Anda di halaman 1dari 29

Program Studi Pendidikan Fisika

Oleh

NAMA : MA’FIRANI SYAM


NO. STAMBUK : A 241 14 020
KELOMPOK : I (SATU)
ASISTEN : I GUSTU PUTU ARDIANA

LABORATORIUM GELOMBANG DAN OPTIK


FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS TADULAKO
PALU, 2016
LEMBAR KOREKSI

PERCOBAAN III

POLARIMETER

NAMA : MA’FIRANI SYAM

STAMBUK : A 241 14 020

KELOMPOK : I

ASISTEN : I GUSTI PUTU ARDIANA

Hari, Tanggal Koreksi Paraf

i
KATA PENGANTAR

Bismillahirrahmanirrahim

Puji syukur kita panjatkan kehadirat Allah S.W.T, karena berkat rahmat dan

taufik-Nya penulis dapat menyelesaikan Laporan Praktikum Gelombang dan

Optik mengenai “Polarimeter”. Selanjutnya penulis berterima kasih kepada kak I

Gusti Putu Ardiana selaku asisten praktikum yang telah memberikan bimbingan

dalam penulisan laporan ini. Selanjutnya penulis juga berterima kasih kepada

semua pihak yang telah memberi kritik dan masukan terhadap penyajian laporan

praktikum ini.

Meskipun telah berusaha dengan segenap kemampuan, namun penulis

menyadari bahwa laporan ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu dengan

kerendahan hati penulis menerima adanya kritik dan saran yang membangun dari

pihak manapun demi perbaikan dimasa yang akan datang. Akhir kata penulis

ucapkan selamat membaca. Semoga laporan ini dapat bermanfaat dan khususnya

mendapatkan nilai yang memuaskan.

Wassalamu’alaikum wr,wb.

Palu, November 2016

Penulis

ii
DAFTAR ISI

LEMBAR KOREKSI ............................................................................................ i

KATA PENGANTAR .......................................................................................... ii

DAFTAR ISI ......................................................................................................... iii

BAB I PENDAHULUAN ..................................................................................... 1

1.1. Latar Belakang ................................................................................... 1

1.2. Tujuan Percobaan ............................................................................... 1

1.3. Alat dan Bahan ................................................................................... 2

BAB II POLARIMETER ...................................................................................... 3

BAB III METODE PENELITIAN........................................................................ 7

3.1. Jenis Penelitian ................................................................................... 7

3.2. Waktu dan Tempat ............................................................................. 7

3.3. Prosedur Kerja .................................................................................... 7

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN .............................................................. 8

4.1. Hasil Pengamatan ............................................................................... 8

4.2. Analisa Data ....................................................................................... 10

4.3. Pembahasan ........................................................................................ 19

BAB V KESIMPULAN ........................................................................................ 23

5.1. Kesimpulan......................................................................................... 23

5.2. Saran ................................................................................................... 24

DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................... 25

LAPORAN SEMENTARA ..................................................................................

iii
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Cahaya merupakan gelombang elektromagnetik transversal. Gelombang

elektromagnetik adalah gelombang terpolarisasi karena arah getaran medan-

medannya tidak acak. Fenomena polarisasi hanya dapat ditimbulkan oleh

gelombang transversal.

Peristiwa polarisasi tidak dapat diamati secara langsung oleh mata manusia,

sehingga diperlukan suatu alat yang dapat membantu untuk menunjukan gejala

polarisasi tersebut. Melalui polarimeter gejala polarisasi dapat ditunjukan, selain

itu melalui alat ini dapat dilihat pula bagaimana larutan optis aktif seperti larutan

gula dapat membelokan cahaya yang telah dipolarisasi. Pengamatan-pengamatan

yang dapat dilakukan melalui polarimeter inilah yang melatar belakangi

dilakukanya percobaan polarimeter.

1.2 Tujuan Pecobaan

1. Memahami bahwa cahaya adalah gelombang transversal sehingga dapat

dipolarisasi.

2. Memahami cara kerja alat polarimeter.

3. Menghitung daya putar spesifik dari larutan gula dengan menggunakan

cahaya yang dipolarisasi.

