Anda di halaman 1dari 9

 Oleh:

Irine Dwitasari Wulandari., SST.FT.,M.Fis

PROGRAM STUDI DIPLOMA III FISIOTERAPI


FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS PEKALONGAN

 IRAMA, NADA DAN GERAK DALAM AKTIVITAS FUNGSIONAL DAN TERAPI REKREASI

 Mata Kuliah Aktivitas Fungsional dan Terapi Rekreasi

 TERAPI REKREASI

 Terapi rekreasi merupakan cara baru untuk memberikan intervensi kepada orang-orang
yang menderita berbagai cacat dan penyakit.

 Terapi rekreasi digunakan di beberapa daerah penyakit seperti Alzheimer, Parkinson,


gangguan kognitif dan neurologis.

 Terapi rekreasi ini bisa di kombinasikan dengan terapi-terapi lain, seperti terapi lingkungan,
terapi musik, terapi seni dan terapi gerak.

 Terapi rekreasi sangat efektif bagi pasien yang menarik diri, dikarenakan pada pasien yang
menarik diri interaksi sosialnya kurang. Diharapkan setelah mengikuti terapi rekreasi ini,
pasien yang awalnya menarik diri dapat merubah sikap dan prilakunya untuk bersosialisasi
dalam interaksi dengan orang lain dan lingkungan sekitar.

 DEFINISI REKREASI

 Rekreasi berasal daripada bahasa Latin yaitu recretio yang berarti penyegaran kesehatan
(Torkildsen, 1992). Dengan kata lain, rekreasi membawa maksud penyegaran kembali
jasmani dan rohani seseorang.

 Menurut Edington & Kraus et al. (1990), rekreasi merupakan satu aktiviti yang dilakukan
semasa waktu lapang, menyenangkan dan mempunyai kualiti social.

 Jadi rekreasi secara keseluruhannya digambarkan sebagai perbuatan seseorang individu


menyertai sesuatu aktiviti dengan kerelaan serta kesenangan pada masa lapang.

 KLASIFIKASI REKREASI

 1. Rekreasi aktiv

 Rekreasi aktif adalah jenis rekreasi yang memerlukan banyak aktivitas fisik/ tenaga. Seperti:
mendaki gunung, sepak bola, traveling.

 2. Rekreasi Pasif

 Rekreasi pasif adalah jenis rekreasi yang banyak melibatkan aktivitas relaksasi dan tidak
memerlukan banyak tenaga. Contoh: menonton TV, mendengarkan music, kuliner.

 DEFINISI TERAPI REKREASI

 Terapi reakreasi ialah suatu bentuk terapi yang mempergunakan media reakresi (bermain,
berolahraga, berdarmawisata, menonton TV, dan sebagainnya) dengan tujuan mengurangi
keterganguan emosional dan memperbaiki prilaku melalui diskusi tentang kegiatan reakresi
yang telah dilakukan, sehingg perilaku yang baik diulang dan yang buruk dihilangka

 MANFAAT TERAPI REKREASI

 1. Perkembangan dan pemeliharaan kekuatan, ketahanan, toleransi kerja, dan koordinasi.

 2. Mempraktekkan pengguna gerakan volunteer maupun refleks dalam tugas/kagiatan


terarah.

 3. Untuk mengeksplorasi potensi yang bersifat vocational atau melatih skill yang dibutuhkan
dalam penyesuaian kerja.

 4. Meningkatkan fungsi sensasi, persepsi dan cognisi.

 5. Meningkatkan keterampilan sensasi sosialisasi serta pengembangan emosi

 TUJUAN TERAPI REKREASI

1. Tujuan Umum

 Setelah mendapatkan terapi selama 1-2 jam klien mampu melakukan kegiatan secara
konstruktif dan menyenangkan serta mengembangkan kemampuan hubungan sosial.

2. Tujuan Khusus

 Mampu mengikuti terapi rekreasi dengan baik.

 Mampu melakukan rekreasi secara independent.

 Mampu meningkatkan fungsi sosial.

 Mampu meningkatkan ekspresi kreatif.

