Anda di halaman 1dari 8

Pemanfaatan sumber daya alam

Sumber daya alam memiliki peranan dalam pemenuhan kebutuhan manusia.[1] Untuk memudahkan pengkajiannya, pemanfaatan SDA dibagi berdasarkan sifatnya, yaitu SDA hayati dan nonhayati. [17]

Sumber daya alam hayati


adalah sumber daya alam yang hidup Tumbuhan

Tumbuhan merupakan sumber daya alam yang sangat beragam dan melimpah.[2] Organisme ini memiliki kemampuan untuk menghasilkan oksigen dan pati melalui proses fotosintesis.[2] Oleh karena itu, tumbuhan merupakan produsen atau penyusun dasar rantai makanan.[2]
Eksploitasi tumbuhan yang berlebihan dapat mengakibatkan kerusakan bahkan kepunahan dan hal ini akan berdampak pada rusaknya rantai makanan.[2] Kerusakan yang terjadi karena punahnya salah satu faktor dari rantai makanan akan berakibat punahnya konsumen tingkat di atasnya.[2] Pemanfaatan tumbuhan oleh manusia diantaranya:[17] Bahan makanan: padi, jagung,gandum,tebu Bahan bangungan: kayu jati, kayu mahoni Bahan bakar (biosolar): kelapa sawit Obat: jahe, daun binahong, kina, mahkota dewa Pupuk kompos.[17] Pertanian dan perkebunan Indonesia dikenal sebagai negara agraris karena sebagian besar penduduk Indonesia mempunyai pencaharian di bidang pertanian atau bercocok tanam.[18] Data statistik pada tahun 2001 menunjukkan bahwa 45% penduduk Indonesia bekerja di bidang agrikultur. [19] Hal ini didasarkan pada kenyataan bahwa negara ini memiliki lahan seluas lebih dari 31 juta ha yang telah siap tanam, dimana sebagian besarnya dapat ditemukan di Pulau Jawa.[19] Pertanian di Indonesia menghasilkan berbagai macam tumbuhan komoditi ekspor, antara lain padi, jagung, kedelai, sayursayuran, cabai, ubi, dan singkong.[19] Di samping itu, Indonesia juga dikenal dengan hasil perkebunannya, antara lain karet (bahan baku ban), kelapa sawit (bahan baku minyak goreng), tembakau (bahan baku obat dan rokok), kapas (bahan baku tekstil), kopi (bahan minuman), dan tebu (bahan baku gula pasir).[17][19] Hewan, peternakan, dan perikanan Sumber daya alam hewan dapat berupa hewan liar maupun hewan yang sudah dibudidayakan. [2] Pemanfaatannya dapat sebagai pembantu pekerjaan berat manusia, seperti kerbau dan kuda atau sebagai sumber bahan pangan, seperti unggas dan sapi.[17] Untuk menjaga keberlanjutannya, terutama untuk satwa langka, pelestarian secara in situ dan ex situ terkadang harus dilaksanakan. [2] Pelestarian in situ adalah pelestarian yang dilakukan di habitat asalnya, sedangkan pelestarian ex situ adalah pelestarian dengan memindahkan hewan tersebut dari habitatnya ke tempat lain. [2] Untuk memaksimalkan potensinya, manusia membangun sistem peternakan, dan juga perikanan, untuk lebih memberdayakan sumber daya hewan.[2]

Sumber daya alam nonhayati


Ialah sumber daya alam yang dapat diusahakan kembali keberadaannya dan dapat dimanfaatkan secara terus-menerus, contohnya: air, angin, sinar matahari, dan hasil tambang.[2] Air


Sumber daya alam, air.


Sumber daya alam, angin.


