Anda di halaman 1dari 24

BAB I

PENDAHULUAN
1. Latar Belakang
Ada berbagai macam cara seseorang dalam memberikan gagasan dan ide
fikiranya. Adakalanya seseorang dalam menuangkan gagasanya dengan cara
yang indah, ada juga dengan cara biasa saja. Cara yang pertama inilah yang
sering digunakan oleh pengarang karya sastra.
Karya sastra merupakan proses kreatif seorang pengarang melalui daya
imajinatif yang kemudian ditunjukkan dalam sebuah karya. Hasil imajinasi ini
dapat berupa karya berbentuk tulisan dan karya sastra lisan. Karya sastra tidak
sekedar lahir dari dunia yang kosong melainkan karya yang lahir dari proses
penyerapan realita pengalaman manusia.1 Bentuk karya sastra begitu beragam
sesuai dengan jenis dari karya sastra itu sendiri.
Jenis karya sastra dapat digolongkan menjadi dua kelompok, yakni
sastra imajinatif dan sastra non-imajinatif. Ciri sastra non-imajinatif yaitu
lebih banyak unsur faktualnya dari pada khayali-nya, menggunakan bahasa
denotatif, dan memenuhi syarat-syarat estetika seni. Dalam prakteknya jenis
sastra non-imajinatif terdiri dari karya-karya yang berbentuk esai, kritik,
biografi, otobiografi, dan sejarah. Sedangkan Ciri sastra imajinatif adalah
karya sastra tersebut lebih bersifat khayali, menggunakan bahasa yang
konotatif, dan memenuhi syarat-syarat estetika seni. Yang termasuk pada
golongan sastra imajinatif adalah prosa dan puisi. Prosa digolongkan lagi
menjadi fiksi dan drama. Jenis drama terdiri dari drama komedi, tragedi,
melodrama, dan drama melotragedi. Sedangkan Jenis fiksi sendiri terbagi
dalam genre-genre yaitu: novel atau roman, cerita pendek, dan novelet.
Novel merupakan karya sastra hasil imajinasi dan penghayatan
pengarang

terhadap

masyarakat.

Novel

sebagai

karya

sastra

lebih

mengemukakan sesuatu yang bebas, menyajikan sesuatu yang lebih banyak,


lebih rinci dan melibatkan permasalahan yang kompleks. 2 Dalam arti lain
novel merupakan cerita berbentuk prosa dalam ukuran yang luas, dalam artian
1
Siswantoro. Metode Penelitian Sastra Analisis Psikologi. Surakarta: Sebelas Maret
University Press, 2004. hal. 23
2
Burhan Nurgiyantoro. Teori Pengkajian Fiks. Yogyakarta: Gadjah Mada University
Press, 2010. hal. 10-11

plot (alur) dan temanya begitu kompleks, karakternya banyak, suasana


ceritanya beragam.3
Layaali Turkiztan merupakan novel karangan sastrawan Arab kawakan
yaitu Najieb Kaylani. Novel ini menceritakan ceritakan tentang penjajahan,
diceritakan negara cina dan rusia menjajah kerajaan turki, dimasa penjajahan
itulah

terjadi

kejadian-kejadian

yang

memilukan,

mengharukan,

menyenangkan, disini juga terjadinya kisah percintaan sesama pelayan


kerajaan,

Najieb

Kaylani

juga menaruh

tokoh

yang

kuat

dengan

perwatakannya. Mustafa Murod namanya dia adalah seorang pelayan istana


yang berada dikerajaan turki pada saat itu, disini juga terdapat tokoh lainnya
seperti Najmatullail, Najmatullail ini adalah seorang pelayan istana juga,
didalam istana inilah semua kisah bermuli, dari kisah perjuangan seorang raja
yang ingin melindungi rakyatnnya dari kejamnya penjajaha hingga kisah
percintaan antara Mustafa Murod dengan Najmatullail yang sangat
mengharukan.
Najib Ibrahim bin Abd Al-Lathif Al-Kailani adalah nama lengkap
pengarang novel ini, ia lahir pada 10 Juni 1931 di Syarsyabah, suatu desa
wilayah bagian barat Republik Arab Mesir, sebagai anak pertama dari keluarga
petani. Ketika perang Dunia II menimpulkan berbagai pengaruh buruk pada
kehidupan Mesir, termasuk di tanah kelahirannya, Syarsyabah. 4 Najib AlKailani termasuk salah seorng sastrawan penggagas satra islam dan teater
islam, selain karya novel dan cerpennya tentang sastra, Najib Al-Kailani
menulis karya-karya ilmiah dalam bidang kedokteran, Religius, dan politik.
Novel yang dikarang oleh peraih penghargaan di beberapa kementrian
ini mengetengahkan bahasa-bahasa yang indah dalam membuat penggalan
kata dalam novel ini. Walaupun bisa dikatakan novel ini merupakan novel
sejarah yang menuangkan cerita perjuangan rakyat Turkistan, namun ia tidak
melupakan unsur keindahan dalam karya sastranya, termasuk keindahan gaya
bahasanya. Keistimewaan dan keindahan kata-kata yang digunakan dalam
novel tersebut berada dalam ruang lingkup bahasan ilmu balaghah. Balaghah
adalah ilmu yang memfokuskan pada pengolahan makna yang tinggi dan
jelas, dengan disertai ungkapan yang benar dan fasih dari pembicara
3
4

