Anda di halaman 1dari 33

LAPORAN TUTORIAL

Skenario 1 Blok 15 : Perawatan Penyakit dan Kelainan Gigi


Gasal 2018-2019
Tutor : drg. Nadie Fatimatuzzahro, M.DSc

Oleh Kelompok Tutorial XI


Ketua : Rizky Kurniawan (NIM : 161610101103)
Sekertaris : Syeifira Salsabila (NIM : 161610101108)
Anggota : Astrid Ganadya (NIM : 161610101101)
Pintan Qorina D. (NIM : 161610101102)
Paramadiva Zefina P. (NIM : 161610101104)
Ajeng N. A. (NIM : 161610101105)
Aisya Nurrachma (NIM : 161610101106)
Dhilan Purna Aji (NIM :161610101107)
M. Bintang Menara (NIM : 161610101109)
Marisa Icha Aisya (NIM : 161610101110)

FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI


UNIVERSITAS JEMBER
2018
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT atas segala rahmat dan hidayah – NYA sehingga kami
dapat menyelesaikan tugas laporan tutorial. Laporan ini disusun untuk memenuhi step 7 dalam
seven jump steps yaitu melaporkan hasil diskusi kelompok turorial XI dalam skenario pertama
Blok 15 Perawatan Penyakit dan Kelainan Gigi Semester Gasal 2018-2019.

Penulisan laporan ini semuanya tidak lepas dari bantuan berbagai pihak, oleh karena itu
penulis ingin menyampaikan terimakasih kepada:

1. drg. Nadie Fatimatuzzahro, M.DSc selaku tutor yang telah membimbing jalannya diskusi
tutorial kelompok XI Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Jember dan memberi masukan
yang membantu bagi pengembangan ilmu yang telah didapatkan.

2. Semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan laporan ini.

Dalam penyusunan laporan ini tidak lepas dari kekurangan dan kesalahan. Oleh karena
itu, kritik dan saran yang membangun sangat penulis harapkan demi perbaikan – perbaikan di
masa yang akan datang demi kesempurnaan laporan ini. Semoga laporan ini dapat berguna bagi
kita.

Jember, 2 September 2018

Tim Penyusun
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL i

KATA PENGANTAR ii

DAFTAR ISI iii

SKENARIO 1

STEP 1 Clarifying Unfamiliar Terms 1

STEP 2 Problem Definition 1

STEP 3 Brainstorm 2

STEP 4 Mapping 3

STEP 5 Formulating Learning objects 3

STEP 6 Self Study 4


1. Macam-macam pemeriksaan dan interpretasi yang dilakukan untuk
menegakkan diagnosis
2. Pulpitis reversible dan pulpitis irreversible
3. Mahasiswa mampu memahami dan menjelaskan prosedur perawatan
(alat, bahan, dan tahapan) pulp capping
4. Hal-hal yang dilakukan pada saat kontrol

DAFTAR PUSTAKA iv
SKENARIO 2 : Wax

Seorang laki-laki usia 25 tahun datang ke RSGM bagian Konservasi Gigi ingin
merawatkan gigi belakang bawah kiri yang berlubang sejak 1 tahun yang lalu. Penderita
mengeluh gigi terasa ngilu bila dibuat minum dingin dan nyeri saat kemasukan makanan.
Berdasarkan pemeriksaan obyektif didapatkan tampak gigi 26 karies profunda, tes vitalitas
positif, tekanan dan perkusi negatif. Hasil pemeriksaan radiografik tampak selapis tipis dentin
dan keadaan jaringan periodontal baik. Diagnosa kasus tersebut adalah pulpitis reversible pada
26 dan akan dilakukan perawatan. Apa rencana perawatan yang tepat untuk kasus tersebut.

STEP 1
Clarifying Unfamiliar Terms

1. Pulpitis reversible = nyeri pulpa karena inflamasi, namun apabila penyebabnya


dihilangkan, pulpa kembali normal
2. Karies profunda = karies yang mengenai setengah dentin kadang sampai ke pulpa
3. Tes vitalitas = untuk mengetahui jaringan saraf yang menghantar ke gigi tersebut atau
tidak.
4. Tes perkusi = tes dengan cara menggunakan instrumen kaca mulut diketukkan untuk
memprediksi kerusakan jaringan periradikuler.
5. Tes tekanan = gigi ditekan untuk mengetahui jaringan periradikuler dan adanya fraktur
akar
STEP 2
Problem definition

1. Vitalitas positif dan tekanan dan perkusi negatif, apa maksudnya?


2. Apa peran pemeriksaan radiografi untuk kasus di skenario?
3. Apakah ada tes lain untuk menentukan diagnosis dari skenario?
4. Hal apa saja yang perlu diperhatikan dalam kasus pada skenario?
5. Menggunakan direct pulp capping atau indirect pulp capping?
6. Bagaimana langkah-langkah perawatan pulp capping?
7. Apakah ada perawatan selain pulp capping yang dapat digunakan?

STEP 3
Brainstorm

1. Tes vitalitas digunakan untuk mengetahui apakah giginya masih vital atau sudah nekrosis
pulpa, biasanya tes termal (panas/dingin). Positif artinya giginya masih vital, infeksi dari
karies belum merusak pulpanya, giginya masih bisa dipertahankan. Tes perkusi untuk
mengetahui apakah jaringan periodontal masih sehat. Tes perkusi negatif artinya jaringan
periodontal masih sehat. Respon dari pasien, kalau stimulus membuat nyeri artinya masih
vital. Tes perkusi oklusal = jaringan periapikal, horizontal atau bukolingual = memeriksa
jaringan periodontal. Jika nyeri, artinya positif, artinya ada kelainan. Tes tekan fungsinya
untuk memeriksa jaringan peripaikal dan fraktur akar, hampir sama dengan tes perkusi,
hanya caranya dengan menggigit alat instrumen atau ditekan dengan jari.
2. Untuk melihat struktur gigi seperti selapis tipis dentin atau sudah mencapai ke pulpa,
sehingga kedalaman karies dapat dilihat. Untuk menentukan akan dilakukan perawatan
pulp capping direct atau indirect. Untuk menegakkan diagnosis sehingga menentukan
perawatan serta hasil perawatan selanjutnya.
3. Tes lain untuk menegakkan diagnosa yaitu tes visual dengan kaca mulut dan eksplorer
untuk melihat keterlibatan pulpa, fraktur gigi, dan kerusakan restorasi. Tes subjektif
anamnesis nyerinya seperti apa, kalau bengkak menentukan keparahan penyakit.
pemeriksaan objektif terdiri dari pemeriksaan IO dan EO, sedangkan pemeriksaan
subjektif seperti menganamnesa identitas dan kebiasaan tertentu pasien.
4. Hal hal yang perlu diperhatikan pada saat perawatan pulp capping
a. Ukuran pulpa yang terbuka
b. Lokasi pulpa yang terbuka
c. Kontrol perdarahan (direct), apabila darah berlebih akan menjadi barrier sehingga
bahan pulp capping tidak menyatu
d. Kontaminasi saliva dan bakteri (direct), saliva sama seperti perdarhan, bagian yang
dekat pulpa lebih sedikit kontaminasi bakterinya.
e. Fragmen dentin ; saat preparasi akan terbentuk fragmen dentin, apabila tidak
dibersihkan perawatan menjadi tidak sempurna
Bahan yang sering digunakan
a. Zinc oxide eugenol = baik untuk restorasi sementara, permanen kurang efektif karena
bersifat toxic
b. MTA = efektif sebagai capping pulp karena tidak punya efek samping, biasanya
membantu membentuk jaringan ikat.
c. RMGIC = mengurangi kebocoran mikro
d. CaOH = yang sekarang digunakan. Prinsip perawatan pulpitis reversible yaitu
merangsan dentin sekunder, CaOH kompatibel dengan rongga mulut.
5. Indirect pulp capping karena Karies profunda klas II belum perforasi ke pulpa. Belum
ada gejala dan radiografi masih ada selapis tipis dentin. (PR)
6. DIRECT : Sekali kunjungan, digunakan untuk pembusukan pulpa yang mendalam tapi
tidak infeksi
a. Cotton roll dipasang unuk mencegah kontaminasi bakteri pada karies
b. Membuka kavitas dengan round bur, jangan sampai menghilangkan selapis tipis
dentin yang tersisa. Apabila perdarahan, dihentikan dulu perdarahan.
c. Membuang jaringan karies dengan menggunakan ekskavator
d. Kavitas disterilkan dengan cairan salisil. Jangan pakai alkohol karena dapat
menyebabkan dehidrasi cairan tubulus dentin.
e. Diberi ZOE menggunakan cotton palate pada kavitas.
f. Di atas pulpa yang masih terbuka, diberi preparat CaOH hard setting (bahan ebih cepat
mengeras karena one visit). PR : mengapa menggunakan tambalan sementara
padahal one visit?
g. Kemudian ZOE, kemudian semen pospat, dan ditambal sementara.
INDIRECT
a. Foto radiografi
b. Isolasi area kerja dengan rubber dam untuk mengurangi kontaminasi saliva
c. Membuka kavitas dengan round bur, jangan sampai menghilangkan selapis tipis
dentin yang tersisa.
d. Membuang jaringan karies dengan menggunakan ekskavator
e. Kavitas disterilkan dengan cairan salisil. Jangan pakai alkohol karena dapat
menyebabkan dehidrasi cairan tubulus dentin.
f. Dikeringkan menggunakan paper point untuk menyerap cairan
g. Pelapisan dengan sub base, dengan CaOH karena merangsang dentin tersier
h. ZOE untuk restorasi sementara
i. Kenjungan ke dua, kalau tidak ada keluhan, buka sub base kemudian lakukan
tumpatan permanen
7. Kalau tidak memungkinkan pulp capping boleh dilakukan perawatan lain seperti cabut
gigi daripada infeksi semakin dalam.
8. PR : pulpitis irreversible
STEP 4
Mapping

