Anda di halaman 1dari 92

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Dalam lingkup mikro, pendidikan diwujudkan

melalui proses belajar

mengajar di dalam kelas maupun di luar kelas . Proses ini berlangsung melalui

interaksi antara guru dengan peserta didik dalam situasi intruksional edukatif.

Melalui proses belajar mengajar inilah peserta didik akan mengalami proses

perkembangan

kearah yang lebih baik dan bermakna . Agar hal tersebut dapat

terwujud

maka diperlukan suasana proses belajar

mengajar yang kondusif bagi

peserta didik dalam melampaui tahapan-tahapan belajar secara bermakna dan

efektif

sehingga

menjadi

(Surya,1992 : 179)

pribadi

yang

percaya

diri,

inovatif

dan

kreatif.

Ilmu Pengetahuan Alam ( IPA ) merupakan salah satu disiplin ilmu yang

berhubungan dengan cara mencari tahu tentang alam secara sistematis, sehingga

IPA bukan hanya penguasaan kumpulan pengetahuan berupa fakta-fakta, konsep-

konsep, atau prinsip-prinsip saja tetapi juga merupakan suatu proses penemuan,

sehingga dapat membantu peserta didik memperoleh pengalaman langsung dan

pemahaman untuk mengembangkan kompetensinya agar dapat menjelajahi dan

memahami alam sekitar secara ilmiah.

Berdasarkan observasi dilapangan adanya temuan bahwa kedudukan dan

fungsi guru dalam kegiatan pembelajaran saat ini cenderung masih dominan.

Aktifitas guru masih sangat besar dibandingkan dengan aktifitas siswa yang masih

1

2

rendah kadarnya. Ketika proses belajar mengajar hendaknya terjalin hubungan

yang sifatnya mendidik dan mengembangkan. Guru tidak hanya menyampaikan

materi akan tetapi sebagai figur yang dapat merangsang perkembangan siswa.

Sebagaimana yang tertuang dalam kurikulum 2006 ( KTSP ) mata pelajaran IPA

di SD/MI

pembelajaran IPA sebaiknya dilaksanakan secara inkuiri ilmiah

(

scientific inquiry

) untuk

menumbuhkan

kemampuan

berpikir, bekerja, dan

bersikap ilmiah serta mengkomunikasikannya sebagai aspek penting kecakapan

hidup. Oleh karena itu pembelajaran IPA di SD menekankan pada pemberian

pengalaman langsung melalui penggunaan dan pengembangan

keterampilan

proses dan sikap ilmiah, dalam hal ini seorang guru

harus memiliki kompetensi

yang

cukup

sebagai

pengelola

pembelajaran.

Seorang

guru

yang

memiliki

kompetensi diharapkan akan lebih baik dan mampu menciptakan suasana dan

lingkungan belajar yang efektif, sehingga hasil belajar siswa akan optimal.

Pertanyaan

yang

timbul

adalah

bagaimana

upaya

guru

menciptakan

pembelajaran

yang

optimal

dengan

komunikasi

multi

arah,

meningkatkan

aktifitas,

meningkatkan

penguasan

konsep,

meningkatkan

kemampuan

pemecahan masalah, dan meningkatkan prestasi belajar siswa?

Sehubungan dengan hal diatas metode mengajar yang digunakan oleh guru

hendaknya sedemikian rupa bervariasi sesuai dengan tujuan dan materi yang

diajarkan. Dengan metode yang variatif inilah siswa akan bergairah dalam belajar

secara

inovatif

interaksi

belajar

dan

kreatif.

mengajar

Metode

mengajar

merupakan

salah

yang

digunakan

satu

faktor

yang

guru

dalam

menentukan

keberhasilan dan kelancaran proses pembelajaran.

3

kondisi

Pembelajaran

IPA

pada

pelaksanaannya

haruslah

diupayakan

dalam

pembelajaran yanga kondusif dalam arti pembelajaran itu harus bersifat

aktif, kreatif, efektif, inovatif, dan menyenangkan maka dari itu peranan dan

fungsi guru dalam pembelajaran harus dapat memberikan warna dan bentuk

terhadap proses pembelajaran dan dapat menciptakan situasi kelas yang kondusif,

sehingga

tujuan

penmbelajaran

dapat

dicapai

dengan

optimal.

Sebagaimana

dikemukakan oleh Uzer Usman (2000: 31) bahwa “Belajar yang efektif harus

mulai dengan pengalaman langsung atau pengalaman konkret dan menuju kepada

pengalaman yang lebih abstrak .

Galton & Harlen (Yasbiati, 2005: 27) mengemukakan bahwa “Secara

global dimensi yang hendak dicapai oleh serangkaian tujuan kurikuler pendidikan

sains

(IPA) dalam kurikulum pendidikan dasar adalah mendidik anak agar

memahami konsep sains, memiliki keterampilan ilmiah, dan religius. Keilmiahan

dan tujuan pendidikan IPA sebagimana dipaparkan di atas sudah tentu tidak serta

merta dapat dicapai oleh materi pelajaran IPA, melainkan dengan melibatkan

siswa

ke

dalam

kegiatan

didalamnya.”

Dengan

melibatkan

siswa

dalam

pembelajaran, siswa dilatih melakukan kegiatan yang dilakukan para ilmuwan

dalam memperoleh ilmu pengetahuan untuk menemukan konsep-konsep serta

menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Siswa

akan

lebih

mudah

memahami

suatu

konsep

jika

belajar

menemukan sendiri dan siswa terlibat langsung dalam pembelajaran tersebut

sehingga terjadi suasana belajar yang menyenangkan, sebagaimana dikemukakan

oleh Uzer Usman (2000: 31) bahwa “Pengajaran yang menggunakan banyak

4

verbalisme tentu akan cepat membosankan; sebaliknya pengajaran akan lebih

menarik bila siswa gembira belajar karena merasa tertarik dan mengerti pelajaran

yang diterimanya.”

Dengan demikian banyak hal yang bisa siswa dapatkan melalui metode

pengajaran

inkuiri

yang

akan

menggiring

siswa

lebih

aktif

dalam

proses

pembelajaran dan lebih jauhnya dapat mempengaruhi peningkatan hasil belajar

IPA, untuk itu penelitian ini diberi judul “Penerapan Metode Inkuiri dalam

Pembelajaran IPA di SD untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa pada Konsep

Cahaya

B. Fokus dan Pertanyaan Penelitian

Berdasarkan deskripsi latar belakang masalah yang telah diuraikan, maka

rumusan masalah dalam penelitian ini adalah “Apakah penerapan metode inkuiri

dapat meningkatkan hasil belajar siswa dalam pembelajaran IPA khususnya pada

konsep cahaya ?”

Dari rumusan masalah diatas dapat diperjelas dalam bentuk pertanyaan

sebagai berikut :

1. Bagaimana pemahaman awal siswa terhadap konsep cahaya sebelum guru

menggunakan metode inkuiri dalam pembelajaran IPA ?

2. Bagaimana proses pembelajaran dengan menggunakan metode inkuiri ?

3. Bagaimana peningkatan hasil belajar siswa setelah guru menerapkan

metode inkuiri dalam pembelajaran ?

5

C. Tujuan Penelitian

Sesuai dengan rumusan masalah diatas, maka penelitian ini bertujuan

untuk:

1.

Untuk

mengetahui

pemahaman

awal

siswa

terhadap

konsep

cahaya

sebelum guru menggunakan metode inkuiri dalam pembelajaran.

2.

Untuk mengetahui bagaimana proses pembelajaran dengan menggunakan

metode inkuiri

 

3.

Untuk mengetahui bagaimana peningkatan hasil belajar siswa setelah guru

menggunakan metode inkuiri dalam pembelajaran.

D. Kegunaan Penelitian

Hasil penelitian tindakan kelas ini diharapkan dapat memberikan manfaat

kepada semua pihak yang terkait,secara khusus manfaat penelitian ini yaitu:

1. Bagi siswa

a. Adanya kebebasan bagi siswa untuk menemukan hal-hal baru bagi

dirinya didalam pembelajaran IPA.

b. Dapat menghilangkan rasa jenuh pada saat pembelajaran berlangsung.

c. dapat

mempermudah

penguasaan

konsep,

memberikan pengalaman

nyata, memberikan dasar-dasar berfikir konkret sehingga memgurangi

verbalisme,

belajar.

2. Bagi guru

meningkatkan

minat

belajar

dan

meningkatkan

hasil

a. Untuk meningkatkan profesionalisme guru

6

b. Meningkatkan tingkat kepercayaan diri bagi seorang guru.

c. Memberikan

pengalaman,

menambah

wawasan,

pengetahuan

dan

keterampilan dalam merancang metode yang tepat dan menarik serta

mempermudah proses pembelajaran melalui metode inkuiri.

3. Bagi sekolah

a. Memberikan sumbangan yang positif terhadap kemajuan sekolah serta

kondusifnya iklim pendidikan di sekolah, khususnya pembelajaran IPA

dan umumnya seluruh mata pelajaran yang ada di sekolah

b. Dapat memberikan masukan dalam mengefektifkan pembianaan dan

pengelolaan proses belajar mengajar dalam pelaksanaan pendidkan.

4. Bagi

peneliti,

memberi

gambaran

yang

jelas

tentang

efektifitas

pembelajaran IPA dengan menggunakan

metode inkuiri sehingga dapat

meningkatkan hasil belajar siswa

E. Klarifikasi Konsep

Untuk menghindari verbalisme atau kesalahan penafsiran

istilah dan

memudahkan

pemahaman

permasalahan

penelitian

maka

perlu

kiranya

didefinisikan beberapa istilah penting sebagai berikut:

1. Metode Inkuiri

“Metode inkuiri

adalah

cara penyajian

pelajaran

yang memberikan

kesempatan kepada peserta didik untuk menemukan informasi dengan atau tanpa

bantuan guru. Metode ini melibatkan peserta didik dalam proses-proses mental

dalam rangka penemuannya “ (Sumantri, 1998/1999:164).

