Makalah Flebo
Makalah Flebo
Segala puji bagi Allah SWT yang telah memberikan kami kemudahan
sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini dengan tepat waktu. Penulis
mengucapkan syukur kepada Allah SWT atas limpahan nikmat sehat-Nya, baik itu
berupa sehat fisik maupun akal pikiran, sehingga penulis mampu untuk
menyelesaikan pembuatan makalah sebagai tugas dari mata kuliah Teknik
Sampling dan Phlebotomi “Peraturan dan Kewenangan Phlebotomis”.
Penulis tentu menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kata sempurna
dan masih banyak terdapat kesalahan serta kekurangan di dalamnya. Untuk itu,
penulis mengharapkan kritik serta saran dari pembaca untuk makalah ini, supaya
makalah ini nantinya dapat menjadi makalah yang lebih baik lagi. Kemudian
apabila terdapat banyak kesalahan pada makalah ini penulis mohon maaf yang
sebesar-besarnya.
Penulis
1
DAFTAR ISI
1. Kata Pengantar ............................................................................................... 1
2. Daftar Isi ....................................................................................................... 2
3. BAB I : Pendahuluan ..................................................................................... 3
a) Latar belakang .......................................................................................... 3
b) Rumusan Masalah .................................................................................... 3
c) Tujuan ...................................................................................................... 4
4. BAB II : Pembahasan ..................................................................................... 5
a) Sejarah Perkembangan Phlebotomi.......................................................... 5
b) Aspek Hukum dan Perundangan Phlebotomi ........................................... 9
c) Instrumen yang Berhubungan dengan Phlebotomi ................................... 10
d) Prosedur Phlebotomi yang Baik dan Benar .............................................. 12
e) K3 pada Teknik Phlebotomi ..................................................................... 15
f) Komplikasi Phlebotomi............................................................................. 17
g) Pendokumentasian .................................................................................... 20
h) Fungsi, Tugas dan Tanggung Jawab Phlebotomist ................................... 23
i) Kompetensi Profesional Phlebotomist ...................................................... 24
j) Mutu Pelayanan Phlebotomist................................................................... 29
k) Contoh Kasus yang Melibatkan Phlebotomist .......................................... 32
5. BAB III : Penutup .......................................................................................... 33
6. Daftar Pustaka ................................................................................................ 34
2
BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
B. RUMUSAN MASALAH
1. Bagaimana sejarah perkembangan phlebotomy?
2. Apa sajakah aspek hukum dan perundangan yang berhubungan dengan
phlebotomy?
3. Apa sajakah instrument yang berhubungan dengan phlebotomi ?
4. Bagaimana prosedur phlebotomi yang baik dan benar?
5. Bagaiamana penerapan k3 pada teknik phlebotomi (pre, analitik,
post)?
6. Apa saja komplikasi yang dapat terjadi pada proses phlebotomy?
7. Bagaimana prosedur pendokumentasian (pendataan, penanganan,
pengiriman, dan penyimpanan bahan pemeriksaan) pada phlebotomy?
8. Apakah fungsi, tugas dan tanggung jawab seorang phlebotomist?
9. Apa saja kompetensi seorang Phlebotomist?
3
10. Bagaimana cara penjaminan mutu pelayanan Phlebotomi?
11. Contoh Kasus yang Melibatkan Phlebotomomist.
C. TUJUAN
Pembuatan makalah ini bertujuan untuk menambah wawasan dan
pengetahuan lebih dalam mengenai phlebotomy.
4
BAB II
PEMBAHASAN
phleb berarti vena atau pembuluh darah vena ,Tomia atau tome yang artinya
mengiris,insisi, memotong.
terakhir zaman batu ketika alat sederhana digunakan untuk menusuk pembuluh
darah agar kelebihan darah mengalir keluar dari tubuh. Penyedotan darah di
mesir sekitar 1400 SM dibuktikan oleh sebuah lukisan di sebuah makam yang
penampilan khas yaitu bergaris merah dan putih yang melambangkan tukang
cukur sering berlumuran darah dan dibungkus dengan perban putih. Pada tahun
1210, tukang potong rambut dan ahli bedah berkumpul dan mendirikan
Surgeons of the Long Robe dan Lay – Barbers dan Surgeons of the Short Robe.
5
3
ml tetapi pada saat itu flebotomi yang berlebihan adalah hal yang biasa.
6
memakai alat hisap khusus pada kulit untuk mengeluarkan darah ke
Dua jenis alat penyedotan darah di kembangkan selama periode ini yaitu
Scarificator memiliki bentuk bulan sabit dan pisau pegas yang tersembunyi
pemotongan paralel.
kekebalan tubuh berfungsi lebih efisein dan sel darah merah membawa
7
Praktik flebotomi terus berlanjut , namun prinsip dan metode telah
berkembang. Saat ini tujuan flebotomi adalah memperoleh darah utnuk tes
tertentu . Penggunaan lintah telah muncul kembali dengan tujuan baru yaitu
Flebotomi saat ini dilakukan dengan salah satu dari tiga prosedur
berikut:
menggunakan jarum
Legalitas Phlebotomi :
8
1. Keputusan MENKES No 04 / MENKES / SK / 2002 Tentang
laboratorium kesehatan swasta dituliskan bahwa salah satu tugas dan
tanggung jawab perawat yang bekerja di Laboratorium swasta adalah
melakukan tindakan pengambilan specimen.
