Anda di halaman 1dari 24

PROPOSAL

PERENCANAAN DINDING PENAHAN BADAN RUAS JALAN KECAMATAN PULAU


HARUKU

Disusun Oleh :

DENSYA YUSUF
NIM. 1320013018

PRODI D -III
JURUSAN TEKNIK SIPIL
POLITEKNIK NEGERI AMBON
2023
KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN
POLITEKNIK NEGERI AMBON
JURUSAN TEKNIK SIPIL
PROGRAM STUDI DIPLOMA III
Jl. Ir. M. Putuhena Wailela –Rumahtiga Ambon 97234 Telp./Fax. (0911) 322715

A. LEMBARAN ASISTENSI PROPOSAL

Nama : Densya Yusuf

NIM : 1320013018

Program Studi : D3 Teknik sipil

Judul Proposal : Perencanaan Dinding Penahan Badan Ruas Jalan Kecamatan


Pulau Haruku
Pembimbing Utama : Vector R. R. Hutubessy, ST., M.Eng

No Tanggal Uraian Paraf


Ambon,..................2023

Pembimbing Utama

Vector R. R, Hutubessy S.T.,M.Eng.

NIP : 19740205 200604 1 002


BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Dinding penahan badan jalan (retaining wall) merupakan suatu struktur
konstruksi yang dibangun untuk menstabilkan tekanan pada badan jalan
maupun kondisi tanah tertentu. Pada umumnya dinding penahan digunakan
diarea lereng alam maupun area lereng buatan serta daerah-daerah yang rawan
akan terjadinya longsor akibat dari urugan tanah maupun kondisi tanah, faktor-
faktor lainnya yang dapat menyebabkan tanah longsor.

Ruas jalan Kecamatan Pulau Haruku adalah salah satu ruas jalan di Kabupaten
Maluku Tengah. Kondisi jalan pada desa Haruku mengalami kelongsoran pada
ruas jalan menuju desa Oma sepanjang 15 meter. Tanah dengan kemiringan
curam apabila dipicu oleh air hujan menyebabkan lereng menjadi tidak stabil
sehingga menyebabkan longsor atau karena melalui tanah yang menyerap air
akan masuk dan berkumpul dibagian dasar lereng sehingga dapat menimbulkan
sebuah gerakan lateral. Saat kondisi tanah terganggu yang dapat diakibatkan
beberapa hal seperti getaran yang mana getaran tersebut dapat diakibat dari
adanya gempa, maupun peledakan, serta getaran mesin, kemudian kondisi air
tanah, serta beberapa dampak hal lainnya yang mana proses tersebut dapat
menurunkan sifat fisik maupun mekanik dari pada tanah tersebut. Kondisi jalan
yang berada pada lahan yang miring dan tidak rata berpotensi mengalami
kelongsoran, terlebih bila kemiringan lahan cukup curam. Longsor dapat
ditanggulangi dengan dua cara yaitu dengan memperkecil momen longsor dan
memperbesar momen penahan longsor. Oleh karena itu perlu dilakukan upaya
penanggulangan untuk mengatasi permasalahan tersebut, salah satunya dengan
cara membuat talud dinding penahan jalan. Sistem Dinding Penahan Gravitasi

4
(Gravity Wall), hal tersebut dapat menjadi salah satu cara untuk mengurangi
kecuraman sudut lereng sehingga meminimalisir terjadinya longsor.

Dinding penahan badan jalan merupakan komponen struktur bangunan penting


utama untuk jalan raya dan bangunan lingkungan lainnya yang berhubungan
dengan tanah berkontur atau tanah yang memiliki elevasi berbeda. Menurut
Setiawan (2011), dinding penahan tanah atau juga biasa disebut tembok
penahan tanah adalah suatu konstruksi yang dibangun untuk menahan tanah
atau mencegah keruntuhan tanah yang curam atau lereng yang dibangun di
tempat yang kemantapannya tidak dapat dijamin oleh lereng itu sendiri, serta
untuk mendapatkan bidang yang tegak. Dinding penahan badan jalan berfungsi
sebagai penahan gaya tekanan lateral yakni pergerakan dari jalan ataupun air.
Adapun tujuan dari dibangunnya dinding penahan badan jalan ini yang utama
ialah untuk menahan badan jalan agar terhindar dari timbulnya bahaya tanah
longsor saat musim hujan. Pembuatan dinding penahan badan jalan ini
direncanakan sekuat mungkin agar jalan yang dibangun diatasnya awet dan
kuat. “Menurut sekdes Haruku, menyusul kondisi geografis Desa Haruku
merupakan perbukitan dengan kontur tanah labil, sehingga pembangunan talud
di beberapa lokasi jalan sangat vital, untuk ketahanan jalan, “ tukasnya. Ada
banyak jenis dinding penahan badan jalan berdasarkan material dan bentuk
konstruksi yang digunakan yaitu dinding gravitasi, dinding semi gravitasi,
dinding kantilever, dinding counterfort, dinding krib, dinding tanah bertulang
(reinforced earth wall).

