Anda di halaman 1dari 34

FARMAKOLOGI I

JENJANG SARJANA (S1)

LABORATORIUM
FARMAKOLOGI DAN TOKSIKOLOGI FARMASI & MAKANAN
FAKULTAS FARMASI UNIVERSITAS MULAWARMAN
SAMARINDA
2019
DATA PRIBADI

NAMA : Eunike Filia Tandi Datu

NIM : 1813015219

PRODI : Farmasi S1

JURUSAN : Farmasi

SEMESTER :3

KELAS : D2 2018

KELOMPOK : 4
PERCOBAAN I A
(BLIND SCREENING)
OBAT-OBAT GOLONGAN SISTEM SYARAF OTONOM (SSO) I
(ADRENERGIK, ANTIADRENERGIK, KOLINERGIK, DAN ANTIKOLINERGIK)

1. TUJUAN PRAKTIKUM

a) Mahasiswa mengetahui perbedaan obat-obat adrenergik, antiadrenergik, kolinergik dan


antikolinergik
b) Mahasiswa mampu memahami cara kerja dan gejala yang ditimbulkan oleh obat-obat
golongan SSO (kolinergik dan antikolinergik)

2. DASAR TEORI

Tabel 1. Simpatomimetik (Obat Adrenergik)


Nama Generik Rute Dosis Rerata Dewasa
Albuterol PO, Inhalasi PO : 2.4 mg 3-4 waktu/hari; Inhalasi : 1-
2 q4-6h
Dobutamine IV 2.5-10 mcg/kg/menit
Epinephrine SC, Inhalasi SC : 0.1-0.5 mL of 1:1000 q10-15 min
prn; Inhalasi : 1 Inhalasi q4h prn
Isoproterenol IV, MDI IV: 0.01-0.02 mg prn; MDI: 1-2 inhalasi
hydrochloride 4-6 waktu/ahri
Metaproterenol sulfate PO, MDI, PO : 20 mg q6-8h; MDI: 2-3 inhalasi q3-
Nebulizer 4h; Nebulizer: 5-10
Inhalations methyldopa PO, IV PO/IV: 250-500 mg bid or tid
Norepinephrine bitartrate IV Dimulai dengan 8-12 mcg/menit; dosis
pemeliharaan 2-4 mcg/menit
Oxymetazoline Intranasal 2-3 drop atau 2-3 spray 0.05% solution
bid
Phenylephrine IM, IV, SC IM/SC : 1-10 mg q10-15 menit prn; IV :
hydrochloride 0.1-0.18 mg/menit
Pseudoephedrine PO 60 mg q4-6h
hydrochloride
Ritodrine PO, IV PO : 10 mg q2h; IV : 50-350 mcg/menit
Salmeterol xinafoate Inhalasi 2 aerosol inhalasi (42 mcg) bid
Terbutaline sulfate PO, Inhalasi, SC PO : 2.5-5 mg tid; Inhalasi : 2 inhalasi q4-
6h; SC: 0.25 mg q15-30 menit
ditingkatkan hingga 0.5 mg dalam 4h
Tabel 2. Simpatolitik (Penghambat Adrenergik)
Nama Generik Rute Dosis Rerata Dewasa
Acebutolol PO 400-800 mg/hari
Atenolol PO 25-50 mg/hari
Carteolol PO 2.5 mg sekali/hari
Carvedilol PO 3.125 mg b.i.d.
Doxazosin mesylate PO 1-16 mg h.s.
Esmolol hydrochloride IV 500 mcg/kg dosis diikuti 50
mcg/kg/menit
Metoprolol tartrate PO 50-100 mg/hari
Nadolol PO 40 mg sekali/hari
Phentolamine IM, IV IM/IV : 5 mg 1-2h sebelum operasi
Prazosin hydrochloride PO Dimulai dengan 1 mg h.s., kemudian 1
mg b.i.d. atau tid
Propranolol PO, IV PO : 10-40 mg b.i.d.; IV : 0.5-3 mg q4h
hydrochloride prn
Sotalol hydrochloride PO 40-160 mg b.i.d.
Tamsulosin PO 0.4 mg q.d. 30 menit. setelah makan
hydrochloride
Terazosin PO 1-5 mg/hari
Timolol maleate PO 10-60 mg b.i.d.
Tabel 3. Parasimpatomimetik (Obat Kolinergik)
Nama Generik Rute Dosis Rerata Dewasa
Bethanechol chloride PO 10-50 mg b.i.d. to q.i.d.
Cevimeline PO 30 mg t.i.d.
hydrochloride
Neostigmine PO, IM, IV PO : 15-375 mg/hari; IM : 0.022 mg/kg;
IV : 0.5-2.5 mg lambat
Physostigmine IM, IV IM/IV : 0.5-3 mg
salicylate
Pilocarpine PO, PO : 5-10 mg t.i.d.; Ophthalmic : 1 drop
hydrochloride Ophthalmic 1-2% larutan untuk mata q5-10 menit
untuk 3-6 dosis
Pyridostigmine PO 60 mg-1.5 g/hari
Rivastigmine tartrate PO 1.5-6 mg b.i.d.
Tacrine PO 10 mg q.i.d.
Tabel 4. Parasimpatolitik (Antikolinergik atau Pemblokiran Kolinergik)
Nama Generik Rute Dosis Rerata Dewasa
Atropine sulfate IV, IM, SC, IV/IM/SC : 0.4–0.6 mg 30-60 menit
Ophthalmic sebelum operasi; Ophthalmic : 1-2 drop
t.i.d.
Benztropine mesylate PO 0.5-6 mg/hari
Cyclopentolate Topikal 1 drop 1% larutan pada mata 40-50
menit sebelum prosedur, diikuti dengan
1 drop dalam 5 menit
Dicyclomine PO, IM PO : 20-40 mg q.i.d.; IM : 20 mg q.i.d.
hydrochloride
Glycopyrrolate PO, IM, IV PO : 1-2 mg t.i.d.; IM/ IV : 0.1-0.2 mg
dosisi tunggal t.i.d. atau q.i.d.
Ipratropium bromide Inhalasi 2 inhalasi MDI q.i.d. interval tidak
kurang dari 4h
Oxybutynin PO 5 mg b.i.d. atau t.i.d.
Propantheline PO 15 mg 30 menit. a.c. dan 30 mg h.s.
Scopolamine PO, IM, IV, SC PO : 0.5-1 mg; IM/IV/SC : 0.3-0.6 mg
Tiotropium bromide Inhalasi Menghirup isi satu kapsul setiap hari
menggunakan alat inhalasi tangan yang
disediakan

3. ALAT DAN BAHAN PRAKTIKUM

A. Alat (per kelompok kecil)

1. Spuit 1 ml 2 buah
2. Sonde oral mencit 1 buah
3. Papan datar bulat 1 buah
4. Beakerglass 50 ml 1 buah
5. Sudip 1 buah
6. Labu takar 10 ml 1 buah
7. Pipet volume 2 buah
8. Kawat traksi 1buah
9. Senter untuk pengamatan pupil 1 buah

B. Bahan :

1. Obat-obatan golongan kolinergik dan antikolinergik


2. Obat-obatan golongan adrenergik dan antiadrenergik
3. Pseudoefedrin HCl (adrenergik) tablet
4. Propanolol HCL (antiadrenergik) tablet
5. Pilocarpin HCl (kolinergik)
6. Atropin sulfat inj (antikolinergik) ampul
7. Air suling
8. Aquadest pro injeksi
9. Suspensi CMC Na 0,5%

Hewan : Mencit/Tikus putih 5 ekor per kelompok kecil


4.CARA KERJA
1. Hewan coba dikelompok menjadi beberapa kelompok sesuai jumlah obat yang digunakan.
2. Pengamatan dilakukan setelah mencit disuntik dengan obat-obatan tersebut, meliputi
pengamatan pupil mata, diare, tremor, grooming, vasokonstriksi, vasodilator, straub, salivasi,
midriasis, miosis, dll. (Lihat daftar lampiran)
3. Data dianalisis kesesuaian antara gejala yang teramati dengan efek masing-masing obat
secara teoritis.
Lampiran

