Anda di halaman 1dari 15

1

TIMBANGAN BUKU


I. DATA BUKU.

Judul Buku : Psikologi dalam Pendidikan
Pengarang : Abdul Hadis dan Nurhayati
Penerbit : CV. Alfabeta
Tahun Terbit : 2008
Jumlah Hal : 124 Halaman




II. PENGANTAR.
Pendidikan adalah proses yang sangat kompleks, yang apabila
dijalankan tanpa memperhatikan aspek psikologi peserta didik dan
pendidik maka gagallah tujuan dari pendidikan tersebut. Buku ini akan
membantu memberi pemahaman karakteristik peserta didik dan
bagaimana pendidik atau guru menyikapinya.

LATAR BELAKANG PENTINGNYA PSIKOLOGI
DALAM PENDIDIKAN

Psikologi dan Masalah Pendidikan
Psikologi sebagai suatu disiplin ilmu sangat dibutuhkan oleh dunia
pendidikan, baik di institusi pendidikan formal maupun non formal.
Pengetahuan tentang psikologi sangat diperlukan oleh pihak guru atau
2

instruktur sebagai pendidik, pengajar, pelatih, pembimbing dan pengasuh
dalam memahami karakteristik kognitif, afektif dan psikomotorik peserta
secara integral. Pemahaman aspek psikologis peserta didik oleh pihak
guru atau instruktur di institusi pendidikan memiliki kontribusi yang
sangat berarti dalam membelajarkan peserta didik sesuai dengan sikap,
minat, motivasi, aspirasi dan kebutuhan peserta didik, sehingga proses
pembelajaran di kelas dapat berlangsung secara opimal dan maksimal.
Pengetahuan tentang psikologi diperlukan oleh dunia pendidikan
karena dunia pendidikan menghadapi peserta didik yang unik dilihat dari
segi karakteristik perilaku, kepribadian, sikap, minat, motivasi, perhatian,
persepsi, daya pikir, intelegensi, fantasi dan berbagai aspek psikologis
lainnya yang berbeda antara peserta didik yang satu dengan peserta
didik yang lainnya. Perbedaan karakteristik psikologis yang dimiliki oleh
para peserta didik harus diketahui dan dipahami oleh setiap guru atau
instruktur yang berperan sebagai pendidikan dan pengajar di kelas, jika
ingin proses pembelajarannya berhasil. Dengan memahami karakteristik
psikologis yang dimiliki oleh masing-masing peserta didik, maka guru di
sekolah akan dapat melakukan pembelajaran yang bersifat individual
sesuai dengan karakter psikologis yang dimiliki oleh para siswa. Jadi sifat
heterogenitas (tidak sama) suatu kelas perlu menjadi perhatian utama
bagi guru. Selain pembelajaran yang bersifat individual, guru perlu juga
melakukan pembelajaran secara kelompok jika karakteristik psikologis
peserta didik yang ada di suatu kelas dianggap relatif sama (homogen).
Dalam proses pembelajaran di kelas guru sering meghadapi
peserta didik yang mengalami gangguan perhatian peserta didik
sehingga peserta didik tersebut kurang dapat memusatkan perhatiaanya
dalam mengikuti proses pembelajaran di kelas. Akibatnya peserta didik
tersebut kurang dapat mengetahui dan memahami materi pelajaran yang
diajarkan oleh guru dan memperoleh prestasi belajar rendah. Gejala
gangguan perhatian sebagai faktor psikologis yang dialami peserta didik
3

di kelas harus diketahui dan dipahami oleh guru sebagai pengajar dan
pendidik di kelas untuk mencegah dan mengatasi kesulitan belajar yang
dialami oleh peserta didik dalam mengikuti proses pemberlajaran di kelas.
Adapun upaya yang dapat dilakukan oleh guru di kelas dalam mencegah
dan mengatasi masalah gangguan perhatian yang dialami oleh peserta
didik di kelas ialah guru sebaiknya menerapkan metode dan strategi
pembelajaran yang menarik perhatian belajar agar peserta didik dapat
mengikuti proses pembelajaran di kelas dengan baik dari awal
pembelajaran sampai akhir pembelajaran.

