Anda di halaman 1dari 14

MAKALAH

KALKULASI BIAYA BERDASARKAN AKTIVITAS


(ACTIVITY BASED COSTING = ABC)

Disusun oleh :
Kelompok 3
Alfadliansyah 191010550574
Cilviana Surya 191010550482
Dina Hanifa 191010550380

Diajukan untuk memenuhi tugas mata kuliah


Akuntansi Biaya
Dosen Pengampu :
Angga Pratama S.E.,M.M

PROGRAM STUDI MANAJEMEN


FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS PAMULANG
TANGERANG SELATAN
2021
Kata Pengantar
Puji serta syukur marilah kita panjatkan kepada kehadirat Allah SWT yang telah
memberikan begitu banyak nikmat yang mana makhluk-Nya pun tidak akan menyadari begitu
banyak nikmat yang telah didapatkan dari Allah SWT. Selain itu, kami selaku penulis juga
merasa sangat bersyukur karena telah mendapatkan hidayah-Nya baik iman maupun islam.

Dengan nikmat dan hidayah-Nya pula kami dapat menyelesaikan penulisan makalah ini yang
merupakan tugas mata kuliah Akuntansi Biaya. Kami sampaikan terima kasih sebesar- besarnya
kepada dosen pengampu mata kuliah Akuntansi Biaya, Angga Pratama S.E.,M.M

Kami menyadari dalam makalah ini masih begitu banyak kekurangan dan kesalahan baik
dari isinya maupun struktur penulisannya, oleh karena itu kami selaku penulis sangat
mengharapkan kritik dan saran positif untuk perbaikan dikemudian hari.

Demikian semoga kami ini memberikan manfaat khususnya bagi kami, dan umumnya
bagi pembaca. Aamiin.

Tangerang Selatan, 11 November 2021


DAFTAR ISI

Kata Pengantar..............................................................................................................................2
DAFTAR ISI..................................................................................................................................3
1. LATAR BELAKANG...............................................................................................................4
2. Sejarah Activity Based Costing..................................................................................................5
3. Fungsi Activity Based Costing....................................................................................................6
4. Karakteristik Activity Based Costing........................................................................................7
5. Komponen dalam Activity Based Costing.................................................................................7
6. Kekuatan Activity Based Costing............................................................................................10
7. Kelemahan Activity Based Costing..........................................................................................10
8. Menghitung Perhitungan Activity Based Costing..................................................................11
Kesimpulan...................................................................................................................................14
KALKULASI BIAYA BERDASARKAN AKTIVITAS
(ACTIVITY BASED COSTING = ABC)