Pemeriksaan

Subjektif Objektif Penunjang

Diagnosis

Perawatan

Pulp Capping

Direct Indirect

• Prosedur perawatan
• Indikasi dan kontra indikasi

Kontrol
STEP 5
Formulating learning object

1. Mahasiswa mampu memahami dan menjelaskan macam-macam pemeriksaan dan


interpretasi yang dilakukan untuk menegakkan diagnosis.
2. Mahasiswa mampu memahami dan menjelaskan mengenai pulpitis reversible dan pulpitis
irreversible.
3. Mahasiswa mampu memahami dan menjelaskan prosedur perawatan (alat, bahan, dan
tahapan) pulp capping.
4. Mahasiswa mampu memahami dan menjelaskan hal-hal yang dilakukan pada saat kontrol.

STEP 6
Self Study

5. Macam-macam pemeriksaan dan interpretasi yang dilakukan untuk menegakkan


diagnosis
Jenis Pemeriksaan di Bidang Kedokterang Gigi
a. Pemeriksaan subyektif
Pemeriksaan subyektif dilakukan dengan cara menanyakan atau anamnesa kondisi
pasien dan pasieen harus mendeskripsikan dengan jelas dan pasti agar tidak salah
dalam informasi (Kartika,2010). Pertanyaan yang dapat ditanyakan antara lain:

1. Ada keluhan (nyeri)


2. Keluhan di bagian mana
3. Ada riwayat kesehatan (hipertensi dan diabtees)
4. Kondisi psikologis
5. Kesehatan gigi masa lalu
b. Pemeriksaan obyektif
Pemeriksaan obyektif adalah gabungan informasi obyektif pasien yang dapat diperoleh
dengan melihat atau memeriksa keadaan pasien secara langsung. Teknik pemeriksaan
yang dapat dilakukan antara lain auskultasi, palpasi, dan inspeksi (Kartika,2010).
Inspeksi merupakan pemeriksaan dengan cara melihat atau melakukan observasi
terhadap kondisi rongga mulut pasien. Tujuan dari teknik ini adalah mendeteksi tanda
– tanda fisik yang berhubungan dengan status rongga mulut. Inspeksi dilakukan
dengan menggunakan kaca mulut (Triharsa,2013).

Palpasi merupakan teknik pemeriksaan dengan sentuhan ataupun rabaan dengan


sedikit tekanan pada bagian rongga mulut yang akan diperiksa dan harus dilakukan
secara terorganisir dari satu bagian ke bagian lain. Tujuan dari pemeriksaan ini adalah
untuk mendeterminasi ciri – ciri jaringan atau organ. Untuk pemeriksaan dapat
dilakukan bersamaan dengan teknik inspeski atau perkusi (Triharsa,2013).

Auskultasi merupakan pemeriksaan dengan cara mendengarkan suara pada sendi


temporomandibular. Alat yang digunakan adalah stetoskop. Apabila terdengar suara
seperti clicking, krepitasi maupun popping maka dapat didiagnosis TMJ sedang
mengalami kelainan (Triharsa,2013).

Jenis – jenis pemeriksaan obyektif antara lain :

a. Pemeriksaan ekstra oral (EO) merupakan pemeriksaan yang dilakukan di daerah


sekitar mulut bagian luar yang meliputi bibir, TMJ, kelenjar limfe, hidung, mata,
telinga, wajah, kepala dan leher. Pemeriksaan EO dilakukan untuk mendeteksi
adanya kelainan yang terlihat secara visual atau terdeteksi dengan palpasi seperti
adanya kecacatan, pembengkakan, benjolan luka, cedera, memar, fraktur dislokasi
dan lai – lain.
b. Pemeriksaan Intra Oral pada dasarnya sama seperti pemeriksaan ekstraoral, yaitu
pemeriksaan dilakukan dengan inspeksi pada bagian intra oral pasien
menggunakan kaca mulut, palpasi pada bagian intra oral pasien serta perkusi
pada beberapa gigi pasien yang diduga adanya kelainan yang terjadi.
Perkusi
Hal yang perlu diperhatikan dan dicatat dalam pemeriksaan perkusi adalah : nyeri
terhadap pukulan (tenderness to percussion) dan bunyi (redup/dull dan
nyaring/solid metalic). Perkusi dilakukan dengan cara memberi pukulan cepat
tetapi tidak keras dengan menggunakan ujung jari, kemudian intensitas pukulan
ditingkatkan. Selain menggunakan ujung jari pemeriksaan ini juga sering
dilakukan dengan menggunakan ujung instrumen. Terkadang pemeriksaan ini
mendapatkan hasil yang bias dan membingungkan penegakan diagnosa. Cara lain
untuk memastikan ada tidaknya kelainan yaitu dengan mengubah arah pukulannya
yaitu mula-mula dari permukaan vertikal-oklusal ke permukaan bukal atau
horisontal-bukolingual mahkota.

Gigi yang memberikan respon nyeri terhadap perkusi vertikal-oklusal


menunjukkan kelainan di periapikal yang disebabkan oleh lesi karies. Gigi yang
memberikan respon nyeri terhadap perkusi horisontal-bukolingual menunjukkan
kelainan di periapikal yang disebabkan oleh kerusakan jaringan periodontal. Gigi
yang dipukul bukan hanya satu tetapi gigi dengan jenis yang sama pada regio
sebelahnya. Ketika melakukan tes perkusi dokter juga harus memperhatikan
gerakan pasien saat merasa sakit (Grossman, dkk, 1995).

Bunyi perkusi terhadap gigi juga akan menghasilkan bunyi yang berbeda. Pada
gigi yang mengalami ankilosis maka akan terdengar lebih nyaring (solid metalic
sound) dibandingkan gigi yang sehat. Gigi yang nekrosis dengan pulpa terbuka
tanpa disertai dengan kelainan periapikal juga bisa menimbulkan bunyi yang lebih
nyaring dikarenakan resonansi di dalam kamar pulpa yang kosong. Sedangkan
pada gigi yang menderita abses periapikal atau kista akan terdengar lebih redup
(dull sound) dibandingkan gigi yang sehat. Gigi yang sehat juga menimbulkan
bunyi yang redul (dull sound) karena terlindungi oleh jaringan periodontal. Gigi
multiroted akan menimbulkan bunyi yang lebih solid daripada gigi berakar
tunggal (Miloro, 2004)

Sondasi
Sondasi merupakan pemeriksaan menggunakan sonde dengan cara menggerakkan
sonde pada area oklusal atau insisal untuk mengecek apakah ada suatu kavitas atau
tidak. Nyeri yang diakibatkan sondasi pada gigi menunjukkan ada vitalitas gigi
atau kelainan pada pulpa. Jika gigi tidak memberikan respon terhadap sondasi
pada kavitas yang dalam dengan pulpa terbuka, maka menunjukkan gigi tersebut
nonvital (Tarigan, 1994).

