Anda di halaman 1dari 14

MAKALAH

PENGERTIAN TAFSIR,TAKWIL,DAN TARJAMAH

Dosen Pengampu: Dinar Bella Ayu Najma, S.Pd.,M.Pd

Disusun Oleh :

1. `Abdul Qodir Syahbani (203111175)


2. Adam Kartiko ( 20311176)
3. Esti Nur Arrochmah ( 203111178 )

PENDIDIKAN AGAMA ISLAM


FAKULTAS ILMU TARBIYAH

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI RADEN MAS SAID SURAKARTA

2022/2023
BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Al-Qur'an adalah pedoman hidup bagi umat Islam. Karena Al-Qur'an berbahasa Arab,
tidak dapat disangkal bahwa banyak ayat-ayatnya bersifat global. Sehingga tidak dapat
dipahami oleh teks karena perlu terjemahan dan interpretasi agar Al-Qur'an dapat dipahami
oleh teks.
Al-Qur'an adalah sumber tasyri' pertama umat Islam. Oleh karena itu, umat Islam
harus memahami maknanya, memahami misterinya, dan mengamalkan kandungan Al-Qur'an
untuk mencapai kebahagiaan di akhirat. Tidak semua orang ini memahami lafaz-lafaz dan
perumpamaan, selain dari penafsiran kitab suci. Orang memiliki cara berpikir dan
kemampuan berpikir yang berbeda-beda tentang suatu hal, sehingga perlu mempelajari Al-
Qur'an secara mendalam. Untuk menggali makna Al-Qur'an, tidak cukup hanya
mengandalkan terjemahan Al-Qur'an. Bahkan, Pada faktanya, banyak orang telah
menghabiskan waktu hidupnya untuk mengkaji al-Qur’an guna memahami maknanya.Untuk
memahami maknanya ada beberapa ilmu yang digunakan dalam mempelajari pengkajian al-
Qur’an secara mendalam, diantaranya ilmu Tafsir, Ta’wil, dan Tarjamah.

B. RUMUSAN MASALAH
1. Apakah yang dimaksud dengan Tafsir?
2. Apa saja macam-macam Tafsir?
3. Apakah yang dimaksud dengan Takwil dan pembagiannya?
4. Apakah pengertian dari Tarjamah?
5. Bagaimana sejarah perkembangam Tarjamah?
6. Apa saja macam-macam Tarjamah?
C. TUJUAN PENULISAN
1. Untuk mengetahui pengertian Tafsir
2. Untuk mengetahui macam-macam Tafsir
3. Untuk mengetahui pengertian Takwil dan pembagiannya
4. Untuk mengetahui pengertian Tarjamah
5. Untuk mengetahui sejarah perkembangan Tarjamah
6. Untuk mengetahui macam-macam Tarjam
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Tafsir

Kata tafsir diambil dari kata fassara-yufassiru-tafsiran, yang berarti menggambarkan


atau menggambarkan, dan al-jurjani berpendapat bahwa tafsir menurut arti bahasanya
adalah al-kasyf al-idzhar, yang berarti mengungkapkan (membuka)dan melahirkan. Para
ahli telah menawarkan editorial yang berbeda mengenai arti dari istilah penjelasan.
Menurut al-Kilabi dari at-Tashil, "Tafsir adalah menafsirkan Al-Qur'an, menjelaskan
maknanya dan menjelaskan apa yang dibutuhkan, teks, tanda atau tujuan.” 1
Sementara itu, menurut al-Jazairi dari Shahib at-Taujih, “Tafsir pada dasarnya
menafsirkan kata-kata yang tidak dapat dipahami oleh pendengarnya sehingga mereka
mencoba memunculkan sinonim atau makna yang dekat dengannya, atau dengan
menyarankan salah satu dilalahnya.”2
Berdasarkan beberapa penjelasan yang dikemukakan oleh para ulama tersebut di atas,
dapat disimpulkan bahwa penjelasan ini pada dasarnya adalah “hasil dari tanggapan, nalar
dan upaya ijtihad manusia untuk mengungkapkan nilai-nilai ketuhanan yang terkandung
dalam Al-Qur’an. Dan tujuan dari Mempelajari penjelasan atau ghayah adalah memahami
makna Al-Qur'an, hukum-hukumnya, hikmah, akhlak dan petunjuk-petunjuk lainnya
untuk memperoleh kebahagiaan di dunia dan akhirat.

