Anda di halaman 1dari 28

PARKINSON

(Referat)

Oleh :
Desfi Lestari, S.Ked

Preceptor :
dr. Zam Zanariah, M.Kes., Sp.S.

KEPANITERAAN KLINIK ILMU PENYAKIT SARAF
RUMAH SAKIT UMUM DAERAH ABDUL MOELOEK
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS LAMPUNG
2014

PEMERIKSAAN
PENUNJANG
EPIDEMIOLOGI
PROGNOSIS
PATOFISIOLOGI
ETIOLOGI
TERAPI
PENDAHULUAN
DIAGNOSIS
GEJALA KLINIK
DEFINISI
Penyakit Parkinson adalah penyakit
neurodegeneratif yang bersifat kronis progresif,
merupakan penyakit terbanyak kedua setelah
demensia Alzheimer. Penyakit ini memiliki dimensi
gejala yang sangat luas sehingga baik langsung
maupun tidak langsung mempengaruhi kualitas
hidup penderita maupun keluarga.


Penyakit Parkinson pertama kali diuraikan dalam
sebuah monograf oleh James Parkinson seorang
dokter di London, Inggris, pada tahun 1817. Di
dalam tulisannya, James Parkinson mengatakan
bahwa penyakit (yang akhirnya dinamakan sesuai
dengan namanya) tersebut memiliki karakteristik
yang khas yakni tremor, kekakuan dan gangguan
dalam cara berjalan (gait difficulty).
KLASIFIKASI
Penyakit Parkinson
Merupakan bagian dari parkinsonisme yang secara
patologis ditandai dengan degenerasi ganglia
basalis terutama di substansia nigra pars kompakta
(SNc) yang disertai dengan adanya inklusi
sitoplasmik eosinofilik (lewy bodies). Disebut juga
Parkinsonisme idiopatik atau primer.

Parkinsonisme
Adalah sindrom yang ditandai dengan adanya
tremor waktu istirahat, rigiditas, bradikinesia dan
hilangnya reflex postural akibat penurunan kadar
dopamine oleh berbagai macam sebab. Disebut
juga dengan sindrom Parkinson
PEMERIKSAAN
PENUNJANG
EPIDEMIOLOGI
PROGNOSIS
PATOFISIOLOGI
ETIOLOGI
TERAPI
PENDAHULUAN
DIAGNOSIS
GEJALA KLINIK
DEFINISI
KLASIFIKASI
0,6 % pada usia 60 64
tahun
3,5 % pada usia 85 89
tahun
EROPA
AMERIKA SERIKAT
Penyakit Parkinson terjadi
di seluruh dunia. 5 10 %
orang yang terjangkit
penyakit parkinson, gejala
awalnya muncul sebelum
usia 40 tahun, tapi rata-rata
menyerang penderita pada
usia 65 tahun.
Perbandingan laki-laki dan
wanita 3:2
500.000 penduduk
menderita
parkinson