Sukron Kamil, Teori Kritik Sastra Arab, (Jakarta : Rajawali Press, 2009), hal. 45
Najieb al-Kailany, Night In Turkiztan, (terjemah). (Jakarta : 1428), hal. 236

yangkemudian memberikan kesan yang mendalam di dalam jiwa dan sesuai


dengan situasi dan kondisi orang-orang yang diajak bicara.5
Ilmu Balaghah terbagi atas tiga ilmu kajian, yaitu; ilmu mani, ilmu
bayn, dan ilmubadi. Ilmu Bayan merupakan seni pengungkapan makna
dengan berbagai gaya ekspresi yang indah. Ilmu Maani adalah ilmu yang
membahas tentang kesesuaian ujaran atau ungkapan dengan muqtadhal al-hal
(situasi dan kondisi) lawan bicara (komunikan). Ilmu Badi yang membahas
keindahan ungkapan bahasa setelah diekspresikan dengan gaya bahasa yang
indah dan disesuaikan dengan konteks wacana.6
Rangkaian kata yang sesuai dan sama dalam novel ini yang kemudian
menjadikannya indah dari segi makna, maka cabang ilmu balagah yang
membahas akan hal demikian adalah ilmu badi yaitu saja. Sajaini
berfokuskan pada cara untuk memperindah dalam segi lafadz.7
Penulis menggunakan pendekatan ilmu balaghah dengan salah satu
kajian dari ilmu tersebut yaitu ilmu badi yang membahas dekorasi ucapan
dan makna. yaitu kesesuaian akhir kalimat dalam prosa (saja).
Saja secara leksikal bermakna bunyi atau indah. Secara terminologis,
saja adalah persesuaian bunyi. Saja adalah cocoknya huruf akhir dua
fashilah atau lebih. Sajak yang paling baik ialah yang bagian-bagian
kalimatnya seimbang. Dan saja itu adalah sebagian dari al-muhassinat allafdziyyah. Oleh karena itu, penulis dalam melakukan penelitian ini
memfokuskan lafadz-lafadz saja dalam novel Layaali Turkiztan Karya Najieb
al-Kailani.
2. Identifikasi dan Rumusan Masalah
Penelitian ini difokuskan pada saja pada novel Layaali Turkiztan. Uslub
dalam novel tersebut dijadikan objek penelitian dan akan dikaji untuk
mengungkap keindahan dan keistimewaannya. Salah satu bentuk keindahan
bahasa dalam novel tersebut adalah ungkapan yang mengandung saja.
Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan ilmu
balaghah, lebih tepatnya adalah pendekatan ilmu badi.

Ali al-Jarim dan Musthafa Amin, al-Balaghah al-Waadhihah, Dr al-Marif, 1957,


Cetakan ke-12, hal. 8
6
Abu Shalih & Ahmad Tawfiq, Kitab al-Balaghah, Jamiah al-Imam, Riyadh, hal. 124
7
Hifni Bek Dayyab dkk, Kaidah Tata Bahasa Arab, Darul Ulum Press, Jakarta, 1991, hal. 501

Agar penelitian ini lebih fokus dan terarah, maka akan dirumuskan
masalah pokok penelitian yang berkisar pada hal-hal sebagai berikut:
1) Lafadz apa saja yang mengandung unsur saja dalam novel Layaali
Turkiztan karya Najieb Kaylani?
2) Jenis saja apa saja yang terdapat dalam setiap lafadz yang
mengandung unsur saja dalam novel Layaali Turkiztan karya Najieb
Kaylani?
3. Tujuan dan Kegunaan Penelitian
Tujuan utama dari penelitian ini adalah sebagai berikut:
1) Untuk mengetahui lafadz yang mengandung unsur saja dalam novel
Layaali Turkiztan karya Najieb Kaylani?
2) Untuk mengetahui jenis saja yang terdapat dalam setiap lafadz yang
mengandung unsur saja dalam novel Layaali Turkiztan karya Najieb
Kaylani?
Adapun kegunaan yang diharapkan dari penelitian ini adalah sebagai
berikut:
3.1. Kegunaan Teoretis
Sebagai sumbangan pemikiran pada masyarakat umum, khususnya
masyarakat dalam dunia akademik, yang memiliki minat memperdalam
balaghah, khususnya ilmu badi (saja) dan permasalahannya dalam novel
Layaali Turkiztan karya Najieb Kaylani, setidaknya memperluas wawasan
intelektual sebagai pelengkap dari hasil kegiatan penelitian tentang
keistimewaan dan keindahan kalimat dalam novel Layaali Turkiztan karya
Najieb Kaylani dari aspek gaya bahasa yang pernah ada.
3.2. Kegunaan Pragmatis
a. Penelitian ini dilakukan guna untuk memenuhi tugas akhir mata kuliah
Metode Penelitian Bahasa jurusan Bahasa dan Sastra Arab
b. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui nilai-nilai balaghah yang
terkandung dalam karya sastra, khususnya novel Layaali Turkiztan
karya Najieb Kaylani sehingga dapat dicari relevansinya dengan
kehidupan sehari-hari, terutama hikmah dalam karya sastra tersebut.
4. Tinjauan Pustaka
Penelitian ini memfokuskan pada sajayang terkandung dalam novel
Layaali Turkiztan dari aspek uslub dan karakteristiknya. Sekalipun sudah

