Anda di halaman 1dari 24

PRAKTIKUM

FARMAKOLOGI SAINS II
PRODI SARJANA FARMASI (S1)

PENYUSUN :

TIM DOSEN PRAKTIKUM FARMAKOLOGI SAINS II

KBI BIOMEDIK & FARMAKOLOGI


FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS MULAWARMAN
2020
DATA PRIBADI

NAMA : Eunike Filia Tandidatu

NIM : 1813015219

PRODI : S1 Farmasi

JURUSAN : Farmasi

SEMESTER : IV (Empat)

KELAS : D2 2018
BAB III
FARMAKOLOGI OBAT ANTHELMINTIK

I. TUJUAN
b. Mahasiswa mampu memeriksa adanya cacing parasit pada hewan uji dan
membandingkan dengan pengujian obat terhadap model mencit yang
terinfeksi cacing.
c. Mahasiswa mampu mengamati pengaruh beberapa golongan obat
anthelmintik terhadap perkembangan hidup cacing.
d. Mahasiswa mampu menjelaskan mekanisme kerja obat-obat anthelmintik.

II.DASAR TEORI
Parasitologi berasal dari kata parasitos yang berarti jasad yang
mengambil makanan dan logos yang berarti ilmu. Dengan demikian
parasitologi didefinisikan sebagai ilmu yang mempelajari jasad-jasad yang
hidup untuk sementara atau tetap di dalam atau pada permukaan jasad lain
dengan maksud untuk mengambil makanan sebagian atau seluruhnya dari jasad
itu. Parasit dibagi atas :
1. Zooparasit yaitu parasit yang berupa hewan dan dibagi menjadi :
a. Protozoa yaitu hewan bersel satu seperti amoeba
b. Metazoa yaitu hewan bersel banyak yang dibagi menjadi helminthes
(cacing) dan arthropoda (serangga).
2. Fitoparasit yaitu berupa tumbuh-tumbuhan yang terdiri dari :
a. Bakteri
b. Fungus
3. Sphirochaeta dan Virus

Pada umumnya parasit adalah jasad hidup yang lemah yang


membutuhkan jasad lain untuk kelangsungan hidupnya. Jasad tempat hidup
parasit disebut hospes (inang) yang kemungkinan dapat menderita berbagai
kelainan fungsi dan organ akibat parasit tersebut.
78
Cacing merupakan salah satu parasit yang menghinggapi manusia. Penyakit
infeksi yang disebabkan oleh cacing masih tetap ada dan masih tinggi
prevalensinya, terutama di daerah yang beriklim tropis seperti Indonesia. Hal ini
merupakan masalah kesehatan masyarakat yang masih perlu ditangani. Penyakit
infeksi yang disebabkan cacing itu dapat di karenakan di daerah tropis khususnya
Indonesia berada dalam posisi geografis dengan temperatur serta kelembaban yang
cocok untuk berkembangnya cacing dengan baik.
Definisi infeksi kecacingan menurut WHO (2011) adalah sebagai infestasi
satu atau lebih cacing parasit usus yang terdiri dari golongan nematoda usus.
Diantara nematoda usus ada sejumlah spesies yang penularannya melalui tanah
atau biasa disebut dengan cacing jenis STH yaitu Ascaris lumbricoides, Necator
americanus, Trichuris trichuira dan Ancylostoma duodenale
Dalam identifikasi infeksinya perlu adanya pemeriksaan, baik dalam
keadaan cacing yang masih hidup ataupun yang telah dipulas. Cacing yang
akan diperiksa tergantung dari jenis parasitnya. Untuk cacing atau protozoa
usus akan dilakukan pemeriksaan melalui feses atau tinja.
Pemeriksaan feses dimaksudkan untuk mengetahui ada tidaknya telur
cacing ataupun larva yang infektif. Pemeriksaan feses ini juga di maksudkan
untuk mendiagnosa tingkat infeksi cacing parasit usus pada orang yang di
periksa fesesnya. Prinsip dasar untuk diagnosis infeksi parasit adalah riwayat
yang cermat dari pasien. Teknik diagnostik merupakan salah satu aspek yang
penting untuk mengetahui adanya infeksi penyakit cacing, yang dapat
ditegakkan dengan cara melacak dan mengenal stadium parasit yang
ditemukan. Sebagian besar infeksi dengan parasit berlangsung tanpa gejala atau
menimbulkan gejala ringan. Oleh sebab itu pemeriksaan laboratorium sangat
dibutuhkan karena diagnosis yang hanya berdasarkan pada gejala klinik kurang
dapat dipastikan.
Pemeriksaan telur cacing dari tinja apat dilakukan untuk mendapatkan
hasil kualitatif dan kuantitatif (disebut sebagai cara kualitatif dan cara
kuantitatif). Kualitatif dapat dilakukan dengan beberapa cara tergantung pada
keperluannya, yaitu pemeriksaan secara natif (direct slide), pemeriksaan

