Anda di halaman 1dari 26

BAGIAN BEDAH CASE REPORT

FAKULTAS KEDOKTERAN 2018


UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA

LAPORAN KASUS
FIMOSIS

DISUSUN OLEH :
Nunung Vatryzah
111 2016 2089

PEMBIMBING :
dr. Suciati Hambali, Sp.B.

DIBAWAKAN DALAM RANGKA KEPANITERAAN KLINIK


BAGIAN ILMU BEDAH
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
MAKASSAR
2018

1
HALAMAN PENGESAHAN

Yang bertandatangan dibawah ini menyatakan bahwa :


Nama : Nunung Vatryzah
NIM : 111 2016 2089
Universitas : Universitas Muslim Indonesia
Judul Laporan Kasus : Fimosis

Adalah benar telah menyelesaikan referat berjudul ”Fimosis” dan telah disetujui serta
telah dibacakan dihadapan pembimbing (supervisor) dalam rangka kepaniteraan
klinik pada bagian Bedah Fakultas Kedokteran Universitas Muslim Indonesia.

Makassar, 27 Mei 2018

Supervisor Pembimbing

dr. Suciati Hambali, Sp.B

2
BAB I
CASE REPORT

A. IDENTITAS
Nama : An.Aqhil Al-Buqhori
Tanggal lahir : 08/04/2013
Umur : 5 tahun
Alamat : Jl. Regge Lr.4 No 23
RM : 16 95 71
Status : Dibawah umur
Masuk rumah sakit : 12 April 2018
B. ANAMNESIS
Keluhan Utama :
Nyeri pada saat buang air kecil
Anamnesis Terpimpin :
Dialami sejak 1 minggu yang lalu sebelum masuk ke Rumah Sakit,
Nyeri yang dirasakan pada saat mengakhiri buang air kecil. Nyeri seperti rasa
tertusuk dan dirasakan hilang timbul. Nyeri biasanya tidak berlangsung secara
terus-menerus setiap buang air kecil dan hanya berlangsung 1 kali dalam
sehari setiap buang air kecil. Pasien juga mengeluh terdapat benjolan di
bawah kulit penis. Hal ini baru dirasakan pertama kali sejak 1 minggu yang
lalu. Penis menggembung saat buang air kecil (-) Pancaran buang air kecil
normal. Demam (-),Riw penyakit sebelumnya (-),Riw berobat sebelumnya (-),
Riw trauma(-).
C. PEMERIKSAAN FISIS
Sakit sedang / Gizi Cukup / Composmentis
❖ Status Vitalis
– Tekanan Darah : 90/60 mmHg
– Nadi : 90 x/menit

3
– Pernapasan : 22 x /menit
– Suhu (axilla) : 36,6o C
❖ Status Generalis
• Kepala :
o Rambut : Hitam, tidak mudah rontok.
o Mata : Eksoftalmus (-)
▪ Letak : Simetris
▪ Pergerakan : Dalam batas normal
▪ Palpebra : Edema (-)
▪ Kornea : Jernih
▪ Pupil : Bulat, isokor θ 2,5mm/2,5mm, RC +/+
▪ Sklera : Tidak ikterik
▪ Konjunctiva : Tidak anemis
o Telinga : Simetris, tidak terdapat serumen
o Hidung : Pernafasan cuping hidung : (-)
• Bibir : Sianosis (-)
o Mulut : Gusi tidak hiperemis
▪ Lidah bersih
▪ Tonsil T1/T1, Faring tidak hiperemis
• Leher :
Inspeksi : Kelenjar tiroid tidak tampak membesar
Palpasi : Kelenjar tiroid tidak teraba pembesaran
JVP : Tidak meningkat
KGB : Tidak teraba pembesaran
• Thoraks :
- Paru
Inspeksi : Bentuk dan pergerakan pernafasan kanan-kiri simetris
Palpasi : vocal fremitus simetris kanan=kiri

