Anda di halaman 1dari 23

OPTIMALISASI PELAKSANAAN TUGAS PROVOS POLSEK TENAYAN RAYA GUNA

MENDUKUNG PENERAPAN PROTOKOL KESEHATAN SELAMA PANDEMI COVID-19


DALAM RANGKA TERWUJUDKAN SITUASI KAMTIBMAS YANG KONDUSIF

OLEH:

SYAIFULLAH, S.H., M.H

PEKANBARU

2021
BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Kepolisian Negara Republik Indonesia sebagai salah satu organisasi
pengemban tugas pokok fungsi pelindung, pengayom, pelayan masyarakat,
penegakan hukum, serta menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat. Tugas
Kepolisian Negara Republik Indonesia sudah diatur dalam Undang-Undang No.2
Tahun 2002 tentang Kepolisian Negara Republik Indonesia. Di era yang serba
digital saat ini Kepolisian Negara Republik Indonesia berkewajiban untuk
meningkatkan kinerja yang profesional, modern, bermoral dan dapat dipercaya
masyarakat. Oleh karena itu, perlu menyusun program yang dititikberatkan pada
perubahan perilaku anggota Kepolisian Negara Republik Indonesia dalam
melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya dengan harapan dapat menjawab
tuntutan yang diharapkan masyarakat.

Dengan perubahan Indonesia menuju Kepolisian Negara Republik Indonesia


yang mandiri, profesional, proporsional, adil dan dipercaya masyarakat. Tetapi
dengan segala macam informasi dan berbagai macam akses yang bisa didapatkan
dengan mudahnya pada era digital saat ini, Kepolisian Negara Republik Indonesia
tidak dapat memungkiri terkait masih adanya perilaku oknum anggota Kepolisian
Negara Republik Indonesia dalam menjalankan tugas dan kewenangannya masih
banyak ditemukan pelanggaran dan penyimpangan, sehingga menimbulkan
penilaian yang negatif atau bias dikatakan buruk dimata masyarakat. Dengan
masih banyaknya oknum anggota Kepolisian Negara Republik Indonesia yang
melakukan pelanggaran baik itu secara kedinasan maupun kehidupan
bermasyarakat. Perkara pelanggaran disiplin Polri yang terjadi masih banyaknya
oknum-oknum anggota Kepolisian Negara Republik Indonesia yang melakukan
pungutan liar atau disebut pungli, bolos kerja, tidak masuk kerja tanpa ijin,
melakukan perjudian, menggunakan narkoba, melakukan tindakan kekerasan,
menelantarkan keluarga, perselingkuhan, membekingi tempat- tempat perjudian
dan tempat-tempat terlarang lainya, berlaku tidak sopan serta melanggar norma-
norma kehidupan bermasyarakat, dan masih banyak hal yang lainya yang dapat
menurunkan harkat martabat negara dan Kepolisian Negara Republik Indonesia
yang diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 2 Tahun 2003 tentang Peraturan
Disiplin Anggota Kepolisian Negara Republik Indonesia.
Menurut Pasal 1 angka 15 Peraturan Pemerintah Nomor 2 Tahun 2003
tentang Disiplin Anggota Polri, Provos adalah Satuan fungsi pada Kepolisian
Negara Republik Indonesia yang bertugas membantu pimpinan untuk membina
dan menegakkan disiplin serta memelihara tata tertib kehidupan anggota
Kepolisian Negara Rebuplik Indonesia. Namun dalam pelaksanaan pembinaan
yang dilakukan oleh Provos terhadap anggota Polri pada kenyataannya masih saja
ditemukan anggota Polri yang melakukan pelanggaran disiplin.

Harapan masyarakat Indonesia akan kinerja dan profesionalisme institusi


Polri dari waktu ke waktu terus meningkat. Hal tersebut menjadi tantangan Polri
untuk membuktikan perannya sebagai instrumen dalam menjaga keamanan dan
ketertiban masyarakat. Namun, berbeda dengan kondisi sebelumnya, dalam masa
pandemi Polri juga dituntut perannya dalam penanganan Covid-19.

Adapun protokol kesehatan yang diterapkan kepada anggota adalah


dimana sebelum memasuki Kantor, Unit Provos melaksanakan pengecekan suhu
tubuh dan menghimbau anggota untuk mencuci tangan untuk mencegah
penyebaran covid-19 di lingkungan perkantoran, selain itu Unit Provos juga
melaksanakan absensi kepada anggota untuk mengecek serta mengetahui tingkat
kedisiplinan anggota dalam melaksanakan kegiatan. Disaat situasi pandemi
seperti sekarang tentunya kedisiplinan protokol kesehatan sangat wajib
dilakukan, dimana Unit Provos bertugas mengawasi dan mengecek setiap anggota
sehingga pelaksanaan tugas di masa pandemi covid-19 dapat dilaksanakan
dengan baik. Sebelum memasuki Mako Polsek, semua anggota wajib
melaksanakan protokol kesehatan 3 M untuk mencegah penyebaran covid-19.
Kegiatan penerapan protokol kesehatan ini akan rutin dilaksanakan setiap hari
baik itu kepada anggota dan juga kepada masyarakat umum yang akan memasuki
wilayah perkantoran Polsek Tenayan Raya.  Hal ini juga sesuai Instruksi Presiden
(Inpres) Nomor 6 Tahun 2020, yang mengatur soal disiplin menerapkan protokol
kesehatan di tengah pandemi Covid-19. “Jadi, Provost melakukan kegiatan
pendisiplinan pelaksanaan Protokol Kesehatan bagi anggota Polri terutama di
internal Polsek Tenayan Raya.
Upaya pencegahan dan pemutusan rantai penyebaran COVID-19 di
Indonesia membutuhkan kedisiplinan pada banyak aspek, terutama kehidupan
sosial masyarakat. Dalam situasi pandemi,  diperlukan  disiplin yang sangat ketat
terhadap kehidupan sosial masyarakat dalam bentuk physical distancing. Metode
ini dianggap sebagai upaya yang paling efektif untuk mencegah dan mengurangi
angka penyebaran virus ini.

