Anda di halaman 1dari 17

Kebudayaan Bali

Kebudayaan Bali pada hakikatnya dilandasi oleh nilai-nilai yang bersumber pada ajaran
agama Hindu. Masyarakat Bali mengakui adanya perbedaaan ( rwa bhineda ), yang sering
ditentukan oleh faktor ruang ( desa ), waktu ( kala ) dan kondisi riil di lapangan (patra ).
Konsep desa, kala, dan patra menyebabkan kebudayaan Bali bersifat fleksibel dan selektif
dalam menerima dan mengadopsi pengaruh kebudayaan luar. Pengalaman sejarah
menunjukkan bahwa komunikasi dan interaksi antara kebudayaan Bali dan budaya luar
seperti India (Hindu), Cina, dan Barat khususnya di bidang kesenian telah menimbulkan
kreatifitas baru dalam seni rupa maupun seni pertunjukkan. Tema-tema dalam seni lukis, seni
rupa dan seni pertunjukkan banyak dipengaruhi oleh budaya India. Demikian pula budaya
Cina dan Barat/Eropa memberi nuansa batu pada produk seni di Bali. Proses akulturasi
tersebut menunjukkan bahwa kebudayaan Bali bersifat fleksibel dan adaptif khususnya dalam
kesenian sehingga tetap mampu bertahan dan tidak kehilangan jati diri (Mantra 1996).

Kebudayaan Bali sesungguhnya menjunjung tinggi nilai-nilai keseimbangan dan harmonisasi


mengenai hubungan manusia dengan Tuhan ( parhyangan ), hubungan sesama manusia
(pawongan ), dan hubungan manusia dengan lingkungan ( palemahan ), yang tercermin
dalam ajaran Tri Hita Karana (tiga penyebab kesejahteraan). Apabila manusia mampu
menjaga hubungan yang seimbang dan harmonis dengan ketiga aspek tersebut maka
kesejahteraan akan terwujud.

Selain nilai-nilai keseimbangan dan harmonisasi, dalam kebudayaan Bali juga dikenal adanya
konsep tri semaya yakni persepsi orang Bali terhadap waktu. Menurut orang Bali masa lalu
(athita ), masa kini ( anaghata ) dan masa yang akan datang ( warthamana ) merupakan suatu
rangkaian waktu yang tidak dapt dipisahkan satu dengan lainnya. Kehidupan manusia pada
saat ini ditentukan oleh hasil perbuatan di masa lalu, dan perbuatan saat ini juga menentukan
kehidupan di masa yang akan datang. Dalam ajaran hukum karma phaladisebutkan tentang
sebab-akibat dari suatu perbuatan, perbuatan yang baik akan mendapatkan hasil yang baik.
Demikian pula seBaliknya, perbuatan yang buruk hasilnya juga buruk atau tidak baik bagi
yang bersangkutan.

NILAI-NILAI BUDAYA

1.Tata krama merupakan kebiasaan sopan santun yang di sepakati dalam lingkungan pergaulan
antar sesame di dalam masyarakat atau kelompoknya
2.Nguopin yaitu gotong royong atau saling membantu apabila mempunyai kegiatan adat atau
keagamaan
3.Ngayah atau ngayang yaitu kerja bakti untuk keperluan agama.
4.Sopan santun merupakan etika hubungan dalam sopan pergaulan terhadap orang-orang yang
berbeda suku, adat maupun agama.
UNSUR – UNSUR BUDAYA

A. BAHASA MASYARAKAT BALI

Masyarakat Bali sebagian besar menggunakan bahasa Bali dan juga Indonesia, sebagian
besar bahasa yang di gunakan masyarakat Bali adalah bilingual atau bahkan trilingual. Bahasa Inggris
merupakan bahasa ketiga dan bahasa asing yg digunakan masyarakat Bali yang dipengaruhi oleh
kebutuhan industri pariwisata. Menurut satra Bali Bahasa Bali di bagi menjadi 2 yaitu, bahasa Aga
yaitu bahasa Bali yang pengucapannya lebih kasar, dan bahasa Bali Mojopahit atau Bahasa Bali Alus
Singgih yaitu bahasa yang pengucapannya lebih halus.

B. KESATUAN MASYARAKAT BALI

Banjar merupakan perkumpulan adat dari masyarakat Bali atau bisa disebut sebagai desa adalah
suatu bentuk kesatuan-kesatuan sosial masyarakat Bali yang didasarkan atas kesatuan wilayah.
Kesatuan sosial tersebut diperkuat oleh kesatuan adat dan upacara keagamaan. Banjar mempunyai
kepala yang di sebut dengan klian banjar yang bertugas sebagai membantu atau menangani segala
urusan dalam lapangan kehidupan sosial dan keagamaan di dalam Banjar,tetapi sering kali juga
harus memecahkan permasalahan yang mencakup hukum adat tanah, serta hal-hal yang sifatnya
administrasi pemerintahan.

C. TEKNOLOGI

Masyarakat Bali telah mengenal dan berkembang system pengairan yaitu system subak yang
mengatur pengairan dan penanaman di sawah-sawah. Dan mereka juga sudah mengenal arsitektur
yang mengatur tata letak ruangan dan bangunan yang menyerupai bangunan Feng Shui. Arsitektur
merupakan ungkapan perlambang komunikatif dan edukatif. Bali juga memiliki senjata tradisional
yaitu salah satunya keris. Selain untuk membela diri, menurut kepercayaan bila keris pusaka
direndam dalam air putih dapat menyembuhkan orang yang terkena gigitan binatang berbisa.

