Anda di halaman 1dari 13

SKIZOFRENIA KATATONIK

Paper ini dibuat sebagai salah satu persyaratan dalam mengikuti


Kepaniteraan Klinik Senior di SMF Kesehatan Jiwa
RSU Dr. Pirngadi Medan

Disusun Oleh :
RIZA BETTA ANISA
101001205

Pembimbing :

dr. Mawar Gloria Tarigan, SpKJ

SMF KESEHATAN JIWA


RSU DR. PIRNGADI MEDAN
2014

KATA PENGANTAR

Dengan mengucapkan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, dengan rahmat dan
hidayah-Nya penulis dapat menyelesaikan paper ini, dengan judul Skizofrenia Katatonik
sebagai salah satu syarat dalam mengikuti kegiatan Kepaniteraan Klinik Senior di SMF
Kesehatan Jiwa. Dr. Pirngadi Medan.
Pada kesempatan ini penulis juga mengucapkan terima kasih kepada Dokter Pembimbing
yaitu dr. Mawar Gloria Tarigan,SpKJ atas bimbingan dan arahannya selama mengikuti
Kepaniteraan Klinik Senior di SMF Kesehatan Jiwa RSU. Dr. Pirngadi Medan serta dalam
penyusunan paper ini.
Kami menyadari sepenuhnya bahwa paper ini memiliki banyak kekurangan baik dari
kelengkapan teori maupun penuturan bahasa, karena itu penulis mengharapkan kritik dan saran
yang membangun untuk perbaikan dimasa mendatang. Harapan kami semoga paper ini dapat
memberi manfaat bagi kita semua. Amin.

Medan, Oktober 2014

Penulis

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR.

DAFTAR ISI

ii

BAB I PENDAHULUAN...

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Defenisi..

2.2. Etiologi...

2.3. Gambaran Klinis dan Diagnostik..

2.4. Klasifikasi.

2.5. Kriteria Diagnostik

2.6. Pedoman Wawancara dan Psikoterapi.

2.7. Evaluasi dan Pengelolaan.

2.8. Penatalaksanaan

BAB III KESIMPULAN...

DAFTAR PUSTAKA

10

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Hampir 1% penduduk di dunia menderita skizofrenia selama hidup mereka. Prevalensi
skizofrenia pada wanita dan laki-laki adalah sama. Tetapi, dua jenis kelamin menunjukkan
perbedaan dalam onset dan perjalanan penyakit. Gejala skizofrenia biasanya muncul pada usia
remaja akhir atau dewasa muda. Awitan pada laki-laki biasanya 15-25 tahun dan pada perempuan
antara 25-35 tahun. Prognosis biasanya lebih buruk pada laki-laki bila dibandingkan dengan
perempuan. Awitan setelah umur 40 tahun jarang terjadi. (1,2)
Diagnosis skizofrenia, menurut sejarahnya, mengalami perubahan-perubahan. Ada
beberapa cara menegakkan diagnosis. Pedoman untuk menegakkan diagnosis adalah DSM-IV
(Diagnostic and Statistical Manual) dan PPDGJ-III/ICD-X. dalam DSM-IV terdapat kriteria
objektif dan spesifik untuk medefenisikan skizofrenia. Belum ada perencanaan yang
patognomonik untuk skizofrenia. Diagnosis berdasarkan gejala atau deksripsi klinis dan
merupakan suatu sindrom.(1,2)
Etiologi skizofrenia belum pasti. Berdasarkan penelitian biologik, genetik,
fenomenologik, dinyatakan bahwa skizofrenia merupakan suatu gangguan atau penyakit.(1,2)

BAB II
PEMBAHASAN

2.1. Defenisi
Skizofrenia Katatonik adalah satu tipe skizofrenia yang ditandai oleh ketegangan
(katatonia), negativisme, dan stupor atau gaduh.(1)
2.2. Etiologi
Penyebabnya belum diketahui.(1,2,3,4,5) Berdasarkan penelitian biologik, genetik,
fenomenologik dinyatakan bahwa skizofrenia merupakan suatu gangguan atau penyakit.
(1,2)