ada yang menulis tentang saja, namun belum ditemukan penelitiannya


dalam novel Layaali Turkiztan karya Najieb Kaylani.
Berdasarkan penelitian terdahulu dalam bentuk skripsi yang pernah
ditulis, ditemukan beberapa literatur yang membahas tentang saja.
Adapun penelitian dalam bentuk skripsi pernah ditulis oleh:
a. Cucu Ahmad Sanusi (mahasiswa angkatan tahun 2012) pada jurusan
Bahasa dan Sastra Arab Fakultas Adab dan Humaniora Universitas
Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung dengan judul penelitian
Saja fi Natsr al-Barzanji
b. Dean Rahmatullah (mahasiswa angkatan tahun 2005) pada jurusan
Bahasa dan Sastra Arab Fakultas Adab dan Humaniora Universitas
Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung dengan judul penelitian
dengan judul penelitian Saja fi natsri samthiddauri lil Imamil Habiib
Ali ibni Muhammad al Hiisyi
Kelebihan dari penelitian sebelumnya, dalam menganalisis saja
dicantumkan jenis beserta tujuannya sedangkan dari kekurangannya,
penelitian masih menggunakan puisi dan natsr sebagai objeknya .
Sekalipun sudah ada yang menulis tentang saja dalam berbagai karya
sastra, namun sepengetahuan penulis belum ada yang meneliti saja dalam
novel, khususnya dalam novel Layaali Turkiztan karya Najieb Kaylani ini.
Oleh sebab itu, maka penelitian dari aspek saja pada novel Layaali
Turkiztan masih terbuka dan penting untuk dilakukan.
5. Kerangka Berpikir
Balaghah atau yang sering disebut dengan retorika dipandang sebagai
suatu cara penggunaan bahasa untuk memperoleh tujuan estetis. Ia diperoleh
melalui kreativitas dalam mengungkapkan bahasa, yaitu bagaimana penutur
mengolah bahasa sebagai media untuk mengungkapkan gagasan yang ia
maksud. Ungkapan sebuah bahasa mencerminkan sikap dan perasaan penutur,
tetapi juga sekaligus dimaksudkan untuk memtujuani sikap dan perasaan
pembaca yang tercemin dari keindahan dalam penuturannya. Dengan
demikian, pengungkapan bahasa harus efektif. Yang dimaksud efektif adalah

mampu mendukung gagasan secara tepat sekaligus mengandung estetis


sebagai sebuah karya seni.8
Balaghah terbagi kepada tiga kajian, yaitu; ilmu maani, ilmu bayan, dan
ilmu badi. Ilmu Bayan merupakan seni dalam penyusunan dan pengungkapan
suatu pengertian dengan berbagai gaya ekspresi dan redaksi yang indah. 9
Bayan secara leksikal bermakna terang atau jelas. Sedangkan secara
terminologis

adalah

salah

satu

ilmu

untuk

mengetahui

bagaimana

mengungkapkan suatu ide ke dalam bahasa yang bervariasi. Ilmu ini pertama
kali dikembangkan oleh Abu Ubaidah ibn al-Matsni. Mempelajari ilmu
bayan akan membantu kita memahami dan mengapresiasi keindahan bahasa
Al-Quran. Bidang kajian ilmu bayn meliputi tasybh, majz, dan kinyah10..
Kedua Ilmu Maani adalah ilmu untuk mengetahui bagaimana keadaankeadaan perkataan bahasa Arab yang dilontarkan oleh penutur agar keadaankeadaan tersebut sesuai dengan muqtadhal al-hal (situasi dan kondisi) lawan
bicara (komunikan).11Jelasnya Ilmu Ma'ani itu adalah suatu peraturan tentang
pemberian makna yang tepat sesuai dengan redaksi kalimat. Dalam kelompok
ilmu ma' ani ini akan dibahas mengenai: Kalam khabari dan insya, Zikru dan
Hazfu, Taqdim dan ta'hir, Qashar, Washal dan fashal, Ijaz dan Musawah. Dan
ketiga Ilmu badi adalah ilmu yang membahas bagaimana keindahan
ungkapan bahasa setelah diekspresikan dengan gaya bahasa yang indah dan
disesuaikan dengan konteks wacana.12Atau Ilmu badi ialah suatu ilmu yang
dengannya diketahui segi-segi (beberapa metode dan cara-cara yang
ditetapkan untuk menghiasi kalimat dan memperindahnya) dan keistimewaankeistimewaan yang dapat membuat kalimat semakin indah, bagus dan
menghiasinya dengan kebaikan dan keindahan setelah kalimat tersebut sesuai
dengan situasi dan kondisi dan telah jelas makna yang dikehendaki 13. Ilmu
Badi membahas tata cara memperindah suatu ungkapan, baik pada aspek
8

Burhan Nurgiantoro, Teori Pengkajian Fiksi, University Press, Yogyakarta, 2002, hal.