1. LATAR BELAKANG
Pada zaman ini, perusahaan dituntut untuk mengikuti perkembangan teknologi, dimana
perusahaan membutuhkan suatu informasi akuntansi yang berguna bagi pihak-pihak yang
berkepentingan untuk mengambil keputusan. Penyajian informasi akuntansi secara tepat dan
akurat akan memberikan nilai tambah bagi perusahaan dalam pengambilan suatu keputusan. Hal
ini disebabkan karena akuntansi, informasi, dan pengambilan keputusan merupakan suatu hal
yang tidak dapat dipisahkan, saling berkaitan, serta terus berkembang. Perkembangan akuntansi
tidak terlepas dari perubahan inovasi dan teknologi yang terus-menerus mengalami perubahan.
Hal ini membuat manajemen dituntut untuk dapat menetapkan suatu kebijakan strategi bisnis
agar dapat mencapai keunggulan kompetitif. Salah satu cara perusahaan dalam mencapai
keunggulan kompetitif adalah melalui produksi yang efisien dan efektif sehingga dapat menekan
biaya langsung (bahan baku dan tenaga kerja langsung) dan biaya tidak langsung (biaya
overhead). Seiring dengan berjalannya waktu dan pertumbuhan pesaing yang semakin meningkat
perusahaan dituntut untuk mampu untuk memberikan hasil yang optimal dengan pemenuhan
kebutuhan perusahaan yang lebih luas, pihak manajemen merasa bahwa sistem biaya tradisional
tidak dapat memberikan kontribusi yang lebih akurat dan spesifik sehingga dapat memberikan
nilai tambah bagi perusahaan.
Dalam sistem biaya tradisional, biaya tidak langsung hanya berdasarkan single tarif,
dimana biaya-biaya dihitung berdasarkan satu satuan ukuran volume tertentu saja. Kelemahan
dalam sistem biaya tradisional adalah tidak mampu perusahaan dalam mengelompokkan biaya-
biaya overhead ke dalam aktivitas-aktivitas pemakai produk dan jasa. Oleh karena itu,
perusahaan membutuhkan suatu alat bantu yang berguna dalam memecahkan persoalan yang
timbul seiring dengan kegagalan sistem biaya tradisional. Pengadopsian sistem Activity Based
Costing atau dikenal dengan istilah ABC merupakan salah satu kunci untuk menjawab
kekurangan yang timbul dalam sistem tradisional. Sistem ABC ini mencoba untuk memperbaiki
masalah-masalah yang ada di dalam perusahaan terutama berkaitan dengan kegiatan operasional
perusahaan. Pemilihan penggunaan sistem Activity Based Costing (ABC) hanya dikhususkan
berdasarkan kondisi dimana suatu perusahaan menghasilkan berbagai macam produk dan jasa
(multi produk). Dalam sistem ABC ini biaya overhead yang meliputi bermacam-macam produk
dapat secara langsung digolongkan berdasarkan kelompok aktivitas-aktivitasnya masing-masing
sehingga dapat lebih memiliki tingkat keakuratan biaya yang lebih spesifik daripada
menggunakan sistem biaya tradisional.

2. Sejarah Activity Based Costing


Untuk mengatasi masalah yang dihadapi dalam pendekatan tradisional distribusi
overhead, pendekatan baru dan lebih ilmiah dikembangkan oleh Cooper dan Kalpan yang
dikenal sebagai Activity Based Costing ABC bertujuan untuk mengidentifikasi aktivitas yang
menghasilkan mata uang biaya. Fokus utama adalah pada aktivitas yang dilakukan pada produk
tertentu selama produksinya. Dengan demikian, aktivitas merupakan titik fokus dalam
perhitungan biaya.
Pengertian-pengertian mengenai sistem biaya Activity Based Costing menurut beberapa ahli
antara lain:
A. Menurut Cooper dan Kalpan,
ABC didefinisikan sebagai, “Sistem ABC menghitung biaya aktivitas individu dan
menetapkan biaya ke objek biaya seperti produk dan layanan berdasarkan aktivitas yang
dilakukan untuk menghasilkan setiap produk atau layanan”.
B. Menurut Horngren,
“ABC adalah sistem yang berfokus pada aktivitas dan objek biaya dasar dan
menggunakan biaya aktivitas ini sebagai blok bangunan atau kompilasi biaya objek
biaya lainnya.”
C. Ray H. Garrison
Dalam bukunya Afanagerial Accounting (1991) memberikan definisi mengenai Activity
Based Costing (ABC) sebagai suatu metode kalkulasi biaya yang menciptakan suatu
kelompok biaya untuk setiap kejadian atau transaksi (aktivitas) dalam suatu organisasi
yang berlaku sebagai pemacu biaya. Biaya overhead kemudian dialokasikan ke produk
dan jasa dengan dasar jumlah dari kejadian atau transaksi produk atau jasa yang
dihasilkan tersebut.
D. Charles T. Homgren. Gary L. Sundem dan William 0. Strattion
Dalam bukunya Introduction to Management Accounting (1996) memberikan definisi
mengenai Activity Based Costing (ABC), sebagai suatu sistem yang merupakan
pendekatan kalkulasi biaya yang memfokuskan pada aktivitas sebagai objek biaya yang
fundamental sistem ABC ini menggunakan biaya dari aktivitas tersebut sebagai dasar
untuk mengalokasikan biaya ke objek biaya yang lain seperti produk, jasa, atau
pelanggan.
Activity Based Costing (ABC) adalah model penetapan biaya khusus yang mengidentifikasi
aktivitas dalam organisasi dan menetapkan biaya setiap aktivitas dengan sumber daya untuk
semua produk dan layanan sesuai dengan konsumsi aktual oleh setiap aktivitas. Jadi, dalam
ABC, biaya overhead diatribusikan ke pusat biaya atau unit berdasarkan jumlah aktivitas yang
dilakukan dalam produksi. ABC didasarkan pada Biaya Aktivitas George Staubus dan Akuntansi
Input-Output.
Konsep ABC dikembangkan di sektor manufaktur Amerika Serikat selama tahun 1970-an
dan 1980-an. Selama ini, Consortium for Advanced Management-International (CAM-I),
memberikan peran formatif untuk mempelajari dan memformalkan prinsip-prinsip yang secara
formal lebih dikenal dengan Activity-Based Costing. ABC kehilangan ketenaran pada 1990-an
karena metrik alternatif seperti balanced scorecard dan economic value added.

