Anda di halaman 1dari 18

KEPERAWATAN MEDIKAL BEDAH II

MAKALAH PEMASANGAN BALUT BIDAI

DOSEN:

OLEH KELOMPOK 3:

1. AMIRA MANSUR 9. NI KADEK YUNI SUGIARI


2. BQ NESHA SUPRIANTINI 10. NIA WULANDARI
3. ERLINA LESTARI 11. NOVITA SRI WARDANI
4. I NYOMAN JANU ARIMBAWA 12. RIDHALLAH
5. ISKANDAR SYAH 13. SITI HAULAH
6. LALU TRISNA AGUNG 14. WAYAN MITA YULIANTINI
7. LUH CAKRAWARTYA B.A 15. WIRANA ECY SEPTANA’IM
8. MARIANA
9. NI KADEK YUNI SUGIARI

KEMENTRIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA

POLITEKNIK KESEHATAN MATARAM

D III KEPERAWATAN MATARAM

TINGKAT II/B

TAHUN 2019
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa atas segala limpahan Rahmat, Inayah,
Taufik dan Hinayahnya sehingga saya dapat menyelesaikan penyusunan makalah ini
dalam bentuk maupun isinya yang sangat sederhana. Semoga makalah ini dapat
dipergunakan sebagai salah satu acuan, petunjuk maupun pedoman bagi pembaca
dalam administrasi pendidikan dalam profesi keguruan.

Harapan saya semoga makalah ini membantu menambah pengetahuan dan


pengalaman bagi para pembaca, sehingga saya dapat memperbaiki bentuk maupun isi
makalah ini sehingga kedepannya dapat lebih baik.

Makalah ini saya akui masih banyak kekurangan karena pengalaman yang saya miliki
sangat kurang. Oleh kerena itu saya harapkan kepada para pembaca untuk
memberikan masukan-masukan yang bersifat membangun untuk kesempurnaan
makalah ini.

Mataram, Februari 2019

Penulis
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL .................................................................................................

KATA PENGANTAR ...............................................................................................

DAFTAR ISI .............................................................................................................

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang ..............................................................................................


B. Rumusan masalah……………………………………………………………………..
C. Tujuan ...........................................................................................................

BAB II PEMBAHASAN

A. Pengertian balut bidai………… ...................................................................


B. Tujuan pemasangan balut bidai……………………………………………
C. Prinsip pemasangan balut bidai … ................................................................
D. Macam – macam pemasangan balut bidai........................................................
E. Indikasi pemasangan balut bidai.......................................................................
F. Kontraindikasi pemasangan balut bidai ...........................................................
G. Fraktur …………………………………………………………………………….
H. Prosedur kerja……………………………………………………………………

BAB III PENUTUP

A. Kesimpulan ...................................................................................................
B. Saran .............................................................................................................

DAFTAR PUSTAKA
BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Bidai atau spalk adalah alat dari kayu, anyaman kawat atau bahan lain yang
kuat tetapi ringan yang digunakan untuk menahan atau menjaga agar bagian
tulang yang patah tidak bergerak (immobilisasi), memberikan istirahat dan
mengurangi rasa sakit. Maksud dari immobilisasi adalah:
1. Ujung-ujung dari ruas patah tulang yang tajam tersebut tidak merusak
jaringan lemah, otot-otot, pembuluh darah, maupun syaraf.
2. Tidak menimbulkan rasa nyeri yang hebat, berarti pula mencegah
terjadinya syok karena rasa nyeri yang hebat.
3. Tidak membuat luka terbuka pada bagian tulang yang patah sehingga
mencegah terjadinya indfeksi tulang.
4. Pembidaian tidak hanya dilakkukan untuk immobilisasi tulang yang
patah tetapi juga untuk sendi yang baru direposisi setelah mengalami
dislokasi. Sebuah sendi yang pernah mengalami dislokasi, ligamen-
ligamennya biasanya menjadi kendor sehingga gampang mengalami
dislokasi kembali, untuk itu setelah diperbaiki sebaiknya untuk
sementara waktu dilakukan pembidaian.