295
9

Wahab Muhsin dkk, Pokok-pokok Ilmu Balaghah, Angkasa, Tasikmalaya, 1982, hal. 25
Mamat Zaenuddin & Yayan Nurbayan, Pengantar Ilmu Bayan, Zain Al-bayan,
Bandung, 2006, hal. 97
11
Hifni Bek Dayyab dkk, Kaidah Tata Bahasa Arab, Darul Ulum Press, Jakarta, 1991,
hal. 418
12
Abu Shalih & Ahmad Tawfiq, Kitab al-Balaghah, Jamiah al-Imam, Riyadh, hal. 124
13
Hasyimy, Sayyid Ahmad, al, Jawhirul Balghah fil Ma ny wal Bayn wal Bad,
Maktabah al Tijriyyah al Kubr, Mesir, 1994, hal. 177
10

lafadzmaupun pada aspek makna. Ilmu ini membahas dua bidang utama, yaitu
muhassint lafzhyyah dan muhassint manawiyyah. Muhassintlafzhyyah
meliputi: jins, iqtibs, dan saja, sedangkan muhassint manawiyyah
meliputi: tauriyyah, tibq, muqbalah,husn al-tall, takd al-madh
bimyusybih al-dzamm dan uslb al-hakm14.
Dan dari ketiga bidang yang terdapat dalam ilmu balaghah yang
dijadikan pendekatan (pisau analisis) dalam penelitian ini adalah ilmu badi
saja. Dan yang akan dijadikan pendekatan dalam penelitian ini yaitu dari jenis
yang terdapat dalam al-muhassinat al-lafdziyah yang dititikberatkan pada
saja. Saja secara leksikal bermakna bunyi atau indah. Secara
terminologis, saja adalah persesuaian bunyi. Saja adalah cocoknya huruf
akhir dua fashilah atau lebih. Saja yang paling baik ialah yang bagian-bagian
kalimatnya seimbang. Adapun saja dalam fahsilah (kalimat akhir) dari natsr
itu menyerupai qofiyah pada syiir. (pada wazan-nya, hurufnya atau qofiyahnya).
Saja terbagi ke dalam tiga bagian yaitu : pertama Al-Mutharraf adalah
sajak yang dua akhir kata pada sajak itu berbeda dalam wazan-nya, dan
persesuaian dalam huruf akhirnya. Kedua Al-Murashsha adalah sajak yang
padanya lafadz-lafadz dari salah satu rangkaiannya, atau seluruhnya, atau
sebagian besarnya semisal bandingannya dari rangkaian yang lain. Ketiga AlMutawazi adalah sajak yang persesuaian padanya terletak pada dua kata yang
akhir saja. Dan dengan sudut pandang saja, maka keindahan dan
keistimewaan novel Layaali Turkiztan karya Najieb Kaylani ini akan dengan
mudah dapat diketahui.
6. Metode dan Langkah Penelitian
6.1. Metode Penelitian
Metode penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif analitik.
Metode ini merupakan gabungan antara metode deskriptif dan metode analisis.
Metode deskriptif analitik dilakukan dengan cara mendeskripsikan fakta-fakta
yang kemudian disusul dengan analisis.15
6.2. Langkah-Langkah Penelitian
14

Imam Al-Akhdhary,Ilmu Balghah, Al-Maarif, Bandung, 1993, hal. 53


Nyoman Kutha Ratna, Paradigma Sosiologi Sastra, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar,
2011), cet. Ke 3, hal. 53
15

Adapun langkah-langkah yang akan ditempuh dalam penelitian ini adalah:


6.2.1. Penentuan Sumber Data
Sumber data dalam penelitian ini adalah novel Layaali Turkiztan
karya Najieb Kaylani yang diterbitkan oleh Daar el-Basyiir.
6.2.2. Penentuan Jenis Data
Data dalam penelitian ini adalah lafadz-lafadz yang terdapat dalam
novel Layaali Turkiztan yang dalam susunan kalimatnya terdapat
kata yang mengandung saja. Data tersebut diperoleh setelah
menginventarisasi,

menganalisis,

mengklasifikasi,

dan

menyimpulkan bahwa bait-bait tersebut mengandung saja .


6.2.3. Teknik Pengumpulan Data Penelitian
Dalam pengumpulan data penelitian digunakan teknik
kepustakaan. Karena penelitian ini bersifat penelitian kualitatif.
Penelitian yang bersifat kualitatif, data yang diperoleh adalah data
deskriptif, berupa data tertulis atau lisan dari sejumlah orang dan
prilaku yang dapat dipahami.16Penelitian kualitatif menyituasikan
aktifitas pengamatan di lokasi tempat berbagai fakta, data, bukti,
atau hal-hal lain yang terkait dengan riset, dan/hal-hal yang
terjadi.17Hanya saja dalam penelitian ini, data yang mungkin
diperoleh adalah data tertulis saja. Karena penelitian ini berupa
penelitian teks dengan tahapan sebagai berikut:
1) Membaca novel Layaali Turkiztan karya Najieb Kaylani.
2) Menghimpun lafadz-lafaz dalam novel tersebut yang
didalamnya mengandung saja.
3) Memilih dan memilah, kemudian mengelompokkan lafadzlafadz tersebut berdasarkan jenis saja.
4) Mengolah dan menganalisis data-data tersebut (saja) untuk
kemudian ditarik simpulan sajadalam novel Layaali Turkiztan
karya Najieb Kaylani .
6.2.4. Merumuskan Simpulan
Simpulan merupakan proses akhir dari kegiatan penelitian untuk
menjawab permasalahan yang terdapat dalam rumusan masalah.
7. Sistematika Penulisan
16

Rohanda WS, Model Penelitian Sastra Interdisipliner,( Adabi Press, Bandung, 2005)

hal.18
17

Septiawan Santana K. Menulis Ilmiah Metodologi Penelitian Kualitatif, Yayasan


Pustaka obor Indonesia, Jakarta, 2010, hal. 5.

