Anda di halaman 1dari 43

PEMERIKSAAN LABORATORIUM

PADA BERBAGAI PENYAKIT KULIT - KELAMIN


DAN SEROLOGI
PENYAKIT MENULAR SEKSUAL (PMS)

Adalah : kelompok penyakit infeksi yang ditularkan melalui


kontak seksual
Cara penularan lain : transfusi darah, jarum suntik, plasenta
Yang termasuk PMS : Sifilis, Gonore (GO), klamidiasis, herpes
genitalis, kondiloma akuminata, kutu
kemaluan, HIV-AIDS, hepatitis B, C dll

SIFILIS
Adalah : penyakit kelamin yang bersifat kronis/menahun
Kuman penyebab : Treponema pallidum
3 stadium
- stadium I : luka atau ulkus pada tempat masuk kuman, bulat
lonjong, dasar bersih, merah, kulit di sekitar terang,
pada perabaan keras dan tidak nyeri, pembengkakan
kelenjar getah bening
efek primer stadium I.
dapat sembuh sendiri 3-6 minggu
- Stadium II : 6-8 minggu, demam, sakit kepala, sakit
tulang, kelainan kulit dan selaput lendir (sama
penyakit kulit lain), limfadenitis generalisata
hilang timbul
- Stadium III : 3-10 thn setelah stad. I, tidak menular, menyerang
semua organ

Sifilis laten : penderita sifilis tanpa gejala dan hanya ditemukan


hasil tes yang positif
Pemeriksaan laboratorium
Skrining sebelum menikah, ibu hamil, MCU dll
Diagnosis

Jenis tes untuk skrining penyakit sifilis adalah:


Venereal disease research laboratory (VDRL) test.
- tes serologi, non treponemal screening test
- mendeteksi antibodi (reagin) flokulasi
- kurang akurat, sering bereaksi silang dengan antibodi lain
(malaria, TBC, peny. autoimun dll)
- Tidak bermanfaat pada tahap sangat dini atau tahap lanjut
- sampel : serum, plasma, cairan otak dll
- Sensitifitas dan spesifisitas rendah
Rapid plasma reagin (RPR) test.
- mendeteksi Ab (reagin) , nontreponemal screening test
Enzyme immunoassay (EIA) test.
- mendeteksi Ab
Jenis tes untuk diagnosis penyakit sifilis adalah:

Fluorescent treponemal antibody absorption (FTA-ABS) test.


- Mendeteksi antibodi, treponemal antibodi
- Sulit dilakukan
- Digunakan untuk tes konfirmasi setelah jenis tes yang lain
positif (memastikan
diagnosis)
- sampel : darah, cairan otak.
Treponema pallidum particle agglutination assay (TPPA)
- Mendeteksi antibodi
- Tes lanjutan atau tes konfirmasi, dilakukan bila jenis tes
yang lain positif
- sampel : hanya darah
Darkfield microscopy.
- Melihat secara langsung bakteri T. pallidum pada cairan atau
jaringan yang berasal
dari tempat infekaipresent, seperti corkscrew-shaped
- Digunakan pada stadium awal.
Microhemagglutination assay (MHA-TP)
- Mendeteksi antibodi
- Tes lanjutan atau tes konfirmasi, dilakukan bila jenis tes yang lain
positif
- sampel : hanya darah

Penilaian hasil tes:

- kualitatif : reaktif atau tidak reaktif


- Semikuantitatif : 1/2, 1/4, 1/8 dst
HIV-AIDS

HIV: Human Immunodeficiency Virus,


adalah virus (retrovirus) yang menyerang
dan bertahap merusak sistem immunitas
tubuh dan berkembang menjadi AIDS.

AIDS: Acquired Immune Deficiency


Syndrome adalah sekumpulan tanda atau
gejala berat dan kompleks yang
disebabkan oleh penurunan respon
immunitas tubuh.