4
Perkusi : Sonor pada kedua lapang paru
Auskultasi : Suara nafas vesikuler pada seluruh lapangan paru,
wheezing (-/-), ronkhi (-/-)
- Jantung
Inspeksi : Ictus cordis tidak terlihat
Palpasi : Ictus cordis teraba di ICS V midclavicularis sinistra
Perkusi : Batas kanan sela iga II garis parasternal kanan
Batas kiri sela iga VII 3 jari di samping kiri linea
midclavicularis
Auskultasi : Bunyi jantung I – II murni, reguler, murmur (-), gallop
(-)
• Abdomen :
Inspeksi : Datar, ikut gerak nafas, warna kulit sama dengan
sekitarnya, massa tumor tidak tampak.
Palpasi : Nyeri tekan (-), hepar dan lien tidak teraba
Auskultasi : Peristaltik kesan normal
Perkusi : Timpani, nyeri ketok (-)
 Status Urologi :
- Regio Costo vertebrae angle
Inspeksi : jejas (-), tanda-tanda radang (-)
Palpasi : nyeri tekan (-), nyeri lepas (-), massa (-), ballottement
(-)
Perkusi : nyeri ketuk (-)
- Regio Supra symphisis
Inspeks : warna kulit sama dengan sekitar, jejas (-), sikatriks (-),
tanda-tanda radang (-)
Palpasi : nyeri tekan (+), vesika urinaria tidak teraba penuh
Perkusi : tympani

5
- Regio Genitalia Eksterna
a. Regio Penis

D.
E.
F.
G.
H.
I.
J.

Inspeksi : Terdapat 3 benjolan yang teraba di bawah kulit penis


berjumlah Hiperemis (+)
Palpasi : Teraba benjolan berukuran ± 0,5 x 0,5 cm, mobile (+), nyeri
tekan (-), preputium tidak bisa diretraksi ke glans penis (+)
b. Regio Scrotum
Inspeksi : pembesaran (-), tanda-tanda radang (-)
Palpasi : testis teraba kanan dan kiri, konsistensi kenyal, nyeri tekan
(-)
- Rectal Toucher
Inspeksi : disekitar anus massa (-), ulcerasi (-), tanda-tanda radang
(-).
Rectal Toucher : tonus sphincter ani baik, ampula recti tidak kolaps,
mukosa rectum licin tidak berbenjol

6
D. PEMERIKSAAN PENUNJANG :
Pemeriksaan Laboratorium :
- Darah rutin

Pemeriksaan Hasil Nilai normal

WBC 8,5 4,0-12,0

HGB 12,8 11-17

HCT 35,3 35-55

PLT 317 150-400

CT 13

BT 2

E. RESUME
Seorang anak laki-laki umur 5 tahun masuk ke Rumah Sakit dengan
keluhan nyeri saat buang air kecil yan dialami sejak 1 minggu yang lalu
sebelum masuk ke Rumah Sakit, Nyeri yang dirasakan pada saat mengakhiri
buang air kecil. Nyeri seperti rasa tertusuk dan dirasakan hilang timbul. Nyeri
biasanya tidak berlangsung secara terus-menerus setiap buang air kecil dan
hanya berlangsung 1 kali dalam sehari setiap buang air kecil. Pasien juga
mengeluh terdapat benjolan di bawah kulit penis. Hal ini baru dirasakan
pertama kali sejak 1 minggu yang lalu. Dari hasil pemeriksaan fisis pasien
datang dengan status general sakit sedang, gizi cukup, dan compos mentis..
Pada pemeriksaan status lokalisasi regio penis inspeksi terdapat 3 buah
benjolan yang teraba di bawah kulit penis tampak hiperemis. Pada palpasi
teraba benjolan berukuran ± 0,5 x 0,5 cm, mobile (+), nyeri tekan (-),
preputium tidak bisa ditarik ke glans penis (+)

7
F. ASSESMENT
- Fimosis
G. PLANNING
- IVFD RL 8 tpm
- Inj. Ceftriaxone 0,5 gr/12 jam/iv
H. RENCANA TINDAKAN
- Sirkumsisi

8
FOLLOW UP

TGL PERJALANAN PENYAKIT INSTRUKSI DOKTER


- Preoperatif (13/4/2018)

- Intraoperatif (13/4/2018)

9
- Post operatif (13/4/2018)

