Anda di halaman 1dari 61

PAPER

SISTEM REPRODUKSI DAN HIPERKOAGULASI

Disusun Oleh:

ANNISA AYU LESTARI

DEAS NURUL AWALIYAH

FADILLA FATHAN ALAINA NUGROHO

KHILDA ARSYA

LILIS ARTIKA SARI

NADIA YUMAN ARDINI

YULIE YANA YASMIN

PROGRAM STUDI PROFESI KEBIDANAN

JURUSAN KEBIDANAN

POLTEKKES KEMENKES JAKARTA III

TAHUN AJARAN 2019/2020


BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. ANATOMI SISTEM REPRODUKSI WANITA


1. Dinding Abdominal Anterior

a. Kulit, Lapisan Subkutan, dan Fasia


Dinding perut anterior membatasi visera perut, membentang untuk
mengakomodasi rahim yang membesar, dan menyediakan akses bedah ke
organ reproduksi internal.
Di dinding perut anterior, mereka diatur secara melintang.
Akibatnya, sayatan kulit vertikal mempertahankan peningkatan
ketegangan lateral dan dengan demikian, secara umum, mengembangkan
bekas luka yang lebih luas. Sebaliknya, sayatan melintang rendah, seperti
Pfannenstiel, mengikuti garis Langer dan menghasilkan hasil kosmetik
yang unggul.
Lapisan subkutan dapat dipisahkan menjadi lapisan superfisial,
terutama lemak - Camper fascia, dan lapisan membran yang lebih dalam -
Scarpa fascia. Camper fascia berlanjut ke perineum untuk memberikan zat
berlemak pada mons pubis dan labia majora dan kemudian menyatu
dengan lemak fossa ischioanal. Scarpa fascia berlanjut ke inferior
perineum sebagai Colles fascia. Akibatnya, infeksi perineum atau
perdarahan superfisial pada Colles fascia memiliki kemampuan untuk
meluas ke atas hingga melibatkan lapisan permukaan dinding perut.
Di bawah lapisan subkutan, otot-otot dinding perut anterior terdiri
dari otot midline rectus abdominis dan otot piramida serta otot-otot miring
eksternal, miring internal, dan transversus abdominis, yang memanjang
melintasi seluruh dinding. Aponeurosis fibrosa dari ketiga otot terakhir ini
membentuk fasia primer dinding perut anterior. Ini sekering di garis
tengah di linea alba, yang biasanya berukuran 10 sampai 15 mm di bawah
umbilicus (Beer, 2009). Pemisahan lebar yang tidak normal dapat
mencerminkan diastasis recti atau hernia.
Ketiga aponeurosis ini juga menginvestasikan otot rektus
abdominis sebagai selubung rektus. Konstruksi selubung ini bervariasi di
atas dan di bawah batas, disebut garis arkuata. Cephalad ke perbatasan ini,
aponeurosis menginvestasikan perut rectus abdominis pada permukaan
dorsal dan ventral. Yang berhubungan dengan garis ini, semua aponeurosis
terletak ventral atau superfisial pada otot rectus abdominis, dan hanya fasia
transversalis tipis dan peritoneum terletak di bawah rektus (Loukas, 2008).
Transisi komposisi selubung rektus ini dapat dilihat paling baik dengan
sayatan perut garis tengah. Terakhir, otot pyramidalis segitiga kecil yang
berpasangan berasal dari puncak kemaluan, dimasukkan ke dalam linea
alba, dan berbaring di atas otot rectus abdominis tetapi di bawah selubung
rektus anterior.
b. Suplai Darah
Epigastrik superfisial, iliaka sirkumfleks superfisial, dan arteri
pudenda eksternal superfisial muncul dari arteri femoralis tepat di bawah
ligamentum inguinalis dalam tri- sudut femur. Pembuluh ini memasok
kulit dan lapisan subkutan dari dinding perut anterior dan mons pubis. Dari
kepentingan bedah, pembuluh epigastrium dangkal, dari asal mereka, tentu
saja secara diagonal menuju umbilikus. Dengan sayatan kulit transversal
yang rendah, pembuluh ini biasanya dapat diidentifikasi pada kedalaman
setengah jalan antara kulit dan selubung rektus anterior, di atas Scarpa
fascia, dan beberapa sentimeter dari garis tengah.
Sebaliknya, pembuluh epigastrik “dalam” inferior dan pembuluh
iliaka sirkumfleksa profunda merupakan cabang dari pembuluh iliaka
eksternal. Mereka memasok otot dan fasia dari dinding perut anterior. Dari
relevansi bedah, pembuluh epigastrium inferior awalnya lateral ke,
kemudian posterior ke otot-otot rektus abdominis, yang mereka suplai.
Pembuluh ini kemudian melewati ventral ke selubung rektus posterior dan
berada di antara selubung dan otot rektus. Dekat umbilikus, pembuluh ini
anastomosis dengan arteri epigastrium dan vena superior, yang merupakan
cabang dari pembuluh toraks interna. Ketika insisi Maylard digunakan
untuk persalinan sesar, arteri epigastrikus inferior dapat dirobek lateral ke
perut rektus selama transisi otot. Pembuluh ini jarang pecah setelah trauma
abdomen dan membuat hematoma rektus selubung (Tolcher, 2010)
Pada setiap sisi dinding perut anterior bawah, segitiga Hesselbach
adalah daerah yang dibatasi lateral oleh pembuluh epigastrium inferior,
inferior oleh ligamentum inguinalis, dan medial oleh batas lateral otot
rektus. Hernia yang menonjol melalui dinding perut pada segitiga
Hesselbach disebut hernia inguinalis langsung. Sebaliknya, hernia
inguinalis tidak langsung melalui cincin inguinalis dalam, yang terletak
lateral dari sudut ini, dan kemudian dapat keluar dari cincin inguinal
superfisial.
c. Innervasi

Dinding perut anterior dipersarafi oleh saraf interkostal (T7-11),


saraf subkostal (T12), dan saraf iliohypogastric dan ilioinguinal (L1). Dari
semua ini, saraf interkostal dan subkostalis adalah rami anterior dari saraf
tulang belakang toraks dan berjalan di sepanjang dinding perut lateral dan
kemudian anterior antara transversus abdominis dan otot-otot miring
internal. Ruang ini disebut bidang transversus abdominis. Dekat
perbatasan lateral abdominis, cabang-cabang saraf ini menembus selubung
posterior, otot rektus, dan kemudian selubung anterior untuk mencapai
kulit. Dengan demikian, cabang-cabang saraf ini dapat terputus selama
insisi Pfannenstiel pada titik di mana selubung rektus anterior atasnya
dipisahkan dari otot rektus.
Sebaliknya, saraf iliohypogastric dan ilioinguinal berasal dari
ramus anterior dari saraf tulang belakang lumbar pertama. Mereka muncul
lateral ke otot psoas dan berjalan secara retroperitoneal melintasi quadratus
lumborum secara inferior menuju krista iliaka. Dekat puncak ini, kedua
saraf menembus otot transversus abdominis dan tentu saja secara perut. Di
situs 2 sampai 3 cm medial ke tulang iliaka superior anterior, saraf
kemudian menembus otot miring internal dan tentu saja dangkal ke arah
garis tengah (Whiteside, 2003). Saraf iliohypogastric melubangi
aponeurosis miring eksternal di dekat batas rektum laten untuk
memberikan sensasi pada kulit di atas area suprapubik. Saraf ilioinguinal
dalam perjalanannya secara medial berjalan melalui kanalis inguinalis dan
keluar melalui cincin inguinalis superfisial, yang terbentuk dengan
pemisahan serat aponeurosis oblik abdomen eksternal. Saraf ini memasok
kulit mons pubis, labia mayora atas, dan paha atas medial.
Saraf ilioinguinal dan iliohypogastric dapat diputus selama sayatan
melintang rendah atau terperangkap selama penutupan, terutama jika
sayatan melampaui batas lateral otot rektus (Rahn, 2010). Saraf ini hanya
membawa informasi sensorik, dan cedera menyebabkan hilangnya sensasi
di dalam area yang disediakan. Namun, jarang terjadi nyeri kronis.
Dermatoma T10 mendekati tingkat umbilikus. Sebagaimana
dibahas dalam Bab 25 (hal. 511), analgesia regional untuk kelahiran sesar
atau untuk sterilisasi nifas idealnya memblokir level T10 hingga L1.
Selain itu, blok pesawat transversus abdominis dapat memberikan blokade
luas ke saraf yang melintasi pesawat ini dan dapat ditempatkan
postesarean untuk mengurangi kebutuhan analgesia (Mishriky, 2012). Ada
juga laporan blok rektus selubung atau blok saraf ilioinguinal-
iliohypogastric untuk mengurangi nyeri pasca operasi (Mei, 2011;
Sviggum, 2012; Wolfson, 2012).

2. Organ Genetalia Eksternal


a. Mons Pubis
Disebut juga gunung venus merupakan bagian yang menonjol di
bagian depan simfisis terdiri dari jaringan lemak dan sedikit jaringan
ikat setelah dewasa tertutup oleh rambut yang bentuknya segitiga.
Mons pubis mengandung banyak kelenjar sebasea (minyak) berfungsi
sebagai bantal pada waktu melakukan hubungan seks.

b. Labia Mayora
Merupakan kelanjutan dari mons veneris berbentuk lonjong,
pansjang labia mayora 7-8 cm, lebar 2-3 cm dan agak meruncing pada
ujung bawah. Kedua bibir ini dibagian bawah bertemu membentuk
perineum, permukaan terdiri dari:
- Bagian luar Tertutup oleh rambut yang merupakan kelanjutan dari
rambut pada mons veneris.
- Bagian dalam Tanpa rambut merupakan selaput yang mengandung
kelenjar sebasea (lemak)

c. Labia Minora
Merupakan lipatan kulit yang panjang, sempit, terletak dibagian
dalam bibir besar (labia mayora) tanpa rambut yang memanjang kea
rah bawah klitoris dan menyatu dengan fourchette, semantara bagian
lateral dan anterior labia biasanya mengandung pigmen, permukaan
medial labia minora sama dengan mukosa vagina yaitu merah muda
dan basah

d. Klitoris
Merupakan bagian penting alat reproduksi luar yang bersifat
erektil, dan letaknya dekat ujung superior vulva. Organ ini
mengandung banyak pembuluh darah dan serat saraf sensoris sehingga
sangat sensitive analog dengan penis laki-laki. Fungsi utama klitoris
adalah menstimulasi dan meningkatkan ketegangan seksual
e. Vestibulum
Merupakan alat reproduksi bagian luar yang berbentuk seperti
perahu atau lonjong, terletak di antara labia minora, klitoris dan
fourchette. Vestibulum terdiri dari muara uretra, kelenjar parauretra,
vagina dan kelenjar paravagina. Permukaan vestibulum yang tipis dan
agak berlendir mudah teriritasi oleh bahan kimia, panas, dan friksi

f. Hymen
Merupakan jaringan yang menutupi lubang vagina bersifat rapuh
dan mudah robek, himen ini berlubang sehingga menjadi saluran dari
lendir yang di keluarkan uterus dan darah saat menstruasi.

g. Perinium
Merupakan daerah muskular yang ditutupi kulit antara introitus
vagina dan anus. Perinium membentuk dasar badan perinium.
3. Organ Genetalia Internal

a. Vagina
Vagina adalah suatu tuba berdinding tipis yang dapat melipat dan
mampu meregang secara luas karena tonjolan serviks ke bagian atas
vagina. Panjang dinding anterior vagina hanya sekitar 9 cm, sedangkan
panjang dinding posterior 11 cm. Vagina terletak di depan rectum dan
di belakang kandung kemih. Vagina merupakan saluran
muskulomembraneus yang menghubungkan rahim dengan vulva.
Jaringan muskulusnya merupakan kelanjutan dari muskulus sfingter
ani dan muskulus levator ani oleh karena itu dapat dikendalikan.
Pada dinding vagina terdapat lipatan-lipatan melintang disebut
rugae dan terutama di bagian bawah. Pada puncak (ujung) vagina
menonjol serviks pada bagian uterus. Bagian servik yang menonjol ke
dalam vagina di sebut portio. Portio uteri membagi puncak vagina
menjadi empat yaitu: fornik anterior, fornik posterior, fornik dekstra,
fornik sinistra.
Sel dinding vagina mengandung banyak glikogen yang
menghasilkan asam susu dengan PH 4,5. Keasaman vagina
memberikan proteksi terhadap infeksi. Fungsi utama vagina yaitu
sebagai saluran untuk mengeluarkan lendir uterus dan darah
menstruasi, alat hubungan seks dan jalan lahir pada waktu persalinan

b. Uterus

Merupakan jaringan otot yang kuat, berdinding tebal, muskular,


pipih, cekung dan tampak seperti bola lampu / buah peer terbalik yang
terletak di pelvis minor di antara kandung kemih dan rectum. Uterus
normal memiliki bentuk simetris, nyeri bila ditekan, licin dan teraba
padat.
Uterus terdiri dari tiga bagian yaitu: fundus uteri yaitu bagian
corpus uteri yang terletak di atas kedua pangkal tuba fallopi, corpus
uteri merupakan bagian utama yang mengelilingi kavum uteri dan
berbentuk segitiga, dan seviks uteri yang berbentuk silinder. Dinding
belakang, dinding depan dan bagian atas tertutup peritoneum
sedangkan bagian bawahnya berhubungan dengan kandung kemih.
Untuk mempertahankan posisinya uterus disangga beberapa
ligamentum, jaringan ikat dan peritoneum. Ukuran uterus tergantung
dari usia wanita, pada anak-anak ukuran uterus sekitar 2-3 cm,
nullipara 6-8 cm, dan multipara 8-9 cm. Dinding uterus terdiri dari tiga
lapisan yaitu:
 Peritoneum
- Meliputi dinding rahim bagian luar
- Menutupi bagian luar uterus
- Merupakan penebalan yang diisi jaringan ikat dan pembuluh
darah limfe dan urat saraf
- Meliputi tuba dan mencapai dinding abdomen

 Lapisan otot
- Lapisan luar melengkung dari fundus uteri menuju ligamentum
- Lapisan dalam berasal dari osteum tuba uteri sampai osteum
uteri internum
- Lapisan tengah terletak di antara kedua lapisan tersebut
membentuk lapisan tebal anyaman serabut otot rahim. Lapisan
tengah ditembus oleh pembuluh darah arteri dan vena.
Lengkungan serabut otot ini membentuk angka dan sehingga
saat terjadi kontraksi pembuluh darah terjepit rapat dengan
demikian perdarahan dapat terhenti.