7

Dari pengertian diatas dapat diartikan bahwa metode inkuiri merupakan

metode

pembelajaran

yang

menekankan

aktivitas

siswa

menemukan

sendiri

konsep-konsep ilmu pengetahuan dengan cara melakukan percobaan.

2. Pembelajaran IPA di SD

Pembelajaran IPA di SD menekankan pada pemberian pengalaman belajar

secara langsung melalui penggunaan dan pengembangan keterampilan proses dan

sikap ilmiah. Sebagaimana dalam kurikulum 2006 (KTSP), tujuan mata pelajaran

IPA terutama pada konsep Cahaya di kelas V (Lima) semester 2 diantaranya

untuk mengembangkan pengetahuan dan pemahaman konsp-konsep IPA yang

bermanfaat dan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, mengembangkan

rasa ingin tahu , sikap positif, dan kesadaran tentang adanya hubungan yang saling

mempengaruhi

mengembangkan

antara

IPA,

lingkungan,

keterampilan

proses

teknologi,

dan

masyarakat,

serta

untuk

menyelidiki

alam

sekitar,

memecahkan masalah dan membuat keputusan.

Metode inkuiri merupakan metode yang memberikan kesempatan kepada

siswa unruk menemukan sejumlah informasi dengan atau tanpa bantuan guru.

Penerapan yang akan dilakukan dalam penelitian ini menekankan pada kegiatan

pengamatan, eksperimen dan diskusi terhadap sifat-sifat cahaya dengan maksud

agar siswa dapat belajar lebih aktif dan lebih bermakna.

3. Hasil belajar

Hasil belajar biasanya dapat terlihat dari perubahan tingkah laku siswa

setelah melalui proses belajar, karena belajar meupakan proses perubahan tingkah

laku pada seseorang dengan adanya interaksi dengan lingkungannya. Hasil belajar

8

merupakan pembuktian dari kecakapan dan kemampuan yang dimiliki seseorang

yang

dapat

dilihat

dari

perilaku

dalam

bentuk

penguasaan

pengetahuan,

keterampilan berfikir maupum keterampilan motorik. (Winataputra,2007)

Berdasarkan

pengertian

diatas

hasil

belajar

merupakan

pembuktian

perubahan tingkah laku melalui proses belajar yang dapat terlihat dari penguasaan

pengetahuan serta ketererampilan motorik.

BAB II

KAJIAN TEORITIS

A. Penerapan Metode Inkuiri

Metode pembelajaran merupakan kerangka konseptual yang melukiskan

prosedur yang sistematis dalam

mengorganisasikan pengalaman belajar untuk

mencapai tujuan belajar tertentu dan berfungsi sebagai

perancang

pembelajaran

dan

para

pengajar

dalam

melaksanakan aktivitas belajar mengajar.

pedoman bagi para

merencanakan

dan

Metode mengajar merupakan salah satu komponen yang harus ada dalam

kegiatan pembelajaran. Pada dasarnya metode mengajar ini merupakan cara atau

teknik yang digunakan oleh guru dalam melakukan interaksi dengan siswa pada

saat proses pembelajaran berlangsung.

Prinsip-prinsip yang berkaitan dengan faktor perkembangan kemampuan

siswa, diantaranya :

1. Metode mengajar harus memungkinkan dapat membangkitkan rasa ingin tahu

siswa lebih jauh terhadap materi pelajaran (curriosity)

2. Metode mengajar harus memungkinkan dapat memberikan peluang i\untuk

berekspresi yang kreatif dalam aspek seni.

3. Metode mengajar harus memungkinkan siswa belajar melalui pemecahan

masalah.

4. Metode mengajar harus memungkinkan siswa untuk selalu ingin menguji

kebenaran sesuatu (Sikap skeptis).

9

10

5. Metode mengajar harus memungkinkan siswa untuk melakukan penemuan

(Berinkuiry) terhadap sesuatu topik permasalahan.

6. Metode mengajar harus memungkinkan siswa mampu menyimak.

7. Metode mengajar harus memungkinkan siswa untuk belajar secara mandiri

(Independent study).

8. Metode mengajar harus memungkinkan siswa untuk belajar secara bekerja

sama (cooperative learning).

9. Metode mengajar harus memungkinkan siswa untuk lebih termotivasi dalam

belajarnya.

Metode inkuiri merupakan salah satu metode mengajar. Istilah metode

penemuan/ inkuiri (discovery methode) didefinisikan sebagai suatu prosedur yang

menekankan

belajar

secara

individual,

manipulasi

objek

atau

pengaturan

/

pengkondisian objek, dan eksperimentasi lain oleh siswa sebelum generalisasi

atau penarikan kesimpulan dibuat (Gilstrop, 1975:63)

Inkuiri

adalah

suatu

metode

yang

digunakan

dalam

pembelajaran

(fisika/Sains) dan mengacu pada salah satu cara untuk mempertanyakan, mencari

pengetahuan atau informasi atau mempelajari suatu gejala. (Koes, 2003:12)

Gage

&

Barliner

(1984

:

490) mengutarakan

bahwa

dalam

metode

penemuan, para siswa memerlukan penemuan konsep, prinsip dan pemecahan

masalah untuk

menjadi

miliknya lebih

daripada sekedar menerimanya

atau

pendapatnya dari seorang guru atau sebuah buku.

 

Metode

inkuiri

menurut

Mudjito

(1998:85)

adalah

metode

yang

mengarahkan murid untuk melakukan kegiatan penelitian dan pemecahan masalah

11

yang kreatif. Peranan guru dalam metode ini adalah adalah membantu murid

untuk memilih topik, mengajukan pertanyaan yang berhubungan dengan topik,

mengalokasikan sumber-sumber, menarik kesimpulan, dan meneliti kesimpulan

secara kritis. Murid dalam pelaksanaan metode ini harus belajran mengajukan

pertanyaan, menemukan sumber-sumber, mengumpulkan informasi, menyusun

jawaban

atau kesimpulan, menyatakan

sendiri secara kritis.

pendapat,

dan

menganalisa pendapat

Metode inkuiri adalah cara penyajian pelajaran yang memberi kesempatan

kepada peserta didik untuk menemukan informasi dengan atau tanpa bantuan

guru. Metode ini melibatkan peserta didik dalam proses-proses mental dalam

rangka

penemuannya.

Metode

inkuiri

memungkinkan

para

peserta

didik

menemukan sendiri informasi-informasi yang diperlukan untuk tujuan belajarnya.

(Sumantri,1998/1999:164)

Inkuiri berasal dari kata inquire

yang berarti menanyakan, meminta

keterangan,

atau

penyelidikan,

dan

inkuiri

berarti

penyelidikan

(Ahmadi,

1997:76). Siswa diprogramkan agar selalu aktif secara mental maupun fisik.

Materi yang disajikan guru bukan begitu saja diberikan dan diterima oleh siswa,

tetapi siswa diusahakan sedemikian rupa sehingga mereka memperoleh berbagai

pengalaman

dalam

rangka

“menemukan

sendiri”

konsep-konsep

direncanakan oleh guru (Ahmadi, 1997: 79).

yang

Dari berbagai pendapat diatas dapat diambil kesimpulan bahwa metode

inkuiri merupakan prosedur pengajaran yang menekankan kegiatan siswa secara

mandiri untuk menemukan konsep-konsep keilmuan terutama pada mata pelajaran

12

IPA yang membutuhkan penguasaan berfikir secara ilmiah. Metode ini akan

menggiring siswa lebih aktif melakukan penelitian di dalam maupun di luar kelas

dengan bimbingan guru.

Jenis-jenis metode inkuiri menurut Muhammad Ali (2004:87) diataranya :

1. Inkuiri terpimpin

Pada inkuiri terpimpin pelaksanaan dilakukan oleh siswa berdasarkan

petunjuk-petunjuk guru. Petunjuk diberikan pada umumnya berbentuk pertanyaan

membimbing.

2. Inkuiri bebas

Dalam

inkuiri

bebas

siswa melakukan

penelitian

bebas

sebagaimana

seorang scientist. Masalah dirumuskan sendiri, eksperimen dan penyelidikan

dilakukan sendiri dan kesimpulan konsep dilakukan sendiri.

3. Inkuiri bebas yang dimodifikasi

Berdasarkan masalah yang diajukan guru, dengan konsep atai teori yang

sudah difahami siswa melakukan penyelidikan untuk membuktikan kebenaran.

Menurut Gulo (2002:86-87), peranan utama guru dalam menciptakan

kondisi pembelajaran inkuiri adalah sebagai berikut.

a. Motivator, yang memberikan

berpikir.

rangsangan supaya siswa aktif dan gairah

b. Fasilitator, yang menunjukkan jalan keluar jika ada hambatan dalam proses

berpikir siswa.

c. Penanya, untuk menyadarkan siswa dari kekeliruan yang mereka perbuat dan

memberikan keyakinan pada diri sendiri.

13

d. Administrator, yang bertanggungjawab terhadap seluruh kegiatan di dalam

kelas.

e. Pengarah, yang memimpin arus kegiatan berpikir siswa pada tujuan yang

diharapkan.

f. Manager, yang mengelola sumber belajar, waktu, dan organisasi kelas.

g. Rewarder, yang memberi penghargaan pada prestasi yang dicapai dalam rangka

peningkatan semangat heuristik pada siswa.