Probing
Probing bertujuan untuk mengukur kedalaman jaringan periodontal dengan
menggunakan alat berupa probe. Cara yang dilakukan dengan memasukan probe
ke dalam attached gingiva, kemudian mengukur kedalaman poket periodontal dari
gigi pasien yang sakit (Grossman, dkk, 1995).

Tes mobilitas – depresibilitas


Tes mobilitas dilakukan untuk mengetahui integritas apparatus-aparatus pengikat
di sekeliling gigi, mengetahui apakah gigi terikat kuat atau longgar pada
alveolusnya. Tes mobilitas dilakukan dengan menggerakkan gigi ke arah lateral
dalam soketnya dengan menggunakan jari atau tangkai dua instrumen. Jumlah
gerakan menunjukkan kondisi periodonsium, makin besar gerakannya, makin
jelek status periodontalnya. Hasil tes mobilitas dapat berupa tiga klasifikasi derajat
kegoyangan. Derajat pertama sebagai gerakan gigi yang nyata dalam soketnya,
derajat kedua apabila gerakan gigi dalam jarak 1 mm bahkan bisa bergerak dengan
sentuhan lidah dan mobilitas derajat ketiga apabila gerakan lebih besar dari 1 mm
atau bergerak ke segala arah. Sedangkan, tes depresibilitas dilakukan dengan
menggerakkan gigi ke arah vertikal dalam soketnya menggunakan jari atau
instrumen (Burns dan Cohen, 1994).

Tes vitalitas
Tes vitalitas merupakan pemeriksaan yang dilakukan untuk mengetahui apakah
suatu gigi masih bisa dipertahankan atau tidak. Tes vitalitas terdiri dari empat
pemeriksaan, yaitu tes termal, tes kavitas, tes jarum miller dan tes elektris.
• Tes termal, merupakan tes kevitalan gigi yang meliputi aplikasi panas dan
dingin pada gigi untuk menentukan sensitivitas terhadap perubahan termal
(Grossman, dkk, 1995).
• Tes dingin, dapat dilakukan dengan menggunakan berbagai bahan, yaitu etil
klorida, salju karbon dioksida (es kering) dan refrigerant (-50oC). Aplikasi tes
dingin dilakukan dengan cara sebagai berikut.
o Mengisolasi daerah gigi yang akan diperiksa dengan menggunakan
cotton roll maupun rubber dam
o Mengeringkan gigi yang akan dites.
o Apabila menggunakan etil klorida maupun refrigerant dapat dilakukan
dengan menyemprotkan etil klorida pada cotton pellet.
o Mengoleskan cotton pellet pada sepertiga servikal gigi.
o Mencatat respon pasien.
Apabila pasien merespon ketika diberi stimulus dingin dengan keluhan nyeri
tajam yang singkat maka menandakan bahwa gigi tersebut vital. Apabila
tidak ada respon atau pasien tidak merasakan apa-apa maka gigi tersebut
nonvital atau nekrosis pulpa. Respon dapat berupa respon positif palsu
apabila aplikasi tes dingin terkena gigi sebelahnya tau mengenai gingiva
(Grossman, dkk, 1995). Respon negatif palsu dapat terjadi karena tes dingin
diaplikasikan pada gigi yang mengalami penyempitan (metamorfosis
kalsium).

c. Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan pnenunjang adalah pemeriksaan lanjutan yang dilakukan setelah
pemeriksaan fisik pada penderita. Untuk lesi-lesi jaringan lunak mulut, pemeriksaan
penunjang yang dapat dilakukan antara lain pemeriksaan radiologi, biopsi (eksisi dan
insisi: scalpel, punch, needle, brush, aspirasi), pemeriksaan sitologi, pemeriksaan
mikrobiologi dan pemeriksaan darah.

Ada beberapa teknik radiologi yang dapat dilakukan untuk melihat gambaran rongga
mulut, tergantung pada jenis lesi yang ditemukan, foto periapikal, bitewing, oklusal,
dan panoramik. Pemeriksaan penunjang adalah pemeriksaan radiografi, yang bertujuan
untuk melihat keadaan ruang pulpa, keadaan saluran akar, keadaan periapikal, keadaan
jaringan periodontal, dan mendukung tes jarum Miller. Pemeriksaan radiografi penting
untuk membantu dokter gigi dalam menegakkan diagnosa, rencana perawatan dan
monitor selama perawatan / perkembangan lesi (Supriyadi,2012).