2. Peraturan MENPAN No 08 Tahun 2006 Tentang Analis kesehatan
pegawai negeri (Pranata Lboratorium) Tugas pelayanan laboratorium
kesehatan di bidang hematologi, kimia klinik, mikrobiologi,
imunoserologi, toxicology, kimia lingkungan dan patologi anatomi.
3. Keputusan Mentri Kesehatan dan Mentri Kesejahteraan Sosial RI N0
141 / MENKESKESOS / SK/ II/ 2001 Tentang petunjuk teknis
pelaksanan pejabat fungsional pranata laboratorium kesehatan
9
a. Tabung dengan Tutup Merah, Digunakan pemeriksaan : Kimia,
Imunologi dan Serologi, Bank Darah (crossmatch).
b. Tabung dengan Tutup Warna Emas, untuk pemeriksaan : Kimia,
Imunologi dan Serologi
c. Tabung dengan Tutup Warna Hijau Terang ,( Plasma Separating
Tube (PST) dengan heparin Lithium) untuk pemeriksaan : Kimia
d. Tabung dengan Tutup Warna Ungu, (EDTA) untuk pemeriksaan :
Hematologi (CBC) dan Bank Darah (crossmatch); requires full draw
- invert 8 times untuk mencegah penggumpalan dan pembekuan
darah.
e. Tabung dengan Tutup Warna Biru Terang. ( Natrium sitrat). untuk
pemeriksaan : Tes koagulasi (protime dan waktu protrombin), full
draw required
f. Tabung dengan Tutup Warna Hijau (Sodium heparin atau heparin
lithium)., untuk pemeriksaan : tingkat lithium, menggunakan
heparin natrium, level amonia, menggunakan heparin natrium atau
lithium
g. Tabung dengan Tutup Warna Biru Tua. (EDTA), digunakan untuk
pemeriksaan : Test Trace Elemen (seng, tembaga, timah, merkuri)
dan toksikologi
h. Tabung dengan Tutup Warna Gray Terang,( Sodium fluoride dan
kalium oksalat). digunakan untuk pemeriksaan : Glucoses, requires
full draw (may cause hemolysis if short draw)
i. Tabung dengan Tutup Warna Kuning. (ACD (acid-citrate-
dextrose)). digunakan untuk pemeriksaan : HLA tissue typing,
paternity testing, DNA studies
j. Tabung dengan Tutup Warna Kuning – Hitam (Kaldu
campuran). digunakan untuk pemeriksaan : Mikrobiologi - aerob,
anaerob, jamur
10
k. Tabung dengan Tutup Warna Hitam. (Natrium sitrat (buffered)).
Digunakan untuk pemeriksaan : Westergren Sedimentation Rate;
requires full draw
l. Tabung dengan Tutup Warna Orange ( Trombin). Digunakan untuk
pemeriksaan : STAT serum kimia
m. Tabung dengan Tutup Warna Coklat Terang Sodium heparin).
Digunakan untuk pemeriksaan : Serum lead determination
n. Tabung dengan Tutup Warna Pink (Kalium EDTA). Digunakan
untuk pemeriksaan : Immunohematology
o. Tabung dengan Tutup Warna Putih (Kalium EDTA). Digunakan
untuk pemeriksaan : Molecular/PCR and bDNA testing
2. Spuit
Spuit digunakan untuk pengambilan darah atau pemberian
injeksi intravena dengan volume tertentu.
3. Tourniquet
Tourniquet digunakan untuk pengebat atau pembendung
pembuluh darah pada organ yang akan dilakukan penusukan plebotomy.
Tujuan pembendungan adalah untuk fiksasi, pengukuhan vena yang
akan diambil. Dan juga untuk menambah tekanan vena yang akan
diambil, sehingga akan mempermudah proses penyedotan darah
kedalam spuit.
4. Kapas alkohol
Tujuan penggunaan kapas alkohol adalah untuk menghilangkan
kotoran yang dapat mengganggu pengamatan letak vena sekaligus
mensterilkan area penusukan agar resiko infeksi bisa ditekan.
5. Needle, Wing Needle
Ujung spuit atau jarum yang digunakan untuk pengambilan
secara vakum. Needle ini bersifat non fixed atau mobile sehingga
mudah dilepas dari spuit serta container vacuum.
6. Blood Container
11
Tabung tempat penampungan darah yang tidak bersifat vakum
udara. Ini biasa digunakan untuk pemeriksaan manual,
7. Plester
Digunakan untuk fiksasi akhir penutupan luka bekas plebotomi,
sehingga membantu proses penyembuhan luka dan mencegah adanya
infeksi akibat perlukaan atau trauma akibat penusukan.
8. Lancet
Merupakan jarum kecil disposable yang digunakan untuk
pengambilan darah kapiler dipermukaan kulit atau ujung jari pasien.