Polri juga melakukan berbagai upaya dalam rangka membantu masyarakat pada
saat pandemi Covid-19. Pandemi covid -19 ini juga berdampak pada masyarakat
tidak hanya di bidang kesehatan, melainkan juga di bidang ekonomi, keagamaan,
sosial dan budaya, serta politik. Jika tidak bisa dikelola dengan baik, maka akan
berpotensi mengganggu situasi Kamtibmas.

B. Identifikasi Masalah
Berdasar hal tersebut diatas maka penulis tertarik menulis naskah karya
perorangan dengan judul “optimalisasi pelaksanaan tugas Provos Polsek Tenayan
Raya guna mendukung terwujudnya penerapan protokol kesehatan selama
pandemi covid-19 dalam rangka terwujudnya situasi kamtibmas yang kondusif”.

C. Persoalan

Pandemi Covid-19 menuntut respons Polri sebagai aparat penegak hukum


dalam memainkan perannya dalam upaya pengendalian penyakit, edukasi kepada
masyarakat, dan penindakan tindak kejahatan yang melihat wabah sebagai
kesempatan untuk melakukan berbagai tindak kejahatan. Dari pernyataan
tersebut, dapat dirumuskan sebagai berikut:

1. Bagaimana kondisi dan kemampuan personil Polri khususnya unit Provos


Polsek Tenayan Raya dalam mewujudkan penerapan protokol kesehatan
selama pandemi Covid-19 dalam mewujudkan situasi kamtibmas yang
kondusif
2. Bagaimana dukungan anggaran yang dimiliki oleh unit Provos Polsek
Tenayan Raya dalam penerapan protokol kesehatan selama Pandemi Covid
19 dalam mewujudkan situasi kambtibmas yang kondusif
3. Bagaimana dukungan sarana dan prasarana yang dimiliki unit Provos
Polsek Tenayan Raya dalam penerapan protokol kesehatan selama
pandemi covid 19
4. Bagaimana metode yang digunakan personal unit Provos Polsek Teanyan
Raya dalam penerapan protokol kesehatan selama pandemic covid 19
dalam mewujudkan situasi kambtibmas yang kondusif.

D. Ruang Lingkup
Dalam penulisan Naskah Karya Perorangan ini, penulis membatasi pada ruang
lingkup pembahasan pelaksanaan tugas unit Provos Polsek Tenayan Raya guna
mendukung terwujudnya penerapan protokol kesehatan selama pandemi covid-
19 dalam rangka terwujudnya situasi kamtibmas yang kondusif.

E. Maksud dan Tujuan

Maksud dari penulisan Naskah Karya Perorangan ini adlah sebagai salah
satu syarat seleksi masuk Sekolah Inspektur Polisi tahun ajaran 2021. Selain itu
juga sebagai sumbangan pemikiran kepada pimpinan dalam mengambil langkah
dan kebijakan yang berkenaan dengan optimalisasi pelaksanaan penerapan
protokol kesehatan selama pandemi covid 19 dalam mewujudkan situasi
kambtibmas yang kondusif di unit Polsek Tenayan Raya.

Tujuan penulis juga untuk masukan dalam rangka meningkatkan kinerja


anggota unit Provos polsek Tenayan Raya, dan juga untuk mendeskripsikan secara
global pelaksanaan tugas Provos yang telah dilakukan dan yang akan dilaksanakan
untuk penerapan protokol kesehatan selama pandemi covid 19 untuk
mewujudkan situasi kambtibmas yang kondusif.
BAB II
PEMBAHASAN
A. KONDISI SAAT INI
Propam terdiri dari 3 (tiga) bidang/wadah fungsi dalam bentuk sub
organisasi disebut Biro (Biro Paminal, Biro Wabprof, dan Biro Provos).
a. Fungsi pengamanan dilingkungan internal organisasi Polri
dipertanggungjawabkan kepada Biro Paminal
b. Fungsi pertanggungjawaban profesi dilimpahkan kepada Biro Wabprof
c. Fungsipenegakan disiplin dan ketertiban dilingkungan Polri
dipertanggungjawabkankepada Biro Provos.

