Anda di halaman 1dari 92

KARYA TULIS ILMIAH

GAMBARAN HASIL PEMERIKSAAN HBsAg PADA IBU HAMIL


DI UPTD PUSKESMAS TARAMAN KABUPATEN OKU TIMUR

OLEH :

TRI WIDODO
NIM. 17.02.074

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN ABDI NUSA PALEMBANG


PROGRAM STUDI DIII ANALIS KESEHATAN
TAHUN 2020
KARYA TULIS ILMIAH

GAMBARAN HASIL PEMERIKSAAN HBsAg PADA IBU HAMIL


DI UPTD PUSKESMAS TARAMAN KABUPATEN OKU TIMUR

OLEH :

TRI WIDODO
NIM. 17.02.074

Diajukan untuk memenuhi persyaratan guna mencapai gelar Ahli Madya


Analis Kesehatan (A.Md.AK)

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN ABDI NUSA PALEMBANG


PROGRAM STUDI DIII ANALIS KESEHATAN
TAHUN 2020
HALAMAN PERSETUJUAN

GAMBARAN HASIL PEMERIKSAAN HBsAg PADA IBU HAMIL


DI UPTD PUSKESMAS TARAMAN KABUPATEN OKU TIMUR

Oleh :
TRI WIDODO
NIM. 17.02.074

Telah diuji dan disyahkan Sebagai Syarat Untuk Mendapat Gelar


Ahli Madya Analis Kesehatan (A.Md.AK)

Disetujui oleh :

Palembang, Agustus 2020


Pembimbing Utama Pembimbing Pendamping

(M.Ihsan Tarmizi, A.Md.AK.M.Pd) (Yulia Hariani ,S.ST.,M.Bmd)

Mengetahui,
Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Masyarakat Abdi Nusa Palembang
Ketua

H. Noer Muhammad, S.Pd., M.Kes.

ii
HALAMAN PENGESAHAN

Telah diuji dan lulus pada :

Hari : Sabtu

Tanggal : 08 Agustus 2020

Nama : Tri Widodo

Program Study : Analis Kesehatan

Judul KTI : Gambaran Hasil Pemeriksaan HBsAg Pada Ibu Hamil

di UPTD Puskesmas Taraman Kabupaten OKU Timur

Dewan Penguji :

1. M.Ihsan Tarmizi A.Md.AK.M.Pd

( ………………………………)
Ketua

2. Yulia Khairiani, S.ST.,M.Bmd

( ………………………………)
Sekertaris

3. dr. Nurhayati Ramli

( ………………………………)
Anggota

iii
DAFTAR RIWAYAT HIDUP

I. Identitas

Nama : Tri Widodo

NIM : 17.02.074

Tempat,Tgl.Lahir : Palembang, 10 Juni 1984

Jenis Kelamin : Laki-Laki

Agama : Islam

Suku/Kebangsaan : Jawa / Indonesia

Nama Orang Tua : Bapak : Sarjono ( ALM)

Ibu : Nani Yuningsih

Alamat : Jl. Sultan Mahmud Badaruddin II Rt.01 Rw.01

Desa Taraman Kec.Semendawai Suku III OKUT

II. Riwayat Pendidikan

1. SDN 411 Palembang ( Tahun 1990-1996)

2. SLTP N 26 Palembang ( Tahun 1996-1999)

3. SMAK Dep.Kes Palembang ( Tahun 1999-2002)

4. Analis Kesehatan STIKES Abdi Nusa Palembang ( Tahun 2017-2020)

iv
HALAMAN PERSEMBAHAN

Syukur Alhamdulillah berkat Rahmat dan Karunia-Mu Ya Allah, saya bisa

menyelesaikan Karya Tulis Ilmiah ini.

Ku persembahkan sebuah karya kecil ini untuk :

 Ibuku tercinta Nani Yuningsih yang tiada henti memberikan

dukungan, semangat, doa dan nasehat

 Istriku tersayang Wiwik, Anak-anak Ku tercinta Widy & Wira yang

selamu memberikan motivasi dan semangat dalam menyelesaikan

Karya Tulis Ilmiah ini.

 Bapak Hermanto dan Ibu Suyani dan segenap keluarga yang sangat

sayang kepadaku, terimakasih banyak untuk doa dan dukungan

kalian selama ini.

Motto:
” Karunia Allah yang paling lengkap adalah kehidupan yang didasarkan
pada ilmu pengetahuan”

v
KATA PENGANTAR

Puji syukur saya panjatkan kehadiran Allah SWT, karena atas karunia

dan hidayah-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan Karya Tulis Ilmiah

dengan judul “ Gambaran Hasil Pemeriksaan HBsAg Pada Ibu Hamil di

UPTD Puskesmas Taraman Kabupaten OKU Timur ” sebagai salah satu

persyaratan untuk memperoleh gelar Ahli Madya Analis Kesehatan STIKES Abdi

Nusa Kota Palembang.

Dalam proses penyusunan Karya Tulis Ilmiah ini Penulis banyak meminta

bantuan dan dorongan moril dari berbagai pihak yang telah membantu dalam

pembuatan Karya Tulis Ilmiah ini, terutama kepada Bapak M.Ihsan Tarmizi,

A.Md.AK.,M.Pd, serta Ibu Yulia Hariani,S,ST.,M.Bmd selaku Pembimbing. Pada

kesempatan ini penulis menyampaikan banyak terimakasih yang sebesar besarnya

kepada :

1. S.S Ilyas Selaku Ketua Pendidikan Arya Satya Palembang.

2. Noer Muhammad,SPd.,M.Kes, Selaku Ketua Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan

Abdi Nusa Palembang.

3. Dra.Warsinah,M.Si Selaku Ketua Program Studi D III Analis Kesehatan

Abdi Nusa Palembang.

4. Seluruh staf, dan Dosen Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Abdi Nusa

Palembang.

vi
5. Ahmad Syaikhu SKM.M.Kes Selaku Kepala UPTD Puskesmas Taraman

yang telah memberikan izin untuk melakukan penelitian di UPTD Puskesmas

Taraman Kabupaten Ogan Komering Ulu Timur.

6. Nyoman Jesika, Pendi Antoko dan Selvi Oktaviani selaku Tim P2 Hepatitis

UPTD Puskesmas Taraman yang selalu memberikan saran dan bimbingan

dalam melakukan penelitian ini.

7. Semua teman-teman seperjuangan terima kasih atas nasehat yang diberikan.

Dalam hal ini penulis menyadari Karya Tulis Ilmiah ini masih banyak

kekurangan dan kesalahan oleh karena itu penulis mengharapkan bantuan dan

dukungan dalam memberikan masukan, saran dan kritik yang membangun.

Semoga Karya Tulis Ilmiah ini dapat bermanfaat bagi semua pihak yang

memerlukanya dan khususnya bagi program Studi DIII Analis Kesehatan

Stikesmas Abdi Nusa Palembang.

Palembang, Agustus 2020

Penulis

vii
STIKESMAS ABDI NUSA PALEMBANG
JURUSAN ANALIS KESEHATAN
Karya Tulis Ilmiah, Agustus 2020

TRI WIDODO/ NIM. 17.02.074


GAMBARAN HASIL PEMERIKSAAN HBSAG PADA IBU HAMIL DI
PUSKESMAS TARAMAN KABUPATEN OKU TIMUR PROPINSI
SUMATERA SELATAN
XVI, 43 halaman, 5 tabel, 6 gambar, 2 bagan, lampiran

ABSTRAK

Penyakit Hepatitis B merupakan penyakit yang menyerang hati,di sebabkan oleh


infeksi virus hepatitis (VHB), kehadiran HBsAg dalam serum atau plasma
mengindikasikan adanya infeksi aktif dari Hepatitis B, bisa infeksi akut ataupun
kronik, pemeriksan HBsAg pada Ibu Hamil adalah langkah awal dalam
mencegah terjadinya penularan hepatitis B dari ibu ke bayi yang akan dilahirkan.
Tujuan penelitian ini untuk mengetahui gambaran hasil pemeriksaan HbsAg pada
ibu hamil di UPTD Puskesmas Taraman Kabupaten OKU Timur tahun 2020.
Jenis penelitian yang dilakukan adalah deskriptif dengan menggunakan data
sekunder yaitu data yang tercatat pada rekam medik di UPTD Puskemas Taraman
Kabupaten OKU Timur. Sampel diambil dari bulan Juli 2019 s/d Juni 2020
sebanyak 282 sampel. Hasil penelitian dari 282 ibu hamil yang reaktif 0,71% dan
non reaktif 99,29%. Dari 237 umur 20-35 tahun yang reaktif 0,84% sedagkan
pada kelompok umur kurang dari 20 dan lebih dari 35 tahun semua non reaktif ,
dari 89 trimester I yang reaktif 1,12%, trimester II semuanya non reaktif, dari 47
trimester III yang reaktif 2,08%. Dari 81 primigravida semua non reaktif, dari 117
secundigravida reaktif 0,86% sedangkan dari 84 multigravida yang reaktif 1,19%.
Dengan masih ditemukannya ibu hamil dengan HBsAg reaktif disarankan kepada
pihak puskesmas untuk melakukan pelayanan kesehatan khusus bagi ibu hamil
dengan HBsAg reaktif dan meningkatkan cakupan pemeriksaan HBsAg untuk ibu
hamil sebagai langkah awal dalam memutus mata rantai penularan virus hepatitis
B dari ibu ke bayi

Kata Kunci : Hepatitis B, HBsAg, ibu hamil


Kepustakaan : 30 ( 2005-2020)

viii
DAFTAR ISI
Halaman
HALAMAN JUDUL ................................................................................... i
HALAMAN PERSETUJUAN .................................................................... ii
HALAMAN PENGESAHAN ..................................................................... iii
BIODATA PENULIS ................................................................................. iv
HALAMAN PERSEMBAHAN ................................................................. v
KATA PENGANTAR ................................................................................. vi
ABSTRAK .................................................................................................. viii
DAFTAR ISI .............................................................................................. ix
DAFTAR TABEL ....................................................................................... xii
DAFTAR GAMBAR ................................................................................. xiii
DAFTAR LAMPIRAN ............................................................................... xiv
DAFTAR BAGAN ..................................................................................... xv
DAFTAR SINGKATAN ............................................................................ xvi
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang ................................................................................. 1
1.2 Rumusan Masalah ............................................................................ 3
1.3 Tujuan Penelitian ............................................................................. 3
1.3.1 Tujuan Umum ......................................................................... 3
1.3.2 Tujuan Khusus ........................................................................ 4
1.4 Manfaat Penelitian............................................................................. 4
1.4.1 Manfaat Teoritis ...................................................................... 4
1.4.2 Manfaat Praktisi ..................................................................... 4
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Hepatitis ...................................................................................... 5
2.1.1 Hepatitis B .......................................................................... 5
2.1.2 HBsAg ................................................................................ 8
2.1.3 Epidemiologi ....................................................................... 10
2.1.4 Penularan dan Faktor Resiko ............................................... 10
2.1.5 Patogenitas ......................................................................... 12

ix
2.1.6 Gambaran Klinis ................................................................. 13
2.1.7 Diagnosa ............................................................................. 16
2.2 Kehamilan ..................................................................................... 17
2.2.1 Skrining HBsAg Pada Ibu Hamil ........................................ 18
2.3 Faktor – Faktor Yang Mempengaruhi HBsAg Pada Ibu Hamil ....... 19
2.4 Metode Pemeriksaan HBsAg ......................................................... 21
BAB III KERANGKA KONSEP DAN DEFINISI OPERASIONAL
3.1 Kerangka Konsep .............................................................................. 25
3.2 Defenisi Operasional ........................................................................ 26
BAB IV METODE PENELITIAN
4.1 Desain Penelitian .............................................................................. 27
4.2 Tempat dan Waktu Penelitian ............................................................ 27
4.3 Populasi dan Sampel ......................................................................... 27
4.4 Prinsip Pemeriksaan ......................................................................... 28
4.5 Bahan Pemeriksaan ........................................................................... 28
4.6 Alat dan Reagen ............................................................................... 29
4.7 Prosedur Kerja ................................................................................. 29
4.8 Alur Pemeriksaan ............................................................................. 34
BAB V HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
5.1 Gambaran Umum Tempat Penelitian ............................................... 35
5.2 Hasil Penelitian ............................................................................... 37
5.3 Pembahsan ..................................................................................... 41
BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN
6.1 Kesimpulan .................................................................................... 43
6.2 Saran ................................................................................................ 44

DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN

x
DAFTAR TABEL

tabel 3.2 Defenisi Operasional

Table 5.1 Distribusi Frekuensi Hasil Pemeriksaan HBsAg

Table 5.2 Distribusi Frekuensi Hasil Pemeriksaan HBsAg berdasarkan

Umur

Table 5.3 Distribusi Frekuensi Hasil Pemeriksaan HBsAg berdasarkan

Usia Kehamilan

Table 5.4 Distribusi Frekuensi Hasil Pemeriksaan HBsAg berdasarkan

Paritas

xi
DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1 Representasi skematis Virus Hepatitis B