Sumber daya alam, tanah. Air merupakan salah satu kebutuhan utama makhluk hidup dan bumi sendiri didominasi oleh wilayah perairan.[20] Dari total wilayah perairan yang ada, 97% merupakan air asin (wilayah laut, samudra, dll.) dan hanya 3% yang merupakan air tawar (wilayah sungai, danau, dll.).[21] Seiring dengan pertumbuhan populasi manusia, kebutuhan akan air, baik itu untuk keperluan domestik dan energi, terus meningkat.[20] Air juga digunakan untuk pengairan, bahan dasar industri minuman, penambangan, dan aset rekreasi.[20] Di bidang energi, teknologi penggunaan air sebagai sumber listrik sebagai pengganti dari minyak bumi telah dan akan terus berkembang karena selain terbaharukan, energi yang dihasilkan dari air cenderung tidak berpolusi dan hal ini akan mengurangi efek rumah kaca.[20] Angin Pada era ini, penggunaan minyak bumi, batu bara, dan berbagai jenis bahan bakar hasil tambang mulai digantikan dengan penggunaan energi yang dihasilkan oleh angin.[1] Angin mampu menghasilkan energi dengan menggunakan turbin yang pada umumnya diletakkan dengan ketinggian lebih dari 30 meter di daerah dataran tinggi.[1] Selain sumbernya yang terbaharukan dan selalu ada, energi yang dihasilkan angin jauh lebih bersih dari residu yang dihasilkan oleh bahan bakar lain pada umumnya.[1] Beberapa negara yang telah mengaplikasikan turbin angin sebagai sumber energi alternatif adalah Belanda dan Inggris.[1] Tanah Tanah termasuk salah satu sumber daya alam nonhayati yang penting untuk menunjang pertumbuhan penduduk dan sebagai sumber makanan bagi berbagai jenis makhluk hidup.[22] Pertumbuhan tanaman pertanian dan perkebunan secara langsung terkait dengan tingkat kesuburan dan kualitas tanah.[22] Tanah tersusun atas beberapa komponen, seperti udara, air, mineral, dan senyawa organik.[22] Pengelolaan sumber daya nonhayati ini menjadi sangat penting mengingat pesatnya pertambahan penduduk dunia dan kondisi cemaran lingkungan yang ada sekarang ini.[22] Hasil tambang Sumber daya alam hasil penambangan memiliki beragam fungsi bagi kehidupan manusia, seperti bahan dasar infrastruktur, kendaraan bermotor, sumber energi, maupun sebagai perhiasan. Berbagai jenis bahan hasil galian memiliki nilai ekonomi yang besar dan hal ini memicu eksploitasi sumber daya alam tersebut.[23] Beberapa negara, seperti Indonesia dan Arab, memiliki pendapatan yang sangat besar dari sektor ini.[23] Jumlahnya sangat terbatas, oleh karena itu penggunaannya harus dilakukan secara efisein.[1] Beberapa contoh bahan tambang dan pemanfaatannya:

Minyak Bumi Avturuntuk bahan bakar pesawat terbang; Bensinuntuk bahan bakar kendaraan bermotor; Minyak Tanahuntuk bahan baku lampu minyak; Solaruntuk bahan bakar kendaraan diesel;

LNG (Liquid Natural Gas) untuk bahan bakar kompor gas; Oliialah bahan untuk pelumas mesin; Vaselinialah salep untuk bahan obat; Parafinuntuk bahan pembuat lilin; dan Aspaluntuk bahan pembuat jalan (dihasilkan di Pulau Buton)[24]

Batu Bara
dimanfaatkan untuk bahan bakar industri dan rumah tangga.

Biji Besi
Untuk peralatan rumah tangga, pertanian dan lain-lain

Tembaga
merupakan jenis logam yang berwarna kekuning-kuningan, lunak dan mudah ditempa.

Bauksit
Sebagai bahan dasar pembuatan alumunium.

Emas dan Perak


untuk perhiasan

Marmer
Untuk bahan bangunan rumah atau gedung

Belerang
Untuk bahan obat penyakit kulit dan korek api

Yodium
Untuk obat dan peramu garam dapur beryodium

Nikel
Untuk bahan pelapis besi agar tidak mudah berkarat.

Gas Alam
Untuk bahan bakar kompor gas

Mangaan
Untuk pembuatan pembuatan besi baja

Grafit
Bermanfaat untuk membuat pensil, dan bahan pembuatan baterai

Sumber Daya Alam Provinsi Banten



Provinsi Banten mempunyai peluang ekonomi yang besar karena posisi geografis dan aset pemerintah daerahnya sangat