79
dengan metode apung (flotation methode), modifikasi metode merthiolat
iodine formaldehyde (MIF), metode selotip (cellotape methode), metode
konsentrasi, teknik sediaan tebal (cellophane covered thick smear technic),
teknik kato, dan metode sedimentasi formol ether (Ritchie).
Kuantitatif dikenal 2 metode pemeriksaan, yaitu metode stoll dan metode
kato katz. Pemeriksaan larva dilakukan dengan dua cara yaitu metode
pembiakan larva menurut Baermann dan modifikasi Harada Mori. Preparat
permanen tergantung yang diperiksa apakah trematoda dan cestoidea,
nematoda atau telur, memiliki cara yang berbeda.
Anthelmintik adalah obat/zat kimia yang digunakan untuk mengobati dan
mengendalikan penyakit yang disebabkan oleh cacing. Pada umumnya obat ini
berbentuk cairan atau tablet atau kapsul. Golongan zat kimia yang digunakan
penting untuk diketahui jika kita ingin mengganti anthelmintik yang sudah resisten
terhadap parasit. Agar suatu anthelmintik berhasil, kita harus memilih obat yang
tepat dan dosis yang benar. Ada berbagai macam anthelmintik yang digunakan
untuk mengendalikan infeksi cacing: membunuh cacing, memusnahkan cacing
berikut telurnya, dan membunuh telur.
Anthelmintik diklasifikasikan berspektrum luas (broad spectrum) dan
berspektrum sempit (narrow spectrum). Adapun yang termasuk anthelmintik
berspektrum luas (Broad spectrum anthelmintic or mayor classes):
a. Benzimidazoles:Albendazole,Fenbendazole, Mebendazole, Oxfendazole
b. Levamizole / morantel: Levamizole hydrochloride, Levamizole phosphate,
Morantel
c. Macrolytic lactones (Mls) atau “mectins”: Abamectin, Ivennec tin,
Moxidectin

Yang termasuk anthelmintik berspektrum sempit (Narrow spectrum or


minor classes):
a. Organophosphare compounds: Naphalophos
b. (Sallcynillides) substitusi phenol: Closantel, Nitroxynil, Oxyclozanide
c. Triclabendazole

80
III. HEWAN UJI
Mencit (Mus musculus) galur Swiss webster usia 4-6 minggu sebanyak 1 ekor
untuk setiap kelompok.

IV. ALAT DAN BAHAN


a. Alat
1. Cover glass sebanyak 12 pcs
2. Object glass sebanyak 12 pcs
3. Mikroskop kamera sebanyak 1 pcs
4. Pipet sebanyak 6 pcs
5. Sonde sebanyak 6 pcs
6. Spoit 5 ml sebanyak 6 pcs
7. Timbangan sebanyak 1 pcs
8. Mortar sebanyak 6 pcs
9. Stamper sebanyak 6 pcs
10. Alat bedah
11. Klip binder
12. Gelas kimia
13. Gelas ukur

b. Bahan
1. Kertas saring sebanyak 6 pcs
2. Aquades sebanyak 1 liter
3. Kantung plastik es sebanyak 6 pcs
4. Suspensi Pirantel pamoat botol
5. Tablet mebendazol 2 tab
6. Ekstrak tumbuhan
7. Tinja ayam
8. Na CMC