D. ORGANISASI SOSIAL

a). Perkawinan
Rangkaian tahapan pernikahan adat Bali adalah sebagai berikut:
Upacara Ngekeb
Acara ini bertujuan untuk mempersiapkan calon pengantin wanita dari kehidupan remaja menjadi
seorang istri dan ibu rumah tangga memohon doa restu kepada Tuhan Yang Maha Esa agar bersedia
menurunkan kebahagiaan kepada pasangan ini serta nantinya mereka diberikan anugerah berupa
keturunan yang baik.
Setelah itu pada sore harinya, seluruh tubuh calon pengantin wanita diberi luluran yang terbuat dari
daun merak, kunyit, bunga kenanga, dan beras yang telah dihaluskan. Dipekarangan rumah juga
disediakan wadah berisi air bunga untuk keperluan mandi calon pengantin. Selain itu air merang pun
tersedia untuk keramas.
Sesudah acara mandi dan keramas selesai, pernikahan adat bali akan dilanjutkan dengan upacara di
dalam kamar pengantin. Sebelumnya dalam kamar itu telah disediakan sesajen. Setelah masuk
dalam kamar biasanya calon pengantin wanita tidak diperbolehkan lagi keluar dari kamar sampai
calon suaminya datang menjemput. Pada saat acara penjemputan dilakukan, pengantin wanita
seluruh tubuhnya mulai dari ujung kaki sampai kepalanya akan ditutupi dengan selembar kain
kuning tipis. Hal ini sebagai perlambang bahwa pengantin wanita telah bersedia mengubur masa
lalunya sebagai remaja dan kini telah siap menjalani kehidupan baru bersama pasangan hidupnya.
Mungkah Lawang ( Buka Pintu )
Seorang utusan Mungkah Lawang bertugas mengetuk pintu kamar tempat pengantin wanita berada
sebanyak tiga kali sambil diiringi oleh seorang Malat yang menyanyikan tembang Bali. Isi tembang
tersebut adalah pesan yang mengatakan jika pengantin pria telah datang menjemput pengantin
wanita dan memohon agar segera dibukakan pintu.
Upacara Mesegehagung
Sesampainya kedua pengantin di pekarangan rumah pengantin pria, keduanya turun dari tandu
untuk bersiap melakukan upacara Mesegehagung yang tak lain bermakna sebagai ungkapan selamat
datang kepada pengantin wanita. kemudian keduanya ditandu lagi menuju kamar pengantin. Ibu
dari pengantin pria akan memasuki kamar tersebut dan mengatakan kepada pengantin wanita
bahwa kain kuning yang menutupi tubuhnya akan segera dibuka untuk ditukarkan dengan uang
kepeng satakan yang ditusuk dengan tali benang Bali dan biasanya berjumlah dua ratus kepeng
Madengen–dengen
Upacara ini bertujuan untuk membersihkan diri atau mensucikan kedua pengantin dari energi
negatif dalam diri keduanya. Upacara dipimpin oleh seorang pemangku adat atau Balian
Mewidhi Widana
Dengan memakai baju kebesaran pengantin, mereka melaksanakan upacara Mewidhi Widana yang
dipimpin oleh seorang Sulingguh atau Ida Peranda. Acara ini merupakan penyempurnaan pernikahan
adat bali untuk meningkatkan pembersihan diri pengantin yang telah dilakukan pada acara – acara
sebelumnya. Selanjutnya, keduanya menuju merajan yaitu tempat pemujaan untuk berdoa mohon
izin dan restu Yang Kuasa. Acara ini dipimpin oleh seorang pemangku merajan
Mejauman Ngabe Tipat Bantal
Beberapa hari setelah pengantin resmi menjadi pasangan suami istri, maka pada hari yang telah
disepakati kedua belah keluarga akan ikut mengantarkan kedua pengantin pulang ke rumah orang
tua pengantin wanita untuk melakukan upacara Mejamuan. Acara ini dilakukan untuk memohon
pamit kepada kedua orang tua serta sanak keluarga pengantin wanita, terutama kepada para
leluhur, bahwa mulai saat itu pengantin wanita telah sah menjadi bagian dalam keluarga besar
suaminya. Untuk upacara pamitan ini keluarga pengantin pria akan membawa sejumlah barang
bawaan yang berisi berbagai panganan kue khas Bali seperti kue bantal, apem, alem, cerorot,
kuskus, nagasari, kekupa, beras, gula, kopi, the, sirih pinang, bermacam buah–buahan serta lauk
pauk khas bali.

b). Kekerabatan
Adat menetap diBali sesudah menikah mempengaruhi pergaulan kekerabatan dalam suatu
masyarakat. Ada macam 2 adat menetap yang sering berlaku diBali yaitu adat virilokal
adalah adat yang membenarkan pengantin baru menetap disekitar pusat kediaman kaum
kerabat suami,dan adat neolokal adalah adat yang menentukan pengantin baru tinggal sendiri
ditempat kediaman yang baru. Di Bali ada 3 kelompok klen utama (triwangsa) yaitu:
Brahmana sebagai pemimpin upacara, Ksatria yaitu : kelompok-klompok khusus seperti arya
Kepakisan dan Jaba yaitu sebagai pemimpin keagamaan.

c). Kemasyarakatan
Desa, suatu kesatuan hidup komunitas masyarakat bali mencakup pada 2 pengertian yaitu :
desa adat dan desa dinas (administratif). Keduanya merupakan suatu kesatuan wilayah dalam
hubungannya dengan keagamaan atau pun adat istiadat, sedangkan desa dinas adalah
kesatuan admistratif. Kegiatan desa adat terpusat pada bidang upacara adat dan keagamaan,
sedangkan desa dinas terpusat pada bidang administrasi, pemerintahan dan pembangunan.
E. MATA PENCAHARIAN

Sebagian besar masyarakat Bali memiliki mata pencaharian sebagai petani. Selain padi,
pertanian yang lain yaitu palawija, kopi, dan kelapa. Peternakan di Bali juga maju, yaitu
ternak babi dan sapi. Selain itu juga dikembangkan peternakan kambing, kerbau, dan
kuda.

