Laporan Asuhan Kebidanan Persalinan Fisiologis
Laporan Asuhan Kebidanan Persalinan Fisiologis
OLEH:
SUTRI
P1337424821125
Laporan Kasus Asuhan Kebidanan pada ibu bersalin dan BBL pada Ny. E usia 25
tahun G2 P1 A0 umur kehamilan 37 minggu inpartu kala II fisiologis di BKMIA
Kartini telah diperiksa dan disahkan pada 2021.
Banyumas, 2021
Pembimbing Klinik Pembimbing Institusi
PENGKAJIAN
TanggaL : 29Oktober 2021
Jam : 07.00 WIB
Tempat : BKMIA Kartini
IDENTITAS PASIEN
Nama : Ny. E Nama Pasangan : Tn. K
Umur : 25 tahun Umur : 27 tahun
Suku Bangsa : Jawa/Indonesia Suku Bangsa : Jawa/Indonesia
Agama : Islam Agama : Islam
Pendidikan : SMA Pendidikan : SMA
Alamat : Karangrau 2/1, Sokaraja
A. DATA SUBYEKTIF
1. Alasan Datang
Ibu datang ke Rumah sakit mengatakan perutnya kenceng-kenceng dan seperti
ingin BAB, ini merupakan kehamilan yang kedua
2. Keluhan Utama
Ibu mengatakan hamil 9 bulan mengeluh kenceng-kenceng menjalar dari
punggung bagian belakang dan perut bagian bawah yang semakin lama semakin
sering, dan keluar lendir disertai darah dari jalan lahir.
3. Tanda-tanda Persalinan:
Kontraksi: Sejak pukul 01.00 WIB tanggal 29Oktober 2021
Frekuensi: 4 x setiap 10 menit
Lamanya: 45detik
Lokasi Ketidaknyamanan: punggung bagian belakang
PPV: lendir darah
4. Riwayat Kesehatan:
Penyakit/ kondisi yang pernah atau sedang diderita: Ibu mengatakan tidak
sedang menderita penyakit menurun seperti asma, diabetes, darah tinggi, dan
tidak menderita penyakit menular seperti TBC (Tuberculosis), HIV (Human
Immunodeficiency Virus) dan hepatitis.
Riwayat penyakit dalam Keluarga (menular maupun keturunan): Ibu
mengatakan dalam keluarga tidak ada yang menderita penyakit menurun seperti
asma, diabetes, darah tinggi, dan tidak menderita penyakit menular seperti TBC
(Tuberculosis), HIV (Human Immunodeficiency Virus) dan hepatitis.
5. Riwayat Obstetri:
a. Riwayat Haid
Menarche : 13 tahun
Nyeri Haid :Tidak terdapat nyeri
Siklus : 29 hari
Lama : 7 hari
Warna Darah: merah segar
Leukhorea : menjelang menstruasi, tidak terasa gatal
Banyaknya : ganti pembalut 2-3 x sehari
b. Riwayat Kehamilan Sekarang:
1) Hamil ke 2 Usia kehamilan 37 minggu
2) HPHT: 11- 02-2021 HPL: 18- 11-2021
3) Gerak Janin
Pertama kali: usia kehamilan 16 minggu
Frekuensi dalam 12 jam: 8-10 kali
4) Tanda Bahaya: Ibu mengatakan selama hamil sampai saat ini tidak
pernah mengeluarkan darah banyak, pusing berlebihan, bengkak pada
tangan maupun kaki (PE), nyeri perut dan keluar cairan berbau anyir
dari jalan lahir (KPD), gerakan janin yang melemah atau tidak ada
tanda bahaya.
5) Kekhawatiran Khusus: Tidak ada
6) Imunisasi TT: T5
7) ANC: 10 kali
Riwayat Kehamilan, Persalinan, dan Nifas yang lalu:
B. DATA OBYEKTIF
1. Pemeriksaan Fisik
a. Pemeriksaan Umum:
1) Keadaan Umum: Baik
2) Kesadaran: Compos Mentis
3) Tensi: 110/80 mmHg
4) Nadi: 90 x/menit
5) Suhu: 36,6 ℃
6) RR: 22 x/menit
7) TB: 155 cm
8) BB: 60 kg
9) IMT: 21,4
10) LILA: 24
b. Status Present
Kepala : Bersih, tidak ada benjolan
Muka : Simetris, keadaan bersih, tidak ada cloasma gravidarum
dan tidak ada oedem
Mata : Simetris, fungsi penglihatan baik, tidak ada oedem,
konjungtiva merah muda, sclera tidak ikterik
Hidung : Simetris, bersih, tidak ada pembesaran polip, tidak ada
secret, tidak ada pernafasan cuping hidung
Mulut : Bersih, bibir tampak lembab,tidak ada stomatitis, lidah
bersih, tidak ada caries, gigi bersih.
Telinga : Bersih, tidak ada serumen, tidak ada lesi.
