Anda di halaman 1dari 29

1

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah


Laba merupakan selisih antara penjualan dengan beban, sehingga laba
dapat mengukur masukan (dalam bentuk beban yang diukur dengan biaya) dan
keluaran (dalam bentuk penjualan yang diperoleh). Hal ini seperti pernyataan
bahwa Laba yang dicapai merupakan pengukur penting efisien dan efektivitas
organisasi (R.A Supriyono, 2000:330).
Jumlah laba bersih kerap dibandingkan dengan ukuran kegiatan atau kondisi
keuangan lainnya seperti penjualan, aktiva, ekuitas pemegang saham untuk
menilai kinerja sebagai suatu persentase dari beberapa tingkat aktivitas atau
investasi.
Adapun Faktor-faktor yang akan mempengaruhi laba bersih

suatu

perusahaan adalah meliputi pertumbuhan penjualan, perputaran aktiva, current


ratio, biaya produksi, arus kas operasi, tingkat hutang dan modal. (Munawir, 2002
: 64).
Menurut Barley and Mayers (2007) Faktor-faktor yang mempengaruhi
laba bersih suatu perusahaan adalah : Naik turunnya jumlah unit yang dijual dan
harga jual per unit, Naik turunnya harga pokok penjualan, Naik turunnya biaya
produksi yang dipengaruhi oleh jumlah unit yang dijual, naik turunnya nilai rasio
keuangan, Naik turunnya tingkat bunga pinjaman (biaya modal asing), Naik
turunnya pos penghasilan oleh variasi jumlah unit yang dijual.

Biaya

produksi

merupakan

sumber

ekonomi

dalam

upaya

mempertahankan dan menghasilkan penjualan. Biaya operasinal merupakan biaya


yang dipengaruhi oleh aktivitas perusahaan, oleh sebab itu semakin meningkat
tingkat aktivitasnya, maka semakin meningkat juga biaya operasinya. Karena
biaya operasi merupakan biaya yang terlibat langsung dalam kegiatan perusahaan,
maka dalam menentukan biaya operasi tidaklah dapat dilakukan secara terpisah
dengan serangkaian aktivitas-aktivitas perusahaan (Supriyono, 2009;185).
Jopie Jusuf (2004:35) menyatakan bahwa: Bila perusahaan dapat
menekan biaya operasi, maka perusahaan akan dapat meningkatkan laba,
demikian juga sebaliknya, bila terjadi pemborosan biaya akan mengakibatkan
menurunnya laba.
Aktivitas penjualan merupakan penjualan utama perusahaan karena jika
aktivitas penjualan produk maupun jasa tidak dikelola dengan baik maka secara
langsung dapat merugikan perusahaan. Hal ini dapat disebabkan karena sasaran
penjualan yang diharapkan tidak tercapai dan penjualan pun akan berkurang.
Pengertian penjualan menurut Henry Simamora (2000;24) menyatakan
bahwa: Penjualan adalah penjualan lazim dalam perusahaan dan merupakan
jumlah kotor yang dibebankan kepada pelanggan atas barang dan jasa.
Bagi perusahaan dengan tingkat penjualan yang tinggi kecenderungan
perusahaan lebih konsisten dalam menghasilkan laba bersih dibandingkan dengan
perusahaan-perusahaan yang tingkat penjualannya rendah (Hatta, 2002:26).
Peneliti memilih Perusahaan manufaktur sebagai objek penelitian adalah
PT Burung Laut diberi kepercayaan untuk menjadi transportir laut dan darat untuk
keperluan angkutan BBM keperluan pabrik semen di Lhoknga , dimana angkutan

laut mempergunakan Kapal MT. Bumegah dan angkutan darat adalah mobil-mobil
tangki milik PT. Karya Ilham Masa.
Perusahaan manufaktur bergerak di bidang usaha pelayaran kapal milik
sendiri maupun sewa. Perusahaan juga berperan sebagai keagenan umum dan
komisi dari perusahaan-perusahaan yang sama atau sejenisnya baik dalam negeri
maupun luar negeri. Perusahaan manufaktur

dalam menjalankan operasinya

mempunyai empat kapal milik sendiri yaitu : MT. Pelita Laut (Motor Tanker), MT.
Pelita Energi (Motor Tanker), MT. Pelita Andalas (Motor Tanker), MT. Pelita
Samudera (Motor Tanker). Kapal lain yang tetap dioperasikan oleh Perusahaan
manufaktur adalah MT. Bumeugah yang mulai Bulan Mei tahun 2000 beroperasi
untuk melayani angkutan BBM milik PT. Kiani Kertas dari Pulau Sambu ke
Sungai Brau, Tanjung Redeb, Kalimantan Timur.
Pada kenyataannya, tidak semua teori yang telah dipaparkan diatas sejalan
dengan kenyataan yang ada, seperti yang terjadi dalam perkembangan perusahaan
Perusahaan manufaktur. Adapun besarnya penjualan, biaya produksi dan laba
bersih pada Perusahaan manufaktur periode 2009 hingga 201 adalah sebagai
berikut:
Tabel I.1
Data Biaya produksi, Penjualan dan Laba bersih Pada Perusahaan
Manufaktur
Perusahaan
Penjualan
Tahun
Biaya produksi
Laba bersih
BRPT
16965228
2010
15849592
-738851