1. Perikanan: dikembangkan perikanan darat dan laut, perikanan laut terdapat di


pinggir pantai. Para nelayan menggunakan jangkung (perahu penangkap ikan)
untuk mencari ikan tongkol, udang, dan cumi-cumi.
2. Di Bali juga banyak terdapat industri kerajinan, kerajinan yang dibuat meliputi:
benda-benda anyaman, kain tenun, pabrik rokok, dan tekstil. Selain itu juga
banyak perusahaan yang menjual jasa, seperti biro perjalanan, hotel, rumah
makan, taksi, dan toko kesenian. Tempat usaha terbesar terdapat di Gianyar,
Denpasar, dan Tabanan.

F. RELIGI

Agama yang di anut oleh sebagian orang Bali adalah agama Hindu sekitar 95%, dari jumlah
penduduk Bali, sedangkan sisanya 5% adalah penganut agama Islam, Kristen, Katholik,
Budha, dan Kong Hu Cu. Tujuan hidup ajaran Hindu adalah untuk mencapai keseimbangan
dan kedamaian hidup lahir dan batin.orang Hindu percaya adanya 1 Tuhan dalam bentuk
konsep Trimurti, yaitu wujud Brahmana (sang pencipta), wujud Wisnu (sang pelindung dan
pemelihara), serta wujud Siwa (sang perusak). Tempat beribadah dibali disebut pura. Tempat-
tempat pemujaan leluhur disebut sangga. Kitab suci agama Hindu adalah weda yang berasal
dari India.

Orang yang meninggal dunia pada orang Hindu diadakan upacara Ngaben yang dianggap
sanggat penting untuk membebaskan arwah orang yang telah meninggal dunia dari ikatan-
ikatan duniawinya menuju surga. Ngaben itu sendiri adalah upacara pembakaran mayat. Hari
raya umat agama hindu adalah Nyepi yang pelaksanaannya pada perayaan tahun baru saka
pada tanggal 1 dari bulan 10 (kedasa), selain itu ada juga hari raya galungan, kuningan, saras
wati, tumpek landep, tumpek uduh, dan siwa ratri.

Pedoman dalam ajaran agama Hindu yakni : (1).tattwa (filsafat agama), (2). Etika (susila),
(3).Upacara (yadnya). Dibali ada 5 macam upacara (panca yadnya), yaitu (1). Manusia
Yadnya yaitu upacara masa kehamilan sampai masa dewasa. (2). Pitra Yadnya yaitu upacara
yang ditujukan kepada roh-roh leluhur. (3).Dewa Yadnya yaitu upacara yang diadakan di
pura / kuil keluarga.(4).Rsi yadnya yaituupacara dalam rangka pelantikan seorang pendeta.
(5). Bhuta yadnya yaitu upacara untuk roh-roh halus disekitar manusia yang mengganggu
manusia.
Sistem Kesenian Suku Bali
Kebudayaan dan kesenian di bali di golongkan 4 golongan utama yaitu:

1. Seni rupa misalnya seni lukis.


2. Seni patung misalnya membuat ukiran patung atau memahat.
3. Seni arsistektur misalnya seni dalam membuat rumah khas Bali yang berdasarkan atas asta kosala
kosali. Seni bangunan nampak pada bangunan candi yang banyak terdapat di Bali, seperti
Gapura Candi Bentar.
4. Seni pertunjukan misalnya seni tari, seni sastra, seni drama, seni musik, dan seni audiovisual
misalnya seni video dan film. Tari tradisional Bali antara lain tari sanghyang, tari barong, tari
kecak, dan tari gambuh. Tari modern antara lain tari tenun, tari nelayan, tari legong, dan
tari janger.

Gambar 2. Rahwana dalam tarian kecak epos Ramayana menculik Sita dengan berubah wujud menjadi seorang kakek tua.
(Foto : detik.com)

Tari Barong dan Tari Kecak yang menjadi salah satu tarian tradisional khas Bali yang sudah terkenal
kemana-mana.

Tari Baron
Tari Barong mengambarkan pertarungan yang sengit antara kebaikan melawan kejahatan. Barong vs
Rangda ialah dua eksponen yang saling kontradiktif satu dengan yang lainnya. Barong dilambangkan
dengan kebaikan, dan lawannya Rangda ialah manifestasi dari kejahatan. Tari Barong biasanya
diperankan oleh dua penari yang memakai topeng mirip harimau sama halnya dengan kebudayaan
Barongsai dalam kebudayaan China. Sedangkan Rangda berupa topeng yang berwajah
menyeramkan dengan dua gigi taring runcing di mulutnya.

Tari Kecak
Tari Kecak pertama kali diciptakan pada tahun 1930 yang dimainkan oleh laki-laki. Tari ini biasanya
diperankan oleh banyak pemain laki-laki yang posisinya duduk berbaris membentuk sebuah
lingkaran dengan diiringi oleh irama tertentu yang menyeruakan “cak” secara berulang-ulang, sambil
mengangkat kedua tangannya. Tari Kecak ini menggambarkan kisah Ramayana di mana saat barisan
kera membantu Rama melawan Rahwana.
Pakaian daerah

Pakaian daerah Bali sangat bervariasi, meskipun bentuknya hampir sama. Masing-masing
daerah memiliki ciri khas simbolik dan ornamen yang didasarkan kepada kegiatan/upacara, jenis
kelamin dan umur penggunanya. Status sosial dari seseorang juga dapat diketahui berdasarkan
corakbusana dan ornamen perhiasan yang dipakai

Busana tradisional pria umumnya terdiri dari:

a. Udeng (ikat kepala)


b. Kain kampuh
c. Umpal (selendang pengikat)
d. Kain wastra (kemben)
e. Sabuk
f. Keris
g. Beragam ornamen perhiasan
Sering pula dikenakan baju kemeja, jas dan alas kaki sebagai pelengkap.