dengan jumlah penduduk 210
juta orang, diperkirakan ada
sekitar 200.000-400.000
penderita
Rata-rata usia penderita di atas
50 tahun
INDONESIA
PEMERIKSAAN
PENUNJANG
EPIDEMIOLOGI
KLASIFIKASI
PROGNOSIS
PATOFISIOLOGI
ETIOLOGI
TERAPI
DIAGNOSIS
GEJALA KLINIK
DEFINISI
PROGNOSIS
PEMERIKSAAN
PENUNJANG
EPIDEMIOLOGI
PROGNOSIS
PATOFISIOLOGI
ETIOLOGI
TERAPI
PENDAHULUAN
DIAGNOSIS
GEJALA KLINIK
DEFINISI
KLASIFIKASI
Usia
Hal ini berkaitan dengan reaksi
mikrogilial yang mempengaruhi
kerusakan neuronal, terutama pada
substansia nigra, pada penyakit
parkinson.
Geografi
Faktor resiko yang mempengaruhi
perbedaan angka secara geografis
ini termasuk adanya perbedaaan
genetik, kekebalan terhadap
penyakit dan paparan terhadap
faktor lingkungan.
Periode
Fluktuasi jumlah penderita penyakit
parkinson tiap periode mungkin
berhubungan dengan hasil
pemaparan lingkungan yang
episodik, misalnya proses infeksi,
industrialisasi ataupun gaya hidup
PEMERIKSAAN
PENUNJANG
EPIDEMIOLOGI
DIAGNOSIS
BANDING
KLASIFIKASI
PROGNOSIS
PATOFISIOLOGI
ETIOLOGI
TERAPI
PENDAHULUAN
DIAGNOSIS
GEJALA KLINIK
DEFINISI
PEMERIKSAAN
PENUNJANG
EPIDEMIOLOGI
PROGNOSIS
PATOFISIOLOGI
ETIOLOGI
TERAPI
PENDAHULUAN
DIAGNOSIS
GEJALA KLINIK
DEFINISI
KLASIFIKASI
Genetik
Penelitian menunjukkan adanya
mutasi genetik yang berperan pada
penyakit Parkinson yaitu mutasi
pada gen a-sinuklein pada lengan
panjang kromosom 4 (PARK1)
pada pasien dengan Parkinsonism
autosomal dominan. Pada pasien
dengan autosomal resesif
parkinson, ditemukan delesi dan
mutasi point pada gen parkin
(PARK2) di kromosom 6.
Faktor
Lingkungan
Xenobiotik, pekerjaan, infeksi, diet,
trauma kepala, stres dan depresi
PEMERIKSAAN
PENUNJANG
EPIDEMIOLOGI
DIAGNOSIS
BANDING
KLASIFIKASI
PROGNOSIS
PATOFISIOLOGI
ETIOLOGI
TERAPI
PENDAHULUAN
DIAGNOSIS
GEJALA KLINIK
DEFINISI
PEMERIKSAAN
PENUNJANG
EPIDEMIOLOGI
PROGNOSIS
PATOFISIOLOGI
ETIOLOGI
TERAPI
PENDAHULUAN
DIAGNOSIS
GEJALA KLINIK
DEFINISI
KLASIFIKASI
PEMERIKSAAN
PENUNJANG
EPIDEMIOLOGI
DIAGNOSIS
BANDING
KLASIFIKASI
PROGNOSIS
PATOFISIOLOGI
ETIOLOGI
TERAPI
PENDAHULUAN
DIAGNOSIS
GEJALA KLINIK
PEMERIKSAAN
PENUNJANG
EPIDEMIOLOGI
PROGNOSIS
PATOFISIOLOGI
ETIOLOGI
TERAPI
PENDAHULUAN
DIAGNOSIS
GEJALA KLINIK
DEFINISI
KLASIFIKASI
PEMERIKSAAN
PENUNJANG
EPIDEMIOLOGI
PROGNOSIS
PATOFISIOLOGI
ETIOLOGI
TERAPI
PENDAHULUAN
DIAGNOSIS
GEJALA KLINIK
DEFINISI
KLASIFIKASI

Gambar. Bagan patofisiologi penyakit parkinson
PEMERIKSAAN
PENUNJANG
EPIDEMIOLOGI
DIAGNOSIS
BANDING
KLASIFIKASI
PROGNOSIS
PATOFISIOLOGI
ETIOLOGI
TERAPI
PENDAHULUAN
DIAGNOSIS
GEJALA KLINIK
DEFINISI
PEMERIKSAAN
PENUNJANG
EPIDEMIOLOGI
PROGNOSIS
PATOFISIOLOGI
ETIOLOGI
TERAPI
PENDAHULUAN
DIAGNOSIS
GEJALA KLINIK
DEFINISI
KLASIFIKASI
Primer/Idiopatik/Paralisis Agitans/Shaking Palsy
Bentuk sindrom parkinson yang kronis yang paling sering
dijumpai yang disebut juga paralisi agitans.
Sekunder/simptomatik
Penyababnya belum diketahui. Beragam kelainan atau penyakit
dapat menyebabkan sindrom parkinson diantaranya
arteriosklerosis, anoksia, obat-obatan, zat toksik, penyakit infeksi
diotak.
Parkinson Plus (disebut juga sebagai
Paraparkinson)
Gejala parkinson hanya merupakan sebagian dari gambaran
penyakit keseluruhan.
GEJALA KLINIK
TRIAS
PARKINSON
Tremor
Bradikinesia Rigiditas
Salah satu ciri khas dari penyakit
parkinson adalah tangan tremor
(bergetar) jika sedang
beristirahat. Namun, jika orang
itu diminta melakukan sesuatu,
getaran tersebut tidak terlihat
lagi. Itu yang disebut resting
tremor, yang hilang juga sewaktu
tidur, menghebat waktu emosi
terangsang (resting/ alternating
tremor).