mendukung. Provinsi ini memiliki 56 pulau, dan dalam waktu dekat akan memiliki pelabuhan laut di Bojonegara. Pelabuhan yang tengah dibangun akan dimanfaatkan sebagai Kawasan Ekonorni Khusus (KEK), melayani jalur bisnis regional dan internasional di jalur selat Sunda. Selat strategis ini, merupakan salah satu jalur internasional yang sangat potensial, Selat ini tidak saja dilalui kapal kapal lokal, tetapi juga kapal kapal tanker yang menghubungkan Australia dan Selandia Baru dengan kawasan Asia Tenggara semisal Thailand, Malaysia, dan Singapura. Wilayah Banten, terutama Kota Tangerang dan Kabupaten Tangerang, adalah kawasan penyangga Jakarta sebagai lbukota Negara. Posisi ini sangat strategis, dipenuhi oleh pabrik pabrik dan sentrasentra industri. Tersedianya infrastruktur yang memudahkan berlangsungnya transaksi ekonomi antar provinsi, memberikan nilai tambah dalam mempercepat pertumbuhan ekonominya. Apalagi beberapa pelabuhan laut kecil yang kini dikembangkan sebagai antisipasi untuk menampung kelebihan kapasitas pelabuhan laut di Jakarta. Potensi sektor pertanian terus dikembangkan. Luas lahan panen dan besarnya produksi padi yang dihasilkan terus bertambah, dari 337.986 ha dan 1.756.037 ton pada 2005 menjadi 364,721 ha, dan 1.812.495 ton pada 2006. Praktik budidaya selama kurun tahun 2002 2004 semakin membaik, tercermin dari laju pertumbuhan produksi rata rata lebih tinggi, (11,16% per tahun) dari laju pertumbuhan lahan panen rata rata (2,33% per tahun). Meskipun laju pertumbuhan produksi perluas lahan panen untuk jenis tanaman palawija meningkat, pola dan praktis produksinya relatif belum berkembang. Laju pertumbuhan rata rata luas lahan panen 2,48% per tahun, namun laju pertumbuhan rata-rata produksinya hanya 4,08% per tahun, atau dengan rasio mencapai 1,64%. Di antara semua tanaman palawija, ubi kayu dan kacang kedelai memiliki rasio laju pertumbuhan produksi rata rata berbanding laju pertumbuhan luas panen rata rata di angka 1 (masing masing 1,41 dan 6,75). Secara rata rata, luas panen tanaman sayur mayur meningkat dari 13.777 ha pada 2002 menjadi 19,095,13 ha pada 2005. Dalam kurun waktu yang sama, produktivitasnya menurun, dari 59,71 ton/ha pada 2002 menjadi 7,51 ton/ha pada 2005, Penurunan produksi karena perubahan variasi minat petani terhadap jenis tanaman yang diusahakan. Laju pertumbuhan luas panen dalam kurun 2002-2004 bergerak pada angka 17,75% per tahun, namun laju pertumbuhan produksi pada posisi 0,73% per tahun. Budidaya ternak meningkat dari tahun ke tahun, mulai dart sapi potong, sapi perah, kerbau, kuda, kambing, domba dan babi. jumlah populasi ternak yang di budidayakan semakin meningkat antara tahun 2002 2004 dengan rata rata laju pertumbuhan jumlah dan jenis populasi sebesar 24,97% per tahun. Persediaan ternak untuk kebutuhan konsumsi daging pada 2004 dibandingkan jumlah ternak yang dipotong menunjukkan tingkat ketersediaan kebutuhan yang sangat memadai. Khusus ternak sapi, jumlah populasi yang tersedia pada 2004 hanya 24,25% terhadap ternak yang dipotong. Populasi ternak unggas kurun 2003 2005 meningkat dengan rata rata laju pertumbuhan sebesar 16,70%, meliputi ayam buras, ayam ras (pedaging dan petelur) serta itik. Laju pertumbuhan ternak unggas pada 2005-2006 mencapai 14,79%, namun untuk ternak yang menghasilkan daging (ayam buras dan ayam pedaging) menurunm khusus periode 2005-2006 karena mewabahnya flu burung. Provinsi Banten memiliki kekayaan keanekaragaman hayati berupa flora, fauna dan tipe ekosostemnya. Sebagian diantaranya jenis dan tipe ekosistem yang bersifat endemik. Kekayaan tipe ekosiste m yang bersifat endemik. Kekayaan tersebut sebagian besar terdapat di kawasan hutan dan kebun. Namun eksistensi kekayaan itu saat ini sedang terancam akibat pencurian plasma nutfah, penyeludupan satwa, perambahan hutan dan kebun, perburuan liar, serta perdagangan flora dan fauna yang dilindungu. Luas kawasan hutan dan kebun mencapai 386.865,83 ha, terdiri kawasan hutan 206.851,44 ha dan kawasan kebun 158.884,13 ha. Berdasarkan fungsinya, kawasan hutan terdiri atas 72.295,47 ha hutan produksi, 9.486,06 ha hutan lindung dan 123.905,3 ha hutan konservasi. Kawasan konservasi terdiri dari Taman Nasional Ujung Kulon seluas 120.551 ha, berupa kawasan hutan konservasi seluas 76.214 ha, sisanya merupakan kawasan taman/perairan laut seluas 44.337 ha, Taman Nasional Gunung Halimun seluas 42.925,15 ha, masuk ke dalam wilayah administratif Kabupaten Lebak, sedangkan sisanya masuk ke dalam wilayah administratif Kabupaten Bogor dan Sukabumi Provinsi Jawa Barat. Cagar Alam seluas 4.238 ha dan Taman Wisata seluas 528,15 ha. Perusahaan yang terlibat mengeksplolasi kawasan hutan produksi dibagi dalam kapling-kapling,

