0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
47 tayangan39 halaman

Laporan Asuhan Kebidanan Persalinan Fisiologis

Persalinan kala 4

Diunggah oleh

Nenk Gadis
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
47 tayangan39 halaman

Laporan Asuhan Kebidanan Persalinan Fisiologis

Persalinan kala 4

Diunggah oleh

Nenk Gadis
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

LAPORAN ASUHAN KEBIDANAN

PERSALINAN DAN BAYI BARU LAHIR FISIOLOGIS

OLEH:
SUTRI
P1337424821125

PROGRAM STUDI PROFESI KEBIDANAN SEMARANG


JURUSAN KEBIDANAN POLTTEKES KEMENKES SEMARANG
TAHUN 2021
LEMBAR PENGESAHAN

Laporan Kasus Asuhan Kebidanan pada ibu bersalin dan BBL pada Ny. E usia 25
tahun G2 P1 A0 umur kehamilan 37 minggu inpartu kala II fisiologis di BKMIA
Kartini telah diperiksa dan disahkan pada 2021.

Banyumas, 2021
Pembimbing Klinik Pembimbing Institusi

Feri Widiyanti, A.Md.Keb Ida Ariyanti, S.SiT, M.Kes


NIP. 19800205 200903 2 006 NIP. 197005141998032001
TINJAUAN KASUS
ASUHAN KEBIDANAN PADA IBU BERSALIN FISIOLOGIS
PADA NY. E USIA 25 TAHUN G2P1A0 USIA HAMIL 37 MINGGU
JANIN TUNGGAL HIDUP INTRAUTERIN, LETAK BUJUR,
PRESENTASI KEPALA, DIVERGEN,PUKI, INPARTU KALA II
DI BKMIA KARTINI PURWOKERTO

PENGKAJIAN
TanggaL : 29Oktober 2021
Jam : 07.00 WIB
Tempat : BKMIA Kartini
IDENTITAS PASIEN
Nama : Ny. E Nama Pasangan : Tn. K
Umur : 25 tahun Umur : 27 tahun
Suku Bangsa : Jawa/Indonesia Suku Bangsa : Jawa/Indonesia
Agama : Islam Agama : Islam
Pendidikan : SMA Pendidikan : SMA
Alamat : Karangrau 2/1, Sokaraja
A. DATA SUBYEKTIF
1. Alasan Datang
Ibu datang ke Rumah sakit mengatakan perutnya kenceng-kenceng dan seperti
ingin BAB, ini merupakan kehamilan yang kedua
2. Keluhan Utama
Ibu mengatakan hamil 9 bulan mengeluh kenceng-kenceng menjalar dari
punggung bagian belakang dan perut bagian bawah yang semakin lama semakin
sering, dan keluar lendir disertai darah dari jalan lahir.
3. Tanda-tanda Persalinan:
Kontraksi: Sejak pukul 01.00 WIB tanggal 29Oktober 2021
Frekuensi: 4 x setiap 10 menit
Lamanya: 45detik
Lokasi Ketidaknyamanan: punggung bagian belakang
PPV: lendir darah
4. Riwayat Kesehatan:
Penyakit/ kondisi yang pernah atau sedang diderita: Ibu mengatakan tidak
sedang menderita penyakit menurun seperti asma, diabetes, darah tinggi, dan
tidak menderita penyakit menular seperti TBC (Tuberculosis), HIV (Human
Immunodeficiency Virus) dan hepatitis.
Riwayat penyakit dalam Keluarga (menular maupun keturunan): Ibu
mengatakan dalam keluarga tidak ada yang menderita penyakit menurun seperti
asma, diabetes, darah tinggi, dan tidak menderita penyakit menular seperti TBC
(Tuberculosis), HIV (Human Immunodeficiency Virus) dan hepatitis.
5. Riwayat Obstetri:
a. Riwayat Haid
Menarche : 13 tahun
Nyeri Haid :Tidak terdapat nyeri
Siklus : 29 hari
Lama : 7 hari
Warna Darah: merah segar
Leukhorea : menjelang menstruasi, tidak terasa gatal
Banyaknya : ganti pembalut 2-3 x sehari
b. Riwayat Kehamilan Sekarang:
1) Hamil ke 2 Usia kehamilan 37 minggu
2) HPHT: 11- 02-2021 HPL: 18- 11-2021
3) Gerak Janin
Pertama kali: usia kehamilan 16 minggu
Frekuensi dalam 12 jam: 8-10 kali
4) Tanda Bahaya: Ibu mengatakan selama hamil sampai saat ini tidak
pernah mengeluarkan darah banyak, pusing berlebihan, bengkak pada
tangan maupun kaki (PE), nyeri perut dan keluar cairan berbau anyir
dari jalan lahir (KPD), gerakan janin yang melemah atau tidak ada
tanda bahaya.
5) Kekhawatiran Khusus: Tidak ada
6) Imunisasi TT: T5
7) ANC: 10 kali
Riwayat Kehamilan, Persalinan, dan Nifas yang lalu:

Tahu Kehamilan Persalinan


n
Frek Keluhan UK Jenis Penolon JK/ Penyuli IM
AN / g BB t D
C penyulit

2018 8x Tidak Ater sponta Bidan Laki” Tidak Ya


ada m n / ada
2700
gr

Tahun Nifas Keadaan


Anak
Penyulit ASI Eksklusif Sekarang

2018 Tidak ada Ya Sehat

c. Riwayat KB: Pernah KB

Jenis Lama Pemakaian Keluhan Alasan Dilepas


Kontrasepsi

Suntik 3 1 tahun Tidak ada Ingin punya anak


bulan lagi

Rencana setelah melahirkan: KB IUD


6. Pola Pemenuhan Kebutuhan Terakhir Kali:
a. Nutrisi
Makan Jam: 21.00 WIB tanggal 28 Oktober 2021
1) Komposisi
a) Nasi : 1/2 piring sedang
b) Lauk : ikan 1 potong, tempe 1 potong
c) Sayuran : sayur sop 1 mangkuk kecil
d) Buah : pisang 1
e) Camilan : ibu mengatakan tidak makan camilan
2) Pantangan : tidak ada pantangan makanan
Minum, Jam: 06.00 WIB
Jenis air putih Jumlah 1 gelas
b. Pola Istirahat:
1) Jam 21.00 s.d. 05.00 WIB
2) Kualitas tidur: baik
3) Keluhan/ Masalah: ibu mengatakan terkadang terbangun karena merasakan
pegal di punggung belakang dan sering keluar keringat.
c. Pola Aktifitas:
1) Aktivitas fisik (beban pekerjaan):setiap harinya, ibu mengerjakan pekerjaan
rumah tangga seperti menyapu, mencuci piring, dan lain-lain karena ibu
seorang IRT dan tidak bekerja.
2) Olah raga: Selama hamil ibu mulai jalan-jalan pada pagi hari
d. Pola Eliminasi:
1) Buang Air Kecil, Jam 05.30 WIB
a) Jumlah: 4-5 x/hari, Warna: kuning jernih, konsistensi cair, bau khas
urine
b) Keluhan/ masalah: ibu mengatakan tidak ada keluhan
2) Buang Air Besar, Jam 05.00 WIB tanggal 29 Oktober 2021
a) Warna: kuning kecoklatan konsistensi lembek
b) Keluhan/ masalah: ibu mengatakan tidak ada keluhan
e. Personal Hygiene
Ibu mengatakan mandi sore jam 17.00 WIB tanggal 29 Oktober 2021, gosok
gigi, tetapi tidak keramas, ibu mengatakan mengganti pakaiannya sebelum ke
rumah sakit.
7. Riwayat Psikososial-spiritual
a. Riwayat Perkawinan:
1) Status perkawinan: menikah, umur waktu menikah: 21 th
2) Pernikahan ini yang ke 1, sah, lamanya 4 tahun
3) Hubungan dengan suami baik
b. Persalinan ini diharapkan oleh ibu, suami, dan keluarga
Respon dan dukungan keluarga terhadap persalinan ini: Ibu mengatakan saat
pemeriksaan kehamilannya biasanya diantar oleh suami, dan keluarga selalu
mengingatkan ibu untuk makan makanan yang bergizi dan membantu
mengasuh anak yang pertama.
c. Mekanisme koping (cara pemecahan masalah): Apabila ada masalah terkait
dengan kehamilannya, ibu akan segera ke petugas kesehatan untuk
memeriksakan kandungannya.
d. Ibu tinggal serumah denganSuami dan mertua
e. Pengambil keputusan utama dalam keluarga: Suami
Dalam kondisi emergensi, ibu dapat mengambil keputusan sendiri
f. Orang terdekat ibu: Suami
Yang menemani ibu untuk persalinan: Suami
g. Adat istiadat yang dilakukan ibu berkaitan dengan persalinan: tidak ada
h. Penghasilan perbulan:
Rp 2.500.000,00, Cukup
i. Praktik agama yang berhubungan dengan persalinan: ibu berdoa dan berdzikir
untuk keselamatan proses persalinannya.
j. Keyakinan ibu tentang pelayanan kesehatan:
Ibu dapat menerima segala bentuk pelayanan kesehatan yang diberikan oleh
nakes wanita maupun pria
Ibu boleh menerima transfusi darah
Ibu boleh diperiksa daerah genetalianya
k. Tingkat pengetahuan ibu:
Hal-hal yang sudah diketahui ibu:
1) Ibu sudah mengetahui tentang tanda-tanda persalinan
2) Ibu sudah mengetahui tentang persiapan persalinan
Hal-hal yang ingin diketahui ibu: Ibu ingin mengetahui cara mengurangi
nyeri punggung saat persalinan