 JENIS TERAPI REKREASI

Ada beberapa jenis terapi rekreasi dan beberapa yang paling populer adalah:

 Alat bantu musik seperti gitar dan piano,

 hewan yang membantu terapi,

 teknik relaksasi,

 mediasi,

 spiritualitas,

 yoga,

 terapi bioskop,

 berkebun

 PELAKSANAAN TERAPI REKREASI

 Terapi rekreasi dapat dilakuakn baik secara individual maupun dengan berkelompok
tergantung dari keadaan pasien itu sendiri, serta jumlah tenaga medis (theraphyst) yang ada.

 METODE TERAPI REKREASI


Individu :

 Klien dapat mengungkapkan perasaannya tanpa dalam keadaan tertekan dan dalam
keadaan rileks.

 Mendapatkan lebih banyak informasi sekaligus mempermudah dalam melakukan evaluasi.

 Bagi klien yang cenderung tidak berani mengungkapkan perasaannya, dapat


mengungkapkan perasaaan lebih dalam tentang apa yang dirasakan.

 Klien mampu meningkatkan menejement waktu luang.

 Klien memiliki pengembangan ktrampilan rekreasi baru.

Kelompok :

 Klien dapat bersosialisasi dengan rekan – rekan lainnya dalam kelompok tersebut.

 Klien dapat belajar terbuka terhadap orang lain mengenai perasaan serta masalah yang
dihadapinya.

 Klien dapat bertukar pikiran dan saling mengisi dengan rekan – rekan satu kelompok yang
lainnya serta belajar untuk menemukan problem solving dari perasaan yang dirasakan oleh
klien.

 Klien tidak merasa mengalami penurunan isolasi sosial.

 Klien dapat meningkatkan fungsi sosial dalam bermasyarakat

 WAKTU TERAPI REKREASI

 Terapi rekreasi dilakukan antara 1 sampai 2 jam setiap session baik individu maupun
kelompok setiap hari, 2 kali atau 3 kali seminggu tergantung kesiapan pasien, tujuan terapi,
tersedianya tenaga dan fasilitas dan sebagainya. Ini dibagi menjadi 2 bagian yaitu 1 jam
untuk berdiskusi dan saling bertukar pendapat dengan therapist ataupun rekan pasien
lainnya dan 1 jam untuk melakukan evaluasi hasil diskusi.

 Dalam evaluasi ini dibicarakan mengenai pelaksanaan pelaksanaan tersebut, antara lain
kesulitan yang dihadapi oleh pasien , problem solving yang ditemukan baik untuk rekan
pasien maupun dari petugas medis (therapist), perasaan yang dirasakan oleh klien setelah
dilakukan tindakan tersebut.

 MEDIA TERAPI REKREASI

1. Tempat

 Beberapa orang mengemukakan ruang yang cukup tenang dengan udara yang sejuk,
taman, alam bebas seperti: pegunungan dan danau merupakan tempat yang cukup
baik untuk digunakan sebagai sarana terapi rekreasi.

 Dimana dalam tempat ini pasien dapat merasa nyaman serta relaks
sehingga pasien mampu mengungkapkan perasaannya tanpa harus merasa
tertekan.
 Pada keadaan tertentu pada terapi rekreasi yang dilakukan dalam ruangan, harus
ditambahkan penggunaan media lain seperti suara music dapat meningkatkan rasa nyaman
pasien.

 Bila terapi ini dilakukan didalam ruangan sifatnya berkelompok akan lebih efektif jika terdiri
dari 4 sampai 6 orang pada pasien yang mengalami KIS. Jumlah ini relative efektif bagi
therapist serta pasien dalam pelaksanaan terapi.

2. Music

 Music merupakan salah satu media rekreasi juga dapat ditambahkan saat melakukan
terapi . keberadaan music juga dapat membuat pasien merasa lebih tenang dan nyaman.

 Pada perkembangan terapannya , terapi music juga sempat disebut sebagai terafi alternative
karena digunakan bila penanganan medis lain sudah dianggap sudah tidak memadai
lagi. Misalnya dalam kasus autism dan katatonia(kekakuan sekujur badan disebabkan
gangguan psikologis), ketika kemampuan verbal menjadi hilang, terapi music diharapkan
dapat memberikan sumbangan yang lebih bemanfaat.