sesuai dengan kapasitas perusahaan dan permintaan pasar. Pengusahaan hutan Jati, seluas 37.791,96 ha, Meranti 13.039,22 ha, Mahoni 25.462,69 ha, Damar 22.139,85 ha dan Akasia Mangium 9.466,12 ha. Taman Nasional Ujung Kulon merupakan kawasan konservasi dunia karena memiliki potensi keanekaragaman hayati, baik flora, fauna maupun berbagai tipe tumbuhan khas lainnya. Taman ini juga merupakan perwakilan tipe ekosistem hutan hujan daratan rendah yang tersisa dan terluas di Pulau Jawa. Gejala alamnya yang unik serta panoramanya yang asri dan alami merupakan kesatuan ragam alamiah yang mempesona bagi kegiatan wisata alam. Di dalarnnya terdapat badak bercula satu (Rbinoceros sundaicus), satwa spesifik eudemik dan langka. Provinsi Banten juga memiliki Cagar Alam Rawa Danau suatu kawasan penyedia air baku dan satu-satunya reservoir air di bagian barat provinsi ini. Satu hal yang patut dibanggakan, provinsi ini memiliki kawasan konservasi kaum Baduy seluas 5,136,58 ha. Luas areal perkebunan mencapai 158.884,13 hal terdiri perkebunan rakyat 142.965,31 ha, perkebunan besar swasta (PBS) seluas 6.337,04 ha dan perkebunan negara (PTPN) seluas 9,581,78 ha. Komoditas kelapa ditanam di atas tanah seluas 81.601,61 ha, kebun karet seluas 22.751,35 ha, kebun kakao seluas 5.183,77 ha, seluas 14.075,28 ha, kebun kopi seluas 8.590,00 ha, kebun cengkeh seluas 13.387,00 ha dan kebun aren seluas 2.367,58 ha. Kenerja sektor perikanan mencakup perikanan tangkap (laut dan perairan umum) dan perikanan budidaya (laut, tambak, kolam, sawah, keramba, jaring terapung). Produksi perikanan hingga 2004 mancapai 76.324,05 ton dengan nilai Rp 538.130 miliar, menurun dibanding produksi tahun 2002 mencapai 87.279,40 ton dengan nilai produksi Rp 588.101 niliar, karena pengaruh menurunya produksi perikanan tangkap hingga sebesar 2,95%. Kontribusi perikanan tangkap terhadap total produksi perikanan mancapai 70,98%, dengan milai produksi sebesar 54,24%. Sedangkan kontribusi perikanan budidaya sebesar 29,02% dengan nilai produksi 45,76%. Potensi sumber daya perikanan tangkap laut tersebar di Laut Jawa, Selat Sunda, dan Samadera Indonesia. Pengembangan perikanan tangkap masih terkonsentrasi di Laut Jawa dan Selat Sunda. Potensi sumber daya perikanan tangkap masih besar, tercermin dari produksi tahun 2005 yang hanya 58.753,11 ton, atau baru 76,98% dari potensi di wilayah perairan Kabupaten Pandeglang yang mencapai 92.971 ton. Produktivitas usaha perikanan budidaya masih perlu ditingkatkan, karena mininya produktivitas budidaya tambak pada 2005, yang baru mencapai 0,87 ton/ha dan budidaya ikan di sawah mencapai 0,72 ton/ha. Produksi budidaya laut memberikan kontribusi12,91% terhadap produksi perikanan budidaya atau 3,74% terhadap total produksi perikanan. Potensi sumber daya perikanan budidaya masih berpeluang untuk dikembangkan, misalnya budidaya laut (KJA dan rumput laut) di Pantai Utara dan Pantai Barat. Lahan tambak hingga tahun 2005 baru dimafaatkan 10.970,70 ha atau 79,7% dari total potensi 13.768,9 ha, atau 6,18% dari 84.315,40 ha. Untuk mengembangkan kolam budidaya ikan, baru 1.280,76 ha yang termanfaatkan. Belum maksimalnya produksi ika, hingga tahun 2005 baru 86.531,14 ton, dibanding besarnya jumlah penduduk mencapai 9.083.144 jiwa, membuat kebutuhan lokal terhadap ikan belum terpenuhi. Namun unuknya, produk perikanan provinsi ini sudah merambah pasar luar negeri dalam kapasitas terbatas dengan tujuan Jepang dan Amerika. Sumber: Indonesia Tanah Airku (2007).