1
1.3 Alat dan bahan

1. Polarimeter 1 set

2. Tabung pemutar 2 buah

3. Sumber cahaya monokromatis

4. Aquades secukupnya

5. Gulaku secukupnya

6. Pipet tetes 2 buah

7. Gelas plastic 3 buah

8. Tisu secukupnya

9. Neraca digital

2
BAB II

POLARIMETER

Menurut Kolthoff, polarimeter adalah alat untuk mengukur besarnya

putaran berkas cahaya terpolarisasi oleh suatu zat optis aktif. Zat yang bersifat

optis aktif adalah zat yang memiliki struktur transparan dan tidak simetris

sehingga mampu memutar bidang polarisasi radiasi. Materi yang bersifat optis

aktif contohnya adalah kuarsa, gula, dan sebagainya. Pemutaran dapat berupa

dextrorotatory (+) bila arahnya sesuai dengan arah putar jarum jam ataupun

levo-rotatory bila arahnya berlawanan dengan jarum jam. Rotasi spesifik

didefinisikan sebagai:

θ
[α20
D
=
LC

Keterangan:

θ = Sudut pada bidang cahaya terpolarisasi

C = Konsentrasi larutan yang digunakan (gram zat terlarut per mL larutan)

L = Panjang bejana yang digunakan (dm)

[𝛼𝐷20 = Rotasi spesifik

Derajat rotasi perputaran bidang polarisasi bergantung pada :

1. Struktur molekul

2. Temperatur

3. Panjang gelombang

3
4. Konsentrasi

5. Panjang tabung polarimeter

6. Banyaknya molekul pada jalan cahaya

7. Pelarut

Skema kerja polarimeter adalah cahaya dinyalakan dan tabung sampel

kosong, prisma penganalisis diputar sehingga berkas cahaya yang terpolarisasi

oleh prisma pemolarisasi benar-benar terhalangi dan bidang pandang menjadi

gelap. Pada saat ini sumbu prisma dari prisma pemolarisasi dan

prisma penganalisis tegak lurus satu dengan lainnya. Sekarang sampel diletakkan

pada tabung sampel. Jika zat bersifat inaktif (tidak aktif) optis (optically inactive),

tidak ada perubahan yang terjadi. Bidang pandang tetap gelap. Akan tetapi, jika

zat bersifat aktif optis (optical active) diletakkan pada tabung, zat memutar bidang

polarisasi, dan sebagian cahaya akan melewati penganalisis ke arah pengamat.

Dengan memutar prisma penganalisis searah jarum jam atau berlawanan jarum

jam, pengamat akan sekali lagi menghalangi cahaya dan mengembalikan medan

yang gelap.

Polarimetri adalah pengukuran dan interpretasi dari polarisasi dari garis

gelombang, terutama electromagnetic gelombang, seperti gelombang radio atau

cahaya. Polarimetry biasanya dilakukan pada gelombang electromagnetic yang

telah melalui perjalanan atau telah tercermin, refracted, atau diffracted oleh

beberapa bahan untuk menggambarkan bahwa objek

Komponen-komponen alat polarimeter beserta gambarnya adalah:

4
1. Lensa kolimator, berfungsi mensejajarkan sinar dari lampu natrium atau

dari sumber cahaya sebelum masuk ke polarisator.

2. Analisator, berfungsi untuk menganalisa sudut yang terpolarisasi.

Analisator dapat diputar-putar untuk menentukan sudut terpolarisasi

3. Tombol On, berfungsi untuk menghidupkan polarisator

4. Wadah sampel (tabung polarimeter), wadah sampel ini berbentuk silinder

yang terbuat dari kaca yang tertutup dikedua ujungnya berukuran

besar dan yang lain berukuran kecil, biasanya mempunyai ukuran

panjang 0.5 ; 1 ; 2 dm

5. Tempat tabung/kolom, berfungsi untuk memasukkan kolom/tabung pada

saat dianalisis

6. Polarisator, berfungsi untuk menghasilkan sinar terpolarisir

7. Sumber Cahaya monokromatis. yaitu sinar yang dapat memancarkan

sinar monokromatis. Sumber cahaya yang digunakan biasanya adalah

5
lampu D Natrium dengan panjang gelombang 589.3 nm. Selain itu juga

dapat digunakan lampu uap raksa dengan panjang gelombang 546 nm.

8. Skala lingkar, merupakan skala yang bentuknya melingkar dan

pembacaan skalanya dilakukan jika telah didapatkan pengamatan tepat

baur – baur

Polarisasi adalah peristiwa perubahan arah getar gelombang cahaya yang

acak menjadi satu arah getar, sedangkan polarisasi optik adalah salah satu

sifatcahaya yakni jika cahaya itu bergerak berosilasi dengan arah tertentu. Terjadi

akibat peristiwa berikut :

1. Polarisasi dapat diakibatkan oleh pemantulan Brewster

2. Polarisator karena penyerapan selektif

3. Polarisasi karena pembiasan ganda, terjadi pada hablur kolkspat

(CaCO3), kuarsa, mike, kristal gula, topaz, dan es.

Polarisasi cahaya adalah penguraian cahaya, gambar arah cahayanya merambat

lurus.

