Anda di halaman 1dari 37

REFERAT

ILMU PENYKIT MATA

ASTIGMATISMA

Pembimbing :
dr. Yulia Fitriani, Sp. M

Disusun Oleh:
A.Naesaburi Sahid G4A016044

SMF ILMU PENYAKIT MATA


RSUD PROF. DR. MARGONO SOEKARJO
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
PURWOKERTO
2017
LEMBAR PENGESAHAN
TUGAS REFERAT

ASTIGMATISMA

Disusun oleh:
A.Naesaburi Sahid G4A016044

Diajukan untuk memenuhi syarat mengikuti ujian Kepaniteraan Klinik di bagian Ilmu
Penyakit Mata RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto

Telah disetujui dan dipresentasikan


Pada tanggal Juni 2018

Purwokerto, Juni 2018


Pembimbing,

dr. Yulia Fitriani, Sp. M

2
KATA PENGANTAR

Puji syukur penyusunan panjatkan kepada Allah SWT atas berkat dan rahmat-

Nya, sehingga referat berjudul “Astigmatisma” ini dapat diselsaikan. Referat ini

merupakan salah satu tugas di SMF Ilmu Penyakit Mata. Oleh karena ittu penyusun

mengharapkan saran dan kritik untuk perbaikan penulisan di masa yang akan datang.

Tidak lupa penyusun ucapkan banyak terimakasih kepada:

1. dr. Yulia Fitriani, Sp. M selaku pembimbing

2. Dokter-dokter spesialis mata di SMF Ilmu Penyakit Mata RSUD Prof. Dr.

Margono Soekarjo Purwokerto

3. Orangtua serta keluarga penulis atas doa dan dukungan yang tidak pernah

henti diberikan kepda penulis

4. Rekan-rekan ko-asisten bagian SMF Ilmu Penyakit Mata RSUD Prof. Dr.

Margono Soekarjo Purwokerto atas semangat dan bantuannya

Penulis menyadari referat ini masih jauh dari kesempurnaan. Kritik dan saran

yang membangun dari semua pihak penulis harapkan demi referat yang lebih baik.

Demikian yang dapat penulis sampaikan, semoga referat ini bermanfaat bagi semua

pihak yang ada di dalam maupun di luar lingkungan RSUD Prof. Dr. Margono

Soekarjo Purwokerto.

3
DAFTAR ISI

LEMBAR PENGESAHAN……………………………………………………... 2

KATA PENGANTAR…………………………………………………………... 3

DAFTAR ISI…………………………………………………………………….. 4

PENDAHULUAN……………………………………………………………….. 5

TINJAUAN PUSTAKA…………………………………………………………. 6

KESIMPULAN…………………………………………………………………. 35

DAFTAR PUSTAKA…………………………………………………………… 36

4
I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Astigmatisma adalah suatu kelainan refraksi dimana mata

menghasilkan suatu bayangan dengan titik atau garis multipel.

Astigmatisma biasanya bersifat diturunkan atau terjadi sejak lahir, dan

biasanya berjalan bersama dengan miopia dan hipermetropia dan tidak

banyak terjadi perubahan selama hidup. Bayi yang baru lahir biasanya

mempunyai kornea yang bulat atau sferis yang kemudian di dalam

perkembangannya terjadi keadaan yang disebut astigmatism with the rule

(astigmat lazim) yang berarti kelengkungan kornea pada bidang vertikal

bertambah atau lebih kuat atau-jari-jarinya lebih pendek dibanding jari-

jari kelengkungan kornea di bidang horizontal.

Letak kelainan pada astigmatisma terdapat di dua tempat yaitu

kelainan pada kornea dan kelainan pada lensa. Pada kelainan kornea

terdapat perubahan lengkung kornea dengan atau tanpa pemendekan atau

pemanjangan diameter anterior- posterior bola mata. Kelainan ini bisa

merupakan kelainan kongenital atau didapat akibat kecelakaan, peradangan

kornea atau operasi.

Secara garis besar terdapat 3 penatalaksanaan astigmatisma,

yaitu dengan menggunakan kacamata silinder dikombinasi dengan lensa

sferis, lensa kontak dan pembedahan. Teknik pembedahan menggunakan

metode LASIK, photorefractive keratotomy, dan radial keratotomy.

5
II. TINJAUAN PUSTAKA

A. ANATOMI MATA

Mata adalah suatu struktur sferis berisi cairan yang dibungkus oleh

tiga lapisan. Dari paling luar ke paling dalam, lapisan-lapisan itu adalah

sklera/kornea, koroid/badan siliaris/iris dan retina.

Gambar 1. Anatomi mata

Hasil pembiasan sinar pada mata ditentukan oleh media penglihatan

yang terdiri atas kornea, humour aquous, vitreus humour dan lensa. Kornea

(Latin cornum = seperti tanduk) adalah selaput bening mata, bagian

selaput mata yang tembus cahaya, merupakan lapis jaringan yang

menutup bola mata sebelah depan dan terdiri dari atas lapis (Ilyas, 2010):

6
1. Epitel

Tebalnya 50 µm, terdiri atas 5 lapis sel epitel tidak bertanduk yang

saling tumpang tindih; satu lapis sel basal, sel polygonal dan sel gepeng.

