Anda di halaman 1dari 15

A. Pendahuluan 1.

Latar Belakang Tanah sebagai lahan pertanian merupakan salah satu unsur produksi yang turut menentukan keberhasilan suatu usaha tani. Selain untuk usahatani, tanah juga digunakan untuk berbagai keperluan lainnya, seperti untuk perkampungan, perkotaan, perumahan, perkantoran, jalan dan sebagainya. Karena itu tanah mempunyai nilai dan peranan yang dinamis bagi keperluan hidup manusia. Sumberdaya tanah di Indonesia tersebar di kepulauan Nusantara dan sebagian besar merupakan lahan kering yang memiliki potensi untuk keperluan pertanian. Potensi lahan kering tersebut berbeda antara satu daerah dengan daerah lainnya, tergantung dari berbagai faktor antara lain : topografi/bentuk wilayah, geologi dan keadaan tanah, iklim (suhu, curah hujan, angin dan penyinaran), keadaan sumberdaya air dan keadaan sosial ekonomi masyarakat. Adanya perbedaan potensi itu menyebabkan pula perlunya pemilihan jenis usaha tani dan macam teknologi yang sesuai dengan potensi lahan kering tersebut. Pada waktu hujan deras. Aliran ini akan mengikis dan menghanyutkan lapisan tanah bagian atas yang relatif lebih subur, sehingga tanah di tempat itu makin lama makin tandus. Pada tingkat kerusakan yang cukup parah, akhirnya tanah tidak dapat lagi berfungsi sebagai unsur produksi seperti yang diharapkan. Usaha-usaha konservasi yang dapat dilakukan antara lain dengan membangun teras (sengkedan/pe-matang) dan saluran pembuangan air, menanam tanaman penguat teras, mengembalikan sisa-sisa tanaman ke dalam tanah atau dapat pula menanam pohon sebagai tegakan tetap pada lahan kering yang miring. Untuk mengurangi resiko kegagalan berusahatani di lahan kering, sangat dianjurkan melakukan pola aneka usahatani secara terpadu. Misalnya pada luas lahan tertentu diusahakan tanaman semusim, tanaman perkebunan, tanaman makanan ternak dan dibarengi memelihara ternak.

Pemilihan jenis usahatani ini disesuaikan dengan iklim setempat, keinginan para petani serta berbagai aspek dalam pemasaran hasilnya. 2. Tujuan Maksud intensifikasi pertanian lahan kering adalah upaya pengelolaan lahan dalam rangka meningkatkan serta mendayagunakan lahan tersebut agar dapat berdayacjuna dan berhasilguna secara optimal, sehingga dapat memenuhi kebutuhan hidup masyarakat dan sekaligus dapat melestarikan lingkungan secara berkesinambungan. Tujuannya adalah : a. Meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat tani. b. Meningkatkan kemampuan petani pemilik dalam usahataninya. c. Meningkatkan produktifitas tanah, baik dalam bentuk tanaman semusim, tanaman kayu-kayuan maupun hasil lainnya. d. Meningkatkan kelestarian tanah dan air. 3. Sasaran Usaha intensifikasi pertanian memerlukan berbagai sarana produksi serta tenaga kerja manusia sebagai pengelola usahatani. Tanpa tersedia sarana produksi dan tenaga kerja manusia, maka usaha intensifikasi pertanian itu sulit dilakukan. Oleh sebab itu yang menjadi sasaran lokasi usaha intensifikasi pertanian di sini adalah lahan kering tadah hujan milik rakyat yang digarap untuk tanaman semusim. a. Usaha Konservasi Kondisi lahan kering mempunyai permasalahan yang harus diatasi yaitu tingkat erosi yang tinggi, kesuburannya rendah serta jumlah air yang sangat terbatas. Karena itu pemanfaatan lahan kering untuk usahata-ni harus disertai dengan usaha konservasi tanah dan air.

