Anda di halaman 1dari 44

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Penulisan penelitian ini Penelitian memiliki peran yang sangat penting


dalam menyikapi berbagai keilmuan, penelitian merupakan petunjuk utama
penyelesain masalah. Awal dari sebuah penelitian adalah adanya sebuah
problem (masalah). Masalah ilmu social dan ilmu pendidkan sangat
kompleks, semenjak adanya dunia sampai sekarang tidak pernah lepas dari
yang namanya masalah, untuk mencari solusi (jalan keluar) masalah, dengan
demikian diperlukan penelitian secara logis, sistimatis, dan empiris, sebagai
pencerahan untuk mengetahui kebenaran ilmiah
Tahapan yang sangat penting dalam proses penelitian ilmiah adalah
menyusun alat ukur (instrumen) penelitian sebagai pedoman untuk mengukur
variabel- variabel penelitian. Alat ukur tersebut harus valid dan reliabel.Dalam
penelitian kuantitatif, peneliti akan menggunakan instrumen untuk
mengumpulkan data penelitian. Instrumen penelitian ini digunakan untuk
meneliti variabel yang diteliti.
Dengan demikian jumlah instrumen yang akan digunakan untuk
penelitian tergantung pada jumlah variabel yang diteliti. Instrumen-instrumen
penelitian sudah ada yang dibekukan, tapi ada yang harus dibuat peneliti
sendiri. Karena instrumen penelitian akan digunakan untuk melakukan
pengukuran dengan tujuan menghasilkan data kuantitatif yang akurat, maka
setiap instrument harus mempunyai skala.
Dalam penelitian kuantitatif, peneliti akan menggunakan instrumen
untuk mengumpulkan data, sedangkan dalam penelitian kualitatif-naturalistik
peneliti akan lebih banyak menjadi instrumen, karena dalam penelitian
kualitatif peneliti merupakan key instruments. Instrumen penelitian digunakan
untuk nilai variabel yang diteliti. Dengan demikian, jumlah instrumen yang

1
akan digunakan untuk penelitian akan tergantung pada jumlah variabel yang
diteliti. Bila variabel penelitiannya lima, maka jumlah instrumen yang
digunakan untuk penelitian juga lima. Instrumen-instrumen penelitian sudah
ada yang dibakukan, tetapi masih ada yang harus dibuat oleh seorang peneliti.
Karena instrumen penelitian akan digunakan untuk melakukan pengukuran
dengan tujuan menghasilkan data kuantitaif yang akurat, maka setiap
instrumen harus mempunyai skala.
Teknik membuat skala, menurut Nazir (1999) serta Good dan Hatt
(1952) adalah cara mengubah fakta-fakta kualitatif yang melekat pada objek
atau subjek penelitian menjadi urutan kuantitatif. Pembuatan skala
pengukuran ini dibuat dengan mendasarkan pada dua asumsi, yaitu ilmu
pengetahuan pada akhir-akhir ini lebih cenderung menggunakan prinsip-
prinsip matematika dan ilmu pengetahuan semakin menuntut presisi yang
lebih baik utamanya dalam hal mengukur gradasi. Dalam membuat skala,
peneliti harus mengasumsikan bahwa fakta dalam fakta mengandung suatu
kontinum yang nyata berasal dari sifat-sifat objek yang diteliti.
Skala Guttman merupakan skala komulatif. Jika seseorang responden
mengiyakan pertanyaan atau pernyataan yang berbobot lebih berat, maka ia
juga akan mengiyakan pertanyaan atau pernyataan yang kurang berbobot
lainya. Skala Guttman mengukur satu dimensi saja dari suatu variabel yang
multidimensi, sehingga skala ini mempunyai sifat unidimensional.
Tujuan utama pembuatan skala Guttman pada prinsipnya untuk
menentukan jika sikap yang diteliti benar-benar mencakup berdimensi
tunggal. Sikap dikatakan berdimensi tunggal bila sikap tersebut menghasilkan
skala komulatif. Sebagai misal, jika seorang responden yang setuju terhadap
aitem 2, maka ia berarti juga setuju terhadap aitem 1. Jika seorang responden
yang setuju dengan aitem 3, maka juga ia setuju dengan aitem 2 dan 1,
demikian seterusnya.

2
B. Tujuan Penelitian
a. Untuk mengerti dan memahami tentang skala Guttman.
b. Untuk mengerti dan memahami tentang self disclosure.
c. Untuk mengerti dan memahami mengenai analisa (tahapan dan hasil)
mengenai variabel self disclosure dengan menggunakan alat ukut skala
Guttman

3
BAB II
KAJIAN PUSTAKA

A. Skala Guttman
1. Biografi Skala Guttman
Skala Guttman dikembangkan oleh Louis Guttman. SkalaGuttman
disebut juga dengan Scalogram atau analisis skala (Scale Analysis).
LouisGuttman mengembangkan skala ini untuk mengatasi masalah yang
dihadapi oleh Likert dan Thurstone. Di samping itu, skala Guttman
mempunyai asumsi menurut Babbie (Sukardi, 2011;149) bahwa dasar dari
fakta di mana beberapa aitem di bawah pertimbangan yang harus dibuktikan
menjadi petunjuk kuat satu variabel dibanding variabel lainnya.
Skala Guttman memiliki beberapa ciri penting, yaitu: 1) Skala Guttman
merupakan skala komulatif. Jika seseorang responden mengiyakan pertanyaan
atau pernyataan yang berbobot lebih berat, maka ia juga akan mengiyakan
pertanyaan atau pernyataan yang kurang berbobot lainya. 2) Skala Guttman
mengukur satu dimensi saja dari suatu variabel yang multidimensi, sehingga
skala ini mempunyai sifat unidimensional.
Tujuan utama pembuatan skala Guttman pada prinsipnya untuk
menentukan jika sikap yang diteliti benar-benar mencakup berdimen
situnggal. Sikap dikatakan berdimensi tunggal bila sikap tersebut
menghasilkan skala komulatif. Sebagai misal, jika seorang responden yang
setuju terhadap aitem 2, maka ia berarti juga setuju terhadap aitem 1. Jika
seorang responden yang setuju dengan aitem 3, maka juga ia setuju dengan
aitem 2 dan 1, demikian seterusnya.
2. Definisi Skala Guttman
Skala Guttman merupakan skala yang digunakan untuk memperoleh
jawaban dari responden yang bersifat jelas (tegas) dan konsisten. Kata-kata
yang digunakan, misalnya: ya – tidak, benar – salah, positif – negatif, yakin –

4
tidak yakin dan sebagainya. Data yang diperoleh berupa data interval atau rasio
dikotomi (dua alternatif pilihan). Pada skala Guttman hanya mempunyai dua
skor, misal pada sikap yang mendukung sesuai dengan pertanyaan atau
pernyataan diberi skor 1 dan sikap yang tidak mendukung sesuai dengan
pertanyaan atau pernyataan diberi skor 0.
Skala Guttman, skala pengukuran dengan tipe ini akan didapat jawaban
yang tegas yaitu : benar-salah, pernah-tidak pernah, ya-tidak. Skala ini dapat
dibuat dengan bentuk centang maupun pilihan ganda. Contoh :
1) Apakah Anda setuju bila si A menjadi ketua osis di sekolah ini
a.Ya
b.Tidak
Skala ini dipakai bila ingin mendapat jawaban yang tegas terhadap suatu
permasalahan yang ditanyakan (Sugiyono, 2012; 140),Skala ini disebut juga
skala kumulatif karena jawaban dapat diakumulasikan misalnya
1) Asosiasi guru-orang tua muid mempunyai peran penting dalam
perkembangan sekolah
a.Setuju
b.Tidak setuju
2) Asosiasi guru-orang tua murid mempunyai pengaruh kuat terhadap
perkembangan sekolah
a. Setuju
b. Tidak setuju
3) Asosiasi guru-orang tua murid merupakan organisasi penting untuk
meningkatkan kualitas sekolah
a.Setuju
b.Tidak setuju (Darmadi, 2011; 109)
Sehingga subjek yang setuju dengan butir 2, setuju dengan butir pertama
daan subjek yang setuju butir 3 setuju akan butir 1 dan 2 (Tahir,2011; 50)