12
b. Melakukan pendekatan secara professional
c. Melakukan wawancara utk konfirmasi data pasien secara singkat
dan lengkap
d. Memberi penjelasan tentang tujuan dan proses pengambilan bahan
pemeriksaan
e. Memberi penyuluhan kesehatan
f. Mengucapkan terimakasih.
2. Persiapan Pasien
Pasien dalam keadaan tenang, rilek dan kooperatif dan motivasi : sakit
sedikit, proses cepat dan diberi penjelasan perlu atau tidak untuk puasa.
3. Posisi Pasien
Pasien duduk atau berbaring dengan nyaman. Pada posisi duduk lengan
diletakkan di atas meja atau tempat tidur, dapat menggunakan bantal
untuk memberikan posisi nyaman. Pada posisi berbaring lengan
diulurkan lurus dari bahu sampai pergelangan tangan. Idealnya posisi
pasien saat pengambilan sampel darah harus dicatat Perbedaan posisi
dapat mempengaruhi hasil.
4. Pemilihan daerah Punksi Vena
a. Vena yang tepat umtuk pengambilan darah : vena mediana cubiti
(terbaik), vena cephalica atau vena basilica (besar, elastis, bentuk
lurus dan rangsang sakit kurang)
5. Pemasangan Touniquet
Torniqut dipasang 2-3 inchi di atas vena yang akan dipungsi (5-10 cm/
4–5 jari di atas vena yang akan dipungsi). Pemasangan jangan terlalu
kencang, tidak lebih dari 1 menit dan apabila pungsi vena tertunda,
sebaiknya dilepas terlebih dulu dan dipasang kembali sebelum
dilakukan pungsi
13
Menggunakan kapas atau kasa yang mengandung alkohol 70%. Cara
pembersihan harus diperhatikan. Ditunggu sampai alkohol kering
sebelum dilakukan pungsi.
a. Pegang spuit menggunakan tangan kanan
b. Periksa jarum, pegang spuit dengan tangan kanan dan ujung telunjuk
pada pangkal jarum
c. Tegangkan kulit dengan jari telunjuk dan ibu jari kiri di atas
pembuluh darah supaya pembuluh darah tidak bergerak
d. Kedalaman jarum masuk pembuluh darah sekitar 1 – 1,5 cm
e. Tusukkan ujung jarum pada vena yang dikehendaki dengan sudut
15-30 derajat
f. Bila darah sudah tampak mengalir kedalam spuit, fiksasilah
g. Lepas torniquet segera setelah darah mengalir, lalu isi spuit sejumlah
yang dikehendaki.
h. Letakkan kapas kering pada tempat pungsi, jarum ditarik pelan-
pelan.
i. Lepaskan jarum dari sempritnya dan alirkan kedalam tabung yang
tersedia melalui dindingnya
8. Pengambilan Darah Vena menggunakan Vacutainer
a. Pegang jarum pada bagian tutup yang berwarna dengan satu tangan,
kemudian putar dan lepaskan bagian berwarna putih dengan tangan
lainnya
b. Pasangkan jarum pada holder, biarkan tutup yang berwarna tetap
pada jarum
c. posisi pungsi telah siap, lepaskan tutup jarum yang berwarna.
Lakukanlah pungsi vena seperti biasa
d. Masukkan tabung ke holder. Tempatkan jari telunjuk dan tengah
pada pinggiran holder dan ibu jari pada dasar tabung mendorong
tabung sampai ujung holder
e. Lepaskan tourniquet saat darah mulai mengalir ke tabung
14
f. Bila kevakuman habis maka pengaliran darah akan terhenti secara
otomatis
(Ratnaningsih 2009
9. Pasca Phlebotomi
a. Membuang jarum bekas ke dalam disposal container khusus untuk
jarum
b. Memberi label identitas sample pada masing-masing tabung vakum
c. Memperhatikan petunjuk khusus specimen
d. Mengucapkan ucapan terimakasih kepada pasien
e. Melepaskan sarung tangan dan cuci tangan dengan antiseptic
f. Mendistribusikan specimen sesuai dengan pemeriksaan yang akan
dilakukan.
1. Kebersihan tangan.
Pencucian tangan sangat penting dalam pencegahan penyebaran infeksi
yang bertujusn untuk menghilangkan kotoran dari kulit secara mekanis
dan mengurangi jumlah mikroorganisme.
2. Pemakaian alat pelindung diri.
15
a. Sarung tangan bertujuan untuk melindungi tangan dari kontak
dengan darah.
b. Masker Yang cukup besar untuk menutupi hidung, mulut dan dagu
bertujuan menahan cipratan yang keluar sewaktu berbicara, batuk
atau bersin serta mencegah percikan darah memasuki hidung atau
mulut.
c. Penutup kepala mencegah jatuhnya mikroorganisme yang ada pada
rambut dan melindungi alat-alat atau daerah steril dan melindungi
kepala/rambut petugas plebotomi.
d. Jas laboratorium/apron/celemek melindungi dari percikan
dekontaminasi darah. Bila terkena darah harus diganti.
e. Sepatu pelindung/pelindung kaki yaitu untuk melindungi kaki dari
percikan darah atau jatuhnya peralatan yang memungkinkan
mengenai kaki. Tindakan Yang Dilakukan Saat Terjadi Kecelakaan
Kerja Seorang Pengambil Darah Atau Sampel (Plebotomist)
Urutan pemakaian APD yaitu jas lab, masker, kaca mata dan sarung
tangan, sedangkan urutan melepas APD adalah sarung tangan, kaca mata,
jas lab kemudian masker.