Gambar 2.2 Struktur Virus Hepatitis B

Gambar 2.3 Peristiwa Serologis Hepatiti B

Gambar 2.4 Kemungkinan Infeksi Virus Hepatitis B

Gambar 2.5 Prinsip Imunokromatografi

Gambar 4.1 Interprestasi Hasil

xii
DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 Form Pengajuan Judul KTI Mahasiswa

Lampiran 2 SK Pembimbing KTI

Lampiran 3 SK Penguji KTI

Lampiran 4 Surat Izin Penelitian

Lampiran 5 Surat Keterangan Selesai Penelitian

Lampiran 6 Data Hasil Penelitian

Lampiran 7 Peralatan yang digunakan dalam Pemeriksaan

Lampiran 8 Lembar Dokumentasi

Lampiran 9 Lembar Bimbingan KTI

xiii
DAFTAR BAGAN

Bagan 3.1 Kerangka Konsep

Bagan 4.1 Alur Pemeriksaan

xiv
DAFTAR SINGKATAN

Anti HBs Anti Hepatitis B surface


ALT Alanin Amino Transferase
ANC : Antenatal Care
APD : Alat Pelindung Diri
CMIA : Chemiluminescent Micropartikel Imunoassay
DDHB : Deteksi Dini Hepatitis B
DNA : Dioxribo Nucleic Acid
EIA : Enzym Imunoassay
ELISA : Enzyme-Linked Immunoadsorbent Assay
HBsAg : Hepatitis B Surface Antigen
HBcAg Hepatitis B core Antigen
HBIg : Hepatitis B Imunoglobulin
HPHT : Hari Pertama Haid Terakhir
HBV : Hepatitis B Virus
ICA : Imuno Cromatografi Assay
ITC : Imunocromatography Test
PCR : Polymerase Chain Reaction
Pusdatin : Pusat Data dan Informasi
Puskesmas : Pusat Kesehatan Masyarakat
PPHI : Perhimpunan Peneliti Hati Indonesia
PPIA : Pencegahan Penularan dari Ibu ke Anak
PMK : Peraturan Menteri Kesehatan
RDT : Rapid Diagnostic Test
RIA : Radio Imunuo Assay
RNA Ribonucleic Acid
RISKESDAS : Riset Kesehatan Dasar
UPTD : Unit Pelaksana Teknis Dinas

xv
WHO : World Helath Organization

xvi
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Hati merupakan sebuah organ terbesar di dalam badan manusia dan memiliki

berbagai fungsi, beberapa diantaranya berhubungan dengan pencernaan. Istilah

medis yang bersangkutan dengan hati biasanya dimulai dalam hepat atau hepatik

dari kata Yunani untuk hati atau hepar. Organ ini memainkan peran penting

dalam metabolisme dan memiliki beberapa fungsi dalam tubuh termasuk

penyimpanan glikogen, sintesis protein plasma, dan penetralan obat. Hati akan

merespon berbagai penyakit tersebut dengan meradang, yang disebut dengan

hepatitis. (Wahyuningsih dan Kusmiyati.2017)

Hepatitis adalah peradangan hati yang bisa berkembang menjadi fibrosis

(jaringan parut), sirosis atau kanker hati. Hepatitis disebabkan oleh berbagai

faktor seperti infeksi virus, zat beracun (misalnya alkohol, obat-obatan tertentu),

dan penyakit autoimun. Penyebab paling umum Hepatitis adalah yang disebabkan

oleh Virus Hepatitis B dan C. (Pusdatin,2017)

Penyakit Hepatitis B disebakan infeksi oleh virus hepatitis B, sebuah virus

DNA dari keluarga Hepadnaviridae dengan struktur virus berbentuk sirkular dan

terdiri dari 3200 pasang basa. Pajanan virus ini akan menyebabkan dua keluaran

klinis, yaitu: Hepatitis akut yang kemudian sembuh secara spontan dan

membentuk kekebalan terhadap penyakit ini, atau Berkembang menjadi

kronik.(PPHI, 2012)

1
2

Menurut World Health Organization (WHO, 2017) virus Hepatitis B ini

paling umum ditularkan dari ibu ke anak selama kelahiran dan persalinan, serta

melalui kontak dengan darah atau cairan tubuh lainnya. WHO memperkirakan

bahwa pada 2015, 257 juta orang hidup dengan infeksi hepatitis B kronis. Pada

2015, hepatitis B mengakibatkan sekitar 887.000 kematian, sebagian besar akibat

sirosis dan karsinoma hepatoseluler. Pada 2016, 27 juta orang (10,5% dari semua

orang yang diperkirakan hidup dengan hepatitis B) mengetahui infeksi mereka,

sementara 4,5 juta (16,7%) dari orang yang didiagnosis sedang dalam pengobatan.

Sejak tahun 2015 telah dilakukan Kegiatan Deteksi Dini Hepatitis B (DDHB)

pada ibu hamil dipelayanan kesehatan dasar (Puskesmas) dan Jaringannya.

Pemeriksaan Hepatitis B pada ibu hamil dilakukan melalui pemeriksaan darah

dengan menggunakan tes cepat/Rapid Diagnostic Test (RDT) HBsAg. HBsAg

(Hepatitis B Surface Antigen) merupakan antigen permukaan yang ditemukan

pada virus hepatitis B yang memberikan arti adanya infeksi hepatitis B. (Pusdatin,

2017)

Persentasi Deteksi Dini Hepatitis B pada Ibu Hamil menurut data Laporan

Profil Kesehatan Indonesia Tahun 2018 adalah 39,95 % atau sebanyak 1.634.204

Ibu Hamil dari 34 Propinsi di Indonesia, dengan Hasil HBsAg Reaktif sebanyak

30.965 Ibu Hamil atau sekitar 1,88 %, untuk Propinsi Sumatera Selatan sendiri

pemeriksaan Deteksi Dini Hepatitis B baru sebanyak 19.250 Ibu Hamil atau

17,26 % dengan Hasil Reaktif HBsAg sebayak 186 Ibu hamil atau sekitar 0,97 %.

Untuk Wilayah Kabupaten Ogan Komering Ulu Timur khususnya di UPTD

Puskesmas Taraman, pemeriksaan Hepatitis B pada Ibu Hamil baru dimulai pada
Bulan Juli 2019 – Juni 2020 dengan target 100 % atau 349 Ibu hamil berdasarkan

Standart Pelayanan Minimal Bidang Kesehatan Kabupaten OKU Timur.

Pemeriksaan HBsAg pada ibu hamil adalah langkah awal untuk mencegah

terjadinya penularan hepatitis B dari ibu ke bayi yang akan dilahirkannya.

Penelitian ini dilaksanakan di UPTD Puskesmas Taraman Kabupaten OKU Timur

berdasarkan data kunjungan (Antenatal care) ANC, selama 12 bulan ( Juli

2019s/d Juni 2020). Berdasarkan uraian diatas, maka peneliti tertarik untuk

melakukan penelitian tentang “Gambaran Hasil Pemeriksaan HbsAg Pada Ibu

Hamil di UPTD Puskesmas Taraman Kabupaten OKU Timur “

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan di atas dapat merumuskan

masalah sebagai berikut: Bagaimana Gambaran Hasil Pemeriksaan HBsAg pada

Ibu Hamil di UPTD Puskesmas Taraman Kabupaten OKU Timur

1.3 Tujuan Penelitian

1.3.1 Tujuan Umum

Diketahui gambaran hasil pemeriksaan HBsAg pada ibu hamil di UPTD

Puskesmas Taraman Kabupaten OKU Timur


1.3.2 Tujuan Khusus

1. Diketahuinya distribusi frekuensi hasil pemeriksaan HbsAg pada ibu

hamil di UPTD Puskesmas Taraman

2. Diketahuinya distribusi frekuensi hasil pemeriksaan HbsAg pada ibu

hamil berdasarkan kelompok umur di UPTD Puskesmas Taraman.

3. Diketahuinya distribusi frekuensi hasil pemeriksaan HbsAg pada ibu

hamil berdasarkan usia kehamilan di UPTD Puskesmas Taraman.

4. Diketahuinya distribusi frekuensi hasil pemeriksaan HbsAg pada ibu

hamil berdasarkan paritas di UPTD Puskesmas Taraman.

1.4 Manfaat Penelitian

1.4.1 Manfaat Teoritis

Hasil penelitian dapat dimanfaatkan untuk pengembangan teori, sebagai

tambahan khasanah ilmu pengetahuan dan sebagai data dasar penelitian

selanjutnya

1.4.2 Manfaat Praktis

1. Sebagai sarana pengembangan diri dan menambah pengetahuan penulis

tentang gambaran hasil pemeriksaan HBsAg pada ibu hamil di UPTD

Puskesmas Taraman

2. Sebagai bahan informasi tambahan bagi petugas kesehatan dalam tata

laksana penanganan ibu hamil dengan Hepatitis B.


BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Hepatitis

Hepatitis adalah istilah umum penyakit yang merujuk pada peradangan yang

terjadi dihati. Hepatitis umumnya disebabkan oleh infeksi virus, meskipun juga

dapat disebabkan oleh kondisi lain. Beberapa penyebab selain infeksi virus adalah

kebiasaan minum alkohol, penyakit autoimun, serta zat racun atau obat-obatan

tertentu. Hepatitis dapat mengganggu berbagai fungsi tubuh terutama yang

berkaitan dengan metabolisme karena hati memiliki banyak sekali peranan dalam

metabolisme tubuh, Hepatitis yang terjadi dapat bersifat akut maupun kronis.

Seseorang yang mengalami hepatitis akut dapat memberikan beragam manifestasi

dan perjalanan penyakit mulai dari tidak bergejala, bergejala dan sembuh sendiri,

menjadi kronis, dan yang paling berbahaya adalah berkembang menjadi gagal

hati. Bila berkembang menjadi hepatitis kronis, dapat menyebabkan sirosis dan

kanker hati dalam kurun waktu tahunan. Pengobatan hepatitis sendiri bermacam-

macam sesuai dengan jenis hepatitis yang diderita dan gejala yang

muncul.(Suprobowati dan Kurniati, 2018)

2.1.1 Hepatitis B

Penyakit Hepatitis B disebakan infeksi oleh Virus Hepatitis B (VHB), Virus

Hepatitis B adalah virus DNA yang diselimuti milik keluarga Hepadnaviridae. Itu

tidak terkait dengan virus manusia lainnya, agen hepatotropik terkait telah

diidentifikasi dalam kayu, tupai tanah, dan kanguru. partikel bola itu terdiri dari

5
6

sebuah amplop di sekitar inti 27-nm. Inti terdiri dari nukleokapsid itu

mengandung genom DNA.Genom virus sebagian terdiri dari DNA beruntai ganda

dengan pendek, tunggalbagian. Ini terdiri dari 3200 nukleotida, menjadikannya

virus DNA terkecil yang diketahui.Terkait erat dengan DNA virus adalah DNA

polimerase. Komponen lain dari inti adalah antigen inti hepatitis B (HBcAg) dan

antigen hepatitis B e (HBeAg),yang merupakan glikoprotein berat molekul

rendah.(Ryan dan Ray, 2004)

Genom dari hepadnavirus adalah yang terkecil dari semua virus yang

diketahui. DNA HBV didominasi untaian ganda dan terdiri dari satu untai bundar

panjang yang mengandung seluruh genom, dan untai komplementer yang lebih

pendek yang bervariasi dari 50% hingga 85% dari panjang untai yang lebih

panjang. Genom HBV berisi empat gen yaitu : (Rubin, 2008)

1. Gen Inti (C): Inti virus mengandung antigen inti (HBcAg) dan antigen e

(HBeAg), keduanya merupakan produk dari gen C. Gen C mencakup dua

bingkai bacaan terbuka berturut-turut, daerah awal dan inti. Transkripsi

kerangka inti saja menghasilkan HBcAg, sedangkan HBeAg berasal dari

proteolisis produk terjemahan seluruh gen C.

2. Gen Permukaan : Inti HBV tertutup dalam mantel yang mengekspresikan

antigen yang disebut antigen permukaan hepatitis B (HBsAg). Lapisan

permukaan disintesis oleh hepatosit yang terinfeksi secara independen dari

inti virus dan disekresikan ke dalam darah dalam jumlah besar. Bahan ini

divisualisasikan oleh mikroskop elektron dalam serum yang disentrifugasi

sebagai dua partikel yang berbeda, satu bola 22-nm dan yang lain berupa
7

struktur tabung berdiameter 22 nm dan panjang 40 hingga 400 nm. Partikel

HBsAg bersifat imunogenik tetapi tidak menular. Virus utuh dan infeksius

juga ditemukan dalam persiapan yang sama dengan bola 42-nm (partikel

Dane) yang mengandung DNA virus.

