Anda di halaman 1dari 11

MODUL PERKULIAHAN

BAB
Komunikasi Efektif
Pokok-Pokok Bahasan:
1.
2.
3.
4.
Fakultas
KOMUNIKASI

Program
Studi
Prodi
manajemen

Pertemua
n 4
Online

Kode MK

Disusun Oleh

90003
Kelas
A31314EL

Wahyudi Pramono,S.Ag. M.Si

Abstract

Kompetensi

Modul tatap muka ini dipergunakan


sebagai Bahan Materi Perkuliahan
Mata Kuliah ETIKA

Dengan membaca materi ini mahasiswa diharapkan dapat menambah pemahaman


mengenai komunkasi efektif

PENGANTAR: Perspektif Teoretis

Komunikasi acapkali didesain untuk menghasilkan efek tertentu. Efek komunikasi


didefinisikan sebagai segala perubahan yang terjadi di pihak komunikan sebagai akibat
diterimanya suatu pesan oleh komunikan. Perubahan tersebut bisa meliputi: perubahan
pandangan, sikap, pendapat, tingkah laku, prestise, prestasi, harga diri, dan perubahan lainlain yang terjadi pada komunikan (Satropoetro, 1990:1).
Pada sisi lain, komunikasi efektif berkorelasi dengan fungsi komunikasi dalam
lingkup kehidupan manusia. Manusia atau individu melakukan komunikasi paling tidak
berfungsi untuk:
1. Memahami diri sendiri
2. Memapankan hubungan yang bermakna
3. Mengubah sikap perilaku (Mutmainah dan Ahmad Fauzi, 2005:1.4).

Memahami diri sendiri


Thomas Hora pernah berujar: Untuk memahami dirinya sendiri seseorang butuh
untuk dipahami orang lain. Agar bisa dipahami orang lain ia butuh untuk memahami orang
lain. Kesadaran akan diri kita seringkali kita dapati melalui orang lain. Kita setiap saat
membutuhkan feedback (umpan balik) dari orang lain, dan sebaliknya orang lain pun
membutuhkan feedback dari kita. Melalui proses yang bersifat timbal balik itulah kita akan
mengetahui siapa kita yang sesunguhnya.
Memapankan hubungan yang bermakna
Manusia diciptakan bukan saja sebagai makhluk individual, melainkan pula sebagai
makhluk sosial, yaitu makhluk yang membutuhkan kehadiran orang lain dalam memenuhi
kebutuhan jasmani maupun ruhaninya. Komunikasi menawarkan kita kesempatan untuk
memuaskan apa yang disebut William Schutz sebagai kebutuhan kita untuk inklusi
(diterima), kontrol dan afeksi (kasih sayang).
Kebutuhan inklusi adalah kebutuhan kita untuk bersama orang lain, kebutuhan
terhadap kontak sosial, kita senang bahwa orang lain menerima kita, dan kita merasa ingin
menjadi mitra yang utuh dalam menjalin hubungan. Kebutuhan kontrol adalah kebutuhan
untuk merasa bahwa kita mampu bertanggung jawab, bahwa kita mampu untuk bekerja
2