Pembidaian adalah proses yang digunakan untuk imobilisasi fraktur dan


dislokasi. Pembidaian harus memfixasi tulang yang patah dan persendian
yang berada di atas dan dibawah tulang yang fraktur. Jika yang cedera adalah
sendi, bidai harus memfixasi sendi tersebut beserta tulang disebelah distal dan
proximalnya. Tujuan pembidaian
1. Mencegah pergerakan/pergeseran dari ujung tulang yang patah.
2. Mengurangi terjadinya cedera baru disekitar bagian tulang yang
patah.
3. Memberi istirahat pada anggota badan yang patah.
4. Mengurangi rasa nyeri.
5. Mempercepat penyembuhan

Beberapa macam jenis bidai :

1. Bidai keras umumnya terbuat dari kayu, alumunium, karton, plastik


atau bahan lain yang kuat dan ringan. pada dasarnya merupakan bidai
yang paling baik dan sempurna dalam keadaan darurat. kesulitannya
adalah mendapatkan bahan yang memenuhi syarat di lapangan. contoh
bidai kayu, bidai udara dan bidai akum.
2. Bidai traksi. Bidai bentuk jadi dan bervariasi tergantung dari
pembuatannya, hanya dipergunakan oleh tenaga yang terlatih khusus,
umumnya dipakai pada patah tulang paha. Contohnya bidai traksi
tulang paha.
3. Bidai improvisasi. Bidai yang dibuat dengan bahan yang cukup kuat
dan ringan untuk penopang. Pembuatannya sangat tergantung dari
bahan yang tersedia dan kemampuan improvisasi si penolong.
Contohnya majalah, koran, karton dan lain-lainnya.

B. RUMUSAN MALAH
1. Apa pengertian dari balut bidai ?
2. Apa tujuan dari balut bidai ?
3. Apa prinsip pemasangan balut bidai ?
4. Apa saja indikasi dan kontra indikasi pemasangan balut bidai?
5. Apa saja macam- macam pemasangan balut bidai?
6. Apa saja prosedur kerja pemasangan balut bidai?

C. TUJUAN
1. Mengetahui pengertian dari balut bidai
2. Mengetahui tujuan dari balut bidai
3. Mengetahui prinsip pemasangan balut bidai
4. Mengetahui indikasi dan kontra indikasi pemasangan balut bidai
5. Mengetahui macam- macam pemasangan balut bidai
6. Mengetahui apa saja prosedur kerja yang dilakukan saat pemasangan
balut bidai
BAB II

PEMBAHASAN

A. PENGERTIAN

Balut bidai adalah penanganan umum trauma ekstremitas atau imobilisasi


dari lokasi trauma dengan menggunakan penyangga misalnya splinting
(spalk). Balut bidai adalah jalinan bilah (rotan, bambu) sebagai kerai (untuk
tikar, tirai penutup pintu, belat, dsb) atau jalinan bilah bambu (kulit kayu
randu dsb) untuk membalut tangan patah dsb.

B. TUJUAN BALUT BIDAI


1. Mempertahankan posisi bagian tulang yang patah agar tidak bergerak
2. Memberikan tekanan
3. Melindungi bagian tubuh yang cedera
4. Memberikan penyokong pada bagian tubuh yang cedera.
5. Mencegah terjadinya pembengkakan
6. Mencegah terjadinya kontaminasi dan komplikasi
7. Memudahkan dalam transportasi penderita.

C. PRINSIP PEMASANGAN BALUT BIDAI


1. Bahan yang digunakan sebagai bidai tidak mudah patah atau tidak
terlalu lentur
2. Panjang bidai mencakup dua sendi
3. Ikatan pada bidai paling sedikit dua sendi terikat, bila bisa lebih dari
dua ikatan lebih baik.
4. Ikatan tidak boleh terlalu kencang atau terlalu longgar.
5. Prinsip pertolongan pertama pada patah tulang
6. Pertahankan posisi
7. Cegah infeksi
8. Atasi syok dan perdarahan
9. Imobilisasi (fiksasi dengan pembidaian)
10. Pengobatan :
a. Antibiotika
b. ATS (Anti Tetanus Serum)
c. Anti inflamasi (anti radang)
d. Analgetik/ pengurang rasa sakit
D. SYARAT–SYARAT BALUT BIDAI :
1.Cukup kuat untuk menyokong
2.Cukup panjang
3.Diberi bantalan kapas
4.Ikat diatas dan dibawah garis fraktur (garis patah)
5. Ikatan tidak boleh terlalu kencang atau terlalu kendur.

