Anda di halaman 1dari 24

TUGAS GRAND REMEDIAL

ABORTUS


OLEH:
FIONNA MASITAH
1008260019




FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SUMATERA UTARA
MEDAN
2013






ii
KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Allah SWT Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat dan
atas segala limpahan rahmat, taufik, serta hidayah-Nya sehingga penulis dapat
menyelesaikan tugas grand remedial yang telah direncanakan.
Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurahkan kepada baginda Nabi Besar
Muhammad SAW beserta seluruh keluarga dan sahabatnya yang selalu eksis membantu
perjuangan beliau dalam menegakkan Dinullah di muka bumi ini.
Penyusunan tugas makalah adalah merupakan salah satu syarat untuk proses
Grand Remedial di Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara.
Dalam penulisan tugas ini, tentunya banyak pihak yang telah memberikan
bantuan baik moril maupun materil. Oleh karena itu penulis ingin menyampaikan
ucapan terimakasih yang tiada hingganya kepada :
1. Kepada pada Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Sumatera
Utara Medan, yang telah membantu dalam grand remedial ini dimana tugas
makalah ini sebagai membantu dalam penilaian grand remedial.
2. Kepada teman-teman yang telah membantu dan memberikan masukan dalam
proses tugas ini
Penulis menyadari bahwa tugas ini masih jauh dari kesempurnaan, maka saran
dan kritik yang konstruktif dari semua pihak sangat diharapkan demi penyempurnaan
selanjutnya.
Akhirnya hanya kepada Allah SWT kita kembalikan semua urusan dan
semoga tugas makalah ini dapat bermanfaat bagi semua pihak, khususnya bagi penulis
dan para pembaca pada umumnya, semoga Allah SWT meridhoi dan dicatat sebagai
ibadah disisi-Nya, amin.
Medan, 02 September 2013

Penulis,




iii
DAFTAR ISI
COVER .......................................................................................................... i
KATA PENGANTAR ................................................................................... ii
DAFTAR ISI ............................................................................................... iii
DAFTAR GAMBAR .....................................................................................v
DAFTAR TABEL ....................................................................................... vi
BAB 1 PENDAHULUAN ..............................................................................1
1.1.Latar Belakang .....................................................................................1
1.2.Tujuan ..................................................................................................3
BAB 2 TELAAH PUSTAKA .........................................................................4
2.1. Fisiologi Fertilisasi dan Kehamilan ......................................................4
2.1.1. Fertilisasi .....................................................................................4
2.1.2. Kehamilan ....................................................................................6
2.2. Definisi Abortus ..................................................................................7
2.3. Dasar Diagnosa Abortus ......................................................................7
2.4. Abortus Spontan .................................................................................8
2.4.1. Patologi ........................................................................................8
2.4.2. Etiologi ........................................................................................9
2.4.2.1. Faktor Janin ............................................................................9
2.4.2.2. Faktor Ibu ............................................................................. 10
2.4.2.3. Faktor Ayah .......................................................................... 10
2.4.3. Kategori dan Terapi Abortus Spontan ......................................... 10
2.4.3.1. Abortus Iminens .................................................................... 10
2.4.3.2. Abortus tidak Terhindarkan ................................................... 11
2.4.3.3. Missed Abortion .................................................................... 11
2.4.3.4. Abortus Rekuren ................................................................... 11
2.4.4. Prognosis ................................................................................... 12
2.5. Abortus Terinduksi ............................................................................ 12
2.5.1. Abortus Elektif ........................................................................... 13
2.5.2. Teknik Aborsi ............................................................................ 13
iv

2.5.2.1. Dilatasi dan Kuretase ............................................................ 13
2.5.2.2. Dilator Higroskopik .............................................................. 13
2.5.2.3. Prostaglandin ........................................................................ 13
2.5.3. Induksi Abortus Secara Medis .................................................... 13
2.5.3.1. Oksitosin ............................................................................... 13
2.5.3.2. Larutan Hiperosmotik Intraamnion ........................................ 14
2.5.3.3. Prostaglandin ........................................................................ 14
2.5.4. Abortus Septik ........................................................................... 14
2.6. Komplikasi Abortus ........................................................................... 15
BAB 3 Penutup ............................................................................................ 16
3.1. Kesimpulan ....................................................................................... 16
3.2. Saran .................................................................................................. 17
DAFTAR PUSTAKA ................................................................................... 18



















v
DAFTAR GAMBAR
Gambar 1. Fertilisasi .......................................................................................5
Gambar 2. Kehamilan dan Perkembangan Janin ...............................................6

















vi


DAFTAR TABEL
Tabel 1. Berakhirnya Kehamilan menurut Lamanya Kehamilan ......................7
