B. DATA OBYEKTIF
1. Pemeriksaan Fisik
a. Pemeriksaan Umum:
1) Keadaan Umum: Baik
2) Kesadaran: Compos Mentis
3) Tensi: 110/80 mmHg
4) Nadi: 90 x/menit
5) Suhu: 36,6 ℃
6) RR: 22 x/menit
7) TB: 155 cm
8) BB: 60 kg
9) IMT: 21,4
10) LILA: 24
b. Status Present
Kepala : Bersih, tidak ada benjolan
Muka : Simetris, keadaan bersih, tidak ada cloasma gravidarum
dan tidak ada oedem
Mata : Simetris, fungsi penglihatan baik, tidak ada oedem,
konjungtiva merah muda, sclera tidak ikterik
Hidung : Simetris, bersih, tidak ada pembesaran polip, tidak ada
secret, tidak ada pernafasan cuping hidung
Mulut : Bersih, bibir tampak lembab,tidak ada stomatitis, lidah
bersih, tidak ada caries, gigi bersih.
Telinga : Bersih, tidak ada serumen, tidak ada lesi.
Leher : Tidak ada pembesaran kelenjar tiroid dan tidak ada
pembengkakan vena jugularis
Ketiak : Simetris, tidak ada pembesaran kelenjar limfe, tidak ada
lesi
Dada : Simetris, tidak terdengan ronchi dan wheezing
Abdomen : Tidak ada luka bekas operasi
Lipat Paha : tidak terdapat pebesaran kelenjar limfe
Vulva : tidak ada varises
Ekstremitas : tidak terdapat oedem, turgor kulit cepat
Reflex patella: +/+
Punggung : tidak terdapat kelainan tulang punggung
Anus : tidak terdapat hemoroid

c. Status Obstetrik
1) Inspeksi
Muka : tidak terdapat cloasma gravidarum, muka tidak oedem
Mamae :areola menghitam, puting menonjol dan bersih, tidak
teraba massa, kolostrum sudah keluar
Abdomen : terdapat linea nigra dan striae gravidarum
Vulva : tidak ada varises, tidak bengkak, tidak oedem
2) Palpasi:
Leopold I : Teraba bulat, lunak, tidak melenting (bokong)
Leopold II : bagian kiri teraba keras memanjang (punggung), dan
bagian kanan teraba bagian kecil (ekstremitas)
Leopold III : Teraba bulat, keras, melenting (kepala)
Leopold IV : Divergen (sudah masuk panggul)
Penurunan Kepala: 3/5 bagian
TFU: 27 cm, TBJ: 2800 gram
3) Auskultasi:
DJJ: 148 x/menit
2. Pemeriksaan Dalam tanggal/ jam: 29Oktober 2021/ 07.00 WIB
Vagina/ Vulva: tidak oedem
Serviks
1) Posisi: Anterior
2) Pembukaan: 10 cm
3) Effacement: 100%
Kulit ketuban:Utuh (+)
Presentasi: Belakang kepala
POD (PointOf Direction): Ubun-ubun kecil
Penyusupan: 0
Penurunan bagian terbawah: Kepala2/5
3. Pemeriksaan penunjang: rapid antigen: Negatif
C. ANALISA
Ny. E Usia 25 Tahun G2P1A0 Usia Hamil 37 Mgg Janin Tunggal Hidup
Intrauterin, Letak Kepala, puki, Inpartu Kala II
D. PENATALAKSANAAN
Tanggal : 29Oktober 2021
Jam : 07.00 WIB

1. Memberitahu ibu tentang hasil pemeriksaan yang dilakukan bahwa ibu


secara umum baik, tanda-tanda vital dalam batas normal, kondisi ibu telah
memasuki proses persalinan dengan tanda-tanda persalinan yaitu mulas pada
bagian perut bawah, keluar lendir darah, kondisi janin sehat dengan posisi
normal dan DJJ 148x/menit, pembukaan sudah 10 cm.
Hasil: ibu mengetahui keadaan yang dialaminya
2. Menjelaskan inform consent kepada ibu dan keluarga sebelum dilakukan
tindakan penanganan
Hasil: ibu dan keluarga menyetujui inform consent
3. Menganjurkan ibu untuk miring ke kiri atau ke sisi lainnya jika ada his atau
kontraksi
Hasil: ibu bersedia miring ke kiri atau ke sisi lainnya.
4. Mengajarkan tehnik relaksasi nafas panjang untuk pengurangan rasa nyeri,
dengan cara menarik nafas melalui hidung dan dikeluarkan dari mulut,
dilakukan pada saat adanya kontraksi atau his.
Hasil: ibu memahami dan mengikuti arahan dengan baik.
5. Melakukan dan mengajarkan suami untuk melakukan pijat punggung untuk
pengurangan rasa nyeri pada punggung ibu.
Hasil: Suami bersedia untuk melakukan pijat punggung.
6. Memberikan dukungan psikologis pada ibu dan keluarga selama proses
persalinan berlangsung
Hasil: ibu dan keluarga tampak sedikit tenang.
7. Menganjurkan ibu dan keluarga untuk penuhi kebutuhan-kebutuhan ibu
seperti kebutuhan cairan dan nutrisi
Hasil: cairan dan nutrisi sudah terpenuhi.
8. Menganjurkan suami untuk mendampingi dan memberikan support kepada
ibu saat proses persalinan.
Hasil: suami bersedia mendampingi dan memberikan support kepada ibu
9. Melakukan pemantauan 10
Jam KU TD N S RR HIS DJJ BR PPV Tanda
kala
II

07.00 Baik 120/70 84x 36,7 22 5x/10’/45” 142x - Lender +


darah

Purwokerto, Oktober 2021


Pembimbing Klinik Mahasiswa

Feri Widiyanti, A.Md.Keb Sutri


NIP. 19800205 200903 2 006 NIM P1337424821125

Mengetahui,
Pembimbing Institusi

Ida Ariyanti, S.SiT, M.Kes


NIP. 197005141998032001
CATATAN PERKEMBANGAN

Nama Pasien: No RM: Ruang: VK


Ny. E BKMIA Kartini

Umur: 25 tahun Nama Dan Paraf:

Tanggal/ Jam: Catatan Perkembangan I

29Oktober 2021/
07.15 WIB

S:

- Ibu mengatakan kencengnya semakin


bertambah sering, keluar cairan dari jalan
lahir,

- Ibu mengatakan ingin mengejan

- Ibu mengatakan seperti ingin BAB

O:

- TD 120/70 mmHg

- Nadi: 88 x/menit

- Suhu: 36,7 0C

- His: 5x/10’/ 45”

- Pembukaan 10cm kepala 0/5

- PPV: lender darah

- KK (-) jernih

- Tampak doran teknus perjol vulka

A:

Ny. E Usia 25 Tahun G2P1A0 Usia Hamil


37 MggJanin Tunggal Hidup Intrauterin,
Letak Kepala, puka, Inpartu Kala II

P:

1. Memberitahu ibu bahwa kondisinya


dan janin baik

H: ibu lega bahwa kondisinya baik


2. Memastikan adanya tanda-tanda kala II

H: ada dorongan meneran, tekanan anus,


perineum menonjol, vulva membuka

3. Menyiapkan partus set dan diri


penolong

H: partus set siap, dan penolong telah


memakai APD

4. Memakai sarung tangan dan


menyiapkan oksitosin

H: Oksitosin siap 10 IU

5. Memastikan pembukaan lengkap


dengan VT

H: pembukaan sudah 10 cm

6. Memasukan sarung tangan ke dalam


larutan klorin

H: sarung tangan telah dimasukkan ke


dalam klorin

7. Memeriksa DJJ

H: DJJ 146x/menit

8. 8. Menyiapkan ibu dan memberitahu


keluarga

H: Ibu dalam posisi nyaman, ibu


didampingi suami

9. Memimpin ibu untuk meneran

H: ibu mengejan dengan baik dan


persalinan maju

10. Memuji ibu dan menganjurkan ibu


untuk istirahat

H: ibu nafas panjang pada saat tidak ada


kontraksi

11. Memberi ibu minum air putih

H: ibu mau minum sedikit air putih

12. Memeriksa DJJ dan mengatur posisi


ibu

H: DJJ normal, ibu sudah nyaman

13. Siap-siap untuk menolong: melindungi


perineum, cek lilitan tali pusat, tunggu
putaran paksi luar, biparietal,
menyangga kepala bayi, dan
menyusuri badan bayi

H: bayi lahir spontan jam 07.35 WIB AS:


9-10-10, menangis spontan, kulit
kemerahan, jenis kelamin Perempuan

14. Penanganan BBL

H: bayi diletakkan di atas perut ibu dan


dikeringkan

15. Mengecek TFU ibu

H: TFU ibu setinggi pusat

16. Membertahu ibu akan disuntik

H: ibu telah disuntik di sepertiga paha


bagian luar secara IM

17. Menunda pemotongan tali pusat

H: menunggu sampai tali pusat tidak


berdenyut (5 menit)

18. Menjepit, memotong, dan mengikat


tali pusat bayi

H: tali pusat telah di ikat

19. Melakukan IMD

H: bayi telah di atas ibu dan diselimuti


Nama Pasien: No RM: Ruang:VK
Ny. E belakang RSDK

Umur: 25 tahun Nama Dan Paraf:

Tanggal/ Jam: Catatan Perkembangan II

29Oktober 2021/
07.36 WIB

S:

- Ibu merasa lega karena bayinya telah


lahir

- Ibu mengatakan perutnya terasa mules

O:

- KU: Baik

- TD: 110/70 mmHg

- N: 84 x/menit

- RR: 20 x/menit

- Tampak tali pusat memanjang, uterus


globuler, dan ada semburan darah dari
jalan lahir

A:

Ny. E usia 25 tahun P2A0 inpartu kala III

P:

1. Memberitahu ibu bahwa kondisi ibu


baik

H: ibu lega kondisinya baik

2. Melakukan PTT plasenta

H: Klem 5 cm di depan vulva, tali pusat


menjadi panjang

3. Melahirkan plasenta sesuai sumbu


jalan lahir

H: plasenta lahir lengkap D: 20 cm, P: 50


cm, kotiledon 20, selaput lengkap.

4. Masase dan mengajari ibu untuk


masase perutnya

H: perut ibu keras, ibu bersedia mengelus


perutnya.

5. Memeriksa perdarahan dan robekan

H: perdarahan 150 cc, tidak ada laserasi


Nama Pasien: No RM: Ruang: VK
Ny. E belakang RSDK

Umur: 25 tahun Nama Dan Paraf:

Tanggal/ Jam: Catatan Perkembangan III

29 Oktober
2021/ 07.45
WIB

S:

Ibu mengatakan perutnya mulas

Ibu mengatakan merasa lelah setelah


proses persalinan

Ibu mengatakan merasa senang dengan


kelahiran anaknya

O:

Kontraksi baik

Plasenta telah lahir lengkap

A:

Ny. E usia 25 tahun P2A0 inpartu Kala


IV

P:

1. Memberitahu ibu hasil pemeriksaan

H: ibu lega kondisinya baik.

2. Membersihkan ibu

H: ibu telah dibersihkan dari kotoran


setelah persalinan dan bersih.

3. Dekontaminasi alat dan tempat


persalinan

H: alat dan tempat telah didekontaminasi.


4. Melakukan pengawasan kala IV dan
menganjurkan ibu untuk melakukan
mobilisasi

No Waktu TD Nadi Suhu TFU Kontraksi Kandung Darah


Kemih yang
keluar

1 08.00 110/70 80x 36,8 2 jr di Keras Kosong 30 cc


bwh pst

08.15 110/70 80x 2 jr di Keras Kosong 45 cc


bwh pst

08.30 110/70 82x 2 jr di Keras Kosong 45 cc


bwh pst

08.45 110/70 82x 2 jr di Keras Kosong 40 cc


bwh pst

2 09.15 110/70 88x 36,8 2 jr di Keras Kosong 50 cc


bwh pst

09.45 110/70 80x 2 jr di Keras Kosong 40 cc


bwh pst

Total 250 cc

CATATAN PERKEMBANGAN BAYI BARU LAHIR

Nama Pasien : By. Ny. E


Tanggal : 29Oktober 2021
Jam : 08.35 WIB

SUBYEKTIF
(S)

OBYEKTIF (O) 1. Pemeriksaan Umum: Baik

2. Vital Sign

Denyut jantung: 146 x/menit, S: 36,5 C, RR: 40 x/menit

3. Pengukuran Antropometri

BB: 2500 gram, PB: 47 cm, Lingkar kepala: 32 cm, Lingkar


dada: 33 cm, Lingkar lengan 10 cm

4. Keadaan Bayi

a. Menangis : Kuat

b. Warna kulit: kemerahan

c. Turgor : Baik

ANALISA (A) By. Ny. E usia 1 jam fisiologis periode pertama reaktifitas

PENATALAKS Tanggal: 29 Oktober 2021


ANAAN (P)
Jam: 08.55 WIB

1. Memberitahukan ibu dan keluarga bahwa bayinya sehat

Hasil: Ibu merasa senang dengan kondisi bayinya.

2. Menjaga kehangatan bayi saat berada di lingkungan baru


(extra uterine) dengan mengeringkan tubuh bayi sesegera
mungkin kecuali telapak tangan dan kaki.
Menjagabayitetaphangatsaatberada di
luarlingkunganbayidengancaramengeringkantubuhbayiseseg
eramungkinterkecualitelapaktangan dan kaki,dan
menundamemandikanbayi sampai dengan 6 jam.

Hasil:Tubuh bayi telah dikeringkan dengan menggunakan


kain/ jarik.

3. Tempatkan ibu dan bayi kulit ke kulit, untuk memfasilitasi


interaksi ibu dan bayi dan menjaga kehangatan bayi.

Hasil: Telah dilakukan Inisiasi Menyusui Dini (IMD) bayi


berada di atas dada ibu dan berhasil pada menit ke
40, setelah lahir.

4. Memberikan injeksi Vit. K 1 mg di paha kiri bayi

Hasil:Injeksi Vit. K telah diberikan

5. Memberikan salep mata pada bayi untuk mencegah infeksi


pada mata.

Hasil:Salep matatelahdiberikan.

6. Menimbang, mengukur tinggi badan, Lingkar kepala, dan


lingkar dada

Hasil: BB 2500 gram, PB 47 cm, Lk 32 cm, LD 33 cm

7. Memakaikan bayi, baju, popok, sarung tangan dan bedong


pada bayi serta meletakkan bayi disamping ibunya untuk
menjaga kehangatan bayi.

Hasil:bayi telah memakai pakaian dan berada disebelah


ibunya.

8. Mendokumentasikan

CATATAN PERKEMBANGAN BAYI BARU LAHIR 2 JAM

Tanggal: 29Oktober 2021


Jam : 09.45 WIB

SUBYEKTIF (S) 1. Pola Nutrisi

Bayi telah minum ASI (IMD berhasil) jam08.25


WIB

2. Pola Eliminasi

BAB: belum

BAK: sudah

3. Pola Hygiene

Bayi belum dimandikan

4. Pola Tidur

Saat dilakukan pengkajian bayi sedang tidur

OBYEKTIF (O) 1. Keadaan umum: Baik

2. Tanda vital dan Antropometri

Denyut nadi: 134 x/menit, Suhu: 36,3 C, RR: 44


x/menit

3. Status present

Abdomen : bulat, tidak ada massa abnormal.


Tali pusat terlihat masih basah

Kulit : kemerahan, tidak ada bercak,turgor


kulit baik.

ANALISA (A) Bayi Ny. E usia 2 jam fisiologis periode tidur

PENATALAKSANAAN Tanggal: 29 Oktober 2021


(P)

Jam: 09.55 WIB

1. Menyampaikan hasil pemeriksaan pada ibu dan


keluarga, bahwa bayinya dalam keadaan baik.