3. Gen Polymerase: Gen P mengkode DNA polymerase

4. Gen X: Protein X kecil mengaktifkan transkripsi virus dan mungkin berperan

dalam patogenesis karsinoma hepatoseluler yang terkait dengan infeksi HBV

kronis. (Rubin, 2008)

Gambar.2.1 Virus Hepatitis B. Representasi skematis virus hepatitis B (HBV) dan

partikel serum yang terkait dengan infeksi HBV. (Antigen (Ag) untuk hepatitis B

ditunjukkan dengan huruf mereka: c = inti, e, dan s = permukaan.) Sumber : Rubin .2008
8

2.1.2 HBsAg

HBsAg merupakan komponen antigenik VHB, tetapi tidak infeksius dan

tersusun atas protein, karbohidrat dan dua lapis lipid, Selubung (envelope) protein

tersusun atas tiga macam protein dimana masing-masing protein dapat

merangsang terjadinya antibodi spesifi k. Karena itu dikenal tiga macam antigen

pada HBsAG yaitu antigen S, antigen pre-S2 dan antigen pre-S1 yang masing-

masing terdapat pada mayor atau small protein, middle protein dan large protein.

Pemurnian HBsAg menunjukkan bahwa HBsAg ada yang berbentuk bulat,

mengandung protein S dan sedikit protein pre-S, sedangkan HBsAg yang

berbentuk filament sebagian besar terdiridari S protein. Virion mengandung

semua polipeptida HBsAg dalam jumlah yang hampir sama. Setelah terjadinya

infeksi VHB, maka penderita akan membentuk antibodi yaitu anti-pre S1, antipre

S2 dan anti-S. Ini menunjukkan bahwa semua antigen HBsAgdiekpresikan pada

permulaan infeksi.(Surya.2016)

Gambar 2.2 Virus Hepatitis B

Sumber : https://www.alomedika.com/penyakit/gastroenterologi/hepatitis-b/etiologi
9

Mikroskop elektron serum HBsAg-positif mengungkapkan tiga bentuk

morfologis. Yang paling banyak adalah partikel berbentuk bola dengan diameter

22 nm. Partikel-partikel kecil ini dibuat secara eksklusif dari HBsAg –– seperti

bentuk tubular atau filamen, yang memiliki diameter yang sama tetapi mungkin

lebih dari 200 nm panjang–– dan hasil dari overproduksi HBsAg. Virion bola 42-

nm yang lebih besar (awalnya disebut sebagai partikel Dane) lebih jarang diamati.

Permukaan luar, atau amplop, mengandung HBsAg dan mengelilingi inti

nukleokapsid 27-nm dalam yang mengandung HBcAg. Panjang variabel dari

daerah beruntai tunggal dari genom DNA sirkular menghasilkan partikel

heterogen secara genetik dengan berbagai macam kepadatan apung.

Partikel yang mengandung HBsAg bersifat antigenik kompleks. Masing-

masing berisi antigen spesifik kelompok, a, selain dua pasang subdeterminant

yang saling eksklusif, d / y dan w / r. Dengan demikian, empat fenotipe HBsAg

telah diamati: adw, ayw, adr, dan ayr. Penanda spesifik virus ini berguna dalam

penyelidikan epidemiologi, karena kasus sekunder memiliki subtipe yang sama

dengan kasus indeks. Stabilitas HBsAg tidak selalu sesuai dengan agen infeksius.

Namun, keduanya stabil pada -20 ° C selama lebih dari 20 tahun dan stabil untuk

pembekuan dan pencairan berulang. Virus ini juga stabil pada suhu 37 ° C selama

60 menit dan tetap bertahan setelah dikeringkan dan disimpan pada suhu 25 ° C

selama minimal 1 minggu.(Brooks, 2007)


10

2.1.3 Epidemiologi

Tingkat prevalensi infeksi Virus Hepatitis B seluruh dunia menurut Global

Hepatitis Report tahun 2017 adalah adalah yang tertinggi di Wilayah Pasifik

Barat dan Wilayah Afrika, di mana masing-masing 6,2% dan 6,1% dari populasi

orang dewasa terinfeksi. Di Wilayah Mediterania Timur, Wilayah Asia Tenggara

dan Wilayah Eropa, masing-masing diperkirakan 3,3%, 2,0%, dan 1,6% dari

populasi umum terinfeksi. Dan di Wilayah Amerika, 0,7% dari populasi

terinfeksi. Diperkirakan 27 juta orang (10,5% dari semua orang yang diperkirakan

hidup dengan hepatitis B) mengetahui infeksi mereka, sementara 4,5 juta (16,7%)

dari orang yang didiagnosis sedang dalam pengobatan. Virus ini paling umum

ditularkan dari ibu ke anak selama kelahiran dan persalinan, serta melalui kontak

dengan darah atau cairan tubuh lainnya. (WHO, 2017)

Prevalensi Hepatitis B berdasarkan diagnosis Dokter di Indonesia menurut

Hasil Utama Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) Kementrian Kesehatan R.I

tahun 2018 sebesar 0,4% meningkat dua kali dibandingkan Riskesdas tahun

2013 yang sebesar 0,2 %. Papua merupakan provinsi dengan prevalensi Hepatitis

tertinggi pada tahun 2018 yaitu sebesar 0,7 %, untuk Propinsi Sumatera-Selatan

prevalensi Hepatits 0,3 % meningkat dari tahun 2013 yang sebesar 0,2%.

2.1.4 Penularan dan Faktor Resiko

Partikel VHB paling banyak terdapat di dalam hati dan serum,tetapi bisa

terdapat pada semua cairan yang dihasilkan oleh tubuh manusia. VHB Bisa

terdapat pada air liur,airmata, air mani, air susu ibu, disamping juga bisa terdapat
11

pada cairan asites, pleura, serebrospinal dan lendir vagina, tetapi sumber yang

infeksius adalah berasal dari air mani, disamping liur disamping dari serum.

Secara garis besar penularan VHB terjadi hanyadua hal yaitu; karena

pencemaran oleh darah atau cairan tubuh dari seorangpengidap VHB sedangkan

penularan dapat terjadi melalui empat cara yaitu ; (Surya, 2016)

1. Parenteral melalui transfusi darah yang mengandung VHB., hepatitis pasca

transfuse dilaporkan 14-65%, dimana 22% disebabkan oleh VHB dansetelah

skrining darah dilakukan dengan metode yang lebih peka (RIA) maka

hepatitis pasca transfusi menurun menjadi0,6%. Saat ini skrining darah donor

juga dilakukan dengananti-HBc disamping HBsAg, sehingga memberikan

hasil yanglebih memuaskan karena pada window period anti HBc

positifmeskipun HBsAg atau anti HBs masih negative.

2. Tusukan melalui kulit (percutaneous exposure). Cara ini terjadi melalui

tusukan jarum di bawah kulit dengan jarum yang pernah dipakai pengidap

VHB seperti pada pasien ketagihan obat, akupuntur, membuat tatto, tindik

kuping, memakai pisau cukur, sikat gigi dan lainnya.

3. Melalui hubungan seksual; karenaVHB juga terdapat pada cairan sperma,

lendir vagina dan air liur. Dengan pemeriksaanPCR pada lendir servik

didapatkan adanya genom VHB pada21% pasien yang diperiksa

4. Penularan VHB dari ibu ke bayi yang baru dilahirkan. Cara ini disebut

penularan VHB vertikal dan merupakan cara penularan yang paling penting

daerah endemik berat VHB.


12

Walaupun infeksi VHB dapat ditularakan dengan berbagai cara,tetapi pola

penularan infeksi VHB dapat dibagi menjadi dua yaitu; Pola penularan vertical

ialah penularan VHB dari ibu dengan HBsAg positif ke bayi yang dilahirkannya

dan Pola penularan horizontal ialah penularan VHB dari seorangpengidap infeksi

VHB kepada orang yang rentan disekitarnya.(Surya, 2016)

2.1.5 Patogenitas

Di masa lalu, hepatitis B dikenal sebagai hepatitis post transfusi atau terkait

hepatitis dengan penggunaan obat parenteral terlarang (hepatitis serum). Namun,

selama beberapa tahun terakhir menjadi jelas bahwa cara utama akuisisi adalah

melalui kontak pribadi yang dekat dengan cairan tubuh orang yang terinfeksi.

HBsAg telah ditemukan di sebagian besar cairan tubuh, termasuk air liur, air

mani, dan sekresi serviks. Dalam kondisi eksperimental, sesedikit mungkin

0,0001 mL darah infeksius telah menghasilkan infeksi. Karena itu, transmisi

dimungkinkan oleh kendaraan seperti jarum hipodermik yang tidak disterilkan

atau instrumen yang digunakan dalam tatodan tindik telinga. (Ryan dan Ray,

2004)

Faktor-faktor yang menentukan berbagai manifestasi klinis hepatitis B akut

adalah sebagian besar tidak diketahui; Namun, beberapa tampaknya melibatkan

respons imunologis dari inang. Ruam dan artritis seperti serum yang dapat

mendahului perkembangan gejala dan penyakit kuning tampaknya terkait dengan

sirkulasi kompleks imun yang mengaktifkan sistem pelengkap. Antibodi terhadap

HBsAg bersifat protektif dan terkait dengan resolusi penyakit. Imunitas seluler
13

juga penting dalam respons inang, karena pasien dengan fungsi limfosit T yang

tertekan memiliki frekuensi infeksi kronis yang tinggi dengan virus hepatitis B.

Antibodi terhadap HBcAg, yang muncul selama infeksi, adalah hadir dalam karier

kronis dengan produksi virion hepatitis B yang persisten dan tidak muncul

menjadi pelindung.(Ryan dan Ray, 2004)

2.1.6 Gambaran Klinis

Jika partikel VHB masuk ke tubuh host (pasien) maka akan menimbulkan tiga

kemungkinan yaitu ; tubuh pasien akan mengeleminasi VHB sehingga tidak

terjadi infeksi VHB, mengalami infeksi VHB akut di mana sebagian kecil bisa

menjadi hepatitis fulminan dan sebagian lagi mengalami infeksi VHB kronik.

Keadaan di atas tergantung dari faktor individu atau host, faktor VHB terutama

jumlah VHB yang menginfeksi dan cara penularan.(Surya.2016)

Menurut Rubin, (2008), ada tiga program klinis yang diakui terkait dengan

infeksi HBV :

1. Hepatitis B Akut: Sebagian besar pasien memiliki hepatitis akut yang sembuh

sendiri, mirip dengan yang dihasilkan oleh HAV, di mana pemulihan total

dan kekebalan seumur hidup adalah aturannya. Gejala hepatitis B, sebagian

besar, juga mirip dengan hepatitis A, walaupun hepatitis B akut cenderung

agak lebih parah. Selain itu, masa inkubasi jauh lebih lama. Biasanya, gejala

tidak muncul sampai 2 sampai 3 bulan setelah paparan, tetapi periode

inkubasi kurang dari 6 minggu dan selama 6 bulan kadang-kadang ditemui.

Seperti pada hepatitis A, banyak kasus, termasuk hampir semua infeksi pada
14

bayi dan anak-anak, bersifat anicteric dan, oleh karena itu, tidak tampak

secara klinis.

2. Hepatitis B Fulminan : Lebih sering daripada hepatitis A, tetapi masih jarang,

hepatitis B akut mengejar jalur fulminan, ditandai dengan nekrosis sel hati

masif, kegagalan hati, dan mortalitas tinggi.

3. Hepatitis B Kronis : Hepatitis kronis mengacu pada adanya nekrosis dan

peradangan di hati selama lebih dari 6 bulan. Pada 5% hingga 10% pasien

dengan hepatitis B, antigenemia HBs tidak sembuh, dalam hal mana infeksi

berlanjut, dan penyakit berlanjut menjadi hepatitis B kronis. Karena alasan

yang tidak diketahui, 90% pasien dengan hepatitis B kronis adalah pria.

Beberapa pembawa HBV kronis memanifestasikan kompleks anti-HBs yang

bersirkulasi HBsAg; walaupun pasien menghasilkan antibodi, levelnya tidak

memadai untuk membersihkan virus dari sirkulasi. Kompleks imun ini

menyebabkan berbagai penyakit ekstrahe-patic, termasuk sindrom seperti

penyakit serum (demam, ruam, urtikaria, radang sendi akut), poliarteritis,

glomerulonefritis, dan cryoglobulinemia. Faktanya, sepertiga hingga setengah

dari pasien dengan polyarteritis nodosa adalah pembawa HBV. Beberapa

pembawa kronis yang awalnya negatif untuk anti-HBs akhirnya

mengembangkan antibodi yang dapat diukur (seringkali setelah bertahun-

tahun), membersihkan virus, dan dikembalikan ke kesehatan penuh.