1
BAB 1
PENDAHULUAN
1.1.Latar Belakang
Di dunia angka kematian ibu dan bayi yang tertinggi adalah di Asia Tenggara.
Laporan awal Survei Demografi Kesehatan Indonesia (SKDI) 2007 menyebtkan Angka
Kematian Ibu (AKI) adalah 248 per 100.000 kelahiran hidup dan Angka Kematian Bayi
(AKB) 34 per 1000 kelahiran hidup. Departemen Kesehatan (Depkes) 2009
menargetkan pada tahun 2009 AKI menjadi 226 per 100.000 kelahiran hidup dan AKB
menjadi 26 per 1000 kelahiran hidup (Panggabean, 2010).
Ada 3 penyebab klasik kematian ibu yaitu, perdarahan, keracunan kehamilan
dan infeksi. Sebenarnya ada penyebab ke 4 yaitu abortus. Menurut Organisasi
Kesehatan Dunia (WHO) 15-50% kematian ibu disebabkan oleh abortus. Komplikasi
abortus perdarahan atau infeksi dapat menyebabkan kematian. Itulah sebabnya mengapa
kematian ibu yang disebabkan abortus sering tidak muncul dalam laporan kematian, tapi
dilaporkan sebagai perdarahan atau sepsis (Panggabean, 2010).
Kita tahu bahwa istilah abortus dipakai untuk menunjukkan pengeluaran hasil
konsepsi sebelum janin dapat hidup diluar kandungan. Sampai saat ini janin yang
terkecil, yang dilaporkan dapat hidup diluar kandungan, mempunyai berat badan 297
gram waktu lahir. Akan tetapi, karena jarangnya janin yang dilahirkan dengan berat
badan dibawah 500 gram dapat hidup terus, maka abortus ditentukan sebagai
pengakhiran kehamilan sebelum janin mencapai berat 500 gram atau kurang dari 20
minggu. Abortus yang berlangsung tanpa tindakan disebut abortus spontan. Abortus
buatan ialah pengakhiran kehamilan sebelum 20 minggu akibat tindakan. Abortus
terapeutik ialah abortus buatan yang dilakukan atas indikasi medik. Frekuensi abortus
sukar ditentukan karena abortus buatan banyak tidak dilaporkan, kecuali apabila terjadi
komplikasi, juga karena sebagian abortus spontan hanya disertai gejala dan tanda
ringan, sehingga pertolongan medik tidak diperlukan dan kejadian ini dianggap sebagai
2


haid terlambat. Diperkirakan frekuensi abortus spontan berkisar 10-15% (Fransisca,
2007).
Frekuensi abortus sukar ditentukan karena abortus buatan banyak tidak
dilaporkan, kecuali apabila terjadi komplikasi. Abortus spontan kadang-kadang hanya
disertai gejala dan tanda ringan, sehingga pertolongan medik tidak diperlukan dan
kejadian ini dianggap sebagai terlambat haid. Diperkirakan frekuensi abortus spontan
berkisar 10-15%. Frekuensi ini dapat mencapai angka 50% bila diperhitungkan mereka
yang hamil sangat dini, terlambat haid beberapa hari, sehingga wanita itu sendiri tidak
mengetahui bahwa ia sudah hamil. Di Indonesia, diperkirakan ada 5 juta kehamilan per-
tahun. Dengan demikian setiap tahun 500.000-750.000 abortus spontan (Azhari, 2002).
Di perkotaan abortus dilakukan 24-57% oleh dokter,16-28% oleh bidan/
perawat, 19-25% oleh dukun dan 18-24% dilakukan sendiri. Sedangkan di pedesaan
abortus dilakukan 13-26% oleh dokter, 18-26% oleh bidan/perawat, 31-47% oleh dukun
dan 17-22% dilakukan sendiri. Cara abortus yang dilakukan oleh dokter dan
bidan/perawat adalah berturut-turut: kuret isap (91%), dilatasi dan kuretase (30%) sertas
prostaglandin / suntikan (4%). Abortus yang dilakukan sendiri atau dukun memakai
obat/hormon (8%), jamu/obat tradisional (33%), alat lain (17%) dan pemijatan (79%)
(Azhari, 2002)
Survei yang dilakukan di beberapa klinik di Jakarta, Medan, Surabaya dan
Denpasar menunjukkan bahwa abortus dilakukan 89% pada wanita yang sudah
menikah, 11% pada wanita yang belum menikah dengan perincian: 45% akan menikah
kemudian, 55% belum ada rencana menikah. Sedangkan golongan umur mereka yang
melakukan abortus: 34% berusia antara 30-46 tahun, 51% berusia antara 20-29 tahun
dan sisanya 15% berusia di bawah 20 tahun (Azhari, 2002).
Insidensi abortus sulit ditentukan karena kadang-kadang seorang wanita dapat
mengalami abortus tanpa mengetahui bahwa ia hamil, tidak mempunyai gejala yang
hebat sehingga hanya dianggap sebagai menstruasi yang terlambat (siklus memanjang).
Terlebih lagi insidensi abortus kriminalis, sangat sulit ditentukan karena biasanya tidak
3


