Anda di halaman 1dari 46

BAB II PEMBAHASAN A.

Manusia sebagai mahluk sosial Dalam kenyataannya, kemampuan fungsional manusia dapat dilakukan secara simultan dalam kehidupan sehari-hari sebagai mahluk individu, mahluk sosial dan dan sebagai mahluk spiritual. Namun juga manusia dengan kecerdasannya dapat memisahkan fungsi-fungsi tersebut berdasarkan pada kepentingan dan kebutuhan serta kondisi sosial yang mengitarinya. Kemampuan-kemampuan fungsional inilah yang menjadikan manusia berbeda secara fundamental dengan mahluk hidup lainnya di muka bumi. Bahkan dengan kekuatan spiritualnya maka manusia mampu mengungguli kemampuan mahluk-mahluk Allah lainnya seperti jin dan sebagainya. Disisi lain, karena manusia adalah mahluk sosial, maka manusia pada dasarnya tidak mampu hidup sendiri di dalam dunia ini baik sendiri dalam konteks fisik maupun dalam kontek sosial-budaya. Terutama dalam konteks sosial-budaya, manusia membutuhkan manusia lain untuk saling berkolaborasi dalam pemenuhan kebutuhhan fungsi-fungsi sosial satu dengan yang lainnya. Karena pada dasarnya suatu fungsi yang dimiliki oleh manusia satu akan sangat berguna dan bermanfaat bagi manusia lainnya. Karena, fungsi-fungsi sosial manusia lainnya dengan kata lain, manusia menjadi sangat bermartabat apabila bermanfaat bagi manusia lainnya. Fungsi-fungsi sosial manusia lahir dari kebutuhan akan fungsi tersebut oleh orang lain, dengan demikian produktivitas fungsional dikendalikan oleh berbagai macam kebutuhan manusia. Setiap manusia memiliki kebutuhan masing-masing secara individu maupun kelompok, untuk memenuhi kebutuhan tersebut maka perlu adanya perilaku selaras yang dapat diadaptasi oleh masing-masing manusia. Penyelarasan kebutuhan dan penyesuaian kebutuhan individu, kelompok dan kebutuhan sosial satu dan lainnya, menjadi konsentrasi utama pemikiran manusia dalam masyarakat yang beradab. Sosiologi berpendapat bahwa tindakan awal alam penyelarasan fungsi-fungsi sosial dan berbagai kebutuhan manusia diawali oleh dan dengan melakukan interaksi sosial atau tindakan komunikasi satu dengan yang lainnya. Aktivitas interaksi sosial dan tindakan komunikasi itu dilakukan dengan baik secara verbal maupun non verbal bahkan simbolis. Kebutuhan adanya sebuah sinergi fungsional dan akselerasi positif dalam melakukan pemenuhan kebutuhan manusia satu dengan lainnya ini kemudian melahirkan kebutuhan tentang adanya norma-norma dan nilai-nilai sosial yang mampu mengatur tindakan manusia dalam memenuhi berbagai kebutuhannya, sehingga tercipta keseimbangan sosial antara hak
1

dan kewajiban dalam pemenuhan kebutuhan manusia, terutama juga kondisi keseimbangan itu akan menciptakan tatanan sosial dalam proses kehidupan masyarakat saat ini dan di waktu yang akan datang. Sebagaimana yang telah dijelaskan pada bab sebelumnya dan juga penjelasan di atas, maka interaksi sosial dalam berkelompok dan bermasyarakat, yang oleh Habermas disebut dengan tindakan komunikasi ini merupakan perspektif sosiologi, dan perspektif ini pula yang menjadi objek pengamatan sosiologi komunikasi. Fokus interaksi sosial dalam masyarakat adalah komunikasi itu sendiri. Sebagaimana dijelaskan oleh sosiologi bahwa komunikasi menjadi unsur terpenting dalam seluruh kehidupan manusia. Dominasi perspektif ini dalam sosiologi yang begitu luas dan mendalam, maka lahirlah kebutuhan untuk mengkaji kekhususan dalam studi-studi sosiologi yang dinamakan sosiologi komunikasi yaitu perspektif kajian sosiologi tentang aspek-aspek khusu komunikasi dalam lingkungan individu, kelompok, masyarakat, budaya dan dunia. Sehubungan dengan itu, beberapa konsep penting yang berhubungan dengan sosiologi komunikasi adalah konsep tentang sosiologi, community, communication, telenatika, merupakan konsep penting yang kemudian melahirkan studi-studi integratif serta terkait satu sama lain sehingga melahirkan studi-studi interelasi yyang penting untuk dibicarakan disini sekaligus juga sebagai ruang lingkup dalam studi-studi sosiologi komunikasi. B. Komunikasi (Communication) Theodornoson and Theodornoson (1969) memberi batasan lingkup communication berupa penyebaran informasi, ide-ide, sikap-sikap, atau emosi dari seorang atau kelompok kepada yang lain terutama simbol-simbol. Garbner mengatakan communication dapat didefinisikan sebagai social interaction melalui pesan-pesan. Onong Uchyana mengatakan komunikasi sebagai proses komunikasi pada hakikatnya adalah proses penyampaian pikiran atau perasaan oleh seorang komunikator kepada seorang komunikan. Pikiran bisa merupakam gagasan, informasi, opini dan lain-lain yang muncul dari benaknya. Perasaan bisa berupa keyakinan, kepastian, keraguan, kekhawatiran, kemarahan, keberanian dan sebagainya yang timbul dari lubuk hati.Jadi, lingkup komunikasi menyangkut persoalan-persoalan yang ada kaitannya dengan substansi interaksi sosial orang-orang dalam masyarakat; termasuk konten interaksi komunikasi yang dilakukan secara langsung maupun dengan menggunakan media komunikasi. C. Sosiologi Komunikasi Menurut Soerjono Soekanto, sosiologi komunikasi merupakan kekhususan sosiologi dalam mempelajari interaksi sosial yaitu suatu hubungan atau komunikasi yang menimbulkan
2

proses saling pengaruh-memengaruhi antara para individu, individu dengan kelompok maupun antarkelompok. Menurut Soekanto, sosiologi komunikasi juga ada kaitannya dengan public speaking, yaitu bagaimana seseorang berbicara kepada publik. Secara komprehensif sosiologi komunikasi mempelajari tentang interaksi sosial dengan segala aspek yang berhubungan dengan interaksi tersebut seperti bagaimana interaksi komunikasi itu dilakukan dengan menggunakan media, bagaimana efek media sebagai akibat dari interaksi tersebut, sampai dengan bagaimana perubahan-perubahan sosial di masyarakat yang di dorong oleh efek media berkembang serta konsekuensi sosial macam apa yang ditanggung masyarakat sebagai akibat dari perubahan yang didorong oleh media massa itu. D. Lahirnya Sosiologi Komunikasi Massa Manusia adalah mahluk ciptaan Allah SWT dengan struktur dan fungsi yang sangat sempurna bila dibandingkan dengan mahluk ciptaan-Nya yang lain. Bahkan, dalam kemampuan spiritual, manusia lebih unggul dari pada Jin dan sebagainya. Walaupun demikian, satu kodrat manusia yang tidak dapat kita pungkiri adalah bahwa manusia merupakan mahluk sosial. Oleh sebab itu, manusia pada dasarnya tidaklah mampu untuk hidup sendiri di dunia ini, baik sendiri dalam konteks fisik maupun dalam konteks sosialbudaya. Dalam konteks sosial-budaya, manusia membutuhkan manusia lain untuk saling berkolaborasi dalam pemenuhan kebutuhan fungsi-fungsi sosial satu dengan yang lainnya. Pada dasarnya, sutau fungsi yang dimiliki oleh manusia satu akan sangat berguna dan bermanfaat bagi manusia lainnya. Karena fungsi-fungsi sosial yang diciptakan oleh manusia ditujukan untuk saling berkolaborasi dengan sesama fungsi sosial manusia lainnya, maka manusia akan sangat bermartabat apabila bermanfaat bagi manusia lainnya (Bungin, 2008). Dalam kajian sosiologi, ada asumsi yang menyatakan bahwa tindakan awal dalam penyelarasan fungsi-fungsi sosial dan berbagai kebutuhan manusia diawali dengan melakukan interaksi sosial atau tindakan komunikasi satu dengan yang lainnya. Aktivitas interaksi sosial dan tindakan komunikasi itu dilakukan dengan beberapa cara, yakni baik secara verbal, non-verbal, maupun simbolis. Kebutuhan akan adanya sinergi fungsional dan akselerasi positif dalam melakukan pemenuhan kebutuhan manusia satu dengan yang lainnya ini kemudian melahirkan kebutuhan tentang adanya norma-norma dan nilai-nilai sosial yang mampu mengatur tindakan manusia dalam memenuhi berbagai kebutuhannya. Oleh sebab ituu, maka terciptalah keseimbangan sosial (sosial equilibrium) antara hak dan kewajiban dalam pemenuhan kebutuhan manusia, terutama juga kondisi keseimbangan itu akan menciptakan tatanan sosial (sosial order) dalam proses kehidupan masyarakat saat ini dan waktu yang akan datang (Bungin, 2008).
3

Sebagaimana yang telah diuraikan diatas, maka interaksi sosial dalam berkelompok dan bermasyarakat berfokus pada komunikasi yang terjadi didalamnya. Komunikasi ini sendiri merupakan perspektif sosiologi, dan perspektif ini dinamakan dengan pengamatan sosiologi komuikasi. Sebagaimana yang telah dijelaskan oleh sosiologi, bahwa komunikasi menjadi unsur terpenting dalam seluruh kehidupan manusia. Dominasi perspektif ini dalam sosiologi yang begitu luas dan mendalam, maka lahirlah kebutuhan untuk mengkaji kekhususan dalam studi sosiologi yang dinamakan dengan Sosiologi Komunikasi, yaitu perspektif kajian sosiologi tentang aspek-aspek khusus komunikasi dalam lingkungan individu, kelompok, masyarakat, budaya, dan dunia. Anda tentu masih ingat bukan, bahwa proses komunikasi pada hakekatnya adalah suatu proses pemindahan/transmisi atau penyampaian ide, gagasan, informasi, dan sebagainya dari seseorang (sender atau komunikator atau sumber) kepada seseorang yang lain (receiver atau komunikan). dengan menggunakan bahasa sebagai alat penyalurannya. Selanjutnya komunikasi diberi batasan sebagai penyampaian pesan oleh komunikator kepada komunikan, sedang pesan terdiri dari dua aspek, aspek pertama aspek isi berupa pikiran dan perasaan sedang aspek kedua yakni lambang berupa bahasa verbal dan non verbal.Proses komunikasi diantara keduanya dapat dikatakan berhasil apabila terjadi kesamaan makna. Sebaliknya, komunikasi menjadi gagal bilamana keduanya tidak memiliki kesamaan makna atas apa yang dipertukarkan atau dikomunikasikan. Menurut Effendy (1999), Proses komunikasi dalam masyarakat dapat dibedakan atas duas tahap. Adapun tahap-tahap yang dimaksudkannya adalah sebagai berikut. 1. Proses Komunikasi secara Primer Yang dimaksudkan dengan proses komunikasi secara primer yakni proses penyampaian pikiran dan perasaan dari seseorang kepada orang lain menggunakan lambang atau simbol sebagai media. Lambang sebagai media primer dalam proses komunikasi adalah bahasa, kial (gesture), isyarat, gambar, warna, dan sebagainya yang secara langsung mempa menerjemahkan pikiran dan atau perasaan komunikator kepada komunikan. Sekarang mari kita bahas satu per satu. Kial (gesture) adalah isyarat dengan menggunakan anggota tubuh seperti anggukan atau gelengan kepala, kedipan mata, tepukan tangan, dll. Semua lambang nonverbal ini memang dapat menerjemahkan pikiran seseorang sehingga terekspresikan secara fisik. Akan tetapi menggapaikan tangan, atau memainkan jarijemari, atau mengedipkan mata, menggerakkan anggota tubuh lainnya hanya dapat mengkomunikasikan hal-hal tertentu saja (sangat terbatas).

Isyarat dengan menggunakan alat seperti gong, tambur, sirene, dan lain-lain mempunyai makna tertentu. Membunyikan gong di tengah malam di kampung-kampung di Timor atau di Sumba itu pertanda meminta pertolongan (ada perampokan, pencurian, ataupun kebakaran).Warna juga yang mempunyai makna tertentu dalam berkomunikasi di masyarakat. Warna putih selalu diidentikkan dengan ketulusan dan kemurnian. Warna hitam selalu dipertunjukkan untuk mengekspresikan kesedihan. Misalnya, sebagai tanda perkabungan. Gambar sebagai lambang yang banyak dipergunakan dalarn komunikasi memang melebihi kial, isyarat, dan warna dalarn hal kemampuan menerjemahkan pikiran seseorang, tetapi tetap tidak melebihi bahasa. Alasannya, buku-buku yang ditulis dengan bahasa sebagai lambang untuk menerjemahkan pemikiran tidak mungkin diganti oleh gambar, apalagi oleh lambang-lambang lainnya. Akan tetapi, demi efektifnya komunikasi, lambang-lambang tersebut sering dipadukan penggunaannya. Dengan demikian jelaslah bahwa pikiran dan atau perasaan seseorang baru akan diketahui oleh dan akan ada dampaknya kepada orang lain apabila ditransmisikan dengan menggunakan media primer tersebut, yakni lambang- lambang. Dengan perkataan lain, pesan (message) yang disampaikan oleh komunikator kepada komunikan terdiri atas isi (content) dan lambang: (symbol). Jadi jelaslah, media primer atau lambang yang paling banyak digunakan dalam komunikasi adalah bahasa. Akan tetapi, tidak semua orang pandai mencari kata-kata yang tepat dan lengkap yang dapat mencerminkan pikiran dan perasaan yang sesungguhnya. Selain itu, sebuah perkataan belum tentu mengandung makna yang sama bagi semua orang. Kata-kata mengandung dua jenis pengertian, yakni pengertian denotatif dan pengertian konotatif. Sebuah perkataan dalarn pengertian denotatif adalah yang mengandung arti sebagaimana tercantum dalam kamus (dictionary meaning) dan diterima secara umum oleh kebanyakan orang dengan bahasa dan kebudayaan yang sama. Perkataan dalarn pengertian konotatif adalah yang mengandung pengertian emosional atau mengandung penilaian tertentu (emotional or evaluative meaning). Misalnya saja jika anda mengucapkan kata anjing dalarn pengertian denotatif memiliki makna dan interpretasi yang sama bagi setiap orang. Begitu mendengar kata anjing maka yang terlintas dalam pikiran kita adalah bahwa ia binatang yang berkaki empat, berbulu, hewan piaraan bagi sebagian orang, dan memiliki daya cium yang tajam. Namun, kata anjing dalarn pengertian konotatif, bisa bermakna lain bagi sebagian orang. Bagi seorang kiai yang fanatik kata anjing bisa dimaknai sebagai hewan yang najis; bagi seorang polisi merupakan pelacak pembunuh, dst.