Pada tahap pre analitik tata keselamatan kerja saat phlebotomy
adalah menggunakan APD dan mempersiapkan segala seuatu yang
dibutuhkan sesuai dengan tujuan pengambilan sample sehinggan tidak
mengganggu kegiatan analitik, tidak lupa pula memberikan pelabelan pada
specimen, memastikan kosndisi steril pada semua alat atau ruang yang
digunakan serta memastikan specimen layak. Sedangkan pada tahap pasca
analitik adalah dengan mencuci tangan setelah melakukakan sampling,
membuang sampah infeksius pada tempat sampah masing-masing,
memisahkan antara limbah padat, cair dan benda tajam, melakukan
desinfeksi alat maupun ruangan.
F. KOMPLIKASI PHLEBOTOMI
Komplikasi yang berkenaan dengan tindakan Flebotomi meliputi :
16
1. Syncope
Syncope adalah keadaan dimana pasien kehilangan
kesadarannya beberapa saat sebagai akibat menurunnya tekanan darah.
Gejalanya dapat berupa rasa pusing, keringat dingin, nadi cepat,
pengelihatan kabur, bahkan bisa sampai muntah.
a. cara mengatasi :
1) Hentikan pengambilan darah
2) Baringkan pasien ditempat tidur, kepala dimiringkan kesalah
satusisi
3) Tungkai bawah ditinggikan ( lebih tinggi dari posisi kepala )
4) Longgarkan baju yang sempit dan ikat pinggange.
5) Minta pasien menarik nafas panjang
6) Pasien yang tidak sempat dibaringkan ,diminta menundukan
kepala diantara kedua kakinya dan menarik nafas panjang.
b. Cara Pencegahan
Pasien diajak bicara supaya perhatiannya dapat dialihkan, Pasien
dianjurkan berbaringpada waktu pengambilan darah, kursi pasien
mempunyai sandaran dan tempat/ sandaran tangan
2. Rasa Nyeri
Nyeri bisa timbul alibat alkosol yang belum keringatau akibat
penarikan jarum yang terlalu kuat.
a. Cara pencegahan
1) Setelah disinfeksi kulit, yakin dulu bahwa alcohol sudah
mongeringsebelum pengambilan darah dilakukan.
2) Penarikan jarum tidak terlalu kuat
3) Penjelasan/ Menggambarkan sifat nyeri yang sebenarnya
3. Hematoma
Hematoma dalah terkumpulnya massa darah dalam jaringan (dalam Hal
Flebotomi : jaringan dibawah kulit ) sebagai akibat robeknya pembuluh
darah.
p. Faktor penyebab terletak pada teknik pengambilan darah :
17
1) Jarum terlalu menungkik sehingga menembus dinding vena
2) Penusukan jarum dangkal sehingga sebagian lubang jarum
berada diluar vena
3) Setelah pengambilan darah, tempat penusukan kurang ditekan
atau kurang lama ditekan.
4) Pada waktu jarum ditarik keluar dari vena, tourniquet (tourniket)
belum dikendurkane. Temapat penusukan jarum terlalu dekat
dengan tempat turniket.
b. Cara mengatasi
Lepaskan turniket dan jarum, tekan tempat penusukan jarum
dengan kain kasa, angkat lengan pasien lebih tinggi dari kepala (+-
15 menit), Kalau perlu kompres untukmengurangi rasa nyeri
4. Pendarahan
Pendarahan yang berlebihan terjadi karena terganggunya system
kouglasi darah Perdarahan terjadi karena pasien mengalami pengobatan
dengan obat antikougulan, pasien menderita gangguan pembekuan
darah ( trombositopenia,defisiensi factor pembeku darah (misalnya
hemofilia ), Pasien mengidap penyakit hati yang berat (
pembentukanprotrombin, fibrinogen terganggu )
a. Cara mengatasi
Melepaskan turniket dan jarum, tekan tempat penusukan jarum
dengan kain kasa, angkat lengan pasien lebih tinggi dari kepala (+-
15 menit), kompres untuk mengurangi rasa nyeri
5. Allergi
Alergi bisa terjadi terhadap bahan- bahan yang dipakai dalam flebotom,
misalnya terhadap zat antiseptic/ desinfektan, latex yang adapada sarung
tangan, turniket atau plester. Gejala alergi bisa ringan atau berat, berupa
kemerahan, rhinitis,radang selaput mata,shock. Cara pencegahan
dengan memakai plester atau sarung-tangan yang tidak mengandung
latex
6. Trombosis
18
Trombosis terjadi karena pengambilan darah yang berulang kali
ditempatyang sama sehingga menimbulkan kerusaka dan peradangan
setempat dan berakibat dengan penutupan ( occlusion ) pembuluh darah.