10
S : nyeri post op P:
13/4/2018 - IVFD RL 8 tpm
O : KU :SS/GC/CM
- Inj Ceftriaxone 0,5 gr/ 12
Inspeksi : Glans penis sampai
sulcus coronaries tampak jam/iv
hiperemis - Inj ketorolac 15 mg/8 jam/iv
Palpasi : Nyeri tekan pada - In Ranitidine 25 mg/ 8 jam /iv
glans penis dan sulcus
coronarius
A:

 Post Op sirkumsisi

14/4/2018

11
14/4/2018 S : nyeri post op P:
- Aff Infus
O : KU :SS/GC/CM
- Cefadroxyl syr 2 dd1 cth
Inspeksi : hiperemis (+) pada
glans penis berkurang - PCT syr 3 dd1 ½ cth
- Mobilisasi jalan
Palpasi : Nyeri tekan (+) pada
sulcus coronaries dan glans
penis
A:

 Fimosis
POH I sirkumsisi

12
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Anatomi Dan Fisiologi Penis


Penis terdiri dari corpus penis, glans penis, sulcus coronal glans penis, dan
preputium. Preputium penis merupakan lipatan kulit yang menutupi glans penis.
Normalnya, kulit preputium selalu melekat erat pada glans penis dan tidak dapat
ditarik ke belakang pada saat lahir, namun seiring bertambahnya usia serta
diproduksinya hormon dan faktor pertumbuhan, terjadi proses keratinisasi lapisan
epitel dan deskuamasi antara glans penis dan lapis bagian dalam preputium sehingga
akhirnya kulit preputium terpisah dari glans penis.(1)
Bila dilihat dari penampang horizontal, penis terdiri atas 3 buah korpora
berbentuk silindris yaitu 2 buah korpora kavernosa yang saling berpasangan dan
sebuah korpus spongiosum yang berada disebelah ventralnya. Korpora kavernosa
dibungkus oleh jaringan fibroelastik tunika albuginea sehingga merupakan satu
kesatuan, sedangkan di sebelah proksimal terpisah menjadi dua sebagai krura penis.
Setiap krus penis dibungkus oleh otot ishio-kavernosus yang kemudian menempel
pada rami osis ischia.(2)

Gambar 1. Anatomi Penis

13
Gambar 2. Penampang melintang batang penis
Korpus spongiosum membungkus uretra mulai dari diafragma urogenitalis
hingga muara uretra eksterna. Sebelah proksimal korpus spongiosum dilapisi oleh
otot bulbo-kavernosus. Korpus spongiosum ini berakhir pada sebelah distal sebagai
glans penis. Ketika korpora, akni dua buah korpora kavernosa dan sebuah
kavernosum dibungkus oleh fascia buck dan lebih superfisial lagi oleh fasia colles
atau fasia dartos yang merupakan kelanjutan dari fasia scarpa.(2)
Di dalam setiap korpus yang terbungkus oleh tunika abuginea terdapat
jaringan erektil yang berupa jaringan kavernus (berongga) seperti spon. Jaringan ini
terdiri atas sinusoid atau rongga lacuna yang dilapisi oleh endothelium dan otot polos
kavernosus. Rongga lacuna ini dapat menampung darah yang cukup banyak sehingga
menyebabkan ketegangan batang penis.(2)
Penis dipersyarafi oleh 2 jenis syaraf yakni syaraf otonom (para simpatis dan
simpatis) dan syaraf somatik (motoris dan sensoris). Syaraf-syaraf simpatis dan
parasimpatis berasal dari hipotalamus menuju ke penis melalui medulla spinalis
(sumsum tulang belakang). Khusus syaraf otonom parasimpatis ke luar dari medulla
spinalis (sumsum tulang belakang) pada kolumna vertebralis di S2-4. Sebaliknya
syaraf simpatis ke luar dari kolumna vertebralis melalui segmen Th 11 sampai L2 dan
akhirnya parasimpatis dan simpatis menyatu menjadi nervus kavernosa. Syaraf ini

