Anda di halaman 1dari 4

Pseudogout.

pseudogout penyebabnya adalah Kristal kalsium pirofosfat, sehingga sering disebut radang sendi CPPD (Calcium pyrophosphate deposition disease). Pseudogout disebabkan karena jumlah kaklsium pirofosfat berlebihan dan mengkristal pada sendi yang rusak, sehingga menyebabkan gangguan gerakan dan rasa nyeri.3 Kondisi ini sering terjadi pada mereka yang berusia lanjut dengan penyebab yang tidak jelas. Merupakan serangan

peradangan akut yang mengenai satu sendi atau lebih yang dapat berlangsung selama beberapa hari. Serangan dapat serupa dengan gout. Meskipun biasanya tidak terlalu parah. Paling sering pada lutut jarang pada ibu jari kaki. Pasien mungkin menderita serangan yang lebih ringan diantara serangan-serangan akut. Deposit Kristal dapat timbul dalam tendon ligament, dan sinovia juga dalam kartilago. Pembedahan atau penyakit dapat merupakan factor predisposisi terjadinya serangan.4 Artitis gout Gejala artitis akut disebabkan oleh reaksi inflamasi jaringan terhadap pembentukan Kristal monosodium urat monohidrat. Karena itu, dilihat dari penyebabnya. Penyakit ini termasuk dalam golongan kelainan metabolic. Kelainan ini berhubungan dengan gangguan kinetic asam urat yaitu hiperurisemia.Gejala klinik gout terdiri dari arthritis gout akut, interkritikalgout, gout menahun dengan tofi. Ketiga stadium ini merupakan stadium kalsik dan di dapat deposisi yang resif Kristal urat. 2,5 Stadium arthritis gout akut Radang sendi pada stadium ini sangat akut dan yang timbul sangat cepat dalam waktu singkat. Pasien tidur tanpa ada gejala apa-apa. Pada waktu bangun pagi terasa sakit yang hebat dan tidak dapat berjalan. Biasanya bersifat monoartikuler dengan keluhan utama berupa nyeri, bengkak, terasa hangat, merah dengan gejala sistemik berupa demam, menggigil, dan merasa lelah. Lokasi yang paling sering pada MTP 1 yang biasa disebut podagra. Apabila proses penyakit berlanjut, dapat terkena sendi lain yaitu pergelangan tangan / kaki, lutut dan siku. Pada serangan akut yang tidak berat, keluhan-keluhan dapat hilang dalam beberapa jam atau hari. Pada serangan akut berat dapat sembuh dalam beberapa hari sampai beberapa minggu.2 Stadium interkritikal

Stadium ini merupakan kelanjutan dari stadium akut dimana terjadi periode interkritik asimptomatik. Walaupun secara klinik tidak didapatkan tanda-tanda radang akut, namun pada aspirasi sendi ditemukan Kristal urat. Apabila tanpa penanganan yang baik dan pengaturan asam urat yang tidak benar maka dapat timbul serangan akut yang lebih sering yang dapat mengenai beberapa sendi dan biasanya lebih berat.2 Stadium arthritis gout menahun Stadium ini umumnya pada pasien yang mengobati sendiri. Atritis gout menahun biasanya disertai dengan tofi yang banyak dan terdapat poliartikuler. Tofi ini sering pecah dan sulit sembuh dengan obat, kadang-kadang timbul infeksi sekunder. Lokasi tofi yang paling sering pada cuping telinga, MTP-1, olekranon, tendon Achilles dan jari tangan. Pada stadium ini kadang-kadang disertai batu saluran kemih sampai penyakit ginjal menahun.2 Gambaran klinis Artitis bakterialis sering terjadi pada anak-anak dan juga pada orang tua yang daya tahan tubuhnya menurun .Paling banyak mengenai lutut, panggul, bahu, pergelangan tangan, pergelangan kaki, dan siku. Sebanyak 90 % manifestasi bersifat monoatritis. Biasanya ada penyakit yang mendasarinya dan disertai dengan demam Onset gejala biasanya tiba-tiba dan progresif. Biasanya dengan gejala sistemik yang sangat menonjol. Sendi yang terkena menunjukan adanya gambaran klasik inflamasi local berupa kemerahan, bengkak, nyeri, dan panas. Biasanya penderita mempertahankan sendi yang terkena dalam posisi fleksi, menghindari pergerakan, dan menahan beban. Infeksi pada sendi prostetik pascaoperasi pada masa

dini biasanya cukup jelas dengan disertai demam tinggi dan luka yang

menghasilkan pus. Infeksi yang terjadi kemudian berkaitan dengan demam yang tidak tinggi, nyeri berulang, fungsi yang terganggu, dan gejala local yang tidak terlalu jelas. Infeksi harus selalu dipertimbangkan pada pasien dengan prostetik yang bergeser dari tempatnya.6 Etiologi Bakterialis artritis dapat dikelompokan menjadi 2 yaitu, gonokokal dan nongonokokal. Nesseria gonorrhoeae merupakan pathogen tersering (75%) pada pasien dengan aktivitas seksual yang aktif. Staphylococus aureus merupakan bakteri yang sering menyebabkan artritis bakterialis dan osteomielitis pada manusia. Diduga, kemampuan Staphylococus aureus untuk menginfeksi sendi berhubungan dengan interaksi antara bakteri tersebut dengan komponen matriks ekstraseluler.2