Perancangan pembangunan konstruksi Dinding penahan badan jalan haruslah


benar-benar sesuai perhitungan kestabilan serta faktor keselamatan, supaya
dinding penahan badan jalan aman terhadap kerusakan yang di akibatkan oleh
gaya-gaya yang bekerja.

5
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah diatas dapat ditarik rumusan masalahnya
yaitu :
1. Berapa besar distribusi tekanan lateral yang bekerja pada dinding
penahan badan jalan?
2. Bagaimana desain dinding penahan badan jalan yang aman terhadap
penggeseran, penggulingan dan keruntuhan kapasitas dukung badan
jalan?

C. Tujuan Penulisan
Tujuan dari perencanaan ini adalah sebagai berikut :
1. Mendapatkan distribusi tekanan lateral yang bekerja pada talud
penahan badan jalan.
2. Mendesain dinding penahan badan jalan yang aman terhadap
pergeseran, penggulingan dan keruntuhan kapasitas dukung badan
jalan.

D. Manfaat Penulisan
Manfaat dari penulisan ini adalah:
1. Untuk mengetahui distribusi tekanan tanah lateral yang bekerja pada
dinding penahan jalan
2. Dapat membantu pihak terkait dalam mendesain dinding penahan
badan jalan yang aman terhadap pergeseran, penggulingan, dan
keruntuhan kapasitas dukung tanah.

E. Ruang Lingkup
Dari latar belakang yang disampaikan maka penulisan ini dibatasi oleh :

6
1. Pengambilan data yang dilakukan pada lokasi ruas jalan desa Haruku-
Oma
2. Pengambilan sampel parameter tanah yaitu berat volume (γ), sudut
geser (φ ), kohesi (C), kemiringan permukaan tanah (β) pada lokasi ruas
jalan desa Haruku-Oma
3. Penelitian ini memfokuskan pada perencanan yang mencangkup
distribusi lateral badan jalan, dan desain keamanan tehadap
penggeseran, penggulingan dan keruntuhan kapasitas dukung badan
jalan saja dan tidak membahas detail teknik khusus dalam
perencanaan dan penanganan.

F. Sistematika Penulisan
Adapun sistematika penulisan dalam penyusunan proposal skripsi ini terdiri
dari:
I. PENDAHULUAN
Berisi latar belakang, rumusan masalah, tujuan penelitian, ruang
lingkup, dan sistematika penulisan.

II. TINJAUAN PUSTAKA


Membahas teori-teori dan penelitian terdahulu yang di gunakan untuk
menunjang penelitian yang diperoleh dari berbagai sumber.

III. METODOLOGI PENELITIAN


Berisi penjelasan mengenai lokasi penelitian, jenis data, teknik
pengumpulan data, sumber data, variabel penelitian, metode analisis,
diagram alir penelitian dan jadwal penulisan skripsi.

7
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Penelitian Terdahulu
Pada penelitian ini penulis mencantumkan 3 hasil penelitian terhadap yang
memiliki relevansi serta keterkaitan dengan penelitian yang akan dilakukan
berikut:
1. Sriyanti Ramadhani (2010)
Dengan judul penelitian : Perencanaan Dinding Penahan Tipe Gravitasi
pada lokasi Bukit Btn Teluk Palu Permai. Penelitian ini dilakukan
bertujuan untuk perencanaan dimensi dinding penahan tanah yang stabil
terhadap stabilitas penggeseran, penggulingan, daya dukung serta
penurunannya. Hasil yang diterima ialah dimensi tipe gravitasi:
Lebar atas (a) = 0,3 meter
Tinggi tembok = 4,5 meter
Lebar dasar fondasi (B) = 2,363 meter
Tebal dasar fondasi (d) = 0,563 meter
Dengan dimensi tersebut perencanaan dinding penahan tipe gravitasi
aman terhadap stabilitas penggulingan (Fgl), stabilitas penggeseran (Fgs)
dan stabilitas terhadap daya dukung.