Pengawasan Provos Polsek Tenayan Raya terhadap pelaksanaan tugas-tugas


personel di lapangan rutin dilaksanakan setiap hari. Hal ini merupakan bagian dari
tugas dan tanggungjawab yg di emban personel Provos dalam menjalankan roda
tugas organisasi  sesuai fungsi dan perannya sebagai unsur pengawas di tingkat
Polsek, sebagaimana yg tlh diamanatkan di dalam Peraturan Kapolri No. 23 Thn.
2010  ttg Struktur Organisasi dan Tata Kerja di Tingkat Polres dan Polsek, dan juga
kewenangan yg dimilikinya sebagaimana yg diamanatkan oleh Peraturan
Pemerintah Republik Indonesia No. 2 Thn. 2003 ttg Peraturan Disiplin anggota
Polri, dan Peraturan Kapolri No. 14 Thn. 2011 ttg Kode Etik Profesi Polri.
Hal ini dilakukan agar perilaku personel didalam menerapkan Standar Operasional
Prosedural (SOP) terkait tugas-tugas yg dilaksanakan personel selalu terpantau,
juga sebagai bentuk upaya pencegahan agar tidak terjadi adanya penyelewengan
atau penyalahgunaan kewenangan, guna pemuliaan profesi Polri itu sendiri.
Dengan demikian personel Provos terutama Provos PolsekTenayan Raya dituntut
untuk bisa memainkan perannya dengan sebaik-baiknya, dengan didasarkan atas
skala dan sasaran prioritas tugas, serta Standar Operasional Prosedural (SOP)
terkait tugas-tugas Provos yg dilaksanakan personel Provos sebagaimana tugas
pokok dan beban kerja Unit Provos yg diembannya, guna efektifitas dan efisiensi
tugas yg tepat sasaran didalam bertindak serta bisa dipertanggungjawabkan.
Adapun tugas-tugas yg dilaksanakanan yaitu diantaranya mengawasi  pelaksanaan
tugas-tugas personel di lapangan, sebagaimana yang telah dilakukan oleh Piket
Provos Polsek Tenayan Raya. Cegah terjadinya penularan dan penyebaran wabah
Virus Corona (Covid-19) dilingkunganya, Personil Provos Polsek Tenayan Raya
lakukan pengecekan terhadap personil Polsek yang melakukan cuci tangan
sebelum memasuki mako polsek. Upaya pencegahan yaitu dengan mengawasi
personil Polsek melaksanakan protokol kesehatan dengan mencuci tangan
sebelum memasuki Polsek, setiap personil memakai masker, menjaga jarak,
ketersedian hand sanitizer, maupun pemakaian face shield dan pengecekan suhu.

Kegiatan tersebut merupakan upaya personel Polsek dalam menjaga kesehatan


diri ataupun kesehatan di lingkungan sekitar sebelum turun ke tengah masyarakat
dalam melaksanakan tugas sehari-hari sebagai pelindung dan pengayom
masyarakat serta upaya personil Provos Polsek Tenayan Raya dalam memutus
mata rantai penyebaran dari virus corona yang saat ini makin mewabah.

“Sebagai anggota Polri yang setiap hari bertatap muka memberikan imbauan
kepada masyarakat maka harus di pastikan kesehatan anggota tersebut guna
memutus mata rantai penyebaran virus corona”. Sebagai anggota Gugus Tugas
Percepatan Penanganan Covid-19, Polri memiliki sejumlah tugas. Salah satunya,
polisi bertugas memetakan wilayah yang rawan penyebaran virus corona sebagai
langkah preemtif. Kemudian, polisi mengimbau masyarakat menjaga jarak dan
menerapkan hidup bersih. Sebagai langkah preventif, polisi melakukan patroli di
wilayah yang rawan penyebaran virus tersebut, melakukan pengawasan seperti
mengukur suhu tubuh, serta menyemprot tempat publik dengan cairan
disinfektan. Polisi pun bertugas menindak pelaku tindak kejahatan, misalnya
penimbun bahan pokok. Di penegakan hukum, polisi melakukan penindakan
terkait hoaks dan penerapan protokol pencegahan Covid-19 di lingkungan kerja
unit Provos PolsekTenyan Raya masih terus berjalan hingga saat ini dan
pengawasannya juga terus ditingkatkan. Penerapan protokol kesehatan sampai
dengan saat ini masih terus ditingkatkan, di mulai dari akses untuk masuk ke
kantor, yang kini dibuat terbatas, yakni hanya melalui satu pintu, guna
mempermudah melakukan pengawasan dan pengukuran suhu tubuh. Selain
membatasi jalur masuk, Polsek Tenayan Raya melalui fungsi Provos juga
melakukan patroli dan razia kepada personel yang tidak menggunakan
masker. Kemudian mengontrol jaga jarak aman di ruang kerja. Setiap harinya
juga Provos melakukan patroli ke ruangan kerja, melakukan razia masker kepada
personel. Bahkan personel yang tidak menggunakan masker langsung diberikan
tindakan disiplin.
Bentuk dan cara pembinaan yang dilakukan terhadap anggota Polri yaitu
pre-emtif, preventif dan represif . Hambatan yang dalam pelaksanaan pembinaan
Provos yaitu kurangya sumber daya manusia, kurangnya kepedulian terhadap
anggota Polri yang melakukan pelanggaran, minimnya dukungan dari masing-
masing pimpinan satuan Kerja, sebagian anggota Provos belum mengikuti
pendidikan kejuruan Provos dan tugas Provos belum dikenal luas oleh
masyarakat.Disarankan kepada atasan hukum Polri dalam menegakkan disiplin
lebih meningkatkan pembinaan disiplin baik secara pre-emtif, preventif, dan
represif. Pembinaan yang diberikan oleh Provos sebaiknya tidak melewati batas
waktu enam bulan sehingga dapat menghambat anggota Polri dalam melanjutkan
karirnya.

Virus yang kecil, namun berdampak besar bagi kehidupan manusia di dunia.
Ketika kasus ini semakin hari semakin meningkat, membuat semua menjadi panik,
apalagi pemerintah demi keselamatan penduduknya. Wabah corona virus disease
(penyakit) atau disebut juga covid-19 saat ini menjadi problem utama secara
global di seluruh dunia.