5
Data yang diperoleh dapat berupa data interval atau ratio dikotomi (dua
alternative yang berbeda). Perbedaan skala likert dengan skala guttman ialah
kalau skala likert terdapat jarak (interval); 3, 4, 5, 6 atau 7 yaitu dari sangat
benar (SB) sampai denagn Sangat Tidak Benar (STB), sedangkan dalam skala
Guttman hanya ada dua interval, yaitu : Benar (B) dan Salah (S). Contoh :
1) Yakin atau tidakkah anda, pergantian Presiden akan dapat mengatasi
persoalan bangsa :
a. Yakin
b. Tidak
2) Apakah komentar saudara, jika Gus dur turun dari kepresidenan ?
a. Setuju
b. Tidak Setuju
3) Pernahkah direktur saudara mengajak makan bersama ?
a. Pernah
b. Tidak Pernah
Skala Guttman disamping dapat dibuat bentuk pilihan ganda dan juga
bisa dibuat dalam bentuk checklist. Jawaban responden dapat berupa skor
tertinggi bernilai (1) dan skor terendah (0). Misalnya : untuk jawaban benar
(1) dan salah (0). Analisis dilakukan seperti pada skala Likert. Contoh :
1) Saudara punya orang tua ?
a. Ya
b. Tidak
2) Anda punya Kartu Pokok Wajib Pajak ?
a. Punya
b. Tidak (Riduwan, 2009; 17-18)

6
3. Langkah-Langkah Skala Guttman
Langkah-langkah untuk membuat skala Guttman adalah sebagai
berikut :
1) Susunlah sejumlah pernyataan yang relevan dengan masalah yang ingin
diselidiki.
2) Lakukan penelitian permulaan pada sejumlah sampel dari populasi yang
akan diselidiki, sampel yang diselidiki minimal besarnya 50 sampel
3) Jawaban yang diperoleh dianalisis, dan jawaban yang ekstrim dibuang.
Jawaban yang ekstrim adalah jawaban yang disetujui atau tidak disetujui
oleh lebih dari 80% responden.
4) Susunlah jawaban pada table Guttman.
5) Hitunglah koefisien reprodusibilitas dan koefisien skalabilitas.
4. Kelebihan dan Kekurangan Skala Guttman
1) Kelemahan pokok dari Skala Guttman, yaitu: a) Skala ini bisa jadi tidak
mungkin menjadi dasar yang efektif baik intuk mengukur sikap terhadap
objek yang kompleks atau pun untuk membuat prediksi tentang perilaku
objek tersebut.b) Satu skala bisa saja mempunyai dimensi tunggal untuk
satu kelompok tetapi ganda untuk Kelompok lain, ataupun berdimensi
satu untuk satu waktu dan mempunyai dimensi ganda untuk waktu yang
lain.
2) Kelebihan skala guttman yaitu: Skala ini langsung menanyakan untuk
memperoleh jawaban yang jelas, tegas
5. Contoh Soal, Cara Pengerjaan, Dan Cara Skoring Skala Guttman
1) Contoh soal
Skala Guttman adalah skala yang digunakan untuk jawaban yang
bersifat jelas (tegas) dan konsisten. Contoh. Yakin- Tidak Yakin, Ya-
Tidak, Benar- Salah, Positif- Negatif, Pernah- Belum Pernah, Setuju-Tidak
setuju dan lain sebagainya.

7
Data yang diperoleh dapat berupa data interval atau rasio dikotomi
(dua alternative yang berbeda). Perbedaan skala likert dengan skala
guttman adalah jika skala likert terdapat jarak interval 1,2,3,4,5 dari sangat
tidak benar hingga sangat benar, sedangkan dalam skala guttman hanya ada
dua interval, yaitu benar dna salah. Contoh:
1. Yakin atau tidakkah anda, pergantian presiden akan dapat mnengatasai
persoalan bangsa:
a. Yakin
b. Tidak
2. Apakah komentar anda jika Gus dur turun dari kepresidenan:
a. Setuju
b. Tidak setuju
3. Pernahkah direktur anda mengajak makan bersama:
a. Pernah
b. Tidak pernah
2) Selain dalam bentuk pilihan ganda,skala guttman juga dapat dibuat dalam
bentuk checklist. Jawaban responden dapat berupa skor tertinggi (1) dan
skor terendah (0). Misalnya, untuk jawaban benar diberi skor 1 dan
jawaban yang salah diberi skor 0.Contoh:
1. Saudara punya orang tua?
a. Ya (1)
b. Tidak (0)
2. Saudara sudah menikah?
a. Sudah (1)
b. Belum (0)
3. Saudara punya ktp?
a. Ya (1)
b. Tidak (0)
3) Contoh kuesioner:

8
a. Pemberian ASI sebaiknya dilakukan segera setelah kelahiran sampai
usia 24 bulan
b. ASI eksklusif sebaiknya diberikan segera setelah kelahiran sampai usia
6 bulan
c. Pemberian makanan pada anak sebaiknya dilakukan sejak anak usia 1
bulan.
4) Panduan penilaian.
Berdasarkan kuesioner diatas, panduan penilaian dan pemberian
skoring adalah sebagai berikut:
Jumlah pilihan: 2
Jumlah pertanyaan: 3
Skoring terendah: 0 (pilihan jawaban yang salah)
Skoring tertinggi: 1 (pilihan jawaban yang benar)
Jumlah skor terendah: skoring terendah: scoring terendah x jumlah
pertanyaan = 0x3 = 0 (0%)
Jumlah skor tertinggi: scoring tertinggi x jumlah pertanyaan = 1x3 =
3(100%) =300 %
Penentuan scoring pada criteria objektif
Rumus umum:
Interval (i) = Range (R)/ Kategori (K)
Range = skor tertinggi- skor terendah= 100-0 =100%
Kategori (K)= 2 adalah banyaknya kriteria objektif suatu variabel
Kategori yaitu cukup dan kurang
Interval: 100-50 = 50%, sehingga cukup jika skor> 50%, rendah jika
skor < 50%
Catatan:
berapapun banyaknya jumlah pertanyaan jika pertanyaan dengan
pilihan 2 jawaban yang sama yaitu benar dan salah, penentuan kriteria
objektifnya akan tetap pada interval 50%. Maksudnya, meskipun dengan

9
jumlah pertanyaan sampai 100 pun dengan jumlah pilihan pertanyaan
terdiri dari 2 dengan kategori pada kriteria objektif variabel sebanyak 2
maka batas intervalnya adalah tetap 50%.

5) Uji Validitas dan Uji Reliabilitas skala Guttman


1. Uji validitas
Rumus yang cocok untuk uji validitas dengan skala Guttman yaitu
rumus koefisien reprodusibilitas dan koefisien skalabilitas.
Jadi, pertama adalah menghitung koefisien reprodusibilitasnya
dulu baru selanjutnya menghitung koefisien skalabilitasnya. Runtutan
rumusnya sebagai berikut:
Rumus koefisien reprodusibilitas:
Kr = 1-(e/n)
Keterangan:
E = jumlah kesalahan/nilai error
N = jumlah pernyataan dikali jumlah responden
Syarat penerimaan nilai koefisien reprodusibiltas yaitu apabila
koefisien reprodusibiltas memiliki nilai > 0,90.
Rumus koefisien skalabilitas:
Ks = 1-(e/x)
Keterangan:
E = jumlah kesalahan/nilai
X = 0,5 ({jumlah pernyataan dikali jumlah responden} – jumlah
jawaban“ya”)
Syarat penerimaan nilai koefisien skalabilitas yaitu apabila
koefisien skalabilitas memiliki nilai > 0, 60.
Sebelum kita mencari nilai koefisien reprodusibilitas, kita harus
mencari nilai eror terlebih dahulu. Dimana nilai eror didapatkan dari
sko rbutir individu yang tidak sesuai dengan harapan. Contohnya bisa

10
dilihat pada gambar di bawah ini yang berisi butir yang telah diurutkan
dari yang paling mudah hingga paling sulit.
Jadi secara sederhananya:
Saat memulai menghitung data yang terkumpul dari kuesioner,
urutkan pertanyaan dari bobot mudah ke bobot sulit. Dengan asumsi
bahwa responden yang menjawab “ya” pada pertanyaan yang berbobot
lebih sulit diasumsikan akan juga memberikan jawaban “ya” pada
pertanyaan yang berbobot lebih mudah jadi itulah kenapa pertanyaan
harus diurutkan dari yang bobotnya dianggap lebih mudah hingga ke
pertanyaan yang dianggap memiliki bobot yang agak sulit.

