Anda di halaman 1dari 91

TERAPI ZIKIR

SEBAGAI PROSES REHABILITASI PEMAKAI NARKOBA:


STUDI KASUS PONDOK PESANTREN SURYALAYA TASIKMALAYA
JAWA BARAT

Skripsi

Diajukan untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh

Gelar Sarjana Agama (S.Ag.)

Oleh:

Siti Nurliana Sari

1113033100017

PROGRAM STUDI AQIDAH DAN FILASAFAT ISLAM

FAKULTAS USHULUDDIN

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH

JAKARTA

1440H. / 2019M.
Abstrak

Siti Nurliana Sari: 1113033100017, skripsi dengan judul “Terapi Zikir


sebagai Proses Rehabilitasi Pemakai Narkoba: Studi Kasus Pondok
Pesantren Suryalaya Tasikmalaya Jawa Barat.” Program studi Aqidah dan
Falsafah Islam, Fakultas Ushuluddin, Universitas Islam Negeri Syarif
Hidayatullah Jakarta.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui lebih dalam metode pembinaan
dan penyadaran pengguna NAPZA (Narkotika, Psikotoprika dan Zat Adiktif
lainnya) di Pondok Pesantren Suryalaya Tasikmalaya Jawa Barat. Adapun metode
yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian kualitatif deskriptif.
Dengan penelitian ini peneliti diharapkan dapat mengungkap berbagai informasi
kualitatif dengan deskripsi-analisis yang teliti dan penuh makna. Pada tiap-tiap
objek akan dilihat dari pola pikir, ketidakteraturan, kecenderungan, serta tampilan
perilaku dan integrasinya sebagaimana dalam studi kasus genetik. Strategi yang
digunakan dalam penelitian kualitatif ini adalah studi kasus (case study). Hasil
penelitian ini menunjukkan bahwa penyadaran atau proses pembinaan korban
penyalahgunaan NAPZA ini melalui metode zikrullah. Zikrullah ini dimaksudkan
sebagai penenang hati, atau penyembuh segala penyakit hati manusia, pembersih
hati yang kotor, dan sebagai alat peningkatan iman atau beribadah kepada Allah.
Adapun materi rehabilitasi seperti mandi malam atau mandi taubat, shalat wajib,
shalat tahajud, shalat-shalat sunnat, zikir, membaca al-Quran, riyadlah,
manaqiban, khataman, pengajian rutin mingguan dan bulanan, doa-doa dan
pebelajaran tentang keilmuan Agama seperti fiqih, tauhid, akhlak dan tasawuf.

Kata kunci: PP Suryalaya, Inabah, Rehabilitasi, NAPZA

iv
Kata pengantar

Puji syukur Alhamdulillah penulis panjatkan kehadirat Allah SWT. Atas

segala karuniaNya sehingga skripsi ini dapat terselesaikan. Shalawat serta salam

semoga senantiasa tercurahkan kepada Baginda Nabi Muhammad Saw dan

umatnya. Sehubungan dengan terselesaikannya skripsi ini maka penulis

mengucapkan banyak terimakasih kepada:

1. Bapak Prof. Dr. Dede Rosyada, MA selaku Rektor Universitas Islam

Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta beserta para pembantu Rektor.

2. Bapak Prof. Dr. Masri Mansoer, MA selaku Dekan Fakultas Ushuluddin

dan Filsafat Islam.

3. Ibu Dra. Tien Rohmatin, MA selaku Ketua Jurusan Aqidah dan filsafat

Islam.

4. Bapak Abdul Hakim Wahid, SHI, MA selaku Skretaris Jurusan Aqidah

Filsafat Islam.

5. Ibu Dr. Wiwi Siti Sajaroh, M.Ag selaku dosen pembimbing skripsi yang

telah memberikan waktu dan pengarahannya untuk pengoreksian sehingga

skripsi ini dapat terselesaikan.

6. Segenap Bapak/Ibu Dosen UIN syarif Hidayatullah Jakarta khususnya

Fakultas Ushuluddin dan Filasafat Islam yang telah membimbing dan

memberikan wawasannya sehingga studi ini dapat terselesaikan.

7. Kepada kedua orang tua, penulis ucapkan banyak terimakasih yang telah

memberikan pengorbanan yang begitu besar dan dukungannya selama ini,

baik berupa moril, spiritual dan materil sehingga penulis dapat

menyelesaikan studi perguruan tinggi. Dan tidak lupa pula kepada adikku

v
dan keluarga besarku : Alm. kakek, nenek, bude, tante, om, mas, mba, dan

adik-adik semua.

8. Dan kepada seseorang yang telah membantu dan menyemangati penulis

dalam menyelesaikan skripsi ini Acep Sabiq abdul aziz dan keluarga,

penulis ucapkan terimakasih banyak telah bersedia membantu dalam

proses penulisan skripsi ini.

9. Kepada teman-teman seperjuangan Aqidah Filsafat Islam angkatan 2013,

Aulia Ning, Musyidah, Annita Ayu, Khairunnisa, Nana Mariyana, Husna,

Fajri Azizah, M. Mufid, H. Mufid, Fahrur Rozi, Muara Torang, Abdur

Rofiq, dan semuanya yang tidak bisa penulis sebutkan satu persatu.

10. Kepada sahabat-sahabat yang sudah sangat menyemangati dan mendoakan

terimakasih banyak.

11. Semua pihak yang telah membantu terselesaikannya penulisan skripsi ini,

Terimakasih.

Dengan penuh harap semoga jasa kebaikan mereka diterima oleh Allah

SWT. Dan tercatat sebagai amal shalih. Akhirnya karya ini penulis suguhkan

kepada segenap pembaca, dengan harapan adanya saran dan kritik yang bersifat

konstuktif demi perbaikan. Semoga karya ini bermanfaat dan mendapat ridha

Allah SWT.

Ciputat, 7 Desember 2018

Penulis

Siti Nurliana Sari


NIM 1113033100017

vi
a. Padanan Aksara

Huruf Arab Huruf Latin Keterangan

‫ا‬ Tidak dilambangkan


‫ب‬ B Be
‫ت‬ T Te
‫ث‬ Ts Te dan es
‫ج‬ J Je
‫ح‬ H h dengan garis bawah
‫خ‬ Kh ka dan ha
‫د‬ D De
‫ذ‬ Dz de dan zet
‫ر‬ R Er
‫ز‬ Z Zet
‫س‬ S Es
‫ش‬ Sy es dan ye
‫ص‬ S es dengan garis bawah
‫ض‬ D de dengan garis bawah
‫ط‬ T te dengan garis bawah
‫ظ‬ Z zet dengan garis bawah

‫ع‬ koma terbalik keatas,


‘ menghadap kekanan
‫غ‬ Gh ge dan ha
‫ف‬ F Ef
‫ق‬ Q Ki
‫ك‬ K Ka
‫ل‬ L El
‫م‬ M Em
‫ن‬ N En
‫و‬ W We
‫ه‬ H Ha

vii
‫ء‬ ‘ Apostrof
‫ي‬ Ye Ye

b. Vocal

Vocal dalam bahasa Arab, seperti vokal dalam bahasa Indonesia, terdiri

dari vokal tunggal atau monoftong dan vokal rangkap atau diftong. Untuk vokal

tunggal, ketentuan alih aksarannya adalah sebagai berikut:

Tanda Vokal
Tanda Voka Arab Keterangan
Latin

َ A Fathah

َ I Kasrah

َ U Dammah

Adapun untuk vokal rangkap, ketentuan alihaksaranya adalah sebagai

berikut :

Tanda Vokal
Tanda Vokal Arab Keterangan
Latin

‫َي‬ ai a dan i

‫ََو‬ au a dan u

Vokal Panjang

Ketentuan alihaksara vokal panjang (madd), yang dalam bahasa Arab dilambangkan dengan

harakat dan huruf, yaitu :

viii
Tanda Vokal
Tanda Voal Arab Keterangan
Latin
a dengan topi di
‫ىا‬ â
atas
i dengan topi di
‫ىي‬ î
atas
u dengan topi di
‫ىو‬ û
atas

Kata Sandang

Kata sandang, yang dalam system aksara Arab dilambangkan dengan huruf, yaitu ‫ ال‬,

dialihaksarakan menjadi huruf /I/, baik diikuti huruf syamsiyah maupun huruf Qamariyyah.

Contoh : al-rijal bukan ar-rijal, al-diwan bukan ad-diwan.

Syaddah (Tasydid)

Syaddah atau tasydid yang dalam system tuisan Arab dilambangkan dengan sebuah tanda (), dalam

alihaksara ini dilambangkan dengan huruf, yaitu dengan menggandakan huruf yang diberi tanda syaddah

itu. Akan tetapi, hal ini tidak berlaku jika huruf yang menerima tanda syaddah itu terletak setelah kata

sandang yang telah diikuti oleh huruf-huruf syamsiyyah. Misalnya, kata ‫ الضروور‬tidak ditulis aḏ-ḏarurah

melainkan al-darurah, demikian seterusnya.

Ta Marbutah

Berkaitan dengan alihaksra ini, jika huruf ta marbutah terdapat pada kata yang berdiri sendiri,

maka huruf tersebut di alihaksarakan menjadi huruf /h/ (lihat contoh 1 di bawah). Hal yang sama juga

berlaku jika ta marbutah tersebut di ikuti kata sifat (na’t) (lihat contoh 2). Namun jika huruf ta marbutah

tersebut diikuti kata benda (ism), maka huruf tersebut dialihaksarakan menjadi huruf /t/ (lihat contoh 3).

ix
No. Tanda Vokal Latin Keterangan

1. ‫طويقة‬ Tarîqah

2. ‫الجامعة األسالمية‬ al-Jâmi’ah al-Islâmiyyah

3. ‫وحد الوجود‬ Wahdat al-wujûd

x
DAFTAR ISI

LEMBAR PERNYATAAN ..........................................................................................................i


LEMBAR PERSETUJUAN ........................................................................................................ii
LEMBAR PENGESAHAN .........................................................................................................iii
ABSTRAK ………………………………………………………………………........................iv
KATA PENGANTAR …………………………………………………………….......................v
PEDOMAN TRANSLITERASI …………………………………………………....................vii
DAFTAR ISI ………………………………………………………………………....................xi

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah .................................................................................. 1

B. Batasan dan Rumusan Masalah ........................................................................6

C. Tujuan Penelitian ..............................................................................................6

D. Manfaat Penelitian ............................................................................................6

E. Metode Penelitian .............................................................................................7

F. Tinjauan Pustaka ...............................................................................................8

G. Sistematika Penulisan .....................................................................................12

BAB II HUBUNGAN ZIKIR DENGAN NARKOBA

1. Definisi Zikir ...................................................................................................14

2. Macam-Macam Zikir. .....................................................................................16

1. Zikir Jahr ............................................................................................16

2. Zikir bil Arkan .....................................................................................17

3. Zikir bil Qolbi, Zikir Sirr, Zikir Rasa, Zikir Jiwa ...............................17

xi
3. Definisi Narkoba .............................................................................................18

4. Macam-Macam Narkoba ................................................................................18

1. Narkoba ...............................................................................................18

2. Psikotropika ........................................................................................24

3. Alkohol dan Zat Adiktif Lain .............................................................27

BAB III SEJARAH DAN PERKEMBANGAN TERAPI ZIKIR BAGI

PEMAKAI NARKOBA DI PONDOK PESANTREN SURYALAYA

A. Sejarah Adanya Terapi Zikir di Pondok Pesantren Suryalaya.........................32

B. Amalan-Amalan Zikir di Pondok Pesantren Suryalaya ..................................34

C. Tarekat Qadariyyah Naqsabandiyyah di Pondok Pesantren Suryalaya ..........36

BAB IV TERAPI ZIKIR DI PONDOK PESANTREN SURYALAYA

A. Konsep Inabah ................................................................................................40

B. Kondisi Jiwa Pemakai Narkoba ......................................................................42

C. Proses Terapi Zikir untuk Kesehatan Jiwa Pemakai Narkoba ........................44

D. Pengaruh Terapi Zikir bagi Kesehatan Jiwa Pemakai Narkoba ......................53

BAB V PENUTUP

A. Kesimpulan .....................................................................................................60

B. Saran-saran.......................................................................................................61

DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN-LAMPIRAN

xii
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Zikir tidak hanya untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT, akan tetapi

juga bisa mengobati seseorang dari kecanduan narkoba. Karena zikir mampu

menyejukan jiwa yang tersesat untuk menuju jalan kebahagiaan. Zikir mampu

memberikan kehangatan rohani dan menyembuhkan jiwa. Zikir juga sebagai

penolong kelelahan dan keletihan jiwa karena kesibukan di dunia. Karena

terkadang manusia tersesat pada jalan yang salah ketika mereka lelah pada

pekerjaan atau keadaan, mereka lebih memilih mengkonsumsi obat-obatan

NAPZA (Narkotika, Psikotropika dan Bahan Zat Adiktif lainnya).

Penyalahgunaan NAPZA di luar tujuan pengobatan yang mengakibatkan

ketergantungan dan terganggunya kesehatan fisik, mental, dan kehidupan sosial

individu. Dan ini menjadi semakin memprihatinkan mengingat angka pengguna

meningkat dari tahun ke tahun.1 Para pemakai ini sudah sangat keras hatinya,

meskipun mereka pernah tertangkap atau direhabilitasi, pasti suatu saat akan

diulanginya lagi. Karena hati manusia ketika sudah dikuasai oleh setan akan susah

untuk kembali kejalan yang benar. Sebagaimana Allah SWT berfirman:

           

Artinya: “Kemudian setelah itu hatimu menjadi keras seperti batu, bahkan
lebih keras lagi” (Q.S Al-Baqarah : 74).

1
Asmoro, Dwi Oktavia Sri, dan Soenarnatalina Melaniani. "Pengaruh Lingkungan
Keluarga terhadap Penyalahgunaan NAPZA pada Remaja." Jurnal Biometrika dan
Kependudukan5.1 (2017), h. 80

1
2

”Oleh karena itu sebagai mana batu tidak dapat dipecahkan kecuali dengan

kekuatan luar biasa, maka demikian pula zikir tidak akan berbekas pada seluruh

kekusutan hati, kecuali dengan kekuatan yang luar biasa pula”.2 Maka dari itu

seseorang yang hatinya sudah keras harus dileburkan atau dilembutkan dengan

kelembutan dan kasih sayang salah satunya dengan berzikir kepada Allah SWT,

karena dengan berzikir hati akan menjadi tenang dan damai tetapi seperti yang

sudah dikatakan diatas harus dengan kekuatan yang luar biasa, karena hati yang

keras tidak dapat di sembuhkan oleh hukuman atau kekerasan. Tahap-tahap

tersebut saat ini menjadi inspirasi teknik, metode dan landasan teoritis terapi

dalam mengkonstruksi pondasi bangunan psikoterapi Islam.3

Dalam hal ini salah satu Pondok Pesantren yang ada di Jawa Barat

tepatnya di Tasikmalaya yaitu Pondok Pesantren Suryalaya, yang telah

menerapkan praktek zikir dalam penyembuhan ketergantungan pemakai narkoba.

Pesantren ini terkenal dengan "Inabah" sebuah program yang dikhususkan untuk

mengobati para pecandu narkoba dengan metode zikir. Pondok pesantren

Suryalaya begitu masyhur di Indonesia, bahkan ke mancanegara. Kemasyhuran

Suryalaya, bukan hanya menjadi pusat Tarekat Qadariyyah Naqsabandiyyah,4

tetapi juga karena pesantren ini telah melahirkan lembaga berupa Pondok Remaja

Inabah (putra dan putri), yang masing-masing berjarak belasan kilometer. Pondok

2
A. Shohibulwafa Tajul „Arifin, Miftahus Shudur :Kunci Pembuka Dada, ter. K.H. Aboe
bakar Atjeh, (Jakarta: Kutamas-Sukabumi,1969). h. 26
3
Psikoterapi artinya pengobatan menurut ilmu jiwa, yaitu cara pengobatan yang dipakai
adalah berdasarkan metode psikologis. (Mubarakh, 2006 : 11). Atau dapat disimpulkan psikoterapi
merupakan interaksi sistematis antara klien dan terapis yang menggunakan prinsip-psinsip
psikologis untuk membantu menghasilkan perubahan dalam tingkah laku, pikiran dan perasaan
klien supaya membantu klien mengatasi tingkah laku abnormal dan memecahkan masalah-masalah
dalam hidup atau berkembang sebagai seorang individu. Tujuan terapi menurut Ivey (1987) adalah
membuat sesuatu yang tidak sadar menjadi sesuatu yang disadari (Ardani, 2007: 142)
4
Ichwanie, 1990. Berbagai Pandangan Berita Tentang TQN. PPS, dalam Thariqat
Qodiriyyah Naqsabandiyyah, Sejarah Asal-usul dan Perkembangannya. Nasution, H. (Ed).
IAILM: Tasikmalaya.
3

Remaja Inabah merupakan tempat penyembuhan para remaja yang mentalnya

telah rusak, terutama akibat narkoba, dan kenakalan-kenakalan lainnya yang

umumnya dilakukan remaja.5

Pondok Pesantren Suryalaya dirintis oleh Syaikh Abdullah bin Nur

Muhammad atau yang dikenal dengan panggilan Abah Sepuh sejak awal tahun

1905. Pada masa perintisan, mengalami banyak hambatan dan rintangan.

Hambatan tersebut datang dari pemerintah kolonial Belanda, masyarakat sekitar

pesantren dan juga lingkungan alam (geografis) yang cukup menyulitkan. Hingga

akhirnya pada tanggal 7 Rajab 1323 H atau 5 September 1905, Abah Sepuh dapat

mendirikan sebuah Pesantren, berupa sebuah masjid yang terletak di kampung

Godebag, desa Tanjung Kerta Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat. Nama

"Suryalaya" sendiri diambil dari istilah Sunda yaitu "Surya (Matahari)" dan "Laya

(Tempat Terbit)". Jadi, Suryalaya secara harfiah mengandung arti "Tempat

Matahari Terbit”. Di Pondok Inabah inilah para mantan pecandu narkoba ini

berproses dalam penyembuhan kecanduan dengan terapi zikir.

Dalam dunia tasawuf, zikir mempunyai kedudukan signifikan. zikir

kepada Allah (dzikrullâh) menempati sentral amaliah hamba yang beriman,

karena dzikrullâh) adalaâh keseluran getaran hidup yang digerakan oleh kalbu

dalam totalitas ilâhiyah. Totalitas inilah yang memengaruhi aktifitas, gerak-gerik

hamba, kediaman, dan kontemplasi hamba. Karena itulah, zikir mempunyai

peranan penting dalam upaya mengobati penyakit-penyakit rohani.6 Maka dari itu

peneliti mencoba membahas terapi zikir kepada orang-orang yang memiliki

penyakit rohani, dan salah satunya yaitu para pemakai narkoba. Zikir itu sendiri
5
M. Solihin, Melacak Pemikiran Tasawuf di Nusantara, (Jakarta: PT Raja Grafindo
Persada, 2005), h. 228
6
M. Solihin, Melacak Pemikiran Tasawuf di Nusantara, h. 229
4

memiliki arti mengingat (recollection). Adapun yang dimaksud disini adalah

mengingat Allah, Allah pencipta alam. Biasanya zikir dihubungkan dengan

menyebut-nyebut nama Allah. Tetapi dalam arti yang lebih umum, tindakan atau

perbuatan apapun yang bisa mengingatkan kita kepada Sang Pencipta adalah zikir.

Oleh karena itu, dalam arti ini zikir bisa dengan menyebut nama-nama Allah.