2. Riska Rahma (2020)


Dengan Judul Penelitian : Perencanaan Dinding Penahan Tanah Tipe
Gravitasi (Studi Kasus : Sdn Lio, Kecamatan Cireunghas). Penelitian ini
bertujuan untuk menganalisis kstabilan lereng yang dilakukan untuk
menentukan faktor aman dari bidang longsor potensial dengan
menggunakan metode fellenius. Dari analisis yang dilakukan SDN Lio
8
didapat nilai faktor keamanan stabilitas lereng dengan pengaruh muka air
tanah yaitu 0,70 dan nilai faktor keamanan stabilitas lereng tanpa
pengaruh muka air tanah yaitu 0,93 yang menunjukkan bahwa keadaan
lereng tersebut tidak aman. Faktor keamanan stabilitas dinding penahan
tanah terhadap geser, guling, dan kapasitas daya dukung masing – masing
nilainya 4.78, 3.91, dan 7,78.

3. Agus Dermawan (2022)


Dengan Judul Penelitian : Analisis Stabilitas Dinding Penahan Tanah
(Studi Kasus: Desa Mekarjaya, Kecamatan Ciomas, Kabupaten Bogor).
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kondisi dinding penahan
tanah terhadap stabilitas guling, gese dan kapasitas daya dukung tanah
dan merencanakan desain dinding penahan tanah. Metode yang digunakan
adalah Metode Rankine, Schmertmann dan Nottinghan. Hasil analisis
menunjukan stabilitas terhadap guling Fs = 1,55 ¿ 1,5 (aman) stabilitas
terhadap terhadap geser Fs = 2,51 ¿ 1,5 (aman), dan analisis stabilitas
daya dukung tanah didapat qtoe = 31,3953 kN/m2 ¿ Qall 2501,3841 kN/
2 2
m (aman) untuk tegangan q hell 1,43 kN/m >¿ 0 (lebih dari 0,hasil
aman). Rencana desain dinding penaha tanah yang direncanakan dengan
keterangan:
Tinggi (H) = 4,3 meter
Lebar atas (ba) = 0,4 meter
Lebar Bawah (bb) = 3,5 meter
Lebar kaki tumit (D) = 0,8 meter .

B. Parameter Data Tanah


1. Klasifikasi Tanah
Sistem klasifikasi tanah adalah suatu sistem (Hadihardaja, 1997) pengaturan
beberapa jenis tanah yang berbeda-beda tapi mempunyai sifat yang serupa ke
dalam kelompok-kelompok berdasarkan pemakaiannya. Sistem klasifikasi
9
tanah memberikan suatu bahasa yang mudah untuk menjelaskan secara singkat
sifatsifat umum tanah yang sangat bervariasi tanpa penjelasan yang
terinci.Klasifikasi ini penting untuk diketahui, karena mengambarkan secara
sepintas keadaan tanah pada saat perencanaan dan pelaksanaan sebuah
bangunan. Sehingga klasifikasi tanah diperlukan untuk hal-hal sebagai berikut :
1. Perkiraan hasil eksplorasi tanah (persiapan log-bore tanah dan peta tanah).
2. Perkiraan standar kemiringan lereng dari penggalian tanah atau tebing.
3. Perkiraaan pemilihan bahan (penentuan tanah yang harus disingkirkan,
pemilihan tanah dasar, bahan timbunan, dan lain-lain)
4. Pemilihan jenis metode konstruksi dan peralatan untuk konstruksi
(pemilihan cara penggalian dan rancangan penggalian).
5. Perkiraan kemampuan perlatan untuk konstruksi.
6. Rencana pekerjaan/pembuatan lereng dan tembok penahan tanah
(pemilihan jenis konstruksi dan perhitungan tekanan tanah).

