Anda di halaman 1dari 13

PENENTUAN KADAR CUKA PASARAN (ALKALIMETRI)

Tanggal Praktikum: Awal: Jumat, 1 November 2019


Akhir: Jumat, 1 November 2019

A. Tujuan
1. Menentukan kadar cuka pasaran
2. Menentukan normalitas larutan NaOH menggunakan larutan standar asam oksalat
3. Terampil melakukan titrasi pada penentuan standarisasi larutan

B. Prinsip Dasar
Titrasi asam-basa melibatkan asam maupun basa titer ataupun titran. Titrasi asam-
basa dilakukan berdasarkan reaksi penetralan. Kadar larutan asam ditentukan dengan
menggunakan larutan basa dan sebaliknya. Keadaan ini disebut sebagai “titik ekivalen”.
Pada saat titik ekivalen ini maka proses titrasi dihentikan, kemudian mencatat volume titer
yang diperlukan untuk mencapai keadaan tersebut. Dengan menggunakan data volume
titran, volume dan konsentrasi titer maka dapat ditentukan kadar titran.
(Pierce, 1967: 90)
Jika larutan asam ditetesi dengan larutan basa maka pH larutan akan naik,
sebaliknya jika larutan basa ditetesi dengan larutan asam maka pH larutan akan turun.
Grafik yang menyatakan perubahan pH pada penetesan asam dengan basa atau sebaliknya
disebut kurva titrasi. Kurva titrasi berbetuk S, yang pada ttik tengahnya merupakan titik
ekuivalen.
(Michael, 1997: 198)
Titrasi asam basa dapat memberikan titik akhir yang cukup tajam dan untuk itu digunakan
pengamatan dengan indikator bil pH pada titik ekuivalen 4-10. Demikian juga titik akhir
titrasi akan tajam pada titirasi asam atau basa lemah, jika penitrasian adalah basa atau asam
kuat dengan perbandingan tetapan disosiasi asam lebih besar dari 104 .pH berubah secara
drastis bila volume titrannya. Pada reaksi asam basa, proton ditransfer dari satu molekul ke
molekul lain. Dalam air proton biasanya tersolvasi sebagai H30. Reaksi asam basa bersifat
reversibel. Temperatur mempengaruhi titrasi asam basa, pH dan perubahan warna indikator
tergantung secara tidak langsung pada temperatur.
(Khopkar, S.M., 1990: 96)
Pada kedua jenis titrasi diatas, dipergunakan indikator yang sejenis yaitu fenoftalen (PP)
dan metil orange (MO).  Hal tersebut dilakukan karena jika menggunakan indikator yang
lain, misalnya TB, MG atau yang lain, maka trayek pHnya sangat jauh dari ekuivalen.
(Harjadi, W., 1990: 86)
Pada titrasi asidi-alkalimetri dibagi menjadi dua bagian besar  yaitu:
(Susanti, 1995: 97)
1. Asidimetri. Titrasi ini menggunakan larutan standar asam yang digunakan untuk
menentukan basa. Asam yang biasa digunakan adalah HCl, asam cuka, asam
oksalat, asam borat.
2. Alkalimeri. Pada titrasi ini merupakan kebalikan dari asidi-alkalimetri karena
larutan yang digunakan untuk menentukan asam disini adalah basa.
Titirasi asam-basa merupakan cara yang tepat dan mudah untuk menentukan jumlah
senyawa-senyawa yang bersifat asam dan basa. Kebanyakan asam dan basa organik dan
organik dapat dititrasi dalam larutan berair, tetapi sebagian senyawa itu terutama senyawa
organik tidak larut dalam  air. Namun demikian umumnya senyawa organik dapat larut
dalam pelarut organik, karena itu senyawa organik itu dapat ditentukan dengan titrasi asam
basa dalam pelarut inert. Untuk menentukan asam digunakan larutan baku asam kaut
misalnya HCl, sedangkan untuk menentuan basa digunakan larutan basa kuat misalnya
NaOH. Titik akhir titrasi biasanya ditetapkan dengan bantuan perubahan indikator asam
basa yang sesuai atau dengan bantuan peralatan seperti potensiometri, spektrofotometer,
konduktometer.
(Rivai, H., 1990: 41)
Titrasi asam basa melibatkan asam maupun basa sebagai titer ataupun titrant. Kadar
larutan asam ditentukan dengan menggunakan larutan basa atau sebaliknya. Titrant
ditambahkan titer tetes demi tetes sampai mencapai keadaan ekuivalen ( artinya secara
stoikiometri titrant dan titer tepat habis bereaksi) yang biasanya ditandai dengan
berubahnya warna indikator. Keadaan ini disebut sebagai “titik ekuivalen”, yaitu titik
dimana konsentrasi asam sama dengan konsentrasi basa atau titik dimana jumlah basa yang
ditambahkan sama dengan jumlah asam yang dinetralkan: [H +] = [OH-]. Sedangkan
keadaan dimana titrasi dihentikan dengan cara melihat perubahan warna indikator disebut
sebagai “titik akhir titrasi”. Titik akhir titrasi ini mendekati titik ekuivalen, tapi biasanya
titik akhir titrasi melewati titik ekuivalen. Oleh karena itu, titik akhir titrasi sering disebut