Seperti melakukan tadabbur, dalam arti merenungkan segala ciptaan, kebaikan

dan keagungan Allah yang ditemukan di dalamnya, sejauh kegiatan-kegiatan

tersebut bisa mengingatkan pelakunya kepada Allah. Jadi, dalam arti yang umum

zikir adalah segala tindakan yang bisa mengingatkan kita kepada Allah.7

Karena di zaman yang sangat modern ini juga zikir sangatlah penting

untuk pengobatan salah satunya untuk para pecandu narkoba, agar jiwanya tenang

dan sehat, dan di Pondok Pesantren Suryalaya inilah zikir dimanfaatkan sebagai

pengobatan pecandu narkoba khususnya di Pondok Inabah. Dan narkoba itu

sendiri adalah merupakan bahan-bahan atau zat-zat kimia yang apabila digunakan

dapat merusak syaraf pusat. Zat kimia tersebut akan merubah atau mempengaruhi

pikiran, perasaan dan tingkah laku mereka yang menggunakannya. Zat-zat ini juga

mempunyai efek, terutama pada fungsi berpikir, perilaku, dan perasaan. Apabila

zat-zat ini disalahgunakan akan menimbulkan ketergantungan. Narkoba sangatlah

berbahaya, siapa pun yang mengkonsumsi obat-obatan ini akan membuka pintu-

pintu syahwat, dan menghilangkan sifat cemburu bahkan pembunuhan.8

Melihat fenomena yang terjadi di masyarakat saat ini, setidaknya penulis

menyimpulkan ada beberapa hal penting terkait penelitian ini, di antaranya:

7
Mulyadhi Kartanegara, Menyelami Lubuk Tasawuf, (Pondok Petir: PT Gelora Aksara
Pratama,2006), h. 252
8
M. Solihin, Melacak Pemikiran Tasawuf di Nusantara, (Jakarta: PT Raja Grafindo
Persada, 2005), h. 232
5

1. Dari segi pergaulan, kebayakan dari para remaja yang banyak

menggukan narkoba dikarenakan faktor rasa ingin tahu (penasaran)

ingin mencoba, untuk melupakan masalah yang sedang dihadapinya.

2. Faktor pendorong yang disebebkan karena kurangnya perhatian atau

pengawasan dari orang tua, atau disebebkan oleh media masa atau

lingkungan sekitar.9

3. Banyaknya tempat rehabilitasi yang tersebar baik rehabilitasi umum

maupun dengan menggunakan terapi yang bernuansa agamis. Dalam

kasus ini penulis lebih terfokus kepada Pondok Inabah Suryalaya.

4. Dari segi metode, rehabilitasi yang terdapat di Pondok Inabah

Suryalaya, menggunakan metode penyadaran dengan melakukan

kegiatan-kegiatan yang bersifat spiritual seperti: Mandi taubat, Sholat

wajib dan sunnat, zikir, dan lain-lain.

Dalam kasus ini peneliti dirasa sangat penting untuk meneliti lebih lanjut

tentang bagaimana proses terapi zikir untuk para pecandu narkoba dan menelusuri

aspek-aspek dalam zikir serta kekuatan positif dalam ketenangan hati para klien

pemakai narkoba setelah melakukan terapi zikir. Oleh sebab itu, penulis

mengangkat satu pembahasan yang berjudul “Terapi Zikir sebagai Proses

Rehabilitasi Pemakai Narkoba: Studi Kasus Pondok Pesantren Suryalaya

Tasikmalaya Jawa Barat” sebagai bagian dari penyelesain tugas akhir (skripsi)

pada program Aqidah Falsafah Islam fakultas Ushuluddin UIN Syarif

Hidayatullah Jakarta.

B. Batasan dan Rumusan Masalah

9
M. Solihin, Melacak Pemikiran Tasawuf di Nusantara, (Jakarta: PT Raja Grafindo
Persada, 2005), h. 233
6

Berdasarkan latar belakang di atas, penulis akan membatasi pembahasan

skripsi ini pada lingkup kegiatan terapi zikir untuk para pemakai narkoba di

Pondok Pesantren Suryalaya.

Dalam skripsi ini, penulis merumuskan beberapa masalah, yaitu:

1. Bagaimana konsep Inabah di Pondok Pesantren Suryalaya?

2. Bagaimana proses atau metode terapi zikir bagi para pemakai

narkoba?

3. Bagaimana pengaruh zikir bagi para mantan pemakai narkoba?

C. Tujuan Penelitian

1. Menjelaskan konsep Inabah di Pondok Pesantren Suryalaya

2. Menguraikan proses atau metode terapi zikir bagi para pemakai

narkoba

3. Menjelaskan pengaruh zikir bagi para mantan pemakai narkoba

D. Manfaat Penelitian

Manfaat dari penelitian ini adalah untuk memperoleh gambaran sebanyak

mungkin tentang latar belakang Pondok Inabah. Untuk memperoleh kegiatan para

narasumber dalam mengamalkan zikir untuk para mantan pemakai narkoba dalam

merehabilitasi para pemakai narkoba di Pondok Pesantren Suryalaya. Untuk

mengetahui pengaruh zikir terhadap mantan pemakai narkoba. Untuk memberikan

konstribusi bagi pengembangan penelitian ilmu agama, dan sebagai salah satu

syarat untuk mendapatkan gelar Strata Satu (S1).


7

E. Metode Penelitian

Skripsi ini menggunakan metode penelitian kualitatif agar memperoleh

gambaran yang objektif dan mendapatkan data dari sumbernya. Teknik

wawancara digunakan dalam penelitian ini agar dapat memeroleh informasi

tentang seseorang dan keadaan sekitarnya. Metode penelitian merupakan cara

ilmiah untuk mendapatkan data dalam tujuan dan kegiatan tertentu.10 Sebab jika

ditelusuri, penelitian kualitatif merupakan bentuk penelitian yang memerlukan

proses reduksi yang berasal dari hasil wawancara, observasi atau sejumlah

dokumen. Data-data tersebut nantinya akan dirangkum dan diseleksi agar bisa

dimasukkan dalam kategori yang sesuai. Pada akhirnya muara dari seluruh

kegiatan analisis data kualitatif terletak pada pelukisan atau penuturan berkaitan

dengan masalah yang diteliti. Peneliti memilih jenis pendekatan ini didasari atas

beberapa alasan. Pertama, pendekatan kualitatif ini digunakan karena data-data

yang dibutuhkan berupa informasi mengenai suatu gejala fenomena yang terjadi

di suatu daerah atau pada masyarakat dalam daerah tersebut, yang dalam

penelitian ini data-data diambil dari para nara sumber langsung.

Wawancara dilakukan langsung kepada narasumber; satu Pembina

Pondok Remaja Inabah putra yaitu bapak Riad Jamil, S.Pd.I., MM., dan mantan

pemakai narkoba yaitu Dean Nugraha dan Rendy, yang sudah mengikuti terapi

zikir di Pondok Inabah Pondok Pesantren Suryalaya. Hasil wawancara kemudian

dideskripsikan, dikelompokan, dan dianalisis.11 Selain wawancara sumber lainnya

adalah data-data dan dokumen-dokumen yang dijadikan sebagai data tambahan.

10
Sugiono, Metode Agama (Bandung: Alfabeta, 2002), h. 251.
11
Arif Furchan, Pengantar Metode Penelitian Kualitatif, (Surabaya: Usaha Nasional
1992), h. 21.
8

Dalam hal ini peneliti bisa mendapatkan data yang akurat dikarenakan

peneliti bertemu atau berhadapan langsung dengan informan. Kedua, peneliti

mendeskriptifkan tentang objek yang diteliti secara sistematis dengan mencatat

semua hal yang berkaitan dengan objek yang diteliti.

F. Tinjauan Pustaka

Adapun guna untuk meninjau penulisan skripsi ini, penulis mencoba

menelusuri adakah penulis atau peneliti lain yang telah membahas atau

menyinggung tentang topik kajian yang dibahas dalam skripsi ini. Namun di sini

penulis baru menemukan beberapa skripsi atau tesis yang membahas topik yang

berkaitan tentang zikir namun berbeda dalam fokus analisa. Penulis akan

menyebutkan beberapa karya yang dianggap penting yang menulis tentang zikir.

Pertama, Euis Naelah Fauziah. “Pengaruh Zikir dalam Penenangan Jiwa

Bagi Pengikut Tarekat Qādiriyya wa Naqsabandiyyah: studi Kasus Pesantren

Suryalaya”. Fakultas Ushuluddin dan Filsafat, Universitas Islam Negeri Syarif

Hidayatullah Jakarta, 2010. Skripsi ini menguraikan tentang pengaruh zikir

terhadap penenangan jiwa bagi para santri pengikut TQN di Pondok Pesantren

Suryalaya dan mengungkap pentingnya Zikir sebagai pengobat hati dan

ketenangan jiwa.12

Kedua, Dede Hafsah dengan judul ”Pengaruh Zikir Tarekat Qādariyyah

wa Naqsabandiyyah (TQN) Dalam Membentuk Mental santri: Studi Kasus

Pesantren al-Atiqiyyah Sukabumi”. Fakultas Ushuluddin dan Filsafat, Universitas

Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, 2015. Skripsi ini menguraikan tentang

12
Euis Naelah Fauziah, “Pengaruh Zikir Dalam penenangan Jiwa Bagi Pengikut Tarekat
Qādiriyyah wa Naqsabandiyyah: studi Kasus Pesantren Suryalaya”. (Skripsi Fakultas Ushuluddin
dan Filsafat, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, 2010).
9

pengaruh Zikir TQN dalam membentuk mental spiritual santri dalam kedisiplinan,

ketaatan dan akhlak.13

Ketiga, Arifin dengan judul skripsi “Pendidikan Berbasis Tarekat

Qadiriyyah Naqsyabandiyyah (TQN) Pondok Pesantren Suryalaya : Analisis

Peran Dan Aksi K.H.A.Shohibulwafa Tajul „Arifin” (Study Peran dan Aksi Abah

Anom Dalam Penerapan Pendidikan Berbasis TQN di Pondok Pesantren

Suryalaya Tasikmalaya)”. Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Syarif

Hidayatullah Jakarta, 2014. Skripsi ini berfokus pada bagaimana mengetahui

Peran K.H.A. Shohibulwafa Tajul „Arifin (Abah Anom). Dalam Penerapan

Pendidikan Berbasis Tarekat Qadiriyyah Wa Naqsabandiyyah (TQN) di Pondok

Pesantren Suryalaya. Untuk mengetahui Aksi K.H.A. Shohibulwafa Tajul „Arifin

(Abah Anom) Dalam Penerapan Pendidikan Berbasis Tarekat Qadiriyyah Wa

Naqsabandiyyah (TQN) di Pondok Pesantren Suryalaya.14

Keempat, Aisyah dengan judul “Pengaruh Amalan Tarekat Qadiriyyah Wa

Naqsabandiyyah Terhadap Akhlak Santri di Pondok Pesantren Suryalaya

Tasikmalaya”. Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Syarif Hidayatullah

Jakarta, 2010. Tulisan ini berfokus pada tarekat Qadiriyyah wa Naqsabandiyyah

13
Dede Hafsah, “Pengaruh Zikir Tarekat Qādariyyah wa Naqsabandiyyah (TQN) Dalam
Membentuk Mental santri: Studi Kasus Pesantren al-Atiqiyyah Sukabumi”. (Skripsi Fakultas
Ushuluddin dan Filsafat, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, 2015).
14
Arifin, “Pendidikan Berbasis Tarekat Qadiriyyah Naqsyabandiyyah (TQN) Pondok
Pesantren Suryalaya : Analisis Peran Dan Aksi K.H.A.Shohibulwafa Tajul ‘Arifin” (Study Peran
dan Aksi Abah Anom Dalam Penerapan Pendidikan Berbasis TQN di Pondok Pesantren
Suryalaya Tasikmalaya). (Skripsi Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Syarif Hidayatullah
Jakarta, 2014).
10

dan bagaimana pengaruh tarekat tersebut terhadap akhlak santri Pondok Pesantren

suryalaya.15

Kelima, Oleh Nurhasanah dengan judul “Pengaruh Psikologis Zikir

Terhadap Jamaah Tarekat Qadariyyah Naqsabandiyyah (TQN)”. Fakultas

Ushuluddin UIN syarif Hidayatullah Jakarta, 2012. Skripsi ini berfokus pada apa

saja pengaruh Psikologis zikir dalam tarekat qadariyyah naqsabandiyyah bagi

jamaah yang mengikuti tarekat qadariyaah naqsabandiyyah.16

Keenam, Oleh Muhammad Masrur Fuadi dengan judul “Konsep

Rehabilitasi Pengguna Narkotika Dalam Perspektif Hukum Positif dan Hukum

Islam”. Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, 2015.

Skripsi ini berfokus pada bagaimana pandangan hukum pidana positif terkait

konsep rehabilitasi bagi pengguna narkotika. Menjelaskan secara konprehensif

bagaimana pandangan hukum pidana positif tentang konsep rehabilitasi terhadap

pengguna narkotika, menjelaskan bagaimana pandangan hukum pidana Islam

tentang konsep rehabilitasi terhadap pengguna narkotika, dan menjelaskan apa

saja segi perbandingan pendapat antara hukum pidana positif dan hukum pidana

Islam tentang konsep rehabilitasi terhadap pengguna narkotika.17

Ketujuh, oleh Ina Noor Khiyar Nafisa dengan judul “Efektivitas Metode

Inabah Terhadap Self – Awareness Pada Pencandu Alkohol (Studi Eksperimen di

Pondok Inabah Pesantren Suryalaya)”. Fakultas Psikologi Universitas Islam

15
Aisyah, Pengaruh Amalan Tarekat Qadiriyyah Wa Naqsabandiyyah Terhadap Akhlak
Santri di Pondok Pesantren Suryalaya Tasikmalaya (Skripsi Fakultas Ilmu Tarbiyah dan
Keguruan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, 2010).
16
Nurhasanah, Pengaruh Psikologis Zikir Terhadap Jamaah Tarekat Qadariyyah
Naqsabandiyyah (TQN). (Skripsi Fakultas Ushuluddin UIN syarif Hidayatullah Jakarta, 2012).
17
Muhammad Masrur Fuadi, Konsep Rehabilitasi Pengguna Narkotika Dalam Perspektif
Hukum Positif dan Hukum Islam, (Skripsi Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah
Jakarta, 2015).
11

Negeri Sulthan Syarif Kasim Riau 2010. Penelitian skripsi ini bertujuan untuk

mengetahui perbedaan self awareness pecandu alkohol antara sebelum dan

sesudah diberikan terapi Metode Inabah. Sampel penelitian ini adalah Anak Bina

(pecandu alkohol) sebanyak 15 orang. Pengambilan sampel menggunakan teknik

sampel purposif. Rancangan penelitian ini menggunakan pre experimental design

: one group pre test – post test design. Analisa data yang digunakan adalah Uji t,

hasil penelitiannya menyatakan bahwa terdapat perbedaan antara sebelum (pre

test) dan sesudah (post tes) diberikan terapi dengan nilai t sebesar 5.981 yang

berarti bahwa perbedaan tersebut sangat signifikan. Kesimpulan dari penelitian ini

adalah terapi dengan Metode Inabah efektif untuk meningkatkan self awareness

pecandu alkohol ke arah yang lebih baik.18

Kedelapan, Oleh Lukman Hakim dengan judul “Pengaruh Terapi Religi

Shalat dan Zikir Terhadap Kontrol Diri Klien Penyalahgunaan Narkotika”.

Fakultas Psikologi UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, 2015. Tujuan penelitian

ini adalah untuk mengetahui pengaruh terapi religius shalat dan zikir terhadap

kontrol diri klien penyalahgunaan di rumah sakit HMC (Hayunanto Medical

Center) sebanyak tujuh orang, pengambilan sampel mengunggunakan teknik

nonrandomized Control group Pretest-posttest design, penelitian ini

menggunakan metode quasi eksperimen, pengambilan data menggunakan skala

kontrol diri, teknik analisis dan data statistik menggunakan analisis uji t. Dari

18
Ina Noor Khiyar Nafisa, Efektivitas Metode Inabah Terhadap Self – Awareness Pada
Pencandu Alkohol (Studi Eksperimen di Pondok Inabah Pesantren Suryalaya). Fakultas Psikologi
Universitas Islam Negeri Sulthan Syarif Kasim Riau 2010.
12

hasil analisis tersebut menunjukan adanya pengaruh terapi religi shalat dan zikir

terhadap kontrol diri klien penyalahgunaan narkotika.19

Dari beberapa yang sudah penulis temukan sangat banyak yang

membahas tentang zikir namun penulisan dalam bentuk skripsi atau tesis

mengenai “Terapi Zikir sebagai Proses Rehabilitasi Pemakai Narkoba” sejauh ini

belum ditemukan. Penelitian skripsi ini akan membahas bagaimana proses terapi

zikir di Pondok Inabah dan bagaimana pengaruh terapi zikir ini terhadap para

mantan pemakai narkoba setelah mengikuti terapi zikir di Inabah Pondok

Pesantren Suryalaya Tasikmlaya.

F. Sistematika Penulisan

Untuk lebih mempermudah pembahasan dan penulisan dalam skripsi ini,

maka penulis mengklasifikasikannya dalam beberapa bab yang sistematis.

Sehingga dapat ditemukan jawaban atas persoalan yang diajukan dalam skripsi

ini. Skripsi ini disusun dalam lima bab yang sistematis sebagai berikut:

Bab I Pendahuluan: Latar Belakang Masalah; yaitu gambaran besar yang

akan dibahas dalam skripsi ini. Batasan dan Rumusan Masalah; untuk membatasi

dan merumuskan masalah apa saja yang akan dibahas dalam skrispsi ini. Metode

Penelitian; menggunakan metode kualitatif. Tujuan dan Manfaat Penelitian;

penjelasan tentang apa saja tujuan dan manfaat dalam penelitian skripsi ini.

Tinjauan Kepustakaan; berupaya meninjau skripsi-skripsi yang sudah ada dengan

skripsi ini untuk perbandingan. Sistematika Penulisan; merupakan pembahasan

untuk mengklasifikasikan dalam beberapa bab agar lebih sistematis.

19
Lukman Hakim, Pengaruh Terapi Religi Sh.at dan Zikir Terhadap Kontrol Diri Klien
Penyalahgunaan Narkotika, (Skripsi Fakultas Psikologi UIN Maulana Malik Ibrahim Malang,
2015.
13

Bab II Hubungan Zikir dengan Narkoba : Definisi Zikir; yaitu

mendefinisikan tentang pengertianzZikir. Macam-macam Zikirr; menjelaskan

macam-macam zikir. Definisi Narkoba; mendefinisikan apa itu narkoba. Macam-

Macam Narkoba; menjelaskan tentang macam-macam jenis narkoba.

Bab III Sejarah Dan Perkembangan Terapi Zikir Bagi Pemakai Narkoba

Di Pondok Pesantren Suryalaya: Sejarah adanya terapi zikir di Pondok Pesantren

Suryalaya; menjelaskan bagaimana adanya terapi zikir di Pondok Pesantren

Suryalaya. Amalan-Amalan Zikir di Pondok Pesantren Suryalaya; menjelaskan

amalan-amalan apa saja yang ada di Pondok Pesantren Suryalaya seperti, (Zikir,

Khataman, Manaqib, tawasul). Tarekat Qadariyyah wa Naqsabandiyyah di

Pondok Pesantren Suryalaya; menjelaskan bahwa Pondok Pesantren Suryalaya

adalah salah satu pengikut Tarekat Qadariyyah wa Naqsabandiyyah.

Bab IV Terapi Zikir di Pondok Pesantren Suryalaya: konsep Inabah;

menjelaskan bagaimana konsep Inabah di Pondok Pesantren Suryalaya. Kondisi

jiwa pemakai narkoba: menjelaskan tentang bagaimana kondisi pemakai narkoba

sebelum dan sesudah memakai narkoba dan setelah melakukan terapi zikir di

Pondok Inabah Suryalaya. Proses terapi zikir untuk kesehatan jiwa pemakai

narkoba; menjelaskan bagaimana proses terapi zikir yang dilakukan di Pondok

Pesantren Suryalaya untuk para Pemakai narkoba. Pengaruh terapi zikir bagi

kesehatan jiwa pemakai narkoba; menjelaskan apa saja pengaruh terapi zikir yang

dilakukan di Pondok Pesantren Suryalaya bagi pemakai narkoba.

