MAKALAH
PERSPEKTIF/PANDANGAN IMAN KRISTEN TENTANG EKOLOGI
DISUSUN OLEH
> AGNER POLANG (221411205)
> DESMANTO KALLOLANGI’ (221411060)
> MILKA SOREAN (221411032)
> SULTAN MASSORA (221411205)
FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS KRISTEN INDONESIA TORAJA
TAHUN AJARAN 2021/20222
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur kami ucapkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, oleh karena
tutunannya sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini tepat pada waktunya.
Adapun tema dari makalah ini yaitu “ perspektif/pandangan agama Kristen
tentang ekologi”.
Pada kesempatan ini, kami mengucapkan terimah kasih kepada Dosen mata
kuliah “Etika Kristen” yang telah memberikan tugas kepada kami. Kami juga
mengucapkan terimah kasih kepada semua pihakl yang membantu kami dalam
penyelesaian makalah ini.
Kami menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kata sempurna oleh
kareana keterbatasan waktu dan kemampuan kami. Oleh karena itu kritik dan saran
yang membangun senantiasa kami harapkan. Semoga maklalah ini dapat berguna
bagi kami dan juga bagi kami khususnya, dan pihak lain yang berkepentingan pada
umumnya.
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
BAB I PENDAHULUAN
A.LATAR BELAKANG
B.RUMUSAN MASALAH
C.TUJUAN
BAB II PEMBAHASAN
A.PENGERTIAN EKOLOGI
B.PERSPEKTIF IMAN KRISTEN TERHADAP EKOLOGI
C.HUBUNGAN TEOLOGI KRISTEN DENGAN MASALAH EKOLOGI
D.RESPON MANUSIA TERHADAP ALAM
BAB III PENUTUP
KESIMPULAN
SARAN
BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Ekologi merupakan cabang ilmu biologi yang memepelajari tentang
lingkungan atau planet bumi ini secara keseluruhan. Dalam cerita penciptaan
dikatakan bahwa manusia diciptakan bersama dengan seluruh alam semesta.
Itu berarti bahwa manusia mempunyai keterkaitan dan kesatuan dengan
lingkungan hidupnya. Akan tetapi, diceritakan pula bahwa hanya manusia
yang diciptakan sebagai gambar Allah ("Imago Dei") dan diberikan
kewenangan untuk menguasai dan menaklukkan bumi dengan segala isinya.
Jadi di satu segi, manusia adalah bagian integral dari ciptaan (lingkungan),
akan tetapi di lain segi, ia diberikan kekuasaan untuk memerintah dan
memelihara bumi
B. RUMUSAN MASALAH
1. Apa pengertian dari pada ekologi?
2. Bagaimana perspektif iman Kristen terhadap ekologi/lingkungan?
3. Apa hubungan teologi Kristen/Alkitab mengenai ekologi/lingkungan?
4. Bagaimana respon manusia terhadap alam?
C. Tujuan
1. Untuk menambah wawasan penulis/pembaca
2. Untuk memenuhi tugas dari mata kuliah bersangkuatan
3. Untuk mengetahui bagaimana perspektif iman Kristen dan respion
msnusuia terhadap alam.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian ekologi
Istilah ekologi pertama kali dimunculkan oleh Ernst Haeckel, seorang
murid Darwin pada tahun 1866, yang menunjuk pada keseluruhan organisme
atau pola hubungan antara organisme dan lingkungannya. Ekologi berasal
dari kata Yunani: oikos dan logos, yang secara harafiah berarti „rumah‟ dan
„pengetahuan‟. Ekologi sebagai ilmu berarti pengetahuan tentang lingkungan
hidup atau planet bumi ini sebagai keseluruhan. Bumi dianggap sebagai
rumah tempat kediaman manusia dan seluruh makhluk dan benda fisik
lainnya.Selanjutnya menurut William Chang, secara harafiah ekologi berarti
penyelidikan tentang organismeorganisme dalam jagad raya. Menurut Denis
Owen sebagaimana yang dikutip oleh A. Sony Keraf berkata bahwa Ekologi
berurusan dengan dengan hubungan di anta tumbuhan dan hewan dan
lingkungan di mana mereka hidup. Bumi merupakan kediaman bersama
dengan makhluk lainnya. Dengan kata lain bumi merupakan rumah yang di
dalamnya manusia, hewan, tumbuhan dan materi lainnya hidup secara
berdampingan.