B. Macam-macam Tafsir Berdasarkan Sumber-sumbernya


1. Tafsir Bi al-Ma’tsur
Tafsir bi al Ma’tsur (disebut pula di ar-riwayah dan an-nayl) adalah penafsiran Al-
Qur’an yang berdasarkan pada penjelasan Al-Qur’an sendiri, penjelasan Nabi,
penjelasan para sahabat melalui ijtihadnya, dan pendapat (aqwal) tabi’in. Jadi, bila
menunjuk definisi di atas, ada empat otoritas yang menjadi sumber penafsiran bi al-
ma’tsur, yaitu:
a. Al-Qur’an yang dipandang sebagai penafsiran terbaik terhadap Al-Qur’an sendiri.
Umpamanya, penafsiran kata muttaqin pada surat Ali Imran (3) ayat 133, adalah
dengan menggunakan kandungan ayat berikutnya, yang menafkahkan harta, baik di
waktu lapang maupun sempit, dan seterusnya.
1
M. Hasbi Ash Shidiqie, Sejarah dan Pengantar Ilmu Al-Qur’an Tafsir, (Jakarta : Bulan Bintang, 1992),
cet.14, hlm. 179.
2
M. Hasbi Ash Shidiqie, Sejarah dan Pengantar Ilmu Al-Qur’an Tafsir, (Jakarta : Bulan Bintang, 1992),
cet.14, hlm. 179.
b. Otoritas hadits Nabi yang memang berfungsi sebagai bayan, di antaranya, sebagai
penjelas (mubayyin) Al-Qur’an. Umpamanya, penafsiran Nabi terhadap kata azh-
zhulm pada surat Al-An’am (6) dengan pengertian syirik, dan pengertian ungkapan
al-quwwah (kekuatan) dengan ar-ramyu (panah) pada firman Allah: “Dan
siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan
dari kuda-kuda” (QS Al-Anfal [8]: 60)
c. Penjelasan sahabat yang dipandang sebagai orang yang banyak mengetahui Al-
Qur’an. Umpamanya, penafsiran Ibnu Abbas (w. 68/687) terhadap kandungan surat
An-Nashr (110) dengan kedekatan waktu kewafatan Nabi.
d. Otoritas penjelasan tabi’in yang dianggap sebagai orang yang bertemu iangsung
dengan sahabat. Umpamanya, penafsiran tabi’in terhadap surat ash-Shaffat (37) ayat
65 dengan syair Imr al-Qays. Tidak diperoleh alasan yang memadai mengenai
penafsiran tabi’in yang dijadikan sebagai salah satu sumber tafsir bi al-ma’tsur.
Padahal dalam penafsiran Al-Qur’an, mereka tidak hanya mendasarkan kepada
riwayat yang diterimanya dari sahabat, tetapi juga terkadang memasukkan ide-
idenya. Dengan kata lain, terkadang mereka pun melakukan ijtihad dan memberi
interpretasi terhadap Al-Qur’an.
Yang pertama, apabila nilai riwayatnya sahih, diterima sebagaimana
apa adanya tanpa ada pengembangan karena sifatnya di luar jangkauan akal.
Adapun yang kedua, walaupun harus diakui bahwa penafsiran Nabi pasti benar,
penafsirannya itu harus didudukkan pada proporsinya yang tepat. Apalagi jika
dikaitkan dengan multifungsi Nabi.Adapun pendapat sahabat, apabila permasalahan
yang diungkapkan itu fi majal al-aql, pendapat tersebut fi hukm al-marfu dan
diterima apa adanya. Bila tidak demikian, ia hanya dipertimbangkan dan dipilih
mana yang sesuai dan mana yang tidak sesuai.Bertolak dari pendapat di atas,
jelaslah bahwa tidak merupakan suatu keharusan untuk menerima produk penafsiran
bi al-ma’tsur bila persoalannya menyangkut fi majal al-aql meskipun penafsiran itu
berasal dari Nabi.Dalam pertumbuhannya, tafsir bi al-ma’tsur menempuh tiga
periode: Periode pertama, yaitu masa Nabi, sahabat, dan permulaan masa tabi’in
ketika tafsir belum ditulis. Pada periode ini, periwayatan tafsir secara umum
dilakukan dengan lisan (musyafahah). Periode kedua, dimulai dengan masa