TABEL PENGAMATAN RESPON TINGKAH LAKU


PADA PROSEDUR SKRINING

NO GEJALA TINJAUAN HEWAN UJI TAFSIRAN EFEK


1 Ataksia Gangguan Koordinasi gerakan Depresi SSP
2 Agresif Keingintahuan yg berlebihan, Stimulasi SSP
keadaan tidak tenang
3 Aktif Berjalan, berlari/meloncat Stimulasi SSP
4 Diare Defekasi yang kerap Kolinergik
5 Bulu berdiri Bulu badan berdiri Adrenergik
6 Daya mencengkram Kehilangan daya mencengkram Depresi SSP,
Relaksasi muscular
7 Ekor berdiri Ekor berdiri Stimulasi SSP
8 Gerakan ekor Ekor berputar dengan cepat Stimulasi SSP
9 Gosokan/belaian Gosokan/belaian kaki depan pada Stimulasi SSP
muka/ badan berlebihan
10 Gerakan melingkar Gerakan berjalan melingkar Stimulasi SSP
11 Warna kulit Peningkatan aliran darah pada Vasodilatasi
pembuluh darah perifer pada Kolinergik
telinga dan ekor
12 Kewspadaan Kewaspadaan meningkat Stimulasi SSP
13 Katalepsi Sikap tubuh tertentu yg dapat Depresi SSP
dipertahankan selamanya
14 Konvulsi Kejang Stimulasi SSP
15 Kerutan otot Kerutan otot setempat yang Stimulasi SSP
berulang dan cepat Kolinergik
16 Ketakutan Ketakutan Depresi SSP
Relaksasi muscular
17 Lakrimasi Pengeluaran air mata Kolinergik
18 Mata melotot Mata melotot Adrenergik
19 Miosis Pengecilan pupil mata Kolinergik
Antiadrenergik
20 Midriasis Pelebaran pupil mata Adrenergik
Antikolonergik
21 Menggeliat Menggeliat Relaksasi muscular
Kecepatan pernapasan menjadi
22 Napas cepat Stimulasi SSP
meningkat

Kecepatan pernapasan menjadi


23 Napas lambat Depresi SSP
lambat

24 Nistagmus Mata juling Stimulasi SSP

Pengatupan kelopak Depresi SSP,


25 Pengatupan kelopak mata
mata Kolinergik

Adrenergik
26 Pucat Pemucatan daerah perifer
Vasokonstriksi

Depresi SSP,
27 Pasif Tenang, diam, aktivasi berkurang
Relaksasi muscular

28 Tremor Gemetar St imulasi SSP

29 Paralisis Kelumpuhan kaki Depresi SSP,


depan/belakang/keduanya Relaksasi muscular

30 Reaksi jepit ekor Pengurangan reaksi atas jepitan Analgetik, Relaksasi


pada ekor muscular

31 Refleks berbalik Kehilangan refleks berbalik Depresi SSp

32 Refleks telinga Kehilangan refleks telinga Depresi SSP

33 Respon kaget Respon kaget meningkat Stimulasi SSP

34 Salivasi Pengeluaran air liur berlebihan Kolinergik

35 Urinasi Pengeluaran air seni berlebihan Kolinergik


PERHITUNGAN

a. PERHITUNGAN BAHAN
Pembuatan larutan NaCMC
NaCMC = 0,5% x 100 ml
0,5
= 100 x 100 ml

= 0,5 gram ~ 500 mg

b. PERHITUNGAN DOSIS

Konversi dosis dari manusia ke mencit 0.0026

1. Pseudoefedrin HCl (adrenergik)


Diketahui : Dosis pseudoefedrin HCl = 60 mg
Bobot pseudoefedrin HCl = 200 mg
Berat mencit uji = 32,2 g
Berat mencit kontrol = 52,3 g
Larutan stok = 10 ml
p.o = 0,5 ml
Ditanya : Konversi dosis = ?
Timbang setara = ?
Larutan stok =?
Berapa ml yang dioralkan pada mencit = ?
Jawab :
𝐵𝐵 𝐻𝑒𝑤𝑎𝑛
a. Konversi Dosis (KD) = dosis x faktor konversi x 𝐵𝐵 𝑈𝑛𝑖𝑣𝑒𝑟𝑠𝑎𝑙
32,2 𝑔
= 60 mg x 0,0026 x 20 𝑔

= 0,25 mg
𝑏𝑜𝑏𝑜𝑡 𝑜𝑏𝑎𝑡 𝑥
b. Timbang Setara (TS) = =
𝑑𝑜𝑠𝑖𝑠 𝑜𝑏𝑎𝑡 𝐾𝐷
200 𝑚𝑔 𝑥
= = 0,25 𝑚𝑔
60 𝑚𝑔

x = 0,83 mg
𝑇𝑆 𝑥
c. Larutan Stok = =
𝑉𝑜𝑙𝑢𝑚 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑎𝑘𝑎𝑛 𝑑𝑖𝑏𝑒𝑟𝑖𝑘𝑎𝑛 𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑙𝑎𝑟𝑢𝑡𝑎𝑛 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑑𝑖𝑏𝑢𝑎𝑡
0,83 𝑚𝑔 𝑥
= =
0,5 𝑚𝑙 10 𝑚𝑙

x = 16,6 mg
d. Volume yang dioralkan pada mencit dengan berat 32,2 g adalah 0,5 ml

2. Propanolol HCL (antiadrenergik)


Diketahui : Dosis propanolol = 40 mg
Bobot propanolol = 248 mg
Berat mencit uji = 33,8 g
Berat mencit kontrol = 52,3 g
Larutan stok = 5 ml
p.o = 0,5 ml
Ditanya : Konversi dosis = ?
Timbang setara = ?
Larutan stok =?
Berapa ml yang dioralkan pada mencit = ?
Jawab :
𝐵𝐵 𝐻𝑒𝑤𝑎𝑛
a. Konversi Dosis (KD) = dosis x faktor konversi x 𝐵𝐵 𝑈𝑛𝑖𝑣𝑒𝑟𝑠𝑎𝑙
33,8 𝑔
= 40 mg x 0,0026 x 20 𝑔

= 0,17 mg
𝑏𝑜𝑏𝑜𝑡 𝑜𝑏𝑎𝑡 𝑥
b. Timbang Setara (TS) = =
𝑑𝑜𝑠𝑖𝑠 𝑜𝑏𝑎𝑡 𝐾𝐷
248 𝑚𝑔 𝑥
= = 0,17 𝑚𝑔
40 𝑚𝑔

x = 1,054 mg
𝑇𝑆 𝑥
c. Larutan Stok = 𝑉𝑜𝑙𝑢𝑚 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑎𝑘𝑎𝑛 𝑑𝑖𝑏𝑒𝑟𝑖𝑘𝑎𝑛 = 𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑙𝑎𝑟𝑢𝑡𝑎𝑛 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑑𝑖𝑏𝑢𝑎𝑡
1,054 𝑚𝑔 𝑥
= =
0,5 𝑚𝑙 5 𝑚𝑙

x = 10,54 mg
d. Volume yang dioralkan pada mencit dengan berat 33,8 g adalah 0,5 ml

3. Pilocarpin (kolinergik)
Diketahui : Dosis pilokarpin = 10 mg
Bobot pilokarpin = 5 ml
Berat mencit uji = 17,5g
Berat mencit kontrol = 52,3 g
Larutan stok = 5 ml
Subcutan mencit
Ditanya : Konversi dosis = ?
Timbang setara = ?
Larutan stok =?
Berapa ml yang diinjeksikan pada mencit = ?
Jawab :
𝐵𝐵 𝐻𝑒𝑤𝑎𝑛
a. Konversi Dosis (KD) = dosis x faktor konversi x 𝐵𝐵 𝑈𝑛𝑖𝑣𝑒𝑟𝑠𝑎𝑙
17,5 𝑔
= 10 mg x 0,0026 x 20 𝑔

= 0,023 mg
𝑏𝑜𝑏𝑜𝑡 𝑜𝑏𝑎𝑡 𝑥
b. Timbang Setara (TS) = =
𝑑𝑜𝑠𝑖𝑠 𝑜𝑏𝑎𝑡 𝐾𝐷
5 𝑚𝑙 𝑥
= 10 𝑚𝑔 = 0,023 𝑚𝑔

x = 0,0115 ml
𝑇𝑆 𝑥
c. Larutan Stok = 𝑉𝑜𝑙𝑢𝑚 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑎𝑘𝑎𝑛 𝑑𝑖𝑏𝑒𝑟𝑖𝑘𝑎𝑛 = 𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑙𝑎𝑟𝑢𝑡𝑎𝑛 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑑𝑖𝑏𝑢𝑎𝑡
0,01 𝑚𝑙 𝑥
= =
0,5 𝑚𝑙 5 𝑚𝑙

x = 0,115 ml 1 tetes
d. Volume yang diinjeksika pada mencit dengan berat 17,5 g adalah 0,115 ml