Nah, bagaimana proses komunikasi itu bisa berlangsung? Sebagaimana Anda pelajari pada mata kuliah Pengantar Ilmu Komunikasi, bahwa dalam proses komunikasi antarpribadi (interpersonal communication) yang melibatkan dua orang dalam situasi interaksi, sang komunikator menyandi suatu pesan, lalu menyampaikannya kepada komunikan, dan komunikan mengawasandi atau menyandi balik pesan tersebut. Sampai di situ komunikator menjadi encoder dan komunikan menjadi decoder. Akan tetapi, karena komunikasi antarpersona itu bersifat dialogis, maka ketika komunikan memberikan jawaban, ia kini menjadi encoder dan komunikator menjadi decoder. Supaya lebih jelas, perhatikan contoh berikut. Pada suatu hari, Daniel dan Ratna bertemu dan berbicang-bincang. Yang menjadi komunikator adalah Daniel sedangkan komunikan, Ratna. Selama komunikasi berlangsung antara Daniel dan Ratna, akan terjadi penggantian fungsi secara bergiliran sebagai encoder dan decoder. Jika Daniel sedang berbicara, ia menjadi encoder; dan Ratna yang sedang mendengarkan menjadi decoder. Pada saat Ratna memberikan tanggapan dan berbicara kepada Daniel, maka Ratna kemudian menjadi encoder dan Daniel menjadi decoder. Tanggapan Ratna yang disampaikan kepada Daniel itu dinamakan umpan balik atau arus balik (feedback). Umpan balik memainkan peranan yang amat penting dalam komunikasi sebab ia menentukan berlanjutnya komunikasi atau berhentinya komunikasi yang dilancarkan oleh komunikator. Oleh karena itu, umpan balik bisa bersifat positif, dapat pula bersifat negatif. Umpan batik positif adalah tanggapan atau response atau reaksi komunikan yang menyenangkan komunikator sehingga komunikasi berjalan lancar. Sebaliknya, umpan balik negatif adalah tanggapan komunikan yang tidak menyenangkan komunikatornya sehingga komunikator enggan untuk melanjutkan komunikasinya. 2. Proses Komunikasi secara Sekunder Setelah Anda pahami tentang proses komunikasi secara primer, sekarang kita akan meembahas proses komunikasi secara sekunder. Yang dimaksudkan dengan proses komunikasi secara sekunder adalah proses penyampaian pesan oleh seseorang kepada orang lain dengan menggunakan alat atau sarana sebagai media kedua setelah memakai lambang sebagai media pertama. Mengapa menggunakan alat bantu atau media kedua? Alasannya bisa beragam. Seorang komunikator menggunakan media kedua dalam melancarkan komunikasinya karena komunikan sebagai sasarannya berada di tempat yang relatif jauh. Alasan lainnya, jumlah komunikannya banyak. Beberapa media kedua atau alat bantu yang biasanya digunakan

antara lain: surat, telepon, telegram, surat kabar, majalah, radio, televisi, film, dan banyak lagi adalah media kedua yang sering digunakan dalam berkomunikasi. Pada umumnya kalau kita berbicara di kalangan masyarakat, yang dinamakan media komunikasi itu adalah media kedua sebagaimana diterangkan di atas. Jarang sekali orang menganggap bahasa sebagai media komunikasi. Hal ini di sebabkan oleh bahasa sebagai lambang (symbol) beserta isi (content) yakni pikiran dan atau perasaan yang dibawanya menjadi totalitas pesan (message), yang tampak tak dapat dipisahkan.Tidak seperti media dalam bentuk surat, telepon, radio, dan lain-lainnya yang jelas tidak selalu dipergunakan. Tampaknya seolah-olah orang tak mungkin berkomunikasi tanpa bahasa, tetapi orang mungkin dapat berkomunikasi tanpa surat, atau telepon, atau televisi, dan sebagainya. Seperti diterangkan di muka, pada umumnya memang bahasa yang paling banyak digunakan dalam komunikasi karena bahasa sebagai lambang mampu mentransmisikan pikiran, ide, pendapat, dan sebagainya, baik mengenai hal vang abstrak maupun yang kongkret; tidak saja tentang hal atau peristiwa yang terjadi pada saat sekarang, tetapi juga pada waktu yang lalu atau masa mendatang. Karena itulah pula maka kebanyakan media merupakan alat atau sarana yang diclptakan untuk meneruskan pesan komunikasi dengan bahasa. Seperti telah disinggung di atas, surat, atau telepon, atau radio misalnya, adalah media untuk menyambung atau menyebarkan pesan yang menggunakan bahasa. Dengan demikian, proses komunikasi secara sekunder itu menggunakan media yang dapat diklasifikasikan sebagai media massa (mass media) dan media nir-massa atau media non-massa (non-mass media). Seperti telah disinggung tadi, media massa, misalnya surat kabar, radio siaran, televisi siaran, dan film yang diputar di gedung bioskop memiliki ciri-ciri tertentu, antara lain ciri massif (massive) atau massal (massal), yakni tertuju kepada sejumlah orang yang relatif amat banyak. Sedangkan media nirmassa atau media nonmassa, umpamanya surat, telepon, telegram, poster, spanduk, papan pengumuman, buletin, folder, majalah organisasi, radio amatir atau radio CB (citizen band), televisi siaran sekitar (closed circuit television), dan film dokumenter, tertuju kepada satu orang atau sejumlah orang yang relatif sedikit. Asal mula kajian komunikasi dalam sosiologi bermula dari akar tradisi pemikiran Karl Marx, dmna Marx sendiri adalah masuk sebagai pendiri sosiologi yang beraliran Jerman sementara Claude Henri Saint-Simon, August Comte, dan Emile Durkheim merupakan namanama para ahli sosiologi yang beraliran Perancis (Bungin, 2008)

Sementara itu gagasan awal tentang Marx tidak pernah lepas dari pemikiranpemikiran Hegel. Hegel memiliki pengaruh yang kuat terhadap Marx, bahkan Karl Marx muda menjadi seorang idealisme (bukan materialisme) justru dari pemikiran-pemikiran radikal Hegel tentang idealisme, adapun kemudian Marx tua menjadi seorang materialisme, hal itu adalah sebuah pengalaman pribadi manusia dalam prosesnya dengan konteks sosial yang dialami Marx sendiri. Menurut Ritzer pemikiran Hegel yang paling utama dalam melahirkan pemikiranpemikiran tradisional konflik dan kritis adalah ajarannya tentang dialektika dan idealisme. Dialektika adalah cara berpikir dan citra tentang dunia. Sebagai cara berpikir mikz, konflik dan kontradiksi, yaitu cara-cara berpikir yang lebih dinamis. Di sisi lain, dialektika adalah pandangan tentang dunia bukan tersusun dari struktur yang statis, tetapi terdiri dari proses, hubungan, dinamika konflik, dan kontradiksi. Pemahaman dialektika tentang dunia semacam inilah (terutama melihat dunia sebagai bagian yang berhubungan satu dengan yang lainnya) di kemudian hari melahirkan gagasan-gagasan tentang komunikasi seperti apa yang dikemukakan oleh Jurgen Habermas dengan tindakan komunikasi (interaksi). Hegel juga dikaitkan dengan filsafat idealisme yang lebih mementingkan pikiran dan produk mental daripada kehidupan material. Dalam bentuknya yang ekstrem, idealisme menegaskan bahwa hanya konstruksi pikiran dan psikologis-lah yang ada, idealisme adalah sebuah proses yang kekal dalam kehidupan manusia, bahkan ada yang berkeyakinan bahwa proses mental tetap ada walaupun kehidupan sosial dan fisik sudah tidak ada lagi. Idealisme merupakan produk berpikir yang menekankan tidak saja pada proses mental, namun juga gagasan-gagasan yang dihasilkan dari mental itu. Pemikiran-pemikiran Habernas sendiri termasuk dalam kelompok kritis. Habernas sendiri menamakan gagasan-gagasan sebagai rekontruksi materialisme historis. Habermas bertolak dari pemikiran Marx, seperti potensi manusia, spesies mahluk , aktivitas yang berperasaan. Ia mengatakan bahwa, Marx telah gagal membedakan antara dua komponen analitik yang berbeda, yaitu kerja (atau tenaga kerja, tindakan rasional-purposif) dan interaksi (atau aksi komunikatif) sosial (atau simbolis). Diantara kerja dan interaksi sosial, Marx hanya membahas kerja saja dengan mengabaikan interaksi sosial. Jadi, kata Habermas, ia hanya mengambil perbedaan antara kerja dan interaksi sosial sebagai titik awalnya. Di sepanjanng tulisannya, Habermas menjelaskan perbedaan ini, meski ia cenderung menggunakan istilah tindakan (kerja) rasional-purposif dan tindakan komunikatif (interaksi). Dalam the theory of communication action pun ia menyebutkan tindakan komunikatif ini sebagai bagian dari dasar-dasar ilmu sosial dan teori komunikasi.
8

Selama tahun 1970-an Habermas memperbanyak studi-studinya mengenai ilmu-ilmu sosial dan mulai menata ulang teori kritik sebagai teori komunikasi. Tahap kunci dari perkembangan ini termuat dalam kummpulan studi yang ditulis bersama Niklas Luhmann, yakni Theori der Gesellschaft der Sozialtechnologie; Legitimations probleme des historischen Materialismus; dan kumpulan esai dalam sekian buku lagi. Habermas sendiri saat ini menjadi guru besar filsafat dan sosiologi yang hidup di Frankfurt. Sumbangan pemikiran juga diberikan oleh John Dewey, yang sering disebut sebagai the first philosopher of communication itu dikenal hingga kini dengan filsafat pragmatik-nya, suatu keyakinan bahwa sebuah ide benar jika ia berfungsi dalam praktik. Pragmatisme menolak dualisme pikiran dan materi, subjek dan objek. Jadi, gagasan-gagasan seharusnya bermanfaat bagi masyarakat, pesan-pesan ide harus tersampaikan dan memberi kontribusi pada tingkat perilaku orang. Pesan ide membentuk tindakan dan perilaku di lapangan. Dengan demikian, sejarah sosiologi komunikasi menempuh dua jalur. Bahwa kajian dan sumbangan pemikiran August Comte, Durkheim, Talcott Parson dan Robert K. Merton merupakan sumbangan paradigma fungsional bagi lahirnya teori-teori komunikasi yang beraliran struktural-fungsional. Sedangkan sumbangan-sumbangan pemikiran Karl Marx dan Habermas menyumbangkan paradigma konflik bagi lahirnya teori-teori kritis dalam kajian komunikasi. Sosiologi sejak semula telah menaruh perhatian pada masalah-masalah yang ada hubungan dengan interaksi sosial antara seseorang dan orang lainnya. Apa yang disebutkan Comte dengan social dynamic, kesadaran kolektif oleh Durkheim, dan interaksi sosial oleh Karl Marx serta tindakan komunikatif dan teori komunikasi oleh Habermas adalah awal mula lahirnya perspektif sosiologi komunikasi. Bahakan melihat kenyataan semacam itu, maka sebenarnya gagasan-gagasan perspektif sosiologi komunikasi telah ada bersamaan dengan lahirnya sosioloigi itu sendiri baik dalam perspektif struktural-fungsional maupun dalam perspektif konflik.

SKEMA 1 ALIRAN PEMIKIRAN DALAM PARADIGMA SOSIOLOGI KOMUNIKASI Aliran pemikiran yang melahirkan paradigma dalam sosiologi komunikasi

Struktural fungsional August Comte Emile Durkheim Talcott Parson Robert K. Merton

Konflik-kritis Karl Marx Jurgen Habermas John Dewey

Selain apa yang disumbangkan oleh Karl Marx dan Habermas mengenai teori kritis dalam komunikasi, sumbangan dari perspektif struktural-fungsional dalam sosiologi yang diajarkan oleh Talcott Parson dengan teori sistem tindakan maupun dengan skema AGIL, serta kajian Robert K.Merton tentang struktur-fungsional, struktur sosial dan anomie, merupakan sumbangan-sumbangan yang amat penting terhadap lahirnya teori-teori komunikasi di waktu-waktu betikutnya. Saat ini perspektif teoritis mengenai sosiologi komunikasi bertumpu pada fokus kajian sosioligi mengenai interaksi sosial dan semua aspek yang bersentuhan dengan fokus kajian tersebut. Narwoko dan Suyanto mengatakan bahwa, kajian tentang interaksi sosial disyaratkan adanya fungsi-fungsi komunikasi yang lebih dalam, seperti adanya kontak sosial dan komunikasi. Kontak sosial terjadi tidaklah semata-mata bergantung terhadap tindakan tersebut, sedangkan aspek penting dari komunikasi adalah bila seseorang memberikan tafsiran pada sesuatu atau pada perikelakuan orang lain. Dalam komunikasi juga persoalan makna menjadi sangat pentingv ditafsirkan oleh seseorang yang mendapat informasi (pemberitaan) karena makna yang dikirim oleh komunikator dan penerima informasi menjadi sangat subjektif dan ditentukan oleh konteks sosial ketika informasi itu disebar dan diterima. E. Ranah, Kompleksitas, Dan Objek Sosiologi Komunikasi Ranah sosiologi komunikasi berada pada wilayah individu, kelompok, masyarakat, dan sistem dunia. Dimana ranah ini besentuhan dengan wilayah lain, seperti teknologi
10

telematika, komunikasi, proses dan interaksi sosial, serta budaya kosmopolitan. Ranah-ranah sosiologi komunikasi berbeda dengan studi-studi komunikasi dan sosiologi secara keseluruhan, dengan kata lain objek sosiologi komunikasi tidak sama dengan sosiologi secara umum, begitu juga sosiologi komunikasi tidak mengambil objek komunikasi secara utuh, akan tetapi sosiologi komunikasi menjembatani studi-studi komunikasi dimana jembatan itu dibangun berdasarkan kajian sosiologi tentang interaksi sosial yang dalam sosiologi juga dikenal dengan subkajian masalah-masalah komunikasi, kemudian menariknya ke dalam studi komunikasi yang berkaitan erat dengan sosiologi yaitu studi-studi media, dampak media maupun perkembangan teknologi komunikasi. Namun karena begitu dekatnya studi-studi sosiologi dan studi-studi komunikasi, maka kajian sosiologi ini berkembang menjadi satu kajian yang tidak bisa lagi dibedakan secara sosiologis dengan komunikasi. Dalam arti ketika kita membahas kasus-kasus sosiologi komunikasi, maka akan ditemukan sebuah kenyataan bahwa apa yang menjadi perhatian sosiologi itu jugalah yang menjadi pusat perhatian komunikasi. Hal ini terjadi karena ranah sosiologi komunikasi adalah kajian utama dan terpenting dari kajian sosiologi dan kajian sosiologi komunikasi itu sendiri yaitu individu, kelompok, masyarakat, dunia, dan segala interaksinya. Studi-studi sosiologi komunikasi selain bersifat interdisipliner dan terbuka terhadap sumbangan disiplin ilmu lain, sosiologi komunikasi juga memiliki objek kajian yang terbuka luas setiap saat, seirama dengan cepatnya perubahan-perubahan sosial-budaya dan teknologi media yang berkembang di masyarakat beserta semua aspek yang mengikutinya. Saat ini kendali arah perkembangan sosiologi komunikasi sitentukan oleh pesatnya perkembangan dunia teknologi komunikasi yang kemudian secara simultan memengaruhi ranah-ranah sosial dan budaya masyarakat di setiap lapisan masyarakat. Dengan demikian, maka luasan objek kajian sosiologi komunikasi juga ikut dipengaruhi oleh perkembangan ranah-ranah sosial budaya dan teknologi media itu dengan segala aspek yang mengikutinya. Sejauh itupun kajian sosiologi komunikasi merasa selalu tertinggal jauh dari perkembangan teknologi komunikasi. Berbagai teori dirasakan cepat usang dan sudah tidak up-to-date lagi, begitu pula perspektif yang awalnya dianggap penting untuk dikembangkan dalam studi-studi sosiologi komunikasi menjadi semakin kompleks dalam waktu singkat. Begitu pula kaitannya studi-studi sosiologi komunikasi dengan disiplin ilmu lainnya setiap saat dipandang sangat membantu kajian-kajian sosiologi komunikasi. Sementara kekhawatiran yang ada bahwa terasa begitu sedikit para ahli yang ikut memikirkan kajian ini, padahal kenyataannya sudah sangat banyak masyarakat. Salah satu pemicu perkembangan sosiologi komunikasi yang cepat ini disebabkan karena sosiologi
11