Leher : Tidak ada pembesaran kelenjar tiroid dan tidak ada
pembengkakan vena jugularis
Ketiak : Simetris, tidak ada pembesaran kelenjar limfe, tidak ada
lesi
Dada : Simetris, tidak terdengan ronchi dan wheezing
Abdomen : Tidak ada luka bekas operasi
Lipat Paha : tidak terdapat pebesaran kelenjar limfe
Vulva : tidak ada varises
Ekstremitas : tidak terdapat oedem, turgor kulit cepat
Reflex patella: +/+
Punggung : tidak terdapat kelainan tulang punggung
Anus : tidak terdapat hemoroid
c. Status Obstetrik
1) Inspeksi
Muka : tidak terdapat cloasma gravidarum, muka tidak oedem
Mamae :areola menghitam, puting menonjol dan bersih, tidak
teraba massa, kolostrum sudah keluar
Abdomen : terdapat linea nigra dan striae gravidarum
Vulva : tidak ada varises, tidak bengkak, tidak oedem
2) Palpasi:
Leopold I : Teraba bulat, lunak, tidak melenting (bokong)
Leopold II : bagian kiri teraba keras memanjang (punggung), dan
bagian kanan teraba bagian kecil (ekstremitas)
Leopold III : Teraba bulat, keras, melenting (kepala)
Leopold IV : Divergen (sudah masuk panggul)
Penurunan Kepala: 3/5 bagian
TFU: 27 cm, TBJ: 2800 gram
3) Auskultasi:
DJJ: 148 x/menit
2. Pemeriksaan Dalam tanggal/ jam: 29Oktober 2021/ 07.00 WIB
Vagina/ Vulva: tidak oedem
Serviks
1) Posisi: Anterior
2) Pembukaan: 10 cm
3) Effacement: 100%
Kulit ketuban:Utuh (+)
Presentasi: Belakang kepala
POD (PointOf Direction): Ubun-ubun kecil
Penyusupan: 0
Penurunan bagian terbawah: Kepala2/5
3. Pemeriksaan penunjang: rapid antigen: Negatif
C. ANALISA
Ny. E Usia 25 Tahun G2P1A0 Usia Hamil 37 Mgg Janin Tunggal Hidup
Intrauterin, Letak Kepala, puki, Inpartu Kala II
D. PENATALAKSANAAN
Tanggal : 29Oktober 2021
Jam : 07.00 WIB
Mengetahui,
Pembimbing Institusi
29Oktober 2021/
07.15 WIB
S:
O:
- TD 120/70 mmHg
- Nadi: 88 x/menit
- Suhu: 36,7 0C
- KK (-) jernih
A:
P:
H: Oksitosin siap 10 IU
H: pembukaan sudah 10 cm
7. Memeriksa DJJ
H: DJJ 146x/menit
29Oktober 2021/
07.36 WIB
S:
O:
- KU: Baik
- N: 84 x/menit
- RR: 20 x/menit
A:
P:
29 Oktober
2021/ 07.45
WIB
S:
O:
Kontraksi baik
A:
P:
2. Membersihkan ibu
Total 250 cc
SUBYEKTIF
(S)
2. Vital Sign
3. Pengukuran Antropometri
4. Keadaan Bayi
a. Menangis : Kuat
c. Turgor : Baik
ANALISA (A) By. Ny. E usia 1 jam fisiologis periode pertama reaktifitas
Hasil:Salep matatelahdiberikan.
8. Mendokumentasikan
2. Pola Eliminasi
BAB: belum
BAK: sudah
3. Pola Hygiene
4. Pola Tidur
3. Status present
3. Mendokumentasikan
2. Pola Eliminasi
3. Pola Hygiene
4. Pola Tidur
4. Reflek
a. Kebersihan bayi
Dalam BAB ini penulis membahas asuhan kebidanan persalinan dan bayi baru
lahir fisiologis pada Ny. E usia 25 tahun G2P1A0 hamil 37 minggu inpartu kala II
yang meliputi:
A. Data Subyektif
Pada pengumpulan data awal, dilakukan anamnesa kepada pasien dan
diperoleh Ny. E usia 25 tahun menyatakan ini kehamilan yang kedua dan tidak
pernah mengalami keguguran. Mengatakan datang ke Rumah Sakit dengan
keluhan merasakan kenceng-kenceng sejak pukul 01.00 WIB tanggal 29Oktober
2021 yang semakin sering dan teratur dan merasakan nyeri di punggung bagian
belakang. Selain itu, Ny. E juga telah mengeluarkan lendir bercampur darah. Ibu
mengatakan menstruasi terakhir tanggal 11Februari 2021, dan usia kehamilannya
sekarang sudah mencapai 9 bulan. Hasil pemeriksaan usia kehamilan dilihat
dengan menggunakan rumus neagle, mulai dari hari pertama haid terakhir sampai
tanggal pengkajian, maka umur kehamilan 37 minggu(Prawirohardjo, 2014).
