Anda di halaman 1dari 14

A. Umum 1.

Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam menyusun perjanjian internasional: -Aspek politis: dilarang membuat perjanjian internasional dengan negara yang tidak memiliki hubungan diplomasi. -Aspek yuridis: perjanjian internasional wajib mematuhi kaidah hukum. -Aspek teknis: perjanjian internasional disusun dengan mempertimbangkan kesiapan kementerian-kementerian terkait. -Aspek keamanan: perjanjian internasional tidak boleh mengganggu stabilitas negara. 2. Untuk memastikan dijalankannya tahapan-tahapan penyusunan perjanjian internasional (konsultasi, koordinasi, dan sebagainya), Kemlu memanfaatkan momentum kebutuhan kementerian pemrakarsa akan surat kuasa (full power) dan/atau kertas perjanjian yang dikeluarkan oleh Kemlu. 3. Perjanjian internasional yang mempersyaratkan ratifikasi tidak berlaku jika salah satu pihak belum meratifikasi perjanjian tersebut. Setelah diratifikasi, berlakunya perjanjian tersebut bergantung pada paham yang berlaku di negara tersebut: monisme atau dualisme. 4. Pasal 26 Konvensi Wina 1969: perjanjian mengikat para pihak yang membuatnya dan harus dilaksanakan dengan itikad baik. Pasal 27: negara tidak dapat menggunakan hukum nasional untuk menjustifikasi kegagalannya dalam menjalankan kewajibannya yang timbul dari perjanjian internasional. B. Monisme & Dualisme Hubungan antara hukum internasional dan hukum nasional bergantung pada paham yang diterapkan suatu negara. Terdapat dua paham dalam hal ini: dualisme dan monisme. 1. Dualisme Paham ini memperlakukan hukum internasional sebagai sistem hukum yang terpisah dari hukum nasional. Dengan kata lain, hukum internasional perlu ditransformasi ke dalam hukum nasional supaya dapat diterapkan. Menurut paham ini, perjanjian internasional yang memerlukan ratifikasi, setelah ratified by each contracting party, tidak lantas masuk ke dalam hukum nasional. Perjanjian tersebut harus melalui proses transformasi (meskipun ratifikasi dilakukan dengan UU atau Perpres). Demikian pula halnya perjanjian internasional yang tidak memerlukan ratifikasi: tidak lantas masuk ke dalam hukum nasional setelah ditandatangani, tetapi harus melalui proses transformasi terlebih dahulu.

2. Monisme Paham ini menempatkan hukum internasional dan hukum nasional sebagai bagian dari satu kesatuan sistem hukum. Dengan demikian, terdapat hierarki atas kedua hukum ini. Ada yang berpendapat bahwa hukum internasional merupakan bagian dari hukum nasional (disebut primat hukum nasional), dan dengan demikian hukum nasional berkedudukan lebih tinggi dari hukum internasional. Ada juga yang berpendapat bahwa hukum nasional merupakan bagian dari hukum internasional (disebut primat hukum internasional), dan dengan demikian hukum internasional berkedudukan lebih tinggi dari hukum nasional. Menurut paham ini, setelah ratified by each contracting party, perjanjian internasional yang memerlukan ratifikasi secara otomatis masuk ke dalam ruang lingkup hukum nasional tanpa harus melalui proses transformasi. Demikian pula halnya perjanjian internasional yang tidak memerlukan ratifikasi: otomatis masuk ke dalam ruang lingkup nasional setelah ditandatangani. Catatan Contoh UU ratifikasi: UU Nomor 17 Tahun 1985. Contoh UU transformasi: UU Nomor 6 Tahun 1996. Keduanya terkait dengan UNCLOS 1982. Negara yang menganut paham dualisme antara lain AS, Inggris, dan Australia. Negara yang menganut paham monisme antara lain Belanda, Jerman, Perancis. Bagaimana dengan Indonesia? Menurut Damos Dumoli Agusman (2008), sistem hukum Indonesia belum mengindikasikan apakah menganut monoisme atau dualisme. UNCLOS 1982 yang diratifikasi dengan UU Nomor 17 Tahun 1985 dan membutuhkan adanya UU Nomor 6 Tahun 1996 sebagai UU transformasi merupakan contoh di mana Indonesia tampaknya menerapkan paham dualisme. Sebaliknya, terdapat contoh-contoh di mana Indonesia tampaknya menerapkan paham monisme: 1. Pasal 13 UU Nomor 24 Tahun 2000: Setiap undang-undang atau peraturan presiden tentang pengesahan perjanjian internasional ditempatkan dalam Lembaran Negara Republik Indonesia. Dalam penjelasan pasal tersebut disebutkan bahwa penempatan peraturan per-UU-an pengesahan suatu perjanjian internasional di dalam lembaran negara dimaksudkan agar setiap orang dapat mengetahui perjanjian yang dibuat pemerintah dan mengikat seluruh warga negara Indonesia. Dengan demikian, berdasarkan ketentuan ini, UU yang meratifikasi suatu perjanjian internasional sudah bisa mengikat seluruh warga negara Indonesia. 2. Pada kasus tanah Kedubes Saudi Arabia, fatwa MA tahun 2006 merujuk pada prinsip kekebalan diplomatik dalam Pasal 31 Konvensi Wina 1961 tentang Hubungan Diplomatik, yang telah diratifikasi dengan UU Nomor 1 Tahun 1982. Hakim menggunakan perjanjian internasional sebagai sumber hukum, padahal tidak ada UU transformasi atas konvensi tersebut. Catatan

Kalau dirunut, paham dualisme dalam contoh UNCLOS di atas diterapkan sebelum terbitnya UU 24/2000, sementara paham monisme diterapkan sejak terbit UU 24/2000. Q: Apakah ini berarti bahwa Indonesia menerapkan paham monisme dengan dasar hukum UU 24/2000? A: Nggak tahu (mungkin aja ada kasus lain setelah tahun 2000 di mana dilakukan transformasi atas ketentuan-ketentuan dalam perjanjian internasional).

A.

