Anda di halaman 1dari 24

TEORI KOMUNIKASI KELOMPOK 6 GANJIL

RIFQI TAUFIK (F1C012003) REINHARD DANIEL C (F1C012009) DIMAS EKO K (F1C012035) BAGUS TYAS A (F1C012051) WAHYUDI (F1C012059) M. ALFIAN K.B (F1C012079) ADEN AURA (F1C012087)

KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK PURWOKERTO 2013

TEORI KOMUNIKASI VERBAL DAN NONVERBAL Dalam kebanyakan kegiatan komunikasi yang terjadi hampir selalu menggunakan lambang-lambang verbal dan nonverbal, keduanya memiliki sifat holistik, tidak dapat di pisahkan. Dalam banyak kegiatan komunikasi,bahasa nonverbal menjadi pelengkap bahasa verbal. Namun bahasa nonverbal juga dapat sebagai pengganti dari bahasa verbal, misal seperti saat kita mengangukan kepala mengartikan iya atau setuju dalam bahasa verbalnya. Ada tiga ciri yang menandai wujud atau bentuk komunikasi verbal dan nonverbal. 1. Lambang-lambang nonverbal sudah kita gunakan sejak ertama lahir kemuka bumi ini. 2. Bertambahnya usia kita tentu menambah ilmu kita, sehingga kita mulai bisa menggunakan komunikasi verbal. 3. Saat kita di luar negeri kesulitan berbahasa, bahasa nonverbal dapat sangat membantu dengan isyarat-isyarat untuk berkomunikasi, serta nonverbal itu bukan abstrak karena lewatnya kita bisa menyampaikan ungkapan emosi, dll. Yang tidak bisa di ungkapkan dengan kata-kata. DEFINISI Baiknya kita memahami dahulu batasan mengenai komunikasi nonverbal. Mengapa kita hanya membahas nonverbal? Karena jika membahas verbal hampir ada seratus definisi lebih yang membahasnya,melainkan nonverbal Don Stacks dalam bukunya Introduction to Communiccation Theory menjelaskan pemahaman tentang nonverbal masih sangat minim. dicontohkan Frank E.X. Dance dan Carl E. Larson menawarkan lebih dari seratus definisi tentang verbal, namun mereka hanya menawarkan satu definisi tentang nonverbal. TABEL TIPE-TIPE KOMUNIKASI KOMUNIKASI VOKAL Bahasa Lisan (spoken words) KOMUNIKASI NONVOKAL Bahasa Tertulis (written words)

KOMUNIKASI VERBAL

KOMUNIKASI NONVERBAL

Nada Suara (tone of voice), Desah (sighn), Jeritan (screams), kualitas vokal (vocal qualities)

Isyarat (gesture), gerakan (movement), penampilan (appearance), ekspresi wajah (facial ex-pression).

Malandro dan Barker memberi batasan sebagai berikut. Komunikasi nonverbal ialah komunikasi tanpa kata-kata. Komunikasi nonverbal terjadi bila individu berkomunikasi tanpa suara. Komunikasi nonverbal adalah setiap hal yang dilakukan oleh seseorang yang diberi makna oleh orang lain. Perbedaan antara Komunikasi Verbal dan Nonverbal Komunikasi nonverbal yaitu studi mengenai ekpresi wajah, sentuhan, waktu,gerak isyrat, bau, perilaku mata,dll. Komunikasi verbal dan ninverbal adalah satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan, maksudnya keduanya saling bekerja sama untuk menciptakan suatu makna dari komunikasi tersebut. Don Stack, dkk. Memberi pemikiran tentang perbedaan komunikasi verbal dan nonverbal ada tiga perbedaan utama, yaitu : 1. kesengajaan 2. perbedaan simbolik 3. mekanisme pemprosesan Mari kita uraikan satu persatu. 1. KESENGAJAAN Michael Burgoon dan Michael Ruffner menegaskan komunikasi verbal akan terjadi bila sebagai berikut : Dikirimkan oleh sumber dengan sengaja dan Diterima oleh penerima dengan sengaja juga 2. PERBEDAAN SIMBOLIK Mehrabian menjelaskan bahwa komunikasi verbal dipandang lebih eksplisit dibanding bahasa nonverbal yang bersifat implisit. Artinya, isyarat-isyarat verbal dapat didefinisikan

melalui sebuah kamus yang eksplisit dan lewat aturan-aturan sintaksis (kalimat), namun hanya ada penjelasan yang samar-samar dan informal mengenai signifikansi beragam perilaku nonverbal. 3. MEKANISME PEMPROSESAN Komunikasi nonverbal kurang terstruktur. Aturan-aturan yang ada ketika kita berkomunikasi secara nonverbal adalah lebih sederhana dibanding komunikasi verbal yang mempersyaratkan aturan-aturan tata bahasa dan sintaksis. Komunikasi nonverbal secara tipikal diekspresikan pada saat tindakan komunikasi berlangsung. Fungsi Komunikasi Verbal dan Nonverbal Meskipun komunikasi verbal dan nonverbal memiliki perbedaan-perbedaan, namun keduanya dibutuhkan untuk berlangsungnya tindak komunikasi yang efektif. Pemikiran ini disampaikan oleh Samovar (Ilya Sunarwinandi: Komunikasi antar Budaya), bahwa dalam suatu peristiwa komunikasi, perilaku nonverbal digunakan secara bersama-sama dengan bahasa verbal: -Perilaku nonverbal memberi aksen atau penekanan pada pesan verbal. -Perilaku nonverbal sebagai pengulangan dari bahasa verbal. -Tindak Komunikasi nonverbal melengkapi pernyataan verbal. -Perilaku nonverbal sebagai pengganti dari komunikasi verbal.

Komunikasi Nonverbal A. Memahami Komunikasi Nonverbal 1. Karakteristik komunikasi nonverbal Menurut Ronald Adler dan George Rodman komunikasi nonverbal memiliki 4 karakteristik yaitu keberadaannya, kemampuannya menyampaikan pesan tanpa bahasa verbal, sifat ambiguitasnya dan keterikatannya dalam suatu kultur tertentu. Karakteristik lain dari komunikasi nonverbal adalah sifat ambiguitasnya, dalam arti ada banyak kemungkinan penafsiran terhadap setiap perilaku. Dan karakteristik terakhir adalah bahwa komunikasi nonverbal terikat dalam suatu kultur atau budaya tertentu. 2. Kategori Komunikasi Nonverbal Kategori nonverbal yang dimaksudkan dalam bahasan ini adalah beragam cara yang digunakan orang-orang untuk berkomunikasi secara nonverbal, yaitu vocalics atau

paralanguage, kinesics yang mencakup gerakan tubuh, lengan, dan kaki serta ekspresi wajah (facial expression), perilaku mata (eye behavior), lingkungan yang mencakup objek benda dan artifak, proxemics yang merupakan ruang dan teritori pribadi, haptics (sentuhan), penampilan fisik (tubuh dan cara berpakaian), chronemics (waktu), dan olfaction (bau). Contoh nyata dari kategori komunikasi nonverbal ini adalah desah (sighing), menjerit (screaming), merintih (groaning), menelan (swallowing), menguap (yawning), disamping bentuk-bentuk seperti jeda, intonasi, dan penekanan dalam pembicaraan lisan. Gerakan tangan cenderung digunakan paling banyak oleh orang yang sedang berbicara, sedangkan pendengar cenderung memakai gerakan kepala. Gerakan tangan menyajikan banyak fungsi pesan bagi pembicara selama interaksi berlangsung, yaitu menegaskan dan mengilustrasikan apa yang sedang dikatakan. Antropolog Edward T. Hall mendefinisikan empat jarak yang kita gunakan dalam kehidupan sehari-hari. Namun empat jarak yang dikemukakan oleh Hall ini hanya menggambarkan perilaku orang-orang dari amerika utara dan sangat mungkin berbeda dengan orang-orang yang berasal dari budaya lain. Adapun klasifikasi Hall tersebut adalah sebagai berikut. A. B. C. D. Intimade distance Personal Distance Social Distance Public Distance