 Semakin ke arah serviks otot rahim makin berkurang dan jaringan


ikatnya bertambah. Bagian rahim yang terletak antara osteum uteri
internum anatomikum yang merupakan batas dan kavum uteri dan
kanalis servikalis dengan osteum uteri histologikum (dimana
terjadi perubahan selaput lendir kavum uteri menjadi selaput lendir
serviks) disebut istmus. Istmus uteri ini akan menjadi segmen
bawah rahim dan meregang saat persalinan.
 Kedudukan uterus dalam tulang panggul ditentukan oleh tonus otot
rahim sendiri, tonus ligamentum yang menyangga, tonus otot-otot
dasar panggul, ligamentum yang menyangga uterus adalah
ligamentum latum, ligamentum rotundum (teres uteri) ligamentum
infindibulo pelvikum (suspensorium ovarii) ligamentum kardinale
machenrod, ligamentum sacro uterinum dan ligamentum uterinum.
- Ligamentum latum
Merupakan lipatan peritoneum kanan dan kiri uterus meluas
sampai ke dinding panggul. Ruang antara kedua lipatan berisi
jaringan ikat longgar dan mengandung pembuluh darah limfe
dan ureter. Ligamentum latum seolah-olah tergantung pada
tuba fallopi. Ligamentum rotundum (teres uteri). Mulai sedikit
kaudal dari insersi tuba menuju kanalis inguinalis dan
mencapai labia mayus. Terdiri dari otot polos dan jaringan
ikat. Fungsinya menahan uterus dalam posisi antefleksi
- Ligamentum infundibulo pelvikum
Terbentang dari infundibulum dan ovarium menuju dinding
panggul. Menggantung uterus ke dinding panggul. Antara tuba
fallopi dan ovarium terdapat ligamentum ovarii proprium
- Ligamentum kardinale machenrod
Dari serviks setinggi osteum uteri internum menuju panggul.
Menghalangi pergerakan uterus ke kanan dan ke kiri. Tempat
masuknya pembuluh darah menuju uterus.
- Ligamentum sacro uterinum
Merupakan penebalan dari ligamentum kardinale machenrod
menuju os sacrum
- Ligamentum vesika uterinum
Dari uterus menuju ke kandung kemih. Merupakan jaringan
ikat yang agak longgar sehingga dapat mengikuti
perkembangan uterus saat hamil dan persalinan
 Pembuluh darah uterus
- Arteri uterina asenden yang menuju corpus uteri sepanjang
dinding lateral dan memberikan cabangnya menuju uterus dan
di dasar endometrium membentuk arteri spinalis uteri
- Di bagian atas ada arteri ovarika untuk memberikan darah pada
tuba fallopi dan ovarium melalui ramus tubarius dan ramus
ovarika.
 Susunan saraf uterus
Ada 2 bagian dari ovarium yaitu: Kontraksi otot rahim bersifat
otonom dan dikendalikan oleh saraf simpatis dan parasimpatis
melalui ganglion servikalis fronkenhouser yang terletak pada
pertemuan ligamentum sakro uterinum.

c. Tuba Falopii

Tuba fallopi merupakan saluran ovum yang terentang antara kornu


uterine hingga suatu tempat dekat ovarium dan merupakan jalan ovum
mencapai rongga uterus. terletak di tepi atas ligamentum latum
berjalan ke arah lateral mulai dari osteum tubae internum pada dinding
rahim.
Panjang tuba fallopi 12cm diameter 3-8cm. Dinding tuba terdiri
dari tiga lapisan yaitu serosa, muskular, serta mukosa dengan epitel
bersilia.
Tuba fallopi terdiri atas:
- Pars interstitialis (intramularis) terletak di antara otot rahim mulai
dari osteum internum tuba.
- Pars istmika tubae, bagian tuba yang berada di luar uterus dan
merupakan bagian yang paling sempit.
- Pars ampuralis tubae, bagian tuba yang paling luas dan berbentuk
“s”.
- Pars infindibulo tubae, bagian akhir tubae yang memiliki lumbai
yang disebut fimbriae tubae.
Fungsi tuba fallopi adalah:
- Sebagai jalan transportasi ovum dari ovarium sampai kavum uteri.
- Untuk menangkap ovum yang dilepaskan saat ovulasi.
- Sebagai saluran dari spermatozoa ovum dan hasil konsepsi.
- Tempat terjadinya konsepsi
- Tempat pertumbuahn dan perkembangan hasil konsepsi sampai
mencapai bentuk blastula yang siap mengadakan implantasi

d. Ovarium
Ovarium berfungsi dalam pembentukan dan pematangan folikel
menjadi ovum, ovulasi, sintesis, dan sekresi hormon – hormon steroid.
Letak ovarium yaitu ke arah uterus bergantung pada ligamentum
infundibulo pelvikum dan melekat pada ligamentum latum melalui
mesovarium.
 Korteks ovarii
- Mengandung folikel primordial
- Berbagai fase pertumbuhan folikel menuju folikel de graff
- Terdapat corpus luteum dan albikantes
 Medula ovarii
- Terdapat pembuluh darah dan limfe
- Terdapat serat saraf
e. Parametium
Parametrium adalah jaringan ikat yang terdapat di antara ke dua
lembar ligamentum latum. Batasan parametrium yaitu:
- Bagian atas terdapat tuba fallopi dengan mesosalping
- Bagian depan mengandung ligamentum teres uteri
- Bagian kaudal berhubungan dengan mesometrium.
- Bagian belakang terdapat ligamentum ovarii

B. HORMON DALAM SIKLUS REPRODUKSI WANITA


Hormon adalah zat kimia yang diproduksi oleh system endokrin dan
berfungsi membantu mengendalikan hampir seluruh fungsi tubuh. Adapun
macam-macam hormone yang ada pada wanita adalah:
1. Progesteron
Hormon ini berpengaruh terhadap prilaku siklus mensruasi dan
ovulasi. hormone ini membantu menebalkan dinding endometrium
agar siap dibuahi oleh sperma saat terjadi ovulasi.
Hormon ini kadang memicu rasa tidak nyaman seperti perut
kembung, jerawaan dan perubahan emosional sekitar 2 minggu
sebelum menstruasi.
Pada awal kehamilan berfungsi menginduksi seckresi endometrial
untuk tempat implantasi. Pada kehamilan lanjut berfungsi menginduksi
toleransi kekebalan tubuh untuk kehamilan dan mencegah kontraksi
myometrial.1

2. Estrogen
Hormon ini diproduksi oleh ovarium dalam jumlah besar, lalu oleh
korteks adrenal dan plasenta ibu hamil dalam jumlah kecil. Hormon ini
membantu perkembangan tubuh saat pubertas, memastikkan jalannya
ovulasi dalam siklus menstruasi bulanan, keluarnya air susu ibu saat
persalinan, dan menentukan suasana hati saat proses penuaan.
Kekurangan Estrogen dapat menyebabkan mensruasi yang tidak
rutin, vagina kering, suasana hati tidak menentu, osteoporosis pada
wanita lanjut usia.
Estrogen adalah hormone steroid yang memiliki 3 formula yang
dihasilkan di ovarium. Yang memiliki keunikan masing-masing di
hidup wanita.
a. Estradiol adalah hormone dominan yang diproduksi sepanjang
masa reproduksi wanita dan tidak hamil. Hormone ini dikonversi
dari androgen (diproduksi dari kolesterol dalam sel-sel teka
folikel), yang berdifusi ke dalam sel folikel granulosa yang
mengandung enzim aromatase yang melengkapi transformasi
menjadi estradiol.
b. Estriol adalah estrogen utama selama kehamilan.
Dehydroepiandrosteronesulfate (DHEAS) dari kelenjar adrenal
janin adalah prekursor untuk 90% dari estriol dikonversi oleh
enzim sulfatase dalam plasenta.
c. Estrone adalah bentuk utama selama menopause. Pascamenopause,
adrenal androstenedion dikonversi dalam jaringan adiposa perifer
menjadi estron.

3. Testosteron
Hormon testosterone pada wanita memang tidak sebanyak pada
pria, etapi hormone ini pada wanita menjaga gairah seks pada wanita,
tulang tetap sehat, mengendalikan nyeri, dan menjaga kemampuan
kognitif. (kisaran hormone ini pada wanita yaitu 15-70 ng/dL)

4. Luteinizing Hormon (LH)


Hormon ini bertugas membantu tubuh mengatur siklus menstruasi
dan ovulasi. di produksi oleh kelenjar hipofisis di otak. Umumnya
kadar hormone LH pada wanta akan meningkat saat menstruasi dan
setelah menopause.

5. Folicle Stimulating Hormone (FSH)


Hormon ini di produksi di kelenjar hipofisis, Hormon ini
mengendalikan siklus menstruasi dan prosuksi sel telur saat ovulasi.
Kadar FSH yang kurang dapat menandakan wanita tersebut tidak
mengalami ovulasi, hipofisis tidak memprodusi hormone yang cukup
atau dapat menandakan kehamilan.
Kadar FSH yang tinggi dapat menandakan wanita trsebut
memasuki masa menopause, adanya tumor di kelenjar hipofisis atau
mengalami sindrom turner.

6. Hormon Prolactin
Hormon yang merangsang pengeluaran air susu dan memelihara
kelenjar susu.

7. Hormon Oksitosin
Hormon yang merangsang kontraksi Rahim dan memelihara
pengeluaran air susu.

8. Human Chorionic Gonadotropin (HCG)


Hormon ini di produksi syncytiotropoblas plasenta dan pertama
kali terlihat pada 10 hari setelah fertilisasi. meningkat pada minggu ke
9-10 dan menurun pada minggu ke 20-22.
Secara struktur kimia HCG ini terdisi atas 2 sub unit glikoprotein,
yaitu sub unit ɑ dan sub unit β, sub unit ɑ ini seperti LH, FSH, dan
TSH, sedangkan sub unit β khusus untuk kehamilan.2
Fungsi hormon tersebut di antaranya:
a. Mempertahankan korpus luteum memproduksi progesterone
hingga plasenta dapat mengambil alih.
b. Mengatur biosintesis dalam plasenta dan kelenjar adrenal janin.
c. Merangsang produksi testosterone pada testis janin laki-laki.
Jika kadar HCG tinggi dapat menyebabkan hamil kembar, mola,
koriokarsinoma atau embrio karsinoma. Jika kadar HCG rendah dapat
mengakibatkan KET, terancam aborsi dan missed aborsi.

9. Human Placental Lactogen (HPL)


HPL serupa dengan hormone pertumbuhan hipofisis dan prolactin
anterior. Levelnya berkesinambungan dengan plasenta, meningkat
selama kehamilan. HPL diproduksi oleh syncytropoblast plasenta,
bekerja dengan HGH dan prolactin serta menurunkan sensitivitas
insulin.2
Jika kadar HPL rendah mengakibatkan ternam aborsi dan IUGR
atau pertumbuhan janin terhambat.

C. ANATOMI SISTEM REPRODUKSI PRIA


Gambar 1. Sistem Reproduksi Pria. Struktur dari sistem reproduksi pria
meliputi testis, epididimid, penis, saluran dan kelenjar yang
memproduksi dan membawa semen. Sperma keluar dari
skrotum melalui ductus deferens, yang dibundel dalam tali
sperma. Vesikula seminalis dan kelenjar prostat menambah
cairan ke dalam sperma untuk membuat air mani.