81
V. CARA KERJA
1. Metode Haradda-Mori Dimodifikasi
a. Buat plastik es menjadi kerucut
b. Potong kertas saring seperti bentuk plastik es
c. 10 g tinja ayam dioleskan pada bagian tengah kertas saring.
d. Kertas saring dilipat kemudian dimasukan kedalam kantong plastik
dengan bagian yang runcing terlebih dahulu sampai menyentuh air.
e. Bagian atas kertas dilipat sehingga kertas menggantung didalam
kantong plastik
f. Kantung plastik tersebut dijepit menggunakan binder klip.
g. Feses tersebut didiamkan selama 7 hari pada suhu ruangan
h. Setelah 7 hari, ambil 1 ml air sisa rendaman letakkan pada objek glas
dan diamati pada mikroskop
i. Ambil 1 ml air rendaman menggunakan spoit dan oralkan ke mencit,
dan diamkan mencit selama 7 hari dan dilakukan penimbangan tiap hari
selama 7 hari untuk semua kelompok
j. Pada hari ke-8 khusus kelompok uji diberikan suspensi obat/ekstrak
dan dilanjutkan penimbangan hingga hari ke-14
k. Lakukan pembedahan mencit, ambil organ ususnya kemudian amati
keberadaan cacing secara makroskopik dan mikroskopik, hitung
jumlah cacing yang terdapat pada usus

VI. PERHITUNGAN

1. 10% NaCMC dalam 5 ml


10 g
NaCMC = 100 ml × 5 ml = 0,5 g

Jadi , NaCMC yang ditimbang sebanyak 0,5 g

2. Pirantel Pamoat 250 mg


Berat total tablet = 101 mg
Berat mencit = 34,5 gram
34,5 gram
Konversi Dosis = 250 mg × 0,0026 × = 1,12125 mg
20 gram
101mg x
Timbang Setara = =
250mg 1,12125mg
x = 0,453mg

0,453mg x
Larutan Stok = =
0,5ml 10ml

x = 9,06 mg

34,5 𝑔𝑟𝑎𝑚
Volume yang harus dioralkan = x 0,5 ml = 0,86 mL
20 gram

3. Volume ekstrak yang dioralkan


Syarat : ekstrak dengan dosis terbesar maksimal 0.5 mL
a. 20 mg
0.5 mL
= × 20 mg = 0,125 mL
80 mg

20 𝑔 26 𝑔
=
0,125 𝑚𝑙 𝑥

20x = 3,25ml

x = 0,1625 ml

Jadi, volume yang dioralkan sebanyak 0,1625 ml

b. 40 mg
0.5 mL
= × 40 mg = 0,25 mL
80 mg

20 𝑔 40,9 𝑔
=
0,25 𝑚𝑙 𝑥
20x = 10,2 ml

x= 0,51 ml

Jadi, volume yang dioralkan sebanyak 0, 51 ml


c. 60 mg
0.5 mL
= × 60 mg = 0,375 mL
80 mg

20 𝑔 30,4 𝑔
=
0,375 𝑚𝑙 𝑥

20x = 11,4 ml

x= 0,57 ml
Jadi, volume yang dioralkan sebanyak 0, 57 ml

d. 80 mg
0.5 mL
= × 80 mg = 0, 5 mL
80 mg

20 𝑔 38,3 𝑔
=
0,5 𝑚𝑙 𝑥

20x = 19,15 ml

x = 0,9 ml

Jadi, volume yang dioralkan sebanyak 0,9 ml

82
VII. HASIL PENGAMATAN

1. Tabel Pengamatan BB Mencit

BB Mencit
Kelompok Perlakuan
Hari Hari Hari Hari Hari Hari Hari Hari
ke-1 ke-2 ke-3 ke-4 ke-5 ke-6 ke-7 ke-8

Kel.1 34,5 g 31 g 28 g 27 g 27 g 26 g 27 g 27,5 g


( Kontrol Positif)