6
BAB III

METODE PENELITIAN

3.1. Jenis Penelitian

Eksperimen Murni

3.2. Waktu dan Tempat

Hari, tanggal : Rabu, 26 Oktober 2016

Pukul : 08.00 - selesai

Tempat : Laboratorium Gelombang dan Optik

3.3. Prosedur Kerja

1. Menyiapkan alat dan bahan yang akan digunakan pada percobaan ini

2. Mengisi tabung pemutar dengan aquades sampai tidak ada gelembung

udara dalam tabung

3. Memutar prisma analisator sampai terlihat bidang yang paling terang

kemudian memasukkan data ke dalam tabel hasil pengamatan

4. Mengulangi langkah 3 sebanyak 2 kali perlakuan

5. Mengganti isi tabung dengan 20 ml aquades + 1 gram gula

6. Mengulangi langkah 3-4

7. Mengganti isi tabung dengan 20 ml aqudes + 2 gram gula

8. Mengulangi langkah 3-4

9. Mengganti isi tabung dengan 20 ml aqudes + 3 gram gula

10. Mengulangi langkah 3-4

7
BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Pengamatan

1. Aquades Murni

No Pengamat Sudut putar teramati (o)

1 1 115

2 2 108

3 3 100

2. 20 ml aqudes + 1 gram gula

No Pengamat Sudut putar teramati (o)

1 1 103

2 2 85

3 3 84

3. 20 ml aqudes + 2 gram gula

No Pengamat Sudut putar teramati (o)

1 1 35

2 2 119

3 3 100

8
4. 20 ml aqudes + 2 gram gula

No Pengamat Sudut putar teramati (o)

1 1 106

2 2 84

3 3 101

NST Neraca Digital = 1 x 10-5 kg

NST Polarimeter = 0,5o

Panjang Tabung = 1,75 x 10-1 m

Aquades = 2 x 10-5 m3

Massa Gula = 1 x 10-3 kg, 2 x 10-3 kg, dan 3 x 10-3 kg

9
4.2. Analisa Data

4.2.1. Perhitungan Umum

1. Konsentrasi Larutan

𝑚2 1𝑥10−3
𝑘2 = = = 50 𝑘𝑔/𝑚3
𝑉2 2𝑥10−5

𝑚3 2𝑥10−3
𝑘3 = = = 100 𝑘𝑔/𝑚3
𝑉3 2𝑥10−5

𝑚4 3𝑥10−3
𝑘4 = = = 150 𝑘𝑔/𝑚3
𝑉4 2𝑥10−5

2. Daya Putar Spesifik

1) Larutan gula ( 1 gram gula + 20 ml aquades)

 Perlakuan I

𝜃 103
𝛼1 = = = 11,77 𝑚2 /𝑘𝑔
𝑙 𝑘2 1,75𝑥10−1 𝑥 50

 Perlakuan II

𝜃 85
𝛼2 = = = 9,71 𝑚2 /𝑘𝑔
𝑙 𝑘2 1,75𝑥10−1 𝑥 50

 Perlakuan III

𝜃 84
𝛼3 = = = 9,60 𝑚2 /𝑘𝑔
𝑙 𝑘2 1,75𝑥10−1 𝑥 50

2) Larutan gula ( 2 gram gula + 20 ml aquades)

 Perlakuan I

10
𝜃 35
𝛼1 = = = 2,00 𝑚2 /𝑘𝑔
𝑙 𝑘3 1,75𝑥10−1 𝑥 100

 Perlakuan II

𝜃 119
𝛼2 = = = 6,80 𝑚2 /𝑘𝑔
𝑙 𝑘3 1,75𝑥10−1 𝑥 100

 Perlakuan III

𝜃 100
𝛼3 = = = 5,71 𝑚2 /𝑘𝑔
𝑙 𝑘3 1,75𝑥10−1 𝑥 100

3) Larutan gula ( 3gram gula + 20 ml aquades)