Pada sel basal sering terlihat mitosis sel. Sel basal menghasilkan membran

basal yang melekat erat kepadanya. Bila terjadi gangguan akan mengakibatkan

erosi rekuren. Epitel berasal dari ektoderm permukaan.

2. Membran Bowman

Terletak di bawah membran basal epitel kornea yang

merupakan kolagen yang tersusun tidak teratur seperti stroma dan berasal

dari bagian depan stroma. Lapis ini tidak mempunyai daya regenerasi.

3. Stroma

Terdiri atas lamel yang merupakan susunan kolagen yang

sejajar satu dengan lainnya, pada permukaan terlihat anyaman yang

teratur sedang di bagian perifer serat kolagen ini bercabang.

4. Membran descement

Merupakan membran aseluler dan merupakan batas belakang

stroma kornea dihasilkan sel endotel dan merupakan membran

basalnya. Bersifat sangat elastik dan berkembang seumur hidup,

mempunyai tebal 40 µm.

5. Endotel

Berasal dari mesotelium, berlapis satu, bentuk heksagonal, besar

20-40 µm. Endotel melekat pada membran descement melalui

hemidesmosom dan zonula okluden.

7
Kornea dipersarafi oleh banyak saraf sensoris terutama

berasal dari saraf siliar longus, saraf nasosiliar, saraf ke V saraf siliar

longus berjalan suprakoroid, masuk kedalam stroma kornea, menembus

membran Bowman melepaskan selubung Schwannya. Kornea merupakan

bagian mata yang tembus cahaya dan menutup bola mata di sebelah depan.

Pembiasan sinar terkuat dilakukan oleh kornea, dimana 40 dioptri dari

50 dioptri pembiasan sinar masuk kornea dilakukan oleh kornea.

Gambar 2. Lapisan Kornea

Bagian dalam mata terdiri dari dua rongga berisi cairan yang

dipisahkan oleh sebuah lensa, yang semuanya jernih untuk memungkinkan

cahaya lewat menembus mata dari kornea ke retina. Rongga anterior

(depan) antara kornea dan lensa mengandung cairan encer jernih, aqueous

humor yang diproduksi oleh badan siliar. Cairan ini mengisi camera okuli

anterior dan camera okuli posterior. Rongga di posterior (belakang) yang

8
lebih besar antara lensa dan retina mengandung zat semicair mirip gel

yang disebut vitreous humor. Vitreous humor penting untuk

mempertahankan bentuk bola mata yang sferis. Aquous humor

mengandung zat-zat gizi untuk kornea dan lensa, keduanya tidak memiliki

pasokan darah. Adanya pembuluh darah di kedua struktur ini akan

mengganggu lewatnya cahaya ke fotoreseptor. Aquous humor dibentuk

dengan kecepatan sekitar 5 ml/hari oleh jaringan kapiler didalam korpus

siliaris, turunan khusus lapisan koroid di sebelah anterior. Cairan ini

mengalir ke suatu saluran di tepi kornea dan akhirnya masuk ke darah

(Riordan, 2013) .

Lensa mata merupakan jaringan yang berasal dari ektoderm

permukaan yang berbentuk lensa di dalam mata dan bersifat bening.

Lensa di dalam bola mata terletak di belakang iris yang terdiri dari zat

tembus cahaya berbentuk seperti cakram yang dapat menebal dan

menipis pada saat terjadinya akomodasi. Secara fisiologik lensa

mempunyai sifat tertentu, yaitu (Ilyas, 2010):

1. Kenyal atau lentur karena memegang peranan terpenting dalam

akomodasi untuk menjadi cembung.

2. Jernih atau transparan karena diperlukan sebagai media penglihatan.

3. Terletak di tempatnya.

Keadaan patologik lensa ini dapat berupa (Ilyas, 2010) :

9
1. Tidak kenyal pada orang dewasa yang akan mengakibatkan

presbiopia,

2. Keruh atau apa yang disebut katarak,

3. Tidak berada di tempat atau subluksasi dan dislokasi.

B. REFRAKSI MATA

Refraksi Mata adalah perubahan jalannya cahaya, akibat media

refrakta mata, dimana mata dalam keadaan istirahat. Mata dalam keadaan

istirahat berarti mata dalam keadaan tidak berakomodasi. Pada orang

normal susunan pembiasan oleh media penglihatan dan panjangnya bola

mata demikian seimbang sehingga bayangan benda setelah melalui media

penglihatan dibiaskan tepat di daerah macula lutea (Riordan, 2013).