HIV tidak sama dengan AIDS


Epidemiologi:
I ditemukan : tahun 1981 di AS sebagai penyakit baru
pada laki laki homoseksual
Di Indonesia : - I diketahui tahun 1987
- Jumlah kasus dari 1 Januari 1987 sampai 31 Maret 2009
adalah 23.000 penderita dengan kematian pada 3.400
penderita
- Penularan terutama pada pengguna narkoba
HIV dalam jumlah yang bisa menularkan ada di:
CAIRAN SPERMA
CAIRAN VAGINA
DARAH
AIR SUSU IBU
Kegiatan yang menularkan HIV
Hubungan seksual yang tidak aman dengan orang yang terinfeksi
HIV
Transfusi darah yang tercemar HIV
Mengunakan jarum suntik, tindik, tatto bersama-sama dengan
penderita HIV dan tidak disterilkan
Dari Ibu hamil yang terinfeksi HIV kepada anak yang di kandungnya
Stadium dan gejala HIV-AIDS
Stad. I : Infeksi primer
- beberapa minggu
- proliferasi virus dengan cepat
- demam, mialgia, atralgia, malaise, adenopati, rash
Stad. II : Defisiensi imun dini
- berlangsung 5 tahun terinfeksi
- asimptomatik
- gejala seperti penyakit autoimun dan limfadenopati
Stad. III : Defisiensi imun intermedia
- berlangsung rata rata 5 tahun
- gejala imunodefisiensi mulai muncul, risiko infeksi
oportunistik dan keganasan mulai meningkat
Stad. IV : Defisiensi imun lanjut(stadium akhir)
- berlangsung rata rata 3 tahun
- Masuk penyakit AIDS:
- Kekebalan tubuh sudah sangat sedikit (CD4 < 200 u/L)
dan muncul infeksi oportunistik berat seperti TBC,
Radang Paru, Gangguan Syaraf dan keganasan seperti
Kaposi Sarkoma (kanker Kulit)
Hal yang harus diperhatikan sewaktu akan dilakukan
pemeriksaan laboratorium:
Sukarela Tidak boleh ada tekanan oleh sebab apapun
Rahasia Hasilnya hanya diketahui oleh yang tes dan
konselor
Keputusan di tangan klien Semua keputusan baik sebelum
dan sesudah tes merupakan
keputusan klien
Program yang menyertai :
Konseling sebelum dan setelah
Informed consent (persetujuan)
Kerahasiaan
Supervisi dan kontrol kualitas tes
Kegiatan untuk perawatan dan pendukung untuk ODHA (orang
dengan HIV/AIDS)
Strategi
Tes HIV
HIV Diagnosis utama Infeksi HIV adalah
Diagnosis pemeriksaan/ deteksi antibodi terhadap
HIV yang terdapat dalam darah pasien
terinfeksi

Introduksi Ada 3 tipe utama tes antibodi HIV :


tes HIV
ELISA

Western Blot

Rapid HIV tests


ELISA
Enzyme linked immunosorbent assay

Ketika antibodi HIV tampil dalam serum tes,


ia berada dilapisan tengah diantara antigen
HIV,melekat kepada test well, dan ensim
ditambahkan kepada test well diikuti
pengikatan tes antigen antibodi

Introduksi The test well dicuci untuk melepas ensim


tes yang tak terikat
HIV
Ditambahkan reagen pewarna.

Perubahan warna reagen terjadi ketika setiap


antigen terikat dikatalisis.

Adanya antibodi HIV dapat dikenali dari


perubahan warna reagen
ELISA Enzyme linked immuno sorbent assay

(+)

Piring HIV Antibodi Ensim Reagen


Introduksi pewarna
berlapis Pts
tes HIV Ag

(- )
Introduksi tes HIV
Piring ELISA
Positif ? hasil

kontrol
Negatif
Module 1 Sub Module 3 PPT02
Western
Blot
Gp 160
Gp 120

p66
p55
p51
Introduksi
tes HIV Gp 41
p31
p24
p17
(+) Indeterminate (-)
Rapid Tests
Rapid tests dapat menggunakan
berbagai jenis teknik termasuk :
Aglutinasi partikel
Lateral flow membranes
Through flow membranes
Comb-dipstick based systems

Introduksi Kebanyakan mempunyai sensitivitas


tes HIV 99% dan spesifisitas 98%
Rapid Tests
Keuntungan :
dapat cepat diketahui
tidak membutuhkan batching
tidak membutuhkan alat khusus atau
petugas terlatih khusus
hasil diperoleh pada hari yang sama