KOMUNIKASI DALAM HUBUNGAN-HUBUNGAN Bab ini berhubungan dengan hubungan-hubungan, yang bersifat sentral bagi studi komunikasi interpersonal. Sebuah hubungan adalah sekumpulan harapan yang dimiliki oleh dua orang bagi perilaku di antara mereka. Pemikiran ini merupakan pusat dari teori-teori komunikasi interpersonal, dan kita akan menelusurinya disini. Pengakuan bahwa hubungan merupakan sesuatu yang penting dalam komunikasi interpersonal sudah ada setidak-tidaknya sejak tahun 1960an. Meskipun penelitian yang dirujukan sebagai teori Komunikasi relasional didasarkan pada inti dari asumsi-asumsi umum. Yang pertama, hubungan selalu dihubungkan dengan komunikasi dan tidak dapat dipisahkan darinya. Kedua, sifat dari hubungan didefinisikan oleh komunikasi antara para anggotanya. Ketiga, hubungan biasanya didefinisikan lebih secara implisit ketimbang eksplisit. Keempat, hubungan-hubungan berkembang sepanjang waktu melalui sebuah proses negosiasi di antaramereka yang terlibat. LANDASAN-LANDASAN TEORITIS

KELOMPOK PLATO Hubungan merupakan sebuah bagian penting dari sesuatu system. Bila dua orang saling berkomunikasi, disamping apa saja yang mungkin tengah mereka kerjakan, mereka juga sedang mendefinisikan hubungan mereka. Orang-orang di dalam suatu hubungan selalu menciptakan sekumpulan harapan, memperkuat harapan-harapan lama, atau merubah suatu pola interaksi yang sudah ada. Sebagai contoh, jika suatu hubungan kepatuhan yang dominan muncul dalam suatu perkawinan, yang satu orang akan memegang kendali atas pasangannya. Komunikasi di antara para pekerja dalam sebuah organisasi mungkin dihasilkan di dalam sebuah hubungan status dimana satu orang dihargai lebih tinggi dari pada yang lain. Watzlawick, Beavin, dan Jackson mengemukakan lima aksioma dasar tentang komunikasi. Pertama orang tidak bias tidak berkomunikasi aksioma ini sudah dikutip berulang-ulang dalam buku-buku teks tentang komunikasi. Intinya penting. Karena ia menekankan bahwa kita senantiasa mempengaruhi persepsi-persepsi orang lain, apakah kita menginginkannya atau tidak. Aksiaoma ini juga menekankan bahwa setiap perilaku yang terlihat secara potensial bersifat komunikatif. Aksioma yang kedua adalah bahwa setiap percakapan,betapapun singkatanya,meliputi dua pesan sebuah pesan isi dan sebuah pesanhubungan.biladia orang sedangberinteraksi,masing-masingmengaitkaninformasipada yang lain,dansecarabersamaan, masing-masingjuga mengomentariinformasitersebutpadatingkatan yang lebih tinggi, Hubungan pembicara yang simultan ini, yang seringkali bersifat non verbal, adalah meta komunikasi. Misalnya, pada tingkatan isi, seorang dosen mungkin mengumumkan akan ada ujian. Banyak kemungkinan pesan hubungan yang bias berfungsi sebagai meta komunikasi: saya adalah yang berwenang di kelas ini; saya mengajar, anda belajar; kuliah yang sudah saya berikan adalah penting; saya membutuhkan umpan balik tentang kemajuan anda; saya perlu nilai-nilai anda; saya ingin anda berfikir saya memenuhi peran saya sebagai dosen dan sebagainya.

Judee burgoon dan para koleganya telah melakukan peneliatian untuk menentukan dimensi-dimensi dari tingkatan relasional dari komunikasi ini. Mereka melakukan sebuah survey besar-besaran terhadap literature komunikasi interpersonal untuk menemukan kemungkinankemungkinan elemen dari komunikasi relasional dan mengisolasikan 12 landasan komunikasi relasional. Landasan ini meliputi berbagai level dominasi, keintiman, kasih sayang, keterlibatan, pencakupan, kepercayaan, kedangkalan, rangsangan, emosional, ketenangan, kemiripan, formalitas, dan orientasi terhadap tugas versus elemen-elemen social dari hubungan tersebut. Topik-topik ini lebih jauh disempitkan menjadi empat dimensi dasar yang independen dari komunikasi relasional

1. Rangsangan emosional, ketenangan dan formalitas 2. Keintiman dan kemiripan 3.Kedekatan (kesukaan) 4. Dominasi-kepatuhan Beberapa Pendekatan dalam Teori Komunikasi Nonverbal Permulaan dari studi komunikasi nonverbal modern seringkali diidentifikasikan dengan karya Darwin : The Expression of Emotion in Man and Animals. Komunikasi nonverbal terutama berkaitan dengan fungsinya sebagai sebuah teori untuk menjelaskan mengenai penampilan (theory of performance), sebuah cara berpidato yang mengeditifikasikan suasana hati, sikap atau perasaan. Dari karya ini, perhatian terhadap komunikasi nonverbal telah memunculkan kajian antar disiplin. Dari hasil karyanya pula, telah telah dikembangakn tiga perspektif teoritis, yaitu : 1. Ethological Approach (Pendekatan Etologi) Menurut darwin, emosi manusia seperti halnya emosi dari binatang dapat dilihat dari wajahnya. Darwin mengasumsikan bahwa komunikasi nonverbal dari makhluk hidup yang berbeda sebenarnya sadalah sama. Dan para ilmuwan lain sependapat tehadap pendapat darwin karena komunikasi nonverbal tidak dipelajari melainkan bagian alami dari keberadaan manusia. Contohnya adalah Morris, ekhman dan friesen. Teori Struktural Kumulatif Dalam teorinya ini, Ekhman dan Friesen memfokuskan analisisnya pada makna yang diasosiasikan dengan kinesic. Teori mereka disebut cumulative structure atau meaning centeredkarena lebih banyak membahas mengenai makna yang berkaitan dengan gerak tubuh dan ekspresi wajah ketimbang struktur perilaku. Selanjutnya Ekman dan Friesen mengidentifikasikan lima kategori dari exoressive behavior yaitu emblem, ilustrator regulator, adaptor, dan penggambaran perasaan, dimana masing-masing memberikan kedalaman pada makna yang berkaitan dengan situasi komunikasi. Emblem adalah gerakan tubuh atau expresi wajah yang memiliki nilai sama dengan pesan verbal. Contohnya adalah setuju, pujian, atau ucapan selamat jalan yang dapat digantikan dengan anggukan kepala, acungan jempol, atau lambaian tangan. Ilustrator adalah gerakan tubuh atau ekspresi wajah yang mendukung dan melengkapi pesan verbal. Misalnya raut muka yang serius ketika memberikan penjelasan untuk menunjukan bahwa yang dibicarakan adalah persoalan serius.atau gerakan tangan yang menggambarkan sesuatu yang sedang dibicarakan. Kategori keepat adalah adaptor, yaitu tindakan yang disengaja yang digunakan untuk menyesuaikan tubuh dan menciptakan kenyamanan bagi tubuh atau emosi. Terdapat pula