15

Yang lain (tidak lebih dari 3% dari semua pasien dengan hepatitis B) tidak

pernah mengembangkan anti-HBs dan menderita hepatitis kronis tanpa henti

dan progresif yang mengarah pada sirosis.

Gambar .2.3 Peristiwa serologis yang khas dalam tiga hasil yang berbeda dari Hepatitis B.
sumber : Rubin.2008

Keterangan gambar 2.3 :

1. Panel A Dalam kebanyakan kasus, penampilan antibodi terhadap HBsAg

(anti-HBs) memastikan pemulihan lengkap. DNA virus menghilang dari

nukleus hepatosit.

2. Panel B Pada sekitar 10% kasus hepatitis B, antigenemia HBs bertahan

selama lebih dari 6 bulan, karena tidak adanya anti-HBs. Pasien di mana

replikasi virus tetap aktif, sebagaimana dibuktikan oleh tingginya tingkat


16

HBeAg dalam darah, mengembangkan hepatitis aktif. Dalam kasus seperti

itu, genom virus tetap ada di dalam nukleus tetapi tidak diintegrasikan ke

dalam DNA inang.

3. Panel C Pasien di mana replikasi virus aktif berhenti atau dilemahkan,

sebagaimana tercermin dalam hilangnya HBeAg dari darah, menjadi

pembawa tanpa gejala. Pada orang-orang ini, fragmen genom virus hepatitis

B (HBV) diintegrasikan ke dalam DNA inang, tetapi DNA episom tidak ada.

Gambar.2.4 Kemungkinan hasil infeksi dengan virus hepatitis B (HBV)


Sumber (Rubin, 2008)

2.1.7 Diagnosa

Langkah diagnosis hepatitis pertama adalah dengan menanyakan riwayat

timbulnya gejala dan mencari faktor risiko dari penderita. Lalu dilakukan

pemeriksaan fisik untuk menemukan tanda atau kelainan fisik yang muncul pada

pasien seperti dengan menekan perut untuk mencari pembesaran hati sebagai

tanda hepatitis dan memeriksa kulit serta mata untuk melihat perubahan warna

menjadi kuning.(Suprobowati dan Kurniati, 2018)


17

Selama episode akut penyakit, ketika ada replikasi virus aktif, sejumlah besar

HBsAg dan virus hepatitis B DNA dapat dideteksi dalam serum, karena virion

dapat berkembang sepenuhnya dan kadar tinggi DNA polimerase dan HBeAg.

Meskipun HBcAg juga ada, antibodi terhadapnya selalu ada terjadi dan mencegah

deteksi. Dengan resolusi hepatitis B akut, HBsAg dan HBeAg menghilang dari

serum dengan pengembangan antibodi (anti-HBs dan anti-HBe) terhadap mereka.

Hampir semua pasien yang mengembangkan ikterus adalah anti-HBc IgM positif

pada saat klinis presentasi. HBsAg juga dapat dideteksi dalam serum. Infeksi

hepatitis B dulu paling baik ditentukan dengan mendeteksi IgG anti-HBc, anti-

HBs, atau keduanya.

Pada pasien dengan hepatitis B kronis, bukti persistensi virus dapat

ditemukan di serum. HBsAg dapat dideteksi selama proses penyakit aktif dan

anti-HBs tidak berkembang, yang mungkin menyebabkan kronisitas penyakit.

Namun, anti-HBc terdeteksi. Dua jenis hepatitis kronis dapat dibedakan. Di satu,

HBsAg terdeteksi tetapi tidak HBeAg; pasien ini biasanya menunjukkan bukti

minimal disfungsi hati.(Rubin, 2008)

2.2 Kehamilan

Menurut Federasi Obstetri Ginekologi Internasional, kehamilan didefinisikan

sebagai fertilitas atau penyatuan dari spermatozoa dan ovum dan dilanjutkan

dengan nidasi atau implatasi. Bila dari sat fertilasi hingga lahirnya bayi,

kehamilan normal akan berlangsung dalam waktu 40 minggu atau 10 bulan lunar

atau 9 bulan menurut kalender internasional.(Prawirohadjo, 2010)


18

2.2.1 Skrining HBsAg Pada Ibu Hamil

Pada Maret 2015, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menerbitkan pedoman

pertama untuk pencegahan, perawatan, dan perawatan individu dengan infeksi

HBV kronis, pedoman yang berfokus pada penilaian kelayakan pengobatan,

inisiasi terapi lini pertama,beralih dan memantau. Infeksi HBV kronis

didefinisikan sebagai persistensi dari antigen permukaan hepatitis B (HBSAg)

setidaknya selama enam bulan. Namun, interpretasi serologi HBV kompleks.

Serologinya paling sering digunakan untuk pengujian HBV termasuk HBsAg,

anti-HBc total, dan anti-HBs. Deteksi HBsAg dapat mencakup tes diagnostik

cepat (RDT).

Menurut data dari Kemenkes Sejak 2016 pemeriksaan hepatitis dilakukan

dengan Rapid Diagnostic Test (RDT) Hepatitis B surface Antigen (HBsAg) pada

ibu hamil. Berdasarkan Sistem Informasi Hepatitis dan Penyakit Infeksi Saluran

Pencernaan (SIHEPI) 2018-2019 jumlah ibu hamil yang diperiksa hepatitis B

sebanyak 1. 643.204 di 34 provinsi. Hasilnya, sebanyak 30.965 ibu hamil reaktif

(terinfeksi virus hepatitis B), dan 15.747 bayi baru lahir dari ibu rekatif hepatitis B

telah diberikan Imunoglobulin Hepatitis B (HBIg).

Program nasional dalam pencegahan dan pengendalian virus hepatitis B yang

saat ini fokus pada pencegahan dan penularan ibu ke anak (PPIA) karena 95%

penularan hepatis B adalah secara vertikal yaitu dari ibu yang positif hepatitis B

ke bayi yang dilahirkannya. Deteksi dini adalah upaya untuk mengenali secepat

mungkin gejala, tanda, atau ciri dari risiko, ancaman, atau kondisi yang

membahayakan. Deteksi dini, skrining, atau penapisan kesehatan pada ibu hamil
19

dilaksanakan pada saat pelayanan antenatal agar seorang ibu hamil mampu

menjalani kehamilan dengan sehat, bersalin dengan selamat, serta melahirkan bayi

yang sehat dan berkualitas.

2.3 Faktor-Faktor yang mempengaruhi HBsAg pada Ibu Hamil

1. Umur

Umur ibu mempunyai pengaruh terhadap kehamilan dan persalinan ibu. Usia

kemungkinan tidak risiko tinggi pada saat kehamilan dan persalinan yaitu umur

20-35 tahun, karena pada usia tersebut rahim sudah siap menerima kehamilan,

mental sudah matang dan sudah mampu merawat bayi dan dirinya. Sedangkan

Usia yang berpotensi risiko tinggi pada saat kehamilan dan persalinan yaitu pada

umur kurang dari 20 tahun dan diatas 35 tahun, karena pada usia kehamilan yang

terlalu muda maupun terlalu tua kondisi fisik, mental serta kematangan alat

reproduksi belum siap ataupun mengalami penurunan sehingga hal tersebut dapat

menyebabkan terjadinya Abortus.(Hikmah dan Sari, 2017)

Berdasarkan penelitian Wahyu (2017), Prevalensi dan Karakteristik Ibu

Hamil dengan HbsAg Positif sebagai Penanda Serologi Dalam Upaya Penapisan

hepatitis B di RSDK Ibu dan Anak Pertiwi Makasar Periode 2016/2017, distrbusi

ibu hamil dengan positif pada kelompok umur < 20 tahun dengan presentase 1,2

%, distribusi ibu hamil positif HbsAg umur paling banyak pada rentan usia 25-35

tahun 77,09%. Kemudian kelompok umur >35 tahun 20,9%.


20

2. Usia Kehamilan

Kehamilan biasaya terjadi selama 40 minggu terhitung sejak Hari Pertama

Haid Terakhir (HPHT) hingga persalinan (atau 38 minggu sejak 19

fertilisasi/pembuahan hingga persalinan) dan kehamilan dibagi menjadi tiga

trimester, yaitu :

1. Trimester satu : 0-12 minggu

2. Trimester dua : 13-28 minggu

3. Trimester tiga : 29-40 minggu

Trimester adalah sistem pembagian waktu kehamilan,kurang lebih tiga

bulanberdasarkan perkembangan fetus (janin) didalam rahim,

jugaberdasarkanperubahan fisik dan psikis yang dialami calon ibu. (Prawirohadjo,

2010)

Berdasarkan penelitian Wahyu (2017), dalam Prevalensi dan Karakteristik

Ibu Hamil dengan HbsAg positif Sebagai Penanda Serologis Dalam Upaya

Penapisan hepatitis B di RSKD Ibu Dan Anak Pertiwi Makasar Periode

2016/2017, usia kehamilan pada ibu hamil dengan HbsAg positif tertinggi pada

trimester III yaitu 77 sampel (91,7%) disusul trimester I yaitu 7 sampel (8,3%)

dan tidak terdapat satupun sampel pada usia kehamilan trimester II.

3. Paritas

Paritas adalah jumlah kehamilan terdahulu yang telah mencapai batas viabilitas

(mampu hidup) dan telah dilahirkan tanpa mengingat jumlah anak dari wanita

selama masa reproduksi. Seorang wanita hamil disebut juga gravida.


21

Istilah Gravida menunjukkan adanya kehamilan tanpa mengingat umur

kehamilannya. (Artini, 2019)

Gravida terbagi menjadi tiga yaitu :

- Primigravida adalah seorang wanita hamil untuk pertama kalinya.

- Secundigravida adalah seorang wanita yang hamil untuk kedua kalinya.

- Multigravida adalah seorang wanita yang hamil untuk lebih dari dua kalinya.

Menurut penelitian Wahyu (2017), dalam Prevalensi Dan Karakteristik Ibu

Hamil Dengan HbsAg Positif Sebagai Penanda Serologis Dalam Upaya

PenapisanHepatitis B di RSDK Ibu Dan Anak Pertiwi Makasar Periode

2016/2017,distribusi ibu hamil positif HBsAg sebanyak 18 orang (21,4%) pada

kelompokusia primigravida dan 66 orang(78,6%) pada kelompok multigravida.

Berdasarkan penelitian sebelummya tentang gambaran hasil pemeriksaan

HBsAg pada ibu hamil di Puskesmas Kelapa Kampit Kabupaten Belitung Timur

oleh Artini (2019), dengan jumlah ibu hamil yang diperiksa 134 orang dengan

hasil HBsAg reaktif sebanyak 3 orang atau 2,2 % dan negatif 97,8 %2. Ibu hamil

positif HbsAg berdasarkan paritas ditemukan pada secundigravida 5,1%.

2.4 Metode Pemeriksaan HBsAg

Kehadiran HBsAg dalam serum atau plasma mengindikasikan adanya infeksi

aktif dari Hepatitis B, bisa infeksi akut ataupun kronik. Pada infeksi Hepatitis B,

HBsAg akan terdeteksi pada 2 sampai 4 minggu sebelum tingkat ALT menjadi

abnormal dan 3 sampai 5 minggu sebelum timbul gejala klinis. HBsAg memiliki 4

subtipe, yaitu adw, ayw, adr, ayr. (Nauly dan Khairinisa, 2018)
22

Deteksi virus hepatitis B dapat dilakukan dengan beberapa metode

pemeriksaan, yaitu :

a. Immunocromotography Test (ICT)

Immunocromotography test (ICT) untuk mendeteksi HbsAg secara kualitatif

yang di tampilkan secara manual.Metode ini secara luas digunakan dalam

membantu menentukan diagnosa dan skrining penyakit di daerah

berkembang.Tujuan adanya pemriksaan HbsAg menggunakan rapit Test ini

adalah untuk mendeteksi adanya Hepatitis B yang terdapat pada serum dan plasma

pada pasien.Terdapat beberapa jenis repid test yang di akui keakuratannya.

Seperti Determine HbsAg yang memiliki sensitifitas 98,92%, dan spesifitas 100%

dan DRW-HbsAg yang memiliki sensitifitas 99,46% dan spesifitas 99,2% (Lin

et,al.2008).Apabila hasil positif pada strip akan muncul dua garis berwarna yaitu

pada area test (T) dan area control (C).Apabila hasil test negatif maka akan

muncul garis berwarna yaitu pada area control (C). Sedangkan jika tidak ada

warna yang muncul pada area control (T) dan ( C) dan atau hanya muncul satu

warna pada area test (T) maka hasil pemeriksaan tersebut invalid.

