Anda di halaman 1dari 14

3.

1 Kebutuhan Nutrien pada Ternak Kuda


3.1.1 Nutrien Essensial
Kebutuhan nutrisi kuda untuk hidup pokok, kerja, dan reproduksi. Jumlah kebutuhan
kuda sangat bervariasi sesuai kondisi. Energi yang dibutuhkan oleh kuda pacu melebihi hidup
pokok hingga 50-100 kalipatanya. Kebutuhan kalsium anak kuda tiga kali lipat karena tulang-
tulangnya tumbuh dengan cepat. Seperti semua hewan, kuda membutuhkan lima nutrisi
essensial untuk bertahan hidup yaitu Air, energi (Terutama dalam bentuk lemak dan
karbohidrat), protein, vitamin, dan mineral.
Tabel 3.1. Kebutuhan Nutrisi Kuda Berdasarkan Tingkat Aktivitasnya

Tabel 3.1 Kebutuhan Nutrisi Kuda Berdasarkan Bobot Badan

Sumber : NRC 1989 dalam Yohannis Lodewyk Revly Tulung, 2012


1) Air
Kuda membutuhkan Jumlah besar air bersih setiap hari. Berat Kandungan air antara 62-
68% dari berat badan kuda dan sangat penting bagi kehidupan mereka. Kuda hanya bisa
hidup beberapa hari tanpa air. Jika Mereka kehilangan 8-10% cairan alami tubuh membuat
mereka sudah dalam tahap dehidrasi dan menjadi hal yang paling berbahaya bagi
mereka. Oleh karena itu, Penting untuk kuda untuk memiliki cukup akses ke pasokan segar,
bersih, dan cukup air. Kuda yang tidak minum cukup air lebih rentan terhadap kondisi seperti
dehidrasi, impactions usus, dan bentuk lain dari kolik (Yohannis Lodewyk Revly Tulung,
2012.)
Rata-rata kuda dengan berat 450 kg kuda minum 10 galon (38 ltr) hingga 12 galon (45
liter) air per hari, jumlahnya akan lebih banyak dalam cuaca panas atau memakan hijauan
kering (hay) atau ketika mengkonsumsi kadar garam yang tinggi , kalium, dan
magnesium. Kuda minum sedikit air dalam cuaca dingin atau ketika di padang rumput yang
subur yang memiliki kandungan air yang tinggi. Ketika di bawah kerja keras, atau jika kuda
dalam keadaan menyusui, kebutuhan air mungkin sebanyak empat kali lebih besar dari rata-
rata. Meskipun mereka membutuhkan banyak air, kuda menghabiskan sedikit waktu minum
biasanya 1-8 menit sehari, sebanyak 2-8 kali.
Air memainkan peran penting dalam pencernaan. Kuda memakan hijauan dan biji-
bijian yang dicampur dengan Air liur di mulut mereka membuat makanan menjadi lembab
dan dapat mudah tertelan. Oleh karena itu, kuda memproduksi hingga 10 galon (38 liter) air
liur per hari.

2) Karbohidrat
Karbohidrat merupakan sumber energi utama dalam ransum. Biasanya dalam bentuk
jerami, rumput, dan biji-bijian. Karbohidrat larut seperti pati dan gula mudah dicerna untuk
dijadikan glukosa dan diserap pada usus kecil. Karbohidrat tidak larut, seperti serat
(selulosa), tidak dicerna oleh enzim kuda sendiri, tetapi difermentasi oleh mikroba dalam
sekum dan usus besar untuk memecah dan melepaskan sumber energi mereka (asam lemak
volatil).
Karbohidrat larut ditemukan dalam hampir setiap sumber pakan. Jagung memiliki
jumlah tertinggi, juga gandum. Hijauan biasanya hanya mengandung 6-8% karbohidrat
larut/tercerna, tapi dalam kondisi tertentu dapat memiliki hingga 30% (Yohannis Lodewyk
Revly Tulung, 2012).
Seekor kuda hanya mampu mencerna sekitar 30% dari selulosa dalam pakan. Hindgut
adalah tempat utama aktivitas mikroba dalam alat pencernaan kuda dibandingkan dengan
rumen pada sapi. Jumlah sintesis bakteri dan efisiensi penyerapan nutrisi disintesis oleh
mikroorganisme lebih rendah pada kuda dibandingkan pada sapi. Salah satu alasan
diperlukan serat dalam makanan kuda adalah untuk digunakan sebagai sumber energi bagi
mikroorganisme pada sekum dan usus besar. Serat dicerna juga untuk membantu mengisi
usus sehingga asupan karbohidrat tidak terlalu cepat. Cepatnya asupan butiran, serealia yang
tinggi karbohidrat, bisa menyebabkan kolik, diare, dan laminitis akut. jumlah makanan yang
tidak memadai untuk kuda yang tidak di padang rumput tidak hanya akan meningkatkan
risiko diare, kolik, tetapi juga akan mengakibatkan masalah perilaku.