Tanda yang lain adalah kekakuan
(rigiditas). Jika kepalan tangan yang
tremor tersebut digerakkan (oleh
orang lain) secara perlahan ke atas
bertumpu pada pergelangan
tangan, terasa ada tahanan seperti
melewati suatu roda yang bergigi
sehingga gerakannya menjadi
terpatah-patah/putus-putus. Selain
di tangan maupun di kaki, kekakuan
itu bisa juga terjadi di leher. Akibat
kekakuan itu, gerakannya menjadi
tidak halus lagi seperti break-dance.
Gerakan volunter menjadi
lambat sehingga berkurangnya
gerak asosiatif, misalnya sulit
untuk bangun dari kursi, sulit
memulai berjalan, lambat
mengambil suatu obyek, bila
berbicara gerak lidah dan bibir
menjadi lambat. Bradikinesia
mengakibatkan berkurangnya
ekspresi muka serta mimik dan
gerakan spontan yang
berkurang, misalnya wajah
seperti topeng, kedipan mata
berkurang, berkurangnya gerak
menelan ludah sehingga ludah
suka keluar dari mulut.
PEMERIKSAAN
PENUNJANG
EPIDEMIOLOGI
DIAGNOSIS
BANDING
KLASIFIKASI
PROGNOSIS
PATOFISIOLOGI
ETIOLOGI
TERAPI
PENDAHULUAN
DIAGNOSIS
GEJALA KLINIK
DEFINISI
Gejala motorik
lain
Tiba-tiba Berhenti atau Ragu-ragu untuk
Melangkah
Mikrografia
Langkah dan gaya jalan (sikap Parkinson)
Bicara monoton
Demensia
Gangguan behavioral
Gejala Lain : Kedua mata berkedip-kedip dengan
gencar pada pengetukan diatas pangkal
hidungnya (tanda Myerson positif)

PEMERIKSAAN
PENUNJANG
EPIDEMIOLOGI
PROGNOSIS
PATOFISIOLOGI
ETIOLOGI
TERAPI
PENDAHULUAN
DIAGNOSIS
GEJALA KLINIK
DEFINISI
KLASIFIKASI
PEMERIKSAAN
PENUNJANG
EPIDEMIOLOGI
DIAGNOSIS
BANDING
KLASIFIKASI
PROGNOSIS
PATOFISIOLOGI
ETIOLOGI
TERAPI
PENDAHULUAN
DIAGNOSIS
GEJALA KLINIK
DEFINISI
Gejala non-
motorik
PEMERIKSAAN
PENUNJANG
EPIDEMIOLOGI
PROGNOSIS
PATOFISIOLOGI
ETIOLOGI
TERAPI
PENDAHULUAN
DIAGNOSIS
GEJALA KLINIK
DEFINISI
KLASIFIKASI
Disfungsi otonom
Gangguan suasana hati, penderita sering
mengalami depresi
Ganguan kognitif, menanggapi rangsangan
lambat
Gangguan tidur, penderita mengalami
kesulitan tidur (insomnia)
Gangguan sensasi
Tabel. Temuan Neurologis Utama pada Penyakit Parkinson
PEMERIKSAAN
PENUNJANG
EPIDEMIOLOGI
PROGNOSIS
PATOFISIOLOGI
ETIOLOGI
TERAPI
PENDAHULUAN
DIAGNOSIS
GEJALA KLINIK
DEFINISI
KLASIFIKASI
PEMERIKSAAN
PENUNJANG
EPIDEMIOLOGI
DIAGNOSIS
BANDING
KLASIFIKASI
PROGNOSIS
PATOFISIOLOGI
ETIOLOGI
TERAPI
PENDAHULUAN
DIAGNOSIS
GEJALA KLINIK
DEFINISI

