Anda di halaman 1dari 7

6 Lainnya Blog Berikut» yacobbatkunde@gmail.

com Dasbor Keluar

Klik paru
Media informasi & konsultasi kesehatan respirasi

Beranda PDPI Kaltim Materi Simposium Dokter Paruku


Zanana Chips Balikpapan
4 Februari 2013 Anda ingin tahu? ... klik aja.
KAMIL SHOP CENTER - media belanja online
PENYAKIT PARU OBSTRUKTIF KRONIK
(PPOK) Cari artikel
PPOK merupakan salah satu gangguan pernapasan Cari
yang akan semakin sering dijumpai di masa
mendatang di Indonesia, mengingat makin
bertambahnya rerata umur orang Indonesia,
Like Fan Page Kami ya
bertambahnya jumlah perokok dan bertambahnya
polusi udara. Entri Populer
TB PARU, jenis TB yang paling
sering
DEFINISI
Tuberkulosis (TB) paru adalah
PPOK adalah penyakit paru kronik yang ditandai oleh tuberkulosis yang menyerang
hambatan aliran udara di saluran napas yang bersifat jaringan paru, tidak termasuk
pleura. Pembagian TB paru bisa
progresif nonreversibel atau reversibel parsial. PPOK terdiri atas bronkitis kronis dan berdasarkan hasil ...
emfisema atau gabungan keduanya. Bronkitis kronis adalah kelainan saluran napas yang
ditandai oleh batuk kronik berdahak minimal 3 bulan dalam setahun, sekurang-kurangnya PENYAKIT PARU OBSTRUKTIF
KRONIK (PPOK)
dua tahun berturut-turut, tidak disebabkan penyakit lainnya. Emfisema adalah kelainan
PPOK merupakan salah satu
anatomis paru yang ditandai oleh pelebaran rongga udara distal bronkiolus terminal, gangguan pernapasan yang
disertai kerusakan dinding alveoli. akan semakin sering dijumpai di
masa mendatang di Indonesia,
mengingat makin bertambah...
FAKTOR RISIKO
Kebiasaan merokok merupakan satu-satunya penyebab terpenting, jauh lebih penting dari SPIROMETRI
penyebab lainnya. Penyebab lain adalah riwayat terpajan polusi udara (lingkungan dan Spirometri merupakan suatu
alat sederhana yang digunakan
tempat kerja), hipereaktiviti bronkus, riwayat infeksi saluran napas bawah berulang, untuk mengukur volume udara
defisiensi alfa-1 anti tripsin, jenis kelamin laki-laki dan ras (kulit putih lebih berisiko). dalam paru. Alat ini juga dapat
digunakan untuk mengu...

PATOGENESIS TERAPI OKSIGEN


Pada bronkitis kronis terdapat pembesaran kelenjar mukosa bronkus, metaplasia sel Oksigen pertama kali ditemukan
goblet, inflamasi, hipertrofi otot polos pernapasan dan distorsi akibat fibrosis. Pada oleh Yoseph Prietsley di Bristol
Inggris tahun 1775 dan dipakai
emfisema ditandai oleh pelebaran rongga udara distal bronkiolus terminal disertai dalam bidang kedokteran oleh
kerusakan dinding alveoli. Obstruksi saluran napas pada PPOK bersifat ireversibel dan terjadi Thomas Beddoe...
karena perubahan struktural pada saluran napas kecil yaitu inflamasi, fibrosis, metaplasi sel
ANALISIS CAIRAN PLEURA
goblet dan hipertropi otot polos penyebab utama obstruksi jalan napas.  
Dalam keadaan normal,
pembentukan lapisan tipis
DIAGNOSIS cairan antara pleura parietal
dan pleura viseral (disebut
Gejala dan tanda PPOK sangat bervariasi mulai dari tanpa gejala, gejala ringan hingga cairan pleura) merupakan
gejala berat. Diagnosis PPOK ditegakkan dengan melakukan pemeriksaan yang terarah ultrafi...
dan sistematis meliputi gambaran klinis (anamnesis dan pemeriksaan fisis) dan
BRONKIEKTASIS (BE)
pemeriksaan penunjang baik yang bersifat rutin maupun pemeriksaan khusus.
Bronkiektasis (BE)adalah
penyakit saluran napas kronik
Anamnesis ditandai dengan dilatasi
abnormal yang permanen
·       Riwayat merokok atau bekas perokok dengan atau tanpa gejala pernapasan disertai rusaknya dinding
·       Riwayat terpajan zat iritan yang bermakna di tempat kerja bronku...
·       Riwayat penyakit emfisema pada keluarga
PLEURA, fungsi
·       Terdapat faktor predisposisi pada masa bayi/anak, misalnya berat badan lahir rendah (BBLR),
Pleura terdiri atas pleura
infeksi saluran napas berulang, lingkungan asap rokok dan polusi udara parietal dan pleura viseral. Pada
·       Batuk berulang dengan atau tanpa dahak keadaan normal, terdapat
sedikit cairan diantara
·       Sesak dengan atau tanpa bunyi mengi permukaan serosa kedua pleu...