BUDI

2011
2012
2013
2014
2010
2011
2012

9193902
22067143
29833008
22835549
1,881,605
2,187,683
2,091,870

9354195
22192872
30908081
23871260
2,124,381
2,503,984
2,295,369

-368239
-1195164
-254443
9201
46,847
62,965
5,084

2013
2,261,231
2014
1621541
DPNS
2010
71,893
2011
91,187
2012
109,577
2013
103,602
2014
123088
EKAD
2010
184,846
2011
246,909
2012
284,653
2013
302,324
2014
181151
ETWA
2010
749,137
2011
797,292
2012
526,221
2013
1,027,225
2014
19558
INCI
2010
41,870
2011
45,233
2012
55,841
2013
63,381
2014
41364
Sumber : Perusahaan manufaktur (2015)

2,568,954
1824820
97,284
121,168
146,691
131,333
99509
254,276
328,460
385,037
418,669
383265
810,859
904,236
601,772
1,206,066
860593
48,454
50,278
64,628
81,244
81341

42,886
45297
14,034
-6,642
20,609
66,813
11915
26,213
26,149
36,198
39,451
36245
38,160
72,961
29,663
7,911
-16341
-20,559
-17,170
4,444
10,332
6594

Dari tabel I.1 dapat dilihat bahwa terjadi penurunan nilai laba bersih dan
mengalami kerugian pada beberapa tahun. Hal ini akan berdampak pada kondisi
perusahaan akan mengalami kekurangan dalam pembayaran bunga dividen dan
pajak pemerintah perusahaan yang mengalami kerugian akan menyebabkan
ketidakefisienan organisasi dalam menjalankan operasional perusahaan. Hal ini
seperti pernyataan bahwa Laba yang dicapai merupakan pengukur penting efisien
dan efektivitas organisasi (R.A Supriyono 2000:330).
Demikian juga halnya dengan penjualan pada beberapa tahun perusahaan
mengalami penurunan nilai penjualan sementara teori semakin tinggi penjualan
berarti semakin efektif penggunaan penjualan tersebut. penjualan yang efektif

sangatlah penting bagi perusahaan karena dapat meningkatkan tingkat laba yang
dihasilkan suatu perusahaan (Mamduh M Hanafi 2003: 83).
Pada data diatas dapat dilihat bahwa terjadi penurunan nilai penjualan
yang tidak diikuti oleh penurunan nilai laba sementara teori menyatakan bagi
perusahaan dengan tingkat penjualan yang tinggi kecenderungan perusahaan lebih
konsisten dalam menghasilkan laba dibandingkan dengan perusahaan-perusahaan
yang tingkat penjualannya rendah (Munawir 2002:64).
Pada tabel I.1 dapat dilihat terjadinya penurunan nilai biaya sementara
nilai laba bersih mengalami kenaikan sementara menurut Munawir (2002:60)
tingginya biaya operasi akan membuat peningkatan laba turun begitu juga jika
nilai biaya operasi rendah peningkatan laba akan naik.
Pada penelitian Mufida (2012) yang berjudul analisis pengaruh penjualan
bersih terhadap laba kotor pada PT. Nippon Indosari Corporindo dengan hasil
penelitian penjualan kotor memiliki pengaruh terhadap laba kotor.
Penelitian yang dilakukan oleh Refna (2011) yang berjudul analisis
pengaruh penjualan bersih terhadap laba kotor pada PT. Indofood Sukses Makmur
Tbk dengan hasil penelitian penjualan kotor memiliki pengaruh terhadap laba
kotor.
Dari latar belakang masalah diatas maka peneliti tertarik untuk meneliti
mengenai Analisis Biaya produksi Dan Penjualan Dalam Meningkatkan
Laba Bersih Pada Perusahaan manufaktur.

B. Identifikasi Masalah
Adapun identifikasi masalah penelitian ini adalah sebagai berikut :

1. Terjadi penurunan dan kerugian nilai laba bersih dari tahun 2010-2012 pada
Perusahaan manufaktur Medan
2. Terjadi penurunan nilai penjualan tahun 2010 - 2012 pada Perusahaan
manufaktur Medan.
3. Penurunan nilai penjualan diikuti dengan laba bersih yang mengalami
peningkatan pada Perusahaan manufaktur Medan.

C. Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah penelitian ini adalah :
1. Bagaimana biaya produksi dan penjualan dalam meningkatkan laba bersih
pada Perusahaan manufaktur Medan?
2. Faktor apa yang menyebabkan laba bersih mengalami penurunan dan
merugi?
3. Faktor apa yang menyebabkan penjualan mengalami penurunan?
D. Tujuan Dan Manfaat Penelitian
Tujuan Penelitian
Adapun tujuan penelitian ini adalah
1. Untuk menganalisis biaya produksi dan penjualan dalam meningkatkan
laba pada Perusahaan manufaktur Medan
2. Untuk menganalisis faktor yang menyebabkan laba mengalami penurunan
dan merugi
3. Untuk menganalisis faktor yang menyebabkan penjualan mengalami
penurunan
Manfaat Penelitian
Adapun manfaat penelitian adalah sebagai berikut :
1.

Bagi penulis untuk menambah wawasan dan pengetahuan penulis


tentang penjualan bersih dalam meningkatkan laba bersih.

2.

Bagi perusahaan sebagai masukan untuk membuat perencanaan dan


kebijaksanaan yang tepat dalam hal penjualan dan menghasilkan laba
bersih.

3.

Bagi pihak lain sebagai bahan referensi bagi peneliti lain sehubungan
dengan analisis penjualan bersih dalam meningkatkan laba bersih.