sub kategori dari adaptor yaitu self (seperti menggaruk kepala, menyentuh dagu atau hidung) dan object (menggigit pensil atau bermain kunci) perilaku ini biasanya dipandang sebagai refleksi kecemasan atau perilaku negatif .kategori kelima adalah penggambaran emosi atau atau affect display yang dapat disengaja atu tidak, dapat menyertai pesan verbal atau berdiri sendiri.menurut Ekman dan Frieser terdapat tujuh bentuk affect display yang pengungkapanya cukup universal yaitu : marah, menghina, malu, takut, gembira sedih, dan terkejut. Mereka mengemukakan pula bahwa beberapa affect display yang berbeda dapat diungkapkan secara bersamaan, dan bentuk disini disebut affect blend. Morris juga mengemukakan suatu pandangan mengenai kinesic yang lebih didasarkan pada tindakan,. Dia mengasumsikan bahwa perilaku tidak terbentuk dengan sendirinya, melainkan terbagi dalam suatu rangkaian panjang peristiwa yang terpisah pisah. Menurutnya terdapat klima kategori yang berbeda dalam tindakan. Yaitu : pembawaan (inborn), ditemukan (discovered), diserap (absorb), dilatih (trained) dan campuran (mixed). 2. Anthropological Approach (Pendekatan Antropologi) Pendekatan antropologis menganggap komunikasi nonverbal terpengaruh oleh kultur atau masyarakat. Analogi Linguistik Dalam teorinya ini Birdwhisstell mengasumsikan bahwa komunikasi nonverbal memiliki struktur yang sama dengan komunikasi verbal. Bahasa distrukturkan atas bunyi yang membentuk apa yang disebut dengan kata. Kombinasi kata dan konteks akan membentuk kalimat, dan berikutnya kombinasi kalimat akan membentuk paragraft.Birdwhistell mengemukakan bahwa hal yang sama terjadi dalam konteks nonverbal, yaiut terdapat bunyi nonverbal yang disebut allokines (satuan gerakan tubuh tubuh terkecil yang seringkali tidak dapat didektesi). Kombinasi allokines akan membentuk kines dalam suatu bentuk yang serupa dengan verbal., yang dalam teori ini disebut dengan analogi linguistik. Teori ini mendasarkan penjelasanya pada enam asumsi sebagai berikut : 1. Terdapat tingakat saling ketergantungan yang tinggi antara kelima indera manusia, yang bersama-sama dengan ungkapan verbal akan membentuk infracommunicational system 2. Komunikasi kinesic berbeda antarkultur dan bahkan antara mikrokultur. 3. Tidak ada simbol bahasa tubuh. 4. Prinsip-prinsip pengulangan (redundancy) tidak terdapat pada perilaku kinesic. 5. Perilaku kinesic lebih primitif dan kurang terkendali dibanding komunikasi verbal.

6. Kita harus membandingkan tanda-tanda nonverbal secara berulang-ulang sebelum kita memberikan interpretasi yang kuat. Keenam prinsip yang mendasari analogi linguistik ini pada dasarnya menyatakan bahwa kelima indera kita berinteraksi atau bekerjasama untuk menciptakan persepsi, dan dalam setiap situasi, satu atu lebih dari indera kita akan mendominasi indera lainya.

Analogi kultural Analogi kultural yang dikemukakan oleh Edward T. Hall membahas komunikasi nonverbal dari aspek proxemis dan chronemics. Teori hall tentang proxemics mengacu kepada penggunaan ruang sebagai expresi spesifik dari kultur. Dalam analisisnya, Hall mengemukakan bahwa norma-norma waktu ditemukan dalam berbagai kultur dalam bentuknya yang berbeda-beda. 3. Functional Approach (Pendekatan Fungsional) Pendekatan fungsional memandang komunikasi nonverbal sebagai bertujuan dan dibatasi oleh suatu kerangka waktu tertentu. Ini berbeda dengan dari pendekatan ethlogis dimana komunikasi nonverbal dipandang sebagai suatu proses evolusi yang berkesinambungan dari spesies yang lebih rendah samapi kepada manusia Teori Metaforis dari Mehrabian Teori mehrabian menempatkan perilaku nonverbal kedalam pengelompokan fungsi. Dia memandang komunikasi nonverbal berada diantara tiga kontium yaitu : dominansubmisif, menyenangkan tidak menyenangkan, dan menggairahkan tidak menggairahkan. Perilaku nonverbal dapat ditempatkan pada setiap kontinumdan dianalisis melalui tiga metafora yang berkaitan dengan kekuasaan dan status, kesukaan, dan tingakt responsif. Metafora kekuasaan-status mencerminkan tingkatan dimana perilaku nonverbal mengkomunikasikan dominasi atau submisi. Metafora kesukaan didasarkan pada kontinum menyenangkan atu tidak menyenangkan, sedankan metafoea responsif didasarkan pada kontinum menggairakan-tidak menggairahkan. Misalnya senyuman dapat mengindikasikan adanya kesenganagn, kegairahan, dan kesukaan. Teori equilibrium Michael Argyle dan Janet dean mengemukakan suatu teori komunikasi nonverbal yang didasarkan pada suatu metafora keintiman-equilibrium. Mereka mengemukakan bahwa seluruh interaksi dibatasi dalam konflik antara kekuatan-kekuatan penarik dan penolak. Lebih lanjut Argyle dan Dean mengemukakan bahwa ketika kita berinteraksi, kita mengalami atau menggunakan sekuruh saluran komunikasi yang ada, dan suatu

perubahan dalam satu saluran nonverbal akan menghasilkan perubahan dalam satu saluran nonverbal akan enghasilkan perubahan pada saluran lainnya sebagai kompensasi. Teori Fungsional dari Patterson Patterson mengemukakan bahwa komunikasi nonverbal memiliki lima fungsi, yaitu : memberikan informasi, mengekspresikan keintiman, mengatur interaksi, melaksanakan kontrol sosial, dan membantu pencapaian tujuan. Teori Fungsional Komunikatif Teori yang dikemukakan oleh burgoon ini memfokuskan kepada kegunaan, motif atau hasil dari komunikasi. Teori ini menjelaskan peran yang dimiliki oleh komunikasi nonverbal terhadap hasil komunikasi, seperti persuasi dan desepsi. Teori-teori Komunikasi Verbal 1. Nature Approach (Pendekatan Natural) Seorang ahli yang menaruh perhatian pada bagaimana orang memperoleh bahasa adalah Noam Chomsky yang memandang pembelajaran bahasa sebagai suatu fungsi biologi, sama seperti cara Darwin memandang komunikasi nonverbal. Teori Chomsky yang disebut struktur dalam (deep structure) mengasumsikan bahwa suatu tata bahasa atau struktur bawaan yang ada pada diri manusia sejak lahir, merupakan landasan bagi semua bahasa. Teori ini mencangkup suatu pendekatan umum yang universal. Dengan mendasarkan pada sejumlah besar penelitiannya, chomsky mengidentifikasikan adanya tiga struktur dalam semua bahasa. Pertama, adanya hubungan antara subjek-predikat. Apapun subjeknya predikat akan selalu menunjukan tindakan apa yang dilalukan oleh objek. Begitu juga sebaliknya. Kedua, hubungan antara kerja-kerja (verb) dengan objek yang mengekspresikan hubungan logis sebab akibat. Ketiga, modifikasi, yang menunjukan adanya pertautan kelas misalnya ada seseorang yang memakai sandal merah, sandal biru, nah dari situlah ada pertautan antara warna pada seseorang tersebut. Dengan demikian, Chomsky beranggapan bahwa manusia dilahirkan dengan membawa kemampuan alamiah untuk berbahasa. Kita dapat memformulasikan bentuk-bentuk kombinasi kata tertentu hingga terasa masuk aka.namun penjelasan bahwa bahasa dapat dipilah dalam dapat dipilah dalam struktur bahasa., belum dapat menjawab bagaimana bahasa mengungkapkan makna. Seorang teorisi lain dan I. slobin, mengemukakan bahwa daripada terlahir dengan pemahaman tata bahasa yang telah terprogram, anak sebenarnya memiliki suatu mekanisme pemrosesan atau anak tersebut.

