Anda di halaman 1dari 90

ANAMNESA PASIEN

ANAK
Pembimbing:
dr. Dewi Astasari., Sp. A
REVIEW KULIAH
Di susun oleh :
Zainul Abdil Muttaqin
KEPANITERAAN KLINIK MADYA
BAGIAN ILMU KESEHATAN ANAK
RSD MARDI WALUYO - FK UNISMA
2014
Anamnesa adalah Pemeriksaan dengan
wawancara

Macamnya ada Autoanamnesa & aloanamnesa
(pada anak lebih bermakna)

Anamnesa didapatkan data subjektif




PENDAHULUAN



Langkah-langkah Pembuatan Anamnesa
Pada Anak
1. Identitas pasien
2. Keluhan utama
3. Riwayat perjalanan penyakit
4. Riwayat penyakit dahulu
5. Riwayat kehamilan
6. Riwayat kelahiran
7. Riwayat gizi & makanan
8. Riwayat imunisasi
9. Riwayat tumbuh kembang
10. Riwayat keluarga



IDENTITAS PASIEN
Memastikan tidak salah anak
Cek: nama, umur, JK, nama orang tua, alamat,
umur, pendidikan & pekerjaan orang tua,
agama & suku bangsa



Keluhan utama adalah keluhan
yang menyebabkan pasien berobat
Tidak selalu apa yang pertama
diungkapkan orang tua pasien
Keluhan utama tidak selalu sejalan
dengan diagnosa utama
KELUHAN UTAMA



RIWAYAT PERJALANAN
PENYAKIT
Disusun scr kronologis & terperinci
Tanyakan juga riwayat pengobatan
sebelumnya, obat apa yang diminum,
jenisnya apa, berapa kali pemberian,
efek samping, membaik atau tidak
Tanyakan riwayat Perkembangan
penyakit komplikasi/ gejala sisa/
kecacatan
Tanyakan Kemungkinan penyakit lain
yang berhubungan dg penyakit tsb



Cont..
CONTOH:
Demam
Lamanya
Panas 7 hari, berobat tak sembuh typhoid fever
Demam 5 hari dan ada perdarahan dengue hemoragik fever (DHF)
Demam 5 hari tidak ada perdarahan dengue biasa
Demam intermitten malaria
Mendadak
Kontinu, remiten, intermitten
Terjadi pada malam hari
Menurun dan naik lagi
Menggigil, kejang, kesadaran
Mengigau, muntah, mencret, sesak napas
Ada manifestasi perdarahan, dsb


Batuk
Lamanya
Berulang/ kambuh
Spasmodik, kering, produktif
Sifat dahak
Penyerta:
Sesak napas
Mengi (sesak napas
berbunyi/ bengek)
Keringat malam (TBC,
bronchopneumonia,
pneumonia)
Sianosis, ortopne
Ada whoop (napas yg
panjang dan dalam pd
asma)

Mencret
Akut/ kronik
Frekuensi/ hari
Banyaknya/ kali,
konsistensi
Warna
Ada lendir/ darah
Disertai tenesmus
Muntah, sesak napas,
kejang, kencing
berkurang
Sesak napas dan kejang
tjd akibat pengeluaran
cairan yg berlebihan


Kejang
Lamanya
Frekuensi
Kejang pertama/ pnh
sblmnya
Kapan/ saat kejang terjadi
Sudah berapa kali
Tonik, klonik, umum, fokal
Lamanya, interval
Kesadaran wkt kejang/
sesudah kejang
Panas, muntah, lumpuh,
kepandaian mundur
Pd neonatus: perlu riwayat
kehamilan dan kelahiran

Muntah
Berapa lama
Frekuensi
Sifat muntah: proyektil
Warna muntahan
Setelah makan/ minum/
perubahan posisi
Disertai panas, mencret, dll

RIWAYAT PENYAKIT DAHULU
Riwayat yang pernah diderita anak, mungkin
berhubungan dengan penyakit yang terjadi
sekarangsekarang
Riwayat alergi
RIWAYAT KEHAMILAN
Kesehatan ibu saat kehamilan
Kunjungan antenatal
Pernah sakit panas (rubella, dsb)
penyebab BBLR, cacat bawaan, infeksi
kongenital
Konsumsi obat-obatan berhubungan
dengan cacat bawaan
Tetanus toxoid
Ibu merokok/ minum alkohol

