Anda di halaman 1dari 32

LAPORAN PRAKTIKUM

TEKNOLOGI SEDIAAN LIQUIDA DAN SEMISOLIDA


Sediaan Krim Gentamisin Sulfat

Disusun oleh:

Ella Masliana Dewi

P17335113005

POLITEKNIK KESEHATAN BANDUNG


JURUSAN FARMASI
2014

SEDIAAN KRIM GENTAMISIN SULFAT

I.

TUJUAN PERCOBAAN

1.

Menentukan formulasi yang tepat dalam pembuatan sediaan krim


Gentamisin Sulfat.

2.

II.

Menentukan hasil evaluasi sediaan krim Gentamisin Sulfat.

PENDAHULUAN

Krim adalah sediaan setengah padat berupa emulsi yang mengandung satu atau
lebih bahan obat terlarut atau terdispersi dalam bahan dasar yang sesuai
(mengandung air tidak kurang dari 60%).
Krim ada dua tipe yakni krim tipe M/A dan tipe A/M. Krim yang dapat dicuci
dengan air (M/A), ditujukan untuk penggunaan kosmetika dan estetika. Krim
dapat digunakan untuk pemberian obat melalui vagina.
Stabilitas krim akan rusak jika sistem campurannya terganggu oleh perubahan
suhu dan perubahan suhu dan perubahan komposisi ( adanya penambahan salah
satu fase secara berlebihan). Pengenceran krim hanya dapat dilakukan jika sesuai
pengenceran yang cocok, yang harus dilakukan dengan teknik aseptis. Krim yang
sudah diencerkan harus digunakan dalam waktu 1 (satu) bulan.
Bahan pengemulsi krim harus disesuaikan dengan jenis dan sifat krim yang
dikehendaki. Sebagai bahan pengemulsi krim dapat digunakan emulgid, lemak
bulu domba, setasium, setil alkohol, stearil alkohol, golongan sorbitan, polisorbat,
PEG, dan sabun.
Bahan pengawet yang sering digunakan umumnya metil paraben (nipagin) 0,120,18%, propilparaben (nipasol) 0,02-0,05%.

Cara pembuatan krim : bagian lemak dilebur diatas tangas air kemudian
tambahkan bagian airnya dengan zat pengemulsi, aduk sampai terjadi suatu
campuran yang berbentuk krim. (Syamsuni, 2006; 74-75)
Preparat yang digunakan pada kulit antara lain untuk efek fisik, yaitu, kemampuan
bekerja sebagai pelindung kulit, pelincir, pelembut, zat pengering, dan lain-lain,
atau efek khusus dari bahan obat yang ada. Preparat ini dijual bebas, sering
mengandung campuran dari bahan obat yang digunakan dalam pengobatan
kondisi tertentu seperti, infeksi kuli yang ringan, gatal-gatal, luka bakar, merah
bekas popok, sengatan dan gigitan serangga, kutu air, mata ikan, penebalan kulit
dan keras, kutil, ketombe, jerawat, penyakit kulit kronis (psoriasis), dan eksim.
Pemakaian obat pada kulit yang memerlukan resep, umumnya mengandung bahan
obat tunggal yang dimaksudkan untuk melawan kondisi diagnosis khusus.
Walaupun pada umumnya diinginkan dalam pengobatan penyakit kulit, untuk obat
dalam pemakaiannya mengandung bahan obat supaya meresap melalui permukaan
dan masuk kedalam kulit, biasanya tidak dimaksudkan (kecuali untuk sistem
pengobatan melalui kulit) bahwa pengobatan masuk kedalam sirkulasi umum.
Bagaimanapun juga sekali obat ini melalui epidermis, akan sampai ke pembuluh
darah kapiler dan mengisi jaringan subkutan dan absorpsinya masuk kedalam
sirkulasi umum ini bukan tidak mungkin. Pada kenyataannya, absorpsi seperti itu
biasanya terjadi sesudah pemakaian preparat tertentu secara topikal, seperti
dibuktikan deteksi kadar obat dalam darah dan ekskresi obat atau hasil
metabolitnya dalam urin. Untungnya kebanyakan bahan untuk pemakaian topikal
jumlah diabsorbsi pada umumnya tidak cukup beracun, sehingga pengaruh
absorpsi biasanya tidak diketahui pasien.
Absorpsi Perkutan
Absorpsi bahan dari luar kulit ke posisi bawah kulit tercakup masuk ke dalam
aliran darah, disebut sebagai absorpsi perkutan. Pada umunya, absorpsi perkutan
dari bahan obat ada pada preparat dermatologi seperti cairan, gel, salep, krim atau
pasta tidak hanya bergantung pada sifat kimia dan fisika dari bahan obat saja, tapi
juga pada sifat apabila dimasukkan ke dalam pembawa farmasetika dan pada
kondisi dari kulit. Cukup dikenal bahwa walaupun pembawa farmasetika tidak
dapat lebih jauh menembus kulit, atau membawa bahan obat melalui kulit,

terhadap kadar dan tingkat penembus kulit, pembawa tidak mempengaruhi laju
dan derajat penetrasi zat obat, dan derajat serta laju penetrasi variasi dengan
berbedanya obat dan berbedanya pembawa. Oleh karena itu untuk absorpsi
perkutan dan efektivitas teurapeutik, tiap kombinasi obat harus diuji secara
sendiri-sendiri.
Kulit
Pada permukaan kulit ada lapisan dari bahan yang diemulsikan terdiri dari
campuran kompleks dari cairan berlemak, keringat dan lapisan tanduk yang dapat
terkelupas, yang terakhir dari lapisan sel epidermis yang tealah mati yang disebut
lapisan tanduk atau stratum corneum dan letaknya langsung dibawah lapisan
yang diemulsikan. Dibawah lapisan tanduk yang teratur terdapat lapisan
penghalang epidermis yang hidup atau stratum germinativum, dan dermis atau
kulit sesungguhnya.
Pembuluh darah kapiler dan serabut-serabut syaraf timbul dari jaringan lemak
subkutan masuk ke dalam dermis dan sampai pada epidermis. Kelenjar keringat
berada pada jaringan subkutan menghasilkan produknya dengan cara pembuluh
keringat menemukan jalannya ke permukaan kulit. Kelenjar lemak dan folikel
rambut yang berpangkal pada dermis dan lapisan subkutan juga menemukan
jalannya ke permukaan dan nampak seperti pembuluh dan rambut berturut-turut.
Penetrasi Kulit oleh Obat
Mungkin obat dapat berpenetrasi kulit yang utuh setelah pemakaian topikal
melalui dinding folikel rambut, kelenjar keringat atau kelenjar lemak atau antara
sel-sel dari selaput tanduk. Sebenarnya bahan obat yang dipakai mudah memasuki
kulit yang rusak atau pecah-pecah, akan tetapi sesungguhnya penetrasi semacam
itu bukan absorpsi perkutan yang benar.
Apabila kulit utuh, maka cara utama untuk penetrasi obat umumnya melalui
lapisan epidermis, lebih baik pada folikel rambut atau kelenjar keringat, karena
luas permukaan terakhir lebih kecil dibandingkan dengan daerah kulit yang tidak
mengandung elemen anatomi ini. Selaput yang menutupi lapisan tanduk umumnya
tidak terus-menerus dan sebenarnya tidak mempunyai daya tahan terhadap
penetrasi. Karena susunan dari bermacam-macam selaput dengan proposi lemak