Epidemiologi Insiden septik arthritis pada populasi umum bervariasi 2-10 kasus per 100.000 orang per tahun. Insiden ini meningkat pada penderita dengan peningkatan resiko artitis rheumatoid 28-38 kasus per 100.000 per tahun. Penderita dengan protease sendi 40-68 kasus / 100.000 / tahun (30-70%). Puncak insiden pada kelompok umur adalah anak-anak usia kurang dari 5 tahun (5 per 100.000 / tahun) dan dewasa usia lebih daripada 64 tahun (8,4 kasus / 100.000 penduduk/tahun). Kebanyakan arthritis septik terjadi pada satu sendi, sedangkan keterlibatan poliartikular terjadi 10-15 % kasus. Sendi lutut merupakan sendi yang paling sering terkena sekitar 48-56, diikuti oleh sendi panggul 16-21%, dan pergelangan kaki 8%.2 Pathogenesis dan patofisiologi Bakteri yang masuk langsung kedalam rongga sendi, dan berkembang dalam rongga sendi, dan sebagian membentuk abses di membrane synovial. Bila bakteri mencapai sinovium melalui aliran darah, maka kuman akan berkembang biak dan membentuk abses subsinovial yang akhirnya pecah dan bakteri masuk ke rongga sendi.2 Stafilokokus aureus merupakan bakteri yang sering menyebabkan atritis bakterialis dan osteomyelitis pada manusia. diduga, kemampuan Staflokokus aureus untuk menginduksi sendi berhubungan dengan interaksi antara bakteri tersebut dengan komponen matriks ekstra seluler.2 Produk-produk bakteri seperti endotoksin (lipopolisakarida) bakteri gram -, fragmen dinding sel bakteri gram + dan kompleks imun akan merangsang sel-sel synovial untuk melepaskan TNF- dan IL1 yang akan mencetuskan infiltrasi dan aktivasi sel-sel PMN. Bnakteri akan difagositosis oleh vacuolated synovial lining cells dan sel-sel PMN. Sel-sel fagositik tersebut, memiliki sistem bakterisidal, kemampuannya mematikan bakteri tergantung pada virulensi bakteriyang menginfeksi. Komponen bakteri yang membentuk komplek antigen-antibodi, akan mengaktifkan komplemen melalui jalur klasik, sedangkan toksin bakteri akan mengaktifkan komplemen melalui jalur alternative. Kemudian fagositosis bakteri yang mati oleh sel-sel PMN, juga dapat menyebabkan autolysis sel, PMN akan melepaskan enzim lisozoma kedalam sendi yang menyebabkan kerusakan synovial, ligament yang rawan sendi. Selain itu, sel PMN dapat merangsang metabolisme asam arackidonat dan melepaskan kolagenase, enzim-enzim proteolitik IL1 sehingga reaksi inflamasi bertambah hebat.2

Penatalaksanaan2 Pada dugaan terhadap kemungkinan arthritis bacterial, aspirasi cairan sendi harus segera dilakukan untuk analisis, pewarnaan Gram dan kultur cairan sendi. Bila cairan sendi bersifat purulen dan atau ditemukan bakteri pada pewarnaan Gram, segera diberikan antibiotic berspektum luas. Karena pada umumnya disebabkan oleh S. Aureus, maka pilihan utama antibiotika adalah penisilin G, kloksasilin, klindamisin atau netilmisin yang diberikan secara parenteral pilihan antibiotic yang lain adalah kombinasi ampisilin dan sulbaktam. Bila alergi terhadap penisilin, dapat diberikan vankomisin atau klindamisin. Bila pada pewarnaan didapatkan kokus gram positif, pilihan antibiotic adalah vankomisin. Bila didapatkan basil gram negative terutama pada pasien dengan daya tahan tubuh yang menurun harus diberikan golongan aminoglikosida atau penisilin anti pseudomonas atau sefalosporin generasi ketiga. bila didapatan bakteri Gram negative pada orang muda sehat, maka pilihan antibiotic adalah penisilin atau seftriakson generasi ketiga. Pada neonatus dan anak di bawah 2 tahun, antibiotika yang harus dipilih yang dapat mematikan H. influenze, S. aureus dan Streptococus grup B. antibiotika yang dapat diberikan adalah penisiline antistafilokokal dan aminoglikosida atau sefalosporin generasi ketiga. Pada pasien usia lanjut juga harus diberikan antibiotika yang berspektrum luas dengan

memperhatikan fungsi berbagai alat tubuhnya, misalnya fungsi ginjal. Golongan quinolon , cukup efektif terhadap bakteri gram-negatif, tetapi orang sering cepat terjadi resistensi . Umumnya kosentrasi antibiotika di dalam cairan sendi yang terinfeksi cukup tinggi.