Hakikat, Asal Mula dan Dasar-Dasar Hukum Internasional

1. Hakikat dan Asal Mula Hukum internasional dapat didefinisikan sebagai keseluruhan hukum yang untuk sebagian besar terdiri dari prinsip-prinsip dan kaidah-kaidah perilaku terhadapnya negara-negara merasa dirinya terikat untuk menaati, dan karenanya, benar-benar ditaati secara umum dalam hubunganhubungan mereka satu sama lain, dan yang meliputi juga: kaidah-kaidah hukum yang berkaitan dengan berfungsinya lembaga-lembaga atau organisasi-organisasi internasional, hubunganhubungan mereka satu sama lain, dan hubungan mereka dengan Negara-negara dan individu-individu; dan 2. kaidah-kaidah hukum tertentu yang berkaitan dengan individu-individu dan badan-badan non-negara sejauh hak-hak dan kewajiban individu dan badan non-negara tersebut penting bagi masyarakat internasional. (Starke, 1992:3). Sistem hukum internasional modern merupakan suatu produk, kasarnya, dari empat ratus tahun terkhir ini. Yang berkembang dari adat-istiadat Eropa dalam hubungan-hubungan dan komunikasi-komunikasi mereka, sementara masih terlihat bukti pengaruh para penulis dan ahli-ahli hukum dari abad-abad keenam belas, ketujuh belas, dan kedelapan belas. Akan tetapi pengungkapan sejarah sistem tersebut harus dimulai pada masa yang paling awal, karena justru pada periode kaidah-kaidah perilaku yang mengatur hubungan-hubungan masyarakat independen itu dipandang perlu dan muncul dari adat istiadat yang ditaati oleh masyarakat-masyarakat ini dalam hubungan-hubungan timbale balik mereka. Dalam periode negara-negara Kota Yunani, yang kecil tetapi merdeka antara satu dan yang lain, tentang bukti adanya suatu bentuk embrio hukum internasional, meskipun terbatas wilayahnya, yang oleh penulis Prof. Vinogradoff secara tepat dilukiskan sebagai intermunicipal. Hukum intermunicipal ini tersiri atas kaidah-kaidah kebiasaan yang telah dikristalisasikan ke dalam hukum yang berasal dari adat-istiadat (usages) yang telah lama berlaku serta ditaati oleh kota-kota ini. Dalam periode kekuasaan Romawi terhadap dunia kuno, juga muncul kaidah-kaidah yang mengatur hubungan-hubungan Romawi dengan berbagai macam bangsa atau rakyat dengan siapa Romawi mengadakan hubungan. Satu aspek penting dari kaidah-kaidah ini adalah karakter hukumnya, jadi berlawanan dengan hakikat keagamaan dalam kaidah-kaidah kebiasaan yang ditaati oleh Negara-negara Kota (City States) Yunani. Selama abad pertengahan, terdapat dua hal khusus yang menjadi penghalang evolusi suatu sistem hukum internasional, yaitu: a. kesatuan duniawi dan rohani sebagian besar Eropa di bawah Imperium Romawi Suci (Holy Roman Empire), meskipun sampai sebegitu 1.

jauh ketentuan ini masih merupakan dugaan dan dibantah oleh sejumlah besar contoh konflik dan ketidakrukunan; dan b. struktur feodal Eropa Barat, yang melekat pada hierarki otoritas yang tidak hanya menghambat munculnya negara-negara merdeka akan tetapi juga mencegah negara-negara pada saat itu memperoleh karakter kesatuan dan otoritas negara-negara berdaulat modern. (Starke, 1992:10).

Perubahan-perubahan besar terjadi pada abad-abad ke-15 dan ke-16. Penemuan Dunia Baru, masa pencerahan (reinassance) ilmu dan reformasi merupakan revolusi keagamaan yang telah memporak-porandakan kesatuan politih dan rohani di Eropa, dan mengguncangkan fondamen-fondamen umat Kristen pada abad pertengahan. Teori-teori dikembangkan untuk menyongsong kondisi-kondisi baru itu. Juga fakta penting bahwa para ahli hukum dari abad ke-15 dan ke-16 telah memperhitungkan evolusi suatu masyarakat negara-negara merdeka dan berdaulat dan memikirkan serta menulis tentang berbagai macam persoalan hukum bangsa-bangsa, mereka menyadari perlunya serangkaian kaidah guna mengatur aspek-aspek tertentu hubunga-hubungan antara negara-negara tersebut. Pada umumnya diakui bahwa penulis pelopor terbesar mengenai hukum internasional adalah seorang sarjana, ahli hukum dan diplomat Belanda, Grotius (1583-1645), dengan risalah (karangan) yang sistematis mengenai hukum internasional De Jure Belli ac Pacis (Hukum Perang dan Damai) yang untuk pertama kalinya muncul pada tahun 1625. Dengan mempertimbangkan karangannya inilah, Grotius kadangkadang dipandang sebagai Bapak hukum bangsa-bangsa. Dalam abad k-18, ada kecenderungan perkembangan di antara para ahli hukum untuk lebih mengemukakan kaidah-kaidah hukum internasional terutama dalam bentuk kebiasaan dan traktat, dan mengurangi sedikit mungkin kedudukan hukum alam, atau nalar, sebagai sumber dari prinsip tersebut. Pada abad ke-19 hukum internasional berkembang lebih jauh lagi. Hal ini adalah karena sejumlah faktor yang mingkin lebih tepat untuk dimasukkan ke dalam lingkup studi sejarah. Negara-negara mulai biasa mengadakan perundingan mengenai traktat-traktat umum untuk mengatur hubungan timbal balik mereka. Perkembangan penting lainnya berlangsung pad abad ke-20. Permanent Court of Arbitration berhasil dibentuk oleh Konferensi the Hague tahun 1899 dan 1907. Pada tahun 1921 dibentuk Permanent Court of Internatonal Justice sebagai sebuah pengadilan yudisial internasional yang punya otoritas dan pada tahun 1946 digantikan oleh International Court of Justice sampai sekarang ini. Selanjutnya telah dibentuk organisasi-organisasi permanen yang fungsi-fungsinya dalam kenyataan menjadi semacam pemerintah dunia untuk kepentingan perdamaian dan kesejahteraan manusia. Karakteristik evolusi paling akhir dari hukum internasional adalah bahwa pengaruh para penulis cenderung berkurang, dan bahwa ahli-ahli hukum internasional modern lebih banyak menaruh perhatian kepada praktek dan keputusan-keputusan pengadilan. Namun penguraian mengenai kaidah-kaidah hukum internasional berdasarkan kecenderungan-kecenderungan praktek masa lalu dan saat ini tidak dapat dilakukan secara panjang lebar.

a.