dan keringat yang di produksi dan derajat daya lepasnya melalui pencucian serta
penguapan keringat, selaput bukan penghalang yang sesungguhnya terhadap
pemindahan obat selama tidak memiliki komposisi, ketebalan atau kelanjutan
tertentu.
Absorpsi perkutan suatu obat pada umumnya disebabkan oleh penetrasi langsung
obat melalui stratum corneum, tebal lapisan datar mengeringkan sebagian demi
sebagian jaringan mati yang membentuk permukaan kulit paling luar. Stratum
corneum terdiri dari kurang lebih 40% protein (pada umumnya keratin) dan 40%
air dengan lemak berupa perimbangannya terutama sebagai trigliserida, asam
lemak bebas, kolesterol dan fosfat lemak. Kandungan lemak dipekatkan dalam
fase ekstraseluler stratum corneum dan sebegitu jauh akan membentuk membran
mengelilingi sel. Komponen lemak dipandang sebagai faktor utama yang secara
langsung bertanggung jawab terhadap rendahnya penetrasi obat melalui stratum
corneum. Sekali molekul obat melalui stratum corneum kemudian dapat terus
melalui jaringan epidermis yang lebih dalam dan masuk ke dermis apabila obat
mencapai lapisan pembuluh kulit maka obat tersebut siap untuk diabsorpsi ke
dalam sirkulasi umum.
Stratum corneum sebagai jaringan keratin akan berlaku sebagai membran buatan
yang semi permeable, dan molekul obat mempenetrasi dengan cara difusi pasif.
Jadi, jumlah obat yang pindah menyebrang lapisan kulit tergantung pada
konsentrasi obat, kelarutannya dalam air dan koefisien partisi minyak atau airnya.
Bahan-bahan yang mempunyai sifat larut dalam keduanya, minyak dan air,
merupakan bahan yang baik untuk difusi melalui stratum corneum seperti juga
melalui epidermis dan lapisan-lapisan kulit.
Walaupun kulit telah dibagi secara histologi ke dalam stratum korneum, epidermis
yang hidup, dan dermis secara bersama-sama dapat dianggap merupakan lapisan
penghalang. Penetrasi lapisan ini dapat dengan cara difusi melalui :
1. Penetrasi Transseluluer (menyebrangi sel)
2. Penetrasi interseluluer ( antarsel)
3. Penetrasi transappendagel. ( melalui folikel rambut, keringat, kelenjar
lemak, dan perlengkapan pilo sebastian). (Ansel, 1989)

Tampilan dan perasaan sediaan krim

Sifat fisika sediaan krim

Kedap cahaya, kental, tidak berlemak Menunjukkan dua atau lebih transisi pada
atau berlemak lemah,

kebanyakan TGA

mengindikasikan

sekurang-

cenderung menguap atau diabsorpsi kurangnya sistem 2 fasa, menunjukkan


jika dioleskan pada kulit.

sifat aliran plastik.

Basis pada krim dan salep adalah sama, terbagi menjadi 4 kelompok, yaitu:
A. Basis berminyak/hidrokarbon (oleagenous)
Basis hidrokarbon juga dikenal sebagai basis berminyak, bebas air,
inkoporasi air hanya dalam jumlah kecil dan dengan kondisi yang cukup
sulit. Peran utama untuk basis ini meliputi efek emuliensa (melunakkan),
dapat bertahan pada kulit untuk periode waktu yang cukup lama,
mencegah penguapan kelengasan kelembaban dari kulit menuju atmosfer
dan tidak mudah tercuci. Basis hidrokarbon berkerja pula sebagai
pembalut oklusif sehingga meningkatkan hidrasi kulit dengan cara
menurunkan kecepatan hilangnya air permukaan. Juga tidak mengering
atau berubah pada proses penuaan. Basis hidrokarbon semisolida meliputi
hidrokarbon cair C16 hingga C30 rantai lurus dan bercabang, terjerat
dalam matriks kristal halus dari hidrokarbon solida berbobot molekul
tinggi.

B. Basis absorpsi (absorption base)


Basis absorpsi bersifat hidrofilik, material anhidrous atau basis hidrous
(emulsi A/M) yang mempunyai kemampuan mengabsorpsi air tambahan.
Dengan penambahan lanolin, lanolin isolat, kolesterol, lanosterol atau
sterol terasetilasi membuat basis hidrokarbon menjadi hidrofil. Campuran
hidrofil tersebut dikenal sebagai basis absorpsi, hanya saja kata absorpsi
kurang tepat. Walaupun basis mengabsorpsi larutan air dianggap emulsi
A/M, sebetulnya basis absorpsi tidak mengabsorpsi air pada saat
berkontak, hanya sesudah cukup diagitasi basis absorpsi menjadi salap
konvesional yang mengandung pengemulsi A/M dalam jumlah yang cukup
besar.

C. Basis tercuci air (water removable base)


Kelompok ini merupakan basis emulsi yang luas digunakan karena dapat
tercuci dari kulit atau pakaian dengan air. Dapat mengandung komponen
larut air atau tidak larut air. Dari sudut teurapeutik, basis tercuci air
menunjukkan kemampuan mengabsorpsi buangan serum (serous) pada
kondisi dermatologi.
Basis tercuci air membentuk lapis tipis (film) semi permeabel pada lokasi
aplikasi sesudah penguapan air. Dalam hal ini basis terdiri dari 3 bagian
komponen; fasa minyak, pengemulsi, dan fasa air. Fasa minyak merupakan
fasa internal, terdiri dari petrolatum atau liquid petrolatum. Komponen lain
yang ditambahkan ke dalam fasa minyak, seperti setil dan stearil alkohol,
membentuk fasa minyak secara menyeluruh.