Responden 1 mendapatkan skor 18 dan eror 0, tidak ada eror dari


responden 1 karena ia bisa mengatasi butir mudah dan bisa mengatasi
butir yang sulit.
Responden 2 mendapatkan skor 17 dan eror 4. Hal ini dikarena
responden 2 tidak bisa menjawab dengan benar pada pertanyaan 17
point d, namun dia dapat menjawab dengan benar pertanyaan pada
butir 3 berikutnya. Eror responden 2 terletak pada butir pertanyaan 17
d, dimana harusnya responden 2 bisa menjawab dengan benar akan
tetapi justru dia tidak bisa menjawab dengan benar, sedangkan butir
26, 27 dan 37 harusnya responden tidak bisa menjawab dengan benar
malah dia bisa menjawabnya dengan benar.
Responden 3 mendapatkan skor 17 dan eror 1. Hal ini dikarenakan
responden 3 tidak bisa menjawab dengan benar pada pertanyaan 27,

11
namun dia dapat menjawab dengan benar pertanyaan pada butir
berikutnya.
Responden 4. Dia mendapatkan skor 16 dan eror 0, tidak ada eror
dari responden 4 karena memberikan jawaban ideal, ia bisa mengatasi
butir mudah dan tidak bisa mengatasi butir yang sulit.
Setelah ketemu nilai error, hitung nilai koefisien reprodusibilitas
dan koefisien skalabilitas.
6) Uji Reliabilitas Skala Guttman
Rumus yang cocok untuk dipakai pada skala Guttman (salah satunya)
adalah rumus Kuder-Richardson 21 atau sering disebut sebagai KR 21.
Alasannya, karena rumus ini cocok untuk pilihan jawaban yang sifatnya
dikotomi (“ya” atau “tidak”).
RumusKuder-Richardson
r11= K/(K-1) * (1 - U*(K-U)/(K*V))
Keterangan:
r11= reliabilitas instrumen.
K = banyaknya butir soal atau pertanyaan.
U= rata-rata skor total.
V= varians total.
Adapun untuk pengolahannya menggunakan program microsoft
excel. Kategori koefisien reliabilitas (Guilford, 1956: 145) adalah sebagai
berikut:
a. 0,80 < r11 1,00 reliabilitas sangat tinggi
b. 0,60 < r11 0,80 reliabilitas tinggi
c. 0,40 < r11 0,60 reliabilitas sedang
d. 0,20 < r11 0,40 reliabilitas rendah
e. -1,00 < r11 0,20 reliabilitas sangat rendah (tidak reliabel)

12
Jadi intinya, setelah dapat nilai Kuder Richardson 21 dan hasilnya
minimal 0,7 (paling baik hasilnya >0,8), itu artinya kuesioner yang dipakai
dalam riset sudah reliabel (dapat diandalkan).
B.Self disclosure
1.Pengertian Self disclosure
Sikap terbuka adalah kemauan menaggapi dengan senang hati
informasi yang diterima didalam menghadapi hubungan antarpribadi.
Keterbukaan (Self disclosure) adalah pengungkapan reaksi atau
tanggapan kita terhadap situasi yang sedang dihadapi serta
memberikan informasi tentang masa lalu yang relevan untuk
memberikan tanggapan kita di masa kini tersebut (Hidayat, 2012).
De Vito (2007) menyatakan bahwa self disclosure merupakan jenis
komunikasi dimana kita mengungkapkan informasi tentang diri kita
sendiri yang secara aktif kita sembunyikan.
Wrightsman (dalam Hanifia, 2013) mendefinisikan bahwa self
disclosure adalah proses self disclosure yaang diwujudkan dengan
berbagi perasaan dan informasi kepada orang lain. Menurut Morton,
pengungkapan diri merupakan kegiatan membagi perasaan dan
informasi yang akrab dengan orang lain. Informasi pengungkapan diri
ini bersifat deskriptif dan evaluatif. Deskriptif artinya individu
melukiskan berbagai fakta mengenai diri sendiri yang mungkin belum
diketahui oleh pendengar seperti, jenis pekerjaan, alamat, dan usia.
Sedangkan evaluatif artinya individu mengemukakan pendapat atau
perasaan pribadinya seperti tipe orang yang disukai atau hal-hal yang
tidak disukai atau dibenci (Hidayat, 2012).
Self disclosure ini dapat berupa berbagai topik seperti
informasi perilaku, sikap, perasaan, keinginan, motivasi, dan ide yang
sesuai dan terdapat didalam diri orang yang bersangkutan. Kedalaman
dan self disclosure seseorang tergantung pada situasi dan orang yang

13
diajak berinteraksi. Jika orang berinteraksi dengan menyenangkan dan
membuat merasa aman serta dapat membangkitkan semangat maka
kemungkinan bagi individu untuk lebih membuka diri amatlah besar.
Sebaliknya pada beberapa orang tertentu yang dapat saja menutup diri
karena merasa kurang percaya (DeVito, 1996).
Proses pengungkapan diri individu-individu biasanya memiliki
kecendrungan mengikuti norma resiprok (timbal balik). Bila seseorang
menceritakan sesuatu yang bersifat pribadi maka akan cendrung
memberikan reaksi yang sepadan. Pada umumnya, mengharapkan
orang lain memperlakukan samaseperti perlakuan mereka.
Kebudayaan juga memiliki pengaruh dalam self disclosure
seseorang. Tiap-tiap bangsa dengan corak budaya masing-masing
mamberikan batas tertentu sejauh mana individu pantas atau tidak
pantas mengungkapkan diri.
Kurt Lewin (dalam Raven & Rubin, 1983) dari hasil
penelitiannya menemukan bahwa orang-orang Amerika nampaknya
lebih terbuka daripada orang-orang Jerman, tapi keterbukaan ini hanya
terbatas pada hal permukaan saja dan sangat enggan untuk membuka
rahasia yang menyangkut pribadi mereka.
Di pihak lain orang Jerman pada awalnya lebih sulit untuk
mengungkapkan diri meskipun untuk hal yang bersifat permukaan,
namun jika sudah menaruh kepercayaan maka mereka tidak enggan
untuk membuka rahasia pribadi mereka yang paling dalam (Hidayat,
2012).
Berdasarkan beberapa definisi, Dapat disimpulkan bahwa self
disclosure (Self Disloure) adalah reaksi atau tanggapan seseorang
dengan senang hati menerima informasi dalam menghadapi hubungan
pribadi, serta bersedia membagi perasaan dan informasi tentang diri

14
yang akrab, baik informasi yang bersifat deskriptif maupun bersifat
evaluatif.
Kedalaman dan self disclosure seseorang tergantung pada
situasi dan orang yang diajak berinteraksi. Ketika seseorang
berinteraksi dengan menyenangkan, menimbulkan rasa aman, dan
dapat membangkitkan semangat maka seseorang akan lebih bisa
membuka diri pada saat berinteraksi.
2.Aspek-Aspek Self disclosure
(Self Disclosure) Altman & Taylor ( dalam Gainau, 2009) menemukan
5 aspek dalam self disclosure yaitu:
a.Ketepatan
Hal ini mengacu pada apakah seorang individu
mengungkapkan informasi pribadinya dengan relevan dan untuk
peristiwa dimana individu terlibat atau tidak (sekarang dan disini).
Sebuah self disclosure mungkin akan menyimpang dari norma dalam
hubungan yang spesifik jika individu tidak sadar akan norma tersebut.
Individu harus bertanggung jawab terhadap resikonya, meskipun
bertentangan dengan norma.
Self – disclosure yang tepat dan sesuai meningkatkan reaksi
yang positif dari partisipan atau pendengar. Pernyataan negatif
berkaitan dengan penilaian diri yang sifatnya menyalahkan diri,
sedangkan pernyataan positif merupakan pernyataan yang termasuk
kategori pujian.
b.Motivasi
Motivasi berkaitan dengan dorongan seseorang untuk
mengungkapkan dirinya kepada orang lain. Dorongan bisa berasal dari
dalam diri maupun dari luar. Dimana dorongan dari dalam berkaitan
dengan apa yang menjadi keinginan dan tujuan seseorang yang