Mata yang normal disebut sebagai mata emetropia dan

akan menempatkan bayangan benda tepat di retinanya pada keadaan mata

tidak berakomodasi atau istirahat melihat jauh. Dikenal beberapa istilah di

dalam bidang refraksi, seperti pungtum Proksimum merupakan titik

terdekat dimana seseorang masih dapat melihat dengan jelas.Pungtum

remotum adalah titik terjauh dimana seseorang masih dapat melihat dengan

jelas, titik ini merupakan titik dalam ruang yang berhubungan dengan

retina atau foveola bila mata istirahat. Pada emetropia pungtum remotum

terletak di depan mata sedang pada mata hipermetropia titik semu di

belakang mata (Ilyas, 2010).

10
C. AKOMODASI

Pada keadaan normal cahaya tidak terhingga akan terfokus pada

retina, demikian pula bila benda jauh didekatkan, maka dengan adanya

daya akomodasi benda dapat difokuskan pada retina atau macula lutea.

Dengan berakomodasi, maka benda pada jarak yang berbeda-beda akan

terfokus pada retina. Akomodasi adalah kemampuan lensa untuk

mencembung yang terjadi akibat kontraksi otot siliari.Akomodasi, daya

pembiasan lensa bertambah kuat. Kekuatan akomodasi akan meningkat

sesuai dengan kebutuhan, makin dekat benda makin kuat mata harus

berakomodasi (mencembung). Kekuatan akomodasi diatur oleh reflex

akomodasi. Refleks akomodasi akan bangkit bila mata melihat kabur

dan pada waktu konvergensi atau melihat dekat. Mekanisme Akomodasi

ada 2 teori (Riodan, 2013):

1. Teori Helmholzt : Kalau mm. siliaris berkontraksi, maka iris dan

badan siliare, digerakkan kedepan bawah , sehingga zonulla zinii jadi

kendor, lensa menjadi lebih cembung, karena elastisitasnya sendiri. Banyak

yang mengikuti teori ini.

2. Teori Tschering : Bila mm, siliaris berkontraksi, maka iris dan

badan siliaris digerakkan kebelakang atas sehingga zonula zinii menjadi

tegang, juga bagian perifer lensa menjadi tegang sedang bagian tengahnya

didorong kesenteral dan menjadi cembung.

11
D. EMETROPIA

Emetropia berasal dari kata Yunani; Emetros : ukuran normal atau

dalam keseimbangan wajar, Opsis : Penglihatan. Mata dengan sifat

emetropia adalah mata tanpa adanya kelainan refraksi pembiasan sinar mata

dan berfungsi normal (Ilyas, 2010).

Pada mata ini daya bias mata adalah normal, dimana sinar jauh

difokuskan sempurna di daerah macula lutea tanpa bantuan akomodasi

.Bila sinar sejajar tidak difokuskan pada macula lutea disebut Ametropia.

Mata emetropia akan mempunyai penglihatan normal atau 6/6 atau 100%.

Bila media penglihatan seperti kornea, lensa , dan bada kaca keruh maka

sinar tidak dapat diteruskan ke macula lutea. Pada keadaan media

penglihatan keruh maka penglihatan tidak akan 100% atau 6/6 (Ilyas, 2010).

Keseimbangan dalam pembiasan sebagian besar ditentukan oleh

dataran depan dan kelengkunagn kornea dan panjangnya bola mata. Kornea

mempunyai daya pembiasan sinar tekuat dibanding bagian mata

lainnya.Lensa memegang peranan membiaskan sinar terutama pada saat

melakukan akomodasi atau bila melihat benda yang dekat.Panjang bola

mata sesorang dapat berbeda-beda.Bila terdapat kelainan pembiasan sinar

oleh kornea (mendatar, mencembung) atau adanya perubahan panjang

(lebih panjang lebih pendek) bola mata maka sinar normal tidak dapat

terfokus pada macula.Keadaan ini disebut sebagai emetropia yang dapat

berupa miopia, hipermetropia atau astigmatisma (Ilyas, 2010).

12
Kelainan lain pada pembiasan mata normal adalah gangguan

perubahan kecembungan lensa yang dapat berkurang akibat berkuranganya

elastisitas lensa sehingga terjadi gangguan akomodasi. Gangguan

akomodasi dapat terlihat pada usia lanjut sehingga terlihat keadaan yang

disebut presbyopia (Ilyas, 2010).

Gambar 3. Mata Emetropia

E. AMETROPIA

Keseimbangan dalam pembiasan sebagian besar ditentukan oleh

dataran depan dan kelengkungan kornea dan panjangnya bola mata.

Kornea mempunyai daya pembiasan sinar terkuat dibanding bagian mata

lainnya.Lensa memegang peranan membiaskan sinar terutama pada saat

melakukan akomodasi atau bila melihat benda yang dekat. Panjang bola

13
mata seseorang dapat berbeda-beda.Bila terdapat kelainan pembiasan sinar

oleh kornea (mendatar, mencembung) atau adanya perubahan panjang

(lebih panjang, lebih pendek) bola mata maka sinar normal tidak dapat

terfokus pada macula.Keadaan ini disebut sebagai ametropia yang dapat

berupa miopi, hipermetropia, atau astigmatisma (Ilyas, 2010).