D. Basis larut air (water soluble base)


Basis ini hanya mengandung komponen larut air. Basis larut air diacu juga
sebagai bebas lemak (minyak) karena tidak mengandung minyak
(oleagenious). Inkoporasi larutan air sulit dilakukan karena sistem akan
segera melunak dengan penambahan air, baik digunakan untuk bahan
nonair maupun bahan padat. Mayoritas komponen basis terdiri dari
polietilenglikol yang merupakan basis larut air. (Agoes, 2012)

Gentamisin

adalah

antibiotik

aminoglikosida

dan

memiliki

aksi bakterisidal terhadap banyak bakteri aerob Gram - negatif


dan terhadap beberapa strain stafilokokus .
Mekanisme
ke

aksi.

dalam

proses
lingkungan

sel

yang

Aminoglikosida
bakteri

sensitif

yang
oleh

dihambat

dalam

anaerobik,

hiperosmolar.

Dalam

sel

diambil

transpor

aktif

asam

atau

mereka

mengikat

menjadi 30S, dan sampai batas tertentu menjadi 50S, subunit


ribosom

bakteri,

menghambat

sintesis

protein

dan

kesalahan dalam transkripsi kode genetik. Cara di mana kematian sel yang
disebabkan yang tidak dipahami kode genetik, dan mekanisme lain
mungkin berkontribusi, termasuk efek pada permeabilitas membran.

Spektrum aktivitas. Organisme patogen berikut biasanya sensitif


terhadap banyak strain dari bakteri Gram -negatif termasuk spesies
Brucella, Calymmatobacterium, Campylobacter, Citrobacter, Escherichia,
Enterobacter,

Francisella,

Klebsiella,

Proteus,

Providencia,

Pseudomonas, Serratia, Vibrio, dan Yersinia. Beberapa aktivitas telah


dilaporkan terhadap isolat Neisseria, meskipun aminoglikosida jarang
digunakan secara klinis dalam infeksi Neisserial. Di antara organisme
Gram-positif banyak strain Staphylococcus aureus sangat sensitif terhadap
gentamisin.
Staph.

Listeria

epidermidis

monocytogenes

mungkin

juga

dan

sensitif

beberapa
terhadap

strain

gentamisin,

tapi enterococci dan streptokokus biasanya sensitif terhadap gentamisin.


Beberapa actinomycetes dan mycoplasmas telah dilaporkan peka terhadap
gentamisin, tetapi mycobacteria tidak peka pada konsentrasi klinis dicapai
; organisme anaerobik, ragi, dan jamur yang resisten.

Gentamisin adalah antibiotik aminoglikosida yang digunakan, sering


dengan antibakteri lain, untuk mengobati infeksi sistemik yang parah
karena

organisme

Gentamisin

juga

dalam

konsentrasi

menyebabkan
disarankan.

telah

Gram-negatif

diterapkan

0,1%,

tetapi

timbulnya
Konsentrasi

topikal

dan

untuk

penggunaan

resistensi
0,3%

digunakan

lainnya.

infeksi
tersebut

dan
dalam

kulit
dapat

dianggap
sediaan

aplikasi topikal untuk mata dan telinga. (Sweetman, 2009;284)

Dosis pemakaian krim gentamisin sulfat yaitu 2 sampai 3 kali sehari,


dioleskan. (Formularium Nasional, 1978; 135)
Pada pembuatan sediaan krim ini dibuat krim dengan tipe emulsi M/A
karena sediaan ini ditujukan ke pembuluh darah.

III.

FORMULASI
1. Bahan aktif
Zat Aktif

Gentamisin Sulfat

Struktur

(Martindale 36th, hal 282)


Rumus
molekul

(British Pharmacopoeia 2009, hal 2751)


Titik lebur
Pemerian

Serbuk; putih sampai kuning gading.


(Farmakope Indonesia Edisi III, hal 266)

Kelarutan

Mudah larut dalam air; praktis tidak larut dalam etanol (95%) P,
dalam kloroform P dan dalam eter P.
(Farmakope Indonesia Edisi III, hal 266)

Stabilitas

Ada 16% hilangnya potensi rata-rata gentamisin sulfat dari


larutan yang mengandung 10 dan 40 mg / mL bila disimpan pada
suhu 4 atau 25 dalam jarum suntik plastik sekali pakai selama
30 hari, dan endapan coklat yang terbentuk di beberapa kasus.
Penyimpanan dalam gelas sekali pakai jarum suntik selama 30
hari menghasilkan 7% kehilangan potensi rata-rata, yang
dianggap dapat diterima, namun penyimpanan lebih lama
mengakibatkan dalam pembentukan endapan dalam beberapa
kasus dan tidak dianjurkan.

Inkompabilitas

Aminoglikosida

yang

aktif

dalam

vitro

oleh berbagai penisilin dan sefalosporin melalui interaksi dengan


cincin beta - laktam , tingkat inaktivasi tergantung pada suhu ,
konsentrasi

dan

durasi

kontak.

perbedaan

aminoglikosida bervariasi dalam stabilitas mereka , dengan


amikasin rupanya yang paling tahan dan tobramycin paling
rentan terhadap inaktivasi ; gentamisin dan netilmisin adalah
stabilitas

menengah.

Beta laktam juga bervariasi dalam kemampuan mereka untuk


menghasilkan
dengan

ampisilin

inaktivasi,
,

benzilpenisilin

penisilin

dan

antipseudomonal
seperti karbenisilin dan tikarsilin memproduksi inaktivasi
ditandai

Inaktivasi juga telah dilaporkan dengan asam klavulanat .


Gentamisin juga tidak sesuai dengan furosemid , heparin ,
sodium
bikarbonat ( pH asam larutan gentamisin mungkin membebaskan
karbon dioksida ) , dan beberapa solusi untuk nutrisi parenteral .
Interaksi dengan persiapan memiliki pH basa ( seperti

sulfadiazin sodium ) , atau obat yang tidak stabil pada pH asam (


misalnya eritromisin garam ) , yang cukup dapat diharapkan .
Mengingat potensi mereka untuk ketidakcocokan , gentamisin
dan lainnya aminoglikosida harus umumnya tidak dicampur
dengan obat lain dalam jarum suntik atau larutan infus atau
diberikan
line.

Ketika

melalui

intravena

aminoglikosida

diberikan

yang
dengan

sama
beta

laktam , mereka umumnya harus diberikan pada lokasi terpisah .


Keterangan

Antibiotik

lain
Penyimpanan

Dalam wadah tertutup rapat.


(Farmakope Indonesia Edisi III, hal 267)

Kadar

0.1%

penggunaan

2. Vaselin Album
Zat

Vaselin Album

Sinonim

Merkur; mineral jelly; petroleum jelly; Silkolene; Snow White;


Soft White; vaselinum flavum; yellow petrolatum; yellow
petroleum jelly.
(Handbook Of Pharmaceutical Excipients 6th Ed 2009, hal 482)

Struktur
Rumus
molekul
Titik lebur

3860 C

(Handbook Of Pharmaceutical Excipients 6th Ed 2009, hal 482)


Pemerian

Masa lunak, lengket, bening, putih; sifat ini tetap setelah zat
dileburkan

dan

dibiarkan

hingga

dingin

tanpa

diaduk.