pengodifikasian hadits secara resmi pada masa pemerintahan Umar bin Abd al-Aziz
(95-101 H.). Tafsir bi alma’tsur ketika itu ditulis bergabung dengan penulisan hadits
dan dihimpun dalam salah satu bab hadits. Periode ketiga, dimulai dengan
penyusunan kitab tafsir bi al-ma’tsur yang berdiri sendiri.Di antara kitab yang
dipandang menempuh corak bi al-ma’tsur adalah Jami’ al-Bayan fi tafsir Al-Qur’an
karya Ibn Jaris ath-Thabari (w. 310/923), Arwar at-Tanzal karya al-Baidhawi (w.
685/1285), Ad-Durr al-Mantsur fl at-Tafsir bi al-Matsur karya Jalal ad-Din as-
Suyuthi (w. 911/1505), Tanwir al-Miqbas fi Tafsir Ibn Abbas karya Fairud Zabadi
(w. 817/1414), dan Tafsir Al-Qur’an al Adzhim karya Ibnu Katsir (w. 774/1373).
Pengkategorian kitab tafsir di atas sebagai tafsir bi al-ma’tsur dengan
pertimbangan bahwa sebagian besar isinya mengandung riwayat. Ini mengikat
sulitnya mencari sebuah kitab tafsir yang murni menggunakan corak bi alma’tsur.
Pada praktiknya, kitab-kitab tafsir di atas juga menggunakan corak bi ar-ra’yi
meskipun tidak begitu dominan. Tafsir ath-Thabari yang disebut al-Hufi sebagai kitab
yang menjauhi corak bi ar-ra yi, umpamanya, ternyata juga menggunakan ijtihad
pengarangnya terutama ketika menyelesaikan periwayatan yang kontradiktif. Satu-
satunya kitab tafsir bi al-ma’tsur yang barangkali murni adalah tafsir Ad-Durr al-
Mantsur karya as-Suyuthi.Mengingat corak tafsir yang merujuk di antaranya kepada
Al-Qur’an dan hadits-maka dapat dipastikan bahwa tafsir bi al-ma’tsur memiliki
keistimewaan tertentu dibandingkan corak penafsiran lainnya.
Adz-Dzahabi mencatat kelemahan-kelemahan tafsir bi alma ‘tsur, yaitu sebagai
berikut:
a. Terjadi pemalsuan dalam tafsir. Dicatat oleh adz-Dzahabi bahwa pemalsuan
itu terjadi pada tahun-tahun ketika terjadi peperangan di kalangan umat Islam
yang menimbulkan berbagai aliran, seperti Syi’ah, Khawarij, dan Murji’ah. Di
antara sebab pemalsuan itu, menurutnya, adalah fanatisme mazhab, politik,
dan usaha-usaha umat Islam.
b. Masuknya unsur Israiliyat yang didefinisikan sebagai unsur-unsur Yahudi dan
Nasrani ke dalam penafsiran Al-Qur’an. Persoalan Israiliyat sebenarnya sudah
muncul sejak zaman Nabi. Hal itu berdasarkan dua hadits Nabi yang
diriwayatkan Ahmad bin Hanbal tentang dialog Umar bin Khattab dan Nabi
mengenai tulisan yang berasal dari Ahli Kitab, dan hadits al-Bukhari yang
beiisi seruan Nabi untuk tidak membenarkan dan tidak pula mendustakan
berita yang datang dari Ahli Kitab.
c. Penghilangan sanad Eksistensi sanad yang terjadi menjadi salah satu
kualifikasi keakuratan sebuah riwayat, ternyata tidak ditemukan pada sebagian
tafsir bi al-ma’tsur. Akibatnya, penilaian terhadap riwayat itu sulit dilakukan
sehingga sulit pula untuk membedakan mana yang sahih dan mana yang tidak.
Tafsir Muqail bin Sulaiman barangkali cukup representatif bagi contoh kitab
yang tidak disertai sanad.
d. Terjerumusnya yang mufassir ke dalam uraian kebahasaan dan kesastraan
yang bertele-tele sehingga pesan pokok Al-Qur’an menjadi kabur.
e. Sering kali konteks turunnya ayat (asbab an-nuzul) atau sisi kronologis
turunnya ayat hukum yang dipahami dari uraian (nasikh-mansukh), hampir
dapat dikatakan terabaikan sama sekali sehingga ayat-ayat tersebut bagaikan
turun di tengah-tengah masyarakat yang hampa budaya.