dilaporkan. Angka kejadian abortus dilaporkan oleh rumah sakit sebagai rasio dari
jumlah abortus terhadap jumlah kelahiran hidup. Di USA, angka kejadian secara
nasional berkisar antara 10-20%. (Krisnandi, 2004).
Maka berdasarkan latar belakang diatas, maka tugas grand remedial dengan
judul Abortus.
1.2.Tujuan
1.2.1. Untuk mengetahui terjadi ferttilisasi dan kehamilan
1.2.2. Untuk mengetahui definisi abortus
1.2.3. Untuk mengetahui dasar diagnosa abortus
1.2.4. Untuk mengetahui dan menjelaskan abortus baik dari mengenai patologi,
etiologi dan kategori dan terapi abortus spontan
1.2.5. Untuk mengetahui dan menjelaskan tentang abortus terinduksi, baik dari segi
definisi abortus elektif, teknik abortus
1.2.6. Untuk mengetahui Komplikasi abortus












4
BAB 2
TELAAH PUSTAKA
2.1. Fisiologi Fertilisasi dan Kehamilan
2.1.1. Fertilisasi
Fertilisasi adalah penyatuan spermatozoa dan oosit sekunder untuk membentuk
sel diploid zigot yang mengandung kromosom maternal dan paternal
a. Spermatozoa. Selama berlangsungnya senggama, sekitar 250 sampai 400 juta
sperma disemprotkanke dalam vagina saat laki-laki mengejakulasi semen
spermatozoa, berenang dengan kekuatannya sendiri dan dibantu
kontraksi muskular uterus dan tuba uterin, berasenden melalui
serviks, rongga uterus, dan ismus tuba uterin menuju ampula tubal.
Hanya sedikit sprema yang diejakulasi dapat mencapai oosit yang
berada di salah satu ampula
kapasitas sperma. Sewaktu dalam lingkungan cairan pada uterus
dan tuba, sperma mengalami pengkondisian membran sel dan
akromosom sperma yang membuat sperma mampu berfertlisasi
reaksi kromosomal. Sperma terkapasitasi melepas enzim hidrolitik
dari akromosom untuk mencerna sel korona radiate dan zona
pellucid oosit dan membuka jalan untuk satu sperma menembus
oosit. Jika satu sperma menembus membrane sel oosit, zona
pellucidanya akan membuat oosit menjadi kebal terhadap sperma
lain
b. Oosit. Biasanya hanya satu oosit tunggal yang dilepas ovarium kedalam tuba
uterin saat ovulasi
saat satu sperma menembus membrane sel oosit, zona pellucid
oosit mengalami perubahan kimia dan menjadi tidak tertembus oleh
sperma lain
5


oosit diaktivasi oleh penetrasi sperma untuk menyelesaikan
pembelahan meiosis keduanya dan membentuk ovum dan badan
polar kedua. Kromosom mendapat membran nuklear yang baru
yang disebut pronukleus perempuan
c. Fusi pronukleus
sperma yang menembus oosit kehilangan flagellum dan membrane
nuklearnya menghilang. Dengan terbentuknya selaput pronuklir
yang baru, maka sperma berkembang menjadi pronukleus laki-laki
pronukleus laki-laki bergerak menuju pronukleus perempuan untuk
bersatu dengannya. Membran nuklear keduanya pecah, DNA-nya
bereplikasi, dan kromosomnya berbaris pada bidang ekuator.
Pembelahan mitosis pertama langsung terjadi
d. Oosit mampu menjalani fertilisasi selama 24 jam. Sperma aktif dalam saluran
reproduksi perempuan selama 48 sampai 72 jam. Dengan demikian, agar
fertilisasi dapat terjadi, senggama harus berlangsung antara tiga hari sebelum
ovulasi sampai satu hari setelah ovulasi (Sloane, 2003).

