingkatnya, ia harus mengadakan upacara adat. Pada
masyarakat Melayu, juga ada pembagian lapisan masyarakat. Lapisan
bangsawan adalah kelas paling atas, termasuk didalamnya Sultan dan
Tengku. Kaum bangsawan ini menguasai seluruh daerah Sumatera Timur
pada masa penjajahan Belanda.
Sesudah proklamasi tanggal 17 Agustus 1945, perbedaan-perbedaan
golongan di daerah Sumatera Utara sudah dihapuskan. Perbedaan
tersebut sebenarnya adalah ciptaan penjajah Belanda untuk menjalankan
politik devide et impera di Indonesia. Akan tetapi, dengan jiwa dan
semangat juang angkatan 45, perbedaan golongan dalan masyarakat
dihapus karena tidak sesuai dengan kepribadian bangsa Indonesia yang
berjiwa kekeluargaan. Pembagian lapisan lain yang membatasi golongan-
golongan dalam masyarakat, antara lain petani, pedagang, pegawai, dan
buruh. Dalam ruang social modern sekarang ini, mobilitas social
merupakan arus yang bebas.
Pada masyarakat Batak, orang yang mula-mula mendirikan sebuah
kampung dinamakan “marga tanah” dan orang yang dating kemudian
dinamakan “marga parripe”. Umumnya, “marga parripe” adalah marga-
marga lain dari “marga tanah” sering marga parripe ini adalah kemenakan
darai “marga tanah” itu sendiri. Dahulu, “marga tanah” lebih tinggi
kedudukannya ditengah-tengah masyarakat. Tidak hanya memegang
pimpinan dalam bidang pemerintahan, tetepi juga adat dan kepercayaan.
Marga pendatang harus tunduk marga tanah.
Walaupun menurut peraturan tidak ada lagi perbedaan kedudukan
setiap warga Negara, dalam praktek sehari-hari masih sering terlihat
adanya sisa-sisa pengaruh lama. “marga tanah” selalu di utamakan dalam
masyarakat. Umumnya, marga tanah masih mempunyai pengaruh besar
untuk mempengaruhi menduduki posisi dalam masyarakat. Terlebih lagi
dalam masyarakat dalam pedesaan, masih terasa pengaruh tersebut.
Kuat lemahnya pengaruh lama tersebut tergantung pada dinamika dan

6
cara berfikir masyarakat setempat. Makin cepat dinamika suatu
masyarakat semakin cepat penghapusan perbedaan tersebut.
b. Bentuk-bentuk keluarga Batak dan system ikatan kekerabatan
Pengertian “keluarga” yang lebih luas adalah kerabat yang terdiri dari
beberapa gezin. Keluarga Batak terdiri dari Karo, Simalungun, Fakfak
(Dairi), Tapanuli Selatan (Natal) Tapanuli Tengah (Sibolga). Pada
umumnya, dalam keluarga Batak tersebut sekurang-kurangnya ada tiga
unsure yang terjalin dalam “Dalihan Na Tolu” atau Tri Tengku. Dalam sikap
sehari-hari Dalihan Na Tolu diatur sedemikian rupa sebagai berikut.
Manat Mardongan Tubu. Artinya, kita harus bersikap hati-hati kepada
dongan tubu agar tidak menyinggung perasaannya. Kita minta penjelasan
dan pendapat dalam segala sesuatu. Jangan pernah kita memperlakukan
seolah-olah dongan tubu itu tidak penting karena semua suka duka
menjadi tanggung jawab dari dongan sabutuha (saudara satu ayah satu
ibu )
Somba Maehula-hula. Artinya, kita harus merendah diri pada hula-hula
dan selalu menghormati dengan setinggi-tingginya karena semua rejeki,
hamoroan dan hangabeon ada karena restu dari hula-hula. Siapa pun
yang tidak hormat kepada hula-hula akan mendapat celaka. Kita harus
mem berikan segala permintaan hula-hula agar tidak terkutuk.
Elek Marboru. Artinya, kita harus bersikap membujuk, membimbing,
dan memaafkan kepada boru. Barulah yang diharapkan dapat membantu
segala pekerjaan kita, baik berupa tenaga atau materi. Jadi, kalau boru
bersalah, kita tidak boleh terlalu marah agar boru tidak menjauh. Bila
perlu, boru di bujuk dengan membawa makanan (dengke=ikan) agar
jangan marah lagi. Pada masyarakat batak masih terdapat beberapa
rumah tangga dalam satu rumah besar\misalnya “rumah bolon”
(Simalungun Toba) seperti di Tanah Karo. Di kampung Lingga masih
masih terdapat rumah tangga tinggal dalam satu rumah besar yang
merupakan keluarga luas virilokal.
Rumah tangga virilokal di masyarakat Batak bermakna ganda, yaitu
pertama virilokal di masyarakat batak arti tinggal dalam “rumah bolon”
bersama orangtuanya setelah menikah dan kedua adalah virilokal tertentu