Skrotum
Testis terletak di dalam kantung otot yang tertutup kulit yang disebut
skrotum dan berada di belakang penis (lihat Gambar 1). Lokasi ini penting
dalam produksi sperma yang terjadi di dalam testis, dan hasil lebih efisien
ketika testis berada pada suhu 2-4° C di bawah suhu inti tubuh.
Otot dartos membentuk lapisan otot subkutan pada skrotum (Gambar 2).
Ini berlanjut secara internal untuk menyangga septum skrotum yaitu dinding
yang membagi skrotum menjadi dua kompartemen yang masing-masing
menampung satu testis. Dibawah otot obliq internal dari dinding perut adalah
dua otot cremasterb yang menutupi setiap testis seperti jaring otot. Dengan
berkontraksi secara bersamaan, otot dartos dan otot kremaster dapat
mengangkat testis saat cuaca dingin (atau berada di air), sehingga testis
bergerak lebih dekat ke tubuh dan mengurangi luas permukaan skrotum yang
berfungsi untuk mempertahankan panas. Saat suhu lingkungan meningkat,
skrotum mengendur dan menggerakkan testis lebih jauh dari inti tubuh dan
meningkatkan luas permukaan skrotum, yang memicu hilangnya panas.
Secara eksternal, skrotum memiliki penebalan medial yang meningkat pada
permukaan yang disebut raphae.

Gambar 2. Skrotum dan Testis dengan penampang vertikal.

Testis
Testis adalah gonad jantan, yaitu organ reproduksi pria. Testis
menghasilkan sperma dan androgen, seperti testosterone dan aktif sepanjang
umur reproduksi pria.
Testis memiliki panjang masing-masing sekitar 4–5 cm dan berada di
dalam skrotum (lihat Gambar 2). Ukuran testis pada orang dewasa adalah
4x3x2,5 cm, dengan volume 15–25 ml. Testis dikelilingi oleh dua lapisan
yang berbeda dari jaringan ikat pelindung (Gambar 3). Tunika vaginalis luar
adalah membran serosa yang memiliki lapisan visceral parietal dan tipis. Di
bawah tunica vaginalis adalah tunica albuginea yaitu lapisan jaringan ikat
yang kuat, putih, dan padat yang menutupi testis itu sendiri. Tunika albuginea
tidak hanya menutupi bagian luar testis, melainkan membentuk septa yang
membagi testis menjadi 300 hingga 400 struktur yang disebut lobulus. Di
dalam lobulus, sperma berkembang dalam struktur yang disebut tubulus
seminiferus. Selama bulan ketujuh masa perkembangan janin laki-laki, setiap
testis bergerak melalui otot-otot perut untuk turun ke rongga skrotum. Ini
disebut "turunnya testis". Cryptorchidism adalah istilah klinis yang digunakan
ketika satu atau kedua testis gagal turun ke skrotum sebelum lahir.

Gambar 3. Penampang melintang Testis yang terdiri atas tubulus


seminiferous yaitu tempat produksi sperma. Sperma yang
terbentuk dipindahkan ke epididymis untuk pematangan sperma.
Sperma meninggalkan epididimis saat ejakulasi melalui ductus
deferens.
Tubulus seminiferus yang melilit membentuk sebagian besar testis.
Mereka tersusun dari pengembangan sel sperma yang mengelilingi lumen
yaitu pusat lubang tubulus, tempat sperma yang terbentuk dilepaskan ke
dalam sistem saluran testis. Secara khusus, dari lumens tubulus seminiferus,
sperma bergerak ke tubulus yang berbentuk lurus (atau tubuli recti), dan dari
sana testis menuju ke dalam jalinan halus tubulus yang disebut testis rete.
Sperma meninggalkan testis rete dan testis itu sendiri melalui 15 sampai 20
duktus eferen yang melintasi tunika albuginea. Di dalam tubulus
seminiferous, terdapat enam jenis sel yang berbeda. Ini termasuk sel-sel
pendukung yang disebut sel-sel berkelanjutan serta lima jenis sel sperma yang
berkembang yang disebut sel germinal. Perkembangan sel germinal
berlangsung dari bawah membrane di sekeliling tubulus ke arah lumen.

 Fungsi Endokrin Testis


 Kimiawi dan biosintesis testosteron (hormon utama testis) merupakan
steorid C19 dengan suatu gugusan –OH pada posisi 17, ia disintesis
dari kolesterol dalam sel leydig.
 Kecepatan sekresi testosteron 4–9 mg/hari (13,9–31,2 nmol/hari)
dalam pria dewasa normal. Sejumlah kecil testosteron yang disekresi
dalam wanita, mungkin dari ovarium, tetapi mungkin dari adrenalis
juga.
 Transpor dan metabolism. 90% testosteron dalam plasma terikat
protein, 40% diikat ke β-globulin yang dinamakan globulin pengikat
steroid gonad (GBG: Gonad Steroid Globulin) atau globulin pengikat
steroid seks, 40 % ke albumin dan 17% ke protein lain.
 Disamping kerjanya selama perkembangan testosteron dan androgen
lain menimbulkan efek umpan balik inhibisi atas sekresi LH
hypothesis, endokrin berfungsi untuk perkembangan dan
pemeliharaan sifat seks sekunder pria serta menimbulkan efek
peningkatan pertumbuhan, anabolik protein yang penting.
 Menimbulkan sifat seks sekunder seperti perubahan luas dalam
distribusi rambut, konfigurasi tubuh dan ukuran genitalia yang
berkembang pada anak laki-laki saat masa pubertas, tidak hanya
prostat dan vesicula seminalis membesar tetapi vesicula seminalis
mulai mensekresi fruktosa.
 Efek anabolik androgen meningkatkan sintesis dan menurunkan
pemecahan protein, yang menyebabkan peningkatan dalam kecepatan
pertumbuhan.
 Mekanisme kerja seperti steroid lain, testosteron terikat ke reseptor
intra sel dan kemudian kompleks reseptor, steroid terikat ke DNA di
dalam hati, yang memfasilitasi transkripsi berbagai gen.
 Produksi estrogen testis: 70% estradiol dalam plasma prima dewasa
dibentuk oleh aromatisasi testosteron dan androstinedion yang
bersirkulasi.

 Sel Sertoli
Sel Sertoli adalah jenis sel pendukung disebut sel berkelanjutan, atau
sustenocyte yang biasanya ditemukan di jaringan epitel. Sel Sertoli
mensekresikan atau memberi sinyal pada molekul yang meningkatkan
produksi sperma dan dapat mengontrol apakah sel germinal hidup atau
mati. Mereka meluas ke sekitar sel-sel benih dari membran basal perifer
tubulus seminiferus ke lumen. Persimpangan sempit antara sel-sel
berkelanjutan ini menciptakan penghalang testis darah, yang mencegah
zat-zat yang didalurkan melalui darah mencapai sel-sel germinal danpada
saat yang sama, menjaga antigen permukaan untuk mengembangkan sel-
sel germinal agar tidak mengalir ke dalam aliran darah dan mendorong
respons autoimun.

 Sel-sel germinal
Sel-sel yang paling tidak matang, spermatogonia, melapisi membran
dasar di dalam tubulus. Spermatogonia adalah sel induk testis, yang
berarti mereka masih dapat berdiferensiasi menjadi berbagai tipe sel
sepanjang masa dewasa. Spermatogonia membelah untuk menghasilkan
spermatosit primer dan sekunder, kemudian spermatid yang akhirnya
menghasilkan sperma. Proses yang dimulai dengan spermatogonia dan
diakhiri dengan produksi sperma disebut spermatogenesis.

 Spermatogenesis
Spermatogenesis terjadi pada tubulus seminiferus yang membentuk
sebagian besar testis (lihat Gambar 3). Proses tersebut dimulai pada masa
pubertas, setelah itu sperma diproduksi secara konstan sepanjang hidup
pria. Dalam satu siklus produksi, dari spermatogonia menjadi sperma
membutuhkan waktu sekitar 64 hari. Siklus baru dimulai kira-kira setiap
16 hari, meskipun waktu ini tidak sinkron di tubulus seminiferus. Jumlah
total sperma seorang pria perlahan menurun setelah usia 35 tahun, dan
beberapa penelitian menunjukkan bahwa merokok dapat menurunkan
jumlah sperma terlepas dari usia.
Proses spermatogenesis dimulai dengan mitosis dari spermatogonia
diploid (Gambar 4). Karena sel-sel ini diploid (2n), mereka masing-
masing memiliki salinan lengkap materi genetik ayah, dengan 46
kromosom. Namun, gamet dewasa adalah haploid (1n), mengandung 23
kromosom yang artinya anak sel spermatogonia harus membelah lagi
melalui proses meiosis.
Gambar 4. Spermatogenesis (a) Mitosis sel induk spermatogonial
melibatkan pembelahan sel tunggal yang menghasilkan dua
sel anak diploid yang identik (spermatogonia hingga
spermatosit primer). Meiosis memiliki dua putaran
pembelahan sel: spermatosit primer ke spermatosit sekunder,
dan kemudian spermatosit sekunder ke spermatid. Ini
menghasilkan empat sel anak haploid (spermatid). (b) Dalam
mikrograf elektron ini dari penampang tubulus seminiferus
dari tikus, lumen adalah area yang diarsir cahaya di tengah
gambar. Lokasi spermatosit primer berada di dekat membran
basal, dan spermatid awal mendekati lumen (sumber
jaringan: tikus).

Dua sel diploid identik dihasilkan dari mitosis spermatogonia. Salah


satu dari sel-sel ini tetap menjadi spermatogonium, dan yang lainnya
menjadi spermatosit primer. Seperti dalam mitosis, DNA direplikasi di
spermatosit primer, dan sel mengalami pembelahan sel untuk
menghasilkan dua sel dengan kromosom identik menjadi spermatosit
sekunder. Pembelahan sel kedua ini terjadi pada kedua spermatosit
sekunder, memisahkan pasangan kromosom. Pembelahan meiosis kedua
ini menghasilkan total empat sel dengan hanya setengah dari jumlah
kromosom. Masing-masing sel baru ini adalah spermatid. Meskipun
haploid, spermatid awal terlihat sangat mirip dengan sel dalam tahap
awal spermatogenesis, dengan bentuk bulat, sentral nukleus, dan
sejumlah besar sitoplasma. Suatu proses yang disebut spermiogenesis
mengubah spermatid awal ini, mengurangi sitoplasma, dan memulai
pembentukan bagian-bagian sperma sejati. Tahap kelima pembentukan
sel germinal spermatozoa, atau sperma yang terbentuk adalah hasil akhir
dari proses ini, yang mana terjadi di bagian tubulus terdekat lumen. Sel-
sel spermatozoa yang diproduksi di tubulus seminiferus disimpan di
dalam testis dan mengalami pematangan/maturasi di epididimis. Setelah
mature (dewasa), sel-sel spermatozoa bersama-sama dengan getah dari
epididimis dan vas deferens disalurkan menuju ke ampula vas deferens.
Epididimis adalah organ yang berbentuk seperti sosis yang terdiri atas
kaput, korpus dan kaudo epididimis korpus epididimis yang dihubungkan
dengan testis melalui duktus eferentes. Vaskularisasi epididimis berasal
dari arteri testikularis dan arteri deferensialis.

Struktur sperma yang terbentuk


Sperma lebih kecil dari kebanyakan sel dalam tubuh; pada kenyataannya,
volume sel sperma 85.000 kali lebih rendah daripada sel gamet wanita.
Sekitar 100 hingga 300 juta sperma diproduksi setiap hari, sedangkan wanita
biasanya hanya berovulasi satu oosit per bulan. Sperma memiliki ciri khas
pada daerah kepala, bagian tengah, dan ekor (Gambar 5). Kepala sperma
mengandung nukleus haploid yang sangat kompak dengan sitoplasma yang
sangat sedikit. Hal ini memperngaruhi ukuran kecil pada sperma (kepala
hanya 5 μm panjang). Akrosom menutupi sebagian besar kepala sel sperma
yang berfungsi sebagai "tutup" berisi enzim lisosom yang penting untuk
mempersiapkan sperma dalam pembuahan. Mitokondria mengisi penuh
bagian tengah sperma. ATP yang diproduksi oleh mitokondria ini akan
memberi daya pada flagel, yang berbentuk memanjang dari leher dan bagian
tengah melalui ekor sperma, sehingga memungkinkan sperma untuk bergerak.
Ekor flagel yang disebut filamen aksial terbentuk dari satu sentriol di dalam
sel sperma yang matang selama tahap akhir spermatogenesis.

Gambar 5. Struktur Sperma. Sel sperma terbagi menjadi kepala yang


mengandung DNA; bagian tengah yang mengandung
mitokondria; dan ekor yang memberikan motilitas. Akrosom
berbentuk oval dan agak rata.

Transportasi Sperma
Untuk membuahi sel telur, sperma harus dipindahkan dari tubulus
seminiferus di testis, melalui epididimis, dan kemudian selama ejakulasi,
sperma melaui penis dan keluar ke saluran reproduksi wanita.