Pencegahan dengan mengi pengambilan hindari pengambilan berulang
ditempat yang sama.
7. Radang Tulang
Penyakit ini sering terjadi pada bayi karena jarak kulit-tulang yang
sempit dan pemakaian lanset yang berukuran panjang. Cara mengatasi
dengan menggunakan lanset yang ukurannya sesuai.
8. Anemia
Pengambilan darah berulang dapat menyebabkan anemia. Selain itu
pengambilan darah kapiler pada bayi terutama yang bertulang
dapatmenyebabkan selulitis, abses, osteomielitis, jaringan parut dan
nodulklasifikasi. Nodul klasifikasi tersebut mula-mula tampak seperti
lekukan
9. Komplikasi neuologis
Komplikasi neurologist bersifat local karena tertusuknyasyaraf dilokasi
penusukan, dan menimbulkan keluhan nyeri atau kesemutan yang
menjalar ke lengan, seperti yang sudah dijelaskansebelumnya. serangan
kejang (seizures) dapat Terjadi. Pencegahan dengan menghentikan
pengambilan darah, baringkan pasien dengan kepala dimiringkan ke
satu sisi, bebaskan jalan nafas, hindari agar lidah tidak tergigit.
10. Kegagalan pengambilan darah
Faktor yang dapat menyebabkan antara lain karena jarum kurang dalam.
Jarum terlalu dalam/tembus, lubang jarum menempel didinding
pembuluh darah, vena kolap atau tabung tidak vakum. Vena kolaps
dapat terjadi bila menarik penghisap dengan cepat, menggunakan
tabung yangterlalu besar atau jarum terlalu kecil.
11. Hemokonsentrasi
Hemoknsentrasi terjadi karena pembendungan / pemasangan turniket
yang ketat dan lama ( > 1 menit), atau mengepal telapak tangandengan
19
pemijatan atau massage. Hal ini akan menyebabkan peningkatankadar
hematokrit dan elemen seluler lainnya, protein total, GTO, lipid total,
kolestrol dan besi (Fe).
12. Hemodilusi
Terjadi karena pengambilan darah dilengan dimana terdapat pemberian
cairan intra vena (infus ). Pengambilan darah di sisi influs harus di
hindari sebisanya, jika tidak memungkinkan, hentikan infuse 3-5menit,
ambil darah dibagian distal tempat infuse dan buang 3-5 cc darahyang
pertama diambil.
20
pengambilan (vena/kapiler), jenis transportasi, jam pemrosesan,
jam penyimpanan.
g. Nama flebotomis
h. Keterangan saat tindakan flebotomi, adanya kesulitan atau tidak
i. Pelabelan pada tabung : kecocokan dengan identitas pasien
2. Penanganan sample
1) Tidak berlabel
2) Sampel hemolisis/lipemik/ikterik
3) Penggunaan tabung yang salah
4) Salah sampel (tidak sesuai dengan formulir)
5) Volume sampel tidak adekuat
6) Stabilitas sampel tidak baik (selisih lama waktu mulai dari
pengambilan sampel dan penerimaan sampel
c. Menganggap seluruh sample sebagai sample infeksius sehingga
perlu untuk menghindari kebocoran container dan kontaminasi
formulir.
d. Jenis permintaan jika “urgent” segera dilakukan penanganan.
e. Penundaan pemeriksaan : perhatikan pemisahan serum/plasma
dari sel dan penyimpanan Perhatikan stabilitas sampel (suhu,
lama penundaan, cahaya)
f. Serum dan plasma segera dipisahkan, Maksimum 2 jam dari jam
pengambilan pada suhu kamar, untuk pemeriksaan Kalium,
Asam Laktat, glukosa
21
a. Pengiriman sample, Memperhaikan keamanan pengiriman :
packaging
b. Memperhatikan mode pengiriman : hand delivery, kurir (sesuai
IATA), pneumatic tube
c. memperhatikan kebutuhan sampel : suhu pengiriman
(dingin/suhu ruangan), lama pengiriman sampel (cek jam
pengambilan dan jam penerimaan sampel), cahaya
d. Posisi tabung selalu vertikal saat pengiriman
e. Buat kebijakan :
22
2. Tugas
a. Memahami anatomi fisiologi tubuh untuk mengetahui posisi terbaik
pembuluh darah yang akan diambil darahnya
b. Memahami situasi pasien untuk mengorek data secara lengkap dan
berkomunikasi dengan baik sehingga dapat memberikan
imformconsent
c. Memahami teknik komunikasi
d. Memahami peralatan dan teknik pengambilan specimen sehingga
peralatan sesuai dengan pemeriksaan serta dapat menunjukan
pembacaan kode pada pasien
e. Memahami specimen collection dan transport specimen yang
meliputi ukuran needle yang disesuaikan dengan ukuran, transport
specimen yang memperhatikan jarak, waktu distribusi, pengawet
dan cara pendistribusian.
f. Memahami proses pengendalian mutu.
3. Tanggung jawab
a. Tanggung Jawab Hukum
Tanggung jawab hukum kepada pasien dapat terjadi sebagai akibat
dari suatu tindakan yang melanggar hukum atau merugikan pasien.