Ny. E mengatakan selama hamil ia tidak pernah merasakan nyeri perut yang
hebat. Ny. E tidak pernah mengalami trauma selama kehamilan yang sekarang
maupun yang lalu, pasien tidak pernah mengalami penyulit dan trauma selama
persalinan dan nifas yang lalu, pasien tidak memiliki riwayat penyakit seperti
hipertensi, asma, jantung, diabetes mellitus, dan penyakit menular lainnya, pasien
mengatakan menggunakan alat kontrasepsi berupa suntik 3 bulan setelah
kelahiran anak pertama dan kedua, dan berhenti KB karena ingin hamil lagi.
Menjelang persalinan nutrisi pasien terpenuhi dengan baik, istirahat cukup,
aktifitas pasien tetap melakukan pekerjaan rumah tangga.
Berdasarkan pengkajian asuhan Kala II yang telah didapatkan pada kasus
Ny. E diperoleh data subyektif ibu merasakan kencengnya semakin kuat dan ibu
merasakan adanya tekanan pada anus seperti ingin BAB. Ibu mengatakan
mengeluarkan cairan yang banyak (ngepyok) dari jalan lahir. Tanda dan gejala
Kala II ditandai dengan adanya pembukaan lengkap (tidak teraba lagi
bibirportio), ini terjadi karena adanya dorongan bagian terbawah janin yang
masuk ke dalam dasar panggul karena kontraksi uterus yang kuat sehingga portio
membuka secara perlahan, his yang lebih sering dan kuat (± 2-3 menit 1 kali) dan
timbul rasa mengedan, karena biasanya dalam hal ini bagian terbawah janin
masuk ke dasar panggul sehingga terjadi tekanan pada otot-otot dasar panggul,
yang secara reflektoris menimbulkan rasa mengedan. Pecahnya kantung ketuban
karena kontraksi yang menyebabkan terjadinya perbedaan tekanan yang besar
antara tekanan di dalam uterus dan di luar uterus sehingga kantung ketuban tidak
dapat menahan tekanan isi uterus akhirnya kantung ketuban pecah (Widia, 2015).
Berdasarkan pengkajian asuhan Kala III data subyektif ibu merasakan
perutnya terasa mulas. Pada teori menjelaskan bahwa Kala III sejak bayi lahir
sampai lahirnya plasenta atau uri. Kala III merupakan periode waktu dimana
penyusutan volume rongga uterus setelah kelahiran bayi. Penyusutan ukuran ini
menyebabkan berkurangnya ukuran tempat perlengketan plasenta. Oleh karena
tempat perlengketan menjadi kecil, sedangkan ukuran plasenta tidak berubah,
maka plasenta menjadi berlipat, menebal, dan kemudian lepas dari dinding uterus
(Ina Kuswati dkk, 2014).
Berdasarkan pengkajian asuhan Kala IV data subyektif ibu merasa lelah
setelah menjalani proses persalinan dan merasakan mulas pada perutnya. Teori
menjelaskan Kala IV ditetapkan sebagai waktu dua jam setelah plasenta lahir
lengkap, hal ini dimaksudkan agar dokter, bidan, atau penolong persalinan masih
mendampingi wanita setelah persalinan selama 2 jam (2 jam post partum).
Dengan hal ini kejadian-kejadian yang tidak diinginkan dapat dikurangi atau
dihindarkan (Dwi Asri dkk, 2012).
Berdasarkan uraian di atas mulai Kala II sampai Kala IV persalinan, terdapat
persamaan antara teori dengan gejala yang timbul pada persalinan normal. Hal
ini membuktikan bahwa tidak ditemukan adanya kesenjangan antara teori dengan
kasus.
B. Data Obyektif
Pada pemeriksaan fisik didapatkan kesadaran composmentis, keadaan umum
baik, TD 110/80 mmHg, Nadi 90 x/menit, suhu 36,6 0C, pernafasan 20 x/menit.
Ekspresi wajah tampak cemas dan meringis menahan sakit, serta tidak ada edema dan
pembengkakan di wajah, kedua konjungtiva mata terlihat merah muda dan tidak
anemis, tidak ada pembesaran pada kelenjar tiroid, limfe, dan vena jugularis,
payudara tampak simetris, hiperpigmentasi pada aerola mamae. Pemeriksaan
abdomen didapatkan tinggi fundus uteri (TFU) 3 jari di bawah Prosesus Xipoideus,
27 cm, teraba bokong dan sesuai usia kehamilan 37 minggu, punggung di kiri,
presentasi kepala, dengan penurunan bagian terbawah 3/5 bagian, pada auskultasi
terdengar denyut jantung dengan frekuensi 148 x/menit, janin intrauterine, tunggal,
dan hidup.
Pada pemeriksaan dalam pertama tanggal 29Oktober 2021 pukul 07.00 WIB
yaitu, tidak ditemukan kelainan pada vulva dan vagina, keadaan portio lunak dan
tipis, terdapat pembukaan 10 cm, ketuban masih utuh, presentasi kepala yaitu ubun-
ubun kecil kanan lintang, penurunn hodge III, tidak ada molase dan penumbungan tali
pusat, serta kesan panggul normal. Pemeriksaan tanggal 29 Oktober 2021 jam 07.15
WIB didapatkan hasil tidak ada kelainan pada vulva dan vagina, terdapat pembukaan
10 cm, ketuban sudah pecah dengan warna air ketuban jernih, presentasi kepala yaitu
ubun-ubun kecil sudah di bawah sympisis, penurunan hodge IV, tidak ada molase dan
penumbungan.