Dengan mempertimbangkan keistimewaan dan kelemahan dalam tafsir bi al-


ma’tsur, dapatlah dikatakan bahwa corak itu dapat dipandang lebih baik daripada
corak lainnya. Jika kelemahan-kelemahannya dapat dihindari. mengandung beberapa
kelemahan, di antaranya adalah penyebutan riwayat Israiliyat yang tidak disertai
dengan komentar-komentar yang memadai.Harus dicatat pula bahwa adanya berbagai
keistimewaan yang dimiliki tafsir bi al-ma’tsur bukan berarti bahwa corak tafsir itu
merupakan alternatif terbaik untuk situasi kekinian. Untuk beberapa periode pasca
Nabi, barangkali corak itu memang merupakan satu-satunya alternatif mengingat
antara generasi mereka dengan sahabat dan tabi’in masih cukup dekat dan laju
perubahan sosial perkembangan ilmu pun belum sepesat masa kini. Di samping itu,
juga sebagai penghormatan kepada sahabat dan kedudukan mereka sebagai murid-
murid Nabi dan orang-orang yang berjasa. Demikian pula terhadap tabi’in sebagai
generasi peringkat kedua khair al-qurun masih sangat terkesan dalam jiwa mereka.
2. Tafsir Bi ar-Ra’yi
Berdasarkan pengertian etimologi, ra’yi berarti keyakinan (I’tiqad), analogi
(qiyas), dan ijtihad. Dan ra’yi dalam terminologi tafsir adalah ijtihad. Adz-Dzahabi
mendefinisikan tafsir bi al-ra’yi adaiah tafsir yang diambil berdasarkan ijtihad dan
pemikiran mufassir setelah mengetahui bahasa Arab dan metodenya, dalil hukum
yang ditunjukkan, serta problem penafsiran, seperti asbab nuzul, dan nasih mansukh.
Adapun al-Farmawi mendefinisikannya sebagai berikut: Menafsirkan Al-Qur’an
dengan ijtihad setelah si mufassir yang berbicara dan mengetahui kosakata-kosakata
Arab beserta muatan artinya. Untuk menafsirkan Al-Qur’an dengan ijtihad, si
mufassir pun dibantu oleh Syi’ ir Jahiliyah, asbab an-nuaul, nasikh mansukh, dan
lainnya yang dibutuhkan oleh seorang mufasir, sebagaimana diutarakan pada
penjelasan tentang syarat-syarat menjadi mufasir.
Tafsir bi ar-ra’yi muncul sebagai sebuah “corak” penafsiran belakangan
setelah munculnya tafsir bi al-ma’tsur walaupun sebelumnya ra’yi dalam pengertian
akal sudah digunakan para sahabat ketika menafsirkan Al-Qur’an. Di antara penyebab
yang memicu kemunculan corak tafsir bi ar-ra’yi adalah semakin majunya ilmu-ilmu
keislaman yang diwarnai dengan kemunculan ragam disiplin ilmu, karya-karya para
ulama, aneka warna metode penafsiran, dan pakar-pakar di bidangnya masing-masing.
Pada akhirnya, karya tafsir seorang mufasir sangat diwarnai oleh latar belakang
disiplin ilmu yang dikuasainya. Di antara mereka ada yang lebih menekankan telaah
balaghah, seperti az-Zamakhsyari, atau telaah hukum, seperti al-Qurthubi, atau telaah
keistimewaan bahasa seperti Abi as-Su’ud, atau telaah qira’ah seperti anNaisaburi dan
an-Nasafi, atau telaah mazhab-mazab kalam dan filsafat, seperti ar-Razi atau telaah-
telaah lainnya, menjelang abad II H “corak” penafsiran ini belum mendapatkan
legitimasi yang luas dari ulama yang menolaknya. Ulama yang menolak penggunaan
“corak” tafsir ini mengemukakan argumentasi-argumentasi berikut ini:

1) Menafsirkan Al-Qur’an berdasarkan ra’yi berarti membicarakan (firman)


Allah tanpa pengetahuan. Dengan demikian, hasil penafsirannya hanya
bersifat perkiraan semata. Padahal Allah berfirman: “Dan janganlah kamu
mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai – pengetahuan tentangnya.
Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan
diminta pertanggungan jawabnya.” (QS Al-Isra [17]: 36)
2) Yang berhak menjelaskan Al-Qur’an hanya Nabi, berdasarkan fiiman
Allah: “Keterangan-keterangan (mukjizat) dan kitab-kitab. Dan kami
turunkan kepadamu Al-Qur’an, agar kamu menerangkan pada umat
manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan supaya mereka
memikirkan,” (QS An-Nahl [16]: 44)
Kelompok yang mengizinkannya. Mereka mengemukakan untuk
mendalami kandungan-kandungan Al-Qur’an. Umpamanya firman Allah:
“Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al-Qur’an ataukah hati mereka
terkunci?” (QS Muhammad [47]: 24). Ayat ini, kata mereka, jelas
memerintahkan kepada manusia untuk merenungkan dan memikirkan Al-
Qur’an. Dalam hal ini dapat kita ungkapkan berikut ini:
1) Seandainya tafsir bi ar-ra’yi dilarang, mengapa ijtihad diperbolehkan. Nabi
sendiri tidak mejelaskan setiap ayat Al-Qur’an. Ini menunjukan bahwa
umatnya diizinkan berijtihad terhadap ayat-ayat yang belum dijelaskan
Nabi.
2) Para sahabat Nabi biasa berselisih pendapat mengenai penafsiran suatu
ayat. Ini menunjukkan bahwa mereka pun menafsirkan Al-Qur’an dengan
ra’yi-nya. Seandainya tafsir bi ar-ra’yi dilarang, tentunya tindakan para
asahabat itu keliru.
3) Rasulullah Saw. Pernah berdoa untuk Ibn Abbas. Doa tersebut artinya:
“Ya Allah berilah pemahaman agama kepada Ibn Abbas dan ajarilah ia
takwil”.
Seandainya cakupan takwil hanya mendengar dan memaki riwayat saja, tentunya
pengkhususan doa di atas untuk Ibn Abbas tidak bermakna apa-apa. Dengan
demikian, maka takwil yang dimaksud dalam do’a itu adalah sesuatu di luar
penukilan, yaitu ijtihad dan pemikiran.
Selanjutnya, para ulama membagi corak tafsir bi ar-ra’yi menjadi dua bagian yaitu:
Tafsir bi ar-ra yi yang dapat diterima/terpuji (maqbu Mahmudah) tafsir bi ar-ra’yi dan
yang ditolak/tercela (mardud/mudzmum). Tafsir bi arra’yi dapat diterima apabila
menghindari hal-hal berikut ini:
a. Memaksakan diri untuk mengetahui makna yang dikehendaki Allah pada
suatu ayat, sedangkan ia tidak memenuhi syarat untuk itu.
b. Mencoba menafsirkan ayat-ayat yang maknanya hanya diketahui Allah
(otoritas Allah semata).
c. Menafsirkan Al-Qur’an dengan disertai hawa nafsu dan sikap istihsan
(menilai bahwa sesuatu itu baik semata-mata berdasarkan persepsinya).
d. Menafsirkan ayat-ayat untuk mendukung suatu mazhab yang salah dengan
cara menjadikan paham mazhab sebagai dasar, sedangkan penafsirannya
mengikuti paham mazhab tersebut.Dan Menafsirkan Al-Qur’an dengan
memastikan bahwa makna yang dikehendaki Allah adalah demikian ...
tanpa didukung dalil.