(Milamau, 2019)

Tes HBsAg ini merupakan pemeriksaan imunologi yang ditingkatkan

sensitifitasnya dengan penggunaan koloid emas untuk mendeteksi Hepatitis B

surface antigen dalam serum atau plasma manusia. Sampel awalnya bereaksi

dengan konjugat berupa pasangan koloid emas dan antibodi monoklonal (anti-

HBsAg) yang terdapat pada bantalan sampel. Campuran tersebut kemudian

bermigrasi di sepanjang membran dengan daya kapiler kemudian bereaksi dengan


23

anti-HBsAg pada daerah tes Jika sampel mengandung HBsAg maka terbentuk

garis di membran pada daerah tersebut. Jika antigen HBsAg tidak ada dalam

sampel maka tidak akan terbentuk garis dan menandakan bahwa hasilnya negatif.

(Nauly dan Khairinisa, 2018)

Gambar 2.5 Prinsip Kerja Imunokromatografi

Campuran selanjutnya terus mengalir menuju daerah kontrol pada membran,

pada daerah ini campuran akan membentuk garis sebagai tanda bahwa hasil

pengujiannya bersifat valid. Hasil dinyatakan positif jika terlihat adanya dua garis

merah. satu garis pada daerah tes (T) dan satu garis pada daerah kontrol (C). Hasil

dinyatakan negatif jika tidak terlihatnya garis merah pada daerah T. Hasil

dinyatakan invalid apabila tidak terlihat adanya garis merah pada daerah C.

(Nauly dan Khairinisa, 2018).


24

b. Enzyme Linked immunosobent Assay (ELISA)

Enzyme Linked immunosobent Assay (ELISA) adalah suatu teknik

biokimiayangdigunakan dalam bidang imunologi untuk mendeteksi kehadiran

antigen atau antibodi dalam suatu sampel. Prinsip dari pemeriksaan metode

ELISA reaksi Antigen- antibodi (Ag-Ab) dimana setelah penambahan konjugat

yaitu antigen atau antibodi yang di label enzim atau substrat akan terjadi

perubahan warna. Perubahan warna akan di ukur intensitasnya menggunakan

spektrofotometer atau ELISA reader menggunakan panjang gelombang tertentu.

(Milamau, 2019)

Menurut WHO metode ELISA merupakan metode gold standart dari

pemeriksaan antigen hepatitis B dan memiliki tingkat sensitivitas yang cukup

tinggi, sehingga dapat digunakan untuk mendeteksi keberadaan antigen walaupun

kadar antigen tersebut sangat rendah. Hal ini disebabkan sifat interaksi antara

antibodi dan antigen bersifat sangat spesifik. Jenis antigen yang digunakan oleh

teknik ELISA adalah antibodi monoklonal yaitu antibodi yang hanya mengenali

satu antigen. Kendala pemeriksaan ELISA yaitu harga antibodi monoklonal relatif

lebih mahal, sehingga pengujian teknik ELISA ini membutuhkan biaya yang

relatif mahal. Selain itu teknik ELISA membutuhkan waktu pengerjaan yang

sangat lama dan rumit (WHO, 2002).


BAB III

KERANGKA KONSEP DAN DEFINISI OPERASIONAL

3.1 Kerangka Konsep

Kerangka konsep penelitian digambarkan pada bagan dibawah ini :

Umur Ibu Hamil

Usia Kehamilan Hasil Pemeriksaan HBsAg


( Reaktif/Non Reaktif)

Paritas

Bagan 3.1 Kerangka konsep

25
26

3.2 Definisi Operasional

Tabel 3.1 Definisi Operasional

Variabel Definisi Operasional Cara Alat Ukur Hasil ukur Skala


Ukur ukur

HBsAg HBsAg merupakan Kualitatif Rapid 1. Reaktif Ordinal


protein selubung terluar Diagnostik 2. Non Reaktif
VHB (Virus Hepatitis Test( RDT)
B), dan merupakan
petanda bahwa individu
tersebut terinfeksi VHB

Umur Lamanya waktu hidup Observasi Rekam 1. < 20 thn Ordinal


yang dimiliki ibu sejak Medik 2. 20-35 thn
dilahirkan sampai 3. > 35 thn
ulang tahun terakhir.
Usia Terhitung sejak hari Observasi Rekam 1. Trimester Ordinal
kehamilan Pertama Haid Terakhir Medik satu
hingga persalinan 2. Trimester
(atau 38 minggusejak dua
fertilasi/pembuahan
3. Trimester
hingga persalinan yang
tiga
dibagi menjaditiga
trimester)
Paritas Jumlah kehamilan Observasi Rekam 1. Primigravi Ordinal
terdahulu yang telah Medik da
mencapai batas 2. Secundigra
viabilitas (mampu vida
hidup) dan telah
3. Multigravi
dilahirkan tanpa
da
mengingat jumlah anak
dari wanita selama masa
reproduksi
27

BAB IV
METODE PENELITIAN

4.1 Desain Penelitian

Desain penelitian ini adalah jenis penelitian Deskriptif dengan menggunakan

data Cross-Section yang bertujuan untuk mengetahui gambaran hasil pemeriksaan

HBsAg pada Ibu Hamil di UPTD Puskesmas Taraman Kabupaten OKU Timur

Tahun 2020. ( Rinaldi dan Mujianto.2017)

4.2 Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian dilakukan di Laboratorium UPTD Puskesmas Taraman Kabupaten

OKU Timur, waktu penelitian dilakukan pada bulan Juli 2019 - Juni 2020.

4.3 Populasi dan Sampel

1. Populasi penelitian adalah seluruh / total populasi ibu hamil yang

mendapatkan pelayanan ANC dan tercatat di rekam medis di UPTD

Puskesmas Taraman Kabupaten OKU Timur sebanyak 282 sampel.

2. Sampel yang diteliti dalam penelitian ini adalah seluruh (total populasi)

ibu hamil yang datang ke UPTD Puskesmas Taraman untuk mendapatkan

pelayanan dan pemeriksaan HBsAg dari bulan Juli 2019 s/d Juni 2020.

27
28

4.4 Prinsip Pemeriksaan

Metode pemeriksaan menggunakan metode Imuno Cromatograpy Assay

(ICA) Dengan menggunakan RDT (rapid diagnostic test) MONOTES HBsAg.

Prinsip Kerja RDT HbsAg MONOTES :

Adalah Imuno Assay Kromatografi aliran lateral yang didasarkan pada

prinsip teknik antibodi sandwich ganda, Membran adalah pra-dilapisi dengan

antibodi HBsAg pada daerah garis uji test. Selama pengujian, Hepatitis B

Surface Antigen dalam seerum spesimen akan bereaksi dengan partikel dilapisi

dengan Antibodi anti-HBsAg. Campuran bermigrasi atas pada membran dan

mengahsilkan garis berwarna merah. Kehadiran garis berwarna di wilayah test

menunjukan hasil positif, sementara ketiadaan menunjukan hasil negatif. Untuk

melayani sebagai kontrol prosedural, garis berwarna akan selalu muncul dalam

kontrol wilayah jalur menunjukan bahwa volume tepat dan spesimen telah

ditambahkan dan membran wicking telah terjadi.(Kit.Insert MONOTEST)

4.5 Bahan Pemeriksaan

Bahan pemeriksaan yang digunakan adalah spesimen serum dari ibu hamil,

karena akan menghasilkan nilai yang lebih nyata karena antibodi yang diperiksa

lebih banyak terdapat di dalamnya daripada whole blood.(PMK52. 2017)


29

4.6 Alat dan Reagen

Peralatan dan bahan yang digunakan antara lain :

1. Tabung Vakum Serum atau Tutup Merah 3 ml

2. Jarum dan Holder

3. Sentrifuse

4. Pipet tetes

5. Torniquet

6. Sarung tangan

7. Plaster

8. Kapas alcohol

9. Wadah jarum

10. Label

11. Timer

12. Uji Kaset

4.7 Prosedur Kerja

1. Pesiapan Pemeriksaan ( Pra Analisis )

a. Melengkapi seluruh informasi yang diperlukan pada formulir

pemeriksaan laboratorium yang diminta.

b. Menerapkan SOP dan kewaspadaan standar (menggunakan sarung


30

tangan, jas laboratorium)

c. Membaca manual kit insert

d. Persiapan bahan

Persiapan Bahan , dalam hal ini menggunakan serum dengan terlebih dahulu

melakukan mengambilan darah vena :

1. Siapkan tabung serologi tutup merah dan beri kode sesuai nomor ID.

2. Siapkan jarum dan beri tahu pasien yang akan diambil darah sebelum

membuka jarum bahwa jarum baru dan steril.

3. Pasang jarum pada holder, taruh tutup di atas meja pengambilan darah.

4. Lengan pasien lurus di atas meja dengan telapak tangan menghadap ke

atas.

5. Torniquet dipasang ± 10 cm di atas lipat siku pada bagian atas dari vena

yang akan diambil (jangan terlalu kencang).

6. Pasien disuruh mengepal untuk mengisi pembuluh darah.

7. Dengan tangan pasien masih mengepal, ujung telunjuk kiri

memeriksa/mencari lokasi pembuluh darah yang akan ditusuk.

8. Bersihkan lokasi dengan kapas alkohol 70% dengan usapan lingkaran

dari dalam keluar dan biarkan sampai kering, kulit yang telah dibersihkan

jangan dipegang lagi.

9. Pegang holder dengan tangan kanan dan ujung telunjuk pada pangkal

jarum.
31

10. Vena ditusuk dengan sudut 30-45º.

11. Bila jarum berhasil masuk vena, tekan tabung sehingga vakumnya

bekerja dan darah terhisap ke dalam tabung. Bila terlalu dalam, tarik

sedikit atau sebaliknya.

12. Bila darah sudah masuk buka kepalan tangan.

13. Setelah cukup darah yang diambil, torniquet dilepas. Lepas tabung dan

lepas jarum perlahan-lahan sambil ditutup kapas alkohol.

14. Homogenkan darah dengan cara membolak – balikan secara

perlahan.sebanyak minimal 8 kali.

15. Pasien diminta untuk menekan bekas tusukan dengan kapas alkohol

selama 1-2 menit (siku jangan dilipat).

16. Tutup bekas tusukan dengan plester.

17. Buang bekas jarum ke dalam wadah tahan tusukan.

18. Biarkan 30 menit kemudian sentrifus pada RPM 3000 selama 15 menit

sehingga diperoleh serum.


32

2. Pemeriksaan ( analisis )

a. Tempatkan test pada permukaan yang bersih dan datar

b. Pegang pipet vertikasi dan mentransfer 2-3 tetes penuh serum ( sekitar 60-

90 ul ) hindari gelembung udara.

c. Jalan kan Timer selama 15 menit

d. Tunggu garis bewarna muncul

e. Baca hasil dalam 15 menit

Catatan : jangan menafsirkan hasil nya setelah 15 menit karena akan

memberikan kesan berbeda pada hasil pemeriksaan.

3. Setelah Pemeriksaan (pasca analisis)

a. Hasil pemeriksaan diserahkan pada pasien dalam amplop tertutup

ditujukan pada dokter

Inteprestasi Hasil sebagai berikut :

 Positif : dua garis berwarna merah muncul , satu baris berwarna di

area C (control) dan garis berwarna jelas lain di area garis uji T (test)

 Negatif : satu garis berwarna di area C (control) dan tidak ada garis

berwarna yang muncul di area garis uji T (test)

 Invalid : baris control gagal tampil atau tidak terjadi perubahan warna

pada garis control.


33

Gambar. 4.1 Interprestasi hasil test cepat HBsAg

b. Tata cara pencatatan hasil adalah Reaktif jika Hasil pemeriksaan positf

dan Non Reaktif jika hasil pemeriksaan negatif

c. Jangan lupa mencatat pemeriksaan dalam buku besar pemeriksaan di

laboratorium.(PMK52.2017)
34

4.8 Alur Pemeriksaan

Ibu Hamil datang ke Laboratorium


Puskesmas untuk skrining HBs Ag

Mengisi informed consent

Persiapan Pemeriksaan

Darah Vena

Sentrifuge

Serum

Rapid Test HBs Ag


Merk MONOTES

Hasil Pemeriksaan Hbs Ag


( Hepatitis B Survace Antigen)
Reaktif (Positif) dan Non Reaktif (Negative)

Pencatatan dan Pelaporan

Bagan. 4.1. Alur Pemeriksaan


35

BAB V
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

5.1 Gambaran Umum Tempat Penelitian

UPTD Puskesmas Taraman adalah fasilitas pelayanan kesehatan yang

menyelenggarakan upaya kesehatan masyarakat dan upaya kesehatan

perseorangan tingkat pertama, dengan lebih mengutamakan upaya promotif dan

preventif di wilayah kerjanya dengan prinsip pertanggung jawaban wilayah yang

harus dilaksanakan oleh Puskesmas, yaitu Puskesmas menggerakkan dan

bertanggung jawab terhadap pembangunan kesehatan di wilayah kerjanya khusus

nya di Wilayah Kerja UPTD Puskesmas Taraman Kecamatan Semendawai Suku

III Kabupaten Ogan Komering Ulu Timur.