Sistem klasifikasi tanah dapat berdasarkan beberapa metode yaitu:


1. ASTM D 2847-66T
2. Unified Soil Clasification

C. Analisa Data Tanah


Data tanah di lokasi proyek yang didapatkan berupa harga-harga SPT dari
setiap meter kedalaman.Kemudian dengan beberapa metode di bawah ini,
harga-harga SPT dapat dikorelasikan kedalam harag-harga karakteristik tanah.
Tabel 2.1 Korelasi Nilai SPT dengan Parameter Karakteristik Tanah Sumber :
Bowles, 1984

D. Tekanan Tanah Lateral


Tekanan tanah lateral merupakan parameter utama dalam perancangan dinding
penahan tanah. Oleh karena itu diperlukan perkiraan tentang tanah lateral secara

10
kuantitatif pada pekerjaan konstruksi, baik untuk analisis perencanaan maupun
analisis stabilitas.

Gambar 2.1 : Tegangan Lateral Tanah


Sumber (rumaheris.blogspot.com)

Dalam perencanaan dinding penahan tanah diperlukan pengetahuan mengenai


tekanan lateral. Besar dan distribusi tekanan tanah pada dinding penahan sangat
bergantung pada regangan lateral relative terhadap dinding. Dalam beberapa
hal, hitungan tekanan tanah lateral ini berdasarkan pada kondisi regangannya.
Jika analisis tidak sesuai dengan apa yang sebenarnya terjadi, maka dapat
mengakibatkan kesalahan perancangan. Maka dari itu pengertian tentang
hubungan regangan lateral dengan tekanan tanah pada dinding sangat
dibutuhkan.

Agar dapat merencanakan konstruksi dinding penahan tanah dengan benar,


maka kita perlu mengetahui gaya horizontal yang bekerja antara konstruksi
penahan tanah dan massa tanah yang ditahan. Tekanan lateral tanah dapat
dibagi menjadi 3 kategori, yaitu:
11
1. Jika dinding tidak bergerak K menjadi koefisien tekanan tanah diam
(Ko)
2. Jika dinding bergerak menekan ke arah tanah hingga runtuh, koefisien K
mencapai nilai maksimum yang dinamakan tekanan tanah pasif (Kp)
3. Jika dinding menjauhi tanah, hingga terjadi keruntuhan, nilai K
mencapai minimum yang dinamakan tekanan tanah aktif (Ka).

1. Tekanan Tanah Aktif


Menurut Hardiyatmo, (2003) Tekanan tanah aktif adalah tekanan yang terjadi
pada dinding penahan yang mengalami keluluhan atau bergerak ke arah luar
dari tanah di belakangnya, sehingga menyebabkan tanah akan bergerak longsor
ke bawah dan menekan dinding penahannya.

Nilai tekanan tanah aktif untuk tanah lateral dihitung dengan menggunakan
teori Rankine yang dibagi menjadi nilai tekanan tanah aktif untuk tanah datar
dan nilai tekanan tanah aktif untuk tanah miring. Untuk menghitung nilai
koefisien tanah datar dan tanah miring pada tanah aktif digunakan rumus seperti
dibawah ini :
Nilai Ka untuk tanah datar dinyatakan dalam Persamaan sebagai berikut :

1−sin φ φ
Ka = = 𝑡𝑎𝑛2 . (45° − ) …………………………………………………
1+sin φ 2
(2.1)

Keterangan :
φ = Sudut geser tanah ( ֯ )
Ka = Koefisien tanah aktif

1. Menghitung tekanan tanah aktif untuk tanah non kohesif

Nilai Pa untuk tanah non kohesif dinyatakan dalam persamaan berikut :

12
1
Pa = γ . H2 . Kɑ ………………………………………..………………………………
2
(2.2)

2. Menghitung tekanan tanah aktif untuk tanah kohesif

Nilai Pa untuk tanah kohesif dinyatakan dalam persamaan berikut:

1
Pa =
2
γ . H2 . Kɑ - 2c √ k ɑ ………………………...………………….……………
(2.3)

Keterangan :

Pa = tekanan tanah aktif (kN/m)

γ = berat isi tanah (kN/m3)

H = tinggi dinding (m)

c = kohesi (kN/m2)

Kɑ= koefisien tanah aktif

2. Tekanan Tanah Pasif


Tekanan tanah pasif adalah tekanan tanah yang terjadi saat gaya mendorong
dinding penahan tanah kearah tanah urungan, sedangakan nilai banding tekan
horizontal dan vertical yang terjadi didefinisikan sebagai koefisien tekanan
tanah pasif atau kp. Nilai tekanan pasif lebih besar dari nilai tekanan tanah saat
diam dan nilai tekanan aktif, tekanan tanah pasif menunjukan nilai maksimum
dari gaya yang dapat dikembangkan oleh tanah pada gerakan struktur panahan
terhadap tanah urungannya, yaitu tanah harus menahan gerakan dinding
penahan tanah sebelum mengalami keruntuhan.