PEMERIKSAAN
PENUNJANG
EPIDEMIOLOGI
PROGNOSIS
PATOFISIOLOGI
ETIOLOGI
TERAPI
PENDAHULUAN
DIAGNOSIS
GEJALA KLINIK
DEFINISI
KLASIFIKASI

PEMERIKSAAN
PENUNJANG
EPIDEMIOLOGI
DIAGNOSIS
BANDING
KLASIFIKASI
PROGNOSIS
PATOFISIOLOGI
ETIOLOGI
TERAPI
PENDAHULUAN
DIAGNOSIS
GEJALA KLINIK
DEFINISI
DIAGNOSIS
PEMERIKSAAN
PENUNJANG
EPIDEMIOLOGI
PROGNOSIS
PATOFISIOLOGI
ETIOLOGI
TERAPI
PENDAHULUAN
DIAGNOSIS
GEJALA KLINIK
DEFINISI
KLASIFIKASI
1. Secara klinis
Didapatkan 2 dari 3 tanda kardinal
gangguan motorik : tremor, rigiditas,
bradikinesia atau
3 dari 4 tanda motorik : tremor, rigiditas,
bradikinesia dan ketidakstabilan postural.
2. Krieteria Koller
Didapati 2 dari 3 tanda cardinal gangguan
motorik : tremor saat istirahat atau gangguan
refleks postural, rigiditas, bradikinesia yang
berlangsung 1 tahun atau lebih.
Respons terhadap terapi levodopa yang
diberikan sampai perbaikan sedang (minimal
1.000 mg/hari selama 1 bulan) dan lama
perbaikan 1 tahun atau lebih.

PEMERIKSAAN
PENUNJANG
EPIDEMIOLOGI
DIAGNOSIS
BANDING
KLASIFIKASI
PROGNOSIS
PATOFISIOLOGI
ETIOLOGI
TERAPI
PENDAHULUAN
DIAGNOSIS
GEJALA KLINIK
DEFINISI
DIAGNOSIS
PEMERIKSAAN
PENUNJANG
EPIDEMIOLOGI
PROGNOSIS
PATOFISIOLOGI
ETIOLOGI
TERAPI
PENDAHULUAN
DIAGNOSIS
GEJALA KLINIK
DEFINISI
KLASIFIKASI
Diagnosis possible : terdapat paling sedikit 2 dari
gejala kelompok A dimana salah satu diantaranya
adalah tremor atau bradikinesia dan tak terdapat
gejala kelompok B, lama gejala kurang dari 3 tahun
disertai respon jelas terhadap levodopa atau
dopamine agonis.

Diagnosis probable : terdapat paling sedikit 3 dari
4 gejala kelompok A, dan tidak terdapat gejala dari
kelompok B, lama penyakit paling sedikit 3 tahun
dan respon jelas terhadap levodopa atau dopamine
agonis.

Diagnosis pasti : memenuhi semua kriteria
probable dan pemeriksaan histopatologis yang
positif.


PEMERIKSAAN
PENUNJANG
EPIDEMIOLOGI
DIAGNOSIS
BANDING
KLASIFIKASI
PROGNOSIS
PATOFISIOLOGI
ETIOLOGI
TERAPI
PENDAHULUAN
DIAGNOSIS
GEJALA KLINIK
DEFINISI
DIAGNOSIS
PEMERIKSAAN
PENUNJANG
EPIDEMIOLOGI
PROGNOSIS
PATOFISIOLOGI
ETIOLOGI
TERAPI
PENDAHULUAN
DIAGNOSIS
GEJALA KLINIK
DEFINISI
KLASIFIKASI
3. Kriteria Gelb & Gilman
Gejala kelompok A (khas untuk penyakit Parkinson)
terdiri dari:
1. Resting tremor
2. Bradikinesia
3. Rigiditas
4. Permulaan asimetris
Gejala klinis kelompok B (gejala dini tak lazim)
diagnosa alternatif, terdiri dari:
1. Instabilitas postural yang menonjol pada 3 tahun
pertama
2. Fenomena tak dapat bergerak sama sekali
(freezing) pada 3 tahun pertama
3. Halusinasi (tidak ada hubungan dengan
pengobatan) dalam 3 tahun pertama
4. Demensia sebelum gejala motorik pada tahun
pertama.