 Perlakuan I

𝜃 106
𝛼1 = = = 4,04 𝑚2 /𝑘𝑔
𝑙 𝑘4 1,75𝑥10−1 𝑥 150

 Perlakuan II

𝜃 84
𝛼2 = = = 3,20 𝑚2 /𝑘𝑔
𝑙 𝑘4 1,75𝑥10−1 𝑥 150

 Perlakuan III

𝜃 101
𝛼3 = = −1
= 3,85 𝑚2 /𝑘𝑔
𝑙 𝑘4 1,75𝑥10 𝑥 150

11
4.2.2. Perhitungan Ralat

1. Konsentrasi Gula

𝜕𝑘 𝜕𝑘
Δ𝑘 = |𝜕𝑚| |∆𝑚| + |𝜕𝑉| |∆𝑉|

1 𝑚
∆𝑘 = |𝑉| |∆𝑚| + |𝑉 2 | |∆𝑉|

∆𝑚 = 𝑁𝑆𝑇 𝑁𝑒𝑟𝑎𝑐𝑎 𝐷𝑖𝑔𝑖𝑡𝑎𝑙 = 1𝑥10−5 𝑘𝑔


1
∆𝑉 = 2 𝑁𝑆𝑇 𝐺𝑒𝑙𝑎𝑠 𝑈𝑘𝑢𝑟 = 5𝑥10−6 𝑚3

1) Larutan 1 gram gula + 20 ml aquades

1 1𝑥10−3
∆𝑘2 = |2𝑥10−5 | |1𝑥10−5 | + |(2𝑥10−5 )2 | |5𝑥10−6 |

∆𝑘2 = 13,0 𝑘𝑔/𝑚3

𝐾𝑇𝑃𝑚 = ∆𝑘2 = 13,0 𝑘𝑔/𝑚3

∆𝑘2 13,0
𝐾𝑇𝑃𝑟 = 𝑥100% = 𝑥100 = 26%
𝑘2 50

13,0
𝐴𝐵 = 1 − 𝑙𝑜𝑔 = 2 𝐴𝐵
50

𝑘𝑔
𝑃𝑒𝑙𝑎𝑝𝑜𝑟𝑎𝑛 = (𝑘2 ± ∆𝑘2 ) = (5, 0 ± 1,3)101 𝑘𝑔/𝑚3
𝑚3

2) Larutan 2 gram gula + 20 ml aquades

1 −5 |
2𝑥10−3
∆𝑘3 = | −5
| |1𝑥10 +| −5 2
| |5𝑥10−6 |
2𝑥10 (2𝑥10 )