1. Teori-Teori Mengenai Dasar Hukum Internasional Apakah Hukum Internasional Benar-Benar Hukum

Satu teori yang telah memperoleh pengakuan luas adalah bahwa hukum internasional bukan hukum yang sebenarnya, melainkan suatu himpunan kaidah perilaku yang hanya mempunyai kekuatan moral semata. Penulis Yurisprudensi atau ilmu pengetahuan dan filsafat hukum berkembangsaan Inggris, Jhon Austin (1790-1859), dianggap sebagai pendukung utam teori ini. Penulis lain yang juga mempertanyakan karakter sebenarnya dari hukum internasional adalah Hobbes, Pufendorf, dan Bentham. b. Teori-Teori Tentang Hukum Alam Beberapa penulis berpendapat bahwa hukum internasional memperoleh kekuatan mengikat dari fakta bahwa hukum ini hanyalah suatu penerapan terrhadap keadaan-keadaan tertentu dari hukum alam. Dengan perkataan lain, negara-negara tunduk pada hukum internasional, karena hubungan-hubungan mereka diatur oleh hukum yang lebih tinggi hukum alam, di mana hukum internasional hanya merupakan salah satu bagian daripadanya. Konsep hukum alam menjalani spesialisasi lebih lanjut pada abad ke delapan belas.

c.

Positivisme

Teori yang dikenal dengan sebutan positivisme mendapat dukungan luas, dan telah dianut oleh sejumlah penulis terkemuka. Kita sebelumnya telah melihat bahwa Bynkershoek adalah seorang positivis pada abad ke delapan belas, tetapi teori-teori kaum positivis modern telah mengalami perbaikan-perbaikan dan dinyatakan dalam generalisasi-generalisasi yang tidak dijumpai dalam tulisan-tulisan Bynkershoek. Penganut-penganut positivis berpendapat bahwa kaidah-kaidah hukum internasional pada analisis terakhir memiliki karakter yang sama dengan hukum nasional (hukum negara) positif sepanjang kaidah-kaidah hukum tersebut juga berassal dari kehendak negara. Mereka yakin bahwa hukum internasional secara logis dapat dikembalikan kepada suatu system kaidah yang untuk validitasnya akan bergantung hanya pada fakta-fakta bahwa negara-negara telah menyatakan kesetujuannya. B. Hukum Internasional Publik

1. Istilah dan Sifat Hukum Internasional Publik Kumpulan peraturan hukum yang mengatur hubungan antar-negara merdeka dan berdaulat dalam bahasa Indonesia diistilahkan sebagai Hukum Antar-bangsa dan juga disebut Hukum Bangsa-Bangsa. Istilah Hukum Bangsa-bangsa itu merupakan terjemahan dari bahasaBelanda volkenrecht, bahasa Prancis droit de gens, bahasa Inggris law of nation, dan bahasa Jerman volkerrecht. Keempat istilah ini aslinya dari ius gentium suatu istilah yang terdapat dalam hukum Romawi. Hanya saja ius gentium dlam hukum Romawi mengetur hubungan hukum antara orang Roma dengan orang-orang bukan warga kota Roma. Ius gentium itu berasal dari hukum alam yang dijadikan aturan tata tertib untuk setiap bangsa. Hukum alam dimaksudkan ini ialah tata tertib alam yang mengatur manusia. Dalam perkembangan hubungan hukum anternegara-negara Eropa antara abad XV-XIX hukum alam itu djadikan hukum antar bangsa-bangsa. Bertitik tolak dari ius gentium ini, maka dalam perkembangan hubungan hukum anata negara selanjutnya namanya menjadi Hukum Internasional. Istilah yang digunakan Prof. Kranenburg, yaitu tussen staatsrecht, hukum yang diadakan untuk mengatur pergaulan antar negara-negara yang berdaulat dan merdeka. J. G. Starke dalam bukunya An Introductionto International Law, memberikan definisi sebagai berikut, hukum internasional dapat dirumuskan sebagai sekumpulan hukum yang sebagian besar terdiri atas asas-asas dan eraturan tingkah laku yang mengikat negara-negara, dan karena itu ditaati dalam hubungan negara-negara. Peraturan hukum internasional ini hanya bersifat sebagai hukum koordinatif saja. Dengan sifat hukum koordinatif ini, kalau terjadi suatu pelanggaran dari perikatan yang telah disepakati dan menimbulkan perselisihan, penyelesaiannya dapat dilakukan oleh Mahkamah Internasional. Hal itu kalau antar negara yang berselisih menunjuk lembaga peradilan itu untuk menanganinya.

1. Sumber-Sumber hukum Internasional Pasal 38 ayat (1) Piagam Mahkamah Internasional mangatakan bahwa dalam megadili perkara-perkara yang diajukan kepadanya, Mahkamah Internasional akan mempergunakan: a. Perjanjian Internasional

Perjanjian internasional adalah suatu ikatan hukum yang terjadi berdasarkan kata sepakat antara negara-negara sebagai anggota organisasi bangsa-bangsa. Dalam perjanjian itu diperlukan adanya: 1) 2) negara-negara yang tergabung dalam organisasi; bersedia mengadakan ikatan hukum tertentu;

3) 4) b.

kata sepakat untuk melakukan sesuatu, dan bersedia menanggung akibat-akibat hukum yang terjadi. Kebiasaan Internasional

Hukum kebiasaan yang berlaku antar negara-negara dalam mengadakan hubungan hukum dapat diketahui dari praktik pelaksanaan pergaulan negara-negara itu. Peraturannya sebagian besar masih merupakan bagian dari kumpulan peraturan hukum internasional. Walaupun demikian, keadaannya suatu hal yang penting ialah diterimanya suatu kebiasaan sebagai hukum yang bersifat umum dan kemudian menjadi hukum kebiasaan internasional. Misalnya saja peraturan yang mengatur tentang cara-cara mengadakan perjanjian internasional. c. Prinsip-Prinsip Hukum Umum