Bab V Penutup: Kesimpulan dan Saran.


BAB II

HUBUNGAN ZIKIR DENGAN NARKOBA

A. Definisi Zikir

Makna zikir sebenarnya sangatlah luas. Al-Qur‟an dan hadits

menyebutkan makna zikir yang berbeda-beda. Zikir adalah al-Qur‟an (al-Hijr: 9),

zikir adalah shalat jum‟at (al-Jumu‟ah: 9), zikir adalah ilmu (al-Anbiya‟:7), zikir

adalah kalimat-kalimat indah (pada sebagian besar ayat dan hadits). Dan masih

banyak lagi arti dari zikir. Al-Qur‟an dan hadits sangat banyak sekali

menyebutkannya.1 Inti amalan atau amaliah hampir semua tarekat (tasawuf)

adalah zikir. Dan masing-masing tarekat mempunyai amaliah zikir yang berbeda,

meskipun intinya sama. Zikir yang dimaksud adalah ingat hati kepada Allah SWT

(dzikrullâh). Secara lughâwi artinya ingat, mengingat atau eling dalam bahasa

sunda.2 Para sufi sepakat bahwa zikrullâh secara istiqomah adalah metode paling

efektif untuk membersihkan hati dan mencapai kehadiran Allah. Objek segenap

ibadah adalah dzikirullah (mengingat Allah). Dengan terus-terus mengingat Allah

akan melahirkan mahabbah (cinta kepada Allah) serta mengosongkan hati dari

kecintaan dan ketertarikan pada dunia yang fanâ ini.3

Zikir juga merupakan salah satu metode yang efektif yang dipergunakan

oleh para ulama sufi agar dapat menghidupkan hati dari kematiannya. Karena hati

yang tidak mengingat akan keangungan Allah SWT dianggap mati oleh para sufi.

Dengan berzikir dapat menyadarkan hati seseorang akan keberadaan Tuhannya

yang hakiki. Metode zikir ini tidak terbatas pada suatu batasan pada hal

1
Saifuddin Aman Tasawuf Mengolah Mental Dzikir Mengolah Jiwa Dan Raga, (Jakarta,
RUHAMA 2010) h. 141
2
Cecep Alba, Tasawuf dan Tarekat: Dimensi Esoteris Ajaran Islam, (Bandung, PT
Remaja Rosdakarya 2014), h. 98
3
Cecep Alba, Tasawuf dan Tarekat: Dimensi Esoteris Ajaran Islam, h. 99

14
15

kehidupan, melainkan boleh berzikir dalam berbagai aspek kehidupan sebab

hakekat dari zikir sendiri merupakan menyaksikan akan keberadaan Allah SWT.

Dengan begitu, seseorang boleh berzikir secara keras, nyaring, sunyi, diam,

menyendiri, ataupun secara berjamaah. Hal ini dikarenakan tidak ada dalil yang

kongkrit tentang larangan dalam berzikir dengan berbagai macam hal tersebut,

melainlakan dalil-dalil Nas menganjurkan seorang muslim untuk dapat berzikir

dalam berbagai aspek kehidupan.4

Dalam kitab Miftahus Shudur5 dijelaskan bagaimana cara berzikir yang

baik dan benar sebagai amalan dalam TQN, baik zikir jahr maupun zikir khafî.

Cara melakukan zikir jahr (zikir dengan suara yang keras) yaitu orang yang

berzikir memulai dengan ucapan LÂ dari bawah pusat dan diangkatnya sampai

keotak dalam kepala, lalu ucapkan ILLÂHA dari otak dengan menurunkannya

berlahan-lahan kebahu kanan. Lalu memulai lagi dengan mengucap ILLALLÂH

dari bahu kanan dengan menurunkan kepala pada pangkal dada di sebelah kiri dan

berhenti pada hati sanubari dibawah tulang rusuk lambung dengan

menghembuskan lafadz nama Allah sekuat-kuatnya sehingga terasa geraknya

pada seluruh badan seolah-olah diseluruh bagian badan amal yang telah rusak itu

terbakar dan memancarkan Nȗr di dalam badan dari seluruh badan yang baik

dengan Nȗr Tuhan. Getaran itu meliputi seluruh bidang latîfah sehingga dengan

demikian tercapai makna tahlîl yang artinya tidak ada yang dimaksud melainkan

Allah. Kalimat nafî melenyapkan seluruh wujud sesuatu yang baru daripada

pandangan dan ibarat, lalu berubah menjadi pandangan fanâ dari kalimat itsbat

4
Faisal Muhammad Nur, Perspektif Zikir di Kalangan Sufi, Jurnal, Subtantia Volume 19
No 2 Oktober 2017.
5
A. Shohibulwafa Tajul „Arifin, Miftahus Shudur :Kunci Pembuka Dada, ter. K.H. Aboe
bakar Atjeh, (Jakarta: Kutamas-Sukabumi,1969). h. 24
16

ditegakkanlah dengan tegak dalam hati dan kepada pandangan dzat yang maha

besar, lalu memandang wujud dzat Allah dengan pandangan yang Baqa.

Setelah zikir dengan bilangan ganjil, kemudian kita membaca:

SAYYIDUNÂ MUHAMMADUR RASULULLÂH SOLALLOHU ‘ALAIHI

WASSALAM.

Di antara syarat-syaratnya yaitu pertama hendaklah orang yang akan

berzikir mempunyai wudu secara sempurna. Kedua, hendaklah ia berzikir dengan

dengan suara yang keras sehingga hasil cahaya zikir terpancar didalam hati

seseorang tersebut. Maka akibat dari cahaya ini, hati menjadi hidup abadi hingga

ke kehidupan ukhrâwi. Ketiga, suara yang keras akan dapat menghasilakan nȗr

zikir dalam rongga batin mereka yang berzikir, sehingga hati mereka itu hidup

dengan abadi yang bersifat keakhiratan.

A. Macam-Macam Zikir

Dalam agama Islam dikenal ada tiga macam zikir yaitu;

1. Zikir dengan lisan (jahr), ada bilangan, ada macam, ada bentuk, ada suara,

ada waktu dan tempatnya. Misalnya mengucapkan tasbîh (subhallâh),

tahmîd (Alhamdulillâh), takbîr (Allahu Akbar), tahlîl (Lâ illâha illâllah),

dan yang lain.

2. Zikir berupa perbuatan atau tindakan (zikir bil arkân), misalnya shalat,

zakat, puasa, haji, infak, shadaqah, zikir itu sendiri, dan juga perbuatan-

perbuatan sehari-hari lainnya, misalnya belajar, mencangkul, berdagang,

mengasuh anak, mengajar dan sebagainya.

3. Zikir dengan hati (zikir bil qolbi, zikir sirr, zikir rasa, zikir jiwa). Adapun

yang paling esensi dari keempat zikir ini adalah zikir qolbi, artinya pada
17

saat lisan mengucap kata-kata, hatinya juga ikut ingat. Demikian juga saat

anggota badan melakukan sesuatu, hatinya juga tetap ingat kepada Allah.

Kalau tidak, maka ucapan lisan atau tindakan tersebut “tidak termasuk

kategori zikir”. Oleh karena menurut konsep Islam tidak semua shalat

termasuk zikir, tidak semua puasa termasuk zikir, tidak semua zakat atau

sodaqoh itu zikir, tidak semua haji itu zikir, dan juga ibadah-ibadah yang

lain. Jadi yang menentukan kualitas adalah “niat dan kehadiran hati” pada

saat akan, dan setelah melakukan aktivitas tersebut. 6

Sedangkan zikir yang diamalkan di Suryalaya di samping zikir yang

dengan suara keras (jahr) juga dengan zikir yang diingatkan di dalam hati (zikir

khofî), dan ada yang menyebut juga dengan zikir jiwa. Zikir inilah yang mirip

dengan meditasi atau kontemplasi. Berbagai macam penelitian telah dilakukan

mengenai pengaruh meditasi terhadap gelombang-gelombang otak, ternyata

setelah meditasi otak lebih tenang dan lebih nyaman, pengaruh zikir seperti ini

cukup penting bagi korban penyalahgunaan narkotika. Zikir di Inabah hampir

semuanya dilakukan secara bersama-sama (jamâ’ah) yaitu setelah shalat dan

dipimpin oleh pembina atau asisten pembina dan diawasi oleh pembina yang lain.

Karena zikir yang dilakukan secara berjamaah mempunyai efek terapi kelompok

(group therapy), sehingga perasaan cemas, terasing, takut menjadi nothing atau

nobody akan hilang. Dalam kelompok seseorang akan merasakan adanya

universitas, merasa adanya orang lain yang mempunyai permasalahan yang sama.

Hal ini sangat penting bagi korban penyalahgunaan yang tidak jarang mereka di

buang dari keluarga atau diasingkan, perasaan ini akan membantu proses terapi,

6
Sentot Haryanto, Terapi Religius Korban Penyalahgunaan Napsa Di Inabah PP.
Suryalaya, (Buletin Psikologi, 1999) h. 39
18

membantu meningkatkan pembukaan diri serta memberikan motivasi untuk

berubah.7

B. Definisi Narkoba

Pada umumnya zat-zat atau obat-obatan yang disalahgunakan ada yang

menggunakan istilah Narkoba (Narkotika dan Obat-obatan Berbahaya), sebagian

ada yang menyebutnya dengan istilah NAPZA (Narkotika, Psikotropika, dan Zat

Adiktif lain). adapula yang menyebut dengan istilah NAZA (Narkotika, Alkohol

dan Zat Adiktif), dan ada juga istilah MADAT (Narkotika, Psikotropika dan Zat

Adiktif lainnya).

Dalam hal ini penulis memilih untuk menggunakan istilah yang pertama

yaitu Narkoba, mengingat istilah ini sangat populer di tengah-tengah masyarakat

secara nasional, dan yang dimaksud adalah Narkotika, Psikotropika, Alkohol dan

Zat Adiktif lainnya. Berikut ini akan dijelaskan jenis-jenis Narkoba dan

efeknya masing-masing.

a. Narkoba

Istilah Narkoba yang dikenal di Indonesia berasal dari bahasa Inggris

“Narcotics” yaitu obat bius, yang sama artinya dengan “Narcosis” dalam bahasa

Yunani yang artinya menidurkan atau membiuskan Narkotika adalah salah satu

zat obat yang dapat menyebabkan penurunan atau perubahan kesadaran seseorang,

atau hilangnya kesadaran dan untuk mengurangi sampai menghilangkan rasa nyeri

serta dapat menimbulkan ketergantungan yang luar biasa. Dalam Kamus Besar

Bahasa Indonesia disebutkan bahwa Narkotika diartikan sebagai obat untuk

7
Sentot Haryanto, Terapi Religius Korban Penyalahgunaan Napsa Di Inabah PP.
Suryalaya, (Buletin Psikologi, 1999) h. 47
19

menenangkan saraf, atau penghilang rasa sakit, yang menimbulkan rasa kantuk

atau merangsang.8

Sedangkan pengertian Narkotika menurut UU RI No. 22 Tahun 1997 Pasal

1 ayat 1, adalah zat atau obat yang berasal dari tanaman atau bukan tanaman baik

sintetis maupun semi sintetis yang dapat menyebabkan penurunan atau perubahan

kesadaran, hilangnya rasa, mengurangi sampai menghilangkan rasa nyeri dan

dapat menimbulkan ketergantungan. 9

Dari pengertian dan defenisi di atas dapat disimpulkan bahwa Narkotika

adalah segala bahan yang apabila dimasukkan ke dalam tubuh dengan cara

disuntik, dimakan, dihisap ataupun diminum maka akan bekerja pada susunan

saraf pusat yang mempunyai pengaruh yang tinggi terhadap jiwa atau pikiran serta

tingkah laku seseorang.

1. Ganja

Ganja atau marihuana (marijuana) diperoleh dari tanaman cannabis sativa

atau cannabis indica, suatu tanaman perdu yang tingginya dapat mencapai 4

meter, yang mengandung zat psikoaktif Delta-9 Tetrahydrocannabinol (THC).

Lebih dari 100 spesies tanaman tersebut dapat tumbuh di daerah tropis dan daerah

beriklim sedang seperti India, Nepal, Thailand, Sumatera, Jamaika, Kolumbia,

Korea, Iowa (AS), dan Rusia bagian Selatan.10

Tanaman ganja ini dibudidayakan karena memang manfaatnya banyak

seperti serat-serat batangnya kuat, bijinyapun enak untuk campuran makanan,

8
Siti Zubaidah, PENYEMBUHAN PEMAKAI NARKOBA : Melalui Terapi dan
Rehabilitasi Terpadu, (IAIN Press, Medan 2011), h. 85
9
Siti Zubaidah, PENYEMBUHAN PEMAKAI NARKOBA: Melalui Terapi dan
Rehabilitasi Terpadu, h.86
10
Siti Zubaidah, PENYEMBUHAN PEMAKAI NARKOBA : Melalui Terapi dan
Rehabilitasi Terpadu, h. 88
20

minyaknya juga berguna untuk bahan pembuatan cat. Disamping itu juga daunnya

mengandung zat perangsang, begitu juga damarnya yang banyak terdapat dalam

bunga bagian atas. Dan sudah berabad-abad lamanya tanaman ganja juga

digunakan sebagai pengobatan tradisional. Selama kurang lebih 150 tahun

terakhir, tanaman ganja ini terdaftar dalam dunia medis Barat, karena tanaman

ganja mengandung bahan yang ampuh untuk mengobati segala penyakit fisik

maupun psikis. Namun setelah ditemukan obat-obatan sintetis yang ternyata lebih

ampuh, penggunaan tanaman ganja sebagai pengobatan menjadi tersisihkan.11

Pada umumnya ganja dipakai dengan cara dimakan begitu saja, atau dicampurkan

pada masakan, atau bisa juga dicampur bersama tembakau sebagai rokok.

Sedangkan efek dari mengonsumsi ganja adalah:

a. Jantung berdebar-debar.

b. Euforia, yaitu rasa gembira tanpa sebab dan tidak wajar.

c. Halusinasi dan delusi. Halusinasi adalah pengalaman panca indra tanpa

adanya sumber stimulus (rangsangan) yang menimbulkannya. Misalnya

seseorang mendengar suara-suara padahal sumber suara tersebut tidak ada,

hal ini disebut sebagai halusinasi pendengaran. Begitupun juga halnya

dengan halusinasi penglihatan, penciuman, rasa dan raba. Sedangkan

Delusi adalah suatu keyakinan yang tidak rasional, meskipun telah

diberikan bukti-bukti bahwa pikiran itu tidak rasional, namun yang

bersangkutan tetap meyakininya. Misalnya yang disebut dengan delusi

paranoid, dimana yang bersangkutan yakin bahwa ada orang yang akan

berbuat jahat kepadanya, sekalipun dalam kenyataannya tidak ada.

11
Siti Zubaidah, PENYEMBUHAN PEMAKAI NARKOBA : Melalui Terapi dan
Rehabilitasi Terpadu, h. 89
21

d. Perasaan yang membuat waktu terasa begitu lambat, misalnya 10 menit

bisa dirasakan seperti 1 (satu) jam lamanya.

e. Apatis, orang yang bersangkutan bersikap tak peduli, masa bodo, acuh tak

acuh sebagai makhluk sosial, bahkan seringkali lebih senang menyendiri

dan melamun, sama sekali tidak ada kemauan atau inisiatif dan hilangnya

dorongan semangat.

f. Mata merah, orang yang baru saja menghisap ganja ditandai dengan warna

matanya yang memerah seperti orang yang sangat mengantuk. Hal ini

disebabkan karena pembuluh darah kapiler pada mata mengalami

pelebaran (dilatasi).

g. Nafsu makan yang bertambah, orang yang mengkonsumsi ganja biasanya

nafsu makannya bertambah karena ganja memiliki zat aktif tetra-

hydrocannabinol (THC) merangsang pusat nafsu makan di otak.

h. Mulut kering, orang yang mengkonsumsi ganja akan mengalami

kekeringan pada mulutnya (air liur berkurang), hal ini disebabkan oleh

THC yang mengganggu sistem syaraf otonom yaitu syaraf yang mengatur

kelenjar air liur.

i. Perilaku maladaptif, yaitu yang orang yang mengomsumsi ganja tidak lagi

mampu menyesuaikan diri atau beradaptasi dengan keadaan secara wajar.

Misalnya, yang bersangkutan memperlihatkan ketakutan, kecurigaan

(paranoid), gangguan menilai realitas, gangguan dalam fungsi sosial dan

pekerjaan. Perilaku maladaptif ini juga sering menimbulkan konflik,

pertengkaran, tindak kekerasan dan perilaku anti sosial lainnya terhadap

orang-orang di sekelilingnya
22

j. Bahayanya lagi pemakaian ganja dalam jangka waktu yang lama akan

mengganggu fungsi paru-paru karena menimbulkan peradangan atau

menyebabkan timbulnya penyakit “anginapektoris”. Ganja juga

menimbulkan kematian sel-sel otak dan menjadi pencetus kanker.

Produksi leukosit (sel darah putih) menurun, sehingga kekebalan tubuh

juga berkurang dan akan menurunkan kadar beberapa hormon yang dapat

menyebabkan rusaknya sperma laki-laki, sedangkan untuk wanita akan

menimbulkan gangguan menstruasi bahkan meningkatkan kemungkinan

terjadinya keguguran pada ibu hamil.12

Pada dasarnya pengonsumsi ganja tujuan mereka menghisap ganja

dimaksudkan untuk melarikan diri dari kenyataan, ingin masalah hidup yang

rumit atau bahkan masalah ekonomi dan keluarga yang di alaminya bisa sedikit

dilupakan atau mencari sebuah ketenagan agar beban hidup terlupakan atau

bahkan hanya ingin memperoleh kegembiraan (semu) dan masa bodo terhadap

keluarga dan sekelilingnya. Namun tanpa disadari oleh mereka, pelarian ini malah

menjerumuskannya ke dalam dunia khayal sampai pada gangguan jiwa, mirip

skizofrenia, bahkan merupakan langkah awal terhadap gangguan jiwa skizofrenia

yang sesungguhnya.

2. Opium

Getah yang berwarna putih yang keluar dari biji tanaman papaper

sammi vervum yang kemudian membeku, dan mongering menjadi

12
Siti Zubaidah, PENYEMBUHAN PEMAKAI NARKOBA : Melalui Terapi dan
Rehabilitasi Terpadu, h. 91
23

berwarna hitam cokelat dan diolah menjadi candu mentah atau candu

kasar.13

3. Morphine

Morphine dalam dunia pengobatan sering digunakan sebagai bahan obat

penenang dan obat untuk menghilangkan rasa sakit atau nyeri, yang bahan

bakunya berasal dari candu atau opium.14

4. Heroin

Tidak seperti halnya Morphine yang masih mempunyai nilai medis, jenis

heroin yang masih berasal dari candu ini, setelah melalui proses kimia yang

sangat cermat dan jenis heroin mempunyai kemampuan yang jauh lebih keras dari

morphine.