Gambar 4. Ametropia

Ametropia dalam keadaan tanpa akomodasi atau dalam keadaan

istirahat memberikan bayangan sinar sejajar pada fokus yang tidak

tereletak pada retina.Pada keadaan ini bayangan pada selaput jala tidak

sempurna terbentuk. Dikenal berbagai bentuk ametropia, seperti (Riodan,

2013):

14
1. Ametropia aksial

Ametropia yang terjadi akibat sumbu optik bola mata lebih

panjang, atau lebih pendek sehingga bayangan benda difokuskan di

depan atau di belakang retina. Pada miopia aksial fokus akan terletak di

depan retina karena bola mata lebih panjang dan pada

hipermetropia aksial fokus bayangan dibelakang retina.

2. Ametropia Refraktif

Ametropia akibat kelainan sistem pembiasan sinar di dalam

mata. Bila daya bias kuat maka bayangan benda terletak di depan retina

(miopi) atau bila daya bias kurang maka bayangan benda akan terletak

di belakang retina (hipermetropia refraktif).

Ametropia dapat ditemukan dalam beberapa bentuk kelainan,

sebagai berikut (Riodan, 2013):

a. Miopia

b. Hipermetropia

c. Astigmat

d. Presbiopia

15
Tabel. 1 Kausa Ametropia

Ametropia Lensa koreksi Kausa refraktif Aksial

Bola mata
Miopia Lensa (-) Bias kuat
panjang

Bola mata
Hipermetropia Lensa (+) Bias lemah
pendek

Kurvatura 2
Astigmat Kacamata
meredien
reguler silinder
tegak lurus

Kurvatura
Astigmat Lensa kontak
kornea ireguler
Ireguler

16
Tabel 2. Jenis-Jenis Ametropia

17
F. ASTIGMATISMA

1. Definisi Astigmatisma

Astigmatisma adalah kelainan refraksi dimana sinar sejajar

yang datang dari jarak tak terhingga oleh mata dalam keadaan istirahat

dibias tak tertentu, refraksi dalam tiap meridian tak sama.

Gambar 5. Astigmatisma

Astigmatisme adalah suatu kelainan refraksi dimana sinar sejajar

dengan garis pandang oleh mata tanpa akomodasi dibiaskan tidak pada

satu titik tetapi lebih dari satu titik (Ilyas, 2010).

2. Epidemiologi

Prevalensi global kelainan refraksi diperkirakan sekitar 800 juta

sampai 2,3 milyar. Di Indonesia prevalensi kelainan refraksi menempati

urutan pertama pada penyakit mata. Kasus kelainan refraksi dari

tahun ke tahun terus mengalami peningkatan. Ditemukan jumlah

penderita kelainan refraksi di Indonesia hampir 25% populasi penduduk

atau sekitar 55 juta jiwa (Wijaya, 2014).

18
Insidensi myopia dalam suatu populasi sangat bervariasi

dalam hal umur, negara, jenis kelamin, ras, etnis, pekerjaan,

lingkungan, dan factor lainnya. Prevalensi miopia bervariasi berdasar

negara dan kelompok etnis, hingga mencapai 70-90% di beberapa

negara. Sedangkan menurut Maths Abrahamsson dan Johan Sjostrand

tahun 2003, angka kejadian astigmat bervariasi antara 30%-70%.

3. Media Refraksi

Hasil pembiasan sinar pada mata ditentukan oleh media

penglihatan yang terdiri atas kornea, aqueous humor (cairan mata),

lensa, badan vitreous (badan kaca), dan panjangnya bola mata. Pada

orang normal susunan pembiasan oleh media penglihatan dan panjang

bola mata sedemikian seimbang sehingga bayangan benda setelah

melalui media penglihatan dibiaskan tepat di daerah makula lutea. Mata

yang normal disebut sebagai mata emetropia dan akan menempatkan

bayangan benda tepat di retinanya pada keadaan mata tidak

melakukan akomodasi atau istirahat melihat jauh (Riordan, 2013).

4. Fisiologi Refraksi

Gambar 6. Fisiologi refraksi.

19
Berkas-berkas cahaya mencapai mata harus dibelokkan ke

arah dalam untuk difokuskan kembali ke sebuah titik peka-cahaya di

retina agar dihasilkan suatu bayangan yang akurat mengenai sumber

cahaya. Pembelokan suatu berkas cahaya (refraksi) terjadi ketika

berkas berpindah dari satu medium dengan kepadatan (densitas)

tertentu ke medium dengan kepadatan yang berbeda. Cahaya bergerak

lebih cepat melalui udara daripada melalui media transparan lainnya

misalnya : kaca, air. Ketika suatu berkas cahaya masuk ke medium

dengan densitas yang lebih tinggi, cahaya tersebut melambat

(sebaliknya juga berlaku). Berkas cahaya mengubah arah

perjalanannya jika mengenai medium baru pada tiap sudut selain

tegak lurus (Ilyas, 2010).