Prinsip-prinsip hukum umum yang dimaksudkan yaitu dasar-dasar sistem hukum pada umumnya yang berasal dari asas hukum Romawi. Menurut Sri Setianingsih Suwardi, SH, fungsi dari prinsip-prinsip hukum umum ada tiga: 1) 2) 3) d. Sebagai pelengkap dari hukum kebiasaan dan perjanjian internasional. Sebagai alat penafsiran bagi perjanjian internasonal dan hukum kebiasaan. Sebagai pembatasan bagi perjanjian internasional dan hukum kebiasaan. Yurisprudensi dan Anggapan-anggapan Para Ahli Hukum Internasional

Yurisprudensi internasional dan anggapan-anggapan para pakar hukum internasional maksudnya adalah putusan hakim dan anggapan para ahli hukum internasional itu hanya digunakan untuk membuktikan dipakai-tidaknya kaidah hukum internasional berdasarkan sumber hukum primer. Contohnya seperti perjanjian internasional, kebiasaan internasional, dan prinsip-prinsip hukum umum dalam menyelesaikan perselisihan internasional. Anggapan para ahli hukum internasional perannya menjadi penting sebagai sumber hukum, dalam arti sumber hukum tambahan.

a.

1. Subjek Hukum Internasional Negara

Negara yang diakui sebagai subjek hukum internasional hanyalah negara yang berdaulat, negara yang tidak bergantung kepada negara lain. Maksudnya negara yang merdeka, berdaulat, dan tidak merupakan bagian dari suatu negara. Negara yang beraulat adalah negara yang mempunyai pemerintahan sendiri secara penuh, yaitu kekuasaan penuh terhadap warga negara dalam limgkungan kekuasaan negara itu. b. Tahta Suci Vatikan ayau Kursi Suci Heilige Stoel Yang dimaksud dengan Kursi Suci adalah Gereja Katolik Roma yang diwakili oleh Paus di Vatikan. Walaupun Kursi Suci (Vatikan) bakanlah suatu negara yang disyaratkan sebagai negara pada umumnya, namun tahta suci itu mrmpunyai kedudukan sama dengan sebuah negara sebagai subjek hukum internasional dan dianggap sebagai negara. c. Manusia (individu)

Mengenai manusia sebagai subjek hukum dari hukum internasional di samping negara, masih banyak yang belum bisa menerima, tetapi pendapat ini makin lama makin bisa diterima umum. Manusia sebagai subjek hukum internasional dalam tindakan atau kegiatan yang dilakukannya memperoleh penilaian positif atau negatif sesuai kehendak damai kehidupan masyarakat dunia.

d.

Organisasi Internasional

Dalam pergaulan internasional yang menyangkut mengenai hubungan antar negara-negara, maka banyak sekali organisasi yang diadakan oleh negara-negara itu. Bahkan sekarang dapat dikatakan sebagai lembaga hukum. Klasifikasi organisasi internasional menurut Theodore A Couloumbis dan James H. Wolfe : 1. Organisasi internasional yang memiliki keanggotaan secara global dengan maksud dan tujuan yang bersifat umum, contohnya adalah Perserikatan Bangsa Bangsa ; 2. Organisasi internasional yang memiliki keanggotaan global dengan maksud dan tujuan yang bersifat spesifik, contohnya adalah World

Bank, UNESCO, International Monetary Fund, International Labor Organization, dan lain-lain; 3. Organisasi internasional dengan keanggotaan regional dengan maksud dan tujuan global, antara lain: Association of South East Asian Nation (ASEAN), Europe Union. e. Kaum Pemberontak / Beligerensi (belligerent) Kaum belligerensi pada awalnya muncul sebagai akibat dari masalah dalam negeri suatu negara berdaulat. Oleh karena itu, penyelesaian sepenuhnya merupakan urusan negara yang bersangkutan. Namun apabila pemberontakan tersebut bersenjata dan terus berkembang, seperti perang saudara dengan akibat-akibat di luar kemanusiaan, bahkan meluas ke negara-negara lain, maka salah satu sikap yang dapat diambil oleh adalah mengakui eksistensi atau menerima kaum pemberontak sebagai pribadi yang berdiri sendiri, walaupun sikap ini akan dipandang sebagai tindakan tidak bersahabat oleh pemerintah negara tempat pemberontakan terjadi. Dengan pengakuan tersebut, berarti bahwa dari sudut pandang negara yang mengakuinya, kaum pemberontak menempati status sebagai pribadi atau subyek hukum internasional. f. Palang Merah Internasional Sebenarnya Palang Merah Internasional, hanyalah merupakan salah satu jenis organisasi internasional. Namun karena faktor sejarah, keberadaan Palang Merah Internasional di dalam hubungan dan hukum internasional menjadi sangat unik dan di samping itu juga menjadi sangat strategis. Pada awal mulanya, Palang Merah Internasional merupakan organisasi dalam ruang lingkup nasional, yaitu Swiss, didirikan oleh lima orang berkewarganegaraan Swiss, yang dipimpin oleh Henry Dunant dan bergerak di bidang kemanusiaan. Kegiatan kemanusiaan yang dilakukan oleh Palang Merah Internasional mendapatkan simpati dan meluas di banyak negara, yang kemudian membentuk Palang Merah Nasional di masing-masing wilayahnya. Palang Merah Nasional dari negar-negara itu kemudian dihimpun menjadi Palang Merah Internasional (International Committee of the Red Cross/ICRC) dan berkedudukan di Jenewa, Swiss. (Phartiana, 2003; 123). g. Perusahaan Multinasional Perusahaan multinasional memang merupakan fenomena baru dalam hukum dan hubungan internasional. Eksistensinya dewasa ini, memang merupakan suatu fakta yang tidak bisa disangkal lagi. Di beberapa tempat, negara-negara dan organisasi internasional mengadakan hubungan dengan perusahaan-perusahaan multinasional yang kemudian melahirkan hak-hak dan kewajiban internasional, yang tentu saja berpengaruh terhadap eksistensi, struktur substansi dan ruang lingkup hukum internasional itu sendiri.

1. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) sebagai organisasi internasional yang bersifat universal didirikan pada tanggal 26 Juni 1945 di San Fansisco sebagai pengganti Liga bangsa-Bangsa. Tujuan pokoknya adalah mempertahankan perdamaian dan keamanan internasional. Tujuan lainnya sebagaimana tercantum dalam Piagam PBB, yaitu menjelmakan kerja sama internasional yang tidak bersifat politik, yaitu mengenai ekonomi dan kemasyarakatan dan memajukan rasa hormat terhadap hak asasi manusia dan kemerdekaan dasar dari tiap orang dengan tidak membedakan bangsa, kelamin, bahasa, atau agama.