5. Shabu-shabu

Jenis Shabu-shabu ini berbentuk seperti bumbu kaldu masak, yaitu seprti

kristal kecil-kecil yang berwarna putih, tidak berbau, dan mudah larut dalam air

alkohol. Pemakaiannya sangat aktif, tidak merasa lelah meski sudah bekerja lama,

tidak merasa lapar, dan memiliki rasa percaya diri yang besar.15

6. Kokain

Kokain biasanya digunakan dengan cara menaruh bubuk pada selaput

lendir hidung lalu dihirup. Pemakaian dasar kokain (cocain base) dipakai dengan

cara merokok, baik sigaret maupun pipa. Sementara konsumen kokain ini

13
Fransiska Novita Eleanora, Bahaya Penyalahgunaan Narkoba Serta Usaha Pencegahan
Dan Penanggulangannya (Suatu Tinjauan Teoritis), Jurnal Hukum, Vol XXV, No. 1, April 2011,
h. 442
14
Fransiska Novita Eleanora, Bahaya Penyalahgunaan Narkoba Serta Usaha Pencegahan
Dan Penanggulangannya (Suatu Tinjauan Teoritis), Jurnal Hukum, Vol XXV, No. 1, April 2011,
h. 442
15
Fransiska Novita Eleanora, Bahaya Penyalahgunaan Narkoba Serta Usaha Pencegahan
Dan Penanggulangannya (Suatu Tinjauan Teoritis), Jurnal Hukum, Vol XXV, No. 1, April 2011,
h. 443
24

merupakan golongan ekonomi yang menengah ke atas, mengingat harganya yang

bisa dibilang mahal. Ada juga istilah nama jalanan untuk jenis kokain ini antara

lain adalah Coke, Salju, Permen hidung, dan Charley. Efek psikologis akibat

penggunaan kokain ini yaitu munculnya perasaan gembira, terangsang,

bertambahnya tenaga, percaya diri (PD), dan perasaan sukses. Efek

menyenangkan yang hebat secara cepat diikuti oleh efek yang tidak

menyenangkan sesudah pemakaian, seperti merasa depresi dan kelelahan serta

mendorong penggunaan kokain secara terus menerus. Sedangkan efek fisiologi

yang timbul adalah detak jantung derdetak lebih cepat, darah tinggi, suhu badan

yang meningkat, bola mata mengerut, penyempitan pembuluh darah lokal, nafsu

makan hilang dan susah tidur.16

b. Psikotropika

Psikotropika adalah zat atau obat baik alamiah maupun sintetis, bukan

narkotika yang bersifat psiko-aktif melalui pengaruh selektif pada susunan syaraf

pusat yang menyebabkan perubahan khas pada aktivitas mental dan perilaku

seseorang.

Cara kerja Psikotropika adalah menurunkan aktivitas otak atau

merangsang susunan syaraf pusat dan menimbulkan kelainan perilaku, dibarengi

dengan munculnya halusinasi (mengkhayal), ilusi, gangguan cara berpikir,

perubahan alam perasaan dan dapat menyebabkan ketergantungan serta

mempunyai efek stimulasi (merangsang) bagi pemakainya.

Sedangkan efek yang ditimbulkan adalah jika pemakaian yang

berlangsung lama dan tidak terbatas dapat menimbulkan dampak yang lebih

16
Siti Zubaidah, PENYEMBUHAN PEMAKAI NARKOBA : Melalui Terapi dan
Rehabilitasi Terpadu, h. 100
25

buruk, tidak hanya menyebabkan ketergantungan bahkan juga menimbulkan

berbagai macam penyakit dan kelainan fisik maupun psikis si pemakai, tidak

jarang juga bisa menimbulkan kematian.17

1. Amphetamin

Biasanya amphetamin disalahgunakan untuk menimbulkan rasa

kegembiraan, untuk menambah tenaga, perasaan yang senang, agar percaya diri,

dan menambah kemampuan untuk berkonsentrasi, dan juga dapat menahan rasa

lapar dan tidak mudah mengantuk. Pengaruh penggunaan amphetamin terhadap

tubuh sendiri antara lain adalah detak jantung dan tekanan darah yang meningkat,

mulut terasa kering, selalu berkeringat, kerusakan pada otak yang permanen.

Secara psikologis, penggunaan amphetamin menyebabkan suasana hati gampang

berubah, gelisah, mudah marah, bingung dan tegang yang dapat mengarah ke

tingkat psikotik yang ditandai oleh paranoid, menghayal dan berhalusinasi.18

2. Ekstasy

Ekstasy adalah jenis yang tidak termasuk dalam daftar nama obat

maupun di dalam undang-undang Psikotropika, namun karena zat aktifnya adalah

senyawa Amphetamin dan turunannya, maka jelas apapun namanya pemakai

ekstasy tetap dapat dikenakan sanksi hukum sesuai Undang-undang.

Ekstasy dapat digunakan dengan cara ditelan dan pengaruhnya terjadi

antara 30–60 menit kemudian setelah mengonsumsi, untuk mencapai puncak bis

dalam waktu 2–4 jam dan dapat juga berlangsung selama beberapa jam,

tergantung dari jumlah atau dosis obat yang dikonsumsi si pemakai, setelah

17
Novia Rahmawati, Konsep Perencanaan dan Perancangan : Pusat Terapi Dan
Rehabilitasi Bagi Ketergantungan Narkoba Dengan Pendekatan Arsitektur Perilaku, (Skripsi,
Fakultas Teknik Universitas Sebelas Maret Surakarta, 2010), h. 8
18
Dwi Yanny L, Narkoba Pencegahan dan Penanganannya, (Jakarta: Elek Media
Komputindo, 2001), h. 74
26

mengonsumsi ektasy akan timbul perasaan santai, gembira, hangat, bertenaga, dan

menggambarkan suatu perasaan saling mengerti di antara mereka.19

3. Shabu-Shabu

Shabu-shabu atau disebut juga dengan “ice” adalah julukan untuk

metamphitamine, karena wujudnya yang berbentuk kristal, tidak berbau dan tidak

berwarna, justru itu disebut “ice”. Sama seperti heroin atau putaw dan

amphetamin, shabu-shabu umumnya digunakan dengan cara dihirup dengan alat

yang khusus yang disebut dengan “bong”.20 Pengguna shabu-shabu akan menjadi

tergantung secara mental pada zat ini dan pemakaian yang lama dapat

menyebabkan peradangan pada otot, hati atau bahkan kematian. Shabu-shabu atau

ice dikenal juga dengan istilah Kristal, Ubas, SS, Mecin, dan lain-lain. Bagi

mereka yang mengkonsumsi shabu-shabu akan mengalami gejala psikologik,

seperti:

a) berperilaku hiperaktif, tidak dapat diam, selalu bergerak,

b) rasa gembira (elation); yang bersangkutan mengalami suasana

gembira yang berlebihan (euforia),

c) harga diri meningkat (grandiosity),

d) banyak bicara (ngelantur),

e) kewaspadaan meningkat (paranoid),

f) halusinasi penglihatan. 21

19
Dadang Hawari, Terapi (Detoksifikasi) dan Rehabilitasi (Pesantren) Mutakhir (Sistem
Terpadu) Pasien NAZA (Narkotika, Alkohol dan Zat Adiktif lain), Jakarta: UI Press, 1999, h. 3
20
Dadang Hawari, Terapi (Detoksifikasi) dan Rehabilitasi (Pesantren) Mutakhir (Sistem
Terpadu) Pasien NAZA (Narkotika, Alkohol dan Zat Adiktif lain), Jakarta: UI Press, 1999, h. 55
21
Dadang Hawari, Terapi (Detoksifikasi) dan Rehabilitasi (Pesantren) Mutakhir (Sistem
Terpadu) Pasien NAZA (Narkotika, Alkohol dan Zat Adiktif lain), Jakarta: UI Press, 1999, h. 56
27

Di samping gejala psikologik, mereka juga mengalami gejala fisik yang

ditandai dengan: jantung berdebar-debar (palpitasi), pupil mata melebar (dilatasi

pupil), tekanan darah naik (hipertensi), keringat berlebihan atau kedinginan, mual

dan muntah.

a. Kemudian mereka bertingkah laku maladaptif, seperti perkelahian,

gangguan daya nilai realitas, gangguan dalam fungsi sosial dan

pekerjaan, serta mengalami gangguan delusi (waham). Selanjutnya

efek yang ditimbulkan oleh penggunaan shabu-shabu adalah

menurunkan berat badan, impotensi, sawan yang parah, halusinasi,

kerusakan hati dan ginjal, kerusakan jantung, stroke dan bahkan

kematian.22

c. Alkohol dan Zat Adiktif Lain

1. Alkohol

Nama kimia “alkohol” yang terdapat dalam minuman beralkohol adalah

etil alcohol atau etanol yang sering juga disebut dengan grain alcohol, sebagai

lawan dari wood alcohol yang sangat toksik, dan nama kimianya adalah metil

alcohol atau metanol. Etil alcohol sendiri berupa cairan jernih, tidak berwarna dan

rasanya pahit.23

Alkohol merupakan jenis yang paling sering disalahgunakan kebanyakan

orang. Alkohol berasal dari peragian atau fermentasi madu, gula, sari buah atau

umbi-umbian. Dari peragian tersebut dapat diperoleh alkohol sampai 15% tetapi

dengan proses penyulingan (destilasi) dapat dihasilkan kadar alkohol yang lebih

22
Siti Zubaidah, PENYEMBUHAN PEMAKAI NARKOBA : Melalui Terapi dan
Rehabilitasi Terpadu, h. 107
23
Dwi Yanny L, Narkoba Pencegahan dan Penanganannya, (Jakarta: Elek Media
Komputindo, 2001), h. 13
28

tinggi bahkan mencapai 100%. Kadar alkohol dalam darah maksimum dicapai 30-

90 menit. Setelah diminum alkohol atau etanol disebarluaskan keseluruh jaringan

dan cairan tubuh dengan peningkatan kadar alkohol dalam darah manusia dapat

bereuforia, namun dengan penurunannya, orang tersebut akan menjadi depresi.

Cara kerja alkohol sendiri adalah menekan pusat pengendalian otak sehingga akan

memberi rasa tenang dan kantuk. Memang pada awalnya reaksi yang muncul pada

hambatan pengendalian otak bersifat merangsang dan menyebabkan pengguna

atau peminum menjadi aktif, banyak bicara dan ceria. Bila terus diminum maka

akan merasa tenang, santai, atau rileks, seolah-olah terlepas dari beban. Jika

jumlah alcohol semakin bertambah maka pembicaraan menjadi tak terkendali atau

ngaco (slurred speech), gangguan koordinasi dan mengantuk (mabuk atau

drunken). Pada jumlah sangat banyak alkohol menjadi racun yang menyebabkan

koma, depresi, pernafasan, nadi dan kematian.

Efek yang ditimbulkan setelah mengkonsumsi alkohol dalam jumlah kecil,

menimbulkan perasaan relax dan pengguna akan lebih mudah mengekspresikan

emosi, seperti rasa senang, rasa sedih dan kemarahan. Namun jika dikonsumsi

lebih banyak lagi, akan muncul efek, merasa lebih emosional (sedih, senang,

marah secara berlebihan) yaitu bicara cadel, pandangan menjadi kabur,

sempoyongan, inkoordasi motorik dan bisa sampai tidak sadarkan diri,

kemampuan mental mengalami hambatan, seperti gangguan untuk memusatkan

perhatian dan daya ingat terganggu.24

24
Novia Rahmawati, Konsep Perencanaan dan Perancangan : Pusat Terapi Dan
Rehabilitasi Bagi Ketergantungan Narkoba Dengan Pendekatan Arsitektur Perilaku, (Skripsi,
Fakultas Teknik Universitas Sebelas Maret Surakarta, 2010), h. 6
29

2. Zat Adiktif lain

Setelah melihat beberapa jenis Narkoba diatas seperti Narkotika,

Psikotropika dan Alkohol, sebenarnya masih banyak jenis obat atau zat yang bisa

menimbulkan ketagihan (adiksi) dan ketergantungan (dependensi) zat ini yang

tidak tergolong pada 3 golongan di atas. Obat atau zat yang masuk golongan ini

ialah Inhalansia dan Solvent, Nikotin, dan Kafein.25

1. Inhalansia dan Solvent

Inhalansia dan solven yang sering disalahgunakan sangatlah banyak

jenisnya dan tergolong pada berbagai golongan zat kimia. Dan zat ini biasanya

terdapat dalam barang-barang rumah tangga dan banyak digunakan antara lain

adalah Aica aiban, pelarut cat, pelarut lem, karet, bensin, semir sepatu, deodorant,

minyak korek api, aceton, hairspray, insectiside.26 Karena kegiatan atau

pemakaiannya biasanya dengan cara menghirup benda-benda sejenis “lem” inilah,

maka di kalangan pecandu dikenal dengan sebutan “ngelem”.27

2. Nikotin

Nikotin adalah senyawa kimia organik yang dalam kelompok alkaloid

yang dihasilkan secara alami pada berbagai macam tumbuhan, seperti tembakau

dan tomat. Nikotina berkadar 0,3 sampai 5,0% dari berat kering tembakau

berasal dari hasil biosintesis di akar dan terakumulasi di daun. Nikotin

berpotensi sebagai racun saraf yang potensial dan digunakan sebagai bahan baku

berbagai jenis insektisida dalam konsentrasi tinggi. Pada konsentrasi rendah, zat

25
Dadang Hawari, Terapi (Detoksifikasi) dan Rehabilitasi (Pesantren) Mutakhir (Sistem
Terpadu) Pasien NAZA (Narkotika, Alkohol dan Zat Adiktif lain), Jakarta: UI Press, 1999, h. 143
26
YCAB, Narkoba Dicoba Sekali Membelenggu Seumur Hidup, (Jakarta: YCAB, 2001),
h. 9
27
YCAB, Narkoba Dicoba Sekali Membelenggu Seumur Hidup, (Jakarta: YCAB, 2001),
h. 6
30

ini dapat menimbulkan kecanduan, khususnya pada rokok. Nikotina memiliki

daya karsinogenik terbatas yang menjadi penghambat kemampuan tubuh untuk

melawan sel-sel kanker namun nikotina tidak menyebabkan perkembangan sel-

sel sehat menjadi sel-sel kanker dan bukan penyebab kanker. Nikotin secara

alami ada dalam tanaman tembakau, demikian halnya kaffein pada kopi, tein,

katekin pada teh, theobromin dalam coklat. Mereka termasuk dalam bahan

penyegar, maksudnya konsumsi bahan tersebut dalam makanan tertentu dengan

kadar tertentu akan menimbulkan efek yang baik dan segar. Karena itu nikotin

tidak disarankan untuk dikonsumsi pada penderita insomnia atau kesulitan

tidur.28

3. Kafein

kafein, ialah senyawa alkaloid xantina yang berbentuk kristal dan rasanya

pahit, yang bekerja sebagai obat perangsang psioaktif dan diuretik ringan.29

Kafeina ditemukan oleh seorang kimiawan Jerman, Friedrich Ferdinand Runge,

pada tahun 1819. Ia menciptakan istilah "kaffein" untuk merujuk pada senyawa

kimia pada kopi. Kafeina juga disebut guaranina ketika ditemukan pada gurana,

disebut mateina ketika ditemukan pada mate, dan teina ketika ditemukan pada teh.

Semua istilah tersebut sama-sama merujuk pada senyawa kimia yang sama.

Terlalu banyak kafeina dapat menyebabkan keracunan (intoksikasi) Gejalanya

ialah keresahan,kerisauan, insomnia, keriangan, muka merah, kerap kencing

(diuresis), dan masalah gastrointestial. Gejala-gejala ini bisa terjadi walaupun

hanya 250 mg kafeina yang diambil. Jika lebih dari 1g kafeina dikonsumsi dalam

28
Sahar, Junaiti, and Wiwin Wiarsih. "Pengalaman Perokok Rendah Tar Dan Nikotin Di
Kota Malang." Jurnal Keperawatan 1.1 (2010).
29
Maughan, R. J., & Griffin, J. (2003). Caffeine ingestion and fluid balance: a
review Journal of human nutrition and dietetics, 16 (6), 411-420.
31

satu hari, gejala seperti kejang otot (muscle twitching), kekusutan pikiran dan

perkataan (gangguan pada denyut jantung) dan gejolak (psychomotor agitation).

Intoksikasi kafeina juga bisa mengakibatkan kepanikan dan penyakit kerisauan

atau galau. Walaupun mengonsumsi kafein masih aman bagi manusia, kafein,

teofinila, dan teobronia (pada kakao) lebih meracun bagi sebagian hewan,

seperti kucing dan anjing karena perbedaan dari segi metabolisme hati.

Pada kenyataannya tujuan dari memakai atau menggunakan obat-obat

terlarang seperti narkoba, Psikotropika, dan zat adiktif lainnya untuk mendapatkan

ketenagan jiwa tanpa disadari tujuan ini bisa kita dapatkan dengan melakukan

zikir atau mendekatkan diri kepada Allah SWT. Jadi dari pada merusak badan

dengan mengonsumsi obat terlarang lebih baik jika kita mempunyai masalah

alangkah baiknya kita kembalikan kepada Sang Pencipta dan mendekatkan diri

kepada Allah dengan berzikir dan berdoa untuk mendapatkan ketenangan. Karena

menggunakan obat ataupun berzikir mempunyai tujuan yang sama yaitu ingin

memeroleh ketenangan jiwa.


BAB III

SEJARAH DAN PERKEMBANGAN TERAPI ZIKIR BAGI PEMAKAI

NARKOBA DI PONDOK PESANTREN SURYALAYA

A. Sejarah Adanya Terapi Zikir Di Pondok Pesantren Suryalaya

Pada tanggal 28-29 Desember 1980 Pondok Pesantren Suryalaya

mengadakan seminar dan lokakarya (semiloka) tentang “Penanggulangan Bahaya

Penyalahgunaan Narkotika Dan Kenakalan Remaja”. Semiloka ini melibatkan

berbagai unsur departemen seperti departemen Sosial, Kesehatan, Kehakiman,

Agama, Penerangan, Pendidikan, Pertahanan dan Keamanan dan beberapa dosen

IAIN Sunan Gunung Jati Bandung. Departemen-departemen tersebut tergabung

secara lintas sektoral dalam Badan Koordinasi Pelaksanaan Instruktur Presiden

Republik Indonesia (Bakorlak Inpres) No. 6 tahun 1971. Semiloka tersebut

menghasilkan dua kesimpulan yang sangat penting yaitu:

1) menegaskan nama pemakaian Pondok Remaja Inabah1 untuk perawatan

khusus Anak Bina korban penyalahgunaan narkotika dan adiktif lainnya, dibawah

naungan Pondok Pesantren Suryalaya dan diketahui secara resmi dan dilindungi

oleh pemerintah.

2) menegaskan metode perawatan bagi remaja penyalahgunaan narkotika

dengan sebutan Inabah. Metode ini adalah model asli yang diciptakan oleh Abah

Anom, diturunkan dari ajaran tasawuf TQN. Metode ini menjadi pedoman untuk

penyusunan kurikulum dan kokurikulum pembinan di Pondok Remaja Inabah

1
Pondok Remaja Inabah secara lengkap disebut Pondok Pembinaan Akhlak dan Mental
Remaja Inabah Pondok Pesantren Suryalaya, merupakan tempat pembinaan dan penyadaran para
remaja korban penyalahgunaan NAPZA dan bermasalah lainnya melalui pendekatan amaliyah
TQN (Praja, 1995:55).

32
33

yang harus dilengkapi dengan perangkat-perangkat keras seperti masjid, mushola,

rumah Pembina, asrama Anak Bina, air dan sarana prasarana pendukung lainnya.2

Dan di Pondok Inabah inipun tidak hanya didatangi oleh para orang tua

yang ingin menitipkan anaknya akibat penyalahgunaan NAPZA, tetapi juga

banyak masyarakat yang datang untuk sembuh dari berbagai persoalan hidup

seperti stress, depresi, dan lainnya. Dengan berjalannya waktu Pondok Pesantren

ini semakin berkembang dan banyak diminati msyarakat setempat maupun luar,

karena dengan adanya Pondok Inabah ini sangat membantu bagi para keluarga

yang kualahan untuk mengurus anak atau kerabatnya yang sudah terlanjur

penyalahgunaan narkoba.