Sifatnya kesengajaan atau kelalaian. Pelanggaran hukum dapat
berupa tindakan tanpa informfed concent, pelanggaran susila,
pengingkaran atas janji atau jaminan, dsb.
b. Tanggung jawab pidana diberikan langsung kepada pelakunya
apabila kompetensi itu telah sah atau terakreditasi, atau menjadi
tanggung jawab pemberi perintah apabila dalam kondisi sebaliknya.
Penanggung jawab dianggap telah lalai memberikan perintah
kepada orang untuk melakukan tindakan di luar kompetensinya,
padahal diketahuinya bahwa kesalahan atau kerugian dapat terjadi
karenanya. Tanggung jawab perdatanya menjadi beban pemberi
kerja berdasarkan doktrin respondeat superior atau Pasal 1367 KUH
Perdata.
23
I. KOMPETENSI PROFESIONAL PHLEBOTOMIST
Profesi kesehatan adalah pekerjaan yang memenuhi kriteria
mempunyai pendidikan formal untuk memperoleh pengetahuan, sikap dan
keterampilan (Kompetensi), diberikan kewenangan untuk melaksanakan
pelayanan kepada klien maupun tenaga kesehatan lain,melaksanakan
pelayanan melalui kode etik dan standar pelayanan yang diakui masyarakat.
Dalam UU No. 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan terdapat beberapa
pasal yang menjelaskan kompetensi tenaga kesehatan, diantaranya :
1. Tenaga kesehatan harus memiliki kualifikasi minimum (Pasal 22 : 1)
2. Tenaga kesehatan berwenang untuk menyelenggarakan pelayanan
kesehatan (Pasal 23 : 1)
3. Kewenangan untuk menyelenggarakan pelayanan kesehatan
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan sesuai dengan bidang
keahlian yang dimiliki (Pasal 23 : 2)
4. Tenaga kesehatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 23 harus
memenuhi ketentuan, kode etik standar profesi, hak pengguna
pelayanan kesehatan, standar pelayanan, dan standar prosedur
operasional (Pasal 24 : 1)
5. Ketentuan mengenai kode etik dan standar profesi sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) diatur oleh ORGANISASI PROFESI. (Pasal 24
: 2)
Seorang phlebotomist berwenang dalam melakukan phlebotomy
oleh karena telah memperoleh kewenanga, izin dari pemerintah serta
legalitasnya diatur dalam peraturan perundang undangan. Kewenangan
hanya diberikan kepada mereka yang memiliki kemampuan, namun adanya
kemampuan tidak berarti dengan sendirinya memiliki kewenangan.
Seorang phlebotomist berkompeten dalam melakukan phlebotomy
karena telah mendapat pendidikan ataupun pelatihan yang sesuai dengan
profesinya. Kemampuan yang dimiliki seorang tenaga kesehatan
berdasarkan ilmu pengetahuan, keterampilan, dan sikap profesional untuk
menjalankan praktik dan/atau pekerjaan keprofesiannya (Kemenkes, 2012)
24
Sertifikat kompetensi merupakan surat tanda pengakuan terhadap
kompetensi seorang analis kesehatan untuk menjalankan indakan
plebotomi setelah lulus uji kompetensi Uji kompetensi dilaksanakan oleh
PATELKI cq Komite Nasional Sertifikasi Profesi Analis Kesehatan.
Standar Profesi analis kesehatan dalam phlebotomy memiliki dasar
hukum Kepmenkes I No : 370/Menkes/SK/III/2007. Standart profesi
merupakan dasar kewenangan bagi seorang tenaga Analis Kesehatan dalam
melaksanakan pekerjaan profesionalnya di Laboratorium Kesehatan dan
merupakan acuan standar kompetensi yang digunakan dalam standar
pendidikan, pelayanan, uji kompetensi.
Sedangkan standart kompetensi analis kesehatan untuk melakukan
tugasnya adalah memiliki keterampilan untuk melaksanakan proses teknis
operasional pelayanan laboratorium, yaitu Keterampilan pengambilan
spesimen, termasuk penyiapan pasien, labeling, penanganan, pengawetan,
fiksasi, pemrosesan, penyimpanan dan pengiriman specimen. Memiliki
pengetahuan untuk melaksanakan kebijakan pengendalian mutu dan
prosedur laboratorium Memiliki kewaspadaan terhadap faktor-faktor yang
mempengaruhi hasil uji laboratorium
Standar Pelayanan analis kesehatan berdasarkan pada Permenkes
No. 411 Tahun 2010 tentang Laboratorium Klinik – Pasal 17 ayat (2) tenaga
analis kesehatan dan tenaga teknis yang setingkat mempunyai tugas dan
tanggung jawab : Melaksanakan pengambilan dan penanganan bahan
pemeriksaan laboratorium sesuai standar pelayanan dan SOP. Berdasarkan
Kep Dirjen Yanmed Depkes RI No. HK.00.06.3.3.10381 tanggal 3
Desember 1998 tentang Pengelolaan Laboratorium Klinik Rumah Sakit –
Uraian tugas tenaga analis kesehatan/medis adalah mengambilan dan
penanganan bahan pemeriksaan laboratorium. Sedangkan berdasarkan Per
Menpan No. Per/08/M.PAN/3/2006 tentang Jabatan Fungsional Pranata
Labkes dan Angka Kreditnya – Bab V Pasal 8 tentang rincian kegiatan dan
unsur yang dinilai sesuai jenjang jabatan yaitu mengambil spesimen/sampel
laboratorium.