Untuk nila tekanan tanah pasif untuk tanah lateral dihitung dengan cara yang
sama pada tekanan tanah aktif menggunakan teori Rankine yang dibagi menjadi
nilai tekanan tanah pasif untuk tanah datar dan nilai tekanan pasif untuk tanah

13
miring. Prosedur perhitungannya digunakan metode Rankine Seperti rumus di
bawah ini.

Nilai Kp untuk tanah datar dinyatakan dalam Persamaan sebagai berikut :

1−sin φ 2
Kp ¿ =tan .¿ …………….…………………………………. (2.4)
1+sinφ

Keterangan :

φ = Sudut geser tanah (° )

Kp = Koefisien tanah pasif


Perhitungan tekanan tanah pasif dihitung menggunakan persamaan dibawah
ini :
1. Menghitung tekanan tanah pasif untuk tanah non kohesif

Nilai Pp untuk tanah non kohesif dinyatakan dalam persamaan berikut ini:

1
Pp = γ . H2 . Kp …………………………………………………………………........
2
(2.5)

2. Menghitung tekanan tanah pasif untuk tanah kohesif

Nilai Pa untuk kohesif dinyatakan dalam persamaan berikut ini :

1
Pa =
2
γ . H2 . Kp - 2c √ kp ………………………………………………………….
(2.6)

Keterangan :

Pp = tekanan tanah aktif (kN/m)

γ = berat isi tanah (kN/m3)

H = tinggi dinding (m)

c = kohesi (kN/m2)
14
Kp= koefisien tanah aktif

E. Stabilitas Dinding Penahan Tanah


Untuk mengetahui stabilitas dinding penahan tanah tipe gravity, perlu dilakukan
pengecekan terhadap dinding gravity tersebut. Pengecekan tersebut diantaranya:

1. Stabilitas Terhadap Guling


Tekanan tanah lateral yang diakibatkan oleh tanah urug di belakang dinding
penahan, cenderung menggulingkan dinding dengan pusat rotasi pada ujung
kaki depan pelat fondasi. Momen penggulingan ini, dilawan oleh momen akibat
berat sendiri dinding penahan dan momen akibat berat tanah di atas pelat
fondasi.Untuk contoh keadaan guling yang kemungkinan terjadi dapat dilihat di
gambar dibawah ini:

Gambar 2.2 : Stabilitas Terhadap Gaya Guling


Sumber (blog.nobelconsultant.com)

Faktor aman akibat penggulingan (Fgl), didefinisikan pada Persamaan (2.7).


∑ Mw W .b 1
FS guling= = ………………………….…………
∑ Mguling ∑ Pah . h1+ ∑ Pav . B
(2.7)
15
Keterangan :
∑Mw = jumlah momen melawan guling (kNm)
∑ M gl = jumlah momen menahan guling (kNm)
W = berat tanah + berat sendiri dinding penahan (kN)
B = lebar kaki dinding penahan (m)
∑ Pah = jumlah gaya horizontal (kN)
∑ Pav = jumlah gaya vertical (kN)

Faktor aman terhadap penggulingan (Fgl) bergantung pada jenis tanah sebagai
berikut :

 Fgl ≥ 1,5 untuk tanah dasar granuler


 Fgl ≥ 2 untuk tanah dasar kohesif

2. Stabilitas Terhadap Geser


Gaya-gaya yang menggeser dinding penahan tanah akan ditahan oleh sebagai
berikut.
a. Gesekan antara tanah dengan dasar fondasi.
b. Tekanan tanah pasif bila di depan dinding penahan terdapat tanah timbunan.
Untuk contoh keadaan geser yang kemungkinan terjadi dapat dilihat di gambar
dibawah ini :