Termasuk pemerintah Indonesia yang harus lebih mewaspadai penyebaran


Covid-19. Oleh karena itu, pemerintah Indonesia saling bekerjasama dengan
berbagai pihak untuk dapat mengantisipasi dampak yang di timbulkan dari covid-
19, pihak tim tenaga kesehatan, TNI dan POLRI sebagai garda terdepan gugus
covid-19. Untuk pencegahan dan penanganan Covid-19 di Indonesia, pemerintah
membentuk Gugus Tugas Percepatan Penanganan, di mana Polri ikut menjadi
bagian dari penanganan Covid-19.
a. Kondisi pelaksanaan tugas unit Provos di Polsek Tenayan Raya guna
mendukung terwujudnya penerapan protokol kesehatan selama pandemi
covid-19 dalam rangka terwujudnya situasi kamtibmas yang kondusif.
Kondisi sumber daya manusia pada unit Polri di Polresta Pekanbaru Riau
Berdasarkan fakta yang terjadi dilapangan terkait kinerja unit Provos Polsek
Tenayan Raya untuk pengemban tugas Polri sebagai garda terdepan gugus
covid 19 tidak bisa di pungkiri bahwa ini belum sesuai dengan harapan
masyarakat.
Dalam konteks inilah, selain tenaga medis, Polri khususnya Provos
dapat disebut sebagai garda terdepan dalam upaya pencegahan
penyebaran COVID-19. Keberhasilan PSBB memang tergantung dari
kesadaran dan kedisiplinan masyarakat, namun untuk memastikan
keduanya berjalan, diperlukan peran Polri di dalamnya.
Disinilah letak persoalannya. Peran Polri yang demikian krusial dan
signifikan untuk mencegah penyebaran COVID-19 tentu menjadi tugas
“tambahan” yang tidak pernah diduga sebelumnya. Polri, pada satu sisi
memiliki tugas-tugas rutin sebagai aparat penegak hukum dan penjaga
ketertiban umum, sementara di sisi lain menjadi pihak yang diandalkan
untuk menegakkan aturan PSBB. Pada saat yang sama, seluruh personel
Polri di lapangan juga harus meningkatkan kewaspadaan bagi dirinya
masing-masing karena kemungkinan tertular virus ini juga besar.
Polri juga melakukan berbagai upaya dalam rangka membantu
masyarakat pada saat pandemi Covid-19. Pandemi covid -19 ini juga
berdampak pada masyarakat tidak hanya di bidang kesehatan, melainkan
juga di bidang ekonomi, keagamaan, sosial dan budaya, serta politik. Jika
tidak bisa dikelola dengan baik, maka akan berpotensi mengganggu situasi
Kamtibmas.Peran Polri dibutuhkan agar potensi gangguan Kamtibmas tidak
berkembang menjadi gangguan nyata. Seluruh anggota Polri khususnya
unit Provos harus bekerja ekstra keras dengan mengedepankan tindakan
preemtif ( konsultasi ) dan preventif ( pengawasan ). Berdasarkan regulasi
(suatu peraturan yang dibuat untuk membantu mengendalikan suatu
kelompok, lembaga / organisasi demi mencapai tujuan tertentu dalam
kehidupan bersama dan bermasyarakat) di atas, maka istilah keamanan
dalam konteks tugas dan fungsi Polri adalah “keamanan dan ketertiban
masyarakat,” dimana istilah ini mengandung dua pengertian
adalah :Pertama, sebagai suatu kondisi dinamis masyarakat, sebagai salah
satu persyarat terselenggaranya pembangunan nasional sebagai tujuan
nasional yang ditandai oleh terjaminnya keamanan, ketertiban, tegaknya
hukum, serta terbinanya ketentraman. Kedua, keamanan sebagai kemampuan
membina serta mengembangkan potensi dan kekuatan masyarakat dalam
menangkal, mencegah, dan menanggulangi segala bentuk pelanggaran
hukum dan bentuk-bentuk gangguan lainnya yang dapat meresahkan
masyarakat.

b. Dukungan Anggaran pada unit Provos Polsek Tenayan Raya


Terkait dengan anggaran , khususnya unit Provos Polsek Tenayan Raya
untuk mendukung penerapan protokol kesehatan bagi anggota unit
sebenarnya tidak sesuai dengan alokasi yang diberikan pemerintah.
Anggaran pendukung tersebut tidak sepadan dengan tugas yang di emban.
Namun hal ini harus tetap dilaksanakan untuk mendukung penerapan protokol
kesehatan selam pandemi covid 19 ini demi terwujudnya kondisi kambtibmas
yang kondusif.

c. Dukungan sarana dan prasarana dalam penerapan protokol kesehatandi unit


Provos Polsek Tenayan Raya
Salah satu lembaga pemerintah yang tetap memberikan pelayanan kepada
masyarakat pada masa pandemi Covid-19 adalah lembaga kepolisian. Meski dalam
kondisi pandemi Covid-19 layanan utama kepolisian seperti Surat Keterangan
Catatan Kepolisian (SKCK), layanan SIM, dan Sentra Pelayanan Kepolisian
Terpadu (SPKT) masih berjalan. Bahkan, sejumlah Polres menyusun prosedur
tetap (protap) terkait pelayanan masyarakat di tengah pandemi Covid-19. Prosedur
ini dilakukan dengan membatasi jumlah masyarakat yang dilayani dalam
pembuatan SKCK, layanan SIM maupun layanan lainnya. Setiap masyarakat dan
anggota kepolisian yang masuk kantor Polres harus melewati bilik antiseptik serta
pemeriksaan suhu tubuh. Setiap Markas Komando Polres juga menyediakan
beberapa keran air lengkap dengan sabun cuci tangan, serta hand sanitizer.
Masyarakat dan petugas kepolisian juga wajib memakai masker, tes suhu serta
memastikan bahwa anggota yang melaksanakan pelayanan sudah
menerapkan protokol kesehatan dengan memakai masker maupun face shield.
Jadi sebelum polisi mendisipllinkan masyarakat untuk penerapan protokol
kesehatan, maka secara internal personel polri harus bisa memberikan contoh.