Gambar 1. Fertilisasi
6


2.1.2. Kehamilan
Aspek Umum. Kehamilan dimulai oleh fertilisasi sebuah sel telur oleh sebuah
sperma. Fertilisasi melibatkan masa gestasi (perkembangan embrionik dan janin)
dan secara normal diakhiri dengan partus atau kelahiran bayi
Durasi. Lama kehamilan adalah 266 hari (38 minggu) dari waktu fertilisasi
sampai waktu kelahiran bayi. Karena waktu fertilisasi yang tepat biasanya tidak
diketahui, maka tanggal kelahiran biasanya dihitung dari awitan periode
menstruasi terakhir. Asumsikan siklus 28 hari, maka partus akan terjadi pada ke-
280 atau 40 minggu (Sloane, 2003).

Gambar 2. Kehamilan dan Perkembangan Janin


7


2.2. Definisi Abortus
Definisi abortus (aborsi, abortion) adalah berakhirnya kehamilan melalui cara
apapun sebelum janin mampu bertahan hidup. Definisi lain yang sering digunakan
adalah keluarnya janin-neonatus yang beratnya kurang dari 500 gr (Cunningham et al,
2005).
Tabel 1. Berakhirnya Kehamilan menurut Lamanya Kehamilan (Krisnandi, 2004)
Lamanya Kehamilan Berat Anak Istilah
< 20 minggu < 500 gr Abortus
20-28 minggu 500-1000 gr Partus matur Persalinan kurang
bulan (preterm) 28-37 minggu 1000-2500 gr Partus prematur
37-42 minggu >2500 gr Partus matur Persalinan cukup
bulan (aterm)
> 42 minggu Partus serotin Persalinan lewat
waktu (posterm)

2.3. Dasar Diagnosa Abortus
Menurut Chalik,TM (1998) dalam penelitian Tanjung (2006), untuk menduga
seseorang menderita abortus dibuat beberapa kriteria, antara lain:
a. terjadi keterlambatan haid
b. terjadi perdarahan
c. disertai sakit perut dan mules
d. dapat diikuti oleh pengeluaran hasil konsepsi
e. pemeriksaan tes hamil dapat masih positif atau sudah negative
Selain itu juga dilakukan pemeriksaan fisik terhadap wanita dan biasanya
bervariasi, antara lain:
a. pemeriksaan fisik bervariasi tergantung jumlah pendarahan
8


b. pemeriksaan fundus uteri dilakukan dengan memperhatikan tinggi dan
besarnya tetap dan sesuai dengan umur kehamilan, tinggi dan besarnya sudah
mengecil, fundus uteri tidak teraba diatas simfisis
c. pemeriksaan dalam dilakukan dengan memperhatikan serviks uteri masih
tertutup, serviks sudah terbuka dan dapat teraba ketuban, hasil konsepsi
dalam kavum uteri atau pada kanalis servikalis dan konsistensinya lunak
2.4. Abortus Spontan
Apabila abortus terjadi tanpa tindakan mekanis atau medis untuk mengosongkan
uterus, maka abortus tersebut dinamai abortus spontan. Kata lain yang luas digunakan
adalah keguguran (miscarriage) (Cunningham et al, 2005).
2.4.1. Patologi
Abortus biasanya disertai oleh peradangan ke dalam desidua basalis dan nekrosis
di jaringan dekat tempat perdarahan. Ovum menjadi terlepas, dan hal ini memicu
kontraksi uterus yang menyebabkan ekspulsi. Apabila kantung dibuka, biasanya
dijumpai janin kecil yang mengalami maserasi dan dikelilingi oleh cairan, atau mungkin
tidak tampak janin didalam kantung dan disebut blighted ovum (Cunningham et al,
2005).
Mola karneosa atau darah adalah suatu ovum yang dikelilingi oleh kapsul
bekuan darah. Kapsul memiliki ketebalan bervariasi, dengan vili korionik yang telah
berdegenerasi tersebar diantaranya. Rongga kecil di dalam yang terisi cairan tampak
menggepeng dan terdistorsi akibat dinding bekuan darah lama yang tebal (Cunningham
et al, 2005).
Pada abortus tahap lebih lanjut, terdapat beberapa kemungkinan hasil. Janin
yang tertahan dapat mengalami maserasi. Organ-organ dalam mengalami degenerasi
dan nekrosis. Cairan amnion mungkin terserap saat janin tertekan dan mengering untuk
membentuk fetus kompresus. Kadang-kadang, janin akhirnya menjadi sedemikian
9