4. Atropin sulfat inj (antikolinergik) ampul


Diketahui : Dosis atropin sulfat = 0,5 mg
Bobot atropin sulfat = 5 ml
Berat mencit uji = 36,9 g
Berat mencit kontrol = 52,3 g
Larutan stok = 5 ml
Subcutan mencit
Ditanya : Konversi dosis = ?
Timbang setara = ?
Larutan stok =?
Berapa ml yang diinjeksikan= ?
Jawab :
𝐵𝐵 𝐻𝑒𝑤𝑎𝑛
a. Konversi Dosis (KD) = dosis x faktor konversi x 𝐵𝐵 𝑈𝑛𝑖𝑣𝑒𝑟𝑠𝑎𝑙
36,9 𝑔
= 0,5 mg x 0,0026 x 20 𝑔

= 0,0023 mg
𝑏𝑜𝑏𝑜𝑡 𝑜𝑏𝑎𝑡 𝑥
b. Timbang Setara (TS) = =
𝑑𝑜𝑠𝑖𝑠 𝑜𝑏𝑎𝑡 𝐾𝐷
5 𝑚𝑙 𝑥
= 0,5 𝑚𝑔 = 0,0023 𝑚𝑔

x = 0,023 ml
𝑇𝑆 𝑥
c. Larutan Stok = 𝑉𝑜𝑙𝑢𝑚 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑎𝑘𝑎𝑛 𝑑𝑖𝑏𝑒𝑟𝑖𝑘𝑎𝑛 = 𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑙𝑎𝑟𝑢𝑡𝑎𝑛 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑑𝑖𝑏𝑢𝑎𝑡
0,023 𝑚𝑙 𝑥
= =
0,5 𝑚𝑙 5 𝑚𝑙

x = 0,23 ml 4 tetes
d. Volume yang diinjeksikan pada mencit dengan berat 36,9 g adalah 0,23 ml
LEMBAR KERJA PENGAMATAN

Tinjauan Hewan NaCMC Atropin Pilokarpin Pseudoefedrin Propanolol


No Gejala Tafsiran Efek
Uji (Kontrol) Sulfat HCl

Gangguan
1. Ataksia
koordinasi Depresi SSP x x x x √
gerakan
Keingintahuan
2. Agresif yang berlebihan, √
Stimulasi SSP √ x x √
keadaan tidak
tenang
3. Aktif Berjalan,
Stimulasi SSP √ x x √ √
berlari/meloncat

4. Diare Defekasi yang


Kolinergik x x x x x
kerap

5. Bulu berdiri Bulu badan


Adrenergik x x √ √
berdiri √

Depresi SSP,
6. Daya Kehilangan daya
Relaksasi x √ √ √ x
mencengkram mencengkram
muscular
7.
Ekor berdiri Ekor berdiri Stimulasi SSP √ x x x x

8. Ekor berputar
Gerakan ekor Stimulasi SSP x x x √ √
dengan cepat
Gosokan/belaian
9. Gosokan/ kaki depan pada √
Stimulasi SSP x √ √ √
belaian muka/badan
berlebihan
10. Gerakan Gerakan berjalan
Stimulasi SSP x x x x √
melingkar melingkar
Peningkatan aliran
darah pada
11. Warna kulit Vasodilatasi x
pembuluh darah x x x x
Kolinergik
perifer pada
telinga dan ekor
12. Kewaspadaan Kewaspadaan
Stimulasi SSP √ √ x √ x
meningkat
Sikap tubuh
tertentu yang
13. Katalepsi
dapat Depresi SSP x x x x x
dipertahankan
selamanya
14. Konvulsi
Kejang Stimulasi SSP x x x x x

Kerutan otot
15. Kerutan otot setempat yang Stimulasi SSP
x x √ x x
berulang dan Kolinergik
cepat
Depresi SSP,
16. Ketakutan
Ketakutan Relaksasi √ x √ √ √
muscular
17. Lakrimasi Pengeluaran air
Kolinergik x x √ √ √
mata

18. Mata melotot


Mata melotot Adrenergik x x x √ x

19. Miosis Pengecilan pupil Kolinergik


x x √ x x
mata Antiadrenergik

20. Midriasis Pelebaran pupil Adrenergik


x x x √ x
mata Antikolonergik

21. Menggeliat Relaksasi


Menggeliat √ x x x x
muscular
Kecepatan
22. Nafas cepat pernafasan
Stimulasi SSP x √ x √ √
menjadi
meningkat
Kecepatan
23. Nafas lambat
pernafasan Depresi SSP x x x x x
menjadi lambat
24. Nistagmus
Mata juling Stimulasi SSP x x x x x

25. Pengatupan Pengatupan Depresi SSP,


x x x x √
kelopak mata kelopak mata Kolinergik

26. Pucat Pemucatan daerah Adrenergik


x x x √ x
perifer Vasokonstriksi

Depresi SSP,
27. Pasif Tenang, diam,
Relaksasi x x √ x
aktivasi berkurang √
muscular

28. Tremor
Gemetar Stimulasi SSP x √ x √

Kelumpuhan kaki Depresi SSP, x


29. Paralisis
depan/belakang/k Relaksasi x x x x
eduanya muscular
Pengurangan Analgetik, x
30. Reaksi jepit
reaksiatas jepitan Relaksasi x x √ √
ekor
pada ekor muscular
31. Reflks Kehilangan reflex
Depresi SSP x x √ √ x
berbalik berbalik

32. Refleks Kehilangan reflex


Depresi SSP x x √ √ x
telinga telinga

33. Respon kaget Respon kaget


Stimulasi SSP x x x √ √
meningkat

34. Salivasi Pengeluaran air


Kolinergik x x √ x x
liur berlebihan

35 Urinasi Pengeluaran air


Kolinergik x x x x x
seni berlebihan
PEMBAHASAN

Judul percobaan pada praktikum kali ini adalah obat – obat golongan system syaraf
otonom (SSO) I ( adrenergic , antiadrenergic , kolinergik dan antiklonergik), dengan tujuan
yaitu dapat mengetahui perbedaan obat-obat adrenergik, antiadrenergik, kolinergik dan
antikolinergik dan mampu memahami cara kerja dan gejala yang ditimbulkan oleh obat-obat
golongan SSO (kolinergik dan antikolinergik). Hewan yang digunakan pada percobaan ini yaitu
Mencit karena struktur anatomi mencit mirip dengan struktur anatomi manusia.

System saraf adalah suatu sistem yang saling bekerja sama untuk mengelola suatu
informasi sehingga akan menghasilkan suatu reaksi. System saraf sama dengan sistem endokrin
yaitu keduanya mengurus sebagian besar pengaturan tubuh. Pada umumnya system saraf ini
mengatur aktifitas tubuh secara cepat (Setiadi, 2007).

Sistem saraf adalah serangkaian organ yang kompleks dan bersambungan serta terdiri
terutama dari jaringan saraf. Dalam mekanisme sistem saraf, lingkungan internal dan stimulus
eksternal dipantau dan diatur oleh kemampuan khusus seperti iritabilitas, atau sensitifitas
terhadap stimulus, dan konduktifitas atau kemampuan untuk mentransmisi suatu respon
terhadap stimulus, diatur oleh sistem saraf dalam tiga cara utama yaitu input sensorik, aktivitas
integrative dan output motorik (Sloane, 2004).

Sistem saraf manusia terdiri dari dua kelompok yakni Susunan Saraf Pusat (SSP) yang
meliputi otak dan sumsum tulang belakang, dan Sistem Saraf Perifer dengan saraf-saraf yang
secara langsung atau tak langsung ada hubungannya dengan SSP. Saraf perifer ini terbagi lagi
kedalam dua bagian, yaitu Susunan Saraf Motoris yang bekerja sekehendak kita, misalnya
otot-otot lurik (kaki, tangan, dan sebagainya) serta Susunan Saraf Otonom (SSO) yang bekerja
menurut aturannya sendiri (Tjay , 2007).

Sistem saraf otonom adalah system saraf yang tidak dapat dikendalikan oleh kemauan
kita melalui otak. System saraf otonom mengendalikan beberapa organ tubuh seperti jantung,
pembuluh darah, ginjal, pupil mata, lambung dan usus. System saraf ini dapat dipicu (induksi)
atau dihambat (Inhibisi) oleh senyawa obat (Sulistia, 2009).

Dalam sistem saraf otonom, diperlukan dua neuron untuk mencapai organ target, yaitu
neuron praganlionik dan neuron pascaganglionik. Semua neuron praganglionik melepaskan
asetilkolin sebagai transmiternya (Gilman, 2008).

Penggolongan obat sistem saraf otonom terbagi atas Simpatomimetik (agonis adrenergik)
yaitu obat yang efeknya menyerupai efek yang ditimbulkan oleh aktivitas susunan saraf
simpatis, Simpatolitik (antagonis adrenergik) yaitu obat yang menghambat timbulnya efek
akibat aktivitas saraf simpatis , Parasimpatomimetik (agonis kolinegik) yaitu obat yang efeknya
menyerupai efek yang ditimbulkan oleh aktivitas susunan saraf parasimpatis dan
Parasimpatolitik (antagonis kolinergik) yaitu obat yang menghambat timbulnya efek akibat
aktivitas saraf parasimpatis (Mardjono, 2007).