Berfluoresensi lemah, juga jika dicairkan; tidak berbau; hampir


tidak berasa.
(Farmakope Indonesia Edisi III, hal 633)
Kelarutan

Praktis tidak larut dalam aseton, etanol. Etanol (95%) panas atau
dingin, gliserin, dan air ; larut dalam benzene, karbon disulfide,
kloroform, eter, heksana, dan minyak atsiri.
(Handbook Of Pharmaceutical Excipients 6th Ed 2009, hal 482)

Stabilitas

Petrolatum merupakan bahan pada dasarnya stabil berkat tidak


aktif sifat komponen hidrokarbon; sebagian besar masalah
stabilitas terjadi karena adanya sejumlah kecil kotoran. pada
paparan

cahaya,

kotoran

ini

dapat

dioksidasi

menjadi

menghitamkan petrolatum dan menghasilkan bau yang tidak


diinginkan. Luasnya oksidasi bervariasi tergantung pada sumber
petrolatum dan tingkat perbaikan. Oksidasi dapat dihambat oleh
dimasukkannya antioksidan yang sesuai seperti butylated
hydroxyanisole, hydroxytoluene butylated, atau alpha tocopherol.
Petrolatum tidak boleh dipanaskan untuk waktu yang lama di atas
Suhu yang diperlukan untuk mencapai fluiditas lengkap (sekitar
70 C).
Inkompabilitas

Merupakan bahan inert yang tidak dapat bercampur dengan


banyak bahan.
(Handbook Of Pharmaceutical Excipients 6th Ed 2009, hal 482)

Keterangan
lain

Penyimpanan

Emolien, basis salep


(Handbook Of Pharmaceutical Excipients 6th Ed 2009, hal 482)
Harus disimpan di wadah tertutup, terlindungi dari cahaya, dalam

tempat sejuk dan kering.


(Handbook Of Pharmaceutical Excipients 6th Ed 2009, hal 482)
Kadar

Emolien krim topikal : 10-30%

penggunaan

Emulsi topikal

: 4- 25%

Salep topikal

: sampai 100%

(Handbook Of Pharmaceutical Excipients 6th Ed 2009, hal 482)

3. Butylated Hydroxytoluene (BHT)


Zat

Butylated Hydroxytoluene

Sinonim

Agidol;

BHT;

2,6-bis(1,1-dimethylethyl)-4-methylphenol;

butylhydroxytoluene;butylhydroxytoluenum; Dalpac; dibutylated


hydroxytoluene;

2,6-di-tert-butyl-p-cresol;

hydroxytoluene;

E321;

Embanox

BHT;

3,5-di-tert-butyl-4Impruvol;

Ionol

CP;Nipanox BHT; OHS28890; Sustane; Tenox BHT; Topanol;


Vianol.
(Handbook Of Pharmaceutical Excipients 6th Ed 2009, hal 75)
Struktur

(Handbook Of Pharmaceutical Excipients 6th Ed 2009, hal 75)


Rumus
molekul

Titik lebur

C15H24O
(Handbook Of Pharmaceutical Excipients 6th Ed 2009, hal 75)
70C
(Handbook Of Pharmaceutical Excipients 6th Ed 2009, hal 75)

Pemerian

Putih atau kristal kuning pucat atau serbuk dengan karakteristik


bau seperti fenol.
(Handbook Of Pharmaceutical Excipients 6th Ed 2009, hal 75)

Kelarutan

Praktis tidak larut dalam air, gliserin, propilenglikol, larutan


alkali hidroksida dan larutan asam mineral. Larut dalam aseton,
benzena, etanol 95% eter, metanol, toluena, minyak. Lebih larut
daripada butil hidroksil anisol dalam minyak pada makanan dan
lemak.
(Handbook Of Pharmaceutical Excipients 6th Ed 2009, hal 76)

Stabilitas

Menguap, rentan terhadap cahaya dari panas menyebabkan


perubahan warna dan aktifitasnya berkurang.
(Handbook Of Pharmaceutical Excipients 6th Ed 2009, hal 76)

Inkompabilitas

Tidak kompatible dengan antioksidan kuat seperti peroksida dan


permanganat. Kontak dengan antioksida lain dapat menyebabkan
pembakaran yang spontan. Garam besi menyebkan perubahan
warna dan aktivitas.
(Handbook Of Pharmaceutical Excipients 6th Ed 2009, hal 76)

Keterangan
lain

Penyimpanan

Antioxidant.
(Handbook Of Pharmaceutical Excipients 6th Ed 2009, hal 75)
Wadah tertutup rapat, terlindung dari cahaya, tempat sejuk dan
kering.
(Handbook Of Pharmaceutical Excipients 6th Ed 2009, hal 76)

Kadar
penggunaan

b-Carotene 0,01%
Minyak nabati 0,01%
Minyak atsiri dan agen pemberi rasa 0,02-0,5%
Lemak dan minyak 0,02%

Minyak ikan 0,01-0,1%


Inhalasi 0,01%
Suntikan IM 0.03%
IV suntikan 0,0009-0,002%
Formulasi topikal 0,0075-,1%
Vitamin A : 10 mg per juta unit
(Handbook Of Pharmaceutical Excipients 6th Ed 2009, hal 75)

4. Metil Paraben
Zat

Metil Paraben

Sinonim

Aseptoform M; CoSept M; E218; 4-hydroxybenzoic acid


methyl

ester;

metagin;

parahydroxybenzoas;

Methyl

methyl

Chemosept;

p-hydroxybenzoate;

methylis
Methyl

Parasept; Nipagin M; Solbrol M; Tegosept M; Uniphen P-23.