Kontribusi Psikologi terhadap Pendidikan dan Pengajaran
Abimanyu (1996) mengemukakan bahwa peranan psikologi dalam
pendidikan dan pengajaran ialah bertujuan untuk memberikan orientasi
mengenai laporan studi, menelusuri masalah-masalah di lapangan
dengan pendekatan psikologi serta meneliti faktor-faktor manusia dalam
proses belajar mengajar. Psikologi dalam pendidikan dan pengajaran
banyak mempengaruhi perumusan dan tujuan pendidikan, perumusan
kurikulum maupun prosedur dan metode-metode belajar mengajar.
Kontribusi psikologi sebagai salah satu cabang ilmu pengetahuan
terhadap dunia pendidikan memang sangat besar karena menyangkut
semua aspek di bidang pendidikan, bukan hanya menyangkut proses
belajar mengajar itu sendiri, akan tetapi juga menyangkut masalah-
masalah di luar proses belajar mengajar.




4

PENGERTIAN DAN RUANG LINGKUP PSIKOLOGI PENDIDIKAN

Psikologi pendidikan merupakan cabang dari psikologi. Secara
harfiah atau etimologis, psikologi berasal dari kata psyche yang berarti
jiwa dan logos yang berarti ilmu. Psikologi mengandung makna yaitu ilmu
jiwa yang berarti ilmu pengetahuan yang mempelajari jiwa manusia
melalui gejala-gejalanya, aktivitas-aktivitasnya atau perilaku manusia.
Psikologi pendidikan sebagai integral dari disiplin ilmu psikologi
berupaya menggunakan konsep atau prinsip psikologis dalam
memecahkan masalah-masalah yang terjadi dalam dunia pendidikan.
Kajian psikologi pendidikan lebih berfokus pada kajian psikologis dalam
memahami gejala-gejala psikologis peserta didik dalam proses pendidikan
dan pembelajaran di kelas.
Dalam perkembangan lebih lanjut, psikologi pendidikan meluas
menjadi berbagai kajian dalam mengkaji tentang masalah-masalah yang
dialami peserta didik dalam proses pendidikan dan pembelajaran di kelas.
Berbagai kajian tersebut misalnya kajian tentang psikologi belajar,
psikologi mengajar, psikologi bimbingan dan penyuluhan, dan sebagainya.

GEJALA AKTIVITAS UMUM JIWA MANUSIA YANG PERLU
DIKETAHUI OLEH CALON GURU

Sebagaimana diketahui bahwa secara psikologis (ilmu jiwa) dan
secara anatomis dan fisiologis-biologis dan sosiologis, peserta ddik
sebagai bagian integral dari manusia pada umumnya, memiliki
karakteristik unik yang perlu dipahami oleh para calon guru dan para
guru. Dalam uraian ini akan di bahas tetang karakteristik unik peserta
5

didik dilihat dari tinjauan psikologis yang membedakan antara peserta
didik yang satu dengan peserta didik yang lainnya. Adapun gejala aktivitas
umum jiwa peserta didik yang perlu menjadi perhatian para calon guru
(mahasiswa yang kuliah di lembaga pendidikan tenaga kependidikan) dan
para guru ialah mencakup: perhatian, pengamatan, persepsi, fantasi,
ingatan, berpikir, motif, sikap, minat, imajinasi, dan sebagainya.


PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGAN ANAK DAN REMAJA
SEBAGAI PESERTA DIDIDK

Pertumbuhan diartikan sebagai suatu proses perubahn secara fisik
yang menunjukkan kepada kuantitas. Sedangkan perkembangan diartikan
sebagai suatu proses perubahan secara psikis yang menunjuk kepada
kualitas. Contoh dari pengertian perkembangnan sebagai proses
perubahan psikis ialah misalnya anak yang berumur sekitar dua tahun
telah dapat berbicara lancar dengan ibu, bapak, saudaranya, dan
anggota seisi rumah. Seperti hal pertumbuhan dan perkembangan anak
sebagai peserta didik, pada remaja sebagai salah satu tahap
pertumbuhan dan perkembangan menunjuk kepada proses perubahan
secara fisik dan psikis (jiwa) yang dialami oleh remaja yang bersekolah
pada jenjang pendidikan dasar (SLTP/SMP), jenjang pendidikan
menengah (SLTA/SMA), dan jenjang pendidikan tinggi (khususnya
mahasiswa baru).
Masalah pertumbuhan dan perkembangan remaja sebagai peserta
didik juga perlu menjadi perhatian bagi para calon dan para guru di SMP,
SMA, dan perguruan tinggi (PT), karena dengan bekal pengetahuan
tentang pertumbuhan dan perkembangna remaja, para guru di SMP,
6

SMA, dan PT dapat menyesuaikan proses pembelajarannya atau
perkuliahannya sesuai dengan kebutuhan belajar remaja. Secara
psikologis diketahui bahwa masa remaja adalah masa yang penuh
dengan gejolak dan goncangan jiwa bagi remaja. Gejolak dan goncangan
jiwa terjadi karena remaja sedang dalam pencarian identitas diri dan
menjalani masa eksplorasi yang menyebabkan para remaja ingin
mencoba terhadap segala hal yang diketahui melalui proses membaca
dan mengalami dalam kehidupannya sehari-hari di masyarakat.
Sebagai contoh untuk mewujudkan rasa ingin tahu besar pada diri
remaja dan untuk membantu mengembangkan minat dan motivasi remaja
untuk bereksplorasi, maka metode dan strategi pembelajaran yang tepat
digunakan adalah metode diskusi, tanya jawab, penyelidikan, studi
lapangan atau observasi lapangan, dan lainnya dengan menggunakan
pendekatan keterampilan proses. Melalui penerapan strategi, metode,
dan pendekatan pembelajaran tersebut, diharapkan remaja dapat
menyalurkan energinya ke kegiatan belajar yang positif melalui kegiatan
belajar dan kegiatan eksplorasi yang positif. Proses pendidikan yang
diberikan oleh para guru kepada remaja sebagai generasi muda haruslah
berkualitas. Salah satu ciri dari pendidikan yang berkualitas adalah
pendidikan yang mampu melahirkan sumber daya manusia yang
konstruktif, kreatif, inovatif, dan produktif yang missioner dan visioner.
Harus diakui bahwa di tangan remajalah sebagai generasi muda nasib
masyarakat, bangsa, dan Negara Indonesia ditentukan. Oleh karena itu,
pendidikan yang berkualitas mutlak diberikan kepada remaja khususnya
dan anak Indonesia pada umumnya.




7

BELAJAR DAN PERMASALAHANNYA

Aktivitas belajar di sekolah merupakan inti proses pendidikan di
sekolah. Belajar merupakan alat utama bagi peserta didik dalam mencapai
tujuan pembelajaran sebagai unsur proses pendidikan di sekolah.
Sedangkan mengajar merupakan alat utama bagi guru sebagai pendidik
dan pengajar dalam mencapai tujuan pembelajaran sebagai proses
pendidikan di kelas. Tujuan pembelajaran dalam suatu kegiatan
pembelajaran hanya dapat dicapai jika ada interaksi belajar mengajar
antara guru dan peserta didik dalam proses pembelajaran di kelas.
Interaksi tersebut harus dalam proses komunikasi yang aktif dan edukatif
antara guru dengan peserta yang saling menguntungkan kedua belah
pihak agar proses pembelajaran dapat berjalan secara efisien dan efektif.
Hanya dengan proses pembelajaran yang baik, tujuan pembelajaran
dapat dicapai sehingga siswa mengalami perubahan perilaku melalui
kegiatan belajar.