∆𝑘3 = 25,5 𝑘𝑔/𝑚3

𝐾𝑇𝑃𝑚 = ∆𝑘3 = 25,5 𝑘𝑔/𝑚3

12
∆𝑘3 25,5
𝐾𝑇𝑃𝑟 = 𝑥100% = 𝑥100 = 26%
𝑘3 100

25,5
𝐴𝐵 = 1 − 𝑙𝑜𝑔 = 1,59 ≈ 2 𝐴𝐵
100

𝑘𝑔
𝑃𝑒𝑙𝑎𝑝𝑜𝑟𝑎𝑛 = (𝑘3 ± ∆𝑘3 ) = (1, 0 ± 0,26)102 𝑘𝑔/𝑚3
𝑚3

3) Larutan 3 gram gula + 20 ml aquades

1 −5 |
3𝑥10−3
∆𝑘4 = | | |1𝑥10 + | | |5𝑥10−6 |
2𝑥10−5 (2𝑥10−5 )2

∆𝑘4 = 38,0 𝑘𝑔/𝑚3

𝐾𝑇𝑃𝑚 = ∆𝑘4 = 38,0 𝑘𝑔/𝑚3

∆𝑘4 38,0
𝐾𝑇𝑃𝑟 = 𝑥100% = 𝑥100 = 25%
𝑘4 150

38,0
𝐴𝐵 = 1 − 𝑙𝑜𝑔 = 1,59 ≈ 2𝐴𝐵
150

𝑘𝑔
𝑃𝑒𝑙𝑎𝑝𝑜𝑟𝑎𝑛 = (𝑘4 ± ∆𝑘4 ) = (1,5 ± 0,38)102 𝑘𝑔/𝑚3
𝑚3

2. Daya Putar Spesifik

𝜕𝛼 𝜕𝛼 𝜕𝛼
∆𝛼 = | | |∆𝜃| + | | |∆𝑙| + | | |∆𝑘|
𝜕𝜃 𝜕𝑙 𝜕𝑘

1 𝜃 𝜃
∆𝛼 = | | |∆𝜃| + | 2 | |∆𝑙| + | 2 | |∆𝑘|
𝑙𝑘 𝑙 𝑘 𝑙𝑘

∆𝜃 = 𝑁𝑆𝑇 𝑃𝑜𝑙𝑎𝑟𝑖𝑚𝑒𝑡𝑒𝑟 = 8,75𝑥10−4 𝑟𝑎𝑑

∆𝑙 = 𝑁𝑆𝑇 𝑀𝑖𝑠𝑡𝑎𝑟 = 1 𝑥10−3 𝑚

13
1) Larutan 1 gram gula + 20 ml aquades

 Perlakuan I

1 103
∆𝛼1 = |1,75𝑥10−1 𝑥 50| |8,75𝑥10−4 | + |(1,75𝑥10−1 )2 𝑥50|

103
|1𝑥10−3 | + | | |13|
1,75𝑥10−1 𝑥502

𝑚2
∆𝛼1 = 3,13
𝑘𝑔

𝑚2
𝐾𝑇𝑃𝑚 = ∆𝛼1 = 3,13 𝑘𝑔

∆𝛼1 3,13
𝐾𝑇𝑃𝑟 = 𝑥100% = 11,77 𝑥100% = 26,57%
𝛼1

3,13
𝐴𝐵 = 1 − 𝑙𝑜𝑔 11,77 = 1,58 ≈ 2𝐴𝐵

𝑚2 𝑚2
𝑃𝑒𝑙𝑎𝑝𝑜𝑟𝑎𝑛 = (𝛼1 ± ∆𝛼1 ) = (1,2 ± 0,31)𝑥10
𝑘𝑔 𝑘𝑔

 Perlakuan II

1 85
∆𝛼2 = |1,75𝑥10−1 𝑥 50| |8,75𝑥10−4 | + |(1,75𝑥10−1 )2 𝑥50|

85
|1𝑥10−3 | + | | |13|
1,75𝑥10−1 𝑥502

𝑚2
∆𝛼2 = 2,58 𝑘𝑔

𝑚2
𝐾𝑇𝑃𝑚 = ∆𝛼2 = 2,58
𝑘𝑔

∆𝛼2 2,58
𝐾𝑇𝑃𝑟 = 𝑥100% = 9,71 𝑥100% = 26,57%
𝛼2

2,58
𝐴𝐵 = 1 − 𝑙𝑜𝑔 9,71 = 1,58 ≈ 2𝐴𝐵

𝑚2 𝑚2
𝑃𝑒𝑙𝑎𝑝𝑜𝑟𝑎𝑛 = (𝛼2 ± ∆𝛼2 ) = (9,1 ± 2,3)
𝑘𝑔 𝑘𝑔

14
 Perlakuan III

1 84
∆𝛼3 = |1,75𝑥10−1 𝑥 50| |8,75𝑥10−4 | + |(1,75𝑥10−1 )2 𝑥50|

84
|1𝑥10−3 | + | | |13|
1,75𝑥10−1 𝑥502

𝑚2
∆𝛼3 = 2,55 𝑘𝑔

𝑚2
𝐾𝑇𝑃𝑚 = ∆𝛼3 = 2,55 𝑘𝑔

∆𝛼3 2,55
𝐾𝑇𝑃𝑟 = 𝑥100% = 𝑥100% = 26,57%
𝛼3 9,6

2,55
𝐴𝐵 = 1 − 𝑙𝑜𝑔 = 1,58 ≈ 2𝐴𝐵
9,6

𝑚2 𝑚2
𝑃𝑒𝑙𝑎𝑝𝑜𝑟𝑎𝑛 = (𝛼3 ± ∆𝛼3 ) = (9,6 ± 2,6)
𝑘𝑔 𝑘𝑔

2) Larutan 2 gram gula + 20 ml aquades

 Perlakuan I

1 35
∆𝛼1 = |1,75𝑥10−1 𝑥 100| |8,75𝑥10−4 | + |(1,75𝑥10−1 )2 𝑥100|

35
|1𝑥10−3 | + | | |25,5|
1,75𝑥10−1 𝑥1002

𝑚2
∆𝛼1 = 0,52 𝑘𝑔

𝑚2
𝐾𝑇𝑃𝑚 = ∆𝛼1 = 0,52
𝑘𝑔

∆𝛼1 0,52
𝐾𝑇𝑃𝑟 = 𝑥100% = 𝑥100% = 26,07%
𝛼1 2,0

0,52
𝐴𝐵 = 1 − 𝑙𝑜𝑔 = 1,58 ≈ 2𝐴𝐵
2,0

𝑚2 𝑚2
𝑃𝑒𝑙𝑎𝑝𝑜𝑟𝑎𝑛 = (𝛼1 ± ∆𝛼1 ) = (2, 0 ± 0,52)
𝑘𝑔 𝑘𝑔

15
 Perlakuan II

1 119
∆𝛼2 = |1,75𝑥10−1 𝑥 100| |8,75𝑥10−4 | + |(1,75𝑥10−1 )2 𝑥100|

119
|1𝑥10−3 | + | | |25,5|
1,75𝑥10−1 𝑥1002

𝑚2
∆𝛼2 = 1,77 𝑘𝑔

𝑚2
𝐾𝑇𝑃𝑚 = ∆𝛼2 = 1,77 𝑘𝑔

∆𝛼2 1,77
𝐾𝑇𝑃𝑟 = 𝑥100% = 𝑥100% = 26,07%
𝛼2 6,8

1,77
𝐴𝐵 = 1 − 𝑙𝑜𝑔 = 1,58 ≈ 2𝐴𝐵
6,8

𝑚2 𝑚2
𝑃𝑒𝑙𝑎𝑝𝑜𝑟𝑎𝑛 = (𝛼2 ± ∆𝛼2 ) = (6,8 ± 1,8)
𝑘𝑔 𝑘𝑔

 Perlakuan III

1 100
∆𝛼3 = |1,75𝑥10−1 𝑥 100| |8,75𝑥10−4 | + |(1,75𝑥10−1 )2 𝑥100|

100
|1𝑥10−3 | + | | |25,5|
1,75𝑥10−1 𝑥1002

𝑚2
∆𝛼3 = 1,49 𝑘𝑔

𝑚2
𝐾𝑇𝑃𝑚 = ∆𝛼3 = 1,49 𝑘𝑔

∆𝛼3 1,49
𝐾𝑇𝑃𝑟 = 𝑥100% = 5,71 𝑥100% = 26,57%
𝛼3

1,49
𝐴𝐵 = 1 − 𝑙𝑜𝑔 5,71 = 1,58 ≈ 2𝐴𝐵

𝑚2 𝑚2
𝑃𝑒𝑙𝑎𝑝𝑜𝑟𝑎𝑛 = (𝛼3 ± ∆𝛼3 ) = (5,7 ± 1,5)
𝑘𝑔 𝑘𝑔

16
3) Larutan 3 gram gula + 20 ml aquades

 Perlakuan I

1 106