BAB II

LANDASAN TEORI

A. Uraian Teoritis
1. Laba
1.1. Pengertian Laba

Kegiatan perusahaan sudah dapat dipastikan berorientasi pada keuntungan


atau laba menurut Soemarso (2004: 245) Laba adalah selisih lebih penjualan atas
beban sehubungan dengan usaha untuk memperoleh penjualan tersebut selama
periode tertentu. Dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan laba sejauh
mana suatu perusahaan memperoleh penjualan dari kegiatan penjualan sebagai
selisih dari keseluruhan usaha yang didalam usaha itu terdapat biaya yang
dikeluarkan untuk proses penjualan selama periode tertentu.
Umumnya peusahaan didirikan untuk mencapai tujuan tertentu yaitu
memperoleh laba yang optimal dengan pengorbanan yang minimal untuk
mencapai hal tertentu perlu adanya perencanaan dan pengendalian dalam setiap
aktivitas usahanya agar perusahaan dapat membiayai seluruh kegiatan yang
berlangsung secara terus menerus.
Pengertian laba menurut Zaky Baridwan (2004: 29) Kenaikan modal
(aktiva bersih) yang berasal dari transaksi sampingan atau transaksi yang jarang
terjadi dari badan usaha dan dari semua transaksi atau kejadian lain yang
mempengaruhi badan usaha selama satu periode kecuali yang termasuk dari
penjualan (revenue) atau investasi oleh pemilik.

Sedangkan

menurut

Henry

Simamora

(2002:

45)

Laba

adalah

perbandingan antara penjualan dengan beban jikalau penjualan melebihi beban


maka hasilnya adalah laba bersih.
Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa laba berasal dari
semua transaksi atau kejadian yang terjadi pada badan usaha dan akan
mempengaruhi kegiatan perusahaan pada periode tertentu dan laba di dapat dari
selisih antara penjualan dengan beban apabila penjualan lebih besar dari pada
beban maka perusahaan akan mendapatkan laba apabila terjadi sebaliknya maka
perusahaan mendapatkan rugi.
1.2. Jenis-Jenis Laba
Menurut Theodorus M. Tuanakotta (2001: 219) mengemukakan jenis-jenis
laba dalam hubungannya dengan perhitungan laba yaitu :
a. Laba bersih
b. Laba dari operasi
c. Laba bersih
Adapun penjelasan jenis jenis laba diatas sebagai berikut :
1. Laba bersih
Laba bersih yaitu perbedaan antara penjualan bersih dan penjualan dengan
harga pokok penjualan.
2. Laba dari operasi
Laba dari operasi yaitu selisih antara laba bersih dengan total beban biaya.

10

3. Laba Bersih
Laba bersih yaitu angka terakhir dalam perhitungan laba rugi dimana untuk
mencarinya laba operasi bertambah penjualan lain-lain dikurangi oleh beban
lain-lain.

1.3. Tujuan Laba


Menurut Anis dan Imam (2003 : 216) mengutarakan bahwa tujuan
pelaporan laba adalah sebagai berikut :
1)

Sebagai indikator efesiensi penggunaan dana yang tertahan dalam

2)
3)
4)
5)
6)
7)
8)

perusahaan yang diwujudkan dalam tingkat kembaliannya.


Sebagai dasar pengukuran prestasi manajemen.
Sebagai dasar penentuan besarnya perencanaan pajak.
Sebagai alat pengendalian sumber daya ekonomi suatu negara.
Sebagai kompensasi dan pembagian bonus.
Sebagai alat motivasi manajemen dalam pengendalian perusahaan.
Sebagai dasar bentuk kenaikan kemakmuran.
Sebagai dasar pembagian deviden.
Dari kutipan diatas dapat disimpulkan bahwa tujuan dilaporkannya laba

atau lebih dikenal dengan laba atau rugi adalah sebagai indikator efesiensi
penggunaan dana yang digunakan sebagai dasar untuk pengukuran penentuan
pengendalian motivasi prestasi manajemen dan sebagai dasar kenaikan
kemakmuran serta dasar pembagian deviden untuk para investor yang
menanamkan modalnya pada perusahaan.
2. Laba bersih
2.1. Pengertian Laba bersih
Laba merupakan selisih antara penjualan dengan beban sehingga laba
dapat mengukur masukan (dalam bentuk beban yang diukur dengan biaya) dan
keluaran (dalam bentuk penjualan yang diperoleh). Hal ini seperti pernyataan

11

bahwa Laba yang dicapai merupakan pengukur penting efisien dan efektivitas
organisasi (R.A Supriyono 2000:330).
Pencapaian laba bersih adalah tercapainya target laba bersih yang
maksimal dengan menunjukkan adanya penjualan yang lebih tinggi daripada
harga pokok penjualan (Iyan Rohaeni 2004:15).
Laba bersih merupakan hasil dari penjualan bersih dikurangi dengan harga
pokok penjualan hal ini sejalan dengan kutipan dari Soemarso (2001.234) Laba
bersih (gross profit) adalah penjualan bersih dikurangi harga pokok penjualan.
Menurut Ahmad Belkaoli (2003: 244) Laba bersih atas penjualan
merupakan selisih dari penjualan bersih dan harga pokok penjualan . Laba ini
dinamakan laba bersih hasil penjualan bersih sebelum dikurangi dengan beban
operasi lainnya untuk periode tertentu.
Berdasarkan penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa biaya atau
masukan atau input akan menunjukkan ukuran pencapaian laba bersih apabila
setelah jumlah penjualan diketahui sebagai salah satu faktor yang menentukan
nilai laba bersih suatu perusahaan.
\