E. MACAM-MACAM PEMASANGAN BALUT BIDAI


1. MITELLA (pembalut segitiga)
a. Bahan pembalut dari kain yang berbentuk segitiga sama kaki dengan
berbagai ukuran. Panjang kaki antara 50-100 cm
b. Pembalut ini biasa dipakai pada cedera di kepala, bahu, dada, siku,
telapak tangan, pinggul, telapak kaki, dan untuk menggantung lengan.
c. dapat dilipat-lipat sejajar dengan alasnya dan menjadi pembalut bentuk
dasi.

2. DASI (cravat)
a. Merupakan mitella yang dilipat-lipat dari salah satu ujungnya sehingga
berbentuk pita dengan kedua ujung-ujungnya lancip dan lebarnya
antara 5-10 cm.
b. Pembalut ini biasa dipergunakan untuk membalut mata, dahi (atau
bagian kepala yang lain), rahang, ketiak, lengan, siku, paha, lutut,
betis, dan kaki yang terkilir.
c. Cara membalut:
- Bebatkan pada tempat yang akan dibalut sampai kedua
ujungnya dapat diikatkan
- Diusahakan agar balutan tidak mudah kendor, dengan cara
sebelum diikat arahnya saling menarik
- Kedua ujung diikatkan secukupnya.

3. PITA (pembalut gulung)


a. Dapat terbuat dari kain katun, kain kasa, flanel atau bahan elastis.
Yang paling sering adalah kasa. Hal ini dikarenakan kasa mudah
menyerap air dan darah, serta tidak mudah kendor.
b. Macam ukuran lebar pembalut dan penggunaannya:
- 2,5 cm : untuk jari-jari
- 5 cm : untuk leher dan pergelangan tangan
- 7,5 cm : untuk kepala, lengan atas, lengan bawah, betis
dan kaki
- 10 cm : untuk paha dan sendi pinggul
- 10-15 cm : untuk dada, perut dan punggung.
c. Cara membalut anggota badan (tangan/kaki):
- Sangga anggota badan yang cedera pada posisi tetap
- Pastikan bahwa perban tergulung kencang
- Balutan pita biasanya beberapa lapis, dimulai dari salah
satu ujung yang diletakkan dari proksimal ke distal
menutup sepanjang bagian tubuh, yang akan dibalut dari
distal ke proksimal (terakhir ujung yang dalam tadi diikat
dengan ujung yang lain secukupnya). Atau bisa dimulai
dari bawah luka (distal), lalu balut lurus 2 kali.
- Dibebatkan terus ke proksimal dengan bebatan saling
menyilang dan tumpang tindih antara bebatan yang satu
dengan bebatan berikutnya. Setiap balutan menutupi
duapertiga bagian sebelumnya.
- Selesaikan dengan membuat balutan lurus, lipat ujung
perban, kunci dengan peniti atau jepitan perban.

4. PLESTER (pembalut berperekat)


a. Pembalut ini untuk merekatkan penutup luka, untuk fiksasi pada sendi
yang terkilir, untuk merekatkan pada kelainan patah tulang. Cara
pembidaian langsung dengan plester disebut strapping. Plester
dibebatkan berlapis-lapis dari distal ke proksimal dan untuk
membatasi gerakan perlu pita yang masing-masing ujungnya difiksasi
dengan plester.
b. Untuk menutup luka yang sederhana dapat dipakai plester yang sudah
dilengkapi dengan kasa yang mengandung antiseptik (Tensoplast,
Band-aid, Handyplast dsb).
c. Cara membalut luka terbuka dengan plester:
- luka diberi antiseptik
- tutup luka dengan kassa
- baru letakkan pembalut plester.

5. Kassa steril
a. Kasa steril ialah potongan-potongan pembalut kasa yang sudah
disterilkan dan dibungkus sepotong demi sepotong. Pembungkus tidak
boleh dibuka sebelum digunakan.
b. Digunakan untuk menutup luka-luka kecil yang sudah didisinfeksi
atau diobati (misalnya sudah ditutupi sofratulle), yaitu sebelum luka
dibalut atau diplester.