 Peran Epididimis
Dari lumen tubulus seminiferus, sperma dikelilingi oleh cairan testis
dan dipindahkan ke epididymis yaitu sebuah tabung melingkar yang
melekat pada testis di mana sperma yang baru terbentuk menjadi sperma
dewasa (lihat Gambar 3). Meskipun epididimis tidak memakan banyak
ruang dalam keadaan melingkar ketat, namun panjangnya sekitar 6 m (20
kaki) jika diluruskan. Diperlukan rata-rata 12 hari bagi sperma untuk
bergerak melalui kumparan epididimis, dan waktu transit terpendek yang
telah diteliti pada manusia adalah satu hari. Sperma masuk ke epididimis
dan dipindahkan oleh kontraksi otot polos yang melapisi tabung
epididimis. Saat bergerak melalui epididimis, sperma semakin matang
dan memperoleh kemampuan untuk bergerak dengan kekuatan mereka
sendiri. Begitu masuk ke saluran reproduksi wanita, mereka akan
menggunakan kemampuan ini untuk bergerak secara mandiri menuju sel
telur yang tidak dibuahi. Sperma yang lebih dewasa kemudian disimpan
di ekor epididimis (bagian terakhir epididimis) sampai terjadi ejakulasi.

 Sistem Saluran
Selama ejakulasi, sperma keluar dari ekor epididimis dan didorong
oleh kontraksi otot polos ke duktus deferens (juga disebut vas deferens).
Vas Deferens adalah organ berbentuk tabung kecil dan panjangnya 30–35
cm, dan berakhir pada duktus ejakulatorius di uretra posterior. Dalam
perjalanannya menuju duktus ejakularius, duktus deferens dibagi dalam
beberapa bagian, yaitu:
1) pars tunika vaginalis,
2) pars skrotalis,
3) pars inguinlais,
4) pars palvileum dan
5) pars ampularis.
Ductus deferens adalah tabung berotot tebal yang bergabung
menjadi satu di dalam skrotum dengan jaringan ikat, pembuluh darah,
dan saraf ke dalam struktur yang disebut korda spermatika (lihat Gambar
1 dan Gambar 2). Prosedur sterilisasi bedah pada ductus deferens akan
mengganggu pengiriman sperma yang dapat dilakukan dengan
memotong dan menyegel bagian kecil dari ductus (vas) deferens.
Prosedur ini disebut vasektomi, yang merupakan bentuk kontrasepsi pria
yang efektif. Meskipun dimungkinkan untuk membalikkan vasektomi,
dokter menganggap prosedur ini permanen, dan menyarankan pria untuk
mengalaminya hanya jika mereka yakin mereka tidak lagi
menginginkannya anak lagi.
Dari setiap epididimis, setiap ductus deferens meluas secara
superior ke dalam rongga perut melalui kanal inguinalis di dinding perut.
Dari sini, ductus deferens memanjang secara posterior ke rongga
panggul, dan berakhir posterior ke kandung kemih di mana ia membesar
di daerah yang disebut ampula (artinya "labu").
Sperma hanya sebanyak 5% bagian dari volume akhir semen yaitu
cairan kental seperti susu yang diejakulasi pria. Sebagian besar semen
diproduksi oleh tiga kelenjar aksesori penting dari sistem reproduksi pria
yaitu vesikula seminalis, prostat, dan kelenjar bulbourethral.

 Vesikel seminalis
Ketika sperma melewati ampula dari ductus deferens saat ejakulasi,
mereka bercampur dengan cairan dari vesikel seminalis (lihat Gambar 1).
Vesikula seminalis terletak di dasar buli-buli dan di sebelah kranial dari
kelenjar prostat panjangnya kurang lebih 6 cm. Vesikula seminalis
menghasilkan cairan yang merupakan bagian dari semen yang
berkontribusi sekitar 60% dari volume semen. Cairan vesikula seminalis
mengandung sejumlah besar fruktosa, yang digunakan oleh mitokondria
dalam sperma untuk menghasilkan ATP yang berfungsi untuk
memungkinkan gerakan melalui saluran reproduksi wanita. Cairan
tersebut, yang mengandung sekresi sperma dan vesikula seminalis,
selanjutnya bergerak ke saluran ejakulasi, sebuah struktur pendek yang
terbentuk dari ampula duktus deferens dan duktus vesikula seminalis.
Ejakulasi saluran mengangkut cairan mani ke struktur berikutnya yaitu
kelenjar prostat.

 Kelenjar prostat
Seperti yang ditunjukkan pada Gambar 1, kelenjar prostat yang
terletak ditengah anterior rektum di dasar kandung kemih yang
mengelilingi uretra prostat (bagian dari uretra yang mengalir di dalam
prostat). Prostat terdiri atas 2 lobus lateral dan 1 lobus medial.
Salurannya dilapisi oleh epitel torak dan bermuara pada uretra pars
prostatika. Prostat terbentuk dari jaringan otot dan kelenjar. Prostat
mengeluarkan cairan alkali yaitu seperti cairan susu seperti cairan
seminalis yang disebut semen, cairan tersebut mengental terlebih dulu
dan kemudian mendekoagulasi semen setelah ejakulasi. Penebalan semen
membantu mempertahankannya dalam saluran reproduksi wanita dan
menyediakan waktu bagi sperma untuk menggunakan fruktosa yang
disediakan saat sekresi vesikula seminalis. Ketika air mani kembali ke
keadaannya yang cair, sperma kemudian bisa lewat lebih jauh ke dalam
saluran reproduksi wanita.
Prostat biasanya berukuran dua kali lipat selama masa pubertas.
Pada sekitar usia 25 tahun, secara bertahap prostat mulai membesar.
Pembesaran ini biasanya tidak menimbulkan masalah namun,
pertumbuhan prostat yang abnormal atau hiperplasia prostat jinak (BPH)
dapat menyebabkan penyempitan uretra saat melewati bagian tengah
kelenjar prostat yang mengarah ke gejala gangguan saluran kemih bagian
bawah, seperti keinginan yang sering dan kuat untuk buang air kecil,
namu alirannya lemah dan menimbulkan sensasi bahwa kandung kemih
belum dikosongkan sepenuhnya. Pada usia 60 tahun, sekitar 40% pria
memiliki beberapa derajat BPH. Pada usia 80 tahun, jumlah pria yang
terkena dampak ini telah melonjak hingga 80%. Pengobatan untuk BPH
berusaha untuk meringankan tekanan uretra sehingga air seni bisa
mengalir lebih normal. Gejala ringan sampai sedang dapat diobati dengan
obat, sedangkan yang parah seperti pembesaran prostat maka dirawat
dengan operasi di mana sebagian jaringan prostat akan diangkat.
Kelainan umum lainnya yang melibatkan prostat adalah kanker
prostat. Menurut Pusat Pengendalian Penyakit dan Pencegahan (CDC),
kanker prostat adalah kanker paling umum kedua yang terjadi pada pria.
Namun, beberapa bentuk kanker prostat tumbuh sangat lambat dan
karenanya mungkin tidak pernah memerlukan perawatan. Sebaliknya,
bentuk kanker prostat yang agresif melibatkan metastasis ke organ-organ
yang rentan seperti paru-paru dan otak. Tidak ada hubungan antara BPH
dan kanker prostat, tetapi gejalanya serupa. Kanker prostat dideteksi oleh
riwayat medis, tes darah, dan pemeriksaan dubur yang memungkinkan
dokter meraba prostat dan memeriksa massa yang tidak biasa. Jika massa
terdeteksi, diagnosis kanker dapat dikonfirmasi melalui biopsi sel-sel.

 Kelenjar Bulbourethral
Penambahan terakhir pada semen dibuat oleh dua kelenjar
bulbourethral (atau kelenjar Cowper) yang melepaskan cairan asin tebal
yang melumasi ujung uretra dan vagina, dan membantu membersihkan
residu urin dari uretra penis. Cairan dari kelenjar aksesori ini dilepaskan
setelah pria terangsang secara seksual, dan tak lama sebelum pelepasan
semen. Karena itu, kadang-kadang disebut ejakulasi dini. Penting untuk
dicatat bahwa di samping protein pelumas, mungkin untuk cairan
bulbourethral mengambil sperma yang ada di uretra, dan karena itu
mungkin dapat menyebabkan kehamilan.

Penis
Penis adalah organ kopulasi pria (hubungan seksual). Itu lembek untuk
tindakan non-seksual seperti saat buang air kecil. Saat ereksi, kekakuan organ
memungkinkannya untuk menembus ke dalam vagina dan deposit semen ke
saluran reproduksi wanita.
Gambar 6. Anatomi Cross-Sectional pada Penis Tiga kolom jaringan ereksi
membentuk sebagian besar volume penis.

Batang penis mengelilingi uretra (Gambar 6). Poros ini terdiri dari tiga
ruang seperti kolom ereksi jaringan yang merentang panjang poros. Masing-
masing dari dua ruang lateral yang lebih besar disebut corpus cavernosum. Ini
merupakan bagian terbesar dari penis. Corpus spongiosum yang bisa
dirasakan dipunggungan pada penis yang ereksi adalah ruang yang lebih kecil
yang mengelilingi uretra yang kenyal. Ujung penis disebut kelenjar penis
yang memiliki konsentrasi tinggi pada ujung sarafnya, memiliki kulit yang
sangat sensitif yang mempengaruhi kemungkinan ejakulasi (lihat Gambar 1).
Kulit dari batang penis meluas ke bawah kelenjar dan membentuk kerah yang
disebut preputium (atau kulup). Kulit juga mengandung konsentrasi ujung
saraf yang padat, dan melumasi serta melindungi bagian sensitif kulit kelenjar
penis. Prosedur pembedahan yang disebut penyunatan seringkali dilakukan
untuk alasan keagamaan atau sosial.
Baik gairah seksual dan tidur REM (mimpi basah) dapat menyebabkan
ereksi. Ereksi penis hasilnya adalah vasocongestion atau pembengkakan
jaringan karena lebih banyak darah arteri yang mengalir ke penis daripada
meninggalkan urat nadi. Selama gairah seksual, nitrit oksida (NO) dilepaskan
dari ujung saraf dekat pembuluh darah di dalam korpora cavernosa dan
spongiosum. Pelepasan NO mengaktifkan jalur sinyal yang menghasilkan
relaksasi otot polos yang mengelilingi arteri penis dan menyebabkan mereka
membesar. Pelebaran ini meningkatkan jumlah darah yang bisa masuk ke
penis dan menginduksi sel endotel di dinding arteri penis untuk mengeluarkan
NO dan mempertahankan vasodilatasi. Peningkatan volume darah cepat
mengisi ruang ereksi, dan peningkatan tekanan dari ruang yang diisi ini
menekan venula penis berdinding tipis dan mencegah drainase vena penis. Ini
meningkatkan aliran darah ke penis dan berkurangnya kembali darah dari
penis yang disebut dengan ereksi. Tergantung pada dimensi penis yang
lembek, ukurannya bisa bertambah sedikit atau banyak selama ereksi, dengan
panjang rata-rata penis yang sedang ereksi berukuran sekitar 15 cm.

Testosteron
Testosteron, sebuah androgen, adalah hormon steroid yang diproduksi
oleh sel-sel leydig. Istilah alternatif untuk sel leydig yaitu interstitial sel yang
mencerminkan lokasi mereka antara tubulus seminiferus di testis. Pada
embrio pria, testosteron disekresi oleh sel leydig pada minggu ketujuh dengan
konsentrasi puncak tercapai pada trimester kedua. Ini pelepasan awal hasil
testosteron dalam diferensiasi anatomi organ seksual pria. Di masa kecil,
konsentrasi testosteron rendah. Mereka meningkat selama masa pubertas yang
mengaktifkan perubahan fisik yang khas dan memulai spermatogenesis.

 Fungsi Testosteron
Testosteron diperlukan untuk menjaga sistem reproduksi pria agar
bekerja dengan baik. Sel-sel leydig menghasilkan sekitar 6 hingga 7 mg
testosteron per hari. Steroidogenesis testis (pembuatan androgen,
termasuk testosteron) menghasilkan konsentrasi testosteron yang 100 kali
lebih tinggi di testis daripada di sirkulasi.
Testosteron dalam konsentrasi normal ini mendorong
spermatogenesis, sedangkan kadar testosteron yang rendah bisa
menyebabkan infertilitas. Selain sekresi intratestular, testosteron juga
dilepaskan ke dalam sirkulasi dan sistemik yang berperan penting dalam
perkembangan otot, pertumbuhan tulang, perkembangan karakteristik
seks sekunder, dan pemeliharaan libido (dorongan seks) pada pria dan
wanita. Pada wanita, indung telur mengeluarkan sejumlah kecil
testosteron, meskipun sebagian besar dikonversi menjadi estradiol.
Sejumlah kecil testosteron juga disekresi oleh kelenjar adrenalin pada
pria dan wanita.