d. Metode dalam penerapan protokol kesehatan di Polsek Tenayan Raya


Penerapan PSBB dapat menjadi contoh. Pencegahan penyebaran virus ini
tidak hanya bergantung pada mekanisme pembatasan di area publik (jalan raya),
tetapi dimulai dari basis komunitas paling kecil (RT/RW, desa, dan kecamatan).
Polri dapat berkolaborasi bersama komunitas masyarakat dengan mengandalkan
Polsek sebagai basis deteksi dini akan potensi terjadinya masalah keamanan dalam
masyarakat. Peran Bhayangkara Pembina Keamanan dan Ketertiban
Masyarakat (Bhabinkamtibmas) bisa dioptimalkan untuk mengedukasi masyarakat
sebagai pencegahan timbulnya hoaks atau stigma mengenai virus ini. Berbagai
upaya dan keterlibatan Polri dalam penanganan Covid-19 patut kita apresiasi.
Polri telah berjuang keras sebagai instrumen keamanan dan ketertiban
masyarakat di masa pandemi. Salah satu upaya Polri adalah dengan membentuk
Satgas Aman Nusa II yang terdiri dari Sub Satgas Pidum, Sub Satgas Ekonomi,
serta Sub Satgas Siber. Masing-masing sub satgas bertugas untuk menindak tindak
pidana umum, tindak pidana ekonomi dan tindak pidana cyber yang terjadi
selama masa pandemi. Namun, di masa pandemi, format Polri diharapkan tidak
hanya sekedar sebagai instrumen penindakan dan penegakan hukum. Upaya
pencegahan dan pemutusan rantai penyebaran COVID-19 di Indonesia
membutuhkan kedisiplinan pada banyak aspek, terutama kehidupan sosial
masyarakat. Dalam situasi pandemi,  diperlukan  disiplin yang sangat ketat
terhadap kehidupan sosial masyarakat dalam bentuk physical distancing. Metode
ini dianggap sebagai upaya yang paling efektif untuk mencegah dan mengurangi
angka penyebaran virus ini.
Kampung Tangguh adalah konsep Problem Oriented Policy (POP), sebagai
basis deteksi dan intervensi dalam rangka menggerakkan relawan dan semua
potensi yang ada di kampung sebagai wilayah terdepan. Berbagai inovasi tersebut
selain perlu diapresiasi, juga dapat menjadi role model bagi Polres dan Polsek
yang lain, dimana Polri dapat berperan sebagai basis deteksi dini dalam
penanganan Covid-19. Tentunya, melalui kerjasama dengan Gugus Tugas
Penanganan Covid yang ada di setiap daerah, BNPB dan Dinas sehingga
penanganan virus Covid-19 dapat dilakukan secara tepat dan efektif. Selain itu,
Polsek juga dapat berperan dalam contact tracing pasien dan melacak sebaran
Covid-19. Melalui keahlian anggota Polri dalam menginvestigasi kasus, melacak
sebaran Covid-19 dapat dilakukan dengan cepat sehingga penanganan Covid-19
lebih efektif dan efisien.
B. FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PELAKSANAAN TUGAS UNIT PROVOS POLSEK
TENAYAN RAYA GUNA MENDUKUNG PENERAPAN PROTOKOL KESEHATAN
SELAMA PANDEMI COVID-19 DALAM RANGKA TERWUJUDKAN SITUASI
KAMTIBMAS YANG KONDUSIF

a. Faktor Internal
1. Kekuatan ( strength)

1.1 Dalam Pasal 13 Undang-Undang No. 2 Tahun 2002 tentang Kepolisian


Negara RI, disebutkan bahwa tugas pokok Polri, adalah memelihara
keamanan dan ketertiban masyarakat, menegakkan hukum,
memberikan perlindungan, pengayoman, dan pelayanan kepada
masyarakat.

1.2 Dikeluarkannya beberapa Telegram dari Kapolri Surat Telegram Nomor


ST/1098/IV/HUK.7.1/2020 tentang penanganan kejahatan potensial
selama pembatasan sosial berskala besar (PSBB) yang didalamnya
mengatur mengenai pedoman kepada personel kepolisian dalam
melakukan tindakan hukum. Surat Telegram Nomor:
ST/1099/IV/HUK.7.1/2020 yang mengatur tentang penanganan
kejahatan dalam tugas ketersediaan bahan pokok dan distribusi.
Surat Telegram Nomor: ST/1100/IV/HUK.7.1/2020 yang mengatur
mengenai penanganan kejahatan di ruang siber. Surat Telegram Nomor
ST/1101/IV/HUK.7.1/2020 yang mengatur mengenai penanganan
kejahatan potensial dalam masa penerapan PSBB. Surat Telegram
Nomor ST/1102/IV/HUK.7.1/2020 yang mengatur mengenai
penanganan tenaga kerja Indonesia (TKI) yang baru tiba dari negara
terjangkit Covid-19.

1.3 Satgas ini memiliki beberapa subsatgas adalah :


Pertama, Subsatgas Pidana Umum (Pidum) bertugas menindak
kejahatan konvensional (pencurian, penjarahan, perampokan, tindak
pidana bencana alam, serta tindak pidana karantina kesehatan).
Kedua, Subsatgas Ekonomi bertugas mengawasi dan menindak
penimbunan bahan makanan dan alat kesehatan, menindak pelaku
ekspor antiseptik, bahan baku masker, alat pelindung diri (APD) dan
masker, serta penindakan terhadap obat atau alat kesehatan yang tidak
sesuai standar/izin edar.
Ketiga, Subsatgas Siber melakukan penindakan terhadap provokator
dan penyebaran hoaks terkait penanganan COVID-19.