kering dan tertekan sehingga mirip dengan perkamen, yang disebut fetus papiresus
(Cunningham et al, 2005).
2.4.2. Etiologi
Lebih 80% abortus terjadi pada 12 minggu pertama, dan setelah itu angka ini
cepat menurun. Kelainan komosom merupakan penyebab pada, paling sedikit separuh
dari kasus abortus dini ini, dan setelah itu insidensinya juga menurun. Risiko abortus
spontan meningkat seiring dengan paritas serta usia ibu dan ayah (Cunningham et
al,2005).
2.4.2.1. Faktor Janin
a. Perkembangan zigot abnormal. Temuan morfologis tersering pada abortus
spontan dini adalah kelainan perkembangan zigot, mudigah, janin bentuk awal,
atau kadang-kadang plasenta.
b. Abortus aneuploidi. Kelainan kromosom sering dijumpai pada mudigah dan
janin awal yang mengalami abortus spontan, dan menyebabkan banyak atau
sebagian besar abortus pada awal kehamilan
c. Trisomi autosom merupakan kelainan kromosom tersering dijumpai pada
abortus trisemester pertama. Trisomi dapat disebabkan oleh nondisjunction
tersendiri, translokasi seimbang maternal atau paternal, atau inverse kromosom
seimbang
d. Monosomi X (45,X) adalah kelainan kromosom tersering berikutnya dan
memungkinkan lahirnya bayi perempuan hidup (sindrom turner). Triploidi
sering dikaitkan dengan degenerasi hidropik pada plasenta
e. Kelainan struktural kromosom jarang menyebabkan abortus dan baru
teridentifikasi setelah dikembangkannya teknik-teknik pemitaan (banding).
10


f. Abortus euploid. Penyebab abortus euploid umumnya tidak diketahui, tetapi
mungkin disebabkan oleh:
Kelainan genetik, misalnya mutasi tunggal atau faktor poligenik
Berbagai faktor ibu
Mungkin beberapa ayah (Cunningham et al, 2005).
2.4.2.2. Faktor Ibu
Berbagai penyakit medis, kondisi lingkungan, dan kelainan perkembangan
diperkirakan berperan dalam abortus euploid (Cunningham et al, 2005).
2.4.2.3. Faktor Ayah
Tidak banyak diketahui tentang faktor ayah dalam terjadinya abortus spontan.
Yang jelas, translokasi kromosom pada sperma dapat menyebabkan abortus
(Cunningham et al, 2005).
2.4.3. Kategori dan Terapi Abortus Spontan
2.4.3.1. Abortus Iminens
Diagnosis abortus iminens dipikirkan apabila terjadi perdarahan atau raba
(discharge) per vaginam pada paruh pertama kehamilan. Hal ini sangat sering di jumpai,
dan satu dari empat atau lima wanita mengalami bercak (spotting) atau perdarahan per
vaginan lebih banyak pada awal gestasi. Perdarahan abortus iminens umumnya sedikit,
tetapi dapat menetap selama beberapa hari sampai beberapa minggu (Cunningham et al,
2005).
Setelah konseptus meninggal, uterus harus dikosongkan. Semua jaringan yang
keluar harus diperiksa untuk menentukan apakah abortusnya telah lengkap. Kecuali
apabila janin dan plasenta dapat diidentifikasi secara pasti, mungkin diperlukan
kuretase. Ultrasonografi abdomen atau probe vagina dapat membantu kita dalam proses
pengambilan keputusan ini. Apabila di dalam rongga uterus terdapat jaringan dalam
11