(Handbook Of Pharmaceutical Excipients 6th Ed 2009, hal 75)
Struktur

(Handbook Of Pharmaceutical Excipients 6th Ed 2009, hal 441)

Rumus molekul

C8H8O3

(Handbook Of Pharmaceutical Excipients 6th Ed 2009, hal 441)


Titik lebur

125 128 C
(Handbook Of Pharmaceutical Excipients 6th Ed 2009, hal 443)

Pemerian

Serbuk hablur halus; putih; hampir tidak berbau; tidak


mempunyai rasa, kemudian agak membakar diikuti rasa tebal.
(Farmakope Indonesia Edisi III, hal 378)

Kelarutan

Larut dalam 500 bagian air, dalam 20 bagian air mendidih,


dalam 3,5 bagian etanol (95%) P dan dalam 3 bagian aseton P;
mudah larut dalam eter P dan dalam larutan alkali hidroksida;
larut dalam 60 bagian gliserol P panas dan dalam 40 bagian
minyak lemak nabati panas.
((Farmakope Indonesia Edisi III, hal 378)

Stabilitas

Larutan mengandung metil paraben pada pH 3-6 dapat


disterilkan dengan autoklaf pada 120 OC selama 20 menit, tanpa
dekomposisi. Larutan air pada pH 3-6 stabil (kurang dari 10%
dekomposisi) sampai sekitar 4 tahun pada suhu kamar,
sementara larutan air pada pH 8 atau lebih dapat terhidrolisis
cepat (10% atau lebig setelah penyimpanan sekitar 60 hari pada
suhu kamar).
(Handbook Of Pharmaceutical Excipients 6th Ed 2009, hal 443)

Inkompabilitas

Aktivitas antimikroba metil paraben dan paraben lainnya adalah


sangat berkurang dengan adanya surfaktan nonionik, seperti
Polisorbat 80 sebagai akibat dari micellization. Namun,
propilenglikol

(10%)

berpotensi

mengurangi

aktivitas

antimikroba dari paraben dengan surfaktan nonionik dan


mencegah interaksi antara Metil paraben dan polisorbat 80.
Tidak kompatible dengan bahan lain, seperti bentonit,
magnesium trisilikat, talk, tragakan, natrium alginat, minyak
esensial, sorbitol, dan atropin. Metil paraben berubah warna

dengan adanya besi dan terhidrolisis oleh basa lemah dan asam
kuat.
(Handbook Of Pharmaceutical Excipients 6th Ed 2009, hal 443)
Keterangan lain

Pengawet antimikroba
(Handbook Of Pharmaceutical Excipients 6th Ed 2009, hal 441)

Penyimpanan

Wadah tertutup rapat, terlindung dari cahaya, tempat sejuk dan


kering.
(Handbook Of Pharmaceutical Excipients 6th Ed 2009, hal 443)

Kadar
penggunaan

Injeksi IM, IV, SC

: 0,065 0,25 %

Larutan inhalasi

: 0,025 0,07 %

Injeksi intradermal

: 0,10 %

Larutan untuk hidung

: 0,033 %

Sediaan optalmik

: 0,015 0,2 %

Larutan oral dan suspensi

: 0,015 0,2 %

Sediaan rektal

: 0,1 0,18 %

Sediaan topikal
Sediaan vagina

: 0,02 0,3 %
: 0,1 0,18%

(Handbook Of Pharmaceutical Excipients 6th Ed 2009, hal 442)

5. Propil Paraben
Zat

Propil paraben

Sinonim

Aseptoform P; CoSept P; E216; 4-hydroxybenzoic acid propyl


ester; Nipagin P; Nipasol M; propagin; Propyl Aseptoform;
propyl butex; Propyl Chemosept; propylis parahydroxybenzoas;

propyl phydroxybenzoate; Propyl Parasept; Solbrol P; Tegosept


P; Uniphen P-23.
(Handbook Of Pharmaceutical Excipients 6th Ed 2009, hal 569)
Struktur

(Handbook Of Pharmaceutical Excipients 6th Ed 2009, hal 596)


Rumus
molekul

Titik lebur

C10H12O3
(Handbook Of Pharmaceutical Excipients 6th Ed 2009, hal 596)
295 C
(Handbook Of Pharmaceutical Excipients 6th Ed 2009, hal 596)

Pemerian

Serbuk hablur putih; tidak berbau; tidak berasa.


(Farmakope Indonesia Edisi III, hal 535)

Kelarutan

Aseton : mudah larut


Etanol (95%) : 1:1,1
Etanol (50%) : 1:5,6
Eter : mudah larut
Gliserin : 1:250
Minyak mineral : 1:3330
Minyak kacang : 1:70
Propilenglikol : 1: 3,9
Propilenglikol 50% : 1:110
Air 1: 4350 pada suhu 15 C,
1: 2500,
1: 225 pada 80 C

(Handbook Of Pharmaceutical Excipients 6th Ed 2009, hal 597)


Stabilitas

Larutan propil paraben berair pada pH 3-6 dapat disterilkan


dengan autoklaf, tanpa dekomposisi, sementara larutan pada pH 8
atau di atasnya akan terjadi hidrolisis yang cepat (10% atau lebih
setelah sekitar 60 hari di suhu kamar).
(Handbook Of Pharmaceutical Excipients 6th Ed 2009, hal 597)

Inkompabilitas

Aktivitas antimikroba Propil paraben akan berkurang dengan


adanya surfaktan nonionik sebagai akibat dari micellization.
Propil paraben akan diserap oleh plastik, dengan jumlah yang
diserap tergantung pada jenis plastik. Magnesium alumunium
silikat, magnesium trisilikat, dan oksida besi kuning dan biru laut
juga akan menyerap propil, sehingga mengurangi efektivitas
pengawet. Propil paraben berubah warna dengan adanya besi dan
akan terhidrolisis oleh alkali lemah dan asam kuat.
(Handbook Of Pharmaceutical Excipients 6th Ed 2009, hal 597)

Keterangan
lain

Penyimpanan

Pengawet antimikroba
(Handbook Of Pharmaceutical Excipients 6th Ed 2009, hal 596)
Wadah tertutup rapat, terlindung dari cahaya, tempat sejuk dan
kering.
(Handbook Of Pharmaceutical Excipients 6th Ed 2009, hal 596)

Kadar
penggunaan

Injeksi IM, IV, SC

: 0,005 0,2 %

Larutan inhalasi

: 0,015 %

Injeksi intradermal

: 0,02 0,26 %

Larutan nasal

: 0,017 %

Sediaan optalmik

: 0,005 0,01 %

Larutan oral dan suspensi

: 0,01 0,02 %

Sediaan rektal

: 0,02 0,1 %

Sediaan topikal

: 0,01 0,6 %

Sediaan vagina

: 0,02 0,1 %

(Handbook Of Pharmaceutical Excipients 6th Ed 2009, hal 596)

6. Paraffin Liquidum
Zat

Paraffinum liquidum

Sinonim

Avatech; Drakeol; heavy mineral oil; heavy liquid petrolatum;


liquid petrolatum; paraffin oil; paraffinum liquidum; Sirius; white
mineral oil.
(Handbook Of Pharmaceutical Excipients 6th Ed 2009, hal 446)

Struktur
Rumus
molekul
Titik lebur

>360 C
(Handbook Of Pharmaceutical Excipients 6th Ed 2009, hal 446)

Pemerian

Cairan kental, transparan, tidak berfluoresensi; tidak berwarna;


hampir tidak berbau; hampir tidak mempunyai rasa.
(Farmakope Indonesia Edisi III, hal 474)