Skizofrenia kemungkinan merupakan suatu kelompok gangguan dengan penyebab


yang berbeda dan secara pasti memasukkan pasien yang gambaran klinisnya, respon
pengobatannya dan perjalanan penyakitnya adalah bervariasi.(1,4)
Skizofrenia tidak diduga sebagai suatu penyakit tunggal tetapi sebagai suatu
kelompok penyakit dengan ciri-ciri klinik umum. Banyak teori penting telah diajukan
mengenai etiologi dan ekspresi gangguan ini.(3)
1. Teori Biologik dan Genetik
Penelitian keluarga (termasuk penelitian kembar dan adopsi) sangan mendukung teori
bahwa faktor genetik mempunyai peran penting dalam transmisi skizofrenia, atau
paling tidak memberi suatu sifat kerawanan dan juga menjadi penyebab peningkatan
insidensi dan sindrom mirip skizofrenia (gangguan kepribadian skizoafektif, skizotipik,
dan lainnya) yang terjadi dalam keluarga.
2. Hipotesis Neurotransmitter
Riset terakhir memusatkan diri disekitar kelainan neurotransmitter yang ditemukan
pada penderita skizofrenik dan berpusat pada system dopaminergik sebagai lesi atau
ketidakseimbangan kimiawi yang bertanggung jawab, penelitian terakhir
memperlihatkan adanya kelebihan reseptor dopaminergik dalam susunan saraf pusat
(SSP) penderita skizofrenik. Pada hakekatnya, neuroleptik diduga afektif karena
kemampuannya memblokir reseptor dopaminergik. Penelitian mengenai skizofrenik
yang tak diobati juga mengungkapkan suatu kelebihan dari reseptor dopaminergik yang
secara langsung berlawanan dengan teori bahwa temuan ini malah berhubungan dengan
pemberian neuroleptik.
3. Pencetus Psikososial
Stressor sosio-lingkungan sering berkorelasi sementara dengan serangan awal dan
kekambuhan dan dapat diduga sebagai suatu terobosan kekuatan protektif, dengan tetap
mempertahankan kerawanan psikobiologik dalam pengendalian. Peningkatan angka
kekambuhan berhubungan secara bermakna dengan tiga tindakan emosi yang

dinyatakan (EE) dilingkungan rumah: komentar kritis, permusuhan dan keterlibatan


emosional yang berlebihan. Penelitian menunjukkan bahwa pemisahan pasien dari
keluarga emosi yang dinyatakn (EE) tinggi ( atau malah suatu penurunan dalam jumlah
kontak) memperbaiki angka kekambuhan.

2.3. Gambaran Klinis dan Diagnostik


Kriteria umum untuk suatu skizofrenia harus terpenuhi. Adapun criteria dari skizofrenia
ini adalah harus ada satu gejala berikut ini yang amat jelas (dan biasanya 2 gejala atau
lebih, bila gejala-gejala itu kurang tajam atau kurang jelas)(4,5) :
1. Thought echo: isi pikiran diri sendiri yang berulang atau bergema dalam kepalanya
(tidak keras) dan isi pikiran ulangan, walaupun isinya sama tapi kualitasnya berbeda;
Thought insertion atau Thought withdrawl: isi pikiran yang asing dari luar masuk
kedalam pikirannya (insertion) atau isi pikirannya diambil keluar oleh sesuatu dari luar
dirinya (withdrawl); Thought broadcasting: isi pikirannya tersiar keluar sehingga
orang lain atau umum mengetahuinya.
2. Delusion of control: waham tentang dirinya dikendalikan oleh suatu kekuatan tertentu
dari luar; Delusion passivity: waham tentang dirinya tidak berdaya dan pasrah terhadap
suatu kekuatan dari luar; Delusion of perception: pengalaman indrawi yang tidak
wajar, yang bermakna sangat khas bagi dirinya, biasanya bersifat mistik atau mukjizat.
3. Halusinasi Auditorik
a. Suara halusinasi yang berkomentar secara terus menerus terhadap perilaku;
b. Suara yang mendiskusikan perihal pasien diantara mereka sendiri (diantara berbagai
suara yang berbicara);
c. Jenis suara halusinasi ynag berasal dari salah satu bagian tubuh.
4. Waham-waham menetap jenis lainnya yang menurut budaya setempat dianggap tidak
wajar dan sesuatu yang mustahil, misalnya perihal keyakinan agama atau politik
tertentu, atau kekuatan dan kemampuan diatas manusia biasa (misalnya mampu
mengendalikan cuaca atau bercakap-cakap dengan makhluk asing dan sebagainya).