Pada pemeriksaan Leopold untuk menentukan tinggi fundus uteri dilakukan pada
saat uterus tidak sedang berkontraksi, dengan posisi ibu setengah duduk, lalu mulai
melakukan pengukuran dengan menempelkan ujung pita dari tepi simfisis pubis dan
puncak fundus uteri hal tersebut dilakukan untuk menilai tinggi fundus uteri apakah
tinggi fundus uteri sesuai dengan usia kehamilan atau tidak, dan untuk menentukan
presentasi janin dilakukan dengan mempertimbangkan bentuk, ukuran, dan kepadatan
bagian tersebut. Jika dalam perabaan pada fundus uteri bulat, keras dan melenting
maka dapat dikatakan sebagai presentasi bokong karena kepala janin berada pada
bagian fundus atau jika bagian fundus uteri teraba lunak, kurang melenting dapat
dikatakan presentasi kepala (Ai Nursiah dkk, 2014).
Untuk menilai penurunan kepala janin dilakukan dengan menghitung proporsi
bagian terbawah janin yang masih berada di atas sympisis dan dapat diukur dengan
lima jari tangan (per limaan), bagian di atas sympisis adalah proporsi yang belum
masuk pintu atas panggul (PAP) dan sisanya telah memasuki pintu atas panggul
(PAP) (Widia, 2015).
Di dalam kehamilan, janin dikatakan tunggal jika pembesaran perut sesuai
dengan usia kehamilan. Saat palpasi teraba satu kepala dan satu punggung, sedangkan
auskultasi denyut jantung janin terdengar jelas, kuat, dan teratur pada kuadran bawah
perut bawah ibu (Baety, 2012). Adanya gerakan janin dan denyut jantung janin (DJJ)
merupakan tanda bahwa janin hidup. Janin yang dalam keadaan sehat, bunyi
jantungnya teratur dan frekuensinya antara 120-160 kali per menit, selain itu tanda
janin hidup juga dapat dilihat dari pergerakan janin yang dirasakan kuat oleh ibu satu
kali per jam atau lebih dari 10 kali per hari dan pembesaran uterus menandakan janin
hidup dan bertumbuh (Prawirohardjo, 2014).
Data obyektif pada kasus Ny. E pada kala II didapat dimana tampak perineum
menonjol, vulva-vagina dan sfingter ani mulai membuka, meningkatnya produksi
pengeluaran lendir bercampur dengan darah dan pada pemeriksaan tanda pasti kala II
ditentukan melalui pemeriksaan dalam yang hasilnya pembukaann serviks telah
lengkap dan terlihatnya bagian kepala bayi melalui introitus vagina. Sedangkan teori
menerangkan bahwa kala II dimulai sejak pembukaan lengkap sampai lahirnya bayi,
gejala dan tanda kala II yaitu dimana kontraksi uterus menjadi lebih kuat dan sering
(± 2-3 menit 1 kali) dan timbul rasa mengedan, dimana air ketuban yang keluar
membuat dinding uterus menjadi lebih dekat dengan fetus, sehingga kekuatan
kontraksi lebih intensif untuk mendrong keluar fetus, dan juga vagian yang meregang
karena turunnya kepala akan membuat kontraksi menjadi lebih baik.
Bagian terbawah janin masuk ke dasar panggul sehingga menekan rectum dan
rasa buang air besar, hal ini menyebabkan anus membuka, vulva terbuka, perineum
menonjol, karena bagian terbawah janin sudah masuk PAP dan di tambah pula
adanya his serta kekuatan menggedan menyebabkan vulva terbuka dan perineum
menonjol, karena perineum bersifat elastic, bagian terdepan janin kelihatan pada
vulva, karena ada his dan tenaga mengedan menyebabkan bagian terbawah janin
dapat dilahirkan (Widia, 2015).
Berdasarkan hasil perlangsungan kala III pada Ny. E pada data obyektif
diperoleh hasil pemeriksaan yaitu bayi lahir spontan pada tanggal 29Oktober 2021
jam 07.35 WIB, kala II berlangsung selama ±35 menit tanpa ada penyulit serta tali
pusat masih nampak di vulva. Proses pengeluaran plasenta berlangsung ± 10 menit.
Plasenta lahir lengkap tanggal 29Oktober 2021 jam 04.45 WIB, tinggi fundus uteri
setinggi pusat, kontraksi uterus baik (teraba keras dan bundar), perdarahan ±200 cc
dan kandung kemih kosong.