Sumber Daya Alam dan Lingkungan Hidup

Share on facebookShare on twitterShare on emailShare on printMore Sharing Services

A. Sumber Daya Alam


Provinsi Banten dengan luas daratan 8.800,83 km2 menyimpan kekayaan dan keanekaragaman sumber daya alam, antara lain keberadaan hutan produksi mengalami peningkatan dari 53.533,60 ha pada tahun 2003 menjadi 72.295,47 ha hingga tahun 2004, yang terdiri dari 42.537,55 ha hutan produksi tetap dan 29.757,92 ha hutan produksi terbatas. Disamping itu, sumber daya lahan untuk pengembangan pertanian yang telah dikembangkan terdiri dari 84.315,40 ha lahan persawahan teririgasi, 90.423,50 ha sawah tadah hujan, serta 181.247,60 ha area perkebunan, dan belum termasuk lahan-lahan pertanian yang diusahakan untuk budidaya palawija, hortikultura, sayuran dan buahbuahan. Dari sisi pertambangan dan energi, sumberdaya mineral sebagian besar telah diusahakan baik oleh swasta maupun masyarakat, seperti zeolit, bentonit, sirtu, pasir kuarsa, batu gamping, felspar, bondclay, lempung, fosfat, toseki, kalsedon, opal, kayu terkersikan, marmer, pasir laut, emas, batubara. Beberapa potensi sumberdaya mineral lainnya di Provinsi Banten hingga saat ini belum dimanfaatkan secara optimal seperti tras, batu apung, besi dan andesit. Disamping itu, belum dimanfaatkannya sumberdaya energi alternatif yang berpotensi untuk dikembangkan sebagai sumber energi pembangkit listrik seperti: sumberdaya energi fosil (batubara) sebanyak 10,3 juta dalam bentuk sumberdaya tereka yang tersebar di Banten Selatan, energi panas bumi sebesar 230 Mwe, tenaga air skala kecil, biomassa, tenaga surya sebesar 3,5 KWH/meter2/hari,

tenaga angin di wilayah pantai selatan kecepatan angin rata-rata 2-6 m/detik, dan energi gelombang laut. Sementara itu, wilayah pesisir dan laut Provinsi Banten dengan luas perairan 11.134,22 km2 (belum termasuk perairan nusantara/teritorial dan ZEEI yang dapat dimanfaatkan), dengan panjang garis pantai 509 km, serta 55 pulau-pulau kecil dan pulau terluar menyimpan kekayaan dan keragaman sumberdaya pesisir dan laut. Potensi sumberdaya perikanan tangkap laut dengan produksi tahun 2004 yang sebesar 76.324,50 Ton baru memanfaatkan 82,09% dari potensi lestari di wilayah perairan Kab. Pandeglang (92.971 Ton) sehingga belum memperhitungkan potensi lestari wilayah perairan lainnya. Potensi sumber daya perikanan budidaya, seperti budidaya laut (KJA dan rumput laut) di pantai utara dan pantai barat, serta lahan tambak hingga tahun 2005 baru dimanfaatkan sekitar 58,2 % (8.010,55 Ha) dari potensi 13.768,9 Ha. Potensi geowisata belum dimanfaatkan secara oftimal yang menjadi andalan untuk meningkatkan PAD Provinsi Banten antara lain; Ex. PT. Antam Cikotok, Batu Posil Sajira-Lebak, Sumber Panas Bumi Cipanas, Gunung Karang, Cinagka dan Padarincang seperti Batu Kuwung