 Kontrol Testosteron
Pengaturan konsentrasi testosteron di seluruh tubuh sangat penting
untuk fungsi reproduksi pria. Interaksi antara sistem endokrin dan sistem
reproduksi ditunjukkan pada Gambar 7.
Gambar 7. Regulasi Produksi Testosteron. Hipotalamus dan kelenjar
hipofisis mengatur produksi testosteron dan sel-sel yang
membantu spermatogenesis. GnRH mengaktifkan hipofisis
anterior untuk menghasilkan LH dan FSH, yang pada
gilirannya merangsang sel Leydig dan sel Sertoli. Sistem ini
merupakan umpan balik negatif karena produk akhir dari
jalur, testosteron dan inhibin yang berinteraksi dengan
aktivitas GnRH untuk menghambat produksi mereka
sendiri.

Produksi sel leydig dari testosteron dimulai di luar testis. Kelenjar


hipotalamus dan hipofisis di otak mengintegrasikan sinyal eksternal dan
internal untuk mengontrol sintesis dan sekresi testosteron. Pengaturan
tersebut dimulai di hipotalamus. Sinyal tersebut melepaskan hormon
yang disebut hormon pelepas gonadotropin (GnRH) dari hipotalamus
yang merangsang pelepasan hormon endokrin dari kelenjar hipofisis.
Kemudian reseptornya GnRH di kelenjar hipofisis anterior merangsang
pelepasan dua gonadotropin, yaitu: hormon luteinizing (LH) dan
merangsang hormon folikel (FSH). Kedua hormon ini sangat penting
untuk fungsi reproduksi pada pria dan wanita. Pada pria, FSH mengikat
sel sertoli dalam tubulus seminiferus untuk memicu spermatogenesis.
FSH juga merangsang sel-sel sertoli menghasilkan hormon yang disebut
inhibin, yang berfungsi menghambat pelepasan FSH dari hipofisis,
sehingga sekresi testosteron berkurang. Hormon polipeptida ini
berkorelasi langsung dengan fungsi sel sertoli dan jumlah sperma; inhibin
B dapat digunakan sebagai penanda aktivitas spermatogenik. Pada pria,
LH berikatan dengan reseptor pada sel leydig di testis dan mengatur
produksi testosteron.
Putaran umpan balik negatif terutama mengontrol sintesis dan
sekresi FSH dan LH. Konsentrasi darah yang rendah di testosteron
merangsang pelepasan GnRH oleh hipotalamus. GnRH kemudian
merangsang hipofisis anterior untuk mengeluarkan LH ke dalam aliran
darah. Dalam testis, LH berikatan dengan reseptor LH pada sel leydig
dan merangsang pelepasan testosteron. Ketika konsentrasi testosteron
dalam darah mencapai ambang kritis, testosteron itu sendiri akan
mengikat reseptor androgen pada hipotalamus dan hipofisis anterior,
menghambat sintesis dan sekresi GnRH dan LH. Ketika konsentrasi
testosteron darah menurun sekali lagi, testosteron tidak lagi berinteraksi
dengan reseptor pada tingkat yang sama, GnRH dan LH sekali lagi
disekresi yang merangsang produksi testosteron yang lebih banyak. Ini
proses yang terjadi dengan FSH dan inhibin untuk mengendalikan
spermatogenesis.

Saluran Mesonephric (Wolffian)


Saluran ini ada pada semua embrio awal pria dan merupakan kumpulan
sel paling sederhana yang ada pada sistem reproduksi internal pria. Stimulasi
testosteron diperlukan untuk pengembangan vas deferens, vesikula seminalis,
epididimis, dan saluran eferen. Pada pria saluran ini di berada di testis. Pada
wanita duktus wolffian mengalami regresi.
Genitalia Eksterna Pada Pria
Stimulasi dihidrotestosteron (DHT) diperlukan untuk diferensiasi
genitalia eksternal menjadi penis dan skrotum. Jika gen laki-laki tidak
memiliki reseptor androgen, maka genitalia eksternal akan berdiferensiasi ke
arah perempuan.
Fungsi testis:
 Sel sertoli menghasilkan Anti Mullerian Hormon (AMH) yang berperan
penting pada masa perkembangan embriogenesis pria. Ada berperan
meregresi duktus Mullerian, sehingga pada masa deferensiasi akan
berkembang menjadi saluran reproduksi pria. 
 Sel leyding menghasilkan testosteron yang berfungsi untuk
mempertahankan perkembangan duktus wolffian yang akan berdefisiensi
menjadi saluran reproduksi pria.
 Testosteron menghasilkan enzim 5-alpha-reductase yang bermanfaat
untuk mengatasi pembesaran prostat jinak (BPH) pada pria dewasa dan
bekerja dengan mengurangi kandungan hormon dihydrotestosterone
(DHT) yang mempengaruhi pembesaran kelenjar prostat, sehingga
gejala-gejala seperti sulit buang air kecil dan ketidaknyamanan pada
kandung kemih dapat dikendalikan. 
Pria membutuhkan hormon androgen untuk perkembangan genetalia
ekterna dan interna. Sedangkan pada wanita tidak memerlukan hormon untuk
perkembangan genetalia interna dan eksternal.

Kelainan Fungsi Testis


 Kriptokidisme
Testis berkembang di dalam cavitas abdominalis dan normalnya
bermigrasi ke skrotum selama perkembangan testis. Penurunan tetsis tidak
lengkap pada satu atau kedua sisi pada 10% bayi laki-laki karena
dipengaruhi oleh hormon testoteron, testis tetap di dalam cavitas
abdominalis atau cavitas inguinalis. maksimal penurunan testis dalam satu
tahun harus sudah lengkap.
 Hipogonadisme pria
Gambaran klinik hipogonadisme pria tergantung atas apakah defisiensi
testis timbul sebelum atau sesudah pubertas dan apa fungsi gametogenik
atau endokrin terancam. Kehilangan atau kegagalan pematangan fungsi
gametogenik menyebabkan sterilitas. Jika fungsi endokrin hilang saat
dewasa, maka sifat seks sekunder beregresi lambat karena ia memerlukan
sangat sedikit androgen untuk mempertahankannya setelah ia terbentuk.
Pria di kastrasi dalam masa menderita kehilangan libido, walaupun
kemampuan berhubungan seks menetap selama beberapa waktu, kadang-
kadang ia menderita “Hot Hashes” dan umumnya lebih iritabel, pasif dan
tertekan dibanding pria dengan testis utuh.
 Tumor Pensekresi Androgen
Hiperfungsi testis tanpa pembentukan tumor bukan suatu kelainan yang
dikenal. Tumor testis pensekresi androgen jarang ditemukan dan
menyebabkan gejala yang dapat dideteksi hanya pada anak laki-laki pra
pubertas, yang mengembangkan pseudopubertas prekoks.

D. PEMBEKUAN DARAH BERLEBIH (HIPERKOAGULASI)


Penyakit trombotik adalah penyebab utama morbiditas dan mortalitas
peripartum di seluruh dunia. Perkembangan trombosis pada kehamilan
bersifat multifaktorial karena perubahan fisiologis kehamilan yang
menginduksi keadaan hiperkoagulatif relatif serta perubahan fisik yang
mengarah pada peningkatan stasis dan juga efek dari trombofilia yang di
wariskan. Terkait pada kehamilan, akan dibahas juga mengenai
penggunaan antikoagulasi profilaksis dan terapeutik selama kehamilan dan
masa nifas.
Ketika anda mendapatkan luka pada tubuh, maka akan terbentuk
gumpalan pada luka tersebut, massa pada jaringan darah akan menebal
untuk membantu menghentikan perdarahan. Protein dalam darah yang
disebut fibrin bekerja dengan fragmen sel darah kecil yang disebut
trombosit, untuk membentuk gumpalan, ini yang disebut koagulasi, yaitu
suatu proses yang membantu tubuh ketika cidera terjadi untuk
menghentikan darah yang keluar dari tubuh.
Setelah perdarahan berhenti dan penyembuhan terjadi, tubuh harus
memecah dan mengeluarkan gumpalan darah. Kadang-kadang gumpalan
darah terbentuk terlalu mudah atau tidak larut dengan baik dan berjalan
melalui tubuh membatasi atau menghalangi aliran darah.
Hal ini yang dinamakan pembekuan darah berlebihan atau
hiperkoagulasi, dan bisa sangat berbahaya. Dalam kasus pembekuan darah
yang berlebihan, pembekuan ini dapat terbentuk di arteri atau vena di otak,
jantung, ginjal, paru-paru dan anggota badan lainya yang dapat
menyebabkan serangan jantung, stroke, kerusakan pada organ tubuh atau
bahkan kematian.
1. Definisi
Trombofilia atau sering juga disebut hiperkoagulasi atau darah
kental adalah penyakit yang berhubungan dengan pembekuan darah.
Penderita cenderung mudah mengalami pembekuan darah (trombosis).
Keadaan sistem koagulasi yang mengarah pada trombosis, karena
peningkatan atau penurunan turunan elemen pro-koagulan ( misal
kanker pro koagulan ) atau penurunan elemen anti koagulan ( misal
defisiensi protein C ).
Hiperkoagulabilitas dalam kehamilan adalah kecenderungan wanita
hamil untuk mengalami trombosis (pembekuan darah). Kehamilan itu
sendiri adalah faktor hiperkoagulabilitas (hiperkoagulabilitas yang
diinduksi kehamilan), sebagai mekanisme adaptif fisiologis untuk
mencegah perdarahan post partum. Namun, ketika dikombinasikan
dengan keadaan hiperkoagulatif tambahan yang mendasari, risiko
trombosis atau emboli dapat menjadi substansial.
Hiperkoagulabilitas yang diinduksi kehamilan mungkin merupakan
mekanisme adaptif fisiologis untuk mencegah perdarahan post partum.
Kehamilan mengubah kadar plasma dari banyak faktor pembekuan,
seperti fibrinogen, yang dapat naik hingga tiga kali lipat dari nilai
normalnya. Kadar trombin meningkat. Protein S, antikoagulan,
berkurang. Namun, antikoagulan utama lainnya, protein C dan
antitrombin III, tetap konstan. Fibrinolisis terganggu oleh peningkatan
inhibitor aktivator plasminogen-1 (PAI-1 atau PAI) dan inhibitor
aktivator plasminogen-2 (PAI-2), dari plasenta. Stasis vena dapat
terjadi pada akhir trimester pertama, karena peningkatan kepatuhan
dinding pembuluh oleh efek hormonal.
Selain itu, kehamilan dapat menyebabkan hiperkoagulabilitas oleh
faktor lain, mis. tirah baring yang lama yang sering terjadi pasca
persalinan yang terjadi dalam kasus pengiriman dengan forsep,
ekstraktor vakum atau operasi caesar. Sebuah penelitian terhadap
lebih dari 200.000 wanita sampai pada hasil bahwa masuk ke rawat
inap selama kehamilan dikaitkan dengan peningkatan 18 kali lipat
dalam risiko vena tromboemboli (VTE) selama tinggal, dan
peningkatan risiko 6 kali lipat dalam empat minggu setelah keluar,
dibandingkan dengan wanita hamil yang tidak memerlukan rawat
inap. Penelitian ini melibatkan wanita yang dirawat di rumah sakit
selama satu hari atau lebih dengan alasan selain melahirkan atau
tromboemboli vena.
Kehamilan setelah usia 35 menambah risiko VTE, seperti halnya
multigraviditas lebih dari empat kehamilan.Kehamilan itu sendiri
menyebabkan sekitar lima kali lipat peningkatan risiko trombosis vena
dalam. Komplikasi kehamilan tertentu, seperti pre-eklampsia,
menyebabkan hiperkoagulabilitas yang substansial. Keadaan
hiperkoagulabilitas sebagai kondisi yang sudah ada sebelumnya dalam
kehamilan termasuk keduanya yang didapat, seperti antibodi
antifosfolipid, dan yang bawaan, termasuk faktor V Leiden, mutasi
prothrombin, defisiensi protein C dan S, dan defisiensi antitrombin III.
Keadaan hiperkoagulasi diduga pada pasien yang memiliki
a. Trombosis spontan tanpa faktor resiko yang jelas
b. Trombosis bahkan dengan faktor resiko bersamaan, terjadi pada
usia dini
c. Trombosis berulang, terutama dilokasi terutama dilokasi trombosis
yang berbeda
d. Riwayat keluarga trombosis vena berulang pada usia dini
e. Trombosis dilokasi yang tidak biasa ( miasalnya: trombosis
visceral atau ekstremitas atas )

2. Gejala Hiperkoagulasi
Gejala yang dialami tergantung pada tempat pembekuan darah
terjadi. Di jantung atau paru-paru, pembekuan darah dapat
menyebabkan serangan jantung atau emboli paru ( pembekuan darah
di paru – paru ). Gejala ini dapat meliputi:
a. Sakit dada
b. Sesak napas
c. Ketidaknyamanan pada tubuh bagian atas, termasuk dada,
punggung, leher atau lengan.
Pada otak, pembekuan darah dapat menyebabkan stroke. Gejala
dapat meliputi sakit kepala.