PBB bertindak dalam lingkup internasional dengan perantaraan basan-badan yang ada di dalamnya, antara lain sebagai berikut. a. Majelis Umum (General Assembly), yang terdiri atas wakil dari tiap-tiap negara yang bergabung dalam PBB. Majelis Umum mempunyai konisi-komisi untuk menjalankan tugas: 1) Komisi I mengurus bidang politik dan keagamaan. 2) 3) 4) 5) 6) Komisi II mengurus bidang ekonomi dan keuangan. Komisi III mengurus bidang sosial, perikemanusiaan, dan kebudayaan. Komisi IV mengurus bidang perwalian, termasuk daerah-daerah yang tidak berpemerintahan sendiri. Komisi V mengurus bidang administrasi dan anggaran belanja. Komisi VI mengurus bidang perundang-undangan (hukum).

Selain itu terdapat sub-komisi yang terdiri atas UNWRA, UNCTAD, UNICEF, UNHCR, UNINDO, UNDP, dan UNITER. b. Dewan Keamanan (Security Council) yang terdiri atas 5 negara besar (The Big Five) yang memiliki hak veto sebagai anggota tetap, yaitu Amerika Serikat, Cina, Inggris, Prancis, dan Rusia dan sepuluh anggota tidak tetap yang dipilih setiap dua tahun. Dewan Keamanan memiliki wewenang: 1) Memerintahkan kepada pihak-pihak yang berselisih untuk berunding, memberikan perantaraan dan keputusan. 2) Mengambil tindakan kepada pihak-pihak yang tidak mengindahkan perintahnya.

Untuk hal ini, Dewan Keamanan dapat meminta bantuan dalam segala bentuk, seperti pengiriman Pasukan-pasukan PBB. c. Dewan Ekonomi dan Sosial (Economic and Social Council), anggotanya sebanyak 54 negara anggota PBB. Keanggotaan Dewan Ekonomi dan Sosial itu dipilih oleh Majelis Umum setiap tiga tahun sekali. Hanya seorang wakil (dari negara terpilih) yang duduk di dalamnya. Tugasnya adalah: 1) Menyelenggarakan kegiatan ekonomi dan social sebagai tanggung jawab. 2) Melakukan penyelidikan untuk dilaporkan dan memberikan anjuran-anjuran mengenai bidang ekonomi, sosial dan kebudayaan, kesehatan, pendidikan dan masalah lain yang ada hubungannya. 3) Membuat laporan dari hasil pekerjaannya dan disampaikan kepada Majelis Umum, kepada anggota-anggota PBB, dan komisi-komisi yang mempunyai hubungan kepentingan dengan Dewan Ekonomi dan Sosial. Untuk melaksanakan tugasnya dibentuk komisi-komisi dan badan-badan khusus yang terdiri atas Regional Economic Commission, Functional Commission, dan Sessasional, Standing, and Hoc Commission. Sementara itu badan-badan khusus yang dikoordinasi oleh Dewan Ekonomi dan Sosial terdiric atas FAO, IMF, World Bank, UNESCO, WHO, ILO, IDA, IFC, ICAO, IPU, ITU, WGMCO, WIPO, dan GATT. d. Dewan Perwalian (Tructeeship Council), bertugas melindungi kepentingan penduduk di daerah-daerah yang belum mempunyai pemerintahan sendiri. Pelaksanaannya dengan mempertinggi kemajuan politik, ekonomi, sosial, dan pendidikan. Daerah-daerah yang ada di bawah perwalian itu merupakan kolonialisasi dari negara-negara yang kalah dalam Perang Dunia I dan II. Sebagai truss-territory dibedakan tiga macam, yaitu daerah mandat, daerah yang dipisahkan dari negara-negara yang kalah dalam Perang dunia II, dan daerah-daerah yang oleh negara penanggung jawab secara sukarela diserahkan. Pengawasan daerah perwalian itu dijalankan oleh Dewan Perwalian yang terdiri atas: 1) Anggota penyelenggara pemerintahan perwalian. 2) Anggota tetap Dewan Keamanan yang tidak diberi tugas sebagai negara wali.

3)

Anggota-anggota yang dipilih oleh Majelis Umum untuk tiga tahun lamanya.

e. Mahkamah Internasional (International Court of Justice), merupakan pengadilan tertinggi dalam kehidupan bernegara ini. Mahkamah Internasional beranggotakan 15 orang hakim yang dipilih oleh Majelis Umum dan Dewan Keamanan. Masa pilih para hakim mahkamah 9 tahun sekali dengan ketentuan dapat dipilih kembali. Mahkamah Internasional berkedudukan di Den Haag, Belanda. Sebagai pengadilan internasional, Mahkamah Internasional bertugas menyelesaikan perselisihan internasional dari negara-negara anggota PBB. Dalam penyelenggaraan pengadilan internasional, setiap negara anggota PBB tidak diwajibkan membawa masalah perselisihan yang mereka hadapi ke hadapan pengadilan, kecuali bagi negara-negara yang telah menandatangani Optional Clause. f. Sekretariat (Secretary), terdiri atas seorang sekretaris jendral dan stafnya. Sekretaris jendral dipilih dan diangkat oleh Majelis Umum atas anjuran Dewan Keamanan. Tugasnya menyelenggarakan siding-sidang PBB dan Dewan-dewan, menyusun laporan-laporan tentang pekerjaan PBB dan Dewan-dewan untuk disampaikan kepada sidang majelis Umum.

1. Persatuan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara Organisasi kerja sama Asia Tenggara diberi nama ASEAN (Association of South East Asia National) didirikan melalui Deklarasi ASEAN tanggal 8 Agustus 1967 di Bangkok, Thailand. Negara-negara pendirinya adalah Indonesia, Malaysia, Filipina, Singapura, dan Thailand. Maksud dan tujuan organisasi ini inti utamanya adalah kerja sama dalam mencapai kesejahteraan hidup bertetangga baik dalam bernegara. Hal ini meliputi: a. Pertumbuhan yang cepat dalam bidang ekonomi, kemajuan sosial dan kebudayaan; b. c. d. Memelihara perdamaian dan stabilitas regional; Kerja sama dan saling membantu dalam kepentingan bersama; Memajukan studi tentang Asia Tenggara.