F. INDIKASI PEMBIDAIAN
1. Adanya fraktur, baik terbuka maupun tertutup
2. Adanya kecurigaan terjadinya fraktur
3. Dislokasi persendian
4. Kecurigaan adanya fraktur bisa dimunculkan jika pada salah satu
bagian tubuh ditemukan Pasien merasakan tulangnya terasa patah atau
mendengar bunyi krek.
5. Ekstremitas yang cedera lebih pendek dari yang sehat, atau
mengalamiangulasi abnormal
6. Pasien tidak mampu menggerakkan ekstremitas yang cedera
7. Posisi ekstremitas yang abnormal
8. Memar
9. Bengkak
10. Perubahan bentuk
11. Nyeri gerak aktif dan pasif
12. Nyeri sumbu
13. Pasien merasakan sensasi seperti jeruji ketika menggerakkan
ekstremitasyang mengalami cedera (Krepitasi) Perdarahan bisa ada
atau tidak
14. Hilangnya denyut nadi atau rasa raba pada distal lokasi cedera
15. otot di sekitar lokasi cedera

G. KONTRA INDIKASI PEMBIDAIAN


Pembidaian baru boleh dilaksanakan jika kondisi saluran napas,
pernapasandan sirkulasi penderita sudah distabilisasi. Jika terdapat gangguan
sirkulasidan atau gangguan persyarafan yang berat pada distal daerah fraktur,
jikaada resiko memperlambat sampainya penderita ke rumah sakit,
sebaiknyapembidaian tidak perlu dilakukan.

H. FRAKTUR
1. Pengertian
Fraktur adalah Putusnya hubungan tulang yang diakibatkan karena ruda
paksa/ benturan.

2. Macam – Macam Fraktur :


a) Menurut Perluasan
1) Patah tulang komplit
2) Patah tulang inkomplit/ tidak komplit
b) Menurut bentuk garis patah
1) Transversal
2) Oblique
3) Spiral
4) Comunited (remuk)
c) Menurut hubungan antar fragmen
1) Tanpa perubahan bentuk
2) Dengan perubahan bentuk
d) Menurut hubungan dengan dunia luar
1) Patah tulang terbuka
2) Patah tulang tertutup
e) Menurut lokalisasi
1) Pada tulang panjang :
• ⅓ proksimal
• ⅓ tengah
• ⅓ distal
2) Pada tulang Clavicula
• ¼ medial
• ½ tengah
• ¼ lateral

3. Patah Tulang Lengan Atas


Tindakan :
a) Letakkan lengan bawah di dada dengan telapak tangan menghadap ke
dalam
b) Pasang bidai dari siku sampai ke atas bahu
c) Ikat pada daerah di atas dan di bawah tulang yang patah
d) Lengan bawah di gendong.
e) Jika siku juga patah dan tangan tak dapat di lipat, pasang bidai sampai
kelengan bawah dan biarkan tangan tergantung tidak usah digendong
f) Bawah korban ke rumah sakit

4. Patah Tulang Lengan Bawah


Tindakan :
a) Letakkan tangan pada dada.
b) Pasang bidai dari siku sampai punggung tangan
c) Ikat pada daerah di atas dan di bawah tulang yang patah
d) Lengan di gendong
e) Kirim korban ke rumah sakit.

5. Patah Tulang Paha


Tindakan :
a) Pasang 2 bidai dari:
- Ketiak sampai sedikit melewati mata kaki
- Lipat selangkangan sampai sedikit melewati mata kaki
b) Beri bantalan kapas atau kain antara bidai dengan tungkai yang patah.
Bila perlu ikat kedua kaki di atas lutut dengan pembalut untuk
mengurangi pergerakan.

6. Patah Tulang Betis


Tindakan :
a) Pembidaian 2 buah mulai dari mata kaki sampai atas lutut
b) Diikat
c) Beri bantalan di bawah lutut dan di bawah mata kaki
I. PROSEDUR KERJA PEMASANGAN BALUT BIDAI
1. PERSIAPAN ALAT DAN BAHAN
a. Mitela yaitu pembalut berbentuk segitiga
b. Dasi yaitu mitela yang telipat-lipat sehingga berbentuk dasi
c. Pita yaitu penbalut berperekat
d. Pembalut yang spesifik
e. Kassa steril
f. Sarung tangan steril bila perlu.