Kejadian hiperkoagulasi merupakan salah satu komponen Trias


Virchow selain stasis aliran darah dan juga perlukaan pada tunika
intima (sel endotel) pembuluh darah. Koagulopati terjadi apabila
terjadi pergeseran salah satu dari ketiga komponen di atas. Faktor lain
yang juga mempengaruhi kejadian koagulopati diantaranya penyakit
kronis, kehamilan, suplementasi hormonal eksogen (penggunaan
kontrasepsi oral), dan gangguan pada kaskade koagulasi itu sendiri.
 Kelainan Hiperkoagulasi Diturunkan
Kelainan kongenital pada komponen prokoagulan dan antikoagulan
menyebabkan peningkatan risiko trombosis di vena dan juga arteri.
Pasien dapat saja memiliki lebih dari satu kondisi yang diturunkan
(inherited) ini.
1. Defisiensi Antitrombin III
Antitrombin (AT) adalah antikoagulan alami yang berikatan
dengan heparan sulfat pada dinding endotel pembuluh darah untuk
menginaktivasi trombin. Antitrombin juga menghalangi aktivasi
faktor X, dan juga sedikit berpengaruh pada penghambatan aktivasi
faktor IX, XI, dan XII. Prevalensi defisiensi Antitrombin berkisar 1
: 5000. Hingga saat ini tercatat lebih dari 100 mutasi gen yang
menyebabkan timbulnya defisiensi Antitrombin tersebut, semuanya
diwariskan secara dominan autosomal.
Terdapat 2 tipe defisiensi Antitrombin, tipe I adalah penurunan
jumlah dan fungsi Antitrombin, sedangkan tipe II adalah
penurunan fungsi namun produksi Antitrombin normal. Risiko
trombosis terjadi saat fungsional Antitrombin menurun hingga
80% nilai normal. Pada pasien yang heterozigot jumlah protein
Antitrombin biasanya hanya 40-70% jumlah Antitrombin pada
individu normal, pada pasien homozigot biasanya bersifat letal.
Kejadian tromboembolisme pada pasien dengan defisiensi
Antitrombin biasanya dimulai saat pasien berusia 20 tahun.
Peluang mengalami tromboemboli pada pasien berusia 20 tahun
adalah sebesar 50% dan meningkat hingga 80-90% pada pasien
berusia 50 tahun. Pasien defisiensi Antitrombin dengan jenis
kelamin perempuan mengalami trombosis lebih awal dibandingkan
pasien laki-laki.
Manajemen pasien dengan komplikasi akut trombotik terkait
defisiensi Antitrombin adalah dengan pemberian heparin yang
disertai pemberian Antitrombin eksogen. Target terapi adalah
aPTT di kisaran 1,5-2 kali nilai normal. Pemeliharaan terapi
dipertahankan 80% di atas nilai aPTT normal pada pasien dengan
terapi heparin atau pasien yang akan menjalani operasi
pembedahan. Pemberiannya dapat berupa fresh frozen plasma
(FPP) atau Antitrombin eksogen, terapi jangka panjang dengan
warfarin direkomendasikan. Sebaliknya pada pasien yang sedang
hamil, warfarin digantikan dengan heparin akibat potensi
teratogeniknya.
2. Defisiensi Protein C dan Protein S
Protein C dan S adalah antikoagulan endogen yang disintesis
di hepar, merupakan vitamin K dependensi. Kadarnya berkurang
pada kondisi gangguan hati, gagal ginjal kronis defisiensi vitamin
K, DIC, dan saat trombosis akut. Protein C diaktifkan menjadi
activated protein C (APC) secara in vitro oleh trombin.
Selanjutnya APC segera menginaktivasi faktor V dan VIII yang
sudah terlebih dulu aktif. Efektivitas protein C bertambah 20.000
kali lipat saat trombin berikatan dengan trombomodulin di dinding
sel endotel. APC juga menurunkan aktivitas PAI-1, meningkatkan
aktivitas fibrinolitik dengan cara menurunkan inhibisi konversi
palsminogen menjadi plasmin.
Defisiensi protein C kongenital diwariskan dengan pola
dominan autosomal. Prevalensinya berkisar antara 1 : 200 hingga
1 : 300. Gen yang mengkode produksi protein C terletak di
kromosom 2 dan tercatat lebih dari 150 pola mutasi yang berkaitan
dengan defisiensinya. Seperti defisiensi AT, ada 2 tipe defisiensi
protein C. Level protein C di bawah 2 mg/L berkaitan dengan
peningkatan insidensi tromboembolism.
Protein S adalah kofaktor protein C yang meningkatkan
aktivitas dari APC. Protein S dengan adanya fosfolipid dan
bersama-sama dengan protein C selanjutnya menginhibisi faktor V
yang telah teraktifkan. Prevalensi defisiensi protein S diperkirakan
1 : 500. Pasien dengan homozigot memiliki korelasi dengan
kejadian neonatal purpura fulminans. Risiko kumulatif kejadian
trombosis pada pasien berusia 45 tahun dengan defisiensi protein
S sebesar 50%.
Defisiensi protein S dikelompokkan dalam 3 tipe menurut The
International Society for Thrombosis ad Haemostasis
Standardization Subcommittee. Tipe 1 ditandai dengan rendahnya
kadar antigen bebas dan antigen total protein S yang disertai
penurunan aktivitas kofaktor APC. Tipe 2 ditandai dengan
normalnya kadar antigen bebas dan antigen total protein S namun
terjadi penurunan aktivitas kofaktor APC. Tipe 3 ditandai dengan
jumlah protein S yang rendah hingga normal, rendahnya protein S
yang bebas, serta peningkatan fraksi protein S yang terikat protein
C4.
Referensi ilmiah (evidence) penggunaan terapi profilaktik
antikoagulasi pada pasien dengan defisiensi protein C dan S masih
sedikit. Penggunaan heparin saat episode trombotik dilanjutkan
dengan konversi dengan coumadin harus segera dilakukan. Target
terapi dengan pemberian dosis coumadin yang dititrasi hingga
kadar INR stabil di 2 sampai 3.
3. Mutasi Faktor V Leiden
Mutasi yang menyebabkan glutamin berubah menjadi arginin
pada posisi 506 menyebabkan kelainan ini, perubahan ini
menyebabkan faktor V menjadi sangat resisten terhadap degradasi
proteolitik yang disebabkan oleh APC, menimbulkan gangguan
yang dikenal dengan APC resistance (APCR). Diwariskan dengan
pola dominan autosomal, merupakan 14-25% etiologi kejadian
trombotik yang diwariskan (inherited).
Tes penapisan dengan menggunakan pemeriksaan aPTT
dengan atau tanpa penambahan APC (rasio aPTT). Namun
memiliki sensitivitas dan spesifisitas yang rendah karena banyak
faktor yang mempengaruhinya. Tes penapisan genetik pada DNA
ataupun RNA dari sel darah putih dapat juga mendeteksi kelainan
ini. Pasien dengan mutasi Faktor V Leiden yang mengalami
trombosis berulang memerlukan antikoagulan warfarin seumur
hidup. Parameter terapi dengan menjaga kadar INR stabil di
kisaran 2,0-3,0.
4. Defisiensi Kofaktor II Heparin
Kofaktor II heparin merupakan inhibitor trombin yang
diproduksi oleh hepar. Defisiensi kofaktor II heparin jarang
terjadi, dan diturunkan dengan pola dominan autosomal. Kofaktor
II heparin menginaktivasi trombin dengan cara berikatan
dengannya. Penggunaan heparin meningkatkan laju inaktivasi
trombin oleh kofaktor II trombin. Pengurangan kadar kofaktor II
heparin lebih dari 50% dapat menyebabkan kejadian trombotik.
5. Mutasi Gen Prothrombin (20210A)
Faktor II (protrombin) merupakan prekursor trombin (activated
factor II). Disintesis di hepar dan merupakan dependensi pada
vitamin K. Mutasi pada gugus adenin menjadi guanin
menyebabkan 18% pasien mengalami kejadian kondisi
hiperkoagulasi. Pasien yang mengalami mutasi ini memiliki
kecenderungan untuk mengidap trombosis kardial dan serebral
dengan sama besar. Pasien yang memiliki awitan pada usia dini
untuk mengalami trombosis serta pasien yang memiliki riwayat
trombosis berulang memerlukan terapi antikoagulan warfarin.

6. Hiperhomosisteinemia
Tingginya kadar homosisteinemia (HHC) berkaitan langsung
dengan penyakit pada pembuluh darah. Kondisi HHC
bertanggungjawab 25-32% pada kejadian penyakit oklusi arteri
perifer. HHC juga merupakan faktor risiko untuk kejadian
aterosklerosis. Terapi yang diberikan pada kondisi ini adalah
dengan suplementasi asam folat (1-3 mg/hari), dan vitamin B6
serta vitamin B12 apabila diperlukan.
7. Polisitemia Vera
Kelainan pada proses myeloproliferatif pada kasus polisitemia
vera (PVC) menyebabkan peningkatan kejadian trombosis akibat
kondisi hiperviskositas. Terapi yang diberikan dapat berupa terapi
sitoreduktif. Namun terapi yang agresif akan menimbulkan proses
keganasan.

 Kelainan Hiperkoagulasi Didapat


Etiologi gangguan hiperkoagulasi yang didapat berkaitan erat
dengan pola hidup pasien. Kondisi tertentu terkait pola hidup yang
tidak sehat ataupun penggunaan terapi tertentu dapat memicu kelainan
koagulabilitas. Merokok menyebabkan deposit nikotin dalam tubuh
yang selanjutnya dapat merusak sel endotel, menyebabkan deposisi
dari platelet, pelepasan platelet derived growth factor, dan
menyebabkan hiperplasi platelet di tunika intima dinding pembuluh
darah. Sel endotel pada perokok berat mengalami penurunan dalam
pelepasan tissue plasminogen activator (tPA). Sekresi dari tissue
factor pathway inhibitor-1 (TFPI-1) mengalami penurunan pada
perokok dan menyebabkan hiperkoagulasi karena leluasanya TF-
activated factor VII complex. Karbon monoksida yang terkandung
dalam asap rokok menyebabkan pembentukan ateroma dengan cara
meningkatkan permeabilitas dinding pembuluh darah terhadap lemak,
selanjutnya menyebabkan deposit lemak. Sintesis prostasiklin,
merupakan vasodilator kuat dan juga menghambat vasokonstriksi,
mengalami penurunan.
Penggunaan heparin sebagai antikoagulan diketahui menyebabkan
sindroma trombostopenia terkait heparin (HIT). Karakteristiknya
trombositopenia, resistensi pada antikoagulan heparin, trombosis
arterial dan/atau vena. Trombositopenia terjadi pada 0,6-31% pasien
dengan terapi unfractionated heparin (UFH). Pasien dengan
trombositopenia 10% diantaranya akan mengalami immune mediated
syndrome yang ditandai dengan terikatnya heparin dengan platelet
factor 4 (PF4). Kombinasi keduanya akan dikenali sebagai antigen
dan terbentuknya antibodi terhadap heparin (HAAb), kompleks
antigen antibodi akan memicu kaskade koagulasi yang berpotensi
menyebabkan penyumbatan di pembuluh darah. Manajemennya
meliputi penghentian semua bentuk terapi heparin dan
menggantikannya dengan jenis antikoagulan lain seperti lepirudin dan
argatroban.
Sindroma antifosfolipid diantaranya dengan antikoagulan lupus,
antibodi antikardiolipin, antibodi anti β2 glikoprotein. Sindroma
antifosfolipid primer tidak didapatkan bukti klinis keterlibatan
autoimun, sedangkan sindroma antifosfolipid sekunder berkaitan
dengan systemic lupus erythematosus. Penegakan diagnosis sindroma
antifosfolipid memerlukan setidaknya 1 kriteria laboratorium dan 1
kriteria klinis. Diperkirakan 1-5% populasi usia muda sehat memiliki
antibodi antikardiolipin dan lupus antikoagulan pada saat yang
bersamaan, dan prevalensinya meningkat seiring usia. Pasien yang
berusia di atas 80 tahun, 50% akan memberikan hasil tes yang positif
untuk tes antibodi antifosfolipid. Pemberian terapi warfarin jangka
panjang diberikan apabila pernah dijumpai kejadian trombosis arteri
atau vena, kadar INR dijaga agar tetap di atas 3.
Kehamilan dihubungkan dengan peningkatan faktor koagulan (I,
VII, VIII, IX, X, XI, XII) dan jumlah keping darah, sementara terjadi
penurunan jumlah protein C, protein S, dan antitrombin. Plasenta
memproduksi banyak plasminogen activator inhibitor-1 dan 2 (PAI-1
dan PAI-2) yang keduanya menginhibisi sistem fibrinolitik.
Perubahan komponen pengatur koagulasi pada ibu hamil ini
diperparah dengan adanya stasis aliran vena dari ekstremitas bawah
akibat perkembangan uterus yang menekan vena. Pilihan terapi pada
ibu hamil adalah dengan heparin dan enoxaparin, mengingat warfarin
memiliki efek teratogenik.
Kontrasepsi oral dengan suplementasi estrogen 30-100 µg
mengakibatkan peningkatan tiga kali lipat untuk kasus trombosis
vena. Kontrasepesi generasi kedua dengan kadar estrogen hanya
kurang dari 50 µg mengakibatkan penurunan kejadian trombosis vena
hanya sebesar 1,5-2 kali lipat dari nilai normal. Kontrasepsi generasi
ketiga mulai menggunakan penambahan progesteron (desogesterol,
gestodene, and norgestimate) dengan mempertahankan konsetrasi
estrogen di bawah 50 µg, penambahan progesteron malah
meningkatkan risiko tromboemboli.38 Risiko tromboemboli
meningkat 30 kali lipat pada perempuan dengan kontrasepsi oral yang
mengidap FVL. Tes penapisan rutin untuk setiap perempuan yang
akan menjalani terapi kontrasepsi tidak diperlukan karena tidak efisien
BAB III
JURNAL DAN KASUS
A. JURNAL DAN KASUS SISTEM REPRODUKSI