Dua faktor penting dalam refraksi : densitas komparatif antara

2 media (semakin besar perbedaan densitas, semakin besar derajat

pembelokan) dan sudut jatuhnya berkas cahaya di medium kedua

(semakin besar sudut, semakin besar pembiasan). Dua struktur yang

paling penting dalam kemampuan refraktif mata adalah kornea dan

lensa. Permukaan kornea, struktur pertama yang dilalui cahaya

sewaktu masuk mata, yang melengkung berperan besar dalam

reftraktif total karena perbedaan densitas pertemuan udara/kornea

jauh lebih besar dari pada perbedaan densitas antara lensa dan cairan

yang mengelilinginya. Kemampuan refraksi kornea seseorang tetap

konstan karena kelengkungan kornea tidak pernah berubah.

20
Sebaliknya kemampuan refraksi lensa dapat disesuaikan dengan

mengubah kelengkungannya sesuai keperluan untuk melihat dekat

atau jauh (Ilyas, 2010).

Struktur-struktur refraksi pada mata harus membawa

bayangan cahaya terfokus diretina agara penglihatan jelas. Apabila

bayangan sudah terfokus sebelum bayangan mencapai retina atau

belum terfokus sebelum mencapai retina ,bayangan tersebut tampak

kabur. Berkas-berkas cahaya yang berasal dari benda dekat lebih

divergen sewaktu mencapai mata daripada berkas-berkas dari sumber

jauh. Berkas dari sumber cahaya yang terletak lebih dari 6 meter

(20 kaki) dianggap sejajar saat mencapai mata (Wijaya, 2014).

Untuk kekuatan refraktif mata tertentu, sumber cahaya

dekat memerlukan jarak yang lebih besar di belakang lensa agar dapat

memfokuskan daripada sumber cahaya jauh, karena berkas dari

sumber cahaya dekat masih berdivergensi sewaktu mencapai mata.

Untuk mata tertentu, jarak antara lensa dan retina selalu sama. Untuk

membawa sumber cahaya jauhdan dekat terfokus di retina (dalam

jarak yang sama), harus dipergunakan lensa yang lebih kuat untuks

umber dekat. Kekuatan lensa dapat disesuaikan melalui

proses akomodasi (Ilyas, 2010).

21
5. Etiologi

a. Kelainan kornea

Adanya kelainan kornea dimana permukaan luar kornea

tidak teratur. Media refrakta yang memiliki kesalahan pembiasan

yang paling besar adalah kornea, yaitu mencapai 80% s/d 90% dari

astigmatismus, sedangkan media lainnya adalah lensa kristalin.

Kesalahan pembiasan pada kornea ini terjadi karena perubahan

lengkung kornea dengan tanpa pemendekan atau pemanjangan

diameter anterior posterior bolamata. Perubahan lengkung

permukaan kornea ini terjadi karena kelainan kongenital,

kecelakaan, luka atau parut di kornea, peradangan kornea serta

akibat pembedahan kornea atau operasi (Riordan, 2013).

b. Kelainan di lensa

Kekeruhan lensa, biasanya katarak insipienatau

imatur.Axis visual disini tidak dapat diatasi dengan lensa, harus

menunggu sampai saatnya tiba untuk operasi lensa. Adanya

astigmatisma kornea dapat diperiksa dengan tes Placido, dimana

gambarannya di kornea terlihat tidak teratur. Kelainan kornea

merupakan penyebab utama, yaitu meredien dengan daya bias

maksimal, dan minimal, yang saling tegak lurus letaknya. Jadi

ada meredien yang vertical dan ada meredien yang horizontal.

Bila meredien vertical, mempunyai daya bias yang lebih besar

dari pada yang horizontal. Dinamakan astigmatisma with the

22
rule, bila sebaliknya disebut astigmatisma “ against the rule”

(Riordan, 2013).

c. Intoleransi lensa atau lensa kontak pada postkeratoplasty

(Riordan, 2013)

d. Trauma pada kornea (Riordan, 2013)

e. Tumor (Riordan, 2013)

6. Klasifikasi

Berdasarkan posisi garis fokus dalam retina Astigmatisme dibagi

sebagai berikut (Riordan, 2013):

a. Astigmatisme Reguler

Dimana didapatkan dua titik bias pada sumbu mata karena

adanya dua bidang yang saling tegak lurus pada bidang yang lain

sehingga pada salah satu bidang memiliki daya bias yang lebih

kuat dari pada bidang yang lain. Astigmatisme jenis ini, jika

mendapat koreksi lensa cylindris yang tepat, akan bisa

menghasilkan tajam penglihatan normal. Tentunya jika tidak

disertai dengan adanya kelainan penglihatan yang lain. Bila

ditinjau dari letak daya bias terkuatnya, bentuk astigmatisme

regular ini dibagi menjadi 2 golongan, yaitu:

1) Astigmatisme With the Rule

Bila pada bidang vertical mempunyai daya bias yang lebih

kuat dari pada bidang horizontal.