3. Fungsi Activity Based Costing


A. Untuk memberikan akurasi yang lebih tinggi dalam penghitungan biaya produk dan
layanan dibandingkan dengan sistem penetapan biaya tradisional, karena semua produk
tidak diproduksi secara merata dan beberapa produk diproduksi dalam jumlah besar dan
beberapa dalam jumlah kecil, sehingga biaya overhead produksi telah meningkat secara
signifikan dan tidak lagi berkorelasi dengan jam kerja mesin produktif atau jam kerja
langsung.
B. Untuk memahami biaya produk dan pelanggan.
C. Untuk memahami profitabilitas berdasarkan proses produksi atau pelaksanaan.
D. Untuk memiliki analisis terstruktur sehubungan dengan proses yang kompleks.
E. Untuk menyediakan banyak informasi kepada manajemen untuk membantu dalam
pengambilan keputusan.
F. Menghilangkan aktivitas yang tidak menambah nilai karena keragaman produk.
G. Untuk meningkatkan aktivitas nilai tambah karena keragaman permintaan pelanggan
berkembang pesat.

4. Karakteristik Activity Based Costing


A. Meningkatkan jumlah kumpulan biaya yang digunakan untuk mengakumulasi biaya
overhead. Jumlah nilai tergantung pada biaya kegiatan produksi. Jadi, alih-alih
mengumpulkan biaya overhead-dalam satu kumpulan perusahaan atau kumpulan
departemen, biaya diakumulasikan oleh aktivitas.
B. Membebankan biaya overhead untuk pekerjaan atau produk yang berbeda sebanding
dengan biaya aktivitas dalam bisnis berdasarkan biaya tenaga kerja langsung atau jam
langsung atau jam mesin.
C. Meningkatkan keterlacakan biaya overhead yang menghasilkan data biaya unit yang
lebih akurat untuk manajemen.
D. Identifikasi biaya selama aktivitas dan penyebabnya tidak hanya membantu dalam
perhitungan biaya yang lebih akurat dari suatu produk atau pekerjaan tetapi juga
menghilangkan aktivitas non-nilai tambah. Penghapusan aktivitas non-nilai tambah
akan menurunkan biaya produk. Ini, pada kenyataannya, adalah inti dari penetapan
Activity Based Costing.