C. Analisa
Berdasarkan hasil pemeriksaan dari data subyektif dan data obyektif diperoleh
hasil analisa Ny. E Usia 25 Tahun G2P1A0 Usia Hamil 37 Mgg Janin Tunggal Hidup
Intrauterin, Letak bujur, Presentasi Kepala, divergen, puki, Inpartu Kala II
D. Penatalaksanaan
Pada studi kasus Ny. E dengan persalinan normal, semua tindakan yang
direncanakan terlaksana dengan baik. Seperti menyampaikan hasil pemeriksaan
dengan baik, memberikan kesempatan kepada pasien dan keluarga untuk bersama
memberikan dukungan moril, kepada ibu dan keluarga untuk mengambil keputusan
penting dengan membesarkan hati ibu dan keluarga bahwa janin dapat lahir melewati
jalan lahir secara normal, memberikan dukungan psikologis pada ibu dan keluarga,
serta memenuhi kebutuhan cairan dan nutrisi ibu.
Persalinan juga perlu didukung oleh kondisi psikologi pasien yang baik.
Psikologi yang baik dapat terjadi karena berbagai hal yaitu adanya dukungan dari
suami dan kondisi ibu yang percaya diri dalam menjalani persalinan sehingga ibu
tidak merasakan nyeri persalinan yang berat. Selain itu, paritas ibu mempengaruhi
kesiapan ibu dalam menghadapi persalinan, pengalaman yang baik tentang persalinan
sebelumnya akan membuat ibu berasumsi bahwa persalinan bukanlah sesuatu yang
menyakitkan (Sunarsih, 2016). Pendampingan oleh keluarga saat ibu akan bersalin
mempengaruhi tingkat kecemasan pada ibu. Dukungan keluarga terutama dukungan
yang didapatkan dari suami akan menimbulkan ketenangan batin, perasaan senang,
aman dan nyaman sehingga kecemasan ibu bersalin berkurang.
Pemantauan selanjutnya yaitu pada kala I persalinan ibu merasakan nyeri pada
daerah punggung dan menjalar di perut bagian bawah. Terdapat lendir darah, keadaan
umum ibu baik, ibu tampak meringis menahan sakit pada saat kontraksi, tanda-tanda
vital dalam batas normal, pemeriksaan dalam (VT jam 07.00 WIB) adalah 10 cm.
Nyeri pada proses persalinan diakibatkan karena kontraksi uterus serta dilatasi mulut
rahim dan segmen bawah rahim. Intensitas nyeri sebanding dengan kekuatan
kontraksi dan tekanan yang terjadi, nyeri bertambah ketika mulut rahim dalam
keadaan dilatasi penuh akibat tekanan bayi terhadap struktur panggul diikuti regangan
dan perobekan jalan lahir (Mander, 2013). Sifat-sifat dari his persalinan yaitu nyeri
melingkar dari punggung memancar ke perut bagian depan, teratur, makin lama
makin pendek intervalnya dan makin kuat intensitasnya, jika dibawa berjalan
bertambah kuat, dan mempunyai pengaruh pada pendataran atau pembukaan serviks
(Dewi Setiawati, 2013).
Penatalaksanaan yang diberikan kepada Ny. E untuk mengurangi keluhan nyeri
yang dirasakan pada persalinan yaitu memberikan masase punggung dan
mengajarkan suaminya untuk melakukan masase pada Ny. E. Hasil penelitian Aryani
(2015) menyimpulkan bahwa ada pengaruh masase punggung terhadap kadar
endorphin ibu bersalin kala I fase laten persalinan normal, hal tersebut menunjukkan
bahwa terdapat hubungan yang kuat antara kadar endorphin dengan intensitas nyeri
kala I persalinan. Endorfin berperan sebagai neuromodulator yang menghambat
pengiriman pesan nyeri.
Masase merupakan salah satu cara yang dapat dilakukan dalam usaha
mengurangi nyeri selama proses persalinan, dengan masase dapat merangsang
analgesic endogen (endorphin), dan mengganggu transmisi nyeri dengan cara
meningkatkan sirkulasi neurotransmitter yang dihasilkan secara alami oleh tubuh
pada sinaps neural di jalur sistem saraf pusat. (Rokade,2011). Beta-endorfin
(subkelompok betalipotropin) menghambat pembentukan prostagladin dan
mengurangi efeknya. Zat ini diaktifkan oleh stres dan nyeri persalinan dan dihasilkan
oleh kelenjar hipofisis. Zat ini berkaitan erat dengan reseptor opiat dan bekerja
sebagai pembawa pesan kimia serta bekerja seperti analgesia dengan cara
menghambat substansi P, neurotransmiter nosiseptif sehingga menghambat transmisi
impuls.
Hasil penelitian Supliyani E. (2017) menunjukkan bahwa masase pada punggung
selama 30 menit dapat mengurangi nyeri kala 1 persalinan normal. Hasil ini sejalan
dengan pendapat Sherwood (2011) yang menyatakan bahwa tekanan tersebut dapat
mengaktivasi serabut saraf berdiameter besar untuk menutup pintu gerbang hantaran
nyeri yang dibawa oleh serabut saraf berdiameter kecil sehingga tertutupnya hantaran
nyeri ke kortek serebral dan mengakibatkan nyeri berkurang.
