Anda di halaman 1dari 15

Farmakoterapi Diabetes Melitus Tipe 2 Pada Ibu Meyusui

NAMA KELOMPOK
I Gst Agung Made Agestiawan A.A Feby Danuswari Putu Lita Astriani Ni Putu Yulia Purnami Gusti Ayu Eka Pertiwi (1008505031) (1008505054) (1008505056) (1008505059) (1008505060)

Definisi Diabetes Melitus


Diabetes mellitus (DM) adalah gangguan metabolisme yang ditandai dengan hiperglikemia yang berhubungan dengan abnormalitas metabolisme karbohidrat, lemak, dan protein yang disebabkan oleh penurunan sekresi insulin atau penurunan sensitivitas insulin, atau keduanya dan menyebabkan komplikasi kronis mikrovaskuler, makrovaskuler, dan neuropati (Sukandar dkk, 2008)

Definisi DM tipe 2
Diabetes melitus tipe 2 (Non-InsulinDependent Diabetes mellitus, NIDDM) merupakan tipe diabetes mellitus yang terjadi bukan disebabkan oleh rasio insulin di dalam sirkulasi darah, melainkan merupakan kelainan metabolisme yang disebabkan oleh mutasi pada banyak gen, termasuk yang mengekspresikan disfungsi sel , gangguan sekresi hormon insulin, resistansi sel terhadap insulin terutama pada hati menjadi kurang peka terhadap insulin serta yang menekan penyerapan glukosa oleh otot lurik namun meningkatkan sekresi gula darah oleh hati.

Diabetes melitus gestasional (GDM) adalah keadaan diabetes yang berlangsung selama kehamilan dimana terjadi intoleransi glukosa yang disebabkan terjadinya perubahan hormonal selama kehamilan.

Diabetes mellitus selama kehamilan umumnya bersifat sementara atau temporer yang umumnya akan pulih dengan sendirinya beberapa saat setelah melahirkan atau selama proses menyusui, namun wanita yang pernah menderita GDM akan memiliki resiko menderita diabetes melitus tipe 2 yang lebih besar dimasa yang akan datang.

Penyebab DM tipe 2

kelainan metabolisme yang disebabkan oleh mutasi pada banyak gen (termasuk yang mengekspresikan disfungsi sel )
resistensi sel terhadap insulin terutama pada hati menjadi kurang peka terhadap insulin serta yang menekan penyerapan glukosa oleh otot lurik namun meningkatkan sekresi gula darah oleh hati. resistensi sel terhadap insulin terutama pada hati menjadi kurang peka terhadap insulin serta yang menekan penyerapan glukosa oleh otot lurik namun meningkatkan sekresi gula darah oleh hati. Faktor genetik Pengaruh lingkungan Obesitas diet tinggi lemak dan rendah serat Kurang Olah raga.

Penyebab DM tipe 2

Penyebab DM tipe 2

FAKTOR
RESIKO

Prevalensi DM tipe 2 pada Ibu Menyusui


Sekitar 7% wanita hamil mengalami diabetes gestasional dengan prevalensi berkisar dari 1% sampai 14% tergantung pada populasi penelitian dan tes yang digunakan untuk diagnosis.

Pada penelitian yang dilakukan di Qatar diketahui bahwa prevalensi gestational diabetes melitus sebesar 16 % dan secara signifikan dialami oleh wanita dengan umur 35-45 tahun. Penyakit diabetes ini biasanya berlanjut setelah melahirkan, sehingga pada saat menyusui kemungkinan ada ibu masih menderita diabetes mellitus (Bener, et al, 2011).

Gejala DM tipe 2
Gejala tipikal yang sering dirasakan penderita diabetes antara lain poliuria (sering buang air kecil), polidipsia (sering haus), dan polifagia (banyak makan/mudah lapar). Selain itu sering pula muncul keluhan penglihatan kabur, koordinasi gerak anggota tubuh terganggu, kesemutan pada tangan atau kaki, timbul gatal-gatal yang seringkali sangat mengganggu (pruritus), dan berat badan menurun tanpa sebab yang jelas. Pada DM Tipe 2 gejala yang dikeluhkan umumnya hampir tidak ada. DM Tipe 2 seringkali muncul tanpa diketahui, dan penanganan baru dimulai beberapa tahun kemudian ketika penyakit sudah berkembang dan komplikasi sudah terjadi. Penderita DM Tipe 2 umumnya lebih mudah terkena infeksi, sukar sembuh dari luka, daya penglihatan makin buruk, dan umumnya menderita hipertensi, hiperlipidemia, obesitas, dan juga komplikasi pada pembuluh darah dan syaraf (Depkes RI, 2005)

Komplikasi yang mungkin terjadi pada ibu menyusui dengan DM tipe 2

Laktogenesis
mempengaruhi profil kardiometabolik darah
penurunan profil atheronergic lipid penurunan jumlah gula darah (hipoglikemi)
penurunan konsentrasi insulin.

