Anda di halaman 1dari 4

PEMBAHASAN TEORI BILIRUBIN

Bilirubin adalah pigmen kuning yang berasal dari perombakan heme dari hemoglobin
dalam proses pemecahan eritrosit oleh sel retikuloendotel. Di samping itu sekitar 20% bilirubin
berasal dari perombakan zat-zat lain. Sel retikuloendotel membuat bilirubin tidak larut dalam air,
bilirubin yang disekresikan dalam darah harus diikatkan albumin untuk diangkut dalam plasma
menuju hati (MA Faradilla, 2017).

Bilirubin terkonjugasi /direk adalah bilirubin bebas yang bersifat larut dalam air sehingga
dalam pemeriksaan mudah bereaksi. Bilirubin terkonjugasi (bilirubin glukoronida atau
hepatobilirubin ) masuk ke saluran empedu dan diekskresikan ke usus. Selanjutnya flora usus
akan mengubahnya menjadi urobilinogen bilirubin terkonjugasi bereaksi cepat dengan asam
sulfanilat yang terdiazotasi membentuk azobilirubin. Peningkatan kadar bilirubin direk atau
bilirubin terkonjugasi dapat disebabkan oleh gangguan ekskresi bilirubin intrahepatik antara lain
Sindroma Dubin Johson dan Rotor, Recurrent (benign) intrahepatic cholestasis, Nekrosis
hepatoseluler, Obstruksi saluran empedu. Diagnosis tersebut diperkuat dengan pemeriksaan
urobilin dalam tinja dan urin dengan hasil negative ( MA Faradilla, 2017).

Dalam keadaan fisiologis, masa hidup eritrosit manusia sekitar 120 hari, eritrosit mengalami lisis
1-2×108 setiap jamnya pada seorang dewasa dengan berat badan 70 kg, dimana diperhitungkan
hemoglobin yang turut lisis sekitar 6 gr per hari. Sel-sel eritrosit tua dikeluarkan dari sirkulasi dan
dihancurkan oleh limpa. Apoprotein dari hemoglobin dihidrolisis menjadi komponen asam-asam
aminonya. Katabolisme heme dari semua hemeprotein terjadi dalam fraksi mikrosom sel retikuloendotel
oleh sistem enzim yang kompleks yaitu heme oksigenase yang merupakan enzim dari keluarga besar
sitokrom P450. Langkah awal pemecahan gugus heme ialah pemutusan jembatan α metena membentuk
biliverdin, suatu tetrapirol linier. Besi mengalami beberapa kali reaksi reduksi dan oksidasi, reaksi-reaksi
ini memerlukan oksigen dan NADPH. Pada akhir reaksi dibebaskan Fe3+ yang dapat digunakan kembali,
karbon monoksida yang berasal dari atom karbon jembatan metena dan biliverdin. Biliverdin, suatu
pigmen berwarna hijau akan direduksi oleh biliverdin reduktase yang menggunakan NADPH sehingga
rantai metenil menjadi rantai metilen antara cincin pirol III – IV dan membentuk pigmen berwarna
kuning yaitu bilirubin. Perubahan warna pada memar merupakan petunjuk reaksi degradasi ini
Pemeriksaan bilirubin :Pemeriksaan bilirubin dalam urin berdasarkan reaksi antara garam
diazonium dengan bilirubin dalam suasana asam, yang menimbulkan warna biru atau ungu tua.
Garamdiazonium terdiri dari p-nitrobenzene diazonium dan p-toluene sulfonate, sedangkanasam
yang dipakai adalah asam sulfo salisilat.Adanya bilirubin 0,05-1 mg/dl urin akan memberikan
basil positif dan keadaan inimenunjukkan kelainan hati atau saluran empedu. Hasil positif palsu
dapat terjadi biladalam urin terdapat mefenamic acid, chlorpromazine dengan kadar yang
tinggisedangkan negatif palsu dapat terjadi bila urin mengandung metabolit pyridium
atauserenium.

Metabolisme bilirubinEritrosit secara fisiologis dapat bertahan/ berumur sekitar 120 hari,
eritrosit mengalamilisis 1-2×108 setiap jamnya pada seorang dewasa dengan berat badan 70 kg,
dimanadiperhitungkan hemoglobin yang turut lisis sekitar 6 gr per hari. Sel-sel eritrosit
tuadikeluarkan dari sirkulasi dan dihancurkan oleh limpa. Apoprotein dari
hemoglobindihidrolisis menjadi komponen asam-asam aminonya.Katabolisme heme dari semua
hemeprotein terjadi dalam fraksi mikrosom selretikuloendotel oleh sistem enzym yang kompleks
yaitu heme oksigenase yangmerupakan enzym dari keluarga besar sitokrom P450. Langkah awal
pemecahan gugusheme ialah pemutusan jembatan α metena membentuk biliverdin, suatu
tetrapirol linier.Besi mengalami beberapa kali reaksi reduksi dan oksidasi, reaksi-reaksi ini
memerlukanoksigen dan NADPH. Pada akhir reaksi dibebaskan Fe3+ yang dapat
digunakankembali, karbon monoksida yang berasal dari atom karbon jembatan metena
dan biliverdin. Biliverdin, suatu pigmen berwarna hijau akan direduksi oleh biliverdinreduktase
yang menggunakan NADPH sehingga rantai metenil menjadi rantai metilenantara cincin pirol III
– IV dan membentuk pigmen berwarna kuning yaitu bilirubin.Perubahan warna pada memar
merupakan petunjuk reaksi degradasi ini.