7
untuk anak yang bungsu. Menurut hukum kebapaan pada adat
Simalungun, anak laki-laki yang bungsu telah ditentukan mewarisi rumah
orangtua oleh karena itu, setelah menikah ia tinggal bersama
orangtuanya. Bila orangtuanya meninggal dunia, dengan sendirinya
rumah yang ditempatinya itu diwariskan kepadanya.
c. Nilai-nilai dan strategi koping
System kepercayaan kuno di daerah Batak Toba dan Karo yang masih
dianut oleh sebagian penduduk sampai sekarang berpangkal dari
kepercayaan tentang adanya pencipta dan ciptaannya. Pembagian alam
atas tiga bagian dunia tentang roh, dan makhluk-makhluk halus lainnya,
ramalan, korban, dan kepercayaan tersebut dapat disimpulkan menjadi
tiga bagian, yaitu:
1. Dunia dewa-dewa pencipta ((kosmologi dan kosmogoni),
2. Konsepsi tentang roh, dan
3. Kepercayaan tentang hantu, begu, atau jin.
Menurut kepercayaan animisme Batak, dunia terbagi atas tiga bagian
yakni dunia atau ‘benua” (benua toru, benua tonga, dan benua ginjang)
atau ‘benua bawah, benua tengah, benua atas’. Benua atas memiliki
tujuh lapisan dan disinilah rumah dewa-dewa serta keluarga bengu dan
jin. Ketiga pembagian ini sebenarnya tidak mutlak karena di benua tengah
juga begu. Tuhan yang tertinggi bagi suku Batak adalah “Mula Jadi Na
Balon”, yakni pemula dari segalanya atau diolah menjadi pemula sendiri.
Akan tetapi, setelah Belanda dating di daerah Toba, mayoritas masyarakat
Batak beragama Kristen dan sebagian beragama islam meskipun sampai
sekarang masih ada yang menganut kepercayaan nenek moyangnya.
Pada masyarakat Batak yang patrilineal, anak perempuan tidak
berhak menjadi ahli waris. Sebagai imbalan, anak perempuan wajib
disekolahkan, diberi uang belanja, dan dikawinkan oleh orangtuanya
apabila telah ditemu jodohnya. Perempuan tidak berhak mewarisi, tetapi
sebaliknya, mempunyai hak untuk dirawat, disekolahkan, dan dikawinkan.
Hal ini merupakan system yang bersesuaian. Bila yang satu diubah, yang
lainnya harus diubah pula. Sebagai contoh, bila si perempuan berhak
mewarisi, kewajiban membelanjai harus ditiadakan.