2. PROSEDUR KERJA
a. Jelaskan prosedur kepada klien dan tanyakan keluhan klien
b. Cuci tangan dan gunakan handscoen steril
c. Jaga privasi klien
d. Perhatikan tempat atau letak bagian tubuh yang akan dibalut
e. Atur posisi klien tanpa menutupi bagian yang akan dilakukan tindakan
f. Pilih jenis pembalut yang akan digunakan. Dapat satu atau kombinasi.
g. Sebelum dibalut, jika luka terbuka perlu diberi desinfektan atau dibalut
dengan pembalut yang mengandung desinfektan. Jika terjadi
disposisi/dislokasi perlu direposisi. Urut-urutan tindakan desinfeksi
luka terbuka:
 Letakkan sepotong kasa steril di tengah luka (tidak usah
ditekan) untuk melindungi luka selama didesinfeksi.
 Kulit sekitar luka dibasuh dengan air, disabun dan dicuci
dengan zat antiseptik.
 Kasa penutup luka diambil kembali. Luka disiram dengan air
steril untuk membasuh bekuan darah dan kotoran yang terdapat
di dalamnya.
 Dengan menggunakan pinset steril (dibakar atau direbus lebih
dahulu) kotoran yang tidak hanyut ketika disiram dibersihkan.
 Tutup lukanya dengan sehelai sofratulle atau kasa steril biasa.
Kemudian di atasnya dilapisi dengan kasa yang agak tebal dan
lembut.
 Kemudian berikan balutan yang menekan.
 Apabila terjadi pendarahan, tindakan penghentian pendarahan
dapat dilakukan dengan cara:
 Pembalut tekan, dipertahankan sampai pendarahan berhenti
atau sampai pertolongan yang lebih mantap dapat diberikan.
 Penekanan dengan jari tangan di pangkal arteri yang terluka.
Penekanan paling lama 15 menit.
 Pengikatan dengan tourniquet.
- Digunakan bila pendarahan sangat sulit dihentikan dengan
cara biasa.
- Lokasi pemasangan: lima jari di bawah ketiak (untuk
pendarahan di lengan) dan lima jari di bawah lipat paha
(untuk pendarahan di kaki)
- Cara: lilitkan torniket di tempat yang dikehendaki,
sebelumnya dialasi dengan kain atau kasa untuk mencegah
lecet di kulit yang terkena torniket. Untuk torniket kain,
perlu dikencangkan dengan sepotong kayu. Tanda torniket
sudah kencang ialah menghilangnya denyut nadi di distal
dan kulit menjadi pucat kekuningan.
- Setiap 10 menit torniket dikendorkan selama 30 detik,
sementara luka ditekan dengan kasa steril.
 Elevasi bagian yang terluka
h. Tentukan posisi balutan dengan mempertimbangkan:
 Dapat membatasi pergeseran/gerak bagian tubuh yang memang
perlu difiksasi
 Sesedikit mungkin membatasi gerak bgaian tubuh yang lain
 Usahakan posisi balutan paling nyaman untuk kegiatan pokok
penderita.
 Tidak mengganggu peredaran darah, misalnya balutan berlapis,
yang paling bawah letaknya di sebelah distal.
 Tidak mudah kendor atau lepas.
i. Bidai dibalut dengan pembalut sebelum digunakan. Memakai bantalan
di antara bagian yang patah agar tidak terjadi kerusakan jaringan kulit,
pembuluh darah, atau penekanan syaraf, terutama pada bagian tubuh
yang ada tonjolan tulang.
j. Mengikat bidai dengan pengikat kain (dapat kain, baju, kopel, dll)
dimulai dari sebelah atas dan bawah fraktur. Tiap ikatan tidak boleh
menyilang tepat di atas bagian fraktur. Simpul ikatan jatuh pada
permukaan bidainya, tidak pada permukaan anggota tubuh yang
dibidai.
k. Ikatan jangan terlalu keras atau kendor. Ikatan harus cukup jumlahnya
agar secara keseluruhan bagian tubuh yang patah tidak bergerak.
l. Kalau memungkinkan anggota gerak tersebut ditinggikan setelah
dibidai.
Sepatu, gelang, jam tangan dan alat pengikat perlu dilepas.
m. Rapikan alat-alat yang tidak pergunakan.
n. Buka sarung tangan jika dipakai dan cuci tangan
o. Evaluasi dan dokumentasi tindakan.
BAB III
PENUTUP

A. SIMPULAN
Pembidian bertujuan untuk pertolongan pertama pada cedera Faktur yang
dilakukan dengan mengunakan teknik-teknik yang benar dan harus sesuia
dengan faktur yang terjadi dengan penangan yang benar maka pasien yang
mengalami faktur akan terbantu,namun apabila faktur yang terjadi tergolong
parah maka harus melakukan pembidian dengan orang-orang yang
berkecimpung dibidang nya.