Selain memberikan masase pada punggung, Ny. E juga diajarkan tehnik relaksasi
dengan nafas dalam. Faradillah, (2014) menyatakan bahwa teknik relaksasi nafas
dalam dapat menurunkan intensitas nyeri dengan cara merileksasikan otot-otot skelet
yang mengalami spasme yang disebabkan oleh peningkatan prostaglandin sehingga
terjadi vasodilatasi pembuluh darah dan akan meningkatkan aliran darah ke daerah
yang mengalami spasme dan iskemik. Pada kondisi rileks tubuh akan menghentikan
produksi hormon adrenalin dan semua hormon yang diperlukan saat stress. Karena
hormon seks estrogen dan progesteron serta hormon stress adrenalin diproduksi dari
blok bangunan kimiawi yang sama. Ketika kita mengurangi stres maka mengurangi
produksi kedua hormon seks tersebut. Jadi, perlunya relaksasi untuk memberikan
kesempatan bagi tubuh untuk meproduksi hormon yang penting untuk mendapatkan
tubuh yang bebas dari nyeri.
Pemantauan selanjutnya yaitu kala II persalinan. Tindakan asuhan yang diberikan
pada kala II adalah melakukan pimpinan meneran saat ibu ada dorongan yang kuat
untuk meneran pada pukul 07.15 WIB. Ibu diajarkan posisi miring ke kiri sambil
mengedan untuk mempercepat proses persalinan. Setelah kepala tampak 5 cm di
depan vulva mengatur posisi senyaman mungkin bagi ibu dengan setengah duduk.
Pimpinan meneran ±15 menit, bayi lahir spontan dengan presentasi belakang kepala
dan tidak terdapat kelainan pada bagian wajah dan badan, berat badan 2500 gram,
panjang badan 47 cm.
Berdasarkan hasil penelitian dari Indrasari N. (2014) disimpulkan bahwa posisi
miring dapat memberikan rasa santai bagi ibu yang letih, oksigenasi yang baik bagi
bayi, dan membantu pencegahan laserasi. Seperti yang dikatakan Simkins (2005)
dalam Indrasari N. (2014) posisi miring memungkinkan ibu yang lelah untuk
istirahat, gaya gravitasi netral, dapat mengurangi hemoroid, dapat mengatasi masalah
detak jantung janin, membantu menurunkan tekanan darah tinggi khususnya posisi
lateral kiri, menghindari tekanan terhadap sakrum, dapat meningkatkan kemajuan
persalinan saat mengganti intervensi berjalan dan dapat menambah rotasi pada bayi
dengan oksiput posterior. Posisi ibu dalam keadaan miring merupakan sebagai usaha
untuk membebaskan kompresi aortokaval dan memperbaiki aliran darah balik, curah
jantung dan aliran darah uteroplasenter.
Posisi setengah duduk adalah posisi istirahat dan netral terhadap gaya gravitasi.
Posisi ini akan membantu seorang wanita yang kelelahan untuk menghemat
energinya. Posisi setengah duduk adalah posisi dimana ibu duduk dengan tubuh
membentuk sudut 450 terhadap tempat tidur dengan kedua lutut dinaikkan atau
dirangkul mendekati dada. Posisi setengah duduk merupakan posisi yang nyaman
pada saat proses persalinan sehingga ibu lebih mudah untuk meneran. Posisi ini
mudah untuk dilakukan, dapat memperbaiki oksigenasi janin dan menambah dimensi
pintu atas panggul.
Setelah bayi lahir melakukan pengecekan fundus dan tidak ada lagi bayi dalam
uterus, kemudian memberitahu ibu dan menyuntikkan oksitosin untuk membantu
proses pengeluaran plasenta. Melakukan penundaan pemotongan tali pusat pada Kala
II. Penundaan penjepitan tali pusat dapat menyediakan tambahan darah sebanyak 80-
100 ml pada bayi baru lahir. Penundaan waktu penjepitan tali pusat sekitar 2-3 menit
dapat memberikan redistribusi darah diantara plasenta dan bayi, memberikan bantuan
placental transfusion yang didapatkan oleh bayi sebanyak 35-40 ml/kg dan
mengandung 75 mg zat besi sebagai hemoglobin, yang mencukupi kebutuhan zat besi
bayi pada 3 bulan pertama kehidupannya. Sebaliknya penjepitan tali pusat secara dini
(kurang lebih 10-15 detik setelah kelahiran) dapat menghalangi sebagian besar
jumlah zat besi yang masuk ke dalam tubuh bayi. Penundaan penjepitan tali pusat
juga dapat meningkatkan penyimpanan zat besi saat lahir sehingga dapat mencegah
terjadinya anemia defisiensi besi.