komunikasi menganggap bahwa saat ini perkembangan teknologi selalu mendahului perkembangan teori. Pacu memacu antara teknologi dan teori di ranah wacana, aplikasi, dan masyarakat inilah yang kemudian setiap saat melebarkan arena objek sosiologi komunikasi itu. Berdasarkan penjelasan mengenai ranah sosiologi komunikasi dan kompleksitas studi sosiologi komunikasi, maka objek sosiologi komunikasi adalah seperti halaman berikut. Setiap bidang ilmu dalam rumpun ilmu-ilmu sosial memiliki objek kajiasn formal yang sama yaitu manusia. Manusia adalah objek yang tak pernah habis dibahas dari berbagai aspek dan sudut pandang baik dalam konteks makro maupun mikro. Objek formal manusia yang dimaksud adalah dalam konteks individu, kelompok, masyarakat, dunia, serta aspekaspek sosiologis yang mengitarinya. Objek formal dalam studi sosiologi komunikasi menekankan pada aspek aktivatas manusia sebagai mahluk sosial yang melakukan aktivitas sosiologis yaitu proses sosial dan komunikasi, aspek ini merupakan aspek dominan dalam kehidupan manusia bersama orang lain. Aspek lainnya adalah telematika dan realitasnya. Aspek ini menyangkut persoalan teknologi media, teknologi komunikasi dan berbagai persoalan konvergensi yang ditimbulkannya termasuk realitas maya yang dihasilkan telematika sebagai tuang publik baru yang tanpa batas dan memiliki masa depan yang cerah bagi ruang kehidupan. Sebaliknya perkembangan telematika dan aspek-aspeknya serta pengaruhnya terhadap perkembangan media massa memberikan efek yang luar biasa pada masayarakat. Efek media memiliki ruang bahasan yang luas terhadap konsekuensinya pada proses-proses sosial itu sendiri, baik menyangkut individu, kelompok, masyarakat maupun dunia, termasuk pula aspek-aspek yang merusak seperti kekerasan, pelecehan, penghinaan, bahkan sampai pada masalah-masalah kriminal. Pengaruh-pengaruh efek media juga ikut membentuk life style dan lahirnya norma sosial baru di masyarakat terutama pada masyarakat kosmopolitan, sekuler, cerdas, profesional, materialis, dan hedonis, serta modis. Perkembangan telematika tidak saja memasuki ranah sosial, namun juga memasuki ranah hukum dan bisnis. Hal ini disebabkan oleh konsekuensi dominasi telematika dalam kehidupan masyarakat pada umumnya. Ketika telematika sampai pada kemampuannya menciptakan masyarakat baru yaitu cybercommunity, maka kebutuhan akan cyberlaw menjadi mutlak ada untuk mengatur seluruh fungsi sirkulasi dan peredaran aspek-aspek kehidupan sosial( dalam dunia cyber) sebagaimana kebutuhan sebuah sistem sosial itu sendiri. Karena sadar ataupuntidak aspek hukum dan bisnis akan mendominasi cybercommunity selain pencitraan itu sendiri.
12

a. Ruang Lingkup dan Konseptualisasi Sosiologi Komunikasi Sehubungan dengan lahirnya konsep pemikiran mengenai komunikasi dalam interaksi sosial yang berimbas pada munculnya sosiologi komunikasi, maka ada beberapa konsep yang berhubungan dengan sosiologi komunikasi tersebut. Adapun beberapa konsep yang berhubungan dengan sosiologi komunikasi adalah konsep tentang sosiologi, community, communication, dan telematika. Dari konsep-konsep tersebut kemudian lahirlah studi-studi interelasi yang penting untuk dibicarakan, sekaligus juga sebagai ruang lingkup dalam studi sosiologi komunikasi. Untuk lebih jelasnya, mari kita lihat pembahasan berikut ini. 1. Sosiologi Etimologi kata sosiologi ini adalah kata sofie, yakni bermakna bercocok tanam atau bertaman. Kemudian, istilah ini berkembang menjadi socius, yang dalam bahasa latin berarti teman ataupun kawan. Dan istilah inipun kemudian berkembang lagi sehingga menjadi kata sosial, yang berarti berteman, berserikat, ataupun bersama (Bungin, 2008). Secara khusus, Hassan Shadily menyatakan bahwa kata sosial maksudnya adalah halhal mengenai berbagai kejadian dalam masyarakat yaitu persekutuan manusia, dan selanjutnya dengan pengertian itu dapat berusaha mendatangkan perbaikan dalam kehidupan bersama. Dengan kata lain, Hassan Shadily mengutarakan bahwa sosiologi adalah ilmu yang mempelajari masyarakat atau ilmu kemasyarakatan yang mempelajari manusia sebagai anggota golongan atau masyarakatnya (tidak sebagai individu yang terlepas dari golongan atau masyarakatnya), dengan ikatan-ikatan adat, kebiasaan, kepercayaan, atau agamanya, tingkah laku, serta keseniannya (kebudayaan) yang meliputi segala segi kehidupan (Shadily, 1993). Sementara itu, Pitirin Sorokin (Soekanto, 2003) mengemukakan bahwa sosiologi merupakan suatu ilmu yang mempelajari: Hubungan dan pengaruh timbal balik antara aneka macam gejala-gejala sosial, misalnya antara geajala ekonomi dan agama, keluarga dengan moral, hukum dengan ekonomi, gerak masyarakat dengan politik, dan lain sebagainya. Hubungan dengan pengaruh timbal balik antara gejala sosial dengan gejala nonsosial, misalnya gejala geografis, biologis, dan sebagainya. Ciri-ciri umum semua jenis gejala-gejala sosial. Roucek dan Warren (Soekanto, 2003) mengemukakan bahwa sosiologi ilmu yang mempelajari hubungan antara manusia dalam kelompok. William F. Ogburn dan Meyer F. Nimkoff (Soekanto, 2003) berpendapat bahwa sosiologi adalah penelitian secara ilmiah

13

terhadap interaksi sosial dan hasilnya yaitu organisasi sosial. Sementara itu, Selo Soemardjan Soeleman Soemardi (Soekanto, 2003) mengatakan bahwa sosiologi merupakan ilmu yang mempelajari struktur sosial dan proses-proses sosial, termasuk perubahan-perubahan sosial. Struktur sosial adalah keseluruhan jalinan antara unsur-unsur sosial yang pokok, yaitu kaidah-kaidah atau norma-norma sosial, lembaga-lembaga sosial, kelompok-kelompok, dan lapisan-lapisan sosial. Sedangkan proses sosial adalah pengaruh timbal balik antara pelbagai segi kehidupan bersama, umpamanya pengaruh timbal balik antara segi kehidupan hukum dan segi kehidupan agama, dan lain sebagainya. Sementara itu, perubahan struktur sosial merupakan salah satu proses sosial yang bersifat tersendiri. Sosiologi merupakan ilmu pengetahuan yang murni (pure science) dan bertujuan untuk menghasilkan pengertian-pengertian dan pola-pola umum, prinsip-prinsip dan hukumhukum umum dari interaksi antarmanusia juga perihal hakikat, bentuk, isi dan struktur dari masyarakat manusia. Obyek dari sosiologi adalah masyarakat yang dilihat dari sudut hubungan antar manusia, dan proses yang timbul dari hubungan manusia dalam masyarakat.dalam hal ini kami ketengahkan sesuatu yang berhubungan dengan sosiologi yang antara lain Komunikasi Massa. Pembentukan struktur sosial dan terjadinya proses sosial dan kemudian adanya perubahan sosial tidaklah terlepas dari adanya aktivitas interaksi sosial yang menjadi salah satu ruang lingkup sosiologi. Kembali kepada interaksi sosial, Soekanto menyatakan bahwa interaksi sosial merupakan suatu hubungan antara para individu, antara individu dengan kelompok, maupun antar kelompok (Soekanto, 2003). 2. Community Sebagaimana yang telah kita ketahui, bahwa dalam kajian sosiologi, yang menjadi objek studinya tidak terlepas dari masyarakat. Hal ini dapat kita lihat dalam bidang kajian ilmu sosiolgi itu sendiri yang selalu terpaut dengan berbagai macam fenomena yang terjadi di dalam masyarakat. Berbicara mengenai maasyarakat yang menjadi objek dalam sosiologi ini, tentu kita harus mengetahui apa sebenarnya yang dimaksudkan dengan masyarakat itu terlebih dahulu. Ada beberapa pengertian yang dikemukakan oleh beberapa tokoh terkait dengan pengertian masyarakat terseebut. Misalnya Ralph Linton, yang berasumsi bahwa masyarakat itu merupakan sekelompok manusia yang telah hidup dan bekerja sama cukup lama, sehingga mereka dapat mengatur diri mereka dan menganggap diri mereka sebagai suatu kesatuan sosial dengan batas-batas yang dirumuskan dengan jelas (Soekanto, 2003). Dilain tempat, Selo Soemardjan menyatakan bahwa masyarakat adalah orang-orang yang

14

hidup bersama dan dari orang-orang yang hidup bersama ini kemudian lahir pula suatu kebudayaan (Soekanto, 2003). Pengertian manusia yang hidup bersama yang dimaksudkan disini jika kita lihat dari segi perspektif ilmu sosial tidak mutlak jumlahnya, bisa saj dua orang ataupun lebih. Manusia yang bisa kita katakan tersusun dalam suatu kelompok (hidup bersama) ini telah berkumpul dalam waktu yang relatif lama yang kemudian lahir manusia yang baru yang kemudian berhubungan pula satu dengan yang lainnya. Hubungan antara manusia itu, kemudian melahirkan keinginan, kepentingan, perasaan, kesan, penilaian, dan sebagainya. Keseluruhan itu kemudian mewujudkan adanya sistem komunikasi dan peraturan-peraturan yang mengatur hubungan antara manusia dalam amsyarakat tersebut. Dalam sistem yang demikian ini, maka muncullah budaya yang mengikat antara manusia satu dengan yang lainnya. 3. Teknologi Telematika Istilah teknologi telematika (telekomunikasi, media, dan informatika) ini bermula dari istilah teknologi informasi (Information Teknologi atau IT). Istilah ini mulai populer pada dekade 70an. Pada masa sebelumnya, teknologi informasi masih disebut dengan istilah teknologi komputer atau pengolahan data elektronik (Electronic Data Processing atau EDP). Istilah telematika sendiri lebih kearah penyebutan kelompok teknologi yang disebutkan secara bersama-sama, namun sebenarnya yang dimaksudkan adalah teknologi informasi yang digunakan di media massa serta teknologi telekomunikasi yang umumnya digunakan dalam bidang komunikasi lainnya. Menurut kamus Oxford terbitan tahun 1995, pengertian dari teknologi informasi tersebut adalah studi atau penggunaan peralatan elektronika, terutama komputer, untuk meenyimpan, menganalisis, dan mendistribusikan informasi apa saja. Informasi yang dimaksudkan disini mencakup segala jenis informasi, termasuk informasi berupa kata-kata, bilangan, maupun berupa gambar. Sementara itu, menurut Alter (1992), teknologi informasi mencakup perangkat keras maupun perangkat lunak untuk melaksanakan satu ataupun sejumlah tugas pemrosesan data, misalnya menangkap, mentransmisikan, menyimpan, mengambil, memanipulasi, maupun menampilkan data. Kemudian Martin (1999) mendefinisikan teknologi informasi tidak hanya sebatas pada teknologi komputer yang digunakan untuk memproses dan menyimpan informasi saja, melainkan juga mencakup teknologi informasi untuk mengirimkan informasi. Secara lebih umumnya, Lucas (2000) berasumsi bahwa teknologi informasi adalah segala bentuk teknologi yang diterapkan untuk memproses dan mengirimkan informasi dalam bentuk elektronis. Disisi lain, kita juga perlu mengetahui apa saja sebenarnya yang menjadi contoh-contoh dari teknologi informasi
15

tersebut. Kadir (2003) menyajikan beberapa contoh perangkat teknologi informasi tersebut yang mencakup mikrokomputer, komputer mainframe, pembaca barcode, perangkat lunak pemroses transaksi, perangkat lunak lembar kerja (spreadsheet), dan peralatan komunikasi serta jaringan. Secara garis besarnya, teknologi informasi itu sendiri dapat dikelompokkan menjadi dua bagian, yakni perangkat lunak (software) dan perangkat keras (hardware). Perangkat keras yang dimaksud adalah perangkat yang mencakup peralatan yang bersifat fisik (dapat disentuh). Contoh-contoh perangkat keras ini misalnya seperti memori, printer, dan keyboard. Lalu, perangkat lunak adalah perangkat yang tidak bersifat fisik, yakni perangkat yang terkait dengan instruksi-instruksi perangkat keras agar bekerja sesuai dengan tujuan instruksiinstruksi tersebut. Dengan kata lain, perangkat lunak ini juga dapat kita asumsikan dengan kumpulan program-program yang terdapat dalam perangkat atau alat-alat teknologi informasi. b. Kompleksitas Sosiologi Komunikasi Studi sosiologi komunikasi bersifat interdisipliner. Artinya, sosiologi tidak saja membatasi diri pada persoalan komunikasi dan seluk beluknya, tetapi juga membuka diri pada kontribusi disiplin ilmu lainnya seiring dengan perkembangan masyarakat dan kemajuan zaman. Karena bersentuhan langsung dengan berbagai disiplin ilmu, maka dapatlah dikatakan bahwa studi sosiologi komunikasi sedikit rumit atau kompleks. Studi sosiologi komunikasi ikut dipengaruhi oleh perkembangan berbagai bidang ilmu di sekitarnya mulai dari perkembangan teknologi, budaya, sosiologi, hukum, ekonomi, dan bahkan negara. Bidang ilmu yang paling mempengaruhi perkembangan sosiologi komunikasi adalah teknologi komunikasi dan informasi. Hal ini terjadi karena perubahan dan kemajuan teknologi komunikasi cenderung membawa dampak yang cukup besar terhadap kemajuan dan perubahan pada bidang-bidang ilmu lainnya seperti budaya, ekonomi, dan seterusnya. c. Komunikasi Massa Komunikasi massa adalah proses yang dilakukan melalui media massa dengan berbagai tujuan komunikasi dan untuk menyampaikan informasi kepada khalayak luas. Atau dengan kata lain, komunikasi massa adalah proses dimana organisasi media membuat dan menyebarkan pesan kepada khalayak banyak (publik).Komunikasi Massa secara sederhana dimaknai sebagai komunikasi menggunakan media massa, dan hal tersebut dipengaruhi oleh kemampuan media massa untuk membuat produksi massal dan untuk menjangkau khalayak dalam jumlah yang besar.Pengertian Komunikasi Massa menurut Rakhmat : diartikan sebagai jenis komunikasi yang ditujukan kepada sejumlah khalayak yang tersebar, heterogen, dan
16