jumlah signifikan, sebagian besar dokter menganjurkan kuretase. Kehamilan ektopik
harus selalu dipertimbangkan dalam diagnosis banding abortus iminens. Hal ini
terutama apabila kantung gestasi atau janin tidak teridentifikasi. Potong beku terhadap
hasil kuretase dapat membantu diagnosis (Cunningham et al, 2005).
Wanita dengan abortus iminens yang D-negatif mungkin diperlukan mendapat
immunoglobulin anti-D. (Cunningham et al, 2005).
2.4.3.2. Abortus tidak Terhindarkan
Abortus yang tidak terhindarkan ditandai oleh pecah ketuban yang nyata disertai
pembukaan serviks. Pada keadaan ini, abortus hampir pasti terjadi. Pada pecahnya
selaput ketuban yang nyata selama paruh pertama kehamilan sangat kecil. Apabila pada
kehamilan dini terjadi pengeluaran cairan mendadak yang mengisyaratkan pecahnya
selaput ketuban sebelum timbul nyeri atau perdarahan, wanita yang bersangkutan
dirawat tirah baring dan diamati kebocoran cairan lebih lanjut, perdarahan, nyeri kram,
atau demam. Namun, apabila pengeluaran banyak cairan disertai atau diikuti oleh
perdarahan dan nyeri, atau apabila timbul demam, abortus harus dianggap tidak dapat
dihindari dan uterus dikosongkan (Cunningham et al, 2005).
2.4.3.3. Missed Abortion
Hal ini didefinisikan sebagai potensi produk konsepsi yang telah meninggal in
utero selama beberapa minggu (Cunningham et al, 2005).
2.4.3.4. Abortus Rekuren
Keadaan ini didefinisikan menurut berbagai kriteria jumlah dan urutan, tetapi
definisi yang mungkin paling luas diterima adalah abortus spontan berturut-turut selama
tiga kali atau lebih. Pada sebagian besar kasus, abortus spontan berulang kemungkinan
adalah fenomena kebetulan (Cunningham et al, 2005).

12


2.4.4. Prognosis
Selain pada kasus antibodi antifosfolipid dan serviks inkompeten, angka
kesembuhan setelah tiga kali abortus berturut-turut berkisar antara 70 dan 85 persen,
apapun terapinya. Yaitu, angka kematian janin akan lebih tinggi, tetapi tidak jauh lebih
tinggi, dibandingkan dengan kehamilan secara umum. Namun, apabila wanita belum
pernah melahirkan bayi hidup dan pernah mengalami paling sedikit satu kali abortus
spontan, risiko abortus adalah 46 persen. Wanita dnegan abortus spontan tiga kali atau
lebih beresiko lebih besar mengalami pelahiran preterm, plasenta previa, persentasi
bokong, dan malformasi janin pada kehamilan berikutnya (Cunningham et al, 2005).
2.5. Abortus Terinduksi
Abortus terinduksi adalah terminasi kehamilan secara medis atau bedah sebelum
janin mampu hidup (viable) (Cunningham et al, 2005).
Beberapa indikasi untuk abortus terapeutik dibahas bersama penyakit yang
umumnya menyebabkan tindakan tersebut perlu dilakukan. Indikasi-indikasi yang telah
terbukti adalah penyakit jantung persisten dengan riwayat dekompensatio kordis dan
penyakit vascular hipertensif tahap lanjut. Yang lain adalah karsinoma serviks invasive.
American College of Obstetricians and Gynecologist (1987) menetapkan petunjuk
untuk abortus terapeutik:
Apabila berlanjutnya kehamilan dapat mengancam nyawa wanita yang
bersangkutan atau menganggu kesehatan secara serius
Apabila kehamilan terjadi akibat perkosaan atau incest
Apabila berlanjutnya kehamilan kemungkinan besar menyebabkan
lahirnya bayi dengan retardasi mental atau deformitas fisik berat
(Cunningham et al, 2005).


13


2.5.1. Abortus Elektif (Volunter)
Abortus elektif atau volunteer adalah interupsi kehamilan sebelum janin mampu
hidup atas permintaan wanita yang bersangkutan, tetapi bukan atas alasan penyakit janin
atau gangguan kesehatan ibu. Sebagian besar abortus yang dilakukan saat ini termasuk
dalam kategori ini; bahkan, terjadi sekitar satu abortus elektif untuk setiap tiga kelahiran
hidup di amerika serikat (Cunningham et al, 2005).
2.5.2. Teknik Aborsi
2.5.2.1. Dilatasi dan Kuretase
Abortus bedah dilakukan mula-mula dengan mendilatasi serviks dan kemudian
mengosongkan uterus dengan mengerok isi uterus (kuretase tajam) secara mekanis,
melakukan aspirasi vakum (kuretase isap), atau keduanya (Cunningham et al, 2005).
2.5.2.2. Dilator Higroskopik
Trauma akibat dilatasi mekanik dapat dikurangi dengan menggunakan suatu alat
yang secara perlahan membuka serviks. Alat ini menarik air dari jaringan serviks dan
juga digunakan untuk pematangan serviks prainduksi. Batang laminaria sering
digunakan untuk membantu membuka serviks (Cunningham et al, 2005).
2.5.2.3. Prostaglandin
Selain menggunakan dilator higroskopik agar serviks melunak, dapat digunakan
pesarium (supositoria) prostaglandin yang dimasukkan ke dalam vagina sampai ke
serviks sekitar 3 jam sebelum upaya dilatasi dilakukan (Cunningham et al, 2005).
2.5.3. Induksi Abortus Secara Medis
2.5.3.1. Oksitosin
Pemberian oksitosin dosis tinggi dalam sedikit cairan intarvena dapat
menginduksi abortus pada kehamilan trisemester kedua. Salah satu regimen yang kami
14