3) Lemak
Lemak yang ada pada tanaman dan yang ditambahkan secara terukur lewat makanan
buatan dapat meningkatkan kepadatan energi dari kebutuhan kuda. Lemak memiliki 9
megacalories (38 MJ) per kilogram energi yaitu sama dengan 2.25 kali dari sumber
karbohidrat. Karena equine/kuda tidak memiliki kandung empedu untuk menyimpan
sejumlah besar cairan, maka lemak terus mengalir dari hati langsung ke usus kecil. Lemak
dibutuhkan sampai dengan 8% dalam ransum mereka. Kuda hanya dapat mentolerir 15-20%
kandungan lemak dalam makanan mereka tanpa risiko menjadi diare.
Pemberian makanan untuk kuda bertujuan untuk mempertahankan bobot, dan untuk
tambahan energi berupa lemak dalam pakan diperlukan untuk memasok energi untuk kinerja
tambahan dan itu tidak disimpan sebagai lemak tubuh. Ketika kuda diberi makan tambahan
lemak dalam diet mereka, maka konsumsi pakannya akan berkurang. Pada tingkat latihan
yang intensif, dengan tambahan lemak dalam pakan, maka akan terjadi penurunan konsumsi
pakan sebesar 0,6 kg per hari. Oleh sebab itu, untuk mempertahankan bobot badannya, kuda
tidak diberi makan tambahan lemak (Burba, 2008). Lebih lanjut Duberstein dan Johnson
(2009), mengemukakan makanan diet lemak tinggi merupakan tren yang relatif baru di
industri kuda. Hal ini telah menunjukkan bahwa kuda dapat mentolerir level yang cukup
tinggi lemak dalam diet mereka. Lemak merupakan sumber energi yang sangat baik dan
mudah dicerna.

4) Protein
Protein digunakan di semua bagian tubuh, terutama otot, darah, hormon, kuku, dan sel-
sel rambut. Secara umum fungsi protein dalam tubuh adalah untuk pertumbuhan dan
reproduksi, akan tetapi pada ternak kuda dengan tujuan pemeliharaan untuk dipacu maka
kebutuhan protein untuk kuda pacu adalah untuk menjaga keseimbangan otot, kerangka dan
sistem saraf serta untuk pembentukan kulit dan rambut.
Pondasi utama protein adalah asam amino. Duberstein dan Johnson (2009) menyatakan,
protein dipecah dalam usus halus menjadi asam amino yang direkombinasi untuk membuat
protein dalam tubuh yang membentuk otot, rambut, dan kuku. Adalah penting untuk
menyadari bahwa protein terdiri atas asam amino, dan protein yang menyusun tubuh
mempunyai sekuens asam amino yang sangat spesifik. Jumlah protein yang dapat disintesis
tubuh dibatasi oleh asam amino yang pada dasarnya kehabisan pasokan pertama.
Slade et al. (1970) mengemukakan kebutuhan protein tercerna untuk hidup pokok kuda
bervariasi dari 0,49-0,68 g/kg bobot/hari. Maynard et al. (1979) mengemukakan kuda ponies
dengan bobot 500 kg membutuhkan pakan 7,45 kg/ekor/hari dengan kandungan protein 8,5
persen. Glade (1983), kuda yang berumur 3 sampai 4 tahun yang dipacu pada jarak 1207-
1710 m memerlukan protein sebesar 1000 g. Selanjutnya Frape (2004) mengemukakan
bahwa untuk kuda yang dipacu dan berburu membutuhkan protein 1000-1400 g/hari. Hinkle
et al. (1981); Freeman et al. (1988), mengemukakan pemberian pakan yang tinggi kandungan
protein untuk kuda kerja tidak menguntungkan. Megan (2008) mengemukakan, kuda
membutuhkan 8-10 persen protein dalam diet mereka. Untuk memastikan kuda mendapatkan
cukup protein, pemilik dapat memeriksa jenis jerami yang mereka makan. Alfalfa
mengandung sekitar 18 persen sementara jerami rumput memiliki sekitar 10 persen. Secara
umum, kuda pada fase pertumbuhan perlu persentase protein yang lebih tinggi dari kuda
dewasa. Seekor kuda fase pertumbuhan umumnya membutuhkan 12-18 persen protein kasar
dalam makanan untuk pertumbuhan dan perkembangan yang cepat. Duberstein dan Johnson
(2009) menyatakan, kuda membutuhkan lebih banyak protein ketika jaringan sedang diatur
untuk pertumbuhan (kuda muda, yaitu dalam fase pertumbuhan yang cepat, gestating kuda
pada tri smester terakhir mereka. Kuda dewasa kemungkinan besar dapat menyesuaikan
kebutuhan terhadap persentase protein rendah (8-12 persen), bergantung pada beban kerja
mereka. Kuda dalam pelatihan intensif membutuhkan lebih banyak protein dari kuda yang
tidak mengikuti latihan, karena kebutuhan protein tersebut untuk perkembangan jaringan otot,
namun sebagian besar masih dapat beradaptasi dengan baik pada pakan dengan kandungan
protein 12 persen. Pakan kuda yang lebih tinggi tingkat protein dari yang mereka butuhkan
hanya berarti bahwa kuda memecah protein kelebihan dan mengeluarkannya sebagai urea
dalam urin, yang dengan cepat dikonversi menjadi amonia. Hal ini tidak diinginkan karena
amoniak berlebihan bisa menyebabkan masalah pernapasan pada kuda yang dikandangkan.
Alfalfa dan kacang-kacangan lain merupakan sumber protein yang baik dan dapat
mudah ditambahkan ke makanan. Kebanyakan kuda dewasa hanya membutuhkan protein 8-
10% dalam diet mereka. Namun, protein yang lebih tinggi penting untuk induk menyusui
dan anak kuda.