15
melakukan self disclosure. Sedangkan dari luar, dipengaruhi
lingkungan keluarga, sekolah, dan pekerjaan.
c.Waktu
Waktu yang digunakan dengan seseorang akan cenderung
meningkatkan kemungkinan terjadinya self disclosure. Pemilihan
waktu yang tepat sangat penting untuk menentukan apakah seorang
dapat terbuka atau tidak. Pada intinya perlu memperhatikan kondisi
orang lain, jika waktunya kurang tepat misalkan seseorang dalam
kondisi capek atau dalam keadaan sedih maka orang tersebut cendrung
kurang terbuka dengan orang lain. Sedangkan waktu yang tepat adalah
seperti waktu seseorang dalam kondisi bahagia atau senang maka ia
akan cendrung untuk terbuka.
d.Keintensifan
Keintensifan seseorang dalam self disclosure (self
disclosure)adalah tergantung pada siapa seseorang mengungkapkan
diri, apakah teman dekat, orang tua, teman biasa, orang yang baru
kenal.
e.Kedalaman dan keluasan
Dalam hal ini ada dua dimensi yakni self disclosureyang
dangkal dan yang dalam. Self disclosure yang dangkal l biasanya
diungkapkan kepada orang yang baru dikenal. Kepada orang tersebut
biasanya diceritakan aspek - aspek geografis tentang diri misalnya
nama, daerah asal dan alamat.
Self disclosure yang dalam, diceritakan kepada orang-orang
yang memiliki kedekatan hubungan (intimacy). Seseorang dalam
menginformasikan dirinya secara mendalam dilakukan kepada orang
yang betul-betul dipercaya dan biasanya hanya dilakukan kepada
orang yang betul-betul akrab dengan dirinya, misalnya orang tua,
teman dekat, teman sejenis dan pacar. Pendek kata, dangkal dalamnya

16
seorang menceritakan dirinya ditentukan oleh yang hendak diajak
berbagi cerita atau target person. Semakin akrab hubungan seseorang
dengan orang lain, semakin terbuka ia kepada orang tersebut.
Jadi dalam self disclosure ada beberapa unsur yang akan
meningkatkan self disclosure seseorang menurut Altman & Taylor,
diantaranya adalah keterpatan seseorang dalam melakukan self
disclosure, adanya motivasi untuk melakukan self disclosure,
kedalaman dan keluasan dalam melakukan self disclosure. Pemilihan
waktu yang tepat dan keintensifan (kedekatan) dengan seseorang juga
merupakan hal yang penting bagi seseorang untuk melakukan self
disclosure.
3.Faktor-faktor yang mempengaruhi Self disclosure
Menurut Devito (dalam Rahmawati, 2005) faktor-faktor yang
mempengaruhi pengungkapan diri diantaranya:
a.Besar kelompok
Pengungkapan diri lebih banyak terjadi dalam kelompok kecil
daripada kelompok besar. Kelompok yang terdiri atas dua orang
merupakan lingkungan yang paling cocok untuk pengungkapan diri.
Dengan satu pendengar, pihak yang melakukan pengungkapan diri
meresapi dengan cermat.
b.Perasaan menyukai
Individu membuka diri dengan orang-orang yang kita sukai
atau cintai, dan kita tidak akan membuka diri kepada orang yang tidak
kita sukai. Hal ini dikarenakan orang yang individu sukai dan mungkin
juga memiliki perasaan yang sama akan bersikap mendukung dan
positif atau terbuka dengan individu tersebut.
c.Efek diadik
Individu akan melakukan self disclosure apabila orang yang
bersamanya juga melakukan self disclosure. Efek diadik ini membuat

17
individu merasa aman, nyaman dan pada kenyatannya akan
memperkuat self disclosure seorang individu.
d.Kompetensi
Individu yang berkompeten akan lebih terbuka mengenai
dirinya daripada orang yang kurang berkompeten. Individu yang
berkompeten akan mampu melakukan komunikasi interpersonal
dengan baik karena individu tersebut dapat menempatkan dirinya,
mengatakan apa yang seharusnya dikatakan, dan juga bersikap
terbuka. Keterbukaan dianggap berhasil apabila seseorang memahami
betul terhadap apa yang diinformasikan, baik positif maupun
negatifnya karena hal itu sangat menentukan dalam perkembangan
selanjutnya.
e.Kepribadian
Orang-orang yang pandai bergaul (sociable) dan ekstovert
melakukan pengungkapan diri lebih banyak daripada mereka yang
kurang pandai bergaul dan lebih introvert.
f.Topik
Individu cenderung terbuka tentang informasi dengan topik
tertentu. Individu lebih terbuka mengenai hobi atau pekerjaan daripada
tentang keadaan ekonomi, seks dan kehidupan keluarga. Umumnya
topik yang bersifat pribadi dan informasi yang kurang baik akan
menimbulkan kemungkinan kecil individu terbuka.
g.Jenis kelamin
Pada umumnya pria lebih kurang terbuka daripada wanita.
Wanita lebih senang membagikan informasi tentang dirinya ataupun
orang lain. Sebaliknya pria lebih senang diam atau memendam sendiri
permasalahannya dari pada membeberkan kepada orang lain. Faktor-
faktor self disclosure individu yang telah dijelaskan oleh De Vito
sedikit banyak memiliki peran terhadap keterampilan individu dalam

18
melakukan komunikasi interpersonal. efek diadik mempengaruhi self
disclosure individu yang dalam peosesnya dibutuhkan suatu
keterampilan berkomunikasi karena pada dasarnya efek diadik dapat
terjadi apabila individu satu dengan yang lainnya sama-sama mau
memberikan informasi atau saling terbuka.
4.Tingkatan-Tingkatan Self disclosure
Terdapat beberapa tingkatan keterbuakaan diri dalam komunikasi
interpersonal. Menurut Powell (Hidayat, 2012) tingkatan pengungkapan diri
dalam komunikasi, yaitu:
a.Basa-basi
Merupakan taraf pengungkapan diri yang paling lemah atau
dangkal, walaupun terdapat keterbukaan pada individu, tidak terjadi
hubungan interpersonal. Masing-masing individu berkomunikasi basa-
basi sekedar kesopanan.
b.Membicarakan orang lain
Komunikasi yang dilakukan hanyalah mengungkapkan tentang
orang lain atau hal-hal yang diluar darinya. Walaupun pada tingkat ini
lebih mendalam, individu tidak mengungkapkan diri.
c.Menyatakan gagasan atau pendapat
Sudah mulai menjalin hubungan yang erat. Individu mulai
mengungkapkan dirinya kepada individu lain.
d.Adanya perasaan
Individu dapat memiliki gagasan atau pendapat yang sama,
tetapi perasaan atau emosi yang menyertai gagasan atau pendapat
individu yang berbeda-beda. Setiap hubungan yang menginginkan
pertemuan interpersonal yang sungguh-sungguh, haruslah didasarkan
atas hubungan yang jujur, terbuka dan menyarankan perasaan-
perasaan yang mendalam.