1)

Prosedur penggunaan metode inkuiri

Menurut

Suryosubroto

(2002

:

119)

pemakaian metode inkuiri sebagai berikut :

1. Mengidentifikasi kebutuhan siswa

menjelaskan

langkah-langkah

2. Pemilihan pendahuluan terhadap prinsip-prinsip, pengertian, konsep, dan generalisasi yang akan dipelajari.

3. Pemilihan bahan dan masalah atau tugas-tugas yang akan dipelajari.

4. Membantu memperjelas mengenai tugas/ masalah yang akan dipelajari dan peranan masing-masing siswa.

5. Mempersiapkan tempat dan alat-alat untuk proses penemuan.

6. Mengecek pemahaman tentang masalah yang akan dipecahkan dan tugas-tugasnya dalam pelaksanaan inkuiri.

7. Memberikan kesempatan kepada siswa untuk melaksanakan inkuiri dengan melakukan pengumpulan data dan pengolahan data.

8. Membantu siswa dengan informasi/data yang diperlukan oleh siswa untuk kelangsungan kerja mereka.

9. Membimbing para siswa menganalisis sendiri dengan pertanyaan mengarah dan mengidentifikasikan proses yang digunakan.

10. Membesarkan hati dan memuji siswa yang ikut serta dalam proses inkuiri.

11. Membantu siswa merumuskan kaidah, prinsip, ide, atau konsep berdasarkan hasil penemuannya.

14

2)

Kelabihan dan kekurangan metode inkuiri

Menurut Moedjiono dan Moh.Dimyati dalam bukunya Strategi Belajar

Mengajar ( Jakarta : 1991/1992)

setiap metode dalam pembelajaran tidak lepas

dari kelebihan dan kekurangan , seperti halnya metode inkuiri, yang menjadi

keunggulan atau kelebihan metode inkuiri adalah sebagai berikut:

1. Kemungkinan yang besar untuk membantu memperbaiki atau memperluas persediaan dan penguasaan keterampilan dan proses kognitif siswa.

2. Memungkinkan pengetahuan yang melekat erat pada diri siswa.

3. Menimbulkan gairah belajar pada siswa.

4. Memberikan kesempatan pada siswa untuk maju berkelanjutan.

5. Menyebabkan siswa termotivasi untuk belajar.

6. Membantu memperkuat konsep diri siswa.

7. Berpusat pada siswa, berperan sebagai fasilitator dan pendinamisator dari penemuan.

8. Membantu perkembangan siswa.

9. Tidak menjadikan guru satu-satunya sumber belajar.

Sedangkan kekurangan metode inkuiri diantaranya adalah :

1. Mempersyaratkan suatu proses persiapan kemampuan berfikir yang

dapat dipercaya.

2. Kurang efektif untuk mengajar siswa dengan jumlah yang banyak.

3. Memerlukan fasilitas yang memadai.

4. Kebebasan yang diberikan kepada peserta didik tidak selamanya dapat

3)

dimanfaatkan secara optimal.

Tujuan penggunaan metode inkuiri pada proses pembelajaran

Metode inkuiri memiliki tujuan diantaranya :

1. Memberi pengalaman belajar seumur hidup.

2. Melatih peserta didik menggali dan memanfaatkan lingkungan.

15

4. Meningkatkan

keterlibatan

peserta

memproses bahan palajaran.

didik

dalam

menemukan

dan

Metode inkuiri digunakan dengan alasan sebagai berikut :

1. Perkembangan dan kemajuan ilmu pengetahuan yang pesat.

2. Belajar tidak hanya diperoleh dari sekolah tetapi juga dari lingkungan

sekitar.

3. Melatih peserta didik untuk memiliki kesadaran sendiri.

4. Penanaman kebiasaan untuk belajar berlangsung seumur hidup.

Metode

inquiry

merupakan

metode

pembelajaran

yang

berupaya

menanamkan dasar-dasar berfikir ilmiah pada diri siswa, sehingga dalam proses

pembelajaran ini siswa lebih banyak belajar sendiri, mengembangkan kreativitas

dalam memecahkan masalah. Siswa benar-benar ditempatkan sebagai subjek yang

belajar. Peranan guru dalam pembelajaran dengan metode inquiry adalah sebagai

pembimbing dan fasilitator. Tugas guru adalah memilih masalah yang perlu

disampaikan kepada kelas untuk dipecahkan. Namun dimungkinkan juga bahwa

masalah yang akan dipecahkan dipilih oleh siswa. Tugas guru selanjutnya adalah

menyediakan sumber belajar bagi siswa dalam rangka memecahkan masalah.

Bimbingan dan pengawasan guru masih diperlukan, tetapi intervensi terhadap

kegiatan siswa dalam pemecahan masalah harus dikurangi (Sagala, 2004).

Walaupun dalam prakteknya aplikasi metode pembelajaran inquiry sangat

beragam, tergantung pada situasi dan kondisi sekolah, namun dapat disebutkan

bahwa pembelajaran dengan metode inquiry memiliki 5 komponen yang umum

16

yaitu Question, Student Engangement, Cooperative Interaction, Performance

Evaluation, dan Variety of Resources (Garton, 2005).

Question.

Pembelajaran

biasanya

dimulai

dengan

sebuah

pertanyaan

pembuka yang memancing rasa ingin tahu siswa dan atau kekaguman siswa akan

suatu fenomena. Siswa diberi kesempatan untuk bertanya, yang dimaksudkan

sebagai

pengarah

ke

pertanyaan

inti

yang

akan

dipecahkan

oleh

siswa.

Selanjutnya, guru menyampaikan pertanyaan inti atau masalah inti yang harus

dipecahkan

oleh

siswa.

Untuk

menjawab

pertanyaan

ini

-

sesuai

dengan

Taxonomy Bloom - siswa dituntut untuk melakukan beberapa langkah seperti

evaluasi,

sintesis,

dan

analisis.

Jawaban

dari

pertanyaan

inti

tidak

dapat

ditemukan

misalnya

di

dalam

buku

teks,

melainkan

harus

dibuat

atau

dikonstruksi.

Student Engangement. Dalam metode inquiry, keterlibatan aktif siswa

merupakan suatu keharusan sedangkan peran guru adalah sebagai fasilitator.

Siswa bukan secara pasif menuliskan jawaban pertanyaan pada kolom isian atau

menjawab soal-soal pada akhir bab sebuah buku, melainkan dituntut terlibat

dalam menciptakan sebuah produk yang menunjukkan pemahaman siswa terhadap

konsep yang dipelajari atau dalam melakukan sebuah investigasi.

Cooperative Interaction. Siswa diminta untuk berkomunikasi, bekerja

berpasangan atau dalam kelompok, dan mendiskusikan berbagai gagasan. Dalam

hal ini, siswa bukan sedang berkompetisi. Jawaban dari permasalahan yang

17

diajukan guru dapat muncul dalam berbagai bentuk, dan mungkin saja semua

jawaban benar.

Performance Evaluation. Dalam menjawab permasalahan, biasanya siswa

diminta

untuk

membuat

sebuah

produk

yang

dapat

menggambarkan

pengetahuannya mengenai permasalahan yang sedang dipecahkan. Bentuk produk

ini dapat berupa slide presentasi, grafik, poster, karangan, dan lain-lain. Melalui

produk-produk ini guru melakukan evaluasi.

Variety

of

Resources. Siswa

dapat

menggunakan

bermacam-macam

sumber belajar, misalnya buku teks, website, televisi, video, poster, wawancara

dengan ahli, dan lain sebagainya.

Menurut aliran progresivisme pendidikan yang dikemukakan oleh Dinn

Wahyudin (2008:4.13) peserta didik dipandang sebagai organisme (subjek) yang

memiliki kemampuan untuk berfikir, mampu menjelajahi kebutuhan, masalah, dan

minatnya sendiri maka guru seharusnya berperan sebagai penyedia berbagai

pengalaman yang akan memunculkan motivasi belajar, pemandu (a guide) bagi

murid-murid

dalam

merumuskan

masalah,

kegiatan-kegiatan

penyelesaian

masalah dan proyek-proyek mereka; merencanakan tujuan-tujuan individual dan

kelompok dalam kelas untuk digunakan dalam memecahkan masalah; membenatu

para siswa dalam mengumpulkan informasi berkenaan dengan masalah; dan

bersama-sama anggota kelas mengevaluasi mengenai apa yang telah dipelajari;

bagaimana mempelajarinya; informasi baru apa setiap siswa peroleh; apa yang

setiap siswa temukan oleh dirinya.

18

Maka

dalam

hal

pembelajaran

guru

berperan

untuk

memimpin

dan

membimbing pengalaman belajar tanpa ikut campur terlalu jauh atas minat dan

kebutuhan peserta didik, sedangkan peserta didik berperan sebagai organisme

yang rumit yang mempunyai kemampuan luar biasa untuk tumbuh.

Metode

pendidikan

yang

diutamakan

progresivisme

adalah

metode

pemecahan maslalah (Problem Solving Methode) serta metode penyelidikan atau

penemuan

(Inquiry

and

Discovery

Methode)

yang

pada

pelaksanaannya

dibutuhkan guru yang memiliki karakteristik sebagai berikut :

1.

Permissive (Pemberi kesempatan)

2.

Friendly (Bersahabat)

3.

A guide (Seseorang pembimbing)

4.

Open minded (Berpandangan terbuka)

5.

Creative (Kreatif)

6.

Sosial aware (Sadar bermasyarakat)

7.

Entusiastic (Antusias)

8.

Cooperative and sincere (Bekerja sama dan sungguh-sungguh)

B.