5) Mineral
Mineral adalah bahan anorganik penting yang harus hadir dalam jumlah yang cukup
untuk fungsi tubuh dengan benar. Mineral yang diperlukan untuk pemeliharaan dan fungsi
kerangka, saraf, dan otot. Ini termasuk kalsium, fosfor, natrium, kalium, dan klorida, dan
biasanya ditemukan dimakanan yang berkualitas. Mineral seperti magnesium, selenium,
tembaga, seng, dan yodium juga dibutuhkan. Biasanya, jika kuda dewasa pada pemeliharaan
sehari hari memakan hijauan segar seperti rumput dll,. mereka akan menerima sejumlah
mineral yang cukup dalam ransum mereka, dengan pengecualian natrium klorida (garam)
yang perlu disediakan. Hijauan saja pun tidak cukup, masih perlu penambahan trace mineral
termasuk selenium, seng, dan tembaga, dan dalam kondisi kekurangan vitamin serta
tracemineral. Masalah kesehatan, termasuk penyakit dapat terjadi jika asupan mineral kuda
tidak dilengkapi dengan benar. Namun, jika jumlah mineral berlebihan, dapat menyebabkan
toksisitas, kondisi kesehatan yang serius atau mengganggu penyerapan mineral lainnya
(Frape, 2004).
Kalsium dan fosfor yang dibutuhkan dalam rasio tertentu antara 1 : 1 dan 2 : 1. Kuda
dewasa dapat mentolerir hingga 5 : 1 rasio, anak kuda tidak lebih dari 3 : 1. Sebuah ransum
penuh dengan rasio yang lebih tinggi fosfor dari kalsium yang harus dihindari. Jika tingkat
fosfor yang tinggi dalam hubungannya dengan kalsium, kalsium akan ditarik dari tulang ke
dalam aliran darah untuk menyeimbangkan rasio kalsium: fosfor. Hal ini biasanya tidak
menjadi masalah bagi binatang pemakan rumput karena rumput cukup rendah fosfor, tapi
biji-bijian sangat tinggi fosfor dan pakan komersial umumnya dilengkapi dengan beberapa
bentuk kalsium. Makanan tunggal, seperti gandum, dapat menyebabkan rasio kalsium:fosfor
terbalik jika tidak dilengkapi dalam beberapa jenis pakan. Kekurangan fosfor adalah suatu
kejadian yang sangat jarang terjadi pada kuda. Hintz dan Schryver (1972) melaporkan
ketersediaan fosfor tinggi biasanya berasal dari bahan pakan tulang yang dikukus, di-kalsium-
fosfat dan sodium mono-fosfat. Lebih lanjut Hintz et al (1973.) mengemukakan, fosfor dari
dedak gandum tampaknya menjadi sekitar setengah tersedia sebagai sumber anorganik.
Kecernaan semu fosfor lebih rendah pada ransum dengan persentase yang tinggi serat (Meyer
et al. 1982). Suatu hipotesis bahwa pada kuda makan dalam jumlah besar fosfor yang tinggi
serat disekresikan ke dalam saluran pencernaan dengan cairan pencernaan. Akibatnya fosfor
lebih banyak dikeluarkan oleh tinja. Rasio kalsium dan fosfor serta fitat tidak muncul untuk
memainkan peran utama dalam penyerapan fosfor (Meyer dan Coenen 2002, van Doorn et al.
2004).
Seiring waktu, akhirnya ketidakseimbangan akan menyebabkan sejumlah masalah yang
mungkin terkait dengan tulang, seperti osteoporosis. Anak kuda dan kuda tumbuh muda
melalui masa pertumbuhan awal mereka mereka di tiga sampai empat tahun. Memiliki
kebutuhan gizi khusus dan memerlukan makanan khusus dengan kandungan kalsium yang
tepat juga rasio fosfor dan mineral lainnya. Sejumlah masalah tulang pada hewan muda dapat
terjadi dengan diet yang tidak seimbang. Saat kuda bekerja keras meningkatkan kebutuhan
mineral, berkeringat menghabiskannya natrium, kalium, dan klorida. Oleh karena itu,
suplementasi dengan elektrolit mungkin diperlukan untuk kuda dalam pelatihan intensif,
terutama dalam cuaca panas. Sebuah campuran elektrolit seimbang dapat ditambahkan
kedalam campuran ransum kuda. Lebih lanjut Clayton, (1991), mengemukakan, karena kuda
yang bekerja banyak mengeluarkan keringat maka banyak kerugian akibat keringat tersebut,