Faktor-faktor yang Berpengaruh terhadap Belajar
Belajar sebagai suatu aktivitas mental atau psikis dipengaruhi oleh
berbagai faktor. Faktor-faktor yang mempengaruhi proses belajar tersebut
menurut Slamet (1988:56) dan Suryabata (1986) dibagi atas dua faktor
utama, yaitu faktor yang bersumber dari dalam diri peserta didik dan
faktor yang bersumber dari luar peserta didik. Faktor kesehatan sebagai
faktor internal yang mempengaruhi proses dan hasil belajar dimaksudkan,
yaitu bahwa peserta didik yang mengalami gangguan kesehatan akan
tidak dapat belajar dengan maksimal dan optimal. Sebagai contoh,
peserta didik yang sedang menjalani kondisi tidak sehat akan berbeda
kondisi belajarnya dan hasil belajarnya dengan peserta didik yang
menjalani ujian dengan kondisi kesehatan yang prima. Oleh karena itu,
8

peserta didik sangat diharapkan untuk selalu menjaga kesehatan agar
tetap sehat. Faktor psikologis, misalnya faktor intelegensi, minat,
perhatian, bakat, motivasi, kematangan dan kesiapan peserta didik sangat
berpengaruh terhadap proses dan hasil belajar peserta didik di sekolah.
Faktor di atas berkontribusi secara signifikan dalam meningkatkan
kualitas proses dan hasil belajar siswa di sekolah, yang pada akhirnya
berpengaruh terhadap peningkatan kualitas pendidikan sekolah.
Oleh karena itu para calon guru dan para guru harus
memperhatikan berbagai faktor psikologis tersebut guna meningkatkan
kualitas dan proses pembelajaran di sekolah. Faktor -faktor psikologis
tersebut perlu diketahui dan dipahami oleh calon guru dan para guru.
Faktor internal lainnya yang berpengaruh terhadap proses dan hasil
belajar peserta didik ialah faktor kelelahan. Peserta didik yang
mengalami kelelahan karena telah melakukan pekerjaan berat yang
melibatkan kegiatan fisik, akan kurang dapat memuaskan perhatian
dalam mengikuti proses pembelajaran di kelas. Adapun tindakan yang
perlu diambil oleh guru jika menghadapi peserta didik yang mengalami
kelelahan adalah menyuruh anak untuk beristirahat agar kembali segar.
Selain itu, para guru harus mewanti-wanti peserta didik untuk menghindari
kelelahan fisik agar mereka tetap segar mengikuti proses pembelajaran
di kelas sehingga mereka dapat mencapai kualitas proses dan hasil
pembelajaran di kelas. Selanjutnya, yang termasuk faktor -faktor ekstern
yang bersumber dari luar diri peserta didik yang berpengaruh terhadap
proses pembelajaran di kelas, ialah faktor keluarga, sekolah, dan
masyarakat. Lingkungan eksternal yang mendukung akan cenderung
meningkatkan prestasi anak demikian juga sebaliknya yang tidak
mendukung akan menghasilkan prestasi anak yang buruk.
Di lingkungan keluarga, peranan orang tua (ibu dan bapak) dan
anggota keluarga seisi rumah sangat menentukan bagi kesuksesan
9

belajar anak di rumah. Di lingkuangan sekolah, peranan kepala sekolah,
guru, wali kelas, konselor, staf administrasi, dan teman kelas juga
berpengaruh dalam membantu kesuksesan belajar anak di sekolah. Untuk
menunjang keberhasilan anak dalam mengikuti proses pembelajaran di
sekolah, maka pihak sekolah perlu melakukan kerja sama yang baik
dengan lingkungan keluarga dan masyarakat. Sekolah tidak dapat sukses
melakukan misi dan visi pendidikan tanpa dukungan dari lingkungan
keluarga, masyarakat, dan berbagai pihak terkait dan berkepentingan
dengan sekolah. Oleh karena itu, pihak hubungan masyarakat sekolah
harus aktif dalam menjalin kerjasama dengan berbagai pihak untuk
kemajuan pendidikan di sekolah.
7
INTERAKSI BELAJAR MENGAJAR DI KELAS DAN
PERMASALAHANNYA