Untuk mencapai maksud tujuan ini, ada aparat perlengkapan ASEAN. a. Pertemuan dari Kepala Pemerintahan negara anggota.

b. Pertemuan Menteri Luar Negeri. Pertemuan ini diadakan setahun sekali secara bergilir untuk menentukan program ASEAN, merumuskan pedoman dan koordinasi kegiatan serta melakikan peninjauan kembali terhadap keputusan dan program yang lalu. c. Komite Kerja.

Kepala Komite Kerja ASEAN ialah menteri luar negeri negara tuan rumah (pertemuan) atau wakilnya. Anggota-anggotanya terdiri atas duta besar negara ASEAN yang ada di negara tuan rumah. Tugas komite ini adalah: 1) 2) 3) Melanjutkan pekerjaan ASEAN dalam kurun waktu antara sidang menteri luar negeri. Mengerjakan masalah-masalah rutin. Membuat keputusan tanpa menunggu pertemuan luar negeri berikutnya.

d. Sekretariat ASEAN Nasional. Pada setiap negara anggota dibentuk, sekretariat nasional yang melaksanakan tugas-tugas ASEAN atas nama negaranya. e. Komite Tetap, khusus dan ad hoc. Tugasnya melaksanakan program ASEAN. Keanggotaan komite ini terdiri atas para ahli sesuai bidangnya

f. Sekretarian ASEAN. Berkedudukan di Jakarta (Indonesia). Lembaga ini didirikan berdasarkan kepada hasil Konferensi Tingkat Tinggi ASEAN pada tahun 1976 (Juni). Kepala sekretariat ialah sekretaris jendral yang pemilihannya ditentukan dalam sidang menteri luar negeri. Masa jabatan Sekretaris Jendral selama dua tahun secara bergantian dari negara-negara anggota. Sementara itu tugasnya melaksanakan pekerjaan kesekretariatan ASEAN.

C.

Hukum Perdata Internasional

1. Istilah, Sifat, dan Tujuan Hukum perdata internasional adalah keseluruhan kaidah dan asas hukum yang mengatur hubungan perdata yang melintasi batas negara, dengan perkataan lain, hukum yang mengatur hubungan hukum perdata antara para pelaku hukum yang masing-masing tunduk pada hukum perdata yang berbeda. (Kusumaatmadja, 1999; 1). Hukum perdata merupakan subsistem dari sistem hukum yang berlaku dalam sebuah negara. Ketentuan-ketentuannya mengatur tentang hubungan hukum perseorangan dalam usaha memenuhi kebutuhan individunya. Suatu hubungan hukum dapat terjadi dan menyangkut dua individu atau lebih dalam bidang keperdataan dan melibatkan unsur asing di dalam hubungan keperdataan itu. Hal itu dapat menimbulkan masalah yang memerlukan penyelesaian secara internasional. Negara tempat bertemunya peraturan hukum dari para pembawa juga memiliki peraturan hukum perdata. Jadi, hukum perdata internasional adalah peraturan hukum perdata nasional yang berusaha mengatur hubungan perdatayang menyangkut unsur-unsur asing di dalamnya. Arti hukum perdata internasional dititikberatkan kepada peranan hukum perdata nasionalnya yang diberlakukan untuk mengatur hubungan hukum. Hal itu karena adanya unsur-unsur asing. Berarti, sampai sekarang belum ada satu peraturan hukum perdata khusus yang bersifat internasional.

1. Asas-Asas Hukum Perdata Internasional di Indonesia Di Indonesia, penyelesaian peristiwa hukum perdata yang di dalamnya menyangkut unsur asing adalah sama dengan negara-negara lain. Hanya saja, asas-asas sumber hukum yang digunakan mengkin berbeda dengan negara lainnya. Peraturan hukum yang menjadi sumber hukum dari hukum perdata internasional di Indonesia terdapat dalam Algemene Bepalingen van Wetgeving (AB). Asasnya tercantum dalam pasal 16, 17, dan 18. Pasal 16 AB menyatakan bahwa ketentuan-ketentuan perundang-undangan tentang kedudukan hukum dan kewenangan individu bertindak tetap mengikat warga negara Indonesia walaupun berada di luar negeri. Pasal ini dikenal dengan asas personal (lex rei sitae) atau statuta personalia. Pasal 17 AB menyatakan bahwa mengenai benda tetap (tidak bergerak) berlaku hukum dari negara tempat benda itu terletak. Pasal 17 AB dikenal sebagai asas hukum setempat (lex situs) yang disebut juga statuta realita. Pasal 18 AB menyatakan bahwa bentuk suatu tindakan hukum mengikuti bentuk hukum yang ditentukan oleh hukum negara atau tempat dilakukan itu. Asas dari pasal 18 AB ini dikenal sebagai asas locus regit actus yang disebut juga statuta mixta.

1. Hukum Acara Perdata Hukum acara perdata yang mengatur tentang penyelesaian konflik dan menyangkut unsur-unsur asing yang di dalamya belum ada. Akan tetapi, kalau memang terjadi suatu peristiwayang menghendaki penyelesaiannya di pengadilan, sudah merupakan kewajiban haki untuki memeriksanya. Menolak perkara dengan alas an tidak ada peraturan hukumnya bukanlah alasan yang tepat. Hal ini disebabkan dalam tugas mengemban dan memberi kepastian hukum, hakim dapat menimbulkan hukum. Sebagai suatu pengecualian, dapat juga hakim terlebih dahulu memperhatikan seperlunya hukum orang-orang asing pakah ada perbedaan dengan hukum nasional.

Mengingat kedudukan orang itu dicantumkan dalam pasal 16 AB. Proses pengadilan perdata bagi orang asing digunaka acara yang berlaku di Indonesia. Akan tetapi, dalam penyelesaiannya melalui proses pengadilan itu, penggunaan aturan acaranya tergantung dari masalah yang dihadapi. Hal itu dapat digunakan aturan acara yang berlaku pada peradilan umum atau peradilan khusus (peradilan agama).

D.