25
Untuk pasien di rumah sakit persetujuan tindakan kedokteran
(informed consent ) yang berhubungan dengan flebotomi berupa paket dari
pengisian formulir yang akan ditandatangani antara dokter yang menangani
dengan pihak pasien, saksi keluarga dan saksi dari rumah sakit.
Inform concent adalah persetujuan yang diberikan oleh pasien atau
keluarganya atas dasar penjelasan mengenai tindakan medik yang akan
dilakukan terhadap pasien tersebut. Dasar hukum dari inform concent
adalah : (1) Keputusan Menteri Kesehatan No. 585/Menkes/PER/IX/1989
Tentang Persetujuan Tindakan Medik, (2) UU No. 23 tahun 1992 tentang
Kesehatan, pada Pasal 53 ayat (2) dan penjelasannya, dan (3) PP No. 18
tahun 1981 tentang Bedah Mayat Anatomis serta Transplantasi Alat atau
Jaringan Tubuh Manusia.
Unsur-unsur yang terdapat dalam informed concent meliputi : (1)
etiologi/patogenesis penyakit, berisikan tentang mengapa penyakit itu
muncul, kemungkinan lanjut penyakit itu jika tidak dilakukan perawatan,
(2) diagnosis penyakit, merupakan sebutan nama dari penyakit yang diderita
menurut bahasa kedokteran, (3) rencana perawatan, berisikan penjelasan
tentang jalannya perawatan dan pengobatan yang akan dilakukan, dan (4)
risiko, kemungkinan yang bisa muncul dari upaya perawatan yang
dilakukan.
Fungsi dari informed concent adalah : (1) promosi dari hak otonomi
perorangan, (2) proteksi dari pasien dan subyek, (3) mencegah terjadinya
penipuan dan paksaan, (4) menimbulkan rangsangan kepada profesi medis
untuk introspeksi diri, (5) promosi dari keputusan yang rasional, dan (6)
keterlibatan masyarakat dalam memajukan prinsip otonomi sebagai suatu
nilai sosial dan mengadakan pengawasan dalam penyelidikan biomedik.
Hak pasien dalam inform concent : (1) hak untuk memperoleh
informasi mengenai penyakitnya dan tindakan apa yang hendak dilakukan
dokter terhadap dirinya, (2) hak untuk memperoleh jawaban atas pertanyaan
yang diajukan, (3) hak untuk memilih alternatif lain (jika ada), dan (4) hak
untuk menolak usul tindakan yang hendak dilakukan
26
Dasar adanya inform concent adalah : (1) hubungan dokter pasien
berdasarkan atas kepercayan, (2) hak pasien untuk menentukan apa yang
dikehendaki terhadap dirinya sendiri, dan (3) adanya hubungan kontrak
terapeutik antara dokter dan pasien.
Isi dari persetujuan tindakan berisi point penting tentang persetujuan
berupa pernyataan.
“Saya sudah mendapat kesempatan untuk bertanya dan saya sudah
mengerti dan puas dengan penjelasan yang diberikan sehungan dengan
pernyataan saya, disamping itu jika terjadi kecelakaan seperti tertusuk
jarum atau alat tajam pada petugas medis selama berlangsungnya operasi,
saya memberikan izin untuk mengambil darah pasien untuk tes HIV dan
penyakit lainnya yang penularannya dari darah”.