16
Gambar 2.3 : Stabilitas terhadap gaya geser
Sumber (blog.nobelconsultant.com)

Nilai kestabilan struktur terhadap kemungkinan bergeser dihitung dengan


persamaan berikut:
∑ Rh
FS geser= ≥ 1 , 5 ……………………………………………...(2.8)
∑ P ah
Untuk tanah granular (c=0)
∑ Rh =W . F ……………….………………………………………….(2.9)
= W . tan δ h dengan δ b ≤ θ
Untuk tan kohesif (θ =0)
∑ Rh =Ca . B ………….…………………………………………….(2.10)
Untuktanah c=θ ¿
∑ Rh =Ca . B+W . tan δ b …………………………………………..(2.11)

Keterangan :
∑ Rh = tahanan dinding penahan tanah terhadap penggeseran
W = berat total dinding penahan dan tanah di atas pelat fondasi
(kN)

17
Δb = sudut gesek antara tanah dan dasar fondasi, biasanya di ambil
1/3 – 2/3 φ
ca = ad x c = adhesi antara tanah dan dasar dinding (kN/m2)
c = kohesi tanah dasar (kN/m2)
ad = faktor adhesi
B = lebar fondasi (m)
∑Ph = jumlah gaya-gaya horisontal (kN)
f = tan δ b = koefisien gesek antara tanah dasar dan dasar fondasi

Faktor aman terhadap penggeseran dasar fondasi (Fgs) minimum di ambil 1,5.
Bowles (1997) dalam Hardiyatmo (2014) menyarankan:

 Fgs ≥ 1,5 untuk tanah dasar granuler


 Fgs ≥ 2 untuk tanah dasar kohesif

3. Stabilitas Terhadap Daya Dukung


Beberapa persamaan kapasitas dukung tanah telah digunakan untuk
menghitung stabilitas dinding penahan tanah, seperti persamaan kapasitas
dukung Terzaghi (1943) dalam Hardiyatmo (2014). Untuk contoh keadaan
keruntuhan daya dukung tanah yang kemungkinan terjadi dapat dilihat di
Gambar dibawah ini :

18
Gambar 2.4 : Stabilitas terhadap daya dukung tanah
Sumber (blog.nobelconsultant.com)

Kapasitas tersebut adalah kapasitas dukung ultimit (qu) untuk fondasi


memanjang dinyatakan pada Persamaan (2.12).
q u=c N c + Df γ N q +0 , 5 B γ N γ ……………………………….(2.12)
Keterangan :
c = kohesi tanah (kN/m2)
Df = kedalaman fondasi (m)
γ = berat volume tanah (kN/m3)
B = lebar fondasi dinding penahan tanah (m)
Nc, Nq, dan N γ = faktor-faktor kapasitas dukung Terzaghi (Tabel 1)

Faktor aman terhadap keruntuhan kapasitas dukung didefinisikan pada


Persamaan (2.13).
qu
SF= ≥ 3 ………………………………………………….……(2.13)
q
Dengan q adalah tekanan akibat beban struktur. Umumnya factor aman (SF)
terhadap keruntuhan tanah dasar minimum diambil sama dengan 3.

Tekanan struktur pada tanah dasar fondasi dapat dihitung seperti persamaan
(2.14), Persamaan (2.15) dan Persamaan (2.16).
a. Bila lebar dipakai cara lebafr efektif fondasi (asumsi Mayerhorf):
v
q= ' ……………………..……………………………………….(2.14)
B
dengan V = beban vertikal total dan B’ = B – 2e
b. Bila distribusi tekanan kontak antara tanah dasar fondasi dianggap linier.

q=
V
B
'( )
1+
6e
B
B
bila e ≤ ………………..……………………...(2.15)
6

19
2V B
q= bila e ≤ …………..…………………………….…(2.16)
3(B−2 e) 6

Berikut di bawah ini adalah nilai-nilai faktor kapasitas dukung Terzaghi (1943)
dalam Hardiyatmo (2014) yang dapat dilihat pada Tabel 2.1.