Kel.2 32, 82 32 g 29 g 33 g 33 g 32 g 32 g 32,20 g


( Kontrol Negatif) g

Kel.3 ( Eks. 40) 40,9 g 39 g 35 g 34 g 38 g 39 g 37 g 37,8 g

Kel.4 (Eks.20) 26 g 25 g 25 g 28 g 27 g 28 g 28 g 29,8 g

Kel.5 (Eks.60) 30,4 g 32 g 32 g 30 g 33 g 34 g 35 g 35,9 g

Kel.6 ( Eks.80) 38,3 g 37 g 37 g 37 g 38 g 39 g 39 g 40,22 g

2. Tabel Pengamatan Jumlah Cacing

Kelompok Perlakuan Jumlah Cacing

Kel.1 ( Kontrol Positif ) -

Kel.2 ( Kontrol Negatif ) 3

Kel.3 ( Eks.40 ) 1

Kel.4 ( Eks. 20 ) 3

Kel.5 ( Eks.60) 1

Kel.6 (Eks. 80) -


VIII. PEMBAHASAN

Pada praktikum kali ini telah dilakukan percobaan dengan judul


Farmakologi Obat Anthelmntik. Adapun tujuan dari dilakukannya percobaan ini
yaitu agar mampu memeriksa adanya cacing parasit pada hewan uji dan
membandingkan dengan pengujian obat terhadap model mencit yang terinfeksi
cacing, mampu mengamatu pengaruh beberapa golongan obat anthemintik terhadap
perkembangab hidup cacing, serata mampu menjelaskan mekanisme kerja obat-obat
anthelmintik.
Antelmintik merupakan obat untuk mengurangi atau membunuh cacing dalam
tubuh manusia dan hewan. Dalam istilah ini termasuk semua zat yang bekerja lokal
menghalau cacing dari saluran cerna maupun obat-obat sistemik yang membasmi
cacing dari larvanya yang menghinggapi organ dan jaringan tubuh (Tjay, 2007).
Antelmintika atau obat cacing (Yunani anti = lawan, helmintes = cacing) adalah obat
yang dapat memusnahkan cacing dalam tubuh manusia dan hewan. Dalam istilah ini
termasuk semua zat yang bekerja lokal menghalau cacing dari saluran cerna maupun
obat-obat sistemik yang membasmi cacing serta larvanya, yang menghinggapi organ
dan jaringan tubuh (Tjay, 2013). Anthelmintik adalah obat atau zat kimia yang
digunakan untuk mengobati dan mengendalikan penyakit yang disebabkan oleh cacing.
Pada umumnya obat ini berbentuk cairan atau tablet atau kapsul. Golongan zat kimia
yang digunakan penting untuk diketahui jika kita ingin mengganti anthekmintik yang
sudah resisten terhadap parasit. Agar suatu anthekmintik berhasil, kita harus memiih
obat dengan dosis yang benar. Ada berbagai macam anthelminti yang dapat digunakan
untuk mengendalikan infeksi cacing, memusnahkan cacing dan telurnya, dan
membunuh telur. Anthelmintik diklasifikasikan berspektrum luas (broad spectrum)dan
berspektrum sempit (narrow spectrum). Yang temasuk anthelminthik berspectrum luas
(broad spektrum) yaitu Denzamidazole (Albendazole, Fenbendazole, mebendazole,
Oxfendazole), Levamizole/morantel (Levamizole hydrochloride, Levamizole
phospate, Morantel), dan Macrolytic lctones (Mls) atau “mectins” (Abamectin,
Ivermectin, Moxidectin). Yang termasuk anthelmintik berspektrum sempit (narrow
spectrum) yaitu Organophosphate compounds (Naphalophos), Sallycynillides
substitusi phenol (Closantel, Nitroxynil, Oxyclozanide), dan Triclabendazole. Selain
itu anthelmintik dapat berupa gabungan atau kombinasi anthelmintik di atas, dan ada
jga yang menggunkan tanaman untuk menurunkan jumlah telur, misalnya Viscum
verrocosum ( Magdalena, 2005).
Jenis cacing yang dapat menginfeksi manusia yaitu Castoda, Nematoda dan
Trematoda. Cestoda (cacing pita) merupakan cacing yang bersifat parasit karena
menyerap sari makan dari usus halus inangnya. Sari makanan diserap langsung oleh
seluruh permukaan tubuhnya karena cacing ini tidak memiliki mulut dan pencernaan
(usus). Manusia dapat terinfeksi Cestoda saat memakan daging hewan yang dimasak
tidak sempurna. Inang perantara Cestoda adalah sapi pada Taenia saginata dan babi
pada taenia solium.Cacing pita tidak mempunyai saluran pencernaan dan sitem
peredaran darah. Makanan langsung melalui dinding tubuh. Sistem ekskresi yaitu
berupa sel api. Contoh cacing pita adalah Taenia solium dan Taenia saginata yang
parasit pada orang. Taenia terdiri dari sebuah kepala bulat yang disebut scolex,
sejumlah ruas, yang sama disebut disebut proglotid. Pada kepala terdapat alat hisap
dan jenis Taenia solium mempunyai kait (rostellum) yang sangat tajam yang mengunci
cacing itu ke lapisan intestinal inang (Ria, 2017).
Nematoda adalah cacing yang tidak bersegmen, bilateral simetris, mempunyai
saluran cerna yang berfungsi penuh, biasanya berbentuk silindris serta panjangnya
bervariasi dari beberapa milimeter hingga lebih dari satu meter, serta cacing ini
menyebabkan penyakit karena dapat menyebabkan kehilangan darah, iritasi dan
alergi. Soil Transmitted Helminths (STHs) adalah kelompok parasit golongan
nematoda usus yang dapat menyebabkan infeksi pada manusia melalui kontak dengan
telur cacing atau larva yang berkembang di dalam tanah dengan kondisi yang hangat