Seperti yang dikatakan oleh Sony bahwa: “Ekologi bukan semata-
mata berurusan dengan pencemaran. Ia juga bukan sematamata persoalan
tentang kerusakan alam. Lingkungan hidup atau ekologi mengandung
pengertian yang lebih luas, lebih mendalam dan lebih filosofis menyangkut
kehidupan dan interaksi yang terjalin di dalamnya. Ia menyangkut mata rantai
jaring makanan dan siklus yang menghubungkan satu kehidupan dengan
kehidupan lainnya dan interaksi antara semua kehidupan dengan
ekosistemnya, dengan bumi tempat hidup semua kehidupan. Singkatnya,
ekologi berbicara tentang kehidupan dan jaringan kehidupan yang terdiri dari
jaringan di dalam jaringan”13 Saling keterkaitan ini membuat manusia
seharusnya menyadari bahwa di dalam bumi ini, manusia tidak hidup sendiri.
Artinya ada makhluk hidup lain yang berhak untuk hidup dalam lingkungan
yang sama di mana manusia berada. Tidak hanya itu saja, manusia
membutuhkan makhluk hidup lainnya seperti tumbuhan dan hewan agar
supaya manusia tetap bertahan
hidup. Sebaliknya juga demikian, tumbuhan dan hewan membutuhkan
manusia agar supaya mereka bisa bertahan hidup dan tidak cepat
B. Perspektif Iman Kristen Terhadap Ekologi
Dalam cerita penciptaan dikatakan bahwa manusia diciptakan bersama
dengan seluruh alam semesta. Itu berarti bahwa manusia mempunyai
keterkaitan dan kesatuan dengan lingkungan hidupnya. Akan tetapi,
diceritakan pula bahwa hanya manusia yang diciptakan sebagai gambar Allah
("Imago Dei") dan diberikan kewenangan untuk menguasai dan menaklukkan
bumi dengan segala isinya. Jadi di satu segi, manusia adalah bagian integral
dari ciptaan (lingkungan), akan tetapi di lain segi, ia diberikan kekuasaan
untuk memerintah dan memelihara bumi. Maka hubungan manusia dengan
lingkungan hidupnya seperti dua sisi dari mata uang yang mesti dijalani
secara seimbang.23 Kesatuan manusia dengan alam terlihat jelas dari unsur
materi yang Allah gunakan untuk menciptakan manusia, yakni dari debu
tanah. Oleh karena itu, merusak alam dalam perspektif iman Kristen, sama
saja dengan merusak unsur utama dari diri manusia.
Tidak dapat disangkal bahwa keterikatan manusia dengan alam
membuat manusia bertanggung jawab penuh akan kelestarian alam di
sekitarnya (Kejadian 2:15). Mengusahakan yang dimaksud dalam Kejadian
2:15, ialah “Manusia sebagai citra Allah seharusnya memanfaatkan alam
sebagai bagian dari ibadah dan pengabdiannya kepada Allah. Dengan kata
lain, penguasaan atas alam seharusnya dijalankan secara bertanggung
jawab: memanfaatkan sambil menjaga dan memelihara. Ibadah yang sejati
adalah melakukan apa saja yang merupakan kehendak Allah dalam hidup
manusia, termasuk hal mengelola ("abudah") dan memelihara ("samar")
lingkungan hidup yang dipercayakan kekuasaan atau kepemimpinannya pada
manusia.”
C. Hubungan Teologi Kristen dengan Masalah Ekologi
Menurut David Kinsley ada empat permasahan pokok dalam hubungan
Kristen dengan lingkungan hidup antara lain :
a. Teologi Kristen/Alkitab dianggap menjadi dasar pandangan yang
berdampak negatif terhadap perkembangan spiritualitas lingkungan.
b. Teologi Kristen/Alkitab mempunyai kecenderungan ekologis yang kuat
dan menjadi sumber penting yang membangun kehidupan spiritualitas
lingkungan.
c. Teologi Kristen/Alkitab bersifat ambigu terhadap isu-isu lingkungan.
d. Teologi Kristen/Alkitab menentukan kedudukan aktualnya terhadap
isu- isu lingkungan tetapi ada tema tertentu atau pasal tertentu dalam
Alkitab yang mendukung pandangannya terhadap lingkungan hidup.