Neurotransmitter pada neuron kolinergik meliputi 6 tahapan yang berurut, empat tahapan
pertama-sintesis, penyimpanan, pelepasan dan pengikatan asetilkolin pada satu reseptor-diikuti
kemudian tahap kelima, penghancuran neurotransmitter pada celah sinaps (yaitu ruang antara
ujung akhir atau organ efektor), dan tahap keenam adalah daur ulang kolin(Harvey, 2009).

Obat-obat otonom adalah obat yang dapat memengaruhi penerusan impuls dalam SSO
dengan jalan mengganggu sintesa, penimbunan, pembebasan, atau penguraian neurotransmitter
atau memengaruhi kerjanya atas reseptor khusus. Akibatnya adalah dipengaruhinya fungsi otot
polos dan organ, jantung dan kelenjar (Tjay, 2007) .

Zat-zat yang bekerja terhadap SSO, yakni :Simpatomimetika (adrenergik), yang meniru
efek dan perangsangan SSO oleh misalnya noradrenalin, efedrin, isoprenalin dan amfetamin
dan Simpatikolitika (adrenolitika), yang justru menekan saraf simpatis atau melawan efek
adrenergic, umpamanya alkaloida sekale dan propranolol (Tjay, 2007).

Pemberian obat pada mencit dilakukan secara injeksi dan per oral , dimana pemberian
obat dilakukan dengan menggunakan NaCMC sebagai basis pelarutnya. Cara pembuatan
NaCMC adalah dengan menimbang 500 mg , kemudian dimasukkan aquades yang telah
dipanaskan ke dalam mortir, lalu ditaburkan NaCMC diatas permukaan aquades dan tunggu
hingga mengembang. Setelah mengembang digerus hingga terbentuk mucillago, dan
dimasukkan ke dalam labu ukur 100 ml, ditambahkan aquades hingga tanda batas. Lalu
dimasukkan obat-obat yang akan digunakan ke dalam larutan NaCMC sesuai dengan yang
diperlukan. Untuk cara kerja dari percobaan ini adalah hewan coba dikelompokkan menjadi
beberapa kelompok sesuai jumlah obat yang digunakan, hewan yang digunakan dalam
percobaan ini adalah mencit (Mus musculus) dan jumlah obat yang digunakan ada 4, yaitu
atropin sulfat, pilokarpin, pseudoefedrin HCl, dan Propanolol HCl. Lalu pengamatan dilakukan
setelah mencit diberi obat-obatan tersebut baik secara injeksi maupun per oral, meliputi
pengamatan pupil mata, diare, tremor, grooming, vasokontriksi, vasodilator, straub, salivasi,
midriasis, miosis, dan lain sebagainya (lihat daftar lampiran). Kemudian data dianalisis
kesesuaian antara gejala yang teramati dengan efek masing-masing obat secara teoritis.

Atropin sulfat adalah obat golongan antikolinergik. Mekanisme kerja atropin sulfat
adalah dengan memblok asetilkolin endogen maupun eksogen, tetapi hambatannya jauh lebih
kuat terhadap yang eksogen. Hambatan ini bersifat reversibel dan dapat
diatasi dengan pemberian asetilkolin dalam jumlah berlebih atau pemberian asetilkolinestrase.
Onset kerja atropin sulfat oral dalam waktu 1 jam, dan durasi kerja sekitar 4 jam, bioavaibilitas
obat 90%, konsetrasi puncak obat dalam plasma darah adalah 1 jam. Pada pemberian secara
injeksi intravena, atropin sulfat akan segera hilang dalam darah, dengan efek kerja selama 2-4
menit serta durasi sekitar 4 jam, dan untuk injeksi intramuscular memiliki onset kerja dalam 5-
40 menit, dengan durasi sekitar 4 jam (Zunilda, 2007). Indikasi dari atropin sulfat adalah
mengeringkan sekret, melawan bradikardi yang berlebihan, bersama dengan neostigmin untuk
mengembalikan penghambatan neuromuskuler kompetitif. Dosis atropin sulfat sebagai
premedikasi, injeksi intravena, 300-600 mcg 30 hingga 60 menit segera sebelum induksi
anetesik, dan dengan peningkatan dosis setiap kali 100 mcg untuk pengobatan bradikardia.
Melalui injeksi intramuskuler, 300-600 mcg 30 hingga 60 menit sebelum induksi; anak : 20
mcg/kg bb. Untuk mengendalikan efek muskarinik neostigmin dalam melawan blok
neuromuskuler kompetitif, dengan injkesi intravena, 0,6-1,2 mg (PIONAS, 2015).

Pilokarpin adalah senyawa kolinergik yang bekerja secara langsung dengan efek
parasimpatometik. Pilokarpin bekerja dengan menstimulasi reseptor muskarinik dan otot polos
pada iris dan kelenjar sekresi. Pilokarpin membuat otot silier berkontraksi dan mengakibatkan
peningkatan tekanan pada scleral spur dan membuka rongga trabekular meshwork sehingga
dapat meningkatkan aliran pembuangan Aqueus Humour (AH). Pembuangan AH dan
penurunan resistensi pada trabekuler meshwork membuat penurunan tekanan intraokuler.
Selain itu pilokarpine juga memiliki efek miosis melalui kontraksi otot iris sehingga membuat
sudut iris dengan kornea terbuka (PubChem, 2016). Pada obat tetes pilokarpin, onset miosis
akan terjadi pada 10-30 menit setelah tetes dan akan menurunkan tekanan intraokuler dalam
waktu 1 jam setelah pemberian. Durasi kerja miotikum pada obat tetes mata pilokarpin adalah
sekitar 4 hingga 8 jam setelah pemberian. Obat tetes mata pilokarpin memiliki durasi kerja
sebagai penurun tekanan intraokuler selama 4 hingga 12 jam (American Medical Association,
1977). Efek miotikum yang terdapat pada larutan ini dapat menurunkan tekanan intraokuler
pada pasien dengan glaukoma sudut terbuka dan tertutup. Namun, larutan pilokarpin tidak
cukup efektif pada pasien dengan tekanan intraokuler yang sangat tinggi (glaukoma sudut
tertutup akut), larutan pilokarpin harus dikombinasi degan acetazolamide dan mannitol
intravena. Dosis untuk menurunkan tekanan intraokuler pada dewasa adalah 1 hingga 2 tetes
mata pilokarpin 1-4%, 1-4 kali per hari. Atur dosis sesuai dengan respon terapi. Dosis untuk
anak-anak di atas 2 tahun sama dengan dosis dewasa. Pada anak-anak di bawah 2 tahun, Dosis
untuk anak-anak di bawah 2 tahun adalah 1 tetes pilokarpin 1%, 3 kali sehari (FDA, 2010).

Propanolol merupakan penghambat reseptor β1 dan β2. Propanolol menghambat


agonis β secara kompetitif dan berikatan dengan reseptor β1 dan β2, sehingga efek kronotropik,
inotropik, dan respon vasodilator dari stimulasi β-adrenergik menurun. Hal ini menyebabkan
penurunan denyut jantung, kontraktilitas miokardial, tekanan darah, dan kebutuhan oksigen
miokard. Propanolol hampir seluruhnya diserap setelah administrasi per oral. Namun setelah
melalui metabolisme oleh liver, hanya sekitar 25% yang mencapai sirkulasi sistemik.
Administrasi bersamaan dengan makanan tinggi protein meningkatkan bioavailabilitas
Propanolol hingga 50%. Propanolol membutuhkan waktu 1-4 jam setelah administrasi untuk
mencapai konsentrasi puncak. PuPropanolol hanya diindikasikan untuk hipertensi disertai gagal
jantung kongestif atau riwayat infark miokard akut dengan dosis inisial 40-80 mg, 2 kali sehari
per oral. Dosis rumatan 160-320 mg/hari, tidak melebihi 640 mg/hari. Dapat juga menggunakan
sediaan lepas lambat dengan dosis inisial 80 mg, sekali sehari. Dosis rumatan 120-160 mg, tidak
melebihi 640 mg/hari (FDA, 2010).