Ada tiga cara pendekatan dalam usaha konservasi yaitu : a. Memperbaiki dan menjaga keadaan tanah agar tahan terhadap bahaya erosi. b. Melindungi tanah dari jatuhnya air hujan dengan tanaman atau sisasisa tanaman. c. Memperlambat aliran air di permukaan tanah sehingga tidak merusak lahan. Pelaksanaan dari usaha konservasi biasanya dilakukan dengan dua cara, yaitu pertama membuat bangunan-bangunan sipil teKnis dan kedua secara kultur teknis atau vegetatif. B. Tinjauan Pustaka Beberapa pendapat tentang pengertian intensifikasi pertanian dan lahan kering cukup banyak dikemukakan oleh para akhli pertanian. Oleh karena itu dalam brosur ini hanya akan dikemukakan pengertian intensifikasi pertanian lahan kering secara terbatas dan ditujukan untuk daerah lahan kering dengan penduduk cukup padat. Intensifikasi pertanian dapat diartikan sebagai usaha peningkatan dan penggiatan pemanfaatan berbagai macam sarana produksi pertanian secara ekonomis pada suatu luasan lahan tertentu yang disertai melakukan usaha konservasi sumberdaya alam. Tujuannya adalah untuk memperoleh produksi yang tinggi dengan tambahan hasil yang selalu menguntungkan. Lahan kering diartikan sebagai sebidang tanah yang dalam keadaan alamiah memiliki kondisi antara lain : a. peka terhadap erosi, terutama bila tanahnya miring atau tidak tertutup vegetasi b. tingkat kesuburan tanahnya rendah c. air merupakan faktor pembatas dan biasanya tergantung dari curah hujan d. lapisan olah dan lapisan tanah di bawahnya (top soil dan sub soil) memiliki kelembaban yang amat rendah. Dari uraian tersebut, yang diartikan intensifikasi pertanian lahan kering di sini adalah usaha intensifikasi pertanian yang dilaksanakan pada sebidang 3

lahan kering dengan tujuan untuk memperoleh produksi yang tinggi dan menguntungkan dengan disertai usaha-usaha konservasi tanah dan air. Pelaksanaan usaha intensifikasi pertanian tersebut akan lebih berhasil bila dilakukan di daerah yang tenaga kerja dan berbagai sarana produksi pertaniannya cukup tersedia dengan pengelolaan aneka usahatani secara terpadu. C. Pembahasan 1.1 Langkah-Langkah Intensifikasi a. Bangunan Sipil Teknis Bangunan sipil teknis yang perlu dibuat adalah teras dan saluran pembuangan air. Fungsi bangunan tersebut yaitu 1) memperlambat aliran permukaan dan 2) menampung dan menyalurkan air aliran permukaan dengan kekuatan yang tidak merusak. a. Teras Pembuatan teras bermaksud untuk mengubah permukaan tanah miring menjadi bertingat-tingkat untuk mengurangi kecepatan aliran permukaan dan menahan serta menampungnya agar lebih banyak air yang meresap ke dalam tanah. 1) Ada 4 macam teras yang dapat dibuat pada tanah miring, yaitu : Teras uatar, biasanya dibuat pada tempat-tempat dengan curah hujan yang rendah, kemi ringan tanahnya paling besar 3% dan mudah menyerap air. 2) Teras kredit, umumnya diterapkan pada tempat-tempat yang tanahnya sulit menyerap air kemiringan tanahnya 3 - 10% dan curah hujannya tinggi. Tujuannya, terutama ialah untuk mempertahankan kesuburan tanah. 3) Teras guludan, dibuat pada tempat-tempat dengan kemiringan tanah 10 50% dan dilengkapi dengan saluran pembuangan air di sepanjang bagian atas guludan. Tujuannya ialah untuk mengurangi kecepatan air yang