buktikan efektif adalah campuran 10 ampul oksitosin 1 ml (10 IU/ml) ke dalam 1000 ml
larutan ringer laktat. Larutan ini mengandung 100 mU oksitosin per ml. Infus intravena
dimulai dengan kecepatan 0,5 ml/mnt (50 mU/mnt). Kecepatan infus ditambah setiap 15
sampai 30 menit sampai maksimum 2 ml/menit (200mU/menit) (Cunningham et al,
2005).
2.5.3.2. Larutan Hiperosmotik Intraamnion
Agar terjadi abortus pada trisemester kedua, dapat dilakukan penyuntikan 20
sampai 25 persen salin atau urea 30 sampai 40 persen ke dalam kantung amnion untuk
merangsang kontraksi uterus dan pembukaan serviks (Cunningham et al, 2005).
2.5.3.3. Prostaglandin
Karena kekurangan metode-metode medis lain dalam menginduksi abortus,
prostaglandin dan beragam analognya digunakan secara luas untuk mengakhiri
kehamilan, teruatama pada trisemester kedua. Prostaglandin dapat bekerja secara efektif
pada serviks dan uterus apabila:
Dimasukkan ke vagina sebagai supositoria atau pesarium tepat di dekat
serviks
Diberikan sebagai gel melalui sebuah kateter ke dalam kanalis servikalis
dan bagian paling bawah uterus secara ekstraovular
Disuntikkan intramuscular
Disuntikkan ke dalam kantung amnion melalui aminosentesis
Diminum per oral (Cunningham et al, 2005).
2.5.4. Abortus Septik
Penyulit serius pada abortus umumnya terjadi akibat abortus kriminalis.
Perdarahan hebat, sepsis, syok, bacterial, dan gagal ginjal akut pernah terjadi abortus
legal tetapi dengan frekuensi yang jauh lebih kecil. Hasil biasanya adalah metritis, tetapi
15


dapat juga terjadi parametritis, peritonitis, endokarditis, dan septicemia (Cunningham et
al, 2005).
2.6. Komplikasi Abortus
Menurut Soerjaningsih et al (1975) dalam penelitian Tanjung (2006) wanita
yang ingin menggugurkan kandungan bersedia melakukan apa saja, agar tujuannya
tercapai. Aspek lain yang perlu di perhatikan ialah akibat social dan emosional yang
ditimbulkan oleh komplikasi abortus. Besarnya akibat tersebut sulit dinilai tetapi cukup
berarti. Risiko komplikasi atau kematian setelah abortus legal oleh tenaga yang terlatih
sangat kecil jika dibandingkan dengan abortus legal yang dilakukan oleh tenaga yang
tidak terlatih.

















16
BAB 3
PENUTUP
3.1. Kesimpulan
Di dunia angka kematian ibu dan bayi yang tertinggi adalah di Asia Tenggara.
Laporan awal Survei Demografi Kesehatan Indonesia (SKDI) 2007 menyebtkan Angka
Kematian Ibu (AKI) adalah 248 per 100.000 kelahiran hidup dan Angka Kematian Bayi
(AKB) 34 per 1000 kelahiran hidup. Departemen Kesehatan (Depkes) 2009
menargetkan pada tahun 2009 AKI menjadi 226 per 100.000 kelahiran hidup dan AKB
menjadi 26 per 1000 kelahiran hidup (Panggabean, 2010).
Ada 3 penyebab klasik kematian ibu yaitu, perdarahan, keracunan kehamilan
dan infeksi. Sebenarnya ada penyebab ke 4 yaitu abortus. Menurut Organisasi
Kesehatan Dunia (WHO) 15-50% kematian ibu disebabkan oleh abortus. Komplikasi
abortus perdarahan atau infeksi dapat menyebabkan kematian. Itulah sebabnya mengapa
kematian ibu yang disebabkan abortus sering tidak muncul dalam laporan kematian, tapi
dilaporkan sebagai perdarahan atau sepsis (Panggabean, 2010).
Apabila abortus terjadi tanpa tindakan mekanis atau medis untuk mengosongkan
uterus, maka abortus tersebut dinamai abortus spontan. Kata lain yang luas digunakan
adalah keguguran (miscarriage) (Cunningham et al, 2005). Lebih 80% abortus terjadi
pada 12 minggu pertama, dan setelah itu angka ini cepat menurun. Kelainan komosom
merupakan penyebab pada, paling sedikit separuh dari kasus abortus dini ini, dan
setelah itu insidensinya juga menurun. Risiko abortus spontan meningkat seiring dengan
paritas serta usia ibu dan ayah (Cunningham et al,2005).
Selain pada kasus antibodi antifosfolipid dan serviks inkompeten, angka
kesembuhan setelah tiga kali abortus berturut-turut berkisar antara 70 dan 85 persen,
apapun terapinya. Yaitu, angka kematian janin akan lebih tinggi, tetapi tidak jauh lebih
tinggi, dibandingkan dengan kehamilan secara umum. Namun, apabila wanita belum
pernah melahirkan bayi hidup dan pernah mengalami paling sedikit satu kali abortus
17