2.2. Manfaat Laba bersih


Manfaat analisis perubahan laba bersih bagi manajemen menurut Prastowo
(2002:191) yaitu: memberikan cukup motivasi bagi manajemen untuk memulai
suatu pemeriksaan yang akan membawa kepada berbagai kemungkinan tindakan

12

koreksi khususnya analisis yang menunjukan perbedaan tidak menguntungkan


(rugi) antara anggaran dan realisasi.
Analisis laba bersih yang didasarkan pada anggaran atau biaya standar
dapat memberikan gambaran titik-titik kelemahan dari kinerja periode tersebut.
Dengan demikian manajemen akan mampu untuk menguraikan tindakan-tindakan
perbaikan yang diperlukan untuk mengoreksi situasi dan untuk dapat menentukan
sebab-sebab terjadinya penyimpangan yang tidak menguntungkan tersebut.
Kegunaan analisis laba bersih menurut Munawir (2004: 216) yaitu:
Perubahan dalam laba bersih perlu dianalisa untuk mengetahui sebab-sebab
perubahan tersebut baik perubahan yang menguntungkan (kenaikan) maupun
perubahan yang tidak menguntungkan (penurunan) sehingga akan dapat diambil
kesimpulan dan atau tindakan seperlunya untuk periode-periode berikutnya.

2.3. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Laba bersih


Menurut Amstrong (2002: 327) ada beberapa faktor yang mempengaruhi
laba bersih yaitu:
a) Faktor penjualan maksudnya jumlah omzet yang dijual pada barang dan jasa
baik dalam unit maupun dalam rupiah. Sementara itu penjualan ini
dipengaruhi oleh:
1) Faktor harga jual harga persatuan atau unit atau lainnya produk yang
dijual di pasaran. Penyebab berubahnya merupakan perubahan nilai
harga jual per satuan.
2) Faktor jumlah barang yang dijual banyaknya kuantitas atau jumlah
barang yang dijual dalam suatu periode.
b) Faktor harga pokok penjualan harga barang atau jasa sebagai bahan baku atau
jasa untuk menjadi barang dengan ditambah biaya-biaya yang berkaitan

13

dengan harga pokok penjualan tersebut. Harga pokok penjualan dipengaruhi


oleh:
1) Harga pokok rata-rata apabila harga pokok rata-rata naik laba bersih
dapat menurun begitu pula sebaliknya.
2) Jumlah barang yang dijual jika jumlah penjualan meningkat
kemungkinan akan dapat menaikkan laba bersih begitu pula
sebaliknya.
Faktor lain yang harus diperhatikan yaitu adanya ketidakefisiensian di
dalam memproduksi barang atau jasa atau menjual barang yang mengakibatkan
pemborosan. Misalkan pengiriman barang yang tidak tepat waktu pemakaian
bahan yang mengakibatkan pemborosan sehingga biaya yang seharusnya tidak
diperlukan keluar justru menjadi beban dan yang paling fatal adalah adanya unsur
kecurangan dari pihak manajemen perusahaan yang bermain dengan perusahaan
lain.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa perubahan laba bersih
disebabkan oleh tiga faktor ini.

a) Berubahnya harga jual


Berubahnya harga jual yang dianggarkan dengan harga harga jual periode
sebelumnya.
b) Berubahnya jumlah kuantitas barang yang dijual
perubahan jumlah barang yang akan dijual dari jumlah yang dianggarkan
dengan jumlah periode sebelumnya.
c) Berubahnya harga pokok penjualan
Perubahan harga pokok penjualan dari yang dianggarkan dengan harga pokok
penjualan pada periode sebelumnya. Perubahan disebabkan karena adanya
kenaikan harga pokok penjualan dari sumber utamanya.
Harga pokok penjualan suatu produk banyak dipengaruhi oleh faktor-faktor:
1) Haga bahan baku

14

2) Upah tenaga kerja


3) Kenaikan harga secara umum
3. Penjualan
3.1 Pengertian Penjualan
Aktivitas penjualan merupakan tujuan utama perusahaan karena jika
aktivitas penjualan produk maupun jasa tidak dikelola dengan baik maka secara
langsung dapat merugikan perusahaan. Hal ini dapat disebabkan karena sasaran
penjualan yang diharapkan tidak tercapai dan penjualan pun akan berkurang.
Untuk lebih jelasnya dapat dilihat dari pengertian penjualan itu sendiri
adalah sebagai berikut:
Pengertian penjualan menurut Henry Simamora (2000;24) menyatakan
bahwa: Penjualan adalah penjualan lazim dalam perusahaan dan merupakan
jumlah kotor yang dibebankan kepada pelanggan atas barang dan jasa.
Pengertian penjualan menurut Chairul Marom (2002;28) menyatakan
bahwa : Penjualan artinya penjualan barang dagangan sebagai usaha pokok
perusahaan yang biasanya dilakukan secara teratur.
Menurut Kartajaya (2006) penjualan adalah bagaimana menciptakan
hubungan jangka panjang dengan pelanggan melalui produk atau jasa perusahaan.
Penjulan merupakan pembelian suatu barang atau jasa oleh seorang pembeli dari
seorang penjual sesuai dengan harga yang telah ditetapkan atau dalam beberapa
kasus melalui perjanjian pertukaran barang atau imbal beli.
Menurut Mulyadi (2008: 202) Penjualan merupakan kegiatan yang
dilakukan oleh penjual dalam menjual barang atau jasa dengan harapan akan
memperoleh laba dari adanya transaksi-transaksi tersebut dan penjualan dapat