Dalam upaya memperoleh hasil penelitian yang diharapkan, penelitian ini


dibagi dalam empat bab, yaitu:
Bab pertama merupakan pendahuluan yang meliputi: latar belakang
masalah; identifikasi dan perumusan masalah; tujuan dan kegunaan penelitian;
tinjauan pustaka; kerangka berpikir; metode dan langkah penelitian; dan
sistematika penulisan.
Bab kedua berisi pembahasan tentang biografi penulis, sinopsis novel, dan
keindahan dalam novel Layaali Turkiztan karya Najieb Kaylani ditinjau dari
struktur saja yang meliputi: Tinjauan umum diwan Amru bin Kultsum; Jenis
saja dalam novel Layaali Turkiztan karya Najieb Kaylani.
Bab keempat berisi penutup dari rangkaian kegiatan penelitian yang
mencakup simpulan dan saran atau rekomendasi.

BAB II
ANALISIS SAJA DALAM NOVEL LAYAALI TURKIZTAN KARYA
NAJIEB KAILANI
a. Biografi Najib Kailani
Najib Ibrahim bin Abd Al-Lathif Al-Kailani lahir pada 10 Juni 1931 di
Syarsyabah, suatu desa wilayah bagian barat Republik Arab Mesir, sebagai
anak pertama dari keluarga petani. Ketika perang Dunia II menimpulkan
berbagai pengaruh buruk pada kehidupan Mesir, termasuk di tanah
kelahirannya,

Syarsyabah.

Ketika

itu

Mesir

sedang

dilanda

krisis

perekonomian yang sangat buruk sehingga regulasi keuangan di Mesir sangat


kacau ketika itu. Ditambah lagi dengan penjajahan Inggris yang membuat
para petani sangat menderita. Demikianlah sosok Najib Al-Kailani lahir dan
besar ketika carut-marut situasi politik dan ekonomi di Mesir saat itu.18
Pendidikan Najib Al-Kailani, sebagaimana kebanyakan anak-anak di
Mesir pada masa itu, dimulai di Kuttab, dimana ia belajar menulis, membaca,
menghapal banyak surat dari Al-Quran, perjalanan Baginda Alam Nabi
Muhammad dan para nabi lainnya. Kemudian ia melanjutkan studinya ke
ibtidaiyah atau sering kita pahami dengan sebutan SD (Sekolah Dasar) dan
Tsanawiyah (5 tahun setingkat dengan SLTP SLTA) di Thontho.19
Pada tahun 1951, ia melanjutkan studinya di Fakultas Kedokteran
Universitas Fuad I yang sekarang dikenal sebagai Universitas Kairo. Pada
tahun keempat di Fakultas tersebut, Najib Al-Kailani diajukan ke pengadilan,
karna ia terlibat dengan masalah perpolitikan dan bergabung dengan
organisasi Ikhwanul Muslimin. Karna masalah itu ia pun divonis 10 tahun
penjara. Akan tetapi, setelah menjalani dari hukumannya itu ia dikeluarkan.
Setelah keluar dari tembok dingin jeruji besi ia menyelesaikan kuliahnya.
Pada tahun 1960, ia dipenjarakan kembali selama 1,5 tahun.
Setelah menyelesaikan studi kedokterannya, Najib Al-Kailani bekerja
sebagai dokter pada pada Kementrian perhubungan dan Jawatan Kereta Api
Mesir. Nah, pada tahun 1967 ia meninggalkan Mesir dan bekerja sebagai
dokter di Kuwait, kemudian di Dubai. Selanjutnya ia selalu berpindah jabatan
18
19

Najieb al-Kailany, Night In Turkiztan, (terjemah). (Jakarta : 1428), hal. 235


Ibid., hal. 236

10

dari jabatan satu ke yang lainnya, terakhir ia menjabat sebagai seorang


Direktur Departemen Budaya pada kementrian kesehatan persatuan Emirat
Arab, di samping menjadi anggota panitia yang bergerak dalam bidang
kesehatan masyarakat untuk negara-negara teluk. Ia pun tak ketinggalan
menghadiri muktamar para mentri kesehatan negara-negara Arab. Ia kembali
ke tempat dimana ia kecil dan dibesarkan di Kairo pada tahun 1992.20
Perjalanan atau kiprah Najib Al-Kailani dalam dunia sastra tidak
diragukan lagi, sebagai cerpenis, novelis, dan penyair itu semua adalah
manifestasi dari kegemarannya membaca, terutama membaca majalahmajalah sastra yang terbit pada masa itu, seperti Ar-Risalah, Ats-Tsaqafah, AlHilal, dan Al-Muqtathaf. Dari kegemarannya membaca majalah-majalah
tersebut ia dapat berkenalan dengan tokoh-tokoh sastrawan terkenal, seperti
Sayyid Quthb, Musthafa Shadiq Ar-Rafii, Al-Aqqad, Al-Mazini, AlManffaluthi, Thaha Hesen dan Tufiq El-Hakim.
Najib Al-Kailani menulis sejak ia masih dukuk di bangku Tsanawiyah.
Ketika dipenjara pun ia menulis beberapa novel. Diantara novel-novelnya
adalah: Ardhu Al-Anbiya, Hikayat Jad Allah, Hamamah Salam, Damm
Lifathir Shuhyun, Alladzina Yahtariqun, Ras Asy-Syaithan, Ar-Rabi AlAshif, Rihlah Ila Allah, Ramadhan Habibi, Ath-Thoriq Ath-Thawil, Thalai
Al-Fajr, Adh-Dhillu, Al-Aswad, Adzra jakarta, Ala Abwah Khaibar,
Amaliqah Asy-Syamal, Fi Adh-Dhalam, Qatil Hamzah, Layali Turkistan, Lial
Al-khathaya, Marakib Al-Abrar, An-Nida Al-Khalid, Nur Allah, Al-Yaum Alb.

