Anda di halaman 1dari 3

PERAKTIK PERADILAN AGAMA DAN PERDATA

( contoh sengketa dan penyelesaiannya )


Dosen Pengampu : Apipudin, M.H

Disusun oleh :

Yuni Safira : 180202100


Rosalia Madani Putri : 180202082
Ahmad Fikrul Islam : 180202074
Husnul Wahan : 180202099
Muhammad Sahwan : 180202092

PROGRAM STUDI HUKUM KELUARGA ISLAM


FAKULTAS SYARI’AH
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI MATARAM
TAHUN 2021
TUGAS I

1. CONTOH PERKARA

Seorang warga Desa Pengadangan, Kec. Pringgasela, Lombok Timur berinisial WA


berusia 30 tahun memiliki perjanjian hutang-piutang dengan seorang warga Desa Mantang, Kec.
Batukliang, Kab. Lombok Tengah berinisial HW berusia 32 tahun pada tanggal 29-Juni 2020.
Didalam isi perjanjian hutang-piutang tersebut sudah tercantum secara rinci mengenai ketentuan
pengembalian hutang, dan denda yang harus dibayar apabila debitur melakukan wanprestasi,
serta terkait tanggal jatuh tempo pembayarannya. Si HW berjanji akan melunasi hutangnya
kepada si WA setelah dua tahun dari mulainya peminjaman hutang tersebut.

Namun, setelah 3 tahun berlalu, si HW tak kunjung membayar hutangnya terhadap si


WA. Berbagai upaya yang dilakukan si WA untuk menagih hutangnya terhadap si HW, namun
berbagai alasan yang ia lontarkan untuk menghindari kewajibannya membayar hutang. Karena
kekesalan dari si WA terhadap saudara HW maka ia menempuh upaya hukum untuk
menyelesaikan masalah tersebut dengan dibantu oleh seorang advokat/lawyer untuk
mengirimkan somasi (surat peringatan) hukum sebanyak 3 kali kepada si HW, namun tetap saja
upaya tersebut dihiraukannya.

Karena tidak adanya respon dari si HW terkait dengan somasi yang diajukan, maka WA
dengan diwakili oleh kuasa hukumnya mengajukan gugatan ke domisili tempat tinggal si HW ke
Pengadilan Negeri Praya, Lombok Tengah.

2. JENIS PERKARA : Perdata kasus hutang piutang ( Gugatan Atas Adanya Wanprestasi
Dalam Hutang-Piutang)
3. Ketentuan-Ketentuan Hukum Yang Dilanggar

Dasar hukum ketentuan yang dilanggar dalam kasus tersebut yakni :

 Pasal 1243 KUHPerdata yang berbunyi : “Penggantian biaya kerugian dan bunga karena
tak dipenuhinya suatu perikatan mulai diwajibkan, bila debitur: walaupun dinyatakan
lalai, tetap lalai untuk memenuhi perikatan itu, atau jika suatu yang harus diberikan atau
dilakukannya hanya dapat diberikan atau dilakukan dalam waktu yang melampaui waktu
yang telah ditentukan.”
 Pasal 1244 KUHPerdata berbunyi : “debitur harus dihukum untuk mengganti biaya,
kerugian dan bunga. Bila ia tak dapat membuktikan bahwa tidak dilaksanakannya
perikatan itu atau tidak tepatnya waktu dalam melaksanakan perikatan itu disebabkan
oleh suatu hal yang tidak terduga, yang tak dapat dipertanggungjawabkan kepadanya.
Walaupun tidak ada i’tikad buruk kepadanya.”
4. Penanganan Kasus
Tahapan penyelesaian kasus secara litigasi :
a. Peringatan
Sebelum masuknya gugatan kepengadilan pada kasus wanprestasi hutang piutang ini,
terdapat upaya yang harusnya sudah dilakukan sebelum mengajukan gugatan
kepengadilan, yakni somasi jika somasi sudah dilontarkan kepada debitur sebanyak 3
kali, maka proses litigasi yang dilakukan ialah membuat gugatan dan mengajukan ke
pengadilan tempatnya berdomisili.
b. Pra Mediasi
Si penggugat mengajukan gugatan dan mendaftarkan perkaranya ke Pengadilan Negeri
Praya serta telah ditetapkannya majelis hakim sebagai mediator.
c. Mediasi
Dalam tahap ini, tidak ditemukannya kesepakatan antara kedua belah pihak sehingga
kasus tersebut dilanjutkan sesuai dengan ketentuan hukum acara yang berlaku
(persidangan).
d. Jenis persidangan : contentiosa (gugatan)

Tahapan penyelesaian kasus secara non litigasi :

a. Mediasi, dengan menghadirkan mediator seperti tokoh masyarakat atau advokat.


b. Memdekarasikan ulang perjanjian.
c. Menyimpulkan masalah kemudian mencari solusi atau jalan agar tidak terjadinya
pelanggaran perjanjian lagi di kemudian hari seperti memberi jaminan dan membuat
perjajian tertulis (negosiasi).
d. Pada kesimpulannya pihak yang bersangkutan melakukan negosiasi untuk tidak
membawa kasus keranah pengadilan.