Pemeriksaan fisis HEMOPTISIS, pasti karena TB?


Pemeriksaan fisis pasien PPOK dini umumnya tidak ditemukan kelainan. Pada inspeksi Hemoptisis adalah ekspektorasi
(batuk) darah atau mu k us yang
didapatkan: berdarah, berasal dari saluran
napas bagian bawah , bukan
·  Purse-lips breathing, yaitu sikap seseorang yang bernapas dengan mulut mencucu dan ekspirasi dari saluran nap...
yang memanjang. Sikap ini terjadi sebagai mekanisme tubuh untuk mengeluarkan retensi CO2
yang terjadi pada gagal napas kronik  
·       Barrel chest (diameter toraks anteroposterior sebanding dengan diameter transversal) Kategori
·       Penggunaan otot bantu napas Kegawatan paru (46)
·       Hipertrofi otot bantu napas
Pemeriksaan penunjang (28)
·       Pelebaran sela iga
Tuberkulosis (26)
·       Terlihat denyut vena jugularis dan edema tungkai (bila telah terjadi gagal jantung)
Gejala penyakit respirasi (25)
Pada emfisema pemeriksaan palpasi didapatkan sela iga melebar dan fremitus melemah; Obat respirasi (24)
pemeriksaan perkusi terdengar hipersonor, batas jantung mengecil, letak diafragma rendah dan Penyakit luar paru (24)
hepar terdorong ke bawah
PPOK (22)
Asma (21)
Pemeriksaan auskultasi didapatkan:
·       suara napas vesikuler normal atau melemah Infeksi (17)
·       terdapat ronki dan atau mengi pada waktu bernapas biasa atau pada ekspirasi paksa Penyakit paru kerja (17)
·       ekspirasi memanjang Struktur & fungsi respirasi (17)
·       bunyi jantung terdengar jauh.
Tumor (14)
STOP merokok (12)
Pemeriksaan penunjang
Pemeriksaan yang rutin dikerjakan untuk menegakkan diagnosis PPOK adalah uji faal paru Pleura (11)

sedang pemeriksaan darah rutin (Hb, Ht, Leukosit) dan foto toraks untuk menyingkirkan penyakit Pedoman/guideline (9)
paru lain. Pemeriksaan spirometri dilakukan untuk memeriksa VEP1, KVP dan VEP1/KVP. VEP1 Animasi (5)
merupakan parameter yang paling umum dipakai untuk menilai beratnya PPOK dan memantau
Gangguan tidur (5)
perjalanan penyakit. Disebut obstruksi apabila %VEP1 (VEP1/VEP1 prediksi) <80% atau VEP1%
(VEP1/KVP) < 75%. Apabila spirometri tidak tersedia atau tidak mungkin dilakukan, bisa dilakukan
pemeriksaan APE (arus puncak ekspirasi), dengan memantau variabiliti harian pagi dan sore tidak
melebihi 20%.
Arsip artikel
DIAGNOSIS BANDING ►  2015 (4)
1.   Asma ►  2014 (54)
2.   SOPT (sindroma obstruksi pascatuberkulosis)
▼  2013 (141)
3.   Pneumotoraks
►  Desember (4)
4.   Gagal jantung
5.   Penyakit paru dengan obstruksi saluran napas lainnya misalnya bronkiektasis, destroyed lung ►  November (8)
dll. ►  Oktober (6)