Pemeriksaan radiograf berguna dalam menentukan perawatan darurat yang tepat,


memberikan banyak informasi mengenai ukuran, bentuk dan konfigurasi sistem
saluran akar. Pemeriksaan radiograf mempunyai keterbatasan, penting diperhatikan
bahwa lesi periradikuler mungkin ada, tetapi tidak terlihat pada gambar radiograf
karena kepadatan tulang kortikal, struktur jaringan sekitarnya atau angulasi film.
Demikian pula, lesi yang terlihat pada film, ukuran radiolusensinya hanya sebagian
dari ukuran kerusakan tulang sebenarnya (Apriyono, 2010).
Penegakan Diagnosis
1. Keluhan Utama
Keluhan utama pada umumnya merupakan informasi pertama yang dapat diperoleh.
Keluhan ini berupa gejala atau masalah yang dirasakan pasien dalam bahasanya sendiri
yang berkaitan dengan kondisi yang membuatnya cepat-cepat dating mencari perawatan.
Keluhan utama hendaknya dicatat dengan bahasa apa adanya menurut pasien. (Walton &
Torabinejad, 1997 : 72)
2. Riwayat Kesehatan Umum
Suatu riwayat kesehatan umum yang lengkap bagi pasien terdiri atas data demografis rutin,
riwayat medis, riwayat dental, keluhan utama, dan sakit yang sekarang diderita.
a. Data Demografis
Data demografis mengidentifikasi karakteristik pasien.
b. Riwayat Medis
Karena suatu riwayat medis tidak dimaksudkan sebagai pemeriksaan klinis lengkap,
pertanyaan medis janganlah terlalu luas. Buatlah formulir pemeriksaan yang berisi
penyakit serius yang sedang dan pernah dialami. Jika ditemukan adanya penyakit fisik
atau psikologis yang parah atau penyakit yang masih diragukan yang mungkin
mengganggu diagnosis dan perawatan kita, lakukanlah pemeriksaan lebih lanjut dan
konsultasikan dengan profesi kesehatan lainnya.
c. Riwayat Dental
Riwayat dental merupakan ringkasan dari penyakit dental yang pernah dan sedang
diderita. Informasi ini menyediakan informasi yang sangat berharga mengenai sikap
pasien terhadap kesehatan gigi, pemeliharaan, serta perawatannya. Infromasi
demikian tidak hanya berperan penting dalam penegakan diagnosis, melainkan
berperan pula pada rencana perawatan. Kuesionernya hendaknya berisikan pertanyaan
mengenai gejala dan tanda, baik kini maupun di masa lalu. Pengambilan riwayat
dental ini merupakan langkah teramat penting dalam menentukan diagnosis yang
spesifik.(Walton & Torabinejad, 1997 : 72-73)
3. Pemeriksaan Subyektif
Sejumlah infromasi rutin yang berkaitan dengan data pribadi, riwayat medis, dan riwayat
dental serta keluhan utama didapatkan dari pemeriksaan subyektif. Banyak pasien yang
menunjukkan tingkatan nyeri yang jelas dan merasa tertekan. Pada umumnya nyeri dan
ketidaknyamanan yang disebabkan oleh penyakit pulpa dan periradikuler yang parah dapat
mempengaruhi kondisi fisik pasien. Pertanyaan yang diajukan adalah mengenai lokasi,
asal nyeri, karakter dan keparahan nyeri yang dialami. Kemudian pertanyaan lanjutan
mengenai spontanitas dan durasi nyeri, serta stimulus yang merangsang atau meredakan
nyeri. Keparahan rasa nyeri dan obat-obatan yang diminum pasien untuk meredakan nyeri
dan keefektifannya juga perlu diketahui.
Makin intens nyerinya, makin besar kemungkinan adanya penyakit irreversible. Nyeri
intens dapat timbul dari pulpitis ieversible atau dari periodontitis atau abses apikalis akut.
Nyeri spontan yang bersama dengan nyeri intens juga mengindikasikan adanya penyakit
pulpa atau periradikuler yang parah. (Walton & Torabinejad, 1997 : 73-75)
4. Pemeriksaan Obyektif
Pemeriksaan ekstraoral Penampilan umum, tonus otot, asimetri fasial, pembengkakan,
perubahan warna, jaringan parut ekstraoral, dan kepekaan atau nodus jaringan limfe
servikal atau fasial yang membesar, merupakan indokator status fisik pasien. Pemeriksaan
ekstraoral yang hati-hati akan membantu mengidentifikasi sumber keluhan pasien serta
adanya dan luasnya reaksi inflamasi rongga mulut.
a. Pemeriksaan intraoral
Bibir, mukosa oral, pipi, lidah, palatum, dan otot-otot serta semua keabnormalan
diperiksa. Periksa pula mukosa alveolar dan gingival-cekatnya untuk memeriksa
apakah ada perubahan warna, terinflamasi mengalami ulserasi, atau mempunyai
saluran sinus. Suatu stoma saluran sinus biasanya menandakan adanya pulpa nekrosis
atau periodontitis apikalis supuratif atau kadang-kadang abses periodontium.
Gigi geligi diperiksa untuk mengetahui adanya perubahan warna, fraktur, abrasi, erosi,
karies, restorasi yang luas, atau abnormalitas lain. Mahkota yang berubah warna
sering merupakan tanda adanya penyakit pulpa atau merupakan akibat perawatan
saluran akar yang telah dilakukan sebelumnya.
b. Tes klinis
Tes klinis meliputi tes dengan menggunakan kaca mulut dan sonde serta tes
periodontium selain tes pulpa dan jaringan periapeks. Hasil satu tes harus
dikonfirmasikan dengan tes tambahan yang lain. Penting untuk diingat bahwa tes-tes
ini bukan tes untuk gigi melainkan tes mengenain respons pasien terhadap berbagai
stimuli. Pasien mungkin tidak memahami arti stimuli atau salah
menginterpretasikannya. Oleh karena itu, hasil tes obyektif dan subyektif dan tanda
yang ditemukan tidak konsisten sehingga kadang –kadang membingungkan. (Walton
& Torabinejad, 1997 : 77-78)
5. Tes Periapeks
a. Perkusi
Perkusi dapat menentukan ada tidaknya penyakit periradikuler. Respons positif yang
jelas menandakan adanya inflamasi periodontium. Karena perubahan inflamasi dalam
ligament periodontium tidak selalu berasal dari pulpa dan dapat diinduksi oleh
penyakit periodontium, hasilnya harus dikonfirmasikan dengan tes yang lain. Cara
melakukan perkusi dengan mengetukan ujung kaca mulut yang dipegang paralel atau
tegak lurus terhadap mahkota pada permukaan insisal atau oklusal mahkota.
b. Palpasi
Seperti halnya perkusi, palpasi menentukan seberapa jauh proses inflamasi meluas
kearah periapeks. Respon positif menandakan adanya inflamasi periradikuler. Palpasi
dilakukan dengan menekan mukosa di atas apeks dengan cukup kuat. Pemeriksaan
hendaknya memakai juga gigi pembanding.
c. Tes kevitalan pulpa
Tes dingin menggunakan larutan chlor etil yang dibasahkan pada cotton palate.
Respon nyeri tajam dan sebentar akan timbul baik pada pulpa normal, pulpitis
reversible maupun irreversible. Akan tetapi jika responnya cukup intens dan
berkepanjangan, pulpa biasanya telah mengalami peradangan irreversible. Sebaliknya
jika pulpa nekrosis tidak akan memberikan respon.
Tes panas menggunakan gutta percha yang dipanaskan dan diaplikasikan pada
permukaan fasial. Seperti halnya pada tes dingin, nyeri tajam dan sebentar
menandakan pulpa vital atau peradangan reversible. Respon hebat dan tidak cepat
hilang adalah pulpitis irreversible. Jika tidak ada respon menandakan pulpanya
nekrosis.
Pengetesan pulpa secara elektrik diaplikasikan pada permukaan fasial untuk
menentukan ada tidaknya saraf sensoris dan vital tidaknya pulpa. Tes ini masih belum
sempurna dan mungkun menghasilkan respons positif dan negative palsu.
Metamorphosis kalsium dapat menghasilkan respons negative palsu. (Walton &
Torabinejad, 1997 : 79-81)
6. Pemeriksaan Radiografis
a. Periapeks
Lesi periradikuler yang disebabkan oleh pulpa biasanya memiliki empat karakteristik
yaitu (1) hilangnya lamina dura di daerah apeks, (2) radiolusensi tetap terlihat di apeks
bagaimanapun sudut pengambilannya, (3) radiolusensi menyerupai suatu hanging
drop; dan (4) biasanya nekrosisnya pulpa telah jelas. Lesi radiolusen yang terbentuk
sempurna disebabkan oleh hasil dari suatu pulpa yang nekrosis. Suatu radiolusensi
yang cukup besar di daerah periapeks dengan gigi yang pulpanya vital adalah bukan
berasal dari lesi endodonsi melainkan struktur normal atau penyakit nonendodonsi.
Perubahan juga bisa berupa radioopak. Condensing osteitis adalah reaksi yang jelas
terhadap pulpa atau inflamasi periradikuler dan mengakibatkan peningkatan dalam
tulang medulla.
b. Pulpa
Hanya sedikit keadaan patologis khusus yang berkaitan dengan pulpitis ireversibel
terlihat secara radiografis. Suatu pulpa yang terinflamasi dengan aktivitas dentinoklast
dapat memperlihatkan pembesaran ruang pulpa yang berubah abnormal dan
merupakan tanda patologis dari resorpsi interna.kalsifikasi yang menyebar luas dalam
kamar pulpa menunjukkan adanya iritasi dengan derajat rendah yang sudah berjalan
lama (tidak harus suatu pulpitis ireversibel.) (Walton & Torabinejad, 1997 : 83-85)
7. Tes Khusus
a. Pembuangan karies
Pada beberpa keadaan, yang perlu dilakukan untuk menentukan diagnosis yang tepat
adalah penentuan kedalaman penetrasi karies. Keadaan yang sering dijumpai adalah
adanya karies dalam yang terlihat secara radiografis, tidak ada riwayat penyakit, dan
pulpa yang memberikan respons terhadap ter-tes klinis. Semua temuan lain tidak
begitu relevan. Tes definitive finalnya adalah pembuangan karies seluruhnya untuk
melihat keadaan pulpanya.
Penetrasi karies ke dalam pulpa menandakan adanya pulpitis irebersible. Karies yang
belum berpenetrasi ke dalam pulpa biasanya menunjukkan suatu pulpitis reversible
(walaupun ada sejumlah pulpa yang mengalami inflamasi irreversible tanpa ada
daerah yang terbuka). Gigi kemudian direstorasi secara nirtrauma.
b. Anastesi selektif
Tes ini berlawanan dengan tes kavitas yang dilaksanakan pada gigi tanpa nyeri
maupun gigi yang disertai gejala. Tes ini bermanfaat pada gigi yang sedang nyeri
terutama jika pasien tidak dapat menentukan gigi mana yang sakit, bahkan tidak dapat
pula menentukan lengkung giginya. Jika dicurigai gigi yang sakit ada di daerah
mandibula, anastesi blok mandibula akan mengkonformasikan paling sedikit region
sakitnya apabila nyeri tersebut hilag setelah dianastesi.
c. Transluminasi
Tes ini membantu mengidentifikasi fraktur mahkota vertical karena segmen fraktur
dari mahkota tidak mentransmisikan cahaya secara sama. Transluminasi
menghasilkan bayangan gelap dan abu-abu di daerah fraktur. (Walton & Torabinejad,
1997 : 85-87)

6. Pulpitis reversible dan pulpitis irreversible


Penyebab pulpitis:

I. Fisik/Trauma
II. Bahan kimia
a. Asam fosfat, monomer akrilik
b. Erosi (Asam)

III. Bakteri
a. Racun yang terkait dengan karies.
b. Invasi langsung pulpa dari karies atau trauma.
c. Kolonisasi mikroba dalam pulpa oleh mikroorganisme yang ditularkan melalui
darah (Anachoresis)[3]

Tabel 1.1 Perbedaan Pulpitis [3]

Histopatologi:
Pulpitis reversibel dapat berkisar dari hiperemia hingga perubahan inflamasi ringan
sampai sedang terbatas pada area tubulus dentinal yang terlibat, seperti karies dentin.
Secara mikroskopis, dapat dilihat:[2]
• Pembuluh darah melebar.
• Ekstravasasi cairan edema.
• disrupsi odontoblas.
• Dentin reparatif.
• Sel inflamasi Akut & Kronis.