Kelarutan

Praktis tidak larut dalam air dan dalam etanol (95%) P, larut
dalam kloroform P dan dalam eter P.
(Farmakope Indonesia Edisi III, hal 474)

Stabilitas

Minyak mineral mengalami oksidasi bila terkena panas dan


cahaya. Oksidasi dimulai dengan pembentukan peroksida,
menunjukkan masa induksi. Dalam kondisi biasa, periode induksi

dapat memakan waktu bulanan atau tahunan. stabilisator dapat


ditambahkan

untuk

menghambat

oksidasi,

butylated

hydroxyanisole, butylated hydroxytoluene dan alfa tocopherol


adalah antioksidan yang paling umum digunakan. Minyak
mineral dapat disterilkan dengan panas kering. Minyak mineral
harus disimpan dalam wadah terrurup kedap, terlindung dari
cahaya, di tempat yang sejuk dan kering.
(Handbook Of Pharmaceutical Excipients 6th Ed 2009, hal 446)
Inkompabilitas

Inkompatible dengan oksidator kuat.


(Handbook Of Pharmaceutical Excipients 6th Ed 2009, hal 446)

Keterangan
lain

Penyimpanan

Emolien, pelarut
(Handbook Of Pharmaceutical Excipients 6th Ed 2009, hal 445)
Dalam wadah tertutup baik, terlindung dari cahaya.
(Farmakope Indonesia Edisi III, hal 475)

Kadar
penggunaan

Salep optalmik
Sediaan otik
Emulsi topikal

: 3,0 60,0%
: 0,5 3,0%
: 1,0 32,0%

Larutan topikal : 1,0 20,0%


Salep topikal

: 0,1 95,0%

(Handbook Of Pharmaceutical Excipients 6th Ed 2009, hal 446)

7. Cetostearyl Alcohol
Zat

Cetostearyl Alcohol

Sinonim

Stearil alkohol; setil stearil alkohol; Crodacol CS90; Lanette O;


Speziol C16-18 Pharma; Tego Alkanol 1618; Tego Alkanol 6855.

(Handbook Of Pharmaceutical Excipients 6th Ed 2009, hal 150)


Struktur
Rumus
molekul
Titik lebur

4956 C
(Handbook Of Pharmaceutical Excipients 6th Ed 2009, hal 150)

Pemerian

Massa putih atau warna krem, serpihan, pellet, atau granul.


Mempunyai karakteristik aroma manis yang lemah. Pada
pemanasan, cetostearil alcohol melebur menjadi cairan bebas
bahan tersuspensi, jernih, tidak berwarna atau kuning pucat.
(Handbook Of Pharmaceutical Excipients 6th Ed 2009, hal 150)

Kelarutan

Larut dalam etanol (95%), eter dan minyak; praktis tidak larut
dalam air.
(Handbook Of Pharmaceutical Excipients 6th Ed 2009, hal 150)

Stabilitas

Cetostearil alkohol stabil di bawah kondisi normal penyimpanan.


Cetostearil alkohol harus disimpan di wadah tertutup baik, tempat
sejuk dan kering.
(Handbook Of Pharmaceutical Excipients 6th Ed 2009, hal 150)

Inkompabilitas

Inkompatibel dengan oksidator kuat dan garam logam.


(Handbook Of Pharmaceutical Excipients 6th Ed 2009, hal 150)

Keterangan
lain

Penyimpanan

Emolien, emulgator, peningkat viskositas


(Handbook Of Pharmaceutical Excipients 6th Ed 2009, hal 150)
Dalam wadah tertutup baik, jauh dari oksidator kuat, di tempat
sejuk dan kering.
(Handbook Of Pharmaceutical Excipients 6th Ed 2009, hal 150)

Kadar
penggunaan

25 %
(Handbook Of Pharmaceutical Excipients 6th Ed 2009, hal 150)

8. Aquadestilata
Zat

Aquadestilata

Sinonim

Aqua; aqua purificata; hidrogen oksida.


(Handbook Of Pharmaceutical Excipients 6th Ed 2009, hal 766)

Struktur

Rumus
molekul

Titik lebur

H2O
(Handbook Of Pharmaceutical Excipients 6th Ed 2009, hal 766)
Titik didih : 100C
Titik Beku : 0C
(Handbook Of Pharmaceutical Excipients 6th Ed 2009, hal 766)

Pemerian

Cairan jernih, tidak berwarna, tidak berbau, tidak mempunyai


rasa.
(Farmakope Indonesia Edisi III, hal 96)

Kelarutan

Larut dengan sebagian besar pelarut polar.


(Handbook Of Pharmaceutical Excipients 6th Ed 2009, hal 766)

Stabilitas

Stabil pada semua keadaan fisik (padat, cair, gas)


(Handbook Of Pharmaceutical Excipients 6th Ed 2009, hal 766)

Inkompabilitas

Dalam formulasi farmasi, air dapat bereaksi dengan obat-obatan


dan eksipien lain yang rentan terhadap hidrolisis (dekomposisi

dalam adanya air atau uap air) pada lingkungan dan temperatur
yang tinggi.Air dapat bereaksi dengan logam alkali, logam alkali
dan oksida nya dengan cepat, seperti kalsium oksida dan
magnesium oksida. Air juga bereaksi dengan garam anhidrat
untuk membentuk hidrat dari berbagai komposisi, dengan bahan
organik tertentu dan kalsium karbida.
(Handbook Of Pharmaceutical Excipients 6th Ed 2009, hal 768)
Keterangan

Pelarut

lain

(Handbook Of Pharmaceutical Excipients 6th Ed 2009, hal 766)

Penyimpanan

Air untuk tujuan tertentu harus disimpan dalam wadah yang


sesuai.
(Handbook Of Pharmaceutical Excipients 6th Ed 2009, hal 766)

Kadar
penggunaan

IV.

PERMASALAHAN FARMASETIK DAN PENYELESAIAN


No.
1

Permasalahan
Zat

aktif

Penyelesaian

ditujukan

untuk Sediaan

penggunaan topikal

dibuat

tambahkan

krim

vaselinum

dan

di

album

sebagai basis
2

Vaselinum album merupakan basis Untuk


krim yang mudah teroksidasi

mencegah

ditambahkan

BHT

teroksidasi,
sebagai

antioksidan.
3

Krim
kurang

mengandung
dari

60%,

air

tidak Untuk menghambat pertumbuhan

sehingga mikroba, ditambahkan campuran

merupakan media ideal untuk metil paraben dan propil paraben


pertumbuhan mikroba.

sebagai pengawet.

Sediaan dibuat krim tipe M/A

Digunakan

aquadest

sebagai

pembawa
5.