14
memasuki penis pada pangkalnya dan mempersyarafi otot- otot polos Syaraf somatis
terutama yang bersifat sensoris yakni yang membawa impuls (rangsang) dari penis
misalnya bila mendapatkan stimulasi yaitu rabaan pada badan penis dan kepala penis
(glans), membentuk nervus dorsalis penis yang menyatu dengan syaraf-syaraf lain
yang membentuk nervus pudendus. Syaraf ini juga berlanjut ke kolumna vertebralis
(sumsum tulang belakang) melalui kolumna vertebralis S2-4. Stimulasi dari penis
atau dari otak secara sendiri atau bersama sama melalui syaraf-syaraf di atas akan
menghasilkan ereksi penis.(3)
Vaskularisasi Penis
Vaskularisasi untuk penis berasal dari arteri pudenda interna lalu menjadi
arteria penis communis yang bercabang 3 yakni 2 cabang ke masing-masing yakni ke
korpus kavernosa kiri dan kanan yang kemudian menjadi arteria kavernosa atau
arteria penis profundus yang ketiga ialah arteria bulbourethralis untuk korpus
spongiosum. Arteria memasuki korpus kavernosa lalu bercabang-cabang menjadi
arteriol-arteriol helicina yang bentuknya berkelok-kelok pada saat penis lembek atau
tidak ereksi. Pada keadaan ereksi, arteriol-arteriol helicina mengalami relaksasi atau
pelebaran pembuluh darah sehingga aliran darah bertambah besar dan cepat
kemudian berkumpul di dalam rongga-rongga lakunar atau sinusoid. Rongga sinusoid
membesar sehingga terjadilah ereksi. Sebaliknya darah yang mengalir dari sinusoid
ke luar melalui satu pleksus yang terletak di bawah tunica albugenia. Bila sinusoid
dan trabekel tadi mengembang karena berkumpulnya darah di seluruh korpus
kavernosa, maka vena-vena di sekitarnya menjadi tertekan. Vena-vena di bawah
tunica albuginea ini bergabung membentuk vena dorsalis profunda lalu ke luar dari
Corpora Cavernosa pada rongga penis ke sistem vena yang besar.(3)

15
B. Definisi Fimosis
Fimosis merupakan kulit preputium yang tidak dapat diretraksi ke
belakang .(4)
C. Klasifikasi Fimosis
a. Fimosis kongenital (fimosis fisiologis, fimosis palsu, pseudo phimosis)
timbul sejak lahir. Fimosis ini bukan disebabkan oleh kelainan anatomi
melainkan karena adanya faktor perlengketan antara kulit pada penis bagian
depan dengan glans penis sehingga muara pada ujung kulit kemaluan seakan-
akan terlihat sempit. Sebenarnya merupakan kondisi normal pada anak-anak,
bahkan sampai masa remaja. Kulit preputium selalu melekat erat pada glans
penis dan tidak dapat ditarik ke belakang pada saat lahir, namun seiring
bertambahnya usia serta diproduksinya hormon dan faktor pertumbuhan,
terjadi proses keratinisasi lapisan epitel dan deskuamasi antara glans penis dan
lapis bagian dalam preputium sehingga akhirnya kulit preputium terpisah dari
glans penis.(5)

Gambar 3. Fimosis Fisiologi

16
b. Fimosis didapat (fimosis patologik, fimosis yang sebenarnya, true phimosis)
timbul kemudian setelah lahir. Fimosis Patologis didefinisikan sebagai
ketidakmampuan untuk menarik preputim setelah sebelumnya yang dapat
ditarik kembali. Fimosis ini disebabkan oleh sempitnya muara di ujung kulit
kemaluan secara anatomis. Hal ini berkaitan dengan kebersihan (higiene)
yang buruk, peradangan kronik glans penis dan kulit preputium
(balanoposthitis kronik), atau penarikan berlebihan kulit preputium (forceful
retraction) pada fimosis kongenital yang akan menyebabkan pembentukkan
jaringan ikat (fibrosis) dekat bagian kulit preputium yang membuka.
Rickwood mendefinisikan fimosis patologis adalah kulit distal penis
(preputium) yang kaku dan tidak bisa ditarik, yang disebabkan oleh Balanitis
Xerotica Obliterans (BXO). (5)