untuk itu suplemen elektrolit diperlukan, tiga bagian klorida, natrium klorida, kalium satu
bagian ditambahkan saat memberi makan pada kuda (1-4 sendok makan sehari), bergantung
pada kuda dan iklim. Penambahan dalam air minum, merupakan suatu metode yang baik
yang harus diberikan dan juga tambahan dalam bentuk blok garam.
Untuk kecukupan kallsium dan fosfor dalam rasio tepat, vitamin D harus ada untuk
pembentukan tulang, hal itu menjadi masalah bagi kuda-kuda yang dipelihara tanpa sinar
matahari pada periode yang lama. Jika kuda muda menerima tidak cukup kalsium dan fosfor,
tulangnya melengkung dan persendiaannya membesar, mineralisasi tidak cukup pada jaringan
tulang, men ghasilkan tulang yang lunak sepanjang hidup. Defisiensi mineral pada kuda
dewasa menyebabkan tulang lemah dan bahaya pincang pada kaki yang berganti-ganti, kasus
yang berlanjut menghasilkan osteomalasia (pelemahan tulang).
Kelebihan kalsium atau fosfor pada pakan, efek merusaknya tidak begitu nampak bila
jumlah mineral lainnya cukup dalam pakan, kondisi yang parah terjadi bila jumlah yang
tinggi satu dari kedua mineral itu diberikan dengan jumlah mineral lainnya separuh atau
kurang dari yang seharusnya. Bila fosfor diberikan berlebihan dalam pakan, misalnya dua
kali jumlah kalsium pada periode lama, suatu kondisi irreversible yang
disebut hyperparathyroidism atau “big head” terjadi. Rendahnya level kalsium darah memicu
kelenjar parathyroid menyebabkan pengambilan kalsium dari tulang. Jaringan konektif
mengganti kalsium di dalam tulang, dan permukaan tulang membesar. Pemberian pakan
dengan biji-bijian atau seluruh pakan terdiri dari biji-bijian menyebabkan sebagian besar
kondisi big head. Kelebihan kalsium dan fosfor meninggalkan tubuh melalui feses, urin, dan
keringat.
Minor atau trace mineral. Ketika kebutuhan kalsium, fosfor, dan garam dicukupi,
masalah mineral pakan lainnya mudah untuk diselesaikan, kecuali kuda yang dipelihara
dengan pakan tinggi biji-bijian atau pakan dengan sedikit atau tanpa hijauan makanan ternak
(forage). Hay dan rumput biasanya mengandung sebagian besar mineral-mineral dalam
jumlah cukup untuk memenuhi kebutuhan hewan. Silase, tongkol jagung, dan pakan kasar
(rough feeds) lainnya kekurangan mineral-mineral tersebut.
Iod adalah bagian penting hormon tiroksin yang dihasilkan kelenjar tiroid untuk
mengkontrol kecepatan metabolisme, NRC memperkirakan kebutuhannya 1 mg per kg pakan
atau 1 bagian iod per 1 juta pakan. Iod menjadi toksik pada induk bunting pada level 48 mg
atau lebih setiap hari, menghasilkan anak kuda gondok. Baik kelebihan maupun kekurangan
iod menyebabkan pembesaran kelenjar tiroid, sering disebut gondok.
Besi Defisiensi besi menyebabkan anemia, zat besi sebagai bagian penting hemoglobin
dari sel-sel darah merah, dan membnatu membawa oksigen. Besi dapat direcycle dalam
tubuh. Kondisi yang menyebabkan anemia akibat defisiensi besi mungkin karena kehilangan
darah karena infestasi parasit internal. NRC menganjurkan pemberian 50 ppm untuk anak
kuda yang sedang tumbuh dan 40 ppm untuk kuda dewasa.
Level besi dalam serum darah sebenarnya sulit ditentukan, kuda menyimpan sejumlah
besar darah yang kaya besi di dalam spleen (limpa). Ketika kuda bekerja keras, limpa
berkontraksi untuk memompa sel-sel darah merah yang membawa oksigen ke dalam sistem
sirkulasi.
Sulfur adalah komponen dua asam amino, metionin dan sistin, konsumsi protein
berkualitas baik yang cukup semacam bungkil kedelai tidak akan kekurangan sulfur pakan.
Dalam Cobalt adalah penyusun penting vitamin B12, tetapi secara alam berlimpah dalam
pakan.