Teologi dan ekologi memiliki hubungan yang begitu dalam sehingga
jika kita (dalam hal ini orang Kristen) mengabaikan alam sama halnya
dengan kita merusak hasil kerja Allah dan bila kita merusak hasil kerja
Allah yang besar, maka sama halnya dengan kita tidak taat pada
perintah Allah kepada manusia untuk memelihara alam.
D. Respon Manusia Terhadap Alam
Dalam karya penciptaan Allah dalam kitab Kejadian merupakan hasil
karya yang begitu mengesankan. Tidak bisa dipungkiri bahwa manusia hadir
(diciptakan Allah) di dunia setelah Allah menciptakan dunia (alam) ini. Apakah
tujuan Allah untuk menciptakan Alam (hewan tumbuh-tumbuhan dan alam
sekitar) terlebih dahulu lalu menciptakan manusia? Tentunya agar manusia
bertanggung jawab atas hasil Allah yang begitu luar biasa ini. Memang dalam
Kejadian 9 menunjukkan betapa alam ini telah menjadi rusak akibat kejatuhan
manusia ke dalam dosa. Namun demikian, keadaan alam yang telah rusak
sekali pun tidak mengurangi nilainya. Oleh karena itu, James Montgomery
Boice memberikan beberapa hal yang perlu untuk dilakukan oleh manusia
demi menjaga alam ciptaan Allah26:
1. Manusia harus bersyukur untuk dunia yang telah Allah jadikan dan
memuji Dia untuk hal itu.
2. Manusia harus bersuka atas ciptaan. Bersuka erat kaitannya dengan
bersyukur, tetapi itu adalah suatu langkah melampaui bersyukur.
3. Manusia (orang-orang Kristen) harus menunjukkan suatu tanggung
jawab terhadap alam. Kita seharusnya tidak menghancurkannya hanya
demi menghancurkannya, tetapi seharusnya berusaha untuk
mengangkatnya kepada potensinya yang paling penuh.
4. Alam semesta harus digunakan oleh manusia dengan cara yang
semestinya.
5. Setelah mereka merenungkan alam dan menghargainya, orang Kristen
seharusnya sekali lagi berpaling kepada Allah yang menjadikan dan
menopangnya setiap saat dan seharusnya belajar untuk memercayai Dia.
Allah memelihara alam, sekalipun alam disalahgunakan karena dosa-
dosa kita.
BAB III
PENUTUP
A. SARAN
Dalam menjalani kehidupan yang masih Tuhan anugerahkan kepada
kita, kita seharusnya sebagai umat yang percaya menjaga serta bertanggung
jawab atas lingkugan yang ada di sekitar kita.
B. KESUMPULAN
Manusia sang penghancur alam. Pernyataan ini akan terus berlanjut
apabila manusia semakin merusak alam tanpa memperhatikan
keseimbangan. Jika manusia tidak mulai berubah maka suatu saat bumi ini
akan semakin rusak sehingga dapat merugikan manusia sendiri dan alam
ciptaan yang lain. Kerusakan lingkungan yang ada di bumi ini seharusnya
menyadarkan manusia tentang betapa pentingnya untuk menjaga
lingkungan hidup.
Dimulai dari lingkungan sekitar yang terdekat, meskipun tidak dapat
sekaligus merubah kondisi alam lingkungan sekitar, setidaknya telah sedikit
merubah lingkungan sekitar sehingga dapat dampak positif bagi manusia
sendiri. Kesadaran akan pentingnya menjaga kelestarian alam juga akan
membawa dampak positif juga bukan saja kepada manusia, melainkan juga
kepada makhluk lainya.
Berbicara mengenai hubungan kekristenan dengan ekologi maka tidak
dapat disangkal bahwa manusia mendapat mandat dari Allah sendiri untuk
memelihara alam ini dengan sedemikian rupa, bukannya malah merusaknya.
Teologi bukan hanya berbicara mengenai hubungan manusia dengan Allah
atau Allah dengan manusia, melainkan juga berbicara mengenai bagaimana
manusia menjaga alam ciptaan ini serta menatanya sedemikian untuk
kemuliaan Allah. Dengan kata lain, spiritualitas berbicara tentang manusia-
Allah, manusia sesamanya dan manusia-alam sekitar.