Krim

ditujukan

ke

dalam Digunakan basis tercuci air yaitu

pembuluh darah
6.

Agar

massa

stearil alkohol.
krim

dapat Digunakan mortir dan stamper

mengembang dengan baik dan yang panas (direndam dengan air


stabil.

V.

VI.

panas).

PENDEKATAN FORMULA
No.

Nama Bahan

Jumlah

Kegunaan

Gentamisina Sulfat

0,1%

Bahan aktif

Vaselinum album

10%

Basis

Metil paraben

0,6%

Antimikroba

Propil paraben

0,3%

Antimikroba

BHT

0,1%

Antioksidan

Paraffinum liquidum

10%

Emolien

Cetostearyl Alcohol

10%

Emolien, emulgator

Aquadest

68,9 %

Pembawa

PENIMBANGAN
Penimbangan
Dibuat sediaan 100 gram untuk 8 pot (@ 10 gram) = 80 gram

No.

Nama Bahan

Jumlah yang Ditimbang

Gentamisin Sulfat

0,1 gram

Vaselinum album

10 gram

Metil paraben

0,6 gram

Propil paraben

0,3 gram

BHT

0,1 gram

Paraffinum liquidum

10 gram

Cetostearyl Alcohol

10 gram

Aquadest

68,9 ml

VII.

PROSEDUR PEMBUATAN

1)

Disiapkan alat dan bahan yang diperlukan.

2)

Dipanaskan mortir dan stamper dengan air panas, dengan cara menuangkan air
panas ke dalam mortir dan merendam stamper diatas mortir.

3)

Ditimbang vaselinum album 10 gram, metil paraben 0,6 gram, propil paraben 0,3
gram, paraffinum liquidum 10 gram, cetostearil alkohol 10 gram dengan
menggunakan timbangan analitik, kemudian dicampurkan ke dalam beaker glass I
(fase minyak). Dilebur diatas hotplate sampai homogen dan mencapai suhu 70 C
dengan cara mengukur dengan termometer.

4)

Diukur aquadest sebanyak 68,9 ml dengan gelas ukur, dimasukan ke dalam beaker
glass II (fase air). Dipanaskan diatas hotplate hingga mencapai suhu 70 C dengan
cara mengukur dengan termometer.

5)

Pada keadaan suhu yang sama, dimasukkan fase air ke dalam mortir dan
kemudian fase minyak ke dalam mortir yang telah dipanaskan secara bersamaan.
Kemudian, digerus kuat sampai terbentuk massa krim.

6)

Ditimbang Gentamisin Sulfat 0,1 gram, dan BHT 0,1 gram dengan timbangan
analitik. Masukan kedalam motir, digerus hingga homogen.

7)

Ditimbang pot krim kosong beserta tutupnya diatas timbangan analitik, dan dicatat
beratnya.

8)

Dimasukkan krim ke dalam pot krim dengan berat @ 10 gram.

VIII. DATA PENGAMATAN EVALUASI SEDIAAN


No

Jenis

Prinsip evaluasi

evaluasi

Jumlah
sampel

Hasil pengamatan

Syarat
Tidak terjadi
perubahan

Organoleptik

Pemeriksaan

Warna : Putih

meliputi pengamatan

Bau : Bau khas

warna, bau, dan


struktur sediaan.

3 pot

krim
Stuktur : Baik

warna, tidak
berbau
tengik, dan
struktur
harus
merata.

Tidak ada
2

Uji
homogenitas

Pemeriksaan dengan
mengoleskan diatas

butiran zat
3 pot

Homogen

kaca arloji

aktif yang
belum
terdispersi.

Uji pH

3 pot

pH 6-7

Dalam setiap
sediaan tidak

Pemeriksaan pH

ada

dengan kertas

perbedaan

indikator pH

pH yang
terlalu jauh.

4.

Uji isi

Ditimbang pot krim 7 pot

minimum

yang kosong beserta


tutupnya

Pot 2 : 9,937 g

dan

Pot 3 : 9,9961 g

kemudian ditimbang
pot

krim

terdapat

isi

Pot 1 : 9,909 g

Isi sediaan
tidak boleh

yang

Pot 4 : 9,986 g

< 95% dari

Pot 5 : 9,948 g

yang tertera

dan

kemudian ditimbang.

di etiket.
Pot 6 : 9,934 g
Pot 7 : 9,889 g
5.

Sediaan diuji dengan


3 cara yang berbeda
Tipe Emulsi

yaitu dengan
menambahkan
metilen blue, air, dan
minyak

3 pot

M/A

IX.

PEMBAHASAN

Pada laporan praktikum ini telah dibuat sediaan topikal krim gentamisin sulfat
0,1%. Krim adalah sediaan setengah padat berupa emulsi yang mengandung satu
atau lebih bahan obat terlarut atau terdispersi dalam bahan dasar yang sesuai
(mengandung air tidak kurang dari 60%). (Syamsyuni, 2006; 74)
Gentamisin sulfat dalam pembuatan krim ini berfungsi sebagai bahan aktif.
Gentamisin

adalah

antibiotik

aminogikosida

yang

digunakan,

sering

dengan antibakteri lain, untuk mengobati infeksi sistemik yang parah


karena organisme Gram-negatif dan lainnya.
Dosis yang dianjurkan untuk digunakan dalam pembuatan krim gentamisim ini
adalah 0,1%, maka pada pembuatan krim ini dibuat sediaan dengan dosis 0,1%.
Dengan cara pemakaian 2-3 kali sehari, dioleskan.
Tipe krim yang dijadikan formula pada sediaan krim gentamisin sulfat ini adalah
krim tipe minyak dalam air (M/A, O/W). tipe krim ini lebih disenangi karena pada
penggunaannya tampak tidak berbekas, dapat dicuci dengan air, dan non-oklusif.
Krim terdiri atas dua fase terpisah yaitu air dan minyak, sehingga diperlukan
penambahan suatu emulgator yang dapat menyatukan kedua fase yang tidak saling
bercampur tersebut menjadi emulsi yang homogen dan stabil. Pada formulasi krim
gentamisin sulfat menggunakan emulgator yaitu cetostearil alkohol.
Untuk mencegah tumbuhnya mikroba pada sediaan, maka digunakan kombinasi
pengawet yaitu Metil paraben 0,6% dan Propilparaben 0,3%. Oksidasi dicegah
atau dihambat dengan penambahan antioksidan Butylated Hidroksi Toluen
sebanyak 0,1%.
Pada pembuatan krim, yang perlu diperhatikan adalah proses pencampuran
meliputi suhu dan waktu. Pencampuran kedua fase harus benar-benar pada suhu
yang sama dan dalam waktu bersamaan. Kecepatan pengadukan harus konstan,
stabil, dan seksama. Pencampuran berlangsung terus hingga campuran mengalami
pendinginan dengan sendirinya hingga sekitar 25 C dan berubah konsistensinya
menjadi massa krim setengah padat. Sebelum dibuat sediaan krim skala besar,

dilakukan optimasi terlebih dahulu. Tujuannya adalah untuk mengamati ketepatan


formulasi krim agar membentuk massa krim yang homogen dan stabil. Proses
pembuatan krim optimasi sama dengan pembuatan krim utama, hanya jumlah
optimasi dibuat sebanyak 30 g.. Pengamatan dilakukan selama 10-15 menit. Hasil
optimasi krim yang baik adalah tetap stabil, homogen

dan tidak memisah.