RIWAYAT KELAHIRAN
Tanggal lahir
Tempat lahir
Ditolong oleh siapa
Cara kelahiran
Kehamilan ganda
Keadaan stlh lahir, pasca lahir, hari-hari 1 kehidupan
Masa kehamilan
Berat badan dan panjang badan lahir (apakah sesuai
dengan masa kehamilan, kurang atau besar)

RIWAYAT GIZI & MAKANAN
Riwayat makanan yang dikonsumsi anak nilai
kualitas & kuantitas
Ditanyakan anak konsumsi ASI/ PASI
ASI: tanya sampai usia berapa
PASI: Cara pemeberian, on demand atau ad libitum,
jadwal pemeberian
RIWAYAT IMUNISASI
Tanya status imunisasi dasar (BCG, DPT, polio,
campak, & Hep. B)& booster nya, imunisasi lain (Tipa,
MMR mumps, measles, rubella, Hepatitis. A, Hib )
Tanya kapan & tempat imunisasi
RIWAYAT TUMBANG
Riwayat Pertumbuhan
Kurva berat badan dan panjang badan terhadap
umur
Riwayat Perkembangan
Patokan perkembangan (milestones)
Pada bidang: motor kasar, motor halus, sosial-
personal, bahasa pada balita
Prestasi belajar pada anak usia sekolah
Masa pubertas

RIWAYAT KELUARGA
Diperlukan untuk menentukan keadaan
sosial-budaya & kesehatan keluarga
Tanyakan riwayat perkawinan dg keluarga
dekat, serta penyakit tertentu dalam
keluarga
Sebaiknya dibuat pedigree, terutama
untuk penyakit herediter



PENDAHULUAN
Pada dasarnya sama dg dewasa

Suasana harus tenang dan nyaman

Tata cara dan urutan pemeriksaan fisik pada anak
tetap dimulai dengan inspeksi, palpasi, perkusi
dan auskultasi.
Pemeriksaan Umum
Keadaan Umum
Kesan sakit
Kesadaran
Kesan status gizi
Status mental dan perilaku pasien

Kesan Keadaan Sakit
Apakah penderita tampak sakit ringan,
sedang atau berat ?
Sakit ringan atau sehat penderita tersenyum, tertawa,
bicara
Sakit lebih serius menangis terus menerus
Sakit berat pasif, tidak/sedikit bergerak
KESADARAN
Kompos mentis
Apatis
Somnolen
Sopor
Koma
Delirium
Status gizi /nutrisi :
kesan baik, kurus ,
gemuk
Tanda Vital
Tekanan Darah. Pengukuran seperti pada dewasa,
tetapi memakai manset khusus untuk anak, yang
ukurannya lebih kecil dari manset dewasa.
Besar manset antara setengah sampai dua per tiga
lengan atas
Nadi. Perlu diperhatikan, frekuensi/laju nadi (N: 60-
100 x/menit), irama, isi/kualitas nadi dan ekualitas
(perabaan nadi pada keempat ekstremitas
Nafas. Perlu diperhatikan laju nafas, irama atau
keteraturan, kedalaman dan pola pernafasan
Suhu. Pengukuran suhu tubuh dapat dilakukan
dengan beberapa cara :

1. Rectal
Anak tengkurap di pangkuan ibu, ditahan dengan tangan
kiri, dua jari tangan kiri memisahkan dinding anus kanan
dengan kiri, dan termometer dimasukkan anus dengan
tangan kanan ibu. Pada bayi < 2 tahun
2. Oral
Termometer diletakkan di bawah lidah anak.
Biasanya dilakukan untuk anak > 6 tahun. Suhunya
0,5C lebih rendah dari rectal
3. Aksiler
ditempelkan di ketiak dengan lengan atas lurus
selama 3 menit. Umumnya suhu yang diperoleh 1C
lebih rendah dari suhu rektal.



Data Antropometrik

Interpretasi :
1. BB/U dipetakan pada kurve
berat badan
BB< sentil ke 10 : defisit
BB> sentil ke 90 : kelebihan

2. BB/U dibandingkan dengan acuan standar,
dinyatakan persentase :
> 120% : gizi lebih
80% 120% : gizi baik
60% - 80% : tanpa edema, gizi kurang; dengan
edema, gizi buruk
< 60% : gizi buruk, tanpa edema (marasmus),
dengan edema (kwasiorkhor).