►  September (10)
Asma dan PPOK adalah penyakit obstruksi saluran napas yang sering ditemukan di Indonesia,
karena itu diagnosis yang tepat harus ditegakkan karena terapi dan prognosisnya berbeda. ►  Agustus (11)

►  Juli (11)
Asma PPOK
►  Juni (10)
Timbul pada usia muda ++ -
►  Mei (11)
Sakit mendadak ++ -
Riwayat merokok +/- +++ ►  April (14)

Riwayat atopi ++ + ►  Maret (16)


Sesak dan mengi berulang +++ + ▼  Februari (15)
Batuk kronik berdahak + ++
EDEMA PARU NONKARDIOGENIK
Hipereaktiviti bronkus +++ +
EDEMA PARU, kelainan akut atau
Reversibiliti obstruksi ++ - kronik?
Variabiliti harian ++ +
OBAT TBC, amankah pada kehamilan,
Eosinofili sputum + - menyusui dan pen...
Neutrofil sputum - +
TERAPI OKSIGEN
Makrofag sputum + -
EMBOLI PARU

PENATALAKSANAAN UJI LATIH JANTUNG PARU


PPOK merupakan penyakit paru kronik progresif dan nonreversibel, sehingga penatalaksanaan COPD Assessment Test (CAT)
PPOK terbagi atas penatalaksanaan pada keadaan stabil dan penatalaksanaan pada eksaserbasi
JAMUR PARU
akut.Tujuan umum penatalaksanaan PPOK adalah untuk mengurangi gejala, mencegah
eksaserbasi berulang, memperbaiki dan mencegah penurunan faal paru serta meningkatkan PENGAWAS MENELAN OBAT (PMO)
kualiti hidup penderita. Penatalaksanaan meliputi edukasi, obat-obatan, terapi oksigen, ventilasi PNEUMOKONIOSIS PEKERJA
mekanik, nutrisi dan rehabilitasi. BATUBARA

FOTO TORAKS, dasar-dasar pembacaan


Edukasi
PENYAKIT PARU OBSTRUKTIF KRONIK
Edukasi merupakan hal penting dalam pengelolaan jangka panjang pada PPOK stabil. Edukasi (PPOK)
pada PPOK berbeda dengan edukasi pada asma. Karena PPOK adalah penyakit kronik yang
SILIKOSIS
ireversibel dan progresif, inti dari edukasi adalah menyesuaikan keterbatasan aktiviti dan
mencegah kecepatan perburukan fungsi paru. Tujuan edukasi adalah supaya pasien PPOK BISINOSIS

PENYAKIT PARU KERJA


mengenal perjalanan penyakit, melaksanakan pengobatan yang maksimal, mencapai aktiviti
►  Januari (25)
optimal dan meningkatkan kualiti hidup.

►  2012 (4)
Obat-obatan
·          Bronkodilator diberikan secara tunggal atau kombinasi sesuai dengan klasifikasi derajad
beratnya penyakit. Diutamakan bentuk obat inhalasi, nebulisasi tidak dianjurkan pada
penggunaan jangka panjang. Pada derajat berat diutamakan pemberian obat lepas lambat
(slow release) atau obat berefek panjang (long acting)
·      Ekspektoran dan mukolitik. Air minum adalah ekspektoran yang baik, pemberian cairan yang
cukup akan mengencerkan sekret. Obat ekspektoran dan mukolitik dapat diberikan terutama
pada saat eksaserbasi. Antihistamin secara umum tidak diberikan karena dapat menimbulkan
kekeringan saluran napas sehingga sekret sukar dkeluarkan
·       Antibiotik diberikan bila ada infeksi sehingga dapat mengurangi keadaan eksaserbasi akut.
·     Antioksidan dapat mengurangi eksaserbasi dan memperbaiki kialiti hidup, digunakan N-
asetilsistein. Dapat diberikan pada PPOK dengan eksaserbasi yang sering, tidak dianjurkan
sebagai terapi rutin.
·       Kortikosteroid pemberiannya masih kontroversial, hanya bermanfaat pada serangan akut.
·       Antitusif diberikan dengan hati-hati.