5. Komponen dalam Activity Based Costing

Berdasarkan gambar di atas, berikut adalah lima komponen dasar untuk dalam Activity Based
Costing:
A. Resources (Sumber Daya)
Resources adalah tempat organisasi membelanjakan uang mereka - kategori biaya yang
dicatat. Sumber daya didefinisikan sebagai elemen ekonomi atau uang yang diterapkan
atau digunakan dalam pelaksanaan aktivitas.
Gaji dan material, misalnya, merupakan sumber daya yang digunakan dalam
pelaksanaan kegiatan. Contoh tambahan dari sumber daya termasuk perbaikan, inspeksi,
sewa, depresiasi, utilitas, asuransi, dan persediaan. Sebagian besar sistem Activity
Based Costing saat ini mengecualikan biaya seperti pajak penghasilan dan beban bunga
yang tidak digunakan dalam pelaksanaan aktivitas.
B. Resource Drivers (Penggerak Sumber Daya)
Penggerak sumber daya adalah dasar untuk menelusuri sumber daya ke aktivitas.
Penggerak sumber daya didefinisikan sebagai ukuran kuantitas sumber daya yang
dikonsumsi oleh suatu aktivitas.
Contoh penggerak sumber daya adalah persentase total meter persegi ruang yang
ditempati oleh suatu aktivitas. Faktor ini digunakan untuk melacak sebagian dari biaya
pengoperasian fasilitas ke aktivitas.
C. Aktivitas
Aktivitas adalah unit kerja. Jika Anda pergi ke restoran Anda untuk makan siang /
makan malam, pelayan atau pramusaji dapat melakukan unit kerja berikut :
1) Kursi pelanggan dan menu penawaran
2) Mengambil pesanan Anda
3) Mengambil pesanan ke dapur
4) Membawa makanan
5) Mengisi minuman
6) Mentukan dan memberi tagihan
7) Mengumpulkan uang dan berikan kembalian
8) Mengapus table
Masing-masing merupakan aktivitas dan kinerja setiap aktivitas menghabiskan sumber
daya yang memerlukan biaya. Aktivitas mewakili pekerjaan yang dilakukan dalam
suatu organisasi. Biaya kegiatan ditentukan dengan menelusuri sumber daya ke kegiatan
menggunakan penggerak sumber daya.
D. Activities Drivers (Penggerak Biaya Kegiatan)
Seperti penggerak sumber daya yang digunakan untuk melacak sumber daya ke
aktivitas, penggerak biaya aktivitas digunakan untuk melacak biaya aktivitas ke objek
biaya. Penggerak aktivitas didefinisikan sebagai ukuran frekuensi dan intensitas
permintaan yang ditempatkan pada aktivitas oleh objek biaya. Penggerak aktivitas
digunakan untuk menetapkan biaya ke objek biaya.
Penggerak biaya adalah kegiatan yang menghasilkan biaya. Penggerak biaya adalah
faktor, seperti tingkat aktivitas atau volume, yang secara kausal mempengaruhi biaya
(selama rentang waktu tertentu). Artinya, ada hubungan sebab-akibat antara perubahan
tingkat aktivitas atau volume dan perubahan tingkat biaya total objek biaya tersebut.
Jadi, pendorong biaya menandakan faktor, kekuatan atau peristiwa yang menentukan
biaya kegiatan. Berdasarkan penggunaan aktivitas (konsumsi), biaya aktivitas dilacak ke
objek biaya.
Dalam organisasi manufaktur, berikut adalah contoh dari beberapa penggerak biaya
aktivitas. Beberapa Contoh Penggerak Biaya Kegiatan :
1) Jumlah menerima pesanan untuk departemen penerima.
2) Jumlah pesanan pembelian untuk biaya pengoperasian departemen pembelian.
3) Jumlah pesanan pengiriman untuk departemen pengiriman.
4) Jumlah unit.
5) Jumlah pengaturan.
6) Besarnya biaya tenaga kerja yang dikeluarkan.
7) Nilai bahan dalam suatu produk.
8) Jumlah jam penanganan material.
9) Jumlah inspeksi.
10) Jumlah perubahan jadwal.
11) Jumlah bagian yang diterima per bulan.
12) Jumlah jam mesin yang digunakan pada suatu produk, kerja langsung.
13) Jumlah vendor.
14) Jumlah jam pembelian dan pemesanan.
15) Jumlah transaksi tenaga kerja.
16) Jumlah pesanan pelanggan yang diproses
17) Jumlah karyawan.
E. Cost Objects (Objek Biaya)
Objek biaya, dapat berupa pelanggan, produk, layanan, kontrak, proyek, atau unit kerja
lain yang menginginkan pengukuran biaya terpisah. Objek biaya yang paling umum
adalah biaya produk atau jasa. Penggerak aktivitas digunakan untuk melacak biaya
aktivitas ke objek biaya.