8
Belakangan ini ada kecenderungan untuk memberi sesuatu kepada
anak perempuan seperti dalam istilah Batak “Pauseang”. Hal tersebut
tidak ditafsirkan sebagai warisan. Pemberian ini dianggap sebagai tanda
kasih sayang, bukan warisan. Nilai-nilai dan strategi koping yang
digunakan oleh masyarakat Batak adalah sebagai berikut.
1. Menghormati yang lebih tua
2. Memecahkan masalah dengan musyawarah
3. Suami sebagai kepala rumah tangga, tetapi dalam mengambil
keputusan harus mendiskusikan terlebih dahulu dengan istri dan
anaknya.
d. Bahasa
Rumpun bahasa Batak adalah sekelompok bahasa yang dituturkan
di Sumatera Utara. Kelompok ini dimasukkan ke dalam kelompok yang
dijuluki Northwest Sumatra-Barrier Islands dalam rumpun bahasa Melayu-
Polinesia. Bahasa Batak mempunyai aksara bernama Surat Batak
e. Makanan
Keluarga Batak memiliki beragam jenis makanan khas yang
dihidangkan pada waktu-waktu tertentu. Masyarakat Batak selalu
berusaha untuk makan bersama. Apabila masih ada anggota keluarga
yang belum datang, mereka akan menunggu untuk makan bersama.
Sebelum mengadakan suatu perkumpulan, mereka harus menyiapkan
sesaji berupa indahan (nasi), pirai ni minuk (telur ayam kampung),
sitompion (sagu), lampet (tepung beras, kelapa,dan gula dibungkus daun
pisang lalu direbus), gambiri (kemiri), ansimun (mentimun), itak gur-gur
(tepung beras, kelapa, gula dikepal tanpa direbus), parbue (beras), pisang
dan aek sitio-tio (air putih). Sesaji ini diletakkan dalam mombang (sejenis
tampah yang terbuat dari pelepah dan daun enau atau kelapa), kemudian
diberi asap bakaran kemenyan untuk mengiringi tonggo.
Salah satu budaya yang tidak bisa lepas dari suku batak yaitu
mengkonsumsi ikan asin. Mayoritas orang Batak sangat suka makan
ikan asin. Terutama yang tinggal di Bonapasogit, semboyannya adalah:
tiada hari tanpa ikan asin. Ikan asin sudah berjasa besar mengentaskan
jutaan orang Batak dari kemiskinan; mencetak sejumlah jenderal,

9
menteri, pejabat tinggi, pengusaha besar dan menghasilkan sejuta
sarjana. Jika mengikuti acuan budaya masyarakat Batak modern
adalah gulamo atau gambas (ikan asin); terutama jenis kapala
batu atau hase-hase. Namun di balik jasa besarnya itu, ternyata ikan asin
merupakan faktor kedua yang membuat orang Batak rentan terhadap
kanker hidung dan hipertensi.

B. Fenomena Sehat Dan Sakit Pada Suku Batak


Arti “sakit“ bagi orang Batak adalah keadaan dimana seseorang hanya
berbaring, dan penyembuhannya melalui cara-cara tradisional, atau ada juga yang
membawa orang yang sakit tersebut kepada dukun atau “orang pintar“. Dalam
kehidupan sehari-hari orang Batak, segala sesuatunya termasuk mengenai
pengobatan jaman dahulu, untuk mengetahui bagaimana cara mendekatkan diri
pada sang pencipta agar manusia tetap sehat dan jauh dari mara bahaya.
Bagi orang Batak, di samping penyakit alamiah, ada juga beberapa tipe
spesifik penyakit supernatural, yaitu: jika mata seseorang bengkak, orang tersebut
diyakini telah melakukan perbuatan yang tidak baik (mis: mengintip). Cara
mengatasinya agar matanya tersebut sembuh adalah dengan mengoleskan air sirih.
Nama tidak cocok dengan dirinya (keberatan nama) sehingga membuat orang
tersebut sakit. Cara mengobatinya dengan mengganti nama tersebut dengan nama
yang lain, yang lebih cocok dan didoakan serta diadakan jamuan adat bersama
keluarga. Ada juga orang Batak sakit karena tarhirim misal: seorang bapak
menjanjikan akan memberi mainan buat anaknya, tetapi janji tersebut tidak ditepati.
Karena janji tersebut tidak ditepati, si anak bisa menjadi sakit. Jika ada orang Batak
menderita penyakit kusta, maka orang tersebut dianggap telah menerima kutukan
dari para leluhur dan diasingkan dalam pergaulan masyarakat.
Dalam budaya Batak dikenal adanya “kitab pengobatan” yang isinya
diantaranya adalah, Mulajadi Namolon Tuhan Yang Maha Esa bersabda: “Segala
sesuatu yang tumbuh di atas bumi dan di dalam air sudah ada gunanya masing-
masing di dalam kehidupan sehari-hari, sebab tidak semua manusia yang dapat
menyatukan darahku dengan darahnya, maka gunakan tumbuhan ini untuk
kehidupanmu.” Di dalam kehidupan Si Raja Batak dahulu ilmu pengobatan telah ada,
mulai ilmu pengobatan sejak dalam kandungan sampai pengobatan melahirkan.
1. Obat mulai dari kandungan sampai melahirkan.