Pulpitis Irreversible:

1. Secara mikroskopis, adanya area abses dengan mikroorganisme yang ada pada keadaan
karies profunda, bersama dengan limfosit, sel plasma, dan makrofag.

2. Tidak ada mikroorganisme yang ditemukan di pusat abses karena aktivitas fagositik dari
leukosit polimorfonuklear. [2]

a. Pulpitis reversible
Pulpitis reversibel merupakan suatu kondisi inflamasi pulpa yang tidak parah, ringan
hingga sedang. Apabila penyebabnya telah dihilangkan, inflamasinya akan pulih
kembali dan pulpa akan kembali normal. Pulpitis reversibel dapat ditimbulkan oleh
stimulus. Pulpitis reversibel dapat disebabkan karena adanya trauma oklusi, adanya
bakteri penyebab karies, kavitas kering atau dehidrasi, rangsang termal misalnya
karena bur yang terlalu lama menyebabkan panas, serta karena terkena alkohol
(Tarigan, 1994).
Pulpitis reversibel biasanya lebih sering tidak menimbulkan gejala atau asimtomatik.
Gejala pulpitis reversibel ada yang simtomatik dan asimtomatik. Gejala simtomatik
berupa rasa sakit tajam yang hanya sebentar, disebabkan oleh makanan, minuman dan
udara dingin. Tidak timbul secara spontan dan tidak berlanjut bila penyebabnya
ditiadakan, sedangkan gejala asimtomatik dapat disebabkan oleh karies yang baru
mulai dan normal kembali setelah karies dihilangkan dan gigi direstorasi dengan baik
(Tarigan, 1994).
Diagnosis pulpitis reversibel dapat diberikan apabila pada anamnesa ditemukan rasa
sakit atau nyeri sebentar dan hilang setelah rangsangan dihilangkan. Gejala subjektif
apabila ditemukan lokasi nyeri lokal, rasa linu timbul bila ada rangsangan, durasi nyeri
sebentar. Gejala objektif ditemukan kariesnya tidak dalam (hanya mengenai enamel,
kadang-kadang mencapai selapis tipis dentin), perkusi, tekanan tidak sakit. Pada tes
vitalitas hasilnya gigi masih vital (Tarigan, 1994).
Perawatan untuk pulpitis reversibel dapat bermacam-macam sesuai dengan kasus
yang ditemukan. Apabila pulpitis reversibel terjadi akibat karies media maka dapat
langsung dilakukan penumpatan, tetapi jika karies profunda perlu dilakukan
pembuatan pulp capping terlebih dahulu, apabila 1 minggu kemudian tidak ada
keluhan dapat langsung dilakukan penumpatan. Perawatan terbaik untuk pulpitis
reversibel adalah pencegahan. Perawatan periodik untuk mencegah perkembangan
karies, penumpatan awal bila kavitas meluas dan lain sebagainya. Apabila dijumpai
pulpitis reversibel, penghilangan stimulasi (jejas) biasanya sudah cukup, begitu gejala
telah reda, gigi harus dites vitalitasnya untuk memastikan bahwa tidak terjadi nekrosis.
Apabila rasa sakit tetap ada walaupun telah dilakukan perawatan yang tepat, maka
inflamasi pulpa dianggap sebagai pulpitis irreversibel, yang perawatannya adalah
eksterpasi, untuk kemudian dilakukan pulpektomi. Prognosa untuk pulpa adalah baik,
bila iritasi diambil cukup dini, kalau tidak kondisinya dapat berkembang menjadi
pulpitis irreversibel (Tarigan, 1994).
Penatalaksanaan Pulpitis Reversibel Akut
Pasien dapat menunjukan gigi yang sakit dengan tepat. Diagnosis dapat ditegaskan
oleh pemeriksaan visual, taktil, termal, dan pemeriksaan radiograf. Pulpitis reversibel
akut berhasil dirawat dengan prosedur paliatif yaitu aplikasi semen seng oksida
eugenol sebagai tambalan sementara, rasa sakit akan hilat dalam beberapa hari. Bila
sakit tetap bertahan atau menjadi lebih buruk, maka lebih baik pulpa diekstirpasi. Bila
restorasi yang dibuat belum lama mempunyai titik kontak prematur, memperbaiki
kontur yang tinggi ini biasanya akan meringankan rasa sakit dan memungkinkan pulpa
sembuh kembali. Bila keadaan nyeri setelah preparasi kavitas atau pembersihan
kavitas secara kimiawi atau ada kebocoran restorasi, maka restorasi harus dibongkar
dan aplikasi semen seng oksida eugenol (Apriyono, 2010).

Perawatan terbaik adalah pencegahan yaitu meletakkan bahan protektif pulpa dibawah
restorasi, hindari kebocoran mikro, kurangi trauma oklusal bila ada, buat kontur yang
baik pada restorasi dan hindari melakukan injuri pada pulpa dengan panas yang
berlebihan sewaktu mempreparasi atau memoles restorasi amalgam (Apriyono, 2010).

b. Pulpitis ireversibel
Pulpitis ireversibel merupakan keradangan pulpa yang terus menerus dengan atau
tanpa gejala dan disertai dengan kerusakan jaringan pulpa meskipun rangsangan
dihilangkan. Pulpitis ireversibel terutama disebabkan oleh bakteri. Penyebab lainnya
diantaranya, makanan manis, stimulus termis, mekanis, kimiawi dan asam (Bakar,
2013).
Gejala pada pasien pulpitis ireversibel dapat berupa akut atau kronis. Akut apabila
terjadi sakit terus menerus, spontan, dan bisa menjalar, sakit yang tajam, rasa sakit
bertahan beberapa menit sampai berjam-jam tetap ada meskipun stimulus dihilangkan.
Gejala kronis apabila pasien tanpa gejala dan biasanya sudah terjadi drainase eksudat
(Bakar, 2013).
Diagnosis pulpitis ireversibel dapat diberikan apabila pada pemeriksaan ditemukan
kavitas dalam yang meluas ke pulpa. Hasil tes es termal positif, tes perkusi negatif,
palpasi negatif dan mobilitas negatif. Pada pemeriksaan histopatologis ditemukan
terjadi respon inflamasi kronis dan akut, dapat menimbulkan daerah nekrotik
kemudian terjadi fagositosit leukosit pmn pada daerah neukrotik yang akan
membentuk eksudat sehingga menjadi mikroabses. Pada pemeriksaan radiologi dapat
dilihat terjadi sedikit penebalan ligament periodontal, kadang-kadang erosi lamina
dura. Perawatan yang dapat dilakukan untuk pulpitis ireversibel adalah pulpektomi
atau pengambilan seluruh pulpa (Bakar, 2013).