dan lembab dan umumnya terjadi pada negara-negara dengan iklim tropis dan
subtropis. Salah satu contoh cacing dari Nematoda yaitu Cacing gelang (Ascaris
lumbricoides) . Cacing gelang merupakan cacing terbesar di antara golongan
nematoda lainnya, berbentuk silindris dengan ujung anterior lancip dimana
anteriornya memiliki tiga bibir, badan cacing berwarna kuning kecoklatan yang
diselubungi lapisan kutikula bergaris halus . . Penyakit yang disebabkannya disebut
askariasis. Parasit ini ditemukan kosmopolit terutama di daerah tropis (Ria, 2017).
Trematoda (cacing hisap) merupakan cacing berbentuk silinder atau seperti
daun. Panjang berkisar 1 cm hingga 6 cm. Cacing ini memiliki penghisap untuk
menempelkan diri ke organ internal atau permukaan luar inangnya, dan semacam kulit
keras yang membantu melindungi parasit itu. Organ reproduksinya mengisi hampir
keseluruhan bagian interior cacing hisap. Trematoda dewasa pada umumnya hidup di
dalam hati, usus, paru-paru, ginjal, dan pembuluh darah vertebrata. Trematoda
berlindung di dalam tubuh inangnya dengan melapisi permukaan tubuhnya dengan
kutikula dan permukaan tubuhnya tidak memiliki silia. Contoh dari Trematoda yaitu
Clonorchis sp (cacing hati pada manusia) (Ria, 2017).
Cacing yang sering menginfeksi usus manusia adalah cacing golongan
nematoda. Yang termasuk cacing golongan nematoda antara lain cacing gelang
(Ascaris lumbricoides), cacing tambang (Ancylostoma Duodenale dan Necator
Americanus), dan cacing cambuk (Trichuris trichiura). Beberapa spesies cacing
tersebut merupakan parasit yang dalam menyelesaikan siklus hidupnya memerlukan
tanah untuk berkembang menjadi bentuk infekif. Bentuk infektif inilah yang
berperan dalam penularannya sehingga disebut Soil Transmitted Helminths (Ria,
2017).
Siklus hidup cacing dimulai saat larva cacing yang diselimuti oleh urat
dading dimakan oleh hewan atau manusia. Oleh enzim pencernaan, larva cacing
keluar dari krista yang menyeliputinya, kemudian berkembang menjadi dewasa di
dalam usus. Cacing jantan berukuran 1,4-1,6 mm, sedangkan yang betina 3-4 mm.
Kopulasi cacing terjadi di dalam usus sekitar dua hari setelah larva tertelan. Setelah
kopulasi, cacing jantan mati dan cacing betina menembus mukosa usus lewat
kelenjar Lieberkuhn. Telur berukuran 40 x 30 mikrometer dan sudah berisi embrio
cacing sewaktu masih di dalam uterus cacing betina. Larva cacing menuju urat
daging tertentu yakni, diafragma, lidah, mata, intercostae, dan otot pengunyah
(Soeharsono, 2005).
Metode yang dapat digunakan untuk mengidentifikasi infeksi cacing terbagi
menjadi dua yaitu kualitatif dan kuantitatif. Kualitatif dapat dilakukan dengan
berbagai cara seperti pemeriksaan secara natif (direct slide), pemeriksaan dengan
metode apung, modifikasi merthiolat iodine formaldehyde, metode selotip, metode
konsentrasi, teknik sediaan tebal dan metode sedimentasi formol ether (ritchie).
Pemeriksaan kuantitatif dikenal dengan dua metode yaitu metode stoll dan metode
katokatz (Rahmadhini,2015). Pada praktikum kali ini digunakan metode Haradda-
Mori Dimodifikasi. Metode ini memungkinkan telur cacing dapat berkembang
menjadi larva infektif pada kertas saring basah selama kurang lebih 7 hari, kemudian
larva ini akan ditemukan di dalam air yang terdapat pad ujung kantong plastik.
Kelebihan dari metode ini yaitu lebih mudah karena hanya mengidentifikasi larva
infektif mengingat bentuk larva jauh lebih besar dibandingkan dengan telur (Noble,
1961).
Adapun cara kerja pada praktikum kali ini yaitu pertama di buat plastik es
menjadi kerucut, lalu dipotong kertas saring seperti bentukplastik es. Timbang 10
gram tinja ayam dan dioleskan pada bagian tengah kertas saring. Kertas saring dilipat
lalu dimasukkan ke dalam kantong plastik dengan bagian yang runsing terlebih dahulu
sampai menyentuh air. Bagian atas kertas dilipat sehingga kertas menggantung
didalam kantong plastik dan dijepit menggunakan binder klip. Feses tersebut
didiamkan selama 7 hari pada suhu ruangan. Setelah 7 hari, ambil1 ml air sisa
rendaman dan letakkan pada objek glass untuk diamati pada mikroskop. Ambil 1 ml
air renndaman menggunakan spoit dan dioralkan ke mencit, didiamkan mencit selama
7 hari dan dilakukan penimbangan tiap hari selma 7 hari untuk semua kelompok. Pada
hari ke-8 khusus kelompok uji diberikan suspensi obat/ekstrak dandilanjutkan
penimbangan hingga hari ke-14. Kemudian dilakukan pembedahan mencit dengan
mengambil organ ususnya dan diamati keberadaan cacing secara makroskopik dan
mikroskopik, serta dihitung jumlah cacing yang terdapat pada usus.
Pirantel pamoat merupakan obat agen penghambat neuromuskular yang