Pseudoefedrin HCl bekerja langsung pada reseptor alpha dan, pada tingkat lebih rendah,
reseptor beta-adrenergik. Melalui aksi langsung pada reseptor alfa-adrenergik pada mukosa
saluran pernapasan, pseudoefedrin menghasilkan vasokonstriksi. Pseudoephedrine melemaskan
otot polos bronkial dengan merangsang reseptor beta2-adrenergik. Seperti efedrin,
pseudoefedrin melepaskan norepinefrin dari tempat penyimpanan, efek tidak langsung. Ini
adalah mekanisme utama dan langsung. Onset kerja dari pseudoefedrin HCl adalah 15-30 menit,
konsentrasi puncak obat antara 30-60 menit, durasi kerja untuk tablet dan sirup sekitar 3-4 jam,
serta untuk tablet sekitar 8-12 jam (Drugs, 2019). Pseudoefedrin HCl diindikasikan pada pasien
dengan hidung dan sinus paranasal yang tersumbat, serta pilek Dosis untuk dewasa 60 mg 4
kali sehari; 10 ml 3 kali sehari; Anak 2-5 tahun: 2,5 mL; 6-12 tahun: 5 ml (PIONAS, 2015).

Berdasarkan percobaan yang dilakukan di dapatkan hasil mencit yang diberikan obat
atropin sulfat menunjukan gejala seperti, kehilangan daya mencengkram ,gosokan/belaian kaki
depan pada muka/badan berlebihan, kewaspadaan meningkat, kecepatan pernapasan menjadi
meningkat, dan gemetar. Dari gejela-gejala tersebut dapat dilihat aktivitas obat antikolinergik.
Untuk mencit yang diberikan obat pilokarpin menunjukan bulu badan berdiri, kehilangan daya
mencengkram, gosokan/ belaian kaki depan pada muka/badan berlebihan, kerutan otot setempat
yang berulang dan cepat, ketakutan, pengeluaran air mata, tenang, diam, aktivitas berkurang,
pengurangan reaksi atas jepitan pada ekor, keilangan refleks berbalik, kehilangan refleks
telinga, dan pengeluaran air liur berlebihan. Data yang dihasilkan telah sesuai karena pilokarpin
HCl dapat menimbulkan salivasi yang berlebihan dan juga dapat masuk ke SSP dan
menimbulkan gangguan SSP. Pada mencit yang diberikan obat pronolol menunjukan gejala
seperti gangguan koordinasi gerakan, keingintahuan yang berlebihan, berjalan, berlari/
meloncat, bulu badan berdiri, ekor berputar dengan cepat, gosokan/ belaian kaki depan pada
muka/badan berlebihan, gerakan berjalan melingkar, ketakutan, pengeluaran air mata,
kecepatan pernapasan meningkat, pengatupan kelopak mata, tenang, diam, aktivitas berkurang,
gemetar, dan respon kaget meningkat. Data yang dihasilkan sudah sesuai karena obat
Propanolol dapat menyebabkan detak jantung cepat, lambat atau tidak teratur, depresi,
kebingungan, halusinasi, dan merasa lelah sehingga menyebabkan kurangya beraktivitas. Dan
yang terakhir yaitu mencit yang telah diberikan pseudoefedrin HCl menunjukan gejala seperti
keingintahuan yang berlebih, berjalan, berlari/ meloncat, bulu badan berdiri, kehilangan daya
mencengkram, ekor berputar dengan cepat, gosokan/ belaian kaki depan pada muka/badan
berlebihan, kewaspadaan meningkat, ketakutan, pengeluaran air mata, mata melotot, pelebaran
pupil mata, kecepatan pernapasan yang meningkat, pemucatan pada daerah peifer, tremor,
reaksi jepit ekor, refleks berbalik, refleks telinga, dan respon kaget . Data yang dihasilkan sudah
sesuai karena obat pseudoefedrin HCl dapat menyebabkan detak jantung cepat, kegelisahan,
dan lemas.
KESIMPULAN HASIL PRAKTIKUM
Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan dapat dsimpulkan bahwa:
1. Obat Adrenergik adalah obat yang menghasilkan efek, Obat Antiadrenergik adalah obat yang
bekerja dengan menghambat perangsangan adrenergic, Obat Kolienergik adalah obat-obat yang
melepaskan asetilkolin dan menimbulkan efek yang sama dengan efek yang terjadi bila saraf
simpatik dirangsang, Obat Antikolienergik adalah obat yang bekerja dengan menghambat
perangsangan kolienergik. Yang termasuk obat kolinergik yaitu pilokarpin HCl dan atropine,
sedangkan obat yang termasuk obat adrenergik yaitu Propanolol HCl.
2. Cara kerja obat kolinergik yaitu bekerja agonis terhadap reseptor kolinergik dan tidak langsung
dimana menghambat kolinesterase sehingga meningkatkan konsentrasi asetilkolin endogen
disekitar kolinoseptor. Gejala yang ditimbulkan pada pada obat ini kontriksi pupil, dilatasi
bronkus, denyut jantung menurun, dilatasi pembuluh darah, meningkatnya kontraksi otot polos
saliran GI, relaksasi kandung kemih, meningkatkan saliva, meningkatkan motilitas usus. Pada
obat antikolinergik (parasimpatolitik) bekerja antagonis kompetitifasetilkolin di reseptor
muskarin yang akan menghambat aktivitas sistem saraf parasimpatik dan semua efek asetilkolin
diperlemah. Gejala yang ditimbulkan pada obat ini yaitu dilatasi pupil, dilatasi bronkus, denyut
jantung meningkat, kontriksi pembuluh darah, relaksasi otot polos saluran GI, relaksasi
kandung kemih dan relaksasi uterus.
EVALUASI
1. Apa saja perbedaan obat-obat adrenergik, antiadrenergik, kolinergik dan antikolinergik?
Jawab:
Simpatomimetik (agonis adrenergic) yaitu obat yang efeknya menyerupai efek yang ditimbulkan
oleh aktivitas susunan saraf simpatis, Simpatolitik (antagonis adrenergic) yaitu obat yang
menghambat timbulnya efek akibat aktivitas saraf simpatis, Parasimpatomimetik (agonis
kolinergik) yaitu obat yang efeknya menyerupai efek yang ditimbulkan oleh aktivitas susunan
saraf parasimpatis; dan Parasimpatolitik (antagonis kolinergik) yaitu obat yang menghambat
timbulnya efek akibat aktivitas saraf parasimpatis (Mardjono, 2009).

2. Gejala apa saja yang dihasilkan oleh obat adrenergik,antiadrenergik, kolinergik, dan
antikolinergik?
Jawab:

Gejala yang ditimbulkan dapat berupa sedasi, depresi mental, peningkatan berat badan,
kemerahan, dan kongesti nasal atau gangguan napas yang berat, depresi mental yang berat,
peningkatan tonus dan motilitas saluran cerna dapat berupa diare (Mutchler, 1991).
DAFTAR PUSTAKA

American Medical Association (AMA Department of Drugs). 1977. AMA Drug Evaluations 3rd
ed. Littleton, Massachusetts : PSG Publishing Co., Inc.
Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia.. 2015. Pusat Informasi Obat Nasional
(PIONAS). Jakarta: Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia.

FDA Drug Safety Communication. 2010. Diakses dari :


https://www.accessdata.fda.gov/drugsatfda_docs/label/2010/200890s001lbl.pdf
Goodman and Gilman.,2008. Dasar Farmakologi Terapi . EGC. Jakarta.
Harvey A, Richard. 2009. Dasar Farmakologi Terapi. EGC. Jakarta.
Mardjono, Mahar. 2007. Farmakologi dan Terapi. Jakarta: UI Press.
Mutchler, Ernst. 1991. Dinamika Obat Edisi Kelima. Bandung: ITB Press
PubChem. 2016. PubChem Compound [Internet]. National Center for Biotechnology Information.
U.S National Library. Diakses dari : https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pccompound
Setiadi. 2007. Anatomi dan Fisiologi Manusia. Graha Ilmu. Yogyakarta.
Sloane, Ethel. 2004. Anatomi dan Fisiologi Untuk Pemula. Penerbit Buku Kedokteran EGC :
Jakarta
Sulista, dkk. 2009. Farmakologi Dan Terapi. Depertemen Farmakologik dan Teraupetik. Jakarta
Tjay, Tan Hoan. 2007. Obat-Obat Penting. Penerbit PT Elex Media Komputindo Kelompok
Kompas-Gramedia : Jakarta
Zunilda, D.S. 2007. Farmakologi dan Terapi Edisi 5 : Agonis dan Antagonis Muskarinik.
Jakarta: Gaya Baru.
PERCOBAAN I B
OBAT ANTIDEPRESAN PADA MENCIT
(SSP)