Gambar 4. Fimosis Patologi

17
Gambar 5. Fimosis Fisiologis dan Fimosis Patologi

D. Patofisiologi
Fimosis yang fisiologis merupakan hasil dari adhesi lapisan-lapisan epitel
antara preputium bagian dalam dengan glans penis. Adhesi ini secara spontan akan
hilang pada saat ereksi dan retraksi preputium secara intermiten, jadi seiring dengan
bertambahnya usia (masa puber) phimosis fisiologis akan hilang. Higienitas yang
buruk pada daerah sekitar penis dan adanya balanitis atau balanophostitis berulang
yang mengarah terbentuknya scar pada orificium preputium, dapat mengakibatkan
fimosis patologis. Retraksi preputium secara paksa juga dapat mengakibatkan luka
kecil pada orificio preputium yang dapat mengarah ke scar dan berlanjut phimosis.
Pada orang dewasa yang belum berkhitan memiliki resiko fimosis secara sekunder
karena kehilangan elastisitas kulit.(6)

Pada kasus fimosis lubang yang terdapat di prepusium sempit sehingga tidak
bisa ditarik mundur dan glans penis sama sekali tidak bisa dilihat. Kadang hanya
tersisa lubang yang sangat kecil di ujung prepusium. Pada kondisi ini, akan terjadi
fenomena “balloning” dimana preputium mengembang saat berkemih karena desakan
pancaran urine yang tidak diimbangi besarnya lubang di ujung prepusium.
Bila fimosis menghambat kelancaran berkemih, seperti pada balloning maka sisa-sisa

18
urin mudah terjebak di dalam preputium. Hal ini bisa menyebabkan terjadinya
infeksi. (6)
Fimosis juga terjadi jika tingkat higienitas rendah pada waktu BAK yang
akan mengakibatkan terjadinya penumpukan kotoran-kotoran pada glans penis
sehingga memungkinkan terjadinya infeksi pada daerah glans penis dan prepusium
(balanitis) yang meninggalkan jaringan parut sehingga prepusium tidak dapat ditarik
kebelakang. (6)
Pada lapisan dalam prepusium terdapat kelenjar sebacea yang memproduksi
smegma. Cairan ini berguna untuk melumasi permukaan prepusium. Letak kelenjar
ini di dekat pertemuan prepusium dan glans penis yang membentuk semacam
“lembah” di bawah korona glans penis (bagian kepala penis yang berdiameter paling
lebar). Di tempat ini terkumpul keringat, debris/kotoran, sel mati dan bakteri. Bila
tidak terjadi fimosis, kotoran ini mudah dibersihkan. Namun pada kondisi fimosis,
pembersihan tersebut sulit dilakukan karena prepusium tidak bisa ditarik penuh ke
belakang. Bila yang terjadi adalah perlekatan prepusium dengan glans penis, debris
dan sel mati yang terkumpul tersebut tidak bisa dibersihkan. (6)
Ada pula kondisi lain akibat infeksi yaitu balanopostitis. Pada infeksi ini
terjadi peradangan pada permukaan preputium dan glans penis. Terjadi
pembengkakan kemerahan dan produksi pus di antara glans penis dan prepusium. (6)

E. Manifestasi Klinis
Fimosis menyebabkan gangguan aliran urine berupa sulit kencing, pancaran
urine mengecil, menggelembungnya ujung preputium penis pada saat miksi, dan
menimbulkan retensi urine. Higiene local yang kurang bersih menyebabkan
terjadinya infeksi pada preputium (postitis), infeksi pada glans penis (balanitis) atau
infeksi pada glans dan preputium (balanopostitis). (2)
Kadangkala pasien dibawa berobat oleh orang tuanya karena ada benjolan
lunak diujung penis yang tak lain adalah korpus smegma yaitu timbunan smegma di

19
dalam sakus preputium penis. Smegma terjadi dari sel-sel mukosa peputium dan
glans penis yang mengalami deskuamasi oleh bakteri di dalamnya. (2)