anonim melalui media cetak atau elektronis sehingga pesan yang sama dapat diterima secara serentak dan sesaat. Dengan demikian, maka unsur-unsur penting dalam komunikasi massa adalah : a) Komunikator b) Media massa c) Informasi (pesan) massa d) Gatekeeper e) Khalayak (publik), dan f) Umpan balik. Komunikator dalam komunikasi massa adalah : 1) Pihak yang mengandalkan media massa dengan teknologi telematika modern sehingga dalam menyebarkan suatu informasi, maka informasi ini dengan cepat ditangkap oleh publik. 2) Komunikator dalam penyebaran informasi mencoba berbagi informasi, pemahanan, wawasan, dan solusi-solusi dengan jutaan massa yang tersebar di mana tanpa diketahui dengan jelas keberadaan mereka. 3) Komunikator juga berperan sebagai sumber pemberitaan yang mewakili institusi formal yang sifatnya mencari keuntungan dari penyebaran informasi itu. Media massa adalah media komunikasi dan informasi yang melakukan penyebaran informasi secara massal dan dapat diakses oleh masyarakat secara massal pula. Informasi massa adalah informasi yang diperuntukkan kepada masyarakat secara massal, bukan informasi yang hanya di boleh di konsumsi oleh pribadi. Dengan demikian, maka informasi massa adalah milik publik, bukan ditujukan kepada individu masing-masing. Gatekeeper adalah penteleksi informasi. Sebagaimana diketahui bahwa komunikasi massa dijalankan oleh beberapa orang dalam organisasi media massa, mereka inilah yang akan menyeleksi setiap informasi yang akan disiarkan atau tidak disiarkan. Bahkan, mereka memiliki kewenangan untuk memperluas, membatasi informasi yang akan disiarkan tersebut. Seperti, wartawan, desk surat kabar, editor, dan sebagainya, bahkan, penerima telepon disebuah media institusi media massa memiliki kesempatan untuk menjadi gatekeeper ini. Khalayak adalah massa yang menerima informasi massa yang disebarkan oleh media massa, mereka ini terdiri dari publik pendengar atau pemirsa sebuah media massa. Sehubungan dengan konsep khalayak, dapat dijelaskan lebih terperinci pada konsep massa. Sementara itu, umpan balik (feedback) dalam media massa berbeda dengan umpan balik dalam komunikasi antar pribadi ataupun individu. Umpan balik dalam komunikasi massa
17

umumnya bersifat tertunda, sedangkan dalam komunikasi tatap muka yang bertatap muka lebih bersifat langsung. Akan tetapi, konsep umpan balik tertundfa dalam komunikasi massa ini telah dikoreksi karena semakin majunya media teknologi, maka proses penundaan umpan balik menjadi sangat tradisional. Saat ini, media massa juga telah melakukan berbagai komunikasi interaktif antar komunikator dan publik, dengan demikian, maka sifat umpan balik yang tertunda ini sudah mulai ditinggalkan seirama denagn perkembangan teknologi telepon dan internet, serta berbagai teknologi media yang mengikutinya. 1. Konsep Massa Menurut Dennis McQuail (1994), kata massa itu merupakan konsep yang abivalen dan memiliki banyak konotasi. Menurutnya, berdasarkan sejarah mempunyai dua makna, yaitu positif dan negatif. Makna positifnya adalah massa memiliki arti kekuatan dan solidaritas di kalangan kelas pekerja biasa saat mencapai tujuan kolektifnya. Sementara itu, makna negatifnya adalah berkaitan dengan kerumunan (mob), atau orang banyak yang tidak teratur, bebal, tidak memiliki budaya, kecakapan, dan rasionalitas (Barmson, 1961). Massa memiliki unsur-unsur penting, yaitu: Terdiri dari masyarakat dalam jumlah yang besar (large aggregate). Massa terdiri dari jumlah masyarakat yang sangat besar dan menyebar dimana-mana, dimana satu denagan yang lainnya tidak saling tahu-menahu bahkan tidak pernah dan bertemu secara personal. Jumlah massa yang besar menyebabkan massa tidak bisa dibedakan satu dengan yang lainnya (undifferentiated). Sulit dibedakan mana anggota massa satu dengan yang lainnya disuatu masyarakat karena jumlahnya yang besar itu. Sebagai contohnya saja, kita tidak bisa membedakan mana suatu massa yang mendengarkan Radio Republik Indonesia (RRI) cabang Pekanbaru yang bergabung pada acara telepon interktif semisal untuk me-request lagu, yang mengudara dari pagi hingga malam hari. Disamping itu, konsep massa yang demikian juga akan membuat pembuatan segmentasi menjadi selalu sulit kita prediksi, terutama apabila menggunakan angkaangka pasti. Sebagian besar anggota massa memiliki negatif image terhadap pemberitaan massa. Akibatnya, massa terkadang senantiasa mencurigai pemberitaan media massa yang pada hakikatnya benar. Sebagai contoh, ketika Presiden RI menyiarkan dukungan terhadap pemberantasan narkoba terhadap masyarakat Indonesia melalui media Short Message Service (SMS), masyarakat cenderung bersikap skeptis bahwa kegiatan

18

tersebut lebih banyak didominasi oleh keinginan untuk mencari popularitas daripada maksud yang terkandung dalam SMS itu sendiri. Karena jumlah yang besar, maka massa sukar diorganisir. Jumlah massa yang besar itu cenderung bergerak sendiri-sendiri berdasarkan sel-sel massa yang dapat dikendalikan oleh orang-orang dalam sel itu bertemu dan bergerak berdasarkan kondisi sesaat yang terjadi di lapangan. Interaksi-interaksi diantara mereka terjadi sangat emosional, sehingga bersifat destruktif. Kemudian, massa merupakan refleksi dari kehidupan sosial secara luas. Setiap bentuk kehidupan sosial yang ada dalam sebuah masyarakat adalah sebuah refleksi dari kondisi sosial masyarakat itu sendiri, begitu pula dengan massa adalah refleksi dari keadaan sosial masyarakat secara keseluruhan. Ketika massa demonstran di Korea Selatan mengadakan demonstrasi menentang kebijakan perusahaan yang tidak menaikkan gaji mereka, massa yang melakukan demonstran ini cenderung sopan dan teratur disertai dengan penyampaian tuntutan yang jelas. Bandingkan hal tersebut dengan demonstrasi yang sering terjadi di tanah air, tentu hal ini sangat bertolak belakang, dimana para demonstran di Indonesia rata-rata cenderung emosional, destruktif, ataupun anarkis. Bahkan, dalam beberapa kasus sampai memakan korban. Disamping itu, kebanyakan proses demonstrasi di Indonesia juga tidak menyampaikan tuntutan-tuntutannya secara jelas atau tidak teroganisir yang diakibatkan oleh kecenderungan yang telah disebutkan sebelumnya. Penyebab perbedaan karakter demonstarn yang berbeda ini sebenarnya lebih disebabkan oleh kondisi masyarakat Korea Selatan dan Indonesia yang berbeda. Masyarakat Indonesia yang sedang berubah dan mengalami ephoria serta histeria ini disebabkan oleh persoalan reformasi yang berjalan sangat cepat dan drastis serta diperparah pula dengan rendahnya tingkat pendidikan masyarakat. Sementara itu, masyarakat di Korea Selatan tidak banyak menagalami hal yang terjadi di Indonesia tersebut. Sehubungan dengan makna komunikasi, terutama komunikasi massa, makna kata massa mengacu pada kolektifitas tanpa bentuk, yang komponen-komponennya sulit dibedakan satu dengan yang lainnya. Dengan demikian, maka massa sama dengan suatu kumpulan orang banyak yang tidak mengenal keberadaan individualitas. Blumer (1939) dalam McQuail (2002) mengemukakan ada empat komponen sosiologis yang mengandung arti massa, yaitu sebagai berikut.

19

Anggota massa adalah orang-orang dari posisi kelas sosial yang berbeda, jenis pekerjaan yang berlainan, dengan latar belakang budaya yang bermacam-macam, serta tingkat kekayaan yang beraneka atau berasal dari segala lapisan kehidupan dan dari seluruh tingkatan sosial.

Massa terdiri dari individu yang anonim. Biasanya secara fisik anggota massa terpisah satu sama lainnya dan hanya terdapat sedikit interaksi atau penukaran pengalaman antar anggota-anggota massa yang dimaksud.

Keorganisasian dari suatu massa bersifat sangat longgar, dan tidak mampu untuk bertindak bersama atau secara kesatuan seperti hanya suatu kerumunan (crowd). Secara umum, pengertian massa ditandai dengan: Kurang memiliki kesadaran diri. Kurang memiliki identitas diri. Tidak mampu bergerak secara serentak dan teroganisir untuk mencapai suatu tujuan tertentu Massa tidak bertindak dengan sendirinya, tetapi dikooptasi untuk melakukan suatu tindakan. Meski anggotanya heterogen dan dari semua lapisan sosial, massa selalu bersikap sama dan berbuat sesuai dengan persepsi orang yang akan mengkooptasi mereka. Kata massa juga sering kali digunakan untuk menyebutkan kata konsumen di pasar

massal, sejumlah besar pemilih dalam pemilu. Konsep massa kemudian mengandung pengertian masyarakat secara keseluruhan masyarakat massa atau the mass society. Menurut McQuail (2002), massa ditandai dengan : Memiliki agregat yang besar. Tidak dapat dibedakan. Cenderung berpikir negatif. Sulit di perintah atau di organisasi. Refleksi dari khalyak massa. Sementara itu, media massa adalah institusi yang menghubungngkan seluruh unsur masyarakat satu dengan yang lainnya melalui produk media massa yang dihasilkan. Secara spesifik, McQuail (2002) menyebutkan institusi media massa adalah : Sebagai saluran produksi dan distribusi konten simbolis. Sebagai institusi publik yang bekerja sesuai aturan yang ada.
20

Keikutsertaan baik sebagai pengirim atau penerima adalah sukarela. Menggunakan standar profesional dan birokrasi. Media sebagai perpaduan anatara kebebasan dan kekuasaan. 2. Proses Komunikasi Massa Setidak-tidaknya sampai saat ini, belum ada kesepakatan yang tegas mengenai definisi komunikasi massa. Ada sejumlah ahli komunikasi yang di dalam pembahasannya cenderung lebih menekankan pada media yang dipergunakan dalam aktivitas komunikasi tersebut. Menurut mereka, justru pada media itulah yang dapat menunjukkan perbedaan antara komunikasi massa dengan jenis lainnya. Sementara itu, disisi lain ada juga ahli yang membahas komunikasi massa dengan menggunakan sudut pandang sosiologi. Mereka lebih menenkankan arti pentingnya proses keterlibatan para partisipan dari komunikasi itu sendiri. Dasar pertimbangannya adalah bahwa komunikasi massa itu tidaklah semata-mata proses komunikasi yang menggunakan komponen-komponen teknis dari sistem komunikasi modern, melainkan karena melibatkan sifat khalayaknya, sifat bentuk komunikasi, dan sifat komunikatornya (Sutaryo, 2005). Liliweri berpendapat bahwa komunikasi massa sebenarnya sama seperti bentuk komunikasi lainnya, dalam arti memiliki unsur-unsur seperti : sumber (orang), bidang pengalaman, pesan, saluran, gangguan dan hambatan, efek, konteks maupun umpan balik. Sekalipun pelbagai pengertian komunikasi massa telah dikemukakan oleh berbagai kepustakaan, namun demikian secara umum komunikasi massa sebenarnya merupakan suatu proses yang melukiskan bagaimana komunikator secara profesional menggunakan teknologi pembagi dalam menyebarluaskan pengalamannya yang melampaui jarak untuk

mempengaruhi khalayak dalam jumlah yang banyak. Lebih lanjut ia mengatakan bahwa prosesnya memiliki suatu unsur yang istimewa, yaitu penggunaan saluran. Teknologi pembagi atau media massa yang disebut saluran itu digunakan untuk mengirimkan pesan yang melintasi jarak jauh, misalnya buku, pamflet, surat kabar, warkat pos, rekaman-rekaman, televisi, gambar-gambar poster, dan bahkan saat ini ditambah lagi komputer dengan aplikasi serta jaringannya, termasuk juga telepon serta satelit. Ada beberapa sifat yang melekat pada komunikasi massa dan sekaligus membedakannya dengan bentuk komunikasi yang lainnya. Sifat-sifat yang dimaksud adalah sebagai berikut.

21

Sifat komunikator Sesuai dengan hakikatnya, di dalam sifat penggunaan media atau saluran secara

profesional dengan teknologi tinggi melalui usaha-usaha industri maka pemilikan media massa bersifat lembaga, yayasan, organisasi usaha yang mempunyai struktur dan penjelmaan tugas, fungsi-fungsi, serta misi-misi tertentu. Oleh karena itu, maka berbagai pesan yang terbit dari suatu media massa sebenarnya bukan lagi milik perorangan, tetapi hasil rembugan, olahan redaksi atau keputusan dari kebijaksanaan organisasi yang menerbitkannya. Sifat pesan Pesan komunikasi massa bersifat umum, universal tentang berbagai hal dari berbagai tempat di muka bumi. Sementara itu, media massa adalah tentang berbagai peristiwa apa saja yang patut diketahui oleh masyarakat umum. Tidak ada pesan komunikasi massa yang hanya ditujukan pada suatu masyarakat tertentu (meskipun dalam kenyataannya sebagian pesan bertujuan untuk menjangkau khalayak dalam segmen tertentu, misalnya iklan mobil). Namun demikian, iklan-iklan seperti itu juga terbaca oleh khalayak di luar segmen masyarakat kaya yang menjadi sasarannya. Sifat media massa Liliweri juga menegaskan, sebenarnya salah satu ciri yang paling khas dalam komunikasi massa adalah sifat media massa (Sutaryo, 2005). Komunikasi massa nampaknya lebih bertumpu pada andalan teknologi pembagi pesan dengan menggunakan jasa industri untuk memperbanyak dan melipatgandakannya. Bantuan industri mengakibatkan berbagai pesan akan menjangkau khalayak dengan cepat dan tepat secara terus menerus. Hal ini akan berfungsi mengatur hubungan antara komunikator dengan komunikan yang dilakukan secara serempak dan menjangkau berbagai titik pemukiman manusia dimuka bumi pada waktu yang sama. Jasa teknologi untuk melipatgandakan pesan itulah yang membuat distribusi pesan dilakukan secara industrial, diproduksi secara besar-besaran dalam suatu badan usaha industri yang memasok modal besar. Ini berarti bahwa pers terus bertumbuh tidak saja sebagai media komuniksai massa secara profesional, melainkan juga sebagai usaha bisnis. Sifat komunikan Komunikan dalam suatu komunikasi massa adalah masyarakat umum yang sangat beragam, heterogen dalam segi demografis, geografis, maupun psikografis. Sifat efek Secara umum, komunikasi massa mempunyai tiga efek. Berdasarkan teori hirarki efek, efek komunikasi massa itu adalah sebagai berikut.
22