mengalir bila turun hujaa, sehingga erosi dapat dicegah dan peresapan air ke dalam tanah dapat diperbesar. 4) Teras bangku, dibuat pada tanah-tanah dengan kemiringan 10 - 30%. Teras bangku memiliki bidang olah yang dibuat miring 1% ke-arah dalam serta dilengkapi dengan saluran air yang letaknya di sebelah dalam bidang olah teras. b. Saluran Pembuangan Air Saluran pembuangan air merupakan bagian yang harus ada bila teras guludan atau teras bangku dibuat pada tanah miring. Pembuatannya dengan arah memotong garis kontur. Bila keadaan memungkinkan saluran pembuangan air ini ditempatkan pada saluran alam yang ada. Pada saluran pembuangan air biasanya dibuatkan bangunan terjuhan secara bertingkat, mulai dari bagian atas sampai ke bagian terbawah dengan permukaan yang datar. Deretan bangunan terjunan ini berfungsi untuk mengurangi kecepatan aliran permukaan dan mencegah terbentuknya jurang-jurang yang dalam pada saluran pembuangan. Bangunan terjunan dapat dibuat dari bambu atau batu kali. c. Kultur Teknis Usaha konservasi secara kultur teknis atau vegetatif berarti melakukan konservasi dengan menanam berbagai jenis tanaman. Fungsi tanaman tersebut adalah untuk 1) melindungi tanah terhadap daya perusak butir-butir hujan yang jatuh, 2) melindungi tanah terhadap daya perusak aliran air di atas permukaan, dan 3) memperbaiki penyerapan air oleh tanah. d. Jenis tanaman untuk konservasi sebaiknya dipilih tanaman yang dapat berfungsi ganda, produksinya dapat dimanfaatkan oleh manusia atau hewan dan tanamannya baik untuk konservasi tanah dan air. Beberapa cara melakukan konservasi secara kultur teknis adalah :

a. Penanaman

tanaman

penutup

tanah.

Tanaman pentutup tanah berfungsi untuk mencegah erosi, menambah bahan organik tanah dan memperbesar kemampuan tanah untuk menyerap dan menahan air hujan yang jatuh. Ada tiga jenis tanaman penutup tanah yang penting yaitu : 1) Tanaman penutup tanah rendah, seperti Colopogonium mucnnoides Desv, Centrosema pubescens Benth, Ageratum conizoides L (Babadotan) dan beberapa jenis rumputrumputan misalnya akar wangi, rumput gajah dan rumput benggala. 2) Tanaman penutup tanah sedang, berupa semak seperti; beberapa tanaman leguminosa (kacang-Kacangan; yaitu Crotalaria anagyroides, C. juncea L, dan C. striata. b. Tanaman penutup tanah tinggi atau tanaman pelindung,seperti Albizzia falcata Backer dan Leucaena leucocephala (lamtoro gung). Penanaman rumput makanan ternak. Beberapa rumput makanan ternak baik ditanam pada lahan kering untuk konservasi tanah dan air. Bila lahan kering tersebut datar, rumput dapat ditanam tersendiri atau sebagai sisipan diantara tanaman lainnya. Untuk tanah miring yang berteras, rumput tersebut bisa ditanam pada bagian tepi teras atau pada tampingan teras. Contoh rumput makanan ternak yang baik ditanam antara lain rumput gajah, rumput benggala, rumput signal (Brachiaria decumbens Staph) dan rumput setaria (Setaria sphacelata). c. Penanaman dalam jalur. Penanaman dalam jalur (strip cropping) adalah suatu sistem bercocok tanam dengan cara beberapa jenis tanaman ditanam dalam jalur-jalur yang berselang-seling pada sebidang tanah dan disusun memotong lereng atau menurut kontur. Biasanya tanaman yang dipergunakan adalah tanaman pangan atau tanaman semusim yang biasa ditanam berbaris diselingi dengan jalur-jalur tanaman yang tumbuh rapat berupa

tanaman

pupuk

hijau

atau

tanaman

penutup

tanah.