UPTD Puskesmas Taraman merupakan Puskesmas dengan Kreteria

Puskesmas Rawat Inap Pedesaan yang terletak di garis lintang 3.970235 , Garis
2
Bujur 104.75808 T, sekitar ± 85 KM dari Kota Martapura atau ibukota

Kabupaten OKU Timur, yang bertempat di Jalan Sultan Mahmud Badaruddin II

Rt.01 Rw.01 Desa Taraman Kecamatan Semendawai Suku III, Kabupaten Ogan

Komering Ulu Timur Provinsi Sumatera Selatan, dengan luas wilayah sekitar +

108.9 Km2 meliputi 9 desa di Wilayah Kerja UPTD Puskesmas Taraman yaitu :

Desa Taraman, Desa Taraman Jaya, Desa Karang Marga, Desa Sukamulya, Desa

Sriwangi, Desa Sriwangi Ulu, Desa Karang Endah, Desa Cahya Negeri dan Desa

Margodadi.

35
36

Bahwa untuk mewujudkan pusat kesehatan masyarakat yang efektif,

efisien, dan akuntabel dalam penyelenggaraan pelayanan kesehatan tingkat

pertama yang bermutu dan berkesinambungan dengan memperhatikan

keselamatan pasien dan masyarakat, dibutuhkan pengaturan organisasi dan tata

hubungan kerja pusat kesehatan masyarakat serta Visi, Misi, Motto dan Tata Nilai

yang mencerminkan upaya pembangunan kesehatan secara berkesinambungan,

adapun Visi, Misi, Motto dan Tata Nilai UPTD Puskesmas Taraman adalah

sebagai berikut :

a. Visi : “Mewujudkan UPTD Puskesmas Taraman sebagai pusat


kesehatan masyarakat dengan pelayanan yang optimal, bermutu dan
terstandarisasi di Kabupaten Ogan Komering Ulu Timur”.

b. Misi :

1. Memberikan pelayanan kesehatan dasar yang bermutu, merata, dan


terjangkau

2. Mengembangkan sarana dan mutu pelayanan sesuai dengan kebutuhan


masyarakat

3. Mendorong terwujudnya kemandirian masyarakat untuk hidup sehat.

c. Motto : “ MELAYANI DENGAN SEPENUH HATI, KEPUASAN ANDA

ADALAH KOMITMEN KAMI”

d. Tata Nilai UPTD Puskesmas Taraman adalah Taat, Ramah dan Manusiawi
37

5.2 Hasil Penelitian

5.2.1 Distribusi Frekuensi Hasil Pemeriksaan HbsAg pada Ibu Hamil di

UPTD Puskesmas Taraman Kabupaten OKU Timur Tahun 2020.

Hasil penelitian berupa persentase pemeriksaan HbsAg pada ibu hamil di

UPTD Puskesmas Taraman Kabupaten OKU Timur dapat dilihat pada tabel

dibawah ini:

Tabel 5.1 Distribusi Frekuensi Hasil Pemeriksaan HbsAg pada Ibu Hamil
di UPTD Puskesmas Taraman Kabupaten OKU Timur Tahun 2020

Hasil Frekuensi Persentase

Reaktif 2 0,71

Non Reaktif 280 99,29

Jumlah 282 100

Berdasarkan tabel 5.1 didapatkan hasil dari 282 orang ibu hamil yang

diperiksa sebanyak 2 orang ( 0,71%) Reaktif HBsAg dan 280 orang (99,29% )

Non reaktif HBsAg.

5.2.2 Distribusi Frekuensi Hasil Pemeriksaan HbsAg pada Ibu Hamil di

UPTD Puskesmas Taraman Kabupaten OKU Timur Tahun 2020

berdasarkan umur Ibu.

Dari Analisis yang dilakukan terhadap pemeriksaan HBsAg pada Ibu Hamil

di UPTD Puskesmas Taraman Kabupaten OKU Timur Tahun 2020 berdasarkan

umur Ibu dapat dilihat pada tabel dibawah ini :


38

Tabel 5.2 Distribusi Frekuensi Hasil Pemeriksaan HbsAg pada Ibu Hamil di
UPTD Puskesmas Taraman Kabupaten OKU Timur Tahun 2020
Berdasarkan Umur Ibu

Pemeriksaan HBsAg

Umur Ibu Reaktif Non Reaktif Jumlah

n % n % N %

< 20 thn 0 0 20 100 20 100

20-35 thn 2 0,84 235 99,16 237 100

> 35 thn 0 0 25 100 25 100

Total 2 280 282

Berdasarkan tabel 5.2 didapatkan hasil dari 20 orang ibu hamil pada umur

< 20 tahun yang diperiksa, sebanyak 20 orang (100%) Non Reaktif HbsAg, dari

237 ibu hamil umur 20-35 tahun yang diperiksa, didapat 2 orang (0,84%)

Reaktif HbsAg dan 239 orang (99,16%) Non Reaktif HbsAg. Sedangkan dari 25

orang ibu hamil umur > 35, 25 orang (100%) Non Reaktif HBsAg.

5.2.3 Distribusi Frekuensi Hasil Pemeriksaan HbsAg pada Ibu Hamil di

UPTD Puskesmas Taraman Kabupaten OKU Timur Tahun 2020

berdasarkan Usia Kehamilan .

Dari Analisis yang dilakukan terhadap pemeriksaan HBsAg pada Ibu Hamil

di UPTD Puskesmas Taraman Kabupaten OKU Timur Tahun 2020 berdasarkan

usia kehamilan dapat dilihat pada tabel dibawah ini:


39

Tabel 5.3 Distribusi Frekuensi Hasil Pemeriksaan HbsAg pada Ibu Hamil
di UPTD Puskesmas Taraman Kabupaten OKU Timur Tahun 2020
Berdasarkan Usia Kehamilan

Pemeriksaan HBsAg

Usia Reaktif Non Reaktif Jumlah

Kehamilan n % n % N %

Trimester I 1 1,12 88 98,88 89 100

Trimester II 0 0 145 100 145 100

Trimester III 1 2,08 47 97,92 48 100

Total 2 280 282

Berdasarkan tabel 5.3 didapatkan hasil dari 89 orang ibu hamil pada

Trimester I yang diperiksa, didapatkan hasil 1 orang (1,12%) reaktif HBsAg,

dan 88 orang (98,88%) non reaktif, dari 145 ibu hamil Trimester II yang

diperiksa, sebanyak 145 orang (100%) non reaktif. Dan dari 48 ibu hamil

Trimester III didapatkan hasil 1 orang (2,08%) Reaktif HBsAg, dan 47 orang

(97,92%) non reaktif HBsAg.

5.2.4 Distribusi Frekuensi Hasil Pemeriksaan HbsAg pada Ibu Hamil di

UPTD Puskesmas Taraman Kabupaten OKU Timur Tahun 2020

berdasarkan Paritas.

Dari Analisis yang dilakukan terhadap pemeriksaan HBsAg pada Ibu Hamil di

UPTD Puskesmas Taraman Kabupaten OKU Timur Tahun 2020 berdasarkan

paritas dapat dilihat pada tabel di bawah ini:


40

Tabel 5.4 Distribusi Frekuensi Hasil Pemeriksaan HBsAg pada Ibu Hamil
di UPTD Puskesmas Taraman Kabupaten OKU Timur Tahun 2020
Berdasarkan Paritas

Pemeriksaan HBsAg

Paritas Reaktif Non Reaktif Jumlah

n % n % N %

Primigravida 0 0 81 100 81 100

Secundigrivida 1 0,86 116 99,14 117 100

Multigravida 1 1,19 83 98,81 84 100

Total 2 280 282

Berdasarkan tabel 5.4 didapatkan hasil dari 81 orang ibu hamil pada

Primigravida yang diperiksa, didapatkan hasil 81 orang (100%) non reaktif

HBsAg, dari 117 ibu hamil Secundigravida yang diperiksa, ditemukan 1 orang

(0,86%) reaktif HBsAg, sebanyak 116 orang (99,14%) non reaktif, dan dari 84

ibu hamil Multigravida didapatkan hasil 1 orang (1,19%) reaktif HBsAg, dan 83

orang (98,81%) non reaktif HBsAg.


41

5.3 Pembahasan

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan di UPTD Puskesmas

Taraman Kabupaten OKU Timur dari 282 sampel telah diperiksa didapatkan

hasil 2 sampel yang reaktif HBsAg (0,71%) sedangkan 280 sampel (99,29 %)

non reaktif HBsAg, hasil pemeriksaan berdasarkan kelompok umur < 20 tahun

100% non reaktif, 20-35 tahun 0,84% reaktif 99,16% non reaktif, hasil

pemeriksaan berdasarkan usia kehamilan trimester I 1,12% reaktif 98,88% non

reaktif, pada usia kehamilan trimester II 100% non reaktif, pada usia kehamilan

III 2,08% reaktif 97,92% non reaktif, hasil pemeriksaan berdasarkan paritas

primigravida 100% non reaktif, secundigravida 0,86% reaktif 99,14 non reaktif,

miltigravida 1,19% reaktif 98,81% non reaktif

Hasil penelitian tersebut lebih rendah jika dibandingkan dengan data

Kementerian Kesehatan dalam Profil Kesehatan Indonesia Tahun 2018, untuk

hasil pemeriksaan HBsAg pada Ibu Hamil di Indonesia dengan hasil reaktif

1,88%, Propinsi Sumatera Selatan 0,97%.

Terdapat penelitian lain yang tidak sejalan dengan penelitian ini diantaranya

penelitian Artini di Puskesmas Kelapa Kampit Kabupaten Belitung Timur Tahun

2019 dimana hasil pemeriksaan HBsAg reaktif pada ibu hamil 2,2% dari 134

sampel, berdasarkan kelompok umur 20-35 tahun 2,9 %, berdasarkan usia

kehamilan trimester I 2,8% , trimester II 2,6 %, berdasarkan paritas hasil tertinggi

pada secundigravida 5,1 %.(Artini, 2019)


42

Berdasarkan hasil penelitian ini yang mencakup 282 ibu hamil yang menjalani

pemeriksaan HBsAg dengan estimasi total sasaran ibu hamil di wilayah kerja

UPTD Puskesmas Taraman sebanyak 349 Ibu hamil tahun 2020, ini

menggambarkan bahwa hasil penelitian baru mencapai 80,8% dari total target

sasaran pemeriksaan HBsAg pada Ibu hamil, tidak tercapainya target tersebut

besar kemungkinan disebabkan oleh status pandemi Covid-19 yang telah

diberlakukan di Kabupaten OKU Timur pada bulan Maret 2020.


43

BAB VI
KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian mengenai Gambaran Hasil Pemeriksaan HBsAg

pada Ibu Hamil di UPTD Puskesmas Taraman Kabupaten OKU Timur Tahun

2020 dapat disimpulkan sebagai berikut :

1. Distribusi frekuensi hasil pemeriksaan HBsAg pada ibu hamil dengan hasil

reaktif 0,71 % dan non reaktif 99,29 % HBsAg .

2. Distribusi frekuensi hasil pemeriksaan HBsAg pada ibu hamil berdasarkan

kelompok umur < 20 tahun 100 % non reaktif , kelompok umur 20-35 0,84

% reaktif 99,16% non reaktif sedangkan pada kelompok umur > 35 tahun

100% non reaktif.

3. Distribusi frekuensi hasil pemeriksaan HBsAg pada ibu hamil berdasarkan

kelompok usia kehamilan pada trimester I yaitu 1,12% reaktif 98,88 non

reaktif, trimester II 100% non reaktif sedangkan pada trimester III 2,08%

rekatif 97,92 % non reaktif.

4. Distribusi frekuensi hasil pemeriksaan HBsAg pada ibu hamil berdasarkan

paritas pada primigravida 100% non reaktif, secundigravida 0,86% reaktif

99,18 non reaktif sedangkan pada multigravida 1,19% reaktif 98,81% non

reaktif.

43
44

5.2 Saran

Setelah melakukan penelitian mengenai Gambaran Hasil Pemeriksaan HBsAg

pada Ibu Hamil di UPTD Puskesmas Taraman Kabupaten OKU Timur saran

yang dapat diberikan peneliti adalah :

1. Dengan masih ditemukannya ibu hamil dengan hasil HBsAg reaktif di

harapkan pihak Puskesmas terus melaksanakan kegiatan pemeriksaan HBsAg

pada ibu hamil sebagai langkah awal dalam memutus mata rantai penularan

virus Hepatitis B dari Ibu ke Bayi.