6) Vitamin
Untuk kuda yang tidak bekerja keras atau kondisi tidak ekstrim biasanya memiliki
lebih dari cukup kebutuhan vitamin dalam diet mereka, jika mereka menerima hijauan segar,
hijau/daun. Kadang-kadang suplemen vitamin yang dibutuhkan sudah tercukupi dari
makanan mereka, namun jika kuda berada di bawah stres (sakit, bepergian, kontes, balap, dan
sebagainya), atau tidak makan dengan baik, akan terjadi ketidakseimbangan nutrisi karena
makanan yg biasa mereka makan saja tidak mencukupi, disaat itulah mereka membutuhkan
suplemen khusus untuk mencegah ketidakseimbangan vitamin dan mineral.
Kuda membutuhkan vitamin untuk membantu proses metabolisme zat-zat makanan
dalam tubuh. Kuda butuh vitamin untuk mencapai kinerja puncak. Sebagian besar kebutuhan
vitamin kuda dipenuhi melalui jerami dan bijibijian. Jika kuda sedang makan buruk atau
rumput berkualitas rendah maka suatu vitamin kompleks seimbang harus ditambahkan dalam
pakan yang dikonsumsinya. Vitamin E dan vitamin B kompleks merupakan vitamin yang
diperlukan untuk memaksimalkan stamina dan fungsi otot sekitar 1000-2000IU, terutama
ketika peningkatan kadar lemak disediakan (Kohnke, 1992). Karena kuda mengkonsumsi
hijauan cukup tinggi maka kebutuhan vitamin sering diabaikan sebab sebagian vitamin yang
dibutuhkan tersedia dalam pakan hijauan, akan tetapi perlu diperhatikan kualitas hijauan
tersebut. Hijauan yang buruk kandungan vitamin rendah sehingga akan berdampak pada
defisiensi vitamin. Untuk itu perlu penambahan vitamin sebagai suplemen dalam pakan kuda.
Vitamin A disebut vitamin anti infeksi, penting untuk hidup pokok dan kesehatan sel-
sel epitel pada kulit, rambut, kuku, dan mata, lakrimasi atau berlinang air mata adalah satu
gejala awal defisiensi vitamin A. Gejala lainnya adalah infertilitas, buta malam, gangguan
pencernaan, sakit pernafasan, polyuria, dan keratinisasi kornea dan kulit.
Karoten, pigmen kuning didapatkan pada tanaman hijau yang sedang tumbuh, adalah
prekursor vitamin A dalam tubuh hewan, meskipun pigmen hijau pada tanaman menutupi
warna kuning karoten, rumput dan hay yang hijau karotennya tinggi. Konversi karoten
menjadi vitamin A oleh kuda tidak efisien, terutama karoten yang terdapat pada daun rumput.
NRC memperkirakan bahwa kebutuhan harian terhadap vitamin A adalah 12.500 IU untuk
seekor kuda dewasa.
Karena vitamin A sintetis sangat murah dan berlimpah, banyak pemilik kuda memberi
vitamin A melebihi kebutuhannya, satu sendok teh vitamin A, D, dan E dapat memberikan
40.000 IU vitamin A per hari, kuda dewasa yang dipelihara dengan hijauan dan hay yang
kaya vitamin A menyimpannya untuk supply vitamin A 3 hingga 6 bulan.
Vitamin D adalah vitamin yang penting untuk pertumbuhan tulang, vitamin D penting
untuk absorpsi, tarnsportasi, dan metabolisme kalsium dan fosfor. Vitamin D juga
membantu uptake mineral lain oleh tulang, dan berfungsi untuk sintesis kolagen, protein yang
mendukung (mempertahankan) sel. Pakan yang menyediakan 3300 IU per 1100pounds kuda
cukup untuk berbagai kondisi.
Hay yang kena sinar matahari adalah sumber vitamin D yang baik; sinar ultraviolet
mengkonversi dehidrokolesterol yang dihasilkan oleh tubuh menjadi vitamin D, kuda yang
dipelihara secara tertutup dengan pakan hay yang jelek menunjukkan gejala-gejala defisiensi
yaitu gaya berjalan yang kaku, sendi membengkak, dan penurunan kalsium dan fosfor serum.
Gejala-gejala itu berhubungan dengan penurunan kalsifikasi tulang. Gejala lebih lanjut adalah
riketsia (kaki bengkok) pada kuda muda dan osteomalasia (tulang lunak) pada kuda dewasa.
Vitamin K disintesis dalam jumlah cukup oleh mikroflora usus untuk memenuhi
kebutuhan kuda, fungsi utamanya dalam tubuh adalah untuk koagulasi darah dan mencegah
hemoragi. Hay berjamur mengandung dikumarol yang mengganggu fungsi vitamin A dalam
pembekuan darah.
Vitamin-vitamin larut air. Vitamin-vitamin B kompleks berlimpah dalam pakan yang
berkualitas, sintesis dalam usus mencukupi kebutuhan kuda. Perbandingan antara vitamin-
vitamin B pakan yang ditelan dan yang dikeluarkan dalam feses menunjukkan bahwa kuda
mengekskresikan lebih banyak vitamin daripada yang dimakan, kecuali kuda sedang stres.
Kuda-kuda yang sangat stres yaitu kuda pacu atau kuda tunggang memerlukan suplementasi
vitamin B. Vitamin yang disuplementasikan tidak mengandung antibiotik karena antibiotik
akan mengurangi produksi vitamin B dalam sekum dan kolon. Pembuat pakan kuda dan
sebagian besar ransum komersial sedikit atau tidak menggunakan suplementasi vitamin B.
Tiamin (B1) 3 mg per kg pakan setiap hari cukup baik untuk menjaga selera makan
dan pertambahan berat badan, para peneliti memperkirakan bahwa 25% tiamin dalam sekum
diabsorpsi kuda. Karena biji-bijian dan hijauan makanan ternak keduanya mengandung 3 mg
tiamin per kg, konsumsi pakan dilengkapi sintesis dalam usus mencukupi kebutuhan kuda
normal. Hay berkualitas rendah diberikan pada kuda dalam waktu lama dapat menyebabkan
defisiensi tiamin dengan gejala anorexia (nafsu makan buruk) dan kehilangan berat badan.
Riboflavin (B2) sebanyak 2,2 mg per kg berat badan cukup memuaskan, riboflavin
adalah faktor penting untuk sintesis karbohidrat dan asam-asam amino.
Niacin sebanyak 30 mg setiap hari cukup baik, vitamin ini disintesis dari triptofan.
Legum dan jamur adalah sumber niacin yang baik yaitu vitamin B12, piridoxin (B6), asam
folat, dan biotin disintesis oleh bagian belakang saluran pencernaan kuda.
Vitamin C tidak penting untuk kuda tetapi penting untuk manusia dan kera, vitamin ini
penting untuk sintesis kolagen dan kekuatan kapiler.