Selama mufassir bi ra’yi menghindari kelima hal di atas dengan disertakan niat
ikhlas semata-mata karena Allah, penafsirannya dapat diterima dan pendapatnya dapat
dikatakan rasional. Jika tidak demikian, berarti ia menyimpang dari cara yang
dibenarkan sehingga, penafsirannya ditolak dan tidak dapat diterima. Mereka
berpendapat bahwa ayat ini menunjukkan macam-macam sinar yang berhasil
ditemukan pada abad ke-20; seperti sinar x dan mampu mendeteksi bagian dalam
tubuh manusia. Mereka menyeret ayat di atas pada makna yang tidak mungkin jika
dihubungkan dengan ayat sebelum dan sesudahnya.Di antara karya tafsir bi al-ra’yi
yang dapat dipercaya adalah Mafatih al-Ghaib, karya Fakhruddin Muhammad bin
Umar ar-Razi (w. 606 H),Ambar at-Tanzil wa Asrar at-Takwil (Tafsir Baidhawi),
karya Imam alBaidhawi (w. 691 H/1286 M),Madarik at-Tanzil wa Haqa’iq at-Takwil
(Tafsir al Nasafi), karya Imam Abu al-Barakah Abdullah bin Ahmad bin Mahmud an-
Nasafi (w. 701 H/1310 M).
C. Macam-macam Tafsir berdasarkan metodenya
a. Metode Tafsir Tahlili
Metode Tafsir Tahlili adalah tafsir yang menyoroti ayat-ayat Al-Qur’an
dengan memaparkan segala makna dan aspek yang terkandung didalamnya sesuai
urutan bacaan yang terdapat dalam mushaf Utsmani. Metode tafsir ini telah ada
sejak masa para sahabat Nabi, sejak zaman klasik dan zaman pertengahan.
b. Metode Tafsir Ijmali
Metode Ijmali adalah metode penafsiran terhadap ayat-ayat Al Quran dengan
cara singkat, padat dan global. Dengan metode ini mufassir menjelaskan makna
ayat-ayat Al Quran secara global, sistematikanya mengikuti urutan surah-surah Al
Quran, sehingga makna-maknanya dapat saling berhubungan. Metode Muqarran
c. Metode Muqarran
Metode Muqarran suatu metode tafsir dengan menggunakan perbandingan
antara satu dengan lainnya. Misalnya, seperti filsafat, hukum dan sebagainya.
d. Metode Madlui
Metode Madlui ialah suatu metode tafsir dengan menggunakan pilihan topik-
topik al-Quran. Inui membahasa persoalan social politik, social ekonomi dan
sebagainya. Awalnya untuk kepentingan penelitian tetapi kemudian berkembang
menjadi jenis tafsir kontemporer.
D. Takwil Al-Qur’an dan pembagiannya