Faktor -faktor yang Mempengaruhi Proses Mengajar dan Mendidik
dan Permasalahannya
Masalah interaksi belajar mengajar merupakan masalah yang
kompleks karena melibatkan berbagai faktor yang saling terkait satu
sama lain. Di sekian banyak faktor yang mempengaruhi proses dan hasil
interaksi belajar-mengajar, terdapat dua faktor yang sangat menentukan,
yaitu faktor guru dan peserta didik dengan berbagai potensi kognitif,
afektif, dan psikomotorik yang dimiliki, tidak mungkin proses interaksi
belajar mengajar di kelas atau di temat lain dapat berlangsung dengan
baik. Semua faktor -faktor di luar faktor guru dan peserta didik tersebut
berkontribusi berarti dalam meningkatkakn kualitas dan hasil belajar
mengajar di kelas dan tempat belajar lainnya. Faktor media pembelajaran
misalnya, berkontribusi dalam membantu guru untuk memvisulisasi atau
mendemonstrasikan bahan atau materi pelajaran kepada peserta didik.
10

Bahan pelajaran akan lebih mudah dipahami, dan dikuasai jika selain
aspek auditif (pendengaran) peserta didik dilibatkan, aspek visual
(penglihatan) peserta juga perlu dilibatkan karena hampir semua objek di
dunia ini dapat diketahui oleh invidu berkat bantuan alat visual atau mata
sebagai alat penglihatan utama bagi manusia untuk menangkap pesan
dan kesan terhadap objek atau materi pelajaran yang dipelajari.

MANAJEMEN KELAS YANG BERBASIS PSIKOLOGI PENDIDIKAN

Manajemen Kelas untuk Pembinaan Disiplin Kelas
Manajemen kelas mengandung pengertian, yaitu proses
pengelolaan kelas untuk menciptakan suasana dan kondisi kelas yang
memungkinkan siswa dapat belajar secara efektif. Manajemen kelas juga
dapat diartikan sebagai proses seleksi yang menggunakan alat yang tepat
terhadap problem dan situasi manajemen kelas, atau juga dapat diartikan
sebagai segala usaha yang diarahkan untuk mewujudkan suasan belajar
mengajar yang efektif dan menyenangkan serta dapat memotivasi siswa
untuk belajar dengan baik sesuai dengan kemampuan. Manajemen kelas
bertujuan untuk:
1. Mewujudkan situasi dan kondisi kelas, baik sebagai lingkungan
belajar maupun sebagai kelompok belajar, yang memungkinkan
peserta didik untuk mengembangkan kemampuan semaksimal
mungkin,
2. Menghilangkan berbagai hambatan yang dapat menghalangi
terwujudnya interaksi pembelajaran, menyediakan dan mengatur
fasilitas belajar serta perabot belajar yang mendukung dan
memungkinkan siswa belajar sesuasi dengan lingkungan sosial,
emosional, dan intelektual siswa di dalam kelas, serta membina
11

dan membimbing siswa sesuai dengan latar belakang sosial,
ekonomi, budaya, serta sifat-sifat individunya.
Dalam membina disiplin kelas dengan pendekatan otoritas, yang
perlu dilakukan oleh para guru di kelas adalah menegakkan peraturan
yang berlaku di kelas secara persuasif dan mendidik. Jika siswa
melanggar disiplin kelas, maka guru dapat memberikan hukuman yang
mendidik, sedangkan jika siswa menaati peraturan disiplin kelas diberikan
penghargaan agar sikap dan perilaku terpuji tersebut semakin
diintensifkan oleh siswa sehingga dapat menjadi model bagi siswa
lainnya. Dalam membina disiplin kelas dengan pendekatan pengubahan
perilaku, yang perlu dilakukan oleh para guru di kelas adalah bagaimana
mengubah perilaku peserta didik yang tidak disiplin di kelas menjadi
disiplin. Dalam membina disiplin kelas dengan pendekatan social
emosional, yang perlu dilakukan oleh para guru di kelas adalah
bagaimana hubungan sosial emosional yang baik antara guru dengan
peserta didik di kelas. Dalam membina disiplin kelas dengan pendekatan
proses kelompok, yang perlu dilakukan oleh para guru di kelas ialah
membimbing para siswa agar dapat saling berinteraksi sosial dalam
suasana kelas yang penuh disiplin.