 Music mampu menghadirkan rasa emosi tertentu, bahkan respon fisik. Untuk pasie-pasien
jiwa, music dapat membantu mereka untuk berkumpul dan bersam sebagai keluarga dan
mengingatkan mereka pada saat membahagiakan yang pernah terjadi pada diri mereka
sehingga pasien lebih tenang menghadapi masalahnya.

 Efek biologis dari suara dan music dapat mengakibatkan :

 1) Energy otot akan meningkat atau menurun terkait dengan stimulasi irama.

 2) Tarikan nafas dapat menjadi cepat atau berubah secara teratur

 3) Membuat tubuh dan pikiran terasa rileks. Tubuh dan pikiran yang rileks akan
meningkkatkan kempuan penyembuhan diri secara alami. Terapi music ini nsangat cocok
untuk pasien yang sedang dalam masa penyembuhan.

 4) Timbulnya berbagai efek pada denyut jantung, tekanan darah, fungsi endokrin

 5) Berkurangnya stimulus sensori dalam berbagai tahapan.

 6) Kelelahan berkurang atau tertunda, tetapi ketegangan otot meningkat.

 7) Perubahan yang meningkatkan elektrisitas tubuh.

 8) Perubahan pada metabolisme dan biosintesis pada beberapa proses enzim

 CONTOH 1 TERAPI REKREASI

 Memodifikasi alat bantu instrumen (dan bukan hanya alat-alat musik) agar sesuai kebutuhan
orang. Penyandang cacat dan orang cacat sekarang bisa belajar musik, instrumen untuk
bermain, berkebun dan hortikultura. Ada berbagai macam jenis alat bantu untuk berbagai
keperluan dalam terapi rekreasi. Bahkan pakaian pribadi seperti sepatu dansa khusus dibuat
atau orang-orang cacat. Sebagai contoh, seseorang dengan gangguan pendengaran dapat
menggunakan teknologi berbasis visi untuk membaca dan memahami hal. Seseorang yang
tuli adalah selalu juga bodoh dalam banyak kasus dan itulah sebabnya perangkat berbasis
visi dapat lebih bermanfaat bagi mereka.
 CONTOH 2 TERAPI REKREASI

 Penerapan terapi yang lain bisa dengan terapi relaksasi. Salah satu cara terapi relaksasi ialah
mandi rempah-rempah. Mandi rempah-rempah yaitu mandi dengan berbagai jenis rempah-
rempah, susu, dan garam serta coklat. Mandi merendam memakai bahan-bahan tertentu. (
Janny Bodhipala )

 Manfaat mandi rempah-rempah :

a. Rileksasi ( kenyamanan pikiran )

b. Merawat dan menyehatkan tubuh

c. Menyehatkan kulit dan sistem muskuloskeletal

d. Menstimulasi peredaran darah

e.Merileksasikan otot-otot tubuh yang tegang

f.Meredakan sters

 Proses berendam :

 Siapkan air hangat ( sesuai suhu tubuh )

 Pilih beberapa jenis bunga-bungaan (sesuaikan dengan kesenangan aromaterapeutik


klien) yang mengandung bahan anti inflamasi,ekspektoran, bronhodilator.

 Tuangkan bahan-bahan bunga tersebut ke dalam air hangat.

 Biarkan dengan sesaat ± 15 menit.

 Berendamlah selama ± 20-30 menit.

 Pada saat berendam, pori-pori kulit terbuka dan mengeluarkan kotoran

 Bilas dengan air bersih,sebelum badan dikeringkan

 Pori-pori kulit akan kembali bersih

 Menurut Aldridge musik dapat mempengaruhi orang yang sehat secara fisiologis dan
psikologis, maka diasumsikan orang yang sakit juga akan merespon dengan cara tertentu
(Aldridge dalam Djohan, 2010:06).

 Musik adalah bentuk dari perilaku manusia yang unik dan memiliki kekuatan (untuk
mempengaruhi membuat pendengar merasakan suasana tertentu, seperti perasaan senang,
sedih, takut, nyaman, terganggu dan lain sebagainya) (Djohan, 2011:15).

 Musik juga dikenal memiliki kekuatan khusus yang mampu melampaui pikiran, emosi, dan
kesehatan fisik.