23
2) Astigmatisme Against the Rule

Bila pada bidang horizontal mempunyai daya bias yang lebih

kuat dari pada bidang vertikal.

b. Astigmatisme Irreguler

Dimana titik bias didapatkan tidak teratur.

Berdasarkan letak titik vertical dan horizontal pada retina,

astigmatisme dibagi sebagai berikut:

a. Astigmatisme Miopia Simpleks

Astigmatisme jenis ini, titik A berada di depan retina,

sedangkan titik B berada tepat pada retina (dimana titik A adalah

titik fokus dari daya bias terkuat sedangkan titik B adalah titik

fokus dari daya bias terlemah). Pola ukuran lensa koreksi

astigmatisme jenis ini adalah Sph 0,00 Cyl -Y atau Sph -X Cyl

+Y di mana X dan Y memiliki angka yang sama.

Gambar 7. Astigmatisme Miopia Simpleks

24
b. Astigmatisme Hiperopia Simpleks

Astigmatisme jenis ini, titik A berada tepat pada

retina, sedangkan titik B berada di belakang retina.

Gambar 8. Astigmatisme Hiperopia Simpleks

c. Astigmatisme Miopia Kompositus

Astigmatisme jenis ini, titik A berada di depan retina,

sedangkan titik B berada di antara titik A dan retina. Pola ukuran

lensa koreksi astigmatisme jenis ini adalah Sph -X Cyl -Y.

Gambar 9. Astigmatisme Miopia Kompositus

25
d. Astigmatisme Hiperopia Kompositus

Astigmatisme jenis ini, titik B berada di belakang retina,

sedangkan titik A berada di antara titik B dan retina. Pola ukuran

lensa koreksi astigmatisme jenis ini adalah Sph +X Cyl +Y.

Gambar 10. Astigmatisme Hiperopia Kompositus

e. Astigmatisme Mixtus

Astigmatisme jenis ini, titik A berada di depan retina,

sedangkan titik B berada di belakang retina. Pola ukuran lensa

koreksi astigmatisme jenis ini adalah Sph +X Cyl -Y, atau Sph -

X Cyl +Y, di mana ukuran tersebut tidak dapat ditransposisi

hingga nilai X menjadi nol, atau notasi X dan Y menjadi sama -

sama + atau -.

Gambar 11. Astigmatisme Mixtus

26
Berdasarkan tingkat kekuatan Dioptri :

a. Astigmatismus Rendah

Astigmatismus yang ukuran powernya < 0,50 Dioptri.

Biasanya astigmatis-mus rendah tidak perlu menggunakan

koreksi kacamata. Akan tetapi jika timbul keluhan pada penderita

maka koreksi kacamata sangat perlu diberikan.

b. Astigmatismus Sedang

Astigmatismus yang ukuran powernya berada pada 0,75

Dioptri sampai dengan 2,75 Dioptri. Pada astigmatismus ini pasien

sangat mutlak diberikan kacamata koreksi.

c. Astigmatismus Tinggi

Astigmatismus yang ukuran powernya > 3,00 Dioptri.

Astigmatismus ini sangat mutlak diberikan kacamata koreksi.

7. Tanda Dan Gejala

Pada umunya, seseorang yang menderita astigmatismus

tinggi menyebabkan gejala-gejala sebagai berikut (Ilyas, 2010) :

a. Memiringkan kepala atau disebut dengan “titling his head”, pada

umunya keluhan ini sering terjadi pada penderita astigmatismus

oblique yang tinggi.

b. Memutarkan kepala agar dapat melihat benda dengan jelas.

c. Menyipitkan mata seperti halnya penderita myopia, hal ini dilakukan

untuk mendapatkan efek pinhole atau stenopaic slite. Penderita

27
astigmatismus juga menyipitkan mata pada saat bekerja dekat seperti

membaca.

d. Pada saat membaca, penderita astigmatismus ini memegang bacaan

mendekati mata, seperti pada penderita myopia. Hal ini dilakukan

untuk memperbesar bayangan, meskipun bayangan di retina tampak

buram.

e. Sedang pada penderita astigmatismus rendah, biasa ditandai

dengan gejala-gejala sebagai berikut :

f. Sakit kepala pada bagian frontal.

g. Ada pengaburan sementara / sesaat pada penglihatan dekat, biasanya

penderita akan mengurangi pengaburan itu dengan menutup atau

mengucek-ucek mata.

8. Diagnosis

a. Pemeriksaan visus dan pin hole

Pemerriksaan visus dilakukan pada satu per satu mata baik visus

jauh ataupun visus dekat. Visus jauh pertama-tama diperiksa dengan

Snellen chart kemudian jika tidak dapat terlihat menggunakan hitung jari.