6. Kekuatan Activity Based Costing


Menurut Blocher, Chen, dan Lin (2007:232-233) ada tiga yang menjadi kelebihan antara lain:
A. Pengukuran profitabilitas yang lebih baik.
ABC menyajikan biaya produk yang lebih akurat dan informatif, mengarahkan pada
pengukuran profitabilitas produk yang lebih akurat dan keputusan strategis yang
diinformasikan dengan lebih baik tentang penerapan harga jual, lini produk dan segmen
pasar.
B. Keputusan dan kendali yang lebih baik.
ABC rnenyajikan pengukuran yang Iebih akurat tentang biaya yang timbul karena
dipicu oleh aktivitas, membantu rnanajemen untuk meningkatkan nilai produk dan nilai
proses dengan membuat keputusan yang lebih baik tentang desain produk,
mengendalikan biaya secara lebih baik, dan membantu perkembangan proyek-proyek
yang meningkatkan nilai.
C. Informasi yang lebih baik untuk mengendalikan biaya kapasitas.
ABC membantu manajer mengidentifikasikan dan mengendalikan biaya kapasitas yang
tidak terpakai.

7. Kelemahan Activity Based Costing


Adapun yang menjadi kelemahan atau keterbatasan dalam menggunakan sistem Activity
Based Costing antara lain :
A. Alokasi.
Tidak semua biaya memiliki penggerak biaya konsumsi sumber daya atau aktivitas yang
tepat atau tidak ganda. Beberapa biaya mungkin membutuhkan alokasi ke departemen
atau produk berdasarkan ukuran volume yang arbitrer sebab secara praktis tidak dapat
ditemukan aktivitas yang dapat 10 menyebabkan biaya tersebut. Contohnya adalah
biaya pendukung fasilitas seperti biaya sistern informasi, gaji manajer pabrik, dan pajak
bumi dan bangunan untuk pabrik.
B. Mengabaikan biaya.
Biaya produk atau jasa yang diidentifikasi sistem ABC cenderung tidak mencakup
seluruh biaya yang berhubungan dengan produk atau jasa tersebut. Biaya produk atau
jasa biasanya tidak termasuk biaya untuk aktivitas seperti pemasaran, pengiklanan,
penelitian dan pengembangan, dan rekayasa produk meski sebagian dari biaya-biaya ini
karena prinsip akuntansi yang berlaku umum untuk pelaporan keuangan mengharuskan
biaya-biaya tersebut diperlakukan sebagai biaya periodik.
C. Mahal dan menghabiskan waktu.
Sistem ABC tidak murah dan membutuhkan banyak waktu untuk dikembangkan dan
dilaksanakan. Untuk perusahaan dan organisasi yang telah menggunakan sistem
perhitungan biaya tradisional berdasarkan volume. pelaksanaannya suatu sistem baru
ABC cenderung sangat mahal. Lagipula seperti sebagian besar sistem akuntansi dan
manajemen yang inovatif, biasanya diperlukan waktu setahun atau lebih untuk
mengembangkan dan melaksanakan ABC dengan sukses.

8. Menghitung Perhitungan Activity Based Costing


Di dalam praktiknya, sistem Activity Based Costing menggunakan sejumlah besar tempat
untuk menampung biaya aktivitas dan banyak pemicu dari berbagai aktivitas. Banyak tempat
dalam menampung biaya yang dihasilkan dari tiap-tiap penampungan biaya aktivitas
sehingga sistem ABC membantu memberikan informasi biaya yang lebih tepat dan akurat
dibandingkan sistem tradisional. Untuk menggambarkan keterbatasan sistem tradisional dan
lebih singkatnya, dibawah ini adalah sebuah contoh yang menggambarkan perbandingan
antara menggunakan perhitungan sistem tradisionalfkonvensional dengan sistem ABC.
Data Penentuan Barga Pokok Produk
KERTAS PEMBUNGKUS
Putih Biru Total
Produksi Per tahun 20000 100000 120000
Biaya Utama Rp 100,000 Rp 500,000 Rp 600,000
Jam Kerja Langsung 20000 100000 120000
Jam Mesin 10000 50000 60000
Produksi Berjalan 20 30 50