Penatalaksanaan Pulpitis Ireversibel Akut


Gigi dengan diagnosis pulpitis ireversibel akut sangat responsif terhadap rangsang
dingin, rasa sakit berlangsung bermenit-menit sampai berjam-jam, kadang- kadang
rasa sakit timbul spontan, mengganggu tidur atau timbul bila membungkuk.
Perawatan darurat yang lebih baik dilakukan adalah pulpektomi daripada terapi
paliatif untuk meringankan rasa sakit. Tehnik pulpektomi dapat dilakukan sesuai
dengan metode yang digunakan oleh Armilia M (2007).
Pada beberapa kasus, terutama pada gigi saluran ganda, biasanya dokter gigi tidak
cukup waktu untuk menyelesaikan seluruh ekstirpasi jaringan pulpa dan instrumentasi
saluran akar, maka dilakukan pulpotomi darurat, mengangkat jaringan pulpa dari
korona dan saluran akar yang terbesar saja. Biasanya saluran saluran akar terbesar
merupakan penyebab rasa sakit yang hebat, saluran-akar yang kecil tidak
menyebabkan rasa sakit secara signifikan. Pada kasus dengan saluran akar yang kecil
sebagai penyebabnya, pasien akan merasa sakit setelah efek anestesi hilang. Jika hal
ini terjadi, harus direncanakan perawatan darurat lagi dan seluruh saluran akar harus
dibersihkan (Apriyono, 2010).
7. Prosedur Perawatan (Alat, Bahan, dan Tahapan) Pulp Capping
Definisi Kaping Pulpa
Kaping pulpa adalah perawatan endodontik yang bertujuan untuk mempertahankan vitalitas pada
endodontium.
Jenis Kaping Pulpa
1. Kaping Pulpa Direk
Indikasi dilakukannya pulpa kaping direk adalah gigi dalam keadaan pulpa yang masih vital dikarenakan
kesalahan mekanis yang kecil atau kejadian pulpa yang terbuka karena trauma dengan kondisi respon

pulpa terhadap penyembuhan masih baik (American Academy of Pediatric Dentistry, 2014).
2. Kaping Pulpa Indirek
Menurut American Academy of Pediatric Dentistry pada 2014 perawatan pulpa indirek adalah
prosedur yang dilakukan pada gigi dengan lesi karies yang dalam mendekati pulpa tetapi tanpa ada
tanda atau gejala degenerasi pulpa. Indikasi dilakukan perawatan kaping pulpa indirek yaitu pada gigi
tanpa pulpitis atau dengan pulpitis reversibel dengan selapis tipis dentin yang masih menutupi pulpa.
Secara radiografis dan pemeriksaan klinis pulpa masih vital dan bisa merespon baik penyembuahan
dari karies.
Bahan Kaping Pulpa

1. Kalsium Hidroksida (Ca(OH)2)


Penggunaan Ca(OH)2 pada perawatan endodontik antara lain sebagai material kaping,
pulpotomi, menginduksi deposisi jaringan keras gigi, sebagai material sealer, serta
dapat menghilangkan lesi periapikal. Kalsium hidroksida diindikasikan pada
perawatan kaping pulpa untuk menginduksi pembentukan jembatan dentin, perawatan
apeksifikasi pada gigi permanen muda, perawatan lesi periapikal dan adanya resorbsi
akar, serta sebagai material sterilisasi antar kunjungan pada perawatan saluran akar
(Kusuma, 2016).
Kalsium hidroksida memiliki efek antimikroba dan kemampuan menetralisir toksin
serta produk bakteri, sehingga sangat efektif digunakan sebagai material sterilisasi
saluran akar. Sifat basa kuat dari Ca(OH)2 dan pelepasan ion Ca2+ membuat jaringan
yang berkontak menjadi alkalis. Dalam suasana basa, resorpsi atau aktifitas osteoklas
akan terhenti dan osteoblas menjadi aktif mendeposisi jaringan terkalsifkasi
(Nugraheni dkk, 2013).
2. Sodium Hipoklorit (NaOCl)
NaOCl adalah larutan irigasi yang paling umum digunakan karena kapasitas
antibakteri dan kemampuan untuk melarutkan jaringan nekrotik, jaringan pulpa vital,
dan komponen organik dentin dan bioflms dengan cepat. NaOCl digunakan dalam
konsentrasi antara 0,5% dan 6% untuk irigasi saluran akar.
Ketika natrium hipoklorit berkontak dengan protein jaringan, nitrogen, formaldehida,
dan asetaldehida terbentuk. Link peptida terfragmentasi dan protein hancur,
memungkinkan hidrogen dalam gugus amino (-NH-) untuk digantikan oleh klorin. (-
NCl-) membentuk kloramina untuk memainkan peran penting sebagai efektivitas
antimikroba. Jaringan nekrotik dan nanah dilarutkan dan agen antimikroba dapat
membersihkan area yang terinfeksi dengan lebih baik

Alat :
1. Bur bulat
Fungsinya :
• Untuk membur email
• Untuk menyingkirkan karies di dentin
• Untuk menyingkirkan dentin karies di daerah singulum
2. Ekscavator
Fungsinya :
• Untuk membuang sisa-sisa akhir dari debris
• Untuk membuang jaringan gigi yang lunak/karies
3. Pinset berkerat
Fungsinya :
• Untuk menjepit kapas dan gulungan kapas
4. Plastis filling instrument
Fungsinya :
• Untuk memasukkan, memanipulasi dan membentuk bahan tumpatan plastis
• Aplikasi semen
• Untuk mengurangi kelebihan bahan
5. Alat pengaduk semen
Fungsinya :
• Untuk memanipulasi bahan tumpatan
6. Stopper cement
Fungsinya :
• Untuk menempatkan atau memampatkan bahan basis/semen

Teknik pulp capping direk


1) Rontgen foto untuk mengetahui kedalaman karies.
2) Isolasi daerah kerja.
3) Gunakan bur fisur untuk membuka daerah karies.
4) Gunakan bur kecepatan rendah (carbide bor) untuk mengangkat dentin karies,
kemudian irigasi dengan aquadest steril.
5) Keringkan kavitas setelah dibersihkan.
6) Tempatkan basis kalsium hidroksida Ca(OH)2 di atas selapis tipis dentin yang
tinggal (tersisa 1 mm) kemudian tutup dengan semen fosfat sebagai basis
tumpatan
7) Lakukan restorasi amalgam / mahkota stainless steel

Teknik pulp capping


Indirek :
1) Rontgen
foto untuk mengetahui
kedalaman karies.
2) Isolasi daerah kerja.
3) Perdarahan yang terjadi akibat perforasi dihentikan.
4) Irigasi kavitas dengan aquadest untuk mengeluarkan kotoran dari dalam kavitas,
kemudian dikeringkan kavitas tersebut.
5) Letakkan bahan kalsium hidroksid pada daerah pulpa yang terbuka dan biarkan
sampai kering.
6) Kemudian beri semen fosfat dan tambalan sementara.
7) Setelah 6 minggu, bila reaksi pulpa terhadap panas dan dingin normal dapat
dilakukan restorasi tetap.
Evaluasi :
Pemeriksaan ulang perawatan dilakukan minimal 4 – 6 minggu. Perawatan berhasil :
• Tidak ada keluhan subyektif.
• Gejala klinis baik.
• Pada gambaran radiografik terbentuk dentin barrier pada bagian pulpa yang
terbuka.
• Tidak ada kelainan pulpa dan periapikal.

Tahap per tahap Indirect Pulp Capping


1. Berikan anastesi lokal pada pasien. Pasien dengan toleransi yang rendah pada rasa sakit
(mudah merasa sakit) sebaiknya diberikan anastesi lokal agar pasien nyaman dan
memudahkan proses perawatan. Namun sebaiknya minimalkan penggunaan anastesi
lokal jika pasien tidak membutuhkan.
2. Asepsis dan isolasi gigi dengan rubber dam maupun cotton roll untuk isolasi sebagai
perlindungan terhadap kontaminasi yang mungkin terjadi. Selain itu penggunaan
rubber dam juga dapat mempermudah proses perawatan.
3. Membersihkan lesi karies hingga menyisakan selapis tipis di atas ruang pulpa untuk
menghindari tereksposnya pulpa. Diamond bur highspeed dapat digunakan untuk
menghilangkan lapisan enamel yang menutupi karies sehingga didapatkan akses
mencapai karies gigi, misalkan pada karies dengan lesi yang kecil pada bagian luar,
namun luas di bagian dalam. Lesi dibersihkan dengan menggunakan ekskavator dan
bisa juga dengan menggunakan round bur. Bersihkan infected dentine (karies basah)
dan tinggalkan affected dentin (dentin terdemineralisasi yang kering dan keras)
4. Aplikasikan selapis tipis sub-base, dapat menggunakan MTA, Ca(OH)2, pada dasar
lesi karies yang menghadap ruang pulpa.
5. Aplikasikan base di atas lapisan sub-base, dapat menggunakan ZOE, RMGI, dll.,
sesuai indikasi bahan tumpatan yang akan digunakan.
6. Lakukan tumpatan sementara pada kavitas.