Dalam sistim ini semua pekerjaan pengolahan tanah dilakukan searah dengan jalur, melaksanakan pergiliran tanaman dan penggunaan sisa-sisa tanaman. d. Pergiliran tanaman. Cara penting lainnya untuk konservasi tanah dan air ialah dengan pergiliran tanaman, yaitu sistem penanaman berbagai tanaman secara bergilir dalam urutan waktu tertentu pada sebidang tanah. Pada lahan kering yang berlereng atau tanahnya miring, pergiliran yang efektif untuk pencegahan erosi adalah antara tanaman penghasil bahan pangan dengan tanaman penutup tanah atau pupuk hijau. Selain mencegah erosi, keuntungan lain dari pergiliran tanaman adalah : 1) memberantas hama dan penyakit tanaman melalui pemutusan siklus hidupnya. 2) memberantas tumbuhan pengganggu/gulma. 3) mempertahankan sifat-sifat fisik tanah dengan cara

mengembalikan sisa-sisa tanaman ke dalam tanah. e. Penggunaan sisa-sisa tanaman. Salah satu cara menambah unsur hara tanah yaitu dengan mengembalikan sisa-sisa tanaman ke dalam tanah. Pembenaman sisa tanaman dalam tanah akan mempertinggi kemampuan tanah dalam menyerap air dan memelihara keseimbangan unsur hara tanah. Selain dibenamkan ke dalam tanah, sisa-sisa tanaman dapat pula diletakkan di atas tanah sebagai serasah (mulch) yang dapat mempertahankan kelembaban tanah. Dengan mulching penguapan air tanah dapat diperkecil, sehingga tanaman yang tumbuh pada tanah tersebut dapat tetap hidup. f. Penanaman tanaman penguat teras.

Tanaman penguat teras dapat dipilih jenisnya sesuai dengan keinginan para petani. Bentuk tanaman penguat teras ini dapat berupa pohon-pohon atau rumput-rumputan.

Tanaman yang memenuhi syarat sebagai penguat teras adalah sebagai berikut : 1) mempunyai sistem perakaran intensif sehingga mampu mengikat tanah. 2) tahan pangkas, supaya tidak menaungi tanaman utama. 3) bermanfaat dalam menyuburkan tanah maupun sebagai penghasil makanan ternak. Contoh tanaman penguat teras yang dianjurkan ditanam antara lain lamtoro gung, kaliandra, gamal, akasia, rumput gajah, rumput benggala dan rumput setaria. e. Usaha Peningkatan Produksi Pada prinsipnya usahatani di lahan kering tidak berbeda dengan usahatani di lahan basah. Persoalannya adalah bagaimana caranya mengelola masalah air. Oleh karena itu usaha intensifikasi pertanian lahan kering harus dibarengi dengan usaha konservasi tanah dan air. Dengan demikian, maka produksi pertanian dapat diharapkan meningkat. Dalam rangka peningkatan produksi pertanian di lahan kering, beberapa usaha yang perlu dilakukan adalah penggunaan varietas unggul, pengolahan tanah, menerapkan pola tanam, pemupukan dan pemberantasan hama dan penyakit tanaman. a. Penggunaan Varitas Unggul Untuk memperoleh hasil yang tinggi, benih atau bibit harus dari varietas yang unggul dan sesuai dengan kondisi lahan kering yang ada. Demikian pula bila anda akan memelihara ternak, pilihlah jenis ternak yang unggul sesuai dengan iklim di lahan kering. Jenis atau varietas unggul adalah varietas yang memiliki satu atau lebih sifat-sifat unggul yang sesuai dengan kondisi lahan dan iklim tempat varietas itu diusahakan. 8