Atau paling sedikit memiliki 2 gejala dibawah ini yang harus selalu ada secara jelas:
1. Halusinasi yang menetap dari panca indra apa saja apabila disertai baik oleh waham
yang mengambang maupun yang setengah berbentuk tanpa kandungan afektif yang
jelas, ataupun disertai ide-ide berlebihan yang menetap, atau apabila terjadi setiap hari
selama berminggu-minggu atau berbulan-bulan secara terus menerus.

2. Arus pikiran yang terputus atau mengalami sisipan, yang berakibat inkoherensi atau
pembicaraan yang tidak relevan, atau neologime.
3. Perilaku katatonik, seperti keadaan gaduh gelisah, posisi tubuh tertentu atau
fleksibilitas cerea, negativism, mutisme, atau stupor.
4. Gejala-gejala negative, seperti sikap sangat apatis, bicara yang jarang dan respon
emosional yang menumpul atau tidak wajar, biasanya yang mengakibatjan penarikan
diri dari pergaulan sosial serta menurunnya kinerja sosial; tetapi harus jelas bahwa
semua hal tersebut tidak disebabkan oleh depresi atau medikasi neuroleptik.
Untuk diagnosis skizofrenia katatonik satu atau lebih perilaku berikut ini harus
mendominasi gambaran klinisnya.(1,3,5)
1. Stupor (amat berkurangnya reaktivitasterhadap lingkungan dan dalam gerakan serta
aktivitas spontan) atau mutisme
2. Kegelisahan (aktivitas motor yang tampak tak bertujuan yang tidak dipengaruhi oleh
stimuli eksternal)
3. Berpose (secara sukarela mengambil dan mempertahankan sikap tubuh tertentu yang
tidak wajar)
4. Negativisme ( perlawanan yang jelas tidak bermotif terhadap semua instruksi atau
upaya untuk digerakan atau bergerak kearah yang berlawanan)
5. Rigiditas ( Rigidity: mempertahankan sikap tubuh yang kaku melawan upaya untuk
menggerakannya)
6. Gejala lain seperti otomatisme terhadap perintah (command automatism: ketaatan
secara otomatis terhadap perintah), dan perseverasi kata-kata serta kalimat.

2.4. Klasifikasi
Ada beberapa subtype skizofrenia yang diidentifikasikan berdasarkan variabel klinik(1,2,5):
1. F 20.0. Skizofrenia Paranoid