Slobin mengemukakan bahwa perkembanga kognitif mendahului perkembangan bahasa. Dengan berbagai bukti ilmiah dia menunjukan bahwa anak dari kelompok bahasa yang berbeda, mempelajari bahasa secara berbeda tergantung pada tingkat kesulitan dari bahasa tersebut. Slobin sendiri mengidentifikasikan adanya empat prinsip yang bekerja pada semua bahasa, yaitu : memperhatikan susunan kata, menghindari pengecualian, menghindari interupsi atau penataan kembali unit-unit bahasa dan memperhatikan kata yang ada pada akhir kalimat. Walau ada perbedaan antara teori Chomsky dan slobin, namun pada dasarnya keduannya mendasarkan diri pada prinsip natural, yang memandang bahwa bahasa diperoleh secara natural. Meskipun demikian keduannya belum dapat menjawab makna apa yang dikaitkan dengan penggunaan bahsa tersebut. 2. Pendekatan Nurtural Edward sapir dan benyamin Whorf mengemukakan teori yang menentang perspektif alamiah. Dengan memusatkan kajiannya pada semantik, mereka mengembangkan suatu teori kultural mengenai bahsa. Mereka mengatakan bahwa latar belakang dari sistem linguistik dari setiap bahasa bukan hanya suatu alat reproduksi untuk menyampaikan gagasan. Jadi bahasa adalah kultural., bahkan aturan-aturan bahasa sanagat bervariasi dari satu kultur ke kultur lain, oleh karenanya individu dari kultur yang berbeda pula cara-caranya dalam dalam memnadang dunia. Kedua teori yang berlawanan ini menunjukan bahwa baik dalam komunikasi verbal maupun non-verbal, terdapat dua aliran yang berangkat dari posisi yang berlawanan dalam menjelaskan bagaimana orang memperoleh bahasa 3. Teori Fungsional tentang bahasa Penggunaaan Simbol Pandangan ini mengasumsikan bahwa seluruh perilaku manusia berangakat dari penggunaan simbol. Silent Assumptions P. Millar dan frank E. Millar mengemukakan bahwa makna dari suatu kata tidak terbatas yang kita temukan dalam kamus, jadi kesalahpahaman semantik terjadi karena kita terlalu sering menggunakan asumsi secara diam-diam. General sematik menjelaskan bahwa kita memiliki kecenderungan untuk berurusan dengan objek atau benda pada tataran abstrak. Persoalan yang muncul dari silent assumption ini adalah ketika mengantisipasi apa yang dikatakan oleh orang lain

Reaksi atau Respons Konstruk ini diawali oleh asumsi bahwa manusia bereaksi seperti yang dilakukan hewan melalui apa yang disebut respons yang dikondisikan. Identitas Alasan utama mengapa kita cenderung untuk bereaksi daripada merespon adalah karena kita melihat kesamaan absolut atau identitas. Sedikitnya ada tiga alasan bagi kecenderungan ini, yaitu : nama adalah suatu karakteristik penting dari benda atau objek, keunikan benda atau objek berada di dalam nama, dan jika suatu benda atau objek tidak memiliki nama maka ia menjadi tidak eksis atau tidak dianggap. Konstruk tentang identitas berkaitan erat dengan dua konstruk lain dalam teori general sematics, yaitu : nonallness dan nonaddivity. Nonalles berarti bahwa kita tidak dapat mengatakan bahwa segala sesuatunya secara lengkap mengenai suatu hal. Konstruk nonadditivity kita lakukan ketika menambahkan sesuatu dan hasilnya dapat memiliki arti yang lain. Ketertarikan pada waktu dan ruang General sematics mengemukakan bahwa segala sesuatu di dalam lingkungan fisik akan sterus-menerus berubah. Kita tiodak akan suama dengan 10 tahun kedepan. Hal ini dikarenakan molekul yang selalu berubah atau bergerak. Dan fenomena ini disebut sebagai keterikatan waktu atau time binding. Selain itu juga terjadi keterikatan ruang (space binding) karena tiap orang berada pada tempat yang berbeda, maka mereka akna mempresepsikan sesuatu secara berbeda pula. Multiordinalitas Multiordinalitas menjelaskan mengenai pernyataab yang bertingkat-tingkat. Misalnya kucing belang berlari lebih cepat daripada kucing hitam. Kemudian muncul pernyataan abstraksi yang lebih tinggi, yaitu hal itu benar atau hal itu salah, karena semua pernyataan mengenai pernyataan yang pertama. Jadi kata pernyataan dianggap memiliki multiordinal yang dapat digunakan pada tataran, atau tingkat abstraksi yang berbeda, dan makna dari tiap-tiap pernyataan juga berbeda. Orientasi intensional dan ekstensional Konstruk ini menjelaskan bagaimana orientasi orang ketika merespons suatu hal. Menurut Irving J. Lee, orientasi intensional didasarkan pada definisi verbal. Jadi seperti ungkapan bicara dahulu, tanpa peduli bagaimana kenyataannya. Dan orientasi ekstensional adalah didasarkan pada susunan observasi terlebih dahulu sebelum membicarakannya. general sematics lebih mendukung orientasi eksternal, yang artinya merekomendasikan seseorang untuk lebih dulu mencari fakta sebelum berbicara.

4. Konstruktivisme : perspektif pesan dalam bahasa Teori ini menaruh pemikiran pada proses berpikir yang terjadi sebelum pesan dikemukakan dalam suatu tindakan komunikasi. KOMUNIKASI DALAM HUBUNGAN-HUBUNGAN Bab iniberhubungandenganhubungan-hubungan, yang bersifatsentralbagistudikomunikasiinterpersonal.sebuahhubunganadalahsekumpulanharapan yang dimilikiolehdua orang bagiperilaku di antaramereka.pemikiraninimerupakanpusatdariteoriteorikomunikasiinterpersonal ,dankitaakanmenelusurinyadisini Pengakuan bahwa hubungan merupakan sesuatu yang penting dalam komunikasi interpersonal sudah ada setidak-tidaknya sejak tahun 1960an.Meskipun penelitian yang dirujukan sebagai teori Komunikasi relasional didasarkan pada inti dari asumsi-asumsi umum. Yang pertama, hubungan selalu dihubungkan dengan komunikasi dan tidak dapat dipisahkan darinya. Kedua, sifat dari hubungan didefinisikan oleh komunikasi antara para anggotanya. Ketiga, hubungan biasanya didefinisikan lebih secara implicit ke timbang eksplisit. Keempat, hubungan-hubungan berkembang sepanjang waktu melalui sebuah proses negosiasi di antaramereka yang terlibat. LANDASAN-LANDASAN TEORITIS KELOMPOK PLATO Hubungan merupakan sebuah bagian penting dari sesuatu system. Bila dua orang saling berkomunikasi , disamping apa saja yang mungkin tengah mereka kerjakan, mereka juga sedang mendefinisikan hubungan mereka. Orang-orang di dalam suatu hubungan selalu menciptakan sekumpulan harapan, memperkuat harapan-harapan lama, atau merubah suatu pola interaksi yang sudah ada. Sebagai contoh, jika suatu hubungan kepatuhan yang dominan muncul dalam suatu perkawinan, yang satu orang akan memegang kendali atas pasangannya. Komunikasi di antara para pekerja dalam sebuah organisasi mungkin dihasilkan di dalam sebuah hubungan status dimana satu orang dihargai lebih tinggi dari pada yang lain. Watzlawick, beavin, dan Jackson mengemukakan lima aksioma dasar tentang komunikasi. Pertama orang tidak bias tidak berkomunikasi aksi omaini sudah dikutip berulang-ulang dalam buku-buku teks tentang komunikasi. Intinya penting. Karena ia menekankan bahwa kita senantiasa mempengaruhi persepsi-persepsi orang lain, apakah kita menginginkannya atau tidak. Aksi aomaini juga menekankan bahwa setiap perilaku. Yang terlihat secara potensial bersifat komunikatif. Aksioma yang ke dua adalah bahwa setiap percakapan, betapapun singkatanya, meliputi dua pesan sebuah pesan isi dan sebuah pesan hubungan. Bila dia orang sedang