Pondok Inabah ini tidak hanya berada di Tasikmalaya, di daerah lain

seperti bandung ada pula cabang tempat pembinaan mental ini. Begitu pula di

Ciputat, Jakarta Selatan, ada pondok Inabah serupa. Pondok Inabah secara resmi

didirikan tahun 1980. Adapun Suryalaya telah menerima korban narkoba sejak

tahun 1972. Sudah ribuan lebih klien yang berhasil disembuhkan, dan dapat

kembali ke masyarakat. Terapi terhadap penyalahgunaan narkoba dan kenakalan-

kenakalan yang lainnya yang di lakukan di Pondok Pesantren Suryalaya telah

membuktikan bahwa terapi sufistik tidak bisa dipandang sebelah mata. Tetapi

yang dibutuhkannya ternyata lebih pada pendekatan zikir yang dilakukan di

Pondok Inabah Suryalaya.3

2
Alhamuddin, Agama Dan Pecandu Narkoba : Etnografi Terapi Medote Inabah, Bogor,
2015, h. 32
3
M. Solihin, Melacak Pemikiran Tasawuf di Nusantara, (Jakarta: PT Raja Grafindo
Persada, 2005), h. 229
34

B. Amalan-Amalan Zikir Di Pondok Pesantren Suryalaya

Penyembuhan klien di Pondok Inabah yaitu bentuk latihan-latihan spiritual

(riyadah) dilakukan dalam bentuk amalan harian, mingguan, dan bulanan. Amalan

harian yaitu dengan berzikir setiap waktu agar selalu mengingat Allah, sedangkan

amalan mingguan sering disebut khataman yaitu berzikir ditambah dengan doa-

doa (wirid) yang dilaksanakan seminggu sekali. Namun khusus di Inabah amalan

ini dilakukan setiap hari, ba’da shalat magrib, hal tersebut bisa dijadikan amalan

harian. Amalan bulanan disebut manaqiban, acara manaqiban. Manaqiban berasal

dari bahasa Arab, yaitu jamak dari maqobah yang berarti kisah tentang kesalahan

dan keutamaan ilmu dan amal seseorang. Dalam acara manaqiban biasanya dibaca

dan diuraikan manaqib Syaikh Abdul Qadir Jaelani. Amalan-amalan zikir diatas

bagaikan obat atau kapsul untuk para pemakai narkoba yang mereka makan secara

teratur setiap harinya seperti yang dinasehatkan oleh dokter.4

Dalam menjalankan proses rehabilitasi di Pondok Inabah ini pasien juga

harus melakukan atau mengamalkan syari’at yaitu bersuci dari hadats, shalat,

puasa maupun haji.5 Dan juga amalan-amalan sunnah yang diyakini dapat

membantu untuk membersihkan jiwa dari segala macam kotoran dan penyakit-

penyakit. Amalan-amalan ini seperti membaca Al Qur’an dengan merenungkan

arti dan maknanya, melaksanakan shalat malam (tahajjud), berzikir di malam hari,

banyak berpuasa sunnah dan bergaul dengan orang-orang shaleh.6 Amalan

lainnya yang mendukung upaya menjalankan rehabilisa atau terapi terhadap

4
M. Solihin, Melacak Pemikiran Tasawuf di Nusantara, (Jakarta: PT Raja Grafindo
Persada, 2005), h. 242
5
Kharisudin Aqib, Inabah : jalan Kembali dari Narkoba, stress, dan Kehampaan Jiwa,
(Tasikmalaya : PT Bina Ilmu Surabaya, 2005), h.125
6
Kharisudin Aqib, Inabah : jalan Kembali dari Narkoba, stress, dan Kehampaan Jiwa, h.
125
35

pemakai narkoba adalah berperilaku zuhud dan wara’ karena kedua perilaku

sufistik ini akan sangat berpengaruh terhadap kesehatan jiwa para pemakai

narkoba, karena perilaku zuhud adalah tidak ada ketergantungan hati pada harta

dan wara’ sendiri dalah sikap hidup yang selektif. Orang yang berperilaku

demikian tidak berbuat sesuatu, kecuali benar-benar dibutuhkan. Dan rakus

terhadap harta akan mengotori jiwa demikian juga banyak berbuat tidak baik.

Adapun amalan lainnya yaitu ‘ataqah atau fida’ akbar yaitu penebusan yang

dilaksakan dalam rangka membersihkan jiwa dari kotoran atau penyakit-penyakit

jiwa. Bahkan cara ini dilakukan sebagian tarekat sebagai penebus harga surga.

Atau penebus pengaruh jiwa yang tidak baik (untuk mematikan nafsu). Bentuk

dan cara ‘ataqah adalah seperangkat amalan tertentu yang dilaksanakan dengan

serius (mujahadah), seperti membaca surat al-ikhlas sebanyak 100.000 kali atau

membaca kalimat tahlil dengan cabangnya sebanyak 70.000 kali. Dalam rangka

penebusan nafsu amarah atau nafsu-nafsu yang lain. Dalam melaksanakan ‘ataqah

ini dapat dilakukan secara sedikit demi sedikit dan rutin.7

Amalan-amalan diatas harus dilakukan secara rutin oleh para pemakai

narkoba agar dapat sembuh total dan agar dapat sembuh dari penyakit-penyakit

jiwa yang ada dalam tubuh mereka. Karena pada kenyataannya kita bisa melihat

bahwa seseorang yang terkena atau korban dari penyalahgunaan narkoba tidak

dapat kita nasehati ataupun kita benci atau marahi, dipukul bahkan sampai

dipenjarakan itu akan sangat salah karena itu akan percuma, kecuali dengan

sentuhan perasaannya dengan didekatkan kepada keagamaan (zikir) melalui ajaran

Tarekat Qadariyyah wa Naqsabandiyyah dengan cara mengamalkan apa yang

7
Kharisudin Aqib, Inabah : jalan Kembali dari Narkoba, stress, dan Kehampaan Jiwa, h.
126
36

diajarkan di Pondok Inabah, atau dengan kasih sayang dari keluarga dan orang-

orang disekitarnya. Sebenarnya pengobatan seperti ini sangat efektif untuk

mengatasi problem kotornya jiwa atau ketagihan narkoba. Karena pengobatan

seperti ini sangat membantu agar korban bisa kembali ketengah-tengah

masyarakat dengan keadaan sehat iman, rohani dan jasmani.

C. Tarekat Qadariyyah Naqsabandiyyah di Pondok Pesantren

Suryalaya

Syaikh Abdullah Mubarok bin Nur Muhammad atau yang akrab di panggil

Abah Sepuh adalah pendiri Pondok Pesantren Suryalaya, yang mana Pondok ini

adalah salah satu Pondok yang manganut Tarekat Qadariyyah Naqsabandiyyah

yang kemudian setelah beliau wafat dilanjutkan lagi oleh putranya yang bernama

Syaikh Ahmad Shohibul Wafa Tajul Arifin atau yang akrab dipanggil dengan

sebutan Abah Anom. Dari tarekat ini lah praktek zikir digunakan sebagai metode

terapi bagi pemakai atau penyalahgunaan narkoba.

Tarekat Qadariyyah Naqsabandiyyah adalah sebuah tarekat hasil dari

penggabungan dua tarekat, yaitu tarekat Qadariyyah dan Tarekat Naqsabandiyyah.

Penggabungan kedua tarekat ini kemudian dimodifikasi sedemikian rupa

membentuk sebuah tarekat yang mandiri dan berbeda dengan kedua tarekat

induknya. Yang terutama dalam perbedaan tarekat ini adalah terdapat pada bentuk

riyadhah dan ritualnya. Penggabungan dan modifikasi dalam tarekat qodariyyah

memang sering terjadi.8

8
Kharisudin Aqib, Inabah : jalan Kembali dari Narkoba, stress, dan Kehampaan Jiwa,
(Tasikmalaya : PT Bina Ilmu Surabaya, 2005), h. 33
37

Tarekat sendiri adalah sebuah metode atau cara atau jalan lurus untuk

menuju kepada Allah, dengan bimbingan seorang guru spiritual atau Mursyid.

Adapun pengamalan Tareqat adalah bukan berkiblat pada suatu aliran tertentu

tetapi melengkapi ibadah kita dengan metode zikir yang bersifat Khos dan

Khasanah bersifat khusus dan baik dengan metode dzikrullah "Lâ Illâ Ha

Illallâh". Ajaran Qadariyyah didirikan oleh Syaikh Abdul Qadir Al-Jaelani dari

Jilan Irak dan kedua adalah Tareqat Naqsyabandiyyah didirikan oleh Syaikh

Bahauddin Naqsyabandiyyah dari Bukhara. Sementara Tarekat Qadariyyah dan

Naqsabandiyyah didirikan oleh Syaikh Syamsuddin di Mekkah, dan

dikembangkan di Indonesia oleh Syaikh Ahmad Khatib seorang ulama asal

Indonesia yang bermukim di Mekkah hingga wafatnya.9

Di Indonesia, ajaran Tarekat Qadariyyah Naqsabandiyyah ini lalu di bawa

oleh tiga orang murid Syaikh Ahmad Khatib yang sempat bertemu di Mekkah.

Mereka masing-masing adalah Syaikh Ahmad Tolhah Kalisapu yang berasal dari

Trusmi-Cirebon Jawa Barat. Syaikh Abdul Karim al-Bantani, dan Syaikh Al-

Hasbu Al-Maduri. Namun dari ketiga murid Syaikh Ahmad Khatib Al-Sambasi,

hanya satu yang ajaran Tarekatnya hingga kini berkembang, yakni Syaikh Tolhah

Kalisapu. Tapi pengembangan yang lebih luas dari ajaran Tarekat Qodariyyah

Naqsabandiyyah ini terutama sekali dilakukan oleh murid Syaikh Tolhah

bernama Syaikh Abdullah Mubarok bin Nur Muhammad (Abah Sepuh). Setelah

wafat, ajaran Tarekat Qadariyyah Naqsabandiyyah kemudian diteruskan oleh

putranya yang bernama Syaikh Ahmad Shohibul Wafa Tajul Arifin alias Abah

Anom. Dari Abah Anom inilah, ajaran Tarekat Qadariyyah Naqsabandiyyah lalu

9
Puji lestari, Metode Terapi dan Rehabilitasi Korban Napza, DIMENSI, Volume 6, No.
1, Maret 2012, h. 5
38

dikembangkan oleh para muridnya yang telah diberi otoritas khusus (khirqah)

untuk mengajarkan zikir. Dalam tradisi Tarekat Qadariyyah Naqsabandiyyah, baik

pada masa Abah Sepuh dulu maupun Abah Anom sekarang, otoritas khusus itu

biasa disebut dengan Wakil Talqin.10

Ajaran Tarekat Qadariyyah Naqsabandiyyah saat ini dikembangkan dan

dipusatkan di Pondok Pesantren Suryalaya, Tasikmalaya, Jawa Barat dengan

cabang-cabangnya yang tersebar di seluruh Tanah Air dan beberapa negara di

Asia Tenggara, seperti Singapura, Brunai Darussalam, dan Malaysia. Dari

Pesantren ini pula lalu berkembang sebuah lembaga yang secara khusus

menangani para penderita ketergantungan obat (narkoba), atau yang lebih popular

disebut Pondok Inabah. Dengan menggunakan metode dzikrullâh yang diambil

dari wirid dan zikir Tarekat Qadariyyah Naqsabandiyyah sebagai alternatif

pengobatannya, jumlah lembaga Inabah kini mencapai kurang lebih 25 buah.

Tersebar bukan hanya di Jawa Barat, tapi juga di DIY dan Asia Tenggara.

Sanggar Meditasi & Tanaman Obat yang di Asuh oleh Rizki Joko Sukmono, SH

yang pernah belajar Ilmu Tasawuf di Pondok Pesantren Suryalaya Tasikmalaya

Jawa Barat, juga mengembangkan dan mempopulerkan di kalangan murid-

muridnya di kota Jember Jawa Timur dengan maksud bukan menthareqatkan

orang lain tetapi dalam rangka membina mental dan spiritual serta aqidah pada

murid-muridnya khususnya yang beragama Islam itupun tanpa paksaan bagi

mereka yang berkenan untuk bergabung pada Majelis Zikirnya yang terkenal

dengan Majelis Zikir "adem ati" yang mengamalkan ajaran guru Mursyid TQN

dari Mursyid Abah Anom. Dzikrullâh dimaksudkan sebagai alat penenang hati,

10
Cecep Alba, Tasawuf dan Tarekat: Dimensi Esoteris Ajaran Islam, (Bandung, PT
Remaja Rosdakarya 2014), h.164
39

penyembuhan segala penyakit hati, pembersih hati, dan sebagai alat peningkatan

iman kepada Allah.11

11
Zaenal Abidin, Peranan Inabah Pondok Pesantren Suryalaya, (Tasikmalaya : 2006) h.
34
BAB IV

TERAPI ZIKIR SEBAGAI REHABILITASI PEMAKAI NARKOBA

A. Konsep Inabah

Inabah merupakan istilah yang berasal dari bahasa Arab yakni anâba,

ya’nibu, yang artinya adalah kembali.1 Istilah ini di gunakan pula dalam al-Qur’an

yakni dalam surat Luqman (31 ayat ke-15); surat al-Syura (42 ayat ke-10); surat

Al-Zumar (39 ayat ke-54).

             

Artinya: dan Kembalilah kamu kepada Tuhanmu, dan berserah dirilah


kepada-Nya sebelum datang azab kepadamu kemudian kamu tidak dapat ditolong
(lagi).2
Makna dari (kembalilah kalian kepada Tuhanmu), maksudnya adalah

kembalilah kalian kepada Allah SWT dengan meninggalkan maksiat dan disertai

dengan rasa penyesalan yang mendalam atas segala kesalahan yang telah terlanjur

dilakukan dan diikuti keinginan kuat untuk tidak mengulanginya lagi.3 Menurut

al-Qusyairi, seorang pakar dan pengamal tasawuf, berpendapat bahwa kata Al-

Inabah adalah kembali kepada Allah dengan sempurna, yaitu kembali kepada

Allah karena terdorong oleh rasa malu kepada Allah apalagi dengan aneka

limpahan karunia-Nya.4

Dalam literatur kajian ilmu Tasawuf Islam dikenal pula istilah Inabah yang

berarti kembali kepada Allah. Maksudnya adalah mengembalikan orang dari

1
Dr. Syarifah Gustriawati Putri, A. Rahmat Rosyadi & Didin Saepudin. “Metode
Pendidikan Islam dalam Penanggulangan Penyalahgunaan Narkoba bagi Remaja di Pondok
Remaja Inabah Suryalaya Tasikmalaya”. Jurnal TA'DIBUNA, 4 (1), 2015.
2
Al-Qur’an Surat Al-Zumar (39 ayat ke-54).
3
Muhammad Husain, TafsirRuhulMa’ani juz13, (Beirut, Dar Al-Fikar, tanpa tahun) hlm.
25
4
Al-Qusyairî, Abû al-Qâsim al, and Karim bin Hawazin. "Risalah al-Qusyairiyah fi ‘ilm
al-Tashawwuf." Ttp: Dâr al-Khair, tt (1990).

40
41

perilaku yang selalu menentang kehendak Allah atau maksiat, kepada perilaku

yang sesuai dengan kehendak Allah atau berperilaku taat. Istilah ini

dikembangkan oleh Abah Anom sebagai konsep perawatan remaja yang nakal

dalam berbagai bentuk penyakit kerohanian.5

Dari hasil wawancara peneliti kepada salah satu pembina Pondok Inabah

yaitu Bapak Riad Jamil, S.Pd.i., MM. bahwa, awalnya Inabah ini adalah metode

beribadah namun lama kelamaan ada efeknya untuk menyembuhan bagi korban

pemakai narkoba, dan ada pula yang masuk karena depresi, stres dan sebagainya.

Rata-rata dari semua masalah ini adalah disebabkan oleh adanya pertengkaran

dalam keluarga. Karena setiap anak ketika keluarganya hancur mereka merasa

terabaikan tidak ada figure orang tua, dan pada akhirnya mereka lari kejalan

karena orang tuanya sibuk masing-masing.6 Dari sinilah Pondok Inabah terus

berkembang hingga saat ini.

Pondok Inabah sebagai metode, baik secara teoritis maupun praktis yang

berlandaskan al-Quran, Hadits dan Ijtihad para ulama. Para korban NAPZA yang

berhubungan dengan obat-obatan terlarang itu dianggap berdosa karena

melakukan maksiat. Sedangkan dalam ajaran Islam orang yang melakukan dosa,

mau itu dosa besar ataupun kecil harus segera bertaubat meminta ampunan kepada

Allah. Taubat secara etimologi, berarti kembali dari dosa kepada ketaatan kepada

perintah Allah dan rosul-Nya. Sedangkan dalam terminologi Islam, taubat adalah

meninggalkan kejelekan disertai rasa penyesalan karena melakukannya serta

5
Puji lestari, “Metode Terapi dan Rehabilitasi Korban NAPZA”. Jurnal DIMENSI,
Volume 6, No. 1, Maret 2012, h. 8
6
Wawancara dengan Riad Jamil, tanggal 11 agustus 2018 dikantor Yayasan Serba Bakti
Pon-Pes Suryalaya, Tasikmalaya.
42

dibarengi bersama tujuan yang kuat untuk tidak melakukannya lagi.7 Dalam dunia

tasawuf, taubat berarti menyesali apa yang telah berlalu dan beristiqomah untuk

melakukan segala yang suci.

Di dalam terapi Inabah seseorang yang telah bertaubat kepada Allah

diupayakan dan dikondisikan agar selalu meningkatkan ibadahnya dengan

memperbanyak dzikrullâh, memperbanyak berbagai shalat-shalat sunnat, mandi

taubat, puasa, manaqib, khataman dan sebagainya. Kerena taubat bukan hanya

sekedar mengucap istigfar melainkan harus diikuti dengan aksi nyata dan praktek

untuk lebih meningkatkan ibadah kepada Allah dan selalu berusaha mengingat

kepada-Nya (dzikrullâh) agar tidak kembali dan selalu dijaga dari melakukan

berbagi dosa. Berbagai pembiasaan diatas adalah sebagai proses agar terbiasa

mengolah jiwa dan raga kita agar selalu taat kepada Allah dan menjauhi segala

apa yang dilarang oleh-Nya. Karena perilaku pembiasaan berbuat baik itu sangat

sulit, apalagi untuk berusaha istiqomah beribadah kepada Allah. 8

B. Kondisi Jiwa Pemakai Narkoba

Masa remaja merupakan masa transisi dari masa kanak-kanak menuju


dewasa. Pada masa ini, pengaruh teman kelompok sangat dominan terhadap
penyalahgunaan narkotika oleh remaja. Remaja yang berteman dengan pemakai
narkotika umumnya mudah terpengaruh dan terlibat dalam penyalahgunaan
narkotika. Hal ini disebabkan pada masa transisi yang labil. Mereka selalu ingin
mencoba sesuatu walaupun mereka belum mengetahui manfaat dan akibat yang
ditimbulkannya. Penyalahgunaan narkotika oleh remaja, disatu pihak adalah
akibat kelalaian orang tua, dan dilain pihak adalah kurangnya pengertian dari
kalangan remaja itu sendiri, jiwa rasa ingin tahu yang tinggi, dan ingin mencari

7
Muhammad Syaiful Hidayat dan Yunus Hanis Syam, Mengetuk Pintu Taubat, (Mutiara
Media, Yogyakarta 2009), h. 13
8
Alhamuddin, Agama Dan Pecandu Narkoba : Etnografi Terapi Medote Inabah, Bogor,
2015, h. 42
43

identitas diri. Masalah kenakalan remaja khususnya penyalahgunaan narkotika


atau obat telah sangat memprihatinkan.