∆𝛼1 = |1,75𝑥10−1 𝑥 150| |8,75𝑥10−4 | + |(1,75𝑥10−1 )2 𝑥150|

106
|1𝑥10−3 | + | | |38|
1,75𝑥10−1 𝑥1502

𝑚2
∆𝛼1 = 1,05
𝑘𝑔

𝑚2
𝐾𝑇𝑃𝑚 = ∆𝛼1 = 1,05 𝑘𝑔

∆𝛼1 1,05
𝐾𝑇𝑃𝑟 = 𝑥100% = 4,04 𝑥100% = 25,91%
𝛼1

1,05
𝐴𝐵 = 1 − 𝑙𝑜𝑔 4,04 = 1,59 ≈ 2𝐴𝐵

𝑚2 𝑚2
𝑃𝑒𝑙𝑎𝑝𝑜𝑟𝑎𝑛 = (𝛼1 ± ∆𝛼1 ) = (4, 0 ± 1,1)
𝑘𝑔 𝑘𝑔

 Perlakuan II

1 84
∆𝛼2 = |1,75𝑥10−1 𝑥 150| |8,75𝑥10−4 | + |(1,75𝑥10−1 )2 𝑥150|

84
|1𝑥10−3 | + | | |38|
1,75𝑥10−1 𝑥1502

𝑚2
∆𝛼2 = 0,83 𝑘𝑔

𝑚2
𝐾𝑇𝑃𝑚 = ∆𝛼2 = 0,83
𝑘𝑔

∆𝛼2 0,83
𝐾𝑇𝑃𝑟 = 𝑥100% = 𝑥100% = 25,91%
𝛼2 3,2

0,83
𝐴𝐵 = 1 − 𝑙𝑜𝑔 = 1,59 ≈ 2𝐴𝐵
3,2

𝑚2 𝑚2
𝑃𝑒𝑙𝑎𝑝𝑜𝑟𝑎𝑛 = (𝛼2 ± ∆𝛼2 ) = (3,2 ± 0,83)
𝑘𝑔 𝑘𝑔

17
 Perlakuan III

1 101
∆𝛼3 = |1,75𝑥10−1 𝑥 150| |8,75𝑥10−4 | + |(1,75𝑥10−1 )2 𝑥150|

101
|1𝑥10−3 | + | | |38|
1,75𝑥10−1 𝑥1502

𝑚2
∆𝛼3 = 1,00 𝑘𝑔

𝑚2
𝐾𝑇𝑃𝑚 = ∆𝛼3 = 1,00 𝑘𝑔

∆𝛼3 1,00
𝐾𝑇𝑃𝑟 = 𝑥100% = 3,85 𝑥100% = 25,91%
𝛼3

1,00
𝐴𝐵 = 1 − 𝑙𝑜𝑔 3,85 = 1,59 ≈ 2𝐴𝐵

𝑚2 𝑚2
𝑃𝑒𝑙𝑎𝑝𝑜𝑟𝑎𝑛 = (𝛼3 ± ∆𝛼3 ) = (3,9 ± 1, 0)
𝑘𝑔 𝑘𝑔

18
4.3. Pembahasan

Polarimeter adalah alat yang digunakan untuk mengamati fenomena

polarisasi. Polarimeter adalah salah satu instrumen analisis yang dapat

dipergunakan untuk menganalisis keaktifan optik suatu molekul yang berdasarkan

pada pengukuran daya putaran optis dari suatu larutan. Daya putaran optis adalah

kemampuan suatu zat untuk memutar bidang getar sinar terpolarisir. Sinar

terpolarisir merupakan suatu sinar yang mempunyai satu arah bidang getar dan

arah tersebut tegak lurus terhadap arah rambatannya. Cahaya merupakan

gelombang elektromagnetik transversal yang merupakan gelombang terpolarisasi

Dalam praktikum ini, bertujuan untuk memahami bahwa cahaya adalah

gelombang transversal sehingga dapat dipolarisasi, memahami cara kerja alat

polarimeter, dan menghitung daya putar dari larutan gulaku dengan menggunakan

cahaya yang terpolarisasi

Adapun fungsi alat dan bahan yang digunakan yaitu polarimeter yang terdiri

atas sumber cahaya monokromatis yang merupakan cahaya terpolarisasi,

polarisator berfungsi untuk menghasilkan sinar terpolarisir, analisator berfungsi

untuk menganalisa sudut yang terpolarisasi, skala lingkar yaitu skala yang

bentuknya melingkar dan pembacaan skalanya dilakukan jika telah didapatkan

pengamatan tepat baur-baur. Tabung polarimeter terbuat dari kaca yang tertutup

dikedua ujungnya berukuran besar, tidak boleh ada gelembung udara yang

terperangkap didalam tabung tersebut. Aquades dan gula digunakan sebagai

indikator yang digunakan untuk mengamati sudut putar. Gula digunakan karena

larutan gula dapat memutar bidang polarisasi cahaya. Pipet tetes digunakan untuk

19
memindahkan larutan ke dalam tabung pemutar. Neraca digital digunakaan untuk