Busana tradisional wanita umumnya terdiri dari:

a. Gelung (sanggul)
b. Sesenteng (kemben songket)
c. Kain wastra
d. Sabuk prada (stagen), membelit pinggul dan dada
e. Selendang songket bahu ke bawah
f. Kain tapih atau sinjang, di sebelah dalam
g. Beragam ornamen perhiasan
Sering pula dikenakan kebaya, kain penutup dada, dan alas kaki sebagai pelengkap.
Rumah Adat

Rumah Bali yang sesuai dengan aturan Asta Kosala Kosali (bagian Weda yang mengatur tata
letak ruangan dan bangunan, layaknya Feng Shui dalam Budaya China)

Menurut filosofi masyarakat Bali, kedinamisan dalam hidup akan tercapai apabila terwujudnya
hubungan yang harmonis antara aspek pawongan, palemahan dan parahyangan. Untuk itu
pembangunan sebuah rumah harus meliputi aspek-aspek tersebut atau yang biasa disebut Tri
Hita Karana. Pawongan merupakan para penghuni rumah. Palemahan berarti harus ada
hubungan yang baik antara penghuni rumah dan lingkungannya.

Pada umumnya bangunan atau arsitektur tradisional daerah Bali selalu dipenuhi hiasan, berupa
ukiran, peralatan serta pemberian warna. Ragam hias tersebut mengandung arti tertentu sebagai
ungkapan keindahan simbol-simbol dan penyampaian komunikasi. Bentuk-bentuk ragam hias
dari jenis fauna juga berfungsi sebagai simbol-simbol ritual yang ditampilkan dalam patung.

Bukan hanya keindahan alamnya saja yang menarik dari Bali, namun keagungan tradisi
masyarakatnya juga banyak menarik bahkan banyak dikaji oleh orang-orang diluar Bali.
Sebagaimana diketahui Bali memang kaya akan berbagai kesenian tradisional, pakaian adat,
bahasa, dan tradisi keagamaan yang mewarnai realitas kehidupan masyarakat Bali.
Makanan Khas Bali
Makanan utama

 Ayam betutu  Jejeruk  Sate Babi Guling


 Babi guling  Jukut Urab  Sate Lilit
 Bandot  Komoh  Sate pentul
 Be Kokak Mekuah  Lawar  Sate penyu
 Be Pasih mesambel  Nasi Bubuh  Sate Tusuk
matah  Nasi Tepeng  Timbungan
 Bebek betutu  Penyon  Tum
 Berengkes  Sate Kablet  Urutan Tabanan
 Grangasem

1. Bebek dan Ayam Betutu

Ayam Betutu adalah lauk yang terbuat dari ayam yang utuh yang berisi bumbu, kemudian
dipanggang dalam api sekam. Awalnya makanan ini khas dari daerah Gianyar, namun saat ini
semua orang tau nya betutu ya asalnya dari bali, seluruh bali. Pada tahun 1976 Ayam dan
bebek betutu ini dibuat oleh Men Tempeh atau Ni Wayan Tempeh yang berasal dari
Abianbase, Kota Gianyar, dengan suaminya I Nyoman Suratna yang berasal dari
Bangli, mereka pun mulai berjualan di Terminal lama Gilimanuk. Singkat cerita usahanya di
lanjutkan oleh anak-anaknya. Sedang para mantan karyawannya ikut memuka warung makan
ayam betutu dengan embel-embel tulisan “Men Tempeh Asli”. Walaupun itu, warung makan
Ayam Beutu Men Tempeh yang benar-benar asli hanya ada di timur terminal lama
Gilimanuk, dekat pelabuhan. Ciri khasnya pun gampang di ingat, ada anak tangga sampai di
warungnya. Di papan tulisan juga ada tulisan tertulis “Ayam Betutu Men Tempeh Asli” dan
ada tambahan tulisan “tidak buka cabang.”

Kalau Gilimanuk terlalu jauh, warung makan yang menyediakan menu ayam betutu a la Men
Tempeh ada di daerah sekitar Denpasar dan Kuta. Contohnya Warung Makan Ayam Betutu
Gilimanuk, yang dikelola oleh Anak Agung Oka Suci, yang pada mulanya membeli seluruh
ayam betutu yang dijual di warung makannya dari Men Tempeh di Gilimanuk, namun
kemudian membuatnya sendiri. Selain itu, Bebek dan Ayam Betutu juga dapat Anda jumpai
di berbagai restoran yang ada di Ubud dan Denpasar menu Ayam Betutu atau Bebek Betutu
banyak disediakan, namun banyak yang mensyaratkan untuk memesan satu hari sebelumnya
karena proses pembuatannya memang lama dan Betutu tidak tahan disimpan lama
2. Tum Khas Bali

Ini juga termasuk ke dalam makanan terfavorit di Bali, daging cincang yang biasanya di
campur dengan berbagai bumbu rempah-rempah dan dibungkus dengan daun pisang lalu
dikukus hingga matang. Daging yang biasa digunakan adalah daging ayam, daging babi,
daging sapi dan juga daging bebek