2. Dengan diketahuinya hasil pemeriksaan HBsAg pada ibu hamil ini

disarankan kepada klinisi Puskesmas untuk memberikan pelayanan kesehatan

khusus kepada ibu hamil dengan HBsAg reaktif.


DAFTAR PUSTAKA

Artini,.2019. Gambaran Hasil Pemeriksaan HBsAg Pada Ibu Hamil di Puskesmas


Kelapa Kampit Kabupaten Belitung Timur Tahun 2019. Karya Tulis Ilmiah
Analis Kesehatan: Poltekes Kemenkes Palembang.

Brook, Geo F. Butel, S Janet, Morse. Stephen A.2007. Jawetz, Melnick, & Adelberg's
Medical Microbioloy. Twenty-Fourth Edition.United Statates of America:The
McGraw-Hill Companies,Inc.

Departemen Health and Medical Research Council.2019. Clinical Practice


Guidelines: Pregnancy Care. Canbera : Australian Government Departemen
of Health.

James,D.K.,(et.al).2006. High Risk Pregnancy : Management Option. Third


Edition.Philadelphia:Elsevier Saunders

Kalma.2016. Uji Validitas SD Bioline HBsAg untuk Deteksi HBsAg dalam Serum
dengan Elisa sebagai Baku Standart. Jurnal Analis Kesehatan Poltekes
Makasar.

Kayser,F.H.,(et.al).2005. Medical Microbiology. Sixth Edition. New York.Thieme


Stutgart

Kementrian Kesehatan RI.2020. Pedoman Bagi Ibu Hamil, Bersalin, Nifas, dan Bayi
Baru Lahir di Era Pandemi Covid-19, Jakarta

Kementrian Kesehatan RI.2018. Profil Kesehatan Indonesia Tahun 2018. Jakarta

Kementrian Kesehatan RI.2017. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia


Nomor 52 Tahun 2017 Tentang Eliminasi Penularan Human
Immunodefeciency Virus, Sifilis, dan Hepatitis B dari Ibu ke Anak.: Jakarta

Kementrian Kesehatan RI.2015. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia


Nomor 53 Tahun 2015 Tentang Penanggulangan Hepatitis Virus: Jakarta
Kit Insert MONOTES.2019. Petunjuk Penggunaan MONOTES HBsAg Test Casette:
Tanggerang: PT. Bintang Mono Indonesia

Lestari, Rizky Indra.2015. Pengaruh Hepatitis terhadap Kehamilan.Jurnal Fakultas


Kedokteran Universitas Lampung.

Manuaba,Ida Bagus Gde.2007.Pengantar Kuliah Obstetri: Jakarta ; ECG

Mustika,Syifa. Hasanah,Dian.2017. Prevalensi Infeksi Hepatitis Ibu Hamil di


Malang: Jurnal Kedokteran.Universitas Brawijaya: Malang

Merry, Vincientia.2001. Pengelolaan Hepatitis B dalam Kehamilan dan Persalinan


di RSUP Kariadi Semarang. Tesis Program Pendidikan Dokter Spesialis I
Obstetri dan Ginekologi.: Fakultas Kedokteran Diponegoro Semarang.

Milamau, Yesi Iryani.2019. Prevalensi Infeksi Hepatitis B Pada Ibu Hamil di RSUD
W.Z Johanes Kupang dari Januari 2017 - Desember 2018. Karya Tulis Ilmiah
Poltekes Kemenkes Kupang.

Ryan, Keneth J. Ray, C George.2005. Medical Microbiology. Fourth Edition. United


Statates of America: The McGraw-Hill Companies,Inc.

Surya,I.G.P., (et.al).2016. Kehamilan Dengan Hepatitis. Edisi Pertama.Jakarta:CV.


Sagung Seto.

Prawirohardjo, Sarwono.2010. Ilmu Kebidanan: Edisi Keempat : Jakarta: PT. Bina


Pustaka Sarwono Prawirohardjo Jakarta.

Pusat Data dan Informasi Kementrian Kesehatan Republik


Indonesia.2017.SituasiPenyakit Hepatitis B di Indonesia Tahun 2017 : Jakarta
: Pusdatin Kementrian Kesehatan RI.

PPHI.2012. Konsesnsus Nasional Penatalaksanaan Hepatitis B di Indonesia. Edisi


Kedua : Jakarta: Perhimpunan Peneliti Hati Indonesia
Rinaldi, Sony Faisal. Mujianto, Bagya.2017. Metodologi Penelitian dan
Statistik.Jakarta : Pusat Pendidikan Sumberdaya Manuasia Kesehatan.
Kementrian Kesehatan Republik Indonesia.

RISKESDAS.2018. Prevalensi Hepatitis Berdasarkan Diagnosis Dokter * Menurut


Propinsi, Tahun 2013 - 2018: Kementrian Kesehatan Republik Indonesia

Rubin,.(et.al).2008. Rubin's Pathology : Clinicopathologic Foundations of Medicine:


Fiveth: Philadelphia: Lippincott Wiliams & Wilkins.

Wahyu, Sri.2017. Prevalensi dan Karakteristik Ibu Hamil dengan HBs Ag Positif
sebagai Penanda Serologis dalam Upaya Penapisan Hepatitis B di RSKD Ibu
dan Anak Pertiwi Makasar Periode 2016/2017. Skripsi Fakultas Kedokteran
Universitas Hasanuddin Makasar.

Suprobowati,Ocky Dwi & Kurniati,Iis.2018.Virologi. Jakarta: Pusat Pendidikan


Sumberdaya Manuasia Kesehatan. Kementrian Kesehatan Republik Indonesia.

Susanti,.(et.al).2017. Deteksi Penyakit Hepatitis B Pada Ibu Hamil di Puskesmas


Abeli Kota Kendari.: Jurnal Analsis Kesehatan Biowallacea,vol 4(1), Hal 572-
575

Wahyuningsih,Heni Puji & Kusmiyati, Yuni.2017.Anatomi Fisiologi. Jakarta: Pusat


Pendidikan Sumberdaya Manuasia Kesehatan. Kementrian Kesehatan
Republik Indonesia.

Word Health Organization.2017. Global Hepatitis Report 2017 : Geneva

World Health Organization.2019. Hepatitis B. Report World Health Organization.


Geneva
LAMPIRAN 1
LAMPIRAN 2
LAMPIRAN 3
LAMPIRAN 4
LAMPIRAN 4
LAMPIRAN 5
LAMPIRAN 6

DATA HASIL PENELITIAN


Gambaran Hasil Pemeriksaan HBsAg Pada Ibu Hamil
( Study Kasus di UPTD Puskesmas Taraman Kab. OKU Timur Juli 2019 s/d Juni 2020 )
NO Kode Umur Paritas Usia Hasil
Sampel Kehamilan Pemeriksaan
HBsAg
1 2 3 4 5 6
Non Reaktif
1 001 3 3
Non Reaktif
2 002 2 2 3
Non Reaktif
3 003 2 3 3
Non Reaktif
4 004 2 2 2
Non Reaktif
5 005 3 2 2
Non Reaktif
6 006 3 3 2
Non Reaktif
7 007 2 2 1
Non Reaktif
8 008 2 2 2
Non Reaktif
9 009 2 1 1
Non Reaktif
10 010 2 2 3
Non Reaktif
11 011 2 2 2
Non Reaktif
12 012 2 2 2
Non Reaktif
13 013 3 2 2
Non Reaktif
14 014 2 3 3
Non Reaktif
15 015 2 3 1
Non Reaktif
16 016 2 2 2
Non Reaktif
17 017 3 3 2
Non Reaktif
18 018 2 3 3
Non Reaktif
19 019 2 2 2
Non Reaktif
20 020 2 3 2
Non Reaktif
21 021 2 3 3
Non Reaktif
22 022 2 2 2
Non Reaktif
23 023 2 1 3
Non Reaktif
24 024 2 1 3
Non Reaktif
25 025 2 3 2
Non Reaktif
26 026 2 1 2
Non Reaktif
27 027 2 2 2
Non Reaktif
28 028 2 1 2
Non Reaktif
29 029 2 1 2
Non Reaktif
30 030 2 1 1
Non Reaktif
31 031 3 3 1
Non Reaktif
32 032 3 2 3
Non Reaktif
33 033 2 3 2
Non Reaktif
34 034 2 3 2
Non Reaktif
35 035 1 2 3
Non Reaktif
36 036 2 2 2
Non Reaktif
37 037 3 3 2
Non Reaktif
38 038 2 2 1
Non Reaktif
39 039 2 1 2
Non Reaktif
40 040 2 2 3
Non Reaktif
41 041 1 2 3
Non Reaktif
42 042 3 2 2
Non Reaktif
43 043 2 1 3
Non Reaktif
44 044 2 3 3
Non Reaktif
45 045 2 2 1
Non Reaktif
46 046 2 3 2
Non Reaktif
47 047 2 1 2
Non Reaktif
48 048 2 3 3
Non Reaktif
49 049 2 3 2
Non Reaktif
50 050 1 1 2
Non Reaktif
51 051 2 2 2
Non Reaktif
52 052 1 1 2
Non Reaktif
53 053 2 2 2
Non Reaktif
54 054 2 3 1
Non Reaktif
55 055 2 2 1
Non Reaktif
56 056 1 1 2
Non Reaktif
57 057 2 3 2
Non Reaktif
58 058 2 1 1
Non Reaktif
59 059 2 1 2
Reaktif
60 060 2 2 3
Non Reaktif
61 061 2 1 3
Non Reaktif
62 062 1 1 3
Non Reaktif
63 063 2 2 1
Non Reaktif
64 064 2 2 1
Non Reaktif
65 065 2 2 2
Non Reaktif
66 066 2 2 3
Non Reaktif
67 067 2 3 3
Non Reaktif
68 068 2 3 2
Non Reaktif
69 069 2 3 3
Non Reaktif
70 070 2 2 1
Non Reaktif
71 071 2 2 3
Non Reaktif
72 072 2 2 2
Non Reaktif
73 073 2 1 2
Non Reaktif
74 074 2 2 2
Non Reaktif
75 075 2 2 2
Non Reaktif
76 076 2 1 2
Non Reaktif
77 077 2 3 2
Non Reaktif
78 078 2 1 2
Non Reaktif
79 079 3 3 1
Non Reaktif
80 080 2 3 1
Non Reaktif
81 081 2 2 3
Non Reaktif
82 082 2 1 2
Non Reaktif
83 083 2 2 2
Non Reaktif
84 084 3 3 3
Non Reaktif
85 085 1 2 2
Non Reaktif
86 086 2 2 2
Non Reaktif
87 087 2 3 2
Non Reaktif
88 088 2 3 3
Non Reaktif
89 089 2 2 3
Non Reaktif
90 090 2 2 3
Non Reaktif
91 091 2 2 1
Non Reaktif
92 092 2 3 2
Non Reaktif
93 093 2 3 2
Non Reaktif
94 094 2 2 3
Non Reaktif
95 095 2 1 1
Non Reaktif
96 096 2 2 1
Non Reaktif
97 097 2 2 3
Non Reaktif
98 098 2 2 3
Non Reaktif
99 099 3 3 2
Non Reaktif
100 100 2 2 2
Non Reaktif
101 101 3 2 2
Non Reaktif
102 102 2 1 3
Non Reaktif
103 103 2 3 3
Non Reaktif
104 104 2 3 2
Non Reaktif
105 105 2 2 2
Non Reaktif
106 106 2 2 2
Non Reaktif
107 107 2 2 2
Non Reaktif
108 108 3 3 1
Non Reaktif
109 109 2 1 1
Non Reaktif
110 110 2 1 2
Non Reaktif
111 111 3 3 2
Non Reaktif
112 112 2 3 2
Non Reaktif
113 113 3 3 2
Non Reaktif
114 114 2 3 3
Non Reaktif
115 115 1 1 2
Non Reaktif
116 116 2 3 1
Non Reaktif
117 117 2 1 1
Non Reaktif
118 118 2 2 1
Non Reaktif
119 119 2 2 1
Non Reaktif
120 120 2 1 2
Non Reaktif
121 121 2 3 2
Non Reaktif
122 122 2 2 2
Non Reaktif
123 123 2 1 1
Non Reaktif
124 124 2 1 1
Non Reaktif
125 125 2 1 2
Non Reaktif
126 126 2 3 2
Non Reaktif
127 127 2 1 2
Non Reaktif
128 128 1 1 3
Non Reaktif
129 129 2 2 2
Non Reaktif
130 130 2 3 2
Non Reaktif
131 131 2 2 2
Non Reaktif
132 132 2 1 1
Non Reaktif
133 133 2 1 2
Non Reaktif
134 134 2 2 1
135 135 2 2 1 Non Reaktif