Terapi oksigen
Pada PPOK terjadi hipoksemia progresif berkepanjangan yang menyebabkan kerusakan sel dan
jaringan. Pemberian terapi oksigen merupakan hal yang sangat penting untuk mempertahankan
oksigenasi seluler dan mencegah kerusakan sel baik di otot maupun organ-organ lainnya. Terapi
oksigen bermanfaat untuk mengurangi sesak napas, hipertensi pulmoner, vasokonstriksi
pembuliuh darah paru, hematokrit dan memperbaiki kualiti dan fungsi neuropsikologik.

Ventilasi mekanik
Ventilasi mekanik pada PPOK digunakan pada eksaserbasi dengan gagal napas akut, gagal
napas akut pada gagal napas kronik atau pada pasien PPOK derajat berat dengan gagal napas
kronik. Ventilasi mekanik dapat digunakan di rumah sakit di ruang ICU atau di rumah Ventilasi
mekanik dapat dilakukan dengan intubasi maupun tanpa intubasi.

Ventilasi mekanik tanpa intubasi   digunakan pada PPOK dengan gagal napas kronik dan dapat
digunakan selama di rumah. Bentuk ventilasi mekanik tanpa intubasi adalah NIPPV (noninvasive
intermitten positive pressure) atau NPV (negative pressure ventilation). NIPPV bila digunakan
dengan terapi oksigen terus menerus (LTOT/long term oxygen therapy) akan memberikan
perbaikan bermakna pada AGD, kualitas dan kuantitas tidur serta kualiti hidup. NIPPV dapat
diberikan dengan tipe ventilasi volume control, pressure control dan BiPAP (bilevel positive airway
pressure) dan CPAP (continuous positive airway pressure).

Ventilasi mekanik dengan intubasi. Pasien PPOK dipertimbangkan untuk menggunakan ventilasi
mekanik di rumah sakit bila ditemukan keadaan sebagai berikut:
-     Gagal napas yang pertama kali
-        Perburukan yang belum lama terjadi dengan penyebab yang jelas dan dapat diperbaiki
(misalnya pneumonia)
-     Aktivitas sebelumnya tidak terbatas.
Ventilasi mekanik sebaiknya tidak dilakukan pada pasien PPOK dengan kondisi sebagai berikut:
-     PPOK derajat berat yang telah mendapat terapi maksimal sebelumnya
-     Terdapat ko-morbid yang berat, misalnya edema paru, keganasan
-     Aktiviti sebelumnya terbatas meskipun terapi sudah maksimal

Nutrisi
Malnutrisi sering terjadi pada PPOK, kemungkinan karena bertambahnya kebutuhan energi akibat
kerja muskulus respirasi yang meningkat karena hipoksemia kronik dan hiperkapni menyebabkan
terjadi hipermetabolisme. Kondisi malnutrisi akan menambah mortaliti PPOK karena berkolerasi
dengan derajat penurunan fungsi paru dan perubahan analisis gas darah. Mengatasi malnutrisi
dengan pemberian makanan yang agresif tidak akan mengatasi masalah, karena gangguan
ventilasi pada PPOK tidak dapat mengeluarkan CO2 yang terjadi akibat metabolisme karbohidrat.
Komposisi nutrisi yang seimbang dapat berupa tinggi lemak rendah karbohidrat. Kebutuhan
protein seperti pada umumnya, protein dapat meningkatkan ventilasi semenit oxigen comsumption
dan respons ventilasi terhadap hipoksia dan hiperkapni. Tetapi pada PPOK dengan gagal napas
kelebihan pemasukan protein dapat menyebabkan kelelahan. Diperlukan keseimbangan antara
kalori yang masuk dengan kalori yang dibutuhkan. Dianjurkan pemberian nutrisi dengan
komposisi seimbang, yakni porsi kecil dengan waktu pemberian yang lebih sering, bila perlu
nutrisi dapat diberikan secara terus menerus (nocturnal feedings) dengan pipa nasogaster.