19
e.Hubungan puncak
Individu sudah mulai mengungkapkan diri secara mendalam.
individu yang menjalin hubungan interpersonal dapat menghayati
perasaan yang dialami individu lainnya. Segala persahabatan yang
mendalam dan sejati haruslah berdasarkan pada pengungkapan diri
dan kejujuran yang mutlak. Sikap terbuka (self disclosure)sangat
berpengaruh besar dalam menumbuhkan komunikasi interpersonal
yang efektif.
5.Manfaat Self disclosure
Johnson (dalam Supriatiknya, 1995) menyatakan bahwa ada
beberapa manfaat dan dampak pembukaan diri terhadap hubungan
interpersonal, diantaranya:
a.Pembukaan diri merupakan dasar bagi hubungan yang
sehat antara dua orang
b.Semakin seseorang bersikap terbuka pada orang lain,
semakin orang lain tersebut akan menyukai diri kita dan akan
semakin membuka diri kepada kita
c.Orang yang rela membuka diri kepada orang lain
terbukti cenderung memiliki sifat kompeten, terbuka,
ekstrovet, fleksibel, adaptif, inteligen, yang artinya orang
tersebut dalam keadaan bahagia.
d.Diri kepada orang lain merupakan dasar relasi yang
memungkinkan komunikasi intim baik dengan diri kita sendiri
maupun dengan orang lain.
e.Membuka diri berarti bersikap realistik. Maka,
pembukaan diri kita haruslah jujur, tulus dan autentik Devito
(2011) menyatakan bahwa self disclosure memiliki beberapa
manfaat bagi seseorang, yakni :
a.Pengetahuan Diri

20
Seseorang akan mendapatkan
pemahaman yang baru dan lebih mendalam
mengenai dirinya sendiri. Pandangan baru
sering muncul ketika konseli melakukan
pengungkapan diri dalam sebuah proses
konseling, konseli akan menyadari adanya
aspek yang belum diketahuinya, dengan begitu
melalui self disclosure seseorang akan
mendapatkan pemahaman yang lebih mendalam
atas dirinya.
b.Kemampuan mengatasi kesulitan
Seseorang cendrung memiliki perasaaan
ketakutan tidak diterima dalam suatu
lingkungan karena suatu kesalahan tertentu
kepada orang lain. Dalam hal ini, Self disclosure
akan membantu individu dalam menyelesaikan
permasalahan dengan orang lain karena individu
memiliki kesiapan untuk membicarakan
permasalah tersebut secara lebih terbuka.
c.Efisiensi komunikasi
Self disclosure dapat mempengaruhi
proses komunikasi yang dilakukan oleh
individu. individu dapat lebih memahami apa
yang dikatakan oleh orang lain apabila individu
tersebut sudah mengenal baik orang lain
tersebut, sehingga individu tersebut
mendapatkan pemahaman secara uuh terhadap
orang lain dan mungkin sebaliknya. Sehingga

21
proses komunikasi yang dilakukan menjadi
tepat dan efektif.
d.Kedalaman Hubungan
Dalam membina sebuah hubungan, self
disclosure sangat diperlukan seperti sikap saling
percaya, menghargai dan jujur. Adanya self
disclosure yang seperti itu akan membuat suatu
hubungan lebih bermakna dan mendalam.
Berdasarkan paparan diatas, dapat disimpulkan
bahwa seseorang dalam melakukan pembukaan
diri harus bersikap realistik, jujur, tulus dan
autentik. Ada beberapa manfaat self disclosure
yakni, seseorang akan mampu memahami diri
sendiri secara lebih mendalam, seseorang akan
mampu mengatasi kesulitan yang dialaminya
dalam artian dengan self disclosure seseorang
akan mampu menyelesaikan permasalahan yang
dialaminya karena seseorang memiliki kesiapan
untuk membicarakan permasalahannya secara
lebih terbuka, self disclosure juga bermanfaat
untuk efisiensi komunikasi dan akan dapat
membina hubungan yang mendalam dengan
seseorang.

22
BAB III
METODE

A. Definisi Konsep
Corsini (1987:115) menyatakan bahwa pengungkapan diri merupakan
proses dimana individu secara suka rela dan sengaja mengungkapkan
informasi pribadi berkenaan dengan sikap, pendapat, dan hal-hal yang
menarik minat mereka.
DeVito (1990:60) menyebutkan bahwa makna dari self disclosure
adalah suatu bentuk komunikasi dimana anda atau seseorang menyampaikan
informasi tentang dirinya yang biasanya disimpan.oleh karena itu, setidaknya
proses self disclosure membutuhkan dua orang.
Wrightsman (dalam Dayakisni dan Hudaniyah, 2006: 104)
menyebutkan self disclosure adalah suatu proses menghadirkan diri yang
terwujud dalam kegiatan membagi informasi, perasaan, dengan orang lain.
Burhan Bungin (2006: 262-263) mengungkapkan bahwa self disclosure atau
self disclosure merupakan sebuah proses pengungkapan informasi pribadi
individu kepada orang lain dan juga sebaliknya.
Dari beberapa definii diatas dapat disimpulkan bahwa definisi konsep
dari self disclosure adalah tindakan untuk mengungkapkan tentang bagaimana
kita berinteraksi dengan orang terhadap situasi yang terjadi saat ini, dan
memberikan informasi tentang masa lalu yang relevan, yang dapat
menjelaskan reaksi yang kita perbuat saat ini.
B. Definisi Operasional
Self disclosure adalah reaksi atau tanggapan seseorang dengan senang
hati menerima informasi dalam menghadapi hubungan pribadi, serta bersedia
membagi perasaan dan informasi tentang diri yang akrab dengan orang lain
yang didalamnya mengandung unsur ketepatan, motivasi, waktu, keintensifan,

23
kedalaman dan keluasan dalam membagi informasi diri, sehingga
menimbulkan keakraban yang mendalam dengan seseorang.
C. Blueprint dan Aitem
1. Blueprint Self Disclosure
NO ASPEK INDIKATOR AITEM JUMLAH
FAVORABLE UNFAVORABLE
1. Personal Tentang 1, 2, 3, 5 4, 6 6
matters pribadi diri
sendiri
2. Thoughts & Berbagi ide 7, 8, 9 10 4
ideas dengan orang
lain
Persepsi situasi 11 12 2
bersama
3. Religion Kemampuan 13, 14, 15, 17 5
berbagi 16

pengalaman,
pikiran dan
emosi tentang
Allah
4. Sex Kesediaan 18, 19, 20 3
untuk
membahas
pengalaman
seksualnya
Kebutuhan dan 24 21, 22, 23 4
pandangannya
5. Interpersonal Hubungan atau 25, 26, 27, 29, 30 7
relationship ikatan yang 28, 31
terbentuk
diluar lingkup
keluarga
6. Emotional Pernyataan 32, 33 2

24
state emosi dan
perasaan
Perasaan, sikap 34, 35 2
terhadap
situasi yang
disampaikan
kepada orang
lain
7. Problems Peristiwa yang 36, 37, 38 3
dapat
diringankan
melalui
pengungkapan
Konflik 39, 40, 41
perselisihan
yang dialami
oleh sebuah
individual

2. Aitem Self Disclosure

No Pernyataan Ya Tidak
1 Apakah anda suka berbicara tentang kehidupan pribadi anda
melalui sosial media?
2 Apakah anda bersedia menceritakan tentang pribadi anda
kepada orang yang baru anda kenal?
3 Apakah anda berbagi dengan teman media sosial anda dan anda
merasa senang?
4 Apakah anda tidak suka berbagi tentang apapun pada orang
lain?
5 Apakah anda orang yang menceritakan hal yang menjadai
kesuakaan anda pada orang lain?
6 Apakah anda merasa tidak nyaman jika menceritakan tentang
diri anda ?
7 Apakah anda berbagi informasi tentang diri anda kepada orang
yang baru anda kenal?