136 136 2 1 1 Non Reaktif

137 137 2 2 1 Non Reaktif

138 138 2 2 2 Non Reaktif

139 139 2 3 2 Non Reaktif

140 140 2 2 3 Non Reaktif

141 141 1 3 1 Non Reaktif

142 142 2 2 1 Non Reaktif

143 143 2 1 1 Non Reaktif

144 144 2 1 1 Non Reaktif

145 145 2 2 1 Non Reaktif

146 146 2 2 3 Non Reaktif

147 147 2 2 1 Non Reaktif

148 148 2 1 1 Non Reaktif

149 149 2 3 2 Non Reaktif

150 150 2 2 1 Non Reaktif

151 151 2 1 1 Non Reaktif

152 152 1 1 1 Non Reaktif

153 153 2 2 1 Non Reaktif

154 154 2 2 3 Non Reaktif

155 155 2 3 3 Non Reaktif

156 156 2 2 1 Non Reaktif

157 157 2 3 2 Non Reaktif

158 158 2 1 2 Non Reaktif


159 159 2 1 2 Non Reaktif

160 160 2 2 2 Non Reaktif

161 161 1 1 1 Non Reaktif

162 162 2 2 1 Non Reaktif

163 163 2 2 1 Non Reaktif

164 164 2 1 1 Non Reaktif

165 165 2 1 2 Non Reaktif

166 166 3 3 2 Non Reaktif

167 167 2 2 2 Non Reaktif

168 168 2 2 1 Non Reaktif

169 169 2 3 1 Non Reaktif

170 170 2 2 2 Non Reaktif

171 171 2 2 2 Non Reaktif

172 172 2 2 3 Non Reaktif

173 173 3 1 2 Non Reaktif

174 174 2 1 1 Non Reaktif

175 175 2 1 2 Non Reaktif

176 176 2 1 2 Non Reaktif

177 177 2 2 2 Non Reaktif

178 178 2 1 1 Non Reaktif

179 179 2 2 1 Non Reaktif

180 180 2 2 1 Non Reaktif

181 181 2 3 1 Non Reaktif

182 182 2 3 2 Non Reaktif

183 183 2 2 1 Non Reaktif

184 184 2 3 2 Non Reaktif

185 185 2 3 2 Non Reaktif

186 186 1 1 2 Non Reaktif

187 187 2 3 1 Non Reaktif

188 188 2 3 1 Non Reaktif

189 189 2 1 2 Non Reaktif

190 190 2 3 1 Non Reaktif

191 191 2 2 1 Reaktif


192 192 2 2 2 Non Reaktif

193 193 2 3 2 Non Reaktif

194 194 2 3 2 Non Reaktif


195 195 2 2 1 Non Reaktif

196 196 1 1 2 Non Reaktif

197 197 2 1 2 Non Reaktif

198 198 1 1 1 Non Reaktif

199 199 2 2 2 Non Reaktif

200 200 2 1 2 Non Reaktif

201 201 2 3 1 Non Reaktif

202 202 2 2 1 Non Reaktif

203 203 2 1 1 Non Reaktif

204 204 1 1 1 Non Reaktif

205 205 3 3 2 Non Reaktif

206 206 2 2 2 Non Reaktif

207 207 2 2 2 Non Reaktif

208 208 2 1 1 Non Reaktif

209 209 2 1 1 Non Reaktif

210 210 2 3 2 Non Reaktif

211 211 2 1 2 Non Reaktif

212 212 2 3 1 Non Reaktif

213 213 3 3 2 Non Reaktif

214 214 2 3 2 Non Reaktif

215 215 2 3 2 Non Reaktif

216 216 2 3 2 Non Reaktif

217 217 2 2 1 Non Reaktif

218 218 2 2 1 Non Reaktif

219 219 1 1 2 Non Reaktif

220 220 2 1 1 Non Reaktif

221 221 2 3 1 Non Reaktif

222 222 2 2 2 Non Reaktif

223 223 2 1 1 Non Reaktif

224 224 2 2 2 Non Reaktif

225 225 2 2 2 Non Reaktif

226 226 2 1 2 Non Reaktif

227 227 2 2 2 Non Reaktif

228 228 2 2 2 Non Reaktif

229 229 2 1 2 Non Reaktif

230 230 2 1 2 Non Reaktif


231 231 2 2 2 Non Reaktif

232 232 2 2 2 Non Reaktif

233 233 2 2 2 Non Reaktif

234 234 2 3 3 Non Reaktif

235 235 3 3 2 Non Reaktif

236 236 2 3 2 Non Reaktif

237 237 2 2 2 Non Reaktif

238 238 2 3 2 Non Reaktif

239 239 2 2 2 Non Reaktif

240 240 2 3 2 Non Reaktif

241 241 2 1 2 Non Reaktif

242 242 2 2 2 Non Reaktif

243 243 2 2 2 Non Reaktif

244 244 2 2 1 Non Reaktif

245 245 2 1 2 Non Reaktif


Non Reaktif
246 246 2 3 2
247 247 2 2 3 Non Reaktif

248 248 3 3 1 Non Reaktif

249 249 2 2 2 Non Reaktif

250 250 2 3 3 Non Reaktif

251 251 1 1 1 Non Reaktif

252 252 1 1 2 Non Reaktif

253 253 2 3 3 Non Reaktif

254 254 2 2 2 Non Reaktif

255 255 3 3 1 Non Reaktif

256 256 2 2 1 Non Reaktif

257 257 2 2 1 Non Reaktif

258 258 2 2 1 Non Reaktif

259 259 2 1 2 Non Reaktif

260 260 2 2 2 Non Reaktif

261 261 1 1 1 Non Reaktif

262 262 2 1 2 Non Reaktif

263 263 2 2 1 Non Reaktif

264 264 2 2 2 Non Reaktif

265 265 2 2 3 Non Reaktif

266 266 2 2 2 Non Reaktif


267 267 2 3 1 Non Reaktif

268 268 2 1 2 Non Reaktif

269 269 2 3 1 Non Reaktif

270 270 2 1 1 Non Reaktif

271 271 2 3 3 Non Reaktif

272 272 2 1 1 Non Reaktif

273 273 3 3 1 Non Reaktif

274 274 2 2 1 Non Reaktif

275 275 2 2 2 Non Reaktif

276 276 2 1 1 Non Reaktif

277 277 2 3 2 Non Reaktif

278 278 2 2 1 Non Reaktif

279 279 2 2 2 Non Reaktif

280 280 2 1 2 Non Reaktif

281 281 2 2 2 Non Reaktif

282 282 2 2 1 Non Reaktif

Keterangan :

1. Umur Ibu 2. Paritas 3. Usia Kehamilan 4. Hasil

<20 thn =1 Primigravida =1 Trimester I =1 Positif = Reaktif


( 0-12 Minggu)
20-35 thn =2 Secungravida =2 Trimester II =2 Negative = Non
( 13-28 Minggu) Reaktif
> 35 thn =3 Multigravida =3 Trimester III =3
( 29-40 Minggu)

Mengetahui,
Kepala UPTD Puskesmas Taraman

Ahmad Syaikhu,SKM.M.Kes
NIP. 19790702 200701 1 007
REKAPITULASI HASIL PENELITIAN
Gambaran Hasil Pemeriksaan HBsAg Pada Ibu Hamil
( Study Kasus di UPTD Puskesmas Taraman Kab. OKU Timur Juli 2019 s/d Juni 2020 )

1. Cakupan Hasil Pemeriksaan HBsAg Ibu Hamil menurut Target


Pemeriksaan

Kementrian Kesehatan Tahun 2019 – 2020 :


- Cakupan Kementrian Kesehatan DDHB Tahun 2019-2020 = 80
% menurut Permenkes 52 Tahun 2017
- Target DDHB UPTD Puskesmas Taraman Tahun Juli 2019 s/d
Juni

adalah 349 Ibu Hamil (100 %) Menurut Standart Pelayanan


Minimal Kab. OKU Timur ( Permenkes No.04 Tahun 2019 dan
Perbup OKUT No. 54 Tahun 2018 )
- Capaian Hasil Pemeriksaan HBsAg bulan Juli 2019 s/d Juni 2020
adalah

282 bumil
Jumlah Ibu Hamil yang diperiksa
HBsAg
Capaian Pemeriksaan DDHB = X 100%
Jumah sasaran Ibu hamil

282
Capaian Pemeriksaan DDHB = X 100%
349

Capaian Pemeriksaan DDHB = 80,80 %

2
Prevalensi HBsAg Reaktif = X 100%
282
= 0,71 %

280
Prevalensi HBsAg = X 100%
Non Reaktif 282
= 99,29 %
2. Tabulasi Hasil Menurut Kelompok Umur Ibu
Pemeriksaan HBsAg
No Umur Ibu Jumlah
Reaktif Non Reaktif
n % n % N %
1 < 20 thn 0 0 20 100 20 100
2 20-35 thn 2 0 235 100 237 100
3 >35 Thn 0 0 25 100 25 100
Total 2 280 282

Keterangan :
 Kelompok Umur < 20 Tahun
 Kelompok Umur 20-35 Tahun
 Kelompok Umur > 35 Tahun

3. Tabulasi Hasil Menurut Kelompok Usia Kehamilan Ibu


Pemeriksaan HBsAg
Usia Reaktif Non Reaktif Jumlah
Kehamilan n % n % N %
Trimester I 1 1,12 88 98,88 89 100
Trimester II 0 0 145 100 145 100
Trimester III 1 2,08 47 97,92 48 100
Total 2 280 282

Keterangan :
 Trimester I : Usia Kehamilan 0-12 Minggu
 Trimester II : Usia kehamilan 13-28 minggu
 Trimester III : Usia Kehamilan 29-40 Minggu
4. Tabulasi Hasil berdasarkan status kehamilan atau Paritas
Pemeriksaan HBsAg
Paritas Reaktif Non Reaktif Jumlah

n % n % N %
Primigravida 0 0 81 100 81 100

Secundigrivida 1 0,86 116 99,14 117 100


Multigravida 1 1,19 83 98,81 84 100
Total 2 280 282

Keterangan :
 Primigravida adalah seorang wanita hamil untuk pertama kalinya.
 Secundigravida adalah seorang wanita yang hamil untuk kedua kalinya.
 Multigravida adalah seorang wanita yang hamil untuk lebih dari dua kalinya.

Mengetahui,
Kepala UPTD Puskesmas
Taraman

Ahmad Syaikhu,SKM.M.Kes
NIP. 19790702 200701 1 007
LAMPIRAN 7

Peralatan yang digunakan dalam pemeriksaan RDT HBsAg

No Nama Alat Gambar

1 Sentrifuse

2 a. Tabung Vakum Serum

b. Jarum

c. Holder

a c

3 Kit Rapid Test HBsAg

MONOTES

a. Uji Kaset HBsAg b

b. Pipet Dropper

4 a. Torniquet

b. Sarung Tangan

a b
No Nama Alat Gambar

5 Plaster

6 Kapas Alkohol

7 Etiket /Label

8 Tempat Limbah
Penggunaan Alat Pelindung Diri (APD)

A.Rekomendasi Utama Untuk Tenaga Kesehatan Yang Menangani Pasien

Covid-19 Khususnya Ibu Hamil, Bersalin Dan Nifas

1. Penularan COVID-19 terjadi melalui kontak, droplet dan airborne. Untuk itu

perlu dijaga proses penularan ini terjadi pada tenaga kesehatan dan bayinya

sendiri. Isolasi tenaga kesehatan dengan APD yang sesuai dan tatalaksana isolasi

bayi dari Ibu ODP/PDP/terkonfirmasi COVID-19 merupakan fokus utama dalam

manajemen pertolongan persalinannya. Selain itu, jaga jarak minimal 1 meter jika

tidak diperlukan tindakan.

2. Level APD yang digunakan dapat dilihat pada Tabel 3.1 di bawah ini.
Menurut Petujuk Teknis Pelayanan Puskesmas Pada Masa Pandemi

Covid -19 Kementrian Kesehatan RI khususnya pelayanan bagi ibu hamil

terutama pada bagian laboratorium untuk mencegah penularan dibutuhkan

Alat Pelindung Diri ( APD ) antara lain :

1. Pelindung Mata dan atau Pelindung Wajah

2. Masker Medis

3. Pelindung Kepala

4. Sepatu Pelindung

5. Baju Kerja

6. Handscoen

Gambar Alat Pelindung Diri Level 1


Sumber : Kemenkes 2020
LAMPIRAN 8

Pengambilan Darah Vena

Pengumpulan Sampel

Proses Sentrifuse
Pemeriksaan

Interprestasi Hasil

Negatif / Non Reaktif Positif / Reaktif

Invalid
LAMPIRAN 9