Blacking bahwa “Music can express attitudes and cognitive proceses”

 Kutipan di atas memberikan pemahaman bahwa musik dapat mengekspresikan sikap sosial
dan proses kognitif dan terapi rehabilitasi ”(Blacking, 1974:54).
Ketika pasien dapat menunjukkan perilaku yang wajar terutama dalam aktivitas kehidupan sosial
sehari-hari ;

 Aktivitas tersebut di antaranya produktif,

 Mampu merawat diri,

 Mampu melakukan ibadah menurut kepercayaan yang dianutnya,

 Melakukan komunikasi dengan baik antar sesama, dapat mengontrol emosi,

 Kembalinya kepercayaan diri,

 Mampu berinteraksi dengan baik antar sesama manusia.

Musik digunakan sebagai media untuk bisa melihat dan mengukur tingkat kejiwaan seseorang
melalui perilaku, yaitu sebagai terapi rekreasi.

 Hasil Riset Manfaat Musik (Terapi musik memang sudah banyak diterapkan di bidang medis
untuk menangani permasalahan pada kategori pasien tertentu)

 Terapi musik untuk anak penyandang cerebral palsydi Yayasan Pembinaan Anak Cacat
(YPAC) Semarang.

 Terapi musik untuk tuna rungu di SLB N Magelang Utara, terapi musik untuk anak autis di
SLB Surakarta.

 Terapi musik pada para lansia bertujuan untuk menghibur para lansia sehingga
meningkatkan gairah hidup dan dapat mengenang masa lalu.

 JENIS MUSIK

 Musik klasik karya Mozart diyakini dapat merangsang kecerdasan otak karena memiliki sifat
yang lembut dan di dalamnya terdapat irama serta nada yang teratur (Candra, Ekawati, dan
Gama: 2013:7-15).

 Penelitian yang dilakukan Noorratri membuktikan secara kuantitatif bahwa musik dangdut
dengan irama cepat mampu merangsang penurunan tingkat depresi. musik jenis dangdut
dengan tempo andante (sedang) antara 60-75 bpm mampu menstabilkan emosi. Hal
tersebut dibuktikan adanya penurunan tiga tingkatan depresi setelah pemberian terapi
musik dangdut ritme cepat. Yaitu depresi tingkat ringan 75%, tingkat sedang 25%, sedangkan
tingkat berat 0%. Sebelum pemberian terapi kelompok depresi ringan mencapai 12,5%,
sedang 81,25%, dan berat 6,25%.

 FUNGSI MUSIK

Merriam (1964:224) tentang fungsi dan guna musik dalam masyarakat:

1. Musik sebagai respon fisik

2. Musik sebagai sarana komunikasi

3. Musik sebagai ekspresi emosi

4. Musik sebagai komunikasi

5. Musik sebagai representasi simbolik


6. Musik sebagai penguatan komformitas terhadap norma sosial

7. Musik sebagai sarana hiburan

 Fungsi Musik (Menurut Allan P. Merriem)

1. Respon fisik maksudnya sebagai perangsang reaksi dari pasien terhadap musik pada saat
musik itu diberikan :

2. Musik sebagai pengungkapan emosi memberikan ruang bagi pasien skizoprenia untuk
berekspresi, mengembalikan kepercayaan diri, serta sebagai media untuk meluapkan emosi.

3. Musik sebagai sarana hiburan karena salah satu tujuan dari terapi musik tersebut untuk
menghibur (mampu mengikuti terapi dengan baik)

4. Musik sebagai komunikasi sudah jelas bahwa di dalam kegiatan terapi musik terjadinya
komunikasi antar pasien dengan pelaku terapi.

 ELEMEN MUSIK

 Djohan Tahun 2006, memaparkan penggunaan elemen musik (suara, irama,melodi, dan
harmoni) oleh seorang terapis musik terhadap klien atau kelompok dalam proses
membangun komunikasi, meningkatkan relasi interpersonal, belajar, meningkatkan
mobilitas, mengungkapkan ekspresi, menata diri atau untuk mencapai pemenuhi kebutuhan
fisik, emosi, mental, sosial, maupun kognitif, dalam kerangka upaya pencegahan,
rehabilitasi, atau pemberian perlakuan.