Untuk tanaman, sifat-sifat unggul itu antara lain produksinya tinggi, respon terhadap pemupukan, efisien dalam pemakaian air, tahan terhadap hama dan penyakit. Sedangkan untuk ternak, sifat unggul tersebut misalnya saja banyak anak, tahan penyakit, pertumbuhan.cepat dan mudah beradaptasi. Beberapa jenis tanaman padi dan palawija yang cocok untuk lahan kering antara lain,padi varietas IR 36, Gati dan C-22 Gama 6, Cartuna, Jagung varietas DM R 5, Harapan baru dan Bogor DM R 4, Ar juna, Parikesit, kacang tanah varietas Gajah/Kidang serta kacang uci varietas lokal, kedele varietas orba, galunggung, lokon dan guntur; kacang hijau varietas merak, bakti. b. Pengolahan Tanah Pengolahan tanah lahan kering hendaknya dengan membuat teras yang sempurna agar kesuburan tanah dapat terpelihara. Selain itu disarankan agar : 1) Tanah diolah sebaik mungkin. 2) Pengolahan tanah cukup 2 kali, yaitu sebelum dan pada awal musim hujan. 3) Jika tanahnya miring, olahlah tanah menurut kontur dan membuat teras. c. Pola Tanam Penerapan pola tanam pada lahan kering bermaksud agar sepanjang tahun terdapat tanaman. Dengan demikian erosi dapat diperkecil dan sekaligus lahan berproduksi. Beberapa pola tanam yang telah dikenal dan dapat diterapkan pada usaha intensifikasi pertanian lahan kering, yaitu : a) Tumpang sari. Pada pola tanam tumpang sari, dua atau lebih jenis tanaman ditanam dalam barisan yang teratur. Salah satu dari jenis tanaman itu merupakan tanaman utama, yakni tanaman yang hasilnya di harapkan paling banyak.

Menurut waktu tanamnya, tumpang sari ada dua macam : 1) tumpang sari sama umur (intercropping), yaitu bila waktu penanaman atau panennya hampir bersamaan.

Contoh : Tumpang sari antara jagung dengan kedelai, kacang tanah atau dengan kacang hijau. Tumpang sari antara padi gogo dengan jagung. 2) tumpang sari beda umur (interplanting), yaitu bila waktu penanaman atau panennya tidak bersamaan.

Contoh : tanaman semusim yang ditanam sebagai tanaman sela di antara tanaman tahunan. Tanaman sisipan. Pada pola ini suatu jenis tanaman ditanam di antara jenis tanaman lain yang hampir dipanen. Contoh: kedelai ditanam di antara barisan tanaman jagung yang akan dipanen. 3) Tanaman beruntun. Pada pola tanam ini suatu jenis tanaman ditanam segera sesudah jenis tanaman lain dipanen.

Contoh : kedelai ditanam segera sesudah jagung atau padi gogo dipanen. 4) Pola tanam kombinasi. Pola tanam ini telah dicoba selama beberapa tahun di lahan kering daerah transmigrasi Way Abung Lampung dengan hasil yang baik. Dengan pola tanam kombinasi, maka selama waktu satu tahun ketiga macam pola tanam yang terdahulu dilaksanakan untuk paling sedikit 5 jenis tanaman yang secara ekonomis menguntungkan. d. Pemupukan Tujuan pemupukan antara lain untuk : a) menyediakan beberapa unsur hara sebagai penyubur tanaman, terutama berupa unsur Nitrogen (N), Fosfat (P) dan Kalium (K). b) memperbaiki struktur dan kegemburan tanah.

10

c) mengurangi tingkat keasaman tanah, yaitu dengan melakukan pengapuran. Namun pemupukan pada lahan kering tidak akan