Data Antropometrik

1. TB/U pada kurva
< 5 sentil : deficit berat
Sentil 5-10 : perlu evaluasi untuk membedakan apakah perawakan
pendek akibat defisiensi nutrisi kronik atau konstitusional

2. TB/U dibandingkan standar baku (%)
90% - 110% : baik/normal
70% - 89% : tinggi kurang
< 70% : tinggi sangat kurang
1. Penilaian status gizi berdasarkan TB/ BB:
> 120% : Obesitas
110-120% : Overweight
90-110% : Normal
70-90% : gizi kurang
<70% : gizi baik


Pemeriksaan LILA
Lingkar lengan atas (LiLA) menggambarkan tumbuh
kembang jaringan lemak di bawah kulit dan otot yang tidak
banyak terpengaruh oleh keadaan cairan tubuh
dibandingkan dengan berat badan (BB).
Biasa dilakukan pada usia 1- 5 tahun
Interpretasi hasil dapat berupa:
1. LLA (cm): < 12.5 cm = gizi buruk (merah), 12.5 13.5
cm = gizi kurang (kuning), >13.5cm = gizi baik (hijau).

2. Bila umur tidak diketahui, status gizi dinilai dengan
indeks LLA/TB: <75% = gizi buruk, 75-80% = gizi
kurang, 80-85% = borderline , dan >85% = gizi baik
(normal).


Pemeriksaan pada kulit Inspeksi & palpasi
Perlu diperhatikan:
a. WARNA
Depigmentasi, hiperpigmentasi, bercak caf au
lait, spider naevi
b. SIANOSIS
- : Warna kebiruan pd kulit & mukosa
- Muncul bila Hb reduksi > 5 gr/dl
- Sianosis sentral (Penyakit paru, jantung, SSP)
& sianosis perifer (kedinginan, dehidrasi, syok)
c. IKTERUS
- muncul bila Bilirubin > 5 mg/dl (neonatus) & >
2 mg/dl (anak)
- Area: sklera, kulit, selaput lendir
- Penyakit: penyakit hemolisis, infeksi hepatitis,
mononukleosis infeksiosa, leptospirosis, sifilis
kongenital, obstruksi empedu
d. KELEMBABAN KULIT
- Keringat bayi muncul setelah 1 bln.
- Mucul bila: menangis, setelah aktivitas, demam,
hipoglikemia, gagal jantung, hipoklasemia, fibrosis
pankreas
e. TURGOR KULIT
- Diperiksa pada abdomen
- Buruk: dehidrasi berat, malnutrisi
f. TEKSTUR KULIT
- Kasar: def. vit. A, hipo/ hipertiroidime
- Kulit kasar & kering: iktiosis

Lain-lain: makula, papula, vesikula, pustula, ulkus,
nodul, eksema, purpura, eritema, edema, miliaria,
sikatriks
Dinilai: warna, kelebatan, distribusi, & karakteristik
rambut
Distribusi rambut jarang, kemerahan seperti rambut
jagung, mudah dicabut tanpa sakit: KEP
Distribusi berlebih: hipotiroidisme, keracunan vitamin A,
ES steroid/ dilantin, sindroma Cushing
Distribusi jarang/ alopesia: genetika, hipertiroidisme,
progeria
Tidak tumbuhnya rambut pubertas : hipotiroidisma,
disgenesis gonad
Tumbuhnya rambut pubertas terlalu cepat: normal,
pemakaian obat stilbestrol, testosteron, hormon adrenal,
penyakit SSP/ tumor testis/ ovarium.
Kelenjar limfe yang perlu diraba adalah : submaksila,
belakang telinga, leher, ketiak, bawah lidah, dan sub
oksipital.
Apabila teraba tentukan lokasinya, ukurannya, mobile
atau tidak.

KGB besar, hangat &
sakit infeksi akut
Pada pemeriksaan kepala perlu diperhatikan :
besar, ukuran, lingkar kepala, asimetri, sefalhematom,
maulase, kraniotabes, sutura, ubun-ubun, pelebaran
pembuluh darah, rambut, tengkorak dan muka.
Kepala diukur pada lingkaran yang paling besar, yaitu
melalui dahi dan daerah yang paling menonjol daripada
oksipital posterior.

Pada pemeriksaan muka perhatikan : simetri
tidaknya, paralisis, jarak antara hidung dan mulut,
jembatan hidung, mandibula, pembengkakan, tanda
chovstek, dan nyeri pada sinus.

Pada pemeriksaan mata perhatikan : fotofobia,
ketajaman melihat, nistagmus, ptosis, eksoftalmus,
endoftalmus, kelenjar lakrimalis, konjungtiva, kornea,
pupil, katarak, dan kelainan fundus.
Strabismus ringan dapat ditemukan pada bayi normal
di bawah 6 bulan atau umur 1 tahun dalam
beberapa saat

Untuk pemeriksaan hidung, perhatikan : bentuknya,
gerakan cuping hidung, mukosa, sekresi, perdarahan,
keadaan septum, perkusi sinus.