Sedangkan bila terjadi sebaliknya, maka perlu dilakukan re-formulasi atau


penyusunan ulang formulasi emulsi hingga diperoleh sediaan yang diinginkan.
Selain itu diuji juga kehalusan partikel krim dengan cara mengoleskan krim
optimasi di bagian kulit tangan.
Sebelum pembuatan krim ini dilakukan optimasi dengan formulasi I tetapi sediaan
krimnya menjadi terpisah dan tidak stabil setelah dingin. Berikut ini formulasi
tersebut :
No.

Nama Bahan

Jumlah

Kegunaan

Gentamisina Sulfat

0,1%

Bahan aktif

Vaselinum album

10%

Basis

Metil paraben

0,6%

Antimikroba

Propil paraben

0,3%

Antimikroba

BHT

0,1%

Antioksidan

Paraffinum liquidum

10%

Emolien

Asam Stearat

3%

Emolien, emulgator

Cetostearyl Alcohol

3%

Emolien, emulgator

Propilen Glikol

15%

Emolien

10

Aquadest

60 %

Pembawa

Kemudian, Propilen glikol dan asam stearat tidak digunakan, karena ketika
dilakukan optimasi sediaan menjadi stabil, homogen dan dapat tercucikan.
Sehingga didapatkan formulasi :
No.

Nama Bahan

Jumlah

Kegunaan

Gentamisina Sulfat

0,1%

Bahan aktif

Vaselinum album

10%

Basis

Metil paraben

0,6%

Antimikroba

Propil paraben

0,3%

Antimikroba

BHT

0,1%

Antioksidan

Paraffinum liquidum

10%

Emolien

Cetostearyl Alcohol

10%

Emolien, emulgator

Aquadest

68,9 %

Pembawa

Setelah itu dapat dibuat skala besar yaitu sebanyak 100 gram. Kemudian,
dilanjutkan dengan evaluasi dengan didiamkan selama 7 hari. Berikut ini adalah
jenis evaluasi yang dilakukan :
1. Evaluasi organoleptik
Setelah didiamkan selama 7 hari dalam suhu ruangan, sediaan krim diperiksa
meliputi pengamatan warna, bau, dan struktur sediaan. Untuk evaluasi ini
disiapkan 3 pot sediaan untuk di uji. Hasil evaluasinya yaitu warna putih, bau khas
krim, dan strukturnya baik. Syarat untuk lulus evaluasi sediaan ini yaitu tidak
terjadi perubahan warna, tidak berbau tengik, dan struktur harus merata.
2. Evaluasi pH
Masing-masing sediaan krim di periksa pHnya dengan indikator kertas pH. Untuk
evaluasi sediaan ini disiapkan 3 pot untuk diuji. Dan didapatkan pH setiap pot-nya
yaitu antara 6-7.

3. Evaluasi Homogenitas
Masing-masing sediaan krim dilakukan pemeriksaan dengan cara mengoleskan
krim diatas kaca arloji. Untuk evaluasi sediaan ini disiapkan 3 pot untuk diuji.
Dan didapatkan hasil yaitu di setiap pot tidak ditemukan butiran zat aktif yang
belum terdispersi, sehingga bisa disebut bahwa setiap sediaannya homogen.

4. Evaluasi Isi Minimum


Pada evaluasi ini pot sediaan ditimbang diatas timbangan analitik beserta volume
dan tutupnya. Pada sebelum pengisian sediaan krim, pot kosong sudah ditimbang
terlebih dahulu agar memudahkan perhitungan. Hati-hati jangan sampai tutup pot
tertukar satu sama lain ketika penimbangan. Ketika evaluasi ini semua sediaan
lulus uji karena berat sediaan tidak < 95% dari yang tercantum di etiket.

7. Evaluasi Tipe Emulsi


Pada evaluasi ini, dilakukan dengan 3 cara yg berbeda yaitu dengan
menambahkan air, minyak, metilen blue. Sediaan ditaruh di kaca alorji dan
diberikan beberapa tetes metilen blue/air/minyak. Jika metilen blue/air larut dalam
sediaan menunjukkan bahwa sediaan adalah emulsi tipe o/w. Dari evaluasi ini
dapat menunjukkan bahwa sediaan emulsi tipe o/w, karena metilen blue/air dapat
bercampur dengan sediaan. Sedangkan jika ada fase terpisah berarti sediaan
emulsi tipe w/o. Dan pada saat sebelum dilakukan evaluasi sediaan bertipe emulsi
o/w, sehingga sediaan tidak terjadi inversi fase.

X.

KESIMPULAN
Formulasi yang tepat untuk sediaan yang dibuat adalah sebagai berikut.
No.

Nama Bahan

Jumlah

Kegunaan

Gentamisina Sulfat

0,1%

Bahan aktif

Vaselinum album

10%

Basis

Metil paraben

0,6%

Antimikroba

Propil paraben

0,3%

Antimikroba

BHT

0,1%

Antioksidan

Paraffinum liquidum

10%

Emolien

Cetostearyl Alcohol

10%

Emolien, emulgator

Aquadest

68,9 %

Pembawa

XI.

DAFTAR PUSTAKA

Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 1979. Farmakope Indonesia edisi III,


Jakarta: Departemen Kesehatan.
Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 1995. Farmakope Indonesia edisi IV,
Jakarta: Departemen Kesehatan.
Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 1978. Formularium Nasional edisi
II, Jakarta: Departemen Kesehatan.
Rowe, Raymond C.2009. Handbook of Pharmaceutical Excipients. 6th ed.,
London : Pharmaceutical Press.
Syamsuni, A. 2007. Ilmu Resep. Jakarta: EGC
Ansel, H.C. 1989. Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi edisi IV. Jakarta . UI Press.
Agoes, Goeswin. 2012. Sediaan Farmasi Likuida-Semisolida (SFI-7). Bandung.
Penerbit ITB
Sweetman, S.C., 2009. Martindale The Complete Drug Reference 36.
Pharmaceutical Press : London Chicago.