3.1.2 Bahan Pakan Konvensional


Pakan kuda konvensional adalah pastura dan hay yang keduanya sering
disebut rouhages, dan biji-bijian yang sering disebut konsentrat. Rouhages adalah bahan
pakan berserat tinggi dan nutrien tercerna rendah, seperti jerami. Kombinasi optimal kedua
jenis bahan pakan dan substitusi satu dengan yang lainnya tergantung pada kebutuhan kuda,
ketersediaan dan harga bahan pakan, dan penyimpanannya.

1) Pastura
Rumput adalah cara alami untuk memberi pakan kuda, tidak ada bahan pakan yang
lebih lengkap nutriennya daripada pastura hijau yang tumbuh di tanah subur. Rumput tidak
mahal, menyediakan air, mineral dan vitamin. Kuda yang bekerja keras memerlukan
tambahan energi pakan karena kandungan energi rumput rendah. Rumput kering biasanya
protein dan vitaminnya rendah, dan pastura yang padat memunculkan problem parasit.
Kuda lebih merusak pastura daripada sapi dengan merobek atau melobangi lempengan
rumput. Bila hanya tersedia 1 acre (0,4646 ha atau 4646 m2) setiap ekor kuda, area itu
mencukupi untuk exercise (gerak badan atau latihan) tetapi sedikit pakan yang tersedia, dan
kuda harus diberi pakan di kandang, minimal harus tersedia 2 acre untuk setiap kuda dewasa
agar sistem pastura berkembang dan mencukupi kebutuhan pakan, ruang latihan, dan kondisi
untuk mengkontrol parasit. Untuk mengkontrol parasit perlakuan obat-obatan harus dilakukan
dan kuda harus dirotasi dalam pastura.