Hubungan Antara Hukum Internasional dan Hukum Nasional

1. Teori-Teori Mengenai Hubungan antara Hukum Internasional dengan Hukum Nasional a. Aliran Dualisme Aliran dualisme bersumber pada teori bahwa daya ikat hukum internasional bersumber pada kemauan negara, hukum internasional dan hukum nasional merupakan dua sistem atau perangkat hukum yang terpisah. Ada beberapa alasan yang dikemukakan oleh aliran dualisme untuk menjelaskan hal ini: (1) sumber hukum, paham ini beranggapan bahwa hukum nasional dan hukum internasional mempunyai sumber hukum yang berbeda, hukum nasional bersumber pada kemauan negara, sedangkan hukum internasional bersumber pada kemauan bersama dari negara-negara sebagai masyarakat hukum internasional; (2) subjek hukum internasional, subjek hukum nasional adalah orang baik dalam hukum perdata atau hukum publik, sedangkan pada hukum internasional adalah negara; (3) struktur hukum, lembaga yang diperlukan untuk melaksanakan hukum pada realitasnya ada mahkamah dan organ eksekutif yang hanya terdapat dalam hukum nasional. Hal yang sama tidak terdapat dalam hukum internasional. Kenyataan, pada dasarnya keabsahan dan daya laku hukum nasional tidak dipengaruhi oleh kenyataan seperti hukum nasional bertentangan dengan hukum internasional. Dengan demikian hukum nasional tetap berlaku secara efektif walaupun bertentangan dengan hukum internasional.

b. Aliran Monisme Teori monisme didasarkan pada pemikiran bahwa satu kesatuan dari seluruh hukum yang mengatur hidup manusia. Dengan demikian hukum nasional dan hukum internasional merupakan dua bagian dalam satu kesatuan yang lebih besar yaitu hukum yang mengatur kehidupan manusia. Hal ini berakibat dua perangkat hukum ini mempunyai hubungan yang hirarkis. Mengenai hirarki dalam teori monisme ini melahirkan dua pendapat yang berbeda dalam menentukan hukum mana yang lebih utama antara hukum nasional dan hukum internasional. Ada pihak yang menganggap hukum nasional lebih utama dari hukum internasional. Paham ini dalam teori monisme disebut sebagai paham monisme dengan primat hukum nasional. Paham lain beranggapan hukum internasional lebih tinggi dari hukum nasional. Paham ini disebut dengan paham monisme dengan primat hukum internasional. Hal ini dimungkinkan dalam teori monisme. Monisme dengan primat hukum nasional, hukum internasional merupakan kepanjangan tangan atau lanjutan dari hukum nasional atau dapat dikatakan bahwa hukum internasional hanya sebagai hukum nasional untuk urusan luar negeri. Paham ini melihat bahwa kesatuan hukum nasional dan hukum internasional pada hakikatnya adalah hukum internasional bersumber dari hukum nasional. Alasan yang kemukakan adalah sebagai berikut: 1. 2. tidak adanya suatu organisasi di atas negara-negara yang mengatur kehidupan negara-negara;

dasar hukum internasional dapat mengatur hubungan antar negara terletak pada wewenang negara untuk mengadakan perjanjian internasional yang berasal dari kewenangan yang diberikan oleh konstitusi masing-masing negara. Monisme dengan primat hukum internasional, paham ini beranggapan bahwa hukum nasional bersumber dari hukum internasional. Menurut paham ini hukum nasional tunduk pada hukum internasional yang pada hakikatnya berkekuatan mengikat berdasarkan pada pendelegasian wewenang dari hukum internasional. Pada kenyataannya kedua teori ini dipakai oleh negara-negara dalam menentukan keberlakuan dari hukum internasional di negara-negara. Indonesia sendiri menganut teori dualisme dalam menerapkan hukum internasional dalam hukum nasionalnya.

1. Praktik Negara Menyangkut Pemberlakuan Hukum Internasional di Dalam Wilayah Nasional Inggris menganut suatu doktrin bahwa hukum internasional adalah hukum negara. Ajaran ini lazim dikenal dengan nama doktrin inkorporasi. Doktrin ini mula-mula dikemukakan oleh ahli hukum terkenal Blackstone pada abad ke-18. Doktrin ini menganggap bahwa hukum internasional sebagai bagian dari hukum Inggris ini berkembang dan dikukuhkan selama abad XVIII dan XIX dalam beberapa keputusan pengadilan yang terkenal. Akan tetapi kemudian terjadi beberapa perubahan dalam arti doktrin tersebut tidak lagi diterima secara mutlak. Mengenai hukum internasional yang bersumberkan perjanjian-perjanjian internasional dapat dikatakan bahwa pada umunya perjanjianperjanjian yang memerlukan persetujuan Parlemen, dan memerlukan pengundangan nasional bagi berlakunya secara intern: (1) yang memerlukan diadakannya perubahan-perubahan dalam perundang-undangan nasional, (2) yang mengakibatkan perubahan dalam status atau garis batas wilayah negara, (3) yang mempengaruhi hak-hak sipil kaula negara Inggris atau memerlukan penambahan wewenang atau kekuasaan pada Raja atau Ratu Inggris, dan (4) menambah beban keuangan secara langsung atau tidak pada Pemerintahan Inggris. Negara lain yang juga menganut doktrin inkorporasi yaitu menganggap hukum internasional sebagai bagian dari hukum nasional adalah Amerika Serikat. Sepenjang mengenai hukum kebiasaan internasional, praktik Amerika Serikat juga hamper serupa dengan praktik di Inggris. Undang-undang yang dibuat sengan persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat (Congress) dianggap tidak bertentangan dengan hukum internasional karenanya diusahakan agar undang-undanga tidak bertentangan dengan hukum internasional. Praktik Amerika Serikat juga bersamaan dengan Inggris dalam sikap atau penilaian pengadilan terhadap tinadakan-tindakan atau pernyataanpernyataan Pemerintah (Eksekutif) dalam hal-hal yang menyangkut hubungan atau hukum internasional. Seperti juga dalam praktik Inggris, pengadilan-pengadilan di Amerika Serikat menganggap dirinya terikat oleh keterangan-keterangan resmi atau saran-saran dari pemerintah mengenai hal-hal yang menyangkut misalnya peraturan pemerintah atau negara asing, batas-batas wilayah negara asing, batas-batas wilayah negara lain, kedudukan resmi (public status) dan kekebalan dari pada wakil-wakil negara asing, dan lain-lain. Menurut praktik (hukum positif) Amerika Serikat ini, apabila suatu perjanjian internasional itu tidak bertentangan dengan konstitusi dan termasuk golongan perjanjian yang (self executing), maka isi perjanjian demikian dianggap menjadi bagian dari hukum yang berlaku di Amerika serikat tanpa memerlukan perundang-undangan nasional. Sebaliknya perjanjian yang tidak termasuk golongan yang berlaku dengan sendirinya (non self executing) dianggap mengikat pengadilanpengadilan di Amerika Serikat setelah adanya perundang-undangan yang menjadikannya berlaku sebagai hukum. Dalam konstitusi masa kini (modern) ada kecenderungan untuk mencantumkan secara tegas bahwa hukum internasional merupakan bagian dari hukum nasional, bahkan akan mengatasi atau mengalahkan hukum nasional dalam hal ada pertentangan. Suatu contoh yang jelas menggambarkan keadaan seperti itu adalah UUD (Grund Gesetz) dari Republik Federasi Jerman yang dalam pasal 25 menyatakan bahwa ketentuan-ketentuan hukum internasional merupakan bagian dari hukum nasional Jerman. Ketentuan demikian lebih tinggi kedudukannya dari UU (nasional) dan langsung mengakibatkan hak dan kewajiban bagi penduduk wilayah Federasi Jerman. UUD 1945 tidak memuat ketentuan demikian. Hal ini dapat dijadikan dasar untuk mengatakan bahwa kita tidak mengakui sepremasi hukum internasional atas hukum nasional, apalagi menarik kesimpulan bahwa kita menganut pendirian bahwa hukum nasional mengatasi hukum internasional. Pendirian bahwa pada prinsipnya kita mengakui supremasi hukum internasional tidak berarti bahwa kita begitu saja menerima apa yang dinamakan hukum internasional. Praktik Indonesia khususnya perihal nasionalisasi milik asing dan mengenai batas lebar laut territorial menunjukkan bahwa kita tidak bersikap menerima begitu saja apa yang dikatakan sebagai kaidah hukum internasional.