a. Efek kognitif, pesan komunikasi massa mengakibatkan khalayak berubah dalam hal pengetahuan, pandangan, dan pendapat terhadap sesuatu yang diperolehnya. b. Efek afektif, dimana pesan komunikasi massa mengakibatkan berubahnya perasaan tertentu dari khalayak. Orang dapat menjadi lebih marah ataupun berkurang rasa tidak senangnya terhadap sesuatu akibat membaca surat kabar, mendengarkan radio, atau menonton televisi. c. Efek konatif, dimana pesan komunikasi massa mengakibatkan orang mengambil keputusan untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu. Sifat umpan balik Umpan balik dari suatu komunikasi massa biasanya lebih bersifat tertunda daripada umpan balik langsung dalam komunikasi antar pribadi. Maksudnya adalah bahwa

pengembalian reaksi terhadap suatu pesan kepada sumbernya tidak terjadi pada saat yang sama, melainkan ditunda setelah sebuah media itu beredar, atau pesannya itu memasuki kehidupan suatu masyarakat tertentu. Contohnya dapat kita lihat, misalnya reaksi orang terhadap berita tentang kenaikan tarif angkutan? Yang disiarkan surat kabar atau televisi, demikian pula reaksi petani terhadap berita tentang kehadiran varietas padi jenis baru. Reaksi itu sendiri baru muncul melalui pikiran pembaca di surat kabar, atau surat kepada TVRI melalui siaran pedesaan (Liliweri, 1991). Hampir senada dengan pandangan Liliweri tersebut, yaitu pandangan Onong. Terdapat beberapa perbedaan-perbedaan juga pada tekanan pembicaraan dan variasinya, akan tetapi, pada esensi keduanya adalah sejalan, yaitu sama-sama menekankan aspek media sebaagi ciri khas dari komunikasi massa. Berikut inilah gambaran yang kita maksudkan. Onong dalam bukunya yang berjudul Ilmu Komunikasi, Teori, dan Praktik mengutarakan para ahli komunikasi berpendapat bahwa yang dimaksud dengan komunikasi massa (mass communication) adalah komunikasi melalui media massa, jelasnya merupakan singkatan dari komunikasi media massa (mass media communication). Diakuinya, bahwa hal demikian itu berbeda dengan pendapat para ahli psikologi sosial. Komunikasi massa itu tidak selalu menggunakan instrumen media massa. Bagi mereka (para ahli psikologi sosial), pidato dihadapan sejumlah orang banyak di sebuah lapangan, misalnya, asal menunjukkan perilaku massa (mass behavior), itu dapat dikatakan sebagai komunikasi massa. Mengapa demikian? Sekalipun pada mulanya mereka yang berkumpul di lapangan itu adalah kerumunan (crowded) yang satu sama lain tidak saling mengenal, tetapi karena kemudian mereka sama-sama terikat pada pidato seorang orator, maka mereka sama-

23

sama terikat oleh perhatian yang sama, lalu menjadi media massa. Oleh sebab itu, komunikasi yang dilakukan oleh si orator secara tatap muka seperti itu adalah juga komunikasi massa. Pendapat De Vito dalam bukunya yang berjudul Communicology: An Introduction to the Study of Communication yang juga dikuti oleh Onong (Effendy, 1994) anatar lain menegaskan komunikasi massa adalah komunikasi yang ditujukan kepada massa, kepada khalayak yang luar biasa banyaknya. Ini tidak berarti bahwa khalayak meliputi seluruh penduduk atau semua orang yang membaca atau semua orang yang menonton televisi, agaknya ini berarti bahwa khalayak besar pada umumnya agak sukar untuk didefinisikan. Kedua, komunikasi massa itu adalah komunikasi yang disalurkan oleh pemancar-pemancar yang audio dan atau visual. Komunikasi massa barangkali akan lebih mudah dan lebih logis bila didefinisikan menurut bentuknya: televisi, radio, surat kabar, majalah, film, buku, dam pita. Sebagaimana yang telah disinggung sebelumnya, komunikasi massa memiliki proses yang berbeda dengan komunikasi tatap muka. Karena sifat komunikasi massa ini melibatkan banyak orang, maka proses komunikasinya sangat kompleks dan rumit. Menurut McQuail (1992), proses komunikasi massa dapat terlihat dalam bentuk-bentuk sebagai berikut. Melakukan distribusi dan penerimaan informasi dalam skala besar. Jadi, proses komunikasi massa melakukan distribusi informasi kemasyarakatan dalam skala yang besar, sekali siaran pemberitaan yang disesbarkan dalam jumlah yang luas, dan diterima oleh massa yang besar pula. Proses komunikasi massa juga dilakukan melalui satu arah, yaitu dari komunikator kepada komunikan. Kalau terjadi interaktif diantara mereka, maka proses komunikasi (balik) yang disampaikan oleh komunikan kepada komunikator sifatnya sangat terbatas, sehingga tetap saja didominasi oleh sang komunikator. Proses komunikasi massa berlangsung secara asimetris diantara komunikator dan komunikan, menyebabkan komunikasi diantara mereka berlangsung datar dan bersifat sementara. Kalau terjadi kondisi emosional disebabkan karena pemberitaan yang sangat agitatif, maka sifatnya sementara dan tidak berlangsung lama dan tidak permanen. Proses komunikasi massa juga berlangsung impersonal (non-pribadi) dan tanpa nama. Proses ini menjamin, bahwa komunikasi massa akan sulit diidentifikasi siapa penggerak dan menjadi motor dalam sebuah gerakan massa di jalan.

24

Proses komunikasi massa juga berlangsung berdasarkakkn pada hubungan-hubungan kebutuhan (market) di masyarakat. Misalnya, televisi dan radio melakukan penyiaran mereka karena adanya kebutuhan masyarakat tentang pemberitaan-pemberitaan massa yang ditunggu-tunggu. Dengan demikian, maka agenda acara televisi dan radio sangat ditentukan oleh rating, yaitu bagaimana masyarakat menonton atau mendengar acara itu, apabila tidak ada pendengar atau pemirsanya, maka acara tersebut akan dihentikan karena dianggap merugi dan tidak disponsori oleh pasar. 3. Audiensi Massa Khalayak memiliki sifat-sifat sebagaimana yang ada pada konsep massa, namun lebih spesifik teragregat pada suatu media massa. Jadi, sifat dari audien massa umpamanya: Terdiri dari jumlah yang besar. Pendenganr radio, televisi, ataupun koran adalah massa dalam jumlah yang sangat besar. Sehingga sulit diprediksi jumlahnya. Contoh kasus ini adalah umpamanya sebuah harian mengklaim bahwa pembaca mereka adalah sebesar 300.000 orang, hal ini dapat disimpulkan dari jumlah langganan tetap koran tersebut. Jumlah ini bisa jadi lebih banyak karena selain pembaca berlangganan, ada juga pembaca bebas yang hanya membeli koran itu secara eceran. Atau bahkan, satu koran berlangganan yang dibaca oleh seluruh anggota keluarga. Namun, bisa jadi pelanggan koran itu tidak membaca sama sekali koran langganannya. Pada media massa elektronik, kondisi prediksi ini semakin sulit dilakukan karena sifat pemberitaan media massa elektronik yang cepat dan sesaat. Suatu pemberitaan media massa dapat ditangkap oleh masyarakat dari berbagai tempat, sehingga sifat audien massa juga ada tersebar dimana-mana, terpencar, dan tidak mengelompok pada wilayah tertentu. Jadi tidak bisa dikatakan bahwa pendengar sebuah radio misalnya, hanya didengar oleh masyarakat yang ada di daerah tersebut karena siaran radio tersebut dapat ditangkap oleh siapa saja dan dimana saja diseluruh dunia melalui gelombang radio ataupun melalui siaran internet. Pada mulanya, audiensi massa tidak interaktif, artinya diantara media massa dan

pendengarnya tidak saling berhubungan. Namun, saat ini konsep tersebut mulai ditinggalkan karena audien massa dan media massa dapat saling berinteraksi satu dengan yang lainnya melalui komunikasi telepon. Dengan demikian, maka audiensi massa memiliki pilihan berinteraksi atau tidak berinteraksi dengan media massa. Terdiri dari berbagai lapisan masyarakat yang sangat heterogen. Audiensi massa tidak dapat dikategorikan terdiri dari segmentasi tertentu, kalaupun ada, seperti dalam
25

acara-acara televisi dan radio maupun media cetak, maka heterogenitas dalam segmen tersebut tidak dapat dihindari. Umpamanya, siaran radio yang menggunakan bahasa daerah tertentu, misalnya daerah Riau dengan bahasa melayu. Maka, tentu masyarakat Riau itu terdiri dari berbagai lapisan sosial dan golongan. Oleh sebab itu, audiensi massa memiliki sifat heterogenitas yang sulit dikelompokkan. Tidak teroganisir dan bergerak sendiri. Karena sifatnya yang besar, maka audiensi massa sulit diorganisir dan akhirnya bergerak sendiri-sendiri. Kalau kemudian ada audiensi yang bergerak secara bersama-sama, maka gerakan mereka itu dikendalikan oleh sel-sel mereka masing-masing dan cepat bisa berubah sesuai dengan gerakan sel itu masing-masing. 4. Budaya Massa Komunikasi massa berproses pada level budaya massa, sehingga sifat-sifat komunikasi massa sangat dipengaruhi oleh budaya massa yang berkembang dimasyarakat di mana proses komunikasi massa itu berlangsung. Dengan demikian, maka budaya massa dalam komunikasi massa memiliki karakter sebagai berikut. Non-tradisional, yaitu umumnya komunikasi massa berkaitan erat dengan budaya populer. Acara-acara infotainment, seperti Indonesian Idol, Akademi Fantasi Indosiar (AFI), Audisi Pelawak TPI (API), dan sebagainya adalah salah satu contoh karakter budaya saat ini. Budaya massa juga bersifat merakyat, tersebar di basis massa sehingga tidak mengerucut ke tingkat elite, namun apabila ada elite yang terlibat dalam proses ini, maka bagian itu meruapakan basis dari massa itu sendiri. Budaya massa juga memproduksi produk-produk massa seperti umpamanya infotainment adalah produk pemberitaan yang diperuntukkan kepada massa secara luas. Semua orang dapat memanfaatkannya sebagai hiburan umum. Budaya massa sangat berhubungan dengan budaya populer berbagai sumber budaya massa. Bahkan, secara tegas dikatakan bahwa bukan populer kalau bukan budaya massa, artinya budaya tradisional juga dapat menjadi populer jika budaya tradisional tersebut menjadi budaya massa. Budaya massa, terutama yang diproduksi oleh media massa diproduksi menggunakan biaya yang cukup besar. Karena itu, dana yang besar tersebut harus pula diimbangi dengan pendapatan atau keuntungan yang besar pula. Selain itu, juga harus diperoleh keuntungan dari segi kontinuitas budaya massa itu sendiri. Karena itu, budaya massa
26

diproduksi secara komersial agar tidak saja menjadi jaminan keberlangsungan sebuah kegiatan budaya massa, namun juga harus menghasilkan keuntungan bagi kapital yang diinvestasikan pada kegiatan tersebut. Budaya massa juga diproduksi secara eksklusif menggunakan simbol-simbol sosial sehingga terkesan diperuntukkan untuk masyarakat modern yang homogen, terbatas, dan tertutup. Sementara itu, budaya massa terbentuk disebabkan oleh : Tuntutan industri kepada pencipta untuk menghasilkan karya yang banyak dalam tempo yang singkat. Maka si pencipta untuk menghasilkan karya yang banyak dalam tempo singkat, tak sempat lagi berpikir, dan dengan secepatnya menyelesaikan

karyanya. Mereka memilki target produksi yang harus dicapai dalam kurun waktu tertentu. Karena massa budaya cenderung latah menyulap atau meniru segala sesuatu yang sedang naik daun atau laris, sehingga media berlomba untuk mencari keuntungan yang sebesar-besarnya. 5. Ciri-Ciri Komunikasi Massa Menggunakan media masa dengan organisasi (lembaga media) yang jelas. Komunikator memiliki keahlian tertentu Pesan searah dan umum, serta melalui proses produksi dan terencana Khalayak yang dituju heterogen dan anonym Kegiatan media masa teratur dan berkesinambungan Ada pengaruh yang dikehendaki Dalam konteks sosial terjadi saling memengaruhi antara media dan kondisi masyarakat serta sebaliknya. 6. Karakteristik Komunikasi Massa Onong Uchyana Effendy menjelaskan Karakteristik Komunikasi Massa sebagai berikut . Komunikasi massa berlangsung satu arah Tidak seperti komunikasi antarpersonal (interrpersonal communication) yang berlangsung dua arah (two-way traffic communication), komunikasi antarpersonal berlangsung satu arah (one-way traffic communication). Ini berarti tidak terdapat arus balik kepada komunikator. Salah contoh, jika komunikatornya adalah wartawan. Wartawan tersebut tidaka akan mengetahui secara langsung tanggapan para pembacanya terhadapa pesan atau
27

berita yang disiarkannya itu. Sama juga seperti radio, penyiar televisi, ataupun sutradara film, tidaka akan mengetahui secara langsung tanggapan khalayak yang dijadikan sasarannya. Komunikator pada gilirannya dapat juga mengetahui tanggapan dari sejumlah komunikannya, maisalnya saja dengan melalui surat pembaca yang seringkali dimuat di suratsurat kabar, majalah, ataupun radio, bahkan dapat juga melalui telepon. Sekalipun demikian, perlu diingat bahwa hal tersebut (reaksi atau tanggapan) dari komunikan itu terjadi setelah proses komunikasi berlangsung, sehingga komunikator sudah tidak mampu lagi mengubah gaya komunikasinya seperti kalau komunikasi itu terjadi pada komunikasi jenis tatap muka. Arus balik yang tidak berlangsung itu sering disebut dengan arus balik tertunda (delayed feedback). Arus balik dalam komunikasi massa ini tidak dapat diketahui seketika oleh komunikator, atau dengan kata lain hanya dapat diketahui setelah proses komunikasi itu terjadi. Konsekuensinya adalah komunikator perlu merencanakan dan mempersiapkan sedemikian rupa sehingga pesan yang disampaikan kepada komunikan harus benar-benar komunikatif pada satu kali penyiaran. Dengan demikian, pesan komunikasi selain harus dapat dibaca, juga dapat dipahami maknanya, serta tidak bertentangan dengan kebudayaan komunikan yang menjadi sasaran komunikasi. Mungkin saja sebagai hasil teknologi mutakhir, sebuah berita surat kabar dapat dibaca jelas, atau radio bisa diingat dengan terang. Akan tetapi bukan tidak mungkin apa yang dibaca atau didengar tidak dimengerti dan menimbulkan interprestasi yang berbeda bahkan bertentangan dengan agama, adat, dan kebiasaan. Komunikator pada komunikasi massa melembaga Media massa sebagai saluran komunikasi massa merupakan lembaga, yakni suatu institusi atau organisasi. Oleh karena itu, komunikatornya melembaga (institutionalized communicator atau organized communicator). Komunikator pada komunikasi massa, misalnya wartawan surat kabar atau penyiar televisi bertindak atas nama lembaga sejalan dengan kebijaksanaan (policy) surat kabar atau stasiun televisi yang diwakilinya karena media yang dipergunakannya adalah suatu lembaga dalam menyebarluaskan pesan komunikasinya. Ia tidak memiliki kebebasan individual. Ungkapan seperti kebebasan mengungkapkan pendapat (freedom of expression atau freedom of opinion) merupakan kebebasan terbatasi (restricted freedom). Sebagai konsekuensi dari sifat komunikator yang melembaga itu, peranannya dalam proses komunikasi ditunjang oleh orang lain. Kemunculannya dalam media komunikasi tidak sendirian, tapi bersama dengan orang lain. Tulisan seorang wartawan misalnya, tidak mungkin dapat dibaca khalayak apabila tidak didukung oleh pekerjaan

redaktur pelaksana (managing editor), juru tata letak (layout man), korektor, dan lain-lain.
28