Data Departemen
Dep. 1 Dep. 2 Total
Jam Kerja Langsung
Pembungkus putih 4000 16000 20000
Pembungkus biru 76000 24000 100000
Total 80000 40000 120000
Jam Mesin
Pembungkus putih 4000 6000 10000
Pembungkus biru 16000 34000 50000
Total 20000 40000 60000
Biaya Overhead
Biaya Penyetelan Rp 88,000 Rp 88,000 Rp 176,000
Biaya Inspeksi Rp 74,000 Rp 74,000 Rp 148,000
Biaya Listrik Rp 28,000 Rp 140,000 Rp 168,000
Kesejahteraan Rp 104,000 Rp 52,000 Rp 156,000

Ada dua tahapan di dalam perhitungan biaya berdasarkan sistem Activity Based Costing :
A. Prosedur Tahap I
Pada tahap pertama ini dilakukan pembebanan biaya pemakaian sumber daya kepada
aktivitas-aktivitas yang menggunakannya. Dalam kalkulasi biaya berdasarkan sistem
Activity Based Costing (ABC) tahap pertama, biaya overhead dibagi kedalam kelompok
biaya homogen. Suatu kelompok biaya yang homogen merupakan suatu kumpulan dari
biaya overhead, yaitu variasi biaya dapat dijelaskan oleh suatu pemicu biaya (cost
driver).
B. Prosedur Tahap II
Pada tahap dua ini, biaya setiap kelompok biaya (cost pool) ditelusuri ke produk. Hal ini
dilakukan dengan menggunakan tarif kelompok yang dihitung pada tahap pertama dan
dikalikan dengan jumlah sumber daya yang dikonsumsi oleh setiap produk. Tolak ukur
ini merupakan kuantitas pemacu biaya yang 14 digunakan oleh setiap produk. Dengan
demikian overhead yang dibebankan setiap kelompok biaya ke produk dihitung sebagai
berikut :
Overhead yang dibebankan = Tarif keJompok x Jumlah konswnsi pemacu biaya

Prosedur tahap pertama


Kelompok 1
Biaya Penyetelan Rp 176,000
Biaya Inspeksi Rp 148,000
Biaya total kelompok 1 Rp 324,000
Produksi berjalan 50
Tarif kelompok 1 (biaya per produksi berjalan) Rp 6,480
Kelompok 2
Biaya Listrik Rp 168,000
Kesejahteraan Karyawan Rp 156,000
Biaya total kelompok 2 Rp 324,000
Jam Mesin 60000

Biaya per unit


Kertas Pembungkus Warna Putih
Total Biaya Kuantitas Per Unit
Biaya Utama Overhead Rp 100,000 20 5
Kelompok 1 Rp 129,600 20 6,48
( Tarif kelompok 1 x Produksi Berjalan)

Kelompok 2 Rp 54,000 20 2,70


( Tarif kelompok 2 x Jam Mesin)
Jumlah Overhead Rp 183,600 20 Rp. 9,18
Jumlah Biaya Rp 283,600 20 Rp. 14,18
Kertas Pembungkus Warna Biru
Total Biaya Kuantitas Per Unit
Biaya Utama Overhead Rp 500,000 100 50
Kelompok 1 Rp 194,400 100 1,94
( Tarif kelompok 1 x Produksi Berjalan)
Kelompok 2 Rp 270,000 100 2,70
( Tarif kelompok 2 x Jam Mesin)
Jumlah Overhead Rp 464,400 100 Rp. 4,64
Biaya per unit
Sistem Biaya Pembungkus Putih Pembungkus Biru
Activity Based Costing Rp. 14,18 Rp. 9,64

Kesimpulan
Karena penetapan Activity Based Costing memecah biaya yang digunakan untuk
menciptakan produk, ia memiliki banyak kegunaan dalam bisnis. Untuk usaha kecil, penetapan
biaya berbasis aktivitas sangat bagus untuk membuat keputusan overhead dan harga produk.
Dengan sistem ABC, Anda dapat menetapkan biaya untuk setiap aktivitas dalam proses
produksi, memungkinkan Anda untuk lebih akurat menetapkan harga yang memperhitungkan
berapa biaya yang Anda keluarkan untuk membuat produk.