juga sebagai titik ekuivalen. Pada saat titik ekuivalen maka mol-ekuivalen asam akan sama
dengan mol-ekuivalen basa.
(Chang, 2003: 130)
Larutan baku ada dua yaitu larutan baku primer dan larutan baku sekunder. Larutan
baku primer adalah larutan baku yang konsentrasinya dapat ditentukan dengan jalan
menghitung dari berat zat terlarut yang dilarutkan dengan ttepat. Larutan baku primer harus
dibuat dengan penimbangan dengan tiliti menggunakan neraca analitik dan dilarutkan
dalam labu ukur.
(Chang, 2003: 126)
Salah satu indikator asam-basa adalah phenolphtalein (PP), indikator ini banyak
digunakan karena harganya murah. Indikator PP tidak berwarna dalam bentuk Hln - (asam)
dan merah jambu dalam bentuk ln- (basa).
(Suyatno, dkk., 2007: 95)
Proses standarisasi terhadap NaOH dapat dilakukan dengan bantuan asam oksalat.
NaOH  memiliki sifat yang sangat korosif terhadap kulit. Istilah NaOH yang paling sering
digunakan dalam industri adalah soda kaustik, soda kaustik tersebut jika dilarutkan dalam
air akan menimbulkan reaksi eksotermis. Natrium hidroksida anhidrat memiliki bentuk
yang berbeda dari larutan yaitu berbentuk kristal berwarna putih.
(Surest, 2010: 3)
            Asam oksalat atau asam etanadioat dengan berat molekul 90,04 gr/mol adalah asam
dikarboksilat paling sederhana, larut dalam air dan bersifat asam kuat. Asam ini tidak
berbentuk anhidrat di alam dan secara komersial tersedia dalam bentuk padatan, asam
oksalat dihidrat dengan berat molekul 126,07 gr/mol. Asam oksalat terdistribusi secara luas
dalam bentuk garam potasium dan kalsium yang terdapat pada tumbuhan seperti bayam,
jeruk teh, cokelat, buncis, belimbing, dll. Asam oksalat banyak digunakan sebagai bahan
pemutih dalam bidang obat-obatan dan serat, pengolahan air limbah, sebagai agen reduksi
untuk fotografi dan penghapusan tinta, penghapusan noda karat dari meja dapur,
perlengkapan pipa dan kain, pewarna modern untuk bahan celup. Dalam penggunaan
sintesis organik, asam oksalat digunakan untuk memproduksi resin, pembuatan bubuk urea-
formaldehid, katalis butadiena, memproduksi bakteriofag, persiapan bahan baku untuk
kapasitor porselen dan detergen perlatan elektronik dan pengolahan limbah fotokatalitik.
(Pandang, dkk. 2016: 41)
C. Alat dan Bahan
Alat:
1. Neraca analitik 1 set
2. Labu ukur 100 ml 2 buah
3. Corong gelas 1 buah
4. Pipet volumetri 10 ml 1 buah
5. Pipet filler 1 buah
6. Gelas kimia 50 ml 1 buah
7. Buret 50 ml 1 buah
8. Labu erlenmeyer 250 ml 2 buah
9. Pipet tetes 3 buah
10. Botol semprot 1 buah
11. Spatula 1 buah
12. Statif dan klem 1 set
13. Gelas ukur 25 ml 1 buah
14. Batang pengaduk 1 buah
15. Botol timbang 1 buah
Bahan:
1. Larutan NaOH 0,5 M ± 50 ml
2. Larutan standar H2C2O4.2H2O 100 ml
3. Indikator PP 12 tetes
4. Sampel cuka 5 ml
5. Akuades secukupnya
6. Kristal asam oksalat 0,63 gram
D. Pembahasan
Praktikum mengenai Penentuan Kadar Cuka Pasaran (Alkalimetri) yang bertujuan
untuk menentukan kadar cuka pasaran, menentukan normalitas larutan NaOH
menggunakan larutan standar asam oksalat, serta terampil melakukan titrasi pada penentuan
standarisasi larutan, tidak hanya dilakukan secara teori namun juga secara praktiknya.
Prinsip dasar pada percobaan ini adalah reaksi penetralan, titrasi, dan pengenceran. Reaksi
penetralan merupakan reaksi yang terjadi antara asam dan basa. Reaksi asam-basa dalam
medium air biasanya menghasilkan garam dan air, yang merupakan senyawa ionik yang
terbentuk dari suatu kation selain H+ dan suatu anion selain OH- atau O2-.
Alkalimetri merupakan suatu teknik analisis untuk mengetahui kadar keasaman suatu zat
dengan menggunakan larutan standar basa. Titrasi adalah salah satu metode kimia untuk
menentukan kadar suatu zat dengan menggunakan zat lain yang sudah diketahui
konsentrasinya. Pengenceran adalah penambahan pelarut kedalam suatu larutan jadi pada
prinsipnya jumlah mol zat sebelum dan sesudah diencerkan tetap. Prinsip kerja dalam
praktikum ini adalah penimbangan, pelarutan, pemindahtuangan zat cair, dan
pemindahtuangan zat padat.
Hal pertama yang dilakukan adalah membuat larutan standar asam oksalat 0,05 M.
Asam oksalat berwujud padatan berwarna putih dan tidak berbau. Dilakukan perhitungan
massa asam oksalat yang diperlukan untuk konsentrasi yang telah ditentukan melalui
perhitungan sebagai berikut:

Massa asam oksalat yang dibutuhkan


M = 0,05 M
Mr H2C2O4 = 126 g/mol
Massa H2C2O4 = mol x Mr
= 0,05 M x 0,1 L x 126 g/mol
= 0,63 gram

Konsentrasi asam oksalat


Massa asam oksalat = 0,63 gram
M H2C2O4 = 0,63 gram x 1000_
126 g/mol 100 ml
= 0,05 M

Kemudian asam oksalat diencerkan menggunakan akuades secara kuantitatif hingga


menjadi larutan dengan volume 100 mL. Akuades berwujud larutan tidak berwarna dan
tidak berbau. Larutan kemudian dihomogenkan melalui pengocokan. Dilakukan
pengocokan agar padatan larut dan homogen. Larutan asam oksalat tidak berwarna, tidak
berbau, dan tidak terbentuk endapan. Proses homogen larutan dilakukan melalui
pengocokan didalam labu ukur 100 mL. Digunakan labu ukur karena jumlahnya diketahui
dengan pasti dengan keakuratan yang sangat tinggi.
Langkah selanjutnya adalah standarisasi larutan NaOH dengan larutan
standar asam oksalat. Disiapkan set alat untuk standarisasi. Sebelum buret digunakan,
dibilas dulu dengan akuades guna mengetahui apakah buret bocot dan layak digunakan atau
tidak. Kemudian buret dibilas dengan NaOH guna menghilangkan kadar air dan agar yang
ada didalam buret merupakan larutan sejenis tanpa adanya kontaminasi zat lain. Pembilasan
buret dilakukan dengan cara memasukkan sedikit larutan NaOH kedalam buret, lalu saat
keran masih tertutup buret diputar agar seluruh batang dalam buret kena NaOH. Keran
dibuka dan isi larutan bekas bilasan tadi ditampung lalu dibuang ke penampungan limbah.
Buret dicapit dengan klem, disimpan tegak pada statif agar pembacaan skala volume
larutan pada buret akurat. Larutan NaOH dituangkan kedalam buret dengan bantuan corong
gelas, diisi hingga angka nol. Lalu kran buret dibuka dan membiarkan larutan NaOH ikut
memenuhi bagian bawah kran hingga terisi penuh tanpa adanya gelembung agar volume
NaOH yang terdapat pada buret tepat 50 mL, kemudian ditutup.
Standarisasi adalah suatu proses penentuan konsentrasi larutan. Untuk menentukan
konsentrasi suatu larutan asam-basa, diperlukan suatu larutan standar. Larutan standar
adalah suatu larutan yang telah diketahui konsentrasinya dan biasanya berupa larutan asam
atau larutan basa yang konsentrasinya tidak berubah. Larutan standar terbagi atas larutan
satndar primer dan larutan standar sekunder. Larutan standar primer yaitu larutan dimana
kadarnya dapat diketahui secara langsung karena didapatkan dari hasil penimbangan.
Umumnya kadarnya dinyatakan dalam normalitas. Adapun syarat-syarat larutan standar
primer antara lain: mempunyai kemurnian tinggi, rumus molekulnya pasti, tidak mengalami
perubahan saat penimbangan, berat ekivalen yang tinggi serta larutannya stabil dalam
penyimpanan. Sedangkan larutan standar sekunder adalah larutan dimana konsentrasinya
ditentukan dengan jalan standarisasi dengan larutan standar primer. Adapun syarat-syarat