Tahap per tahap Direct Pulp Capping


1. Berikan anastesi lokal pada pasien. Pasien dengan toleransi yang rendah pada rasa
sakit (mudah merasa sakit) sebaiknya diberikan anastesi lokal agar pasien nyaman dan
memudahkan proses perawatan. Namun sebaiknya minimalkan penggunaan anastesi
lokal jika pasien tidak membutuhkan.
2. Asepsis dan isolasi gigi dengan rubber dam maupun cotton roll untuk isolasi sebagai
perlindungan terhadap kontaminasi yang mungkin terjadi. Selain itu penggunaan
rubber dam juga dapat mempermudah proses perawatan.
3. Ekskavasi infected dentin dari dinding kavitas hingga bersih dan tampak jaringan
dentin yang masih sehat, dapat menggunakan detektor karies.
4. Jika pulpa terekspos, karena kesalahan pada perawatan maupun disebabkan oleh
karies, berikan larutan fisiologis dan juga lakukan kontrol perdarahan mungkin sekitar
1-2 menit.
5. Lapisi pulpa yang terekspos dengan MTA dan lapisi lagi dengan semen ionomer kaca.
6. Selesaikan dengan restorasi tetap

8. Hal-hal yang dilakukan pada saat control


Evaluasi
Radiograf mempunyai peranan penting untuk pengevaluasian keberhasilan perawatan
dalam endodontik. Hasil radiograf dapat memperlihatkan ada tidaknya lesi yang timbul
setelah perawatan dan proses pemulihan dari hasil perawatan
Evaluasi radiografis pada perawatan saluran akar dikategorikan menjadi tiga kategori.
Pertama adalah kategori berhasil, dikatakan berhasil jika lesi radiolusen pada apeks tidak
terlihat dan dibuktikan dengan hilangnya atau tidak berkembangnya daerah radiolusensi
selama minimal satu tahun. Kedua adalah kategori meragukan, dimana lesi
radiolusensinya tidak menjadi lebih besar maupun tidak mengecil setelah lebih dari satu
tahun. Ketiga adalah kategori gagal yaitu ketika lesi radiolusensi pada sesudah perawatan
tetap dan tidak berubah, membesar, atau berkembang dibanding awal perawatan.
Evaluasi radiograf pada perawatan endodontik juga dapat dinilai berdasarkan Periapikal
Indeks yang digolongkan menjadi empat kriteria yaitu baik, cukup, kurang dan buruk.
Kriteria baik apabila lamina dura, jaringan periodontal dan tulang alveolar pada
radiografik terlihat normal. Kriteria cukup apabila periodonsium menebal, sedangkan
lamina dura dan tulang alveolar dalam keadaan normal. Kriteria kurang apabila lamina
dura terputus, periodonsium menebal dan pada tulang alveolar terlihat radiolusensi yang
difus dengan diameter kurang dari 4mm. Kriteria buruk apabila lamina dura terputus,
periodonsium menebal dan tulang alveolar terlihat kerusakan berupa radiolusensi berbatas
atau difus dengan diameter lebih dari 4mm.

Pemeriksaan ulang perawatan dilakukan minimal 4 – 6 minggu. Perawatan berhasil jika:


• Tidak ada keluhan subyektif.
• Gejala klinis baik.
• Pada gambaran radiografik terbentuk dentin barrier pada bagian pulpa yang
terbuka.
• Tidak ada kelainan pulpa dan periapikal.

Keberhasilan perawatan pulp capping secara klinis didapat dari hasil pemeriksaan
subjektif dan pemeriksaan objektif baik ekstra oral maupun intra oral. Evaluasi klinis
dilakukan dengan pemberian kriteria skor kesembuhan pada suatu kasus sebagai: buruk,
kurang, cukup, dan baik (Rukmo, 2011). Kriteria klinis yang digunakan untuk
menentukan keberhasilan perawatan pulp capping adalah tidak adanya nyeri spontan dan
atau sensitivitas pada gigi, tidak ada fistula, edema, dan atau pergerakan gigi yang
abnormal (Franzon, 2007)
Perawatan pulp capping pada situasi yang menguntungkan memberikan respons
pulpa yang baik dengan membentuk dentin reparative di balik daerah perforasi untuk
membuat jembatan dentin. Pada penggunaan bahan yang paling tepat, jembatan ini
terbentuk di dekat bahan capping, tetapi dengan bahan kalsium hidroksid sendiri,
jembatan terbentuk jauh dari bahan capping. Jembatan dentin tidak dibentuk oleh kalsium
dari bahan pulp capping.
Pentingnya mencegah kontaminasi bakteri pada saat perforasi perlu diperhatikan.
Para peneliti menemukan bahwa bahan pulp capping harus dilapisi dengan basis; zinc
okside eugenol tampaknya paling tepat dan terbukti memperbaiki kualitas jembatan
dentin (Asma, 2014).
a. Evaluasi Keberhasilan dan Komplikasi Kegagalan Pulp Capping Indirect
Keberhasilan perawatan pulp capping direct, ditandai dengan hilangnya rasa
sakit, serta reaksi sensitive terhadap rangsang panas atau dingin yang dilakukan pada
pemeriksaan subjektif setelah perawatan. Kemudian pada pemeriksaan objektif
ditandai dengan pulpa yang tinggal akan tetap vital, terbentuknya jembatan dentin
yang dapat dilihat dari gambaran radiografi pulpa, berlanjutnya pertumbuhan akar dan
penutupan apikal.
Sebagian besar peneliti memakai kriteria jembatan dentin sebagai indikator
keberhasilan perawatan karena jembatan dentin bertindak sebagai suatu barrier untuk
melindungi jaringan pulpa dari bakteri sehingga pulpa tidak mengalami inflamasi,
tetap vital, membantu kelanjutan pertumbuhan akar dan penutupan apikal pada gigi
yang pertumbuhannya belum sempurna. Jembatan dentin terbentuk karena adanya
fungsi sel odontoblas pada daerah pulpa yang terbuka.
Reaksi jaringan dentin terhadap kalsium hidroksida terjadi pada hari pertama
hingga minggu kesembilan, sehingga pasien dapat diminta datang 2 bulan setelah
perawatan untuk melakukan control. Kemudian secara periodic setiap 6 bulan sekali
dalam jangka waktu 2 sampai 4 tahun untuk menilai vitalitas pulpa.
Faktor yang bisa menyebabkan kegagalan perawatan pulp capping yaitu pada
saat pengeburan, ada kemungkinan mata bur membuat perforasi atap pulpa. Hal ini
perawatan pulp capping indirect berganti menjadi pulp capping direct.
b. Evaluasi Keberhasilan dan Komplikasi Kegagalan Pulp Capping Direct
Pulp capping direct sampai saat ini masih merupakan suatu metode perawatan
yang valid di bidang endodontic, karena bila perawatan ini berhasil maka vitalitas dari
gigi dengan pulpa terbuka dapat dipertahankan. Kondisi ini sangat tergantung pada
diagnosis yang tepat sebelum perawatan, tidak ada bakteri yang mencapai pulpa dan
tidak ada tekanan pada daerah pulpa yang terbuka.
Keberhasilan perawatan pulp capping direct hampir sama dengan indirect,
ditandai dengan hilangnya rasa sakit, serta reaksi sensitive terhadap rangsang panas
atau dingin yang dilakukan pada pemeriksaan subjektif setelah perawatan. Kemudian
pada pemeriksaan objektif ditandai dengan pulpa yang tinggal akan tetap vital,
terbentuknya jembatan dentin yang dapat dilihat dari gambaran radiografi pulpa,
berlanjutnya pertumbuhan akar dan penutupan apikal.
Sebagian besar peneliti memakai kriteria jembatan dentin sebagai indicator
keberhasilan perawatan karena jembatan dentin bertindak sebagai suatu barrier untuk
melindungi jaringan pulpa dari bakteri sehingga pulpa tidak mengalami inflamasi,
tetap vital, membantu kelanjutan pertumbuhan akar dan penutupan apikal pada gigi
yang pertumbuhannya belum sempurna. Jembatan dentin terbentuk karena adanya
fungsi sel odontoblas pada daerah pulpa yang terbuka.
Reaksi jaringan dentin terhadap kalsium hidroksida terjadi pada hari pertama
hingga minggu kesembilan, sehingga pasien dapat diminta datang 2 bulan setelah
perawatan untuk melakukan control. Kemudian secara periodic setiap 6 bulan sekali
dalam jangka waktu 2 sampai 4 tahun untuk menilai vitalitas pulpa.
Kegagalan perawatan pulp capping biasanya dikarenakan
perdarahan yang terjadi dapat berperan sebagai penghalang sehingga tidak terjadi
kontak antara bahan kalsium hidroksida dengan jaringan pulpa. Hal ini menyebabkan
proses penyembuhan pulpa terhambat.
Kegagalan perawatan ditandai dengan pemeriksaan subjektif yaitu timbulnya
keluhan, misalnya gigi sensitive terhadap rangsang panas dan dingin atau gejala lain
yang tidak diinginkan. Kemudian pada pemeriksaan objektif dengan radiografi dilihat
adanya gambaran radiolusen yang menunjukkan gumpalan darah atau terjadinya
resorpsi internal.
Setelah dilakukan perawatan pulp capping dengan prognosa yang baik, maka
sebagai dokter gigi kita wajib dan harus memberi edukasi dan evaluasi mengenai
perawatan tersebut kepada pasien anak dan orang tuanya. Salah satu contohnya yaitu
Dental health education. Dental health education adalah suatu proses belajar yang
ditujukan kepada individu dan kelompok masyarakat untuk mencapai derajat
kesehatan gigi yang setinggi-tingginya. Suatu usaha atau aktivitas yang
mempengaruhi orang-orang untuk bertingkah laku sedemikian rupa sehingga baik
untuk kesehatan gigi dan mulut pribadi maupun masyarakat (Herijulianti, 2000).
Diharapkan dengan diberikan edukasi dan evaluasi tersebut, baik orang tua dan
anak dapat merubah dan menjaga oral hygine. Sebagai orang tua harus lebih
memperhatikan kebersihan mulut dari sang anak (Todd and Dodd, 1985).