Suatu kebohongan mengenai narkoba ialah bahwa narkoba dapat


membantu seseorang lebih kreatif. Kenyataan sesungguhnya sangat berbeda.
Dengan menggunakan narkoba seseorang yang bersedih tidak akan berhasil
mendapatkan rasa bahagia. Narkoba membuat seseorang naik ke tingkat ceria,
tetapi pada saat efek narkobanya menghilang, dia akan terjatuh ke tingkat emosi
yang lebih rendah daripada sebelumnya. Dan setiap kali, terjatuh emosionanya
akan lebih dalam dan mendalam. Akhirnya, narkoba akan menghancurkan semua
kreativitas yang dimiliki seseorang. Bukan hanya kreativitas saja tetapi narkoba
akan membuat seseorang ingin dan selalu ingin memakainya, bagaimanapun
caranya ketika seseorang sudah ketergantungan narkoba mereka akan berbuat
apapun bahkan melukai diri sendiri ataupun orang lain. Narkoba juga sangat
mempengaruhi pikiran seseorang, ketika seseorang mengingat sesuatu, pikiran itu
sangat cepat dan informasi datang kepadanya dengan cepat. Tetapi narkoba
mengaburkan memori, menyebabkan memori yang kosong di sana sini. Bila
seseorang mencoba mendapatkan informasi dia tidak dapat melakukannya melalui
kekacauan yang buram. Narkoba membuat seseorang merasa lamban dan bodoh
dan menyebabkan kegagalan dalam hidupnya. Dan karena dia lebih banyak
mengalami kegagalan, ia menginginkan lebih banyak Narkoba untuk
membantunya dalam menghadapi masalah, dan akan terus seperti itu.

Seperti yang dijelaskan para informen Pondok Inabah yaitu Dean dan
Rendy ketika mereka menggunakan narkoba mereka sangat merasa senang dan
tenang mereka merasa kalau mereka lebih senang sewaktu lagi mabuk. Lalu
mereka menggunakannya secara teratur. Begitu mereka sadar bahwa mereka telah
kecanduan, mengendus ganja atau narkoba merupakan bagian dari rutinitas
sehari-hari mereka. Dan setiap kali mereka berusaha berhenti, ketagihan itu
membawa mereka kembali untuk mendapatkan lebih banyak lagi.9 Efek atau rasa

9
Wawancara dengan Rendy dan Dean, tanggal 11 Agustus 2018 dikantor Yayasan Serba
Bakti Pondok Pesantren Suryalaya, Tasikmalaya.
44

kecanduan menggunakan narkoba jenis apapun akan terus ada, dan selalu muncul.
Yang bisa menghentikan itu semua adalah diri mereka sendiri walaupun ketika
seseorang atau pecandu yang ingin berhenti dari kecanduan sangatlah sulit. Ketika
mereka ingin melawan rasa sakau, mereka merasa badan mereka begitu sakit
seperti orang ingin mati, mulut kering dan tenggorokan yang sangat terasa kering,
tetapi jika ingin benar-benar sembuh maka mereka harus benar-benar melawan
rasa sakit itu dan terus dibarengi dengan mendekatkan diri kepada Allah SWT,
Yangmaha pemberi rasa sakit dan sehat.

Dan di Pondok Inabah Suryalaya ini, pada tahap pasca penyembuhan para
klien atau para alumni dianjurkan untuk tetap atau rutin hadir dalam mengikuti
jama’ah zikir Qadariyyah wa Naqsabandiyyah satu minggu sekali pada jama’ah
zikir tarekat. Tahapan ini sangat memiliki urgensi yang sangat menentukan jiwa
para klien, karena secara sosiologis mereka akan memiliki lebih banyak teman
dan lingkungan yang sehat. Menjaga dari pergaulan yang tidak baik dan
meningkatkan kualitas iman dan ilmu agama. Sedangkan secara psikologis
mereka akan mendapatkan rasa tentram, nyaman, damai dan merasa aman berada
di sekeliling kelompok orang-orang yang shaleh, dan akan merasa lebih takut
untuk mencoba hal-hal yang dibenci oleh Allah SWT.10

C. Proses Terapi Zikir Untuk Kesehatan Jiwa Pemakai Narkoba

Penyadaran diri dalam arti menanamkan kesadaran hati akan hubungan

seorang hamba dengan Tuhannya, diistilahkan dalam tradisi tarekat Qadariyyah

Naqsabandiyyah dengan tazkiyyatun nafsi atau pembersihan jiwa dari penyakit-

penyakit atau kotoran-kotoran hati. 11 penerapan tazkiyyatun nafsi sebagai metode

penyadaran diri dalam tarekat ini memiliki seperangkat ilmu atau konsep tentang

10
Kharisudin Aqib, Inabah : jalan Kembali dari Narkoba, stress, dan Kehampaan Jiwa,
(Tasikmalaya : PT Bina Ilmu Surabaya, 2005, h. 205
11
Kharisudin Aqib, Inabah : jalan Kembali dari Narkoba, stress, dan Kehampaan Jiwa,
(Tasikmalaya : PT Bina Ilmu Surabaya, 2005, h. 153
45

jiwa yang cukup mapan. Dari mulai konsep tentang jiwa dalam pendekatan

filosofis (spekulatif) sampai pada pembahasan tentang jiwa.

Faktor penyebab mabuk adalah segala sesuatu yang dapat menyebabkan

hilangnya kesadaran berpikir dan berucap, baik dengan cara dimakan, diminum,

diisap, maupun disuntikan. Bahkan pimpinan Pondok Pesantren Suryalaya KH.

Zainal Abidin Anwar memperluas pemahaman mabuk, antara lain mabuk harta,

mabuk kekuasaan, mabuk pangkat, juga mabuk cinta. Untuk menangani

penyalahgunaan NAPZA, terdapat tiga terapi yang dilakukan di Pondok Inabah.

Pertama mandi (mandi taubat), kedua shalat, ketiga zikir. Tiga hal ini dilakukan

setiap hari oleh penderita ketergantungan NAPZA.12

Pada tahap awal yaitu dimana anak bina diserahkan oleh orang tuanya agar

bisa sembuh dari obat-obat terlarang. Menurut Riad Jamil Selama pembinaan

mereka tinggal di Pondok dan pada awal masuk mental mereka tidak bisa ikut

kegiatan apapun kecuali dalam program ibadah seperti mandi taubat, shalat wajib,

shalat sunnah, zikir dan kegiatan lainnya yang berbau keagamaan, jadi mereka

harus tinggal di Pondok selama terapi. ketika sudah memasuki tahab

penyembuhan atau bina lanjut barulah mereka bisa tinggal di lingkungan

pesantren, dan harus melanjutkan pendidikannya karena bagaimanapun

pendidikannya tidak boleh tertinggal. Jadi di Pondok Inabah ini tidak boleh

memutuskan wajib belajar 12 tahun. Walaupun masa penyembuhan terkadang ada

yang lama, karena terkadang berbeda-beda ada yang 3 bulan, ada yang 4 bulan,

ada yang 5 bulan bahkan ada yang 1 tahun. Meskipun begitu pihak sekolah atau

Pondok Inabah selalu mengantar soal-soal pelajaran bagi para pasien yang

12
Puji lestari, Metode Terapi dan Rehabilitasi Korban NAPZA, DIMENSI, Volume 6, No.
1, Maret 2012, h. 9
46

bersekolah agar tidak ketinggalan dan sudah menjadi keharusan bagi pasien-

pasien ini karena kebanyakan yang masuk ke Pondok Inabah ini adalah anak-anak

remaja yang masih sekolah SMP, SMA dan yang perguruan tinggi hanya 10%

saja dan yang orang tua hanya 5% saja dan inipun bukan kasus narkoba ada yang

depresi, stress, masalah-masalah keluarga, bahkan ada yang polisi, polda, dan

dukun santet yang memang harus diluruskan hatinya.13 Dari apa yang telah

pembina sampaikan bahwa terapi Inabah ini tidak seutuhnya anak bina di kurung

atau tidak beraktifitas di luar Pondok, ketika mereka sudah dalam bina lanjutan

mereka bisa beraktifitas seperti biasanya bahkan yang berhenti sekolahpun harus

bisa melanjutkan karena bagaimanapun pendidikan sangatlah penting.

Dalam proses terapi zikir ini pada umumnya korban penyalahgunaan

NAPZA dapat di kategorikan dalam dua bagian yaitu;

a. kategori pertama adalah yang disebut korban dua dimensi, yaitu

dimana anak tersebut sebagai peminum, minuman keras, pemakai

ganja, pil atau obat. Efeknya adalah kelakuan anak tersebut 99%

berbicara bohong, munafik, minat belajar tidak ada, dan lebih jauh lagi

barang milik orang lain dianggap miliknya.

b. Kategori kedua disebut korban lima dimensi, yaitu dimana anak

tersebut disamping memakai obat-obatan yang ada di dalam kategori

pertama mereka juga menggunakan morfin, heroin, termasuk

didalamnya putaw, kokain, sabu-sabu, serta masroom atau jamur

kotoran babi dan sapi. Efeknya sangat berbahaya yaitu disamping efek

13
Wawancara dengan Riad Jamil, tanggal 11 Agustus 2018 di Kantor Yayasan Serba
Bakti Pondok Pesantren Suryalaya, Tasikmalaya.
47

kategori pertama juga segala cara dapat dilakukan, tingakat

kesadrannya sudah hilang atau lepas kontrol. 14

Sedangkan mengenai lamanya pembinaan disesuaikan dengan tingkat

ketergantungannya. Untuk kategori pertama atau dua dimensi lamanya pembinaan

antara 40-90 hari. Sedangkan untuk kategori kedua atau lima dimensi lamanya

pembinaan antara 1-2 tahun. Sedang masalah pembiayaan sepenuhnya menjadi

tanggungan orang tua Anak bina, yang besarnya tergantung kemampuan orang tua

masing-masing.

Metode penyadaran atau pembinaan korban penyalahgunaan NAPZA

merupakan satu paket kurikulum yang dilaksanakan secara intensif dan ketat.

Adapun metode yang diterapkan adalah melalui pendekatan ilâhiyah yang terdiri

dari mandi taubat, shalat fardlu dan sunnah, zikir jahr dan khofî, serta puasa.

a. Mandi taubat

Mandi Taubat Mandi taubat merupakan hal yang penting dalam proses

penyadaran korban penyalahgunaan NAPZA. Dalam pelaksanaannya, mandi

taubat dilaksanakan pada pukul 02.00 WIB sebelum melaksanakan shalat malam

atau tahajud. Menurut keyakinan pembina Pondok merupakan terapi untuk

menghilangkan racun dari tubuh penderita. Sebab, air yang dingin menyebabkan

saraf-saraf meregang dan aliran darah lebih lancar menuju ke otak. Karena mabuk

diumpamakan sebagai penyakit rohani, dengan izin Allah pasti dapat

disembuhkan dengan mandi. Mandi adalah bagian dari bersuci yang dalam ilmu

Fiqh dikenal dengan istilah Thahârah. Bersuci (Thahârah) di sini mengandung

pengertian bahwa anak bina diusahakan agar suci badan, pakaian, tempat tinggal,

14
Puji lestari, “Metode Terapi dan Rehabilitasi Korban NAPZA”. Jurnal DIMENSI,
Volume 6, No. 1, Maret 2012, h.10
48

dan segala yang digunakan dalam menempuh hidupnya, termasuk suci kalbu,

jiwa, dlomir, dan rasa. Atau sederhananya suci lahir dan suci batin.15

b. Shalat Fardlu dan Sunnah

Setelah mandi dilanjutkan dengan shalat, baik shalat wajib, shalat sunah

taubat, rawâtib, qiyâmullail, dan shalat sunah lain yang dilakukan pada sepertiga

malam (pukul 03.00). Setelah shalat dilanjutkan zikir. Shalat merupakan gerakan

fisik dan mental dalam rangka berkomunikasi dengan Allah SWT. Shalat yang

dilaksanakan dalam pembinaan atau penyadaran adalah sesuai dengan tuntutan

dalam alQur’an dan hadits yakni shalat wajib dan shalat sunah yang jadwal

pelaksanaannya disusun dalam kurikulum yang telah ditentukan.16 Adapun shalat-

shalat yang harus dikerjakan meliputi:

1. Shalat fardlu 17 raka’at

2. Shalat sunnah rawatib 16 raka’at

3. Shalat sunnah nawafil 49 raka’at dengan rincian ;

 Dhuha 8 raka’at,

 Lidafil Bala’i 4 raka’at,

 Awwabin 6 raka’at,

 Taubah 2 raka’at,

 Birrul Walidain 2 raka’at,

 Syukrul Nikmat 2 raka’at,

 Sunnah Mutlak 2 raka’at,

 Istikharah 2 raka’at,

15
Kharisudin Aqib, Inabah : jalan Kembali dari Narkoba, stress, dan Kehampaan Jiwa,
(Tasikmalaya : PT Bina Ilmu Surabaya, 2005, h.176
16
Puji lestari, Metode Terapi dan Rehabilitasi Korban NAPZA, DIMENSI, Volume 6, No.
1, Maret 2012, h.12
49

 Hajat 2 raka’at,

 Tahajud 12 raka’at,

 Tasbih 4 raka’at,

 Witir 3 raka’at.
17
Jumlah semuanya ada 49 raka’at. Semua jenis shalat diatas dilakukan

secara berjamaah dengan dipimpin oleh pembina Inabah atau asistennya dimana

semua anak bina yang memiliki banyak ragam pemahaman keagamaan menjadi

makumumnya. Suasana shalat berjamaah tersebut terkadang terlihat lucu dan

unik. Karena diantara shalat yang dilakukan oleh anak bina ada yang terlihat

khusyuk sekali dan ada juga yang asal ikut saja. Bahkan dengan gerakan yang

salah-salah dan bahkan bergerak-gerak semaunya sendiri. Ada juga yang hanya

duduk-duduk saja. Kegiatan shalat berjamaah ini selain digerakkan oleh pembina

atau asisten pembina juga digerakan oleh para anak bina yang sudah senior (yang

lebih sembuh) atau lebih tinggi tingkat kesadarannya.18

Penerapan shalat sebagai salah satu metode tazkiyyatun nafsi didasarkan

pada pemikiran bahwa shalat mempunyai kekuatan besar atau hikmah yang dapat

mempengaruhi pribadi seseorang agar yang melakukan hal yang keji atau berbuat

jahat seperti (perjudian, pencurian, pembunuhan, perzinaan, minum-minuman

keras dan sejenisnya) dan munkar (yaitu segala perbuatan yang bersifat destruktif

dan narkhis). Hal ini didasarkan pada firman Allah SWT. “Sesungguhnya shalat

itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar”. (Q.S. al-Ankabut

(29) : 45).

17
Shohibulwafa Tajul Arifin, IBADAH Sebagai Metode Pembinaan Korban
Penyalahgunaan Narkotika dan Kenakalan Remaja, ( Tasikmalaya : PT Mudawwamah
Warohmah, Yayasan Serba Bakti 2005, h. 4
18
Kharisudin Aqib, Inabah : jalan Kembali dari Narkoba, stress, dan Kehampaan Jiwa,
(Tasikmalaya : PT Bina Ilmu Surabaya, 2005, h.181
50

c. Zikir Jahr dan Khofî

Zikir merupakan bagian dari ibadah yang diperintahkan oleh Allah SWT.

Setelah mandi taubat dan dianggap mulai timbul kesadarannya, anak bina

kemudian meneruskan proses selanjutnya dengan diarahkan agar mengenal,

mengesankan, dan mencintai Allah SWT. Pengarahan itu dilakukan dengan

merawat kalbunya melalui proses zikir yang disebut talqin zikir.

Dalam hal ini disyaratkan talqin zikir tersebut diajarkan oleh seorang

mursyid yang silsilahnya bersambung hingga Rasulullah. Perlunya talqin dari

seorang mursyid karena fungsi talqin ada dua yaitu: pertama, untuk memberikan

pengatahuan formalitas yang bersifat lahiriyah tentang kalimat taqwa bagi Anak

bina. Kedua, untuk memberikan pengetahuan yang hakiki yaitu untuk

menghidupkan hati nurani Anak bina. Memang pemberian ilmu yang hakiki

tentang kalimat taqwa ini hanya mungkin dihidupkan oleh hati nurani yang hidup

pula, sesuai dengan petunjuk al-Qur’an dalam Surat Muhammad (47:19). Talqin

zikir merupakan suatu proses awal seseorang akan mempelajari tasawuf atau

Tarekat Qodariyyah Naqsabandiyyah. Dengan talqin zikir oleh Abah Anom

terhadap korban penyalahgunaan NAPZA diharapkan dapat membangunkan

tingkat kesadarannya, sehingga timbul penyesalan dan mengetahui akan segala

kesalahan atau dosa yang telah dilakukannya yang selama ini tidak disadarinya.

Adapun zikir yang dilaksanakan dalam Tarekat Qodariyyah Naqsabandiyyah ada

dua macam yaitu zikir jahr dan zikir khofî.19

19
Sri Mulyati, Peranan Tarekat Qadariyyah Naqsabandiyyah: Dengan Referensi Utama
Suyalaya, (Kencana Prenada Media, Jakarta 2010), H. 387
51

Zikir jahr yaitu mengucapkan kalimat tauhid yang terdiri dari pernyataan

nafi (negasi) dan itsbat (menetapkan). Pernyataan nafi adalah lâilâh dan

pernyataan itsbat adalah illallâh. Jika dilakukan berkesinambungan, zikir ini dapat

berfungsi menghilangkan syirik jali dan khofi mendatangkan sifat ikhlas,

melepaskan kalbu dari segala yang menhalangi hubungannya dengan Allah,

membersihkan jiwa dari segala sifat tercela, menghilangkan sifat-sifat kehewanan

manusia, mendatangkan pengetahuan yang diperoleh dari Allah, mendatangkan

pengetahuan tentang rahasia yang menampakkan keagungan Allah. zikir jahr

dapat berfungsi menghidupkan kembali kalbu anak bina atau siapapun yang

mengamalkannya jika zikir itu diajarkan melalui proses dari seorang mursyid;

dilakukan dalam keadaan suci (berwudlu); dilakukan dengan suara kuat; dan

sesuai dengan petunjuk Rasul.

Sedangkan zikir khofi dilakukan oleh kalbu (hati), dalam hal ini hati harus

selalu ingat dan menyebut nama Allah. Zikir khofî adalah metode untuk

menanamkan dan membina komponen keimanan pertama dan utama. Al-hadist

mengatakan: Lâ yakum al-sa’at alawajh al-ardli man yaqul Allah. Di muka bumi

ini tidak akan terjadi kiamat bagi orang yang mengucapkan Allah. Teknik zikir

khofî harus ditalqin oleh mursyid sebagaimana Rasul mentalqin sahabatnya Abu

Bakar al-Shidiq. Dengan demikian melalui zikir Anak bina dialihkan dari

kelezatan yang bersifat halusinasi kepada kelezatan yang bersifat hakiki, yakni

“melihat” Allah dengan cermin di hatinya.20

Zikir adalah komitmen seseorang untuk senantiasa menyebut dan

mengingat akan asma Allah, menanamkan suatu kesadaran bahwa tiada Tuhan
20
Puji lestari, Metode Terapi dan Rehabilitasi Korban NAPZA, DIMENSI, Volume 6, No.
1, Maret 2012, h.12
52

selain Allah. Metode zikir akan menjadi autoterapi atas ketergantungan narkoba

pada diri seseorang. Orang yang melakukan zikir dengan serius dan berulang-

ulang akan merasakannya sebagai katarsis (kanalisasi psikologi), bahkan insight

dan ASC. Khususnya ketika seseorang yang sedang atau sudah talqin (pengajaran

zikir) oleh guru mursyid dalam hal ini di Tasikmalaya dipegang oleh Abah Anom.

Karena saat menyaksikan kebesaran karisma sang mursyid, seorang yang sedang

menerima talqin tidak jarang merasa terharu dan mengalami penyadaran yang luar

biasa, bahkan sampai menangis tersedu-sedu.21

d. Puasa

Puasa merupakan ajaran pokok dalam Islam dan dalam rukun Islam yang

ke lima. Ajaran puasa memiliki nilai tazkiyyatun nafsi yang cukup pentig karena

ketika puasa bisa menahan dari godaan setan seperti menahan diri dari makan dan

minum, menahan diri agar tidak emosi, menahan untuk tidak melakukan

hubungan seks. Yang disertai dengan ibadah kepada Allah akan meningkatkan

kualitas jiwa dan memeperlemah daya hewani dan potensi primitif manusia.