2. Kelemahan (weakness)
2.1 Kesiapan sumber daya personel unit Provos Polsek Tenayan Raya di
masa Pandemi Covid-19, tidak dapat dipungkiri telah membuat
pertumbuhan ekonomi menjadi lambat dan berujung pada PHK massal,
penghasilan menurun, dan sulitnya menjalankan usaha yang dilakukan
oleh masyarakat. Kondisi ini secara langsung dapat memicu
meningkatnya tindakan kejahatan yang terjadi pada masyarakat, seperti
pencurian, penjarahan, pembunuhan, dan tindakan kriminalitas dengan
motif ekonomi lainnya. Dalam kondisi tersebut, Polri dituntut bekerja
keras dalam penegakan hukum dan perlindungan masyarakat di
masapandemi.
2.2 Tingkat rasio jumlah personel Polri khususnya unit Provos Polsek
Tenayan Raya dengan jumlah warga Tenayan Raya belum ideal. Oleh
karenanya, daya dukung personel juga perlu diperhatikan. Jumlah
personel Provos yang terinfeksi virus juga perlu diidentifikasi. Langkah
ini penting dilakukan untuk mengukur daya dukung personel Polsek.
2.3 Tidak efektifnya anggota personil dalam menerapkan protokol kesehatan
selama pandemi covid 19

b. Faktor Eksternal
1. Peluang (Opportunities) .
Dukungan pemerintah pusat, pemerintah propinsi dan pemerintah daerah
dan semua pihak untuk membantu dan menjalani penerapan prtokol
kesehatan selama pandemic covid 19

2. Kendala /ancaman (Threats)


2.1Tingkat kedisiplinan masyarakat dalam menerapkan protokol kesehatan
dirasakan masih sangat rendah, karena dalam praktikya dapat kita lihat
masyarakat masih banyak yang berkerumun, tidak memakai masker, dan
tidak menjaga jarak.
2.2 Tingkat kepedulian dan pengetahuan masyarakat terhadap penerapan
protokol kesehatan selama pandemi masih sangat rendah.

BAB III
PEMECAHAN MASALAH
A. KONDISI YANG DI HARAPKAN

Tugas pokok Provos Polri adalah  peraturan disiplin anggota Polri,


pelaksanaan teknis Institusional peradilan umum bagi anggota Polri tatacara
penyelesaian perkara pelanggaran disiplin anggota Polri, serta kode etik profesi
Polri. Dan unit Provos ketika memberikan teguran kepada anggota, baiknya
dilakukan secara halus agar merasa tersentuh dan orang yang ditegur lebih
didengar dan diterima. Tugas pokok Provos adalah membina dan
menyelenggarakan penegakkan disiplin kepada anggota kepolisian dengan adanya
kegiatan ini diharapkan khususnya Kanit Provost maupun anggota Provost dapat
melaksanakan tugasnya secara lebih professional dan proposional. Provos untuk
wilayah polsek dijadikan garda terdepan dalam penegakan disiplin dan benteng
terakhir penjaga citra Polri. Provos melakukan pembinaan dan pengawasan
melekat terhadap anggota Kepolisian Negara Republik Indonesia baik yang sedang
berdinas maupun anggota Kepolisian Negara Republik Indonesia di lingkungan
masyarakat. Di dalam Provos juga terdapat pengemban tugas penyidikan,
penyelidikan dan adanya persidangan disiplin dan kode etik profesi Polri.
Penyelidikan dilakukan oleh penyelidik pengamanan internal atau disebut dengan
PAMINAL, penyidikan dan sidang disiplin dilakukan oleh PROVOS POLRI, untuk
penyidikan dan sidang kode etik profesi Kepolisian Negara Republik Indonesia
dilakukan oleh PROFESI, sebagai penerima laporan pengaduan masyarakat
dilaksanakan oleh Bagian Sentra Pelayanan Pengaduan (SPP).

Dengan berkembangnya pola pikir masyarakat pada saat ini, dan kondisi
kehidupan masyarakat yang semakin maju, akan mendorong rasa keberanian
yang tinggi untuk menyampaikan pendapat dan melaporkan masalah kurang atau
tidak profesionalnya personil Kepolisian Negara Republik Indonesia dalam
melaksanakan tugas yang dibebankan pimpinan. Sehingga Kepolisian Negara
Republik Indonesia dianggap masih belum professional dan proporsional dalam
melaksanakan tugasnya. Hal ini yang memacu agar peningkatan pelayanan di
bidang pembinaan disiplin, pengawasan internal dan penegakan hukum disiplin di
internal Kepolisian Negara Republik Indonesiadi Divisi Propam pada tingkat
Mabes Kepolisian Negara Republik Indonesiadan Bidang Propam pada tingkat
Polda (daerah/provinsi) khusus untuk personel di bidang Provos agar
meningkatkan kinerjanya dengan memberikan pelatihan, pendidikan kejururan
atau disebut dengan pendidikan pengembangan spesialisasi serta pemahaman
hukum dan perundang-undangan yang berlaku. Kemudian memberikan sosialisasi
atau menjadi narasumber di masyarakat, sekolah, kampus, dan dalam seminar
sehingga harapannya anggota Provos Polri lebih professional dalam memberikan
pelayanan, sesuai harapan masyarakat serta menjadikan Kepolisiam Negara
Republik Indonesia yang bersih dan dan menjadi percontohan Organisasi yang
berani membuka kekuranganya sendiri dan berani menegakan hukum kepada
anggotanya sendiri yang terbukti melakukan pelanggaran.

Polri di tuntut memiliki daya dukung dan kemampuan optimal untuk


menjalankan seluruh kategori di atas.   Studi Stone dan Robert memotret
fenomena ini di beberapa negara (Tiongkok, AS, dan Inggris) ternyata hasilnya
sangat sulit. Apalagi angka rasio polisi di Indonesia dengan jumlah masyarakatnya
masih belum ideal. Selain itu, yang paling utama adalah daya dukung personel
kepolisian yang berkurang akibat virus ini. Banyak personil kepolisian yang
terpapar virus ini sehingga berdampak pada pelaksanaan teknis di lapangan.