sama dan mengelola lingkungan kita. Kita senang bahwa kita bisa mempengaruhi orang
lain. Sedangkan kebutuhan afeksi adalah kebutuhan kita untuk menyatakan dan menerima
cinta. Komunikasi memungkinkan kebutuhan cinta tersebut dipertemukan. Perasaan dicintai,
disukai, dan dibutuhkan merupakan aktulisasi dari afeksi tersebut.
Mengubah sikap
Dalam setiap bentuk/konteks komunikasi, individu memiliki kemampuan untuk
mempengaruhi maupun dipengaruhi orang lain. Kita akan merasa senang apabila orang lain
bertingkah lakju dan bertindak seperti yang kita harapkan. Dalam konmteks komunikasi
antarpribadi, pesan yang disampaikan lebih banyak ditujukan untuk mempengaruhi sikap
ketimbang pengetahuan.
Apabila setelah komunikasi berlangsung didapati perubahan yang signifikan pada diri
komunikan, maka komunikasi dapat dikatakan efektif. Efektivitas secara etimologis diamabil
dari akar kata efektif yang dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia diartikan (1) mempunyai
efek, pengaruh atau akibat, (2) memberikan hasil yang memuaskan, dan (3) berhasil guna
(Badudu-Zain, 1994:371). Efek dalam komunikasi bersifat psikologis, artinya kemauan
orang-orang, khalayak atau komunikan dalam menjalankan apa yang dikehendaki oleh
komunikator. Misalnya, seorang kiyai pada sebuah acara Isra Mi'raj menerangkan tata cara
shalat dan sekaligus meminta jamaah (khalayak) untuk mengamalkannya setiap hari.
Setelah acara Isra Mi'raj tersebut orang-orang yang hadir dengan "sukarela" menjalankan
ibadah shalat. Maka dengan demikian pesan kiyai yang disampaikan dalam acara Isra Mi'raj
tersebut efektif. Contoh lain misalnya, jika seorang dosen menyuruh memotong rambut
mahasiswanya (laki-laki) yang panjang, kemudian keesokannya mahasiswa tersebut
memotong rambutnya. Maka komunikasi tersebut (antara dosen dengan mahasiswa
berambut panjang tersebut) berjalan dengan efektif.
Jika komunikasi yang dilakukan diharapkan berjalan secara efektif, maka mau tida
mau partisipan komunikasi (orang-orang yang terlibat dalam komunikasi) harus
memperhatikan faktor-faktor psikologis kedua belah pihak. Sekali lagi harus ditekankan,
bahwa komunikasi pada dasarnya proses penyampaian pesan yang berjalan secara
psikologis.

Menurut Rakhmat (1994:12), komunikasi yang efektif ditandai oleh lima hal berikut
ini:

1. Pengertian, artinya penerimaan yang cermat dari isi stimuli seperti yang dimaksud
oleh komunikator. Persan yang disampaikan oleh partisipan komunikasi harsu benarbenar dapat dipahami oleh kedua belah pihak. Kegagalan dalam memhami pesan ini
disebut kegagalan komunikasi primer (primary breakdown in communication).
2. Kesenangan, artinya komunikasi yang dilakukan oleh kedua belah pihak diharapkan
menimbulkan rasa hangat, akrab, dan menyenangkan. Pada konteks ini tidak semua
komunikasi ditujukan untuk menyampaikan informasi, tetapi komunikasi bisa
ditujukan untuk membangun hubungan insani. Perasaan senang dalam komunikasi
dapat disimpulkan dalam ungkapan "Saya Ok Kamu Ok".
3. Mempengaruhi sikap, artinya komunikasi yang dijalin ditujukan untuk mempengaruhi
orang lain. Strategi mempengaruhi orang lain dalam komunikasi dilakukan dengan
cara persuasi, yaitu proses mempengaruhi pendapat, sikap, dan tindakan orang
dengan menggunakan manipulasi psikologis sehingga orang tersebut bertindak
seperti atas kehendaknya sehndiri. Berbagai kegiatan politik, terutama pada saat
kampanye adalah contoh konkret komunikasi persuasi dengan tujuan mempengaruhi
masyarakat (pemilih) untuk memilih partai atau orang tertentu sebagai calon legislatif
diberbagai tingkatan.
4. Hubungan Sosial yang baik, artinya komunikasi yang dilakukan lebih diorientasikan
kepada penciptaan hubungan sosial yang baik. Komunikasi ineterpesonal
(antarpribadi) secara lebih khusus berupaya membangun hubungan yang baik
(human relation). Pada sisi ini tidak dapat dipungkiri bahwa komunikasi menjadi
penting sebagai jembatan yang menghubungkan antarindividu dalam menciptakan
hubungan sosial yang baik. Manusia adalah makhluk sosial, di mana manusia mau
tidak mau membutuhkan kehadiran orang lain dalam hidupnya.
5. Tidakan, artinya efektivitas komunikasi diukur dari sejauhmana kesedian orangorang yang diajak berkomunikasi mau bertindak sesuai dengan pesan yang
disampaikan komunikator. Pada komunikasi yang berujung melahirkan tindakan ini
seorang komunikator haruslah orang yang pandai mempengaruhi, mempersuasi,
dan sekaligus meyakinkan komunikan. Proses ini tidaklah gampang. Tidak semua
orang memiliki kemampuan dalam mempengaruhi orang lain. Seorang komunikator
yang mampu mempengaruhi orang lain adalah mereka-mereka yang memiliki
kredibilitas sehingga komunikan percaya kepada pesan yang disampaikannya.
Ditinjau dari sisi komunikan, sutu komunikasi dapat berjalan efektif jika terdapat
kondisi sebagai berikut:

1. Ia dapat benar-benar mengerti pesan komunikasi


2. Pada saat ia mengambil keputusan , ia sadar bahwa keputusannya itu sesuai
dengan tujuannya.
3. Pada saat ia mengambil keputusan, ia sadar bahwa keputusannya itu bersangkutan
dengan kepentingan pribadinya.
4. Ia mampu untuk menepatinya baik secara mental maupun secara fisik.

Sedangkan dari sisi komunikator, komunikasi akan berjalan secara efektif jika
terdapaf dua faktor yang melekat pada diri komunkator, yaitu kepercyaan kepada
komunikator (source credibility) dan daya tarik komunikator (source attractiveness).
Kepercayaan terhadap komunikator merupaskan faktor penting dalam komunikasi, dengan
kepercayaan tersebut akan menimbulkan komunikan merasa percaya dengan apa yang
dikatakannya. Daya tarik komunikator pun menjadi sangat penting, karena daya tarik akan
mempengaruhi kognitif dan psikologis komunikator sehingga pesan-pesan yang
disampaikan komuikator menjadi mengena pada diri komunikan.
Selain istilah efektif, dalam komunikasi pun dikenal istilah gagal atau komunikasi
yang gagal. Kegagalam komunikasi dapat dilihat dari dua sudut pandang: Pertama,
kegagalan komunikasi primer (primary breakdown in communication), yaitu terjadi apabila
pesan yang kita komunikasikan tidak diterima dengan cermat oleh lawan interaksi kita.
Kedua, kegagalan komunikasi sekunder (secondary breakdown in communication), yaitu
terjadi apabila komunikasi gagal menghasilkan suatu hubungan sosial yang baik
(Mutmainah dan Ahmad Fauzi, 2005:1.11).
Dalam konteks psikologi komunikasi, kita tidak akan membicarakan mengenai
gagalnya komunikasi, melainkan mencoba menelusuri dimensi psikologis peserta
komunikasi sehingga menimbulkan kegagalan. Di samping itu, komunikasi merupakan
peristiwa sosial peristiwa yang terjadi ketika manusia berinteraksi dengan manusia lain.
Mencoba menganalisis peristiwa sosial secara psikologis, membawa kita pada ranah
psikologi sosial. Oleh karena itu, pendekatan psikologi sosial juga merupakan pendekatan
psikologi komunikasi (Sobur, 2003:69).

LIMA HUKUM KOMUNIKASI EFEKTIF

Banyak ahli komunikasi yang memiliki kesamaan pandangan mengenai hubungan


antara proses ko-munikasi dan kinerja perkantoran. Mereka bersepakat bahwa komunikasi
efektif dan tingkat kinerja perkantoran berhubungan secara signifikan. Memperbaiki
komunikasi perkantoran berarti memperbaiki kinerja perkantoran perkantoran. Perkantoran
yang berfungsi baik, ditandai oleh adanya kerjasama secara sinergis dan harmonis dari
berbagai komponen. Senantiasa terjadi komunikasi, kerjasama, saling koreksi, dan terdapat
sistem pembagian tugas antarkomponen tersebut.
Suatu perkantoran dikonstruksi dan dipelihara dengan komunikasi. Artinya, ketika
proses komunikasi antarkomponen tersebut dapat dise-lenggarakan secara harmonis, maka
perkantoran tersebut semakin kokoh dan kinerja perkantoran akan meningkat.
Lima