menguntungkan sebelum usaha-usaha pencegahan erosi dilaksanakan. Ada dua jenis pupuk, yaitu pupuk organik dan pupuk anorganik. Pupuk organik sering disebut pupuk alam dan pupuk anorganik disebut juga pupuk buatan.Contoh pupuk alam ialah pupuk hijau, kotoran ternak dan kompos. Urea, TSP, ZA dan KCI adalah sebagian contoh pupuk buatan. Daun tanaman dari berbagai jenis kacangkacangan atau polong-polongan, baik digunakan sebagai pupuk hijau. Misalnya daun lamtoro, kaliandra dan orok-orok. Begitu pula kotoran dari berbagai macam ternak sangat baik digunakan untuk memupuk tanaman. Bila pupuk kandang dan kompos digunakan, harus dipilih yang sudah masak agar dapat langsung dimanfaatkan tanaman. Jika belum masak, maka akan berpengaruh jelek terhadap pertumbuhan tanaman. Jumlah pupuk alam atau pupuk buatan yang diberikan pada tanaman sebaiknya disesuaikan dengan tingkat kesuburan lahan kering tersebut serta keperluan tanaman. Waktu pemupukan yang tepat juga penting diketahui. Pemberian pupuk alam biasanya sebelum tanam, yaitu ketika mengolah tanah. Sedangkan pupuk buatan diberikan sesuai dengan tingkat pertumbuhan/umur tanaman. e. Perlindungan Tanaman Perlindungan tanaman bertujuan agar tanaman terhindar dari gangguan berbagai macam hama dan penyakit yang merugikan. Usaha perlindungan dapat berupa pencegahan maupun pemberantasan. Usaha pencegahan antara lain pemberian pestisida pada tanah setelah diolah, pemberian pestisida pada bibit-bibit tanaman serta

penyemprotan tanaman secara teratur. Sedangkan usaha pemberantasan antara lain penyemprotan hama dan penyakit yang menyerang, pencabutan tanaman yang terserang dan atau membakar tanaman yang terserang.

11

Untuk melindungi tanaman, berbagai racun hama/penyakit dapat digunakan. Tapi pilihlah racun yang dapat bekerja secara efektif dan sesuai untuk melindungi tanaman yang anda usahakan. Juga mengenai dosis serta waktu pemberiannya perlu diketahui dengan tepat. Untuk itu bacalah petunjuk pemakaiannya yang tertera pada label. 1.2 Dampak Intensifikasi Kegiatan intensifikasi pertanian ini menimbulkan dampak positif dan dampak negatif terhadap produksi dan ekologi terutama di Indonesia. Dampak positif yang didapatkan dari intensifikasi pertanian antara lain meningkatnya produksi padi dan gandum sehingga pemenuhan pangan pun (karbohidrat) ikut meningkat. Sedangkan dampak negatif yang dihasilkan antara lain : a. Dampak dari Pengolahan Tanah Para petani mengolah tanah dengan cara membajak sawahnya dan ketika itu sawah dialiri oleh air hingga tergenang. Kelebihan air dialirkan ke saluran air menuju sungai dan terjadi pencucian unsur hara yang terbuang ke sungai. Pembajakan dengan menggunakan alat berat seperti traktor juga dapat merusak struktur tanah dan kandungan bahan organik tanah sehingga menyebabkan tanah menjadi mampat akibat dari tidak lancarnya aerasi dan proses dekomposisi yang tidak optimal sehingga menyebabkan tanah menjadi susah diolah. b. Dampak dari Pemupukan Pemupukan dapat menyebabkan tanah menjadi asam (pH tanah menurun), sehingga produktivitas tanaman pertanian akan

merosot. Unsur nitrogen

yang terkandung dalam pupuk juga dapat

menyebabkan terbentuknya larutan nitrit di dalam tanah yang dapat meresap ke dalam sumur penduduk yang dekat dengan lahan pertanian. Air sumur yang mengandung nitrit dapat menyebabkan munculnya penyakit bayi biru (blue baby), yakni tubuh bayi yang kebiru-biruaan karena kekurangan oksigen. Bayi yang kekurangan oksigen akan