Karena itu, berdasarkan studi Stone dan Robert, pilihan yang dapat dilakukan
adalah komunikasi terbuka antara kepolisian dengan pemangku kepentingan.
Bentuk komunikasi ini adalah membangun dialog dua arah dengan para
pemangku kepentingan (pemerintah dan DPR). Polri perlu mengemukakan secara
realistis tentang apa yang mereka lakukan, mengapa, dan keterbatasan serta
ketidakpastian situasi keamanan yang akan dihadapi.
 Isi maklumat Kapolri adalah Polri akan menindak masyarakat yang masih
berkerumun, menimbun kebutuhan bahan pokok maupun kebutuhan masyarakat
lainnya secara berlebihan dan menyebarkan berita hoaks. Selain itu, Polri juga
akan melakukan penindakan terhadap berbagai tindakan kriminalitas yang
disebabkan karena pandemi seperti pencurian, perampokan, penjarahan dan
tindakan kriminalitas dengan motif ekonomi lainnya. Langkah tersebut wujud
dukungan Polri kepada Pemerintah terkait penanganan Covid-19 dan memutus
mata rantai pandemi corona di Indonesia melalui penegakan hukum kepada
masyarakat.
Format polisi khususnya provos tidak sekedar sebagai organ pemerintah
yang bertugas mengawasi dan menggunakan paksaan supaya yang diperintah
menjalankan dan tidak melakukan larangan-larangan perintah. Format Polri
merupakan alat negara yang bertugas memelihara keamanan dan ketertiban
masyarakat, memberikan pengayoman, dan memberikan perlindungan kepada
masyarakat.
Format Polri di masa pandemi dan diharapkan provos khusus diantaranya adalah :
Pertama, Polri sebagai instrumen penegakan hukum. Akibat pandemi,
pertumbuhan ekonomi melambat, PHK massal dan banyak pelaku usaha yang
gulung tikar. Sulitnya ekonomi memicu masalah sosial dan tindakan kriminalitas.
Akibatnya, tren angka kriminalitas juga naik. Polri memiliki peran kunci dalam
mencegah dan menindak tindak kejahatan yang timbul akibat pandemi.
Kedua, Polri sebagai instrumen pendukung untuk mencegah penyebaran
penyakit. Selain dokter dan tenaga kesehatan sebagai garda terdepan melawan
Covid-19, Polri juga memiliki peran krusial khususnya dalam pelaksanaan protokol
kesehatan. Masih rendahnya kedisiplinan masyarakat dalam menerapkan
protokol kesehatan dan pembatasan pergerakan masyarakat selama masa
pandemi juga membutuhkan kiprah Polri dalam pelaksanaannya.
Ketiga, Polri sebagai instrumen edukasi masyarakat. Selain masalah kedisiplinan,
minimnya pengetahuan sebagian masyarakat mengenai Covid-19 juga menjadi
permasalahan tersendiri dalam penanganan Covid-19. Seperti, kasus pengambilan
jenazah pasien Covid-19 secara paksa di rumah sakit yang sempat viral baru-baru
ini. Kasus penolakan Rechts Vinding Online 3 pemakaman jenazah pasien Covid-
19 juga dapat menjadi representasi akan kondisi tersebut. Belum lagi stigma
negatif dan diskriminasi sosial pasien Covid-19 dan tenaga medis, mengarah pada
pentingnya edukasi masyarakat. Mengatasi hal tersebut, Polri melalui
Bhabinkamtibmas (Bhayangkara Pembina Keamanan dan Ketertiban Masyarakat)
yang ada di setiap desa dan kelurahan dapat menjalankan fungsi edukasi
tersebut. Edukasi masyarakat penting dilakukan agar masyarakat senantiasa
menerapkan standar protokol kesehatan Covid-19 dan tingkat pengetahuan
masyarakat terkait Covid-19 juga meningkat.
Keempat, Polri sebagai basis deteksi dini. Berbagai inovasi telah dilakukan oleh
Polri dalam penanganan Covid-19. Inovasi yang sama juga dilakukan oleh Polsek
yang mewajibkan setiap polsek mendirikan tiga Kampung Tangguh Corona Virus
Disease 2019 (Covid-19) di setiap kecamatan.
Kelima, Polri sebagai instrumen pengamanan infrastruktur vital. Tatanan new
normal, infrastruktur publik akan dibuka, seperti destinasi wisata, mall, bandara,
stasiun dan berbagai tempat lainnya. Pengelola, pengunjung dan para pekerja di
lokasi wajib untuk menerapkan protokol kesehatan secara ketat. Oleh karena itu,
Polri diharapkan berperan memastikan apakah itu sudah dijalankan. Beberapa
kasus pengambilan jenazah secara paksa mengindikasikan perlunya keberadaan
Polri agar penanganan Covid-19 berjalan aman. Tahun ini, kiprah Polri berbeda
dengan tahun-tahun sebelumnya. Polri dituntut berperan lebih yang tidak sebagai
instrumen penegakan hukum tetapi juga instrumen pendukung keberhasilan
penanganan Covid-19. Selamat berjuang Kepolisian Republik Indonesia.