10
Perawatan dalam kandungan: menggunakan salusu yaitu satu butir telur ayam
kampung yang terlebih dahulu di doakan.
Perawatan setelah melahirkan: menggunakan kemiri, jeruk purut dan daun sirih.
Perawatan bayi: biasanya menggunakan kemiri, biji lada putih dan iris jorango.
Perawatan dugu-dugu: sebuah makanan ciri khas Batak saat melahirkan yang
diresap dari bangun-bangun, daging ayam, kemiri dan kelapa.
2. Dappol Siburuk (obat urut dan tulang). Asal mula manusia menurut orang Batak
adalah dari ayam dan burung. Obat dappol si buruk ini dulunya berasal dari
burung siburuk yang mana langsung dipraktikkan dengan penelitian alami dan
hampir seluruh keturunan Siraja Batak menggunakan obat ini dalam kehidupan
sehari-hari.
3. Untuk mengobati sakit mata. Menurut orang Batak mata adalah satu panca
indra sekaligus penentu dalam kehidupan manusia, dan menurut legenda pada
mata manusia berdiam Roh Raja Simosimin. Berdasarkan pesan dari Si Raja
Batak, untuk mengeluarkan penyakit dari mata, masukkanlah biji sirintak ke
dalam mata yang sakit. Setelah itu tutuplah mata dan tunggulah beberapa saat,
karena biji sirintak akan menarik seluruh penyakit yang ada di dalam mata.
Gunakan waktu 1x 19 hari, supaya mata tetap sehat. Sirintak adalah tumbuhan
Batak yang dalam bahasa Indonesia berarti mencabut (mengeluarkan), nama
ramuannya dengan sama tujuannnya.
4. Mengobati penyakit kulit yang sampai membusuk. Berdasarkan pesan Si Raja
Batak untuk mengobati orang yang berpenyakit kulit supaya menggunakan
tawar mulajadi (sesuatu yang berasal dari asap dapur). Rumpak 7 macam dan
diseduh dengan air hangat. Disamping itu, Si Raja Batak berpesan kepada
keturunannya, supaya manusia dapat hidup sehat, maka makanlah atau
minumlah: apapaga, airman, anggir, adolora, alinggo, abajora, ambaluang,
assigning, dan arip-arip. Dalam budaya Batak juga dikenal dengan adanya
karisma, wibawa dan kesehatan menurut orang Batak dahulu, supaya manusia
dapat sukses dalam segala hal biasanya diwajibkan membuat sesajen berupa:
ayam merah, ayam putih, ayam hitam, ketan beras (nitak), jeruk purut, sirih
beserta perlengkapannya. Beberapa contoh pengobatan tradisional lainnya
yang dilakukan oleh orang Batak adalah: jika ada orang Batak yang menderita
penyakit gondok, maka cara pengobatannya dengan menggunakan belau.
Apabila ada orang Batak yang menderita penyakit panas (demam) biasanya
pengobatannya dengan cara menyelimutinya dengan selimut / kain yang tebal.
11
Penyakit yang dapat ditimbulkan dari budaya suku batak yang mengkonsumsi
ikan asin adalah kanker nasofaring (KNF). Hal ini disebabkan karena, secara genetis
orang Batak punya keunikan atau kelebihan dibanding etnis lain. Orang Batak
memiliki gen HLADRB 108, yang tidak dipunyai oleh orang Jawa, Melayu, Minang
dan suku-suku lain. Hanya orang-orang di Cina Selatan yang punya kesamaan
dengan orang Batak dalam perkara genetis ini. Dan lantaran memiliki gen yang
namanya sulit diucapkan itu, orang Batak sangat disukai oleh Karsinoma Nasofaring.
Nama yang terdengar eksotis dan biasa disingkat KNF ini adalah, ternyata, “nama
panggung” si kanker hidung”.