yang dimiliki larutan standar primer, yaitu berat ekivalennya tinggi serta larutannya tidak
stabil dalam penyimpanan. Pada percobaan kali ini larutan baku sekunder yang akan
digunakan adalah NaOH (natrium hidroksida) dan larutan baku primer adalah H 2C2O4.2H2O
(asam oksalat). H2C2O4 merupakan padatan kristal yang stabil, sehingga dijadikan sebagai
larutan standar primer karena konsentrasinya dapat diketahui secara pasti. NaOH bersifat
higroskopis, sehingga dijadikan sebagai larutan standar sekunder, konsentrasi tidak dapat
diketahui secara pasti. Sehingga, dilakukan standarisasi terlebih dahulu dengan larutan
H2C2O4.
Larutan NaOH distandarisasi karena larutan NaOH merupakan larutan standar
sekunder yang konsentrasinya selalu berubah dan memiliki tingkat kemurnian yang lebih
rendah dibandingkan dengan larutan primer. Pada percobaan ini, dilakukan dengan
penambahan larutan standar ke dalam asam oksalat yang telah diketahui konsentrasinya dan
telah ditetesi tiga tetes indikator phenolftalein. Indikator phenolphtalein berfungsi sebagai
penanda tercapainya titik akhir titrasi. Digunakan phenolphtalein karena merupakan larutan
tidak berwarna dengan rentang pH 8-10 dan akan berubah warna menjadi merah muda
seulas pada rentang pH tersebut, sehingga akan mempermudah dalam mengetahui bahwa
dalam proses titrasi sudah mencapai titik ekivalen. CH 3COOH merupakan asam lemah
yang dititrasi oleh NaOH basa kuat, titik ekivalen terjadi pada pH > 7 yang artinya
indikator yang sesuai dan berubah warna yaitu pada indikator phenolphtalein. Titik akhir
titrasi ditandai dengan berubahnya warna larutan menjadi merah muda disebabkan karena
indikator phenolphtalein. Titik pada saat indikator memberikan perubahan disebut titik
akhir titrasi, dan pada saat ini titrasi harus dihentikan. Idealnya bila indikator dan kondisi
titrasi sesuai, maka titik akhir titrasi dan titik ekivalen akan berimpit atau setidaknya hanya
terdapat sedikit perbedaan. Dimana titik ekivalen adalah titik dimana mol asam sama
dengan mol basa.
Percobaan ini dilakukan dua kali titrasi dengan tujuan yaitu untuk dapat
membandingkan volume NaOH yang digunakan setiap melakukan titrasi. Saat percobaan,
warna merah muda seulas sulit didapatkan sehingga terkadang menjadi lebih pekat yang
berarti larutan tersebut kelebihan basa, melebihi titik ekuivalen dimana mol asam ≠ mol
basa. Dari hasil pengamatan yang telah dilakukan diperoleh volume NaOH dari titrasi I dan
II, berturut-turut adalah 10,95 mL dan 10,9 mL dan volume rata-rata NaOH yang
digunakan yaitu 10,295 mL. Sedangkan volume asam oksalat yang digunakan masing-
masing yaitu 10 mL. Dari data tersebut diperoleh normalitas NaOH turut yaitu 0,09713 N
melalui perhitungan sebagai berikut:

Konsentrasi NaOH (Standarisasi)


Mol NaOH = 2 mol H2C2O4
MxV =2xMxV
M NaOH x 10,295 ml = 2 x 0,05 M x 10 ml
M NaOH = 0,09713 M

Adapun persamaan reaksinya yaitu sebagai berikut:


H2C2O4 (aq) + PP (aq) + 2NaOH (aq)  Na2C2O4 (aq) + 2H2O (l)
tb tb tb merah muda seulas tb

No Volume asam Volume NaOH Molaritas asam Molaritas


oksalat (mL) (mL) oksalat NaOH
1 10 10,95 0,05 M 0,0915 M
2 10 10,9 0,05 M 0,0915 M
Rerata 10 10,295 0,05 M 0,0915 M

Selanjutnya dilakukan penetapan kadar asas asetat dalam cuka. Percobaan ini
bertujuan untuk menetapkan kadar asam cuka. Penentuan konsentrasi zat atau larutan
dengan cara mereaksikannya secara kuantitatif dengan menggunakan larutan lain pada
konsentrasi tertentu merupakan suatu metode analisa volumetrik. Dalam percobaan ini
larutan yang akan dititrasi dalam hal ini asam cuka perdagangan diencerkan terlebih
dahulu. Sampel cuka 5 ml diencerkan dengan akuades hingga volumenya menjadi 100 mL.
Fungsi dari pengenceran yaitu untuk mempermudah proses titrasi, karena semakin pekat
suatu larutan maka semakin banyak waktu yang dibutuhkan larutan tersebut dalam proses
titrasi, dan semakin banyak pula volume NaOH yang digunakan. Adapun persamaan
reaksinya, yaitu:
CH3COOH (aq) + PP (aq) +  NaOH (aq)  CH3COONa (aq)  + H2O (l)
tb tb tb merah muda seulas tb
Kemudian larutan dititrasi dengan NaOH sampai dengan tercapainya titik akhir
titrasi yang ditandai dengan adanya perubahan warna dari tidak berwarna menjadi merah
muda. Perubahan warna terjadi karena adanya penambahan tiga tetes indikator
phenolphtalein sebelum titrasi dilakukan. Percobaan ini dilakukan dua kali titrasi dengan
tujuan yaitu untuk dapat membandingkan volume NaOH yang digunakan setiap melakukan
titrasi. Dari hasil pengamatan diperoleh volume NaOH yang dipakai pada titrasi I dan II
secara berturut-turut yaitu 1 mL dan 1 mL dan volume rata-rata dari NaOH tersebut yaitu 1
mL. Perhitungan kadar asam asetat dalam larutan cuka dilakukan dengan mengalikan
volume rata-rata dari NaOH dengan normalitas larutan standar yaitu NaOH dan
membaginya dengan volume asam cuka yang digunakan, yaitu sebagai berikut:

No Volume asam Volume NaOH Normalitas Normalitas


sampel (mL) (mL) NaOH sampel
1 25 1 0,9713 M 0,00388 N
2 25 1 0,9713 M 0,00388 N
Rerata 25 1 0,9713 M 0,00388 N

Konsentrasi CH3COOH (Titrasi)


a . M CH3COOH . V CH3COOH = b . M NaOH . V NaOH
1 . M CH3COOH . 25 ml = 1 . 0,0971 M . 1 ml
M CH3COOH = 0,00388 M

Normalitas NaOH (Standarisasi)


N=M.a
= 0,09713 M . 1
= 0,09713 N

Konsentrasi CH3COOH (Titrasi)


a . M CH3COOH . V CH3COOH = b . MnaOH . VnaOH
1 . M CH3COOH . 25 ml = 1 . 0,09153 . 1
M CH3COOH = 0,003661 M

Normalitas Sampel
M=N
a
= 0,00388 N
1
= 0,00388 M

Kadar CH3COOH dalam asam cuka percobaan


Massa CH3COOH = mol CH3COOH x Mr CH3COOH
= 0,003661 M x 0,025 L x 60 g/mol
= 0,005491 gram
Kadar CH3COOH = massa CH3COOH x 100%
Massa sampel
= 0,005491 g x 100%
25 g
= 0,0219 %