Pada pemeriksaan mulut, perhatikan :
Bibir : warna, fisura, simetri/tidak, gerakan.
Gigi : banyaknya, letak, motling, maloklusi, tumbuh
lambat/tidak.
Selaput lendir mulut : warna, peradangan,
pembengkakan.
Lidah : kering/tidak, kotor/tidak, tremor/tidak,
warna, ukuran, gerakan, tepi hiperemis/tidak.
Palatum : warna, terbelah/tidak, perforasi/tidak.
Pemeriksaan tenggorok dilakukan dengan
menggunakan alat skalpel, anak disuruh
mengeluarkan lidah dan mengatakan aaa yang keras,
selanjutnya spaltel diletakkan pada lidah sedikit
ditekan kebawah.
Perhatikan : uvula, epiglotis, tonsil besarnya, warna,
paradangan, eksudat, kripte
Pada pemeriksaan telinga, perhatikan : letak telinga,
warna dan bau sekresi telinga, nyeri/tidak (tragus,
antitragus), liang telinga, membrana timpani,
mastoid, & ketajaman pendengaran.
Pemeriksaan menggunakan head lamp dan spekulum
telinga
Ketajaman penglihatan pada umur 6 bulan: free field
test, lebih besar: garpu tala & audiometer
Pada leher perhatikanlah : panjang/pendeknya,
kelenjar leher, letak trakhea, pembesaran kelenjar
tiroid, pelebaran vena, pulsasi karotis, dan gerakan
leher.
Inspeksi
Pada anak < 2 tahun : lingkar dada < lingkar
kepala
Pada anak > 2 tahun : lingkar dada lingkar
kepala.
Perhatikan
a. Bentuk thorax : funnel chest, pigeon chest,
barell chest, dll
b. Pengembangan dada kanan dan kiri :
simetri/tidak, ada retraksi.tidak
c. Pernafasan : cheyne stokes, kusmaul, biot
d. Ictus cordis

Palpasi
Perhatikan :
1. Pengembangan dada : simetri/tidak
2. Fremitus raba : dada kanan sama dengan
kiri/tidak
3. Sela iga : retraksi/tidak
4. Perabaan iktus cordis

Perkusi
Dapat dilakukan secara langsung dengan
menggunakan satu jari/tanpa bantalan jari
lain, atau secara tidak langsung dengan
menggunakan 2 jari/bantalan jari lain. Jangan
mengetok terlalu keras karena dinding thorax
anak lebih tipis dan ototnya lebih kecil.
Tentukan :
1. Batas paru-jantung
2. Batas paru-hati : iga VI depan
3. Batas diafragma : iga VIII X belakang.
Bedakan antara suara sonor dan redup.

Auskultasi
Tentukan suara dasar dan suara tambahan :
Suara dasar : vesikuler, bronkhial, amforik,
cog-wheel breath sound, metamorphosing
breath sound.
Suara tambahan : ronki, krepitasi, friksi
pleura, wheezing
Suara jantung normal, bising, gallop.

Untuk pemeriksaan thorax seperti halnya pada dewasa, meliputi
urutan :
Inspeksi
Perhatikan dengan cara
pengamatan tanpa menyentuh :
1. Bentuk : cekung/cembung
2. Pernafasan : pernafasan
abdominal normal pada bayi
dan anak kecil
3. Umbilikus : hernia/tidak
4. Gambaran vena : spider navy
5. Gambaran peristaltik

Auskultasi
Perhatikan suara peristaltik,
normal akan terdengar tiap 10
30 detik.

Perkusi
Normal akan terdengar suara
timpani.
Dilakukan untuk menentukan
udara dalam usus, atau adanya
cairan bebas/ascites.

Palpasi
Palpasi dilakukan dengan cara :
anak disuruh bernafas dalam,
kaki dibengkokkan di sendi lutut,
palpasi dilakukan dari kiri bawah
ke atas, kemudian dari kanan atas
ke bawah. Apabila ditemukan
bagian yang nyeri, dipalpasi
paling akhir.
Perhatikan : adanya nyeri tekan ,
dan tentukan lokasinya. Nilai
perabaan terhadap hati, limpa,
dan ginjal.