Introduksi Hanya tes antibodi rapid yang


tes HIV direkomendasikan WHO yang dapat
digunakan, guna memastikan kualitasnya
Assay
untuk Ada syarat yang harus dipenuhi untuk
Setiap penggunaan setiap jenis Assay Antibodi.
Keperluan
Pilihan assay antibodi tergantung 3 faktor :

tujuan dari assay;


sensitivitas dan spesifisitas
assay;
Introduksi prevalensi HIV dalam populasi
tes HIV yang di tes
Tujuan Tes
Antibodi Untuk keamanan Transfusi dan
transplantasi (untuk keamanan resipien)
Surveillance (untuk mengetahui keadaan
di populasi)
Diagnosis klinis penyakit HIV (untuk
diketahui oleh individu)

Introduksi HIV assays digunakan untuk salah satu dari


tes HIV ketiga tujuan diatas. Tujuan yang satu
seringkali tidak memenuhi tuntutan tujuan
lainnya, misal tujuan diagnosis HIV bukan
untuk memenuhi tuntutan keadaan di
populasi
Karakteristik
Tes Setiap tes biologik mempunyai
kemungkinan hasil positif palsu dan
negatif palsu

Akurasi assay biologik mempunyai tiga


parameter :
Sensitivitas
Spesifisitas
Introduksi
tes HIV Nilai prediktif
Strategi Tes
Rekomendasikan pengulangan tes HIV
pada semua hasil positif karena
dimungkinkan terjadi hasil positif palsu.

Tujuan penggunaan ketepatan tes ulang harus


ditimbang dengan biaya yang dikeluarkan.

WHO & UNAIDS merekomendasikan strategi


Introduksi tes tiga untuk memperbesar akurasi dan
tes HIV meminimalisasi biaya
Strategi
Satu Semua tes darah dilakukan dengan satu
ELISA atau rapid test yang highly
sensitive.

Semua hasil positif (atau tak pasti/


indeterminate) dikatakan dipertimbangkan
terinfeksi

Introduksi Semua hasil negatif dikatakan tidak terinfeksi


tes HIV
Strategi ini digunakan pada :
Layanan transfusi/transplantasi
Survailans (didaerah prevalensi tinggi
Strategi I
Pengamanan transfusi darah,
transplantaasi organ,
surveilans

A1

A1 + A1 -

Anggap positf Laporkan negatif


Strategi Dua
Semua darah di tes dengan satu ELISA
atau rapid test

Jika hasil pertama adalah positif , maka


konfirmasi assay HIV kedua, dilakukan

Tes konfirmasi menggunakan tes yang


berbeda metodologinya dan protein target
Introduksi
tes HIV Hasil diskordan di periksa ulang
menggunakan assay yang sama dan jika
hasilnya tetap diskordan , maka sampel
nya dikatakan indeterminate
Strategi Dua
Biasanya digunakan untuk melakukan
diagnosis klinis HIV

Dapat digunakan untuk survailans HIV di


negara prevalensi rendah, ulangi tes
agar hasil positif palsu dapat dikurangi

Semua hasil indeterminate dilaporkan


Introduksi dan dianalisa secara terpisah dalam
tes HIV laporan tahunan secara terpisah
Strategi II A1

Surveilans, Diagnosis

A1 + A1 -

Laporkan negatif
A2

A1+A2- A1+A2+

Ulangi A1 dan A2 Laporkan positf

A1+A2+ A1+A2- A1-A2-

Laporkan positf Laporkan Laporkan negatif


indeterminate
Strategi Tiga
Sama dengan Strategi Dua , kecuali
bahwa tes ketiga dilakukan pada semua
sampel positif,termasuk sampel dengan
hasil diskordan (tes awal positif dan tes
ulang hasilnya negatif );

Sediaan dan metodologi 3 assay dengan


antigen yang berbeda perlu digunakan
Introduksi
tes HIV
Jika sampel tes ke tiga interdeterminan maka
hasilnya dikatakan indeterminan
A1

Strategi III A1 + A1 -
Diagnosis
Laporkan
negatif
A2

Anggap
Negatif A1+A2+ A1+A2-
Anggap
indeterminate
Ulangi A1 dan A2

Risiko Risiko
tinggi rendah A1+A2+ A1+A2- A1-A2-

Laporkan
A3 negatif

A1+ A2- A3- A1+ A2+ A3- A1+ A2- A3+ A1+ A2+ A3+

Laporkan
Anggap positf
indeterminate
Diagnosis
Infeksi HIV Assay antibodi HIV tidak dapat digunakan
untuk diagnosis:

Infeksi akut HIV

Infeksi HIV pada bayi baru lahir

Introduksi
tes HIV
Infeksi Akut
HIV Periode Jendela :
Mengikuti infeksi akut HIV, sebelum
antibodi HIV terdeteksi dalam aliran
darah pasien