12

mengalami gangguan pertumbuhan otak. Pemupukan yang berlebihan dan larut ke dalam air juga dapat menyebabkan meningkatkan kesuburan sungai (eutrofikasi). Ganggang dan tumbuhan sungai, misalnya eceng gondok akan tumbuh dengan subur dan mengakibatkan hewan di air kekurangan

oksigen sehingga mengalami kematian. Selain itu, meningkatnya kesuburan tumbuhan air juga dapat menyebabkan terjadinya

pendangkalan pada waduk atau bendungan. Pupuk hijau dan pupuk kandang merupakan pupuk yang dapat memperbaiki struktur tanah, menggemburkan tanah dan juga menyuburkan tanah. Untuk mengurangi dampak negatif penggunaaan pupuk buatan perlu diselingi dengan penggunaan pupuk kandang dan pupuk hijau. c. Dampak dari Pestisida 1) Hama dan gulma menjadi resisten atau kebal 2) Resurgensi atau timbulnya kembali hama tersebut 3) Timbul ledakan populasi hama atau gulma 4) Pencemaran lingkungan hidup 5) Keracunan pada manusia 1.3 Peran Petani Dalam Intensifikasi Pertanian Petani memiliki peran yang sangat penting dalam intensifikasi pertanian, namun terkadang para petani kurang diperhatikan oleh pemerintah. Kebijakan pemerintah kerap tidak berpihak pada petani misalnya saja harga bibit dan pupuk yang tinggi namun pendapatan petani masih tetap rendah sehingga pendapatannya tidak sebanding dengan apa yang telah mereka keluarkan. Peranan petani dalam intensifikasi pertanian sangat kuat tercermin pada pembuatan benih padi yang dibuat secara swadaya melalui bantuan penyuluhan. Pembuatan benih padi dilakukan karena tingginya harga benih yang diedarkan oleh Departemen Pertanian setempat. Dari kemampuan pembuatan benih yang mereka miliki petani lokal mampu

13

membuat benih yang unggul sehingga mereka dapat meningkatkan pendapatan dari padi yang mereka kelola. D. Kesimpulan Intensifikasi adalah suatu kebijaksanaan yang diambil pemerintah dalam rangka memenuhi kebutuhan pangan di Indonesia seiring dengan pertambahan penduduk yang semakin meningkat. Intensifikasi pertanian dapat ditempuh melalui panca usaha tani yaitu; pemilihan dan penggunaan bibit unggul, pengolahan lahan pertanian, pengaturan irigasi, pemberantasan organisme pengganggu tanaman atau hama, dan pemupukan sesuai aturan yang ditentukan. Dampak positif yang didapatkan dari intensifikasi pertanian antara lain meningkatnya produksi sehingga kebutuhan pangan dapat terpenuhi. Dampak negatif dari intensifikasi pertanian yaitu, tanah yang mampat akibat pengolahan dengan alat berat, ledakan hama yang telah resisten terhadap pestisida, penurunan kualitas tanah akibat pemberian pupuk yang berlebihan, serta keracunan yang dialami manusia akibat dari penggunaan pestisida yang terus menerus.

14

DAFTAR PUSTAKA Abdurachman. Pemanfaatan lahan. http://ftp.pustakadeptan.go.id/publikasi/p3221034.pdf. Diakses pada Kamis, 21 November 2013. Bambang 2000. Dasar-dasar Ilmu Tanah. PT Raja Grafindo Persada. Jakarta. Benny Joy 2013. Intensifikasi lahan http://pupukabg.com/Teknologi_Pemulih_lahan_sawah.php. Diakses pada Kamis, 21 November 2013.

Fairhurst et al 2007 Peranan Bahan Organik dalam Sistem Usaha Tani Konservasi. Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan. Jakarta. Nazarudin et al 2010. Sistem Intensidfikasi Padi (The system of Rice Intensification- SRI). Gramedia. Jakarta. Pusat Penelitian Tanah dan Agroklimat. 2000. Statistik Sumber Daya Lahan/Tanah Indonesia. Pusat Penelitian Tanah danAgroklimat. Bogor. 301 hlm. Simarmata 2008. Mineralization of Nitrogen in Soil Amended with Organic Waste. Jurnal Environment Quality. 15(2):1993-1998.

15