Ini adalah jenis skizofrenia yang paling sering dijumpai dinegara manapun. Gambaran
klinisnya didominasi oleh waham-waham yang secara relatif stabil, sering kali bersifat
paranoid, biasanya disertai halusinasi-halusinasi pendengaran.
2. F 20.1. Skizofrenia Disorganisasi (Herbefrenik)
Suatu bentuk skizofrenia dengan perubahan afektif yang tampak jelas, dan secara
umum juga dijumpai waham dan halusinasi ang bersifat mengambang serta terputusputus (fragmentary), perilaku yang tidak bertanggung jawab dan tak dapat diramalkan,
serta umumnya mennerisme.
3. F 20.2. Skizofrenia Katatonik
4. F 20.3. Skizofrenia tak terinci
5. F.20.4. Depresi pasca skizofrenia
Suatu episode depresif yang mungkin berlangsung lama dan timbul sesudah suatu
serangan penyakit skizofrenia.
6. F 20.5. Kizofrenia Residual
Suatu stadium kronis dalam perkembangan suatu gangguan skizofrenik dimana telah
terjadi progresi yang jelas dari stadium awal.
7. F 20.6. Skizofrenia simpleks
Suatu kelainan yang tidak lazim dimana ada perkembangan yang bersifat perlahan tapi
progresif mengenai keanehan tingkah laku, ketidakmampuan untuk memenuhi tuntutan
masyarakat dan penurunan kinerja secara menyeluruh.

8. F 20.7. Skizofrenia lainnya


Termasuk: Skizofrenia senestopatik dan gangguan skizofreniform YTT
Tak termasuk:
-

Gangguan lir-skizofrenia akut (F 23.2)

Skizofrenia siklik (F 25.2)


Skizofrenia Laten

9. F 20.8. Skizofrenia tak tergolongkan

2.5 Kriteria Diagnostik


Satu tipe Skizofrenia Katatonik yang secara klinis didomiasi oleh salah satu gejala
dibawah ini (1,2,3):
1. Stupor Katatonik
Penurunan yang mencolok dalam reaksi terhadap lingkungan dan/atau pengurangan
dari gerakan spontan atau aktivitas atau mutisme.
2. Negativisme Katatonik
Suatu perlawanan yang tanpa motif terhadap perintah atau usaha untuk menggerakan.
3. Kekuatan Katatonik
Dipertahankannya suatu postur yang kaku terhadap semua usaha untuk menggerakkan.
4. Gaduh Katatonik
Gerakan motorik yang hebat, yang tidak bertujuan dan tidak disebabkan oleh
rangsangan dari luar.
5. Postur Katatonik
Mempertahankan dengan sengaja satu kedudukan tubuh yang tidak wajar dan bizarre.

2.6 Pedoman Wawancara dan Psikoterapi


Ingat bahwa pasien katatonia yang tidak responsive sebenarnya siaga penuh dan
sadar. Jelaskan semua tindakan dan prosedur Pemeriksaan pada pasien. Mereka biasanya
ingat semua peristiwa yang berlangsung dan segala pernyataan yang diucapkan orang
saar stupor ini.(1)

2.7 Evaluasi dan Pengelolaan


1. Pasien Katatonik mungkin membutuhkan terapi untuk cedera diperbuat sendiri,
malgizi, dehidrasi, kelelahan, atau hiperpireksia. Singkirkan semua penyakit fisik yang
mendasarinya yang bermanifestasi sebagai dekompensasi katatonik (contoh: sindrom
neuroleptik maligna).
2. Laksanakan Pemeriksaan psikiatri untuk memastikan diagnosis dan menilai pasien
untuk penyebab organic dan penyalahgunaan zat/obat secara ko-morbid. Riwayat
pasien yang didapat dari informan ketiga amat berguna.
3. Berikan lingkungan yang aman untuk pasien dan staf karena pasien katatonik dapat
secara tak terduga meletup menjadi gaduh dan bertindak keras. Pengenkangan dan
sedasi akan dibutuhkan.
4. Periksa pasien untuk efek samping medikasi dengan memperhatikan akinesia akibat
antipsikotik yang mirip katatonia.
5. Evaluasi pasien untuk stressor psikososial yang dapat mencetuskan kambuhnya.
Apakah kondisi kehidupan pasien berubah? Apakah pasien mengalami trauma?
6. Evaluasi pasien untuk depresi yang mungkin menyebabkan dekompensasi katatonik
7. Perawatan inap dirumah sakit mungkin dibutuhkan. Pasien katatonik beresiko tinggi
untuk bertindak impulsive secara keras dan sering tidak dapat memelihata kebutuhan
sendiri.(1)
2.9. Penatalaksanaan
Skizofrenia diobati dengan antipsikotika. Obat ini dibagi dalam 2 kelompok, bedasarkan
mekanisme kerjanya, yaitu dopamine reseptor antagonis (DRA) atau antipsikotika generasi I
(APG I) dan serotonin-dopamine antagonis (SDA) atau antipsikotika generasi II (APG-II). Obat
APG-I disebut juga antipsikotika konvensional atau tipikal sedangkan APG-II disebut juga
antipsikotika baru atau atipkal.(2)
Obat APG-I berguna terutama untuk mengontrol gejala-gejala positif sedangkan untuk
gejala negative hamper tidak bermanfaat. Obat APG-II bermanfaat baik untuk gejala positif
maupun negative. (2)
Sebaiknya skizofrenia diobati dengan APG-II dengan kisaran dosis equivalen
klorpromazin 300-600 mg/hari atau kadang-kadang mungkin lebih. Pemeliharaan dengan dosis
rendah antipsikotika diperlukan, setelah kekambuhan pertama. Dosis pemeliharaan sebaiknya
diteruskan untuk beberapa tahun.(2)