B. SARAN
Seorang yang melakukan pembidaian haruslah memahami bagian anatomi
tubuh yang mana saja yang bisa dilakukan sebuah pertolongan pembidaian
jangan sampai salah melakukan proses pembidian dibagian faktur yang terjadi
dan juga harus bisa menguasai pelaksanaan sebuah pembidaian yang benar
jangan sampai melakukan pembidaian pasien semakin kesakitan.
CHECKLIST MEMBANTU PEMASANGAN BIDAI

Nama : …………………………………… NIM : …………………………………

ASPEK YANG DINILAI NILAI


0 1 2
Definisi :
Pemasangan alat imobilisasi untuk menopang atau melindungi bagian
tubuh tertentu
Tujuan :
1. Menopang bagian tubuh tertentu
2. Mengkoreksi atau mencegah deformitas
3. Memberikan kestabilan
4. Memungkinkan pemasangan traksi
5. Memberikan pertolongan pertama pada fraktur ekstremitas
6. Memberikan postur tegak agar dapat menahan beban
7. Melakukan terapi terkilir ( sprain) dan regangan (strain)\
Indikasi :
1. pada fraktur
Pelaksanaan
1. Persiapan Pasien :
• Memperkenalkan diri
• Bina hubungan saling percaya
• Meminta pengunjung atau keluarga meninggalkan ruangan
• Menjelaskan tujuan
• Menjelasakan langkah prosedur yang akan di lakukan
• Menyepakati waktu yang akan di gunakan
2. Persiapan alat dan bahan :
a. Bidai
b. Kapas untuk alas
c. Pembalut Luka
d. plester

3. Persiapan Lingkungan :
 Sampiran
Tahap pre interaksi
1. Cuci tangan
2. Siapkan alat-alat
Tahap orientasi
1. Memberi salam , panggil klien dengan panggilan yang
disenangi
2. Memperkenalkan nama perawat
3. Jelaskan prosedur dan tujuan tindakan pada klien atau keluarga
4. Menjelaskan tentang kerahasiaan
Tahap Kerja
1. jelaskan prosedur pada pasien
2. kumpulkan peralatan disamping ranjang
3. berikan privasi dan posisikan bagian tubuh pada fungsi
fungsionalnya
4. periksa denyut nadi distal dan catat
5. beri jarak yang adekuat antara permuakaan kulit dan alas
6. alasi penonjolan tulang atau area berongga bila ada
7. imobilisasi sendi di atas dan dibawah area yang cedera
8. kencangkan bidai dengan balutan dan ikat menjauhi arah area
yang mengalami cedera
9. periksa kondisi neurovaskuler
10. instruksikan pasien dan keluarganya untuk melaporkan segala
rasa tidak nyaman atau perubahan pada warna kulit
11. Lepas dan pasang kembali bidai jika nyeri terus ada dan timbul
bengkak
12. ajarkan pasien bagaimana mengatur bidai di rumah
13. catat tanggal dan waktu pembidaian, jenis bidai yang dipasang
dan tujuan pembidaian, perubahan kulit pasca pemasangan
bidai, rasa tidak nyaman yang dirasakan pasien dan tindakan
yang dilakukan untuk meredakan rasa tidak nyaman tersebut.

Tahap terminasi
1. Menyimpulkan hasil prosedur yang dilakukan
2. Melakukan kontrak untuk tindakan selanjutnya
3. Berikan reinforcement sesuai dengan kemampuan klien
Tahap Evaluasi
1. Menanyakan pada pasien apa yang dirasakan setelah dilakukan
kegiatan
Tahap dokumentasi
Catat seluruh hasil tindakan dalam catatan keperawatan
Keterangan :

0 = tidak dikerjakan

1= di kerjakan tapi tidak lengkap/ tidak sempurna

2= dikerjakan dengan sempurna


DAFTAR PUSTAKA

Perry, Peterson, Potter; Buku Saku Keterampilan dan Prosedur Dasar

Azis Alimul Hidayat, S.Kp; Buku Saku Praktikum KDM

DepartemenKesehatan RI. Penanggulangan Penderita Gawat


Darurat.Jakarta.Departemen Kesehatan. 20032.

Stone,Keith. Current Diagnosisi & Treatment: Emergency Medicine. 6th Ed.


Lange.20083.

Schwartz. Principle of Surgery. Mc Graw Hill. Eight edition. 20054.