Jika hitung jari tidak terlihat maka menggunakan lambaian tangan,

kemudian persepsi sinar jika tidak dapat melihat bayangan lambaian

tangan (Ilyas, 2010).

Uji lubang kecil ini dilakukan untuk mengetahui apakah

berkurangnya tajam penglihatan diakibatkan oleh kelainan refraksi atau

kelainan pada media penglihatan, atau kelainan retina lainnya. Bila

28
ketajaman penglihatan bertambah setelah dilakukan pin hole berarti

pada pasien tersebut terdapat kelainan refraksi yang belum dikoreksi

baik. Bila ketajaman penglihatan berkurang berarti pada pasien terdapat

kekeruhan media penglihatan atau pun retina yang menggangu

penglihatan (Ilyas, 2010).

b. Uji refraksi

1) Subjektif (Optotipe dari Snellen & Trial lens)

Metode yang digunakan adalah dengan Metoda „trial and

error‟ Jarak pemeriksaan 6 meter/ 5 meter/ 20 kaki. Digunakan kartu

Snellen yang diletakkan setinggi mata penderita, Mata diperiksa satu

persatu dibiasakan mata kanan terlebih dahulu (Riordan, 2013).

Ditentukan visus / tajam penglihatan masing- masing mata.

Bila visus tidak 6/6 dikoreksi dengan lensa sferis positif, bila dengan

lensa sferis positif tajam penglihatan membaik atau mencapai 5/5,

6/6, atau 20/20 maka pasien dikatakan menderita hipermetropia,

apabila dengan pemberian lensa sferis positif menambah kabur

penglihatan kemudian diganti dengan lensa sferis negatif

memberikan tajam penglihatan 5/5, 6/6, atau 20/20 maka pasien

menderita miopia. Bila setelah pemeriksaan tersebut diatas tetap tidak

tercapai tajam penglihatan maksimal mungkin pasien mempunyai

kelainan refraksi astigmat. Pada keadaan ini lakukan uji pengaburan

(fogging technique ) (Riordan, 2013).

ii. Objektif

29
Pemerriksaan objektif menggunakan alat autorefraktometer dan

keratometri. Autofraktometer dapat menentukan myopia atau besarnya

kelainan refraksi dengan menggunakan komputer. Penderita duduk di

depan autorefractor, cahaya dihasilkan oleh alat dan respon mata

terhadap cahaya diukur. Alat ini mengukur berapa besar kelainan

refraksi yang harus dikoreksi dan pengukurannya hanya memerlukan

waktu beberapa detik. Keratometri adalah pemeriksaan mata yang

bertujuan untuk mengukur radius kelengkungan kornea. Keratometer

dipakai klinis secara luas dan sangat berharga namun mempunyai

keterbatasan (Riordan, 2013).

3) Uji pengaburan

Setelah pasien dikoreksi untuk myopia yang ada, maka

tajam penglihatannya dikaburkan dengan lensa positif, sehingga

tajam penglihatan berkurang 2 baris pada kartu Snellen, misalnya

dengan menambah lensa spheris positif 3. Pasien diminta melihat

kisi-kisi juring astigmat, dan ditanyakan garis mana yang paling

jelas terlihat. Bila garis juring pada 90° yang jelas, maka tegak

lurus padanya ditentukan sumbu lensa silinder, atau lensa silinder

ditempatkan dengan sumbu 180°. Perlahan-lahan kekuatan lensa

silinder negatif ini dinaikkan sampai garis juring kisi-kisi astigmat

vertikal sama tegasnya atau kaburnya dengan juring horizontal atau

semua juring sama jelasnya bila dilihat dengan lensa silinder

ditentukan yang ditambahkan. Kemudian pasien diminta melihat

30
kartu Snellen dan perlahan-lahan ditaruh lensa negatif sampai

pasien melihat jelas (Riordan, 2013).

Gambar 12. Kipas Astigmat

31
4) Keratoskop

Keratoskop atau Placido disk digunakan untuk pemeriksaan

astigmatisme. Pemeriksa yang memerhatikan imej “ring” pada kornea

pasien. Pada astigmatisme regular, “ring” tersebut berbentuk oval.

Pada astigmatisme irregular, imej tersebut tidak terbentuk sempurna

(Riordan, 2013).

5) Javal ophtalmometer

Boleh digunakan untuk mengukur kelengkungan sentral dari

kornea, dimana akan menentukan kekuatan refraktif dari kornea (Riordan,

2013).

9. Terapi

1) Koreksi lensa

Astigmatismus dapat dikoreksi kelainannya dengan bantuan lensa silinder.

Karena dengan koreksi lensa cylinder penderita astigmatismus akan dapat

membiaskan sinar sejajar tepat diretina, sehingga penglihatan akan bertambah

jelas (Wijaya, 2014).