(5)

Hukum Komunikasi

Efffective Communication)

Yang

Efektif

dikembangkan

dan

(The

Inevitable

dirangkum

dalam

Laws
satu

of
kata

yang mencerminkan esensi dari komunikasi itu sendiri yaitu REACH, yang berarti
merengkuh atau meraih. Karena sesungguhnya komunikasi itu pada dasarnya adalah upaya
bagaimana kita meraih perhatian, cinta kasih,

minat,

kepedulian,

simpati,

tanggapan,

maupun respon positif dari orang lain.

Hukum # 1: Respect
Hukum pertama dalam mengembangkan komunikasi yang efektif adalah sikap
menghargai setiap individu yang menjadi sasaran pesan yang kita sampaikan. Rasa hormat
dan saling menghargai merupakan hukum yang pertama dalam kita berkomunikasi dengan
orang lain. Ingatlah bahwa pada prinsipnya manusia ingin dihargai dan dianggap penting.
Jika kita bahkan harus mengkritik atau memarahi seseorang, lakukan dengan penuh respek
terhadap harga diri dan kebanggaaan seseorang. Jika kita membangun komunikasi dengan
rasa dan sikap saling menghargai dan menghormati, maka kita dapat membangun
kerjasama yang menghasilkan sinergi yang akan meningkatkan efektifitas kinerja kita baik
sebagai individu maupun secara keseluruhan sebagai sebuah tim.
Bahkan menurut mahaguru komunikasi Dale Carnegie dalam bukunya How to Win
Friends and Influence People, rahasia terbesar yang merupakan salah satu prinsip dasar
dalam berurusan dengan manusia adalah dengan memberikan penghargaan yang jujur dan
tulus. Seorang ahli psikologi yang sangat terkenal William James juga mengatakan bahwa
"Prinsip paling dalam pada sifat dasar manusia adalah kebutuhan untuk dihargai." Dia
mengatakan ini sebagai suatu kebutuhan (bukan harapan ataupun keinginan yang bisa
ditunda atau tidak harus dipenuhi), yang harus dipenuhi. Ini adalah suatu rasa lapar

manusia yang tak terperikan dan tak tergoyahkan. Lebih jauh Carnegie mengatakan
bahwa setiap individu yang dapat memuaskan kelaparan hati ini akan menggenggam orang
dalam telapak tangannya.
Charles Schwabb, salah satu orang pertama dalam sejarah perusahaan Amerika
yang mendapat gaji lebih dari satu juta dolar setahun, mengatakan bahwa aset paling besar
yang dia miliki adalah kemampuannya dalam membangkitkan antusiasme pada orang lain.
Dan cara untuk membangkitkan antusiasme dan mendorong orang lain melakukan hal-hal
terbaik adalah dengan memberi penghargaan yang tulus. Hal ini pula yang menjadi satu dari
tiga rahasia manajer satu menit dalam buku Ken Blanchard dan Spencer Johnson, The One
Minute Manager.

Hukum # 2: Empathy
Empati adalah kemampuan kita untuk menempatkan diri kita pada situasi atau
kondisi yang dihadapi oleh orang lain. Salah satu prasyarat utama dalam memiliki sikap
empati adalah kemampuan kita untuk mendengarkan atau mengerti terlebih dulu sebelum
didengarkan atau dimengerti oleh orang lain.
Secara khusus Covey menaruh kemampuan untuk mendengarkan sebagai salah
satu dari 7 kebiasaan manusia yang sangat efektif, yaitu kebiasaan untuk mengerti terlebih
dahulu, baru dimengerti (Seek First to Understand understand then be understood to build
the skills of empathetic listening that inspires openness and trust). Inilah yang disebutnya
dengan Komunikasi Empatik.
Dengan