Prinsip utama hukum alam adalah hukum itu berlaku secara universal dan bersifat pribadi. Adapun jenisnya antara lain dibedakan menjadi dua: hukum alam yang bersumber dari Tuhan, dan hukum alam yang bersumber dari rasio manusia. Adapun Teori hukum Thomas Aquinas,

menyatakan bahwa menurutnya hukum ada 4, yaitu : Lex aeterna</em> (ratio Tuhan, bukan indra manusia); Lex divina (bagian ratio Tuhan = indra manusia); Lex naturalis (penjelmaan lex aeterna dalam ratio manusia); dan Lex positivis (hukum yang berlaku, yang merupakan pelaksanaan hukum alam, disesuaikan dengan keadaan dunia). Jadi hal inilah yang kemudian dipahami sebagai universalisasi hukum yang dianggap menjadi kekuatan dari prinsip-prinsip pemikiran hukum alam. Universalisasi hukum berdampak pada validitas norma hukum yang ada sekarang, dengan mendasarkan validasi tersebut pada nilai-nilai yang universal. Universalisasi ini dinampakkan pada pemberlakuan nilai-nilai moral, yakni dengan nilai-nilai yang diturunkan dari Tuhan, yang secara filosofis dapat dikenakan kepada manusia. dengan kekuatan tersebut, hukum alam dapat memberikan jawaban atas persoalan-persoalan moral yang tidak dapat diselesaikan oleh hukum masa kini. Selain itu, prinsip-prinsip universal yang dikenalkan oleh hukum alam ini juga menjadi acuan bagi pembentukan hukum pada masa kini. Dapat dipahami bahwa prinsip-prinsip universal hukum alam dapat memberikan kontribusi positif bagi perkembangan hukum. Hukum alam dipengaruhi oleh pandangan atau keyakinan bahwa seluruh alam semesta yang ada dimana diciptakan dan diatur oleh Tuhan, yang juga meletakkan prinsip-prinsip abadi untuk mengatur berjalannya alam semesta. Ini yang disebut dengan pandangan teologis, sementara pandangan sekuler dalam hukum alam dilakukan dengan landasan bahwa manusia dengan kemampuan akal budinya dab dunianya menjadi sumber tatanan masyarakat yang ada. Dengan demikian tidak ada batasan yang konkrit mengenai sifat/pandangan universal, karena nilai-nilai moral dipandang dapat dikenakan secara universal. Sifat universal ini kemudian juga sekaligus menjadi kelemahan mendasar dari perkembangan hukum. Sebab, universalisasi hukum alam berada di tataran yang sangat metafisis, sehingga kurang menyentuh kehidupan konkrit masyarakat. Prinsip hukum alam yang berada pada tataran abstrak, harus dipositivisasikan ke dalam norma yang lebih baku dan dapat diaplikasikan dalam kehidupan yang konkrit. Selain itu, hukum alam menekankan keberadaan pendekatan yang berada pada tataran yang filsafatis, sehingga validasi yang digunakan untuk mengukur tingkat keadilan hukum, harus berdasarkan nilai-nilai hukum alam yang berasal dari Tuhan, dimana pemaknaannya sangat sulit dilakukan dan kompleks.

Menurut teori terdapat dua ajaran (doktrin) mengenai penerapan hukum internasional kedalam wilayah suatu negara.8 Pertama adalah doktrin transformasi, yaitu suatu ajaran yang menyatakan bahwa untuk melaksanakan hukum internasional diperlukan

suatu landasan konstitusional seperti persetujuan parlemen. Kedua adalah doktrin inkorporasi, yang menyatakan bahwa hukum internasional secara otomatis adalah bagian dari hukum nasional sehingga dalam penerapannya tidak diperlukan lagi prosedur ratifikasi. Dalam praktek kedua doktrin ini dilaksanakan secara berbeda. Apabila hukum internasional yang akan dilaksanakan tersebut berbentuk perjanjian internasional maka hampir semua negara menerapkannya dengan menggunakan doktrin transformasi. Sedangkan apabila bentuknya adalah kebiasaan internasional (customary international law),

paling tidak Inggris dan Amerika Serikat menerapkan doktrin inkorporasi.9