Anda di halaman 1dari 4

LAPORAN

Uji Kandungan Glukosa dan Protein dalam Urin

Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Patologi

Disusun oleh: 1. Isnaini Wulandari 2. Karisma Dwijayanti 3. Laili Kusuma Ardani 4. Mega Anistya K 5. Melda Rahma P 6. Nafiatun Aliyya 7. Nanda Nur Fatmi A 8. Nurindah Intan K 9. Pandu Cahya Aditama 10. Priska Cesaria Safitri NIM. P07120112022 NIM. P07120112023 NIM. P07120112024 NIM. P07120112025 NIM. P07120112026 NIM. P07120112027 NIM. P07120112028 NIM. P07120112029 NIM. P07120112030 NIM. P07120112031

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA POLITEKNIK KESEHATAN YOGYAKARTA JURUSAN KEPERAWATAN 2013

A. Dasar Teori Sebagai alat ekskresi, ginjal menghasilkan urine. Pembentukan urine terjadi melalui beberapa tahap, yaitu filtrasi, rebsorpsi, dan augmentasi. Filtrasi merupakan proses penyaringan darah yang terjadi di glomerulus, dan menghasilkan urine primer yang masih mirip plasma darah namun tidak mengandung protein. Lalu urine primer mengalir menuju tubulus kontortus proksimal untuk mengalami reabsorpsi, dalam proses ini terjadi penyerapan kembali zat-zat yang masih berguna seperti glukosa, asam amino, dan ion-ion organik dan menghasilkan urine sekunder yang komposisinya berbeda dengan urine primer karena sudah tidak mengandung zat-zat yang dibutuhkan oleh tubuh namun kadar ureanya sangat tinggi. Setelah itu, terjadi proses augmentasi di tubulus kontortus distal yang menghasilkan urine yang sesungguhnya. Urine primer tidak mengandung protein dan urine sekunder tidak mengandung protein dan glukosa. Namun apabila glukosa turut di keluarkan dalam urine dan kadar gula dalam darah sampai di atas 160180 mg/dl, maka ginjal akan memerlukan air dalam jumlah yang banyak untuk mengencerkan glukosa tersebut. Sehingga akan terjadi berbagai gangguan yang dialami oleh ginjal dalam menjalankan system

ekskresinya seperti, poliurea, diabetes mellitus, batu ginjal, dll. Dalam uji kandungan glukosa urin dengan benedict, jika positif terdapat glukosa maka akan terdapat endapan merah bata setelah dilakukan pemanasan. Dalam uji kandungan protein dalam urin dengan biuret, jika positif terdapat urin maka warnanya akan berubah menjadi biru setelah tercampur beberapa menit.

B. Alat dan Bahan 1. Alat dan Bahan Uji Kandungan Glukosa Urin dengan Benedict a. b. c. d. e. Lampu bunsen Korek api Pipet tetes Urin segar Rak tabung reaksi

f. g.

Reagen benedict Penjepit tabung reaksi

2. Alat dan Bahan Uji Kandungan Protein Urin dengan Biuret a. b. c. d. e. Tabung reaksi Rak tabung reaksi Pipet tetes Urin segar Larutan biuret

C. Cara Kerja 1. Cara Kerja Uji Kandungan Glukosa Urin dengan Benedict : a. b. c. d. Memasukkan urin sebanyak 2 ml ke dalam tabung reaksi. Menambahkan 15 tetes reagen benedict ke dalam urin. Melakukan pemanasan selama 1-2 menit. Mengamati perubahan warena dan endapan yang terjadi.

2. Cara Kerja Uji Kandungan Protein Urin dengan Biuret : a. Memasukkan urin sebanyak 2 ml ke dalam tabung reaksi, kemudian tetesi dulu dengan larutan NaOH sebanyak 4 tetes, baru setelah beberapa saat ditetesi dengan larutan perusi sebanyak 4 tetes juga. b. Mengamati perubahan warna yang terjadi. c. Mencatat hasil pengamatan.

D. Indikasi Tes uji glukosa dan protein dengan menggunakan urin digunakan pada pasien yang terkena diabetes mellitus, yakni untuk mengetahui apakah ginjal masih berfungsi dengan baik atau tidak.

E. Hasil Pengamatan Tanggal pengamatan : 04 Juni 2013 Naracoba Hasil uji benedict Hasil uji biuret : Melda Rahma Permatasari : Negatif (-) : Negatif (-)

F. Pembahasan 1. Uji Glukosa Urin dengan Benedict Hasil yang diperoleh pada naracoba adalah negatif (tidak terdapat glukosa), hal ini dapat diketahui karena setelah dilakukan pembakaran dengan api spirtus, tidak terjadi endapan merah bata. Urin naracoba berubah warna menjadi kuning agak coklat namun tidak mengendap. Karena tidak terjadi endapan merah bata maka dapat disimpulkan urin naracoba tidak mengandung glukosa. 2. Uji Protein Urin dengan Biuret Hasil yang diperoleh pada naracoba adalah negatif (tidak terdapat protein), hal ini dapat diketahui karena setelah dilakukan pencampuran dengan biuret, urin tidak berubah warna menjadi biru. Warna urin berubah menjadi kuning kehijauan. Karena warnanya tidak berubah menjadi biru maka dapat disimpulkan urin naracoba tidak mengandung protein.

G. Kesimpulan Dari hasil percobaan, dapat disimpulkan bahwa ginjal naracoba masih bagus karena tidak ditemukan kandungan glukosa maupun protein. Ginjal masih mampu menyaring glukosa dan protein untuk diserap kembali ke tubuh.

Daftar Pustaka Nugrahaini, Dian Laili.2012.Uji Warna Dalam Urine. Diunduh pada tanggal 4 Juni 2013 dari http://dianlailanugrahaini.blogspot.com/2012/11/uji-warna-dalam-urinenama-dian-laila.html