Wajah dan suara penyiar televisi tak mungkin dapat dilihat dan didengar jika tidak ditunjang oleh pekerjaan pengarah acara, juru kamera, juru suara, dan sebagainya. Berdasarkan kenyataan tersebut diatas, maka komunikator pada komunikasi massa dinamakan juga komunnikator kolektif (collective communicator) karena tersebarnya pesan komunikasi massa merupakan hasil kerja sama sejumlah kerabat kerja. Karena sifatnya yang kolektif, maka komunikator yang terdiri dari sejumlah kerabat kerja itu mutlak harus mempunyai keterampilan yang tinggi dalam bidangnya masing-masing. Dengan demikian, komunikasi sekunder sebagai kelanjutan dari komunikasi primer itu akan menjadi sempurna. Bersifat umum Pesan yang disebarkan melalui media massa bersifat umum (public) karena ditujukan kepada umum dan kepentingan umum. Jadi, tidak ditujukan kepada perseorangan atau kepada sekelompok orang tertentu. Hal inilah yang antara lain membedakan anatara media massa dengan media bukan massa (media nirmassa). Contoh media nirmassa ini adalah surat, telepon, telegram, dan teleks. Media nirmassa ini tidak ditujukan kepada umum, melainkan kepada orang-orang tertentu. Bahkan, menurut Onong (1994), majalah organisasi, surat kabar kampus, radio, telegrafi, atau radio citizen band, film dokumenter, dan televisi siaran sekitar (closed circuit television) bukanlah media massa, melainkan media nirmassa yang ditujukan kepada sekelompok orang tertentu. Bagaimana halnya dengan surat kabar seperti Kompas, Jawa Pos, Tempo, Femina, atau radio sepert RRI, dan televisi seperti TVRI, RCTI, dan televisi swasta lainnya yang kita kenal selama ini, atau film-film yang diputar di gedung-gedung bioskop adalah jelas merupakan media massa. Mengapa demikian? Karena ditujukan untuk umum, dan pesanpesan yang disebarkannya adalah mengenai kepentingan umum. Bersifat heterogen Komunikan atau khalayak (massa) merupakan kumpulan anggota masyarakat terlibat dalam proses komunikasi massa sebagai sasaran yang dituju komunikator bersifat komunikator. Massa dalam komunikasi massa terjadi dari orang-orang yang heterogen yang meliputi penduduk yang bertempat tinggal dalam kondisi yang sangat berbeda, dengan kebudayaan yang beragam, berasal dari berbagai stratifikasi masyarakat, mempunyai pekerjaan yang berjenis-jenis. Oleh karena itu, mereka berbeda pula dalam kepentingan, standar hidup dan derajat kehormatan, kekuasaan dan pengaruh. Heterogenitas seperti itulah yang menjadi kesulitan bagi seorang komunikator dalam menyebarkan pesannya melalui media massa, karen asetiap individu dari khalayak itu menghendaki agar keinginannya

29

dipenuhi. Bagi para pengelola media massa adalah suatu hal yang tidak mungkin untuk memenuhinya. Satu-satunya cara untuk dapat mendekati keinginan khalayak ialah dengan mengelompokkan mereka menurut jenis kelamin, usia, agama, pekerjaan, pendidikan, kebudayaan, kesenangan (hobby), berdasarkan atas perbedaan sebagaimana tersebut diatas. Sebenarnya, pengelompokan tersebut telah dilaksanakan oleh berbagai media massa dengan mengadakan rubrik atau acara tertentu untuk kelompok pembaca, pendengar, dan penonton tertentu. Hampir semua surat kabar, radio, dan televisi menyajikan rubrik secara khusus diperuntukkan bagi anak-anak, remaja, dan dewasa, wanita dewasa dan remaja putri, pedagang, petani, ABRI, dan lain-lain, pemeluk agama Islam, Kristen, Budha, Hindu, dan kepercayaan, dan kelompok-kelompok lainnya. Berdasarkan pengelompokan tersebut diatas, maka sejumlah rubrik atau acara

diperuntukakan bagi kelompok tertentu sebagai sasarannya, atau dapat disingkat kelompok sasaran (target group). Disamping itu, khalayak keseluruhan sebagai sasarannya atau yang disebut sebagai khalayak sasaran (target audience). Contohh rubrik untuk khayak sasaran pada surat kabar adalah berita, tajuk rencana, pojok, artikel, certa bersambung, dan lain-lain. Adapun untuk kelompok sasaran adalah ruangan wanita, halaman untuk anak-anak, kolom untuk mahasiswa, ruangan bagi penggemar film, dan sebagainya. Contoh untuk khalayak sasaran pada radio dan televisi siaran adalah warta berita, sandiwara, film seri, musik tradisional (keroncong, dangdut, populer, dan lain-lain), olah raga, dan sebagainya. Adapun untuk kelompok sasaran adalah acara anak-anak, remaja, mahasiswa, petani, ABRI, dan pemeluk agama Islam dan agama-agama lainnya, serta banyak lagi yang diperuntukkan bagi kelompok tertentu. Berdasarkan ciri heterogenitas komunikan sebagaimana diuraikan diatas, dan dikaitkan dengan ciri yang disebut pertama, yakni bahwa komunikasi massa berlangsung satu arah, maka komunikator yang menangani atau yang menggunakan media massa harus melakukan perencanaan yang matang sehingga pesan yang disebarkannya benar-benar komunikatif, yakni received dan accepted dalam suatu kali penyiaran (Effendy, 1994) Media massa menimbulkan keserempakan Karakteristik lainnya yang dimiliki oleh media massa adalah kemampuannya untuk menimbulkan keserempakan (simultaneity) pada pihak khalayak dalam menerima pesan-pesan yang disebarkan. Hal inilah yang merupakan ciri paling hakiki dibandingkan dengan media komunikasi lainnya. Bandingkan misalnya poster atau papan pengumuman dengan radio yang sama-sama merupakan media komunikasi. Poster dan papan pengumuman adalah media komunikasi, tetapi bukan media komunikasi massa, sebab tidak mengandung ciri
30

keserempakan, sedangkan radio adalah media massa adalah media massa karena mengandung ciri keserempakan. Pesan yang disampaikan melalui poster atau papan pengumuman kepada khalayak tidak diterima oleh mereka dengan melihat poster dan atau papan pengumuman itu secara serempak bersama-sama, melainkan secara bergantian. Lain halnya dengan pesamn yang disampaikan melalui siaran radio. Pesan yang disebarkan dalam bentuk pidato, misalnya pidato presiden, akan diterima oleh khalayak dalam jumlah jutaan, bahkan puluhan atau ratusan juta, serempak secara bersama-sama pada saat yang sama pada saat Presiden berpidato. Hubungan komunikator-komunikan bersifat non pribadi. Sifat non pribadi ini timbul disebabkan dari teknologi penyebaran yang masal dan sebagaian lagi disebabkan syarat-syarat bagi peran komunikator yang bersifat umum. Dalam penyampaian berbagai produk tayangan, media massa berupaya menyesuaikan dengan khalayaknya yang heterogen dan berbagai sosio-ekonomi, kultural, dan lainnya. Produk media pun pada akhirnya dibentuk sedemikian rupa, sehingga mampu diterima oleh orang banyak. Di sisi lain, media juga sering kali menyajikan berita, film, dan informasi lain dari berbagai negara sebagai upaya media memberikan pilihan yang memuaskan bagi khalayaknya. Produk media baik yang berupa berita, program keluarga, kuis, film, dan sebagainya, disebut sebagai upaya massa yaitu karya budaya. Berdasarkan ciri yang demikian, maka seni hiburan ini banyak diproduksi media untuk menarik sebanyak mungkin khalayaknya. Hal ini tidak saja dipengaruhi oleh kebutuhan khalayak massa yang heterogen, juga adanya kepentingan komersial media yang kini masuk sebagai industri yang membutuhkan dana besar melalui iklannya. 7. Fungsi Komunikasi Massa Komunikasi massa merupakan salah satu bentuk aktivitas sosial yang tentunya memiliki berbagai fungsi bagi masyarakat. Robert K. Merton mengemukakan bahwa fungsi aktivitas sosial memiliki dua aspek, yakni fumgsi nyata (manifest function) atau dengan kata lain merupakan fungsi yang diinginkan, dan fungsi tidak nyata atau tersembunyi (latent function) yang biasanya fungsi ini tidak diinginkan. Sehingga dapat disimpulkan bahwa setiap fungsi sosial dalam masyarakat itu memiliki efek fungsional dan disfungsional (Bungin, 2008). Selain manifest function dan latent function seperti yang dijabarkan oleh Merton diatas, setiap aktivitas sosial juga berfungsi melahirkan fungsi-fungsi sosial lainnya, atau yang disebut dengan beiring function (Bungin, 2008). Terciptanya fungsi-funsi sosial lainnya ini disebabkan oleh kemampuan adaptasi manusia yang sangat sempurna. Oleh sebab itu, jika
31

ada fungsi-fungsi sosial yang dianggap membahayakan dirinya, maka manusia tersebut akan mengubah fungsi-fungsi sosial yang ada. Contohnya, pemberantasan korupsi yang dilakukan oleh pemerintah, disatu sisi adalah untuk membersihkan masyarakat dari praktik korupsi. Namun, disisi lain tindakan pemberantasn korupsi yang tidak diikuti dengan perbaikan sistem justru akan menimbulkan ketakutan bagi aparatur pemerintahan secara luas tentang masa depan mereka karena merasa tindakannya selalu diawasi, ditakuti, dan ditindak. Tidak adanya perbaikan sistem yang baik dan ketakutan justru akan melahirkan (beiring) model-model korupsi baru yang lebih canggih. Dengan demikian, maka aktivitas sosial lama itu akan mengalami metamorfosa dan kemudian melahirkan aktivitas sosial. Begitu pula dengan fungsi komunikasi media massa. Sebagai aktivitas sosial masyarakat, komunikasi massa juga mengalami hal serupa. Misalnya, pemberitaan tentang bahaya tsunami terhadap kehidupan masyarakat pantai. Diibaratkan dua sisi mata pedang, disatu sisi, pemberitaan tersebut adalah informasi mengenai bagaimana masyarakat pantai dapat menghindari bahaya tsunami ketika bencana itu datang, tetapi pemberitaan itu juga sekaligus menciptakan ketakutan dan kecemasan yang amat sangat bagi masyarakat yang hidup di pesisir pantai. Bahkan, pemberitaan itu dapat berdampak buruk pada orang-orang pegunungan yang mungkin saja ingin atau berencana pindah ke kawasan pantai. Berbicara mengenai fungsi dari komunikasi massa, maka fungsi komunikasi massa itu ada beberapa macam. Adapun beberapa fungsi dari komuikasi massa ini adalah sebagai berikut. Fungsi pengawasan Media massa adalah sebuah medium dimana dapat digunakan untuk pengawasan terhadap aktivitas masyarakat pada umumnya. Fungsi pengawasan ini bisa berupa peringatan dan kontrol sosial maupun kegiatan persuasif. Pengawasan dan kontrol sosial dapat dilakukan untuk aktivitas preventif untuk mencegah terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan. Seperti, pemberitaan bahaya narkoba bagi kehidupan manusia yang dilakukan melalui media massa dan ditujukan kepada masyarakat, maka fungsinya untuk kegiatan preventif agar masyarakat tidak terjerumus dalam pengaruh narkoba. Sementara itu, fungsi persuasif sebagai upaya memberikan reward dan punishment kepada masyarakat sesuai dengan apa yang dilakukannya. Media massa dapat memberikan reward kepada masyarakat yang bermanfaat dan fungsional bagi anggota masyarakat lainnya. Namun sebaliknya, media massa juga dapat memberikan punishment apabila aktivitasnya tidak bermanfaat bahkan merugikan fungsi sosial lainnya di masyarakat.

32

Fungsi Social Learning Disamping memberi informasi kepada masyarakat luas, komunikasi massa juga menunujukkan fungsi sosial lainnya, yakni mendidik masyarakat atau social learning. Pada fungsi ini, fungsi utama dari komunikasi massa melalui media massa adalah melakukan guiding dan pendidikan sosial kepada seluruh masyarakat. Media massa bertugas untuk memberikan pencerahan-pencerahan kepada masyarakat dimana komunikasi massa itu berlnagsung. Komunikasi massa dimaksudkan agar proses pencerahan itu berlangsung secara efektif dan efisien dan menyebar secara bersamaan di masyarakat luas. Fungsi komunikasi massa ini merupakan sebuah andil yang dilakukan untuk menutupi kelemahan fungsi-fungsi paedagogi yang dilaksanakan melalui komunikasi tatap muka, dimana karena sifatnya, maka fungsi paedagogi hanya dapat berlangsung secara eksklusif antara individu tertentu saja. Selain itu, melalui komunikasi massa, masyarakat itu dididik agar dapat berpikir kritis dan memiliki horizon pengetahuan yang luas serta juga mendidik masyarakat agar bisa mandiri dalam menangani setiap persoalan dalam kehidupannya. Fungsi Penyampaian Informasi Komunikasi massa mengandalkan media massa, memiliki fungsi utama, yaitu menjadi proses penyampaian informasi kepada masyarakat luas. Komunikasi massa memungkinkan informasi dari institusi publik tersampaikan kepada masyarakat secara luas dalam waktu cepat sehingga fungsi informatif tercapai dalam waktu yang cepat dan singkat. Fungsi Transformasi Budaya Diatas telah disinggung sedikit mengenai fungsi informatif. Adapun yang dimaksud dengan fungsi informatif adalah fungsi-fungsi yang bersifat statis, namun fungsi-fungsi lain yang lebih dinamis adalah fungsi transformasi budaya. Komunikasi massa sebagaimana sifatsifat budaya massa, maka yang terpenting adalah komunikasi massa menjadi proses transformasi budaya yang dilakukan bersama-sama oleh semua komponen komunikasi massa, terutama yang didukung oleh media massa. Fungsi transformasi budaya ini menjadi sangat penting dan terkait dengan fungsifungsi lainnya, terutama fungsi social learning, akan tetapi fungsi transformasi budaya ini lebih kepada tugasnya yang besar sebagai bagian dari budaya global. Sebagaimana diketahui bahwa perubahan-perubahan budaya yang disebabkan oleh perkembangan telematika menjadi perhatian utama semua masyarakat dunia, karena selain dapat dimanfaatkan untuk pendidikan, juga dapat digunakan untuk fungsi-fungsi lainnya seperti politik, perdagangan (ekonomi), agama, hukum, militer, dan sebagainya. Jadi, tidak dapat dihindari bahwa