Pembelajaran IPA di Sekolah Dasar

Pembelajaran pada hakekatnya adalah proses interaksi antar peserta didik

dengan lingkungannya, sehingga terjadi perubahan perilaku ke arahyang lebih

baik (Mulyasa, 2003:100). Pembelajaran pada hakikatnya merupakan suatu proses

interaksi antara guru dengan siswa, baik interaksi secara langsung seperti kegiatan

19

tatap muka maupun kegiatan tidak langsung yaitu dengan cara menggunakan

berbagai media. (Rusman, 2008:159)

Prakteknya, pembelajaran sangat terkait dengan metode mengajar. Dalam

proses perkembangan pendidikan di Indonesia bahwa salah satu hambatan yang

paling

menonjol

dalam

pelaksanaannya

adalah

metode

mengajar.

Metode

mengajar adalah suatu pengetahuan tentang cara-cara mengajar yang digunakan

oleh guru atau instruktur. Pengertian lain ialah teknik penyajian yang dikuasai

guru untuk mengajar atau menyajikan bahan pelajaran kepada siswa di dalam

kelas, baik secara individu ataupun kelompok, agar pelajaran dapat diserap,

dipahami,

dan

dimanfaatkan

oleh

siswa

dengan

baik.

Makin

baik

metode

mengajar

makin

efektif

pula

pencapaian

tujuan

(Ahmadi,

1997:52).

Dalam

pembelajaran, tugas guru yang paling utama adalah mengkondisikan lingkungan

agar menunjang terjadinya perubahan perilaku bagi peserta didik. Umumnya

pelaksanaan

pembelajaran

mencakup

mengajar, dan postest.

tiga

hal

yaitu

pretest,

proses

belajar

Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) sebagai disiplin ilmu yang berhubungan

dengan cara mencari tahu tentang alam secara sistematis, sehingga IPA bukan

hanya penguasaan kumpulan pengetahuan berupa fakta, konsep, atau prinsip saja

tetapi juga merupakan suatu proses penemuan. Pembelajaran IPA diharapkan

dapat menjadi wahana bagi peserta didik untuk mempelajari diri sendiri dan alam

sekitar, serta prospek pengembangan lebih lanjut dalam menerapkannya di dalam

kehidupan sehari-hari. Proses pembelajaran IPA menekankan pada pemberian

pengalaman langsung untuk mengembangkan kompetensi agar menjelajahi dan

20

memahami alam sekitar secara ilmiah. Pembelajaran IPA sebaiknya dilaksanakan

secara

inkuiri

ilmiah

(scientific

inquiry)

untuk

menumbuhkan

kemampuan

berfikir, bekerja, dan bersikap ilmiah serta mengkomunikasikannya sebagai aspek

penting kecakapan hidup.

Oleh karena itu pembelajaran IPA di SD menekankan pada pemberian

pengalaman belajar secara langsung melalui penggunaan dan pengembangan

keterampilan proses dan sikap ilmiah. Sebagaimana dalam kurikulum 2006

(KTSP),

tujuan

mata

pelajaran

IPA

diantaranya

untuk

mengembangkan

pengetahuan dan pemahaman konsp-konsep IPA yang bermanfaat dan dapat

diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, mengembangkan rasa ingin tahu , sikap

positif, dan kesadaran tentang adanya hubungan yang saling mempengaruhi antara

IPA, lingkungan, teknologi, dan masyarakat, serta mengembangkan keterampilan

proses untuk menyelidiki alam sekitar, memecahkan masalah dan membuat

keputusan.

IPA sebagai hasil kegiatan manusia yang berupa pengetahuan, gagasan

dan

konsep

yang

terorganisasi

tentang

alam

sekitar

melalui

penyelidikan,

penyusunan, dan pengujian gagasan. Melalui pembelajaran IPA, kerja ilmiah

seperti melalakukan pengamatan, memprediksi dan keterampilan IPA lainnya

serta keterampilan berpikir dapat dilatihkan kepada pesrta didik dalam usaha

memberi bekal pengetahuan, keterampilan, nilai dan sikap yang diperlukan untuk

melanjutkan

pendidikan

maupun

untuk

dapat

menyesuaikan

diri

dengan

perubahan-perubahan di sekelilingnya. Oleh karena itu pengembangan kurikulum

IPA beralih dari pengembangan kurikulum berbasis materi (content-based) atau

21

siswa belajar sejumlah fakta ke pengembangan kurikulum berbasis kompetensi

(competensy-based),

dimana

konseptual dan prosedural.

ada

keseimbangan

peningkatan

kemampuan

Pendidikan

IPA

menekankan

pada

pemberian

pengalaman

secara

langsung.

Pada

prinsipnya

IPA

di

Sekolah

Dasar

membekali

siswa

untuk

mengembangkan

kemampuan

berbagai

cara

“mengetahui”

dan

suatu

cara

“mengerjakan” yang dapat membantu siswa untuk memahami alam sekitar secara

mendalam, dan menyesuaikan diri dengan tuntutan perkembangan dunia yang

sangat cepat.

Pembelajarn

Ilmu

Pengetahuan

Alam

sebagai

inkuiri

adalah

suatu

pendekatan

yang

menggunakan

cara

bagaimana

atau

jalan

apa

yang

harus

ditempuh oleh murid dengan bimbingan guru untuk sampai pada penemuan-

penemuan dan bukan penemuan itu sendiri. Dalam pendekatan inkuiri Ilmu

Pengetahuan alam, yaitu pertama membuat perumusan hipitesis, kedua menguji

hipotesis itu.(Nasution. 2007 : 5.9).

C. Hasil Belajar Siswa

Belajar merupakan suatu proses yang ditandai dengan adanya perubahan

yang

fositif

pada

diri

seseorang

baik

dari

segi

keterampilan,

kebiasaan,

pengetahuan,

pemahaman,

tingkah

laku,

kecakapan,

dan

kemampuan

yang

dihasilkan dari pengalaman dan pelatihan. Sejalan dengan pendapat Witherington

(Nana Syaodih Sukmadinata, 2004:155) menyatakan bahwa “Belajar merupakan

perubahan dalam kepribadian, yang dimanifestasikan sebagai pola-pola respon

22

yang baru yang berbentuk keterampilan, sikap, kebiasaan, pengetahuan dan

kecakapan”.

Menurut Crow and Crow

dan Hilgard (Nana Sukmadinata, 2005:155)

“Belajar adalah diperolehnya kebiasaan-kebiasaan, pengetahuan dan sikap baru”

dan menurut Hilgard “Belajar adalah suatu proses dimana suatu perilaku muncul

atau berubah karena adanya respons terhadap sesuatu situasi”.

“Belajar

merupakan

suatu

proses

perubahan

tingkah

laku

pada

diri

individu

berkat

adanya

interaksi

antara

individu

dan

individu

dengan

lingkungannya” (Uzer Usman,2000:5).

 

Menurut

Anita

E

Wool

Folk

(Sunarvo

Kartadinata,

dkk,

1999:57)

“Belajar adalah proses perubahan pengetahuan atau perilaku sebagai hasil dari

pengalaman, pengalaman ini terjadi melalui interaksi antara individu dengan

lingkungannya” sedangkan menurut Garry & Kingsley (Sunarvo K, dkk, 1999:57)

menyatakan

bahwa

“belajar

adalah

proses

tingkah

laku

(dalam

arti

luas)

ditimbulkan atau diubah melalui praktek dan latihan”.

 

“Belajar

adalah

modifikasi

atau

memperteguh

kelakuan

melalui

pengalaman learning is defined as the modification or strengthening of behavior

through experiencing)” (Oemar Hamalik, 2005:27). Menurut pengertian ini,

belajar merupakan suatu proses, suatu kegiatan dan bukan suatu hasil satu tujuan.

Belajar bukan hanya mengingat, akan tetapi lebih luas dari itu, yakni mengalami.

Hasil

belajar

adalah

pola-pola

perbuatan,

nilai-nilai,

pengertian

pengertian,sikap-sikap, apresiasi, abilitas, dan ketrampilan. Hasil belajar bukan

hanya suatu penguasaan hasil latihan saja, melainkan mengubah perilaku. Bukti

23

yang nyata jika seseorang telah belajar adalah terjadinya perubahan tingkah laku

pada orang tersebut, misalnya dari tidak tahu menjadi tahu, dari tidak mengerti

menjadi mengerti.

Hasil belajar merupakan segala perilaku yang dimiliki seseorang sebagai

akibat proses belajar yang telah ditempuhnya.Belajar diarahkan pada pencapaian

sasaran atau tujuan belajar, baik yang berjangka panjang (tujuan institusional,

kurikuler)

maupun

tujuan

jangka

pendek

(tujuan

pembelajaran).Bloom

dkk,

membagi tujuan-tujuan pembelajaran menjadi tiga ranah , yaitu kognitif, afektif,

psikomotor, masing-masing ranah tersebut, terbagi atas beberapa sub ranah yang

bersifat hierarkis, mulai dari yang rendah sampai yang tertinggi. Hasil belajar

bukan suatu penguasaan hasil latihan melainkan pengubahan kelakuan. Hasil

bahwa seseorang telah belajar ialah terjadinya perubahan tingkah laku, misalnya

dari tidak tahu menjadi tahu, dan dari tidak mengerti menjadi mengerti. Tingkah

laku memiliki unsur subjektif dan unsur motoris. Unsur subjektif adalah unsur

rohaniah sedangkan unsur motorik adalah unsur jasmaniah. Menurut Oemar

Hamalik

(2005:30)

menyatakan

bahwa “Tingkah

Laku

manusia terdiri

dari

sejumlah aspek. Hasil belajar akan tampak pada setiap perubahan pada aspek-

aspek tersebut, adapun aspek-aspek itu adalah:

1. Pengetahuan

2. Kebiasaan

3. Keterampilan

4. Apresiasi

24

6. Hubungan sosial

7. Jasmani

8. Etis atau budi pekerti, dan

9. Sikap

Seseorang yang telah melakukan perbuatan belajar maka akan terlihat

terjadinya perubahan dalam salah satu aspek atau beberapa aspek tingkah laku

tersebut.