Takwil secara bahasa berasal dari kata ma’al yang bermakna akibat atau kesusahan.
Sebagaimana ketika engkau mengatakan qad awwalltuhu (aku palingkan ia, maka ia pun
berpaling). Dengan demikian Takwil seakan-akan memalingkan ayat kepada sebuah makna
yang dapat di terimanya. Kata Takwil di bentuk dengan pola Taf’il yang memiliki faidah
makna menunjukkan arti banyak.3 Sedangkan Takwil menurut lughat adalah kembali ke asal.
Diambil darikata“awwala-yu’awwilu-takwilan.”
Takwil dalam istilah mempunyai dua makna. Pertama, takwil mentakwilkan kalam
(kata-kata). Sesuatu makna yang kepadanya mutakallim (pembicara, orang pertama)
mengembalikan perkataanya, atau suatu makna yang kepadanya suatu kalam dikembalikan.
Kata-kata itu dikembalikan dan dipulangkan hanya kepada hakikatnya, yaitu apa yang
dimaksud. Terbagi dua yaitu, insyak dan ikhbar. Salah satu yang termasuk insyak adalah amr
(kalimat perintah).Takwil amar yaitu perbuatan yang diperintahkan. Berarti Nabi SAW
menakwilkan Al Quran yaitu ayat yang berbunyi:
‫ك َوا ْستَ ْغفِرْ هُ ِإنَّهُ َكانَ تَوَّابًا‬
َ ِّ‫فَ َسبِّحْ بِ َح ْم ِد َرب‬

“Maka bertasbihlah dengan memuji Tuhan-mu dan mintalah ampun kepada-Nya.


Sesungguhnya Dia adalah Maha Penerima Taubat (Q.S.an-Nasr. [101]:3).
Takwil ikhbar yaitu sesuatu yang diberitakan. Seperti firman Allah yang
Artinya :“Dan sesungguhnya Kami telah mandatangkan sebuah kitab (Al-Quran) kapada
mereka yang Kami telah menjelaskannya atas dasar pengetahuan Kami. Menjadi petunjuk
dan rahmat bagi orang-orang yang beriman. Tidaklah Kami menunggu-nunggu kecuali
(terlaksananya kebenaran) Al Qurqn itu.Pada hari datangnya kebenaran pembicaraan Al
Quran itu berkatalah orang-orang yang melupakannya sebelum itu. Sesungguhnya telah
dating Rasul-Rasul Tuhan kami membawa yang hak maka adalah bagi kami atau dapatkan
bagi kami dikembalikan kedunia, sehingga kami dapat beramal yang lain dari yang pernah
kami amalkan?” (Q.S.Al-A’raf [7]:52-53).
Dalam ayat ini Allah menceritakan Dia telah menjelaskan kitab, dan mereka tidak
menunggu-nunggu kecuali takwil-Nya yaitu datangnya apa yang diberitakan Quran akan
terjadi,seperti hari kiamat dan tanda-tandanya serta segala apa yang ada di akhirat berupa
buku catatan amal(suhuf),neraca amal(mizan),surga,neraka dan lain sebagainya. Maka pada
saat itulah mereka mengatakan: “Sungguh telah datang Rasul-Rasul Tuhan kami membawa
yang hak, maka adakah bagi kami pemberi syafaat yang akan memberikan syafaat kepada
kami, atau dapatkah kami dikembalikan (ke dunia) sehingga kami dapat beramal yang lain
dari yang pernah kami amalkan?”
Ringkasnya, pengertian takwil dalam penggunaan istilah adalah suatu usaha untuk
memahami lafaz-lafaz (ayat-ayat) Al-Quran melalui pendekatan memahami arti atau maksud

3
Aunur Rafiq El-Mazni, Pengantar Studi Ilmu Al-Qur’an, (Jakarta : Pustaka Al-Kautsar , 2006) cet.13
sebagai kandungan dari lafaz itu. Dengan kata lain, takwil berarti mengartikan lafazh dengan
beberapa alternatife kandungan makna yang bukan makna lahiriahnya, bahkan penggunaan
secara masyhur kadang-kadang diidentikan dengan tafsir.atau mengalihkan makna sebuah
lafazh ayat ke makna lain yang lebih sesuai karena alasan yang dapat di terima oleh akal.
Sasaran takwil pada lazimya menyangkut ayat yang mutasyabihat atau ayat-ayat yang
mempunyai sejumlah kemungkinan makna yang dikandungnya. Dalam Al-Akhlak wal
Wajibat, Al-Maghraby mengemukakan:”Adapun takwil ialah bahwa ayat mempunyai
sejumlah kemungkinan makna yang dikandungnya. Maka ketika engkau sebutkan makna
demi makna kepada pendengar, ia menjadi ragu-ragu tidak tahu mana yang harus dipilihnya.
Karena itu takwil lebih banyak digunakan untuk ayat-ayat mutasyabihat”.4