Massa Sampel
M = V. ρ
= 25 cm3 . 1,05 g/cm3
= 26,25 g

Faktor Pengenceran
FP = 100 ml = 20
5 ml

Kadar CH3COOH
Kadar CH3COOH = massa CH3COOH x FP x 100%
massa sampel
= 0,0591 g x 20 x 100%
26,25 g
= 4,502 %

Sehingga kadar asam asetat yang diperoleh dari percobaan ini yang telah
yaitu 4,502 %, hasil tersebut membuktikan bahwa dalam larutan cuka terdapat terdapat
asam asetat sebanyak 4,502 mL dalam 100 mL larutan. Adapun analisa faktor kesalahan
dalam praktikum kali ini diantaranya adalah kurang teliti saat penetesan NaOH sehingga
terlalu banyak yang menetes dan kesalahan pembacaan skala pada buret yang kurang teliti
sehingga mempengaruhi perhitungan.
E. Kesimpulan
Dari percobaan didapatkan hasil kadar asam asetat dalam cuka pasaran sebesar
4,502%.

F. Daftar Pustaka
Chang, R. (2003). Kimia Dasar Jilid I. Jakarta: Erlangga.
Harjadi, W. (1990). Ilmu Kimia Analitik Dasar. Jakarta: Gramedia.
Khopkar, S.M. (1990). Konsep Dasar Kimia Analitik. Jakarta: UI Press.
Michael, Purba. (1997). Buku Pelajaran Ilmu Kimia Untuk SMU Kelas 2. Jakarta:
Erlangga.
Pierce, W. Sawyer, D., & Haenisch, E. (1967). Quantitative Analysis. New York: John
Wileyand Sons, Inc.
Rivai, H. (1990). Asas Pemeriksaan Kimia. Jakarta: UI Press.
Susanti, S. 1995. Analisis Kimia Farmasi Kualitatif. Makassar: LEPHAS.
Suyatno, dkk. (2007). Kimia SMA Kelas 3. Jakarta: Gramedia.
Pandang, Iloan. Ambarita, Yos Power dan Maulina, Seri. (2016). Pembuatan Asam Oksalat
dari Pelepah Kelapa Sawit (Elaeis guineensis) dengan Kalsium Hidroksida. Jurnal Teknik
Kimia. Vol.5, No.1: 41.
Surest, Azhary H dan Satriawan, Dodi. (2010). Pembuatan Pulp dari Batang Rosella
dengan Proses Soda (Konsentrasi NaOH, Tempartur Pemasakan dan Lama Pemasakan).
Jurnal Teknik Kimia. Vol.17, No.3: 3.
G. Lampiran
Pra Lab
1. Tuliskan perhitungan konsentrasi larutan standar asam oksalat setelah menimbang!
2. Tuliskan reaksi yang terjadi pada tahap standarisasi larutan NaOH dan pada tahap
penetapan kadar cuka!
3. Berapakah kadar asam asetat pada cuka yang beredar di pasaran?
4. Mengapa indikator phenolphtalein cocok untuk titrasi asam-basa pada percobaan berikut
ini?
Jawaban
1. M H2C2O4 = m H2C2O4 x 1000_ =
Mr H2C2O4 100 ml
2. 2NaOH (aq) + H2C2O4 (aq)  Na2C2O4 (aq) + 2H2O (l)
tb tb merah muda seulas tb
CH2COOH (aq) + NaOH (aq)  CH3COONa (aq) + H2O (l)
tb tb merah muda seulas tb
3. Asam asetat pada cuka pasaran memiliki kadar sekitar 20% - 25%
4. Phenolphtalein memiliki rentang pH 8-10 dan akan berubah warna menjadi merah muda
pada rentang tersebut. CH3COOH merupakan asam lemah yang dititrasi oleh NaOH basa
kuat. Titik ekuivalen terjadi pada pH > 7 yang artinya intikator yang sesuai dan berubah
warna yaitu indikator phenolphtalein.
Dokumentasi

G1 dan G2. Penimbangan padatan asam oksalat

G3. Asam oksalat dalam botol timbang


G4. Asam oksalat dalam labu ukur

G5. Set alat titrasi G5. Hasil titrasi standarisasi NaOH


G6. Larutan CH3COOH G7. Hasil titrasi pertama

G8. Hasil titrasi kedua