Praktik kesehatan keluarga


Kepercayaan kuno batak adalah syamaisme, yaitu suatu kepercayaan dengan
melakukan pemasukan roh kedalam tubuh seseorang sehingga roh itu dapat
berkata-kata. Orang yang menjadi perantara disebut “shaman”. Shaman bagi orang
batak disebut si “baso” yang berarti “kata”. Pada umumnya, si “baso” ini adalah
dukun wanita. Ketika baso ini berkatat-kata, bahasanya harus ditafsirkan secara
khas. Pembicaraan inilah yang dipercayai akan menjadi petunjuk bagi orang untuk
pengobatan dan ramalan. Selain Baso, ada juga yang memegang peranan penting
yaitu Datu (biasanya seorang pria). Berlainan dengan baso, datu didalam kegiatanya
tidak menjadi medium, melainkan langsung berbicara dengan roh. Datu bertugas
mengobati orang sakit sehingga dalam tugas ini datu tidak saja mengetahui white
magic, tetapi juga mengetahui black magic atau magis jahat. Tugas lain dari datu
adalah memimpin upacara pesta sajian besar dan menjadi pawang hujan.
Menurut kepercayaan orang batak, apabila seseorang sakit, “tondi” atau “tendi” si
sakit pergi kesuatu tempat meninggalkan tubuhnya. Karena tondi itu pergi, orang
tersebut jatuh sakit. Agar orang yang sakit dapat sembuh, tendinya harus dipanggil
agar masuk kembali ketubuh orang yang sakit itu (tondi mulak tu badan). Mediator
untuk memanggil tondi tersebut adalah baso atau datu. Kalau tondi itu setelah
beruang-ulang dipanggil tidak mau pulang juga, berarti orang sakit tersebut tidak ada
harapan lagi untuk hidup.

C. Analisis Pengkajian Keperawatan Berdasarkan Teori Sunrise Model


Leininger Pada Fenomena Sehat Sakit Khususnya Suku Batak
1. Pengkajian 7 Sub Sistem Menurut Leininger

12
a. Faktor Teknologi
 Arti “sakit“ bagi orang Batak adalah keadaan dimana seseorang hanya
berbaring, dan penyembuhannya melalui cara-cara tradisional, atau
ada juga yang membawa orang yang sakit tersebut kepada dukun atau
“orang pintar“.
 Bagi orang Batak, di samping penyakit alamiah, ada juga beberapa tipe
spesifik penyakit supernatural.
 Dalam budaya Batak dikenal adanya “kitab pengobatan” yang isinya
diantaranya adalah, Mulajadi Namolon Tuhan Yang Maha Esa
bersabda: “Segala sesuatu yang tumbuh di atas bumi dan di dalam air
sudah ada gunanya masing-masing di dalam kehidupan sehari-hari,
sebab tidak semua manusia yang dapat menyatukan darahku dengan
darahnya, maka gunakan tumbuhan ini untuk kehidupanmu.”
 Bahasa Batak mempunyai aksara bernama Surat Batak
b. Faktor agama dan falsafah hidup
 Suku Batak sangat percaya akan kesembuhan penyakit melalui cara-
cara tradisional, atau ada juga yang membawa orang yang sakit
tersebut kepada dukun atau “orang pintar“.
 Kepercayaan kuno batak adalah syamaisme, yaitu suatu kepercayaan
dengan melakukan pemasukan roh kedalam tubuh seseorang sehingga
roh itu dapat berkata-kata. Orang yang menjadi perantara disebut
“shaman”. Shaman bagi orang batak disebut si “baso” yang berarti
“kata”. Pada umumnya, si “baso” ini adalah dukun wanita. Ketika baso
ini berkatat-kata, bahasanya harus ditafsirkan secara khas.
Pembicaraan inilah yang dipercayai akan menjadi petunjuk bagi orang
untuk pengobatan dan ramalan.
 Menurut kepercayaan orang batak, apabila seseorang sakit, “tondi”
atau “tendi” si sakit pergi kesuatu tempat meninggalkan tubuhnya.
Karena tondi itu pergi, orang tersebut jatuh sakit. Agar orang yang sakit
dapat sembuh, tendinya harus dipanggil agar masuk kembali ketubuh
orang yang sakit itu (tondi mulak tu badan).
c. Faktor sosial dan keterikatan kekeluargaan
 Berdasarkan tingkat pendidikan,91,88% penduduk telah mengenyam
pendidikan dasar dan menengah mulai dari tingkat SLTA, SMP dan SD
serta 8,12% jenjang perguruan tinggi.