Hasil belajar

yang dicapai oleh siswa sangat

rumusan

tujuan

instruksional

yang

direncanakan

guru

erat kaitannya dengan

sebelumnya.

Hal

ini

dipengaruhi pula oleh kemampuan guru sebagai perancang (Designer) belajar

mengajar. Untuk itu guru dituntut menguasai taksonomi hasil belajar yang selama

ini dijadikan pedoman dalam perumusan tujuan instruksional. (Usman,2002:34)

Tujuan

kategori, yakni :

instruksional

pada

umumnya

dikelompokkan

kedalam

tiga

1. Domain Kognitif, mencakup tujuan yang berhubungan dengan ingatan

(recall), pemahaman, penerapan, analisis, sintesis dan evaluasi.

2. Domain

Afektif,

mencakup

tujuan-tujuan

yang

berhubungan

dengan

penerimaan,

pemberian

respon,

penilaian,

pengorganisasian,

dan

karakterisasi.

3. Domain Psikomotor, mencakup tujuan yang berhubungan dengan peniruan,

manipulasi, ketetapan, artikulasi, dan pengalamiahan.

Dari

uraian

diatas

William

Burton

(Oemar

Hamalik,

2005:31)

menyimpulkan prinsip-prinsip belajar sebagai berikut:

25

1. Proses belajar ialah pengalaman, berbuat, mereaksi, dan melampaui (under going).

2. Proses itu melalui bermacam-macam ragam pengalaman dan mata pelajaran yang terpusat pada suatu tujuan tertentu.

3. Pengalaman belajar secara maksimum bermakna bagi kehidupan murid.

4. Pengalaman belajar bersumber dari kebutuhan dan tujuan murid sendiri yang mendorong motivasi yang kontinyu.

5. Proses belajar dan hasil belajar disyarati oleh hereditas dan lingkungan.

6. Proses belajar dan hasil usaha belajar secara materil dipengaruhi oleh perbedaan-perbedaan individual di kalangan murid.

7. Proses belajar berlangsung secara efektif apabila pengalaman-pengalaman dan hasil-hasil yang diinginkan disesuaikan dengan kematangan murid.

8. Proses belajar yang terbaik apabila murid mengetahui status dan kemajuan.

9. Proses belajar merupakan kesatuan fungsional dari berbagai prosedur.

10. Hasil-hasil belajar secara fungsional bertalian satu sama lain, tetapi dapat didiskusikan secara terpisah.

11. Proses belajar berlangsung secara efektif di bawah bimbingan yang merangsang dan membimbing tanpa tekanan dan paksaan.

12. Hasil-hasil belajar adalah pola-pola perbuatan, nilai-nilai, pengertian- pengertian, sikap-sikap, apresiasi, abilitas, dan kemampuan.

13. Hasil-hasil belajar diterima oleh murid apabila memberi kepuasan pada kebutuhannya dan berguna serta bermakna baginya.

14. Hasil-hasil belajar dilengkapi dengan jalan serangkaian pengalaman- pengalaman yang dapat dipersamakan dan dengan pertimbangan yang baik.

15. Hasil-hasil belajar itu lambat laun dipersatukan menjadi kepribadian dengan kecepatan yang berbeda-beda.

16. Hasil-hasil belajar yang telah dicapai adalah bersifat kompleks dan dapat berubah-ubah (adaptable), jadi tidak sederhana dan statis.

A. Jenis Penelitian

Menurut

Kamus

BAB III

METODE PENELITIAN

Bahasa

Indonesia

lengkap

(Daryanto,1997)

Metode

adalah cara yang tersusun dan teratur untuk mencapai tujuan khususnya dalam hal

ilmu pengetahuan.

Metode penelitian terdiri dari kata “methodology” yang berarti ilmu

tentang jalan yang ditempuh untuk memperoleh pemahaman tentang sasaran yang

telah ditetapkan sebelumnya. (Hatimah. 2007 :83).

Adapun metode penelitian menurut Furchan (2004) adalah strategi umum

yang

dianut

dalam

pengumpulan

dan

analisis

menjawab persoalan yang dihadapi.

data

yang

diperlukan,

guna

Metodologi mengandung makna yang lebih luas menyangkut prosedur dan

cara

melakukan

verifikasi

data

yang

diperlukan

untuk

memecahkan

atau

menjawab masalah penelitian, termasuk untuk menguji hipotesis. Beberapa aspek

yang termasuk didalamnya meliputi metode dan disain penelitian, instrumen

penelitian, sempel penelitian dan teknik pengolahan data serta analisis data.

Metode disain penelitian dalam pendidikan dapat dibedakan menjadi beberapa

kategori, antara lain metode eksperimen dengan beberapa macam disainnya,

metode penelitian ex post facto, metode penelitian deskriptif dengan berbagai

jenisnya, metode penelitian historis dan lain-lain. Peranan metodologi penelitian

sangat

menentukan

dalam

upaya

menghimpun

26

data

yang

diperlukan

dalam

27

penelitian. Dengan kata lain metodologi penelitian akan memberikan petunjuk

bagaimana penelitian itu dilaksanakan, bagaimana prosedurnya, jenis data mana

yang harus dukumpulkan, alat apa yang digunakan untuk memperoleh data dan

lain sebagainya. (Sujana, 2004 :16)

Dari beberapa pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa metodologi

penelitian merupakan prosedur atau cara yang digunakan peneliti untuk membuat

rencana pengumpulan, analisis hingga pengolahan data dalam pemecahan suatu

permasalahan yang tersusun secara sistemaits dan terarah guna mencapai tujuan

penelitian.

Yang

menjadi

tujuan

dalam penelitian ini adalah untuk meningkatkan

efisiensi dan efektivitas pembelajaran melalui metode penemuan pada mata

pelajaran IPA. Ini berarti behwa penelitian ini dilaksanakan untuk memecahkan

permasalahan dikelas. Berdasarkan hal tersebut maka penelitian ini bersifat

penelitian tindakan kelas ( (Action Research Classroom) yakni suatu bentuk

penelitian yang bersifat reflektif dengan melakukan tindakan-tindakan tertentu

agar dapat memperbaiki dan atau meningkatkan praktek-praktek pembelajaran di

kelas

secara

lebih

profesional,

dan

digunakan

pendekatan

kualitatif,

yaitu

penelitian yang berdasarkan kepada fakta dan analisis perbandingan, dengan

model Kemmis dan Mc Taggart, yang menggunakan sistem spiral refleksi diri

yang

dimulai

dengan

rencana,

tindakan

pengamatan,

refleksi,

perencanaan

kembali untuk siklus berikutnya (Wiriatmaja, 2006:65)

Kemmis dan Carr (Kasbolah, 1998/1999 : 13) mengemukakan bahwa :

Penelitian tindakan merupakan suatu bentuk penelitian yang bersifat reflektif yang dilakukan oleh pelaku dalam masyarakat sosial (termsuk

28

pendidikan) dan bertujuan untukm memperbaiki pekerjaannya, termasuk memahami pekerjaaan ini serta diaman pekerjaaan ini dilakukan.

Penelitian tindakan kelas adalah penelitian yang dilakukan oleh guru di

dalam kelasnya sendiri melalui refleksi diri, dengan tujuan untuk

memperbaiki

kinerjanya

sebagai

guru,

sehingga

hasil

meningkat.(Wardhani, 2008:1.4)

belajar

siswa

menjadi

“Penelitian tindakan kelas merupakan suatu bentuk inkuiri pendidikan di

dalam

pelaksanaannya

gagasan

atau

permasalahan

guru/dosen

diuji

dan

dikembangkan dalam bentuk tindakan “.(Wiriaatmaja, 2007:42)

McCuthceon

dan

Jung

(Iskandar,

2006

)

mengemukakan

pandangan

bahwa penelitian tindakan kelas merupakan penelitian yang dilakukan oleh guru

untuk memahami dan memperbaiki pekerjaannya.

Dari

berbagai

pandangan

para

ahli

diatas

dapat

disimpulkan

bahwa

penelitian tindakan kelas merupakan penelitian dalam bidang ilmu pengetahuan

yang dilakukan oleh guru dalam lingkup kelas sebagai upaya memperbaiki atau

peningkatan kualitas pembelajaran. Sehingga proses pembelajaran tidak hanya

sebagai rutinitas kegiatan yang berlangsung pada saat itu saja tanpa adanya tindak

lanjut sebagai perbaikan tetapi guru sebagai tenaga profesional memikirkan

berbagai upaya perbaikan sebagai refleksi demi pencapaian tujuan pembelajaran.

Malalui penelitian tindakan kelas, guru dapat melakukan pengamatan pada

setiap

proses

pembelajaran

yang

dilanjutkan

pada

tahap

perenungan

untuk

menelaah dan mengkaji berbagai kelemahan dan kekurangan pada pembelajaran

sehingga pelaksanaan pembelajaran pada tahap berikutnya terjadi perubahan

kearah perbaikan yang terus meningkat.

29

Menurut IGAK Wardhani (2007) dalam melaksanakan PTK seorang guru

harus memperhatiakan konsisi-kondisi diantaranya :

1. Sekolah

harus

memberikan

kebebasan

yang

memadai

bagi

guru

untuk

melakukan PTK, berkolaborasi dengan teman guru lainnya untuk menjadi

pengamat dan berdiskusi guna kemajuan kelasnya.

2. Birokrasi dan hierarki organisasi di sekolah hendaknya diminimalkan. Dan

harus ditumbuhkannya kolaborasi atau kerja sama yang saling menguntungkan.

3. Sekolah

semestinya

selalu

mempertanyakan

apa

yang

diinginkan

bagi

sekolahnya. PTK sebagia satu bentuk inovasi di sekolah akan dapat tumbuh

subur.