BAB IV
A.SASARAN DAN RENCANA AKSI
Indonesia telah menerapkan Sistem Pemerintahan Berbasis Elektronik
(SPBE) atau dikenal dengan sebutan E-Government menjadi kebutuhan pada
semua level birokrasi, sebagai konsekuensi masifnya praktik bekerja dari rumah
atau work from home. Penerapan e-government yang semakin masif sebagai
dampak WFH perlu terus ditingkatkan pemanfaatannya pada masa new normal,
hal ini sebagai perwujudan implementasi dari digitalisasi data. Beberapa contoh
layanan yang telah disediakan oleh pemerintah seperti: webinar, penggunaan
aplikasi zoom, microsoft team, e-budgeting, eproject planning, e-perizinan,
system delivery, e-controlling, e-reporting hingga emonev, serta masih banyak
lagi layanan elektronik yang disediakan oleh pemerintah dalam memberikan
layanan kepada masyarakat. Kehadiran layanan elektronik ini merupakan salah
satu bentuk inovasi yang dihasilkan oleh pemerintah dalam masa pandemi Covid-
19 di mana penyelenggaraan pelayanan publik dijalankan melalui sistem online.
Terkait dengan kondisi pandemi covid-19 maka penulis menentukan
sasaran utama sesuai dengan fungsi manajemen yang dipengaruhi beberapa
factor sebagai berikut:
1. Membentuk kemampuan sumber daya manusia yaitu anggota Polri
khususnya di Provos Polsek Tenayan Raya untuk mendukung pelaksanaan
penerapan protokol kesehatan selama pandemi covid-19 agar terwujudnya
situasi kamtibmas.
2. Mengoptimalkan dukungan anggaran yang ada (DIPA) untuk mencapai
situasi kamtibmas di wilayah Polse Teanyan Raya
3. Memberdayakan sarpas yang ada
4. Merencanakan metode penerapan protokol kesehatan demi wujudkan
situasi kambtibmas di wilayah kerja masing-masing sesuai dengan standar
operasional yang telah di tetapkan.

BAB V
PENUTUP
A. KESIMPULAN

Sesuai dengan yang diamanatkan dalam Undang-undang No. 2 Tahun 2002


tentang Polri, maka Polri menjadi bagian dari institusi terpenting yang berada di
garda terdepan, terutama dalam hal penanganan, pengamanan dan juga edukasi
serta bhakti sosial yang bertujuan menenangkan, melindungi dan juga memberi
kenyamanan kepada masyarakat luas di seluruh Indonesia. Tugas-tugas kepolisian
tersebut terus bertambah apalagi untuk unit Provos Polsek Tenayan Raya seiring
dengan adanya masa Covid-19. Provos yang biasanya memberikan pengamanan
dan ketertiban, dengan adanya pandemi Covid-19 ini, Polri bertugas menyalurkan
sembako ke masyarakat yang kurang mampu. Tidak itu saja, Polri juga mendapat
tugas tambahan lain diantaranya adalah mengawal jenazah Covid-19,
melaksanakan pemulasaran sampai dengan menguburkan jenazahnya. Bahkan
dalam beberapa kasus, di berbagai daerah terjadi aksi penolakan penguburan
jenazah yang dilakukan dengan protokol Covid-19. Tugas - tugas yang dilakukan
ini tentu saja diluar kebiasaan Polri, namun harus tetap dilakukan. Seiring dengan
tugas tambahan tersebut, Polri juga konsentrasi pada penegakan hukum. Polisi
menghadapi tantangan lebih berat antara lain dengan meningkatkan kemantapan
dan pembinaan hukum dan penegakan hukum di Tanah Air. Disisi lain, di masa
pandemi Covid-19 ini, Polri juga harus tetap fokus untuk selalu melaksanakan
promoter (Profesional Modern dan Terpercaya) dengan mamantapkan jajaran
internalnya dan juga serangan kejahatan dari luar (Eksternal) yang setiap saat
dapat mengancam.

B.SARAN
Penularan virus SARS-CoV-2 masih terjadi di tengah masyarakat.
Penyebaran COVID-19 yang berkelanjutan dapat memicu dan memperburuk
berbagai permasalahan sosial-ekonomi. Kepatuhan dan kedisplinan dalam
penerapan protokol kesehatan menjadi salah kunci penanganan COVID-19.
Adapun poin yang harus di lakukan Provos adalah:

1. Provos untuk turut mendukung dengan mengawasi penerapan protokol


kesehatan.
2. Polri diminta bersinergi dengan Tentara Nasional Indonesia (TNI) dan
Pemerintah Daerah (Pemda) dalam melakukan patroli. 
3. Provos diarahkan untuk melakukan pembinaan kepada masyarakat dengan
tujuan supaya masyarakat ikut berpartisipasi dalam mencegah penyebaran
COVID-19 di Indonesia.
4. Efektivitas penegakkan hukum terkait pelanggaran protokol kesehatan.

Polri telah melakukan kegiatan pemberdayaan masyarakat dengan membuat


program Kampung Tangguh di berbagai daerah. Dalam program Kampung
Tangguh, masyarakat diminta memindai, menganalisis, serta mengambil tindakan
pemecahan masalah yang sedang terjadi.

“Disini ada tim medisnya, penguatan terkait dengan ketahanan pangan, bahkan
sampai ada tim pemulasaraan, tim edukasi terkait dengan 3M. Langkah 3M
merupakan protokol kesehatan yang disosialisasikan oleh pemerintah, sebagai
penyingkatan dari memakai masker, menjaga jarak dan mencuci tangan.

Mengenai penegakkan hukum yang sifatnya denda hal tersebut adalah pilihan
terakhir. Penegakkan hukum pun dilakukan sesuai dengan peraturan daerah yang
dibuat oleh pemda masing-masing. Selagi masih dapat dilakukan pembinaan
dalam upaya mengajak masyarakat untuk menerapkan protokol kesehatan, Polri
akan mengedepankan hal terseut.