berinteraksi, masing-masing mengaitkan informasi pada yang lain, dan secara bersamaan, masing-masing juga mengomentari informasi tersebut pada tingkatan ya ng lebih tinggi, Hubungan pembicara yang simultanini, yang sering kali bersifat non verbal, adalah meta komunikasi. Misalnya, pada tingkatan isi, seorang dosen mengkin mengumumkan akan ada ujian. Banyak kemungkinan pesan hubungan yang bisa berfungsi sebagai metakomunikasi : saya adalah yang berwenang di kelas ini ; saya mengajar, anda belajar ; kuliah yang sudah saya berikan adalah penting; saya membutuhkan umpan balik tentang kemajuan anda ; saya perlunilai-nilai anda; saya ingin anda berfikir saya memenuhi peran saya sebagai dosen dan sebagainya Judee burgoon dan para koleganya telah melakukan peneliatian untuk menentukan dimensi-dimensi dari tingkatan relasional dari komunikasi ini. Mereka melakukan sebuah survey besar-besaran terhadap literature komunikasi interpersonal untuk menemukan kemungkinan-kemungkinan elemen dari komunikasi relasional dan mengisolasikan 12 landasan komunikasi relasional. Landasan ini meliputi berbagai level dominasi , keintiman, kasih saying, keterlibatan, pencakupan, kepercayaan, kedangkalan, rangsangan, emosional, ketenangan, kemiripan, formalitas, dan orientasi terhadap tugas versus elemen-elemen social dari hubungan tersebut. Topik-topik ini lebih jauh disempitkan menjadi empat dimensi dasar yang independen dari komunikasi relasional 1. Rangsangan emosional, ketenangan dan formalitas 2. Keintiman dan kemiripan 3.Kedekatan (kesukaan) 4. Dominasi-kepatuhan Kita memahami pengungkapan diri sebagai sebuah proses yang lebih kompleks daripada yang kita pahami pada tahu 1960-an dan 1970-an. Menurut Petronio, indivudu-individu yang terlibat dalam sebuah hubungan senantiasa terlibat dalam proses pengaturan batasan antara publik dan pribadi, antara perasaan-perasaan dan pemikiran-pemikiran yang ingin mereka bagi dengan pasangan mereka dan yang tidak. Orang membuat keputusan tentang bagaimana dan kapan untuk mengungkapkan, dan mereka membuat keputusan tentang bagaiman merespon tuntutan-tuntutan orang lain. Ada berbagai strategi langsung dan tidak langsung yang dapat digunakan, dan masalah yang selalu ada bagi pasangan itu adalah mengkoordinasikan jenis-jenis pengungkapan dan respon-respon yang mereka gunakan. Petronio mengemukakan sejumlah kemungkinan faktor dan kosekuensi yang ditimbulkan oleh keputusan-keputusan ini, dan ia menguraikan sejumlah masalah penelitian untuk ditelusuri lebih jauh. Semua teori yang dibahas dalam bab ini menunjukan betapa pentingnya informasi dalam pembentukan sebuah hubungan. Subyek penting dalam teori komunikasi adalah kesopanan. Pendekatan teoritis yang paling terkenal adalah Penelope Brown dan Stephen Levinson yang meyakini bahwa kesopanan

adalah sebuah semesta budaya, meskipun budaya-budaya yang berbeda memiliki tingkatantingkatan yang berbeda dan cara-cara yang berbeda untuk menjadi sopan. Alasan mengapa kesopanan bersifat universal adalah bahwa semua orang mempunyai kebutuhan untuk dihargai dan dilindungi, yang oleh para peneliti ini disebut kebutuhan-kebutuhan kewibawaan. Kewibawaan positif adalah keinginan untuk dihargai dan disetujui, untuk disukai dan dihormati. Contohnya adalah kepedulian, memuji. Kewibawaan negatif adalah keinginan untuk bebas dari tekanan atau gangguan. Contohnya adalah mengetahui adanya tekanan pada waktu mengajukan permintaan. Kita melakukan perbuatan-perbuatan yang mengancam kewibawaan ( FTA = Face Threatening Acts) setiap kali kita berprilaku dengan cara yang tidak bisa memenuhi kebutuhan kewibawaan yang positif atau negatif. Ada lima pendekatan yang bisa kita gunakan apabila ada kemungkinan terjadi FTA : (1) melakukan FTA bulat-bulat, tanpa tindakan yang sopan, (2) melakukan FTA dengan disertai suatu bentuk kesopanan positif, (3) melakukan FTA dengan disertai suatu bentuk kesopanan negatif, (4) melakukan FTA secara tidak langsung, secara diamdiam, atau (5) tidak melakukan FTA sama sekali.

Brown dan Levinson mengatakan bahwa strategi anda akan bergantung pada sebuah rumus sederhana : = + P( +

Kesopanan ( meningkat dengan bertambahanya jarak (D), Kesopanan ( meningkat dengan meningkatnya kekuasaan (P) dari si pendengar (H) terhadap si pembicara (S), Kesopanan ( meningkat dengan bertambahnya resiko tuntutan (R). Teori Penetrasi Sosial Penetrasi sosial adalah proses peningkatan pengungkapan dan keintiman dalam sebuah hubungan. Gerald Miller dan para kolagenya secara harfiah mendefinisikan komunikasi interpersonal dalam pengertian penetrasi. Semakin banyak yang diketahui oleh para komunikator tentang satu sama lain, semakin banyak karakter interpersonal yang terbawa dalam komunikasi mereka. Teori Penetrasi Sosial yang Asli, Irwin Altman dan Dalmas Taylor mengemukakan istilah penetrasi sosial yaitu sewaktu hubungan-hubungan berkembang, komunikasi bergerak dari