15

diartikan sebagai pengalihan atau pemindahan hak kepemilikan atas barang atau
jasa dari pihak penjual ke pembeli.
IAI dalam SAK No 23 paragraf 2 (2009) menyatakan Penjualan barang
meliputi barang yang diproduksi perusahaan untuk dijual dan barang yang dibeli
untuk dijual kembali seperti barang dagang yang dibeli pengecer atau lainnya
Berdasarkan pengertian di atas maka dapat disimpulkan bahwa penjualan
adalah persetujuan kedua belah pihak antara penjual dan pembeli dimana penjual
menawarkan suatu produk dengan harapan pembeli dapat menyerahkan sejumlah
uang sebagai alat ukur produk tersebut sebesar harga jual yang telah disepakati.
3.2 Tujuan Penjualan
Dalam suatu perusahaan kegiatan penjualan adalah kegiatan yang penting
karena dengan adanya kegiatan penjualan tersebut maka akan terbentuk laba yang
dapat menjamin kelangsungan hidup perusahaan.
Tujuan umum penjualan yang dimiliki oleh perusahaan menurut Basu
Swastha (2005;404) yaitu:
1. Mencapai volume penjualan tertentu.
2. Mendapat laba tertentu.
3. Menunjang pertumbuhan perusahaan.
Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa tujuan umum
perusahaan dalam kegiatan penjualan adalah untuk mencapai volume penjualan
mendapat laba yang maksimal dengan modal sekecil-kecilnya dan menunjang
pertumbuhan suatu perusahaan.
3.3 Faktor-Faktor Penjualan
Aktivitas penjualan banyak dipengaruhi oleh faktor tertentu yang dapat
meningkatkan aktivitas perusahaan oleh karena itu manajer penjualan perlu
memperhatikan faktor-faktor yang mempengaruhi penjualan.

16

Faktor-faktor yang mempengaruhi penjualan menurut Basu Swastha


(2005;406) antara lain sebagai berikut:
1) Kondisi dan Kemampuan Penjual
Kondisi dan kemampuan terdiri dari pemahaman atas beberapa masalah
penting yang berkaitan dengan produk yang dijual jumlah dan sifat dari
tenaga penjual adalah:
a.

Jenis dan karakteristik barang atau jasa yang ditawarkan

b.

Harga produk atau jasa

c.

Syarat penjualan seperti: pembayaran pengiriman

2) Kondisi Pasar
Pasar sebagai kelompok penbelian atau pihak yang menjadi sasaran dalam
penjualan dan dapat pula mempengaruhi kegiatan penjualannya.
3) Modal
Modal atau dana sangat diperlukan dalam rangka untuk mengangkut
barang dagangan ditempatkan atau untuk membesar usahanya.
4) Kondisi Organisasi Perusahaan
Pada perusahan yang besar biasanya masalah penjual ini ditangani oleh
bagian tersendiri yaitu bagian penjualan yang dipegang oleh orang-orang
yang ahli dibidang penjualan.
5) Faktor-Faktor Lain
Faktor-faktor lain seperti periklanan peragaan kampanye dan pemberian
hadiah sering mempengaruhi penjualan karena diharapkan dengan adanya
faktor-faktor tersebut pembeli akan kembali membeli lagi barang yang
sama

17

Menurut Amstrong (2002: 327) ada beberapa faktor yang mempengaruhi


penjualan ini dipengaruhi oleh:
1) Faktor harga jual harga persatuan atau unit atau lainnya produk yang dijual
di pasaran. Penyebab berubahnya merupakan perubahan nilai harga jual
per satuan.
2) Faktor jumlah barang yang dijual banyaknya kuantitas atau jumlah barang
yang dijual dalam suatu periode.
Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa ada beberapa faktor
yang mempengaruhi kegiatan penjualan yaitu: kondisi dan kemampuan penjualan
kondisi pasar modal kondisi organisasi perusahaan dan faktor-faktor lain.
4. Biaya produksi
4.1 Pengertian Biaya produksi
Biaya produksi adalah biaya yang berkaitan langsung dengan pelaksanaan
operasional perusahaan. Pengertian dari biaya produksi itu sendiri adalah semua
biaya yang menunjang penyelenggaraan pelayanan jasa atau semua biaya yang
dapat didefinisikan mempunyai hubungan langsung dengan penyelenggaraan
pelayanan jasa.
Menurut Slamet Sugiri dan Bogat Agus Riyono (2002:70) pengertian
biaya operasi adalah Biaya operasi yaitu biaya-biaya yang dikeluarkan untuk
kegiatan usaha (operasi) perusahaan.
Menurut Jopie Yusuf (2006:33) pengertian biaya operasi adalah Biaya
operasi atau biaya produksi adalah biaya-biaya yang tidak berhubungan langsung
dengan produk perusahaan tetapi berkaitan dengan aktivitas operasi perusahaan
sehari-hari.
Menurut

Desi

Adhariani

(2008:35)

memberikan

definisi

yang

membedakan biaya operasi adalah Biaya operasi langsung adalah suatu objek

18

biaya terkait dengan suatu objek biaya dan dapat dilacak ke objek biaya tertentu
dengan cara yang layak secara ekonomis (biaya-efektivitas). Sedangkan biaya
operasi tidak langsung didefinisikan sebagai Biaya operasi tidak langsung adalah
suatu objek biaya berkaitan dengan suatu objek biaya namun tidak dapat dilacak
ke objek biaya tertentu dengan cara yang layak secara ekonomis (biayaefektifitas).
Berdasarkan pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa biaya produksi
merupakan biaya-biaya yang dikeluarkan selama aktivitas pokok perusahaan
untuk melihat apakah penggunaan biaya operasi efektif dan efisien atau tidak yang
sesuai dengan rencana maka dibutuhkan alat pengendalian biaya yang mendukung
usaha untuk menghasilkan produk tersebut.