Jika terdapat hal yang tidak diinginkan:


Penatalaksanaan Kedaruratan Antar Kunjungan
Kedaruratan antar kunjungan disebut juga sebagai falre-up yaitu suatu kedaruratan murni
dan demikian parahnya sehingga perlu perawatan dengan segera. Walaupun prosedur
perawatan telah dilakukan dengan hati-hati dan teliti, namun komplikasi dapat timbul
berupa nyeri dan pembengkakan. Kedaruratan antar kunjungan ini adalah peristiwa yang
sangat tidak diinginkan dan sangat mengganggu serta harus segera ditangani (Apriyono,
2010).

Perawatan Flare-up
Aspek terpenting perawatan flare-up adalah menenangkan pasien. Umumnya pasien
merasa ketakutan dan kesal bahkan menyangka bahwa perawatan telah gagal dan gigi
harus dicabut. Berilah keyakinan kepada pasien bahwa rasa nyeri yang timbul dapat
ditanggulangi dan kasusnya akan segera ditangani. Kasus kedaruratan antar kunjungan
dapat dibagi menjadi kasus tanpa dan dengan pembengkakan, dan yang diagnosis awalnya
pulpa vital atau nekrosis. Jika pada diagnosis awalnya pulpa masih vital, jarang timbul
flare-up (Apriyono, 2010).
DAFTAR PUSTAKA
Alex, G. 2018. Direct and indirect pulp capping: A brief history, material innovations, and
clinical case report. Compendium. Vol. 39(3): 182-189.
American Academy of Pediatric Dentistry. 2014. Pulp Therapy for Primary and
Immature Permanent Teeth. Journal AADP 39(6):325-333.
Apriyono, Dwi Kartika. 2010. Kedaruratan Endodontik. Stomatognatic (J.K.G. Unej) Vol.
7 No. 1 : 45-50. Jember: Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Jember.
Armilia, Milly. 2007. Penatalaksanaan Keadaan Darurat Endodontik. Bandung: ITB
Asma, Qureshi. 2014. Recent Advances in Pulp Capping Materials: An Overview. Journal of
Clinical and Diagnostic Research
Bakar, A., 2013, Kedokteran Gigi Klinis, edisi 2, Quantum, Yogyakarta.
Baum, Lloyd. Buku Ajar Ilmu Konservasi Gigi / Baum Philips Lund; alih bahasa, Rasinta
Tarigan; editor, Lilian Yuwono. - Ed. 3 – Jakarta: EGC, 1997
Bender IB. 2000. Reversible and irreversible painful pulpitis: Diagnosis and treatment. Aust
Endod J;26(1):10-14.
Burns, C. R., Cohen, S., 1994, Pathways of The Pulp, 6th Ed, Mosby-Year Book,
Philadelphia.
C. J. R. Stock, R. T. Walker. 2014. Endodontics / eds. China: Elsevier. 388 p.
Dabuleanu M. 2013. Pulpitis reversible/irreversible. J Can Dent Assoc. 79:90-94.
Fagundes, T. C., dkk., 2009. Indirect Pulp Treatment in a permanent molar: case report of
4-year follow up. J Appl Oral Sci. Vol. 17(1): 70-74.
Franzon, R. 2007. Clinical and Radiographic Evaluation of Indirect Pulp Treatment in
Primary Molars: 36 Months Follow-up. American Journal of Dentistry, 20 (3). 190
Kartika, Dwi Apriyono. Kedaruratan Endodonsia. Stomatognatic (J.K.G. Unej)
2010;7(1):45-50. Herijulianti E., Indriani TS., Artini S. Pendidikan kesehatan gigi. Jakarta :
EGC Penerbit Buku Kedokteran,2002: 119-132.
Kusuma, Andina R P. 2016. Pengaruh Lama Aplikasi dan Jenis Bahan Pencampur
Sserbuk Kalsium Hidroksida Terhadap Kekerasan Mikrodentin Saluran Akar. Odonto Dental
Jurnal. Vol 3(1) : 48-54.
Milcheva, N., R. Kabaktchirva, dan N. Gateva. 2016. Direct Pulp Capping In Treatment
of
Miloro, M, 2004, Peterson’s Principles of Oral and Maxillofacial Surgery, BC Decker Inc
Hamilton London
Nugraheni, T.,dkk. 2013. Pengaruh Lama Kontak Campuran Kalsium Hidroksida-
Gliserin dan Kalsium Hidroksida-Chlorehexidin Diglukonate 2 % Terhadap Kekerasan
Mikrodentin Pada Segmen Sepertiga Servikal Saluran Akar. Jurnal Kedokteran Gigi 4(2):39-
44.
Rukmo, M. (2011). Perkembangan Metode Penelitian Kesembuhan Penyakit Periapikal
setelah Perawatan Endodontik. Proceeding Kongres IKORGI ke IX dan Seminar Ilmiah
Nasional Recent advances in Conservative Dentistry. 8-9
Reversible Pulpitis In Primary Teeth-Clinical Protocol. JIMBAB. 22(4): 1348-1351.
Grosman, L. I., Seymour, O., Carlos, E., D., R., 1995, Ilmu Endodontik dalam Praktek, edisi
kesebelas, EGC, Jakarta.
Supriyadi.Pedoman Interpretasi Radiograf Lesi-Lesi Di Rongga Mulut. Stomatognatic (J.
K. G Unej).2012;9(3):134-139.
Tarigan, R., 1994, Perawatan Pulpa Gigi (Endodonti), Widya Medika, Jakarta.
Tarigan, R., 2002, Perawatan Pulpa Gigi (endodontic), EGC, Jakarta.
Triharsa S.,Mulyawati E. Perawatan Saluran Akar Satu Kunjungan Pada Pulpa Nekrosis
Disertai Restorasi Mahkota Jaket Porselin Fusi Metal dengan Pasak Fiber Reinforced Composit
(Kasus Gigi Insisivus Sentralis Kanan Maksila). Maj Ked Gi.2013; 20(1): 71-77
Todd. J.E.. and T. Dodd. (1985). Childrens Dental Health in The United Kingdom 1983 :
London. Hee Majesty’s Stationeray Office.
Walton, R.E., Torabinejad, M., 2008, Prinsip & Praktik Ilmu Endodonsia, EGC, Jakarta.
Walton, Richard. E & Torabinejad, Mahmoud. 1997. Prinsip dan Praktik Ilmu Endodonsi.
Jakarta : EGC.
Yati R, Taqwa D, Octiara E. Pedodonsia Terapan. Medan: FKG USU. 2009. 14. Bakar
Abu. Kedokteran Gigi. Klinis. Edisi 2. Yogyakarta