Rehabilitasi
·            Fisioterapi bertujuan memobilisasi sputum dan membuat pernapasan lebih efektif serta
mengembalikan kemampuan fisik penderita ke tingkat optimal.
·            Rehabilitasi psikis. Penderita PPOK sering merasa tertekan dan cemas sehingga perlu
pendekatan psikis untuk mengurangi perasaan tersebut.
·       Rehabilitasi pekerjaan,. Menganjurkan pekerjaan yang sesuai dengan kemampuannya.

KOMPLIKASI PPOK
·       Korpulmonale
·       Pneumotoraks spontan sekunder
·       Infeksi paru
·       Gagal napas.

Anjuran bacaan:
1. Global Initiative for Chronic Obstructive Lung Disease (GOLD), update 2013
2. GOLD Pocket Guided, update 2013

Diposkan oleh Ahmad Subagyo di 06.02

+6   Rekomendasikan ini di Google

Label: PPOK

22 komentar:
syamsul alam mengatakan...
saya sebegai penderita PPOK terdeteksi sejak nopember 2011,sejak saat itu memakai
obat isap yaitu SPIRIVA,Alhamdulillah sy merasa enekan namun semenjak ASKES
beralih ke BPJS obat tsbt sy dapatkan lg krn tdk ditanggung oleh BPJS.sekarang ini
sy mengalami sesak napas krn tdk ada lg obat.syamsul alam gowa sulsel
11 Februari 2014 12.02

Klik Paru mengatakan...


Salah satu tatalaksana PPOK adalah pengobatan dengan pelonggar napas kerja
lama. Obat yang tersedia di Indonesia saat ini adalah Tiotropium bromide (Spiriva)
dan Indacaterol (Onbrez). Sementara obat tersebut belum didukung (oleh BPJS),
sebaiknya bapak tetap menggunakan obat pelonggar napas lain. Bapak bisa
konsultasi ke dokter (kalau memungkinkan dokter paru) untuk menentukan obat yang
paling tepat sebagai pengganti Tiotropium. Terima kasih atas komentarnya.
20 Februari 2014 00.41

tanti wulandari mengatakan...


Kalo obat obucort swinghaler dgn spiriva bagus mana ya?
23 Februari 2014 12.27

Klik Paru mengatakan...


Tidak bisa dibandingkan, karena penggunaannya untuk tujuan yang berbeda. Obucort
(budesonide 200 ug/dosis) merupakan obat pengontrol untuk penyakit asma, sedang
Spiriva (Tiotropium bromide 18 ug/caps) merupakan obat pelega napas untuk PPOK.
Terima kasih atas kunjungannya
24 Februari 2014 00.42

dini nazzara mengatakan...


Ayah sya di diagnosa PPOK sejak Juli 2013,,, dan sejak saat itu ketergantungan
oksigen... spiriva dan obat lainnya... maret 2014 kondisinya smkin memburuk..
oksigen tdk lagi bnyak membantu... setiap hari 3 - 4 kali harus di nebu... bagaimana
membaikan kondisi ini... berapa maksimal penggunaan nebu dalam sehari....
29 Maret 2014 02.37

irwan j mengatakan...
Kenapa dokter paru saya bilang saya kena ppok sedangkan sebelumnya dokter
deteksi asma. Apakah asma yang lama akan membuat jadi ppok? Saya tidak pernah
merokok.
2 April 2014 11.52
Klik Paru mengatakan...
Mbak Dini, fungsi paru seseorang mencapai puncaknya pada umur 20-30 tahun,
setelah itu fungsinya perlahan-lahan akan menurun. Seorang dengan PPOK,
penurunan fungsi paru akan lebih cepat. Apalagi bila sering terjadi infeksi saluran
napas atas/bawah dan tidak segera diobati sampai sembuh. Karena bekerja lokal,
obat nebu jauh lebih aman dan bisa diberikan berkali-kali dalam sehari. Namun bila
dalam sehari sudah diberikan sekitar 6 kali dan tidak ada perbaikan yang berarti,
sebaiknya konsultasi dokter untuk dievaluasi.
8 April 2014 07.14

Klik Paru mengatakan...