Stadium1: Gejaladantandapadasatusisi,terdapatgejalayangringan,terdapat
gejala yang mengganggu tetapi menimbulkan kecacatan, biasanya terdapat tremor
pada satu anggota gerak, gejala yang timbul dapat dikenali orang terdekat (teman)
Stadium2: Terdapatgejalabilateral,terdapatkecacatanminimal,sikap/cara
berjalan terganggu
Stadium3: Geraktubuhnyatamelambat,keseimbanganmulaiterganggusaat
berjalan/berdiri, disfungsi umum sedang
Stadium4: Terdapatgejalayangberat,masihdapatberjalanhanyauntukjarak
tertentu,rigiditas dan bradikinesia, tidak mampu berdiri sendiri, tremor dapat
berkurang dibandingkan stadiumsebelumnya
Stadium 5: Stadiumkakhetik(cachacticstage),kecacatantotal,tidakmampu
berdiri dan berjalan walaupun dibantu.
Skala Hoehn dan Yahrn (1967) yaitu
PEMERIKSAAN
PENUNJANG
EPIDEMIOLOGI
PROGNOSIS
PATOFISIOLOGI
ETIOLOGI
TERAPI
PENDAHULUAN
DIAGNOSIS
GEJALA KLINIK
DEFINISI
KLASIFIKASI
PEMERIKSAAN
PENUNJANG
EPIDEMIOLOGI
DIAGNOSIS
BANDING
KLASIFIKASI
PROGNOSIS
PATOFISIOLOGI
ETIOLOGI
TERAPI
PENDAHULUAN
DIAGNOSIS
GEJALA KLINIK
DEFINISI
PEMERIKSAAN
PENUNJANG
EPIDEMIOLOGI
PROGNOSIS
PATOFISIOLOGI
ETIOLOGI
TERAPI
PENDAHULUAN
DIAGNOSIS
GEJALA KLINIK
DEFINISI
KLASIFIKASI
Pemeriksaan penunjang meliputi :
MRI dan CT-scan untuk menyingkirkan diagnosa
banding seperti stoke cardioemboli, hidrosefalus
dan Wilson Disease
EEG (biasanya terjadi perlambatan yang progresif)
PET (Positron Emission Tomography) dan SPECT
(Single Photon Emission Computed Tomography).
Didapatkan gambaran penurunan uptake 18-F
dopa pada putamen kontralateral
Tujuan : meminimalkan kecacatan dan
efek samping, serta meningkatkan kualitas
hidup semaksimal mungkin

PEMERIKSAAN
PENUNJANG
EPIDEMIOLOGI
PROGNOSIS
PATOFISIOLOGI
ETIOLOGI
PENATALAK
SANAAN
PENDAHULUAN
DIAGNOSIS
GEJALA KLINIK
DEFINISI
KLASIFIKASI
Farmakologi
Meningkatkan
kadar dopamine
Mengaktifkan
reseptor
dopamine
dengan agonis
Menekan
aktivitas
kolinergik
dengan obat-
obat
antikolinergik
Non
farmakologi
Edukasi
Latihan
Nutrisi
Pembedaha
n
PEMERIKSAAN
PENUNJANG
EPIDEMIOLOGI
DIAGNOSIS
BANDING
KLASIFIKASI
PROGNOSIS
PATOFISIOLOGI
ETIOLOGI
TERAPI
PENDAHULUAN
DIAGNOSIS
GEJALA KLINIK
DEFINISI
Obat-obat yang
digunakan
PEMERIKSAAN
PENUNJANG
EPIDEMIOLOGI
PROGNOSIS
PATOFISIOLOGI
ETIOLOGI
TERAPI
PENDAHULUAN
DIAGNOSIS
GEJALA KLINIK
DEFINISI
KLASIFIKASI
Meningkatkan kadar dopamine endogen
L-Dopa= precursor dopa
Carbidopa, benserazid= menghambat
metabolism perifer oleh dopa dekarboksilase
Enacapon, tolcapon = menghambat degenerasi
Dopa oleh O-metiltransferase
Selegilin= menghambat degenerasi Dopa oleh
MAO B
Amantadin = meningkatkan sintesis dan
pelepasan dopamine, menghambat re-uptake
PENATALAK
SANAAN
PEMERIKSAAN
PENUNJANG
EPIDEMIOLOGI
DIAGNOSIS
BANDING
KLASIFIKASI
PROGNOSIS
PATOFISIOLOGI
ETIOLOGI
TERAPI
PENDAHULUAN
DIAGNOSIS
GEJALA KLINIK
DEFINISI
Obat-obat yang
digunakan
PEMERIKSAAN
PENUNJANG
EPIDEMIOLOGI
PROGNOSIS
PATOFISIOLOGI
ETIOLOGI
TERAPI
PENDAHULUAN
DIAGNOSIS
GEJALA KLINIK
DEFINISI
KLASIFIKASI
Meningkatkan reseptor dopamine dan agonis
bromokriptin, lisurid = agonis D2
Pramipeksol, ropirinol = agonis D2 dan D3
Pergolid, apomorfin= agonis D1 dan D2