Setelah tali pusat dipotong, bayi segera dikeringkan keculi telapak tangan dan
kaki, kemudian dilanjutkan dengan IMD. Inisiasi Menyusu Dini atau Permulaan
Menyusu Dini adalah bayi mulai menyusu sendiri segera setelah lahir. Sebenarnya
bayi manusia juga seperti mamalia lain mempunyai kemampuan untuk menyusu
sendiri. Asalkan dibiarkan kontak kulit bayi dengan kulit ibunya, setidaknya selama
satu jam segera setelah lahir. Cara melakukan inisiasi menyusu dini ini dinamakan the
breast crawl atau merangkak mencari payudara sendiri (Irawan, 2013).
Manfaat Inisiasi Menyusu Dini, bayi dan ibu menjadi lebih tenang, tidak stres,
pernafasan dan detak jantung lebih stabil, dikarenakan oleh kontak antara kulit ibu
dan bayi. Sentuhan, emutan dan jilatan bayi pada puting susu ibu akan merangsang
pengeluaran hormon oxytosin yang menyebabkan rahim berkontraksi sehingga
mengurangi perdarahaan ibu dan membantu pelepasan plasenta. Bayi juga akan
terlatih motoriknya saat menyusu, sehingga mengurangi kesulitan posisi menyusu dan
mempererat hubungan ikatan ibu dan anak (JNKPK-KR, 2013).
Pemantauan selanjutnya yaitu pada pematauan kala III persalinan. Kala III
dimulai setelah bayi lahir pukul 07.35 WIB dan ditandai dengan adanya semburan
darah tiba-tiba serta tali pusat bertambah panjang. Tindakan yang dilakukan pada saat
kala III yaitu melakukan manajemen aktif kala III. Plasenta dan selaput ketuban lahir
pukul 07.45 WIB kontraksi uterus baik dan TFU 2 jari di bawah pusat. Lama kala III
adalah 10 menit.
Pemantauan dilanjutkan pada kala IV persalinan. Kala IV persalinan dimulai
setelah plasenta lahir. Ibu merasakan lega setelah melahirkan dan masih sedikit
mules, keadaan umum ibu baik, ibu tampak kelelahan. Tindakan yang dilakukan
adalah yaitu menjelaskan kepada ibu tentang kondisinya saat ini dan keluhan yang di
alami adalah normal pasca melahirkan. Tindakan selanjutnya adalah pemantauan 2
jam postpartum. Setelah dilakukan pemantauan, meminta suami atau keluarga agar
selalu menemani dan memenuhi kebutuhan ibu, mengajarkan ibu dan keluarga cara
memantau kontraksi uterus.
Dalam penatalaksanaan tindakan asuhan kebidanan penulis tidak menemukan
hambatan yang berarti karena seluruh tindakan yang dilakukan sudah berorientasi
pada kebutuhan klien.
PEMBAHASAN BAYI BARU LAHIR
A. KESIMPULAN
1. Data subyektif yang diperoleh bahwa ibu bersalin Ny. E umur 25 tahun G2P1A0
hamil 37 mingguadalah normal dan tidak ada kesenjangan dengan teori yang ada.
2. Dari data obyektif, hasil dari pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang yang
dilakukan kepada Ny. E dan bayi Ny.Eadalah normal dan tidak ada kesenjangan
dengan teori yang ada.
3. Hasil analisis dari kasus ini berdasarkan hasil pengkajian data subjektif dan objektif
pada pada pengkajian di lapangan Ny. E Usia 25 Tahun G2P1A0 Usia Hamil 37 Mgg
Janin Tunggal Hidup Intrauterin, Letak bujur, Presentasi Kepala, divergen, puki,
Inpartu Kala II.
4. Penatalaksanaan dari kasus Ny. Ediberikan masase pada punggung oleh bidan
kemudian dilanjutkan oleh suami, menghadirkan pendampingan suami selama proses
persalinan berlangsung agar suami memberikan dukungan kepada ibu, pada kala II
membantu ibu memilih posisi yang nyaman pada saat meneran dan mengajarkan cara
meneran yang benar kepada ibu. Melakukan penundaan penjepitan tali pusat bayi,
sampai arteri tidak berdenyut, kemudian setelah tali pusat di potong dilanjutkan
dengan melakukan IMD.
B. SARAN
Setelah melakukan asuhan kebidanan ibu bersalin pada Ny. E umur 25
TahunG2P1A0 hamil 37minggu, adapun saran yang ingin disampaikan oleh penulis
yaitu:
a. Bagi Ibu
Sebaiknya lebih terbuka dengan pemberi asuhan, sehingga dapat menyampaikan
keluhan atau kondisi kesehatannya tanpa ada rasa malu atau canggung dan percaya
pada pemberi asuhan bahwa tindakan yang dilakukan sesuai dengan prosedur yang
telah ditetapkan.
b. Bagi Bidan/ Pemberi layanan
Dapat memberikan Asuhan kebidanan pada ibu bersalin dan bayi baru lahir
sesuai dengan kebutuhan. Pengkajian dilakukan lebih mendalam sehingga keluhan-
keluhan klien dapat teratasi dengan baikdan mampu melaksanakan penatalaksanaan
berdasarkan evidence based
c. Bagi Instansi Pelayanan Kesehatan
Memberikan pelayanan yang bermutu kepada Klien.
d. Bagi Institusi Pendidikan
Sebaiknya institusi pendidikan senantiasa menyediakan sumber-sumber ilmu
terbaru mengenai asuhan pada ibu bersalin dan bayi baru lahir.