4. PTK mempersyaratkan keterbukaan dari staf sekolah untuk membahas masalah

tanpa rasa khawatir akan dicemoohkan.

5. Sikap

Kepala

pembaruan.

sekolah

dan

staf

administrasi

harus

menunjang

terjadinya

6. Guru dan siswa harus mempunyai rasa percaya diri yang tinggi bahwa mereka

sedang melakukan pembaruan yang didukung oleh Kepala sekolah dan orang

tua.

7. Guru harus siap menghadapi berbagai konflik karena yang baru biasanya

mendapat

perhatian

lebih.

kecemburuan sosial.

Hal

ini

perlu

untuk

menghindari

munculnya

Penelitian tindakan kelas pada hakikatnya bertujuan untuk memperbaiki

dan meningktkan profesional guru dalam pembelajaran di kelas. Hal ini dilakukan

karena adanya tuntutan masyarakat terhadap masalah pendidikan dewasa ini

30

begitu tinggi, sebagai akibat pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan dan

teknologi serta terjadinya perubahan masyarakat begitu komplek dan cepat.

Seluruh persoalan tersebut berdampak langsung terhadap guru itu sendiri agar

dapat bekerja keras dan lebih profesional dalam menghadapi semua persoalan

tersebut.

Penelitian tindakan kelas dilaksanakan melalui proses pengkajian berdaur,

yang, terdiri dari 4 tahap, yaitu merencanakan, melakukan tindakan, mengamati

dan melakukan refleksi seperti tampak pada gambar 1.1. hasil refleksi terhadap

tindakan yang dilakukan akan digunakan kembali untuk merevisi rencana jika

ternyata tindakan yang dilakukan akan digunakan kembali untuk merevisi rencana

jika ternyata tindakan yang dilakukan belum berhasil memperbaiki praktik atau

belum memecahkan masalah yang menjadi kerisauan guru. (Wardhani, 2007 : 2.3)

Model

siklus

yang

digunakan

berbentuk

spiral

sebagai

mana

dikembangkan oleh Kemmis dan Taggart (Kasbollah,1998/1999 : 14) meliputi

tahapan-tahapan : perencanaan (plan), tindkan (act), pengamatan (observe), dan

refleksi (reflect). Kemudian pada siklus yang kedua dan seterusnya jenis kegiatan

yang dilakukan peneliti pada dasarnya sama, tetapi ada modifikasi pada tahap

perencanaan. Siklus tersebut dapat dilihat pada gambar 1.1 .

31

PRA PENELITIAN :

Menentukan permasalahan

Mengumpulkan data awal tentang hasil belajar kognitif dan psikomotorik siswa sebagai studi awal

Pelaksanaan Tindakan Observasi
Pelaksanaan
Tindakan
Observasi

Rencana Tindakan Siklus I

Refleksi

Tindakan Observasi Rencana Tindakan Siklus I Refleksi Pelaksanaan Tindakan Rencana Tindakan Siklus II Refleksi
Pelaksanaan Tindakan
Pelaksanaan
Tindakan

Rencana Tindakan Siklus II

Refleksi

Pelaksanaan Tindakan Rencana Tindakan Siklus II Refleksi Observasi Rencana Tindakan Siklus III Refleksi Pelaksanaan

Observasi

Rencana Tindakan Siklus III

Refleksi

Pelaksanaan Tindakan
Pelaksanaan
Tindakan
Rencana Tindakan Siklus III Refleksi Pelaksanaan Tindakan Observasi Indikator tercapai Selesai Gambar 3.1

Observasi

Indikator

tercapai

Selesai

Gambar 3.1 Siklus PTK (Kasbollah, 1998/1999 : 70)

32

Secara operasional tahap-tahap kegiatan penelitian dalam setiap siklus dapat

dijelaskan sebagai berikut :

1.

Rencana

a.

Refleksi Awal

Berdasarkan observasi dilapangan bahwa kedudukan dan fungsi guru

dalam kegiatan pembelajaran saat ini cenderung masih dominan. Aktifitas guru

masih sangat besar dibandingkan dengan aktifitas siswa yang masih rendah

kadarnya. Ketika proses belajar mengajar hendaknya terjalin hubungan yang

sifatnya mendidik dan mengembangkan. Guru tidak hanya menyampaikan materi

akan tetapi sebagai figur yang dapat merangsang perkembangan siswa. Ini berarti

harus

ada

tindakan

perbaikan

agar

terjadi

perubahan

sesuai

tujuan

yang

diharapkan. Tindakan yang dilakukan sangat penting sebagai upaya peneliti dalam

meninjau efektifitas tindakan yang telah diakukan.

Kegiatan

perencanaan

diawali

dengan

merencnakan

ide

penelitian

kemudian ditindak lanjuti dengan observasi pelaksanaan pembelajaran di dalam

kelas.

Hal

ini

dilakukan

sebagai

pendahuluan

yang

tujuannya

untuk

mengidentifikasi masalah dan menemukan fakta yang terjadi di kelas. Langkah-

langkah atau tindakan yang telah dilakukan perlu direncanakan secara rinci agar

menjadi pegangan dalam melaksanakan tindakan.

b. Rancangan tindakan

Berdsarkan uraian diatas tindakan dilakukan dengan langkah-langkah

sebagai berikut :

33

1)

Mengadakan koordinasi dengan Guru serta Kepala sekolah SD Negeri 2

Cibogogirang

mengenai

maslah

yang

akan

menjadi

fokus

dalam

penelitian.

2)

Membuat Rencana Persiapan Pembelajaran (RPP) yang akan digunakan

oleh guru sebagai peneliti yang mencakup kegiatan yang harus dilakukan

guru dan siswa dalam proses pelaksanaan tindakan sesuai perencanaan.

3)

Menyiapkan sarana dan fasilitas yang akan digunakan dalam proses

tindakan di kelas.

 

4)

Menentukan instrumen yang digunakan dalam proses penelitian.

 

5)

Menyiapkan lembar pedoman observasi terhadap hasil yang dicapai pada

setiap tindakan.

2.

Tindakan

Pada tahap ini peneliti melaksankan tindakan sesuai dengan perencanaan

yang telah dirumuskan. Tujuan utama pada proses tindakan adalah mengupayakan

adanya inovasi dalam proses pembelajaran yang diusahakan kemanfaatannya oleh

peneliti dan para siswa.

Peneliti dalam hal ini guru harus mampu membuat metodologi penelitian

agar tidak mengganggu komitmen guru dalam mengajar, sehingga penelitian tetap

dapat

dilakukan

tanpa

mengorbankan

siswa

dalam

proses

pembelajaran.

Tambahna guru sebagai peneliti harus harus disikapi sebagai nuansa profesional

yang semestinya memberi nilai tambah bagi guru dan bagi pembelajaran yang

dikelolanya. (Wardhani, 2007 : 2.13)

34

3. Observasi

Kegiatan observasi dilakukan dengan menggunakan pedoman observasi

yaitu instrumen-instrumen yang telah ditentukan sebelumnya dalam perencanaan.

Hal

ini

dilakukan

untuk

melihat

hasil

atau

dampak

dari

tindakan

yang

dilaksanakan. Hasil observasi merupakan bahan pertimbangan untuk melakukan

refleksi dan revisi terhadap rencana dan tindakan yang telah dilakukan untuk

menyusun rencana dan tindakan selanjutnya yang diharapkan lebih baik dari

tindakan yang telah dilakukan.

Fungsi observasi menurut Kasbolah (1999:91) dapat dibedakan menjadi :

a.

Untuk mengetahui kesesuaian pelaksanaan tindakan dengan rencana tindakan

yang telah disusun sebelumnya.

 

b.

Untuk

mengetahui

seberapa

jauh

pelaksanaan

tindakan

yang

sedang

berlangsung

dapat

diharapkan

akan

menghasilkan

perubahan

yang

diinginkan.

4.

Refleksi

Dengan bantuan hasil analisis data yang diperoleh, peneliti mencoba

merenungkan kembali pelaksanaan tindakan yang telah tercatat melalui observasi.

Melalui refleksi peneliti akan dapat menentukan apa yang telah dicapai, apa yang

belum

dicapai,

selanjutnya.

serta

apa

yang

perlu

diperbaiki

lagi

dalam

pembelajaran

Pada dasarnya refleksi merupakan kegiatan analisis sintesis, interpretasi

dan

penjelasan

terhadap

semua

informasi

yang

diperoleh

tindakan.

Refleksi

merupakan

tahap

paling

penting

untuk

dari

pelaksanaan

memehami

dan

35

memberikan makna tehadap proses dan hasil yang terjadi akibat adanya tindakan

yang dilakukan.

B. Lokasi dan Subjek Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di SDN 2 Cibogogirang, kecamatan Plered,

kabupaten Purwakarta. Alasan peneliti memilih sekolah tersebut karena beberapa

pertimbangan diantaranya :

1. Peneliti bertugas di sekolah tersebut sehingga merasa bertanggung jawab

secara moril untuk meningkatkan kualitas pembelajaran IPA khususnya.

2. Memiliki fasilitas yang cukup memadai untuk dijadikan lokasi penelitian

dalam hal ini penelitian penerapan metode inkuiri yang membutuhkan sarana

dan fasilitas yang cukup guna pelaksanaan eksperimen.

Adapun sampel penelitian dalam pelaksanaan PTK meliputi peserta didik

yang duduk di kelas V (lima) Sekolah Dasar dengan jumlah siswa 39 orang dan

guru kelas V (Lima), serta proses pembelajaran di kelas V (Lima) SD Negeri 2

Cibogogirang sebagai objek penelitian.