sifatnya mendepolarisasi, sehingga menimbulkan pengeluaran asetilkolin dan
penghambatan kolinesterase, hal ini menyebabkan stimulasi reseptor-reseptor
ganglionik dan pelumpuhan cacing-cacing, yang diikuti dengan pembuangan dari
saluran intestinal manusia (Katzung, 2004).
Combantrin® (pirantel pamoat) merupakan turunan tetrahydropyrimidine
yang berkhasiat sebagai antelmintik dan sangat efektif untuk pengobatan infeksi yang
disebabkan oleh satu jenis cacing atau lebih di usus, beberapa diantaranya adalah
cacing tambang (Necator americanus dan Ancylostoma duodenale), cacing gelang
(Ascaris lumbricoides), cacing kremi (Enterobius vermicularis), serta cacing
Trichostrongylus colubriformis dan Trichostrongylus orientalis. Obat ini bekerja
dengan cara menimbulkan depolarisasi pada otot cacing sehingga terjadi pelepasan
asetilkolin dan penghambatan kolinestrese. Hal ini menyebabkan pelumpuhan cacing-
cacing, yang diikuti dengan pembuangan dari saluran intestinal manusia(Katzung,
2004).
Percobaan obat anthelmintik yang telah dilakukan menggunakan metode
Harada mori yang telah dimodifikasi, dengan menggunakan tinja ayam yang telah di
buat dalam suspensi selama 7 hari. Suspensi tinja ayam di oralkan ke 6 mencit dan
diamkan selama 1 jam setelah pengoralan, lalu di oralkan dengan obat anthelmintik.
Mencit kelompok 2 sebagai kontrol negatif yang hanya di oralkan larutan Na-CMC,
mencit kelompok 1 sebagai kontrol positif dengan pemberian pirantel pamoat, mencit
kel.3 (Ekstrak 40) , kel. 4 ( Ekstrak 20), kel. 5(Ekstrak 60) dan kel. 6(Ekstrak 80)
diberikan larutan ekstrak tahongai .
Pemeriksaan berat badan mencit pada hari kedua dilakukan, ditemukan adanya
penurunan berat pada mencit 1, 2, 3, 4 dan 6. Pada mencit 2 kontrol negatif mengalami
penurunan berat badan dari berat awal 32,8 g menjadi 32 g. Mencit 1 kontrol positif
dari berat awal 34,5 g menjadi 31,26 g, mencit 3 dari 40,9 g menjadi 39 g, mencit 4
mengalami penurun berat badan dari 26 g menjadi 25 g, mencit 6 mengalami penurun
berat badan dari 38,3 g menjadi 37 g, dan mencit 5 mengalami kenaikan berat badan
dari 30,4 g menjadi 32 g. Pada hari ketiga pun berat badan mencit 1 , 2 dan 3 juga
mengalami penurunan, sementara mencit 4, 5 dan 6 memiliki BB tetap. Pada hari
keempat mencit 1, 2, 3, 4 dan 5 mengalami penurunan berat badan , sedangkan mencit
6 masih dalam keadaan tetap. Pada hari kelima mencit 1 dan 2 memiliki BB tetap,
mencit mencit 3, 5 dan 6 mengalami kenaikan berat badan, sementara mencit 4
mengalami penurunan berat badan, lalu pada hari keenam mencit 1 dan 2 mengalami
penurunan berat badan , sedangan mencit 3, 4, 5 dan 6 mengalami kenaikan berat
badan. Pada hari ketujuh mencit 1 , 5 dan 6 megalami kenaikan berat badan. Pada
mencit 2 dan 4 dalam keadaan tetap sementara mencit 3 mengalami penurunan berat
badan.
Pemeriksaan cacing pada mencit di hari ke-8 dengan pengamatan secara
makroskopik dan juga mikroskopik. Mencit ditimbang terlebih dahulu . pada hari
keenam semua mencit mengalami kenaikan berat badan. Setelah ditimbang mencit
diskolisasi terlebih dahulu lalu di bedah untuk mengamati bagian usus besar pada
mencit. Usus besar di belah, di ambil bagian atas,tengah,dan bawah lalu di amati
secara makroskopik dan mikroskopik. Hasil yang didapatkan pada pengamatan secara
mikroskopik yaitu pada mencit 1 (kontrol positif) tidak terdapat cacing. Pada mencit
2 terdapat cacing dengan jumlah cacing sebanyak 3. Pada mencit 3 terdapat cacing
juga engan jumlah cacing 1. Pada mencit 4 terdapat pula cacing dengan jumlah cacing
sebanyak 3 . Pada mencit 5 terdapat juga cacing dengan jumlah 1 cacing dan mencit 6
tidak terdapat cacing.
Dari hasil pengamatan secara mikroskopik dan makroskopik dapat diketahui
bahwa ekstrak tahongai dengan dosis 80mg/KgBB di duga mempunyai efektifitas
sebagai obat anthelmintik karena ekstrak tahongai dan NaCMC dapat membunuh
cacing atau menghambat pertumbuhan cacing dan terbukti pada hari ke-7 terjadi
penambahan berat badan pada mencit. Untuk berat mencit 8 hari terjadi signifikan
penurunan berat badan pada mencit 1 (control positif) dan mencit 6 (ekstrak 80) . Pada
mencit 2 (control negative ) mengalami signifikan kenaikan berat badan mencit .
Manfaat yang dapat diambil dalam pengujian anticacing ini dalam bidang
farmasi adalah kita dapat mengetahui bahwa obat-obatan golongan antelmintika atau
antiparasit efektif dalam mengatasi cacing didalam tubuh manusia. Untuk mengatasi
terjadi cacingan atau terinfeksi cacing, perlu menjaga kebersihan, mencuci tangan
sebelum makan atau menggenggam makanan, mencuci atau membersihkan sayuran
sebelum dikonsumsi.
IX. KESIMPULAN

Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa :


1. Telah ditemukan cacing parasit pada mencit saat pemeriksaan makroskopik dan
mikroskopik, yaitu pada mencit 1 (control positif) tidak terdapat cacing, mencit
2(control negative) terdapat 3 cacing , mencit 3 (ekstrak 40) terdapat 1 cacing,
mencit 4 (ekstrak 20) terdapat 3 cacing , mencit 5 (ekstrak 60) terdapat 1 cacing
dan mencit 6 (ekstrak 80) tidak terdapat cacing.
2. Mencit kontrol positif (pirantel pamoat) pada percobaan ini sebagai pembanding
pengaruh obat anthelmintik karena tidak ditemukan adanya cacing parasit pada
mencit.
3. Dari hasil pengamatan secara mikroskopik dan makroskopik dapat diketahui
bahwa ekstrak tahongai dengan dosis 80mg/KgBB di duga mempunyai
efektifitas sebagai obat anthelmintik karena ekstrak tahongai dapat membunuh
cacing atau menghambat pertumbuhan cacing
4. Mekanisme obat anthelmintik khusunya pirantel pamoat adalah dengan
mendepolarisasi sistem neuronmaskular pada cacing sehingga cacing menjasi
paralis atau lumpuh.

73
X. DAFTAR PUSTAKA
Gandahusada, S. W. Pribadi dan D. I. Herry. 2000. Parasitologi Kedokteran.
Fakultas Kedokteran UI : Jakarta.