menimbang gula yang akan digunakan. Tisu digunakan untuk membersihkan

tabung pemutar.

Dalam praktikum yang telah dilakukan, cara pengoperasian alat polarimeter

tersebut pertama-tama adalah untuk memulai penggunaan polarimeter pastikan

tombol power pada posisi on. Dalam alat Polarimeter ini cahaya monokromatik

dihasilkan dengan menggunakan lampu natrium di mana gas natrium pijar akan

menghasilkan lampu warna kuning.

Untuk mengamati perputaran cahaya, maka cahaya yang melewati larutan

harus terpolarisasi bidang. Cahaya monokromatis termasuk gelombang transversal

yang merupakan gelombang yang bergetar pada satu bidang getar saja sehingga

termasuk gelombang terpolarisasi. Dimana arah polarisasi gelombang cahayanya

searah dengan arah vektor medan listrik. Sedangkan jika menggunakan cahaya

polikromatis misalnya cahaya dari lampu pijar berasal dari pancaran cahaya oleh

molekul-molekul sumber yang setiap saat vektor medan listriknya berubah-ubah

sehingga gelombang resultannya menjadi tidak terpolarisasi.

Adapun prinsip kerja dari alat polarimeter yaitu cahaya dari sumber

terpolarisasi setelah melewati prisma nicol pertama yang disebut polarisator.

cahaya terpolarisasi kemudian melewati senyawa optis aktif (larutan gula) yang

akan memutar bidang cahaya terpolarisasi dengan arah tertentu. Prisma Nicol ke

dua yang disebut analisator akan membuat cahaya dapat melalui celah secara

maksimum.

20
Melaui percobaan ini diketahui bahwa ketika cahaya melalui larutan gula,

cahaya tersebut mengalami putaran bidang polarisasi. Karena dapat mengalami

polarisasi, maka merupakan gelombang transversal.

Pada penentuan sudut putar suatu sampel, selalu mulai dengan menentukan

keadaan nol dengan mengisi tabung sampel dengan aquades. Keadaan nol ini

perlu untuk mengkoreksi pembacaan atau pengamatan rotasi optik. Tabung

sampel harus dibersihkan sebelum digunakan agar larutan yang diisikan tidak

terkontaminasi zat lain. Pembacaan atau pengamatan bergantung kepada tabung

sampel yang berisi larutan atau pelarut dengan penuh. Saat menutup tabung

sampel, harus dilakukan hati-hati agar di dalam tabung tidak terdapat gelembung

udara, karena gelembung udara tersebut membentuk cekungan pada larutan

sehingga dapa mempengaruhi intensitas cahaya yang terpolarisasi, akibatnya

berpengaruh pada besarnya sudut putar suatu sampel. Kemudian mencari posisi

dimana di dapatkan keadaan paling terang dengan memutar analisator. Besarrnya

sudut yang ditunjukan analisator setelah menemukan sinar yang paling terang

tersebut yang dinamakan sudut putar. Kemudian mencatat besar rotasi optik yang

dapat terbaca pada skala.