tingkatan-tingkatan yang relatif dangkal dan tidak intim sampai pada tingkatan-tingkatan yang lebih dalam dan lebih pribadi. Teori Altman dan Taylor banyak didasarkan pada salah satu pemikiran paling populer dalam ilmu pengetahuan sosial yaitu bahwa hubungan akan berlanjut bila ia relatif menguntungkan dan diputuskan bila ia relatif merugikan. Proses ini dikenal sebagai pertukaran sosial. Ada empat tahapan dari perkembangan relasional. Orientasi terdiri dari komunikasi interpersonal, di mana satu orang mengungkapkan hanya informasi yang sangat publik sifatnya dari dirinya. Tahap berikutnya, pertukaran afektif eksploratif, di mana ekspansi awal dari informasi dan perpindahan ke tingkat pengungkapan yang lebih dalam terjadi. Tahap ketiga, pertukarann afektif, memusatkan pada perasaan-perasaan evaluatif dan kritis pada tingkat yang lebih dalam. Yang terakhir, pertukaran yang stabil sifatnya sudah sangat intim dan memungkinkan pasangan tersebut untuk memprediksikan tindakan-tindakan dan respon masingmasing mereka dengan baik. Altman dan Taylor menyatakan bahwa bila keuntungan menurun dan kerugian meningkat pada tingkat komunikasi yang lebih intim, proses penetrasi akan membalik dan hubungan itu akan mulai merenggang. Kebanyakan penstudi perkembangan hubungan sekarang meyakini bahwa penetrasi sosial adalah sebuah proses siklik dan dialektik. Ia bersifat siklik karena ia bergerak dalam lingkaran bolak-balik, dan ia bersifat dialektik karena ia melibatkan pengaturan ketegangan diantara hal-hal yang bertentangan. Sebuah dialektik adalah sebuah ketegangan antara dua atau lebih elemen yang bertentangan dari suatu sistem yang menuntut setidaknya suatu penyelesaian sementara. Altman dan rekan-rekanya sekarang mengatakan bahwa dialektik-dialektik ini biasanya diatur dalam hubunga jangka panjang melalui semacam predictability siklus. Dengan kata lain, selagi hubungan itu berkembang, lingkaran keterbukaan dan ketertutupan pasangan itu memiliki keteraturan tertentu atau ritme yang dapat diperkirakan. Siklus-siklus keterbukaan memang terjadi dalam percakapan dan sejumlah sinkronisasi memang terjadi. Jumlah kesesuaian tidak sama bagi setiap pasangan, yang berarti bahwa ada perbedaanperbedaan di antara pasangan-pasangan dalam kemampuan mereka untuk mengkoordinasikan siklus-siklus pengungkapan diri. Baxter menemukan bahwa strategi-strategi perpisahan bervariasi dalam kelangsungan (directness) dan hirauan akan orang lain. Strategi-strategi langsung meliputi pernyataan yang eksplisit tentang keinginan untuk mengakhiri hubungan, sementara strategi-strategi tidak langsung tidak demikian. Ada yang bersifat unilateral, di mana hanya satu anggota yang ingin memutuskan hubungan tersebut, atau bilateral, di mana kedua belah pihak merasa bahwa hubungan tersebut harus diakhiri. Strategi strategi tidak langsung dari perpisahan secara unilateral meliputi

penghindaran, pseudodeescalation (penurunan secara semu),dan eskalasi (peningkatan) kerugian. Pseudodeescalation adalah kebohongan bahwa seseorang hanya ingin merubah hubungan itu supaya agak renggang sedikit. Peningkatan kerugian adalah perilaku yang dibuat sedemikian rupa yang menjadikannya lebih sulit bagi orang lain untuk melanjutkan hubungan itu. Dengan kata lain,seseorang dengan sengaja membuat hubungan itu lebih merugikan bagi orang lain tersebut sehingga ia akan bisa menerimanya, atau bahkan memulai perpisahan. Sebuah strategi tidak langsung dari perpisahan bilateral adalah dengan semakin mundur. Mutual pseudodeescalation adalah strategi tidak langsung lainnya dari perpisahan bilateral. Dua bentuk umum dari komunikasi langsung dalam perpisahan unilateral adalah fait accompli, atau sebuah pernyataan langsung sederhana bahwa hubungan itu sudah berakhir, dan pembicaraan tentang keadaan hubungan, yang merupakan sebuah upaya untuk menganalisis hubungan tersebut. Konflik atribusional adalah sebuah pertengkaran di mana pihak yang satu menyalahkan pihak lain untuk perpisahan itu. Perpisahaan yang dirundingkan adalah saling berpisah tanpa tindakan-tindakan bermusuhan. Pernyataan Baxter adalah pilihan strategi seseorang berkaitan dengan variabel-variabel personal atau relasional tertentu. Penelitiannya menunjukan bahwa directness paling berkaitan dengan baik karakteristik indicidual maupun relasional. Ini menunjukan bahwa directness itu sendiri mungkin merupakan masalah utama dalam memutuskan bagaimana mengakhiri suatu hubungan. Berhubungan dengan proses perpisahan itu sendiri. Perpecahan suatu hubungan sepertinya lebih dari dari sekedar munduratau mengurangi kadar keintiman dalam komunikasi, seperti ditunjukan oleh teori penetrasi sosial. Untuk menemukan jalur man yang paling umum, Baxter bertanya pada sekitar 100orang sukarelawan yang pernah mengalami putus hubungan dalam setahun terakhir untuk memberikan informasi tentang apa yang terjadi. Pola yang paling umum adalah unilateral yaitu satu orang memutuskan bahwa ia tidak ingin berada di dalam hubungan itu. Dalam pola ini pihak yang memulai menggunakan metode tidak langsung untuk berkomunikasi dengan pasangan mereka. Baxter menyebut pola ini ketidaklangsungan yang bertahan (persevering indirectness). Sekitar 30 persen dari para partisipan tersebut mengalami jalur ini. Tipe jalur lainnya adalah ketidaklangsungan yang ambivalen (ambivalent indirectness). Ini bersifat unilateral dan tidak langsung, tetapi ia melibatkan setidaknya satu upaya untuk memperbaiki hubungan sebelum menyerah. Sebagian orang yaitu sekitar 9 persen dari subyek Baxter mengalami ambivalensi timbal balik, dimana mereka memulai perpisahan itu tetapi tidak secara langsung, mengusahakan perbaikan, dan makan waktu lama hingga benar-benar putus. Empat jenis ini adalah tipe-tipe jalur yang lain lazim, meskipun ia juga menemukan tipe lainnya. HUBUNGAN DALAM KONTEKS Komunikasi dalam Persahabatan