Pasien sangat infeksius, meski hasil tes


antibodi HIV negatif, HIV dengan cepat
berkembang diri di seluruh tubuh.
Introduksi
tes HIV Biasanya sampai minggu ke 12 , dapat juga
lebih pendek, jika sensivitas tes anti bodi
assaynya sensitif (terutama antigen HIV p24).
Diagnosis
Pada infeksi akut , assay digunakan untuk
pada Infeksi
mendeteksi bagian virus:
Akut HIV p24 antigen
Deteksi protein viral p24
Spesifitas tinggi (>95%) sensitivitas rendah

(80%)

Introduksi HIV proviral DNA


tes HIV Deteksi DNA HIV yang terintegrasi dalam
genome sel mono nukler darah tepi;
Berbasis teknologi PCR
Spesifitas tinggi (98%) dan sensitivitas tinggi
(>99%)
Hanya tersedia dalam tempat riset
Mampu mendeteksi HIV-2 dan non-subtype B

HIV-1 yang belum dikenali penuh, secara


terpercaya
Diagnosis
Infeksi Akut RNA HIV
Tes viral load digunakan dalam
memantau pasien yang diketahui
terinfeksi HIV


Hasil tes positif sesungguhnya secara
umum lebih besar dari 100,000
copies/ml, sementara positif palsu
biasanya kurang dari 1,000 copies/mL.
Introduksi
tes HIV
Umumnya tidak direkomendasikan
untuk diagnosis infeksi HIV akut ,
karena hasil positif palsu nyata (sampai
10% kasus).
Diagnosis
pada bayi Karena antibodi dari ibu masuk ke bayi,
baru lahir maka tes antibodi HIV tak dapat
digunakan pada bayi baru lahir.

Antibodi dari ibu dapat dideteksi sampai 18


bulan dalam tubuh bayi.

Non-antibody assays untuk deteksi dini


Introduksi infeksi HIV pada bayi baru lahir termasuk:
tes HIV Antigen HIV p24.
Kultur viral.
Deteksi gen virus (baik HIV DNA
maupun HIV RNA).
Algoritma uji konfirmasi HIV
bila dipakai reagensia generasi 4/kasus indeterminate

Generasi 4 (deteksi Ag + Ab) : reaktif

Western Blot/Line Immunoassay/RIPA/ Immunofloresensi

Antigen neutralisasi/Nucleic acid testing


Lupus Eritematosus Sistemik (LES)

Penyakit Autoimun non spesifik organ


Penyakit dengan seribu wajah
Etiologi : tidak diketahui
Beberapa faktor yang berperan : genetik, virus, sinar ultraviolet,
obat-obatan tertentu,
kegagalan enzim DNase 1 dll
Epidemiologi : - sering mengenai wanita daripada pria (8:1)
- Mengenai semua usia terutama usia 20-45 thn
- Sering pada orang Afrika Amerika dan
keturunan cina dan jepang
3 Bentuk : Discoid lupus (hanya mengenai kulit) dan SLE
(mengenai organ internal), Drug Induced Lupus
Gejala : fatique, demam subfebril, anoreksia, nyeri otot,
artritis,ulkus membran mukosa, fotosensitif, pleuritis, perikarditis,
Raynauds phenomenon, butterfly rash dan gejala lain
sesuai berat ringan organ yang terkena (otak, ginjal, hati,
jantung dll)
Diagnosis : memenuhi 4 dari 11 kriteria ARA
Kriteria diagnosis laboratorium LES menurut ARA antara
lain : adanya beberapa autoantibodi yaitu ANA, anti ds-
DNA, anti-Sm, antifosfolipid (ACA, LA atau VDRL positif
palsu)

Gambaran imunologik LES

Gambaran imunologik utama pada LES :


- ANA positif titer tinggi dengan pola homogen dan perifer
- Anti ds-DNA dan anti Sm positif
- Kadar komplemen rendah
- Ada endapan Ig dan komplemen pada membran basalis
glomerulus serta ditemukan banyak autoantibodi