1. TUJUAN
 Mengetahui gejala depresi alami pada hewan mencit
 Mengamati respon immobilitas atau aktivitas motorik mencit terhadap obat-obat
antidepresan pada berbagai metode
 Memahami tentang mekanisme kerja, efek farmakologik, kegunaan klinis dan efek
samping obat antidepresan
 Mampu memberikan kesimpulan dan menginterpretasikan data-data pengujian atas dasar
mekanisme kerja obat dalam tubuh

2. DASAR TEORI
Tabel 1. Lini Pertama Obat Kecemasan
Tipe Kecemasan Benzodiazepin SSRIs Lainnya
Alprazolam Escitalopram oxalate Buspirone
hydrochlorid
Chlordiazepoxide Paroxetine hydrochloride Venlafaxine
hydrochloride
Generalized Anxiety
Clorazepate Paroxetine mesylate
Disorder
dipotassium
Diazepam
Lorazepam
Oxazepam
Alprazolam Paroxetine
Panic Disorder Clonazepam Sertraline hydrochloride
Lorazepam
Citalopram hydrobromide
Escitalopram oxalate
Obsessive
Fluoxetine hydrochloride
Compulsive
Fluvoxamine maleate
Disorder
Paroxetine
Sertraline hydrochloride
Post-Traumatic Paroxetine
Stress Disorder Sertraline hydrochloride
Tabel 2. Obat Kecemasan dan Insomnia
Nama Generik Rute Dosis Rerata Dewasa
Barbiturat (Kerja Pendek)
Pentobarbital PO Penenang (sedative) : 20–30 mg b.i.d. -t.i.d.
Hypnotic : 120–200 mg/hari
Secobarbital PO Penenang : 100–300 mg/hari dalam 3 dosis
terbagi; Hipnotik : 100–200 mg/hari
Intermediate-acting
Amobarbital PO Penenang : 30–50 mg b.i.d. -t.i.d. Hipnotik :
65–200 mg (maks: 500 mg/hari)
Aprobarbital PO Penenang : 40 mg t.i.d. Hipnotik : 40–160
mg/hari
Butabarbital PO Penenang : 15–30 mg t.i.d.-q.i.d. Hipnotik:
50–100 mg h.s.
Kerja Panjang
Mephobarbital PO Penenang : 32–100 mg t.i.d.
Phenobarbital PO Penenang : 30–120 mg/hari
Benzodiazepine
Alprazolam PO 0.25–2 mg t.i.d.
Chlordiazepoxide PO 5–25 mg t.i.d.-q.i.d.
Clonazepam PO 1–2 mg/hari dalam dosis terbagi (maks : 4
mg/ hari)
Clorazepate PO 15 mg/hari h.s. (maks : 4 mg/hari)
dipotassium
Diazepam PO 2–10 mg b.i.d.-q.i.d.
Estazolam PO 1 mg h.s. (maks : 2 mg prn)
Flurazepam PO 15 – 30 mg h.s
Halazepam PO 20–40 mg t.i.d.-q.i.d.
Lorazepam PO 1–3 mg b.i.d.-t.i.d.
Oxazepam PO 1–3 mg b.i.d.-t.i.d.
Quazepam PO 7.5–15 mg h.s.
Temazepam PO 15 mg h.s.
Triazolam PO 0.125–0.25 mg h.s. (maks : 0.5 mg/hari)
Obat Mirip Benzodiazepin
Eszopiclone PO 2–3 mg h.s.
Ramelteon PO 8 mg sampai 30 menit h.s.
Zaleplon PO 5–10 mg h.s.
Zolpidem Tartrate PO 10 mg h.s.
Obat Lainnya : Antiseizure Medication
valproic acid, PO 250 mg t.i.d. (maks : 60 mg/kg/hari)
(divalproex sodium,
sodium valproate)
Special Anxiolytic
Buspirone PO 7.5–15 mg dalam dosis terbagi (maks : 60
hydrochloride mg/hari)
Beta Blockers (jarang diindikasikan untuk pengobatan kecemasan)
Atenolol PO 25–100 mg 1x/hari
Propranolol PO 40 mg b.i.d. (maks : 320 mg/hari)
hydrochloride
Tabel 3. Antipsikotik

Nama Generik Rute Dosis


Agen Konvensional
Chlorpromazine hydrochloride PO, IM, IV, PR 50–400 mg/day
(suppository)
Fluphenazine PO, IM 1–30 mg/day
Haloperidol PO, IM 1–50 mg/day
Loxapine succinate PO 10–160 mg/day
Molindone PO 15–225 mg/day
Perphenazine PO 12–24 mg/day
Pimozide PO 1–10 mg/day
Prochlorperazine PO, IM, PR 2.5–25 mg/day
Thioridazine hydrochloride PO 50–800 mg/day
Thiothixene hydrochloride PO 6–60 mg/day
Trifluoperazine PO, IM 4–60 mg/day
Agen Atipikal
Aripiprazole PO 10–15 mg/day
Clozapine PO 300–900 mg/day
Olanzapine PO, IM 5–20 mg/day
Quetiapine fumarate PO 50–400 mg/day
Risperidone PO, IM 2–6 mg/day
Ziprasidone hydrochloride PO, IM 40–120 mg/day

3. ALAT DAN BAHAN PRAKTIKUM


BAHAN
 Hewan coba : mencit 4-5 ekor per kelompok
 Bahan yang digunakan :
 Obat-obat antidepresan (fenobarbital tablet, diazepam 2 mg tablet, haloperidol tablet)
masing-masing 2 tablet untuk 1 kelas praktikum. Suspensi dibuat sehari sebelum
praktikum.
 Suspensi Na CMC 0,5%

ALAT (per kelompok kecil)


Platform (papan datar) 1
kawat traksi 1
hole board (papan berlubang) 1
spuit injeksi 1
Sonde oral mencit 1
Vial 10 ml atau beakerglass 50 ml untuk wadah sediaan 4
Kotak kaca 1

4. CARA KERJA
Mencit diinduksi depresi menggunakan suara bising
Mencit dibagi dua kelompok yaitu kelompok uji & kelompok kontrol.
1. Uji efek antidepresan metode hole board (papan berlubang)
 Mencit 1 (kontrol) diberi air suling atau larutan pensuspensi peroral. Mencit 2 (uji)
diberi suspensi yang mengandung bahan obat. Mula kerja diperkirakan 15 – 30 menit.
 Setelah itu, mencit diletakkan di tengah-tengah permukaan hole board. Selanjutnya
dihitung jumlah jengukan kepala mencit ke dalam lubang sampai batas ujung daun
telinga.
 Durasi pengamatan 15 menit sampai dengan 1 jam atau bergantung pada mula kerja
dan durasi aksi obat yang digunakan sebagai bahan uji.
 Untuk analisa interpretasi data hasil uji disini adalah hasil jengukan mencit pada jangka
waktu 15 – 60 menit pada mencit kontrol dan uji. Apabila jumlah jengukan pada
kelompok uji lebih besar secara bermakna dibandingkan dengan kelompok kontrol
maka bahan uji atau bahan obat memiliki efektivitas terhadap aktivitas motorik.

Cara perhitungan persen efektivitas bahan obat :


%E = U – K x 100
K
%E : persen efektivitas
K : jumlah jengukan kelompok control
U : Jumlah jengukan keompok uji
2. Uji efek antidepresan metode platform (papan datar)
 Prinsipnya sama dengan uji antidepresan dengan metode hole board (papan berlubang).
Mencit diletakkan ditengah-tengah permukaan platform. Rasa keingintahuan mencit
didefinisikan sebagai jengukan kepalanya ke tepi platform. Gerakan ini merupakan
masifestasi aktivitas motorik. Dengan demikian, jumlah jengukan dalam waktu tertentu
(15 – 60 menit) merupakan parameter uji pada eksperimen ini.
 Selanjutnya data yang diperoleh dianalisis (cara analisis sama dengan metode
holeboard)
3. Uji efek antidepresan metode traksi
 Traksi adalah suatu metode regangan atau tarikan otot. Pada eksperimen ini dilakukan
peregangan otot anggota gerak hewan (mencit). Kekuatan daya peregangan otot disini
merupakan manifestasi dari aktivitas motorik, sedangkan aktivitas motorik dijadikan
parameter pada eksperimen metode ini.
 Persiapan hewan uji, bahan uji, pengumpulan dan cara analisa data pada metode ini
menggunakan prinsip yang sama dengan 2 metode diatas. Perbedaan pada alat yang
digunakan yaitu alat traksi.
 Data yang dicatat adalah durasi saat mencit diletakkan pada kawat traksi hingga jatuh.
Hewan yang diberi antidepresan pada umumnya memiliki efek traksi yang lebih lama
secara signifikan, apabila dibandingkan dengan mencit normal tanpa obat.
PERHITUNGAN
a. PERHITUNGAN BAHAN

Pembuatan larutan NaCMC


NaCMC = 0,5% x 100 ml
0,5
= 100 x 100 ml

= 0,5 gram ~ 500 mg

b. PERHITUNGAN DOSIS
Dosis setiap obat disetarakan dengan dosis manusia. Konversi dosis dari manusia ke
mencit adalah 0.0026.