Hasil:ibu dan keluarga merasa senang

2. Menyampaikan pada ibu dan keluarga bahwa


bayi dalam periode tidur dimana dalam fase ini
bayi tidak merespon terhadap stimulus
eksternal. Orang tuadapat menggendong dan
memeluk bayinya.

Hasil: Bayi berada disamping dan tidur


disamping ibunya

3. Mendokumentasikan

CATATAN PERKEMBANGAN BAYI BARU LAHIR 4 JAM

Tanggal: 29 Oktober 2021


Jam : 11.45 WIB

SUBYEKTIF (S) 1. Pola Nutrisi

Bayi minum ASI

2. Pola Eliminasi

BAB: Bayi sudah BAB warna hitam kehijauan

BAK: bayi sudah BAK 2x

3. Pola Hygiene

Bayi dimandikan: belum dimandikan.

4. Pola Tidur

Bayi sudah tidur dan pada saat


dilakukanpengkajian bayi dalam kondisi terjaga

OBYEKTIF (O) 1. Keadaan umum: Baik

2. Tanda vital dan Antropometri

Denyut nadi: 148 x/menit, Suhu: 36,8 C, RR: 44


x/menit
3. Status present

Abdomen : bulat, tidak ada massa abnormal.


Tali pusat terlihat masih basah.

Kulit : kemerahan, tidak ada bercak,turgor


kulit baik.

4. Reflek

a. Rooting Refleks : baik, bayi


menolehkan kepala pada sentuhan atau
goresan pada pipi.

b. Sucking Refleks :baik, bayi melakukan


gerakan menghisap kuat

c. Grasp Refleks : baik, jari-jari


menggenggam jari-jari pemeriksa

d. Babinski Refleks : baik, kaki bayi


bergerak seperti gerakan mengipas

e. Moro Refleks : baik, bayi dapat terkejut


pada saat diberi hentakan yang mengejutkan

ANALISA (A) Bayi Ny. E usia 4 jam fisiologis dalam fase


reaktifitas kedua

PENATALAKSANAAN Tanggal: 29 Oktober 2021


(P)
Jam: 12.00 WIB

1. Memberitahukan ibu dan keluarga bahwa


bayinyadalam keadaan baik

Hasil ibu senang dan Bahagia.

2. Menyuntikkan HB0 pada paha sebelah kanan


bayi

Hasil: HB0 telah diberikan

3. Memperhatikan saat bayi menyusu.

Hasil: bayi menyusu dengan baik dan tidak


memperhatikan tanda-tanda penyulit

4. Observasi bayi terhadap kemungkinan tersedak


saat pengeluaran mucus

Hasil:Bayi ditidurkan dengan


kepaladimiringkan.

5. Menganjurkan ibu untuk menyusui bayinya


secara on demand, kapan saja bayi
menginginkan dan maksimal 2 jam bayi sudah
harus disusui.

Hasil: Ibu mengerti dengan penjelasan bidan dan


akan melaksanakan sesuai anjuran.

6. Memberikan konseling perawatan bayi kepada


ibu:

a. Kebersihan bayi

Mandikan bayi 2 kali sehari dengan sabun,


bersihkan alat kelamin lalu keringkan secara
perlahan dan lembut. Jika bayi BAK atau
BAB segera gantikan popok. Menjaga kuku
bayi agar tetap pendek, kuku dipotong
setiap 3 atau 4 hari sekali agar tidak
menyebabkan lecet pada muka atau kulit
bayi.

b. Menjaga kehangatan bayi

Menjaga ruangan tetap hangat, mengenakan


pakaian atau selimuti bayi sepanjang hari
pada malam hari biarkan bayi tidur dengan
ibu sehingga mudah dijangkau untuk
menyusui, jangan membedong terlalu ketat.

Hasil: Ibu bersedia melakukan perawatan


bayi di rumah sesuai dengan konseling yang
diberikan.

7. Memberikan konseling kepada ibu tentang ASI


Eksklusif

Hasil: ibu mengerti dengan penjelasan mengenai


ASI Ekslusif, bahwa bayi hanya diberi ASI saja
dari 0-6 bulan tanpa tambahan makanan lainnya,
dan ibu bersedia memberikan ASI secara
Eksklusif kepada bayinya

8. Mendokumentasikan tindakan dan pemeriksaan


yang dilakukan

Hasil: Tindakan dan pemeriksaan telah


didokumentasikan
BAB IV
PEMBAHASAN

Dalam BAB ini penulis membahas asuhan kebidanan persalinan dan bayi baru
lahir fisiologis pada Ny. E usia 25 tahun G2P1A0 hamil 37 minggu inpartu kala II
yang meliputi:
A. Data Subyektif
Pada pengumpulan data awal, dilakukan anamnesa kepada pasien dan
diperoleh Ny. E usia 25 tahun menyatakan ini kehamilan yang kedua dan tidak
pernah mengalami keguguran. Mengatakan datang ke Rumah Sakit dengan
keluhan merasakan kenceng-kenceng sejak pukul 01.00 WIB tanggal 29Oktober
2021 yang semakin sering dan teratur dan merasakan nyeri di punggung bagian
belakang. Selain itu, Ny. E juga telah mengeluarkan lendir bercampur darah. Ibu
mengatakan menstruasi terakhir tanggal 11Februari 2021, dan usia kehamilannya
sekarang sudah mencapai 9 bulan. Hasil pemeriksaan usia kehamilan dilihat
dengan menggunakan rumus neagle, mulai dari hari pertama haid terakhir sampai
tanggal pengkajian, maka umur kehamilan 37 minggu(Prawirohardjo, 2014).
Ny. E mengatakan selama hamil ia tidak pernah merasakan nyeri perut yang
hebat. Ny. E tidak pernah mengalami trauma selama kehamilan yang sekarang
maupun yang lalu, pasien tidak pernah mengalami penyulit dan trauma selama
persalinan dan nifas yang lalu, pasien tidak memiliki riwayat penyakit seperti
hipertensi, asma, jantung, diabetes mellitus, dan penyakit menular lainnya, pasien
mengatakan menggunakan alat kontrasepsi berupa suntik 3 bulan setelah
kelahiran anak pertama dan kedua, dan berhenti KB karena ingin hamil lagi.
Menjelang persalinan nutrisi pasien terpenuhi dengan baik, istirahat cukup,
aktifitas pasien tetap melakukan pekerjaan rumah tangga.
Berdasarkan pengkajian asuhan Kala II yang telah didapatkan pada kasus
Ny. E diperoleh data subyektif ibu merasakan kencengnya semakin kuat dan ibu
merasakan adanya tekanan pada anus seperti ingin BAB. Ibu mengatakan
mengeluarkan cairan yang banyak (ngepyok) dari jalan lahir. Tanda dan gejala
Kala II ditandai dengan adanya pembukaan lengkap (tidak teraba lagi
bibirportio), ini terjadi karena adanya dorongan bagian terbawah janin yang
masuk ke dalam dasar panggul karena kontraksi uterus yang kuat sehingga portio
membuka secara perlahan, his yang lebih sering dan kuat (± 2-3 menit 1 kali) dan
timbul rasa mengedan, karena biasanya dalam hal ini bagian terbawah janin
masuk ke dasar panggul sehingga terjadi tekanan pada otot-otot dasar panggul,
yang secara reflektoris menimbulkan rasa mengedan. Pecahnya kantung ketuban
karena kontraksi yang menyebabkan terjadinya perbedaan tekanan yang besar
antara tekanan di dalam uterus dan di luar uterus sehingga kantung ketuban tidak
dapat menahan tekanan isi uterus akhirnya kantung ketuban pecah (Widia, 2015).
Berdasarkan pengkajian asuhan Kala III data subyektif ibu merasakan
perutnya terasa mulas. Pada teori menjelaskan bahwa Kala III sejak bayi lahir
sampai lahirnya plasenta atau uri. Kala III merupakan periode waktu dimana
penyusutan volume rongga uterus setelah kelahiran bayi. Penyusutan ukuran ini
menyebabkan berkurangnya ukuran tempat perlengketan plasenta. Oleh karena
tempat perlengketan menjadi kecil, sedangkan ukuran plasenta tidak berubah,
maka plasenta menjadi berlipat, menebal, dan kemudian lepas dari dinding uterus
(Ina Kuswati dkk, 2014).
Berdasarkan pengkajian asuhan Kala IV data subyektif ibu merasa lelah
setelah menjalani proses persalinan dan merasakan mulas pada perutnya. Teori
menjelaskan Kala IV ditetapkan sebagai waktu dua jam setelah plasenta lahir
lengkap, hal ini dimaksudkan agar dokter, bidan, atau penolong persalinan masih
mendampingi wanita setelah persalinan selama 2 jam (2 jam post partum).
Dengan hal ini kejadian-kejadian yang tidak diinginkan dapat dikurangi atau
dihindarkan (Dwi Asri dkk, 2012).
Berdasarkan uraian di atas mulai Kala II sampai Kala IV persalinan, terdapat
persamaan antara teori dengan gejala yang timbul pada persalinan normal. Hal
ini membuktikan bahwa tidak ditemukan adanya kesenjangan antara teori dengan
kasus.