Menekan aktivitas kolinergik dengan obat-
obat antikolinergik
benztropin, triheksifenidil
PENATALAK
SANAAN
PEMERIKSAAN
PENUNJANG
EPIDEMIOLOGI
DIAGNOSIS
BANDING
KLASIFIKASI
PROGNOSIS
PATOFISIOLOGI
ETIOLOGI
TERAPI
PENDAHULUAN
DIAGNOSIS
GEJALA KLINIK
DEFINISI
PEMERIKSAAN
PENUNJANG
EPIDEMIOLOGI
PROGNOSIS
PATOFISIOLOGI
ETIOLOGI
PENATALAK
SANAAN
PENDAHULUAN
DIAGNOSIS
GEJALA KLINIK
DEFINISI
KLASIFIKASI
PEMERIKSAAN
PENUNJANG
EPIDEMIOLOGI
DIAGNOSIS
BANDING
KLASIFIKASI
PROGNOSIS
PATOFISIOLOGI
ETIOLOGI
TERAPI
PENDAHULUAN
DIAGNOSIS
GEJALA KLINIK
DEFINISI
Penyakit Parkinson bukan penyakit yang
fatal,tetapi berkembang secara progresif
sesuai waktu serta tidak dapat diprediksi.
Dengan terapi yang adekuat, pasien dapat
cukup lama hidup produktif setelah
didiagnosis. Angka harapan hidup penderita
penyakit Parkinson umumnya lebih rendah
dibandingkan dengan orang sehat. Pada
tahap akhir, penyakit Parkinson menyebabkan
komplikasi seperti tersedak, pneumonia, dan
terjatuh yang dapat menyebabkan kematian.
Dewanto G, Suwono W, Budi R, dan Yuda T. 2009.
Diagnosa dan Tatalaksana Penyakit Saraf. Jakarta: EGC.
Hal 143 152.
Ginsberg. L. Lecture. 2008. Notes: Neurologi Edisi
Kedelapan. Erlangga.
Husni A: Penyakit parkinson, patofisiologi, diagnosis dan
wacana terapi. Disampaikan pada Temu Ilmiah Nasional I
dan konferensi kerja III PERGEMI . 2002. Semarang.
Joesoef AA. 2001. Patofisiologi dan managemen penyakit
parkinson. Dalam: Pendidikan Kedokteran Berkelanjutan V.
Surabaya : FK. Unair 2753.
Katzung BG. 2009. Farmakologi Dasar dan Klinik. Edisi VI.
Jakarta: EGC. Hal 438 449.
Rahayu RA. Penyakit parkinson. Dalam: Sudoyo AW et al
(editor). Buku ajar ilmu penyakit dalam. Ed 5. Jakarta :
interna publishing.
Sylvia A dan Lorraine MW. 2009. Patofisiologi. Edisi 6.
Jakrta: EGC. Vol.2. Hal 1141 1144.

DAFTAR PUSTAKA



TERIMA KASIH
TERIMA KASIH