Mauud, Imarat Abdal-Mutajalli, dan Ar-Rajul Alladzi Amana.21


Sinopsis Novel Layaali Turkiztan
Kisah ini diawali dengan kisah pendudukan pasukan China yang
mencengkeram Propinsi Kumul pada tahun 1930. Disebabkan karena merasa
sudah menguasai daerah jajahannya, maka komandan China membuat
peraturan yang sesuka hatinya. Tak perduli apakah peraturan itu bertentangan
dengan keyakinan penduduk yang dijajahnya. Peraturan itu adalah keharusan
bagi semua orang Turkistan untuk menikahkan anak perempuannya kepada
pasukan China, meskipun berbeda keyakinan.
Berawal dari sanalah, pemberontakan rakyat Turkistan melawan China
mulai bergelora di bawah pimpinan pemikir, negarawan serta ulama
20
21

Ibid., hal. 236-237


Ibid., hal. 237

11

kharismatik Khaja Niyaz Haji. Padanya terdapat sikap keberanian dan


kearifan serta sang motivator para mujahid muslim Turkistan. Dialah pada
akhirnya menjadi Presiden pertama negeri Turkistan menggantikan raja
Kumul yang tewas.
Melihat peperangan antara Turkistan dan China, Uni Sovyet mencoba
untuk ikut bermain dalam konflik kedua Negara tersebut dengan topeng
membantu. Pemimpin Uni Sovyet saat itu, Stalin, mencoba mengutus
perwakilan ke Turkistan di bawah pimpinan Zajam Sin Dargam untuk
bertemu muka dengan Khaja Niyaz Haji. Tentunya dengan kompensasi yang
mempertaruhkan harkat dan martabat negeri Turkistan.Penolakan halus
dilakukan Khaja Niyaz Haji atas bantuan yang ditawarkan utusan Rusia itu.
Mendapat penolakan itu, pihak Sovyet pada akhirnya merapat kepada
Pasukan China dengan alasan yang sama. Membantu!. Hingga akhirnya dua
kekuatan komunis membabat habis wilayah-wilayah negeri Turkistan.
Selain mengisahkan tentang jiwa patriotisme, juga mengisahkan tentang
jalinan cinta tokoh utama yang bernama Mustafa Murad Hadrat dengan
Najmat Lail. Keduanya adalah pelayan istana Raja Kumul. Peperangan
membuat cinta mereka terpisahkan untuk sementara waktu. Demi
menyelamatkan keluarga kerajaan, Najmat Lail rela menikah dengan Pao Din,
perwira pasukan China yang menyerang istana raja Kumul.
Namun seiring berjalannya waktu, saat Mustafa Murad Hadrat
melakukan taktik perang gerilya bersama para mujahidin yang lain. Tuhan
mempertemukan keduanya kembali di Urungi. Dengan menyamar menjadi
pembantu perwira Pao Din bernama samaran Torson, Mustafa Murad Hadrat
merasa bahwa cinta yang ada dalam hati Najmat Lail telah sirna. Ternyata
pernyataanya salah besar. Dengan alasan cinta kepadanya, Najmat Lail
membunuh suaminya sendiri. Dan menjalani hidup dalam pelarian bersama
Mustafa Murad Hadrat. Keduanya menikah di sela-sela waktu senggang kala
perang lagi mereda.
Akan tetapi, peperangan yang terus menerus tak kunjung henti membuat
keduanya harus berpisah lagi. Demi bisa menjaga akidah Islamnya, para
Mujahid Cinta negeri Turkistan ini mencoba untuk terus bertahan dengan
jumlah yang sedikit melalui taktik prang gerilya. Sembunyi di pegunungan,

12

jika terlihat musuh mulai lengah, mereka turun gunung dengan menyerang
titik sentral pertahanan pasukan China dan Uni Sovyet. Meskipun pada
akhirnya kekalahan selalu ada disebabkan kurang modernnya persenjataan
perang pasukan Turkistan.
Akibat makin menipisnya jumlah pasukan Turkistan, maka mengungsilah
Mustafa Murad Hadrat bersama para pejuang lainnya menuju Srinagar,
Kashmir. Disanalah pertemuan kembali dengan Istri dan anaknya terjadi lagi.
Hingga keduanya berkeinginan untuk hidup dipinggiran kota Mekkah. Nah di
Mekkah-lah, saat bulan Dzulhijjah Najieb Kailani bertatap muka secara tidak
sengaja dengan Mustafa Murad Hadrat yang menghabiskan sisa hidupnya
dengan menjadi pedagang tasbih, kopiah dan barag-barang antic. Maka
diceritakanlah negeri Turkistan, negeri Islam yang hilang ini pada Najieb
Kailani dengan cerita yang sangat menyentuh nurani.