2) Hay
Hay adalah pakan yang dihasilkan dengan mengeringkan forage hijau hingga
kandungan airnya 15 hingga 20%, hay berkualitas baik adalah bagian penting sebagian besar
pakan kuda. Ketika separuh atau lebih kebutuhan nitrien kuda dari hay berkualitas baik,
problem nutrisi hanya sedikit dan sebagian besar kuda dapat dipelihara tanpa bahan pakan
lainnya. Hanya kuda muda atau yang bekerja keras dan kuda laktasi yang memerlukan
tambahan nutrien.
Ada tiga tipe hay, yaitu legum, non-legum, dan campuran keduanya, legum
mempunyai nodule-nodule kecil pada akar-akarnya yang bersama bakteri menghasilkan
nitrogen tinggi atau kandungan protein pada daun-daunnya. Legum juga tinggi kalsium,
mineral-mineral, rasio daun-batang, dan palatabilitasnya. Legum menjadikan pakan kuda
lebih baik dan sebaik terdapat pada pakan kuda muda yang sedang tumbuh dan kuda bibit.
Legum lebih baik kandungan TDN, protein kasar, dan persentase kalsiumnya daripada non-
legum
Legum sebaiknya dilengkapi biji-bijian bila diberikan pada kuda yang memerlukan
kalsium dan fosfor tinggi, misalnya anak kuda yang sedang tumbuh atau induk menyusui,
karena baik legum maupun non-legum hampir sama kadar fosfornya dan kedewasaannya
menurunkan kadar nutriennya.
Terlalu banyak protein pada legum yang berkualitas daripada kebutuhan pembentukan
otot untuk kuda dewasa, kelebihan protein dipecah menjadi energi atau lemak, dan kelebihan
nitrogen (dari kelebihan protein) diekskresikan di dalam urin. Karena nitrogen berupa garam,
kuda harus minum lebih banyak air untuk menambah volume urin untuk mengeluarkan
kelebihan garam. Lagipula kuda dewasa yang seluruh pakannya hay legum kecuali mahal,
menyebabkan kegemukan, dan kandang harus sering dibersihkan.
Non-legum lebih mudah diawetkan daripada legum tanpa gangguan jamur karena
kepadatan daun lebih rendah, tetapi hampir seluruh non-legum dipanen terlambat untuk
menghasilkan produk yang berkualitas karena ingin menambah tonase, non-legum yang baik
adalah hay yang baik untuk kuda dengan jumlah cukup tanpa bahan pakan lain, tetapi protein,
kalsium, dan palatabilitasnya rendah bagi kuda sapihan dan kuda yang sedang tumbuh.
Meskipun hay berkualitas lebih baik penting bagi sebagian besar kuda, produksinya
sulit, hujan dapat mencuci nutrien dari tanaman, mengurangi pengeringan yang cukup dan
kondisi perawatan, dan meningkatkan pertumbuhan jamur bila hay disimpan dengan kadar air
lebih dari 20%. Hay yang telah kehujanan kehilangan beberapa daunnya dan banyak
kandungan vitamin A. Hay tersebut sebaiknya diberikan sapi yang mempunyai toleransi lebih
tinggi terhadap hay berjamur daripada kuda.
Tingkat umur tanaman mengurangi kecernaan hay karena kandungan nutrien batang
sangat berkurang ketika lignin dan selulosa bertambah, hay yang baik dibuat dari tanaman
yang dipanen sebelum berbunga atau awal berbunga.

3) Biji-Bijian
Kuda yang bekerja keras tidak dapat memenuhi kebutuhan energinya dengan makan
rumput atau hay saja, diperlukan biji-bijian untuk memenuhinya. Kuda ukuran sedang yang
bekerja keras memerlukan 12-15 pounds biji-bijian dan sejumlah hay setiap hari untuk
menjaga berat tubuhnya, sedangkan kuda dewasa yang malas dapat menjadi gemuk dengan
makan rumput dan hay saja. Sebaiknya, biji-bijian dikurangi hingga separuhnya hari-hari
kuda sedang tidak bekerja dan hay ditambah, tetapi penggantiannya berangsur-angsur.
Rata-rata kandungan protein biji-bijian antara 8 - 13% dan rendah kalsium, biji-biji
tanaman tinggi kadar lemaknya tetapi kekurangan vitamin dan mineral. Hay biasanya tinggi
kadar vitamin dan mineralnya. Hay dan biji-bijian saling melengkapi.