25
8 Apakah anda berbagi pengalaman yang menyenangkan kepaa
orang yang baru anda kenal?
9 Apakah anda suka berdiskusi dengan teman anda?
10 Apakah anda orang yang tidak senang berdiskusi kelomok?
11 Apakah anda suka teman-teman anda tahu tentang cita-cita,
harapan dan juga mimpi anda?
12 Apakah anda meras tidak nyaman jika orang lain harus tahu
rahasia tentang diri anda?
13 Apakah anda dapat berbagi pengalaman sepiritual anda?
14 Apakah anda berbagi pandangan anda tentang tuhan (Allah)
kepada orang yang baru anda kenal?
15 Apakah anda termasuk orang yang memiliki pengetahuan
agama sehingga dapat mengajari orang di sekitar?
16 Apakah anda suka me-metion teman anda di media sosial yang
membahas mengenai masalah-masalah ke-islaman?
17 Apakah anda tidak perlu saling berbagi ketika terdapat
perbedaan agama?
18 Apakah anda berbagi pendapat tentang pandangan pribadi anda
mengenai nilai-nilai seksual pada teman media sosial anda?
19 Apakah anda tipe orang yang memendam sendiri perasaan
kesepian anda saat tidak memiliki teman dekat?
20 Apakah anda suka mengungkapkan keingian untuk menikah
pada teman-teman anda?
21 Apakah anda tidak suka bercerita tentang kehidupan cinta anda
kepada siapapun?
22 Apakah anda merasa iri jika teman anda bercerita tentang
pasangan pada anda ?
23 Apakah anda ragu untuk memulai sebuah hubungan dengan
lawan jenis?
24 Apakah anda merasa butuh rasa kasih saying dari pasangan
anda?
25 Apakah anda memiliki teman yang banyak?
26 Apakah anda bersahabat baik dengan teman-teman anda?
27 Apakah teman-teman anda selalu ada buat anda?
28 Apakah anda suka berbagi tentang perasaan anda kepada orang
yang baru anda kenal?
29 Apakah anda tidak akan membiarkan diri anda diketahui orang
lain?

26
30 Apakah anda takut untuk berbagi dengan orang yang baru anda
kenal?
31 Apakah anda saat bercerita, anda akan memilah-milah cerita
apa saja yang akan anda ceritakan ke teman-teman anda?
32 Apakah anda menceritakan hal-hal yang membuat anda sedih
kepada orang terdekat anda ?
33 Apakah anda berbagi hal-hal yang paling anda khawatirkan
hanya kepada teman media sosial anda?
34 Apakah anda akan marah ketika orang lain menertawakan anda
saat melakukan hal yang memalukan?
35 Apakah anda mudah merasa sebel jika teman anda bercerita
hal-hal yang anda tidak sukai?
36 Apakah anda merasa lega jika menceritakan tentang masalah
anda pada orang lain?
37 Apakah anda dapat berbagi dengan orang lain tentang masalah-
masalah anda kapan saja anda inginkan?
38 Apakah anda merasa puas setelah menceritakan masalah anda
ke teman anda?
39 Apakah anda tidak suka masalah yang anda hadapi harus
diketahui ole orang lain?
40 Apakah anda sering bertengkar karena perbedaan pendapat?
41 Apakah anda suka orang yang tidak anda kenal mencampuri
urusan anda?

D. Tahapan Operasionalisasi
Dalam pembuatan skala dukungan sosial teman sebaya dengan
menggunakan skala Guttman ini melalui beberapa tahapan, diantaranya sebagai
berikut:
1. Menentukan variabel yang akan digunakan untuk membuat skala
2. Menyusun teori mengenai variabel yang telah ditentukan, termasuk yang di
dalamnya adalah definisi, aspek-aspek, faktor-faktor yang mempengaruhi dan
menentukan definisi operasionalnya.
3. Berdasarkan aspek-aspek yang telah ditentukan kemudian membuat indikator
sesuai aspek-aspek dari variabel tersebut.

27
4. Setelah itu, membuat aitem sesuai indikator dan aspek-aspeknya sebanyak 50
aitem dengan ketentuan 10% dari jumlah jumlah aitem adalah unfavorable,
jadi sebanyak 45 aitem favorable dan 5 aitem favorable.
5. Aitem sebanyak 50 yang terdiri dari favorable dan unfavorable kemudia
dikoreksi oleh expert judgement (yaitu kelompok lain dan dosen pembimbing
mata kuliah Pengembangan Alat Ukur Psikologi)
6. Setelah direvisi, aitem diacak kemudian di try out kan kepada 2 siswa SMA
untuk mengetahui apakah aitem-aitem tersebut dapat dipahami oleh anak
SMA atau tidak.
7. Skala disebar kepada 50 subyek
8. Kemudian dianalisis untuk mengetahui validitas dan reliabilitasnya.
E. Analisis Data
a. Uji validitas
Rumus yang cocok untuk uji validitas dengan skala Guttman yaitu rumus
koefisien reprodusibilitas dan koefisien skalabilitas. Jadi, pertama adalah
menghitung koefisien reprodusibilitasnya dulu baru selanjutnya menghitung
koefisien skalabilitasnya. Runtutan rumusnya sebagai berikut:
Rumus koefisien reprodusibilitas:
Kr = 1-(e/n)
Keterangan:
E = jumlah kesalahan/nilai error
N = jumlah pernyataan dikali jumlah responden
Syarat penerimaan nilai koefisien reprodusibiltas yaitu apabila koefisien
reprodusibiltas memiliki nilai > 0,90.

Rumus koefisien skalabilitas:

Ks = 1-(e/x)
Keterangan:
E = jumlah kesalahan/nilai

28
X = 0,5 ({jumlah pernyataan dikali jumlah responden} – jumlah jawaban“ya”)
Syarat penerimaan nilai koefisien skalabilitas yaitu apabila koefisien
skalabilitas memiliki nilai > 0, 60. Sebelum kita mencari nilai koefisien
reprodusibilitas, kita harus mencari nilai eror terlebih dahulu. Dimana nilai eror
didapatkan dari sko rbutir individu yang tidak sesuai dengan harapan.
Contohnya bisa dilihat pada gambar di bawah ini yang berisi butir yang telah
diurutkan dari yang paling mudah hingga paling sulit.
Jadi secara sederhananya: Saat memulai menghitung data yang terkumpul
dari kuesioner, urutkan pertanyaan dari bobot mudah ke bobot sulit. Dengan
asumsi bahwa responden yang menjawab “ya” pada pertanyaan yang berbobot
lebih sulit diasumsikan akan juga memberikan jawaban “ya” pada pertanyaan
yang berbobot lebih mudah jadi itulah kenapa pertanyaan harus diurutkan dari
yang bobotnya dianggap lebih mudah hingga ke pertanyaan yang dianggap
memiliki bobot yang agak sulit.

pertanyaan
Respond sko
11 1 1 15 17 2 2 3 eror
en r
a b c d e 0 3 a b c d a b c d 6 7 7
1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 18 0
2 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 1 1 17 4
3 1 1 1 1 1 11 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 17 1
4 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 16 0

Responden 1 mendapatkan skor 18 dan eror 0, tidak ada eror dari


responden 1 karena ia bisa mengatasi butir mudah dan bisa mengatasi butir
yang sulit.

Responden 2 mendapatkan skor 17 dan eror 4. Hal ini dikarena responden


2 tidak bisa menjawab dengan benar pada pertanyaan 17 point d, namun dia
dapat menjawab dengan benar pertanyaan pada butir 3 berikutnya. Eror
responden 2 terletak pada butir pertanyaan 17 d, dimana harusnya responden 2

29
bisa menjawab dengan benar akan tetapi justru dia tidak bisa menjawab dengan
benar, sedangkan butir 26, 27 dan 37 harusnya responden tidak bisa menjawab
dengan benar malah dia bisa menjawabnya dengan benar.
Responden 3 mendapatkan skor 17 dan eror 1. Hal ini dikarenakan
responden 3 tidak bisa menjawab dengan benar pada pertanyaan 27, namun dia
dapat menjawab dengan benar pertanyaan pada butir berikutnya.
Responden 4. Dia mendapatkan skor 16 dan eror 0, tidak ada eror dari
responden 4 karena memberikan jawaban ideal, ia bisa mengatasi butir mudah
dan tidak bisa mengatasi butir yang sulit.
Setelah ketemu nilai error, hitung nilai koefisien reprodusibilitas dan
koefisien skalabilitas.