spontan, risiko abortus adalah 46 persen. Wanita dnegan abortus spontan tiga kali atau
lebih beresiko lebih besar mengalami pelahiran preterm, plasenta previa, persentasi
bokong, dan malformasi janin pada kehamilan berikutnya (Cunningham et al, 2005).
Abortus terinduksi adalah terminasi kehamilan secara medis atau bedah sebelum
janin mampu hidup (viable) (Cunningham et al, 2005). Beberapa indikasi untuk abortus
terapeutik dibahas bersama penyakit yang umumnya menyebabkan tindakan tersebut
perlu dilakukan. Indikasi-indikasi yang telah terbukti adalah penyakit jantung persisten
dengan riwayat dekompensatio kordis dan penyakit vascular hipertensif tahap lanjut
(Cunningham et al, 2005).
Menurut Soerjaningsih et al (1975) dalam penelitian Tanjung (2006) wanita
yang ingin menggugurkan kandungan bersedia melakukan apa saja, agar tujuannya
tercapai. Aspek lain yang perlu di perhatikan ialah akibat sosial dan emosional yang
ditimbulkan oleh komplikasi abortus. Besarnya akibat tersebut sulit dinilai tetapi cukup
berarti. Risiko komplikasi atau kematian setelah abortus legal oleh tenaga yang terlatih
sangat kecil jika dibandingkan dengan abortus legal yang dilakukan oleh tenaga yang
tidak terlatih.
3.2. Saran
Sebaiknya dalam kehamilan harus memiliiki rencana untuk kehamilan baik dari
segi istri dan suami, setiap kehamilan juga harus memeriksa kesehatan antara lain
pemeriksaan antental care tiap bulan. Sebaliknya pada ibu-ibu diberikan penyuluhan
mengenai efek dan komplikasi abortus. Sehingga angka kematian ibu dan angka
kematian bayi berkurang.






18
DAFTAR PUSTAKA
Azhari., 2002. Masalah Abortus dan Kesehatan Reproduksi Perempuan. Bagian
Obstetri dan Ginekologi Fakultas Kedokteran UNSRI/RSMH Palembang.
Avalaible from:
http://digilib.unsri.ac.id/download/MASALAH%20ABORTUS%20DAN%20KE
SEHATAN.pdf. {Accesed 03 September 2013}
Cunningham,F.G., et al.2005. Obstetri Williams. Edisi ke-21. Jakarta:EGC. hal 950-
981.
Fransisca, S.K., 2007. Aborsi/Abortus. Fakultas Kedokteran Universitas Wijaya
Kusuma Surabaya. Avalaible from :
http://last3arthtree.files.wordpress.com/2009/02/aborsi.pdf. {Accesed 03
September 2013}
Krisnandi, Sofie.R., 2004. Kelainan Lama Kehamilan. in Sastrawinata S.,
Martaasoedibrata., Wirakusumah F.F.,Obstetri Patologi. Edisi -2. Jakarta: EGC.
hal 1-9.
Panggabean,M.Y. 2010. Hubungan Karakteristik Ibu dengan Abortus Inkomlpletus Di
Rumah Sakit Haji Medan Periode Januari 2008- April 2010. Skripsi. Medan.
Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara.
Sloane, Ethel., 2003.Anatomi dan Fisiologi untuk Pemula. Editor Widyastuti,Pulpa.
Jakarta: EGC. hal.362-363.
Tanjung,S.S., 2006. Karakteristik Ibu Yang Mengalami Abortus Rawat Inap Di RSU
Padangsidimpuan Tahun 2001-2005. Skripsi. Medan. Fakultas Kesehatan
Masyarakat Universitas Sumatera Utara