1. Dosis Haloperidol
Diketahui : Dosis haloperidol = 5 mg
Bobot haloperidol = 208 mg
Berat mencit uji = 18,5 g
Berat mencit kontrol = 23,5 g
Larutan stok = 10 ml
p.o = 0,5 ml
Ditanya : Konversi dosis = ?
Timbang setara = ?
Larutan stok =?
Berapa ml yang dioralkan pada mencit = ?
Jawab :
𝐵𝐵 𝐻𝑒𝑤𝑎𝑛
a. Konversi Dosis (KD) = dosis x faktor konversi x 𝐵𝐵 𝑈𝑛𝑖𝑣𝑒𝑟𝑠𝑎𝑙
18,5 𝑔
= 5 mg x 0,0026 x 20 𝑔

= 0,01 mg
𝑏𝑜𝑏𝑜𝑡 𝑜𝑏𝑎𝑡 𝑥
c. Timbang Setara (TS) = =
𝑑𝑜𝑠𝑖𝑠 𝑜𝑏𝑎𝑡 𝐾𝐷
208 𝑚𝑔 𝑥
= = 0,01 𝑚𝑔
5 𝑚𝑔
x = 0,41 mg
𝑇𝑆 𝑥
c. Larutan Stok = 𝑉𝑜𝑙𝑢𝑚 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑎𝑘𝑎𝑛 𝑑𝑖𝑏𝑒𝑟𝑖𝑘𝑎𝑛 = 𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑙𝑎𝑟𝑢𝑡𝑎𝑛 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑑𝑖𝑏𝑢𝑎𝑡
0,41 𝑚𝑔 𝑥
= =
0,5 𝑚𝑙 10 𝑚𝑙

x = 8,2 mg
d. Volume yang dioralkan pada mencit dengan berat 18,5 g adalah 0,5 ml

2. Dosis Diazepam
Diketahui : Dosis diazepam = 5 mg
Bobot diazepam = 224 mg
Berat mencit uji = 36,5 g
Berat mencit kontrol = 23,5 g
Larutan stok = 10 ml
p.o = 0,5 ml
Ditanya : Konversi dosis = ?
Timbang setara = ?
Larutan stok =?
Berapa ml yang dioralkan pada mencit = ?
Jawab :
𝐵𝐵 𝐻𝑒𝑤𝑎𝑛
a. Konversi Dosis (KD) = dosis x faktor konversi x 𝐵𝐵 𝑈𝑛𝑖𝑣𝑒𝑟𝑠𝑎𝑙
36,5 𝑔
= 5 mg x 0,0026 x 20 𝑔

= 0,024 mg
𝑏𝑜𝑏𝑜𝑡 𝑜𝑏𝑎𝑡 𝑥
d. Timbang Setara (TS) = =
𝑑𝑜𝑠𝑖𝑠 𝑜𝑏𝑎𝑡 𝐾𝐷
224 𝑚𝑔 𝑥
= = 0,024 𝑚𝑔
5 𝑚𝑔

x = 1,07 mg
𝑇𝑆 𝑥
c. Larutan Stok = =
𝑉𝑜𝑙𝑢𝑚 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑎𝑘𝑎𝑛 𝑑𝑖𝑏𝑒𝑟𝑖𝑘𝑎𝑛 𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑙𝑎𝑟𝑢𝑡𝑎𝑛 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑑𝑖𝑏𝑢𝑎𝑡
1,07 𝑚𝑔 𝑥
= =
0,5 𝑚𝑙 10 𝑚𝑙

x = 21,4 mg
d. Volume yang dioralkan pada mencit dengan berat 36,5 g adalah 0,5 ml
Pengamatan dilakukan minimal 15 menit setelah mencit dioral bahan uji.
HASIL PERCOBAAN
Tabel hasil percobaan Uji antidepresan metode hole board
Respon Jumlah jengukan (menit)
No.
BB Perlakuan awal
Hewan 5 10 15
(detik)
1 23,5 g NaCMC 1 47 52 57
2 36,5 g Diazepam 5 23 34 40
3 18,5 g Haloperidol 0 0 0 0

Tabel hasil percobaan Uji antidepresan metode traksi


No.
BB Perlakuan Durasi traksi (detik) Keterangan
Hewan
1 23,5 g NaCMC 26,64 detik -
2 36,5 g Diazepam 75 detik -
3 18,5 g Haloperidol 44,25 detik -
PEMBAHASAN

Judul percobaan pada praktikum kali ini adalah obat antidepresan pada mencit ( SSP ),
dengan tujuan yaitu. Hewan yang digunakan pada percobaan ini yaitu mengetahui gejala
depresi alami pada hewan mencit , mengamati respon immobilitas atau aktivitas motorik mencit
terhadap obat-obat antidepresan pada berbagai metode , memahami tentang mekanisme kerja,
efek farmakologik, kegunaan klinis dan efek samping obat antidepresan dan mampu
memberikan kesimpulan dan menginterpretasikan data-data pengujian atas dasar mekanisme
kerja obat dalam tubuh Mencit karena struktur anatomi mencit mirip dengan struktur anatomi
manusia.

System saraf adalah suatu sistem yang saling bekerja sama untuk mengelola suatu
informasi sehingga akan menghasilkan suatu reaksi. System saraf sama dengan sistem endokrin
yaitu keduanya mengurus sebagian besar pengaturan tubuh. Pada umumnya system saraf ini
mengatur aktifitas tubuh secara cepat (Setiadi, 2007).

Sistem saraf adalah serangkaian organ yang kompleks dan bersambungan serta terdiri
terutama dari jaringan saraf. Dalam mekanisme sistem saraf, lingkungan internal dan stimulus
eksternal dipantau dan diatur oleh kemampuan khusus seperti iritabilitas, atau sensitifitas
terhadap stimulus, dan konduktifitas atau kemampuan untuk mentransmisi suatu respon
terhadap stimulus, diatur oleh sistem saraf dalam tiga cara utama yaitu input sensorik, aktivitas
integrative dan output motorik (Sloane, 2004).

Sistem saraf manusia terdiri dari dua kelompok yakni Susunan Saraf Pusat (SSP) yang
meliputi otak dan sumsum tulang belakang, dan Sistem Saraf Perifer dengan saraf-saraf yang
secara langsung atau tak langsung ada hubungannya dengan SSP. Saraf perifer ini terbagi lagi
kedalam dua bagian, yaitu Susunan Saraf Motoris yang bekerja sekehendak kita, misalnya otot-
otot lurik (kaki, tangan, dan sebagainya) serta Susunan Saraf Otonom (SSO) yang bekerja
menurut aturannya sendiri (Tjay , 2002).

Cara kerja pada percobaan sistem saraf pusat atau obat antidepresan menggunakan 3
metode yaitu metode papan berlubang (hole board), metode papan datar (platform), dan metode
traksi. Metode papan berlubang dan metode papan datar memiliki cara kerja yang sama yaitu
mencit 1 (kontrol) diberi larutan suspensi NaCMC 0,5% dan mencit 2 (uji) diberi suspensi yang
mengandung bahan obat. Obat yang digunakan pada percobaan ini adalah haloperidol dan
diazepam. Kemudian didiamkan selama 15 menit dan dilihat reaksi awal pada mencit setelah
dioralkan suspensi yang mengandung bahan obat. Setelah itu, mencit diletakkan ditengah-
tengah permukaan papan berlubang dan papan datar untuk dilihat jengukan kepala mencit
kedalam sampai batas ujung daun telinga. Parameter uji pada percobaan ini adalah jumlah
jengukan dalam waktu tertentu. Sedangkan metode traksi adalah metode regangan atau tarikan
otot. Mencit 1 (kontrol) diberi air suling atau larutan pensuspensi oral, dan mencit 2 (uji) diberi
suspensi yang mengandung bahan obat. Mula kerja diperlukan 15-30 menit. Kemudian
diletakkan mencit ditengah-tengah kawat traksi dan dilakukan peregangan otot anggota gerak
hewan. Lalu diamati dan dicatat waktu saat mencit diletakkan pada kawat traksi hingga mencit
terjatuh.
Haloperidol merupakan obat antipsikotik generasi pertama yang bekerja dengan cara
memblokade reseptor dopamin pada resptor pasca sinaptik neuron di otak, khususnya di sistem
limbic dan sistem ekstrapiramidal (Dopamin D2 reseptor antagonists). Untuk haloperidol yang
dioralkan memiliki bioavaibilitas sebesar 60-70%, dengan tingkat konsentrasi tertinggi setelah
2-6 jam, dan waktu paruh sekitar 18 jam (FDA, 2010). Haloperidol diindikasin untuk
skizofrenia dan psikosis lain, mania, terapi tambahan jangka pendek untuk agitasi psikomotor,
eksitasi, perilaku kekerassan atau impulsif yang berbahaya . Dosis awal 1,5-3 mg, 2-3 kali sehari
atau 3-5 mg, 2-3 kali sehari pada kasus berat atau resisten. Pada skizofrenia resisten samai 100
mg (jarang sampai 120 mg per hari mungkin diperlukan. Sesuaikan dengan respons, dosis
pemeliharaan efektif serendah mungkin (sampai serendah 5-10 mg/hari). Lansia (atau debill)
dosis awal setengah dosis dewasa. Anak : dosis awal 25-50 mcg/kg bb/hari dalam 2 dosis
terbagi, maksimal 10 mg. Remaja sampai 30 mg/hari. Mual dan muntah : 0,5-2 mg (PIONAS,
2015).