Palpasi dapat dapat dilakukan secara mono/bimanual
Ukur besar hati dengan cara :
1. Titik persilangan linea medioclavicularis kanan dan arcus aorta
dihubungkan dengan umbilikus.
2. Proc. Xifoideus disambung dengan umbilicus.
Normal : 1/3 1/3 sampai usia 5 6 tahun.
Perhatikan juga : konsistensi, permukaan, tepi, nyeri tekan
Hepatomegali: Infeksi (sepsis&hepatitis, anemia, talasemia, PJK,
perikarditis konstriktiva, angguan metabolik (mukopolisakaridosis,
mukolipidosis), sumbatan saluran empedu, keganasan, SLE,
hemosiderosis, malnutrisi
Ukur besar limpa (schuffner) dengan cara :
Tarik garis singgung a dengan bagian arcus aorta kiri.
Dari umbilikus tarik garis b tegak lurus a bagi dalam 4
bagian. Garis b diteruskan ke bawah sampai lipat paha,
bagi menjadi 4 bagian juga.
Sehingga akan didapat S1 S8
Membesar bila schuffner IV VIII (lipat paha)
Splenomegali: infeksi (sepsis, demam, tifoid, malaria,
toksoplasmosis); kelainan darah (talasemia, anemia sel
sabit); kongesti (CH, hipertensi porta, PJK); gangguan
metabolik (mukolipidosis, Gauchers syndrome)

Cara palpasi:
Tangan kiri pemeriksa diletakkan di bag posterior
tubuh pasien, jari telunjuk kanan berada di atas
angulus costovertebralis jari telunjuk menekan
organ/ massa ke atas, sementara tangan kanan
melakukan palpasi secara dalam dari anterior & akan
merasakan organ/ massa tsb menyentuh, kmdn
jatuh kembali bila letaknya retroperitoneal.
Perhatikan : kelainan bawaan, panjang dan bentuknya,
clubbing finger, dan pembengkakan tulang.
Persendian
Periksa : suhu, nyeri tekan, pembengkakan, cairan,
kemerahan, dan gerakan
Otot
Perhatikan : spasme, paralisis, nyeri, dan tonus.


Lihat: lordosis, kifosis, skoliosis
Kekakuan pergerakan tulang belakang: infeksi SSP
(poliomielitis, meningitis, tetanus); osteomiolitis;
epifisistis vertebra; kelainan tulang belakang
Untuk anak perempuan :
Ada sekret dari uretra dan
vagina/tidak.
Labia mayor : perlengketan /
tidak
Himen : atresia / tidak
Klitoris : membesar / tidak.

Untuk anak laki-laki :
Orifisium uretra :
hipospadi = di ventral /
bawah penis
Epispadia = di dorsal / atas
penis.
Penis : membesar / tidak
Skrotum : membesar / tidak,
ada hernia / tidak.
Testis : normal sampai puber
sebesar kelereng.
Reflek kremaster : gores paha
bagian dalam testis akan naik
dalam skrotum
Untuk anus, perhatikan :
Daerah pantat adanya
tumor, meningokel,
dimple, atau abces
perianal.
Fisura ani
Prolapsus ani

Pemeriksaan rektal :
anak telentang, kaki
dibengkokkan, periksa
dengan jari kelingking
masuk ke dalam rektum.
Perhatikan :
a. Atresia ani
b. Tonus sfingter ani
c. Fistula rektovaginal
d. Ada penyempitan /
tidak.

Pemeriksaan Tumbuh Kembang
Anak

Jenis kejang (Tonik atau Klonik)
Bagian tubuh yang terkena (Umum atau Fokal)
Lamanya kejang
Frekuensi kejang
Interval antara serangan kejang
Keadaan saat kejang dan setelah kejang
Kejang disertai demam apa tidak
Apakah pernah kejang sebelumnya
Kejang grand mal ditandai dengan kejang umum tonik
klonik yang disertai dengan hilangnya kesadaran
Kejang petit mal ditandai dengan hilangnya kesadaran
selama 5-15 detik.
Kejang psikomotor ditandai oleh perubahan kesadaran
serta aktivitas motoris yang abnormal.
Kejang autonomik ditandai dengan kelainan viseral yang
bervariasi
Tremor ialah gerakan halus yang konstan.
Waktu timbul


Beberapa penyakit lain :