B. Data Obyektif
Pada pemeriksaan fisik didapatkan kesadaran composmentis, keadaan umum
baik, TD 110/80 mmHg, Nadi 90 x/menit, suhu 36,6 0C, pernafasan 20 x/menit.
Ekspresi wajah tampak cemas dan meringis menahan sakit, serta tidak ada edema dan
pembengkakan di wajah, kedua konjungtiva mata terlihat merah muda dan tidak
anemis, tidak ada pembesaran pada kelenjar tiroid, limfe, dan vena jugularis,
payudara tampak simetris, hiperpigmentasi pada aerola mamae. Pemeriksaan
abdomen didapatkan tinggi fundus uteri (TFU) 3 jari di bawah Prosesus Xipoideus,
27 cm, teraba bokong dan sesuai usia kehamilan 37 minggu, punggung di kiri,
presentasi kepala, dengan penurunan bagian terbawah 3/5 bagian, pada auskultasi
terdengar denyut jantung dengan frekuensi 148 x/menit, janin intrauterine, tunggal,
dan hidup.
Pada pemeriksaan dalam pertama tanggal 29Oktober 2021 pukul 07.00 WIB
yaitu, tidak ditemukan kelainan pada vulva dan vagina, keadaan portio lunak dan
tipis, terdapat pembukaan 10 cm, ketuban masih utuh, presentasi kepala yaitu ubun-
ubun kecil kanan lintang, penurunn hodge III, tidak ada molase dan penumbungan tali
pusat, serta kesan panggul normal. Pemeriksaan tanggal 29 Oktober 2021 jam 07.15
WIB didapatkan hasil tidak ada kelainan pada vulva dan vagina, terdapat pembukaan
10 cm, ketuban sudah pecah dengan warna air ketuban jernih, presentasi kepala yaitu
ubun-ubun kecil sudah di bawah sympisis, penurunan hodge IV, tidak ada molase dan
penumbungan.
Pada pemeriksaan Leopold untuk menentukan tinggi fundus uteri dilakukan pada
saat uterus tidak sedang berkontraksi, dengan posisi ibu setengah duduk, lalu mulai
melakukan pengukuran dengan menempelkan ujung pita dari tepi simfisis pubis dan
puncak fundus uteri hal tersebut dilakukan untuk menilai tinggi fundus uteri apakah
tinggi fundus uteri sesuai dengan usia kehamilan atau tidak, dan untuk menentukan
presentasi janin dilakukan dengan mempertimbangkan bentuk, ukuran, dan kepadatan
bagian tersebut. Jika dalam perabaan pada fundus uteri bulat, keras dan melenting
maka dapat dikatakan sebagai presentasi bokong karena kepala janin berada pada
bagian fundus atau jika bagian fundus uteri teraba lunak, kurang melenting dapat
dikatakan presentasi kepala (Ai Nursiah dkk, 2014).
Untuk menilai penurunan kepala janin dilakukan dengan menghitung proporsi
bagian terbawah janin yang masih berada di atas sympisis dan dapat diukur dengan
lima jari tangan (per limaan), bagian di atas sympisis adalah proporsi yang belum
masuk pintu atas panggul (PAP) dan sisanya telah memasuki pintu atas panggul
(PAP) (Widia, 2015).
Di dalam kehamilan, janin dikatakan tunggal jika pembesaran perut sesuai
dengan usia kehamilan. Saat palpasi teraba satu kepala dan satu punggung, sedangkan
auskultasi denyut jantung janin terdengar jelas, kuat, dan teratur pada kuadran bawah
perut bawah ibu (Baety, 2012). Adanya gerakan janin dan denyut jantung janin (DJJ)
merupakan tanda bahwa janin hidup. Janin yang dalam keadaan sehat, bunyi
jantungnya teratur dan frekuensinya antara 120-160 kali per menit, selain itu tanda
janin hidup juga dapat dilihat dari pergerakan janin yang dirasakan kuat oleh ibu satu
kali per jam atau lebih dari 10 kali per hari dan pembesaran uterus menandakan janin
hidup dan bertumbuh (Prawirohardjo, 2014).
Data obyektif pada kasus Ny. E pada kala II didapat dimana tampak perineum
menonjol, vulva-vagina dan sfingter ani mulai membuka, meningkatnya produksi
pengeluaran lendir bercampur dengan darah dan pada pemeriksaan tanda pasti kala II
ditentukan melalui pemeriksaan dalam yang hasilnya pembukaann serviks telah
lengkap dan terlihatnya bagian kepala bayi melalui introitus vagina. Sedangkan teori
menerangkan bahwa kala II dimulai sejak pembukaan lengkap sampai lahirnya bayi,
gejala dan tanda kala II yaitu dimana kontraksi uterus menjadi lebih kuat dan sering
(± 2-3 menit 1 kali) dan timbul rasa mengedan, dimana air ketuban yang keluar
membuat dinding uterus menjadi lebih dekat dengan fetus, sehingga kekuatan
kontraksi lebih intensif untuk mendrong keluar fetus, dan juga vagian yang meregang
karena turunnya kepala akan membuat kontraksi menjadi lebih baik.
Bagian terbawah janin masuk ke dasar panggul sehingga menekan rectum dan
rasa buang air besar, hal ini menyebabkan anus membuka, vulva terbuka, perineum
menonjol, karena bagian terbawah janin sudah masuk PAP dan di tambah pula
adanya his serta kekuatan menggedan menyebabkan vulva terbuka dan perineum
menonjol, karena perineum bersifat elastic, bagian terdepan janin kelihatan pada
vulva, karena ada his dan tenaga mengedan menyebabkan bagian terbawah janin
dapat dilahirkan (Widia, 2015).
Berdasarkan hasil perlangsungan kala III pada Ny. E pada data obyektif
diperoleh hasil pemeriksaan yaitu bayi lahir spontan pada tanggal 29Oktober 2021
jam 07.35 WIB, kala II berlangsung selama ±35 menit tanpa ada penyulit serta tali
pusat masih nampak di vulva. Proses pengeluaran plasenta berlangsung ± 10 menit.
Plasenta lahir lengkap tanggal 29Oktober 2021 jam 04.45 WIB, tinggi fundus uteri
setinggi pusat, kontraksi uterus baik (teraba keras dan bundar), perdarahan ±200 cc
dan kandung kemih kosong.

C. Analisa
Berdasarkan hasil pemeriksaan dari data subyektif dan data obyektif diperoleh
hasil analisa Ny. E Usia 25 Tahun G2P1A0 Usia Hamil 37 Mgg Janin Tunggal Hidup
Intrauterin, Letak bujur, Presentasi Kepala, divergen, puki, Inpartu Kala II