13

c.

Saja dalam Novel Layaali Turkiztan

14

Lafadz

Jenis Saja

Almutharraf

Halaman
6

No
1

Almutawazzi

....
Almutharraf ..

12

..
Almutharraf

12


Almutharraf

12


.. Almutharraf

13

Almutharraf

15


.. Almutawazzi

14

Almurashsha .. ..

17

17

Almutharraf
..
Almutharraf ""

19

10

..
Almutharraf .

19

11

Almutharraf ..

22

12

..

..
Almutharraf

25

13

..
15
Almutharraf

.. ..

25

14

d. Analisis Saja dalam novel Layaali Turkiztan



Redaksi diatas merupakan bentuk saja, karena terdiri atas lebih dari dua
bagian kalimat yang bunyi akhirnya sama, yaitu bunyi h pada lafadz ,
, dan , saja tersebut merupakan saja al-Mutharraf, karena sesuai
huruf akhir dikedua fashilah nya namun berbeda wazan dan qofiahnya.

.. .
Redaksi diatas merupakan bentuk saja, karena terdiri atas lebih dari dua
bagian kalimat yang komposisi kalimatnya sama yaitu lafadz dan
. saja tersebut merupakan saja almutawazzi.

.. ..
Redaksi diatas merupakan bentuk saja, karena terdiri atas lebih dari dua
bagian kalimat yang bunyi akhirnya sama, yaitu bunyi k pada lafadz

.. dan . . saja tersebut merupakan saja al-Mutharraf, karena


sesuai huruf akhir dikedua fashilah nya namun berbeda wazan dan qofiahnya.


Redaksi diatas merupakan bentuk saja, karena terdiri atas lebih dari dua
bagian kalimat yang bunyi akhirnya sama, yaitu bunyi h pada lafadz

dan . . saja tersebut merupakan saja al-Mutharraf, karena sesuai


huruf akhir dikedua fashilah nya namun berbeda wazan dan qofiahnya.


Redaksi diatas merupakan bentuk saja, karena terdiri atas lebih dari dua
bagian kalimat yang bunyi akhirnya sama, yaitu bunyi ha pada lafadz

dan . . saja tersebut merupakan saja al-Mutharraf, karena sesuai


huruf akhir dikedua fashilah nya namun berbeda wazan dan qofiahnya.

..
16

Redaksi diatas merupakan bentuk saja, karena terdiri atas lebih dari dua
bagian kalimat yang bunyi akhirnya sama, yaitu bunyi r pada lafadz

dan ... . saja tersebut merupakan saja al-Mutharraf, karena sesuai


huruf akhir dikedua fashilah nya namun berbeda wazan dan qofiahnya.


Redaksi diatas merupakan bentuk saja, karena terdiri atas lebih dari dua
bagian kalimat yang bunyi akhirnya sama, yaitu bunyi ii pada lafadz

dan . saja tersebut merupakan saja al-Mutharraf, karena sesuai


huruf akhir dikedua fashilah nya namun berbeda wazan dan qofiahnya.

.
Redaksi diatas merupakan bentuk saja, karena terdiri atas lebih dari dua
bagian kalimat yang komposisi kalimatnya sama yaitu lafadz

dan

. saja tersebut merupakan saja almutawazzi.


.. ..
Redaksi diatas merupakan bentuk saja, yang kata-katanya sama dalam dua
kalimat atau lebih dalam hal wazan dan qofiahnya. Yaitu pada lafadz
dan

.. dan ..

Bentuk sajanya merupakan saja al-Murashsha

..
Redaksi diatas merupakan bentuk saja, karena terdiri atas dua bagian kalimat
yang bunyi akhirnya sama, yaitu bunyi a pada lafadz

.dan .
saja tersebut merupakan saja al-Mutharraf, karena sesuai huruf akhir
.dikedua fashilah nya namun berbeda wazan dan qofiahnya

. ""
Redaksi diatas merupakan bentuk saja, karena terdiri atas dua bagian kalimat

17

yang bunyi akhirnya sama, yaitu bunyi q pada lafadz

. dan ."
saja tersebut merupakan saja al-Mutharraf, karena sesuai huruf akhir
.dikedua fashilah nya namun berbeda wazan dan qofiahnya

.
Redaksi diatas merupakan bentuk saja, karena terdiri atas dua bagian kalimat
yang bunyi akhirnya sama, yaitu bunyi d pada lafadz

.. dan .
saja tersebut merupakan saja al-Mutharraf, karena sesuai huruf akhir
.dikedua fashilah nya namun berbeda wazan dan qofiahnya

.. ..
..
Redaksi diatas merupakan bentuk saja, karena terdiri atas dua bagian kalimat
yang bunyi akhirnya sama, yaitu bunyi h pada lafadz

,.
,..
saja tersebut merupakan saja al-Mutharraf, karena sesuai huruf akhir
.dikedua fashilah nya namun berbeda wazan dan qofiahnya

..
Redaksi diatas merupakan bentuk saja, karena terdiri atas dua bagian kalimat
yang bunyi akhirnya sama, yaitu bunyi h pada lafadz

,.
..
saja tersebut merupakan saja al-Mutharraf, karena sesuai huruf akhir
.dikedua fashilah nya namun berbeda wazan dan qofiahnya