Tremor dan twitching sering terlihat pada bayi tanpa
sebab yang jelas

Istirahat
Lesi sistem ekstrapiramidal
Bergerak Lesi serebelum
Hipoglikemia
Hipokalsemia
Hipertiroidisme
Hipotermia
Degenerasi medula spinalis
3. Twitching
Twitching adalah gerakan spasmodik yang berlangsung
singkat, dapat terlihat pada otot yang lelah, nyeri
setempat, atau menyertai korea.
Twitching dapat merupakan manifestasi psikologis
(ansietas dan lain-lain) yang biasanya bersifat periodik.
Korea merupakan suatu gerakan involunter kasar, tanpa
tujuan, cepat dan tersentak sentak, tidak teratur, tidak
terkoordinasi, dan berhubungan dengan tonus otot yang
tinggi.
Menghilang pada waktu tidur.
Meningkat pada saat pasien diminta melakukan gerakan
involunter.
Gerakan korea dan atetosi seringkali terjadi bersama
sama, disebut gerakan korea atesosis.
Paresi (incomplete paralysis) kelumpuhan otot yang
tidak sempurna.
Paralisis (complete paralysis) kelumpuhan otot yang
sempurna
Dapat bersifat flaksid atau spastik.
Flaksiditas
adalah tidak dapat mempertahankan tonus
dalam posisi normal
umumnya menunjukkan adanya lesi lower motor
neuron (LMN)
Ditemukan pada penyakit poliomilelitis,
amiotonia kongenital, miastenia, atau kerusakan
medula spinalis
Biasanya disertai dengan kurangnya refleks
Spastik




Hemiparesis atau hemiparalisis (hemiplegia) kelumpuhan
satu sisi tubuh dan anggota gerak yang dibatasi oleh garis
tengah didepan dan dibelakang.
Hemiplegia alternans (paralisis menyilang) yaitu kelumpuhan
1 syaraf otaf atau lebih ipsilateral disertai kelumpuhan lengan
dan tungkai kontralateral.
Diplegia kelumpuhan pada dua anggota gerak yang
berhubungan, anggota gerak bawah atau anggota gerak atas.
Paraplegia kelumpuhan anggota gerak bawah.
Tetraplegia kelumpuhan pada keempat anggota gerak .
ditandai dengan tonus otot yang meningkat dengan
kontraksi yang berlangsung lama.
Disertai refleks yang meningkat serta refleks
patologis.
Kelainan ini terjadi akibat lesi upper motor neuron
(UMN)
Refleks dinding abdomen menggores kulit abdomen
dengan 4 goresan yang membentuk segi empat dengan titik
titik sudutdibah xifoid, diatas simfisis, dan di kanan kiri
umbilikus.
Umbilikus akan bergerak pada setiap goresan.
Hasilnya negatif (-) pada bayi usia <1 tahun, poliomielitis
atau anak dengan lesi sentral atau lesi piramidal.
Refleks kremaster menggores kulit paha bagian dalam.
Dalam keadaan normal testis akan naik.
Hasil negatif (-) pada bayi usia > 6 bulan, anak < 12 tahun,
dan adanya lesi medula spinalis misalnya poliomielitis.
diperiksa pada Tendon biseps, triseps, patela dan achiles.
R. biseps T. biseps diketuk fleksi sendi siku.
R. triseps T. triseps diketuk ekstensi sendi siku.
R. patela T. patela diketuk ekstensi sendi lutut.
R. achilles T. achilles diketuk fleksi plantar kaki.
Pasien harus santai.
Pada bayi dan anak kecil, ketukan cukup dilakukan dengan
jari yang tangan, pemukul refleks hanya dipakai pada anak
yang besar.
Hasilnya dibandingkan antara kanan dan kiri.
Hasil meningkat lesi UMN, hipertiroidisme, hipokalsemia,
tumor batang otak.
Hasil hiporefleksi lesi LMN, Sindrom Down, malnutrisi,
dan beberapa kelainan metabolik.
R. babinski menggores bagian lateral plantar dari arah posterior ke
anterior, dengan alat yang sedikit runcing.
Positif : ekstensi ibu jari kaki dan menyebarnya jari jari kaki yang
lain.
Refleks ini normal pada bayi sampai umur 18 bulan.
Bila masih positif (+) pada usia 2 2.5 tahun, mungkin terdapat lesi
piramidal.
R. Oppenheim menekan sisi medial pergelangan kaki hasil
sama dengan R. babinski.
R. Hoffmann dilakukan ketukan pada falang terakhir jari kedua
positif (+) jika fleksi jari pertama dan ketiga lesi UMN dan
Tetani.