C. Data Penelitian

Data penelitian diperoleh setelah melakukan penelitian tindakan kelas

(PTK). Data-data tersebut dikumpulkan melalui beberapa teknik pengumpulan

data diantaranya observasi, wawancara, angket, dan tes hasil belajar. Sumber data

penelitian adalah siswa kelas V (Lima) SD Negeri 2 Cibogogirang Tahun

36

Pelajaran 2008/2009 dan guru serta lingkungan yang mendukung pelaksanaan

kegiatan pembelajaran.

D. Instrumen Pengumpulan Data

Instrumen adalah alat yang digunakan untuk mendapatkan data, sehingga

data yang didapatkan lebih baik dengan pertimbangkan jenis data, tingkat akurasi

data, kelangkapan

data,

sistematika dalam

pengolahan,

standar waktu

yang

diperlukan serta biaya. (Awangga,2007 : 138) .

Dalam pelaksanaan pengumpulan data dalam penelitian tindakan kelas

perlu catatan yang dituangkan dalam instrumen sebagai berikut :

1.

Observasi

Observasi merupakan salah satu teknik pengumpulan data yang sangat

menentukan

dalam

pelaksanaan

penelitian

tindakan

kelas.

pengamatan dengan tujuan tertentu.

Observasi

berarti

Nasution(1988) menyatakan bahwa observasi adalah dasar semua ilmu

pengetahuan.

Sedangkan

Marshall

(1995)

menyatakan

bahwa

Through

observation the reasercher learn about behavior and teh meaning attached to

those behavior” melalui observasi, peneliti belajar tentang perilaku, dan makna

dari perilaku tersebut. (Sugiyono, 2007 : 64)

Lembar observasi digunakan untuk mengobservasi aktivitas siswa dan

guru selama proses pembelajaran inkuiri berlangsung. Aktivitas siswa yang

diamati

dengan

menggunakan

lembar

observasi

minat

dan

psikomotorik,

sedangkan aktivitas guru berupa lembar observasi kelas untuk kegiatan guru

37

Observasi dilakukan secara langsung pada saat pembelajaran di kelas guna

mengumpulkan

data

secara

kualitatif

mengenai

aktivitas

guru,

dan

siswa.

Tujuannya

untuk

mencatat

masalah

yang

terjadi

pada

saat

tindakan

yang

kemudian akan menjadi refleksi sebagai tindak lanjut.

2. Wawancara

Menurut

Esterberg

(Sugiyono,

2007:

72)

wawancara

merupakan

pertemuan dua orang untuk bertukar informasi dan ide melalui tanya jawab,

sehingga dapat dikonstruksikan makna dalam suatu topik tertentu.

Dengan wawancara peneliti akan mengetahui hal-hal yang lebih mendalam

tentang partisipan dalam menginterpretasikannya situasi dan fenomena yang

terjadi, dimana hal ini tidak ditemukan melalui observasi.

Wawancara dilakukan terhadap siswa setelah proses tindakan dilakukan

dengan tujuan untuk mengetahui pendapat mereka tentang kendala atau kesulitan

serta motivasi belajar yang mereka dapat dari penerapan metode inkuiri dalam

pembelajaran IPA. Selai itu wawancara juga dilakukan terhadap guru untuk

mengumpulkan informasi tentang kebaikan dan kekurangan serta kendala yang

ditemukan pada saat menggunakan metode inkuiri.

3. Angket

Angket penelitian ini digunakan untuk mengetahui nilai afektif (sikap)

siswa

terhadap pembelajaran inkuiri. Angket disebar dan diisi oleh siswa dengan

runtunan pertanyaan

yang berhubungan dengan kesan dan tanggapan

siswa

terhadap metode yang digunakan dalam pembelajaran IPA yaitu metode inkuiri.

38

4. Tes Hasil Belajar

Tes

hasil

belajar

diperlukan

untuk

mengukur

tingkat

ketercapaian

penerapan metode inkuiri dalam pembelajaran IPA selain itu tes hasil belajar

digunakan untuk mengukur pemahaman materi serta peningkatan hasil belajar

siswa setelah tindakan dilakukan.

E. Tektik Analisis Data

Metode analisis data penelitian ini adalah deskriptif persentase. Data hasil

penelitian yang dianalisis meliputi rata-rata kelas, ketuntasan belajar individu, dan

ketuntasan belajar secara klasikal. Selanjutnya hasil analisis data diperolah baik

kualitataf

maupun

kuantitatif.

Hasil

ini

diinterpetasi

dan

disimpulkan

yang

digunakan untuk menjawab permasalahan yang telah dirumuskan.

Metode analisis data penelitian ini adalah deskriptif persentase. Data hasil

penelitian yang dianalisis meliputi rata-rata kelas, ketuntasan belajar individu, dan

ketuntasan belajar secara klasikal. Selanjutnya hasil analisis data diperolah baik

kualitataf

maupun

kuantitatif.

Hasil

ini

diinterpetasi

dan

disimpulkan

yang

digunakan untuk menjawab permasalahan yang telah dirumuskan.

1). Rata-rata kelas.

Untuk menghitung rata-rata kelas pada masing-masing siklus digunakan

rumus :

Keterangan :

X = ΣX N
X = ΣX
N

X

= Rata-rata kelas

ΣX

= jumlah seluruh skor

N

= Banyak siswa

(Sudjana, 1989 : 109)

39

3). Ketuntasan belajar secara klasikal

Nilai post test diperoleh setelah dilakukan tindakan kelas, kemudian

sianalisis untuk mengetahui ketuntasan hasil belajar.

Ketuntasan secara klasikal dihitung dengan menggunakan rumus :

Ketuntasan klasikal = Jumlah siswa mendapat nilai > 65

x 100 %

Jumlah siswa yang mengikuti

1. Pengumpulan Data

(Mulyasa, 2003 : 102)

Metode pengumpulan data dalam penelitian ini adalah :

1. Sumber data

Sumber data penelitian adalah siswa kelas V SD Negeri 2 Cibogogirang

Tahun

Pelajaran

2008/2009

dan

guru

pelaksanaan kegiatan pembelajaran.

2. Jenis data

serta

lingkungan

yang

mendukung

a. Data tentang kondisi awal, untuk metode pengajaran guru berdasarkan

hasil wawancara dengan guru kelas, nilai laporan ulangan harian siswa.

b. Data tentang peningkatan aktivitas siswa diperoleh dari hasil pengamatan

langsung melalui lembar observasi dan nilai laporan LKS.

c. Peningkatan hasil belajar kognitif berdasarkan dari jawaban tiap soal

mengerjakan soal evaluasi (pretest dan postest).

40

d. Data

tentang

keterkaitan

antara

perencanaan

dan

pelaksanaan

dalam

penelitian diperoleh dari Rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP), LKS,

dan lembar observasi guru.

e. Data hasil belajar afektif (sikap) diperoleh melalui lembar angket sebagai

pendapat atau tanggapan siswa terhadap pelaksanaan pembelajaran inkuiri

terbimbing.

2. Validasi Data

Teknik

validasi

yang

digunakan

dalam

penelitian

adalah

dengan

menggunakan triangulasi, member-check, audit trial, dan expert opinion.

a. Triangulasi Data, yaitu teknik yang dilakukan untuk memeriksa keabsahan /

kebenaran data dengan menggunakan sumber lain serta membandingkan

kebenaran data yang diperoleh dari sumber lain yakni guru dan siswa. Teknik

triangulasi data digunakan dalam rangka memperoleh kepercayaan data yang

maksimal. Teknik ini digunakan melalui kegiatan reflektif kolaboratif antara

guru dan peneliti. Selain itu dalam dilakukan juga wawancara dengan siswa

untuk mendapatkan gambaran tentang persepsi siswa terhadap penggunaan

metode inkuiri dalam pembelajaran IPA terutama dalam konsep cahaya. Hasil

triangulasi kemudian dijabarkan melalui laporan naratif deskriptif.

b. Member-Check, teknik ini dilakukan untuk meninjau kembali kebenaran dan

kesahihan data penelitian dengan mengkonfirmasikan pada sumber data.

Dalam kegiatan ini peneliti menginformasikan data temuan yang diperoleh

baik kepada guru maupun

siswa melalui kegiatan reflektif kolaboratif pada

setiap

akhir

kegiatan

pembelajaran.

Pada

kegiatan

ini

dijaring

pula

41

tanggapan, sanggahan atau informasi tambahan baik dari guru maupun siswa

sehingga menghasilkan derajat validitas yang tinggi.

c. Audit Trial, dilakukan dengan cara mendiskusikan kebenaran data beserta

prosedur pengumpulannya dengan teman sejawat, pembimbing, atau peneliti

senior

guna

memperoleh

kritik,

tanggapan

dan

masukan

sehingga

bisa

mempertajam analisis serta validasi yang tinggi.

d. Expert opinion, teknik ini dilakukan dengan cara mengkonsultasikan hasil

temuan peneliti kepada para ahli

untuk memperoleh arahan dan masukan

sehingga validasi temuan penelitian dapat dipertanggung jawabkan.

3. Interpretasi

Data yang diperoleh dalam penelitian diinterpretasikan dengan merujuk

pada acuan teoritik, norma-norma praktis yang diprakarsai atau berdasarkan

intuisi

guru

mengenai

situasi

pembelajaran

yang

baik

dan

efektif

tentang

penerapan metode inkuiri dalam pembelajaran IPA di SD untuk meningkatkan

hasil belajar siswa pada konsep cahaya.