4.1.2 Pengendalian Biaya produksi


Pengendalian terhadap biaya operasi mempunyai arti yang sangat penting
bagi perusahaan jasa yang bertujuan mencari profit karena efisiensi dari biaya
operasi akan mempengaruhi kemampuan perusahaan tersebut dalam menghasilkan
profit dan agar efisiensi tersebut dapat tercapai maka diperluakan adanya
pengendalian.
Menurut Welsh Hilton Gordon yang diterjemahkan oleh Purwatiningsih
dan Maudi Waraouw (2000:264) pengertian pengendalian biaya operasi adalah
Pengendalian biaya operasi adalah usaha-usaha manajer untuk mencapai tujuantujuan (dalam hal biaya) pada sebuah lingkungan operasi tertentu.
Hongren Datar dan Foster yang diterjemahkan oleh Desi adhariani
(2008:263) menyatakan pengendalian biaya operasi dilakukan dengan cara

19

membandingkan anatara biaya yang sesungguhnya dengan rencana atau anggaran


biaya yang telah ditetapkan dan ini merupakan bagian yang sangat penting dari
proses pengendalian. Apabila timbul variance (selisih/penyimpangan) yang berarti
manajemen harus mempelajari secara cermat dan melakukan penyelidikan untuk
menentukan sebab-sebab dari timbulnya selisih tersebut. Hal ini dilakukan untuk
menentukan tindakan koreksi apa yang akan dilaksanakan oleh manajemen untuk
memperbaiki penyimpangan-penyimpangan yang terjadi.
Menurut Supriyono (2004:209) biaya operasi dikelompokkan menjadi 2
golongan dan dapat diartikan sebagai berikut:
1. Biaya langsung (direct cost) adalah biaya yang terjadi atau manfaatnya
dapat diidentifikasikan kepada objek atau pusat biaya tertentu.
2. Biaya tidak langsung (indirect cost) adalah biaya yang terjadi atau
manfaatnya tidak dapat diididentifikasi pada objek atau pusat biaya
tertentu atau biaya yang manfaatnya dinikmati oleh beberapa objek atau
pusat biaya.
Dari pengertian tersebut diatas penulis dapat menarik kesimpulan bahwa:
1. Biaya produksi langsung merupakan biaya yang dapat dibebankan secara
langsung pada kegiatan operasional.
2. Biaya produksi tidak langsung adalah biaya yang tidak secara langsung
dibebankan pada kegiatan operasional.
Jadi biaya produksi adalah pengeluaran yang berhubungan dengan operasi
yaitu semua pengeluaran yang langsung digunakan untuk produksi atau pembelian
barang yang diperdagangkan termasuk biaya umum penjualan administrasi dan
bunga pinjaman.

20

Biaya produksi meliputi biaya tetap dan biaya variable. Jumlah biaya
variable tergantung pada volume penjualan atau proses produksi jadi mengikuti
peningkatan atau penurunannya. Sedangkan biaya tetap selalu konstan meskipun
volume penjualan produksi meningkat atau turun.Singkatnya biaya produksi
merupakan biaya yang harus dikeluarkan agar kegiatan atau operasi perusahaan
tetap berjalan.
Unsur-unsur biaya produksi yang biasa terdapat pada suatu perusahaan dagang
dan jasa adalah:
1. Biaya tenaga kerja gaji komisi bonus tunjangan dan lain-lain
2. Biaya administrasi dan umum
3. Biaya promosi
4. Biaya asuransi
5. Biaya pemeliharaan gedung mesin kendaraan dan peralatan

5. Penelitian Terdahulu
Adapun tinjauan penelitian terdahulu adalah sebagai berikut :
Tabel II.1
Penelitian Terdahulu
N
o

Peneliti
Mufida
Warni
(2012)

Judul

Analisis Pengaruh
Penjualan Bersih
Terhadap Laba bersih
Pt.
Nippon
Indosari
Corpindo Tbk (Sari Roti)
Rafiand Analisis
Laba
i Nazar Berdasarkan Penjualan
(2013)
Tunai Dan Penjualan
Kredit Pada Kantor
Pusat
Pt
Columbus
Megah Sentrasarana Di
Berau

Variabel

Hasil Penelitian

Penjualan
Laba bersih

Penjualan bersih memiliki pengaruh yang


signifikan terhadap laba bersih PT. NIPPON
NDOSARI CORPINDO TBK (SARI ROTI).

Laba
Penjualan
Tunai
Penjualan
Kredit

Kebijaksanaan untuk menerapkan dua


macam sistem penjualan yaitu penjualan
tunai dan penjualan kredit adalah tepat guna
meningkatan volume penjualan perusahan
hal ini terlihat besarnya dominasi atau
pengaruh dari penjualan kredit terhadap
perusahaan dimana penjualan secara kredit

21

mencari peningkatan laba bersih


3

Yuke
(2011)

Sukma
Devi
Karno
(2012)

Analisis
Pengendalian
Biaya Produksi Dan
Pengaruhnya Terhadap
Laba Pabrik
Pengilngan (PP) Srikandi
Palembang
Analisis Penjualan Dan
Biaya produksi Dalam
Meningkatkan
Laba
Bersih