3. Lawar

Lawar dengan babi guling

Lawar adalah masakan berupa campuran sayur-sayuran dan daging cincang yang dibumbui
yang berasal dari Bali. Makanan ini lazim disajikan dalam rumah tangga di Bali atau dijual
secara luas di rumah-rumah makan dengan sebutan lawar Bali. Lawar dibuat dari daging yang
dicincang, sayuran, sejumlah bumbu-bumbu dan kelapa. Kadang-kadang di beberapa jenis
lawar diberikan unsur yang dapat menambah rasa dari lawar itu yaitu darah dari daging itu
sendiri. Darah tersebut dicampurkan dengan bumbu-bumbu tertentu sehingga menambah
lezat lawar tersebut. Lawar sendiri tidak dapat bertahan lama makanan ini jika didiamkan di
udara terbuka hanya bertahan setengah hari.

Penamaannya bervariasi, biasanya berdasarkan jenis daging yang digunakan atau jenis
sayurannya. Bila yang digunakan daging babi maka lawar yang dihasilkan disebut lawar
babi., demikian juga bila yang digunakan sayur nangka, maka lawarnya diberi nama lawar
nangka. Ada juga pemberian namanya berdasarkan warna lawarnya yaitu lawar merah bila
warna lawarnya merah, lawar putih bila warna lawarnya putih dan ada lawar yang bernama
lawar padamare, yaitu sejenis lawar yang dibuat dari campuran beberapa jenis lawar. Lawar
disajikan sebagai teman nasi bersama jenis lauk-pauk lainnya.
Jajanan

 Bubuh Sagu  Jaja Godoh  Jaja Wajik


 Bubuh Sumsum  Jaja Jongkong  Rujak Bulung
 Bubuh Tuak  Jaja Ketimus  Rujak Kuah Pindang
 Jaja Batun Duren  Jaja Klepon  Rujak Manis
 Jaja Begina  Jaja Lak-Lak  Rujak Tibah
 Jaja Bendu  Jaja Sumping  Salak Bali
 Jaja Bikang  Jaja Tain Buati
 Jaja Engol  Jaja Uli misi Tape

Jaja Bali

Jaja Bali adalah kue-kue basah ala Bali. Rasa kuee di Bali itu cenderung manis, selain suka
pedas lidah orang Bali suka manis. Dari deretan kue-kue basah yang cukup terkenal di Bali, misalnya
laklak, kelepon, dan bulung biasanya selalu menawarkan rasa manis. Orang Bali biasa membuat
pemanisnya dari gula kelapa atau mereka menyebutnya dengan gula Bali.
SEJARAH MAKANAN KHAS BALI BABI GULING

Salah satu makanan khas Bali, nasi guling atau babi guling, sajian yang berbahan dasar
daging babi panggang. Beberapa lauk khas yang umunya terdapat di nasi guling adalah :
lawar, sosis babi ( urutan ), krupuk kulit babi, kulit babi yang dipanggang, dan kadang –
kadang disertai dengan kuah sayur nangka,babi guling (di Bali disebut be guling) adalah
sejenis makanan yang terbuat dari anak babi betina atau jantan, di mana perutnya diisikan
dengan bumbu dan sayuran seperti daun ketela pohon.

Selain karena memang menu tersebut banyak diminati, warga sekitarnya pun cukup banyak
yang diperbolehkan untuk menikmati hidangan tersebut. Babi Guling ini biasa dikenal
dengan nama Be Guling, pada dasarnya merupakan salah satu makanan wajib yang
disajikan dalam upacara adat, seperti upacara keagamaan dan lainnya. Berawal dari sana,
kini Be Guling kian marak dihidangkan dalam warung-warung sederhana, rumah makan
tradisional, bahkan hingga merambah ke hotel - hotel bintang lima di kawasan Bali.
Lantas, apa yang menyebabkan Be Guling ini kian fenomenal? Menu makanan yang satu ini
terbuat dari anak babi betina maupun jantan dengan proses yang cukup sulit sehingga
bukan sembarang orang bisa memasaknya. Be Guling dibuat dengan bumbu khas yang
kemudian harus dimasukkan ke dalam rongga perutnya, karena bumbu tersebutlah
yang kemudian akan meresap ke dalam dagingnya.

Proses pembuatan Be Guling tentunya didahulukan dengan pembuatan bumbu terlebih


dahulu, dengan bahan bumbu yang cukup mudah didapatkan, seperti kencur, cengkeh,
jahe, terasi, bawang merah, bawang putih, kemiri, dan masih banyak lagi jenis rempah -
rempah lainnya. Setelah bumbu dimasak dan siap untuk digunakan, proses selanjutnya
adalah pembersihan seluruh rongga perut daging babi tersebut. Harus bersih total, karena
rongga perutnya akan diisi dengan bumbu yang telah dipersiapkan sebelumnya. Ketika
rongga perut sudah terisi oleh bumbu yang ada, lalu babi tersebut ditusukkan ke dalam
tongkat bambu yang besar agar bisa menahan beratnya daging babi tersebut sebelum
nantinya dibakar dan digulingkan di atas api. Tongkat yang dipilih harus benar - benar kuat,
karena harus mampu menahan berat daging tersebut.