Uji Reliabilitas Skala Guttman


Rumus yang cocok untuk dipakai pada skala Guttman (salah satunya)
adalah rumus Kuder-Richardson 21 atau sering disebut sebagai KR 21.
Alasannya, karena rumus ini cocok untuk pilihan jawaban yang sifatnya
dikotomi (“ya” atau “tidak”).
Rumus Kuder-Richardson
r11= K/(K-1) * (1 - U*(K-U)/(K*V))
Keterangan:
r11= reliabilitas instrumen.
K = banyaknya butir soal atau pertanyaan.
U= rata-rata skor total.
V= varians total.
Adapun untuk pengolahannya menggunakan program microsoft excel.
Kategori koefisien reliabilitas (Guilford, 1956: 145) adalah sebagai berikut:
a. 0,80 < r11 1,00 reliabilitas sangat tinggi
b. 0,60 < r11 0,80 reliabilitas tinggi
c. 0,40 < r11 0,60 reliabilitas sedang

30
d. 0,20 < r11 0,40 reliabilitas rendah
e. -1,00 < r11 0,20 reliabilitas sangat rendah (tidak reliabel)
Jadi intinya, setelah dapat nilai Kuder Richardson 21 dan hasilnya
minimal 0,7 (paling baik hasilnya >0,8), itu artinya kuesioner yang dipakai
dalam riset sudah reliabel (dapat diandalkan)
F. Subjek Uji Coba Alat Ukur

1. Subjek Penelitian
Suatu penelitian yang dimaksudkan untuk menarik generalisasi, sangat
berkaitan dengan masalah sampel, yaitu bagaimana mengambil sampel dari
suatu populasi sehingga hasil-hasil penelitian terhadap sampel tersebut dapat
melahirkan suatu kesimpulan yang dapat berlaku umum bagi seluruh populasi.
Subjek dalam Penelitian ini adalah 50 mahasiswa maupun mahasiswi
aktif usia 19-25 tahun. Mulai dari mahasiswa S1 sampai dengan pasca sarjana
yang berasal dari beberapa universitas di Indonesia.
2. Populasi dan Sampel
Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas objek atau subjek
yang memiliki kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti
untuk dipelajari kemudian di tarik kesimpulannya. Sugiono,(1999). Populasi
dalam penelitian ini adalah siswa siswi mahasiswa maupun mahasiswi aktif
usia 19-25 tahun. Mulai dari mahasiswa S1 sampai dengan pasca sarjana yang
berasal dari beberapa universitas di Indonesia sebanyak 55orang. Sampel adalah
beberapa bagian kecil atau cuplikan yang ditarik dari populasi atau porsi dari
suatu populasi (Sevilla, 1993). Sedangkan dalam pengambilan sampel dalam
penelitian ini menggunakan sampel sebanyak 50 mahasiswa.
3. Teknik Pengambilan Sampel
Sample diambil dengan menggunakan teknik pengambilan sample secara
acak sederhana, yaitu teknik pengambilan sample secara probabilitas

31
(probability sampling) dimana semua anggota populasi memiliki kesempatan
yang sama untuk menjadi sample penelitian ini.
Adapun dalam penelitian ini penulis menggunakan sampel sebanyak 50
mahasiswa dan mahasiswi. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah
sebanyak 50 orang mahasiswa dan mahasiswi dari beberapa universitas di
Indonesia.

32
BAB IV
HASIL

A. Deskripsi Validitas dan Reliabilitas Aitem


1. Uji Validitas Aitem
a. Aspek personal matters
Hasil analisis Aitem pada aspek dukungan emosional adalah
sebagai berikut:

Analisis 1

4.1 Tabel analisis 1 Aitem-Total Statistics Aspek personal matters


Aitem-Total Statistics

Cronbach's
Scale Mean if Scale Variance if Corrected Aitem- Alpha if Aitem
Aitem Deleted Aitem Deleted Total Correlation Deleted

A1 2.7200 2.451 .654 .667

A2 2.8400 2.504 .672 .665

A3 2.5600 2.741 .453 .726

A4 2.7400 2.604 .544 .701

A5 2.4000 3.020 .348 .750

A6 2.5400 2.988 .295 .768

4.2 Tabel analisis 1 Aitem Valid Aspek personal matters


No. aitem r tabel R hitung Keterangan
A1 0.654 0,284 Valid
A2 0.672 0,284 Valid
A3 0.453 0,284 Valid
A4 0.544 0,284 Valid
A5 0.348 0,284 Valid
A6 0.295 0,284 Valid

33
b. Aspek Thoughts & ideas
Hasil analisis Aitem pada aspek dukungan instrumental adalah
sebagai berikut:
Analisis 1
4.3 Tabel analisis 1 Aitem-Total Statistics Thoughts & ideas

Aitem-Total Statistics

Cronbach's
Scale Mean if Scale Variance if Corrected Aitem- Alpha if Aitem
Aitem Deleted Aitem Deleted Total Correlation Deleted

A7 3.4400 1.966 .445 .582

A8 3.3400 1.943 .511 .557

A9 3.2200 2.298 .307 .632

A10 3.5000 2.010 .399 .601

A11 3.3200 2.222 .290 .640

A12 3.2800 2.206 .330 .625

4.4 Tabel analisis 1 aitem valid Aspek Thoughts & ideas


No. aitem r tabel R hitung Keterangan
A7 0.445 0,284 Valid
A8 0.511 0,284 Valid
A9 0.307 0,284 Valid
A10 0.399 0,284 Valid
A11 0.290 0,284 Valid
A12 0.330 0,284 Valid

34
c. Aspek Religion
Hasil analisis Aitem pada aspek dukungan informasi adalah
sebagai berikut:
Analisis 1

4.5 Tabel analisis 1 Aitem-Total Statistics Aspek Religion


Aitem-Total Statistics

Cronbach's
Scale Mean if Scale Variance if Corrected Aitem- Alpha if Aitem
Aitem Deleted Aitem Deleted Total Correlation Deleted

A13 2.3000 2.337 .393 .768

A14 2.4200 2.044 .586 .703

A15 2.3200 1.936 .719 .655

A16 2.4000 2.000 .627 .687

A17 2.4000 2.327 .368 .778

4.6 Tabel analisis 1 aitem valid Aspek Religion


No. aitem r table R hitung Keterangan
A13 0.393 0,284 Valid
A14 0.586 0,284 Valid
A15 0.719 0,284 Va;id
A16 0.627 0,284 Valid
A17 0.368 0,284 Valid

35
d. Aspek Sex
Hasil analisis Aitem pada aspek dukungan informasi adalah
sebagai berikut:
Analisis 1

4.7 Tabel analisis 1 Aitem-Total Statistics Aspek Sex

Aitem-Total Statistics

Cronbach's
Scale Mean if Scale Variance if Corrected Aitem- Alpha if Aitem
Aitem Deleted Aitem Deleted Total Correlation Deleted

A18 3.7800 2.583 .502 .613

A19 3.9000 2.663 .494 .617

A20 3.5600 2.945 .286 .676

A21 3.5800 2.861 .334 .663

A22 3.5800 2.902 .307 .670

A23 3.5800 2.616 .506 .613

A24 3.3400 3.168 .316 .667

4.8 Tabel analisis 1 aitem valid Aspek Sex


No. aitem r tabel R hitung Keterangan
A18 0.502 0,284 Valid
A19 0.494 0,284 Valid
A20 0.286 0,284 Valid
A21 0.334 0,284 Valid
A22 0.307 0,284 Valid
A23 0.506 0,284 Valid
A24 0.316 0,284 Valid

36
e. Aspek Interpersonal relationship
Hasil analisis Aitem pada aspek dukungan informasi adalah
sebagai berikut:

Analisis 1
4.9 Tabel analisis 1 Aitem-Total Statistics Aspek Interpersonal relationship

Aitem-Total Statistics

Cronbach's
Scale Mean if Scale Variance if Corrected Aitem- Alpha if Aitem
Aitem Deleted Aitem Deleted Total Correlation Deleted

A25 3.0400 4.815 .800 .842

A26 3.1600 4.953 .787 .845

A27 2.8800 5.210 .607 .867

A28 3.0600 5.486 .467 .885

A29 2.9000 5.031 .692 .856

A30 2.8000 5.510 .494 .881

A31 3.0400 4.815 .800 .842

4.10 Tabel analisis 1 aitem valid Aspek Interpersonal relationship


No. aitem r table R hitung Keterangan
A25 0.800 0,284 Valid
A26 0.787 0,284 Valid
A27 0.607 0,284 Valid
A28 0.467 0,284 Valid
A29 0.692 0,284 Valid
A30 0.494 0,284 Valid
A31 0.800 0,284 Valid