Dalam setiap 1 gr hemoglobin yang lisis akan membentuk 35 mg bilirubin. Pada


orangdewasa dibentuk sekitar 250–350 mg bilirubin per hari, yang dapat berasal dari pemecahan
hemoglobin, proses erytropoetik yang tidak efekif dan pemecahanhemprotein lainnya. Bilirubin
dari jaringan retikuloendotel adalah bentuk yang sedikitlarut dalam plasma dan air. Bilirubin ini
akan diikat nonkovalen dan diangkut olehalbumin ke hepar. Dalam 100 ml plasma hanya lebih
kurang 25 mg bilirubin yang dapatdiikat kuat pada albumin. Bilirubin yang melebihi jumlah ini
hanya terikat longgar hingga mudah lepas dan berdiffusi ke jaringan.Bilirubin I (indirek) bersifat
lebih sukar larut dalam air dibandingkan dengan biliverdin.Pada reptil, amfibi dan unggas hasil
akhir metabolisme heme ialah biliverdin dan bukan bilirubin seperti pada mamalia.
Keuntungannya adalah ternyata bilirubin merupakansuatu anti oksidan yang sangat efektif,
sedangkan biliverdin tidak. Efektivitas bilirubinyang terikat pada albumin kira-kira 1/10 kali
dibandingkan asam askorbat dalam perlindungan terhadap peroksida yang larut dalam air. Lebih
bermakna lagi, bilirubinmerupakan anti oksidan yang kuat dalam membran, bersaing dengan
vitamin E.Di hati, bilirubin I (indirek) yang terikat pada albumin diambil pada permukaan
sinusoidhepatosit oleh suatu protein pembawa yaitu ligandin. Sistem transport difasilitasi
inimempunyai kapasitas yang sangat besar tetapi penggambilan bilirubin akan tergantung pada
kelancaran proses yang akan dilewati bilirubin berikutnya. Bilirubin nonpolar (I /indirek) akan
menetap dalam sel jika tidak diubah menjadi bentuk larut (II / direk).Hepatosit akan mengubah
bilirubin menjadi bentuk larut (II / direk) yang dapatdiekskresikan dengan mudah ke dalam
kandung empedu. Proses perubahan tersebutmelibatkan asam glukoronat yang dikonjugasikan
dengan bilirubin, dikatalisis olehenzym bilirubin glukoronosiltransferase. Hati mengandung
sedikitnya dua isoformenzym glukoronosiltransferase yang terdapat terutama pada retikulum
endoplasma.Reaksi konjugasi ini berlangsung dua tahap, memerlukan UDP asam glukoronat
sebagaidonor glukoronat. Tahap pertama akan membentuk bilirubin monoglukoronida
sebagaisenyawa antara yang kemudian dikonversi menjadi bilirubin diglukoronida yang
larut pada tahap kedua.Eksresi bilirubin larut ke dalam saluran dan kandung empedu berlangsung
denganmekanisme transport aktif yang melawan gradien konsentrasi. Dalam keadaanfisiologis,
seluruh bilirubin yang diekskresikan ke kandung empedu berada dalam bentuk terkonjugasi
(bilirubin II)

Masalah Klinis :Bilirubin Total, Direk 

• Peningkatan Kadar : ikterik obstruktif karena batu atau neoplasma,hepatitis , sirosishati,


mononucleosis infeksiosa, metastasis (kanker) hati, penyakit Wilson. Pengaruhobat : antibiotic
(amfoterisin B, klindamisin, eritromisin, gentamisin, linkomisin,oksasilin, tetrasiklin), sulfonamide, obat
antituberkulosis ( asam para-aminosalisilat,isoniazid), alopurinol, diuretic (asetazolamid, asam
etakrinat), mitramisin, dekstran,diazepam (valium), barbiturate, narkotik (kodein, morfin, meperidin),
flurazepam,indometasin, metotreksat, metildopa, papaverin, prokainamid, steroid, kontrasepsi
oral,tolbutamid, vitamin A, C, K

.• Penurunan Kadar : anemia defisiensi besi. Pengaruh obat : barbiturate, salisilat(aspirin),


penisilin, kafein dalam dosis tinggi (Djuma, 2017).
DAFTAR PUSTAKA

MA Faradilla. 2017. PENURUNAN BILIRUBIN MENINGKATKAN OKSIDASI


LIPOPROTEIN A PADA NEFROPATI DIABETIK. Diakses pada tanggal 11 April 2019

Agustina Welhelmina Djuma. 2017. Comparison of Bilirubin Level Direk in Alcohol Consumers
and Non-Alcohol Consumers. Diakses pada tanggal 11 April 2019. Terdapat pada :
http://jurnal.poltekeskupang.ac.id/index.php/infokes