BAB IV

HASIL PENELITIAN

Dalam bab ini akan disajikan mengenai deskripsi hasil penelitian serta

pembahasannya. Secara umum temuan hasil penelitian akan disajikan beberapa

poin,

diantaranya:

(A)

Deskripisi

data

lokasi

penelitian

dan

data

awal

pembelajaran IPA . (B) Deskripsi pelaksanaan tindakan serta tanggapan dari siswa

serta

guru

mengenai

pembelajaran IPA.

implementasi

A. Deskripsi Lokasi Penelitian

1. Lokasi Penelitian

a. Identitas Sekolah

penggunaan

metode

inkuiri

dalam

Sekolah yang menjadi pusat penelitian adalah sekolah negeri dengan nama

SD Negeri 2 Cibogogirang dengan NSS.1010 22 002 029 yang beralamat di

Kp.Cibogogirang

Peuntas

Ds.

berdiri sejak tahun 1980.

b. Sarana dan Prasarana

Cibogogirang

Plered-Purwakarta.

Sekolah

ini

SD Negeri 2 Cibogogirang memiliki sarana dan prasarana penunjang

kegiatan belajar yang memadai, diantaranya: luas tanah 4800 m 2 , yang terdiri dari

Lapangan Upacara, Bangunan 2 Unit dengan Ruang Kelas 6 Unit, Ruang Kantor

1 Unit, Ruang Perpusakaan/UKS 1 Unit, Mushola 1 Unit, WC/Kamar Mandi 2

Unit. Selain itu terdapat pula arena olahraga. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat

dari denah lokasi sekolah sebagai berikut :

42

43

Gambar 4.1 DENAH LOKASI SD NEGERI 2 CIBOGOGIRANG U T A R A 2 3
Gambar 4.1
DENAH LOKASI
SD NEGERI 2 CIBOGOGIRANG
U
T
A
R
A
2
3
4
5
6
TAMAN SEKOLAH
1
7
8
9

Keterangan:

1. Ruang Kantor

6.

R. Komputer

Ruang GuruRuang UKS

Ruang UKS

Ruang Kepala Sekolah2. Toilet dan

2. Toilet dan

Ruang Perpustakaan Sekretariat Pramuka & Olahraga

Dapur Sekolah

7.

Ruang Kelas 4

3. Ruang Kelas 1

8.

Ruang Kelas 5 (Lokasi Penelitian

4. Ruang Kelas 2

Pembelajaran Inkuri)

5. Ruang Kelas 3

9.

Ruang Kelas 6

44

Fasilitas belajar yang ada di SDN 2 Cibogogirang berupa bangunan sekolah

yang terdiri dari dua unit bangunan permanen yang cukup baik, berada di tengah

perumahan warga dan lingkungan yang cukup kondusif dengan udara yang cukup

bersih karena tidak terlalu dekat dengan jalan raya namun terjangkau oleh

kendaraan bermotor roda dua.

Kondisi fisik bangunan cukup baik dan layak dipergunakan oleh warga

sekolah

terutama

siswa

untuk

belajar.

Unit

pertama

terdiri

dari

tiga

lokal

digunakan oleh siswa / siswi kelas I, II dan III. Luas kelas masing-masing adalah

4 x 6 meter ². Unit kedua terdiri dari tiga lokal digunakan oleh siswa / siswi kelas

IV,V dan VI dengan luas kelas yang sama yaitu 4 x 6 meter ². Selain itu terdapat

juga ruang guru yang cukup luas dengan ukuran 5 x 10 Meter², dengan berbagai

fasilitas seperti meja dan kursi kerja, satu set meja tamu, rak penyimpanan piala,

rak buku, satu unit komputer, dan perangkat lain yang mendukung.

Dalam Proses belajar mengajar siswa / siswi SDN Cibogogirang dibagi

menjadi 9 rombongan belajar, yaitu kelas I A, Kelas I B, Kelas II A, Kelas II B,

Kelas III A, Kelas III B, Kelas IV, Kelas V, Kelas VI. Yang didukung dengan

sarana

kegiatan

lainnya

seperti

perangkat

belajar,

mebeuler,

perlengkapan

olahraga, pramuka, serta perlengkapan dan perangkat kegiatan belajar lainnya.

Berikut ini tabel daftar maubeler di SD Negeri 2 Ciibogogirang :

45

Tabel 4.1

Daftar Mebeuler SDN 2 Cibogogirang

No

Perkakas

Jumlah

 

Kondisi

Baik

Sedang

Rusak

 

1 Bangku

13

-

13

-

 

2 Meja Murid

110

90

20

-

 

3 Kursi murid

158

148

10

-

 

4 Lemari

8

7

1

-

 

5 Meja Guru

17

14

3

-

 

6 Kursi Guru

15

12

3

-

 

7 Papan Tulis

6

6

-

-

 

8 Kursi Tamu

1

1 Set

-

-

 

9 Rak Buku

2

2

-

-

Dari tabel diatas dapat terlihat keadaan perkakas atau mebeuler yang

dimiliki SDN 2 Cibogogirang yang cukup layak digunakan dalam proses belajar

mengajar di sekolah. Di setiap kelas tertata rapi meja dan kursi murid serta meja

dan kursi guru, serta hiasan dengan aneka hasil kreasi siswa yang diletakkan di

dinding dan didepan kelas. Selain itu, di depan kelas di lengkapi pula dengan pot

bunga dengan berbagai jenis bunga yang ditanam. Selain itu SDN 2 Cibogogirang

dilengkapi pula oleh peralatan olahraga.

2. Karakteristik Siswa

SD Negeri 2 Cibogogirang memiliki 277 siswa terdiri dari siswa berjenis

kelamin laki-laki sejumlah 136 dan siswi berjenis kelamin perempuan berjumlah

141 orang. Dari 277 siswa , 39 orang adalah siswa kelas V (Lima) yang akan

menjadi sampel dalam penelitian. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel

berikut ini :

46

Tabel 4.2

Keadaan siswa kelas V (Lima) SD Negeri 2 Cobogogirang

Berdasarkan jenis kelamin

No

Jenis Kelamin

Jumlah

Prosentase (%)

1

Laki-laki

15

38,47

2

Perempuan

24

61,53

 

Jumlah

39

100

Dari tabel diatas dapat disimpulkan bahwa jumlah siswa perempuan lebih

banyak daripada jumlah laki-laki , yaitu 24 orang siswa perempuan dengan

prosentase 61,53 % sedangkan jumlah laki-laki 15 orang siswa dengan prosentase

38,47 % .

Dari

jumlah

siswa

sebanyak

39

orang,

siswa

kelas

lima

dapat

diklasifikasikan menurut tingkat kemampuan dalam belajar, lebih jelasnya dapat

dilahat pada tabel berikut ini :

Tabel 4.3

Tingkat Kemampuan Siswa dalam Belajar

No

Kemampuan

Jumlah

Prosentase (%)

 

1 Pandai

10

25,65

 

2 Sedang

23

58,97

 

3 Kurang

6

15,38

 

Jumlah

39

100

Dari tabel diatas dapat dijabarkan kualifikasi tingkat kemampuan belajar

siswa kelas V (Lima) SDN 2 Cibogogirang sebagai sempel penelitian, terdapat 10

siswa dengan prosentase 25,65 % memiliki tingkat kemampuan belajar yang

tergolong pandai, 23 siswa dengan prosentase 58,97 % tergolong sedang dan 6

siswa dengan prosentase 15,38 % dengan tingkat kemampuan kurang.

47

3. Karakteristik Guru

Alat

pendidikan

berikutnya

adalah

tenaga

pengajar

atau

selanjutnya

disebut guru yang merupakan aspek penting yang akan menjadi fasilitator dan

subjek yang berperan dalam perkembangan peserta didik. Di SD Negeri 2

Cibogogirang terdapat 13 orang guru dan 1 orang penjaga sekolah yang terdiri

dari 9 orang berjenis kelamin laki-laki dan 5 orang berjenis kelamin perempuan.

Data lebih jelas dapat terlihat pada tabel berikut :

Tabel 4.4

Data Personil SD Negeri 2 Cibogogirang Tahun Pelajaran 2008/2009

       

Ijazah

     

No

Nama/ Tempat Tgl Lahir

 

NIP

Agama

/

Tahun

Jabatan

Mengajar

Kelas

Gol/

Ruang

         

D

II

     

HASANUDIN

1958 07 27

Islam

PGSD

Kep.Sek

I-VI

IV/A

1

BANDUNG, 27-07-1958

1978 03 1

 

1999

 

003

 
 

HUSEN PURWAKARTA, 11-12 1964

1964

12 11

   

D

II

Guru

VI

IV/A

2

1986

10 1 001

Islam

PGSD

   

2000

     
 

WAHYUDIN PURWAKARTA, 01-06-1966

     

D

II

     

3

1966

06 01

Islam

PGSD

Guru

IV

IV/A

 

1989

04 1 001

 

2000

 

DEDEN PITRIANTINI PURWAKARTA, 07-11-1972

     

SI

     

4

480184135

Islam

UNWIR

Guru

V

III/A

 

2002

 

ELIS IMAS HAYATI PURWAKARTA, 17-10-1980

     

D

II

     

5

480184190

Islam

PGSD

Guru

I/A

II/B

 

2002

 

NENENG MULYANINGSIH

     

D

II

 

III/A

II/A

6

480194075

Islam

PGSD

Guru

PURWAKARTA, 21-06-1972

 

2008

   
 

LINDA MARLIANI PURWAKARTA, 16-12-1982

     

D

II

     

7

480193938

Islam

PGSD

Guru

III/B

II/B

 

2004

8

MAMAN SAEPUROHMAN PURWAKARTA, 14 - 4 - 1980

   

D

II PAI

 

I-VI

II/B

480184291

Islam

2002

Guru

9

FUADUL MUNIR PURWAKARTA, 10-12-1971

   

D

II PAI

 

I-VI

II/B

480194110

Islam

2002

Guru

10

NENENG ROBIATUL A PURWAKARTA, 29-12-1986

 

-

   

MA

 

II/A

-

 

Islam

2005