Biaya
Produksi
Pengendalian
Biaya

Penjualan
Biaya
produksi
Laba Bersih

pengendalian biaya produksi yang dilakukan


oleh P Srikandi Palembang untuk tahun 2010
dan 201 belum baik karena masih terdapat
realisasi biaya yang lebih besar dari angaran
yang telah ditetapkan sehinga tidak
menguntungkan bagi perusahan.
Penjualan belum mampu meningkatkan laba
bersih perusahaan dan dengan biaya yang
tinggi dapat menurunkan laba bersih
perusahaan

B. Kerangka Berpikir
Mengetahui bagaimana kondisi keuangan suatu perusahaan diperlukan
laporan keuangan yang disusun setiap akhir periode tertentu. Laporan keuangan
tersebut dibuat oleh manajemen dengan tujuan untuk mempertanggungjawabkan
tugas-tugas yang diberikan kepada manajer. Laporan keuangan yang dimaksud
berupa laporan

laba rugi menunjukkan kemampuan perusahaan dalam

menghasilkan laba yang telah terjadi pada periode tertentu kemudian laporan
keuangan tersebut dianalisis

untuk mengetahui secara jelas posisi keuangan

perusahaan.
Bila perusahaan dapat menekan biaya operasi maka perusahaan akan dapat
meningkatkan laba demikian juga sebaliknya bila terjadi pemborosan biaya akan
mengakibatkan menurunnya laba.
Aktivitas penjualan merupakan penjualan utama perusahaan karena jika
aktivitas penjualan produk maupun jasa tidak dikelola dengan baik maka secara
langsung dapat merugikan perusahaan. Hal ini dapat disebabkan karena sasaran
penjualan yang diharapkan tidak tercapai dan penjualan pun akan berkurang.

22

Pengertian penjualan menurut Henry Simamora (2000;24) menyatakan


bahwa: Penjualan adalah penjualan lazim dalam perusahaan dan merupakan
jumlah kotor yang dibebankan kepada pelanggan atas barang dan jasa
Biaya operasinal merupakan biaya yang dipengaruhi oleh aktivitas
perusahaan oleh sebab itu semakin meningkat tingkat aktivitasnya maka semakin
meningkat juga biaya operasinya. Karena biaya operasi merupakan biaya yang
terlibat langsung dalam kegiatan perusahaan maka dalam menentukan biaya
operasi tidaklah dapat dilakukan secara terpisah dengan serangkaian aktivitasaktivitas perusahaan.
Semakin tinggi penjualan berarti semakin efektif penggunaan penjualan
tersebut. penjualan yang efektif sangatlah penting bagi perusahaan karena dapat
meningkatkan tingkat laba yang dihasilkan suatu perusahaan. Bila perusahaan
dapat menekan biaya operasi maka perusahaan akan dapat meningkatkan laba
demikian juga sebaliknya bila terjadi pemborosan biaya akan mengakibatkan
menurunnya laba.

Laporan Keuangan

Laporan Laba Rugi

Penjualan

Biaya produksi

Laba/Rugi

23

Gambar II.1
Kerangka Konseptual

BAB III
METODE PENELITIAN

A. Pendekatan Penelitian
Pendekatan penelitian dalam penelitian ini adalah penelitian deskriptif adalah
mengumpulkan mengklasifikasikan menganalisa serta menginterpretasikan data
yang berhubungan dengan masalah yang dihadapi dan

membandingkan

pengetahuan teknis (data primer) dengan keadaan yang sebenarnya pada


perusahaan untuk kemudian mengambil kesimpulan.

B. Definisi Operasional
Definisi operasional variabel dalam penelitian ini sebagai berikut:
1. Biaya produksi
Biaya operasi atau biaya produksi adalah biaya berkaitan langsung dengan
pelaksanaan operasional perusahaan sehari-hari. Biaya produksi diambil
dari laporan laba rugi tahun 2010-2015.
2. Penjualan

24

Kegiatan yang dilakukan oleh penjual dalam menjual barang atau jasa
dengan harapan akan memperoleh laba dari adanya transaksi-transaksi
tersebut. Penjualan diambil dari laporan laba rugi tahun 2010-2015

3. Laba bersih
Laba bersih adalah selisih penjualan atas beban operasional. Alat ukurnya
24

adalah data keuangan laba setelah pajak atau sebelum pajak.

C. Tempat dan Waktu Penelitian


Penelitian ini dilakukan pada Perusahaan manufaktur yang terdaftar di
BEI
Waktu Penelitian
Adapun waktu penelitian ini dimulai dari bulan Mei 2015 sampai
Agustus 2015. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel dibawah ini:
Tabel III.1
Waktu Penelitian
Bulan Pelaksanaan 2014-2015
Jadwal kegiatan

Mei

Juni

Juli

Agustus

1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
1.Pengajuan judul
2.Pembuatan Proposal
3. Bimbingan
Proposal
4. Seminar Proposal
5. Pengumpulan Data
6. Bimbingan Skripsi
7. Sidang Meja Hijau
D. Populasi dan Sampel