3.1.3 Konsumsi dan Kecernaan Zat-zat Makanan


Jumlah konsumsi pakan merupakan salah satu faktor yang menentukan banyaknya zat-
zat makanan yang dikonsumsi. Church dan Pond (1988), mengemukakan bahwa jumlah
konsumsi pakan ditentukan oleh umur dan sifat fisik pakan serta keadaan fisiologis ternak
dan keadaan lingkungan sekitarnya. Harper dan Ralph (2007) mengemukakan pada musim
panas dengan intensitas kerja yang tinggi membutuhkan asupan pakan, terutama energi yang
lebih tinggi dibandingkan dengan kondisi lingkungan normal, demikian pula dengan
peningkatan kinerja dari latihan dimana latihan dengan jarak galloping 3 mil kebutuhan
energi 22,5 Mkal per hari dan meningkat menjadi 30 Mkal perhari pada jarak latihan
galloping 6 mil per hari. Adapun sumber pakan yang diberikan berasal dari jerami maupun
biji-bijian, dengan jumlah konsumsi jerami 1,75 kg dengan pemberian 3 kali sehari yang
bertujuan untuk menjaga kondisi kuda supaya tidak gemuk. Pilliner (1992) menyatakan, kuda
yang memiliki tinggi 152- 162 cm dan bobot 500 kg dengan tingkat kerja cepat atau pacuan,
rasio hijauan:konsentrat yang diberikan adalah 30:70 atau dalam satuan kilogram kirakira 3,5
kg hijauan dan 8,5 kg konsentrat. Saastamoinen (1993) mengemukakan, konsumsi pakan
untuk kuda kerja dan induk bunting adalah 1,6-1,8 % dari bobot badan dan untuk menyusui
2-3,5% dari bobot badan. Selanjutnya Burba (2007) mengemukakan, kuda dan anggota lain
dari genus Equus diadaptasi oleh biologi evolusioner untuk makan dalam jumlah kecil dari
jenis makanan yang sama sepanjang hari. Di alam liar, kuda makan rumput di padang rumput
di daerah semi-kering dan jarak yang signifikan dalam perjalanan setiap hari untuk
mendapatkan nutrisi yang cukup. Oleh karena itu, sistem pencernaan mereka dibuat bekerja
dengan baik dengan aliran makanan kecil tapi stabil dan tidak banyak berubah dari hari ke
hari. Setiap individu kuda pada situasi yang ideal, maka program pemberian pakan untuk
masing-masing kuda harus dikembangkan dengan tujuan untuk memenuhi kebutuhan
individu. Oleh sebab itu kesempatan untuk memilih makanan yang ia sukai tentu merupakan
suatu hal yang sangat efektif. Gallagher et al, (1992) mengemukakan bahwa rata-rata
konsumsi pakan yang diberikan secara as fed basic adalah 16,1 kg. Pendugaan konsumsinya
adalah 14,4 kg dengan persentase hijauan 35% dan konsentrat 65%. Berdasarkan metode as
fed basic tersebut diatas, maka Front Runner pada tahun 2009 telah mengembangkan
program pemberian pakan menurut umur, jumlah kebutuhan serta tingkat kinerja kuda, sebab
dengan program yang baik pada pemberian pakan akan memperoleh hasil yang maksimal
pada saat dipacu. Lebih lanjut dikemukakan suatu program pemberian makanan yang baik
untuk kesenangan kuda yakni memberi makan dengan jumlah pakan yang sesuai kebutuhan
untuk pemeliharaan, seperti butiran banyak diperlukan dalam ransum sebagai sumber energi
untuk bekerja. Sebab hanya dengan memberikan pakan hijauan maka kecukupan energi untuk
kinerja kuda tidak akan terpenuhi karena konsumsi pakan hijauan pada kuda terbatas sesuai
dengan anatomi sistem pencernaannya. Frape (2004) menyatakan, pemberian pakan pada
kuda untuk pacuan memerlukan waktu 8-12 minggu untuk pemberian pakan khusus, dimulai
dengan pemberian pakan konsentrat 5 kg setiap hari dan selesai pemberian pada 2 bulan
berikutnya 8-8,5 kg, dimana sepertiga diberikan pada pagi hari dan dua per tiga diberikan
pada malam hari dan untuk pakan hay 5 sampai 5,5 kg per hari.

DAFTAR PUSTAKA
Burba JD. 2008. The Dilemma of Bucked Shins in the Racehorse. DVM, Diplomate ACVS
Professor, Equine Surgery Equine Health Studies Program LSU School of Veterinary
Medicine.

Church DC, Pond WG. 1988. Basic Animal Nurtrition and Feeding. John Wiley and Sons.
Toronto.

Clayton HM. 1991. Conditioning Sport Horses. Canada; Sport Horse Publication. Coyle,
E.F.,(1984) Ergogenic aids. Clinical Sport Medicine 3 (3), pp 731.

Duberstein JK, Johnson ED. 2009. How to Feed a Horse: Understanding Basic Principles of
Horse Nutrition. The University of Georgia and Ft. Valley State University, the U.S.
Department of Agriculture and counties of the state cooperating.

Frape D. 2004 Equine Nutrition and Feeding. Churcill Livington Inc. New York.

Gallagher K, Leech J, Stowe H. 1992. Protein, energy and dry matter consumption by racing
standartbred : a field survey. Department of Animal Clinical Science, Colage of
Veterinary Medicine, Michigan State University, East Lansing. USA.

Harper F, Ralf H. 2007. Products containing amitraz not for use on horses. Equine Veterinary
Journal, 270.

Hintz HF, Schryver HF. 1972. Availability to ponies of calcium and phosphorus from various
supplements. J. Anim. Sci. 34:979.

Hintz HF, Schryver, HF, Halbert M. 1973. A note on the comparison of digestion by new-
world camels, sheep and ponies. Animal Production 16, 303–305.

Kohnke J. 1992. Feeding and Nutrition, The making of campion. Australia; Birubi Pacific.

Lodewyk Revly Tulung, Yohannis. 2012. Kebutuhan Energi Dan Nutrien Kuda Pacu
Indonesia Dan Aplikasi Pada Formulasi Ransum Berbasis Pakan Lokal. Sekolah
Pascasarjana Institut Pertanian Bogor. Bogor

Meyer H, Coenen M. 2002. Feeding horses. Blackwell Science Publishing. Berlin-Wien, 4th
Edition, p. 59.

Pilliner S. 1992. Horse Nutrition and Feeding. Blackwell Science Ltd, London.
Saastamoinen M. 1993. Feed energy and protein intakes of horses a review of finish feeding
trials. Abst. Agricultural Research Centre of Finland, Equine Research Station, 32100
Ypaya, Finland.

SAP-Indonesia. 2015. Panduan Nutrisi Lengkap Untuk Kuda. http://sap-


indonesia.com/index.php/2015/07/06/nutrisi-penting-pada-kuda/. (diakses pada
tanggal 30 April 2016).