.
SEJARAH UTUH BABI GULING

Ribuan Babi Guling Di Persembahkan

Ternyata untuk menyiapkan persembahan berupa babi guling di masing – masing kepala
keluarga. Hal itu, terkait aci Usaba Sumbu yang dirayakan setiap tahun sekali, tepatnya sasih
kasa (tilem). Di desa yang heterogen ini, di huni 780 KK. Artinya hari itu dipastikan ada 780
ekor babi yang di sembelih warga. Menurut Kades setempat I Nengah Wija, Jumlah itu belum
termasuk penduduk perempuan yang telah menikah keluar desa dan perantuan yang di
perkirakan berjumlah ratusan orang, juga menyiapkan persembahan babi guling. Selain itu,
ada juga warga yang menyiapkan persembahan babi guling lebih dari satu. Menurut Wija,
jika itu diakumulasikan, jumlahnya bisa mencapai ribuan..

Persembahan babi guling merupakan wujud terima kasih warga atas limpahan karunia Ida
Batara, berupa hasil bumi dan ternak. Karena setiap tahun melakukan persembahan babi
guling, setiap rumah warga di desa adat Timbrah ada kandang babinya. Banyak warga lebih
memilih memelihara dari kecil dan dirawat hingga besar, ketimbang membeli jelang
memakai, karena menjelang hari H, harganya bisa melambung.
Menelusuri Kebiasaan Makan Daging Babi di Bali

Berawal dari pandangan umum bahwa makanan di setiap wilayah tidak dapat dilepaskan dari
tiga faktor penting, yaitu iklim, sumber daya alam, dan kebiasaan masyarakat. Di Indonesia,
peta kuliner sangat beragam dan menarik. Selain tiga faktor di atas, saya yakin ada hal yang
melatarbelakangi perkembangan budaya makan yang terkait dengan aspek-aspek historis, di
samping kultur masyarakat. Selalu muncul pertanyaan yang menggelitik, mengapa suatu jenis
makanan atau suatu raw material begitu identik dengan suatu kawasan tertentu.

Bali menjadi salah satu dari sekian kasus kuliner yang saya pandang unik dan menarik,
karena –mungkin— selain dilandasi nilai-nilai sejarah dan budaya, khasanah kuliner Bali
juga mengandung nilai religius. Sebagian besar orang luar Bali yang beragama Islam, selalu
takut untuk mencoba mencicipi masakan Bali yang identik dengan babi. Masakan seperti
lawar yang mengkombinasikan gudeg-urap khas Bali yang diberi darah babi mungkin
tampaknya telah memberikan prediksi yang kuat pada masyarakat luar Bali yang ingin
berkunjung ke tempat wisata ini untuk tidak mencicipi hidangan pulau dewata ini. Memang,
saya memandang, untuk konsumsi orang Bali, daging babi masih digunakan. Terlebih lagi
bagi umat Hindu, sapi (putih) termasuk hewan suci yang masih sakral dan tidak boleh
disembelih. Hal inilah yang tampaknya membuat babi sebagai konsumsi daging utama
(chiefly food) bagi sebagian besar masyarakat Bali.

Orang Bali
Awal sejarah Bali tidak dapat dilepaskan dari asal-usul dan evolusi masyarakatnya. Orang
Bali diduga memiliki darah campuran Mongoloid yang bergerak ke pulau utama menuju
kawasan Asia Tenggara, jauh sebelum masa sejarah. Pengaruh asing terbesar bagi orang Bali
awalnya dibawa oleh orang-orang India (pedagang dan pelancong) yang membawa serta
pengaruh ajaran Hindu. Bali kemudian berbagi sangat banyak dalam gelombang Indianisasi
yang menyebar di hampir banyak kawasan Asia Tenggara di paruh akhir milenium pertama.

Hinduisasi di Bali merupakan sebuah proses yang berlangsung berabad-abad. Pengaruh yang
paling meresap ternyata bukan dari India saja, namun ternyata lebih dekat ke Jawa, yang
sebenarnya lebih dahulu terkena proses Indianisasi dibandingkan Bali. Pada tahun 1001 (atau
mungkin 991), Bali telah sepenuhnya terkena proses Hinduisasi. Pada masa kekuasaan
Airlangga, Singasari amat memengaruhi Bali, baik secara politik maupun budaya. Namun
hubungan itu bukan tanpa konflik. Orang-orang Bali beberapa kali menuntut otonomi mereka
dari kerajaan Singasari. Bahkan, ketika kekuasaan beralih ke tangan Majapahit, tuntutan itu
masih terjadi. Akhirnya, tuntutan itu terwujud ketika kekuasaan Majapahit berakhir pada
tahun 1515. Bali kemudian memiliki otonomi untuk mengatur urusan dalam negerinya.

Pada periode Majapahit, sejarah Bali mulai jelas memuat dan memiliki pola, meski banyak
menyisakan legenda-legenda. Jatuhnya Majapahit menandai bangkitnya Mataram yang
merupakan kerajaan bercorak Islam. Banyak dari ribuan pendeta, bangsawan, tentara,
seniman, pengukir, yang berpindah dari Jawa ke Bali untuk menghindarkan diri mereka dari
para penakluk muslim. Di Bali, mereka memberikan impuls yang kuat bagi pertumbuhan
tradisi Hindu Jawa yang terdesak oleh kekuatan Islam. Fenomena migrasi ini kemudian
menghasilkan terjadinya transfusi budaya yang besar di wilayah Bali. Selama kurang lebih
400 tahun, tanpa diganggu mereka hidup menetap di Bali dan memiliki keturunan.

Lantas, apa hubungan masa Hindu Jawa yang diwakili oleh kekuasaan Majapahit tersebut
bagi budaya orang Bali, terutama berkaitan dengan kebiasaan makan mereka yang
menjadikan babi sebagai konsumsi daging utama. Di sini saya tidak begitu sepakat dengan
daging pilihan (meat of choice), karena saya lebih memandang daging babi lebih dari sekedar
pilihan, namun menjadi suatu yang utama di kalangan masyarakat Bali.