D. Penatalaksanaan
Pada studi kasus Ny. E dengan persalinan normal, semua tindakan yang
direncanakan terlaksana dengan baik. Seperti menyampaikan hasil pemeriksaan
dengan baik, memberikan kesempatan kepada pasien dan keluarga untuk bersama
memberikan dukungan moril, kepada ibu dan keluarga untuk mengambil keputusan
penting dengan membesarkan hati ibu dan keluarga bahwa janin dapat lahir melewati
jalan lahir secara normal, memberikan dukungan psikologis pada ibu dan keluarga,
serta memenuhi kebutuhan cairan dan nutrisi ibu.
Persalinan juga perlu didukung oleh kondisi psikologi pasien yang baik.
Psikologi yang baik dapat terjadi karena berbagai hal yaitu adanya dukungan dari
suami dan kondisi ibu yang percaya diri dalam menjalani persalinan sehingga ibu
tidak merasakan nyeri persalinan yang berat. Selain itu, paritas ibu mempengaruhi
kesiapan ibu dalam menghadapi persalinan, pengalaman yang baik tentang persalinan
sebelumnya akan membuat ibu berasumsi bahwa persalinan bukanlah sesuatu yang
menyakitkan (Sunarsih, 2016). Pendampingan oleh keluarga saat ibu akan bersalin
mempengaruhi tingkat kecemasan pada ibu. Dukungan keluarga terutama dukungan
yang didapatkan dari suami akan menimbulkan ketenangan batin, perasaan senang,
aman dan nyaman sehingga kecemasan ibu bersalin berkurang.
Pemantauan selanjutnya yaitu pada kala I persalinan ibu merasakan nyeri pada
daerah punggung dan menjalar di perut bagian bawah. Terdapat lendir darah, keadaan
umum ibu baik, ibu tampak meringis menahan sakit pada saat kontraksi, tanda-tanda
vital dalam batas normal, pemeriksaan dalam (VT jam 07.00 WIB) adalah 10 cm.
Nyeri pada proses persalinan diakibatkan karena kontraksi uterus serta dilatasi mulut
rahim dan segmen bawah rahim. Intensitas nyeri sebanding dengan kekuatan
kontraksi dan tekanan yang terjadi, nyeri bertambah ketika mulut rahim dalam
keadaan dilatasi penuh akibat tekanan bayi terhadap struktur panggul diikuti regangan
dan perobekan jalan lahir (Mander, 2013). Sifat-sifat dari his persalinan yaitu nyeri
melingkar dari punggung memancar ke perut bagian depan, teratur, makin lama
makin pendek intervalnya dan makin kuat intensitasnya, jika dibawa berjalan
bertambah kuat, dan mempunyai pengaruh pada pendataran atau pembukaan serviks
(Dewi Setiawati, 2013).
Penatalaksanaan yang diberikan kepada Ny. E untuk mengurangi keluhan nyeri
yang dirasakan pada persalinan yaitu memberikan masase punggung dan
mengajarkan suaminya untuk melakukan masase pada Ny. E. Hasil penelitian Aryani
(2015) menyimpulkan bahwa ada pengaruh masase punggung terhadap kadar
endorphin ibu bersalin kala I fase laten persalinan normal, hal tersebut menunjukkan
bahwa terdapat hubungan yang kuat antara kadar endorphin dengan intensitas nyeri
kala I persalinan. Endorfin berperan sebagai neuromodulator yang menghambat
pengiriman pesan nyeri.
Masase merupakan salah satu cara yang dapat dilakukan dalam usaha
mengurangi nyeri selama proses persalinan, dengan masase dapat merangsang
analgesic endogen (endorphin), dan mengganggu transmisi nyeri dengan cara
meningkatkan sirkulasi neurotransmitter yang dihasilkan secara alami oleh tubuh
pada sinaps neural di jalur sistem saraf pusat. (Rokade,2011). Beta-endorfin
(subkelompok betalipotropin) menghambat pembentukan prostagladin dan
mengurangi efeknya. Zat ini diaktifkan oleh stres dan nyeri persalinan dan dihasilkan
oleh kelenjar hipofisis. Zat ini berkaitan erat dengan reseptor opiat dan bekerja
sebagai pembawa pesan kimia serta bekerja seperti analgesia dengan cara
menghambat substansi P, neurotransmiter nosiseptif sehingga menghambat transmisi
impuls.
Hasil penelitian Supliyani E. (2017) menunjukkan bahwa masase pada punggung
selama 30 menit dapat mengurangi nyeri kala 1 persalinan normal. Hasil ini sejalan
dengan pendapat Sherwood (2011) yang menyatakan bahwa tekanan tersebut dapat
mengaktivasi serabut saraf berdiameter besar untuk menutup pintu gerbang hantaran
nyeri yang dibawa oleh serabut saraf berdiameter kecil sehingga tertutupnya hantaran
nyeri ke kortek serebral dan mengakibatkan nyeri berkurang.
Selain memberikan masase pada punggung, Ny. E juga diajarkan tehnik relaksasi
dengan nafas dalam. Faradillah, (2014) menyatakan bahwa teknik relaksasi nafas
dalam dapat menurunkan intensitas nyeri dengan cara merileksasikan otot-otot skelet
yang mengalami spasme yang disebabkan oleh peningkatan prostaglandin sehingga
terjadi vasodilatasi pembuluh darah dan akan meningkatkan aliran darah ke daerah
yang mengalami spasme dan iskemik. Pada kondisi rileks tubuh akan menghentikan
produksi hormon adrenalin dan semua hormon yang diperlukan saat stress. Karena
hormon seks estrogen dan progesteron serta hormon stress adrenalin diproduksi dari
blok bangunan kimiawi yang sama. Ketika kita mengurangi stres maka mengurangi
produksi kedua hormon seks tersebut. Jadi, perlunya relaksasi untuk memberikan
kesempatan bagi tubuh untuk meproduksi hormon yang penting untuk mendapatkan
tubuh yang bebas dari nyeri.
Pemantauan selanjutnya yaitu kala II persalinan. Tindakan asuhan yang diberikan
pada kala II adalah melakukan pimpinan meneran saat ibu ada dorongan yang kuat
untuk meneran pada pukul 07.15 WIB. Ibu diajarkan posisi miring ke kiri sambil
mengedan untuk mempercepat proses persalinan. Setelah kepala tampak 5 cm di
depan vulva mengatur posisi senyaman mungkin bagi ibu dengan setengah duduk.
Pimpinan meneran ±15 menit, bayi lahir spontan dengan presentasi belakang kepala
dan tidak terdapat kelainan pada bagian wajah dan badan, berat badan 2500 gram,
panjang badan 47 cm.
Berdasarkan hasil penelitian dari Indrasari N. (2014) disimpulkan bahwa posisi
miring dapat memberikan rasa santai bagi ibu yang letih, oksigenasi yang baik bagi
bayi, dan membantu pencegahan laserasi. Seperti yang dikatakan Simkins (2005)
dalam Indrasari N. (2014) posisi miring memungkinkan ibu yang lelah untuk
istirahat, gaya gravitasi netral, dapat mengurangi hemoroid, dapat mengatasi masalah
detak jantung janin, membantu menurunkan tekanan darah tinggi khususnya posisi
lateral kiri, menghindari tekanan terhadap sakrum, dapat meningkatkan kemajuan
persalinan saat mengganti intervensi berjalan dan dapat menambah rotasi pada bayi
dengan oksiput posterior. Posisi ibu dalam keadaan miring merupakan sebagai usaha
untuk membebaskan kompresi aortokaval dan memperbaiki aliran darah balik, curah
jantung dan aliran darah uteroplasenter.
Posisi setengah duduk adalah posisi istirahat dan netral terhadap gaya gravitasi.
Posisi ini akan membantu seorang wanita yang kelelahan untuk menghemat
energinya. Posisi setengah duduk adalah posisi dimana ibu duduk dengan tubuh
membentuk sudut 450 terhadap tempat tidur dengan kedua lutut dinaikkan atau
dirangkul mendekati dada. Posisi setengah duduk merupakan posisi yang nyaman
pada saat proses persalinan sehingga ibu lebih mudah untuk meneran. Posisi ini
mudah untuk dilakukan, dapat memperbaiki oksigenasi janin dan menambah dimensi
pintu atas panggul.
Setelah bayi lahir melakukan pengecekan fundus dan tidak ada lagi bayi dalam
uterus, kemudian memberitahu ibu dan menyuntikkan oksitosin untuk membantu
proses pengeluaran plasenta. Melakukan penundaan pemotongan tali pusat pada Kala
II. Penundaan penjepitan tali pusat dapat menyediakan tambahan darah sebanyak 80-
100 ml pada bayi baru lahir. Penundaan waktu penjepitan tali pusat sekitar 2-3 menit
dapat memberikan redistribusi darah diantara plasenta dan bayi, memberikan bantuan
placental transfusion yang didapatkan oleh bayi sebanyak 35-40 ml/kg dan
mengandung 75 mg zat besi sebagai hemoglobin, yang mencukupi kebutuhan zat besi
bayi pada 3 bulan pertama kehidupannya. Sebaliknya penjepitan tali pusat secara dini
(kurang lebih 10-15 detik setelah kelahiran) dapat menghalangi sebagian besar
jumlah zat besi yang masuk ke dalam tubuh bayi. Penundaan penjepitan tali pusat
juga dapat meningkatkan penyimpanan zat besi saat lahir sehingga dapat mencegah
terjadinya anemia defisiensi besi.
Setelah tali pusat dipotong, bayi segera dikeringkan keculi telapak tangan dan
kaki, kemudian dilanjutkan dengan IMD. Inisiasi Menyusu Dini atau Permulaan
Menyusu Dini adalah bayi mulai menyusu sendiri segera setelah lahir. Sebenarnya
bayi manusia juga seperti mamalia lain mempunyai kemampuan untuk menyusu
sendiri. Asalkan dibiarkan kontak kulit bayi dengan kulit ibunya, setidaknya selama
satu jam segera setelah lahir. Cara melakukan inisiasi menyusu dini ini dinamakan the
breast crawl atau merangkak mencari payudara sendiri (Irawan, 2013).
Manfaat Inisiasi Menyusu Dini, bayi dan ibu menjadi lebih tenang, tidak stres,
pernafasan dan detak jantung lebih stabil, dikarenakan oleh kontak antara kulit ibu
dan bayi. Sentuhan, emutan dan jilatan bayi pada puting susu ibu akan merangsang
pengeluaran hormon oxytosin yang menyebabkan rahim berkontraksi sehingga
mengurangi perdarahaan ibu dan membantu pelepasan plasenta. Bayi juga akan
terlatih motoriknya saat menyusu, sehingga mengurangi kesulitan posisi menyusu dan
mempererat hubungan ikatan ibu dan anak (JNKPK-KR, 2013).
Pemantauan selanjutnya yaitu pada pematauan kala III persalinan. Kala III
dimulai setelah bayi lahir pukul 07.35 WIB dan ditandai dengan adanya semburan
darah tiba-tiba serta tali pusat bertambah panjang. Tindakan yang dilakukan pada saat
kala III yaitu melakukan manajemen aktif kala III. Plasenta dan selaput ketuban lahir
pukul 07.45 WIB kontraksi uterus baik dan TFU 2 jari di bawah pusat. Lama kala III
adalah 10 menit.
Pemantauan dilanjutkan pada kala IV persalinan. Kala IV persalinan dimulai
setelah plasenta lahir. Ibu merasakan lega setelah melahirkan dan masih sedikit
mules, keadaan umum ibu baik, ibu tampak kelelahan. Tindakan yang dilakukan
adalah yaitu menjelaskan kepada ibu tentang kondisinya saat ini dan keluhan yang di
alami adalah normal pasca melahirkan. Tindakan selanjutnya adalah pemantauan 2
jam postpartum. Setelah dilakukan pemantauan, meminta suami atau keluarga agar
selalu menemani dan memenuhi kebutuhan ibu, mengajarkan ibu dan keluarga cara
memantau kontraksi uterus.
Dalam penatalaksanaan tindakan asuhan kebidanan penulis tidak menemukan
hambatan yang berarti karena seluruh tindakan yang dilakukan sudah berorientasi
pada kebutuhan klien.
PEMBAHASAN BAYI BARU LAHIR