13
 Pelapisan social berdasarkan perbedaan usia terlihat dalam hubungan
adat yang ada dalam masyarakat. Dalam hubungan masalah-masalah
adat, hanya orang-orang tua yang ikut serta, sedangkan orang-orang
muda tidak ikut campur.
 Pada masyarakat Batak yang patrilineal, anak perempuan tidak berhak
menjadi ahli waris.
d. Faktor nilai-nilai budaya dan gaya hidup
 Mayoritas orang Batak sangat suka makan ikan asin. Terutama yang
tinggal di Bonapasogit, semboyannya adalah: tiada hari tanpa ikan asin.
Penyakit yang dapat ditimbulkan dari budaya suku batak yang
mengkonsumsi ikan asin adalah kanker nasofaring (KNF) dan
hipertensi.
 Persepsi sehat sakit berhubungan dengan aktivitas sehari-hari: Suku
Batak sangat percaya akan kesembuhan penyakit melalui cara-cara
tradisional, atau ada juga yang membawa orang yang sakit tersebut
kepada dukun atau “orang pintar“.
 Menurut kepercayaan orang batak, apabila seseorang sakit, “tondi”
atau “tendi” si sakit pergi kesuatu tempat meninggalkan tubuhnya.
Karena tondi itu pergi, orang tersebut jatuh sakit. Agar orang yang sakit
dapat sembuh, tendinya harus dipanggil agar masuk kembali ketubuh
orang yang sakit itu (tondi mulak tu badan).
 Di dalam kehidupan Si Raja Batak dahulu ilmu pengobatan telah ada,
mulai ilmu pengobatan sejak dalam kandungan sampai pengobatan
melahirkan.
e. Faktor pendidikan
 Tingkat pendidikan pada suku Batak, 91,88% penduduk telah
mengenyam pendidikan dasar dan menengah mulai dari tingkat SLTA,
SMP dan SD serta 8,12% jenjang perguruan tinggi.
 Walaupun menurut peraturan tidak ada lagi perbedaan kedudukan
setiap warga Negara, dalam praktek sehari-hari masih sering terlihat
adanya sisa-sisa pengaruh lama.
f. Faktor kebijakan dan peraturan RS
Tidak dikaji
g. Faktor ekonomi

14
 System pelapisan social berdasarkan pangkat dan jabatan terlihat
dalam kehidupan sehari-hari. Dahulu keturunan bangsawan selalu
diutamakan kedudukan dan peranannya dalam masyarakat.
 Pada dasarnya, orang-orang bangsawanlah yang menentukan segala
persoalan kemasyarakatan dalam adat.

BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan

Orang-orang Batak atau orang-orang Sumatera Utara merupakan


kelompok etnis yang terdiri dari orang asal Sumatera Utara, orang pendatang ke
daerah Sumatera Utara dan warga Negara keturunan asing..
Arti “sakit“ bagi orang Batak adalah keadaan dimana seseorang hanya
berbaring, dan penyembuhannya melalui cara-cara tradisional, atau ada juga
yang membawa orang yang sakit tersebut kepada dukun atau “orang
pintar“.Suku Batak sangat percaya akan kesembuhan penyakit melalui cara-cara
tradisional, atau ada juga yang membawa orang yang sakit tersebut kepada
dukun atau “orang pintar“.
Mayoritas orang Batak sangat suka makan ikan asin. Terutama yang
tinggal di Bonapasogit, semboyannya adalah: tiada hari tanpa ikan asin. Penyakit
yang dapat ditimbulkan dari budaya suku batak yang mengkonsumsi ikan asin
adalah kanker nasofaring (KNF) dan hipertensi.

15
B. Saran
Melihat serta menganalisis system budaya pada suku Batak yang masih
sangat kuat mempertahankan budaya serta keyakinan mereka secara turun
temurun serta makna sehat sakit menurut suku Batak tersebut sangatlah sulit
suku Batak dapat menerima pengaruh budaya baru. Untuk itu, kita sebagai
perawat apabila nantinya menemui pasien yang berasal dari suku Batak
haruslah melakukan negosiasi budaya dengan sangat hati-hati serta
memberikan penjelasan dengan detail sehingga mereka dapat menerima bahkan
mau melakukan semua prosedur medis.

16