Pak Irwan, meskipun penyebab dan mekanisme terjadinya asma dan PPOK berbeda,
namun gejala dan keluhan kedua penyakit ini seringkali mirip. Apalagi kalau informasi
yang disampaikan pasien terbatas dan dokter tidak bisa melakukan pemeriksaan
penunjang. Sebagian besar penyebab PPOk memang asap rokok, namun bisa juga
karena polusi udara lain dan faktor genetik (kekurangan enzim alfa-1 antitripsin).
8 April 2014 07.29

Anonim mengatakan...
Saya Sukamto, umur 63 thn, alamat Jln Pemuda Gang Melati II No. 37 Kendal,
JawaTengah. Awal tahun 2012 saya di diagnose PPOK, diberikan obat hisap Spiriva 1
kali hisap sehari sehari, dan seretide diskus 250 mcg 2 kali hisap sehari. Dengan obat
ini saya merasa enjoy-enjoy saja. Bulan Maret 2014 saya di spirometri hasilnya
normal, sehingga seretide dihentikan diganti dengan berotec (dihisap bila terjadi
serangan/sesak napas). Dengan hanya Spiriva ini hasilnya tidak memuaskan, sering
sesek danharus hisap berotec. Bulan Aprilini kami kembali diberikan Seretide 500
mcg, hasilnya kembali enjoy-enjoy saja. Pertanyaannya. 1. Apa bedanya Spiriva
dengan seretide? 2. Apa obat seharusnya bagi pasien PPOK, (mengapa kami harus
hisap spiriva dan seretide)?. 3.. Dengan hanya spiriva ternyata masih sesek,
bagaimana kalau hanya dengan seretide (efeknya terhadap PPOK).
19 April 2014 12.13

Klik Paru mengatakan...


Bapak Sukamto yg baik, pengobatan umum PPOK adalah menghindari faktor
pencetus, pelonggar napas kerja singkat bila diperlukan (misalnya Berotec, Ventolin,
Meptin, dll), dan vaksinasi influenza. Pada derajad yang lebih berat kadang diperlukan
obat pelonggar napas kerja lama (misalnya Spiriva, Onbrez, dll). Pada sebagian
pasien responsnya lebih bagus bila ditambah dengan kombinasi obat pelonggar
napas kerja lama plus steroid (misalnya Seretide, Symbicort, dll). Salah satu tujuan
pengobatan PPOK adalah mengirangi gejala. Tujuan tersebut bisa dicapai tanpa obat,
dengan satu macam obat atau kadang lebih. Yang penting tujuan pengobatan
tercapai dengan obat yang aman sehingga kualitas hidup meningkat. Semoga
keterangan ini berguna, terima kasih.
20 April 2014 22.51

coky scooterist mengatakan...


PPOK apa bedanya sama bronkitis/KP mas,,,,saya heran ko tiap pagi batuk dahak
bening mulu yahh,tapi pas agak siangan,ngilang tuh batuk !!
trus berat badan saya 53.kg dari dulu ga naek"bingung saya mas ??
penyakit atau bukan sih ??
mohon pencerahanya nyaa :D
15 Mei 2014 10.41

Klik Paru mengatakan...


Ketiga penyakit tersebut berbeda. PPOK adalah kelainan paru yang menyebabkan
hambatan aliran udara yang perjalanannya progresif irreversibel atau reversibel
parsial, Penyebabnya adalah merokok, polusi lingkungan, infeksi saluran napas
bawah berulang dll. Bronkitis akut adalah infeksi saluran napas karena kuman, virus,
dan jamur. Bronkitis yang berulang-ulang atau bronkitis kronis bisa menjadi PPOK.
KP adalah sebutan lain untuk TB paru atau TBC paru.
19 Mei 2014 07.26

Agustinadian Susanti mengatakan...


Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
4 Desember 2014 18.19
Agustinadian Susanti mengatakan...
apakah sakit PPOK ini harus minum obat seumur hidup dok? ayah saya 79 th sakit
PPOK dan diberi obat salbutamol 3x1/2tab, aminophilin 3x1/2 tab dan menghisap
seretide diskus 2xsehari
4 Desember 2014 18.19

klik Paru mengatakan...


Ya, diminum seumur hidup agar penurunan fungsi paru bisa direm selambat
mungkin. Karena dikonsumsi jangka panjang, sebaiknya obat minum (salbutamol,
aminofilin, dll) hanya digunakan sebagai pilihan terakhir. Pilihan pertama adalah
obat2 yang hanya bekerja lokal di paru, seperti tiotroprium (Spiriva) dan indacaterol
(Onbrez)
16 Desember 2014 23.57

Agustinadian Susanti mengatakan...


spiriva ditanggung BPJS ga?
17 Desember 2014 01.46

Achmed Fawzi mengatakan...


Dokter, ibu saya terdiaknosa kena PPOK, ada jalan gak selain konsumsi banyak obat
27 Desember 2014 15.50

Klik Paru mengatakan...


Diagnosis PPOK sebaiknya berdasarkan pemeriksaan Spirometri, selain memastikan
ada tidaknya PPOK juga bisa diketahui derajat keparahan PPOK. Jika ibunda hanya
menderita PPOK, biasanya hanya menggunakan satu atau dua macam obat hirup
yang digunakan jangka panjang. Sengaja dipilih obat hirup agar bisa bekerja optimal
di saluran napas dan tidak mengganggu organ lain. Obat-obat lain bisa saja diberikan
(jangka pendek) sesuai dengan keluhan yang dirasakan. Hal lain selain obat yang
perlu diperhatikan adalah nutrisi yang baik dan olahraga sesuai kondisi ibunda.
28 Desember 2014 23.05

Anonim mengatakan...
Ayah saya didiagnosis PPOK sejak tahun 2011, sejak saat itu beliau rutin
mengkonsumsi obat dan rutin cek ke dokter, update terakhir menyatakan bahwa
paru2 ayah saya memanjang sekitar 2 iga sejak terakhir diperiksa. Pertanyaan saya
apakah paru-paru yang memanjang ini merupakan phase PPOK? dan sejauh mana
phase fatal untuk penderita PPOK?
Terima kasih sebelumnya .
Maly
16 Juni 2015 12.02

Anonim mengatakan...
dulu saya di agnosa broncitis cronis setelah 5 tahun saya periksa lagi ternyata saya
di diagnossa terkena empisema,apakah empisema penyakit yang lebih berat dari
pada broncitis cronis,atau apakah empisema peningkatan dari broncitis cronis.
9 Juli 2015 08.08

Atinto Lagarusu mengatakan...


8 bulan lalu ayah saya di diagnosis dokter menderita tbc hanya lewat hasil
rontgen,krn ayah saya batuk berdahak tapi susah keluar dahaknya.selama 8 bulan ini
di terapi dgn rimstar/rifampicin dan obat lainnya,tapi setelah melihat hasil rontgen
yang ke 3,kata dokter ayah saya menderita ppok.apakah ppok dengan tbc itu penyakit
yg sama?apakah ppok bisa menular dok??
12 Juli 2015 05.43

Klik Paru mengatakan...


Anonim: bronkitis kronis dan emfisema adalah penyakit yang berbeda, meskipun
keduanya berperan untuk terjadinya PPOK. Namun ada keadaan yang merupakan
kombinasi (overlaping) kedua penyakit tersebut, kemungkinan Anda dalam kelompok
tersebut.

Atinto Lagarusu: Beda, TBC adalah penyakit akibat kuman yang ditulari pasien lain,
sedang PPOK adalah kelainan struktur paru, sering disebabkan oleh polusi udara
(terutama asap rokok). PPOK tidak menular.
12 Juli 2015 22.13

Poskan Komentar

Masukkan komentar Anda...

Beri komentar sebagai: Unknown (Google) Keluar

Publikasikan Pratinjau Beri tahu saya

Posting Lebih Baru Beranda Posting Lama

docsubagyo 2012-2015. Template Watermark. Diberdayakan oleh Blogger.