Anti Nuclear Antibody


Adalah : antibodi terhadap komponen inti sel (DNA, RNA-
protein complex, histone dan centromere
Metoda pemeriksaan :
- Pemeriksaan sel LE (tidak praktis, kurang sensitif)
- Immunoflorescence assay (IFA)
- Enzyme Linked Immunosorbent assay (ELISA)
Hasil ANA yang positif dengan metoda ELISA harus dilanjutkan
dengan pemeriksaan metoda IFA guna melihat pola pewarnaan dari
antibodi apakah homogen, perifer, speckled, nukleolar dan
sentromer
ANA yang positif dapat dijumpai pada beberapa penyakit (orang
normal, LES, Sindroma syogren, Skleroderma, RA, MCTD dll)
ANA sangat sensitif untuk LES karena dijumpai pada 90-100%
penderita pem. Pertama pada penderita diduga LES
ANA negatif pada penderita dgn gejala LES menyingkirkan LES
Bila gambaran klinis jelas + hasil ANA positif titer tinggi dengan pola
homogen dan perifer tidak diperlukan pemeriksaan
tambahan
Bila gejala klinis tidak jelas diperlukan minimal 2 pem. tambahan
seperti anti ds-DNA dan anti Sm untuk memastikan diagnosis
Pada beberapa penderita LES, ANA negatif perlu pem.
autoantibodi yang lain

Anti ds-DNA
Sangat spesifik untuk LES dan cukup sensitif karena dijumpai pada
60-70% penderita
Anti ds DNA positif dengan titer tinggi sangat spesifik untuk LES,
sementara titer sedang atau rendah menunjang diagnosis LES
Dijumpai korelasi antara titer anti ds-DNA dengan aktifitas penyakit
titer anti ds-DNA meningkat pada penyakit aktif dan lupus
nefritis
pemeriksaan ds-DNA serial dapat digunakan untuk memantau
aktifitas penyakit dan respon terapi (dihubungkan dengan gambaran
klinik)
Anti ds-DNA atau anti Sm negatif tidak menyingkirkan diagnosis LES
Anti Sm
Cukup spesifik untuk LES (jarang positif pada penyakit lain dan orang
normal) tetapi kurang sensitif karena hanya dijumpai pada 20-40%
penderita LES

Kadar komplemen
Terdapatnya kompleks imun pada penderita LES menyebabkan terjadi
peningkatan konsumsi komplemen sehingga kadar C3 dan C4 berkurang
LES aktif kadar C3 dan C4 rendah, tetapi pada bebrapa penderita
tidak terdapat penurunan kadar C3 dan C4
Kadar C3 dan C4 serial perlu dilakukan
Bila kadar komplemen mulai menurun disertai meningkatnya anti ds-DNA
penyakit aktif
Pemerikssan Laboratorium lain yang termasuk kriteria diagnosis
laboratorium LES menurut ARA adalah:
Kelainan Hematologi
- Anemia hemolitik
- Paling sering ditemukan pada penderita LES
- 80% kasus Anemia normositik normokrom akibat
penekanan SST
- Kadang kadang anemia hemolitik autoimun ( antibodi
terhadap eritrosit dijumpai pada 10-65% penderita)
coombs test
- Lekopenia
- Trombositopenia antibodi terhadap trombosit dijumpai pada 75-
80% penderita
- LED meningkat (100%)
Kelainan urinalisis proteinuria dan silinder eritrosit dan
lekosit
Antinuclear staining patterns on mouse liver by immunofluorescence. Top left panel: There is homogeneous or diffuse
staining of the nuclei. The pattern is strongly associated with antibodies to nucleosomes. It is seen in patients with
rheumatoid arthritis (RA), systemic lupus erythematosus (SLE), and drug-induced lupus. Top right panel: The
peripheral (also called rim) pattern, in which the periphery of the nucleus reacts with the patient's serum. This
pattern correlates with antibodies to double-stranded DNA (dsDNA) and nuclear envelope proteins and is
suggestive of SLE. Bottom left panel: The speckled pattern in which there may be few or many speckles, and small
or large speckles. The pattern represents antibodies to the components of extractable nuclear antigens, eg, Smith
(SM), ribonucleoprotein (RNP), Ro (SSA), La (SSB) and probably other nuclear antigens. The pattern may be seen
in patients with SLE, Sjgren's syndrome, scleroderma, infectious mononucleosis and other conditions, and in
normal subjects (especially in low titer). Bottom right panel: There is a nucleolar pattern, in which the patient's
serum only reacts with the nucleoli. This pattern represents antibodies to nucleolar RNA associated proteins or
complexes, and is primarily seen in scleroderma or Raynaud's syndrome. Courtesy of Peter H Schur, MD.