MENGAJAR DAN BELAJAR YANG EFEKTIF
DAN PERMASALAHANNYA

Mengajar adalah suatu kegiatan mentransferkan ilmu pengetahuan,
teknologi, dan seni dari guru sebagai pengajar kepada peserta didik
sebagai pelajar melalui metode pembelajaran tertentu yang digunakan
oleh guru secara efektif. Untuk dapat mengajar secara efektif guru harus
menguasasai beragam perspektif dan strategi, dan harus bisa
12

mengaplikasikannya secara fleksibel. Hal ini membutuhkan dua hal
utama, yaitu (1) pengetahuan dan keahlian professional dan (2) komitmen
dan motivasi. Dari segi pengetahuan dan keahlian professional, guru
yang efektif menguasai materi pelajaran dan keahlian serta keterampilan
mengajar yang baik dan dikung oleh metode penetapan tujuan,
rancangan pengajaran dan manajemen kelas. Guru yang efektif juga
menguasai strategi pengajaran yang kontruktivistik. Aliran kontruvistik
menekankan agar individu secara aktif menyusun dan membangun
pengetahuan dan pemahaman. Menurut pandangan kontruktivis, guru
bukan sekedar memberikan informasi ke pikiran anak, akan tetapi guru
harus mendorong anak untuk mengeksplorasi dunia mereka, menemukan
pengetahuan, merenung dan berpikir secara kritis. Profil lain dari guru
yang mengajar secara efektif adalah guru yang ahli dalam menetapkan
tujuan intruksional dan ahli dalam membuat perencanaan instruksional.
Guru yang efektif harus dapat menentukan tujuan pengajaran dan
menyusun rencana untuk mencapai tujuan itu. Guru yang efektif harus
juga ahli dalam manajemen kelas, yaitu mampu menjaga kelas agar
tetap aktif bersama dan mengarahkan kelas ke tugas-tugas. Guru juga
perlu membangun dan mempertahankan lingkungan belajar yang
kondusif. Guru yang efektif juga harus memiliki keahlian motivasional,
yaitu punya strategi yang baik untuk memotivasi murid atau peserta didik
agar mau belajar. Selain itu, guru yang efektif harus tahu bahwa murid
akan termotivasi saat mereka bisa memilih sesuatu yang sesuai dengan
minatnya. Guru yang efektif juga harus memiliki keahlian komunikasi.
Adapaun ketrampilan-ketrampilan komunikasi yang sangat diperlukan
dalam mengajar peserta didik adalah: keahlian dalam berbicara,
mendengar, mengatasi hambatan komunikasi verbal (komunikasi dengan
kata-kata), memahami komunikasi non-verbal (bukan dengan kata-kata)
dari murid, dan mampu memecahkan konflik secara konstrutif. Untuk
menjadi guru yang efektif juga dibutuhkan komitmen dan motivasi
mengajar yang tinggi. Kedua aspek ini mencakup sikap baik dan perhatian
13

kepada murid. Belajar efektif mengandung makna ialah suatu aktivitas
yang dilakukan si pelajar untuk mengetahui suatu objek yang dipelajari
secara berdaya guna dan berhasil guna. Banyak cara yang dapat
ditempuh oleh peserta didik sebagai pelajar untuk dapat belajar secara
efektif, yaitu dengan beberapa prinsip dan strategi belajar sebagai
berikut.
Tegakkan hukum jost dalam belajar, yaitu belajar dengan 3x1
lebih efektif daripada belajar dengan 1x 3.
Belajarlah sedikit demi sedikit setiap harinya tetapi
berkesinambungan.
Belajarlah dari garis-garis besar materi atau rangkuman materi
pelajaran yang telah dibuat secara terus menerus.
Hindari prinsip belajar yang jelek, yaitu nanti mau belajar saat
akan ujian dengan prinsip tiba masa tiba akal.
Ulangilah sesering mungkin mempelajari rangkuman materi
pelajaran yang telah dibuat agar materi pelajaran tersebut mudah
dikuasai sebelum ujian dimulai.