Rawlins meyakini bahwa persahabatan pada tahapan maupun dari kehidupan menampilkan sekumpulan tantangan yang menarik dan seringkali kompleks. Tantangantantangan dalam persahabatan terutama muncul dari kebutuhan untuk menangani berbagai kontradiksi,atau dialektik. Rawlins telah melakukan penelitian yang menyeluruh tentang persahabatan. Dalam bukunya ia membahas tekstur persahabatan yang berubah sepanjang masa kehidupan, termasuk masa kanak-kanak,remaja,dewasa muda,dewasa pertengahan, dan dewasa akhir. Rawlins mengemukakan bahwa ada dua kelas dialektis yang umum yang beroperasi dalam persahabatan. Yang pertama, dialektis kontekstual, berhubungan dengan pengertian persahabatan dalam budaya yang lebih luas. Yang kedua, dialektis interaksional, berhubungan dengan kerancuan dari komunikasi sehari-hari dalam setiap persahabatan. Dialektis kontekstual berkaitan dengan pertanyaan tentang tempat dari persahabatan dalam masyarakat secara umum. Setiap definisi harus menjembatani dua kontradiksi. Kontradiksi yang pertama adalah antara publik dan pribadi. Menurut definisi ia adalah sesuatu yang dilakukan oleh dua orang diantara mereka sendiri, tetapi ia juga sekaligus dikendalikan oleh harapan-harapan sosial dan budaya. Dialektik kintekstual yang kedua adalah dialektik antara yang ideal dan yang riil. Kerena ketegangan ini mengendalikan komunikasi dalam sebuah persahabatan, Rawlins terutama memfokuskan pada bidang ini. Ia meyakini bahwa digunakan empat prinsip dialektis untuk menangani komunikasi dalam persahabatan. Yang pertama adalah menciptakan kebebasan untuk berdiri sendiri dari kebebasan untuk bergantung. Orang diharuskan membiarkan teman-teman mereka menjalani hidup mereka sendiri,tetapi mereka juga diharuskan untuk siap membantu,menasehati, dan menuntun satu sama lain. Prinsip yang kedua adalah dialektik kasih sayang dan instrumentalitas. Persahabatan seringkali menjalani ketegangan antara menghargai teman sebai teman versus memanfaatkan teman sebagi alat untuk tujuan lain. Prinsip yang ketiga adalah dialektik penilaian dan penerimaan. Teman teman diharuskan menerima kita sebagaimana adanya,tetapi mereka juga diminta untuk membuat penilaian dan memberi nasehat. Dialektik keempat adalah dialektik antara keekspresifan dan keprotektifan (espressivaness dan protectivaness). Respon yang serung muncul terhadap dialektik ini adalah untuk berusaha mencapai keduanya sekaligus, berlaku jujur tetapi berhati-hati dalam mengungkapkan kejujuran itu. Kominikasi dalam Perkawinan Penelitian Fitzpatrick menerapkan sebuah kuesioner yaitu instrumen dimensi- dimensi Relasional yaitu yang menanyai individu tentang berbagai aspek dari perkawinan mereka.

Kuesioner ini didasarkan pada karya David Kantorbdan William Lehr, yang menyatakan bahwa perkawinan dapat dicirikan melalui bagaimana pasangan memanfaatkan ruang, waktu, dan energi mereka dan sejauh mana mereka mengungkapkan perasaan-perasaan, menerapkan kekuasaan, dan berbagai filsafat bersama tentang perkawinan. Ideologi adalah sebuah variabel yang melibatkan pemikiran-pemikiran konvensional versus non konvensional dari keluarga. Kesalingketergantungan adalah sebuah variabel yang merefleksikan ketergantungan versus otonomi dalam suatu perkawinan. Konflik berhubungan dengan banyaknya ketidaksepakatan atau perbenturan di dalam perkawinan. Fitzpatrick menemukan bahwa pasangan-pasangan yang sudah menikah cenderung berkumpul ke dalam tiga kelompoknyang berbeda disepanjang tiga dimensi yaitu yang tradisional, yang independen, dan yang berbagi.

Perkawinan tipe kedua adalah independen, individu individu cenderung tidak konvensional dalam pandangan pandangan mereka tentang perkawinan dan tidak saling mengandalkan satu sama lain. Meskipun mereka mungkin menghabiskan waktu bersama sama dan berbagi, merekan menghargai otonomi masing masing. Dan seringkali mereka memiliki ruangan ruangan terpisah didalam rumah. Mereka juga mungkin memiliki minat minat dan teman teman sendiri di luar keluarga. Tipe perkawinan yang ketiga adalah terbagi, individu individu ini sepertinya ambivalen tentang peran peran dan hubungan mereka. Mereka mungkin memiliki pandangan yang cukup konvensional tentang perkawinan, tetapi tidak terlalu independen dan tidak banyak berbagi. Fitzpatricik berpendapat bahwa merujuk pada jenisnya yang terbagi ini, sebagai pasangan pasangan yang bercerai secara emosional. Mereka punya pendapat dan bisa jadi sangat argumentative, tetapi konflik konflik tidak pernah berlangsung lama karena mereka cepat mundur dari konflik. Teori tentang tipe tipe perkawinan ini menunujukan antara lain bahwa konflik adalah sebuah elemen penting dalam perkawinan. KOMUNIKASI DALAM KONFLIK Bagian ini meliputi toeri teori tentang konflik relasional. Selama bertahun tahun banyak pendekatan yang sudah muncul untuk studi konflik ini, dan sepertinya dalam banyak bidang teoritis, pekerjaan ini tidak semuanya konsisiten akibatnya mendefinisikan konflik menjadi sulit. Charles Watkins menawarkan sebuah analisis tentang kondisi kondisi esensial dari konflik, yang membentuk sebuah definisi operasional. 1. Konflik menunutut setidaknya dua pihak yang mampu menjatuhkan sanksi terhadap satu sama lain

2. Konflik muncul akibat adanya sasaran yang sama sama di kehendaki tetapi sama sama tidak bisa dicapai. 3. Setiap pihak di dalam sebuah konflik memiliki empat kemungkinan alternative tindalan a) Untuk mencapai sasaran yang sama sama di inginkan b) Untuk mengakhiri konflik c) Untuk menjaruhkan sanksi kepada lawan d) Untuk mengkomunikasikan sesuatu kepada lawan. 4. Pihak pihak didalam konflik mungkin memiliki system nilai atau persepsi yang berbeda beda. 5. Setiap pihak memiliki sumber daya yang bisa ditingkatkan atau diturunkan implementasi alternative alternative tindakan. 6. Konflik berakhir hanya bila setiap pihak merasa puas bahwa ia telah menang atau kalah atau meyakinibahwa kemungkinan kerugian dengan meneruskan konflik tersebut lebih besar daripada kemungkinan kerugian mengakhiri konflik itu. Satu keuntungan dari definisi Watkins adalah, bahwa dia meliputi kemungkinan komunikasi. Ironisnya, banyak teori tentang konflik telah mengabaikan aspek komunikasi, dan ada sedikit teori yang berbasis komunikasi tentang konflik relasional. Dua diantaranya di pilih untuk di bahas yakni teori permainan dan teori penghubungan. TEORI PERMAINAN Teori ini dikembangkan oleh John Von Neumann dan Oskar Morgenstein sebagai alat untuk mempelajari perilaku ekonomi dan sejak saat itu telah memberikan dasar bagi sarana saran penelitian yang popular dalam berbagai disiplin. Bagi para peneliti yang mempelajari proses proses pembuatan keputusan, teori permainan memberikan sebuah pendekatan yang bermanfaat, dan ia sudah digunakan secara luas untuk mempelajari konflik. Teori permainan sendiri bukanlah sebuah teori komunikasi relasional, meskipun ia membawa implikasi implikasi terhadap hubungan. Karena penelitian permainan melibatkan gerakan gerakan dan gerakan gerakan balasan dari individu. Teori ini menekankan keputusan rasional, ia melibatkan permainan permainan strategi. Dalam permainan semacam itu seorang pemain membuat pilihan ( gerakan ) yang mengarah pada imbalan atau hukuman berdasarkan gerakan orang lain. Tujuannya adalah untuk memaksimalkan keuntungan dan meminimalkan kerugian. Thomas Steinfart dan Gerald Miller meninjau literature dimana permainan digunakan untuk menyelidiki proses dalam konflik. Dengan menggunakan permainan sebagai analogi, mereke membuat daftar tiga cara pihak pihak di dalam konflik memperhitungkan strategi lawan mereka masing masing. 1. Mengamati gerakan gerakan lawan dengan beberapa percobaan. 2. Mengamati keseluruhan situasi konflik. 3. Komunikasi secara langsung