37
f. Aspek Emotional state
Hasil analisis Aitem pada aspek dukungan informasi adalah
sebagai berikut:

Analisis 1

4.11 Tabel analisis 1 Aitem-Total Statistics Aspek Emotional state

Aitem-Total Statistics

Cronbach's
Scale Mean if Scale Variance if Corrected Aitem- Alpha if Aitem
Aitem Deleted Aitem Deleted Total Correlation Deleted

A32 2.2000 .980 .395 .596

A33 1.9800 1.040 .362 .617

A34 1.8800 .965 .557 .481

A35 1.8600 1.102 .393 .593

4.12 Tabel analisis 1 aitem valid Aspek Emotional state


No. aitem r table R hitung Keterangan
A32 0.395 0,284 Valid
A33 0.362 0,284 Valid
A34 0.557 0,284 Valid
A35 0.393 0,284 Valid

38
g. Aspek Problems
Hasil analisis Aitem pada aspek dukungan informasi adalah
sebagai berikut:

Analisis 1
4.13 Tabel analisis 1 Aitem-Total Statistics Aspek Problems

Aitem-Total Statistics

Cronbach's
Scale Mean if Scale Variance if Corrected Aitem- Alpha if Aitem
Aitem Deleted Aitem Deleted Total Correlation Deleted

A36 3.4800 2.091 .379 .670

A37 3.5600 2.007 .284 .686

A38 3.7800 1.522 .547 .599

A39 3.6600 1.617 .555 .599

A40 3.6400 1.745 .444 .639

A41 3.9800 1.693 .358 .677

4.14 Tabel analisis 1 aitem valid Aspek Problems


No. aitem r tabel R hitung Keterangan
A36 0.379 0,284 Valid
A37 0.284 0,284 Valid
A38 0.547 0,284 Valid
A39 0.555 0,284 Valid
A40 0.444 0,284 Valid
A41 0.358 0,284 Valid

39
h. Uji analisis faktorial

4.15 Tabel analisis faktorial Aitem-Total Statistics

Aitem-Total Statistics

Cronbach's
Scale Mean if Scale Variance if Corrected Aitem- Alpha if Aitem
Aitem Deleted Aitem Deleted Total Correlation Deleted

ASPEK1 24.9400 77.731 .689 .819

ASPEK2 23.4600 84.458 .481 .848

ASPEK3 25.1400 93.592 .238 .876

ASPEK4 23.8800 77.128 .720 .815

ASPEK5 24.6200 64.730 .793 .800

ASPEK6 25.4600 84.009 .825 .818

ASPEK7 21.1000 71.276 .685 .820

Hasil analisis faktor pada skala dukungan sosial teman sebaya adalah
sebagai berikut:
4.16 Tabel aspek yang valid
No. aitem r tabel R hitung Keterangan
ASPEK1 0.689 0,284 Valid
ASPEK2 0.481 0,284 Valid
ASPEK3 0.238 0,284 Valid
ASPEK4 0.720 0,284 Valid
ASPEK5 0.793 0,284 Valid
ASPEK6 0.825 0,284 Valid
ASPEK7 0.685 0,284 Valid

40
2. Uji Reliabilitas

Reliability Statistics

Cronbach's
Alpha N of Aitems

.851 7

Berdasarkan koefisien Cronbach’s Alpa sebesar 0.851 > 0.284 maka


instrument tersebut realiabel sebagai instrumen pengumpulan data.

B. Kesimpulan Aitem Skala


Berdasarkan analisis tiap aspek, diketahui bahwa aspek personal matters
memiliki aitem yang valid yaitu aitem 1, 2, 3, 4, 5 dan 6. Untuk thoughts & ideas
aitem yang valid yaitu aitem 7, 8, 9, 10, 11 dan 12. Untuk aspek religion aitem
yang valid yaitu aitem 13, 14, 15, 16, dan 17. Untuk aspek sex aitem yang valid
yaitu aitem 18, 19, 20, 21, 22, 23 dan 24. Untuk aspek interpersonal relationship
aitem yang valid yaitu 25, 26, 27, 28, 29, 30, dan 31. Sedangkan untuk aspek
emotional yang valid yaitu 32, 33, 34 dan 35. Dan untuk aspek problems 36, 37,
38, 39, 40, dan 41.
Untuk analisis faktorial, skala ini dapat digunakan untuk mengukur variabel
self disclosure.

41
BAB V
PENUTUP

A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil uji validitas dan reliabilitas yang telah dilakukan,
maka dari ketujuh aspek tentang variabel self disclosure menunjukkan bahwa
semua aspek adalah valid. Sehingga skala variabel self disclosure ini bisa
digunakan lebih lanjut.
Sedangkan untuk nilai reliabilitasnya mencapai 0.851, dimana nilai ini
termasuk ke dalam kategori tinggi. Dengan merujuk pada r tabel korelasi
product moment, dengan taraf signifikansi 5% (50 subjek, df = 48, maka r
tabel menunjukkan 0.284) sehingga 0.723>0.284, maka hasil tersebut
dinyatakan valid dan reliabel.
B. Saran
Berikut ini adalah saran-saran yang diajukan peneliti, antara lain sebagai
berikut:
1. Untuk Pembaca
Diharapkan dengan penelitian pembaca bisa lebih meningkatkan
self disclosure dalam diri masing-masing guna meningkatkan
kesadaraan diri dan mengurangi rasa rendah diri yang ada dalam diri.
2 Untuk Mahasiswa
Subjek khususnya mahasiswa dan mahasiswi usia 18-25 tahun S1
maupun pasca sarjana disarankan dapat meningkatkan self disclosure
mereka masing-masing yang nantinya akan sangat berguna dalam
hubungan dunia pekerjaan.
3. Untuk Peneliti Selanjutnya
`Diharapkan untuk dapat melakukan penelitian dengan mencari
subjek atau partisipan dengan lingkup yang lebih luas dan subjek yang

42
lebih banyak, sehingga hasil penelitian mengenai “self discosure” ini
memiliki hasil yang lebih luas lagi.

43
Daftar pustaka

Aryani, D.R, dan Setiawan, J.L. 2007. Pola Relasi dan Konflik Interpersonal
antara Menantu Perempuan dan Ibu Mertua. Arkhe. Tahun 12, No.2 (77-
90)
Darmadi, Hamid.2011. Metode Penelitian Pendidikan.Bandung: Alfabeta
DeVito, J.A. (1997). Komunikasi Antarmanusia. Edisi Kelima (Terjemahan
oleh Ir. Agus Maulana MSM). Jakarta: Profesional Books
Gainau, M.B. (2009). Keterbukaan Diri (Self Disclosure) Siswa dalam
Perspektif Budaya dan Implikasinya Bagi Konseling.
Hidayat, Dasrun. 2012. Komunikasi Antarpribadi dan Medianya. Yogyakarta:
Graha Ilmu
Jurnal Ilmiah Widya Warta, 33 (01). (online). (diakses pada hari Rabu, 3
Desember 2014 pukul 13.45Rachmawati, Yeni & Euis Kurniati. 2005.
Strategi Pengembangan Kreativitas Pada Anak Usia Taman Kanak-
kanak. Jakarta : Depdikbud
Kuntaraf, dkk. 1999. Makanan Sehat. Bandung: Indonesia Publishing House
Riduwan. 2009. Skala Pengukuran Dalam Penelitian. Bandung: Alfabeta
Sugiyono. 2012. Metode Penelitian Kombinasi (Mixed Methods).
Bandung:Alfabeta
Sukardi. 2011. Metodologi Penelitian Pendidikan. Jakarta:PT. Bumi Aksara
Supratiknya. (1995).Tinjauan Psikologi Komunikasi Antar Pribadi.Yogyakarta:
Kanisius (Anggota IKAPI).
Tahir, Muh. 2011. “Pengantar Metodologi Penelitian Pendidikan”. Makassar:
Universitas Muhammadiyah Makassar

44