Gambar 6. Preputium yang tidak bisa ditarik


F. Diagnosis
Untuk menegakkan diagnosis didapatkan dari anamnesis dan pemeriksaan
fisik. Pada anamnesis didapatkan keluhan berupa ujung kemaluan menggembung saat
mulai buang air kecil yang kemudian menghilang setelah berkemih dan Biasanya bayi
menangis dan mengejan saat buang air kecil karena timbul rasa sakit.(6)
Pada pemeriksaan fisik kasus fimosis, dapat ditemukan kulit yang tidak dapat
diretraksi melewati glans penis. Pada fimosis fisiologis, bagian preputial orifice tidak
ada luka dan terlihat sehat, sedangkan pada fimosis patologis terdapat jaringan fibrus
berwana putih yang melingkar. (6)

G. Penatalaksanaan
Sebagai pilihan terapi dapat diberikan terapi steroid yaitu betametason pada
0,05% -0,1%, betamethasone-valerate, lobetasol-propionate, dan triamcinolone
acetonide. (7)
Tidak dianjurkan melakukan dilatasi atau retraksi yang dipaksakan pada
penderita fimosis, karena akan menimbulkan luka, perdarahan dan terbentuk sikatriks
pada ujung prepusium sebagai fimosis sekunder. (7)

20
Indikasi medis utama dilakukannya tindakan sirkumsisi pada anak-anak
adalah fimosis patologik. Pada kasus dengan komplikasi, seperti infeksi saluran
kemih berulang atau balloning kulit prepusium saat miksi, sirkumsisi harus segera
dilakukan tanpa memperhitungkan usia pasien. (5)
Prosedur Teknik Dorsumsisi adalah teknik sirkumsisi dengan cara memotong
preputium pada bagian dorsal pada jam 12 sejajar sumbu panjang penis ke arah
proksimal, kemudian dilakukan pemotongan sirkuler kekiri dan kekanan sejajar
sulcus coronarius. (6)

1. Disinfeksi penis dan sekitarnya dengan cairan disinfeksi


2. Persempit lapangan tindakan dengan doek lubang steril
3. Lakukan anestesi infiltrasi subkutan dimulai dari pangkal penis melingkar.
Bila perlu tambahkan juga pada daerah preputium yang akan dipotong dan
daerah ventral
4. Tunggu 3 – 5 menit dan yakinkan anestesi lokal sudah bekerja dengan
mencubitkan pinset
5. Bila didapati phimosis, lakukan dilatasi dengan klem pada lubang preputium,
lepaskan perlengketannya dengan glans memakai sonde atau klem sampai
seluruh glans bebas. Bila ada smegma, dibersihkan.
6. Jepit kulit preputium sebelah kanan dan kiri garis median bagian dorsal
dengan 2 klem lurus. Klem ketiga dipasang pada garis tengah ventral.
(Prepusium dijepit klem pada jam 11, 1 dan jam 6 ditarik ke distal)

21
7. Gunting preputium dorsal tepat digaris tengah (diantara dua klem) kira-kira ½
sampai 1 sentimeter dari sulkus koronarius (dorsumsisi),buat tali kendali. kulit
Preputium dijepit dengan klem bengkok dan frenulum dijepit dengan kocher

8. Pindahkan klem (dari jam 1 dan 11 ) ke ujung distal sayatan (jam 12 dan 12’).
Insisi meingkar kekiri dan kekanan dengan arah serong menuju frenulum di
distal penis (pada frenulum insisi dibuat agak meruncing (huruf V), buat tali
kendali )
9. Cari perdarahan dan klem, ikat dengan benang plain catgut yang disiapkan.
10. Setelah diyakini tidak ada perdarahan (biasanya perdarahan yang banyak ada
di frenulum) siap untuk dijahit.Penjahitan dimulai dari dorsal (jam 12),
dengan patokan klem yang terpasang dan jahitan kedua pada bagian ventral
(jam 6). Tergantung banyaknya jahitan yang diperlukan, selanjutnya jahitan
dibuat melingkar pada jam 3,6, 9,12 dan seterusnya

22
11. Luka ditutup dengan kasa atau penutup luka lain, dan diplester. Lubang uretra
harus bebas dan sedapat mungkin tidak terkena urin.
H. Komplikasi (5,8)
 Laserasi pada kulit
 Pendarahan
 Cedera pada meatus uretra atau glans
 Ketidaknyamanan/nyeri saat berkemih
 Akumulasi sekret dan smegma di bawah preputium yang kemudian terkena
infeksi sekunder dan akhirnya terbentuk jaringan parut.
 Pada kasus yang berat dapat menimbulkan retensi urin.
 Pembengkakan/radang pada ujung kemaluan yang disebut ballonitis.