2) Orthokeratology

Orthokeratology adalah cara pencocokan dari beberapa seri lensa kontak,

lebih dari satu minggu atau bulan, untuk membuat kornea menjadi datar dan

menurunkan myopia. Kekakuan lensa kontak yang digunakan sesuai dengan

standar. Pada astigmatismus irregular dimana terjadi pemantulan dan pembiasan

32
sinar yang tidak teratur pada dataran permukaan depan kornea maka dapat

dikoreksi dengan memakai lensa kontak. Dengan memakai lensa kontak maka

permukaan depan kornea tertutup rata dan terisi oleh film air mata (Wijaya,

2014).

3) Bedah refraksi

Methode bedah refraksi yang digunakan terdiri dari (Wijaya, 2014):

i. Radial keratotomy (RK)

Dimana pola jari-jari yang melingkar dan lemah diinsisi di parasentral. Bagian

yang lemah dan curam pada permukaan kornea dibuat rata. Jumlah hasil

perubahan tergantung pada ukuran zona optik, angka dan kedalaman dari insisi.

ii. Photorefractive keratectomy (PRK)

Adalah prosedur dimana kekuatan kornea ditekan dengan ablasi laser pada

pusat kornea. Kornea yang keruh adalah keadaan yang biasa terjadi setelah

photorefractive keratectomy dan setelah beberapa bulan akan kembali jernih.

Pasien tanpa bantuan koreksi kadang-kadang menyatakan penglihatannya lebih

baik pada waktu sebelum operasi.

Pada astigmatisma berkas sinar tidak difokuskan pada satu titik dengan

tajam pada retina akan tetapi pada 2 garis titik api yang saling tegak lurus yang

terjadi akibat kelainan kelengkungan permukaan kornea. Pada mata dengan

astigmat lengkungan jari-jari meredien yang tegak lurus padanya.

Bayi yang baru lahir biasanya mempunyai kornea yang bulat atau sferis yang

di dalam perkembangannya terjadi keadaan apa yang disebut sebagai astigmatisma

33
with the rule (astigmat lazim) yang berarti kelengkungan kornea pada bidang

vertical bertambah atau lebih kuat atau jari-jarinya lebih pendek

dibanding jari-jari kelengkungan kornea dibidang horizontal.

Pada keadaan astigmat lazim ini diperlukan lensa silinder negative dengan

sumbu 180 derajat untuk memperbaiki kelainan refraksi yang terjadi. Pada usia

pertengahan kornea menjadi lebih sferis kembali sehingga astigmat menjadi

against the rule (astigmat tidak lazim). Astigmat tidak lazim (astigmatisme

against the rule) adalah suatu keadaan kelainan refraksi astigmat dimana

koreksi dengan silinder negative dilakukan dengan sumbu tegak lurus lurus

(60-120 derajat) atau dengan silinder positif sumbu horizontal (30-

150derajat).Keadaan ini terjadi akibat kelengkungan kornea pada meredien

horizontal lebih kuat dibandingkan kelengkungan kornea vertical. Hal ini sering

ditemukan pada usia lanjut.

Pengobatan dengan lensa kontak keras bila epitel tidak rapuh atau

lensa kontak lembek bila disebabkan infeksi,trauma dan distropi untuk

memberikan efek permukaan yang ireguler. Pada pasien plasidoskopi terdapat

gambaran yang ireguler.Koreksi dan pemeriksaan astigmat, pemeriksaan mata

dengan sentris pada permukaan kornea.Dengan alat ini dapat dilihat

kelengkungan kornea yang regular (konsentris), ireguler kornea dan adanya

astigmatisme kornea (Wijaya, 2014).

34
III. KESIMPULAN

1. Astigmatisma adalah kelainan refraksi mata dimana didapatkan

bermacam- macam derajat refraksi pada berbagai macam meridian

sehingga sinar sejajar yang datang pada mata akan difokuskan pada

berbagai macam fokus pula.

2. Terdapat berbagai macam astigmatisma, antara lain simple

astigmatisma, mixed astigmatisma dan compound astigmatisma.

3. Terdapat 2 etiologi, yaitu kelainan pada lensa dan kelainan pada

kornea.

4. Gejala klinis dari astigmatisme adalah penglihatan kabur atau terjadi

distorsi. Pasien juga sering mengeluhkan penglihatan mendua atau

melihat objek berbayang-bayang. Sebahagian juga mengeluhkan

nyeri kepala dan nyeri pada mata.

3. Koreksi dengan lensa silinder akan memperbaiki visus pasien. Selain

lensa terdapat juga pilihan bedah yaitu dengan Radial keratotomy (RK)

dan Photorefractive keratectomy (PRK).

35
DAFTAR PUSTAKA

Ilyas S. Ilmu Penyakit Mata. Fakultas Kedokteran Universitas


Indonesia. Edisi ke tiga. Balai Penerbit FKUI. Jakarta. 2010.

Wijaya N. IlmuPenyakit Mata. Edisi ke-6. Jakarta : Abaditegal. 2014.

Riordan P. Whitcher P John Eva. Optik dan refraksi dalam : Vaugan


dan Asbury Oftalmologi Umum. Edisi 17. Jakarta : EGC.2013.

36
37