Rekomendasi Terapi DM tipe 2 pada Ibu Menyusui


Terapi diabetes yang aman pada ibu menyusui adalah insulin karena insulin tidak diekskresikan melalui air susu ibu (Spencer, et al, 2001). Pasca melahirkan, kebanyakan pasien ragu untuk melanjutkan penggunaan insulin karena ketidaknyamanan atas rasa sakit yang ditimbulkan akibat penggunaan insulin, maka terapi obat oral yang dapat diberikan : Metformin sebagai lini pertama pengobatan diabetes secara oral selama laktasi. Tetapi sulfonilurea generasi pertama (tolbutamid dan klorpropamid) kedua (glipizide, glyburide) juga aman digunakan selama laktasi,namun penggunannya perlu perhatian khusus (Glatstein, et al, 2009).

KIE
Baik pada pemberian insulin maupun OAAs juga harus dilakukan monitoring rutin pada kadar gula darah pasien sehingga efektifitas terapi dapat dicapai karena menyusui dapat menyebabkan atan sensitivitas insulin sehingga menurunkan kadar gula darah. Konseling juga harus diberikan pada pasien dengan meminum obat setelah memberikan ASI atau setelah bayi tidur untuk meminimalisir paparan obat kepada bayi (Ward, et al, 2001). Untuk membantu mencegah kadar glukosa darah yang rendah selama menyusui, disarankan : Rencanakan untuk makan teratur sebelum atau selama menyusui Minum cairan yang cukup (rencana untuk minum segelas air atau minuman bebas kafein ketika menyusui) (American Diabetic Association, tt).

Untuk penggunaan insulin maupun obat antidiabetik oral disarankan untuk :


Tidak meninggalkan makan (pagi, siang atau malam)
Tidak mengkonsumsi obat antidiabetes dalam dosis lebih besar dari pada seharusnya. Tidak mengkonsumsi obat-obatan lain yang dapat meningkatkan risiko hipoglikemia Tidak makan terlalu sedikit, lebih sedikit dari yang disarankan oleh dokter atau ahli gizi

Tidak berolah raga terlalu berat

Tidak minum alkohol

Hindari stress

Saran Nutrisi yang diperlukan


Protein Protein penting pada wanita hamil dan menyusui untuk suplai darah dan pembentukan jaringan pada janin, serta pemulihan otot uterus pasca melahirkan. Wanita hamil dan menyusui membutuhkan sekitar 71 gram protein per hari. Asam folat
Asam folat merupakan vitamin yang diperlukan untuk pembentukan jaringan pada bayi. Kadar asam folat yang rendah dapat menyebabkan cacat lahir seperti spina bifida. Cacat ini terbentuk dari awal kehamilan. Asam folat banyak terdapat pada sayuran hijau, brokoli dan jeruk. Jumlah asupan asam folat sebelum kehamilan adalah 400 mikrogam perhari, 600 mikrogram perhari selama kehamilan dan 500 mikrogram perhari selama menyusui.

Kalsium
Kalsium dibutuhkan oleh bayi untuk proses pembentukan tulang. Kalsium diperoleh bayi melalui air susu ibu. Wanita hamil dan menyusui dengan usia 19 tahun keatas membutuhkan sekitar 1000 miligram kalsium perhari, sedangkan wanita berusia dibawah 19 tahun membutuhkan 1300 miligram kalsium perhari.

Zat besi
Kekurangan zat besi merupakan hal yang paling sering terjadi pada ibu hamil dan menyusui. Zat besi dibutuhkan oleh ibu dan bayi untuk persediaan darah. Pada saat dalam kandungan, bayi menyimpan zat besi yang akan digunakan setelah bayi tersebut lahir sehingga menyebabkan kebutuhan zat besi pada ibu hamil lebih besar dibandingkan pada ibu menyusui. Ibu hamil membutuhkan sekitar 27 miligram zat besi perhari, sedangkan pada ibu menyusui memerlukan zat besi sekitar 10 miligram perhari. Untuk memenuhi kebutuhan zat besi, dokter biasanya dokter merekomendasikan zat besi dalam bentuk suplemen (Shertzer, 2009)

Thank You