E. Tarjamah
Tarjamah berasal dari bahasa Arab yang artinya “salinan dari sesuatu bahasa ke
bahasa lain” atau berarti mengganti, menyalin dan memindahkan kalimat dari suatu
Bahasa ke Bahasa lain.5
Kata Tarjamah, yang dalam bahasa Indonesianya biasa kita sebut dengan
Terjemah, secara etimologi mempunyai beberapa arti yaitu menyampaikan suatu
ungkapan pada orang yang tidak tahu, menafsirkan sebuah ucapan dengan ungkapan dari
bahasa yang sama dan Menafsirkan ungkapan dengan bahasa lain
F. Sejarah Singkat Perkembangan Tarjamah
Sebelum berkembangnya bahasa Eropa modern, yang berkembang di Eropa
adalah bahasa Latin. Oleh karena itu, terjemahan AL-Quran dimulai kedalam bahasa
Latin. Terjemahan itu dilakukan untuk keperluan biara Clugny kira-kira tahun 1135.
Prof. W. Montgomery Watt dalam bukunya bell’s Introduction to the Quran (Islamic
Surveys 8), menyebutkan bahwa pertanda dimulainya perhatian Barat terhadap study
Islam adalah dengan kunjungan Peter the Venerable, Abbot of Clugny ke Toledo,
pada abad kedua belas, diantara usahanya adalah menerbitkan serial keilmuan untuk
menandingi kegiatan intelektual Islam saat itu, terutama di Andalus. Sebagai bagian
dari kegiatan tersebut adalah menterjemahkan Al-Quran ke dalam bahasa Latin yang
dilakukan oleh Robert of Ketton (Robertus Retanensis), dan selesai pada juli
1143.Abad Renaissance di Barat memberi dorongan lebih besar untuk menerbitkan
4
Ridha Eka Rahayu. 2014. Ulumul Quran, (http://kumpulanmakalah-makalah-agama-
islam.blogspot.co.id/2014/03/Ulumul-Quran-ilmu-Tafsir-takwil-dan-terjemah.html) diakses pada 15
September 2022
5
Prof. Dr. Rosihon Anwar, M. Ag., Ulum Al-qur’an, Pustaka Setia, Bandung, 2007, hlm 212
buku-buku Islam, pada awal abad keenam belas buku-buku Islam banyak diterbitkan,
termasuk penerbitan Al-Quran pada tahun 1530 di Venica dan terjemah Al-Quran
kedalam bahasa Latin oleh Robert of Ketton tahun 1543 di Basle, dengan penerbitnya
Bibliander. Dari terjemahan bahasa Latin inilah, kemudian Al-Quran diterjemahkan
ke dalam berbagai bahasa Eropa.
Al-Quran juga diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa selain Eropa, seperti
Afrika, Persia, Turki, Urdu, Tamil, Pastho, Benggali, Jepang dan berbagai bahasa di
kepulauan Timur, tidak ketinggalan pula Al-Quran juga diterjemahkan ke dalam
bahasa Indonesia, pada pertengahan abad ketujuh belas, Abdul Ra’uf fansuri, seorang
ulama dari Singkel, Aceh, menterjemahkan Al-Quran ke dalam bahasa Melayu, walau
mungkin terjemahan itu ditinjau dari sudut ilmu bahasa Indonesia modern belum
sempurna, namun, pekerjaan itu adalah berjasa besar sebagai pekerjaan perintis jalan;
hingga pada saat ini, kita bisa mendapatkan berbagai terjemahan Al-Quran dalam
bahasa Indonesia dengan sangat mudah dan bermacam-macam versi.
G. Macam-macam Tarjamah
Tarjamah terbagi menjadi dua macam
1. Tarjamah Harfiyah atau Tarjamah Lafdhiyah.
Pengertian Tarjamah Harfiyah adalah memindahkan (suatu isi ungkapan) dari satu
bahasa ke bahasa yang lain, dengan mempertahankan bentuk atau urutan kata-kata
dan susunan kalimat aslinya atau mengalihkan lafaz-lafaz dari satu bahasa ke
dalam lafaz-lafaz yang serupa dari bahasa lain sedemikian rupa sehingga susunan
dan tertib bahasa kedua sesuai dengan susunan dengan susunan dan tertib bahasa
pertama
2. Tarjamah Tafsiriyah atau Tarjamah Ma’nawiyah.
Sedangkan Tarjamah Tafsiriyah adalah menerangkan sebuah kalimat dan
menjelaskan artinya dengan bahasa yang berbeda, tanpa memepertahankan
susunan dan urutan teks aslinya, dan juga tidak mempertahankan semua Ma’na
yang terkandung dalam kalimat aslinya yang diterjemah.
BAB III
PENUTUP