memahami

dan

mendengar

orang

lain

terlebih

dahulu,

kita

dapat membangun keterbukaan dan kepercayaan yang kita perlukan dalam membangun
kerjasama atau sinergi dengan orang lain. Rasa empati akan memampukan kita untuk
dapat

menyampaikan

pesan

(message) dengan cara dan sikap yang akan memudahkan penerima pesan (receiver)
menerimanya.
Oleh karena itu dalam ilmu pemasaran (marketing) memahami perilaku konsumen
(consumer's behavior) merupakan keharusan. Dengan memahami perilaku konsumen,
maka kita dapat empati dengan apa yang menjadi kebutuhan, keinginan, minat, harapan
dan kesenangan dari konsumen. Demikian halnya dengan bentuk komunikasi lainnya,
misalnya komunikasi dalam membangun kerjasama tim.

Kita perlu saling memahami dan mengerti keberadaan orang lain dalam timkita.Rasa
empati akan menimbulkan respek atau penghargaan, dan rasa respek akan membangun
kepercayaan yang merupakan unsur utama dalam membangun teamwork.
Jadi sebelum kita membangun komunikasi atau mengirimkan pesan, kita perlu
mengerti dan memahami dengan empati calon penerima pesan kita. Sehingga nantinya
pesan kita akan dapat tersampaikan tanpa ada halangan psikologis atau penolakan dari
penerima.
Empati bisa juga berarti kemampuan untuk mendengar dan bersikap perseptif atau
siap menerima masukan ataupun umpan balik apapun dengan sikap yang positif. Banyak
sekali dari kita yang tidak mau mendengarkan saran, masukan apalagi kritik dari orang lain.
Padahal esensi dari komunikasi adalah aliran dua arah. Komunikasi satu arah tidak akan
efektif manakala tidak ada umpan balik (feedback) yang merupakan arus balik dari penerima
pesan. Oleh karena itu dalam kegiatan komunikasi pemasaran above the lines (mass media
advertising) diperlukan kemampuan untuk mendengar dan menangkap umpan balik dari
audiensi atau penerima pesan.
Hukum # 3: Audible
Makna dari audible antara lain: dapat didengarkan atau dimengerti dengan baik. Jika
empati berarti kita harus mendengar terlebih dahulu ataupun mampu menerima umpan balik
dengan baik, maka audible berarti pesan yang kita sampaikan dapat diterima oleh penerima
pesan. Hukum ini mengatakan bahwa pesan harus disampaikan melalui media atau delivery
channel sedemikian hingga dapat diterima dengan baik oleh penerima pesan. Hukum ini
mengacu pada kemampuan kita untuk menggunakan berbagai media maupun perlengkapan
atau alat bantu audio visual yang akan membantu kita agar pesan yang kita
sampaikan dapat diterima dengan baik. Dalam komunikasi personal hal ini berarti bahwa
pesan disampaikan dengan cara atau sikap yang dapat diterima oleh penerima pesan.
Dari sisi delivery channel, penggunaan teknologi bisa membantu melipatgandakan
pancaran sinyal pesan yang ingin disampaikan sehingga bisa diterima oleh jauh lebih
banyak orang. Ini yang disebut sebagai kerjacerdas. Misalnya saja, dengan menggunakan
media Internet, kita bisa berkomunikasi dengan sangat mudah dan murah kepada banyak
orang. Pendeknya High Tech namun tetap High Touch.

Hukum # 4: Clarity

Selain bahwa pesan harus dapat dimengerti dengan baik, maka hukum keempat
yang terkait dengan itu adalah kejelasan dari pesan itu sendiri sehingga tidak menimbulkan
multi interpretasi atau berbagai penafsiran yang berlainan. Ketika saya bekerja di Sekretariat
Negara, hal ini merupakan hukum yang paling utama dalam menyiapkan korespondensi
tingkat tinggi. Karena kesalahan penafsiran atau pesan yang dapat menimbulkan berbagai
penafsiran akan menimbulkan dampak yang tidak sederhana.
Clarity dapat pula berarti keterbukaan dan transparansi. Dalam berkomunikasi kita
perlu mengembangkan sikap terbuka (tidak ada yang ditutupi atau disembunyikan),
sehingga dapat menimbulkan rasa percaya (trust) dari penerima pesan atau anggota tim
kita. Karena tanpa keterbukaan akan timbul sikap saling curiga dan pada gilirannya
akan menurunkan semangat dan antusiasme kelompok atau tim kita.