Standar emas baru adalah APG-II. Meskipun harganya mahal tetapi manfaatnya sangat
besar. Pilihlah APG-II yang efektif dan efek samping yang lebih ringan dan dapat digunakan
secara aman tanpa memerlukan pemantauan jumlah sel darah putih setiap minggu. Gunakanlah
APG-II yang sama yang anda tidak harus memantaunya secara ketat. (2)
Terapi darurat terdiri dari antipsikotika seperti fluefenazin (prolixin, anantesol) 2-5 mg
IM, haloperidol (haldol) 2-5 mg IM, tiotiksen (navane) 5 mg IM, semua diberikan setiap 30
menit seperlunya. Lorazepam (ativan) 1-2 mg IM tiap 4-6 jam bermanfaat untuk katatonia.(2)

BAB III
PENUTUP

Kesimpulan
Skizofrenia tidak diduga sebagai suatu penyakit tunggal tetapi sebagai suatu kelompok
penyakit dengan cirri-ciri klinik umum. Banyak teori penting telah iajukan mengenai etiologi dan
ekspresi gangguan ini.
Skizofrenia Katatonik adalah suatu tipe skizofrenia yang ditandai oleh ketegangan
(katatonia), negativisme, dan stupor atau gaduh.
Untuk diagnosis skizofrenia katatonik satu atau lebih dari perilaku Stupor Katatonik,
Negativisme Katatonik, Kekuatan Katatonik, Gaduh Katatonik, dan Postur Katatonik.
Terapi darurat terdiri dari antipsikotik seperti fluefenazin (prolixin, anantesol) 2-5 mg IM,
haloperidol (haldol) 2-5 mg IM, tiotiksen (navane) 5 mg IM, atau trifluoperazin (stelazin) 5 mg
IM, semua diberikan tiap 30 menit seperlunya. Lorazepam (ativan) 1-2 mg IM tiap 4-6 jam
bermanfaat untuk katatonia.

DAFTAR PUSTAKA

1. Kaplan HI, Saddock BJ. Ilmu Kedokteran Jiwa Darurat. Jakarta : Widya Medika. 1997.
2. Elvira, Sylvia D, Hadikusuma Gitayanti. Buku Ajar Pskiatri. Jakarta : EGC. 1997.
3. Residen Bagian Psikiatri UCLA. Buku Saku Psikiatri. Jakarta : EGC. 1997.
4. Mansjoer, rif dkk. Kapita Selekta Kedokteran, edisi ketiga. Media Aesculapius :
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.2001.
5. muslim, Rusdi. Diagnosis Gangguan Jiwa, Rujukan Ringkas PPDGJ-III. Jakarta.2001.