25

1. Populasi Penelitian
Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas: objek / subjek, yang
mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk
dipelajari untuk kemudian ditarik kesimpulannya. (Sugiono, 2004 : 72). Populasi
dalam penelitian ini adalah 136 perusahaan manufaktur yang terdafatar di Bursa
Efek Indonesia periode 2010-2015 (terlampir).
2. Sampel penelitian
Menurut Sugiyono (2008 : 116) : sampel adalah sebagian dari jumlah dan
karekteristik yang dimilkki oleh populasi tersebut. Jadi sampel merupakan
sebagian dari populasi untuk mewakili karakteristik populasi yang diambeil untuk
keperluan penelitian. Metode pengambilan

sampel dilakukan dengan tehnik

purposive sampling, yaitu tehnik pengambilan sampel berdasarkan suatu kriteria


dengan pertimbangan judgement sampling (jogiyanto, 2004 : 79). Dalam
penelitian ini, data dikumpulkan dari Bursa Efek Indonesia yaitu perusahaan
manufaktur yang terdaftar di BEI.
Kriteria yang digunakan dalam penelitian ini adalah :
1. Perusahaan tersebut memiliki data yang akurat lengkap, dan telah
menerbitkan laporan keuangan selama 3 tahun berturut-turut (20082012).
2. Perusahaan manufaktur yang memperoleh laba secara konsisten dari
tahun 2008-2012.
Dari hasil kriteria penarikan sampel diatas maka Sampel penelitian adalah
23 perusahaan manufaktur yang terdaftar di BEI (terlampir).

26

E. Jenis Dan Sumber Data


Jenis Data
Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data kuantitatif yang
berupa penjelasan atau pernyataan tentang biaya produksi penjualan dan laba
bersih Perusahaan manufaktur Medan mulai dari tahun 2009 sampai dengan
2013.
Sumber Data
Sumber data dalam penelitian ini ialah data sekunder yaitu data penelitian
yang diperoleh langsung dari objek penelitian yang berupa laporan realisasi
anggaran perusahaan gambaran umum perusahaan struktur organisasi perusahaan
dan data lain yang terkait dalam penelitian ini.

F. Teknik Pengumpulan Data


Pengumpulan data pada penelitian ini dilakukan dengan studi dokumentasi
yaitu dengan mempelajari mengklasifikasikan dan mengalisis data sekunder
berupa catatancatatan laporan keuangan maupun informasi lainnya yang terkait
dengan lingkup penelitian ini. Data penelitian mengenai biaya produksi penjualan
dan laba bersih diperoleh dari data laporan keuangan Perusahaan manufaktur
Medan.

G. Teknik Analisis Data


Dalam penelitian ini teknik analisis data yang digunakan adalah analisis
deskriptif yaitu dengan cara menganalisis data-data laporan keuangan perusahaan
yang mengenai penjualan dan laba bersih kemudian ditarik kesimpulan dari data

27

laporan keuangan tersebut. Data penelitian dianalisis dengan pendekatan


akuntansi keuangan. Berikut tahapan analisis data penelitian ini :

1. Mengumpulkan data laporan keuangan dari tahun 2010-2015 terutama


laporan laba rugi
2. Menganalisis data penjualan biaya produksi dan laba bersih dari tahun
2010-2015
3. Menyimpulkan permasalahan yang terjadi pada penjualan biaya produksi
dan laba bersih dari tahun 2010-2015.

28

DAFTAR PUSTAKA
Ang Robert.2007.Buku Pintar Pasar Modal Indonesia.Jakarta:Media Staff
Indonesia.
Amstrong Gary & Philip Kotler. 2002. Dasar-dasar Manajemen Keuangan. Jilid
1 Alih Bahasa Alexander Sindoro dan Benyamin Molan. Jakarta: Penerbit
Prenhalindo.
Bambang Riyanto. 2009. Dasar-Dasar Pembelajaran Perusahaan (edisi
keempat). Yogyakarta : BPFE UGM.
Basu Swastha dan Irawan. 2000. Manajemen Keuangan Modern. (Edisi kedua).
cetakan ke sebelas. Yogyakarta : Liberty Offset.
Bodie Kane Marcus. 2002. Investment. Buku Satu. Jakarta: Salemba Empat
Brealey Richard A Stewart C. Myers dan Alan J. Marcus. 2007. Dasar-dasar
Manajemen Keuangan Perusahaan. Jilid 2. Edisi Kelima. Jakarta:
Erlangga.
Fabozzi Frank J. 2000. Manajemen Investasi. Jakarta: Salemba Empat
Husein Umar 2004 Metode Penelitian Untuk Skripsi dan Tesis Bisnis Jakarta
Raja Grafindo Persada.
Imam Ghozali 2002 Metode Penelitian Bisnis. Edisi Enam Bandung CV. Alfabeta.
James C.Horne 2004. Akuntansi Lanjutan 2. Penerbit PT. Raja Grafindo. Jakarta
Jopie Jusuf. 2006. Analisis Kredit untuk Account Officer Jakarta: PT. Gramedia
Pustaka Utama.
Kasmir 2008. Analisis Laporan Keuangan Edisi pertama PT RajaGrafindo
Persada Jakarta.
Mufida Warni (2012) Analisis Pengaruh Penjualan Bersih Terhadap Laba bersih
Pt. Nippon Indosari Corpindo Tbk (Sari Roti). Jurnal Ekonomi dan
Bisnis Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.

29

Refda Dwiyana (2011) Pengaruh Penjualan Bersih Terhadap Laba bersih Pada
PT. Indofood Sukse Makmur Tbk. Jurnal Ekonomi dan Bisnis Universitas
Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta
Munawir S. 2007. Analisa Laporan Keuangan Yogyakarta : Liberty
Sugiyono 2004. Metodologi Penelitian BisnisCetakan Kesembilan CV Alfabeta
Bandung
Warsono.2003.Manajemen Keuangan Perusahaan Jilid 1Edisi ketigaCetakan
Pertama.BAPFE-Yogyakarta
Wild John 2005. General Accounting. Translation. Penerbit Penada Media Group.
Jakarta