18

.. ..
Redaksi diatas merupakan bentuk saja, karena terdiri atas dua bagian kalimat
yang bunyi akhirnya sama, yaitu bunyi a pada lafadz

.. ..
saja tersebut merupakan saja al-Mutharraf, karena sesuai huruf akhir
.dikedua fashilah nya namun berbeda wazan dan qofiahnya

" . . . . "
Redaksi diatas merupakan bentuk saja, karena terdiri atas dua bagian kalimat
yang bunyi akhirnya sama, yaitu bunyi naa pada lafadz

.
saja tersebut merupakan saja al-Mutharraf, karena sesuai huruf akhir
.dikedua fashilah nya namun berbeda wazan dan qofiahnya

..
Redaksi diatas merupakan bentuk saja, karena terdiri atas dua bagian kalimat
yang bunyi akhirnya sama, yaitu bunyi uul pada lafadz

..
saja tersebut merupakan saja al-Mutharraf, karena sesuai huruf akhir
.dikedua fashilah nya namun berbeda wazan dan qofiahnya


Redaksi diatas merupakan bentuk saja, karena terdiri atas dua bagian kalimat
yang bunyi akhirnya sama, yaitu bunyi ii pada lafadz


saja tersebut merupakan saja al-Mutharraf, karena sesuai huruf akhir
.dikedua fashilah nya namun berbeda wazan dan qofiahnya

19

...
Redaksi diatas merupakan bentuk saja, karena terdiri atas dua bagian kalimat
yang bunyi akhirnya sama, yaitu bunyi h pada lafadz

...
saja tersebut merupakan saja al-Mutharraf, karena sesuai huruf akhir
.dikedua fashilah nya namun berbeda wazan dan qofiahnya

.. .. .
Redaksi diatas merupakan bentuk saja, karena terdiri atas dua bagian kalimat
yang bunyi akhirnya sama, yaitu bunyi k pada lafadz

..
saja tersebut merupakan saja al-Mutharraf, karena sesuai huruf akhir
.dikedua fashilah nya namun berbeda wazan dan qofiahnya

..
...
Redaksi diatas merupakan bentuk saja, karena terdiri atas dua bagian kalimat
yang bunyi akhirnya sama, yaitu bunyi h pada lafadz

...
saja tersebut merupakan saja al-Mutharraf, karena sesuai huruf akhir
.dikedua fashilah nya namun berbeda wazan dan qofiahnya


Redaksi diatas merupakan bentuk saja, karena terdiri atas dua bagian kalimat
yang bunyi akhirnya sama, yaitu bunyi ann pada lafadz


saja tersebut merupakan saja al-Mutharraf, karena sesuai huruf akhir

20

dikedua fashilah nya namun berbeda wazan dan qofiahnya.

21

BAB III
PENUTUP
a. Kesimpulan

Kesimpulan dari peneliti dari skripsi ini yakni macam-macam saja yang
terdapat dalam novel Layaali Turkiztan karya Najieb Kailani tediri atas 25
macam saja, adapun jinas-jinas tersebut adalah sebagai berikut: Saja
Mutawazzi: 3, Saja Murashsha : 1, Saja Mutharraf: 12.

22

DAFTAR PUSTAKA
Al-Akhdhary, Imam, (1993) Ilmu Balghah, Bandung: Al-Maarif.
Al-Jarim, Ali dan Musthafa Amin,(1957) Al-Balaghah al-Wdhihah, Mesir: Dr
al-Marif.
al-Kailany, Najieb. (1428) Night In Turkiztan, (terjemah). Jakarta.
Bek, Hifni Dayyab dkk. (1991) Kaidah Tata Bahasa Arab, Jakarta: Darul Ulum
Press.
Hasyimy, Sayyid Ahmad, al, (1994) Jawhirul Balghah fil Ma ny wal Bayn
wal Bad, Mesir: Maktabah al Tijriyyah al Kubr, hal. 177.
Kamil, Sukron . (2009). Teori Kritik Sastra Arab. Jakarta : Rajawali Press
Muhsin, Wahab dkk. (1982) Pokok-pokok Ilmu Balaghah, Tasikmalaya: Angkasa.
Nurgiantoro, Burhan,(2002) Teori Pengkajian Fiksi, Yogyakarta: University Press.
Ratna, Nyoman Kutha,(2004) Teori, Metode, dan Teknik Penelitian Sastra,
Jogjakarta: Pustaka Pelajar.
Santana K, Septiawan, (2010) Menulis Ilmiah Metodologi Penelitian Kualitatif,
Yayasan Pustaka obor Indonesia, Jakarta.
Shalih, Abu & Ahmad Tawfiq,Kitab al-Balaghah. Riyadh: Jamiah al-Imam.
Siswantoro. (2004).

Metode Penelitian Sastra Analisis Psikologi. Surakarta:

Sebelas Maret University Press.


Sumardjo, Jakob & Saini K. M. (1988) Apresiasi Kesusastraan, Jakarta: PT.
Gramedia.
Taufiq, Wildan,(2006) Kamus Sastra dan Linguistik, Bandung: Logat Press.
WS, Rohanda. Model Penelitian Sastra Interdisipliner. 2005. Bandung: Adabi
Press.

23

Zaenuddin, Mamat &Nurbayan, Yayan, (2006). Pengantar Ilmu Bayan.Bandung:


Zain al-bayan.

24