Gambar 7. Ballonitis

23
 Infeksi saluran kemih
 Komplikasi anestesi: Bisa terjadi pembentukan hematoma tempat suntikan.
I. Diagnosis Banding
Parafimosis adalah suatu keadaan dimana prepusium terperangkap dibelakang
tepi glans penis di dalam sulkus koronarius. Biasanya terjadi bendungan di galans
maupun di dalam preputium yang menjadi besar sekali karena udem. Dalam
penanggulangannya, udem harus ditekan perlahan-lahan sehingga udem surut dan
glans preputium dapat direposisi ke depan glans penis. Bila usaha ini gagal terpaksa
dilakukan sayatan dorsal.(1)

Gambar 8. Parafimosis
J. Prognosis
Prognosis dari fimosis akan semakin baik bila cepat didiagnosis dan
ditangani.

24
BAB III
KESIMPULAN

1. Fimosis adalah suatu kelainan dimana preputium penis yang tidak


dapat di retraksi (ditarik) ke proksimal sampai ke korona glandis.
2. Pada fimosis terjadi penyempitan pada ujung prepusium. Kelainan ini
menyebabkan bayi atau anak sulit berkemih, sehingga prepusium
menggelembung seperti balon. Hal ini dapat menyebabkan gangguan
aliran urine berupa sulit kencing, pancaran urine mengecil,
menggelembungnya ujung prepusium penis pada saat miksi, dan
menimbulkan retensi urine.
3. Higiene lokal yang kurang bersih menyebabkan terjadinya infeksi
pada prepusium (postitis), infeksi pada glans penis (balanitis) atau
infeksi pada glans dan prepusium penis (balanopostitis).
4. Fimosis tidak dianjurkan melakukan dilatasi atau retraksi yang di
paksakan karena dapat menimbulkan luka dan terbentuknya sikatrik
pada ujung prepusium. fimosis yang disertai dengan infeksi postitis
merupakan indikasi untuk dilakukan sirkumsisi.

25
DAFTAR PUSTAKA
1. Sjamsuhidajat, R , Wim de Jong. 2004. Buku-Ajar Ilmu Bedah. Ed.2. Jakarta :
EGC, hal 800-801
2. Purnomo, Basuki B. 2011. Dasar-dasar Urologi Ed 3. Jakarta : Sagung Seto.
hal 19
3. Tanagho, EA and McAninch, JW. 2008. General Urology. 16 edition. USA:
Appleton and Lange
4. McCance KL, Huether SE, Brasher VL, Rote NS. Pathophysiology: The
Biologic Basic for Disease in Adults and Children. Canada 2010; 850-51

5. Spilsbury K, Semmens JB, Wisniewski ZS, Holman CD. "Circumcision for


phimosis and other medical indications in Western Australian boys". Med. J.
Aust. 178 (4): 155–8; 2003. Diunduh dari URL:
http://www.mja.com.au/public/issues/178_04_170203/spi10278_fm.html
6. Hina Z, Ghory MD. Phimosis and Paraphimosis. Diunduh dari URL:
(http://emedicine.medscape.com/article/777539-overview)
7. Emmanuel, Franklin, Miernik K, Sevcenco S, Pediatric Urology.Predictive
Power of Objectivation of Phimosis Grade on Outcomes of Topical 0.1%
Betamethasone Treatment of Phimosis. Urology 80: 412–416, 2012.
8. Gil Z, Shlamovitz, MD, Dorsal Slit of the Foreskin. . Diunduh dari URL:
https://emedicine.medscape.com/article/80697-overview#a9

26