33

komunikasi massa memainkan peran penting dalam proses ini dimana hampir semua perkembangan telematika mengikutsertakan proses-proses komunikasi massa, terutama dalam proses transformasi budaya. Menciptakan Rasa Kebersamaan Salah satu fungsi komunikasi massa yang tidak banyak orang yang menyadarinya dalah kemampuannya membuat kita merasa menjadi anggota suatu kelompok. Bayangkanlah seorang pemirsa televisi yang sedang sendirian, duduk di kamarnya menyaksikan televisi sambil menikmati makan malam. Program-program televisi membuat orang-orang yang kesepian ini merasa menjadi anggota kelompok yang lebih besar (De Vito, 1997). Fungsi Membius Salah satu fungsi media yang paling menarik dan paling banyak dilupakan adalah fungsi membius (narcotizing)nya. Ini berarti bahwa apabila media menyajikan informasi tentang sesuatu, penerima percaya bahwa tindakan tertentu telah diambil. Sebagai akibatnya, pemirsa atau penerima terbius dalam keadaan tidak aktif, seakan-akan berada dalam pengaruh narkotik. Seperti yang di jelaskan oleh Lazarsfeld dan Merton sebagai berikut. Mereka banyak membaca banyak pokok masalah dan bahkan mungkin mendiskusikan alternatif-alternatif tindakannya. Tetapi, ini lebih merupakan proses intelektual yang tidak mengaktifkan tindakan sosial. Warga masyarakat yang berkepentingan dan mengethahui informasi ini dapat memberi selamat kepada dirinya sendiri atas informasi yang diperolehnya dan lupa menyadari bahwa ia tidak dilibatkan dalam keputusan dan tindakan. Ia mengelirukan antara mengetahui persoalan dan melakukan sesuatu atas persoalan tersebut. Lazarslefd dan Merton mengistilahkan ini disfungsional, dan bukan fungsional berdasarkan asumsi bahwa tidaklah baik bagi masyarakat modern untuk memiliki sejumlah besar anggota yang secara politis apatis dan lamban. Dengan tingkat tingkat pemirsaan 7 jam per hari, tidak heran jika kita mengacaukan pengetahuan akan masalah dengan tindakan. Menganugerahkan status Daftar 100 orang terpenting di dunia bagi kita hampir boleh dipastikan berisi namanama orang yang banyak dimuat dalam media. Tanpa pemuatan ini, orang-orang tersebut pastilah tidak menjadi penting, setidak-tidaknya dalam pandangan masyarakat. Paul Lazarsfeld dan Robert K. Merton dalam karya mereka yang berpengaruh Mass Communication, Popular Taste, and Organized Social Action pada tahun 1951 mengatakan: jika benar-benar penting, anda akan menjadi pusat perhatian massa dan jika anda adalah

34

pusat perhatian massa, berarti anda memang penting. Sebaliknya, jika anda tidak mmendapat perhatian massa, maka anda tidaklah penting (Lazarsfeld and Merton, 1951). Fungsi Hiburan Fungsi lain dari komunikasi, termasuk komunikasi massa adalah hiburan. Seirama dengan fungsi-fungsi lain, komunikasi massa juga dapat digunakan sebagai media hiburan. Karena komunikasi massa menggunakan media massa, jadi fungsi-fungsi hiburan yang ada pada media massa juga merupakan fungsi dari komunikasi massa. Transformasi budaya yang dilakukan oleh komunikasi massa mengikutsertakan fungsi hiburan ini sebagai bagian penting dalam fungsi komunikasi massa. Hiburan tidak terlepas dari fungsi media massa itu sendiri dan juga tidak terlepas dari tujuan transformasi budaya. Dengan demikian, maka fungsi hiburan dari komunikasi massa saling mendukung fungsi-fungsi lainnya dalam proses komunikasi massa. De Vito menyebutkan, bahwa media mendesain program-program mereka untuk menghibur khalayak. Tentu saja, sebenarnya mereka memberi hiburan itu mendapatkan perhatian dari khalayak sebanyak mungkin sehingga mereka dapat menjual hal ini kepada para pengiklanan. Inilah sebab utama adanya komunikasi massa. Dalam masyarakat dimana negara membantu kehidupan media atau dimana periklanan dilarang untuk melakukan di banyak macam media, prosesnya berbeda. Tetapi di Amerika Serikat dan di kebanyakan negara demokrasi lainnya, jika media tidak memberi hiburan, mereka tidak akan hidup lama dan dengan cepat akan tersingkir dari arena. Fungsi meyakinkan Meskipun fungsi media yang paling jelas adalah menghibur, namun fungsinya yang terpenting adalah meyakinkan (to persuade). Persuasi dapat datang dalam banyak bentuk, diantaranya : a. Mengukuhkan atau memperkuat sikap kepercayaan atau nilai seseorang Menurut De Vito, adalah sukar bagi satu pihak untuk mengubah seseorang dari sikap tertentu ke sikap yang lainnya. Dan media, dengan semua sumber daya dan kekuatan yang ada pada mereka, tidak terkecuali. Lebih sering media mengukuhkan atau membuat kepercayaan, sikap, nilai, dan opini kita menjadi lebih kuat. b. Mengubah sikap Media akan mengubah sementara orang yang tidak memihak dalam suatu masalah tertentu. Jadi, mereka yang terjepit diantara orang Republik dan

35

Demokrat (di Amerika) akhirnya akan terseret kepada salah satu pihak akibat pengaruh pesan-pesan media. Media juga menghasilkan banyak perubahan yang kita anggap sepele. Sebagai contoh, perubahan pada perilaku membeli kertas tisu, mungkin sangat dipengaruhi oleh media. Akan tetapi De Vito juga menegaskan pula bahwa preferensi politik, sikap religius, dan komitmen sosial, khususnya yang sangat kita yakini, tidak mudah untuk diubah. c. Menggerakkan sikap Dari sudut pandang pengiklan, fungsi terpenting dari media adalah menggerakkan (activating) para konsumen untuk mengambil tindakan. Media berusaha mengajak para pemirsa atau pembaca untuk membeli roti merk tertentu, menggunakan silet tertentu, dan memilih barang merek tertentu dibanding merk yang lain. Setelah semua sikap dibentuk, atau pola perilaku dimantapkan, media berfungsi menyalurkannya, mengendalikannya ke arah tertentu. Sebagai contoh, setelah pola membayar $60 untuk sepotong celana jeans dimantapkan, media dapat mengarahkan perilaku ini dengan mudah ke merk Guess, Celvin Klein Sasson, atau merk apa pun yang berharga mahal. Lebih baik lagi, jika label harga itu tampak jelas. d. Menawarkan etika atau sistem nilai tertentu Fungsi persuasif lainnya adalah mengetikakan (ethicizing). Dengan

mengungkapkan secara terbuka adanya penyimpangan tertentu dari suatu norma yang berlaku (misalnya, skandal Jim Brakker), media merangsang masyarakat untuk mengubah situasi. Mereka menyajikan etik kolektif kepada pemirsa atau pembaca. Sebagai contoh, tanpa di publikasikannya skandal Watergate, tidaklah mungkin muncul tuntutan masyarakat yang akhirnya menjatuhkan pemerintah Richard Nixon. Ditulis 20 tahun sebelum skandal Watergate. Lazarselfd dan Merton (1951) menyatakan: dalam masyarakat, fungsi pemaparan terbuka ini dilembagakan dalam komunikasi massa, pers, radio, dan televisi memaparkan penyimpangan dari opini publik secara cukup terbuka, dan akibatnya, pemaparan ini menggerakkan masyarakat untuk bertindak menentang apa yang secara pribadi dapat ditoleransi. Media massa dapat mengungkapkan ketegangan akibat diskriminasi. Adakalanya, media dapat mengorganisasikan kegiatankegiatan terbuka menjadi suatu perang suci.

36

8. Komunikasi Massa sebagai Sistem Sosial Komunikasi massa sebagai sistem sosial memiliki komponen-komponen penting, yaitu sebagai berikut. Narasumber sebagai sumber-sumber informasi bagi media massa. Publik yang mengonsumsi media massa. Media massa meliputi organisasi, sumber daya manusia, fasilitas produksi, distribusi, kebijakan yang ditempuh, ideologi yang diperjuangkan dan sebagainya. Aturan hukum dan perundang-undangan, norma-norma, dan nilai-nilai, serta kode etik yang mengatur semua stakeholder komunikasi massa. Institusi samping yang tumbuh dan memberikan kontribusi terhadap kegiatan komunikasi massa, seperti percakapan, periklanan, badan sensor, dan sebagainya. Pihak yang mengendalikan berlangsungnya komunikasi massa, permodalan, penguasa, kekuatan politik, maupun kelompok kepentingan. Unsur-unsur penunjang lain yang memungkinkan berlangsungnya kegiatan komunikasi massa (Nasution, 2003). Umpamanya adalah perusahaan-perusahaan penghasil teknologi telematika, kondisi sosial, ekonomi, dan politik negara, kondisi global masyarakat internasional, serta percaturan politik dunia. Peran Media Massa Media massa adalah institusi yang berperan sebagai agent of change, yaitu sebagai institusi pelopor perubahan. Ini adalah paradigma untuk media massa. Dalam menjalankan paradigmanya media massa berperan sebagai: Sebagai institusi pencerahan masyarakat, yaitu peranannya sebagai media edukasi. Media massa menjadi media yang setiap saat mendidik masyarakat supaya cerdas, terbukanya pikirannya, dan menjadi masyarakat yang maju. Selain itu, media massa juga menjadi media informasi, yaitu media yang setiap saat menyampaikan informasi kepada masyarakat. Dengan informasi yang terbuka dan jujur dan benar disampaikan media massa kepada masyarakat, maka masyarakat akan menjadi masyarakat yang kaya dengan informasi, masyarakat yang terbuka dengan informasi, sebaliknya pula masyarakat akan menjadi masyarakat informatif, masayarakat yang dapat menyampaikan informasi dengan jujur kepada media massa. Selain itu, informasi yang dimiliki oleh masyarakat, menjadikan masyarakat sebagai masyarakat dunia yang dapat berpartisipasi dengan berbagai kemampuannya.

37

Terakhir, media massa yang memiliki peran sebagai media hiburan. Sebagai agent of change, media massa juga menjadi institusi budaya, yaitu institusi yang setiap saat menjadi corong kebudayaan, katalisator perkembangan kebudayaan. Sebagai agent of change yang dimaksud adalah juga mendorong agaar perkembangan budaya itu bermanfaat bagi manusia bermoral dan masyarakat sakinah, dengan demikian media massa juga berperan untuk mencegah berkembangnya budaya-budaya yang justru merusak peradaban manusia dan masyarakatnya. Secara lebih spesifik, peran media massa saat ini lebih menyentuh persoalan-

persoalan yang terjadi di masyarakat secara aktual, seperti: Harus lebih spesifik dan proporsional dalam melihat sebuah persoalan, sehingga sebuah persoalan sehingga mampu menjadi media edukasi dan media informasi sebagaimana yang diharapkan oleh masyarakat. Dalam memotret realitas, media massa harus fokus pada realitas masyarakat, bukan pada potret kekuasaan yang ada di masyarakat itu, sehingga informasi tidak menjadi propaganda kekuasaan, potert figur kekuasaan. Sebagai lembaga edukasi, media massa harus dapat memilah kepentingan pencerahan dengan kepentingan media massa sebagai lembaga produksi, sehingga kasus-kasus pengaburan berita dan iklan tidak harus terjadi dan merugikan masyarakat. Media massa juga harus menjadi early warning system, hal ini terkait dengan peran media massa sebagai media informasi, dimana lingkungan menjadi sumber ancaman. Media massa menjadi sebuah sistem dalam sistem besar peringatan terhadap ancaman lingkungan, bukan hanya menginformasikan informasi setelah terjadi bahaya dari lingkungan itu. Dalam mengahadapi ancaman masyarakat yang lebih besar seperti terorisme, seharusnya media massa lebih banyak menyoroti aspek fundamental pada terorisme seperti mengapa terorisme itu terjadi bukan hanya pada aksi-aksi terorisme (Subiakto, 2006). d. Perubahan Sosial Belakangan ini, sosiologi mulai meragukan validitas teori sistem organik dan dikotomi statika sosial dan dinamika sosial. Ada dua kecenderungan intelektual yang menonjol, yakni :

38

1. Penekanan pada kualitas dinamis realitas sosial yang dapat menyebar kesegala arah, yakni membayangkan masyarakat dalam keadaan bergerak (berproses). 2. Tidak memperlakukan masyarakat (kelompok ataupun organisasi) sebagai sebuah obyek dalam arti menyangkal konkretisasi (concretization) pada realitas sosial. Impilkasi pertamanya adalah bahwa pertentangan anatara keadaan statis dan dinamis mungkin hanya ilusi dan tak ada obyek atau struktur atau kesatuan tanpa mengalami perubahan. Pemikiran ini berasal dari ilmu alam. Alfred N. Whitehead (1925) dalam Sztompka (2004) menyebutnya sebagai konsep perubahan menjadi sifat sesuatu. Pandangan dinamis ini segera berubah menjadi pendekatan dominan, menjadi kecenderungan ilmu modern untuk lebih memperhatikan peristiwa ketimbnag keadaannya sebagai komponen utama relitas itu sendiri. Bagi sosiologi, ini berarti bahwa masyarakat tidak boleh dibayangkan sebagai sebuah sitem yang tetap, melainkan sebagai sebuah proses yang berjalan, serta bukan sebagai obyek semu yang kaku, tetapi sebagai aliran peristiwa terus menerus tanpa henti. Diakui bahwa masyarakat hanya dapat dikatakan ada sejauh dan selama terjadi sesuatu di dalamnya, yakni ada tindakan tertentu yang dilakukan, ada perubahan tertentu, dan ada proses tertentu yang senantiasa bekerja. Secara ontologi, dapat dikatakan bahwa masyarakat tak berada dalam keadaan tetap secara terus menerus. Semua realitas sosial senantiasa berubah dengan derajat kecepatan, intensitas, irama, dan tempo yang tentunya berbeda-beda. Bukan kebetulan jika orang berbicara mengenai kehidupan sosial dimana kehidupan itu merupakan sebuah gerakan perubahan. Dengan kata lain, maka apabila proses perubahan itu terhenti, maka tak ada lagi kehidupan sosial melainkan hanya suatu keadaan yang berbeda yang disebut dengan ketiadaan atau kematian (Sztompka, 2004). Perubahan dalam sitem tatanan masyarakat inilah yang dinamakan dengan perubahan sosial.s Perubahan sosial adalah proses sosial yang dialami anggota masyarakat serta semua unsur-unsur budaya dan sistem-sistem sosial, dimana semua tingkat kehidupan masyarakat secara sukarela atau dipengaruhi oleh unsur-unsur eksternal meninggalkan pola-pola kehidupan, budaya, dan sistem sosial lama kemudian menyesuaikan diri atau menggunakan pola-pola kehidupan, budaya, dan sistem sosial yang baru. Perubahan sosial terjadi ketika ada kesediaan anggota masyarakat untuk meninggalkan unsur-unsur budaya dan sistem sosiala lama dan mulai beralih menggunakan unsur-unsur budaya dan sistem sosial yang baru. Perubahan sosial dianggap sebagai konsep yang serba mencakup seluruh kehidupan masyarakat baik pada tingkat individual, kelompok, masyarakat, negara, dan dunia yang mengalami perubahan.
39