Asal-Usul
Dalam kitab Nagarakrtagama (1365), babi disinggung sebagai salah satu jenis daging yang
dihidangkan di Istana Majapahit, selain daging domba, kerbau, ayam, lebah, ikan, dan bebek.
Selain itu, juga ada beberapa jenis daging lagi yang tidak dihidangkan kepada orang yang taat
karena pantangan Hindu, meskipun banyak digemari oleh rakyat biasa, seperti kodok, cacing,
penyu, tikus, anjing. Banyak sekali pada masa itu orang-orang yang menggemari daging-
daging ini. Agama Hindu tampaknya nyaris tidak berperan dalam mengekang sumber-sumber
protein. Seorang Cina Muslim, Ma Huan, tercengang ketika melihat makanan orang Jawa
bukan Islam yang dikatakannya sangat kotor dan buruk. Binatang-binatang seperti ular,
semut, dan semua jenis serangga serta cacing menjadi bahan-bahan konsumsi. Selain Madura,
Bali adalah wilayah pengekspor ternak ke Jawa pada abad ke-14 sebagaimana juga masih
bertahan selama berabad-abad. Ternak-ternak seperti domba, biri-biri, kerbau, babi, unggas,
dan anjing menjadi upeti yang dikirim ke Majapahit kala itu.

Berbagai jenis babi diperkirakan sudah ditemukan di hutan-hutan Asia Tenggara selama
ribuan tahun dan diternakkan paling tidak sejak 3000 tahun S.M. Babi dianggap sebagai
pengalih yang paling efisien dari padi-padian ke daging dan merupakan sumber daging utama
di wilayah-wilayah di mana Islam belum masuk. Orang Eropa berpendapat bahwa babi Asia
Tenggara lebih sehat daripada babi di Eropa. Orang Islam kemudian mendorong peternakan
kambing sebagai pengganti babi, meskipun kambing sudah ada (sebelum Islam) hingga
sejauh Sulawesi, tapi belum sampai ke Filipina. Hanya di Bali, yang kepadatan penduduknya
telah mengakibatkan pembabatan hutan yang tiada taranya, hewan-hewan Asia Tenggara
diternak untuk dijadikan penghasil daging sapi tropis yang istimewa; meskipun setidaknya
pada abad ke-19 orang Hindu Bali sendiri tidak bersedia memakannya. Maka wajar, jika
hingga saat ini sapi putih tropis masih dianggap suci di Bali; sehingga babi menjadi salah satu
bahan makanan alternatif.

Lantas, apa yang kemudian menjadikan babi sebagai daging konsumsi utama di kalangan
masyarakat Bali? Hal ini tampaknya tidak dapat dilepaskan dari peran orang-orang Hindu
Jawa yang bermigrasi ke Bali pascaruntuhnya kekuasaan Majapahit. Pada abad ke-16, ketika
masa kekuasaan Raja Batu Renggong, orang-orang Bali mentransformasikan pengaruh-
pengaruh Majapahit untuk disesuaikan dengan kebutuhan hidup. Mereka menciptakan apa
yang dalam kenyataannya sebagai budaya kontemporer Bali serta memberikan elemen-
elemen khusus. Mereka juga membawa dan mempertahankan kebiasaan-kebiasaan mereka,
termasuk didalamnya persoalan kebiasaan makan Di sisi lain, pengaruh agama dapat disimak
dari pantangan untuk tidak memakan daging sapi putih sebagai suatu pantangan seperti
halnya yang dianut oleh orang-orang Hindu-India. Tentu ini sebuah paradoks dengan orang-
orang Islam yang berpantangan untuk tidak mengkonsumsi daging yang haram, babi. Bali
adalah sebuah perkecualian yang memadukan nilai sejarah, budaya, dan keyakinan dalam
unsur-unsur budaya makan mereka. Indikasi mengapa babi menjadi konsumsi utama
masyarakat Bali dapat juga disimak dari dijadikannya hewan ternak ini sebagai komoditi
utama, terutama sejak abad 19 hingga awal abad ke-20.

Pada kurun abad ke-19 hingga awal abad ke-20, Babi adalah hewan ternak –selain lembu—
yang menjadi kebutuhan utama rumah tangga keluarga Bali. Hampir setiap kepala keluarga
memiliki paling sedikit satu sapi dan beberapa ekor babi yang diperuntukkan untuk
kebutuhan pribadi atau nantinya akan dijual ke pasar lokal dan juga ekspor. Pada tahun 1910,
total ekspor babi dari selatan Bali mencapai 33.400 ekor. Babi yang dijual tiap ekornya
dihargai fl. 20 (fl=florin, satuan mata uang zaman Belanda). Sebagai hewan domestik, sudah
menjadi pertimbangan bahwa babi merupakan komoditi ekonomi sekaligus sebagai bahan
makanan yang dikonsumsi.

Namun, ada hal yang lebih penting dari sekedar hewan komoditas. Di Bali, babi juga adalah
hewan yang digunakan dalam kegiatan-kegiatan ritus. Seperti disinggung oleh ahli sejarah
Asia Tenggara, Anthony Reid, umumnya riwayat daging dalam kegiatan ritus di kawasan
Asia Tenggara sudah menjadi suatu hal yang penting, sebagaimana orang Bali memandang
daging babi dalam kegiatan ritusnya. Dijadikannya babi sebagai kegiatan ritus di Bali, salah
satunya dapat disimak Dalam rekaman kisah seorang Amerika bernama Collin McPhee
dalam bukunya A House in Bali (1947), ia mengisahkan dirinya ketika memberikan hadiah
dua ekor babi dalam acara Galungan. Babi, tutur McPhee, merupakan chiefly food bagi
sebagian besar masyarakat Bali. Ketika orang Bali merasa berhutang budi dalam suatu hal,
maka hadiah atau balas budi diwujudkan dengan menyembelih seekor babi miliknya. McPhee
mengatakan juga bahwa babi yang telah disembelih kadang dijadikan sebagai sebuah wujud
untuk menyenangkan sesepuh desa.