Komunikasi langsung sendiri mempunyai tiga keuntungan, diantaranya: 1. Komunikasi sifatnya simbolis dan tidak dapat mendatangkan konsekuensiyang sesungguhnya dari gerakan yang nyata. Jadi, komunikasi merupakan cara untuk mencoba sebuah pemikiran daripada melakukan sesuatu yang mungkin belakangan akan anda sesali. 2. Komunikasi merubah kemungkina kemungkinan gerakan dan dapat mengurangi persaingan di pihak pihak yang terlibat konflik. 3. Komunikasi dapat dihasilkan dengan merubah orientasipihak lain terhadap masalah. Dengan kata lain, anda bisa langsung membujuknya dan merubah apa yang ingin dilakukannya. TEORI PENGHUBUNGAN DARI KONFLIK Teori ini membahas cara cara orang menyimpulkan penyebab penyebab perilaku. Premis dari pendekatan terhadap konflik ini adalah bahwa orang mengembangkan teori teori masing masing untuk menjelaskan konflik yang melibatkan mereka, dan teori teori ini sabagian besar merupakan produk dari penghubungan penghubungan mereka. Dengan kata lain, bagaimana anda menghadapi suatu konflik bergantung pada bagaimana anda menimpakan kesalahan. Menurut Alan SIllar ada tiga strategi umum untuk menyelesaikan konflik yang terlibat dalam hubungan interpersonal. Ini meliputi strategi strategi yang di rancang untuk menghindariatau meinimalkan konflik, strategi strategi yang bertujuan untuk menang dalam sebuah konflik, strategi strategi yang bertujuan untuk menghasilkan hasil positif bagi kedua pihak. Sillar telah membenahi skemanya selama bertahun tahun dan merujuk pada kategori kategori ini secara sederhana sebagai perilaku menghindar, perilaku kompetitif, dan perilaku koperatif. Perilaku menghindar tidak melibatkan komunikasi atau dengan kata lain tidak menggunakan komunilkasi langsung, perilaku kompetitif melibatkan pesan pesan negative , dan perilaku koperatif menggunakan komunikasi yang lebih terbuka dan positif. SKEMA PENGKODEAN MANAJEMEN KONFLIK Perilaku perilaku menghindar Penyangkalan dan pengelakan 1. Penyangkalan langsung, orang secara eksplisit menyangkal adanya konflik 2. Penyangkalan implisit, pernyataan yang menyiratkan bantahan dengan memberikan alasan untuk sesuatu pernyataan bantahan meskipun bantahan itu tidak eksplisit. 3. Jawaban mengelak, kegagalan untuk mengakui atau membantah adanya konflik yang mengikuti pernyataan atau pertanyaan tentang konflik itu oleh pasangan.

Manajemen topic 1. Pergeseran topic, sebuah perhatian ditengah aliran pembicaraan yang natural yangmenjauhkan diskusi itu dari inti permasalahan karena topic itu berlaku untuk pihak pihak yang terlibat. 2. Penghindaran topic, pernyataan secara eksplisit menhentikan diskusi tentang sebuah masalah konflik sebelum sepenuhnya didiskusikan. Jawaban yang tidak jelas 1. Jawaban abstrak, membicarakan masalah pada tingkat abstraksi yang tinggi. Tidak ada rujukan yang dibuat menyangkut keadaan sesungguhnya diantara pihak pihak yang terlibat. 2. Pernyataan pernyataan yang tidak jelas, pernyataan yang tidak memperkuat dan tidak pula menyangkal adanya konflik dan pernyataan pernyataan yang bukan merupakan jawaban berkelit atau pergeseran topic. 3. Pertanyaan pertanyaan yang tidak jelas, pertanyaan yang tidak terfokus atau pertanyaan yang mengulangi pertanyaan yang diajukan oleh peneliti. 4. Jawaban procedural, pernyataan pernyataan procedural yang menggantikan pembahasan tentang konflik. Jawaban jawaban yang tidak penting. 1. Bercanda, canda yang tidak bermusuhan yang menyela atau melengkapi pertimbangan serius tentang masalah.

Perilaku perilaku koperatif Jawaban jawaban analitis 2. Deskripsi, deskripsi yang non evaluative, tidak menyalahkan, dan factual tentang sifat dan lingkup masalah. 3. Kualifikasi, pembahasan secara eksplisit membatasi sifat dan lingkup masalah dengan mengaitkan masalah itu pada peristitiwa peristiwa behavioral yang spesifik. 4. Pengungkapan, memberikan informasi yang tidak dapat diamati yaitu informasi tentang pemikiran, perasaan, maksud, penyebab penyebab perilaku, atau pengalaman masa lalu yang relevan dengan masalah yang tidak sempat diamati oleh pasangan itu. 5. Pengungkapan yang diminta, secara spesifik meminta informasi menyangkut orang lain yang tidak sempat diamatinya sendiri.

6. Kritikan yang diminta. Pertanyaan pettanyaan yang tidak bermusuhan yang meminta kritikan tentang diri seseorang. Jawaban jawaban yang mendukung. 1. Empati atau dukungan, mengungkapkan pengertian dukungan, atau penerimaan terhadap orang lain atau mengomentari sifat sifat positif orang lain atau minat minat, sasaran, dan kesesuaian yang sama 2. Konsesi, pernyataan pernyataan yang mengungkapkan kesediaan untuk merubah, menunjukan fleksibilitas, atau mempertimbangkan solusi konflik yang bisa diterima. 3. Menerima tanggung jawab, pernyataan pernyataan yang menghubungkan suatu kualitas bagi masalah kepada seseorang. Perilaku kompetitif Jawaban jawaban yang konfrontatif 1. Kritikan pribadi, menyatakan atau menyiratkan sebuah evaluasi negative tentang pasangan. 2. Penolakan, menolak pendapat pasangan dengan cara yang menyiratkan penolakan pribadi seperti halnya ketidaksepakatan. 3. Pernyataan pernyataan bermusuhan, ancaman, tuntutan, argumentasi, atau pernyataan pernyataan prespektif lainnya yang secara implisit menyalahkan pasangan dan mengusahakan perubahan dalam perilaku pasangan tersebut. 4. Pertanyaan bermusuhan, pertanyaan pertanyaan yang menyalahkan orang lain. 5. Penghubungan yang bersifat dugaan, menghubungkan pemikiran, perasaan, maksud, dan penyebab dengan pasangan yang tidak diakui oleh pasangan tersebut. Kode ini adalah lawan dari pengungkapan yang diminta. 6. Penyangkalan tanggung jawab, pernyataan pernyataan yang membantah atau meminimalkan tanggung jawab pribadi untuk konflik tersebut.

KOMENTAR DAN PEMBAHASAN Dalam bab ini kita telah melihat sepintas lalu pada beberapa dari teorisasi yang paling penting dalam komunikasi interpersonal. Banyak diantara teori teori yang dibahas disini sudah sangat popular dan berpengaruh. Kebanyakan memfokuskan pada sifat interaktifdan relasional dari komunikasi interpersonal. Tidak adanya penekanan pada sifat sifat individu dan perilaku personal menjadikan kumpulan teori ini berlawanan dengan teori teori yang lebih kognitif tentang penyajian dan penerimaan pesan yang dicakup dalam bab 6 dan 7. Teori teori kognitif orientasinya psikologis, dengan menjelaskan perbedaan perbedaan komunikasi pengertian variable variable individu seperti sifat, perilaku, atau struktur kognitif. Teori teori relasional

sifatnya lebih interaksional dalam melihat apa yang berlangsung di antara para komunikator ketimbang apa yang berlangsung di dalam diri mereka.