DAFTAR PUSTAKA
Artha IBRK, Kemara KP, & Megadhana IW. 2013. Penundaan Penjepitan Tali Pusat
Sebagai Strategi Yang Efektif Untuk Menurunkan Insiden Anemia Defisiensi Besi
Pada Bayi Baru Lahir. E-Jurnal Medika Udayana
Damayanti, I. P., Maita & Triana. (2014). Buku ajar: Asuhan kebidanan komprehensif
pada ibu bersalin dan bayi baru lahir. Yogyakarta: Deepublish
Fajaryani, T., Sucipto, E., & Andari, I. D. (2015). Perbedaan Tingkat Nyeri Persalinan
pada Ibu Bersalin Normal Kala I Primigravida dan Multigravida di BPM Ny.M
Slerok Kota Tegal Tahun 2014, (09).
Faradilah, Dhina Noor. (2014). Efektifitas Effleurage dan Abdominal Lifthing dengan
Relaksasi Nafas terhadap Tingkat Nyeri Persalinan Kala I di Klinik Bidan Indriani
Semarang. JurnalKeperawatan Vol. 7, No.2, Hal: 142-151.
Ilmiah, Widia Shofa. 2015. Buku Ajar Asuhan Persalinan Normal. Yogyakarta: Nuha
Medika.
Irawan. 2013. Inisiasi Menyusui Dini Tertunda Meningkatkan Resiko Kematian Neonatal
(jurnal) vol 117 No 31 hal E380-e386.
Jannah, Nurul.2017. ASKEB II Persalinan Berbasi Kompetensi. Jakarta: EGC
JNPK-KR. 2013. Pelatihan Asuhan Persalinan Normal & Inisiasi Menyusu Dini. Jakarta.
JNPK-KR. 2017. Asuhan Persalinan Normal. Jakarta: Departemen Kesehatan Indonesia
Kuswanti, Ina dan Fitria Melina. 2014. Askeb II Persalinan. Yogyakarta: Pustaka Belajar
Mander, R. 2013. Nyeri Persalinan. Jakarta: EGC.
Manuaba, Ida Bagus Gede. 2010. Ilmu Kebidanan, Penyakit Kandungan dan Keluarga
Berencana Untuk Pendidikan Bidan. Jakarta: EGC
Mochtar, Rustam. 2012. Sinopsis Obstetri: Obstetri Fisiologi, Obstetri Patologi. Edisi
ketiga. Jakarta: EGC.
Oktarina, M. 2016. Buku Ajar Asuhan Kebidanan Persalinan dan Bayi Baru
Lahir.Yogyakarta: Penerbit Deepublish
Prawirohardjo, Sarwono. 2014. Ilmu Kebidanan. Jakarta: PT. Bina Pustaka Sarwono
Rohani, dkk. (2013). Asuhan kebidanan pada masa persalinan. Jakarta: Salemba
Medika
Rokade BP. 2011. Release of endomorphin hormone and its effects on our body and
moods: a review. International Conference on Chemical, Biological and Environment
Sciences: 436-8.
Sharma, G. (2012). Maternal, parinatal, and neonatal mortality in South-East Asia
region. Asian Journal of Epidemiology 5 (1): 1-2
Setiawati, Dewi. 2013. Kehamilan Dan Pemeriksaan Kehamilan. Makasar: Alaudin
University Press.
Sondakh Jenny J.S. 2013. Asuhan Kebidanan Persalinan & Bayi Baru Lahir. Erlangga
Sulistyawati dan Nugraheny. 2013. Asuhan Kebidanan pada Ibu Bersalin. Yogyakarta:
Salemba Medika.
Sumarah. 2009. Perawatan Ibu Bersalin. Asuhan Kebidanan Pada Ibu Bersalin.
Yogyakarta: Fitramaya.
Sunarsih & Ernawati. (2016). Perbedaan Terapi Massage dan Terapi Relaksasi dalam
Mengurangi Nyeri Persalinan di Bidan Praktik Swasta (BPS) Ernawati Kecamatan
Banyumas. Jurnal Kesehatan Vol. VIII, No. 1, Hal: 8-12.
Supliyani, Elin. 2017. Pengaruh Masase Punggung Terhadap Intensitas Nyeri Persalinan
Kala 1 Di Kota Bogor. Jurnal Bidan “Midwife Jurnal” Volume 3 No. 01,Januari
2017. pISSN 2477-3441
Varney, H., Kriebs, J., & Gegor, C. (2007). Buku ajar asuhan kebidanan edisi: 4.
Jakarta: EGC
Yuliastuti, T., & Novita Nurhidayati. (2013). Pendampingan Suami dan Skala Nyeri
Pada Persalinan Kala 1 Fase Aktif. Bidan Prada: Jurnal Ilmiah Kebidanan, 4(1), 1–
14.