Klonus pergelangan kaki dorsofleksi kaki pasien
dengan cepat dan kuat, sementara sendi lutut diluruskan
dengan tangan lain pemeriksa yang diletakkan pada fosa
poplitea positif (+) terjadi gerakan ekstensi dan
fleksi kaki secara terus menerus dan cepat.
Klonus patella adalah gerakan patella yang naik turun
dengan cepat, timbul bila patella ditekan kuat kuat dan
cepat, sementara tungkai dalam keadaan ekstensi dan
lemas.
Klonus seringkali menyertai suatu keadaan dengan
hiper-refleksi dan refleks patologi.
Kaku kuduk (nuchal rigidity)
Positif (+) pasien dalam posisi terlentang, jika lehernya
ditekuk secara pasif terdapat tahanan, sehingga tdagu tidak
dapat menempel pada dada.
Biasanya terdapat pada : tetanus, abses retrofaringeal, abses
peritonsilar, ensevalitis virus, keracunan timbal, dan artritis
reumatoid.
Tanda Brudzinki I ( Brudzinkis neck sign)
Satu tangan pemeriksa diletakkan dibawah kepala pasien
yang terlentang, dan tangan lainnya di dada pasien untuk
mencegah agar badan tidak terangkat fleksikan kepala ke
dada secara pasif (jangan dipaksa).
Positif (+) kedua tungkai bawah akan fleksi pada sendi
panggul dan sendi lutut.
Tanda Brudzinki II( Brudzinkis contralateral leg sign)
Pasien terlentang fleksi pasif tungkai atas pada sendi
panggul akan diikuti oleh fleksi tungkai lainnya pada
sendi panggul dan sendi lutut.
Tanda kernig
- Pasien dalam posisi terlentang dilakukan fleksi tungkai
atas tegak lurus, kemudian dicoba meluruskan tungkai
bawah pada sendi lutut.
- Normalnya tungkai bawah dapat membentuk sudut lebih
dari 135 terhadap tungkai atas.
- Pada iritasi meningeal ekstensi lutut secara pasif akan
meyebabkan rasa sakit dan ada hambatan.



Tanda tetani (Tanda Chvovsteck)

Melakukan didaerah telinga tempat keluarnya N. fasialis.
Positif (+) kontraksi sebagian atau seluruh otot yang
dipersarafi oleh N. fasialis ipsilateral.
Positif ringan ada getaran ringan sudut mulut atau
bibir atas.
Positif sedang ada gerakan cuping hidung dan
seluruh sudut mulut.
Positif kuat kontraksi seluruh otot dahi, kelopak mata
dan pupil
Hanya dapat dilakukan pada anak yang sudah dapat
mengerjakan instruksi / perintah dari pemeriksa dan
kooperatif.
Pada bayi dan anak yang tidak kooperatif hanya dapat
dinilai kesan keseluruhan saja.
Posisi duduk dengan tungkai bawah tergantung
Pasien diminta untuk menggerakkan anggota badan
yang diuji dan pemeriksa menahan anggota badan yang
diuji dan menahan gerakan gerakannya (kekuatan
kinetik).
Pasien juga diminta menahan anggota badan yang di uji
tetap berada di tempatnya dengan kekuatan terhadap
gerakan yang dilakukan pemeriksan (gerakan statis).
Menggunakan Angka 5 sampai 0 atau kode huruf :
N : Normal
G : Good
F : Fair
P : Poor
T : Trace
O : Zero
5 : Normal
4 : dapat menggerakkan sendi dengan aktif untuk
menahan berat dan melawan tekanan secara
simultan.
3 : dapat menggerakkan anggota gerak untuk menahan
berat, tetapi tidak dapat menggerakkan anggota
badan untuk melawan tekanan pemeriksa.
2 : dapat menggerakkan anggota gerak tapi tidak kuat
menahan berat dan tidak melawan tekanan
pemeriksa.
1 : terlihat atau teraba getaran kontraksi otot, tetapi
tidak ada gerakan anggota gerak sama sekali.
0 : paralisis, tidak ada kontraksi otot sama sekali
Kode Huruf Angka 5 sampai 0
Uji sentuhan
Sepotong kain atau kapas disentuhkan pada kulit yang diperiksa dan anak
disuruh menjawab apakah terasa tersentuh.
Uji rasa nyeri
Menggunakan jarum yang tajam dan tumpul.
Ditunjukkan terlebih dahulu caranya dengan mata pasien terbuka, dan
anak disuru membedakan ujung jarum tajam dan tumpul.
Anak diminta untuk menutup mata, kemudian uji dilakukan dikulit
tangan, kaki, pipi, rahang, dan anak disuruh membedakan ujung jarum
yang tajam dan tumpul.
Uji vibrasi
Menggunakan garpu tala yang bergetar lalu di tempelkan pada sendi jari,
ibu jari kaki, serta maleolus lateral dan medial.
Pasien boleh membuka mata tetapi tidak boleh melihat
Kemudian ditanya apakah terasa ada getaran.
Uji Koordinasi
Dapat dilakukan dengan cara uji jari kehidung atau tumit
ketulang kering.
Disuru melihat contoh terlebih dahulu kemudian disuru
melakukannya sendiri.
Uji jari kehidung, mula mula dilakukan dengan tangan terbuka,
kemudian dengan mata tertutup.
Pada gangguan koordinasi yang berat, sudah terlihat pada saat uji
mata terbuka.
Pada gangguan ringan akan terlihat pada mata tertutup.
Uji tumit - ketulang kering, setelah diberi contoh anak disuru
meletakkan tumit kaki ke atas tulang kering tungkai lainnya, dan
sebaliknya.
Dapat dilakukan dengan mata tertutup dan terbuka.
Uji Romberg
- Pasien disuru berdiri dengan dua kakinya yang tertutup rapat
sambil menutu mata.
- Positif (+) = pasien kemudian bersandar atau jatuh kesatu sisi.
Saraf otak I (N. olfaktorius) uji penciuman
Saraf otak II (N. optikus) uji ketajaman penglihatan
Saraf otak III, IV, VI ( Nn. Okulomotorius, trolearis,
abdusen)
- uji gerakan bola mata
- uji akomodasi
- uji diplopia
Saraf otak V (N. trigeminus) uji sensasi
Saraf otak VII (N. fasialis)