Kasus 11
Multigravida berusia 34 tahun diperiksa untuk perawatan prenatal pada trimester
kedua. Dia mengakui riwayat penyalahgunaan narkoba, tetapi menyatakan dia
bersih selama 6 bulan. Dengan kehamilan keduanya dia mengalami persalinan
prematur di 34 minggu kehamilan, melahirkan anak laki-laki, kemudian
meninggal pada hari pertama kehidupan. Dia menyatakan bahwa saat persalinan,
bayi bengkak dengan lesi kulit dan plasenta sangat besar. Dia dirawat dengan
antibiotik tetapi dia tidak ingat nama atau detail lainnya. Pada panel prenatal rutin
dengan kehamilan saat ini dia ditemukan memiliki tes VDRL (Venereal Disease
Research Laboratory) yang positif. Penyakit yang dialami ibu tersebut adalah?
Sifilis disebabkan oleh Treponema pallidum . Sifilis tidak menghasilkan keadaan
kekebalan atau latensi. Infeksi sifilis dapat diberantas dengan pengobatan yang
tepat, tetapi infeksi ulang dapat terjadi berulang kali lagi. Penyakit ini menyebar
sebagai penyakit menular seksual melalui kontak intim antara lendir yang lembab
selaput atau kongenital melalui plasenta ke janin dari ibu yang terinfeksi.1
Penatalaksanaan.1
Benzathine penicillin 2,4 juta unit IM × 1 pada kehamilan memastikan kadar
antibiotik yang memadai dalam janin (antibiotik lain tidak melewati placentae
dengan baik). Sekalipun gravida alergi penisilin, tetap berikan penuh dosis
penisilin menggunakan rejimen desensitisasi oral dalam kondisi terkontrol. Ikuti
titer serologi pada 1, 3, 6, 12, dan 24 bulan. Kurangi titer empat kali lipat dengan
bulan; mereka harus negatif dalam 12-24 bulan. Reaksi Jarisch-Herxheimer
dikaitkan dengan pengobatan dan terjadi pada 50% wanita hamil. Itu dimulai
dalam 1-2 jam, puncak dalam 8 jam, dan diselesaikan 24–48 jam. Berhubungan
dengan demam akut, sakit kepala, mialgia, hipotensi, dan kontraksi uterus.
Manajemen adalah perawatan suportif

1. Jurnal Studi Retrospektif: Sifilis Laten 2


(Bernadya Yogatri Anjuwita Saputri, Dwi Murtiastutik Departemen/Staf
Medik Fungsional Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin Fakultas Kedokteran
Universitas Airlangga/Rumah Sakit Umum Daerah Dr. Soetomo Surabaya)
- Penegakan diagnosis sifilis laten dilakukan dengan anamnesis, pemeriksaan
fisik, dan pemeriksaan serologi. Sifilis laten sebagian besar ditatalaksana
dengan injeksi Benzatin Penisilin G sebagai terapi pilihan pertama dari
berbagai rekomendasi. Evaluasi hasil serologi non treponemal setelah terapi
didapatkan yang paling banyak adalah pasien melakukan kunjungan ulang
pada bulan ke 3 sebanyak 9 orang dengan penurunan titer dari 1: 4 menjadi
1:2 sebanyak 4 pasien.
2. Pedoman Tata Laksana Sifilis Untuk Pengendalian Sifilis Di Layanan
Kesehatan Dasar3
- Sifilis merupakan infeksi sistemik yang disebabkan oleh spirochaete,
Treponema pallidum (T. pallidum) dan merupakan salah satu bentuk infeksi
menular seksual.Selain sifilis, terdapat tiga jenis infeksi lain pada manusia
yang disebabkan oleh treponema, yaitu: non venereal endemic syphilis (telah
eradikasi), frambusia (T. pertenue), dan pinta (T. careteum di Amerika
Selatan). Sifilis secara umum dapat dibedakan menjadi dua: yaitu sifilis
kongenital(ditularkan dari ibu ke janin selama dalam kandungan)dan sifilis
yang didapat / acquired (ditularkan melalui hubungan seks atau jarum suntik
dan produk darah yang tercemar).
3. Gejala dan tanda Sifilis pada dewasa

Kasus 2
Multipara berusia 21 tahun dirawat di unit persalinan pada 39 minggu kehamilan
dalam persalinan aktif dengan pembukaan 6 cm. Ketuban utuh. Dia punya riwayat
herpes genital sebelum kehamilan. Wabah terakhirnya adalah 8 minggu lalu. Dia
sekarang mengeluh sakit dan pruritis. Pada pemeriksaan dia memiliki lesi ulseratif
yang terlokalisasi, nyeri, di dinding vagina kanannya.1
Patofisiologi.
HSV adalah virus herpes DNA yang disebarkan melalui kontak mukokutan yang
intim. Hingga 50% wanita hamil adalah seropositif IgV HSV.
• Sebagian besar herpes genital berasal dari HSV II, tetapi juga dapat terjadi
dengan HSV I.
• Penularan transplasental dari ibu ke janin dapat terjadi dengan viremia selama
kehamilan infeksi primer tetapi jarang terjadi. Infeksi HSV merupakan
predisposisi latensi seumur hidup residual dengan serangan berulang berkala.
Rute infeksi janin yang paling umum adalah kontak dengan lesi genital
maternal selama episode HSV berulang.

Diagnosa.
Diagnosis definitif adalah kultur HSV positif dari cairan yang diperoleh dari
vesikel pecah atau ulkus debrided, tetapi ada tingkat negatif palsu 20%. PCR 2–4x
lebih sensitif dan paling baik untuk mendeteksi pelepasan virus
Angka kejadian:
- Infeksi janin — Angka infeksi transplasental adalah 50% dengan primer ibu
infeksi. Manifestasi dapat mencakup aborsi spontan, IUGR simetris,
mikrosefali, dan kalsifikasi serebral.
- Infeksi neonatal — Dengan melewati jalan lahir yang terinfeksi HSV,
neonatal tingkat serangan adalah 50% dengan infeksi primer, tetapi <5%
dengan infeksi berulang. Neonatal tingkat kematian adalah 50%. Mereka yang
bertahan hidup memiliki gejala sisa yang parah: meningoensefalitis,
keterbelakangan mental, pneumonia, hepatosplenomegali, ikterus, dan petekie.
Infeksi maternal (2 jenis):
- Herpes primer hasil dari viremia dan memiliki manifestasi sistemik: demam,
malaise, adenopati, dan lesi genital difus (vagina, serviks, vulva, dan uretra).
Infeksi janin transplasental dimungkinkan. Namun, pada 2/3 kasus, infeksi
adalah ringan atau subklinis.
- Herpes berulang hasil dari migrasi virus dari ganglion akar dorsal tetapi
terlokalisasi dan kurang parah tanpa manifestasi sistemik. Infeksi janin hasil
hanya dari melewati saluran lahir dengan lesi hadir.
Pencegahan.
Operasi sesar harus dilakukan di hadapan lesi HSV genital pada saat persalinan.
Jika membran telah pecah> 8-12 jam, virus mungkin sudah memilikinya
menginfeksi janin dan sesar tidak ada nilainya.
Pengobatan.
Asiklovir
Jurnal Review
Infeksi Herpes Simpleks Dalam Kehamilan (Fauzia Andrini Djojosugito)4
- Infeksi HSV pada kehamilan dapat terjadi secara primer maupun rekuren,
keduanya dapat menyebabkan efek pada janin yang dikandungnya berupa
abnormalitas pada neonatus. Selain itu HSV dapat menyebabkan tampilan
klinis yang lebih berat pada ibu hamil dibandingkan ibu yang tidak hamil.5,11
Infeksi primer terutama pada herpes genitalis dalam kehamilan menimbulkan
infeksi yang lebih berat pada neonatus, terlebih pada penderita yang belum
memiliki antibodi terhadap HSV
- Infeksi HSV genitalis primer yang simtomatis dengan periode inkubasi 2-20
hari menyebabkan kulit melepuh dan ulserasi pada genitalia eksterna dan
serviks serta nyeri pada vulva, disuria, vaginal discharge, dan limfadenopati
lokalisata.5 Selain itu dapat disertai demam, nyeri kepala dan mialgia.
Walaupun begitu, infeksi HSV genitalis seringkali sulit ditegakkan karena
sering muncul gejala yang tidak spesifik, sangat ringan, atau tidak bergejala.
Oleh karena itu, penting untuk dilakukan pemeriksaan penunjang untuk
kepentingan diagnostik, konseling, dan manajemen terapi.
- Wanita hamil dengan episode klinis pertama atau rekuren dapat diterapi
dengan acyclovir atau valacyclovir. Walaupun penggunaan kedua obat ini
tidak meningkatkan kemungkinan terjadinya abnormalitas pada fetus, tetapi
efek obat tersebut pada jangka panjang masih membutuhkan evaluasi lebih
lanjut

B. JURNAL DAN KASUS HIPERKOAGULASI


Seorang pasien wanita, umur 32 tahun dirawat dengan keluhan keguguran yang
berulang. Pasien hamil anak ke-7 usia kehamilan 8 bulan, riwayat keguguran
sebanyak 5 kali dan melahirkan prematur sekali dengan bayi hanya berusia 5 hari
dan meninggal dunia. Pada pemeriksaan fisik didapatkan perut tampak membuncit
sesuai usia kehamilan, Fundus uteri teraba 3 jari diatas umbilicus. Pemeriksaan
laboratorium Hemoglobin: 12,9 gr/dl, Leukosit: 9.400/mm3, Hematokrit: 39%,
Trombosit: 294.000/mm3. PT: 8,6 detik, APTT: 34,8 detik, D-Dimer: 1182,03
detik. ACA IgM: 33 u/ml (N<30 u/ml) dan ACA IgG: 1,8 u/ml (N<45,4 u/ml),
ANA Profile: negative, Anti DsDNA: 0,5 IU/ml (N<200 IU/ml), Anti β2
glikoprotein I IgG: 4,2 u/ml (N<7 u/ml), Anti β2 glikoprotein I IgM:1,2 u/ml
(N<7 u/ml). Pasien ini didiagnosis dengan APS Primer. Diagnosis ditegakkan
berdasarkan anamnesis riwayat abortus yang berulang, PT, APTT dan D-Dimer
yang menggambarkan hypercoagulable state, ACA IgM positif dan ANA profil
dan Anti DsDNA negatif. Terapi antikoagulan enoxaparin terbukti bermanfaat
selama kehamilan dan lahirnya janin yang sehat.
PEMBAHASAN
Pasien ditegakkan dengan diagnosis APS primer dengan adanya temuan
anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang. Dari anamnesis
ditemukan adanya riwayat keguguran berulang, pasien saat ini sedang hamil anak
ke-7 dengan usia kehamilan 8 bulan, pasien sebelumnya sering mengalami
keguguran sebanyak 5 kali dan melahirkan prematur satu kali dengan bayi berusia
5 hari dan meninggal dunia, selain itu anamnesa kearah penyakit Lupus tidak
memenuhi 4 dari 11 kriteria the American College of Rheumbatology (ACR)
untuk menyingkirkan diagnosa kearah APS skunder didukung dengan
pemeriksaan labor Ati DsDNA yang negatif. Pada pemeriksaan fisik ditemukan
adanya perut yang tampak membuncit sesuai usia kehamilan dimana fundus uteri
teraba 3 jari diatas umbilicus. Pada pemeriksaan laboratorium didapatkan ACA
yang positif yang mana memenuhi salah satu kriteria laboratorium pasien APS.
Pada pasien ini ditemui adanya riwayat keguguran yang berulang dan kehamilan
yang tidak cukup bulan ditambah dengan hasil laboratorium ACA yang positif
menurut konsensus Internasional di Sapporo sudah bisa ditegakkan diagnosa
sindroma antifosfolipid.7 Penatalaksanaan pada pasien ini pada dasarnya meliputi
penatalaksanaan dalam kehamilan (pemeriksaan antenatal), persalinan dan masa
nifas, dengan tujuan melakukan pemantauan pada risiko terjadinya trombosis,
gangguan sirkulasi utero plasenter dan penentuan saat persalinan yang adekuat.
Pengobatan medikamentosa pada pasien ini diberikan enoksaparin yang
merupakan LMWH. Menurut Boda (2008), penggunaan UFH dapat
meningkatkan tercapainya persalinan pada kehamilan aterm yaitu 73% dan pada
pemakaian LMWH mencapai 88 %.8 Heparin tidak melewati sawar plasenta,
sehingga digunakan pada kehamilan untuk pencegahan proses pembentukan
tromboemboli vaskuler. Dosis heparin disesuaikan hingga dicapai keadaan tidak
terjadi kekambuhan proses trombosis, yaitu apabila ditemukan nilai INR antara
2,0-3,0.8
SIMPULAN
Telah dirawat pasien dengan diagnosis APS Primer. Diagnosis ditegakkan
berdasarkan anamnesis riwayat abortus yang berulang, PT, APTT dan D-Dimer
yang menggambarkan hypercoagulable state, ACA IgM positif dan ANA profil
dan Anti DsDNA yang negatif. Terapi antikoagulan enoxaparin terbukti
bermanfaat selama kehamilan dan lahir janin sehat.