Hal-hal penting dalam perubahan sosial menyangkut aspek-aspek sebagai berikut. Pertama, perubahan pola pikir dan sikap masyarakat menyangkut persoalan sikap masyarakat terhadap berbagai persoalan sosial dan budaya disekitarnya yang berakibat terhadap pemerataan pola-pola pikir baru yang dianut oleh masyarakat sebagai sikap yang modern. Contohnya, sikap terhadap pekerjaan bahwa konsep dan pola pikir lama tentang pekerjaan adalah sektor formal (menjadi pegawai negeri), sehingga konsep pekerjaan dibagi menjadi dua, yaitu sektor formal dan sektor informal. Saat ini terjadi perubahan terhadap konsep kerja lama dimana pekerjaan konsep tidak sebagai sektor formal (menjadi pegawai negeri), akan tetapi dimana saja yang penting mengahsilkan pendapatan yang maksimal. Dengan demikian, maka bekerja tidak saja di sektor formal, akan tetapi bebas dimana sajaa yang penting menghasilkan uang yang maksimal, dengan demikian konsep kerja menjadi sektor formal, yaitu bekerja di pemerintahan, sektor swasta yaitu bekerja di perusahaan swasta besar, sektor informal yaitu bekerja disektor informal yaitu bekerja disektor informal, seperti wiraswasta kecil, kaki lima, LSM, dan sebagainya, serta sektor lepas, yaitu bekerja scara kontrakan, di berbagai kegiatan, proyek, dan sebagainya. Kedua, perubahan perilaku masyarakat menyangkut persoalan perubahan sistem-sistem sosial, dimana masyarakat meninggalkan sistem sosial lama dan menjalankan sistem sosial baru, seperti perubahan perilaku pengukuran kinerja suatu lembaga atau instansi. Apabila pada sistem lama ukuran-ukuran kinerja hanya dilihat dari aspek output dan proses harus mengukur sampai dimana output dan proses itu dicapai, maka pada sistem sosial yang baru, sebuah lembaga atau instansi diukur sampai pada tingkat kinerja output dan proses itu, yakni dengan menggunakan standar sertifikasi seperti BAN-PT pada perguruan tinggi dan sertifikasi ISO pada lembaga-lembaga umum termasuk perguruan tinggi. Ketiga, perubahan budaya materi menyangkut perubahan artefak budaya yang digunakan oleh masyarakat, seperti model pakaian, karya fotografi, karya film, teknologi, dan sebagainya yang terus berubah dari waktu ke waktu sesuai dengan kebutuhan masyarakat. 1. Tahapan atau Fase Transisi Sosiologis Masyarakat memulai kehidupan mereka pada suatu fase yang disebut primitif dimana manusia hidup secara terisolir dan berpindah-pindah yang disesuaikan dengan lingkungan alam sekitar dan makanan yang tersedia. Manusia saat ini hidup dalam kelompok-kelompok kecil (band) dan terpisah dengan kelompok manusia lainnya. Keadaan seperti ini bisa kita lihat pada pola kehidupan masyarakat pada zaman manusia purba. Fase berikutnya adalah fase agrokultural, yakni ketika lingkungan alam tidak lagi mampu memberikan dukungan terhadap manusia, termasuk juga karena populasi manusia
40

mulai banyak, maka pilihan budayanya adalah bercocok tanam disuatu daerah dan memanen hasil pertanian itu serta berburu untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Pada fase ini, budaya berpindah-pindah masih tetap digunakan walaupun dalam skala waktu yang relatif lama. Kemudian adalah fase tradisional. Fase ini dijalani oleh masyarakat dengan hidup secara menetap disuatu tempat yang dianggap startegis untuk penyediaan berbagai kebutuhan hidup masyarakat, seperti pinggir sungai, di pantai, lereng bukit, dataran tinggi, daratan rendah yang datar, dan sebagainya. Pada fase ini juga manusia mulai mengenal kata desa dimana beberapa band (kelompok kecil masyarakat) memilih menetap dan saling berinteraksi satu dengan yang lainnya sehingga menjadi kelompok besar dan menjadi komunitas desa, mengembangkan budaya dan tradisi internal, serta membina hubungan dengan masyarakat di sekitarnya. Selanjutnya, adalah fase transisi. Pada fase ini, kehidupan desa sudah sangat maju, isolasi kehidupan hampir tidak ditemukan lagi dalam skala luas, transportasi sudah lancar walaupun untuk masyarakat desa tertentu masih menjadi maslah. Penggunaan media informasi sudah hampir merata. Namun, secara geografis, masyarakat transisi berada di pinggiran kota serta hidup mereka masih secara tradisional, termasuk pola pikir dan sistem sosial lama masih silih berganti digunakan dan mengalami penyesuaian dengan hal-hal baru yang lebih inovatif. Dengan demikian, maka umumnya masyarakat transisi bersifat mendua atau ambigu terhadap sikap, pandangan, dan perilaku mereka sehari-hari. Pola pikir masyarakat masih tradisional dan masih memelihara kekrabatan namun perilaku masyarakat sudah terlihat individualis. Sesuatu yang masih dominan dalam kehidupan masyarakat ini adalah proses asimilasi budaya dan sosial yang belum tuntas dan terlihat masih canggung disemua level masyarakat. Fase berikutnya setelah fase transisi adalah fase modern. Fase ini ditandai dengan perubahan sosial yang lebih jelas meninggalkan fase transisi. Kehidupan masyarakat sudah kosmopolitan dengan kehidupan individual yang sangat menonjol, profesionalisme di segala bidang dan penghargaan terhadap profesi menjadi kunci hubungan-hubungan sosial diantara elemen masyarakat. Di sisi lain, sekulerisme menjadi sangat dominan terhadap sistem religi dan kontrol sosial masyarakat serta sistem kekerabatan mulai diabaikan. Anggota masyarakat hidup dalam sistem yang sudah mekanik, kaku, dan hubungan-hubungan sosial ditentukan berdasarkan pada kepentingan masing-masing elemen masyarakat. Masyarakat modern ini umumnya juga berpendidikan relatif lebih tinggi dari masyarakat transisi sehingga memiliki tingkat pengetahuan yang lebih luas dan pola pikir yang lebih rasional dari semua tahapan
41

kehidupan masyarakat sebelumnya, walaupun terkadang tingkat pendidikan formal saja tidak cukup untuk mengantarkan masyarakat pada tingkat poengetahuan dan pola pikir semacam itu. Secara demografis, masyarakat modern menempati lingkungan perkotaan yang cenderung gersang dan jauh dari situasi sejuk dan rindang, ditambah lagi karena kehidupan mereka yang serba mekanik sepanjang minggu sehingga masyarakat kota memiliki kepedulian yang tinggi terhadap kebutuhan rekreasi diakhir minggu untuk rileks dan melepaskan kepenatan. Fase postmodern, adalah sebuah fase perkembangan masyarakat yang pertama-tama dikenal di Amerika Serikat pada akhir tahun 1980an. Di Indonesia, ciri masyarakat postmodern dideteksi ada sejak tahun 1990an. Masyarakat postmodern sesungguhnya adalah masyarakat modern yang secara finansial, pengetahuan, relasi, dan semua prasyarat sebagai masyarakat modern sudah dilampauinya. Walaupun terkadang ada satu atau dua masyarakat modern terlihat memiliki ciri postmodern walaupun belum memiliki kemampuan tersebut, namun hal itu bersifat temporer dan meniru-niru kelompok lain yang lebih mapan. Jadi, masyarakat postmodern adalah masyarakat modern dengan kelebihan-kelebihan tertentu dimana kelebihan-kelebihan itu menciptakan pola sikap dan perilaku serta pandanganpandangan mereka terhadap diri dan lingkungan sosial yang berbeda dengan masyarakata atau masyarakat sebelum itu. Sifat-sifat yang menonjol dari masyarakat postmodern adalah sebagai berikut. Memiliki pola hidup nomaden, artinya kehidupan mereka yang terus bergerak dari satu tempat ke tempat lain menyebabkan orang sulit menemukan mereka secara jelas termasuk dapat mendeteksi dimana tempat tinggal menetapnya. Hal ini disebabkan karena kesibukan mereka dengan berbagai usaha dan bisnis, akhirnya mereka bisa saja memiliki rumah di mana-mana di dunia ini. Secara sosiologis, mereka berada pada titik nadir, antara struktur dan agen, yaitu pada kondisi tertentu orang postmodern patuh pada strukturnya, namun pada sisi lain ia mengekpresikan dirinya sebagai agen yang memproduksi struktur atau paling tidak agen yang terlepas dari strukturnya. Berdasarkan hal tersebut, maka berdasarkan pengamatan dari beberapa peneliti luar negeri, sesungguhnya pribadi postmodern adalah pribadi yang secara permanen ambivalensia atau mereka yang ambigu dalam pilihan-pilihan hidup mereka. Namun, sesungguhnya pada pribadi-pribadi postmodern hal tersebut adalah pilihan-pilihan hidup yang demokratis dan ekspresi dari kebebasan pribadi orang-orang kosmopolitan.

42

Manusia postmodern lebih suka menghargai privasi, dan kegemaran mereka melebihi apa yang mereka anggap berharga dalam hidup mereka, dengan demikian kegemaran spesifik mereka menjadi aneh-aneh dan unik.

Kehidupan pribadi yang bebas menyebabkan mereka cenderung menjadi sangat sekuler, memiliki pemahaman nilai sosial yang subjektif dan liberal sehingga condong terlihat sangat mobile pada seluruh komunitas masyarakat dan agama serta berbagai pandangan politik sekalipun.

Pemahaman orang postmodern yang bebas pula menyebabkan mereka cenderung melakukan gerakan back to nature, back to village, back to traditional atau bahkan back to religi. Namun, karena mereka pemahaman mereka yang luas tentang persoalan kehidupan, maka gerakan kembali itu memiliki perspektif yang berbeda dengan orang lain yang selama ini sudah dan sedang ada di wilayah tersebut. Kehidupan masyarakat kota pada umumnya satu sama lain tidak mengenal dan

interaksi-interaksi mereka didasari oleh kepentingan dan kebutuhan yang dilandasi pada hubungan sekunder, sehingga secara real media massa telah menjadi salah satu kebutuhan dalam berinteraksi di dalam masyarakat perkotaan satu dengan yang lainnya. Namun, penggnunaan media massa berbeda dengan komunikasi antar pribadi. Media massa membutuhkan persyaratan tertentu dari pemakainya. Pertama adalah orang harus bisa membaca sebelum mengonsumsi surat kabar atau majalah. Kedua, orang harus memiliki pesawat radio atau televisi, bila akan mengikuti siarannya, atau punya uang untuk beli karcis bila akan menonton film. Ketiga, kebiasaan memanfaatkan media (media habit). Untuk menjadi khalayak media massa, maka ketiganya perlu dimiliki atau dilakukan. Apabila tidak, maka mereka tidak bisa menjadi khalayak media massa atau masyarakat media. Dalam penyampaian berbagai produk tayangan, media massa berupaya menyesuaikan dengan khalayaknya yang heterogen dan berbagai sosio-ekonomi, kultural dan lainnya. Produk media pun pada akhirnya dibentuk sedemikian rupa, sehingga mampu diterima oleh banyak orang. Disisi lain media juga sering kali menyajikan berita, film, dan informasi lain dari berbagai negara sebagai upaya media memberikan pilihan yang memuaskan bagi khalayaknnya. Produk media baik yang berupa berita, program keluarga, kuis, film, dan sebagainya disebut sebagai upaya massa yaitu karya budaya. Berdasarkan ciri yang demikian, maka seni hiburan ini banyak diproduksi media untuk menarik sebanyak mungkin khalayaknya. Hal ini tidak hanya dipengaruhi kebutuhan khalayak massa yang heterogen, juga adanya kepentingan komersial media yang kini masuk

43

sebagai industri yang membutuhkan dana besar melalui iklannya. Budaya massa dibentuk disebabkan : 1. Tuntutan industri pencipta untuk menghasilkan karya yang banyak dalam tempo singkat. Maka isi pencipta untuk menghasilkan karya yang banyak dalam tempo singkat, tak sempat lagi berfikir dan dengan cepatnya menyelesaikan karyanya.

Mereka memiliki target produksi yang harus dicapai dalam waktu tertentu. 2. Karena massa budaya cenderung latahbmenyulap atau meniru segala sesuatu yang sedang naik turun atau laris, sehingga media berlomba untuk mencari keuntungan sebesar-besarnya. Pada umumnya budaya massa dipengaruhi oleh budaya populer. Pemikiran tentang budaya populer menurut Ben Agger dapat dikelompokkan pada empat aliran a. Budaya dibangun berdasarkan kesenangan namun tidak substansial dan mengentaskan orang dari kejenuhan kerja sepanjang hari b. Kebudayaan populer menghancurkan nilai budaya tradisional c. Kebudayaan menjadi masalah besar dalam pandangan ekonomi Marx kapitalis d. Kebudayaan populer merupakan budaya yang menetes dari atas Kebudayaan populer banyak berkaitan dengan masalah keseharian yang dinikmati oleh semua orang atau kalangan orang tertentu, seperti pementasan mega bintang, kendaraan pribadi, fashion, model rumah, perawatan tubuh dan semacamnya. Sebuah budaya yang akan memasuki dunia hiburan, maka budaya itu umumnya menempatkan unsur populer sebagai unsur utamanya. Dan budaya itu akan memperoleh kekuatannya manakala media massa digunakan sebagai by pass penyebaran pengaruh dimasyarakat. Seperti kapten medison avenue yang menggunakan media untuk menjual produk melalui studio dan televisi. Budaya memiliki nilai yang membedakan satu budaya dengan budaya yang lainnya. Budaya yang memiliki nilai di bawahnya. Namun dalam budaya populer, perangkat media massa seperti pasar rakyat, film, buku, televisi, dan jurnalistik akan menuntun perkembangan budaya pada erosi nilai budaya. Sedangkan kelompok konservatif seperti Edmund Burke mengatakannya dengan erosi peradaban berharga. Sedangkan Allan Bloom dalam bukunya The Clossing of The American Mind mengartikulasikan pemahaman kaum neokonservatif dimana paham ini menyalahkan kebudayaan baru.

44

BAB III PENUTUP Kesimpulan Dari paparan diatas dapat kita ambil kesimpulan bahwa sebenarnya gagasan-gagasan perspektif sosiologi komunikasi telah ada bersamaan dengan lahirnya sosiologi itu sendiri baik dalam perspektif struktural-fungsional maupun dalam perspektif konflik. Ini dirasa wajar dimana dapat kita lihat sendiri bahwa komunikasi itu sendiri tidak bisa dipisahkan dengan sosiologi sebagai ilmu sosial yang mengkaji masyarakat yang notabene adalah pelaku komunikasi. Selanjutnya, kita dapat melihat bahwa komunikasi massa itu memiliki beberapa karakteristik. karakteristik yang dimiliki komunikasi massa inilah yang menyebabkan ia berbeda dengan komunikasi antarpersonal. Karakteristik-karakteristik dari komunikasi massa itu sendiri adalah seperti bersifat umum, berlansung satu arah, komunikatornya terlembaga, bisa menimbulkan keserempakan, dan komunikannya bersifat heterogen. Disamping itu, kita juga bisa melihat banyak manfaat yang ditimbulkan dari komunikasi massa yang disebarkan melalui media massa. Manfaat itu diantaranya sebagai penyampai informasi, penghibur, pendidik masyarakat (social learning), pengawasan, transformasi budaya, dan fungsi untuk meyakinkan (to persuade).

45

Daftar pustaka Bungin, Burhan Muhammad.2008.Sosiologi komunikasi: Teori, Paradigma, dan diskursus Teknologi Komunikasi di Masyarakat.Jakarta : kencana Sutaryo.2005.Sosiologi Komunikasi.Yogyakarta: Arti Bumi Intaran Vivian, John.2008. Teori Komunikasi Massa. Jakarta: Kencana

46