Dalamasuhankebidanan pada Bayibarulahir ini dibedakan pada 3


faseyakniReaktivitas 1 (The first period of Reactivity), Fase Tidur (Period Of
Unresponsive Sleep), Periode Reaktivitas II (The Second Periode Of Reaktivity)/
transisi ke-III. Karakteristik masing-
masingperiodememperlihatkankemajuanbayibarulahir. Beberapasaat dan beberapa
jam dariawalkehidupanekstrauterine bayibarulahirmerupakankeadaan yang paling
dinamis. Pada
saatkelahiranbayiberubahdarikeadaanketergantungansepenuhnyakepadaibumenjaditid
aktergantungsecarafisiologis.
Perubahaninimerupakan proses yang kompleksinidikenalsebagaitransisi.
Karakteristikperilakuterlihatnyataselama jam transisi.
Periodetransisikarakteristikperilakuterlihatnyataselama jam transisisegerasetelahlahir.
Masa
transisiinimencerminkansuatukombinasiresponsimpatikterhadaptekananpersalinan
(tachypnea, tachycardia) dan responparasimpatik (sebagairespon yang diberikan oleh
kehadiran mucus, muntah, dan gerakperistaltik. Oleh karenaitudalamasuhanbayi Ny
“D” Analisa dan penatalaksanaandisesuaikandengantahapantersebut:
1. Reaktivitas 1 (The first period of Reactivity)
Analisa:By Ny “E” usia 1 Jamfisiologis padaperiodepertamareaktifitas 1
Penatalaksaan yang dilakukanyaitu:Menjagabayitetaphangatsaatberada di
luarlingkunganbayidengancaramengeringkantubuhbayisesegeramungkinterkecualitela
paktangan dan kaki, menundamemandikanbayi, meletakkanbayike dada ibu,
membiarkankulitibumelekat pada kulitbayi(skin to skin) (Kementerian Kesehatan RI,
2010).
Selama periode reaktivitas 1 ini setiap usaha harus dibuat untuk memudahkan
kontak bayi dan ibu. Membiarkan ibu untuk memegang bayi untuk mendukung
proses pengenalan dan Tindakan yang dilakukan yang mendukungperawatanbayi
pada faserektifitassatuadalahdenganmelakukan IMD.
Saat yang sangat penting dalam keberhasilan menyusui adalah ASI dalam 24
jam pertama setelah ibu melahirkan. Jam pertama inilah yang merangsang keluarnya
hormon oksitosin yang bertanggung jawab terhadap produksi ASI dan saat-saat ini
kolostrum akan keluar (IDAI, 2010). Pada awal kelahiran, sesegera mungkin bayi
menyusu dengan posisi yang benar, karena isapan alami dari bayi akan merangsang
hipofisis untuk merangsang oksitosin. Oksitosin ini akan merangsang otot polos
untuk memeras ASI yang akan keluar melalui puting susu.
Roesli (2012) menyatakanpelaksanaan IMD dapatmenyelamatkan 22% daribayi
yang meninggalsebelumbayiusia 1 bulanupayaini juga untukmendukungkeberhasilan
program pemberian ASI Eksklusif. Bayibarulahirsangatlahrentanterhadaphypotermi,
pada bayi, karenadengan IMD
akanterjadipelekatanBayibarulahirbelumdapatmengatursuhutubuhnya,
sehinggaakancenderungmengalami stress fisikakibatadanyaperubahansuhu di
luaruterus. Fluktuasi (naik turunnya) suhu di dalam uterus minimal,
rentangmaksimalhanya 0,6oC karenacairanketubandalam uterus suhunya relative
tetap. Suhu di dalam uterus sekitar 36 oC-37oC sedangkansuhuruangansekitar 24oC-
32oC.
Mekanismepengaliranpanasinidijelaskanmelaluimekanismefisikadasaryaituradiasi,
konduksi, konveksi, dan evaporasi (Potter, Patricia A, Perry, Anne G; 2010).
Manfaat Inisiasi Menyusu Dini, bayi dan ibu menjadi lebih tenang, tidak stres,
pernafasan dan detak jantung lebih stabil, dikarenakan oleh kontak antara kulit ibu
dan bayi. Sentuhan, emutan dan jilatan bayi pada puting susu ibu akan merangsang
pengeluaran hormon oxytosin yang menyebabkan rahim berkontraksi sehingga
mengurangi perdarahaan ibu dan membantu pelepasan plasenta. Bayi juga akan
terlatih motoriknya saat menyusu, sehingga mengurangi kesulitan posisi menyusu dan
mempererat hubungan ikatan ibu dan anak (JNKPK-KR, 2013).
Setelah selesai melakukan inisiasi menyusu dini bayi diberikan profilaksis Vit.
K1 1 mg, dan salep mata. Tindakan preventif dengan pemberian profilaksis vitamin
K1 pada bayi baru lahir adalah hal penting yang harus diingat oleh penolong
persalinan. Bayi baru lahir yang tidak mendapatkan profilaksis vitamin K memiliki
risiko tinggi terjadinya perdarahan akibat VKDB (Rizka, 2017). Pelayanan kesehatan
neonatal khusunya kunjungan neonatal (KN) dan pemberian injeksi vitamin K pada
bayi baru lahir secara statistik terdapat hubungan bermakna dengan kematian
neonatal di Indonesia (Sukamti, 2015).
2. Fase Tidur (Period Of Unresponsive Sleep)
Analisa:By Ny “E” usia 2 jamFisiologisdalamFasePeriodetidur
Penatalaksanaan:Menyampaikan pada ibu dan
keluargabahwabayidalamperiodetidurdimanadalamfaseinibayitidakmeresponterhadap
stimulus eksternal. Orang tuadapatmenggendong dan memelukbayinya.
Selamamasatidurmemberikankesempatanpadabayiuntukmemulihkandiri dari proses
persalinan dan periodetransisikekehidupan di luaruterin. (Varney Midwifery. 2004
dalam Armini, 2017).