φ Keruntuhan Geser Umum Keruntuhan Geser Loka


Nc Nq Nγ Nc ' Nq ' Nγ '
0 5,7 1,0 0,0 5,7 1,0 0,0
5 7,3 1,6 0,5 6,7 1,4 0,2
10 9,6 2,7 1,2 8,0 1,9 0,5
15 12,9 4,4 2,5 9,7 2,7 0,9
20 17,7 7,4 5,0 11,8 3,9 1,7
25 25,1 12,7 9,7 14,8 5,6 3,2
30 37,2 22,5 19,7 19,0 8,3 5,7
34 52,6 36,5 35,0 23,7 11,7 9,0
35 57,8 41,4 42,4 25,2 12,6 10,1
40 95,7 81,3 100,4 34,9 20,5 18,8
45 172,3 173,3 297,5 51,2 35,1 37,7
48 258,3 287,9 780,1 66,8 50,5 60,4
50 347,6 415,1 1153,2 81,3 65,6 87,1

Gambar: Tabel 2.1 Nilai-nilai Faktor Kapasitas Dukung Terzaghi (1943)


Sumber: (Hardiyatmo, 2014)

F. Teori Analisis Stabilitas Lereng


Analisis stabilitas lereng didasarkan pada konsep keseimbangan plastis batas
(limit plastic equilibrium). Adapum maksud analisis stabilitas adalah untuk
menentukan faktor aman dari bidang longsor yang potensial. Dalam analisis
stabilitas lereng, beberapa anggapan telah dibuat, yaitu:
1. Kelongsoran lereng terjadi di sepanjang permukaan bidang longsor
tertentu dan dapat dianggap masalah bidang 2 dimensi.
20
2. Massa tanah yang longsor dianggap berupa benda yang masif.
3. Tahanan geser dari massa tanah pada setiap titik sepanjang bidang
longsor tidak tergantung dari orientasi permukaan longsoran, atau
dengan kata lain kuat geser tanah dianggap isotropis.
4. Faktor aman didefinisikan dengan memperhatikan tegangan geser
rata-rata sepanjang bidang longsor yang potensial dan kuat geser
tanah rata-rata sepanjang permukaan longsoran. Jadi, kuat geser tanah
mungkin terlampaui di titik-titik tertentu pada bidang longsornya,
padahal faktor aman hasil hitungan lebih besar 1.

Faktor aman didefenisikan sebagai nilai banding antara gaya yang menahan dan
gaya yang menggerakkan, atau disajikan pada Persamaan (2.17).
τ
SF= ………..………...………………………..…………………(2.17)
τd
Keterangan:
τ = tahanan geser yang dapat dikerahkan oleh tanah,
τ d= tegangan geser yang terjadi akibat gaya berat tanah yang akan longsor
SF = faktor aman.

BAB III
METODOLOGI PENELITIAN

A. Lokasi penelitian
Penelitian ini dilakukan pada tempat penelitian yang berlokasi di Kabupaten
Pulau Haruku.

21
Gambar 7: Lokasi Penelitian
Sumber (earth google,2023)

B. Teknik Pengumpulan data


 Pada penelitian ini data yang digunakan yaitu data primer yang
diperoleh langsung dari dari lokasi penelitian diantaranya dimensi
lereng, data sondir dan sampel tanah terganggu.
 Penelitian ini juga mengumpulkan data sekunder dari buku-buku
maupun jurnal-jurnal untuk menunjang penulisan tugas akhir ini.

C. Jenis data
Adapun jenis data yang dipaki dalam penulisan adalah:
 Data primer adalah data yang diperoleh dari hasil pengamatan yang
dilakukan dengan cara melakukan observasi situasi eksisting
dilapangan, dokumentasi dan mengambil sampel tanah pada lokasi
tersebut.
 Data sekunder adalah data yang penulis dapat dari pihak yang
bersangkutan seperti AS Buld / shop drawing dan spesifikasi teknis.

D. Analisa data
Analisa data diperoleh dari tinjauan item pelaksanaan pekerjaan.
22
E. Bagan alir penelitian

Mulai

Rumusan Masalah

Survey Lokasi

Pengumpulan Data :

Data Primer : Data Sekunder :


F. 1. Dokumentasi 1. AS Buld/ Shop Drawing
G. 2. Sampel Tanah 2. Spesifikasi Teknis
H. 3. Situasi Eksisting

Analisis Data

Hasil dan Pembahasan

Kesimpulan

SELESAI

Gambar 8: Diagram Alir Penelitian

I. Waktu Penelitian

Bulan
No Uraian Jun Jul Agu Sep Okt Nov

23
1 Proposal
2 Seminar Proposal
3 Penelitian
4 Ujian Tugas Akhir

Sumber : Waktu Penelitian 2023

24

Anda mungkin juga menyukai