 UNSUR-UNSUR MUSIK

 Unsur-unsur musik yaitu irama nada dan intensitasnya masuk ke kanalis auditorus (saluran
telinga bagian dalam) kemudian telinga luar yang disalurkan ke tulang-tulang, pendengaran,
musik tersebut akan dihantarkan sampai ke thalamus (struktur di tengah otak).

 Musik mampu mengaktifkan memori yang tersimpan di limbic (saluran insting) dan
mempengaruhi sistem saraf otonom melalui neurotransmitter yang akan mempengaruhi
hipotalamus (bagian otak tengah) lalu ke hipotalamus ke hipofise (kelenjar penghasil
hormon).

 Musik yang telah masuk ke kelenjar hipofise mampu memberikan tanggapan terhadap
emosional melalui feed back (pengaruh balik) negatif kelenjar adrenal (anak ginjal) untuk
menekan pengeluaran pengeluaran hormon andrenalin (hormon reaksi), no repinephrin
(hormon yang membantu tubuh beristirahat), dan dopamine (hormon emosi) yang disebut
hormon-hormon stress. Masalah ketegangan stress berkurang (Djohan, 2006:60).

 LATIHAN GERAK

 Pada tahun 2600SM orang-orang di cina berpendapat bahwa penyakit timbul karena ketidak
aktifan organ tubuh dengan jiwa. Hypoocrates selalu menganjurkan pasiennya untuk
melakukan latihan gerak badan sebagai salah satu cara pengobatan pasiennya.

 Dengan bekerja seseorang akan menggunakan otot-otot dan pikirannya, misalnya dengan
melakukan permainan (game), latihan gerak badan, kerajina tangan dan lain-lain, dan hal ini
akan mempengaruhi kesehatan.
 Muhaj (2009), mengungkapkan aktivitas yang digunakan dalam terapi gerak, sangat
dipengaruhi oleh kontens terapi secara keseluruhan, lingkungan, sumber yang tersedia, dan
juga oleh kemampuan si terapi sendiri (pengetahuan, keterampilan, minat dan
kreativitasnya).

 JENIS-JENIS LATIHAN GERAK

Jenis kegiatan yang dapat dilakukan meliputi:

 Latihan gerak badan

 Latihan olahraga

 Latihan permainan tangan

 Latihan kesehatan

 Kegiatan kebersihan

 Kegiatan kerapian pribadi

 Kegiatan pekerjaan sehari-hari (aktivitas kehidupan sehari-hari, seperti dengan mengajarkan


merapikan tempat tidur, meyapu dan mengepel)

 Praktik prevokasional

 Kegiatan Seni (tari, musik, lukis, drama, dan lain-lain)

 Kegiatan rekreasi (tamasya, nonton bioskop atau drama)

 Kegiatan diskusi dengan topik tertentu (berita surat kabar, majalah, televisi, radio atau
keadaan lingkungan).

 Terapi kognitif bertujuan agar daya ingat tidak menurun, seperti senam otak (brain gym).

(Muhaj, 2009)

 DAFTAR PUSTAKA

 Djohan. Terapi Musik. Yogyakarta: Galangpress, 2006.

---------.Psikologi Musik. Yogyakarta: Best Publisher, 2009.

---------.Respon Emosi Musikal. Bandung: CV. Lubuk

Agung, 2010

---------.”Perilaku Musikal dan Kepribadian Kreatif.

”Pidato Pengukuhan Guru Besar PadaFakultas

Seni Pertunjukan Institut Seni Indonesia

Yogyakarta, 2011.

 Blacking, J. How Musical is a Man?University of Washington Press, Seattle, 1974.

 Merriam Allan P. The Anthropology of Music. Northwestern : University Press, 1964.


 http//www.skripsi-tesis.com/07/02/terapi-rekreasi.doc.htm diakses pada tanggal 30 april
2017.

 “Logoterapi Sebagai Terapi”, tersedia dalam

 http://www.atmajaya.ac.id/content diakses tanggal 30 april 2017.

 http://library.usu.ac.id/download/fk/06009832.pdf di akses tanggal 15 Mei 2017.