Anda di halaman 1dari 3

BAB I

KE ARAH PEMIKIRAN FILSAFAT

ILMU DAN FILSAFAT ILMU

Filsafat merupakan di mulai dengan rasa ingin tahu dan dimulai dengan rasa ragu-
ragu untuk mendapatkan pengetahuan dan sebuah kepastian dalam artian gerbang segala ilmu
pengetahuan dari filsafat di dapatkan dari kajian ilmu pengetahuan baru. Berfilsafat di
dorong untuk mengetahui apa yang telah kita tahu dan apa yang kita belum tahu. Berfilsafat
berarti berendah hati bahwa tidak semuanya akan pernah kita ketahui dalam kesemestaan
yang seakan tak terbatas ini. Demikian juga berfilsafat berarti mengoreksi diri, semacam
keberanian untuk berterus terang, sebarapa jauh sebenarnya kebenaran yang dicari telah kita
jangkau. Pengetahuan dimulai dengan rasa ingin tahu, kepastian dimulai dengan rasa ragu-
ragu dan filsafat dimulai dengan ke dua-duanya.

Karakteristik berfikir filsafat adalah sebagai berikut :

a. Sifat menyeluruh, bahwa filsafat mencakup segala aspek ilmu dalam segi pandang itu
sendiri sebagai contoh bahwa seorang ilmuan tidak akan puas mengenal ilmu dari segi
pandang ilmu itu sendiri. dia juga akan melihat hakikat ilmu dalam konstelasi
pengetahuan yang lainnya.
b. Sifat mendasar, bahwa filsafat sebagai landasan fundamental sebagai contoh seorang
ilmuan tidak akan selalu melihat bintang-bintang diatas namun juga membongkar
tempat berpijak secara fundamental.
c. Sifat spekulatif, dalam artian berandai-andai melampaui batas-batas pengetahuan
ilmiah sebagai contoh Misalnya seorang ilmuwan memikirkan salah satu dari
beberapa kejadian alam yang disebut “hujan”. Ilmuwan dapat memikirkan sebab-
sebab terjadinya hujan dan memberikan deskripsi tentang kejadian itu. Dalam suatu
kawasan ilmuwan dapat meramal daerah-daerah mana yang terkena hujan yang tinggi
rendahnya hujan dapat dinyatakan dalam bentuk ukuran yang besifat kuantitatif.
Namun ilmuwan tidak mempersoalkan maksud dan tujuan hujan, karena hal itu di luar
batas kewenangan ilmiah. Ia tidak menanyakan apakah ada “kekuatan” atau “tenaga”
yang mampu menimbulkan hujan. Ilmuwan tidak memikirkan apakah kekuatan atau
tenaga yang menimbulkan hujan itu berwujud materi atau bukan-materi. Pemikiran
tentang “maksud”, “tujuan” dan “kekuatan” itu bersifat spekulatif, artinya melampaui
batas-batas pengetahuan ilmiah.

FILSAFAT: PENERATAS PENGETAHUAN

Filsafat adalah mariner yang merupakan pionir dari ilmu,baik ilmu-ilmu alam maupun
sosial. Dalam tahap peralihan bidang penjelajahan filsafat menjadi lebih sempit,tidak lagi
menyeluruh melainkan sektoral. Walaupun demikian dalam taraf ini secara konseptual ilmu
masih mendasarkan kepada norma-norma filsafat.Dalam tahap selanjutnya ilmu menyatakan
menyatakan dirinya otonom dari konsep-konsep filsafat dan mendasarkan sepenuhnya pada
hakikat alam sebagaimana adanya.

Auguste Comte membagi tiga tingkat perkembangan pengetahuan tersebut diatas


kedalam tahap religius,metafisik dan postulat.Dalam tahap pertama maka asas religilah yang
dijadikan postulat ilmiah sehinga ilmu merupakan dduktif atau penjabatan dari ajaran
religi.tahap kedua orang mulai berspekulatif tenteng metafisika(keberadaan) ujud yang
menjadi objek penelaahan yang terbebas dari dogma religi dan mengembangkan system
pengetahuan di atas dasar postulat metafisika tersebut.sedangkan tahap ketiga adalah tahap
pengetahuan ilmiah,(ilmu) dimana asas-asa yang digunakan di uji secara positif dalam proses
verifikasi yang obyektif.

Tahap mula,filsafat mempersoalkan siapakah manusia itu.Tahap yang kedua adalah


pertanyaan yang berkisar tentang ada:tentang hidup dan eksistensi manusia.Tahap yang
ketiga adalah kejelesan yang dapat ditangkap oleh pendengar tentang apa yang sedang di
utarakan.

CABANG-CABANG FILASAT

Pokok permasalahan yang di kaji filsafat mencakup tiga segi yakni apa yang disebut
benar dan apa yang disebut salah (logika), mana yang di angga baik dan mana yang di anggap
buruk (etika) serta apa yang termasuk indah dan apa yang termasuk jelek (estetika). Ketiga
cabang utama filsafat ini kemudian bertambah lagi yakni, pertama, teori tentang ada: hakikat
keberadaan zat, tentang hakikat pikiran serta kaitan antara zat dan pikiran semuanya
terangkum dalam metafisika dan kedua, politik: yakni kajian mengenai organisasi
sosial/pemerintahan yang ideal. Kelima cabang utama ini kemudian berkembang lagi menjadi
cabang-cabang filsafat mempunyai bidang kajian yang lebih spesifik diantarannya filsafat
ilmu. Cabang –cabang filsafat tersebut antara lain mencakup:

1. Epistemologi ( Filsafat pengetahuan)


2. Etika ( Filsafat moral)
3. Estetika ( Filsafat seni)
4. Metafisika
5. Politik ( Filasafat pemerintahan)
6. Filsafat agama
7. Filsafat pendidikan
8. Filsafat hukum
9. Filsafat sejarah
10. Filsafat matematika

FILSAFAT ILMU

Filsafat ilmu merupakan bagian dari epistemologi (filsafat pengetahuan) yang secara
spesifik mengkaji hakikat ilmu (pengetahuan ilmiah). Ilmu merupakan cabang pengetahuan
yang mempunyai ciri-ciri tertentu. Meskipun secara metodologis ilmu tidak membedakan
antara ilmu-ilmu alam dengan ilmu-ilmu sosial, namun karena permasalahan-permasalahan
teknis yang bersifat khas, maka filsafat ilmu ini sering di bagi menjadi filsafat ilmu-ilmu
alam dan filsafat ilmu-ilmu sosial. Pembagian ini lebih merupakan pembatasan masing-
masing bidang yang ditelaah, yakni ilmu-ilmu alam atau ilmu-ilmu sosial, dan tidak
mencirikan cabang filsafat yang bersifat otonom. Ilmu memang berbeda dari pengetahuan-
pengetahuan secara filsafat, namun tidak terdapat perbedaan yang prinsipil antara ilmu-ilmu
alam dan ilmu-ilmu sosial, dimana keduannya mempunyai ciri-ciri keilmuan yang sama