Diazepam termasuk dalam golongan benzodiazepine dimana mekanisme kerjanya


yaitu meningkatkan ikatan antara γ- aminobutyric acid (GABA) dengan resptor GABAA serta
penguatan konduktansi ion klorida yang dipicu oleh interaksi dengan GABA dan reseptor
GABAA. Kanal klorida yang terbuka menyebabkan banyak ion klorida yang masuk dalam sel
dan mengakibatkan hiperpolarisasi sehingga mnegurangi kemampuan sel untuk dirangsang
(Yulianty, 2017). Diazepam memiliki onset kerja yang cepat karena bersifat sangat lipofil
sehingga secara cepat dapat berpenetrasi ke dalam sawar darah otak dan secara cepat pula bisa
didistribusikan ke jaringan lipofilik dalam tubuh (Eugen, 2009). Diazepam dapat digunakan
untuk gangguan kecemasan, anestesi ringan, alcohol withdrawal, neonatal opiate withdrawal,
seizure disorder, sedasi, infark miokard, dan epilepsi (McEvoy, 2011). Dosis diazepam yang
lazim digunakan untuk sedasi yaitu 5 mg dua kali sehari (Katzung, 2007).

Gejala depresi pada mencit adalah bulu badan berdiri(adrenergic), kehilangan daya
mencengkram (depresi SSP),ekor berputar dengan cepat , belaian kaki depan pada muka
berlebihan, gerakan berjalan melingkar(simulasi SSP), miosis(kolienergik) , kecepatan
pernapasan menjadi lambat(stimulasi SSP), pasif, tremor , reaksi jepit ekor dan kehilangan
reflex telinga, agresif berlebihan,kewaspadaan meningkat, kelarutan otot yang berulang dan
cepat, mata melotot, pelebaran pupil, kecepatan pernapasan yang meningkat,pemucatan daerah
perifer dan respon kaget yang meningkat, ekor berdiri,, pengecilan pupil mata, nafas cepat.

Hasil praktikum dari percobaan obat-obat golongan antidepresan adalah mencit yang
dioralkan dengan suspensi yang mengandung obat akan memiliki efek pertama setelah
dioralkan. Mencit pertama (kontrol) dengan berat 23,5 gram diberikan suspensi NaCMC yang
tidak mengandung bahan obat dan memberikan respon pada detik ke-1. Setelah itu mencit
diletakkan pada papan berlubang (hole board), pada menit ke-5 jengukan berjumlah 47, menit
ke-10 berjumlah 52, dan menit ke-15 berjumlah 57. Pada metode traksi, durasi saat mencit
diletakkan pada kawat fraksi hingga terjatuh sekitar 26,64 detik. Untuk mencit kedua dengan
berat 36,5 gram diberikan obat diazepam dan memberikan respon pada detik ke-5. Kemudian
mencit diletakkan pada papan berlubang (hole board), menit ke-5 jengukan berjumlah 23,
menit ke-10 berjumlah 34, dan menit ke-15 berjumlah 40. Adapun pada metode traksi, mencit
mapu bertahan selama 75 detik atau 1 menit 15 detik. Mencit ketiga dengan berat 18,5 gram
diboralkan dengan obat haloperidol dan memberikan respon pada detik ke-0. Lalu mencit
diletakkan pada papan berlubang (hole board), menit ke-5, 10, dan 15 jumlah jengukan mencit
adalah 0. Pada metode traksi, mencit mampu bertahan selama 44,25 detik.
KESIMPULAN
Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan dapat dsimpulkan bahwa:
1. Obat-obat yang bekerja mempengaruhi sistem saraf pusat dibagi dua yaitu depresansia SSP dan
stimulansia SSP. Depresansia SSP memiliki mekanisme kerja secara spesifik pada satu atau
lebih pusat otak. Jenis obat ini adalah golongan sedative-hipnotik dan golongan analgesik.
Stimulan SSP adalah obat yang meningkatkan aktivitas otak dan spinal cord yang digunakan
untuk menghambat efek golongan depresansia SSP.
2. Gejala depresi pada mencit adalah bulu badan berdiri(adrenergic), kehilangan daya
mencengkram (depresi SSP),ekor berputar dengan cepat , belaian kaki depan pada muka
berlebihan, gerakan berjalan melingkar(simulasi SSP), miosis(kolienergik) , kecepatan
pernapasan menjadi lambat(stimulasi SSP), pasif, tremor , reaksi jepit ekor dan kehilangan
reflex telinga, agresif berlebihan,kewaspadaan meningkat, kelarutan otot yang berulang dan
cepat, mata melotot, pelebaran pupil, kecepatan pernapasan yang meningkat,pemucatan daerah
perifer dan respon kaget yang meningkat, ekor berdiri,, pengecilan pupil mata, nafas cepat,
PERTANYAAN
1. Gejala klinis depresi apa yang ditunjukkan oleh mencit pada percobaan ini ?
Jawab:
Pada metode hole board (papan berlubang) dan platform (papan datar) dengan banyaknya
jengukan atau tengokan pada mencit gejala ini ditandai dengan mencit yang menghindar dari
tempat gelap yang merupakan gejala klinis depresi atau kecemasan pada hewan coba. Anhedonia
ditandai dengan perilaku mencit yang menunjukkan tingginya usaha dan motivasi pada uji traksi
(Mycek, 2001).

2. Jelaskan kegunaan klinis dan efek samping obat antidepresan pada percobaan ini ?
Jawab:
Untuk mengetahui perilaku dan gejala yang timbul pada hewan coba (mencit) seperti pelebaran
pupil,urinasi,salivasi,kecepatan pernapasan dan lainnya, sehingga dari gejala yang ditimbulkan itu
dapat diketahui bahwa obat antidepresan yang diberikan dapat mengatasi depresi dan juga
beberapa kondisi lainnya seperti mengatasi insomnia,migraine dan sebagai obat nyeri (Mutchler,
1991).
DAFTAR PUSTAKA

Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia.. 2015. Pusat Informasi Obat Nasional
(PIONAS). Jakarta: Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia.
Eugen, Trinka. 2009. Benzodiazepines used Primarily for Emergency Treatment (Diazepam,
Lorazepam, and Midazolam). Inssbruck : Wiley Blackwell.

Katzung, B.G., Masters, S.B., Trevor, A.J. 2007. Farmakologi Dasar dan Klinik Edisi 10.
Jakarta : EGC.
McEvoy, G.K. 2011. AHFS Drug Information Essentials. USA : American Society of Health-
System Pharmacists.
Mutchler, Ernst. 1991. Dinamika Obat Edisi Kelima. Bandung: ITB Press
Mycek, Mary. J, dkk. 2001. Farmakologi Ulasan Bergambar Edisi 2. Jakarta: Widya Medika.
Setiadi. 2007. Anatomi dan Fisiologi Manusia. Graha Ilmu. Yogyakarta.
Sloane, Ethel. 2004. Anatomi dan Fisiologi Untuk Pemula. Penerbit Buku Kedokteran EGC :
Jakarta
Tjay, Tan Hoan. 2007. Obat-Obat Penting. Penerbit PT Elex Media Komputindo Kelompok
Kompas-Gramedia : Jakarta
Yulianty, Mawar Dwi., Noor Cahaya., Valentina Meta Srikartika. 2017. Studi Penggunaan
Antipsikotik dan Efek Samping pada Pasien Skizofrenia di Rumah Sakit Jiwa Sambang
Lihum Kalimantan Selatan. Jurnal Sain Farmasi dan Klini 3 (2) : 153-164.