A. KESIMPULAN

1. Tafsir adalah “hasil dari tanggapan, nalar dan upaya ijtihad manusia untuk
mengungkapkan nilai-nilai ketuhanan yang terkandung dalam Al-Qur’an. Dan tujuan
dari Mempelajari penjelasan atau ghayah adalah memahami makna Al-Qur'an,
hukum-hukumnya, hikmah, akhlak dan petunjuk-petunjuk lainnya untuk memperoleh
kebahagiaan di dunia dan akhirat.
2. Takwil adalah suatu usaha untuk memahami lafaz-lafaz (ayat-ayat) Al-Quran melalui
pendekatan memahami arti atau maksud sebagai kandungan dari lafaz itu. Dengan
kata lain, takwil berarti mengartikan lafazh dengan beberapa alternatife kandungan
makna yang bukan makna lahiriahnya.
3. Tarjamah berasal dari bahasa Arab yang artinya “salinan dari sesuatu bahasa ke
bahasa lain” atau berarti mengganti, menyalin dan memindahkan kalimat dari suatu
Bahasa ke Bahasa lain.
4. Persamaan tafsir dan takwil yaitu berusaha menjelaskan makna setiap kata di dalam
Al-Quran yang notaben Bahasa Arab ke dalam Bahasa non-Arab.
5. Perbedaan tafsir dan takwil dapat Tafsir lebih universal dan lebih sering digunakan
untuk lafaz dan kosa kata dalam kitab-kitab yang diturunkan Allah dan kitab-kitab
lainnya. Sedangkan Takwil lebih sering dipergunakan untuk makna dan kalimat
dalam kitab-kitab yang diturunkan Allah saja.

B. SARAN
Makalah ini masih jauh dari kata sempurna, masih banyak terdapat
kekurangan, baik dalam penulisan maupun keefektifan kalimat. Oleh karena itu, bagi
pembaca harap memberi saran ataupun komentar yang membangun untuk dapat
memperbaiki kekurangan pada makalah ini.
DAFTAR PUSTAKA

Ahmad al-Iskandari,Mushthafa al-Inany, Al- Wasith fil Adab alAraby wa Tarikh, Mesir:
Darul Ma’arif, cet. 18.
Akhmad Muzakki, Stilistika Al-Qur’an: Gaya Bahasa AL-Qur’an dalam Konteks
Komunikasi, Malang: UIN Malang Press, 2009, cet. I. Al-Jurjani, At-Ta’rifat, Ath-
Thaba’ah waan-Nasyr wa at-Tauzi, Jeddar., tanpa tahun.
Anwar, Rosihon. 2007. Ulum Al-Qur’an. Bandung: Pustaka Setia.
Azwar Am, Al-Qur’an adalah Kebenaran Mutlak, Bukittinggi: Pustaka Indonesia, 1982, cet.
II.
Az-Zarkasyi, Al-Burhan fi Ulumil Qur’an, Kairo: Isa al-Bab al-Halabi, 1972, Juz II.
Badrudin, Paradigma Metodologis Penafsiran Al-Qur’an (Kajian Madzahib at-Tafsir),
Serang: Pustaka Nurul Hikmah, 2009, cet. I., Tema-tema Khusus Dalam Al-Qur’an
dan Interpretasinya Suhud, Serang, 2007, cet. I.
Diktat Mata Kuliah Madzahib Tafsir, Institut Agama Islam Banten, Serang, 2009.
Imam Al-Ghazali, Teosofia Al-Qur’an, Surabaya: Risalah Gusti, 1995. Judul aslinya Kitabul
Arba’in fi Ushuluddin, Beirut: Darul Kutub Al. Ilmiyah, 1409/1988, cet. I.
Jalaluddin al-Suyuthi, AI-Itqan fi Ulumat Qur’an, Beirut: Dar al-Fikr, Libanon, 1979.
Kamaluddin Marzuki, Ar-Rum Al-Qur’an, Bandung: Rosdakarya, 1992.
M. Hasbi Ash-Shiddieqy, Sejarah dan Pengantar Ilmu Al-Qur’an/Tafsir, Jakarta: Bulan
Bintang, 1992, cet. 14. Dkk, Al-Qur’an dan Terjemahnya, Departemen Agama
Republik Indonesia, Jakarta, 1989.
M. Quraish Shihab, Membumikan Al-Qur’an, Bandung: Mizan, 1994., et.al. Sejarah Ulumul
Qur‘an, Jakarta: Pustaka Firdaus, 1999.
Mani‘ Abd Halim Mahmud, Metodologi Tafsir Kajian Komprehensif Metode Para Ahli
Tafsir (terj.), Jakarta: RajaGrafindo Persada, 2006.

Anda mungkin juga menyukai