Puasa menurut agama Islam ada dua yaitu puasa wajib (ramadhan, kifârat,

nazar), dan puasa sunnah. Tetapi biasanya yang menjadi pembahasaan dan

glosarium tasawuf adalah puasa sunnah kerena puasa wajib bagi seorang sufi atau

mutasawwif sudah merupakan hal yang pasti. Dalam dunia tasawuf, puasa

merupakan metode tazkiyyatun nafsi.22 Karena hikmah yang terkandung

didalamnya mampu menhan diri dari dorongan daya primitif, bahkan

menyehatkan jiwa dan raga.

21
Kharisudin Aqib, Inabah : jalan Kembali dari Narkoba, stress, dan Kehampaan Jiwa,
(Tasikmalaya : PT Bina Ilmu Surabaya, 2005, h.185
22
Kharisudin Aqib, Inabah : jalan Kembali dari Narkoba, stress, dan Kehampaan Jiwa,
(Tasikmalaya : PT Bina Ilmu Surabaya, 2005), h.191
53

Puasa merupakan terapi penunjang karena tidak semua diharuskan melalui

kegiatan ini. Bagi mereka yang sudah baik dan sadar dianjurkan untuk

melaksanakan puasa Senin dan Kamis, puasa tiga hari setiap bulan, kecuali puasa

fardlu pada bulan Ramadlan seluruh anak bina diharuskan untuk

melaksanakannya. Di samping kegiatan-kegiatan yang sifatnya religius tadi, juga

ada kegiatan untuk menghilangkan rasa jenuh para anak bina yaitu kegiatan untuk

olah raga (seperti main bola, basket ball, volley ball, tenis meja, jogging, dan lain-

lain), yang waktunya sore hari setelah selesai shalat Ashar. Mereka juga diberi

fasilitas televisi dan alat musik gitar untuk rileksasi yang dimaksudkan untuk

meningkatkan kesehatan fisik, kebugaran, dan merangsang kembali timbulnya

gairah hidup.

D. Pengaruh Terapi Zikir Bagi Kesehatan Jiwa Pemakai Narkoba

jelaslah bahwa sebab dari segala penyakit hati itu adalah Ghoflatun

Illallâh atau lupa kepada Allah, lupa hati, lupa ingatannya kepada Allah, sebab

hati dan ingatannya telah ditimbuni melulu oleh yang lain, selain Allah. Hai dan

ingatannya, terisi oleh pamrih lainnya, seperti harta kekayaan, kemuliaan, pangkat

serta jabata, kedudukan pujian serta sanjungan lainnya.23

Pada awal penerapan terapi Inabah pada umumnya dari beberapa informan

sering dibarengi dengan penolakan, tetapi setelah informan tinggal beberapa lama

dalam komunitas anak bina Inabah. Para informan mulai dapat melaksanakan

terapi dan mulai dapat merasakan manfaat dari terapi yang dilakukannya walau

terkadang harus dipaksakan. Setelah adanya proses pelaksanaan terapi yang

23
Shohibulwafa Tajul Arifin, Akhlaqul Kariimah Akhlaqul Mahmudah Berdasarkan
Mudaamawatu Dzikrillah, kutamas Ofset, Suryalaya, 1983, h. 9
54

dipaksakan secara berulang-ulang lambat laun informan anak bina dapat

menyesuaikan diri dan beradaptasi dengan terapi yang dilaksanakan.

1. Gambaran Informan Penelitian

Setelah melakukan observasi, peneliti hanya bisa menemui dua anak bina

saja yakni; Rendy dan Dean Nugraha sebagai informan, mereka masih SMA dan

kebetulan bersekolah di Yayasan Serba Bhakti Pondok Pesantren Suryalaya,

dengan pertimbangan pada kedua anak bina tersebut diatas sudah pulih kesadaran

dan bisa diajak berkomunikasi bahkan sudah melakukan aktifitas sekolah bersama

anak-anak normal lainnya. Penelitian ini dilakukan pada tanggal 11,12,13 Agustus

2018. Pelaksanaan terapi di Inabah yang padat, yang dimulai dari pukul 02.00

sampai pukul 22.00 WIB pada setiap harinya. Konsentrasi terapi Inabah berupa

kegiatan-kegiatan ibadah yang harus dilakukan para anak bina dari dini hari

hingga malam hari. Kegiatan pengumpulan data penelitian, seperti wawancara

dengan mereka terpaksa saya lakukan dengan mereka disela-sela waktu istirahat

sekolah mereka.

2. Pandangan Terhadap Terapi Inabah Per Informan

Kedua anak bina yang menjadi informan penelitian saat ini masih tercatat

sebagai anak bina Inabah dan sudah termasuk anak bina yang sudah sembuh. Dari

kedua informan tersebut dua-duanya merupakan korban penyalahgunaan narkoba

jenis ganja. Pandangan anak bina saya fokuskan pada pandangan anak bina

terhadap terapi mandi Taubat, shalat Tahajud dan zikir. Hal ini dikarenakan

penerapan terapi mandi Taubat, shalat Tahajud dan zikir bagi orang kebanyakan

merupakan sesuatu yang sangat berat untuk dilakukan. Berikut ini hasil penelitian

yang telah dilaksanakan :


55

a. Hasil observasi Informan I

Dean Nugraha adalah seorang yang memiliki tinggi sedang sekitar 160an

cm, berkulit hitam, berpenampilan rapi, bicaranya sopan, agak terbuka dan ramah,

dia berasal dari Bandung. Selama wawancara dia menunjukkan sikap yang

bersahabat, ia tanpa sungkan bersedia bercerita tentang dirinya, bagaimana ia

masuk Pondok Inabah, bagaimana ia terjerat narkoba. Dari cara ia menyampaikan

ucapannya saya mempunyai kesan bahwa dia adalah orang realistis dengan

kehidupan.

Saya bisa masuk Inabah karena memakai narkona jenis ganja, dan saya

memakai ganja ini agar sedikit tenang ingin coba-coba lah, karena orang tua saya

broken home, dan dirumah saya merasa tidak dianggap, lalu saya cari-cari

perhatian dengan pakai-pakai narkoba. Saya memakai ganja ini sekitar 1,5 tahun,

lalu nenek saya menyarankan untuk masuk Pondok Inabah. 24

 Pandangan Informan saat mengikuti terapi mandi Taubat

Pertama kali mengikuti terapi mandi malam Dean merasa malas. Baginya

mandi malam sama saja cari penyakit. Awal mengikuti terapi mandi malam ia

rasakan sebagai hal yang amat sangat memberatkan dan rutinitas mandi malam

baginya adalah hal yang sangat membosankan. Setelah beberapa kali memaksakan

terapi mandi ia merasakan pada dirinya benteng, yang menghalanginya sakaw.

Setelah pengalaman mandi yang ia rasakan selanjutnya mandi malam baginya

menjadi “pelarian wajib” ketika perasaan ingin nyandu datang. Saat ini ia

mengucapkan syukur alhamdulillah karena sudah pulih dan ia bersyukur karena

masih diberikan kesempatan untuk bertobat.

24
Wawancara dengan Dean Nugraha, tanggal 11 Agustus 2018 dikantor Yayasan Serba
Bakti Pondok Pesantren Suryalaya, Tasikmalaya.
56

 Pandangan Informan saat mengikuti terapi shalat Tahajud

Awalnya terapi shalat menurut Dean sungguh berat karena dirinya harus

bangun pukul 02.00 WIB, mandi taubat dan shalat Tahajud, shalat sunnah dan

zikir hingga waktu subuh tiba. Tapi menurut penuturannya lama kelamaan ia

dapat mengikuti shalat Tahajud. Ia mengakui bahwa pada awal ia melaksanakan

shalat Tahajud karena terpaksa. Ia mengakui bahwa penyakit dirinya ketika shalat

Tahajud adalah mengantuk, kalau sudah begitu biasanya ia balik lagi ambil air

wuḏu. Saat ini ia sudah dapat mengikuti terapi shalat. Ia juga dapat merasakan

ketenangan hatinya ketika mengikuti shalat Tahajud.

 Pandangan Informan saat mengikuti terapi zikir

Saat mengikuti terapi zikir Dean merasakan suasana damai, terutama

ketika ia melafalkannya pada waktu malam hari sehabis shalat tahajud. Ia

merasakan ketenangan dan kedamaian tersendiri. Ia mengakui bahwa zikir TQN

membuat dirinya tenang dan lebih khusyu’ sebagaimana disampaikannya pada

pada saat wawancara; “Kalau menurut saya sih disini bagus kak penanganannya,

soalnya disini ada zikir jadi kita lebih khusyu’, kita jadi lebih tenang dan merasa

damai tidak ada beban”.

 Keinginan Informan tentang harapan dan cita-cita

Dean berharap dapat berkumpul kembali dengan keluarga. Ia juga

berharap dapat menunjukkan bahwa dirinya sudah berubah dan tak ingin

menyakiti perasaan kedua orangtuanya untuk kedua kalinya dan menjadi anak

yang berbakti bisa membanggakan orang tua. Dean memiliki cita-cita untuk masa

depannya ia ingin bersekolah dengan benar dan disiplin dan tidak ingin lagi

terjerumus perbuatan dulu yang ia jalani.


57

b. Hasil observasi Informan II

Rendy wajahnya ganteng, bahasanya datar, cenderung terjaga dan malu-

malu. Rendy adalah seorang anak pecandu narkoba ia memakai jenis ganja.

Awalnya bisa masuk Inabah karena pergaulan yang disebabkan masalah orang

tuanya yang broken home. Tuturnya “saya merasa sendiri seperti tidak ada teman,

pertama saya mencoba hanya sekedar ingin tahu saja terus lama kelamaan saya

kecanduan.25

 Pandangan Informan saat mengikuti terapi mandi Taubat

Terapi mandi bagi Rendy cukup merepotkan, apalagi mandi malam.

Sampai saat ini katanya ia masih sering mangkir terapi mandi malam. Ia beralasan

menggigil kedinginan jika mandi malam (mandi Taubat). Kalaupun terpaksa

melakukan Rendy melakukannya setengah hati.

 Pandangan Informan saat mengikuti terapi shalat Tahajud

Menurut Rendy terapi di Inabah yang paling berat adalah terapi shalat,

apalagi shalat Tahajud. Ia diharuskan shalat seharian. Sedangkan ia jarang

melakukannya dirumah. Menurutnya terapi shalat di Inabah terlalu banyak

jenisnya dan sangat melelahkan. Tetapi ia sendiri terkadang bingung bagaimana

jika ia sendirian yang tidak melakukannya

 Pandangan Informan saat mengikuti terapi zikir

Rendy mengatakan bahwa pada saat terapi zikir ia merasakan ada suasana

aneh yang ia rasakan. Ia hanya memberikan gambaran bahwa pada saat terapi

zikir, terutama zikir jahr secara bersama-sama seperti ada sesuatu yang dingin

25
Wawancara dengan Rendy, tanggal 11 Agustus 2018 dikantor Yayasan Serba Bakti
Pondok Pesantren Suryalaya, Tasikmalaya.
58

masuk pada dirinya. Selama proses terapi zikir menurut pengakuannya hatinya

menjadi rada tenang.

 Pandangan Informan selama Proses Terapi

Selama berada di Inabah, Rendy mengungkapkan bahwa dirinya masih

belajar menyesuaikan diri. Ia menuturkan bahwa dirinya memang belum bisa

melakukan terapi Inabah dengan sempurna. Ia mengungkapkan perasaannya yang

terkekang dengan ketatnya jadwal kurikulum di Inabah . Keinginannya adalah

secepat mungkin pulang kerumah.

 Keinginan Informan tentang harapan dan cita-cita

Rendy berharap dapat berkumpul kembali dengan keluarganya. Rendy

ingin sembuh total dan tidak lagi melakukan perilakunya yang menyimpang. Ia

merasa kasihan dengan kedua orangtuanya selama ini. Ia ingin membahagiakan

kedua orangtuanya. Ia ingin menunjukkan bahwa dengan masuk ke Inabah

membuat dirinya anak yang berbakti.

3. Analisa Pandangan Anak bina Terhadap Terapi Inabah

Berdasarkan penelitian yang dilakukan pada kedua informan Anak bina,

didapati bahwa dari kedua Anak bina merupakan bekas pecandu Narkoba berjenis

ganja. Dari hasil wawancara dengan informan nampak adanya kesamaan

keinginan dari para informan untuk sembuh dan keinginan berkumpul dengan

keluarganya. Selain itu juga harapan informan untuk dapat diterima kembali oleh

keluarga dan lingkungan sekitarnya. Motif atau tujuan informan mengikuti terapi

Inabah pada umumnya bertujuan untuk dapat memperkuat motivasi untuk

melakukan hal-hal yang benar, mampu mengurangi emosi, mampu mengubah

kebiasaan mereka yang dulunya seorang pecandu sekarang tidak lagi,


59

meningkatkan insight (kesadaran) mereka dan mampu meningkatkan hubungan

antar pribadi serta menjadi manusia yang bermanfaat serta keinginan untuk

melanjutkan cita-citanya selama ini. Pada awal penerapan terapi Inabah pada

umumnya dari beberapa informan sering dibarengi dengan penolakan, tetapi

setelah informan tinggal beberapa lama dalam komunitas Anak bina Inabah. Para

informan mulai dapat melaksanakan terapi dan mulai dapat merasakan manfaat

dari terapi yang dilakukannya walau terkadang harus dipaksakan. Setelah adanya

proses pelaksanaan terapi secara berulang-ulang lambat laun informan Anak bina

dapat menyesuaikan diri dan beradaptasi dengan terapi yang dilaksanakan.

Disinilah terbukti bahwa untuk menyembuhkan hati yang keras harus

dengan cara yang halus maksudnya adalah ketika seseorang yang hatinya sudah

terpenuhi hawa nafsu setan akan sangat sulit untuk sembuh jika hanya di

sembuhkan oleh medis saja, karena jika hanya dengan medis saja mereka akan

kembali dan ingin mencoba dan mencoba lagi, karena tidak dibekali dengan iman.

Oleh karena itu mereka harus mengikuti rehabilitasi dengan cara pendekatan

dalam keagamaan atau spiritualitas yaitu mendekatkan diri kepada Yangmaha

penggerak hati, pencipta segala yang ada. Karena pada umunya seseorang yang

menggunakan obat-obat terlarang adalah orang-orang yang kebanyakan

mempunyai masalah dalam hidupnya, namun sayangnya mereka lari ke jalan yang

tidak benar padahal setiap manusia didunia ini pasti akan mendapatnya

masalahnya masing-masing. Dengan mereka mendekatkan diri kepada Allah hati

akan terasa tenang dan beban hidup akan terasa ringan.


BAB V

PENUTUP

A. Kesimpulan

Kesimpulan dari penelitian ini adalah sebagai berikut: pertama, Inabah

merupakan istilah yang berasal dari bahasa Arab yakni anâba, ya’nibu, yang

artinya adalah kembali. Dalam literatur kajian ilmu Tasawuf Islam dikenal pula

istilah Inabah yang berarti kembali kepada Allah. Maksudnya adalah

mengembalikan orang dari perilaku yang selalu menentang kehendak Allah atau

maksiat, kepada perilaku yang sesuai dengan kehendak Allah atau berperilaku

taat.

Proses atau metode terapi zikir di Pondok Inabah Suryalaya ini pada tahap

awal yaitu dimana anak bina diserahkan oleh orang tuanya agar bisa sembuh dari

obat-obat terlarang. Dalam proses terapi zikir ini pada umumnya korban

penyalahgunaan NAPZA dapat di kategorikan dalam dua bagian yaitu; kategori

pertama adalah yang disebut korban dua dimensi, kategori kedua disebut korban

lima dimensi. Adapun metode terapi zikir yang diterapkan di Pondok Inabah

Suryalaya adalah melalui pendekatan ilâhiyah yang terdiri dari mandi taubat,

shalat fardlu dan sunnah, zikir jahr dan khofî, serta puasa.

Berdasarkan penelitian yang sudah peneliti lakukan, pada awal penerapan

terapi Inabah pada umumnya dari beberapa informan sering dibarengi dengan

penolakan, tetapi setelah informan tinggal beberapa lama dalam komunitas anak

bina Inabah. Para informan mulai dapat melaksanakan terapi dan mulai dapat

merasakan manfaat atau pengaruh dari terapi yang dilakukannya walau terkadang

harus dipaksakan. Setelah adanya proses pelaksanaan terapi secara berulang-ulang

60
61

lambat laun informan anak bina dapat menyesuaikan diri dan beradaptasi dengan

terapi yang dilaksanakan. Dan mereka sedikit demi sedikit akan bisa merasakan

ketenangan hati dan jiwa karena setiap hari nya selalu di sirami dengan dzikrullâh

dan hanya mengingat Allah SWT. Metode terapi zikir ini sangat efektif bagi para

pemakai narkoba, agar mereka bisa kembali berkumpul dengan keluarganya dan

bisa diterima kembali ditengah-tengah masyarakat, dan orang-orang di sekeliling

nya.

B. Saran-Saran

Hasil penulisan skripsi ini diharapkan bisa membawa manfaat dan

wawasan bagi penulis dan juga bagi pembacanya terutama yang berhubungan

dengan terapi zikir sebagai proses rehabilitasi pemakai narkoba. Bagi penulis

selanjutnya skripsi ini diharapkan bisa membantu dalam referensi

mengembangkan pengetahuan tentang penulisan skripsi yang berhubungan

dengan terapi zikir sebagai proses rehabilitasi pemakai narkoba agar skripsi ini

bisa dikembangkan dikemudian hari.

Penulis sangat menyadari bahwa tulisan ini masih sangat kurang dan jauh

dari sempurna. Karena itu, kristik, masukan dan saran sangat penulis harapkan

untuk memeprbaiki ini skripsi ini dimasa yang akan datang agar lebih sempurna

lagi. Semoga skripsi ini dapat bermanfaat.


Daftar Pustaka

Abidin, Zaenal. Peranan Inabah Pondok Pesantren Suryalaya, (Tasikmalaya :


2006).
Abû al-Qâsim al, Al-Qusyairî, and Karim bin Hawazin. "Risalah al-Qusyairiyah fi
‘ilm al-Tashawwuf." Ttp: Dâr al-Khair, tt (1990).
Aisyah, Pengaruh Amalan Tarekat Qadiriyyah Wa Naqsabandiyyah Terhadap
Akhlak Santri di Pondok Pesantren Suryalaya Tasikmalaya (Skripsi Fakultas
Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, 2010).
Al-Qur’an dan Terjemahan. Jakarta. Departemen Agama RI

Alba, Cecep. Tasawuf dan Tarekat: Dimensi Esoteris Ajaran Islam, (Bandung, PT
Remaja Rosdakarya 2014).
Alhamuddin. Agama Dan Pecandu Narkoba : Etnografi Terapi Medote Inabah,
(Bogor, 2015).
Aman, Saifuddin. Tasawuf Mengolah Mental Ddzikir Mengolah Jiwa Dan Raga,
(Jakarta, RUHAMA 2010).

Aqib, Kharisudin. Inabah : jalan Kembali dari Narkoba, stress, dan Kehampaan
Jiwa, (Tasikmalaya : PT Bina Ilmu Surabaya, 2005).
Arifin, “Pendidikan Berbasis Tarekat Qadiriyyah Naqsyabandiyyah (TQN) Pondok
Pesantren Suryalaya : Analisis Peran Dan Aksi K.H.A.Shohibulwafa Tajul
‘Arifin” (Study Peran dan Aksi Abah Anom Dalam Penerapan Pendidikan
Berbasis TQN di Pondok Pesantren Suryalaya Tasikmalaya). (Skripsi
Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta,
2014).