“Dengan ini saya menyatakan dengan sesungguhnya bahwa saya
setuju untuk operasi atau tindakan medis yang sudah dijalaskan diatas '’
Prinsip etika professional
1. Tanggung jawab, terhadap pelaksanaan pekerjaan itu dan terhadap
hasilnya, terhadap dampak dari profesi itu untuk kehidupan orang lain
atau masyarakat pada umumnya
2. Keadilan, Prinsip ini menuntut kita untuk memberikan kepada siapa saja
apa yang menjadi haknya
3. Otonomi, Prinsip ini menuntut agar setiap kaum professional memiliki
dan di beri kebebasan dalam menjalankan profesinya
Standar etik berisikan norma yang :
1. Memekankan kepada tidak membahayakan kepada setiap orang
2. Dilaksanakan sesuai dengan kemampuan teknik dan aturan yang benar
3. Memperhatikan kepada hak-hak pasien seperti kerahasiaan, peivatisasi
informasi tentang tindakan medis yang diterima dan tindakan untuk
menolak pengobatan (Garza, 2002)
Prilaku profesional seorang Analis Kesehatan (Kepmenkes No. 370
Tahun 2007 tentang Standar Profesi) : teliti dan cekatan, jujur dan dapat
27
dipercaya, rasa tanggungjawab yang tinggi, mampu berkomunikasi secara
efektif, disiplin dan berjiwa melayani Prilaku Profesional (Garza, 2002)
1. Komitmen tinggi pada pelayanan kesehatan
2. Melaksanakan pekerjaan yang benar dan terukur
3. Memiliki dedikasi yang tinggi untuk mencapai kinerja optimal
4. Menjaga kebersihan selama menjalan tugas profesi
5. Bekerja sungguh-sungguh, menyenangkan dan memuaskan
Tolak Ukur Kinerja Plebotomis
1. Tingkat kepatuhan terhadap kebijakan/SOP
2. Tingkat kemampuan komunikasi, etika komunikasi, mendengar,
pengendalian intonasi suara, kemarahan pasien, bekerja sama dalam
melakukan komunikasi melalui telepon
3. Tingkat pemenuhan kepuasan pelanggan seperti memperpendek waktu
pelayanan, komplikasi dalam melakukan plebotomi
Tanggung jawab sebagai tenaga professional
1. Pengetahuan tentang terminologi medis atau laboratorium
2. Pengukuran efisiensi dan kualitas jumlah pengambilan darah yang tidak
ada komplikasi pada periode tertentu, jumlah spesimen yang ditolak
pada waktu tertentu, angka kultur darah yang terkontaminasi
Manfaat Penilaian Kompetensi (Garza, 2002)
1. Memberi umpan balik kinerja flebotomis
2. Melakukan identifikasi permasalahan berkaitan dengan kinerja
flebotomis secara dini
3. Mempertahankan konsistensi kinerja flebotomis di laboratorium
4. Mengikutsertakan petugas untuk tetap mematuhi kebijakan dan
prosedur
5. Peningkatan kualitas
6. Mengingatkan petugas hal-hal penting yang sudah Terlupakan
Kedudukan phlebotomist dalam pelayanan kesehatan Keterbatasan
tenaga kesehatan
28
1. kerja lintas sektor dan fungsi efisiensi pelayanan kesehatan Dibentuk
tim kerja misal di ICCU, Pemeriksaan Gas Darah, POCT, Lab sentral,
dll
2. Pengaturan kerja (RS) Pasien rawat inap (Perawat) dan pasien rawat
jalan (Analis) SOP
3. Pelatihan lintas sektor dan fungsi Tim yang handal
29
berkomunikasi, pelayanan yang nyaman, tepat waktu dan lingkungan
yang aman dan nyaman.
3. Aspek kemanjuran yang mencangkup dampak kondisi perbaikan dari
pelayanan kesehatan yang diberikan.
4. Aspek kelayakan yang mencangkup pelayanan yang tepat terhadap
kondisi dari pasien.
5. Aspek fungsi pelayanan yang mencangkup pelayanan yang ditawarkan
untuk memenuhi kebutuhan pasien.
Untuk meningkatkan mutu pelayanan, Salah satu pendekatan mutu
yang digunakan adalah Manajemen Mutu Terpadu (Total Quality
Magement, TQM). TQM adalah Suatu proses dengan tujuan pada perbaikan
kualitas yang terus menerus, bukan hanya pada standart minimal melainkan
berfokus pada perbaikan seluruh proses pelayanan kesehatan (phlebotomy)
sehingga pasien mendapatkan hasil yang terbaik. Payung konsep TQM
meliputi penilaian kualitas, pelaksanaan struktur,proses, hasil dan kepuasan
pelanggan. engurangi pengulangan dan kesalahan prosedur tindakan
pelayanan kesehatan.
Komponen TQM :
1. Struktur :
a. Struktur fisik: fasilitas, pengadaan dan ketersediaan barang
b. Struktur personalia : jumlah personal, kualifikasi, ratio dan
ketersediaan direktur/supervisor.
c. Struktur manajemen dan administrasi : SOP tertulis, pencatatan dan
pelaporan, komunikasi dg pimpinan
2. Proses semua tindakan yg dilakukan terhadap pasien/pelanggan,
prosedur, ketrampilan. tanggung jawab.
3. Hasil (Outcome) : hasil dari tindakan yang sudah dikerjakan secara
tuntas terhadap pasien. Contoh Outcome buruk, kematia, kesakitan,
ketidaknyamanan, ketidakpuasan
4. Kepuasan (satisfaction) tingkat kepuasan dapat diketahu dengan
kuesioner dan wawancara
30
Selain TQM juga Perlu diterapkan Continous Quality improvement
(CQI) yaitu Suatu kerangka kerja teoritis dan komitmen manajemen untuk
memperbaiki struktur, proses, hasil dan kepuasan pelanggan yang
dilakukan secara terus menerus.
31
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Istilah flebotomi berasal dari bahasa yunani ,dari asal kata :phlebs atau
phleb berarti vena atau pembuluh darah vena ,Tomia atau tome yang artinya
bagian yaitu flebotomi masa kuno dan flebotomi masa kini. Pada masa kuno
digunakan masa kini. Dengan adanya perubahan waktu, maka alat,prinsip dan
32
DAFTAR PUSTAKA
Anonim.http://www.situsmedis.com/2017/05/pengertian-tugas-peran-fungsi-
Unhas
33