Resume Jurnal Hiperkoagulasi

Judul : Diagnosis Dan Tata Laksana Tromboemboli Pada Kehamilan


Peneliti : Muhammad Perdana Airlangga
Tahun : 2017
Tempat : Surabaya
Penerbit : Universitas Muhammadiyah Surabaya
Tromboemboli vena sering ditemukan dan lebih kompleks untuk
didiagnosis pada pasien yang hamil daripada pada mereka yang tidak hamil.
Pulmonary embolism dan deep-vein thrombosis adalah dua komponen dari satu
penyakit yang disebut tromboemboli vena. Emboli paru adalah penyebab utama
kematian ibu di negara maju. Diagnosis tertunda, pengobatan tertunda atau tidak
memadai, dan profil tromboprofilaksis yang tidak memadai menyebabkan banyak
kematian akibat tromboemboli vena. Strategi yang berhasil untuk pengelolaan
tromboemboli vena pada pasien yang tidak hamil telah ditetapkan. Namun,
banyak rekomendasi untuk pengobatan pasien hamil yang memiliki tromboemboli
vena tidak didasarkan pada data berkualitas tinggi. Sebaliknya, mereka berasal
dari penelitian observasional dan ekstrapolasi dari penelitian yang melibatkan
pasien yang tidak hamil. Tujuan dari tinjauan ini adalah untuk memberikan
pendekatan praktis terhadap diagnosis, manajemen, dan pencegahan
tromboemboli vena pada pasien hamil.
Emboli paru dan DVT merupakan manifestasi klinis dari tromboemboli
yang dapat mengancam jiwa pada kehamilan. Patogenesis terjadinya
tromboemboli pada kehamilan meliputi stasis vena, injury endotel dan keadaan
hiperkoagulasi. Meskipun penegakan diagnosis tromboemboli vena lebih sulit
pada kehamilan, namun harus dilakukan sedini mungkin agar tidak timbul
komplikasi lebih lanjut. Pemberian LMWH (Low Molecule Weight Heparin) dan
UFH (Unfractionated Heparin) direkomendasikan sebagai terapi awal sampai
diagnosis tromboemboli disingkirkan. Penggunaan warfarin sebaiknya dihindari
karena menimbulkan efek yang merugikan pada janin. Indikasi tromboprofilaksis
pada kehamilan sendiri juga masih kontroversial karena harus dilihat keuntungan
dan kerugiannya.

Judul : Stroke dan Hiperkoagulasi


Peneliti : Putu Gede Sudira,* Samekto Wibowo,** Ismail Setyopranoto,**
Tahun : 2013
Tempat : Yogyakarta
Penerbit : Universitas Gadjah Mada
Kondisi hiperkoagulasi tidak hanya merupakan faktor risiko kejadian
trombosis vena serebralis namun juga sebagai faktor predisposisi kejadian iskemia
serebral akibat sumbatan arteri serebralis pada pasien berusia muda. Kelainan
pada darah khususnya terkait kondisi hiperkoagulasi berhubungan sekitar 5%
hingga 10% dengan kejadian stroke iskemik. Stroke kriptogenik berkisar antara
40% dari kejadian stroke iskemik, jumlahnya semakin bertambah pada pasien
berusia muda. Kepentingan mendiagnosis pasien dengan kondisi hiperkoagulasi
sangat tinggi terlebih pada kasus stroke iskemik dengan tanpa faktor risiko yang
diketahui, serta pasien yang memiliki riwayat keluarga terkena trombosis
sebelumnya. Kepentingan diagnosis ini tidak sebesar pada pasien dengan stroke
iskemik yang berusia tua.
Stroke yang terjadi pada pasien berusia muda dengan tanpa faktor risiko
dapat disebabkan kondisi hiperkoagulasi. Hingga saat ini masih sedikit bukti
ilmiah yang menjelaskan hubungan antara koagulapati dengan kejadian stroke
iskemik pada populasi umum. Tes diagnosis untuk koagulopati memiliki peran
yang kecil dalam diagnosis pada kondisi stroke akut. Prevalensi yang rendah
untuk kejadian hiperkoagulasi yang mengakibatkan stroke menyebabkan tes
diagnostik ini tidak rutin dilakukan atau hanya dilakukan pada pasien dengan
risiko tinggi.

Judul : Hubungan Antara Kadar Fibrinogen Dengan Infark Plasenta


Pada
Missed Abortion
Peneliti : Dyah Permatahayyu, Efendi Lukas, A.MardiahTahir
Tahun : 2018
Tempat : Makassar
Penerbit : Universitas Hassanudin Makassar
Tujuan: Untuk mengetahui korelasi kadar fibrinogen kehamilan yang
meningkat abnormal dengan kematian produk konsepsi, jenis abortus, dan
patofisiologi infark plasenta pada missed abortion.
Metoda dan Bahan: Survei, analisa potong lintang, di RSIA BUDI MULIA dan
RS Jejaring Pendidikan Dep. Ob-Gin FK-UNHAS Makassar, periode Maret -
Agustus 2017, secara Consecutive Sampling diperoleh 78 sampel tidak lengkap,
diantaranya 38 sampel lengkap kadar fibrinogen dan plasenta dari populasi Ibu
hamil mengalami missed abortion. berikut data usia onset periodik haid terakhir,
sonoembriologi, dan lab. kadar fibrinogen standar lab. Patologi Klinik RSWS.
memakai alat Sysmex CA - 1500 Analyser, analisis statistik menggunakan
program SPSS.
Hasil : Telah dibuktikan kadar fibrinogen yang meningkat abnormal diatas 375
mg/dl saat usia abortus berpengaruh positif terhadap janin > 10 minggu (HPHT),
p = 0,015 dengan besarnya risiko relatif 0,5 kali telah mengakibatkan kematian
janin, juga terhadap jenis abortus lanjut > 8 minggu (sonoembriologi), p = 0,007
dengan besarnya risiko relatif 0,3 kali menyebabkan kelangsungan abortus lanjut
pada kasus missed abortion. Kedua analisa korelasi menunjukkan kadar
fibrinogen kehamilan yang meningkat abnormal menjadi kondisi hiperkoagulasi,
memiliki kemampuan koagulabilitas abnormal, berpotensi sebagai faktor risiko
terjadi abortus melalui patofisiologi mekanisme trombosis yang berpengaruh
positif terhadap janin dan lingkungan sekitar janin sampai mengakibatkan
kematian janin dalam kandungan saat usia abortus diatas 10 minggu serta
mengakibatkan jenis abortus lanjut usia diatas 8 minggu. Atau melalui
patofisiologi kongesti vaskuler akibat angiogenesis yang tidak memadai saat usia
abortus dibawah 10 minggu serta mengakibatkan jenis abortus dini usia dibawah 8
minggu pada missed abortion.
Kesimpulan: Kadar fibrinogen yang meningkat abnormal, saat usia abortus
berpengaruh positif terhadap kematian dini janin usia diatas 10 minggu dan jenis
abortus lanjut usia diatas 8 minggu, tetapi tidak terhadap infark plasenta pada
missed abortion

Judul : Kehamilan Dengan Sindroma Antifosfolipid


Peneliti : Herlambang
Tahun : 2016
Tempat : Jambi
Penerbit : Universitas Jambi
Sindroma antifosfolipid merupakan suatu kelainan sistem pembekuan darah yang
ditandai dengan trombosis vaskuler yang dihubungkan dengan peningkatan
antibodi antifosfolipid (aPL) yaitu antibodi antikardiolipin (aCL), antikoagulan
lupus (LA) dan antibodi anti-beta 2 glikoproteinI.
Penatalaksanaan kehamilan dengan sindroma antifosfolipid pada dasarnya terdiri
atas penatalaksanaan dalam kehamilan (pemeriksaan antenatal), persalinan dan
masa nifas dengan tujuan pemantauan pada risiko trombosis, gangguan sirkulasi
uteroplasenter dan penentuan saat persalinan yang adekuat. Terapi rasional yang
diberikan adalah terapi preventif dan kuratif dengan pemberian antikoagulan dan
antiagregasi trombosit. Paradigma baru dalam penatalaksanaan sindroma
antifosfolipid adalah dengan pemberian terapi imunoglobulin intravena yang
bertujuan menurunkan kadar antibodi antikardiolipid dan antikoagulan lupus.
Pada kasus-kasus kehamilan dengan APS diperlukan penanganan secara
professional multidisipliner (hematologi, fetomaternal, perinatologi) dan terdapat
terapi baru pada APS yang masih dalam uji klinik, seperti β 2 glikoprotein I.

DAFTAR PUSTAKA

1. Cunningham D. Williams Obstetrucs. 24th ed. Mc Graw Hill Education;


2014.
2. Sakala EP. USMLE Obstetrics and Gynecology. New York: Kaplan
Medical; 2018
3. Yogatri B, Saputri A, Murtiastutik D, Staf D, Fungsional M, Kesehatan I,
et al. Studi Retrospektif : Sifilis Laten ( A Retrospective Study : Syphilis
Latent ). 2017; Kemenkes. Pedoman Nasional Penanganan Infeksi
Menular Seksual. Kementrian Kesehatan RI; 2016. 2–117 p.
4. Djojosugito FA. Infeksi Herpes Simpleks Dalam Kehamilan. J Ilmu
Kedokt. 2018;10(1):1.
5. Saputra, Doni, Irza Wahid. 2019. Sindroma Antifosfolipid Primer. Padang:
Universitas Andalas. file:///C:/Users/user/Downloads/Documents/1024-
1942-1-SM.pdf diakses pada tanggal 30-06-2019 pukul 15.00 WIB
6. Herlambang. 2016. Kehamilan Dengan Sindroma Antifosfolipid. Jambi:
Universitas Jambi. file:///C:/Users/user/Downloads/Documents/70386-ID-
kehamilan-dengan-sindroma-antifosfolipid.pdf diakses pada tanggal 30-
06-2019 puku: 15.30 WIB
7. Permatahayyu, Dyah, dkk. 2018. Hubungan Antara Kadar Fibrinogen
Dengan Infark Plasenta Pada Missed Abortion. Makassar: Universitas
Hassanudin Makassar. file:///C:/Users/user/Downloads/Documents/.pdf
diakses pada tanggal 29-06-2019 pukul 15.00 WIB
8. Sudira, Putu Gede, dkk. 2013. Stroke dan Hiperkoagulasi. Yogyakarta:
universitas Gadjah Mada.
file:///C:/Users/user/Downloads/Documents/18a55a116c9a485d1d5c00d13
058976b.pdf diakses pada tanggal 29-06-2019 pukul 17.00 WIB
9. Airlangga, Muhammad Perdana. 2017. Diagnosis dan Tata Laksana
Tromboemboli Pada kehamilan. Surabaya: Universitas Muhammadiyah
Surabaya. file:///C:/Users/user/Downloads/Documents/633-1841-1-
PB.pdf. Diakses pada tanggal 30-06-2019 pukul 15.30 WIB
10. Bette, J. Gordon. 2016. Anatomy & Physiology. Texas: Openstax

11. Djuanda A. 1003. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin. Jakarta: FKUI.
12. Ganong W.F. 1992. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran Jakarta: EGC.
13. Mochtar R. 1998. Sinopsis Obstetri: Obstetri Fisiologi, Obstetri Patologi.
Jakarta: EGC.
14. Purnomo B. 2003. Dasar-dasar Urologi. Jakarta: CV. Infomedika.
15. Sakala, Elmar Peter. 2019. STEP 2 CK Lecture Notes 2019 Obstetric and
Gynecology. New York: Kaplan Medical
16. Wiknjosastro H. 1997. Ilmu Kebidanan. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka
Sarwono Prawirohardjo.
17. Cyr C, Michon B, Pettersen G. 2006. Venous thromboembolism after
severe injury in children. Acta Haematol 2006; 115:198–200.
18. Sudira, Putu Gede. 2013. Stroke Dan Hiperkoagulasi. Bagian Ilmu
Penyakit Saraf Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada :
Yogyakarta.