MUTU PROSES DAN HASIL BELAJAR MENGAJAR SEBAGAI
FOKUS PSIKOLOGI DALAM PENDIDIKAN


Faktor -faktor yang Mempengaruhi Mutu Proses dan Hasil Belajar
Mengajar
Secara garis besar ada dua faktor utama yang mempengaruhi
mutu proses dan hasil belajar mengajar di kelas, yaitu faktor internal dan
eksternal. Adapun yang termasuk ke dalam faktor internal adalah berupa
14

faktor psikologis, sosiologis, dan fisiologis yang ada pada diri siswa dan
guru sebagai pelajar dan pembelajar. Kesemua faktor -faktor internal dan
eksternal tersebut harus menjadi perhatian bagi guru dan siswa jika
proses pendidikan di kelas ingin berhasil dengan baik. Kesemua faktor -
faktor tersebut merupakan kondisi-kondisi yang mempengaruhi proses
dan hasil belajar. Selain itu, kesemua faktor -faktor internal dan eksternal
tersebut juga mempengaruhi mutu pendidikan, baik di tingkat institusi
pendidikan atau persekolahan maupun di tingkat local, regional dan
nasional. Sekalipun faktor -faktor yang mempengaruhi mutu proses dan
hasil pembelajaran di sekolah dan mutu pendidikan secara umum sangat
banyak, namun jika dilihat dari faktor dominan yang berpengaruh tersebut
tidak banyak. Sekalipun faktor guru dan peserta didik merupakan faktor
penentu dan kehadiran harus ada dalam proses belajar mengajar, namun
pengaruh berbagai faktor lainnya tidak boleh diabaikan, misalnya faktor
media dan alat pembelajaran, fasilitas belajar, infrastruktur sekolah,
fasilitas laboratorium, manajemen sekolah, system pembelajaran dan
evaluasi, kurikulum, metode stratefi pembelajaran. Perlu diingat bahwa
sekalipun kesemua faktor -faktor yang mempengaruhi proses dan hasil
pembelajaran di kelas telah diperhatikan dan dilaksanakan oleh guru
dalam membelajarkan peserta didik di kelas, namun dalam faktanya tidak
sedikit guru yang mengalami kesulitan dalam menerapkan faktor -faktor
tersebut. Oleh karena itu, guru di sekolah membutuhkan layanan supervisi
dari kepala sekolah dalam meningkatkan mutu pendidikan melalui aplikasi
manajemen mutu terpadu di institusi persekolahan.

PENUTUP

Dalam upaya untuk mencerdaskan kehidupan bangsa di berbagai
aspek kehidupan manusia, maka salah satu alat yang ampuh untuk
mencapai tujuan tersebut ialah pendidikan. Melalui kegiatan pendidikan
15

di lembaga pendidikan formal (dilingkungan sekolah), informal
(dilingkuangan keluarga), dan non formal pendidikan, pengajaran,
pelatihan, dan bimbingan dari pendidikan dalam mentransfer IPTEKS
dan nilai-nilai kepada peserta didik.
Pendidikan sebagai alat ampuh untuk mencerdaskan peserta didik
dan kehidupan bangsa tidak sekedar dilakukan begitu saja oleh pendidik
atau orang dewasa lainnya di lingkungan keluarga, sekolah, dan
masyarakat, melainkan dilakukan secara sadar dan terencana dengan
menerapkan kaidah dan prinsip-prinsip psikologi dalam mendidik
peserta didik. Oleh karena itu, pengetahuan tentang psikologi dalam
pendidikan harus diketahui, dipahami, dan diterapkan oleh para pendidik
dan orang dewasa lainnya dalam proses mendidik peserta didik
demikianlah uraian yang dapat kami sampaikan semoga bermanfaat.

Cimahi, September 2013
Penulis




Surianto
Kapten Arm NRP 575189