3. Periode Reaktivitas II (The Second Periode Of Reaktivity)


Analisa:By Ny E usia 4 jam fisiologisdalamfase Re-aktifitaske 2
Penatalaksanaan:Memperhatikan saat bayi menyususerta memperhatikan tanda-
tanda penyulit dan observasibayiterhadapkemungkinantersedaksaatpengeluaran
mucus. Marmi dan Rahardjo (2015) menyatakan Reaktifitas II Berlangsung selama 4
sampai 6 jam setelah persalinan. Jantung bayi labil dan terjadi perubahan warna kulit
yang berhubungan dengan stimulus lingkungan. Tingkat pernafasan bervariasi
tergantung pada aktivitas. Neonatus mungkin membutuhkan makanan dan harus
menyusu. Pemberian Makan awal penting dalam pencegahan hipoglikemia dan
stimulasi pengeluaran kotoran dan pencegahan penyakit kuning. Pemberian makan
awal juga menyediakan kolonisasi bakteri isi perut yang mengarahkan pembentukan
vitamin K oleh traktus intestinal.
Untukpenatalaksanaanumum asuhan yang diberikansesuaidengan program
berupa pemberian HB0, perawatan tali pusat, menjaga suhu tubuh bayi agar tidak
hipotermi dan menganjurkan keluarga untuk memberikan ASI kepada bayi sesering
mungkin (on demand).
Berdasarkan asuhan yang diberikan, tidak ada kesenjangan antara teori dan
asuhan, karena pemantauan, perawatan dan konseling mengenai bayi baru lahir sudah
dilakukan.
BAB V
PENUTUP

A. KESIMPULAN
1. Data subyektif yang diperoleh bahwa ibu bersalin Ny. E umur 25 tahun G2P1A0
hamil 37 mingguadalah normal dan tidak ada kesenjangan dengan teori yang ada.
2. Dari data obyektif, hasil dari pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang yang
dilakukan kepada Ny. E dan bayi Ny.Eadalah normal dan tidak ada kesenjangan
dengan teori yang ada.
3. Hasil analisis dari kasus ini berdasarkan hasil pengkajian data subjektif dan objektif
pada pada pengkajian di lapangan Ny. E Usia 25 Tahun G2P1A0 Usia Hamil 37 Mgg
Janin Tunggal Hidup Intrauterin, Letak bujur, Presentasi Kepala, divergen, puki,
Inpartu Kala II.
4. Penatalaksanaan dari kasus Ny. Ediberikan masase pada punggung oleh bidan
kemudian dilanjutkan oleh suami, menghadirkan pendampingan suami selama proses
persalinan berlangsung agar suami memberikan dukungan kepada ibu, pada kala II
membantu ibu memilih posisi yang nyaman pada saat meneran dan mengajarkan cara
meneran yang benar kepada ibu. Melakukan penundaan penjepitan tali pusat bayi,
sampai arteri tidak berdenyut, kemudian setelah tali pusat di potong dilanjutkan
dengan melakukan IMD.
B. SARAN
Setelah melakukan asuhan kebidanan ibu bersalin pada Ny. E umur 25
TahunG2P1A0 hamil 37minggu, adapun saran yang ingin disampaikan oleh penulis
yaitu:
a. Bagi Ibu
Sebaiknya lebih terbuka dengan pemberi asuhan, sehingga dapat menyampaikan
keluhan atau kondisi kesehatannya tanpa ada rasa malu atau canggung dan percaya
pada pemberi asuhan bahwa tindakan yang dilakukan sesuai dengan prosedur yang
telah ditetapkan.
b. Bagi Bidan/ Pemberi layanan
Dapat memberikan Asuhan kebidanan pada ibu bersalin dan bayi baru lahir
sesuai dengan kebutuhan. Pengkajian dilakukan lebih mendalam sehingga keluhan-
keluhan klien dapat teratasi dengan baikdan mampu melaksanakan penatalaksanaan
berdasarkan evidence based
c. Bagi Instansi Pelayanan Kesehatan
Memberikan pelayanan yang bermutu kepada Klien.
d. Bagi Institusi Pendidikan
Sebaiknya institusi pendidikan senantiasa menyediakan sumber-sumber ilmu
terbaru mengenai asuhan pada ibu bersalin dan bayi baru lahir.
DAFTAR PUSTAKA

Artha IBRK, Kemara KP, & Megadhana IW. 2013. Penundaan Penjepitan Tali Pusat
Sebagai Strategi Yang Efektif Untuk Menurunkan Insiden Anemia Defisiensi Besi
Pada Bayi Baru Lahir. E-Jurnal Medika Udayana
Damayanti, I. P., Maita & Triana. (2014). Buku ajar: Asuhan kebidanan komprehensif
pada ibu bersalin dan bayi baru lahir. Yogyakarta: Deepublish
Fajaryani, T., Sucipto, E., & Andari, I. D. (2015). Perbedaan Tingkat Nyeri Persalinan
pada Ibu Bersalin Normal Kala I Primigravida dan Multigravida di BPM Ny.M
Slerok Kota Tegal Tahun 2014, (09).
Faradilah, Dhina Noor. (2014). Efektifitas Effleurage dan Abdominal Lifthing dengan
Relaksasi Nafas terhadap Tingkat Nyeri Persalinan Kala I di Klinik Bidan Indriani
Semarang. JurnalKeperawatan Vol. 7, No.2, Hal: 142-151.
Ilmiah, Widia Shofa. 2015. Buku Ajar Asuhan Persalinan Normal. Yogyakarta: Nuha
Medika.
Irawan. 2013. Inisiasi Menyusui Dini Tertunda Meningkatkan Resiko Kematian Neonatal
(jurnal) vol 117 No 31 hal E380-e386.
Jannah, Nurul.2017. ASKEB II Persalinan Berbasi Kompetensi. Jakarta: EGC
JNPK-KR. 2013. Pelatihan Asuhan Persalinan Normal & Inisiasi Menyusu Dini. Jakarta.
JNPK-KR. 2017. Asuhan Persalinan Normal. Jakarta: Departemen Kesehatan Indonesia
Kuswanti, Ina dan Fitria Melina. 2014. Askeb II Persalinan. Yogyakarta: Pustaka Belajar
Mander, R. 2013. Nyeri Persalinan. Jakarta: EGC.
Manuaba, Ida Bagus Gede. 2010. Ilmu Kebidanan, Penyakit Kandungan dan Keluarga
Berencana Untuk Pendidikan Bidan. Jakarta: EGC
Mochtar, Rustam. 2012. Sinopsis Obstetri: Obstetri Fisiologi, Obstetri Patologi. Edisi
ketiga. Jakarta: EGC.
Oktarina, M. 2016. Buku Ajar Asuhan Kebidanan Persalinan dan Bayi Baru
Lahir.Yogyakarta: Penerbit Deepublish

Prawirohardjo, Sarwono. 2014. Ilmu Kebidanan. Jakarta: PT. Bina Pustaka Sarwono
Rohani, dkk. (2013). Asuhan kebidanan pada masa persalinan. Jakarta: Salemba
Medika
Rokade BP. 2011. Release of endomorphin hormone and its effects on our body and
moods: a review. International Conference on Chemical, Biological and Environment
Sciences: 436-8.
Sharma, G. (2012). Maternal, parinatal, and neonatal mortality in South-East Asia
region. Asian Journal of Epidemiology 5 (1): 1-2
Setiawati, Dewi. 2013. Kehamilan Dan Pemeriksaan Kehamilan. Makasar: Alaudin
University Press.
Sondakh Jenny J.S. 2013. Asuhan Kebidanan Persalinan & Bayi Baru Lahir. Erlangga
Sulistyawati dan Nugraheny. 2013. Asuhan Kebidanan pada Ibu Bersalin. Yogyakarta:
Salemba Medika.
Sumarah. 2009. Perawatan Ibu Bersalin. Asuhan Kebidanan Pada Ibu Bersalin.
Yogyakarta: Fitramaya.
Sunarsih & Ernawati. (2016). Perbedaan Terapi Massage dan Terapi Relaksasi dalam
Mengurangi Nyeri Persalinan di Bidan Praktik Swasta (BPS) Ernawati Kecamatan
Banyumas. Jurnal Kesehatan Vol. VIII, No. 1, Hal: 8-12.
Supliyani, Elin. 2017. Pengaruh Masase Punggung Terhadap Intensitas Nyeri Persalinan
Kala 1 Di Kota Bogor. Jurnal Bidan “Midwife Jurnal” Volume 3 No. 01,Januari
2017. pISSN 2477-3441
Varney, H., Kriebs, J., & Gegor, C. (2007). Buku ajar asuhan kebidanan edisi: 4.
Jakarta: EGC
Yuliastuti, T., & Novita Nurhidayati. (2013). Pendampingan Suami dan Skala Nyeri
Pada Persalinan Kala 1 Fase Aktif. Bidan Prada: Jurnal Ilmiah Kebidanan, 4(1), 1–
14.

Anda mungkin juga menyukai