Arifin, Shohibulwafa Tajul. Akhlaqul Kariimah Akhlaqul Mahmudah Berdasarkan


Mudaamawatu Dzikrillah, (kutamas Ofset, Suryalaya, 1983).
_______, IBADAH Sebagai Metode Pembinaan Korban Penyalahgunaan Narkotika
dan Kenakalan Remaja, ( Tasikmalaya : PT Mudawwamah Warohmah,
Yayasan Serba Bakti 2005).
_______, Miftahus Shudur :Kunci Pembuka Dada, ter. KH Aboe bakar Atjeh,
(Jakarta: Kutamas-Sukabumi,1969).
Asmoro, Dwi Oktavia Sri, dan Soenarnatalina Melaniani. "Pengaruh Lingkungan
Keluarga terhadap Penyalahgunaan NAPZA pada Remaja." Jurnal
Biometrika dan Kependudukan5.1 (2017).
Eleanora, Fransiska Novita. Bahaya Penyalahgunaan Narkoba Serta Usaha
Pencegahan Dan Penanggulangannya (Suatu Tinjauan Teoritis), Jurnal
Hukum, Vol XXV, No. 1, April 2011.
Fauzia, Euis Naelah. Pengaruh Zikir Dalam penenangan Jiwa Bagi Pengikut
Tarekat Qādiriyyah wa Naqsabandiyyah: studi Kasus Pesantren Suryalaya
(skripsi Fakultas Ushuluddin dan Filsafat, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta,
2010).
Fuadi, Muhammad Masrur. Konsep Rehabilitasi Pengguna Narkotika Dalam
Perspektif Hukum Positif dan Hukum Islam, (Skripsi Fakultas Syariah dan
Hukum UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, 2015).

Furchan,Arif. Pengantar Metode Penelitian Kualitatif, (Surabaya: Usaha Nasional


1992).
Hafsah, Dede, Pengaruh Zikir Tarekat Qādariyyah wa Naqsabandiyyah (TQN)
Dalam Membentuk Mental santri: Studi Kasus Pesantren al-Atiqiyyah
Sukabumi (skripsi Fakultas Ushuluddin dan Filsafat, UIN Syarif
Hidayatullah Jakarta, 2015).
Hakim, Lukman. Pengaruh Terapi Religi Shalat dan Dzikir Terhadap Kontrol Diri
Klien Penyalahgunaan Narkotika, (Skripsi Fakultas Psikologi UIN Maulana
Malik Ibrahim Malang, 2015
Hawari, Dadang. Terapi (Detoksifikasi) dan Rehabilitasi (Pesantren) Mutakhir
(Sistem Terpadu) Pasien NAZA (Narkotika, Alkohol dan Zat Adiktif lain),
Jakarta: UI Press, 1999.
Hidayat, Muhammad Syaiful dan Yunus Hanis Syam. Mengetuk Pintu Taubat,
(Mutiara Media, Yogyakarta 2009).
Husain, Muhammad. TafsirRuhulMa’ani juz13, (Beirut, Dar Al-Fikar, tanpa tahun).

Jamil, Riad. Wawancara Inabah (Kantor Yayasan Serba Bakti Pondok Pesantren
Suryalaya, 11 Agustus 2018), Tasikmalaya.
Junaiti, Sahar and Wiwin Wiarsih. "Pengalaman Perokok Rendah Tar Dan Nikotin
Di Kota Malang." Jurnal Keperawatan 1.1 (2010).
Kartanegara, Mulyadhi. Menyelami Lubuk Tasawuf, (Pondok Petir: PT Gelora Aksara
Pratama,2006).
Lestari, Puji. Metode Terapi dan Rehabilitasi Korban Napza, DIMENSI, Volume 6,
No. 1, Maret 2012.
Maughan, Ron J., and J. Griffin."Caffeine ingestion and fluid balance: a
review." Journal of human nutrition and dietetics 16.6 (2003).
Mulyati, Sri. Peranan Tarekat Qadariyyah Naqsabandiyyah: Dengan Referensi
Utama Suyalaya, (Kencana Prenada Media, Jakarta 2010).
Nafisa, Ina Noor Khiyar. Efektivitas Metode Inabah Terhadap Self – Awareness Pada
Pencandu Alkohol (Studi Eksperimen di Pondok Inabah Pesantren
Suryalaya). Fakultas Psikologi Universitas Islam Negeri Sulthan Syarif
Kasim Riau 2010.
Nugraha, Dean. Wawancara Inabah (Kantor Yayasan Serba Bakti Pondok Pesantren
Suryalaya, 11 Agustus 2018), Tasikmalaya.
Nur, Faisal Muhammad. Perspektif Zikir di Kalangan Sufi, Jurnal, Subtantia Volume
19 No 2 Oktober 2017.
Nurhasanah, Pengaruh Psikologis Dzikir Terhadap Jamaah Tarekat Qadariyyah
Naqsabandiyyah (TQN). (Skripsi Fakultas Ushuluddin UIN syarif
Hidayatullah Jakarta, 2012).
Putri, Syarifah Gustriawati A. Rahmat Rosyadi & Didin Saepudin. “Metode
Pendidikan Islam dalam Penanggulangan Penyalahgunaan Narkoba bagi
Remaja di Pondok Remaja Inabah Suryalaya Tasikmalaya”. Jurnal
TA'DIBUNA, 4 (1), 2015.
Rahmawati, Novia. Konsep Perencanaan dan Perancangan : Pusat Terapi Dan
Rehabilitasi Bagi Ketergantungan Narkoba Dengan Pendekatan Arsitektur
Perilaku, (Skripsi, Fakultas Teknik Universitas Sebelas Maret Surakarta,
2010).
Rendy. Wawancara Inabah (Kantor Yayasan Serba Bakti Pondok Pesantren
Suryalaya, 11 Agustus 2018), Tasikmalaya.
Solihin, M. Melacak Pemikiran Tasawuf di Nusantara, (Jakarta: PT Raja Grafindo
Persada, 2005).
Sugiono. Metode Agama (Bandung: Alfabeta, 2002).

Yanny L, Dwi. Narkoba Pencegahan dan Penanganannya, (Jakarta: Elek Media


Komputindo, 2001).
Zubaidah, Siti. PENYEMBUHAN PEMAKAI NARKOBA : Melalui Terapi dan
Rehabilitasi Terpadu, (IAIN Press, Medan 2011).
https://id.wikipedia.org/ diakses pada tanggal 25 September 2018.
https://www.suryalaya.org/ver2/inabah.html. Diakses pada tanggal 13 Agustus 2018.

lifestyle.kompas.com/read/2017/09/15/../menguak-bahaya-overdosis-obat-pcc diakses
pada tanggal 12 April 2018.
KUISIONER PENELITIAN SKRIPSI

Inabah

1. Bagaimana sejarah adanya Pondok Inabah di Pondok Pesantren Suryalaya

ini?

2. Dari mana sajakah klien pemakai narkoba di Pondok Inabah ini?

3. Ada berapa banyak klien pemakai narkoba di pondok Inabah ini?

4. Dari kalangan mana sajakah Klien di Pondok Inabah ini?

5. Berapa persenkah klien anak-anak, dewasa dan tua di Pondok Inabah ini?

6. Berapa lamakah proses penyembuhan para pemakai narkoba?

7. Dan berapa lama masa bina lanjutan pemakai narkoba di Pondok Inabah?

8. Ada tahap apa sajakah yang perlu dijalani?

9. Proses ibadah apa saja yang di lakukan oleh para pemaki narkoba?

10. Setelah mereka sembuh apakah bisa beraktivitas di lingkungan pesantren

atau tidak?

11. Setelah masa bina lanjutan selesai apakah mereka meneruskan sekolah di

Pondok Suryalaya?

12. Apakah ada biaya ketika masyarakat ingin keluarga yang ketergantungan

narkoba ingin memasukan mereka ke pondok Inabah ini?


KUISIONER PENELITIAN SKRIPSI

Dzikir

1. Bagaimana Pandangan kamu saat mengikuti terapi mandi Taubat?

2. Bagaimana Pandangan kamu saat mengikuti terapi shalat Tahajud?

3. Apa pemahaman kamu tentang dzikir?

4. Apa yang kamu rasakan sebelum mengikuti terapi dzikir yang diterapkan

di Pondok Pesantren Suryalaya?

5. Apa yang membuat kamu ingin mengikuti terapi Dzikir yang ada di

Pondok Pesantren Suryalaya?

6. Apakah terapi dzikir yang ada di Pondok Pesantren Suryalaya ini sulit

untuk diikuti?

7. Apakah kamu merasa berat mengikuti terapi dzikir yang diterapkan di

Pondok Pesantren Suryalaya?

8. Apa yang kamu rasakan setelah mengikuti proses terapi dzikir di Pondok

Inabah Suryalaya?

9. Apa saja yang menjadi penghambat untuk kamu melaksanakan terapi

dzikir ini?

10. Dan apa yang membuat kamu mendorong agar terus mengikuti terapi

dzikir?

11. Setelah mengikuti proses terapi dzikir apa yang kamu rasakan atau

bagaimana pengaruhnya dalam diri kamu?

12. Apakah setelah melaksanakan terapi dzikir ini kamu tidak ingin

menggunakan narkoba lagi?


Narkoba

1. Apa yang membuat kamu ingin menggunakan narkoba?

2. Apa alasan kamu menggunakan narkoba?

3. Apa apa alasan kamu ingin mencoba narkoba?

4. Apa efek yang kamu rasakan setelah menggunakan narkoba?

5. Jenis narkoba apa yang kamu konsumsi?

6. Seberapa lama kamu memakai narkoba?

7. Dan seberapa lama kamu dalam masa pengembuhan atau masa terapi di

Pondok Inabah ini?

8. Apa cita-cita dan harapan kamu kedepannya setelah keluar dan dinyatakan

sembuh dari Pondok ini?


HASIL WAWANCARA

Nama: Riad Jamil, S.Pd.I., MM.


Alamat: Kampung Godebag, Tanjungkerta, Pagerageung Tasikmalaya, Jawa
Barat.
Jabatan: Pembina Pondok Inabah Bina Lanjut Sekaligus Kepala Sekolah Yayasan
Serba Bakti Pondok Pesantren Suryalaya.
Waktu Wawancara: Sabtu, 11 Agustus 2018, pukul 09:00 WIB, di kantor Yayasan
Serba Bakti Pondok Pesantren Suryalaya.

JAWABAN:

Dalam proses penanggulangan pasien apakah ada tingkatannya dan ketika

sudah mulai sembuh apakah ada proses lainnya?

Menurut Riad Jamil tidak sesuai ketetapan Yayasan Serba Bakti karna

memang kita ini didalam satu naungan yaitu Yayasan Serba Bakti yang

dibawahnya adalah Pondok Inabah. Terkadang ketika orang yang sedang

melaksanakan pembinaan aturannya 3 bulan yaitu 90 hari, tetapi sekarang malah

ditambah menjadi 4 bulan. Di podok Inabah ini rata-rata kliennya adalah anak-

anak sekolah yang masih dalam katagori umuran 16, 17, 18 tahun, ketika mereka

sudah di rehab selama 3 bulan akan ada binaan lanjut yang disebut bina lanjut.

Selama pembinaan mereka tinggal di Pondok dan pada awal masuk mental

mereka tidak bisa ikut kegiatan apapun kecuali dalam program ibadah seperti

mandi taubat, shalat wajib, shalat sunnah, dzikir dan kegiatan lainnya yang berbau

keagamaan, jadi mereka harus tinggal di Pondok selama terapi. ketika sudah

memasuki tahab penyembuhan atau bina lanjut barulah mereka bisa tinggal di

lingkungan pesantren, dan harus melanjutkan pendidikannya karena


bagaimanapun pendidikannya tidak boleh tertinggal. Jadi di Pondok Inabah ini

tidak boleh memutuskan wajib belajar 12 tahun. Walaupun masa penyembuhan

terkadang ada yang lama, karena terkadang berbeda-beda ada yang 3 bulan, ada

yang 4 bulan, ada yang 5 bulan bahkan ada yang 1 tahun. Meskipun begitu pihak

sekolah atau pondok Inabah selalu mengantar soal-soal pelajaran bagi para pasien

yang bersekolah agar tidak ketinggalan dan sudah menjadi keharusan bagi pasien-

pasien ini karena kebanyakan yang masuk ke pondok Inabah ini adalah anak-anak

remaja yang masih sekolah SMP, SMA dan yang perguruan tinggi hanya 10%

saja dan yang orang tua hanya 5% saja dan inipun bukan kasus narkoba ada yang

depresi, stress, masalah-masalah keluarga, bahkan ada yang polisi, polda, dan

dukun santet yang memang harus diluruskan hatinya.

Awalnya Inabah ini adalah metode beribadah namun lama kelamaan ada

efeknya untuk menyembuhan bagi korban pemakai narkoba, dan ada pula yang

masuk karena depresi, stress dan sebagainya dan rata-rata dari semua masalah ini

adalah disebabkan oleh adanya pertengkaran dalam keluarga. Karena setiap anak

ketika keluarganya hancur mereka merasa terabaikan tidak ada figur orang tua,

dan pada akhirnya mereka lari kejalan karena orang tuanya sibuk masing-masing.
HASIL WAWANCARA

Nama: Dean Nugraha.


Umur: 18 tahun.
Alamat: jl. Pasir luyu 2 Bandung, Jawa Barat.
Status: Pelajar di Yayasan Serba Bakti Pondok Pesantren Suryalaya.
Waktu Wawancara: Sabtu, 11 Agustus 2018, pukul 09:00 WIB, di kantor Yayasan
Serba Bakti Pondok Pesantren Suryalaya.

JAWABAN:
Bagaimana pandangan kamu saat mengikuti terapi mandi Taubat?

Pertama kali mengikuti terapi mandi malam Dean merasa malas. Baginya

mandi malam sama saja cari penyakit. Awal mengikuti terapi mandi malam ia

rasakan sebagai hal yang amat sangat memberatkan dan rutinitas mandi malam

baginya adalah hal yang sangat membosankan. Setelah beberapa kali memaksakan

terapi mandi ia merasakan pada dirinya benteng, yang menghalanginya sakaw.

Setelah pengalaman mandi yang ia rasakan selanjutnya mandi malam baginya

menjadi “pelarian wajib” ketika perasaan ingin nyandu datang. Saat ini ia

mengucapkan syukur alhamdulillah karena sudah pulih dan ia bersyukur karena

masih diberikan kesempatan untuk bertobat.

Bagaimana pandangan kamu saat mengikuti terapi shalat Tahajud?

Awalnya terapi shalat menurut Dean sungguh berat karena dirinya harus

bangun pukul 02.00 WIB, mandi taubat dan shalat Tahajud, shalat sunnah dan

dzikir hingga waktu subuh tiba. Tapi menurut penuturannya lama kelamaan ia

dapat mengikuti shalat Tahajud. Ia mengakui bahwa pada awal ia melaksanakan

shalat Tahajud karena terpaksa. Ia mengakui bahwa penyakit dirinya ketika shalat
Tahajud adalah mengantuk, kalau sudah begitu biasanya ia balik lagi ambil air

wudhu. Saat ini ia sudah dapat mengikuti terapi shalat. Ia juga dapat merasakan

ketenangan hatinya ketika mengikuti shalat Tahajud.

Bagaimana pandangan kamu saat mengikuti terapi dzikir?

Saat mengikuti terapi dzikir Dean merasakan suasana damai, terutama

ketika ia melafalkannya pada waktu malam hari sehabis shalat tahajud. Ia

merasakan ketenangan dan kedamaian tersendiri. Ia mengakui bahwa dzikir TQN

membuat dirinya tenang dan lebih khusyu’ sebagaimana disampaikannya pada

pada saat wawancara; “Kalau menurut saya sih disini bagus kak penanganannya,

soalnya disini ada dzikir jadi kita lebih khusyu’, kita jadi lebih tenang dan merasa

damai tidak ada beban.

Apa keinginan kamu tentang harapan dan cita-cita?

Dean berharap dapat berkumpul kembali dengan keluarga. Ia juga

berharap dapat menunjukkan bahwa dirinya sudah berubah dan tak ingin

menyakiti perasaan kedua orangtuanya untuk kedua kalinya dan menjadi anak

yang berbakti bisa membanggakan orang tua. Dean memiliki cita-cita untuk masa

depannya ia ingin bersekolah dengan benar dan disiplin dan tidak ingin lagi

terjerumus perbuatan dulu yang ia jalani.


HASIL WAWANCARA

Nama: Rendi.
Umur: 17 tahun.
Alamat: Indramayu, Jawa Barat.
Status: pelajar di Yayasan Serba Bakti Pondok Pesantren Suryalaya.
Waktu Wawancara: Sabtu, 11 Agustus 2018, pukul 09:00 WIB, di kantor Yayasan
Serba Bakti Pondok Pesantren Suryalaya.

JAWABAN:

Bagaimana pandangan kamu saat mengikuti terapi mandi Taubat?

Terapi mandi bagi Rendy cukup merepotkan, apalagi mandi malam.

Sampai saat ini katanya ia masih sering mangkir terapi mandi malam. Ia beralasan

menggigil kedinginan jika mandi malam (mandi Taubat). Kalaupun terpaksa

melakukan Rendy melakukannya setengah hati.

Bagaimana pandangan kamu saat mengikuti terapi shalat Tahajud?

Menurut Rendy terapi di Inabah yang paling berat adalah terapi shalat,

apalagi shalat Tahajud. Ia diharuskan shalat seharian. Sedangkan ia jarang

melakukannya dirumah. Menurutnya terapi shalat di Inabah terlalu banyak

jenisnya dan sangat melelahkan. Tetapi ia sendiri terkadang bingung bagaimana

jika ia sendirian yang tidak melakukannya

Bagaimana pandangan kamu saat mengikuti terapi dzikir?

Rendy mengatakan bahwa pada saat terapi dzikir ia merasakan ada

suasana aneh yang ia rasakan. Ia hanya memberikan gambaran bahwa pada saat

terapi dzikir, terutama dzikir jahar secara bersama-sama seperti ada sesuatu yang
dingin masuk pada dirinya. Selama proses terapi dzikir menurut pengakuannya

hatinya menjadi rada tenang.

Bagaimana pandangan kamu selama Proses Terapi?

Selama berada di Inabah, Rendy mengungkapkan bahwa dirinya masih

belajar menyesuaikan diri. Ia menuturkan bahwa dirinya memang belum bisa

melakukan terapi Inabah dengan sempurna. Ia mengungkapkan perasaannya yang

terkekang dengan ketatnya jadwal kurikulum di Inabah . Keinginannya adalah

secepat mungkin pulang kerumah.

Apa Keinginan kamu tentang harapan dan cita-cita?

Rendy berharap dapat berkumpul kembali dengan keluarganya. Rendy

ingin sembuh total dan tidak lagi melakukan perilakunya yang menyimpang. Ia

merasa kasihan dengan kedua orangtuanya selama ini. Ia ingin membahagiakan

kedua orangtuanya. Ia ingin menunjukkan bahwa dengan masuk ke Inabah

membuat dirinya anak yang berbakti.


Lampiran

Kegiatan penelitian dan wawancara

Gambar 1

Pondok Pesantren Suryalaya

Gambar 2

Yayasan Serba Bakti Suryalaya


Gambar 3

Pondok Inabah 15

Gambar 4
Gambar 5

Wawancara dengan kepala Sekolah Yayasan Serba Bakti PonPes Suryalaya

Riad Jamil S. Pd.I., MM.

Gambar 6

Wawancara dengan informan

Dean Nugraha (kiri) dan Rendy (kanan)


Gambar 7

Wawancara dengan Dosen IAILM

(Institut Agama Islam Latifah Mubarokiyah) Suryalaya

Dimas Yudistira, Lc.,MA.