Saraf otak VIII (N. akustikus) uji ketajaman pendengaran
Saraf otak IX (N. glosofaringeus)
- hilangnya refleks muntah dan hipersalivasi
- hilangnya sensai mengecap uji pengecapan
- hilangnya sensasi pada faring, tonsil, tenggorok bagian atas
dan lidah bagian belakang
- hilangnya kontriksi dinding posterior faring ketika
mengeluarkan suara ah
Saraf otak X (N. vagus)
Saraf otak XI (N. Aksesorius)
Saraf otak XII (N. hipoglosus)




Edema
Sesak napas
Mulai tampak kapan,
dimana (kelopak mata/
pergelangan kaki)
Kemudian menjalar
Hanya pagi hari/
sepanjang hari
Keluhan penyerta: batuk,
oliguria, sesak nafas,
berdebar, pucat, kuning
dsb
Berhubungan dengan penyakit:
saluran napas/ penyakit KVS
Baru pertama/ berulang kali
Ortopnoe/ posisi tripod
Sesak napas akut, malam hari
sakit dada (edema paru akut)
Setelah latihan fisik (lari/ berjalan
beberap meter)
Pada bayi sesak timbul setelah
menetek 2 3 menit
Disertai: batuk mengi, perut
besar, sakit sendi berpindah,
demam, sakit dada, sianosis,
riwayat tersedak

Ikterus
Perdarahan
Mata tampak kuning (scleranya)
Sering didahului oleh miksi dengan
urin kuning merah seperti teh
Pada neonatus ditemukan 2 macam
ikterus:
Fisiologik
Timbul hari ke-2 atau ke-3
Hampir pd semua anak
Krn fungsi hepar belum sempurna
Patologi
Timbul cepat, hr pertama sudah terjadi
Fatal
Krn darah ibu & anak tidak cocok
(incompatible rhesus)
Disertai dengan demam, sakit perut,
mual, muntah, nafsu makan berkurang
Tinja warna dempul (putih kekuning-
kuningan) ditemukan pd anak
dengan kelainan destruksi saluran hati
(ikterus obstruktifus)

Saat perdarahan
Lokasi (luar/ dalam)
Pertama kali/ sudah pernah
Jumlah
Anggota keluarga dengan
penyakit yang sama
Perdarahan kulit, hidung
(epistaksis), gusi (ada trauma
atau tidak)
Penyertanya: demam, pucat,
perut membesar
Diperiksa lab untuk
mengetahui patologis atau
tidak

Kompos mentis
Sadar penuh
Respons adequat thdp semua stimulus
Apatik
Sadar tapi tak acuh
Masih ada respons thdp stimulus
Somnolen
Tampak mengantuk
Responsif thd stimulus kuat tapi tidur lagi
Sopor
Sedikit responsif thd stimulus kuat
Refleks pupil thd cahaya masih positif
Koma
Tidak responsif sama sekali thd stimulus
Refleks pupil thd cahaya negatif (kesadaran yang paling rendah)
Delirium
Kesadaran menurun, kacau, disorientasi, iritatif
Sering ada halusinasi (salah persepsi thd rangsang itu)