Pada percobaan ini terdapat tiga buah sampel senyawa optik yang telah

diamati dan diukur skalanya yaitu larutan gula dari 1 gram gula ditambah 20 mL

aqudes maka konsentrasi larutan tersebut adalah 50 kg/m3 diperoleh nilai sudut

putarnya yaitu 103°, 85o dan 84o. Larutan gula dari 2 gram gula ditambah 20 mL

aqudes maka konsentrasi larutan tersebut adalah 100 kg/m3 diperoleh nilai sudut

putarnya yaitu 35°, 119o dan 100o. Kemudian larutan gula dari 3 gram gula

21
ditambah 20 mL aqudes maka konsentrasi larutan tersebut adalah 150 kg/m3

diperoleh nilai sudut putarnya yaitu 106°, 84o dan 101o

Hasil tersebut, jika dibandingkan dengan sudut putar larutan gula murni

berdasarkan literatur adalah 66.60° . Nilai ini berbeda dengan pengamatan yang

telah dilakukan, karena dapat disebabkan oleh jumlah atau kadar senyawa yang

berada dalam tabung, panjang jalan yang dilalui oleh cahaya, panjang gelombang

dari lampu yang digunakan ataupun karena kurangnya ketelitian praktikan dalam

melihat sudut putar dan menentukan cahaya yang paling terang.

Pada percobaan ini hanya ingin diketahui pengaruh konsentrasi terhadap

besarnya sudut putar dari larutan. Berdasarkan hasil percobaan tersebut, diketahui

bahwa semakin tinggi konsentrasi gula, sudut putar jenisnyapun menjadi semakin

besar pula. Hal ini menandakan larutan gula dapat membelokan arah getar cahaya.

Pada analisa data juga dilakukan perhitungan daya putar spesifik larutan.

Berdasarkan hasil perhitungan, untuk konsentrasi larutan 50 kg/m3, 100 kg/m3 dan

150 kg/m3 diperoleh rata-rata daya putarnya berturut-turut yaitu 10,36 m2/kg ;

4,83 m2/kg; dan 3,69 m2/kg. Sehingga dapat disimpulkan bahwa semakin besar

konsentrasi larutan gula, maka semakin kecil nilai daya putar yang diperoleh.

Adapun ketidaktelitian pada percobaan ini dapat dilihat pada analisa data

nilai KTPr yang diperoleh yaitu sekitar 25-26%. Persentase tersebut menandakan

adanya ketidaktelitian pada saat pengambilan data dimana besar sudut yang

didapatkan baik untuk perlakuan pertama sampai ketiga berbeda-beda tiap

perlakuan.

22
BAB V

PENUTUP

5.1 Kesimpulan

Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa :

1. Cahaya adalah gelombang transversal sehingga dapat dipolarisasi

karena mengalami putaran bidang polarisasi ketika melewati larutan

gula

2. Prinsip kerja polarimeter adalah meneruskan sinar yang mempunyai

arah getar yang sama dengan arah polarisator. Sudut putar jenis

bergantung pada konsentrasi dan jenis larutannya.

3. Daya putar spesifik dari larutan gula yang diperoleh pada percobaan

ini antara lain;

 Larutan gula ( 1 gram gula + 20 ml aquades)

1) 𝛼1 = 11,77 𝑚2 /𝑘𝑔 3) 𝛼3 = 9,60 𝑚2 /𝑘𝑔

2) 𝛼2 = 9,71 𝑚2 /𝑘𝑔

 Larutan gula ( 2 gram gula + 20 ml aquades)

1) 𝛼1 = 2,00 𝑚2 /𝑘𝑔 3) 𝛼3 = 5,71 𝑚2 /𝑘𝑔

2) 𝛼2 = 6,80 𝑚2 /𝑘𝑔

 Larutan gula ( 3gram gula + 20 ml aquades)

1) 𝛼1 = 4,04 m2/kg 3) 𝛼3 = 3,85 𝑚2 /𝑘𝑔

2) 𝛼2 = 3,20 𝑚2 /𝑘𝑔

Semakin besar konsentrasi larutan gula, maka semakin kecil nilai

daya putar yang diperoleh.

23
5.2 Saran

Disarankan dalam praktikum dapat menggunakan jenis larutan

optik yang lain, akan dapat menambah wawasan praktikan dalam

mengoperasikan alat polarimeter untuk berbagai variasi sampel.

24
DAFTAR PUSTAKA

Pramitha, Putri. 2013. Laporan Polarimeter, [online]. Tersedia:

https://id.scribd.com/doc/129716145/Laporan-Polarimeter. [02 November

2016]

Safru, Urly. 2009. Laporan Praktikum Fisika Dasar II tentang Polarimeter,

[online]. Tersedia: https://oerleebook.files.wordpress.com/2009/10/polarim

eter-oerlee.pdf. [03 November 2016]

Surya, Yohanes. 2009. Optika. Tangerang: Kandel

Tim Penyusun. 2016. Modul Praktikum Gelombang dan Optik. Palu : Universitas

Tadulako

25