Prosesi penyajian hidangan meriah dengan menu daging babi disaksikan McPhee sebagai
berikut:

“…meanwhile, other helpers were engaged in preparing the classic accompaniments: rice, of
course; pepahit –a “bitter” dish of stewed blimbing leaves to counteract the richness of the
pig; sausage, made form the pig’s blood and urab, a hash of finely mixed coconut, green
papaya, the chopped liver, and the heart. At last, the pig was pronounced done to a turn. It
was pleased on a banana leaf in along wooden platter. The skin was brittle as thin glass and
the meat, perfumed beyond words from the spice, melted on tongue.“

Bukan hanya dalam kegiatan ritus, babi sudah sejak lama menjadi semacam mitos yang
melekat di lingkungan orang Bali. Sewaktu McPhee mengunjungi Kuil Kematian, ia
menyaksikan relief-relief arkais yang menunjukkan manusia dikelilingi oleh banyak babi.
Ada pula kisah Raja Badulu yang dikisahkan memiliki semacam topeng mengerikan,
kombinasi mata manusia dan mulut dengan moncong dan taring babi hutan. Dikisahkan
bahwa Raja Badulu terlahir memiliki kekuatan magis. Ketika kecil, Raja Badulu seringkali
menghibur dirinya sendiri dengan memotong kepalanya dan meminta para pelayannya untuk
memasangkan kembali kepala yang terpisah dari raganya itu. Suatu ketika, kepala raja
menggelinding ke sungai dan terbawa arus. Para pelayan tidak mampu mendapatkan kembali
kepala tuannya. Dalam rasa putus asa, mereka akhirnya memenggal kepala seekor babi hutan
dan memasangkannya di leher sang raja…

Simpulannya, menilai keidentikkan babi dalam ruang lingkup kehidupan masyarakat Bali
yang dihubungkaitkan dengan nilai-nilai budaya masa lalu tentu mengandung interpretasi
yang masih cair. Namun, jika kembali kepada tiga faktor: iklim, sumber daya alam, dan
kebiasaan masyarakat, kecairan penafsiran tersebut tampaknya dapat dipertimbangkan.

Pengaruh Cina?
Menyoal pengaruh Cina terhadap kuliner Bali, saya pikir tidak sebegitu jelas jika
dibandingkan dengan makanan di Jawa, Jakarta, atau Pontianak yang coraknya masih dapat
dirasakan. Hanya yang mengundang rasa penasaran, jika berpijak dari anggapan bahwa
daging babi juga begitu identik dengan kuliner Cina, apakah ada pengaruh Cina dalam
penggunaan daging babi di Bali? Di sini, saya tidak terlalu dapat berspekulasi, karena tidak
ada satu pun referensi yang menyinggung pengaruh tersebut. Denys Lombard bahkan
menyebut bahwa kebudayaan Cina di Pulau Bali jarang sekali disebut. Hal menarik yang
disinggung Lombard adalah pengaruh Cina dalam aspek botani, yaitu tamanan buah leci
(lizhi). Ya, buah yang dianggap sebagai tanaman asal “Kunlun” (sebutan dalam sumber-
sumber kuno Cina bagi kawasan Maritim Asia Tenggara) itu ternyata sejak zaman Dinasti
Han (202 S.M – 220 M) dijadikan sebagai upeti untuk dikirim ke istana; serta salah satu
komoditi yang diekspor ke utara dan ke selatan. Buah leci yang jarang dan ternyata terdapat
di Tabanan, Bali (selain di Cianjur, Jawa Barat), setidaknya menandakan kehadiran pengaruh
Cina di pulau tersebut. Pun, tidak ketinggalan

Memang, secara geografis Bali terletak membentang sejauh satu mil dari kawasan timur Jawa
di lintas perdagangan langsung antara kepulauan rempah-rempah di Maluku dan pelabuhan-
pelabuhan Asia yang juga mendistribusikan rempah-rempah seperti cengkih, pala, dan pala
kering. Kondisi geografis inilah yang membuat Bali pada masa emporium telah disinggahi
oleh para pedagang dan musafir India, Arab, Cina, Jepang, Bugis, dan pedagang-pedagang
timur lainnya yang bukan hanya membawa barang-barang niaga, namun juga tata cara dan
kebiasaannya. Sekalipun Pulau Bali disinggahi dan dimukimi, orang-orang Bali lebih
memilih untuk mempertahankan kultur mereka, dengan sedikit kemungkinan menerima
pengaruh-pengaruh asing dalam kehidupan mereka.

Dengan berlandaskan pada kenyataan tersebut, di sini Willard A. Hanna menyinggung mengenai
keberadaan orang-orang Cina di Bali terutama pada abad ke-19. Hanna tidak menyinggung
kebudayaan material Cina yang berarti, selain kopeng (koin Cina berlubang) dan buah pinang yang
disuka orang Bali tua dan muda. Lombard, Hanna, atau Kong Yuanzhi yang mengupas warisan kuliner
Cina ini pun bahkan tidak menyinggung sama sekali wilayah Bali berkaitan dengan silang budaya Cina
di di Nusantara. Mungkin Lombard benar, jarang disebutnya kebudayaan Cina menandakan agak
kaburnya budaya Cina di pulau dewata tersebut.