Hukum # 5: Humble
Hukum kelima dalam membangun komunikasi yang efektif adalah sikap rendah hati.
Sikap ini merupakan unsur yang terkait dengan hukum pertama untuk membangun rasa
menghargai orang lain, biasanya didasari oleh sikap rendah hati yang kita miliki. Sikap
Rendah Hati pada intinya antara lain: sikap yang penuh melayani (dalam bahasa
pemasaran Customer First Attitude), sikap menghargai, mau mendengar dan menerima
kritik, tidak sombong dan memandang rendah orang lain, berani mengakui kesalahan, rela
memaafkan, lemah lembut dan penuh pengendalian diri, serta mengutamakan kepentingan
yang lebih besar.
Jika komunikasi yang kita bangun didasarkan pada lima hukum pokok komunikasi
yang efektif ini, maka kita dapat menjadi seorang komunikator yang handal dan pada
gilirannya dapat membangun jaringan hubungan dengan orang lain yang penuh dengan
penghargaan (respect), karena inilah yang dapat membangun hubungan jangka panjang
yang saling menguntungkan dan saling menguatkan.
Pendapat lain mengemukakan, bahwa untuk membangun komunkasi yang efektif
perlu memperhatikan hal-hal berikut:

1. Kontak Mata

Hal pertama yang dilakukan seorang pembicara yang baik adalah menatap lawan
bicara dan mengambil jeda untuk memulai sebuah pembicaraan. Ini merupakan
salah satu cara yang membantu untuk menciptakan kesan baik pada lawan bicara.
Usahakan mempertahankan kontak mata sepanjang pembicaraan, agar lawan bicara
Anda tak merasa diabaikan.

2. Ekspresi Wajah
Wajah merupakan cermin kepribadian individual. Ekspresi wajah mengungkapkan
pikiran yang sedang melintas pada diri seseorang. Sebagi contoh: sebuah senyum
mengungkap

keramah-tamahan

dan

kasih-sayang;Mengangkat

alis

mata

menunjukan ekpresi heran; Mengernyitkan dahi menyampaikan ketakutan dan


kegelisahan. Semua emosi dan berbagai macam tingkah manusia diekspresikan
dalam emosi yang berbeda yang tergambar di wajah. Jadi saat melakukan
komunikasi tunjukan ekspresi bahwa Anda tertarik dengan bahan pembicaraan.
3. Postur Tubuh
Setiap gerak-gerik tubuh saat berbicara mesti dikoordinasikan dengan kekuatan
meyakinkan dari Anda. Mereka bisa jadi semacam tambahan untuk cara efektif yang
dapat ditangkap secara visual daripada secara verbal. Sebagai contoh: menundukan
kepala menunjukkan penyelesaian pernyataan; mengangkat kepala menunjukkan
akhir pertanyaan; Terlalu sering menggerakan bagian tubuh mengungkapkan sedang
bergegas atau kebingungan. Untuk itu perhatikan gerak-gerik Anda saat melakukan
komunikasi dengan lawan bicara.
4. Selera Berbusana
Busana memiliki tugas penting dalam menimbulkan kesan. Orang yang berbusana
sesuai dengan struktur tubuh mereka nampak lebih menarik. Penampilan fisik
seseorang dan busana yang dikenakan membuat dampak pasti pada proses
komunikasi. Kita semua berbusana dan mungkin banyak diantara kita tak terlalu
memperhatikan, namun hal kecil ini memiliki peran untuk sebuah efektif. Jika kita
memperhatikan bagaimana cara berbusana, hal itu akan memperbaiki kemampun
komunikasi kita.

10

Daftar Pustaka

11