Hairani, Budi dan Annida. 2012. “Intestinal parasite incidence on elementary


school students in town and village at Tanahs Bumbu District”. Jurnal Buski
Jurnal Epidemiologi dan Penyakit Bersumber Binatang. Volume 4 (2) : 102-
108.

Handayani, Dwi, Muhaimin Ramdja dan Indah Fitri Nurdianthi. 2015. “The
Association of Nail and Vended Food Hygiene with Soil Transmitted
Helminths Infection in Students of SDN 169 Kelurahan Gandus
Kecamatan Gandus Palembang”. Bandung International Scientific
Meeting on Parasitology & Tropical Diseases. Volume 9 : 77-83

Kadarsan, S. 2005. Binatang Parasit. Bogor: Lembaga Biologi Nasional-LIPI.

Katzung, B. G., 2004. Farmakologi Dasar dan Klinik. Edisi XIII. Buku 3. Translation
of Basicand Clinical Pharmacology Eight Edition Alih bahasa oleh Bagian
Farmakologi Fakultas kedokteran Universitas Airlangga. Jakarta: Salemba
Medika.

Luis, Renjer, Josef Tuda, dan Angle Sorisi. 2016. Kecacingan Usus pada Anak
Sekolah Dasar di Tanawangko Kecamatan Tombariri Kabupaten
Minahasa. Jurnal e-Biomedik, Volume, 4 Nomor 2.

Magdalena, L.J. dan Pinardi Hadidjaja. 2005. Pengobatan Penyakit Parasitik.


Jakarta:Gramedia Pustaka Utama.

Margono S, Tatang, RS, Sansongko A, Irawan HSJY, Subahar R. 2006. Result of a


Control Program on Soil Transmitted Helminthiases in Primary Schools of East
Jakarta Indonesia. Kuala Lumpur :Second International Congress of
Parasitology and Tropical Medicine

Natadisastra, Djaenudin dan Ridad Agoes. 2009. Parasitologi Kedokteran Ditinjau


dari Organ Tubuh yang Diserang. Jakarta : EGC.

Noble, R.N. 1961. An Illustrated Laboratory Manual of parasitology. Burgess


Publishing, Minnesota.

Rahmadhini, Nurul Sahana dan Hanna Mutiara. 2015. Pemeriksaan Kuku sebagai
Pemeriksaan Alternatif dalam Mendiagnosis Kecacingan. Majority. 4(9). 113-
117.

Ria, Iis Pebriyanti, Fifi Nirmala, dan La ode Ahmad Saktiansyah. 2017.
Identifikasi Kepadatan Lalat dan Sanitasi Lingkungan Sebagai Vektor
Penyakit Kecacingan di Pemukiman Sekitar Rumah Pemotongan Hewan
(RPH). Jurnal Ilmiah Kesehatan Masyarakat.

Sehgal, Rakesh. 2003. Practicals and Viva in Medical Parasitology. New Delhi :
Elsevier

Soeharsono. 2005. Zoonosis Penyakit Menular dari Hewan ke Manusia. Yogyakarta :


Penerbit Kanisius.

Tjay, Tan Hoan dan Kirana Rahardja. 2013. Obat-Obat Penting. Jakarta: Gramedia

Tjay, Tan Hoan dan Kirana Rahardja. 2007. Obat-Obat Penting. PT Elex Media
Komputindo: Jakarta

74
XI. LAMPIRAN

1. Kelompok 1 (Kontrol Positif)

Perbesaran 10x

Perbesaran 40x

2. Kelompok 2 (Kontrol Negatif)

Perbesaran 4x

Perbesaran 10x

Perbesaran 40x
3. Kelompok 3 (Ekstrak 20mg)

Perbesaran 10x

Perbesaran 40x

4. Kelompok 4 (EKstrak 40mg)

Perbesaran 10x
5. Kelompok 5 (Ekstrak 60mg)

Perbesaran 10x

6. Kelompok 6 9ekstrak 80mg)

Perbesaran 40x

75
LEMBAR PENILAIAN

TANGGAL PRAKTIKUM : 03-03-20

TANGGAL PENYERAHAN LAPORAN : 05-03-20

TOTAL NILAI
NILAI RESPONSI

NILAI KEHADIRAN

NILAI AKTIVITAS

NILAI HJSP

CATATAN :

TANDA TANGAN

MAHASISWA ASISTEN DOSEN

Eunike Filia T. Mesy Savira


(1813015219) (1713015